Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem pernafasan berperan penting dalam pertukaran oksigen (O2) dengan
karbondioksida (O2). Secara fungsional sistem pencernaan terdiri dari trakea, bronkus,
bronkiolus, alveolus, dan paru-paru. Alveolus dikelilingi oleh pipa-pipa kapiler, baik alveolus
maupun kapiler tersusun oleh satu lapis sel yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara
O2 dengan CO2. Oksigen dari udara masuk melalui bronkus, bronkiolus, alveolus dan terjadi
inspirasi lalu masuk ke sirulasi sistematik (darah) dan secara bersamaan CO2 didifusikan
keluar dari pipa-pipa kapiler masuk ke alveolus yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh
melalui pernapasan.
Semakin memburuknya kualitas udara di bumi, dan perubahan yang ekstrim
menimbulkan penyakit pada saluran pernafasan. Dalam kasusnya kita sering menjumpai dari
yang paling ringan seperti batuk, pilek, radang tenggorokan sampai yang berat seperti asma,
radang paru-paru, emfisema, bronchitis dan lain-lain.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.2.1 Untuk memenuhi tugas farmakologi.
1.2.2 Untuk mengetahui macam-macam masalah pada sistem pernafasan dan
penyakit yang menyerang saluran pernafasan.
1.2.3 Untuk mengetahui beberapa golongan obat untuk saluran pernafasan
khususnya pada penyakit batuk, asma, bronchitis dan emfisema paru.

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Saluran Pernafasan
Saluran pernapasan dibagi dalam 2 golongan utama: (1) saluran pernapasan atas, terdiri
dari lobang hidung, rongga hidung, faring, laring, dan (2) saluran pernafasan bawah terdiri
dari trachea, bronchi, bronchioles, alveoli dan membran alveouler – kapiler
Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan
sistem peredaran darah (sirkulasi) vertebrata yang bernapas dengan udara. Fungsinya adalah
menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut
"pernapasan eksternal" atau bernapas. Namun Adakalanya Paru-paru ini mengalami
gangguan kesehatan yang bisa disebabkan oleh banyak faktor, dan gangguan kesehatan
tersebut sering dikenal dengan Penyakit Paru Paru ataupun Gangguan pada sistem
pernafasan.

Penyakit Paru paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya peradangan
pada organ paru-paru yang dimana peradangan ini disebabkan oleh adanya ruang organ paru
paru terisi air ataupun terinfeksi oleh bakteri, virus atau parasit. Namun masih banyak
gangguan yang bisa menyerang sistem pernafasan seperti bronkitis kronis, asma, radang
paru-paru.

2.2 Masalah Sistem Pernafasan


Beberapa masalah yang sering terjadi dalam sistem pernapasan, antara lain hipoksia,
hiperkapnia, hipokapnia, asfisia, penyakit pulmonar obstruktif menahun, kanker paru, 2
tuberkolosis, dan pneumonia. Dalam proses bernapas terdapat beberapa masalah, yaitu:

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


1. Hipoksia adalah defisiensi oksigen, yaitu kondisi berkurangnya kadar oksigen
dibandingkan kadar normalnya secara fisiologis dalam jaringan dan organ.
2. Hiperkapnia adalah peningkatan kadar CO2 dalam cairan tubuh dan sering disertai
dengan hipoksia. Dimana jika kadar CO2 berlebih dapat meningkatkan respirasi dan
konsentrasi ion hidrogen yang akan menyebabkan asidosis (kadar asam berlebih).
3. Hipokapnia adalah penurunan kadar CO2 dalam darah. Dimana jika terjadi
penurunan kadar CO2¬ dapat menyebabkan terjadinya alkalosis (jumlah bikarbonat
berlebih) dalam cairan tubuh.
4. Asfisia (sufokasi) adalah suatu kondisi hipoksia dan hiperkapnia yang diakibatkan
ketidakcukupan ventilasi pulmonar.
5. Penyakit pulmonar obstruktif menahun (PPOM) adalah kelompok penyakit yang
meliputi asma, bronkitis kronik, dan emfisema, juga kelompok penyakit industrial
seperti asbestosis, silikosis, dan black lung.
6. Kanker paru (karsinoma pulmonar) sering dikaitkan dengan merokok tetapi dapat
juga terjadi pada orang yang tidak merokok.
7. Tuberkolosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri yang dapat mempengaruhi
semua jaringan tubuh, tapi paling umum terlokalisasi di paru-paru.
8. Pneumonia adalah proses inflamasi infeksius akut yang mengakibatkan alveoli
penuh terisi cairan. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, protozoa,
virus, atau zat kimia.

2.3 Penyakit pada Saluran Pernafasan 3


Selain masalah-masalah diatas, terdapat juga beberapa penyakit pada saluran pernapasan
yang dikenal dengan istilah CARA (Chronic Aspecific Respiratory Affections) yang mencakup

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


semua penyakit saluran pernapasan yang bercirikan penyumbatan (obstruksi) bronchi disertai
pengembangan mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum) berlebihan. Gejala terpenting
dari penyakit saluran pernapasan antara lain sesak napas (dyspnoe) saat mengeluarkan tenaga
atau selama istirahat dan/atau sebagai serangan akut, juga batuk kronis dengan pengeluaran
dahak yang kental.
Penyumbatan bronchi dengan sesak napas, yang merupakan sebab utama asma dan
COPD, diperkirakan dapat terjadi menurut mekanisme berikut, yaitu berdasarkan
hiperreaksitivitas bronchi (HRB), reaksi alergi atau infeksi saluran pernapasan.
1. Hiperreaksitivitas bronchi (HRB)
Pada semua penderita asma dan COPD terdapat hiperreakstivitas bronchi. HRB
adalah meningkatnya kepekaan bronchi dibandingkan saluran napas normal,
terhadapkan zat-zat merangsang tak spesifik yang dihirup dari udara. Pada sebagian
penderita asma juga terdapat kepekaan berlebihan bagi stimuli spesifik yang pada
orang sehat tidak memberikan reaksi pada saluran pernapasannya. HRB aspesifik
selalu timbul bersamaan reaksi peradangan di saluran pernapasan.
2. Alergi
Pada sebagian pasien asma, disamping HRB aspesifik juga terdapat alergi untuk
membentuk antibody terhadap allergen tertentu yang memasuki tubuh (antigen).
Antibodies ini dari tipe IgE (immunoglobulin type E), juga disebut regain, mengikat
dari pada mastcells antara lain disaluran pernapasan, mata dan hidung. Jika jumllah
IgE sudah cukup besar maka pada waktu allergen yang sama masuk lagi ke dalam
tubuh terjadilah penggabungan antigen-antibodi. Mattcells pecah (degranulasi) den
segera melepaskan mediatornya. Akibatnya sering kali bronchokontriksi dengan
pengembangan mukosa dan hipersekresi dahak, yang merupakan gejala khas asma.
 Alergen inhalasi; yang masuk ke tubuh lewat pernapasan.
 Alergen oral dan lokali; yang memasuki tubuh melalui mulut atau kulit
3. Infeksi saluran pernapasan
Dapat menyebabkan gejala radang dengan perubahan di selaput lender, yang pada
pasien asma dan COPD memperkuat HRB dan bronchokontriksi serta mempermudah
penetrasi allergen sehingga terjadi infeksi yang sering kambuh akibat obtruksi
bronchi.
4
4. ASMA
Asma atau bengek adalah suatu penyakit peradangan steril kronis yang bercirikan
serangan sesak napas akut secara berkala, mudah tersengal-sengal, disertai batuk dan

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


hipersekresi dahak. Berlainan dengan COPD, obstruksi saluran napas pada asma
bersifat reversible dan serangan biasanya berlangsung beberapa menit sampai
beberapa jam. Penyebabnya, adanya peradangan steril kronis dari saluran pernapasan
dengan mastcells dan granulosit eosinofil sebagai pemeran penting. Selain itu juga
terdapat hiperreaktivitas bronchi terhadap berbagai stimuli aspesifik yang dapat
memicu serangan.
Ada beberapa jenis stimuli (rangsangan) yang dapat menyebabkan masalah pada
sistem pernapasan, yaitu :
 Rangsangan fisis, seperti perubahan suhu, dingin, dan kabut.
 Rangsangan kimiawi, seperti polusi udara (gas-gas pembuanga n,
sulfurdioksida, ozon, asap rokok).
 Rangsangan fisik, seperti exertion, hiperventilasi.
 Rangsangan psikis, seperti emosi dan stress.
 Rangsangan farmakologi, seperti histamin, serotonin, asetilkolin, asetosal, dan
lainnya.
5. Bronchitis Kronis
Penyakit ini bercirikan batuk ‘produktif’ menahun dengan pengeluaran banyak dahak,
tanpa sesak napas atau hanya ringan. Dalam kebanyakan kasus (80%) disebabkan
infeksi akut saluran pernapasan oleh virus, yang mudah disuprainfeksikan (Str
pneumonia dan branhamella catarrhalis) dengan suatu bakteri Haemophilus influenza
(Tjay, 2002).
6. Emfisema paru
Emfisema bercirikan dilatasi dan destruksi dari jaringan paru-paru, yang
mengakibatkan sesak napas terus-menerus dan menghebat pada waktu mengeluarkan
tenaga. Gelembung paru (alveoli) terus mengembang dan rongganya membesar
sehingga dinding-dindingnya yang mengandung pembuluh darah menjadi amat tipis
dan sebagian akhirnya rusak sehingga permukaan paru untuk penyerapan oksigen
dapat berkurang di bawah 30% hingga jantung harus bekerja lebih keras untuk
memenuhi akan oksigen. Tonus di cabang-cabang batang nadi (aorta) bertambah dan
tekanan darah di arteri paru-paru meningkat. Sehingga menimbulkan kegagalan
ventrikel jantung dan terjadilah cor pulmonale (jantung membesar)
5
Penyebab emfisema adalah :
 Bronchitis kronis dengan batuk bertahun-tahun lamanya, juga asma.
 Merokok

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


 Asap rokok, mengandung zat-zat yang menstimulasi enzim elastase yang
merombak serat-serat elastin dalam dinding gelembung paru, sehingga
kekenyalannya menurun, terjadi kelainan irreversible dalam bentuk fibrosis
dan destruksi dari dinding gelembung bersama pembuluh darahnya.

2.4 Obat Saluran Pernafasan


Beberapa obat yang bekerja pada sistem pernafasan dengan bentuk sediaan antara lain
tablet/kapsul, tablet lepas lambat, sirup dan drop, balsam, inhaler, tetes hidung, nebulizer.
Jenis-jenis obat-obat respiratorik dibedakan berdasar efek terhadap organ saluran pernafasan
antara lain adalah (1) Bronkodilator; (2) Anti inflamasi; (3) Penekan sekresi dan edema
1. Bronkodilator (obat yang melebarkan saluran nafas), terbagi dalam 2 golongan yaitu:
a. Simpatomimetik / adrenergik
 Bekerja pada reseptor beta 2 (beta 2 agonis), contoh obat antara lain
orsiprenalin, Fenoterol, Terbutalin, Salbutamol
 Obat-obat golongan ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan
semprotan.
Contoh produk:
 Berupa semprotan: MDI (metered dose inhaler).
 Berbentuk bubuk halus yang dihirup (ventolin diskhaler dan bricasma
turbuhaler)
 Berupa cairan broncodilator (alupent, berotec, brivasma serta ventolin).
Obat ini dengan alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel
yang sangat halus) untuk selanjutnya dihirup.
b. Antikolinergika
Anti kolinergik mengika memblok reseptor muskarin dari saraf-saraf kolinergis di
otot polos bronchi, hingga aktivitas saraf adrenergis menjadi dominan dengan efek
bronchodilatasi. Contoh obat :
 Ipratropium : Atrovent
c. Xantin (teofilin)
 Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara
kerjanya berbeda, sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya 6
saling memperkuat.
 Nama obat antara lain aminofilin supp, Aminofilin retard, Teofilin

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


Cara pemakaian :
 Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut,
dengan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah.
 Bentuk tablet dan sirup dengan efek merangsang lambung, sehingga
sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang
mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ni.
 Teofilin terdapat juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya
dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita
karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau
lambungnya kering)
2. Anti inflmasi
Pengobatan biasanya dengan antibiotik selama minimal 10 hari, agar infeksi tidak
terulang / kambuh. Obat pilihannya adalah Amoksisilin, Eritrosin, Sefradin dan
Sefaklor yang berdaya bakterisid terhadap antara lain bakteri – bakteri di atas.
Penggunaan anti inflamsi disesuaikan dengan jneis bakteri dan tingkat keparahan
penyakit.
1. Penekan sekresi dan edema
a. Ekspektoran
Golongan ini tidak menekan refleks batuk, melainkan bekerja dengan
mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Dengan demikian tidak
rasional jika digunakan pada kasus batuk kering, sebab hanya akan membebani
tubuh dengan efek samping. Obat golongan ini harus digunakan secara hati-hati
pada penderita tukak lambung.
b. Dekongestan
Di antara beberapa jenis dekongestan, PPA (phenyl propanolamine) merupakan
obat yang paling banyak diributkan setelah Ditjen POM (Sekarang Badan POM)
menarik obat-obat flu yang mengandung PPA lebih dari 15 mg. Di Amerika
Serikat, obat ini selain dipakai di dalam obat flu dan batuk, juga digunakan
sebagai obat penekan nafsu makan yang dijual bebas. Dalam dosis tinggi, PPA
bisa meningkatkan tekanan darah. Jika digunakan terus-menerus, dapat memicu
serangan stroke. Untuk mencegah efek buruk inilah, Dirjen POM membuat
7
kebijakan membatasi PPA di dalam obat flu dan obat batuk, maksimal 15 mg per
takaran.
c. Antihistamin

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


Antihistamin merupakan salah satu komponenn yang umum terdapat dalam obat-
obat flu, antihistamin digunakan karena adanya efek antikolinergik, yang antara
lain dapat mengurangi sekresi mukus. Obat ini digunakan untuk mengatasi gejala
bersin, rhinorrhoea, dan mataberair. Antihistamin generasi pertama yang banyak
digunakan antara lain adalah CTM, difenhidramin,feniramin. Hasil uji klinik acak
terkontrol RCT (ramdomized clinical trial) antihistamin generasipertama
menunjukkan hasil yang positif untukmengatasi gejala flu, namun tidak terbukti
mencegah,mengobati atau mempersingkat seranganflu (Gitawati, 2014).
Histamin merupakan substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai mekanisme
alami untuk mempertahankan diri atas adanya benda asing. Adanya histamin ini
menyebabkan hidung kita berair dan terasa gatal, yang biasanya dikuti oleh
bersin-bersin. Selain berfungsi melawan alergi, antihistamin juga punya aktivitas
menekan refleks batuk, terutama difenhidramin dan doksilamin. Efek samping,
obat golongan ini bisa menyebabkan mengantuk sehingga bahaya pada saat mau
bepergian saat mengendari kendaraan sendiri.

Nama Obat Dosis Anti histamin


Difenhidramin ( Benadryl ) PO : 25-50 mg, setiap 4-6 jam
Kloerfenilamen maleat PO, IM, IV : 5 mg/kg/h dalam 4 dosis
terbagi, tidak lebih dari 300 mg/hari
Fenotiasin (aksi antihistamin) IM, IV: 10-50 mg dosis tunggal
Prometazine D: PO : 2-4 mg, setiap 4-6 jam
A: 6-12 thn: 2 mg, setiap 4-6 jam
A: 2-6 thn: PO, 1 mg, setiap 4-6 jam
Timeprazine PO: IM: 12,5-25 mg, setiap 4-6 jam
Turunan piperazine (aksi antihistamin) PO: 2,5 mg (4 x sehari)
A: 3-12 thn: O: 2,5 (3x sehari)
hydroxyzine D: PO: 25-100 mg

Keterangan:
D: Dewasa, A: anak-anak, PO: per oral, IM: intramuscular, IV: intravena 8

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


d. Kortikosteroid
Kortikosteroid berkhasiat meniadakan efek mediator, seperti peradangan dan
gatal-gatal. Penggunaannya terutama bermanfaat pada serangan asma akibat
infeksi virus, selian itu juga pada infeksi bakteri untuk melawan reaksi
peradangan. Untuk mengurangi hiperreaktivitas bronchi, zat-zat ini dapat
diberikan per inhalasi atau peroral. Penggunaan oral untuk jangka waktu lama
hendaknya dihindari, karena menekan fungsi anak ginjal dan dapat mengakibatkan
osteoporosis. Contoh obat : hidrokortison, deksamethason, beklometason,
budesonid.
e. Antitusif
Antitusif bekerja menghentikan batuk secara langsung dengan menekan refleks
batuk pada sistem saraf pusat di otak. Dengan demikian tidak sesuai digunakan
pada kasus batuk yang disertai dengan dahak kental, sebab justru akan
menyebabkan dahak sulit dikeluarkan.

2.5 Obat pada Penyakit Sistem Pernafasan


1. Obat Batuk
Patofisiologi batuk
Batuk adalah suatu reflek fisiologi yang dapat berlangsung baik dalam keadaan sehat
maupun sakit. Reflek tersebut terjadi lazimnya karena adanya rangsangan pada selaput lendir
9
pernapasan yang terletak di beberapa bagian dari tenggorokan dan cabang-cabangnya. Reflek
tadi berfungsi mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari zat- zat perangsang
itu, sehingga merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh.

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


Reflek batuk dapat ditimbulkan oleh karena radang (infeksi saluran pernapasan,
alergi), sebabsebab mekanis (debu), perubahan suhu yang mendadak dan rangsangan kimia
(gas, bau-bauan). Batuk (penyakit) terutama disebabkan oleh infeksi virus, misal virus
influenza dan bakteri.Batuk dapat pula merupakan gejala yang lazim pada penyakit tifus,
radang paru- paru, tumor saluran pernapasan, dekompensasi jantung, asam atau dapat pula
merupakan kebiasaan.
Pengobatan
Pengobatan batuk pertama- tama hendaknya ditunjukan pada mencari dan mengobati
penyebabnya. Selanjutnya dilakukan pengobatan simptomatiknya, yang harus dibedakan
dahulu
antara batuk produktif (batuk yang mengeluarkan dahak) dengan batuk yang non
produktif.
Batuk produktif merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zat
asing (kuman, debu dan lainnya) dan dahak dari tenggorokan. Maka pada azasnya jenis batuk
ini
tidak boleh ditekan. Terhadap batuk demikian, digunakan obat golongan ekspektoransia yang
berguna untuk mencairkan dahak yang kental dan mempermudah pengeluarannya dari
saluran
nafas. Sebaliknya batuk yang tidak produktif, adalah batuk yang tidak berguna sehinggga
harus ditekan. Untuk menekan batuk jenis ini digunakan obat golongan pereda batuk, yang
berkhasiat menekan rangsangan batuk yang bekerja sentral ataupun perifer.
Untuk batuk yang disebabkan alergi, digunakan yang dikombinasi dengan
ekspektoransia. Misalnya sirup Chlorphemin, mengandung antihistaminika Promethazine dan
Diphenhidramin. Kadang-kadang diperlukan ekspektoransia dan pereda batuk dalam suatu
kombinasi, untuk maksud mengurangi frekuensi batuk, dan tiap kali batuk cukup dapat
dikeluarkan dahak yang kotor.
Penggolongan obat batuk
Obat batuk dapat dibagi dalam dua golongan besar :
a. Zat-zat yang bekerja sentral
Zat-zat ini menekan rangsangan batuk di pusat batuk yang terletak di sumsum
lanjutan (medula) dan mungkin juga bekerja di otak dengan efek menenangkan.
10
Zat ini terbagi atas :
o zat-zat adiktif, yaitu pulvis opii, pulvis doveri dan codein, karena dapat
menimbulkan ketagihan, penggunaannya harus hati – hati.

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


o zat-zat non adiktif, yaitu noskapin, dekstrometorfan, pentoksiverin, prometazin
dan diphenhidramin.
b. Zat – zat yang bekerja perifer
Obat ini bekerja di luar SSP, dan dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu :
o Emolliensia, zat ini memperlunak rangsangan batuk, memperlicin tenggorokan
sehingga tidak kering dan melunakkan selaput lendir yang teriritasi. Contohnya
Syrup Thymi, zat-zat lendir (seperti infus carrageen), akar manis.
Ekspetoransia, zat ini memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan
mengurangi kekentalannya sehingga mempermudah pengeluarannya dengan
batuk. Beberpa jneis zat ini adalah Kalium Iodida, Amonium klorida, Kreosot,
Guaiakol, Ipeka dan minyak – minyak atsiri.
o Mukolitika, zat ini bekerja mengurangi viskositas dahak (mengencerkan dahak)
dan mengeluarkannya. Zat ini efektif digunakan untuk batuk dengan dahak
yang kental. Contohnya Asetilkarbosistein, Bromheksin, Mesna, Ambroksol.
o Zat-zat pereda, zat ini meredakan batuk dengan cara menghambat reseptor
sensibel di saluran napas. Contohnya oksolamin dan Tipepidin.
c. Obat-obat tersendiri
o Kreosot
Zat cair kuning muda ini hasil penyulingan kayu sejenis pohon di Eropa,
mengandung kirakira 70 % Guaiakol sebagai zat aktifnya. Zat ini mengurangi
pengeluaran lendir pada bronchi dan membantu menyembuhkan radang yang
kronis, disamping khasiatnya sebagai bakterisida. Berhubung baunya tidak enak
dan merangsang mukosa lambung, maka lebih banyak digunakan guaiakol dalam
bentuk esternya yaitu guaiakol karbonat, kalium guaiakol sulfonat dan gliseril
guaiakolat. Dalam usus, ester tersebut terurai menjadi guaiakol bebas. Kreosot
dapat pula digunakan sebagai obat sedotan (inhaler) dengan uap air
o Ipecacuanhae Radix
Akar dari tanaman Psychotria ipecacuanha (Rubiaceae) ini mengandung antara
lain alkaloida emetin dan sefalin. Zat-zat itu bersifat emetic, spasmolitik terhadap
kejangkejang saluran pernafasan dan mempertinggi secara reflektoris sekresi
bronchial. Penggunaan utamanya sebagai emetika pada kasus keracunan. Sebagai
11
ekspektoransia hanya digunakan terkombinasi dengan obat batuk lainnya.
o Ammonium klorida

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


Berkhasiat sebagai secretolytic. Biasanya diberikan dalam bentuk sirup, misalnya
OBH. Pada dosis tinggi menimbulkan perasaan mual dan muntah karena
merangsang lambung.
o Kalium Iodida
Menstimulir sekresi cabang tenggorokan dan mencairkan dahak, sehingga banyak
digunakan dalam obat asma. Efek sampingnya berupa gangguan tiroid, jerawat
(acne), gatal-gatal (urticaria) dan struma
o Minyak terbang
Seperti minyak kayu putih, minyak permen, minyak anisi dan terpenten.
Berkhasiat mempertinggi sekresi dahak, melawan kejang (spasmolitika), anti
radang, dan bakteriostatistik lemah.Minyak terpenten digunakan sebagai
ekspektoransia dengan cara inhalasi, yang dihirup bersama uap air, ternyata amat
bermanfaat pada radang cabang tenggorokan.
o Liquiritie Radix
Akar kayu manis dari tanaman Glycyrrhiza glabra, mengandung saponin yaitu
sejenis glukosida yang bersifat aktif di permukaan. Khasiatnya berdasarkan
sifatnya yang merangsang selaput lender dan mempertinggi sekresi zat lendir

12

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


2. Obat – Obat Asma, Bronchitis dan Emfisema Paru
Pencegahan
Untuk mencegah timbulnya reaksi antigen-antibody dan serangan penyakit ini antara lain :
 asma, adalah menjaga kebersihan (sanitasi) seperti menyingkirkan semua rangsangan
luar terutama binatang-binatang peliharaan, rumah harus dibersihkan setiap hari
khususnya kasur, sprei dan selimut. Begitu juga faktor aspesifik seperti perubahan suhu,
dingin, asap dan kabut harus dihindari.
 Berhenti merokok, karena asap rokok dapat menimbulkan bronkokonstriksi dan
memperburuk asma.
 Fisioterapi, menepuk – nepuk bagian dada guna mempermudah pengeluaran sputum,
latihan pernapasan dan relaksasi.
 Mencegah infeksi primer, dengan vaksinasi influenza.
 Pemberian antibiotika pada pasien asma dan bronchitis dengan infeksi bakteri.

Pengobatan
Pengobatan asma dan bronchitis dapat dibagi atas 3 karagori, yaitu terapi serangan akut,
status asmathicus dan terapi pencegahan.
a. Terapi serangan akut
Pada keadaan ini pemberian obat bronchospasmolitik untuk melepaskan kejang
bronchi. Sebagai obat pilihan ialah Salbutamol atau Terbutalin, sebaiknya secara
inhalasi (efek 3 – 5 menit). Kemudian dibantu dengan Aminophillin dalam bentuk
suppositoria. Obat pilihan lain ialah Efedrin dan Isoprenalin, dapat diberikan sebagai
tablet, hanya saja efeknya baru kelihatan setelah kurang lebih 1 jam. Inhalasi dapat
diulang setelah 15 menit sebelum memberikan efek. Bila yang kedua ini juga belum
memberikan efek, perlu diberikan suntikan i.v. Aminophillin atau Salbutamol,
Hidrokortison atau Prednison. Sebagai tindakan akhir dengan Adrenalin i.v. dengan
diulangi 2 kali dalam 1 jam.
b. Status asmathicus
Pada keadaan ini efek bronchodilator hanya ringan dan lambat. Ini disebabkan oleh
blokade reseptor beta karena adanya infeksi dalam saluran napas. Pengobatan dengan
suntikan i.v. Salbutamol atau Aminophillin dan Hidrokortison dosis tinggi (200 – 400 13
mg per jam sampai maksimum 4 gram sehari).
c. Terapi pencegahan

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


Dilakukan dengan pemberian bronchodilator misalnya Salbutamol, Ipratropium atau
teofillin, bila karena alergi perlu ditambahkan Ketotifen.

Penggolongan Obat – Obat Asma


Berdasarkan mekanismenya, kerja obat-obat asma dapat dibagi dalam beberapa golongan,
yaitu :
a. Antialergika
zat – zat yang bekerja menstabilkan mastcell, hingga tidak pecah dan melepaskan
histamin. Obat ini sangat berguna untuk mencegah serangan asma dan rhinitis alergis
(hay fever). Termasuk kelompok ini adalah kromoglikat. ß-2 adrenergika dan
antihistamin seperti ketotifen dan oksatomida juga memiliki efek ini.
b. Bronchodilator
Mekanisme kerja obat ini adalah merangsang sistem adrenergik sehingga memberikan
efek bronkodilatasi.
c. Adrenergika
Khususnya ß-2 simpatomimetika (ß-2-mimetik), zat ini bekerja selektif terhadap
reseptor ß-2 (bronchospasmolyse) dan tidak bekerja terhadap reseptor ß-1 (stimulasi
jantung). Kelompok ß-2mimetik seperti Salbutamol, Fenoterol, Terbutalin, Rimiterol,
Prokaterol dan Tretoquinol. Sedangkan yang bekerja terhadap reseptor ß-2 dan ß-1
adalah Efedrin, Isoprenalin, Adrenalin, dll.
d. Antikolinergika (Oksifenonium, Tiazinamium dan Ipratropium.)
Dalam otot polos terdapat keseimbangan antara sistem adrenergik dan kolinergik. Bila
reseptor ß-2 sistem adrenergik terhambat, maka sistem kolinergik menjadi dominan,
segingga terjadi penciutan bronchi. Antikolinergik bekerja memblokir reseptor saraf
kolinergik pada otot polos bronchi sehingga aktivitas saraf adrenergik menjadi
dominan, dengan efek bronchodilatasi. Efek samping : tachycardia, pengentalan
dahak, mulut kering, obstipasi, sukar kencing, gangguan akomodasi. Efek samping
dapat diperkecil dengan pemberian inhalasi.
e. Derivat xantin (Teofilin, Aminofilin dan Kolinteofinilat)
Mempunyai daya bronchodilatasi berdasarkan penghambatan enzim fosfodiesterase.
Selain itu, Teofilin juga mencegah pengingkatan hiperaktivitas, sehingga dapat
14
bekerja sebagai profilaksis. Kombinasi dengan Efedrin praktis tidak memperbesar
bronchodilatasi, sedangkan efek tachycardia diperkuat. Oleh karena itu, kombinasi
tersebut dianjurkan.

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


f. Antihistaminika (Ketotifen, Oksatomida, Tiazinamium dan Deptropin)
Obat ini memblokir reseptor histamin sehingga mencegah bronchokonstriksi. Banyak
antihistamin memiliki daya antikolinergika dan sedatif.
g. Kortikosteroida (Hidrokortison, Prednison, Deksametason, Betametason) Daya
bronchodilatasinya berdasarkan mempertinggi kepekaan reseptor ß-2, melawan efek
mediator seperti gatal dan radang. Penggunaan terutama pada serangan asma akibat
infeksi virus atau bakteri. Penggunaan jangka lama hendaknya dihindari, berhubung
efeksampingnya, yaitu osteoporosis, borok lambung, hipertensi dan diabetes. Efek
samping dapat dikurangi dengan pemberian inhalasi.
h. Ekspektoransia (KI, NH4Cl, Bromheksin, Asetilsistein)
Efeknya mencairkan dahak sehingga mudah dikeluarkan. Pada serangan akut, obat ini
berguna terutama bila lendir sangat kental dan sukar dikeluarkan. Mekanisme kerja obat ini
adalah merangsang mukosa lambung dan sekresi saluran napas sehingga menurunkan
viskositas lendir. Sedangkan Asetilsistein mekanismenya terhadap mukosaprotein dengan
melepaskan ikatan disulfida sehingga viskositas lendir berkurang

15

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi merupakan ilmu yang memepelajari
tentang pemberian obat dan cara penanganan untuk para penderita penyakit yang disebabkan
oleh gangguan pada sistem respirasi. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari beberapa
sumber, dapat disimpulkan bahwa farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi sangat
berguna untuk kelangsungan hidup bagi para penderita penyakit yang berasal dan disebabkan
oleh gangguan sistem respirasi. Penyakit dengan gangguan respirasi memang terlihat ringan,
namun jika tidak segera mendapat penangan yang tepat bisa berdampak besar bagi kesehatan
kita. Banyak obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dengan gangguan
respirasi yaitu antihistamin, mukolitik, kortikosteroid dan lain-lain.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dibeberapa bagian, sehingga sangat dimohonkan kepada para pembaca sekalian agar
berkenan memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan membuat kami semakin
berkembang dalam penulisan sebuah makalah dan penugasan yang sama.

16

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan


DAFTAR PUSTAKA

Gitawati, R. 2014. Bahan aktif dalam kombinasi obat flu dan batuk pilek, dan pemilihan obat
flu yang rasional. Makalah Litbangkes. 24(1).
Liansyah, T.M. 2014. Pendekatan kedokteran keluarga dalam penatalaksaan terkini serangan
asma pada anak. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 14(3).
Meriati, N.W.E., L.R. Goenawi dan W. Wiyono. 2013. Dampak penyuluhan pada
pengetahuan masyarakat terhadap pemilihan dan penggunaan obat batuk swamedikasi
di kecamatan malalayang. Jurnal Ilmiah Farmasi. 2(3).
Rozaliyani, A., A.D Susanto., B. Swidarmoko dan F. Yunus. 2011. Mekanisme resistens
kortikosteroid pada asma. Jurnal Respir Indonesia. 31(4).
Setiadi. 2009. Obat sistem pernafasan. Jurnal Farmako. 1(1).
Tjay, T.H dan K. Rahardja. 2013. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan Dan Efek-Efek
Sampingnya. Gramedia, Jakarta.
Yosmar, R., M. Andani dan H. Arifin. 2015. Kajian regimen dosis penggunaan obat asma
pada pasien pediatric rawat inap di bangsal anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Jurnal
Sains Farmasi dan Klinis. 2(1).

17

Farmakologi Vet. I | Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan