Anda di halaman 1dari 5

Perburuan Bukan Perburuan

Novel Perburuan merupakan salah satu dari karya terbaik Pramoedya Ananta
Toer. Novel Perburuan dapat menjadi salah satu novel terbaik karena alur cerita yang
bagus. Kita bahkan tidak menyadari bahwa cerita hanya berlangsung selama dua hari,
tetapi cerita selama dua hari tersebut dapat dikemas sehingga membentuk suatu novel
yang mengagumkan. Pemilihan kata di dalam novel perburuan ini juga sangat baik,
bahasa yang digunakan tidak terlalu susah tetapi juga bukan bahasa sehari – hari.
Sehingga dapat memudahkan pembaca untuk mengerti maksud dan tujuan yang ingin
disampaikan penulis.
Novel Perburuan merupakan cerita tentang seorang anak wedana yang
menjadi kere setelah melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Anak tersebut
bernama Hardo, ia terus diburu oleh tentara Jepang tetapi ia selalu berhasil melarikan
diri dari tangkapan Jepang bahkan setelah Jepang mengerahkan semua penduduk desa
ia tak kunjung ditangkap. Dalam cerita ini Hardo digambarkan sebagai seseorang
yang berjiwa nasionalisme tinggi, ia rela meninggalkan semua harta bendanya dan
menjadi kere demi memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Hardo adalah
seseorang yang setia dan berani, ia tak takut walaupun harus berhadapan dengan
ratusan tentara Jepang demi membela tanah air.
Pada saat sedang duduk di tepi sawah, Hardo melihat ayah mertuanya sedang
berjalan sambil berkeluh kesah. Hardo mendengarnya dan menyadari bahwa ayah
mertuanya selama ini ingin menangkap Hardo dan menyerahkannya kepada Jepang
agar ia mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Pada bagian ini ayah mertua Hardo
yang merupakan lurah Kaliwangan ternyata adalah pengkhianat, ia rela menyerahkan
menantunya demi mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Lurah Kaliwangan itu
digambarkan sebagai orang yang jahat dan penakut, ia selalu menjalankan perintah
Jepang karena ia merasa takut akan dibunuh oleh Jepang jika melanggar perintah.
Hardo lari ke sebuah gubuk untuk beristirahat. Saat ia sedang beristirahat ia
bertemu ayahnya yang lari dari gropyokan judi. Pada saat itu pula ayahnya yang
bernama Mohammad Kasim bercerita bahwa ia telah dipecat dan ibunya telah
meninggal dalam perjalanan mencarinya sebab tidak kuat menahan sakit dan beban
yang dipikulnya. Ayahnya mengaku sering bermain judi sebagai pelampiasan karena
ia tidak memiliki tujuan hidup lagi setelah ditinggalkan oleh istri dan anaknya.
Ayahnya merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan Hardo dan ia sangat yakin
bahwa kere yang ia ajak bicara itu memang benar Hardo. Akan tetapi Hardo tidak
mau mengatakan dirinya yang sebenarnya dan ia mengatakan kepada ayahnya bahwa
ia bukanlah Hardo melainkan kawan anaknya, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak
akan menceritakan dimana Hardo berada. Setelah dipecat oleh Jepang ayah Hardo
menjadi penjudi karena tidak memiliki pegangan hidup lagi setelah ditinggal oleh
istrinya. Ia putus asa terhadap hidupnya, sehingga ia memutuskan untuk bermain judi
walaupun selalu kalah.
Jepang kemudian mendatangi gubuk tersebut karena mendapat informasi dari
Lurah Kaliwangan bahwa Hardo berada dalam gubuk tersebut. Tetapi Hardo sudah
melarikan diri. Saat dibawah jembatan ia bertemu dengan temannya yang bernama
Dipo. Dipo memarahi Hardo yang selalu membahayakan dirinya dan hampir
tertangkap oleh Jepang. Dipo merasa bahwa Hardo harus melupakan orang - orang
yang telah mengkhianatinya seperti Karmin dan ayah mertuanya agar ia tak lagi
berada dalam bahaya. Penulis menggambarkan Dipo adalah teman yang perhatian,
Dipo memarahi Hardo karena ia takut Hardo akan ditangkap oleh Jepang karena
dikhianati oleh orang - orang yang dekat dengannya dulu.
Ayah mertua Hardo merasa takut kepada Jepang karena Hardo tak kunjung
ditangkap. Akhirnya ia mengatakan bahwa anaknya sendiri yang bernama Ningsih
adalah orang yang paling dekat dengan Hardo. Karmin pun ditugaskan untuk
menangkap Ningsih. Saat Karmin bertemu dengan Ningsih, ia bercerita bahwa ia
tidak bermaksud untuk mengkhianati teman - temannya tetapi sehari sebelum
memberontak kepada Jepang tunangan Karmin menikah dengan orang Belanda.
Karmin sangat terpukul akibatnya ia tidak jadi memberontak dan tetap berada di
pihak Jepang. Ningsih saat itu tidak percaya tetapi lama - kelamaan ia mulai percaya
terhadap perkataan Karmin. Karmin memberitahukan apa yang Ningsih harus katakan
di depan Jepang agar Ningsih terlepas dari kecurigaan Jepang. Pada bagian ini
Karmin digambarkan sebagai seseorang yang mudah menyerah, hanya karena
ditinggal oleh tunangannya ia mengkhianati teman - temannya tetapi pada akhir cerita
ia meminta maaf kepada semua yang sudah ia khianati. Penulis menggambarkan
Ningsih sebagai orang yang tidak mudah percaya karena ia awalnya tidak mau
memercayai perkataan Karmin tetapi setelah berpikir panjang akhirnya ia mau
memercayai perkataan Karmin. Ningsih juga adalah perempuan yang setia, ia rela
ditahan oleh Jepang karena tidak mau mengatakan keberadaan tunangannya yang
sedang dikejar oleh Jepang.
Pada akhir cerita Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia telah
memproklamirkan kemerdekaannya di Jakarta. Hardo dan seluruh teman - temannya
menyerang Jepang dan mengganti bendera Jepang menjadi bendera merah putih.
Setelah menumpas habis tentara Jepang, Hardo bergegas mencari Ningsih. Namu naas
ternyata Ningsih terkena salah satu peluru tentara Jepang yang membuatnya
meninggal dunia.
Hal yang menarik dalam novel ini terdapat dalam beberapa macam. Dimulai
dari judulnya ‘Perburuan’ dimana perburuan yang dimaksud bukanlah seperti cerita
seseorang yang memburu mangsa melainkan seseorang yang sedang diburu dalam
pemberontakannya melawan penjajah di tanah air sendiri. Kemudian novel ini dibuka
dengan pertemuan Hardo dengan ayah mertuanya di tepi sawah pada malam hari. Hal
yang menarik disini yaitu ketika Hardo mengikuti ayah mertuanya dari belakang
sambil mendengar keluhan mertuanya tentang dirinya. Keluhan mertuanya itulah
yang membuat Hardo sadar bahwa mertuanya selama ini menipu dirinya untuk
diserahkan kepada Jepang. Hal ini yang membuat Hardo menolak ajakan mertuanya
untuk pulang dan berkat inilah Hardo dapat kabur karena tahu bahwa mertuanya akan
melaporkan keberadaannya kepada Jepang.
Selanjutnya pada saat peristiwa Hardo dipertemukan dengan ayahnya karena
ketidaksengajaan Hardo masuk ke dalam gubuk sang ayah untuk beristirahat. Saat
Hardo dan sang ayah bertemu dalam gubuk, mereka berbincang – bincang mengenai
keadaan ayah saat ini. Setelah berbincang lama – kelamaan sang ayah mulai curiga
karena suara yang ia ajak bicara mirip dengan suara anaknya. Tetapi Hardo tidak
ingin mengakui bahwa ia anak yang dimaksud oleh sang ayah. Menariknya adalah
suasana yang menegangkan ketika ayahnya telah mencurigai bahwa ia adalah Hardo
tetapi Hardo tetap tidak ingin mengakuinya, hal ini membuat pembaca ingin
memberitahu sang ayah bahwa kere yang ia ajak bicara adalah anaknya sendiri.
Penulis dapat memainkan perasaan pembaca dengan membuat suasana menegangkan
dan membuat pembaca ingin ikut campur dalam cerita tersebut.
Kemudian sang ayah menyerah menganggap kere tersebut anaknya, tetapi
pada saat petang ia mendengarkan kere tersebut mengigau mengenai kekasihnya
Ningsih. Saat itulah sang ayah yakin bahwa kere tersebut anaknya dan bergegas
membakar jagung karena ingin anaknya memakan makanan yang enak. Tetapi belum
sempat mereka memakan jagung tersebut datang pasukan Jepang yang mengharuskan
Hardo untuk melarikan diri dari gubuk. Hal menarik dari bagian ini adalah penulis
membuat pembaca bahagia dengan tercapainya harapan pembaca yaitu sang ayah
mengetahui bahwa kere tersebut adalah anaknya setelah terpisah selama setengah
tahun, tetapi dengan cepat penulis kembali membuat pembaca menjadi sedih karena
mereka baru saja ingin melakukan hal – hal yang lumrah dilakukan oleh ayah dan
anak tetapi Jepang datang dan membuat mereka terpaksa kembali terpisah. Suasana
juga menjadi menegangkan karena ketakutan Hardo akan ditangkap oleh pasukan
Jepang.
Kemudian penulis menyajikan kepada pembaca bagaimana perseteruan antara
Hardo dan Dipo mengenai sentimen Hardo yang dianggap tidak berguna dan justru
membuat dirinya terus dikhianati. Hal menarik dari bagian ini adalah penulis
memberikan perkelahian antara sahabat yang dapat memecah belah mereka dan dapat
berdampak pada pemberontakan mereka terhadap Jepang. Selanjutnya, saat Jepang
menangkap Hardo, Dipo, dan Kartiman. Jepang saat itu sangat senang karena
akhirnya dapat menangkap Hardo, tapi tak lama kemudian datang segerombolan
orang yang meneriakkan bahwa Indonesia telah merdeka dan Jepang menyerah
terhadap sekutu, serta digantinya bendera Jepang menjadi merah putih. Dengan cepat
Jepang dapat ditangani oleh pejuang Indonesia, tetapi setelah itu mereka hendak
membunuh Karmin karena dianggap telah berkhianat. Karmin kemudian
menyerahkan diri kepada pejuang Indonesia namun mereka memaafkan kesalahan
yang telah Karmin perbuat. Saat itu Karmin dan Hardo berbalik mencari Ningsih,
namun naas ternyata Ningsih telah bersimbah darah akibat terkena peluru salah satu
tentara Jepang. Hal menarik dari bagian ini adalah penulis dapat dengan baik
mengubah – ubah suasana dan perasaan pembaca, yang pada awalnya suasana
menegangkan karena dianggap Hardo telah ditangkap oleh tentara Jepang kemudian
berubah menjadi suasana bahagia karena ternyata semua itu telah direncanakan sebab
Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya di Jakarta. Setelah suasana
bahagia tersebut pembaca mulai dibuat marah karena pejuang Indonesia salah paham
terhadap Karmin dan hendak membunuhnya, tetapi pembaca menjadi lega saat
Karmin dimaafkan oleh teman – temannya. Pada bagian ini pembaca mengira bahwa
akhir cerita ini mereka semua dapat selamat dan hidup bahagia, tetapi penulis
membuat harapan pembaca itu luruh seketika saat diketahui bahwa Ningsih
meninggal dunia akibat terkena peluru tentara Jepang. Pada bagian ini penulis dapat
dengan baik mengubah – ubah suasana dan perasaan pembaca karena pemilihan kata
yang baik dan juga alur cerita yang bagus.
Novel ini menggunakan latar waktu pada masa penjajahan Jepang. Banyak
kutipan yang bisa kita jadikan sebagai bukti bahwa latar waktu yang digunakan pada
novel ini adalah masa penjajahan Jepang.
“Kalau ada ayam mati, orang masih suka memperebutkannya. Coba kalau ada
kere mati…Hmmm, seorang demi seorang menyembunyikan diri di sawah dan
ladang, ketakutan kena kerja” (P:9)
Kutipan ini menggambarkan salah satu nilai moral yang terdapat dalam novel,
mjelaskan bahwa manusia lebih menghargai binatang daripada gelandangan. Padahal
gelandangan juga manusia, dan sudah sepatutnya kita sesama manusia saling
membantu.
“Bunyi gamelan yang penghabisan setelah lenyap di udara senja hari. Sepagi
anak lurah Kaliwangan telah disunati. Tamu-tamu telah habis pulang. Senja rembang
datang. Tamu yang tinggal sekarang hanya segerombolan pengemis, laki perempuan
yang memperhatikan ruang bekas permainan wayang sebentar tadi” (P:1)
Kutipan tersebut menggambarkan nilai budaya dalam novel yang
menceritakan budaya masyarakat Jawa saat mengadakan acara syukuran yaitu
menampilkan pertunjukan khas budaya mereka.
“Coba…apa yang bisa kuharapkan dari seorang kere? Paling – paling dia mau
menghabiskan harta bendaku. Tidak lain! Mesti begitulah yang akan diperbuatnya
nanti.” (P:7)
Pada kutipan ini terlihat bahwa orang tersebut menganggap bahwa
gelandangan tersebut hanya ingin menghabiskan harta bendanya. Padahal tidak semua
gelandangan bersifat begitu.
“…Engkau pernah melawan lagi waktu jadi PETA” (P:89)
Kutipan ini merupakan salah satu bukti bahwa cerita dalam novel ini terjadi
pada masa penjajahan Jepang. Pada kutipan ini dijelaskan bahwa Hardo adalah
seorang anggota PETA yang kemudian memberontak kepada Jepang. Hal ini sama
dengan peristiwa asli pemberontakan PETA di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi.
“Tapi kalau sudah sampai waktunya, Nippon akan menerima hasilnya yang
dua pertiga”. (P:123)
Kutipan ini merupakan bukti berikutnya yang terdapat dalam novel. Pada
kutipan ini dijelaskan bagaimana Jepang merebut hasil kebun rakyat Indonesia
dengan mengambil 2/3 dari hasil kebun tersebut. Pada masa penjajahan Jepang seperti
yang kita ketahui Jepang sangat kejam, mereka memaksa masyarakat Indonesia untuk
berkebun dan mereka mengambil 2/3 dari hasil kebun tersebut secara paksa.
“Indonesia sudah merdeka! Jepang menyerah pada sekutu! Kita sekarang
sudah merdeka… Sukarno-Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan” (P:155)
Kutipan ini adalah bukti terakhir yang didapatkan pada novel perburuan. Pada
kutipan ini dijelaskan bahwa Jepang akhirnya kalah terhadap sekutu dan Sukarno-
Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini sama dengan sejarah asli
yang kita ketahui bahwa Jepang akhirnya menyerah terhadap sekutu setelah menerima
dua kali bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, serta di rumah Soekarno atas nama
bangsa Indonesia Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Novel perburuan merupakan salah satu novel sejarah terbaik karya Pramoedya
Ananta. Novel ini dikategorikan novel sejarah berdasarkan bukti – bukti yang telah
disebutkan sebelumnya mengenai hal – hal di dalam novel perburuan yang
berhubungan dengan sejarah asli Indonesia saat melawan penjajahan Jepang. Novel
ini dikatakan salah satu novel terbaik bukan semata – mata dikatakan begitu karena
perburuan merupakan novel yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, melainkan hal – hal
menarik yang telah disebutkan sebelumnya itulah yang dapat memikat hati banyak
pembaca.