Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH PEMERIKSAAN AKUNTANSI I

(KERTAS KERJA)

Kelompok 5

Ais firudinata (16013010136)

M. Noor Fuadi (16013010181)

Anggie Widiasari (17013010001)

Sukma Halimatus S. (17013010007)

Aleisia Tamariezka A.T (17013010032)

Qurrotul Aini (17013010033)

Radendhania Aisyah S. (17013010036)

Febiani Tevia P. (17013010038)

Fadel Muhamad (17013010174)

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS EKONOMI DANBISNIS


TAHUN 2019
Pendahuluan

Standart dokumentasi ISA 230 memberikan prinsip prinsip dasar dokumentasi, ISA
230 menyatakan bahwa dokumentasi autit yang memenuhi persyaratan dokumentasi tertentu
dari ISA dapat memberikan bukti lagi bagi auditor sebagai dasar pengambilan
kesimpulanterkait pencapaian seluruh tujuan yang dimiliki auditordan bukti bahwa audit telah
direncanakandan dilakukan berdasarkan ISA, serta ketentuan hukum dan regulasi yang
berlaku.

Dokumentasi audit memberikan sejumlah tujuan tambahan, termasuk membantu tim


penugasan dalam melakukan perencanaan dan melakukan audit, membantu para anggota tim
penugasan terhadap supervisi untuk mengarahkan dan menyupervisi pekerjaan audit, serta
untuk melepaskantanggung jawab reviunya berdasarkan standart pengendalian kualitas audit.
Dokumentasi audit juga memungkinkan tim penugasan untuk bertanggung jawab atas
pekerjaannya, memberikan catatan tentang hal-hal yang signifikan tetap berlanjuthingga ke
audit yang akan datang, memungkinkan akan dilakukannya reviu dan inspeksi pengendalian
kualitas yang sesuai dengan ISQC#1 atau ketentuan nasional yang setidaknya menuntut dan
memungkinkan dilakukan inspeksi eksternal yang dilakukan dengan ketentuan hukum,
regulasi, atau ketentuan lain yang berlaku

Dokumentasi audit (audit documentation) adalah catatan terkait prosedut audit yang
dilakukan, bukti audit relavan yang diperoleh , dan kesimpilan kesimpulan yang didapatkan
auditor (istilah-istilah seperti “kertas kerja” atau “kertas-kertas kerja” juga sering kali
digunakan). Dokumentasi audit merupakan catatan utama sebagai dasar pengambilan
keputusan bagi auditor dan memberikan dukungan penuh dalam memberikan penyajian
dalam laporan audit. Dokumentasi audit juga memfasilitasi perencanaan ,pelaksanaan dan
supervisipenugasan dan memberikan dasar bagi reviu atas kualitas pekerjaan dalam
menyediakan dokumentasi tertulis bagi pihak reviewer, yang dimana dokumentasi ini
menjadi bukti pendukung dari kesimpulan penting yang diambil auditor. Dokumentasi audit
menyertakan sejumlah catatan terkait perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan, prosedur yang
dilakukan, bukti yang diperoleh dan kesimpulan yang diambil oleh auditor

Standart dokumentasi audit yang berasal dari US Public Company Accounting


Oversight Board (PCAOB) juga dipertimbangkan dalam laporan ini.
Kertas Kerja

Dokumentasi audit dapat disebut juga sebagai kertas kerja. Kertas kerja merupakan
catatan auditor atas perencanaan; sifat dasar, waktu dan cakupan prosedur pengauditan yang
dilakukan; hasil-hasil dari prosedur yang dilakukan tersebut; dan kesimpulan yang didapat
dari bukti-bukti yang diperoleh. Kertas kerja dapat berbentuk data yang disimpan dengan
kertas, film, media elektronik, atau media lainnya. Istilah kertas kerja, kertas-kertas kerja, dan
dokumentasu sering kali digunakan dalam pengauditan secara bergantian.

• Bantuan langsung dalam perencanaan, pelaksaan, dan supervisi audit. Jika auditor ingin
merencanakan audit secara memadai, informasi referensi yang diperlukan harus tersedia
di dalam kertas kerja. Kertas kerja mencakup berbagai informasi perencaan, seperti
informasi dekriptifmengenai pengendalian internal, informasi latar belakang klien, alokasi
waktu untuk masing-masing area audit, program audit, dan hasil-hasil dari audit tahun
sebelumnya.
• Catatan bukti audit yang dihasilkan dari pekerjaan audit yang dilakukan untuk
memberikan dukungan bagi opini audit, termasuk reperesentasi bahwa audit yang
dilakukan berdasarkan ISA. Kertas kerja merupakan bantuan fisik yang penting dalam
mencatat hasil-hasil pengujian audit. Sebaga contoh, saat sampel diambil, komponen-
komponen yang diambil tersebut harus dicatat dan perhitungan yang terkait dengannya
harus dibuat. Kertas kerja juga diperlukan untuk koordinasi pekerjaan yang nantinya
mengarah pada pembentukan opini. Supervisor yang melakukan beberapa penujian audit
aktual membuat keputusan akhir mengenai opini yang akan diberikan pada laporan
keuangan, jika ada. Supervisor menggukana kertas kerja sebagai dasar bagi evaluasi atas
bukti-bukti yang dikumpulkan.
• Bantuan dalam merevisi pekerjaan audit. Kertas kerja tidak hanya digunakan oleh
personil supervisi untuk mengevaluasi terkait apakah kecukupan bukti yang kompeten
telah dikumpulkan, tetapi juga untuk pekerjaan konsultasi dan pengauditan lainnya.
Kertas kerja digunakan oleh bagian konsultasi dari akuntan publik sebagai dasar
penyajian pajak penghasilan yang diperlukan berdasarkan regulasi pemerintah, dan
laporan-laporan lainnya. Kertas kerja merupakan sumber informasi bagi komunikasi yang
dilakukan di antara para auditor dan dewan direksi mengenai kelemahan pengendalian
internal. Kertas kerja sering kali digunakan untuk memberikan pelatihan bagi para
personil.
• Bukti yang memadai yang diberikan selama audit. Selanjutnya, setelah opini tersebut
diberikan, kertas kerja mnejadi bukti fisik yang utama bahwa audit yang memadai telah
dilakukan. Auditor bekerja dengan dokumen dan catatan akuntansi asli yang harus
ditinggalkan bersama klien saat audit telah diselesaikan, sehingga kertas kerja berfungsi
sebagai indeks bagi dokumen-dokumen tersebut. Jika auditor diminta untuk membuktian
kecukupan audit di pengadilan (berkaitan dengan hukum) atau di lembaga-lembaga
pengawas, maka kertas kerja menjadi dasar embuktian.

Hal-hal (Sejumlah Temuan atau Permasalahan) Penting

ISA 230 menyatakan “Auditor harus mendokumentasikan pembahasan mengenai hal-


hal penting dalam manajemen, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan hal
lainnya, termasuk sifat dasar dari hal-hal penting yang didiskusikan, serta kapan dan dengan
siapa pembahasan tersebut dilakukan.” Panduan tersebut tidak menjelaskan apakah “hal-hal
penting” tersebut akan terjadi.

Namun, terkait definisi hal-hal penting tersebut, kita dapat menyimak dari standar
dokumentasi yang diberikan PCAOB yang menyatakan bahwa: “Auditor harus
mendokumentasikan sejumlah temuan atau permasalahan penting, tindakan-tindakan yang
diambil untuk menanganinya (termasuk bukti tambahan yang diperoleh), dan dasar bagi
kesimpulan yang diambil dalam hubungannya dengan setiap penugasan. Sejumlah temuan
atau permasalahan penting merupakan hal-hal substantif yang penting bagi prosedur yang
dilakukan, bukti yang diperoleh, atau kesimpulan yang didapatkan.”

Sejumlah Temuan dan Permasalahan Penting

Sejumlah temuan atau permasalahan penting merupakan hal hal substantif yang penting
bagi prosedur yang dilakukan, bukti yang diperoleh, atau kesimpulan yang didapatkan, dan
termasuk, tapi tidak terbatas pada hal-hal berikut.

a. Hal-hal penting mencakup pemilihan, pelaksanaan, dan konsistensi prinsip-prinsip


akuntansi, termasuk di dalamnya pengungkapan-pengungkapan yang terkait.
b. Hasil-hasil dari prosedur pengauditan menunjukkan adanya kebutuhan terhadap
modifikasi penting dari prosedur pengauditan yang direncanakan, keberadaan salah saji
material, keberadaan defisiensi penting, kelemahan pengendalian internal atas pelaporan
keuangan yang bersifat material.
c. Akumulasi salah saji dan evaluasi atas salah saji yang tidak dapat dikoreksi.
d. Ketidaksepakatan di antara para anggota tim penugasan atau dengan pihak lain yang
berkonsultasi dengan tim penugasan terkait kesimpulan akhir yang didapatkan.
e. Situasi-situasi yang menyebabkan munculnya kesulitan-kesulitan penting saat melakukan
prosedur-prosedur pengauditan.
f. Perubahan-perubahan penting dalam penilaian risiko auditor.
g. Risiko-risiko salah saji material yang ditentukan menjadi risiko-risiko penting dan hasil-
hasil dari prosedur pengauditan yang dilakukan untuk merespons risiko-risiko tersebut.
h. Setiap hal yang dapat menghasilkan modifikasi dalam laporan auditor.

Auditor harus mengidentifikasi seluruh temuan atau permasalahan penting memorandum


penyelesaian penugasan. Memorandum ini harus menguraikan secara spesifik sebagaimana
yang diperlukan oleh reviewer dalam situasi-situasi untuk memperoleh pemahaman secara
menyeluruh mengenai sejumlah temuan atau permasalahan penting tersebut.

Bentuk dan Isi Kertas Kerja

Isi kertas kerja seharusnya “cukup lengkap dan terperinci untuk memberikan
pemahaman secara menyeluruh mengenai audit.” Kertas kerja seharusnya memuat informasi
terkait perencanaan pekerjaan audit; sifat dasar, waktu, dan cakupan prosedur audit yang
dilakukan; hasil-hasil prosedur audit yang dilakukan; dan kesimpulan-kesimpulan yang
didapatkan yang nantinya mengarah pada pembentukan opini.

Kertas kerja harus menyatakan alasan-alasan auditor pada seluruh hal yang
memerlukan penggunaan pertimbangan dan kesimpulan auditor. Ketika auditor menghadapi
sejumlah pertanyaan yang sulit terkait prinsip atau pertimbangan, kertas kerja mencatat fakta-
fakta relevan yang diketahui oleh auditor pada waktu kesimpulan akan diperoleh.

Cakupan Isi

Cakupan terkait hal-hal yang disertakan di dalam kertas kerja merupaka permasalahan
yang berhubungan dengan kearifan profesional. Tidak perlu dan tidak praktis untuk
mendokumentasikan setiap hal yang menjadi pertimbangan auditor. Kertas kerja seharusnya
menyatakan dasar bagi keputusan utama yang diambil.

Seluruh kantor akuntan publik di dunia memiliki format kertas kerjanya sendiri, dan
format-format tersebut dimodifikasi dari waktu ke waktu. Tidak ada satupun yang merupakan
format standar. Format tersebut dipengaruhi oleh persyaratan audit terkait arahan, supervisi,
dan reviu pekerjaan yang dilakukan oleh asisten, serta perbedaan dalam metodologi dan
teknologi yang digunakan oleh kantor akuntan publik. Penggunaan kertas kerja yang
terstandarisasi (misalnya, ceklis, surat spesimen, atau standar pengelolaan kertas kerja) dapat
meningkatkan efisiensi dari kertas kerja yang disiapkan dan direviu.

Retensi Dokumen

ISA 230 menyatakan: “Auditor harus mengadopsi prosedur-prosedur yang sesuai untuk
mempertahankan kerahasiaan dan penyimpanan kertas kerja yang aman dan untuk
mengelolanya pada periode yang memadai agar dapat memenuhi kebutuhan praktik dan
sesuai dengan ketentuan hukum dan profesional atas retensi catatan tersebut.”

Sebaliknya, Standar Pengendalian Kualitas Internasional (International Standard on


Quality Control-ISQC) 1 diusulkan untuk menangani permasalahan yang terkait dengan
retensi dokumen dalam konteks sistem pengendalian kualitas perusahaan. Panduan pada
tingkatan yang lebih tinggi dalam ISQC 1 menyatakan bahwa: “Perusahaan mengelola
dokumentasi ini selama periode waktu yang memadai yang memungkinkan adanya
pelaksanaan prosedur pemantauan agar dapat mengevaluasi kepatuhan perusahaan dengan
sistem pengendalian kualitas yang berlaku atau selama periode waktu yang lebih lama jika
diperlukan berdasarkan undang-undang atau regulasi.”

 Retensi Dokumen Berdasarkan PCAOB dan SOX


SEC Amerika Serikat telah memperkenalkan adanya regulasi yang lebih terperinci
(Rule 210.2-06) pada retensi dokumen sebagaimana yang diamanatkan oleh Sarbanes-
Oxley Act (SOX). Regulasi menetapkan persyaratan secara terperinci yang berkaitan
dengan tipe dokumen (misalnya, kertas kerja, memo, korespondensi, dll. Yang memuat
sejumlah kesimpulan, opini, analisis, dll.) yang seharusnya dikelola dan pada periode
waktu tertentu, dokumen tersebut seharusnya dikelola, tanpa memperhatikan apakah
dokumen semacam itu mendukung atau justru inkonsisten dengan kesimpulan akhir audit.
Berdasarkan Section 103 SOX, setiap kantor akuntan publik yang terdaftar perlu
mempersiapkan dan mempertahankan kertas kerja audit dan informasi lain yang terkait
dengan setiap laporan audit untuk periode yang tidak kurang dari tujuh tahun. Standar
Dokumentasi PCAOB menyatakan bahwa: “Dokumentasi audit harus dikelola selama
tujuh tahun dari tanggal penyelesaian penugasan, sebagaimana yang ditunjukkan dengan
tanggal yang tertera di dalam laporan auditor, kecuali jika periode waktu yang lebih
panjang diperlukan berdasarkan undang-undang.”
Berdasarkan Section 105 SOX, PCAOB juga dapat:
 Meminta testimoni dari perusahaan atau setiap pihak yang terkait dengan kantor
akuntan publik yang terdaftar.
 Meminta hasil kertas kerja adit dan setiap dokumen atau informasi lainnya dalam
kepemilikan kantor akuntan publik yang terdaftar atau pihak-pihak yang terkait, dan
dapat menginspeksi sejumlah pembukuan dan catatan dari perusahaan atau pihak
yang terkait untuk memverifikasi akurasi dari setiap dokumen atau informasi yang
diberikan.
 Meminta testimoni dan hasil dari setiap dokumen dalam kepemilikan pihak-pihak
lain, termasuk setiap klien dari kantor akuntan publik dan terdaftar.

 Penambahan atau Perubahan Dokumentasi


Berdasarkan PCAOB, ketika penambahan dilakukan, dokumentasi yang ditambahkan
harus menunjukkan informasi tanggal dilakukannya penambahan, oleh siapa dokumentasi
tersebut ditambahkan, dan alasan penambahan dokumentasi tersebut.
Dokumentasi audit tidak perlu dihapus atau dihilangkan. SOX menjelaskan adanya
sanksi pidana akibat aktivitas pengubahan dokumen, yabg mana: “Siapapum yang dengan
sengaja mengubah, menghancurkan, merusak, menyembunyikan, menutupi, memalsukan,
atau membuat entry yang salah di sebelah catatan, dokumen, atau objek berwujud dengan
tujuan untuk menghambat, menghalangi, atau memengaruhi investigasi atau administrasi
yang tepat ... berdasarkan hal tersebut, harus didenda dan/atau dipenjara tidak lebih dari
20 tahun.”

Pihak Yang Memiliki Kertas Kerja

ISA 230 menyatakan bahwa kertas kerja umumnya dipertimbangkan menjadi milik
auditor. Walaupun bagian atau inti dari kertas kerja mungkin dibuat tersedia bagi entitas yang
diaudit atas pertimbangan auditor, kertas kerja tersebut tidak dapat menggantikan catatan
akuntansi yang dimiliki entitas. Dalam praktik internasional, umumnya hanya saat siapapun
termasuk klien yang memiliki hak hukum untuk memeriksa kertas kerja ketika kertas kerja
tersebut diminta oleh pengadilan sebagai bukti hukum

Selama audit, cukup banyak informasi yang diperoleh yang sifatnya rahasia, termasuk
gaji, biaya produk, dan rencana produk. Informasi ini dapat membahayakan klien dan
berguna bagi competitor jika informasi tersebut lepas dari tangan auditor.
ARSIP PERMANEN DAN ARSIP TERBARU

Terdapat dua kelompok utama dalam kertas kerja audit, yakni :

1. Arsip audit permanen (atau berkelanjuan).


Arsip permanen (permanent file) merupakan kertas kerja audit yang memuat seluruh data
yang didalamnya terdapat kepentingan yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.
2. Arsip audit terbaru.
Arsip kerja terbaru (current work paper file) memuat seluruhkertas kerja yang diperoleh
selama audit tahun berjalan.

Arsip Permanen

Arsip permanen dimaksudkan untuk memuat data historis maupun data yang sifatnya
berkelanjutan terkait audit yang sedang berjalan. Arsip ini menjadi sumber informasi yang
sesuai mengenai audit yang didalamnya terdapat kepentingan yang berkelanjutan. Arsip
kertas kerja yang permanen umumnya mencakup :

 Informasi mengenai struktur hukum dan stuktur organisasi entitas, seperti Salinan atau
kutipan dokumen perusahaan, misalnya piagam perusahaan (corporate charter),
anggaran dasar/anggaran rumah tangga perusahaan (articles of association/corporate
bylaws), rencana-rencana, manual pekerjaan dan bagan organisasi perusahaan.
 Inti atau Salinan dokumen hukum, perjanjian, dan risalah, seperti kontrak, perjanjian
pinjaman, rencana pension, dan perjanjian diantara perusahaan induk (parent company)
dan anak perusahaan (subsidiaries), notula dewan direksi atau komite eksekutif, serta
dokumen-dokumen pembagian laba.
 Analisis atas asset tetap, utang jangka Panjang, syarat penerbitan saham dan obligasi,
asset tak berwujud, penyisihan dan hasil-hasul dari prosedut analitis tahun sebelumnya.
 Informasi mengenai lingkungan industry, lingkungan ekonomi, dan lingkungan legislative
di mana entitas tersebut beroperasi.
CONTOH KERTAS KERJA-ISI ARSIP PERMANEN

Arsip Pernanen Kode Penugasan: Klien:


Indeks #Halaman Deskripsi
I Informasi umum terkait klien dan
penugasan
1 Surat penugasan
2 Formulir informasi klien
II Informasi terkait hukum dan undang-
undang
1 Anggaran dasar
2 Definisi hukum tertentu, undang-undang,
dan kontraktual
3 Registrasi, pendaftaran anggota
4 Notula yang memberikan relevansi yang
berkelanjutan dari pertemuan di antara
manajemen, direksi, dan pemegang saham
5 Ikhtisar asuransi
6 Perjanjian pinjaman, perjanjian sewa
7 Surat pernyataan kepemilikan
8 Rincian dari setiap perjanjian penting
lainnya
III Sistem akuntansi dan sistem Pengendalian
internal
1 Dokumentasi dari sistem akuntansi dan
sistem Pengendalian internal
2 Bagan akun
3 Batasan otorisasi, paraf, dan daftar tanda
tangan
4 Instruksi prosedur akuntansi
IV Audit
1 Korespondensi dari relevansi yang
berkelanjutan
2 Catatan dan notula dari relevansi yang
berkelanjutan
3 Dokumentasi: aplikasi komputer
4 Registrasi: perangkat keras dan perangkat
lunak
V Informasi laporan keuangan
1 Analisis laporan keuangan atau ikhtisar
tahun sebelumnya
2 Rincian: aset tetap tak berwujud
3 Rincian: properti, kapal, pesawat terbang
4 Rincian: aset tetap berwujud lainnya
5 Rincian: kelompok perusahaan dan
partisipasi lainnya
VI Personil, kondisi pekerjaan
1 Ikhtisar tahun sebelumnya laporan sosial
2 Gambaran personil
3 Perjanjian tawar-menawar kolektif, standar
kontrak pekerjaan, skala penggajian
4 Kondisi pekerjaan dewan direksi
5 Peraturan dan regulasi mengenai pensiun
dini/pensiun
6 Peraturan dan regulasi mengenai tunjangan
pengobatan
7 Peraturan dan regulasi mengenai pengisian
beban
8 Kondisi pekerjaan lainnya
VII Perpajakan
Arsip Terbaru

Kertas kerja untuk arsip terbaru mencakup seluruh dokumentasi yang digunakan pada
tahun dilaksanakannya audit. Kertas kerja tersebut umumnya termasuk ikhtisar informasi
yang dimiliki klien, seperti deskripsi mengenai klien, industri klien, pengendalian internal
klien, materi-materi auditor. Materi-materi auditor di dalam kertas kerja mencakup:

• Bukti dari proses perencanaan, termasuk memorandum perencanaan audit (audit planning
memorandum) (selanjutnya disebut dengan rencana audit) dan program audit (audit
programme), dan setiap perubahannya.
• Bukti dari pemahaman auditor atas sistem akuntansi dan sistem pengendalian internal,
misalnya, kuesioner pengendalian internal (internal control questionnaires), bagan alir
pengendalian internal (internal control flow charts), bagan organisasi (organisation
charts), serta daftar sejumlah pengendalian dan kelemahan pengendalian.
• Bukti dari penilaian risiko bawaan dan risiko pengendalian dan setiap perbaikannya.
• Bukti dari pertimbangan auditor atas pekerjaan pengauditan internal atau pekerjaan
auditor lainnya dan sejumlah kesimpulan yang diambil.
• Analisis atas sejumlah rasio dan trend penting.
• Catatan mengenai sifat dasar, waktu, dan cakupan prosedur-prosedur audit yang
dilakukan dan hasil-hasil dari prosedur yang dilakukan tersebut.
• Dokumen-dokumen hukum terbaru dan penting, seperti kontrak, serta perjanjian, sewa,
dan notula pertemuan tingkat tinggi lainnya.
• Bukti bahwa pekerjaan dilakukan oleh asisten yang telah di supervisi dan di review.
• Indikasi terkait siapa yang melakukan prosedur-prosedur audit dan kapan prosedur-
prosedur tersebut dilakukan.
• Rincian prosedur yang digunakan terkait dengan sejumlah komponen dari laporan
keuangan yang diaudit oleh auditor lainnya.
• Salinan atas komunikasi yang dilakukan dengan auditor lainnya tenaga ahli dan pihak
ketiga lainnya dalam bentuk surat konfirmasi (confirmation letters).
• Salinan dari surat-surat atau catatan-catatan mengenai permasalahan audit yang
dikomunikasikan atau didiskusikan dengan entitas, termasuk syarat penugasan dan
kelemahan Pengendalian internal yang bersifat material.
• Surat representasi yang diterima dari entitas, seperti surat penugasan (engagement letter),
dan surat representasi manajemen (management representation letter).
• Sejumlah kesimpulan yang didapatkan auditor mengenai aspek-aspek audit yang penting,
termasuk bagaimana pengecualian dan hal-hal yang tidak bisa terjadi, jika ada, yang
diungkapkan dengan prosedur-prosedur yang diselesaikan atau dijalankan oleh auditor.
• Salinan dari laporan keuangan dan laporan auditor.
• Analisis atas transaksi akuntansi dan saldo akun, seperti penelusuran transaksi, neraca
saldo (trial balances), skedul utama (lead schedule), dan jika diperlukan,
merekomendasikan ayat-ayat jurnal untuk mengoreksi akun-akun (misalnya, jurnal
penyesuaian dan reklasifikasi-adjusting reclassification entries) yang dibuat ketika auditor
menemukan adanya salah saji material dalam catatan-catatan akuntansi.
• Berbagai skedul pendukung.

CONTOH KERTAS KERJA—ARSIP TERBARU


Arsip Terbaru Kode Penugasan: Klien:

Indeks # Halaman Deskripsi

I Laporan-Laporan

1 Laporan keuangan

2 Laporan auditor/opini auditor

3 Serangkaian konsolidasi

4 Memorandum antarkantor terhadap auditor kelompok

II Laporan Keuangan yang Tidak Terkonsilidasi

1 Neraca saldo

2 Rekonsiliasi laporan keuangan/serangkaian konsolidasi/neraca saldo

3 Jurnal penyesuian dan reklasifikasi

III Laporan Keuangan Konsolidasi

1 Skedul konsolidasian

2 Memorandum antarkantor dan laporan dari kantor-kantor lainnya

IV Perencanaan Penugasan

1 Dokumen strategi
2 Memorandum perencanaan dan rencana audit

3 Instruksi untuk/dari kantor-kantor lainnya

4 Program audit

5 Laporan perkembangan audit

6 Anggaran

7 Rincian atas perencanaan audit dan alokasi pekerjaan

V Penyelesaian Penugasan

1 Memorandum penyelesaian

2 Ceklis pengungkapan akuntansi

3 Reviu peristiwa kemudian

4 Catatan untuk rekan/manajer

VI Administrasi Penugasan

1 Lembar pencatatan jam kerja

2 Analisis atas jam kerja dan fee

VII Dokumen Gambaran Pengendalian

VIII Representasi

1 Surat representasi

2 Hal-hal utama yang dibahs dengan manajemen

3 Surat pengacara

IX Analisis Perencanaan

1 Anggaran

2 Laporan keuangan

X Korespondensi terkait Audit Tahun Berjalan

XI Kertas Kerja yang Tidak Digunakan dari Arsip Permanen


Skedul Utama

Masing-masing line item di neraca saldo didukung dengan skedul utama yang
memuat akun terperinci dari buku besar yang menyusun line item tersebut. Sebaliknya,
masing-masing akun terperinci pada skedul utama didukung dengan pekerjaan audit yang
dilakukan dan sejumlah kesimpulan yang diambil atasnya. Sebagian besar kertas kerja
mencakup skedul terperinci yang disiapkan oleh klien atau auditor untuk mendukung jumlah-
jumlah tertentu pada laporan keuangan.

Tipe skedul pendukung yang utama adalah analisis akun, skedul daftar, rekonsiliasi
jumlah, pengujian atas kewajaran, deskripsi prosedur, dokumentasi yang bersifat informasi,
dokumentasi eksternal. Skedul analisis akun (account analysis schedule) biasanya digunakan
untuk akun aset tetap, liabilitas, dan ekuitas yang menunjukkan adanya aktivitas di akun buku
besar selama seluruh periode dilakukannya audit, sama-sama mengikat saldo awal dan saldo
akhir. Skedul daftar (list schedule) menunjukkan rincian dari masing-masing komponen
tersebut yang menghasilkan saldo akhir periode di akun buku besar. Rekonsiliasi
(reconciliation) terkait jumlah tertentu dalam catatan-catatan akuntansi dengan sumber
informasi lainnya, misalnya, rekonsiliasi saldo utang usaha dengan laporan vendor. Skedul
pengujian atas kewajaran (test of reasonableness schedule) memuat informasi yang
memungkinkan auditor untuk mengevaluasi apakah saldo akun tanpa menyertakan salah saji
yang mempertimbangkan situasi-situasi tersebut. Skedul ikhtisar dari deskripsi prosedur
(summary of procedures description schedule) mengikhtisarkan hasil dari prosedur-prosedur
audit yang dilakukan. Skedul informasi memuat informasi non audit, seperti informasi pajak,
informasi regulasi, dan alokasi waktu. Dokumentasi eksternal termasuk jawaban konfirmasi,
salinan perjanjian dengan klien, dan lain-lain.

10.A.5 Penyusunan Skedul Pekerjaan

Konsep utama dalam penyusunan kertas kerja yang sesuai adalah untuk menyusun
informasi, kerja dapat dengan mudah diinterpretasikan dan memberikan cakupan pekerjaan
dalam bentuk yang ringkas. Walaupun rintangan kertas kerja tergantung pada tujuan yang
disertakan, kertas kerja biasanya diidentifikasi dengan tepat, termasuk beberapa kesimpulan
yang akan diperoleh, akan diindeks, dan jelas menunjukkan pekerjaan audit yang akan
dilakukan.
Kertas kerja harus diidentifikasi dengan tepat terkait nama klien, periode yang
dicakup, deskripsi atas isi yang dimuat dalam kertas kerja, tanggal penyusunan dan kode
indeks, serta yang paling penting, para dari pihak yang menyusun kertas kerja tersebut.
Kesimpulan yang diperoleh mengenai bagian audit yang dilakukan tersebut juga harus
dinyatakan secara sederhana.

CONTOH KERTAS KERJA-SKEDUL ANALISIS AKUN

Arsip Spesifikasi Laporan


Kode Penugasan: Klien:
Keuangan
Indeks # Halaman Deskripsi
A Aset tetap takberwujud
B Aset tetap berwujud
C Aset tetap keuangan
D Persediaan (stok)
E Piutang
F Sekuritas
G Kas
H Modal dan cadangan saham
I Provisi
J Utang jangka panjang
K Liabilitas jangka pendek
L Komitmen sewa
M Komitmen dan liabilitas kontingensi lainnya
N Pendapatan
O Beban (berdasarkan kategori)
P Beban (berdasarkan fungsi)
Q Laba dan beban keuangan
R Perpajakan
S Komponen-komponen luar biasa
T Operasi yang dihentikan
Tanda Centang

Tanda centang merupakan simbol yang digunakan auditor untuk menunjukkan sifat
dasar dan cakupan dari prosedur yang digunakan di situasi-situasi tertentu. Tanda centang
umumnya dilakukan dengan tangan menggunakan pena atau pensil di samping atau sebelah
komponen-komponen tertentu.

Dengan semakin meningkatnya penggunaan komputer untuk pengeditan tanda


centang mungkin dimasukkan dalam program spreadsheet. Tanda centang harus di
deskripsikan dengan jelas pada bagian bawah kertas kerja dalam bentuk keterangan

Pengindeksan

Pengindeksan Kertas kerja dindeks dan direferensikan silang untuk membantu dalam
penyusunan dan pengarsipannya. Pengindeksan kertas kerja perlu pengkodean (coding)
lembaran kertas kerja, sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dengan mudah ditemukan
Auditor membuat referensi silang untuk menciptakan jejak (trail) melalui kertas kerja
Berbagai sistem pengindeksan sedang digunakan. Sistem-sistem pengindeksan tersebut
termasuk penomoran indeks secara berurutan, kombinasi indeks yang terdiri atas huruf dan
angka, serta nomor indeks yang terdiri atas beberapa digit. Kertas kerja tersebut
menggunakan penormoran indeks secara berurutan. menggunakan indeks huruf. memberikan
contoh dari sistem pengindeksan yang mana nomor indeksnya terdiri atas beberapa digit.

CONTOH KERTAS KERJA-KERTAS KERJA TERKAIT BUNGA AN UTANG

Kertas kerja terkait bunga dan utang jangka panjang


Klien: Hu’s Paradise Travel
Topik: Seluruh pengujian atas beban bunga
Tanggal: 31 Desember 200X5
Indeks: Skedul kewajaran – 13
Halaman: 1dari1
Disusun oleh: R. Mollie Hayes
Direview oleh: ________
Saldo Akun per Buku Besar €92.457
Pinjaman jangka pendek
Bulan Saldo akun buku Neraca saldo
besar di akhir bulan disetujui
Januari €218.316 √
Februari €214.983 √
Maret €210.459 √
April €315.000 √
Mei €298.300 √
Juni €200.000 √
Juli €198.453 √
Agustus €218.453 √
September €189.675 √
Oktober €180.000 √
November €167.456 √
Desember €154.678 √
Totak untuk 12 bulan €2.565.773 √
Saldo akun rata-rata €213.814 √
(SAR)
SAR @11,5%* Q€24.589
Pinjaman Jangka Panjang
Saldo awal €896.897
Saldo akhir €888.888
Saldo akun rata-rata €892.893
(SAR)
SAR @7,5% €66.967

Estimasi Total Bunga €91.556
Selisih dari saldo akun buku besar €900
Catatan:
*Didasarkan pada pemeriksaan atas sejumlah catatan sepanjang tahun---10,75%-12,5%
** disetujui dengan arsip permanen, skedule utang jangka panjang.
√ Neraca Saldo Disetujui
Jurnal Penyesuaian

Jurnal ini digunakan untuk memperbaiki kesalahan dalam pencatatan transaksi. Secara
garis besar, semua kesalahan seharusnya dikoreksi. Tapi ada beberapa kondisi yang
menyebabkan tidak semua kesalahan dibuat jurnal koreksinya karena dengan sendirinya akan
betul diperiode berikutnya. Auditor tidak membuat catatan-catatan klien. Auditor membuat
entri pada kertas kerja dan mereviu pencatatannya dengan klien.

Jurnal yang salah

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit


Februari 6 Perlengkapan Kantor 15 120.000
Kas 11 120.000

Jurnal yang seharusnya

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit


Februari 6 Perlengkapan Kantor 15 120.000
Hutang Dagang 21 120.000

Tujuan Pembuatan Kertas Kerja

Empat tujuan penting pembuatan kertas kerja adalah untuk:

1. Mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan.


Kertas kerja dapat digunakan oleh auditor untuk mendukung pendapatnya, dan
merupakan bukti bahwa auditor telah melaksanakan audit yang memadai.
2. Menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya.
Auditor dapat kembali memeriksa kertas kerja yang telah dibuat dalam auditnya, jika
di kemudian hari ada pihak-pihak yang memerlukan penjelasan mengenai simpulan atau
pertimbangan yang telah dibuat oleh auditor dalam auditnya.
3. Mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit.
Audit yang dilaksanakan oleh auditor terdiri dari berbagai tahap audit yang
dilaksanakan dalam berbagai waktu, tempat, dan pelaksana. Setiap audit tersebut
menghasilkan berbagai macam bukti yang membentuk kertas kerja. Pengkordinasian dan
pengorganisasian berbagai tahap audit tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
kertas kerja.
4. Memberikan pedoman dalam audit berikutnya.
Dari Kertas Kerja dapat diperoleh informasi yang sangat bermanfaat untuk audit
berikutnya jika dilakukan audit yang berulang terhadap klien yang sama dalam periode
akuntansi yang berlainan, auditor memerlukan informasi mengenai sifat usaha klien,
catatan dan ank e akuntansi klien, pengendaian intern klien, dan rekomendasi perbaikan
yang diajukan kepada klien dalam audit yang lalu, jurnal-jurnal adjustment yang
disarankan untuk menyajikan secara wajar laporn keuangan yang lalu.

Kertas kerja biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:

a. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan pertama, yaitu pemeriksaan telah


direncanakan dan disupervisi dengan baik.
b. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua, yaitu pemahaman memadai
atas pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,
saat, dan lingkup pengujian yang telah dilakukan, dan
c. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga, yaitu bukti audit telah
diperoleh, prosedur pemeriksaan telah diterapkan, dan pengujian telah dilaksanakan yang
memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan auditan.

Kertas kerja dan standar auditing, berhubungan erat dengan tiga kelompok yaitu:

1. Kertas kerja audit dan standar umum, standar umum yang menyatkan tentang kopentensi,
independensi, dan kecermatan dan keseksamaan pelaksanaan tugas.
2. Keras kerja audit dan standar pekerjaan lapangan, hal ini berhubungan
dengan perencanaan dan pengawasan stuktur pengendalian internal bukti audit kompeten
yang memadai.
3. Kertas kerja dan standar pelaporan. Kertas kerja juga berhubungan erat dengan standar
pelaporan.
Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja adalah sebagai berikut:

1. Lengkap. Kertas kerja harus lengkap dalam arti:

a) Berisi semua informasi yang pokok.

b) Tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan.

2. Teliti. Memperhatikan ketelitian penulisan dan perhitungan sehingga kertas kerjanya


bebas dari kesalahan tulis dan perhitungan.
3. Ringkas. Kertas kerta dibatasi pada informasi yang pokok saja dan yang relevan dengan
tujuan audit yang dilakukan serta disajikan secara ringkas. Harus menghindari rincian
yang tidak perlu, serta merupakan ringkasan dan penafsiran data dan bukan hanya
merupakan penyalinan catatan klien ke dalam kertas kerja.
4. Jelas. Penggunaan istilah yang menimbulkan arti ganda perlu dihindari. Penyajian
informasi secara sistematik perlu dilakukan.
5. Rapi. Kerapian dalam membuat kertas kerja berguna membantu auditor senior dalam me-
review hasil pekerjaan stafnya, serta memudahkan auditor dalam meperoleh informasi
dari kertas kerja tersebut

Kertas Kerja Audit merupakan dokumentasi yang disusun oleh auditor dalam sebuah
proses audit yang terdiri dari:

1. Prosedur audit yang dilakukan


2. Pengujian yang dilakukan
3. Sumber informasi dan bukti audit yang diperoleh
4. Kesimpulan yang diambil atas proses audit yang dilakukan
5. Prinsip umum yang berkaitan dengan pembuatan dan penyimpanan kertas kerja.

Prinsip umum tersebut antara lain:

 Pembuatan kertas kerja harus mempunyai maksud dan tujuan yang jelas.
 Hindarkan pekerjaan salin-menyalin yang tidak diperlukan.
 Buktikan keterangan lisan yang diperoleh melalui pengajuan pertayaan (inquiry)
 Jangan meninggalkan suatu pertanyaan tanpa ada jawaban yang jelas.
 Tulisan segala masalah relevan yang temukan pada saat melaksanakan audit.
Tipe kertas audit ada tujuh yang biasanya dikenal, yaitu:

 Program audit,yaitu daftar prosedur audit untuk pemeriksaan elemen-elemen tertentu.


 Working trial balance, adalah suatu daftar yang berisikan saldo berbagai akun buku besar
pada akhir tahun yang diaudit dan pada akhir tahun sebelumnya.
 Ringkasan jurnal penyesuaian dan jurnal pengklasifikasian kembali, yaitu jurnal untuk
mengoreksi kembali atas kesalahan yang dilakukan auditor.
 Daftar pendukung, yaitu daftar untuk melakukan verikasi elemen-elemen yang terdapat
dalam laporan keuangan.
 Daftar utama, yaitu ringkasan akun-akun yang saling berkaitan.
 Memorandum audit dan dokumentasi audit, merupakan data tertulis yang disiapkan
auditor dalam bentuk negatif.
 Skedul dan analisis, yaitu akun yang ditunjukan dalam masing-masing buku besar dan
mengidentifikasinya.

Susunan kertas kerja, adapun susunannya adalah sebagai berikut:

 Draf laporan audit.


 Laporan keuangan auditing.
 Ringkasan informasi bagi penelaah.
 Program audit.
 Laporan keuangan atas neraca lajur yang dibuat klien.
 Ringkasan jurnal penyesuaian.
 Working Trial Balace.
 Daftar utama.
 Daftar pendukung

Kertas Kerja Terutama Berfungsi Untuk:

1. Sebagai pendukung utama bagi laporan auditor, termasuk representasi tentang


pengamatan atas standar pekerjaan lapangan. Selain itu, kertas kerja juga merupakan
bukti pendukung utama yang memungkinkan auditor membela diri apabila hasil
kerjanya dipermasalahkan dikemudian hari.
2. Membantu auditor dalam pelaksanaan dan supervisi audit.
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, kertas kerja harus direncanakan dan dipergunakan
untuk meningkatkan pelaksanaan penugasan audit seefisien dan seekonomis mungkin. Kertas
kerja harus berisi catatan mengenai prosedur audit yang memadai dan lengkap yang
dilakukan dalam pemeriksaan laporan keuangan serta kesimpulan yang dicapai.

Faktor-faktor berikut ini dapat mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai


kuantitas, bentuk dan isi kertas kerja:

1. Sifat dasar penugasan


2. Sifat dasar laporan auditor
3. Sifat dasar laporan keuangan, lampiran atau informasi lain yang dilaporkan oleh
auditor
4. Sistim pembukuan yang ada pada perusahaan klien
5. Cukup tidaknya pengendalian intern terhadap pencatatan akuntansi
6. Tingkat supervisi dan penelaahan yang diperlukan

SKEDUL PENDUKUNG

Pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap unsur-unsur yang tercantum dalam
laporan keuangan klien, ia membuat berbagai macam kertas kerja pendukung yang
menguatkan informasi keuangan dan operasional yang dikumpulkannya. Dalam setiap skedul
pendukung harus dicantumkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh auditor dalam
memverifikasi dan menganalisis unsur-unsur yang dicantumkan dalam daftar tersebut,
metode verifikasi yang digunakan, pertanyaan yang timbul dalam audit, serta jawaban atas
pertanyaan tersebut. Skedul pendukung harus memuat juga berbagai simpulan yang dibuat
oleh auditor.

PEMBERIAN INDEKS PADA KERTAS KERJA

Pemberian indeks terhadap kertas kerja akan memudahkan pencarian informasi dalam
bebagai daftar yang terdapat diberbagai tipe kertas kerja. Faktor-faktor yang harus
diperhatikan dalam pemberian indeks kertas kerja adalah sebagai berikut :

1. Setiap kertas kerja harus diberi indeks, dapat disudut atas atu di sudut bawah.
2. Pencantuman indeks silang (cross index) harus dilakukan sebagai berikut :
 Indeks silang dari skedul utama.
 Indeks silang dari skedul akun pendapatan dan biaya.
 Indeks silang antarskedul pendukung.
 Indeks silang dari skedul pendukung ke ringkasan jurnal adjusment.
 Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.
 Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit dengan
kertas kerja.
3. Jawaban konfirmasi, pita mesin hitung, print-out komputer, dan sebagainya tidak diberi
indeks kecuali jika dilampirkan di belakang kertas kerja yang berindeks.

METODE PEMBERIAN INDEKS KERTAS KERJA

Ada tiga metode pemberian indeks terhadap kertas kerja :

1. Indeks angka. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi indeks dengan angka,
sedangkan skedul pendukung diberi subindeks dengan mencantumkan nomor kode
skedul utama yang berkaitan.
2. Indeks kombinasi angka dan huruf. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi kode
huruf, sedangkan skedul pendukungnya diberi kode kombinasi huruf dan angka.
3. Indeks angka berurutan. Kertas kerja diberi angka yang berurutan.

CONTOH-CONTOH KERTAS KERJA

Catatan memo

 Hasil analisa jawaban konfirmsi


 clients representation letter
 komentar yang dibuat atau didapat oleh akuntan pemeriksa
 Tembusan (copy) dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang diperoleh ataupun
yang didapat dari klien dan diverifikasi oleh akuntan.

Sumber-sumber kertas kerja

kertas kerja dapat diperoleh dari klien, hasil analisis auditor, pihak ketiga yang independen.
Contoh kertas kerja yang berasal dari klien

 Berita Acara Kas Opname (Cash Count Sheet)

 Internal Control Questionare dan evalusi serta hasil analisis pengendalian interen
 Analisis Aktiva Tetap
 Analisis kecukupan allowance for bad debt (penyisihan piutang/cadangan kerugian
piutang)

 Working Trial Balance atau dapat dipecah menjadi dua yaitu Working Balance Sheet
dan Working Profit and Loss
 Top schedule

 Supporting schedule
 Konsep Laporan Audit

Etika yang harus ditaati auditor berkaitan dengan kertas kerja

Kertas kerja yang dikumpulkan oleh akuntan merupakan data-data rahasia perusahaan, oleh
karenanya akuntan berkewjiban untuk menjaga kerahasiaan tersebut jangan sampai data
tersebut diketahui oleh pihak-pihak yang tidak diinginkan perusahaan

Pengarsipan kertas kerja audit

1. Current file
Arsip pemeriksaan tahunan yang diperoleh dari pemeriksaan tahun berjalan, informasi
dari current file pada umumnya mempunyai manfaat untuk tahun yang diperiksa.
Contoh: neraca saldo, berita acara kas opname, rekonsiliasi bank, rincian piutang,
rincian persediaan, rincian utang, rincian biaya dan lain-lain.
2. Permanent file
Merupakan arsip kertas kerja yang secara relatif tidak mengalami perubahan. Arsip ini
dapat digunakan berulang-ulang untuk beberapa periode pengauditan. Contoh: akte
pendirian, accounting manual (pedoman akuntansi), kontrak-kontrak, notulen rapat.
Tujuan permanent file
(1) Sebagai acuan yang digunakan untuk pemeriksaan tahun-tahun mendatang
(2) Memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien bagi staff yang
baru pertama kali menangani pemeriksaan laporan keuangan
(3) Untuk menghindari pengulangan pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ke
tahun
3. Corespondence file
Merupakan arsip surat menyurat, facsimili dan lain-lain.

Kepemilikan kertas kerja

Kertas kerja audit akuntan yang disusun selama pelaksanaan audit, baik yang disusun oleh
auditor sendiri maupun yang disusunkan oleh klien untuk auditor, adalah milik auditor
(akuntan publik); oleh karena itu semua kertas kerja tersebut harus disimpan oleh auditor
dengan sebaik-baiknya, dalam arti disimpan secara teratur sesuai dengan urutan yang logis.

Contoh Kasus

Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia Farma Tbk.

Permasalahan

PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Pada
audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih
sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa
(HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut
terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober
2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah
ditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan
yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau
24,7% dari laba awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku
yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral
berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar
Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar
Rp 10,7 miliar.

Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada
dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur
produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1
dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan
dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001.
Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya
pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang
tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikan
Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah
mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain
itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut.

Selanjutnya diikuti dengan pemberitaan di harian Kontan yang menyatakan bahwa


Kementerian BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik Pemerintah di
PT KAEF setelah melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan (overstated) dalam
laporan keuangan pada semester I tahun 2002. Dimana tindakan ini terbukti melanggar
Peraturan Bapepam No.VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan poin 2 –
Khusus huruf m – Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar poin 3) Kesalahan
Mendasar, sebagai berikut:

“Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis,


kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan
atau kelalaian.

Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar harus
diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian kembali (restatement) untuk
periode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum
periode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualian
dilakukan apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masa
transisi penerapan standar akuntansi keuangan baru”.

Sanksi dan Denda

Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang
Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun
1995 jo Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan
Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakan sanksi
administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka:

Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 – Juni 2002 diwajibkan
membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk disetor ke Kas Negara,
karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan atas laporan keuangan per 31
Desember 2001.

Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor PT Kimia
Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)
untuk disetor ke Kas Negara, karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya
penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut,
meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM tetap
diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan Persyaratan
Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 – Tanggung Jawab & Fungsi Auditor
Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana disebutkan bahwa persyaratan
profesional yang dituntut dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan
dan pengalaman berpraktik sebagai auditor independen.

Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk.

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan pemeriksaan atau penyidikan


baik atas manajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap akuntan publik
Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans Tuanakotta dan Mustofa)
harus bertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang mengaudit Kimia Farma tahun
buku 31 Desember 2001 dan dengan yang interim 30 Juni tahun 2002.

Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan pencatatan
atas laporan keuangan. Tapi setelah audit interim 2002 akuntan publik Hans Tuanakotta
Mustofa (HTM) menemukan kesalahan pencatatan alas laporan keuangan. Sehingga
Bapepam sebagai lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan Direktorat Akuntansi
dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang mempunyai kewenangan untuk
mengawasi para akuntan publik untuk mencari bukti-bukti atas keterlibatan akuntan publik
dalam kesalahan pencatatan laporan keuangan pada PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku
2001.

Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen karena
mereka adalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya ketidakwajaran dalam
pencatatan laporan keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995 disebutkan apabila di temukan
adanya kesalahan, selambat-lambamya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus sudah
melaporkannya ke Bapepam. Dan apabila temuannya tersebut tidak dilaporkan maka auditor
tersebut dapat dikenai pidana, karena ada ketentuan yang mengatur bahwa setiap profesi
akuntan itu wajib melaporkan temuan kalau ada emiten yang melakukan pelanggaran
peraturan pasar modal. Sehingga perlu dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT.
Kimia Farma Tbk. dikarenakan adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapi
kebanyakan auditor mengatakan bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan standar
profesional akuntan publik. Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam
manipulasi laporan keuangan, karena sebagai auditor independen akuntan publik Hans
Tuanakotta & Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya itu
apakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.

Keterkaitan Manajemen Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk

Mantan direksi PT Kimia Farma Tbk. Telah terbukti melakukan pelanggaran dalam kasus
dugaan penggelembungan (mark up) laba bersih di laporan keuangan perusahaan milik
negara untuk tahun buku 2001. Kantor Menteri BUMN meminta agar kantor akuntan itu
menyatakan kembali (restated) hasil sesungguhnya dari laporan keuangan Kimia Farma tahun
buku 2001. Sementara itu, direksi lama yang terlibat akan diminta pertanggungjawabannya.
Seperti diketahui, perusahaan farmasi terbesar di Indonesia itu telah mencatatkan laba bersih
2001 sebesar Rp 132,3 miliar. Namun kemudian Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam)
menilai, pencatatan tersebut mengandung unsur rekayasa dan telah terjadi penggelembungan.
Terbukti setelah dilakukan audit ulang, laba bersih 2001 seharusnya hanya sekitar Rp 100
miliar. Sehingga diperlukan lagi audit ulang laporan keuangan per 31 Desember 2001 dan
laporan keuangan per 30 Juni 2002 yang nantinya akan dipublikasikan kepada publik.

Setelah hasil audit selesai dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakotta &
Mustafa, akan segera dilaporkan ke Bapepam. Dan Kimia Farma juga siap melakukan revisi
dan menyajikan kembali laporan keuangan 2001, jika nanti ternyata ditemukan kesalahan
dalam pencatatan. Untuk itu, perlu dilaksanakan rapat umum pemegang saham luar biasa
sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada publik. Meskipun nantinya laba
bersih Kimia Farma hanya tercantum sebesar Rp 100 miliar, investor akan tetap menilai
bagus laporan keuangan. Dalam persoalan Kimia Farma, sudah jelas yang bertanggung jawab
atas terjadinya kesalahan pencatatan laporan keuangan yang menyebabkan laba terlihat di-
mark up ini, merupakan kesalahan manajemen lama.

Kesalahan Pencatatan Laporan Keuangan Kimia Farma Tahun 2001

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai kesalahan pencatatan dalam laporan
keuangan PT Kimia Farma Tbk. tahun buku 2001 dapat dikategorikan sebagai tindak pidana
di pasar modal. Kesalahan pencatatan itu terkait dengan adanya rekayasa keuangan dan
menimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Bukti-
bukti tersebut antara lain adalah kesalahan pencatatan apakah dilakukan secara tidak sengaja
atau memang sengaja diniatkan. Tapi bagaimana pun, pelanggarannya tetap ada karena
laporan keuangan itu telah dipakai investor untuk bertransaksi. Seperti diketahui, perusahaan
farmasi itu sempat melansir laba bersih sebesar Rp 132 miliar dalam laporan keuangan tahun
buku 2001. Namun, kementerian Badan Usaha Milik Negara selaku pemegang saham
mayoritas mengetahui adanya ketidakberesan laporan keuangan tersebut. Sehingga meminta
akuntan publik Kimia Farma, yaitu Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) menyajikan kembali
(restated) laporan keuangan Kimia Farma 2001. HTM sendiri telah mengoreksi laba bersih
Kimia Farma tahun buku 2001 menjadi Rp 99 milliar. Koreksi ini dalam bentuk penyajian
kembali laporan keuangan itu telah disepakati para pemegang saham Kimia Farma dalam
rapat umum pemegang saham luar biasa. Dalam rapat tersebut, akhirnya pemegang saham
Kimia Farma secara aklamasi menyetujui tidak memakai lagi jasa HTM sebagai akuntan
publik.

Dampak Terhadap Profesi Akuntan

Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen tidak


terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan informasi
yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi yang fair. Akuntan
sudah melanggar etika profesinya. Kejadian manipulasi pencatatan laporan keuangan yang
menyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair membuat
pemerintah campur tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur profesi akuntan
dengan maksud mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar etika oleh para
akuntan publik.

PEMBAHASAN

Keterkaitan bukti audit pada kasus Kimia Farma di atas adalah bukti yang diperoleh oleh
KAP HTM auditor independen yang memeriksa Kimia Farma telah dimanipulasi oleh
manajemen. Manipulasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan penjualan yang pada
akhirnya akan meningkatkan laba perusahaan. Bukti yang diberikan manajemen berupa
master prices telah digelembungkan nilainya sehingga lebih besar dari yang seharusnya. Hal
tersebut menyebabkan adanya overstated pada penjualan dan laba. Bukti yang didapat auditor
tidak sesuai dengan bukti yang sebenarnya. Dapat dilihat bahwa, bukti audit yang didapat
oleh auditor tidak kompeten. Kompetensi bukti audit berhubungan dengan kualitas atau
keandalan data akuntansi dan informasi penguat. Bukti audit yang kompeten seharusnya
bebas dari kepalsuan dan manipulasi. Selain di sisi bukti audit, sisi professional auditor juga
menjadi issue. Auditor harus professional yaitu cermat dalam melaksanakan tugas audit yang
juga mencakup cermat dalam mengevaluasi bukti. Kemampuan untuk mengevaluasi bukti
audit secara tepat adalah keahlian penting lain yang harus dikembangkan oleh seorang
auditor. Evaluasi yang tepat atas bukti membutuhkan pemahaman auditor atas jenis yang
tersedia dan keandalan relatif atau diagnosisnya. Auditor harus mampu menentukan kapan
jumlah yang cukup dari bukti kompeten yang telah didapat dalam rangka memutuskan
apakah kewajaran asersi manajemen dapat didukung.
Di sisi lain, bukti audit juga harus cukup, yaitu cukup dilihat dari segi kuantitas serta
pengambilan sample yang tepat. Pengambilan sample terkait dengan banyaknya populasi dan
karakteristik populasi. Semakin besar populasi semakin banyak bukti yang diperlukan.
Karakteristik populasi ditentukan oleh homogenitas anggota populasi. Semakin homogen
suatu populasi maka jumlah bukti audit yang dipilih lebih kecil dibandingkan dengan
populasi yang heterogen. Dilihat dari kasus Kimia Farma, sample yang diambil belum
sepenuhnya mewakili populasi yang ada sehingga terdapat unit yang tidak disample dan unit
tersebut melakukan kecurangan.