Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SEMINAR KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK

RESTORASI GIGI SULUNG

DISUSUN OLEH :

Nadia Sabrina 1406568476


Larissa Permata Shany 1506669091

Pembimbing :
drg. Annisa Khairani, Sp.KGA

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
MEI 2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Puji dan syukur tim penulis ucapkan kepada Allah SWT
karena berkat rahmat dan karunia-Nya, tim penulis dapat menyelesaikan makalah
seminar kepaniteraan klinik ilmu kedokteran gigi anak dengan judul “Restorasi
Gigi Sulung” ini dengan baik.
Pada makalah ini akan dibahas seputar restorasi gigi sulung, yaitu tujuan
dan perbedaannya dengan restorasi gigi dewasa, prinsip dan tahapan preparasi
kavitas gigi sulung, serta material restorasi untuk gigi sulung.
Tim penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada drg.
Annisa Khairani, Sp.KGA selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan
waktu, memberikan ilmu serta memberikan saran bagi penulis pada proses
penulisan makalah ini. Tak lupa tim penulis juga mengucapkan terimakasih kepada
setiap pihak yang telah mendukung serta membantu kami selama proses
penyelesaian makalah ini.
Akhir kata, tim penulis memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca
dan dapat berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu kedokteran
gigi anak.

Jakarta, 30 Mei 2019


Tim Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................2


DAFTAR ISI ...............................................................................................................3
PENDAHULUAN ......................................................................................................4
RESTORASI GIGI SULUNG ...................................................................................5
Material Restorasi .........................................................................................................9
Glass Ionomer Cement ............................................................................................9
Resin Composite ......................................................................................................11
RMGIC .....................................................................................................................15
Kompomer ...............................................................................................................
Stainless Steel Crown ..............................................................................................
KESIMPULAN ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................

3
PENDAHULUAN

Karies atau gigi berlubang seringkali terjadi pada gigi sulung. Hal tersebut
berkaitan dengan kebiasaan diet makanan dan minuman manis pada anak serta
faktor risiko terjadi karies yang tinggi pada anak-anak. Karies yang terjadi pada gigi
sulung tersebut perlu dilakukan perawatan berupa restorasi gigi untuk menghindari
pencabutan karena pencabutan atau kehilangan gigi yang terlalu dini pada gigi
sulung dapat menyebabkan maloklusi pada perkembangan gigi dewasanya.
Restorasi gigi sulung merupakan upaya perawatan pada gigi karies menggunakan
material restorasi gigi, baik menggunakan bahan adhesive (dapat berikatan
langsung dengan struktur gigi) maupun bahan nonadhesif (tidak dapat berikatan
langsung dengan struktur gigi). Pemilihan material restorasi gigi sulung tersebut
disesuaikan dengan keadaan gigi, sifat, kelebihan dan kekurangan, serta
pertimbangan lainnya.1 Tujuan dari perawatan restorasi gigi sulung yaitu untuk
mengembalikan fungsi normal pada gigi yang mengalami kerusakan akibat karies
gigi, melindungi dan menjaga pulpa serta struktur anatomis gigi yang masih tersisa
sampai pergantian gigi dewasa pada waktunya. 2,3

Dalam restorasi gigi sulung dilakukan pembuangan jaringan karies supaya karies
tidak meluas mengenai jaringan pulpa, pengembalian fungsi gigi yang terkena
karies dengan bahan restorasi yang sesuai, pengembalian morfologi gigi agar oklusi
dan titik kontak tidak berubah, serta memperbaiki estetik atau penampilan.
Beberapa pertimbangan juga perlu diperhatikan dalam merestorasi gigi sulung,
diantaranya yaitu pertimbangan anatomis, pemilihan material, usia, risiko karies,
dan kekooperatifan anak. Seiring dengan perubahan teknologi material restorasi,
prinsip prinsip preparasi kavitas seperti yang telah dikemukakan oleh Black dengan
menekankan “perluasan untuk pencegahan” yang dianut selama berpuluh-puluh
tahun mengalami perubahan menjadi prinsip minimal intervensi, yaitu dengan
hanya mengambil jaringan gigi yang terdemineralisasi dan pemeliharaan struktur
gigi yang sehat sebanyak mungkin.4,5

Pada makalah ini akan dibahas mengenai restorasi gigi sulung, yaitu tujuan dan
perbedaannya dengan restorasi gigi dewasa, prinsip dan tahapan preparasi kavitas
gigi sulung, serta pemilihan material restorasi untuk gigi sulung, baik menggunakan
bahan adhesive (GIC, Resin Komposit, dan Kompomer) maupun bahan non
adhesive Stainless Steel Crown.

4
RESTORASI GIGI SULUNG

Definisi dan Tujuan Restorasi pada Gigi Sulung


Restorasi gigi sulung merupakan upaya perawatan pada gigi karies menggunakan
material restorasi gigi, baik menggunakan bahan adhesive (dapat berikatan
langsung dengan struktur gigi) maupun bahan nonadhesif (tidak dapat berikatan
langsung dengan struktur gigi). Pemilihan material restorasi gigi sulung tersebut
disesuaikan dengan keadaan gigi, sifat, kelebihan dan kekurangan, serta
pertimbangan lainnya.1
Tujuan dari perawatan restorasi gigi sulung yaitu untuk mengembalikan fungsi
normal pada gigi yang mengalami kerusakan akibat karies gigi, melindungi dan
menjaga pulpa serta struktur anatomis gigi yang masih tersisa sampai pergantian
gigi dewasa pada waktunya. Namun dalam perawatan restorasi juga terdapat risiko
seperti membuat gigi rentan terhadap fraktur, kegagalan restorasi, dan tereksposnya
pulpa saat ekskavasi karies. 2,3

Perbedaan Gigi Sulung dan Gigi Permanen terkait Restorasi


Dalam restorasi gigi sulung dilakukan pembuangan jaringan karies supaya karies
tidak meluas mengenai jaringan pulpa, pengembalian fungsi gigi yang terkena
karies dengan bahan restorasi yang sesuai, pengembalian morfologi gigi agar oklusi
dan titik kontak tidak berubah, serta memperbaiki estetik atau penampilan.
Berbagai pertimbangan juga perlu diperhatikan dalam merestorasi gigi sulung,
diantaranya yaitu pertimbangan anatomis, pemilihan material, usia, risiko karies,
dan kekooperatifan anak.2, 3
Gigi sulung menunjukkan kemiripan bentuk dengan gigi permanen penggantinya,
namun memiliki perbedaan anatomis seperti bentuk dan ukuran. Oleh karena itu
perlu diperhatikan sebelum melakukan restorasi, yaitu gigi sulung mempunyai
enamel dan ketebalan dentin lebih tipis daripada gigi permanen, selain itu pulpa

gigi sulung lebih besar dibandingkan dengan ukuran mahkota daripada 
 pulpa gigi

permanen. Tanduk pulpa gigi sulung juga lebih dekat ke permukaan daripada gigi
permanen, pada gigi sulung. Pada enamel rod pada 1/3 gingival ke arah oklusal dari

5
dentino 
 enamel junction sedangkan pada gigi permanen ke arah servikal.

Mahkota gigi sulung lebih menyempit pada daerah servikal daripada gigi
permanen. Gigi sulung mempunyai proksimal kontak yang lebih datar dan lebar.
Kebanyakan permukaan gigi sulung ditutupi lapisan prismless enamel. 4
Usia pada anak akan juga memengaruhi kemampuan anak untuk bersikap
kooperatif dengan prosedur seperti rubber dam dan anestesi local, selain itu usia
juga menentukan berapa lama sebuah restorasi diharapkan dapat bertahan.
Contohnya, untuk mengembalikan fungsi gigi karies yang sebentar lagi mengalami
pergantian gigi dewasa. Pemilihan bahan restorasi pada anak juga dipertimbangkan
dengan risiko kariesnya. Contohnya pada anak dengan risiko karies tinggi, GIC
mungkin bukan merupakan pilihan yang tepat pada mulut dengan risiko asam yang
tinggi meskipun GIC memiliki efek preventif. Stainless steel crown membutuhkan
preparasi yang cukup banyak, namun pada kasus tersebut dapat dipilih untuk
mengurangi kemungkinan dibutuhkannya retreatment. Pada kasus lain, GIC
memiliki peran penting dalam mengontrol karies pada karies rampan.6

Prinsip Dasar Preparasi Kavitas


Prinsip preparasi kavitas dari Black yang menekankan “perluasan untuk
pencegahan” telah dipraktekkan oleh para dokter gigi selama lebih dari 100 tahun.
Banyak dokter gigi masih berpendapat bahwa karies gigi dapat dirawat dengan
upaya restorasi gigi yang terkena. Pada kenyataan pengeboran dan selanjutnya
penambalan gigi hanya menghilangkan gejala, tanpa menghentikan penyakit
tersebut secara menyeluruh. Dewasa ini, pemeliharaan struktur gigi yang sehat
harus menjadi tujuan utama pada setiap perawatan gigi karena proses terjadinya
karies gigi dan mekanisme kerja fluorida sebagai agen pencegah karies semakin
dipahami. Oleh karena itu “pencegahan untuk perluasan” merupakan motto baru
yang lebih tepat untuk menggantikan “perluasan untuk pencegahan”.5

Minimum Intervention Dentistry (MID) merupakan pendekatan baru


penanganan karies gigi yang diawali dengan proses identifikasi dan perawatan
pencegahan dan selanjutnya upaya restorasi yang seminimal mungkin. Tindakan
ekstraksi hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir jika gigi tersebut sudah tidak

6
dapat dilakukan perawatan lain. Prinsip dan desain harus memudahkan akses pada
kavitas, menyediakan retensi maksimal dan resitensi yang baik ketika ada tekanan
yang disalurkan selama mastikasi, dan mencegah karies sekunder.5

Dalam melakukan preparasi karies perlu diketahui klasifikasi karies pada


gigi tersebut terlebih dahulu. Klasifikasi karies menurut Black menggambarkan
lokasi lesi sebagai berikut: kelas I - lesi yang terletak pada pit atau fisura mahkota
gigi; pit insisif atas; pit fasial molar bawah; kelas II - lesi proksimal gigi posterior;
kelas III - lesi proksimal gigi anterior; kelas IV - lesi proksimal gigi anterior yang
meluas ke incisal edge; kelas V - lesi pada 1/3 servikal mahkota gigi atau pada akar
yang terkekspos.7

Gambar 1. Klasifikasi lesi karies menurut G.V. Black.7

Mount dan Hume mengklasifikasikan karies berdasarkan lokasi dan ukuran


lesi, yaitu: Site I (pit dan fisur permukaan oklusal); Site II (area proksimal dibawah
titik kontak); Site III (1/3 servikal mahkota); Size I (keterlibatan dentin minimal);
Size II (keterlibatan dentin sedang, struktur gigi tersisa cukup untuk mendukung
restorasi); Size III (kavitas besar dengan struktur gigi yang rapuh); Size IV (karies
yang meluas dengan kehilangan struktur gigi).8

Selain itu terdapat klasifikasi karies menurut ICDAS (International Caries


Detection and Assessment System). ICDAS mengklasifikasikan karies berdasarkan
tingkat keparahan karies, dalam bentuk angka dan diawali dengan huruf D,

7
contohnya D0, D1.
D0 : gigi yang sehat.
D1 : perubahan awal pada email yang tampak secara visual. Biasa dilihat dengan
cara mengeringkan permukaan gigi, dan tampak adanya lesi putih di gigi tersebut.
D2 : perubahan pada email yang jelas tampak secara visual. Terlihat lesi putih pada
gigi, walau gigi masih dalam keadaan basah.
D3 : kerusakan email, tanpa keterlibatan dentin (karies email).
D4 : terdapat bayangan dentin (tidak ada kavitas pada dentin). Karies pada tahap
ini sudah menuju dentin, berada pada perbatasan dentin dan email (dentino-enamel
junction).
D5 : kavitas karies yang tampak jelas dan juga terlihatnya dentin (karies sudah
mencapai dentin).
D6 : karies dentin yang sudah sangat meluas (melibatkan pulpa).

MATERIAL RESTORASI GIGI SULUNG

8
Bahan restorasi yang dapat digunakan pada gigi sulung diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu restorasi adhesif dan restorasi nonadhesif. Restorasi adhesif merupakan
bahan restorasi yang dapat berikatan secara langsung dengan struktur gigi.
Restorasi nonadhesif diindikasikan untuk gigi dengan karies luas yang telah
melibatkan beberapa permukaan dan tonjol mahkota gigi, gigi pasca pulpotomi,
pulpektomi, dan pasca perawatan saluran akar.8, 9

Glass Ionomer Cement (GIC)


GIC pertama kali diperkenalkan oleh Wilson dan Kent pada tahun 1971, yang
terdiri dari bubuk kaca fluoroaluminosilikat dan larutan asam polikarboksilat,
merupakan semen yang berbahan dasar air dengan bentuk reaksinya asam basa,
dimana asam polialkenoat sebagai asam dan kaca kalsium stronsium aluminosilikat
sebagai basa. Bubuk GIC merupakan kaca kalsium/stronsium fluoroaluminosilikat
tersusun atas SiO2 (Quartz, 29%) yang dapat meningkatkan translusensi, Al2O3
(alumina, 16,6%) yang membentuk struktur skeletal dan meningkatkan opasitas,
CaF2 (fluorite, 34,2%) dan Na3AlF6 (cryolite, 5%) yang dapat meningkatakan
opasitas, AlF3 (5,3%) dan AlPO4 (9,9%) menurunkan suhu lebur dan meningkatkan
translusensi. Larutan GIC merupakan larutan asam poliakrilat yang berguna
memperbaiki karakteristik manipulasi, meningkatkan estetika, menghasilkan
gambaran translusen, meningkatkan waktu kerja dan kekuatan, serta
memperpendek waktu pengerasan. Reaksi yang terjadi ketika mencampur powder
dan liquid merupakan reaksi asam-basa.
Ikatan GIC dengan struktur gigi didapatkan melalui pertukaran ion Ca2+,
Al3-, Na2+, F- pada gigi dan gugus COOH (karboskil) dari GIC. Ikatan fisikokimia
tersebut GIC memiliki sifat fluoride release yang membantu remineralisasi gigi.
Asam polialkenoat dari GIC akan melepaskan ion kalsium dan alumunium dari
semen, serta ion kalsium dan fosfat dari gigi. Kelompok karboksil akan
menggantikan ion fosfat pada apatit. Reaksi pengerasan dimulai saat cairan asam
polielektrolit berkontak dengan permukaan kaca aluminosilikat yang kelak akan
menghasilkan pelepasan sejumlah ion. Ketika GIC setting akan terlepas ion

9
mineral dari permukaan dentin atau enamel yang memicu terjadinya buffering
polyacid, kenaikan pH, pelepasan mineral pada semen atau struktur gigi.11
Keunggulan GIC adalah dapat melekat pada email dan dentin secara
khemis, biokompatibel, dapat melepas fluor, dan koefisien ekspansi termalnya
sama dengan struktur gigi. Kekurangan GIC adalah rentan terhadap desikasi,
sensitif terhadap air saat proses pengerasan, resistensi yang buruk terhadap abrasi,
kurang estetik, dan kekuatan tensilnya kurang. Keluar masuknya air dari GIC
dalam 24 jam pertama akan menurunkan sifat fisik dan estetik, sehingga diperlukan
lapisan pelindung yang kedap air.
Beberapa lapisan pelindung yang saat digunakan adalah varnis dan bonding
agent. Varnis merupakan larutan resin, shellac, copal, sandarac, dan medikamen
lain dalam pelarut yang mudah menguap seperti eter atau alkohol. Pada
penguapannya, varnis membentuk lapisan tipis yang lengket atau film yang
merupakan barier terhadap efek berbahaya dari cairan atau bahan pengiritasi. Varnis
yang diaplikasikan di atas permukaan SIK bertujuan untuk mencegah kontaminasi
air dan saliva selama 24 jam pertama setelah penempatan tumpatan SIK di dalam
kavitas. Selain itu, varnis juga digunakan untuk melindungi SIK yang belum
mengeras secara sempurna dari pengeringan akibat perubahan mekanisme
hilangnya air.
GIC memiliki beberapa tipe berdasarkan fungsinya yaitu tipe I luting, tipe
II restoratif, tipe III fast setting lining, tipe IV fissure sealants, tipe V semen
ortodontik, tipe VI core build up material, tipe VII command set, tipe VIII GIC
ART, dan tipe XI geriatri dan pediatri. Indikasi restorasi GIC, yaitu Restorasi pada
lesi erosi/abrasi tanpa preparasi kavitas, Penutupan/penumpatan pit dan fisura
oklusal, Restorasi gigi decidui, Restorasi lesi karies kelas V, Restorasi lesi karies
kelaa III, diutamakan yang pembukaannya dari lingual atau palatinal belum
melibatkan bagian labial. Kontraindikasi dari restorasi GIC, yaitu karies yang
meluas hingga melibatkan cusp, labial/bukal, dan area yang menerima beban
oklusal yang besar. Kelebihan dari restorasi GIC, yaitu mampu melepaskan
fluoride, sewarna dengan gigi, biokompatibel, serta mampu berikatan baik dengan
struktur gigi. Namun, kerugian dari restorasi GIC adalah working time yang singkat,
kekuatannya rendah dibandingkan restorasi lain, lebih mudah aus, dan bersifat

10
hidrofilik (membutuhkan air untuk reaksi pengrasan dan pertukaran ion, apabila
kering GIC akan menyerap air dari tubuli dentin sehingga menyebabkan
sensitivitas).
Teknik manipulasi restorasi GIC, yaitu: letakkan GIC pada paper pad
dengan rasio powder dan liquid sesuai dengan anjuran pabrik. Bubuk dibagi
menjadi dua porsi dengan jumlah yang sama banyak. Bagian pertama disatukan
dengan cairan, kemudian dicampur dengan menggunakan spatula dengan gerakan
rolling dan melipat dengan tujuan hanya untuk membasahi permukaan
partikel bubuk dan menghasilkan campuran encer selama 10 detik. Kemudian
bagian kedua disatukan dengan adukan pertama. Pengadukan terus dilanjutkan
dengan gerakan yang sama sampai seluruh partikel terbasahi. Luas daerah
pengadukan diusahakan tidak meluas dan pengadukan selalu dikumpulkan
menjadi satu. Ambil tumpatan GIC menggunakan Plastic Filling. Letakkan pada
kavitas dan tumpat sesuai anatomis.9

Resin Komposit
Resin komposit adalah bahan restorasi gigi yang terdiri dari matriks resin (BIS-
GMA) serta filler yang berkaitan satu sama lain secara antar atom atau molekul.
Matriks resin organik berupa bis-GMA, TEGMA, UDMA dan filler atau pengisi
anorganik terdiri dari quartz, silicat, barium, stronsium atau kaca. Matriks berfungsi
sebagai pengencer dan akan membentuk polimer. Filler berfungsi memberikan
kekerasan dan menghambat perubahan bentuk matriks, serta memberikan densitas
radiopak pada foto radiograf agar dapat diidentifikasikan sebagai bahan restorasi.
Ukuran filler pada resin komposit beragam dan menjadi penggolongan dari resin
komposit. Setting atau polimerisasi dari resin komposit terdiri dari tahap inisiasi,
propagasi dan terminasi. Inisiasi dilakukan dengan pemaparan sinar biru dengan
panjang gelombang 486 nm untuk mengaktifkan radikal bebas dalam pasta
champoroquinone. Pada tahap propagasi, terjadi penambahan monomer untuk
memberikan pemanjangan rantai polimer. Pada tahap terminasi, terjadi
penambahan berat molekul dan kepadatan ikatan silang sampai pertumbuhan
radikal bebas berakhir. Beberapa komponen pada resin komposit memiliki sifat
yang sitotoksik, serta dapat menyebabkan alergi pada beberapa orang. Kekerasan

11
resin komposit dibawah enamel dan amalgam. Resin komposit memiliki setting
time 3-5 menit. Setelah disinar, permukaan komposit akan mengeras dan setting
berlanjut hingga 24 jam. Setelah setting, resin komposit akan mengalami
penyusutan volume sehingga rentan terhadap microleakage yang menyebabkan
terjadinya karies sekunder. Resin komposit dapat mengalami diskolorasi akibat
oksidasi dan hasil pertukaran air dalam matriks, atau interaksi dengan polimer yang
tidak bereaksi atau inisiator tidak terpakai. 9

Resin komposit dibagi berdasarkan ukuran partikel filler, teknik


polimerisasi, dan viskositasnya. Berdasarkan ukuran partikel, resin komposit
diklasifikasikan menjadi Macrofilled composites, yaitu memiliki ukuran filler
sebesar 10-25 µm, menghasilkan restorasi yang kasar, warna opak, serta daya tahan
yang lebih rendah, Microfilled composites, menggunakan dua jenis filler yang lebih
kecil dengan ukuran sebesar 0.03-0.5 µm yang menghasilkan permukaan hasil
restorasi yang sangat halus, mengkilap dan menyerupai email, namun memiliki sifat
mekanis yang rendah, Hybrid composites, menggunakan dua filler dengan ukuran
berbeda (rata-rata berukuran 0.5-1 µm, dimana menghasilkan restorasi yang halus
dan kuat, mengkilap namun dapat kehilangan kehalusan seiring berjalannya waktu,
Nano-filled composites, memiliki ukuran partikel yang sangat kecil (0.005-0.04
µm) dan memiliki kekuatan mekanik sama dengan hybrid namun kehalusan tahan
lama seperti microfilled composite. Berdasarkan teknik polimerisasinya, resin
komposit diklasifikasikan menjadi Self cured, yang memiliki inisiator benzoil
peroksida dan akselerator amina. Terdiri dari dua pasta basis dan katalis yang
diaduk diatas paper pad. Polimerisasi akan terjadi dari reaksi basis dan katalis
(tanpa sinar). Light cured, menggunakan pasta tanpa pengadukan yang berbentuk
syringe. Setelah dikeluarkan dari syringe, resin ditumpat dan disinar dengan light
curing. Dilakukan teknik inkremental untuk menghasilkan hasil tumpatan yang
lebih maksimal. Berdasarkan viskositas, resin komposit terbagi menjadi Packable
composite, yang memiliki viskositas tinggi surface tackiness rendah. Resin
komposit ini direkomendasikan untuk kavitas kelas I dan II karena memiliki depth
of cure yang lebih besar, polymerization shrinkage yang lebih rendah, serta
radiopasitas dan wear rate yang lebih rendah (3.5 µm/tahun). Flowable composite,
yang memiliki viskositas rendah dan direkomendasikan untuk kavitas servikal,

12
restorasi gigi sulung, dan kavitas kecil atau non-stress bearing area. Partikel
flowable composite memiliki ukuran 0.4 - 3 µm (microfilled).
Etsa asam dan bonding agent merupakan dua komponen penting yang
berperan dalam ikatan resin komposit ke struktur gigi. Ikatan yang terjadi antara
resin komposit dan email adalah micromechanical interlocking. Etsa asam pada
struktur gigi akan membentuk mikroporus akibat larutnya hidroksiapatit pada
prisma enamel. Mikroporus yang telah terbentuk akan memberikan ikatan mekanis
yang diisi oleh bonding agent untuk membentuk resin tag. Resin tag terbentuk
dimulai dengan adanya penetrasi resin ke permukaan gigi. Resin tag yang terbentuk
pada perifer enamel rod disebut dengan macrotag. Resin tag yang lebih kecil dan
halus terbentuk di setiap ujung enamel rod dimana kristal hidroksiapatit telah larut,
meninggalkan crypts yang diuraikan oleh residu bahan organik. Tag halus ini
disebut microtag. Macrotag dan microtag adalah dasar untuk ikatan mikromekanis
email. Microtag berperan lebih penting karena jumlahnya yang besar dan luas
permukaan kontak yang lebih besar. Resin komposit memiliki sifat seperti rentan
terjadi shrinkage selama polimerisasi (polymerization shrinkage). Semakin kecil
partikel filler, semakin besar resin komposit mengalami shrinkage. Hal yang dapat
mengurangi terjadinya shrinkage yaitu dengan penumpatan resin komposit secara
incremental 2mm.

Beberapa indikasi resin komposit yaitu restorasi kelas I, II, III, IV dan V,
sebagai base lining dan core built up, sebagai sealant pada restorasi resin
preventif, penutupan diastema, modifikasi kontur gigi, dan splinting. Sedangkan,
kontraindikasinya sebagai restorasi karies dengan area kavitas yang tidak dapat
diisolasi, pasien yang memiliki alergi komposit, OH buruk, serta risiko karies yang
tinggi. Kelebihan yang dimiliki resin komposit, yaitu estetik dapat disesuaikan
dengan warna gigi pasien dan tahan lama. Selain itu memiliki adhesi yang baik,
tidak mudah aus, setting time dapat diatur, dapat digunakan sebagai restorasi
hampir semua kavitas, kekuatannya lebih besar dibandingkan GIC sehingga cocok
untuk kavitas dengan beban oklusal yang tinggi, serta dapat bertahan lama. Namun,
kekurangan yang dimiliki resin komposit dapat terjadi shrinkage selama
polimerisasi yang mempengaruhi adaptasi margin. Hal tersebut dapat dicegah

13
dengan penumpatan yang dilakukan secara inkremental. Selain itu, resin komposit
juga dapat berubah warna akibat kebersihan mulut yang buruk dan konsumsi
makanan dan minuman yang mengandung pewarna.

Teknik manipulasi dan penumpatan resin komposit, yaitu dengan


mengisolasi daerah kerja dan preparasi dibuat dengan pengambilan jaringan
seminimal mungkin dan dibuat bevel pada sudut tepi kavitas. Hal ini dilakukan
untuk membuat retention form. Basis diberikan apabila kavitas melibatkan dentin
yang cukup dalam, hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi pulpa
karena resin komposit bersifat iritan terhadap pulpa. Basis juga bertujuan untuk
menahan tekanan mekanik dari bahan restorasi, penahan termal, listrik, dan
kimiawi. Kemudian kavitas dibersihkan dan dikeringkan. Aplikasikan etsa (asam
fosforat 37%) pada kavitas selama 15 detik yang berfungsi untuk membentuk
porositas pada enamel, lalu bilas dengan semprotan air. Kemudian aplikasikan
bonding di permukaan yang telah diberikan etsa, diamkan selama 20 detik, tipiskan
dengan semprotan udara, lalu sinar dengan light cure selama 10 detik. Tumpatkan
resin komposit pada kavitas secara incremental, bentuk sesuai anatomis, kemudian
sinar selama 20 detik. Poles tumpatan yang telah setting
Kunci keberhasilan penumpatan resin komposit adalah menjaga daerah
kerja tetap dalam keadaan kering selama proses penumpatan berlangsung. Resin
komposit sendiri tidak berikatan dengan enamel. Untuk memperoleh ikatan,
diciptakan ikatan fisik antara resin dan jaringan gigi yaitu dengan pengetsaan
enamel dengan asam fosfat 30-50%, membentuk pori – pori yang akan dialiri
unfilled resin (bonding agent) dan berpolimerisasi di dalamnya membentuk retensi
mekanis (tag resin). Etsa memberi keuntungan yaitu menghindari kebocoran tepi
tambalan dan diskolorasi tambalan Resin komposit merupakan bahan yang dapat
mengiritasi pulpa jika pulpa tidak dilindungi bahan pelapis kalsium-hidroksid. 9

Resin modified glass ionomer cement (RMGIC)


RMGIC merupakan modifikasi bahan restorasi gabungan resin dan GIC yang
bertujuan untuk memperbaiki sifat GIC konvensional. Kandungan resin dapat

14
meningkatkan kekuatan terhadap fraktur dan keausan dari GIC. RMGIC dapat
digunakan pada pasien dengan risiko karies tinggi, restorasi kelas I,III,V gigi
sulung, serta teknik sandwich untuk restorasi kelas 2. Kelebihan dari RMGIC yaitu
memiliki nilai estetis yang baik, working time yang lebih lama, melepaskan
fluoride, berikatan baik dengan struktur gigi, dan aplikasi yang mudah karena
membutuhkan isolasi yang minimal ketika dilakukan penumpatan. Namun,
kekurangan dari bahan ini yaitu polimerisasi metakrilat dari resin dapat
menyebabkan terjadi shrinkage selama pengerasan sehingga lebih rentan terhadap
terjadinya microleakage dibandingkan dengan GIC konvensional, serta kekuatan
yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan resin komposit.
Teknik restorasi RMGIC yaitu dengan memulai preparasi gigi mengikuti bentuk
dari kavitas; buang semua jaringan karies menggunakan bur bulat tertekanan
rendah, aplikasi dentin conditioner berupa 10% asam poliakrilik selama 20 detik,
kemudian bilas, dan keringkan sampai keadaan lembab; Tumpat RMGIC secara
incremental Pada kavitas yang besar dan dalam kemudian dilakukan penyinaran;
Setelah penumpatan dan penyinaran, cek oklusi. Periksa kontur, kontak, dan
hubungan oklusal.9

DAFTAR REFERENSI

1. Guideline on Pediatric Restorative Dentistry. Am Acad Pediatr Dent. 2008;

15
2. Koch G, Poulsen S. Pediatric Dentistry - A Clinical Approach. 2nd ed.
Oxford: Blackwell Publishing Ltd; 2009.
3. Cameron A, Widmer R. Handbook of Pediatric Dentistry. Edinburgh:
Mosby; 2014.
4. Mcdonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry For The Child and Adolescent.
8th ed. Missouri: Mosby; 2004.
5. Leman, MA. Moving from operative to preventive treatment in dental
caries management. Jurnal Biomedik, 2009; 1(3):131-141

6. Finn S. Clinical Pedodontics. 4th ed. Saunders Company; 1973.


7. GV Black’s classification of caries [Internet]. [cited 2018 Jun 27]. Available
from: https://dentodontics.com/2015/02/26/g-v-blacks-classification-of-
carious-lesions/
8. Mount G, Hume W, Ngo HC, Wolff MS. Preservation and restoration of
tooth structure. 3rd ed. Australia: Knowledge Books and Software; 2016.
9. Anusavice, Kenneth J., and Ralph W. Phillips. Phillips' Science of Dental
Materials. St. Louis, Mo: Saunders, 2003.

16