Anda di halaman 1dari 30

BAB I

ISI BUKU
BAB I
1. Kompetensi Sarjana Teknologi Pendidikan dan Kebutuhan Pembangunan
A. Beberapa Aspek Pembangunan Pendidikan
GBHN menentukan beberapa aspek pembangunan pendidikan, sebagai berikut:
GBHN 1978:“Titik berat pembangunan...diletakkan pada perluasan pendidikan dasar
dalam rangka mewujudkan pelaksanaan wajib belajar yang sekaligus memberikan
keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungannya serta peningkatan pendidikan
teknik dan kejuruan pada semua tingkat...“
“Peningkatan aspek pemerataan yang dikaitkan dengan peningkatan kesempatan
belajar, bertujuan meningkatkan pelayanan pendidikan...Kegiatan pendidikan dalam
bentuk Sekolah Terbuka, PAMONG, Sekolah Kecil...diharapkan akan dapat memperkecil
jurang perbedaan dalam kesempatan untuk mendapat pelayanan pendidikan.“
GBHN 1983:“Titik berat pembangunan...diletakkan pada peningkatan mutu, dan
perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan
wajib belajar, serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan
menengah.“
GBHN 1978:“Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan
segala bidang yang memerlukan berbagai jenis keahlian dan keterampilan serta dapat
sekaligus meningkatkan produktivitas, mutu, dan efisiensi kerja.
GBHN 1983:“Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan di
segala bidang yang memerlukan jenis – jenis keahlian dan keterampilan serta dapat
sekaligus meningkatkan produktivitas, kreativitas, mutu, dan efisiensi kerja...“
Berbagai program dan kegiatan telah dijabarkan dari kebijaksanaan dasar tersebut.
Program dan kegiatan yang dilakukan tidak semata – mata atas dasar pertambahan
kuantitatif dalam garis linear, seperti menambah jumlah gedung, guru, dan buku, melainkan
pula dengan penambahan yang bersifat inovatif. Langkah ini ditempuh atas dasar analisis
keadaan yaitu dengan menjabarkan tujuan, mengidentifikasikan hambatan, faktor
pendukung, dan alternatif tindakan.
Sebagai suatu ilustrasi dapat dilaporkan salah satu usaha pembangunan di tingkat SLP.
Pada akhir PELITA II di identifikasikan meluapnya lulusan SD sebagai konsekuensi dari
keberhasilan pembangunan SD melalui program SD Inpres.
Diputuskan kemudian untuk meningkatkan daya tampung lulusan SD ini. Namun
disadari bahwa menambah gedung sekolah seperti halnya dalam Program SD Inpres,
dianggap tidak realistis karena berbagai hambatan. Di antara hambatan yang di
identifikasikan antara lain:
1. Wilayah Indonesia yang terdiri dari sekitar 13.300 pulau sepanjang 4.800 km
menimbulkan tantangan dan hambatan tersendiri dalam hal jarak, komunikasi, serta
transportasi.
2. Kekurangan tenaga guru baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dari perhitungan
awal pada PELITA III, proyeksi kebutuhan/ kekurangan guru SMP pada 1976
diperlukan 3.600 orang guru. Adapun di tahun 1983 diperkirakan kekurangan tersebut
meningkat menjadi 20.300 orang. Namun perhitungan ini pada pertengahan
REPELITA III perlu dikoreksi karena adanya kebijaksanaan pembangunan 1.000 buah

1
SMP baru. Perhitungan baru menunjukkan perlunya 43.000 orang guru pada 1981 dan
65.000 orang pada 1983. Pemerintah telah berusaha mengatasi kekurangan guru ini
dengan membuka program – program pendidikan guru secara singkat. Usaha ini secara
kuantitatif dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan jumlah guru tersebut, tetapi di lain
pihak justru memperbesar masalah kebutuhan guru yang berkualifikasi.
3. Jumlah anak usia SMP yang terpaksa belum dapat menikmati pendidikan tingkat SMP
karena alasan – alasan geografis dan sosial ekonomis ternyata masih cukup besar baik
di kota maupun di desa di seluruh Indonesia. Mereka harus diberi pelayanan pendidikan
tersebut.
4. Kebiasaan belajar mandiri sebagai potensi internal pada anak belum dikembangkan
untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Padahal, kebiasaan
tersebut merupakan modal dasar baik untuk keberhasilan kegiatan belajarnya di
sekolah, maupun untuk menjawab tantangan hidup di masyarakat.
5. Banyak pendapat yang menganggap bahwa proses belajar hanya terjadi di dalam
gedung sekolah dan bahwa proses belajar itu terjadi karena adanya guru yang mengajar.
Faktor pendukung yang di identifikasikan, antara lain:
1. Adanya satu kurikulum SMP yang berlaku dan bersifat nasional, yang memberi peluang
untuk peningkatan kualitas anak dalam hal ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kecerdasan dan keterampilannya, budi pekertinya, kepribadiannya, semangat
kebangsaannya, dan kemampuannya sebagai manusia pembangunan untuk membangun
dirinya serta bangsanya.
2. Adanya satu sistem pemerintahan yang senantiasa memberikan prioritas tinggi dalam
pembangunan.
3. Adanya sumber daya yang mau dan mampu memikirkan alternative – alternative
tindakan kependidikan untuk memecahkan berbagai persoalan pendidikan di Indonesia.
4. Adanya kemampuan dan tersedianya landasan konseptual teknologi pendidikan yang
dapat digunakan untuk menunjang proses pendidikan secara efektif dan efisien.
5. Tersedianya modal hasil pembangunan yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan
pendidikan seperti yang tercemin dari Anggaran Belanja dan Pembangunan Negara
1982/1983.
6. Adanya keinginan belajar yang makin meluas di kalangan masyarakat Indonesia.
7. Adanya kemauan dan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dalam berbagai
kegiatan pendidikan baik formal maupun nonformal.
Alternatif yang di identifikasikan pada waktu itu, antara lain:
1. Penambahan daya tampung SLP yang dilakukan baik dengan penambahan sekolah baru
dan dengan meningkatkan efisiensi internal.
2. Peningkatan daya tampung sekolah – sekolah swasta.
3. Pengembangan sekolah terbuka dengan media korespondensi, modul, siaran, radio,
siaran televisi, dan lain – lain.
4. Pembukaan kursus – kursus keterampilan praktis di luar sekolah sebagai jalur
penyaluran ke masyarakat.
Setelah dilakukan perhitungan (daya, dana, dan waktu) terhadap alternatif tersebut
kemudian ditetapkan untuk mengembangkan SMP Terbuka. Proses pengembangan
yang serupa juga telah ditempuh untuk berbagai kegiatan pembangunan pendidikan,
misalnya SD Pamong, SD Kecil, dan sistem belajar jarak jauh.

2
B. Potensi Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan dapat didefinisikan dengan berbagai macam formulasi. Tidak
ada satu pun formulasi yang paling benar, karena berbagai formulasi di bawah ini saling
mengisi.
1. Teknologi pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks dan terintegrasi,
meliputi manusia, alat, dan sistem, termasuk di antaranya gagasan, prosedur, dan
organisasi.
2. Teknologi pendidikan memakai pendekatan yang sistematis dalam rangka menganalisis
dan memecahkan persoalan belajar.
3. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang yang berkepentingan dengan
pengembangan secara sistematis berbagai macam sumber belajar, termasuk di
dalamnya pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut.
4. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan adanya
usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian, dan
aplikasi praktis perluasan, serta peningkatan sumber belajar.
5. Teknologi pendidikan beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif,
yaitu secara rasional berkembang dan berintegrasi dalam berbagai kegiatan pendidikan
Pada umumnya, teknologi pendidikan dianggap mempunyai potensi untuk:
1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan:
 Mempercepat tahap belajar
 Membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
 Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih
banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak
2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan:
 Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional
 Memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuannya
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, dengan jalan:
 Perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis
 Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang perilaku
4. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jelas:
 Meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi
 Penyajian informasi dan data secara lebih konkret
5. Memungkinkan belajar secara seketika karena dapat:
 Mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah
 Memberikan pengetahuan langsung
6. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas, terutama adanya media mass, dengan
jalan:
 Pemanfaatan bersama (secara lebih luas) tenaga atau kejadian yang langka
 Penyajian informasi menembus batas geografis
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Dr. Daoed Joesoef) pada 8 January 1980 dalam
pidato pengarahan Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta menyatakan,
antara lain:
Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus – menerus karena adanya
kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu: (I) tekad
mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; (II) keharusan meningkatkan
mutu pendidikan, berupa antara lain penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai

3
sarana pendidikan, dan peningkatkan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk
pendidikan serta latihan; (III) penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan
pengembangan sesuai dengan tantangan zaman dan kebutuhan; (IV) peningkatan
partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan
sumber – sumber pendidikan; dan (V) penyempurnaan pelaksanaan interaksi
penyelenggaraan pendidikan.
Selanjutnya dalam kesempatan Rapat Koordinasi Pusat TKPK di Jakarta tanggal 6 Mei
1981, Menteri Dr. Daoed Joesoef pada waktu itu menyampaikan pengarahan:
Pendidikan yang dilaksanakan dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman telah
berhasil mengembangbiakkan dan menyebaluaskan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu
pengetahuan yang pesat ini pada gilirannya, juga melalui proses pendidikan bersama –
sama dengan penelitian, telah melahirkan teknologi.
Teknologi ini diterapkan di segala bidang kehidupan, di antaranya: bidang pendidikan
dan kebudayaan. Teknologi pendidikan ini karenanya beroperasi dalam seluruh bidang
pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan terjanlin dalam berbagai
bidang pendidikan. Berkat penerapan teknologi pendidikan ini usaha masyarakatkan
pendidikan dan kebudayaan menjadi semakin ekstentif dan intensif, begitu rupa sehingga
kini timbul dan semakin jelas apa yang disebu sebagai “kebudayaan masa“.
Bagi kita yang bertekad untuk juga menerapkan teknologi pendidikan demi
memeratakan kesempatan mengenyam pendidikan dan demi peningkatan mutu pendidikan
bagi jumlah anak didik yang semakin banyak, yang pertama harus disadari adalah bahwa
teknologi pendidikan ini pasti membawa pengaruh dalam bidang pendidikan, melalui
pengaruh yang ditimbulkannya pada sumber belajar. Pengaruh pada sumber belajar ini pada
gilirannya menimbulkan akibat terhadap struktur organisasi dan tanggung jawab
pelaksanaan pendidikan.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan anak didik untuk belajar,
baik yang secara khusus dirancang untuk itu maupun yang secara alamiah tersedia di
lingkungan setempat untuk dipakai. Sumber ini tidak hanya merupakan sesuatu yang
disediakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saja, apalagi oleh guru kelas saja,
melainkan juga sumber yang ada dan dapat digali dari masyarakat.
Teknologi pendidikan membawa akibat pada struktur organisasi pendidikan karena
dimungkinkannya timbul berbagai bentuk pola belajar mengajar serta berbagai bentuk
lembaga pendidikan. Kemungkinan ini tidak boleh dibiarkan terjadi begitu saja melainkan
harus dirancang dan direncanakan dengan cermat melalui serangkaian penelitian,
pengembangan, dan penilaian hingga mantap, baru kemudian dapat disebarluaskan.
Dengan kemajuan teknologi, makin banyak bentuk dan macam sumber yang tersedia,
tetapi di pihak lain makin kabur batas pemilihan atau tanggung jawab pengelolaan sumber
itu. Maka itu perlu ditingkatkan komunikasi dan kerja sama.
Dipihak lain tanggung jawab pelaksanaan pendidikan akan lebih menyebar dengan
dimanfaatkannya teknologi pendidikan. Namun guru, bagaimanapun juga, tetap memegang
peranan yang menentukan dalam proses belajar mengajar. Hanya saja guru akan membagi
sebagian tanggung jawabnya kepada ahli pengembang pembelajaran, ahli media, ahli
evaluasi, dan ahli – ahli lainnya lagi, yang kesemuanya seharusnya tergabung dalam suatu
tim pembelajaran.

4
Perubahan peranan ini seharusnya dapat meningkatkan sentuhan manusiawi antara guru
dan murid, karena dengan dibebaskannya guru dari tugas menyajikan bahan ajaran, guru
akan dapat lebih memperhatikan masing – masing anak didik secara individual.
Apabila kita analisis potensi dan pengertian teknologi pendidikan di atas, maka akan
kita dapati dua fungsi utama dalam kawasan/bidang teknologi pendidikan, yaitu fungsi
pengembangan dari teori, rancangan, produksi, evaluasi – evaluasi, logistik, pemanfaatan
dan penyebaran, serta fungsi pengelolaan dari organisasi dan personal.
C. Konsep Dasar dan Asumsi
Di samping landasan pengertian dan potensi teknologi pendidikan, perlu kiranya
disepakati beberapa konsepsi berikut ini.
1. Bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak
didik yang berakibat terjadinya perubahan pada diri pribadinya. Prinsip ini
mengandung arti bahwa yang harus diutamakan adalah “kegiatan belajar anak didik“
dan bukannya “sesuatu yang diberikan kepada anak didik“. Hal ini bila dilaksanakan
secara konsekuen akan memengaruhi peranan guru, kurikulum, organisasi sekolah,
jadwal, penilaian, dan lain – lain. Dalam rangka Kurikulum 1975, “perubahan pada
diri“ anak didik dijabarkan sebagai perubahan yang tampak dan dapat diukur.
2. Bahwa pendidikan adalah proses yang berlangsung seumur hidup. Prinsip ini bila
dilaksanakan secara konsisten akan dapat memengaruhi kurikulum secara radikal, yaitu
tidak lagi berisikan materi dan tradisi yang perlu diketahui, melainkan berintikan pada
“peranti“ untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi lebih lanjut. Prinsip ini
juga mengharuskan adanya kontinuitas dan sinkronisasi dari pendidikan yang
berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah.
3. Pendidikan dapat berlangsung kapan dan dimana saja, yaitu pada saat dan tempat yang
sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak didik. Selama ini tradisi telah mengajarkan
bahwa konsep pendidikan (formal) adalah kehadiran seseorang secara penuh pada
sekolah atau lembaga pendidikan lain sekitar enam jam sehari selama 260 hari setahun.
Bila pendidikan itu di artikan sebagai belajar pengalaman, maka pendidikan itu akan
berlangsung sepanjang manusia jaga dan siaga. Padahal, sekolah hanyalah satu di antara
sekian kesempatan anak didik untuk memperoleh pengalaman yang dapat
mengakibatkan belajar
4. Pendidikan dapat berlangsung secara mandiri dan dapat berlangsung secara efektif
dengan dilakukannya pengawasan dan penilikan berkala. Prinsip ini mengandung arti
bahwa pendidikan tidak harus berlangsung dalam kelompok dengan pengawasan terus
– menerus dari seseorang pada tempat yang tertentu, misalnya dalam ruangan kelas.
Pengawasan yang secara tradisional merupakan monopoli guru atau administrator
sekolah juga akan mengalami perubahan dengan adanya pengawasan terhadap
berlangsungnya kegiatan belajar oleh orang atau anggota masyarakat lain. Prinsip ini
juga mengandung arti bahwa titik berat pengawasan tidaklah pada proses melainkan
pada hasilnya
5. Pendidikan dapat berlangsung secara efektif baik di dalam kelompok yang homogen,
heterogen, maupun perseorangan. Prinsip ini mengandung arti bahwa pengelompokan
anak sekitar 30 – 40 orang atas dasar homogenitas, yang selama ini kita pakai sebagai
“standar“ akan mengalami perubahan. Pengelompokan akan dapat lebih besar hingga
ratusan, bahkan ribuan dengan memakai media massa dan di samping itu dapat juga
secara perseorangan. Konsep ini juga mengandung arti bahwa dalam satu lokasi (kelas)

5
dan di bawah pembinaan seseorang (guru) dapat berlangsung kegiatan belajar secara
berkelompok dengan anggota kelompok yang heterogen, baik dalam umur, tingkat, dan
macam belajarnya
6. Belajar dapat diperoleh dari siapa dan apa saja, baik yang sengaja dirancang maupun
yang diambil manfaatnya. Konsep ini mengandung arti bahwa bila seseorang
mempunyai kesadaran, dan minat untuk belajar, dia dapat mengambil pelajaran dari
siapa saja; tidak hanya orangtua dan guru melainkan pula teman sebaya, pemuka
masyarakat, dan anggota masyarakat lain. Bahkan juga dapat belajar dari media radio
yang didengarnya, televisi yang dilihatnya, serta tatanan dan lingkungan fisik, maupun
kebudayaan di mana dia hidup
Kecuali konsepsi dasar yang dipakai sebagai titik tolak pengembangan kegiatan, di
identifikasi pula beberapa asumsi, sebagai berikut:
1. Orientasi pada kehadiran guru yang terdapat pada kebanyakan sistem sekolah pada saat
ini dapat dikurangi dengan menambah komponen media pendidikan yang digunakan
2. Kemampuan membaca yang diperoleh anak dari pendidikan di SD merupakan modal
yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan belajar sendiri melalui media cetak
3. Kegiatan belajar mandiri dan belajar berkelompok siswa tingkat SMP dapat diarahkan
dan diatur secara melembaga melalui pengaturan dan pengarahan program,
penjadwalan, dan pemberian stimulasi. Kegiatan seperti ini dapat memberi peluang
lebih besar bagi pemupukan rasa disiplin diri dan percaya pada diri sendiri
4. Modifikasi peranan komponen fungsional dan proses dalam sistem pendidikan (guru,
media, sarana, dan cara belajar) dapat dilakukan, sepanjang tidak mengubah hakikat
dan fungsi sekolah
5. Dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu, media pendidikan dapat menggantikan
sebagian tugas guru, terutama untuk penyajian bahan untuk belajar
6. Inovasi dalam teknologi pendidikan yang pada hakikatnya merupakan proses sistematis
untuk terjadinya tindak belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber, dapat
merupakan alternatif pemecahan masalah pemerataan pendidikan, terutama yang
disebabkan karena faktor – faktor guru bermutu yang makin langka, terbatasnya sarana,
faktor – faktor geografi, dan ekonomi
7. Inovasi dalam bentuk kelembagaan sekolah terbuka dapat diterapkan untuk
melaksanakan konsep dasar dan asumsi di atas. Di samping itu juga dapat diterima oleh
orangtua, pemerintah, dan masyarakat, baik karena hasil yang memadai biaya yang
relatif lebih rendah, serta terbuka untuk kontrol dan partisipasi masyarakat
8. Sistem sekolah terbuka dapat membantu lebih berkembangnya citra baru dalam
masyarakat bahwa pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan apa saja yang
sengaja dibentuk untuk itu
D. Karakteristik dan Strategi Penerapan Teknologi Pendidikan
Bagaimanakah bentuk sistem pendidikan yang telah menerapkan konsepsi teknologi
pendidikan? Apakah ciri – ciri yang membedakannya dengan sistem yang tradisional?
Penerapan teknologi pendidikan tidak selalu tampak secara fisik, apa lagi karena teknologi
pendidikan merupakan konsepsi yang terjalin dan terintegrasi dalam berbagai bidang
pendidikan. Karena itulah sering kali sulit untuk “menuntut“ (menunjukkan, mengklaim)
bahwa sesuatu kegiatan pada hakikatnya merupakan penerapan teknologi pendidikan.
Dengan menganalisis pengarahan Dr. Daoef Joesoef yang dikutip di muka, dapat kita
identifikasikan karakteristik yang tampak berupa:

6
1. Adanya sumber belajar yang dipakai anak didik untuk belajar
2. Adanya berbagai bentuk pola belajar mengajar serta berbagai bentuk lembaga
pendidikan
Adapun karakteristik yang tidak tampak berupa proses pengembangan sumber belajar
dan pengembangan sistem pembelajaran. Adanya sumber belajar saja sebagai suatu produk
kegiatan pengembangan belum menjamin dilaksanakannya konsepsi teknologi pendidikan.
Dalam PELITA III banyak dihasilkan produk – produk ini, misalnya pengadaan film
pendidikan, pengadaan unit alat peraga, penggunaan modul, pelajaran berprograma, siaran
radio dan televisi, pengadaan laboratorium bahasa, dan banyak lagi lainnya
Sepanjang produk itu kemudian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas
belajar, maka pendekatan itu memang tidak keliru. Jadi peranan para produsen memang
diharapkan. Namun kenyataan juga banyak menunjukkan bahwa produk itu lebih
merupakan hiasan, daripada berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam lingkungan sekolah
dan menengah sebagian terbesar pengadaan produk ini memang dilakukan oleh pusat. Jadi,
sekolah boleh dikatakan hanya menerima apa yang sudah ditentukan dari atas. Kenyataan
ini yang banyak menyebabkan kenapa produk itu tidak dapat dipakai, yaitu kenapa guru
sendiri belum siap untuk memakainya.
Sejak 1979 telah pula disebarkan alat peraga untuk sekolah dasar, diantaranya 83.000
set alat peraga IPS, 88.000 set alat peraga matematika, dan 25.000 set alat peraga IPA.
Kiranya masih perlu dikaji apakah pengadaan alat peraga ini berhasil meningkatkan
efektivitas belajar. Di kalangan perguruan tinggi pendekatan dari segi produk memang juga
mewarnai kegiatan penerapan teknologi pembelajaran, terutama sebelum 1980. Pada
sejumlah perguruan tinggi negeri, misalnya, telah dibangun sebelum 1980, suatu unit baru
yang disebut Pusat Sumber Belajar (PSB atau Learning Resources Centre [LRC]) yang
semula dirancang untuk membantu meningkatkan pendidikan tenaga kependidikan.
Sebagaimana pengalaman pada tingkat pendidikan yang lebih rendah, PSB ini sebagian
besar belum berfungsi sebagaimana mestinya karena belum dilandasi oleh konsepsi yang
jelas serta belum dikembangkannya sikap dan keterampilan para pemakai potensialnya.
Keadaan di atas sebenarnya bukan tidak dapat diduga lebih dahulu. Sejak awal PELITA
I sudah mulai diperkenalkan pemikiran dan pendekatan system dalam merencanakan
pembangunan pendidikan. Dengan konsep system ini diusahakan pendekatan atas dasar
proses, yaitu merumuskan lebih dahulu masalah keterbatasan, kemampuan, alternative,
tujuan, kriteria, uji coba, evaluasi, dan kemudian penyebaran/pelaksanaan. Namun disadari
pula proses itu memerlukan waktu yang relative lambat dibandingkan dengan
meningkatnya ketersediaan keuangan pemerintah untuk mengadakan/membeli produk
teknologi.
Sejak 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mashuri, S.H., dalam pidato
pengarahan tanggal 3 Januari dalam Lokakarya Siaran Pendidikan, telah mengemukakan
agar “…penjelajahan kemungkinan…harus mempertimbangkan keterbatasan dalam
tenaga…” Pada tahun ini pula dilakukan latihan pertama dalam aspek perencanaan dan
produksi program siaran radio pendidikan
Menteri Syarif Thayeb dalam pengarahan Rapat Koordinasi Teknologi Komunikasi
Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 16 Mei 1976 memberikan prioritas pertama pada
program “pengembangan tenaga dalam berbagai aspek teknologi pendidikan melalui
latihan teknis maupun praktis.” Pada tahun ini pula dimulai program pendidikan akademis
dalam bidang teknologi pendidikan di dalam dan di luar negeri (sejak 1963 hingga 1977

7
baru ada dua orang tenaga dengan latar belakang akademis teknologi pendidikan). Pada
1977 diperoleh bantuan teknis dari USAID untuk pendidikan dan latihan tenaga. Dengan
bantuan ini dapat dilatih 16 tenaga ke Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, dan Singapura,
20 orang untuk program gelar master di Syracuse University USA, dan didatangkan empat
orang guru besar dan konsultan untuk membantu mendidik tenaga di dalam negeri.
Beberapa mata kuliah dalam bidang teknologi pendidikan mulai diberikan di IKIP Jakarta
pada tingkat pascasarjana dan sarjana. Bidang Studi Teknologi Pendidikan mulai diadakan
pada tahun akademi 1976 – 1977 di IKIP Jakarta pada jenjang sarjana dan tahun 1978 –
1979 di jenjang pascasarjana (S-2 dan S-3).
Hingga 1983 tercatat telah diberikan kesempatan studi kepada 226 mahasiswa tingkat
S-1, 64 mahasiswa tingkat S-2, dan 43 mahasiswa tingkat S-3, serta 2. 190 orang dalam
berbagai keterampilan. Tersedianya tenaga secara terus – menerus, dengan jumlah dan
mutu yang meningkat, merupakan kunci keberhasilan strategi penerapan teknologi
pendidikan.
E. Kompetensi Tenaga Ahli
Tenaga ahli yang dimaksudkan di sini adalah sarjana atau lulusan S-1. Sedangkan
lulusan S-2 disebut magister, dan S-3 doktor. Kompetensi adalah kemampuan seseorang
untuk melaksanakan tugas. Adapun tugas diartikan sebagai kegiatan nyata yang dilakukan
sesuai dengan fungsi dalam kawasan/bidang yang bersangkutan.
Deskripsi kompetensi ini dapat dilakukan dengan memakai dua pendekatan.
Pendekatan pertama, dengan bertolak dari kebutuhan nyata yang sudah ada, dan pendekatan
kedua bertolak dari analisis teoritis atau empirik. Meskipun dipakai dua macam
pendekatan, seharusnya hasilnya akan sama. Dengan memakai pendekatan kebutuhan kita
dapat mengetahui dari ilustrasi dan pernyataan yang telah diungkapkan pada bagian yang
terdahulu bahwa diperlukan tenaga dalam bidang:
1. Pengembangan program pembelajaran, baik pada tingkat sistem, seperti sistem SMP
Terbuka, sistem SD Pamong, dan sistem SD Kecil, atau pada tingkat komponen sistem,
seperti misalnya laboratorium bahasa, laboratorium microteaching, pusat sumber
belajar, dan lain – lain, maupun pada tingkat pembelajaran untuk penggunaan di kelas
(di kelompok pendidikan formal), penggunaan di kelompok belajar, luar sekolah, dan
penggunaan secara mandiri
2. Pengembangan produk untuk keperluan belajar dan pembelajaran yang terutama
bertanggung jawab dalam keseluruhan aspek produksi media pendidikan, dan
mengembangkan teknik – teknik tertentu dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar
untuk keperluan anak didik. Termasuk dalam kelompok ini penulis modul, penulis
cerita dan skenario untuk media (radio, film televisi, slides, dan lain – lain), sutradara,
produser, editor, tutor, monitor, fasilitator, dan lain – lain
3. Pengelolaan media dan alat, yang bertanggung jawab untuk melayani keperluan guru
atau anak didik akan sumber – sumber belajar yang diperlukan. Termasuk dalam
tanggung jawabnya merawat peralatan dan media, mengoperasikan dan memperbaiki
peralatan, menyimpan dan mengambil kembali, serta mendistribusikan kepada mereka
yang memerlukan
4. Penyebaran konsep dan pemanfaatan teknologi pendidikan. Diharapkan semua calon
guru, guru, dan tenaga pendidikan lain juga memahami konsep dan pemanfaatan
teknologi pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan tenaga pengajar dalam bidang
teknologi pendidikan untuk sekolah – sekolah pendidikan guru dan tenaga pendidikan

8
Fungsi yang diperlukan bagi keempat bidang tugas tersebut, meliputi:
1. Untuk pengembangan program pembelajaran, terutama dalam perencanaan model atau
pola untuk kegiatan pembelajaran, pemanfaatan media dan berbagai teknik
pembelajaran, penyebaran informasi/promosi program teknologi pendidikan, serta
pemahaman konsepsi dan prinsip teknologi pendidikan
2. Untuk pengembangan produk, terutama diperlukan dalam bidang rancangan paket –
paket belajar dan produksi dari paket – paket tersebut serta berbagai teknik dalam
pemanfaatan paket belajar
3. Untuk pengelolaan media dan alat, terutama dalam bidang logistik, evaluasi dan seleksi,
perencanaan dan pengelolaan peralatan dan media, serta pengelolaan lembaga yang
bertanggung jawab dalam media pendidikan
4. Untuk guru/tenaga pendidik, terutama dalam bidang teori dan aplikasi, pemanfaatan
media dan teknik pembelajaran, serta dalam menyebarkan informasi dan produk
teknologi pendidikan
Bila kompetensi itu kita himpunan dan rumuskan secara lebih umum, maka akan kita
dapati kelompok kompetensi, sebagai berikut:
1. Kemampuan memahami landasan teori dan aplikasi teknologi pendidikan
2. Kemampuan merancang pola pembelajaran
3. Kemampuan produksi media pendidikan
4. Kemampuan evaluasi program dan produk pembelajaran
5. Kemampuan mengelola media dan sarana belajar
6. Kemampuan memanfaatkan media pendidikan dan teknik pembelajaran
7. Kemampuan menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan
8. Kemampuan mengelola lembaga sumber belajar
Karena lulusan pendidikan tinggi diharapkan juga mampu melaksanakan penelitian
dalam bidangnya, maka kemampuan penelitian yang sebenarnya dapat merupakan bagian
dari teori dapat dianggap sebagai kompetensi tersendiri, yaitu kemampuan melaksanakan
penelitian di bidang teknologi pendidikan.
Daftar kompetensi tersebut perlu dijabarkan lebih lanjut dalam subkompetensi,
pengalaman belajar, pokok bahasaan, waktu bahasan, dan bentuk kegiatan belajar, hingga
melahirkan kurikulum inti. Pada saat ini kegiatan penjabaran itu sedang berlangsung dan
simultan dengan kegiatan itu pada saat ini sedang dipersiapkan pula penerjemahan buku –
buku referensi dan teks dalam bidang teknologi pendidikan.
Meskipun masih belum mantap, kiranya dapat disimpulkan bahwa inventarisasi mata
kuliah yang mendukung tercapainya kompetensi tersebut, meliputi:
1. Pengantar teknologi pendidikan
2. Dasar – dasar komunikasi
3. Pendekatan sistem dalam pendidikan
4. Teori belajar dan pembelajaran
5. Pengantar media pendidikan
6. Dasar – dasar penelitian pendidikan
7. Kemasalahan teknologi pendidikan
8. Seminar teknologi pendidikan
9. Desain pesan pembelajaran (Media sebagai output)
10. Prinsip – prinsip pengembangan system pembelajaran

9
Tentu saja pemilihan mata kuliah yang akan ditawarkan juga tergantung pada beban
akademik yang diperlukan, ketersediaan dosen pembinanya, serta sarana prasarana yang
menunjang, seperti laboratorium dan sebagainya. Kecuali itu dengan mempertimbangkan
bahwa teknologi, terutama perangkat kelas, berkembang dengan pesat maka kompetensi
harus selalu ditingkatkan sesuai dengan perkembangan tersebut.
BAB II
2. Program Pengalaman Lapangan Program Studi Teknologi Pendidikan
A. Dasar Pertimbangan
IKIP Jakarta mengembangkan dan menyelenggarakan program-program akademiknya
berdasarkan PP No. 3 Tahun 1980 dan khususnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 0211/U/1982. Program Kependidikan yang dikembangkan dan
diselenggarakan di IKIP Jakarta dimaksudkan untuk meng hasilkan tenaga kependidikan
yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat diandalkan, dalam rangka
pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat. Sementara itu program
kependidikan itu sendiri selalu dikembangkan dan dibina sesuai dengan tuntutan relevansi
dengan kebutuhan pembangunan dan perorangan, serta efisiensi dalam
penyelenggaraannya, sehingga memungkinkan semua warga negara mendapat kesempatan
pendidikan yang senantiasa meningkat sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi
yang tepat guna dan mutakhir.
Berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Bab VII Pasal 27 ayat (2) tenaga kependidikan meliputi antara lain tenaga pendidik,
peneliti, dan pengembang di bidang pendidikan dan teknisi sumber belajar Sesuai dengan
tuntutan kemajuan dan diferensiasi peranan dalam penyelenggaraan pendidikan, maka
tenaga kependidikan dengan keahlian teknologi pendidikan, termasuk dalam kateg
sedangkan yang berketerampilan dalam bidang teknologi pendidikan merupakan teknisi
sumber belajar. Khususnya Program Studi Teknologi Pendidikan, sesuai dengan Keputusan
Rektor IKIP Jakarta No. 192/SP/91, selama ini diarahkan un- tuk menghasilkan sarjana
yang mampu mengembangkan media instruksional dan menerapkan sistem pembelajaran
dengan kompetensi, sebagai berikut:
1. Secara perorangan atau bekerja sama dengan ahli bidang studi mampu mengem
bangkan teknologi perangkat lunak untuk pengajaran yang dibutuhkan berbagai jenis
kelompok sasaran. tenaga peneliti dan pengembang di bidang pendidikan,
2. Mampu menerapkan sistem pembelajaran
3. Mampu menghasilkan buku petunjuk penggunaan media untuk pengajaran
4. Mampu mengevaluasi efektivitas dan efisiensi media serta teknik penggunaannya
untuk pengajaran
5. Mampu mengelola sistem pemanfaatan dan pemeliharaan media, baik perangkat keras
maupun lunak, untuk pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan dan latihan
6. Mampu mengajarkan teknik penggunaan dan pembuatan media untuk pengajaran
Rumusan kompetensi di atas masih menggunakan perspektif bahwa IKIP menghasilkan
tenaga pengajar di sekolah, dan oleh karena itu semua lulusannya selain mendapat ijazah
sarjana juga sekaligus memperoleh Akta Mengajar. Padahal, sebenarnya yang diharapkan
dari Sarjana Teknologi Pendidikan adalah kompetensi dalam merancang, mengembangkan,
menerapkan, mengelola, menilai, serta meneliti proses dan sumber belajar pada semua
jenjang, jenis, dan jalur pendidikan

10
B. Pengertian Program Pengalaman Lapangan
Pada dasarnya, Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah usaha untuk
meningkatkan penguasaan atas kompetensi profesional melalui praktikum dalam
lingkungan yang sesungguhnya. Namun selama bertahun-tahun PPL ini ditafsirkan oleh
unit pengelola PPL sebagai "praktik mengajar". Sehingga mahasiswa Program Teknologi
Pendidikan pun harus melakukan praktik mengajar di salah satu seko lah, dan untuk itu dia
harus memilih dan menentukan mata pelajaran yang harus diajarkannya. Tulisan ini
dimaksudkan untuk mengubah tafsiran praktik mengajar tersebut, karena program studi
teknologi pendidikan tidak ditujukan untuk mem- persiapkan tenaga guru, melainkan
tenaga pembelajar atau teknolog pembelajaran.
Program Pengalaman Lapangan memang merupakan komponen integral dalam
kurikulum yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa, dengan bobot 4 SKS dan
dilaksanakan secara penuh dalam satu semester. Penyelenggaraan PPL ini dikoor dinasikan
oleh Unit PPL sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia No. 014/U/1983 Bab X, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis di
bidang Praktik Pengalaman Lapangan.
Khususnya bagi mahasiswa program studi teknologi pendidikan, PPL merupakan
kegiatan penerapan dari teori, pengetahuan, dan keterampilan yang telah diperolehnya
dalam kuliah. Dengan melaksanakan PPL mahasiswa akan terlatih menghadapi keadaan
lapangan yang sebenarnya, dan pengalaman lapangan itu sckaligus dapat merupakan
masukan bagi penyesuaian dan/atau pengembangan kurikulum. Tujuan PPL adalah agar
mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata di lapangan sebagai wahana terbentuknya
tenaga profesional di bidang teknologi pendidikan dengan memiliki seperangkat
pengetahuan, kemahiran, sikap, serta nilai yang diperlukan oleh tugas profesinya.
Adapun kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan dalam PPL Teknologi Pen didikan
pada prinsipnya tidak berbeda dengan program studi lain, yaitu meliputi tugas-tugas
profesional, personal, dan sosial. Perincian dari ketiga tugas tersebutlah yang berbeda.
Keseluruhan kegiatan tersebut dilaksanakan secara terbimbing dan terarah. Kegiatan
profesional teknologi pendidikan pada dasarnya meliputi delapan kategori kegiatan, yaitu:
(1) perencanaan program instruksional; (2) pengembang an media pembelajaran; (3)
produksi media pembelajaran: (4) pemanfaatan sarana pembelajaran; (5) pelaksanaan
kegiatan pembelajaran; (6) penilaian program dan media pembelajaran; (7) pengelolaan
sumber belajar; dan (8) penelitian proses, sumber, dan hasil belajar
C. Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan
Peserta kegiatan Program Pengalaman Lapangan adalah mahasiswa yang telah
memperoleh kredit 110 SKS, termasuk di dalamnya Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU),
Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), serta mata kuliah lainnya yang ditentukan dan
ditetapkan jurusan.
Program Pengalaman Lapangan Teknologi Pendidikan dilaksanakan pada se- mester
gasal (ganjil) selama 10 minggu terus-menerus. Minggu pertama merupakan tahap
pembekalan yang dilaksanakan di kampus. Tujuh minggu berikutnya meru pakan tahap
kegiatan di lapangan, dengan seminggu untuk orientasi lapangan dan enam minggu untuk
praktik lapangan, dan dua minggu terakhir merupakan tahap penyusunan laporan oleh
mahasiswa peserta PPL.
Tempat pelaksanaan PPL TP adalah di lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi
pengelolaan dan pengembangan proses dan sumber belajar dalam konsep teknologi

11
pendidikan. Lembaga-lembaga itu dapat berupa lembaga pendidikan dan pengembangan
sumber daya manusia, atau lembaga produksi media pendidikan, atau yang
menyelenggarakan kedua fungsi tersebut.
D. Penahapan Program Pengalaman Lapangan
Program Pengalaman Lapangan (PPL) Program Studi Teknologi Pendidikan
diselenggarakan dalam empat tahap, yaitu:
1. Tahap pembekalan di kampus selama seminggu
2. Tahap orientasi lapangan selama seminggu
3. Tahap praktik lapangan selama enam minggu
4. Tahap penyusunan laporan selama dua minggu.
Masing-masing tahapan mempunyai tujuan dan kegiatan sendiri yang terpadu dengan
yang lainnya, sehingga merupakan bagian integral dari kegiatan PPL
1. Tahap Pembekalan
Tahap pembekalan merupakan bagian awal kegiatan PPL yang diselenggara- kan oleh
jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan di kampus. Kegiatannya ditekankan pada
penyegaran pengetahuan dan keterampilan profesional yang telah pernah diperoleh, serta
penanaman nilai dan sikap yang serasi dengan kondisi serta situasi lapangan.
Melalui kegiatan pembekalan, diharapkan mahasiswa peserta PPL memiliki wawasan
dan sikap yang serasi tentang PPL, serta memiliki kesiapan untuk melaksanakan tugas
praktik lapangan. Tahap pembekalan ini dilaksanakan selama satu minggu sebelum mulai
diterjunkan ke lapangan.
Kegiatan pembekalan dibagi menjadi dua: bagian pertama selama empat hari semua
mahasiswa peserta PPL memperoleh pembekalan yang sama berupa kuliah dan praktik
penyegaran, dan bagian kedua selama dua hari merupakan pembekalan khusus untuk
masing-masing kelompok mahasiswa peserta PPL, sesuai dengan tugas yang akan
dilakukannya di lapangan
2. Tahap Orientasi
Tahap ini merupakan pengenalan peserta tentang lembaga tempat praktik, dan
dilakukan oleh Pimpinan Lembaga yang bersangkutan. Melalui kegiatan orientasi,
diharapkan mahasiswa peserta PPL dapat mengenal langsung pengelolaan dan
pengoperasian lembaga tempat praktik, termasuk organisasi, personel, sarana, dan
peraturan kerja yang harus diikuti. Tahap orientasi ini dilaksanakan selama satu minggu
(enam hari kerja) di lembaga praktik
Kegiatan PPL tahap orientasi, mencakup:
a. Pengumpulan informasi tentang pengelolaan organisasi dan personel lembaga tempat
prakprakti
b. Pengumpulan dan penganalisisan informasi/data untuk pengidentifikasian ma salah
yang berkaitan dengan masalah belajar dan pembelajaran
c. Penetapan masalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan alternatif
pemecahpembelajara
d. Pengenalan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pemecahan masalah
Penyusunan rencana kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga selama masa
PPL.
3. Tahap Praktik Nyata
Tahap praktik memberikan pengalaman nyata kepada peserta untuk melaksanakan
fungsi pengembangan dan pengelolaan konsep teknologi pendidikan/pembelajaran yang

12
sesuai dengan misi dan tugas lembaga tempat praktik. Melalui kegiatan praktik nyata,
diharapkan mahasiswa peserta PPL memperoleh pengalaman langsung dalam menjalankan
profesi teknologi pendidikan, serta memiliki pemahaman dan wawasan yang memadai
tentang bidang pekerjaan keprofesian
Tahap praktik nyata dilaksanakan dalam waktu sekurang-kurangnya enam ming- gu (36
hari kerja) secara terus-menerus. Kegiatan PPL tahap praktik nyata yaitu melaksanakan
fungsi perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, pe- nilaian, serta
penelitian proses dan sumber belajar yang pada garis besarnya, meliputi
Perencanaan dan pengembangan program pembelajaran:
a. Pembuatan rencana program pembelajaran;
Perancangan strategi pembelajaran
Pemlihan dan perencanaan model pembelajaran; dan
Penyelenggaraan program pembelajaran
b. Pengembangan media pembelajaran:
Menganalisis kebutuhan media pembelajaran
Mengidentifikasi alternatif media pembelajaran
Merencanakan pengadaan media pembelajaran; dan
Mempersiapkan pembuatan media pembelajaran.
c. Produksi media pembelajaran:
Mempersiapkan sarana dan prasarana produksi
Melaksanakan tugas dalam memproduksi media pembelajaran; dan
Membuat buku petunjuk/pedoman penggunaan media pembpembelajara
d. Pemanfaatan sarana pembelajaran:
Mempersiapkan ruang, alat, dan bahan penyajian;
Mengoperasikan peralatan; dan
Melakukan pemeliharaan dan perbaikan sarana
e. Kegiatan pembelajaran:
Pembelajaran tatap muka (secara nyata atau tersimulasikan) membantu pengembangan
kemampuan sumber daya manusia;
Pembelajaran bermedia (membuat media untuk belajar mandiri oleh peserta didik)
untuk pengembangan sumber daya manusia; dan
Pembelajaran beregu (dalam tim bersama ahli bidang studi membuat dan
mempresentasikan media) dalam kegiatan pembelajaran pengembangan sumber daya
manusia.
f. Penilaian proses dan sumber belajar
Menentukan kriteria penilaian sebagai penjabaran tujuan pembelajaran;
Membuat desain dan instrumen penilaian
Menyempurnakan desain dan instrumen penilaian
Melakukan uji coba instrumen penilaian dan menyempurnakannya; dan
Membuat laporan hasil penilaian proses dan sumber belajar
g. Pengelolaan sarana/sumber belajar
Mengidentifikasi kebutuhan sarana/sumber belajar;
Membuat daftar ketersediaan sarana/sumber belajar
Melaksanakan penyimpanan (termasuk katalogisasi) sarana/sumber belajar
Mengadministrasikan penggunaan sarana/sumber belajar
Membuat petunjuk pemanfaatan sarana/sumber belajar; dan

13
Membantu mengembangkan kemampuan personel dalam lembaga sarana/ sumber
belajar.
h. Peneliian proses, sumber, dan hasil belajar
Merancang usaha penelusuran kebutuhan belajar;
Merancang usaha pengungkapan masalah belajar dan pembelajaran
Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengatasi masalah
Mengidentifikasi kondisi ideal dalam belajar dan pembelajaran;
Mengidentifikasi kondisi objektif lingkungan; dan
Menganalisis dan mengajukan alternatif tindakan perbaikan
Macam dan bentuk kegiatan ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lembaga
tempat dilaksanakannya praktik nyata lapangan, serta dengan tuntutan kegiatan yaitu
dikerjakan sendiri atau dalam kelompok
4. Tahap Penyusunan Laporan
Tahap penyusunan laporan merupakan kegiatan individual peserta PPL yang
mendeskripsikan serta membahas kegiatan selama mengikuti tahap orientasi dan praktik
nyata di lapangan. Tujuan pada tahap ini adalah agar para mahasiswa peserta PPL mampu
mengorganisasikan pengalamannya melalui bentuk tulisan secara sistematik dan analitik
Tahap penyusunan laporan dilaksanakan dalam waktu dua minggu (12 hari ker- ja)
sampai ditandatangani oleh dosen pembimbing dan pimpinan lembaga tempat praktik
nyata. Kegiatan penyusunan laporan adalah menyusun karya tulis berdasarkan pengalaman
pada tahap orientasi dan praktik nyata. Data yang digunakan dalam menyusun karya tulis
dapat merupakan sumber primer maupun sekunder. Format laporan perlu dikonsultasikan
dengan dosen pembimbing dan materinya perlu dikonsultasikan dengan pamong lapangan
E. Sistem Bimbingan PPL
Program Pengalaman Lapangan dilaksanakan secara terpadu, terarah, dan terbimbing,
baik pada tahap pembekalan, orientasi, praktik nyata, maupun penyu sunan pelaporan.
Kegiatan-kegiatan tersebut yang melibatkan berbagai instansi dikoordinasikan oleh unit
Program Pengalaman Lapangan dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Adapun
pembinaan dan bimbingan profesional dilakukan oleh jurusan Teknologi Pendidikan
Fakultas Illmu Pendidikan
Para pembimbing kegiatan PPL, sebagai berikut:
1. Dosen pembimbing adalah Dosen FIP jurusan KTP Program Studi Teknologi
Pendidikan yang ditunjuk dan mendapatkan surat keputusan menjadi pembim bing PPL
2. Pimpinan lembaga tempat praktik nyata adalah kepala atau yang diberi kuasa olehnya,
untuk memberikan pengarahan dalam pelaksanaan PPL di lembaga yang dipimpinnya
3. Pamong adalah pembimbing lapangan, yaitu staf lembaga yang ditunjuk oleh pimpinan
lembaga tempat praktik lapangan, dan bertugas membimbing dan mengawasi seorang
atau sekelompok peserta PPL
Tugas dosen pembimbing PPL antara lain
a. Memberikan wawasan tentang PPL
b. Menyegarkan kembali konsep dan prinsip teknologi pendidikan yang perlu diterapkan
di lapalapanga
c. Menyegarkan kembali kemahiran/keterampilan pengembangan dalam bidang teknologi
pendidikan/teknologi pembelajaran
d. Mempersiapkan sikap profesional, personal, dan sosial

14
e. Memberikan layanan bimbingan baik secara individual maupun kelompok ke- pada
mahasiswa dalam melaksanakan identifikasi masalah, analisis masalah, mendesain,
memproduksi, mengevaluasi, dan me-nyeleksi serta memanfaatkan sumber belajar dan
menyebarkannya.
f. Menyelenggarakan diskusi dengan mahasiswa dan pamong di lapangan tentang
pelaksanaan PPL dan menyusun program yang dilaksanakan/dikembangkan
g. Bersama pamong menilai program yang disusun/dikembangkan
h. Menentukan nilai akhir prestasi peserta PPL
Tugas pimpinan lembaga tempat pelaksanaan PPL, antara lain:
a. Mengoordinasikan kegiatan orientasi, meliputi kegiatan
Menyelenggarakan perkenalan antara mahasiswa dan staf lembaga yang dipimpinnya;
Memberi kesempatan kepada mahasiswa peserta PPL untuk memperoleh informasi
tentang kebijakan pengelolaan organisasi dan pengelolaan personal lembaga;
Mengoreksi dan mengesahkan pelaporan kelompok/pengelolaan DIKLAT; dan
Melaksanakan penilaian terhadap aspek-aspek personal dan sosisosia
b. Mengoordinasikan kegiatan bimbingan di lembaga, meliputi
Menunjuk dan menugaskan pamong
Memberikan fasilitas atau kemudahan yang dapat memperlancar jalannya
pembimbingan; dan
Menjelaskan tugas dan tanggung jawab pamong dan mahasiswa dalam kegiatan PPL
c. Mengoordinasikan penilaian PPL di Diklat yang, meliputi kegiatan:
Meminta hasil penilaian dari pamong:
Merekapitulasikan hasil penilaian pamong; dan
mengesahkan dan mengirimkan hasil penilaian ke Unit PPL IKIP Jakarta.
Tugas pamong antara lain:
a. Membimbing mahasiswa dalam menyusun program kegiatan PPL.
b. Menyelenggarakan diskusi dengan mahasiswa dan/atau dosen pembimbing tentang
perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan program
c. Mengoordinasikan kegiatan mahasiswa peserta PPL dalam: Pelaksanaan kegiatan
seperti yang diprogramkan Pencapaian tujuan; dan Pengadaan dan pemanfaatan
fasilitas yang diperlukan
d. Mengesahkan laporan individual mahasiswa peserta PPL
e. Bersama dengan dosen pembimbing melaksanakan penilaian
BAB III
3. Perkembangan Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan di IKIP Jakarta
A. Latar Belakang
Pengembangan teknologi pendidikan di IKIP Iakana boleh dikatakan diawali pada l970
dengan didirikannya Lembaga Teknologi Pengajaran (LIP) melalui chulusan Rektor
tertanggal Maret I970 No. l4 SP/l970. Berdasarkan kepuluaan ini LTP disamakan salusnya
dengan fakultas yang ada dalam lingkungan IKIP lakarla. Pimpinan LTP discbul dircklur
dan untuk pertama kali diangkut dengan Surat chulusan Menteri Pendidlkan dan
Kebudayaan tanggal l6 Desember l970 No. 1872 C l).
Pemikiran yang mendasari dibukanya LTP adalah keinginan dan tekad untuk
memperbaiki situasi dan kondisi pendidikan di mana berlangsung proses belajar mengajar.
dan bahwa lcknulugi pengajaran ilu terarah untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil

15
proses belajar mengajar dengan banluan aplikasi prinsip-prinsip ilmiah dan pcralalan dalam
mengelola komunikasi pendidikan (IKIP lakarla. 198).
Pembukaan LTP ini merupakan suatu respons langsung IKIP Iakarta atas kebijakan
yang tercantum dalam PFI ”A I. yaitu khususnya digunakannya media mam! radio dan
televisi untuk peningkatan mutu sekulah dasar. Salah satu kegiatan utama LTP yaitu
pendidikan dan penelitian. Kegiatan itu diperinci. sebagai berikut:
1. Mcngintroduksikan teknologi komunikasi pendidikan dalam kurikulum program
pendidikan universitas IKIP instilul.
2. Menyiapkan tenaga profesional dan spcsialis di bidang teknologi komunikasi
pendidikan.
3. Melaksanakan program latihan bagi para tenaga pelaksana dan pengelola dalam bidang
teknologi komunikasi.
4. Membuat rencana program penelitian terutama mengenai pengaruh penggunaan media
komunikasi.
5. Mengadakan percobaan pembuatan media dan cara penyajian pesan pendidikan yang
baru.
6. Mcnciiti akibat media padu indiVidu dan masyarakat. dengan memberi perhatian
khusus pada segi-segi pedagogis. sosial ekonomi. dan kultural (IKIP Jakarta. I981).
LTP ini juga bertanggung jawab membina mata kuliah teknologi pengajaran pada
jeniang 54 yang telah mula diberikan sejak l970. LTP juga mendapat tugas mempersiapkan
dibukanya Departemen Teknologi Pengajaran pada Fakults; llmu Pendidikan.
Penyelenggaraan kegiatan ini dilaksanakan dengan kerja sama Lembaga Media Pendidikan
pada Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
BPP ini kemudian berubah menjadi Badan Pcnclttian dan Pengembangan Pendidikan
dan Kebudayaan (BPSK atau Balitbang Dikbud) pada 1974. dan Lembaga Media
Pendidikan pun dihapuskan. Sebagai gantinya dibentuk Tim Studi Pra-lnvestaai Teknologi
Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (yang kcmudian melembagu sebagai Pusat
TKPK/ Pustekkom). Pembentukan lirn ini merupakan respons atas kebijakan pemerintah
untuk mengembangkan pemanfaatan satelit komunikasi domestik bagi pendidikan. Ada
tujuh orang staf pengajar IKIP lakarm yang menjadi anggota tim sludi ini. seorang di
antaranya menjadi anggota tim inti.
Pada bulan Agustus l975. lim studi mcrumuskan hasil akhir temuan dan
rekomendasinya )ang meliputi luiuh kategori kegiatan. Dua kategori kegiatan ini antara
lain: (l) pengembangan personel dalam berbagai aspek teknologi pendidikan: dan (2)
pcngcmbangan program dun kurikulum lcknulugi pendidikan di perguruan tinggi. Kedua
kegiatan ini pada hakikatnya umuk menunjang dan bahkan menjadi pras_yarat unluk
dikembangkannya lima kegiatan aplikasi teknologi pendidikan di Indonesia. Hasil studi ini
tidak hanya mendapat perhatian dari pemerintah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
dan Bappenas. tetapi juga dari luar negeri.
Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID langsung menyalakan kesediaannya untuk
membantu pengembangan personel dan pendidikan. Satu tim dari S)racuse University
mendapat lugas mempersiapkan usulan proyek. Usulan proyek ini diserahkan pada bulan
Maret I976 unluk dinilai dan diperbaiki.
Dengan lelah selesainya studi pra-invcstasi. maka tim studi dibubarkan dan >ebagai
gantinya dibentuk Satuan Tugas Penyelenggara Teknologi Komunikasi Pendidikan dan

16
Kebudayaan (Satgas TKPK). Satgas ini diberi tugas oleh menteri untuk mcnyclcnggarakan
kegiatan yang dirckomcndaaikan oleh tim studi pra-invcuabi.
B. Awal Perkembangan
Sebagai tindak lanjut rekomendasi studi itu pada bulan Desember I976 diselenggarakan
rapat koordinasi untuk pengembangan program dan kurikulum teknologi pendidikan di
perguruan tinggi. Dalam rapat ini disepakati untuk diselenggarakannya program teknologi
pendidikan di IPB, ITB, UNDIP, dan ITS. serta penye lenggaraan perkuliahan dan latihan
dalam bidang teknologi pcndidlkan sekaligus pcngcmbangnn program kegiatan teknologi
pendidikan di IKIP lakana. IKIP Bandung. IKIP Yogyakarta. FlP-UNS. IKIP Semarang.
IKIP Surabaya. dan IKIP Malang. Khususnya unmk jenjang pascasarjana IKIP. lnknrta dan
Malang berniat untuk mcnyclcnggarakannya. Rapa! :ckaligua membahu» dan menanggapi
uaulan proyek dari Syracuse University. Perencunaan awal untuk kegiatan pengembangan
prugmm dan studi teknologi pendidikan dilakukan pada bulan April l977. Rencana chlh
konkret dibahas oleh Satgas TKPK dcngan IKIP lakarla pada bulan Iuni 1977. Dalam
perencanaan ini disepakati untuk:
1. Diselanggarakannya program pascasarjana dalam bidang teknologi pendidikan mulai
bulan Februari I978.
2. Dibukanya program pendidikan sarjana mulai bulan Iuli I977.
3. Diselenggaraknnnya pendidlknn dan latihan khusus mulai bulan Agualus 1977.
4. Dikirimkunnpa lcnaga inti dari lKlP-IKII’ yang akan membuka program :Iudi teknologi
pendidikan kc Amerika Serikat dalam bidang keahlian lcknologi pcndidlkan. Perlu
dicatat bahwa terdapat kesamaan pendapat bahwa program studi di pascasarjana
merupakan kelanjutan dari program sarjana.
Pada bulan September l977 terjadi perubahan slruklur organisaai IKIP lakarla. LTP
dibubarkan dan sebagai gantinya dibentuk dua lembaga baru. yaitu Bidang Studi 'Icknologi
Pendidikan di FIP dan Bagian Teknologi Pengajaran yang ada di bawah koordinasi Pusat
Kegiatan Sarana Instruksional. Bagian ini dipersiapkan untuk menjadi Learning Resources
Center. Semua fungsi pendidikan dun penelitian pada L'I P dialihkan kc Bidang Sludi
Teknologi Pendidikan. Pada baal ilu pula dilakukan persiapan unluk pclcmbagann program
pascasarjana yang semula merupakan proyek duri Diljcn Dikti. dan dikenal dengan 'Iim
Manajemen Program Doktor (IMPU). dan telah dimulai pada I976.
Pada bulan Ianunri [978 bantuan teknis dari Amerika Serikat mulai berfungsi. Dalam
rangka banluan itu akan dikirimkan 20 orang lcnagu dusun dan personel inti Satgas TKPK
untuk mendapat gelar master di Syracuse University ldnri IKIP lakarw dikirim Dra. Alwi
Suparman. Dra. Farida Mukli. Drs. ]. 'l'ampubolun. dan Drs. Mudhofnr). Dalam rangka
bantuan teknis itu juga didatangkan nga orang guru bcsnr dari Syracuse University umuk
memberikan kuliah di Indonesia.
Sesuai dengan rencana. kuliah pawasariana program :ludi teknologi pendidikan dimulai
pada bulan Februari. dengan mahasiswa sebanyak 22 orang. Empal mata kuliah teknologi
pendidikan diberikan pada semester I dun empat mala kuliah lagi pada semester ll. Kecuali
itu juga diberikan enam mata kuliah teknologi pendidikan pada jenjang S-l. Kuliah di S-l
ini dilakukan oleh dosen Indonesia sendiri dengan bantuan dosen dari S) racuae bilamana
diperlukan.
Program perkuliahan ini berakhir pndn bulan luli 1979. Menjelang berakhirnya bantuan
teknis itu oleh tim dari Syracuse University bersama The Office of EHR (Education and
Human Resource) USAID lndonesia. direncanakan banluan teknis kelanjutan dari USAID

17
yang lebih luas lingkupnya dan lebih besar dananya. Bantuan proyek yang baru dari USAID
ini kemudian dikenal dcngan Educational Communications Project dengan nomor sandi
USAID 497-0296. Sangat disayangkan bahwa Syracuse Lnivcrsity yang melaksanakan
proyek awal dan membantu penyusunan proyek baru tidak berhasil memenangkan kontrak
untuk pelaksanaan proyek baru ini. Proyek ini dikontrakkan kepada The Agency of
Educational Development bekerja sama dengan Unixcraity uf Suulhcrn California (USC).
Untuk persiapan pelaksanaan proyek baru ini khususnya mengenai pendidikan keahlian
teknologi pendidikan. diadakan pertemuan perencanaan pada bulan Agustus l980. Dalam
pertemuan itu. antara lain disepakati:
1. Diberikannya enam mata kuliah wajib S-2 dan satu dari dua mata kuliah pilihan oleh
dosen-dosen yang didatangkan oleh USC.
2. Diberikannya empat mata kuliah wajib S-3 dan satu dari dua mata kuliah pilihan uleh
dusen-dosen yang didatangkan oleh USC.
3. Diberikannya kepustakaan dasar untuk semua mata kuliah dan dibantu mengusahakan
pustaka pengayaan.
4. Enam orang dosen pascasarjana akan diberi kesempatan untuk refresher course di
Amerika Serikat.
5. Dua orang dosen IKIP Jakarta yang pada saat itu ada di Amerika Serikat (Drs. A. Latief
Zahri. M.A.. dan Drs. Atwi Suparmen. M.Sc.) diberi kesempatan untuk memperpanjang
studinya dengan bantuan beasiawa.
6. Dikirimkannya 36 mahasiswa pascasarjana untuk mengambil kuliah musim panas di
Amerika Serikat (LSC dan Indiana University dan untuk mematangkan rcncana
penelitiannya (tesis dan disertasi).
7. Diselenggarakannya faculty development seminar sebanyak empat kali.
Proyek ini berlangsung hingga I984. Scmua kesepakatan itu dapat terlaksana bahkan
melebihi target. Kecuah diberikan kuliah di pascasarjana lKIP Iakarta. juga diberikan
kuliah di pascasarjana Malang dan Bandung. lumlah dosen pascasarjana yang semula
direncanakan enam orang untuk dikirim mengikuti program penyegaran (refreaher course).
ternyata ada IO orang yang tcrkirimkan. Kecuali itu juga disponsori kegiatan akademik lain
seperti mengikuti seminar di luar negeri. Sayangnya daftar lengkap tentang hal ini tidak
dapat ditemukan lagi.
Ada dua faculty development seminar (FDS) yang hasilnya penting untuk dilaporkan
dalam penelitian ini. yaitu:
1. Faculty Development Seminar II
Tujuan H)S II ini adalah untuk mencapai titik temu dalam pemahaman konsepsi
teknologi pendidikan,serta untuk memperoleh kesamaan landasan konseptual dan sikap
analitik dalam permagaldhan teknologi pendidikan. Hasil yang penting:
 Disepakatinya teknologi pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu. Hal itu didasarkan
pada sejumlah persyaratan. yaitu: (|) Teknologi Pendidikan memiliki objek telaah
sendiri. Objck teknologi pendidikan adalah peningkatan prose: dan hasil belajar: (2)
Teknologi Pendidikan memiliki kekhususan dalam pendekatannya. Kekhususan
pendekatan teknologi pendidikan dalam menggarap obicknya yaitu bahwa ia: (a)
berorientasi kepada peningkatan belajar si pelajar sebagai individu: (b) menggunakan
pendekatan sistem: dan (c) memanfaatkan berbagai sumber daya untuk mencapai
efektivitas dan efesiensi hasil upayanya: (3) Teknologi Pendidikan memakai metode
keilmuan di dalam menyusun berbagai teori dan memvalidnsinya: (4) Teknologi

18
Pendidikan memiliki kcmampuan aplikasi praktis dalam memecahkan permasalahan
yang menjadi objek keilmuannya: dnn (5) Pengembangan Teknologi Pendidikan
didukung oleh sekelompok profesional yang menjamin pengembangannya dan
mengomunikasikan hasilnya kepada masyarakat luas.
 Disepakatinya tuntutan kompetensi tertentu untuk lulusan program teknologi
pendidikan FPS. dan untuk itu diperlukan serangkaian mata kuliah dan kegiatan lain
yang perlu diambil untuk mencapai kompetensi itu. Dalam FDS Il itu diacpakati adanya
36 mata kuliah untuk jenjang Sl. tujuh mata kuliah untuk jenjang S-2 dan tujuh mata
kuliah lain untuk jenjang 5-3. Disepakati pula ada kesinambungan kurikulum searah
antarjcnjang. Daftar tnata kuliah pascasarjana yang disepakati seperti pada Lampiran.
2. Faculty Development Seminar IV
Apabila FDS. ll. dan III terutama untuk keperluan konsolidasi bidang studi dan profesi
teknologi pendidikan, maka dalam FDS IV tujuan utamanya adalah ofensif. yaitu
menawarkan jasa dalam bidang lcknulugi pendidikan. Haail seminar yang penting yaitu:
Diusulknnnyn agar Program Studi Teknologi Pendidikan di PPS mempunyai laboratorium
yang merupakan suatu fasilitas yang digunakan bersama untuk semua perguruan tinggi.
Misi laboratorium ini adalah untuk membantu semua perguruan tinggi dalam meningkatkan
produktivitas dan mutu instruksional. Untuk menghindari pcngcrtian yang sempit.
laboratorium ini disebut Pusat Peningkatan dan Pengembangan Kegiatan Instruksional.
yang merupakan fasilitas: antar-pcrguruan tinggi. Mengingat pentingnya misi ini,
ringkasan rekomendasi ini dilampirkan pada Lampiran ll.
Pada l98l Kunsorsium llmu Pendidikan menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Pola
Pembaruan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia. Buku V dalam pedoman
itu merupakan model pengembangan program pascasarjana. Dcngan berakhirnya proyek
bantuan luar negeri. dan mengacu pada buku pedoman Kunsorsium itu. maka pada tahun
1986 diadakan telaah kembali misi dan tujuan program pascasarjana IKIP Jakarta.
Tujuan kegiatan ini ialah untuk menelaah kembali misi dan tujuan program
pascasarjana. diikuti dengan perumusan kembali misi dan tujuan yang sesuai dengan
kebutuhan serta harapan masyarakat. 'l'ujuan-tujuan khusus tersebut antara lain:
1. Mengadakan telaah kembali misi dan tujuan seperti tertera di dalam Buku V.
2. Merumuskan kembali misi dan tujuan program pascasarjana kependidikan berdasarkan
hasil penggabungan dengan pendapat para pakar/narasumber, serta kebutuhan
masyarakat pada umumnya dan bidang kependidikan khususnya.
Dasar pemikiran diselenggarakannya telaah kembali itu adalah karena hampir Sepuluh
tahun program pascasarjana didirikan sebagai lembaga formal. belum pernah dilakukan
telaah kembali misi dan tujuan program untuk diaeauaikan dengan buku pedoman tersebut.
Selain itu, Program Pascasarjana Kependidikan perlu dikembangkan dan disusun dcngan
tujuan untuk menghasilkan tenaga ahli dan ilmuwan dalam berbagai bidang keahlian
kependidikan. Tujuan ini tercakup di dalam buku pedoman tersebut.
Berdasarkan Buku V itu program S-Z kependidikan ditujukan untuk menghasilkan
tenaga pengajar LPTK yang berkepribadian terbuka. demokratis. mampu mengelola pruacs
belajar mengajar serta mcmpunyai rasa tanggung jawab dan integritas tinggi. Pembentukan
kompetensi keilmuannya terbatas pada pelaksanaan penelitian yang berupa aplikasi
konsep. bukan mcncmukan konsep baru. Selanjutnya. menurut buku pedoman itu
19
sebaiknya program 5-3 bertujuan untuk mendidik calon peneliti dan pengembang yang
secara mandiri akan mampu memperkaya cakrawala ilmu dan teknologi kependidikan
dalam konsep. cara kerja. atau alat baru bidang pendidikan.
Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka peninjauan dan peruntukan
kembali misi dan tujuan program pascasarjana antara lain:
1. Mengadakan dengat pendapat tentang misi dan tujuan program pascasarjana
kependidikan. Lntuk itu telah diundang para pakar dumcstik dan narasumber lain yang
dianggap petunjuk ikut berbicara tentang misi dan tujuan program pascasarjana
kependidikan.
2. Mengadakan telaah kembali miai dan tujuan program pascasarjana yang ada di Buku
V.
3. Merumuskan kembali misi dan tujuan program paacasarjana kependidikan bcrdasarkan
masukan yang diterima.
Berdasarkan masukan yang diperoleh di dalam sidang pleno dan diskusi-diskusi yang
dilakukan setelah itu. maka dirumuskan hasil sebagai berikut. misi dari:
1. Program Pascasarjana Kependidikan
a. Meningkatkan mutu staf pengajar S-0-S-l dengan jalan meningkatkan kompetensi
akademik maupun profesional.
b. Menjadi pusat penelitian dalam rangka mengembangkan ilmu kependidikan.
2. Program Magister
a. Mendidik mahasiswa agar menjadi dosen yang ahli di dalam bidang studinya.
b. Mendidik mahasiswa dalam profesi keguruan dan pendidikan sehingga dapat
menjadi seorang yang profesional dalam menganjurkan bidang keahliannya.
c. Pendidikan mahasiswa untuk mampu melaksanakan penelitian yang bersifat
aplikasi konsep yang ada.
3. Program Doktor
a. Mendidik mahasiswa untuk mengajarkan dan mengembangkan profesinya dengan
baik.
b. Mendidik mahasiswa untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmunya dengan
baik.
c. Mendidik mahasiswa untuk menjadi peneliti mandiri yang dapat mengembangkan
ilmu kependidikan dan pengajarannya scrta bidang keahliannya.
d. Mendidik mahasiswa untuk menjadi pemikir dan peneliti yang dapat memecahkan
masalah-masalah yang ada di dunia pendidikan dan pengajaran.
(Dikutip dan Laporan Perumusan Kembali Misi dan Tuiuan Fakultas Pascasanana.
tanpa tanggal).
Laporan ini sebagai suatu bentuk pengkajian historis mengandalkan tersedianya
dokumen yang merupakan rekaman kejadian. objek Haik atau bahan tertulis lain yang
mempunyai nilai sejarah. dan orangorang yang menjadi pelaku kegiatan masa lalu.
Sebelum pengkajian ini dilakuanakan pengkaji percaya bahwa acmuanya itu dapat
diperoleh tanpa banyak kesulitan, mengingat jangka waktunya belum terlalu lama dan
sebagian besar pelaku masih aktif. Tetapi dugaan pengkaji salah: dokumen yang
melukiskan awal perkembangan program teknologi pendidikan ternyata tidak dapat
dlpcralch. Pengkaji bahkan sudah mengerahkan mahasiswa pascasarjana untuk membantu

20
“membongkar" gudang di Kantor N’s dan di Pustekkom. tetapi usaha itu sedtkit sekali
berhasil.
Usaha menggali ingatan para pelaku juga kurang berhasil karena pada umumnya
ingatan mereka sudah tertimbuni dengan masalah-masalah yang lebih baru. Usaha pengkaji
untuk mcmvcrinastkan beberapa data juga kurang berhasil karena ketidaksamaan data dan
informasi yang terkumpul untuk suatu peristiwa atau hal. Waktu yang aangat terbatas Iebih
mempersulit lagi usaha memperoleh informasi yang lengkap. Dalam hal ini pengkaji lebih
banyak menggunakan catatan dalam buku agenda prtbadi. dan kemudian
mcndiskusikannya dengan mereka yang dianggap dapat memberikan konftrmasi.
Laporan ini disusun dengan menggunakan data yang bersifat impresionistik atau kesan
pelaku masa lalu yang diungkap kembali dengan situasi sekarang. Hal ini terpaksa
dilakukan sebagai aatu-aalunyu cara. karena dokumen tertulis sudah tidak dapat diperoleh
lagi. Diakui bahwa dam semacam ini kurang reliable.
Tetapi karena hal itu merupakan satu-salunya hal yang mungkin dilakukan. maka saya
menganggap dapat dipertanggungjawabkan.
Saya berharap bahwa para pelaku atau mereka yang pernah terlibat dalam usaha
pengembangan program sludi teknologi pendidikan yang sempat membaca laporan ini
dapat memberikan reaksi dan langgapan. Hasil penelusuran ini lebih merupakan picu untuk
diperolehnya kebenaran.
BAB IV
4. Peran Profesi Teknologi Pendidikan
A. Pendahuluan
Teknologi telah menjadi bagian integral dari tiap kehidupan masyarakat sejak ribuan
tahun yang lalu. Pada zaman batu pun telah ada teknologi. seperti yang digunakan untuk
membangun piramida, membangun Candi Borobudur. untuk mambuat api. dan sebagainya.
Makin maju suatu budaya. makin banyak dan makin canggih teknologi yang ditemukan
dan dtgunakan. Bahkan ada di antara kita yang berpendapat bahwa teknologi telah
merupakan “jawaban" atas semua “masalah". Sebaliknya. banyak juga di antara kita yang
berpendapat bahwa teknologi merupakan sekadar alat yang tidak ada maknanya kalau tidak
digunakan. Kedua pendapat ini tidak tepat. karena tidak ada satu pun “obat" (teknologi)
yang dapat mengatasi acgala macam “penyakit" (masalah). Kecuali itu tidak adn teknolugi
yang diciptakan hanya untuk sesuatu makna dan orang tertentu. karena ciptaan itu
merupakan suatu bagian dari rangkaian atau sistem tertentu.
Dalam bidang pendidikan dan pelatihan. sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
teknologi juga telah merupakan bagian integral, baik disadari maupun tidak. Masih banyak
guru. dosen. Widyaiswara. dan pelatih yang menganggap teknologi hanya sekadar alat atau
sarana. yang dapat membantu mengatasi masalah dalam mengajar atau melatih. seperti
penggunaan OHP (proyektor sawang) untuk menayangkan transparansi dan pengeras suara.
Mereka bahkan berpendapat bahwa tanpa alat atau sarana itu pun. mereka masih dapat
menjalankan tugas dengan baik. Ratusan tahun yang lalu "tabib" merupakan satu-sntunya
profesi yang mampu menyembuhkan penyakit. dan “guru" merupakan satu-salunya profcai
yang mampu mengajarkan ilmu kepada muridnya. Sekarang ini di bidang kesehatan telah
lahir sejumlah profesi dengan keahlian khusus (spesialis) yang didukung dengan sarana
yang canggih. seperti CT-Scan. Tetapi di bidang pendidikan adanya tenaga dengan keahlian

21
khusus serta penggunaan proses dan sarana yang modern. masih belum diterima secara
meluas.
B. Perkembangan Konsep Teknologi Pendidikan
Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum.
Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses
tersebut menggunakan dan atau menghasilkan suatu produk tertentu. Produk yang
digunakan dan atau dihasilkan tidak terpisah dari pruduk lain yang telah ada. dan karena
itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Iadi. dalam pengertian umum tentang
teknologi. alat atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat yang mutlak
harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya.
Dalam bidang pendidikan atau pembelajaran. teknologi juga harus memenuhi ketiga
syarat tersebut: proses. produk. dan sistem. Kecuali memenuhi syarat umum teknologi.
teknologi pendidikan juga harus membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau
disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin keilmuan tersebut
dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara
falsafi. dasar keilmuan itu meliputi ontologi atau rumusan tentang gejala pengamatan yang
dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain;
epistemologi. yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam
pokok telaah yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan
dari pokok telaah yang ditentukan. yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai seni
serta keindahan atau estetika. (Miarso. 1987)
Objek formal teknologi pendidikan adalah “belajar” pada manusia. baik sebagai pribadi
maupun yang tergabung dalam organieasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam
lingkup penckolahan ataupun pelatihan. Belajar itu ada di mana saja dan oleh siapa saja.
dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan.
Usaha khusus yang terarah dan terencana bukan sekadar menambah apa yang kurang.
menambal apa yang berlubang. dan menjahit apa yang sobek. Menurut Hanathy bukan
hanya “doing more of the same". ataupun ”doing it better of (he same”. melainkan “doing
it differently" untuk menjamin hasil yang diharapkan (Banathy. 199”. Pendekatan yang
berbeda itu adalah pendekatan yang memenuhi empat pcrayaratan. yaitu:
1. Pendekatan isomeristik. yaitu yang menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai
kajian bidang keilmuan (paikulugi. komunikasi, ekonomi, manajemen. rekayasa teknik.
dan sebagainya) ke dalam suatu kebulatan tersendiri.
2. Pendekatan sistematik. yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha
memecahkan persoalan.
3. Pendekatan sinergistik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan
kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-aendiri.
4. Sistemik. yaitu pengkajian secara menyeluruh (komprehensif). Usaha khusus dengan
pendekatan inilah yang merupakan mas epistemologi teknologi pendidikan.
Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan oleh manuaia untuk sesuatu
tujuan tertentu. yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam mcmpcringan
usahanya. meningkatkan hasilnya. dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada.
Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai. namun penggunaannya akan sarat dengan
aturan nilai dan estetika. Sejak 1980. Daocd Ioesocf dalam pidato pengarahannya pada
Lokakarya Nasional Tcknulogi Pendidikan di Yogyakarta, menyatakan:

22
Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus-menerus karena adanya
kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu: (i) tekad
mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar: (il) keharusan meningkatkan
mutu pendidikan berupa. antara Iain. penyempurnaan kurikulum. penyediaan berbagai
sarana pendidikan. dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagal bentuk
pendldtkan serta lat'han: (lil) penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan
pengembangan sesuai dengan tantangan zaman dan kebutuhan pembangunan: (iv)
peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai
wadah dan sumber pendidikan: dan (v) penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara
pendidukan dan pembangunan di mana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan.
Pernyataan kebijakan tersebut merupakan landasan pembenaran amu landasan
nksiologis teknologi pendidikan sebagai :ualu diaiplin pcngclahuan. Namun aclclah adanya
pembenaran secara falsafi. perlu pula dilengkapi dengan pembenaran ilmiah. yaitu yang
dihasilkan oleh sejumlah kegiatan pengembangan. penelitian. dan penilaian guna
menghasilkan teori. model. sistem. bukti ilmiah. program aksi. dan kebijakan.
Dalam perkembangan berikutnya. istilah “teknologi pendidikan" dipersempit menjadi
“teknologi pembelajaran", dengan pertimbangan bahwa istilah lerakhir itu kecuali lebih
dapat diterima oleh kalangan yang luas, juga dapat lebih berfokus pada objek formal yang
menjadi garnpannya. Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan: teori dan
praktik dalam desain. pengembangan. pcman/mmm. pengelolaan. penilaian dan penelitian
proses. sumber dan sistem untuk belajar. Del‘lniai lersebul mengandung pengertian adanya
empat komponen dalam teknologi pembelajaran. yaitu:
 Teori dan praktik.
 Desain. pengembangan. pemanfaatan. pengelolaan. penilaian. dan penelitian.
 Proses. sumber. dan sistem.
 Untuk belajar
Idealnya setiap teknologi pendidikan/pembelajaran. terutama yang memperoleh
pendidikan akademik minimal sarjana. perlu menguasai keenam kawasan lcrscbul di mas.
Nnmun dalam kcnyalaan di lapangan. sangat jarang ada (bahkan mungkin tidak ada)
seseorang yang melaksanakan segala komponen tcrscbul. Seorang guru yang memperoleh
latihan dalam teknologi pendidikan/pembelajaran paling tidak harus menguasai kawasan
pemanfaatan proses dan sumber belajar. Demikian pula seorang praktisi akan menguasai
dan karena ilu melaksanakan praktik pengembangan sumber belajar. Adapun mereka yang
mempunyai latar belakang pendidikan sarjana dalam bidang sludi teknologi pembelajaran
diharapkan aclidaknya mcngclahui semua komponen tersebut.
Pendidikan keahlian pada jenjang S-1 (sarjana) memerlukan sedikitnya I44 SKS.
Dengan jumlah SKS ini ada sekitar 40 mata kuliah keahlian yang dapat ditawarkan. Atas
dasar itu dimungkinkan adanya tiga spesialisasi yang mengarah pada kompetensi praklis.
yang didukung oleh landasan wuri yang diperlukan, dalam: (l) praklik desain dan
pengembangan sumber: (2) praktik pemanfaatan dan penilaian proses: dan (3) praktik
pengelolaan sumber dan proses. Adapun pada jenjang 5-2 dan 5-3 konsentrasinya lebih
bersifat teoretis. serta kemampuan manajerial dan penelitian sistem.
C. Penerapan Teknologi Pendidikan
Penerapan teknologi pendidikan dapat ditelusuri secara historis. sebagai berikut. Pada
awal perkembangannya. sekitar ratusan lahun yang lalu. inilah teknologi pendidikan"

23
belum dikenal. Apa yang dikenal adalah metode mengajar dengan peragaan oleh guru
scndiri-scndiri. Sckilar tahun l930-an mulai digunakan media audiovimal (peta. globe. dan
lain-lain.) yang diproduksi scum! massal dan digunakan di sekolah secara meluas. Mulailah
dikenal istilah audiovisualinstruction. Pada tahun I940-an. aaa! turjadi Perang Dunia II.
diperlukan banyak tenaga terampil dalam mengoperasikan dan menangani peralatan
perang. Penyediaan tenaga terampil itu tidak mungkin dilaksanakan oleh sialcm
persekolahan. Untuk itu diperlukan latihan yang efektif dalam waktu yang pendek dan
dapat diulang sesering mungkin. Dikembangkanlah cara pelatihan dengan menggunakan
berbagai metode. media. dan simulator untuk keperluan pelatihan personel. Di luar bidang
pendidikan sekolah mulai dikenal ibtilah “teknologi kinerja”.
Seusai PD ll mulai dikembangkan pengalaman di kalangan angkatan bersenjata tersebut
untuk keperluan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih
berorientasi teoretis dan menganggap fungsinya adalah mempersiapkan peserta didik untuk
masa depan )ang siap latih atau siap memasuki dunia kerja atau dengan landasan
pendekatan jusl-in-case. Padahal. dengan semakin berkembangnya kegiatan waial
ekonomi. diperlukan tenaga yang kompeten lebih banyak dan cepat. Hal ini memicu
tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga yang menyelenggarakan program
pembelajaran berbentuk pelatihan dan kursus sebagai upaya pendidikan berkelanjutan yang
bersifat terapan. Muncullah istilah “teknologi pendidikan".
Kecuali itu dalam lingkungan pekerjaan dirasakan perlunya setiap karyawan untuk
terus-mencrua belajar mengikuti perkembangan iptek dan tuntutan lingkungan. Untuk itu
diaclenggarakan pelatihan atau penataran dalam lingkungan kerja. baik dengan tenaga
pelatih dari dalam lingkungan :cndiri maupun dengan mendatangkan pelatih dari luar.
Untuk mengakomodasi kepentingan mcrcka ini digunakanlah istilah "teknologi
pembelajaran". karena mereka lebih berkepentingan dalam membelajarkan orang dalam
lingkungan kerja mereka sendiri atau pembelajaran untuk penguasaan suatu kompetcnai
tertentu pada saat diperlukan atau berlandaskan pendekatan justin-time.
Perkembangan tersebut juga sekaligus menunjukkan makin meluasnya penerapan di
luar kcgialan lembaga pendidikan. Oleh karena itu. maka dirasa tepat bahwa istilah yang
dipakai yaitu “teknologi pembelajaran”. Hal ini juga untuk mewadahi kepentingan semua
lembaga atau organisasi yang bcrbcda-bcda yang berkepentingan dengan memecahkan
maaalah belajar dan pembelajaran.
D. Profesi Teknologi Pendidikan
Setiap profesi paling sedikit harus memenuhi empat syarat. Pertama. pendidikan dan
pelatihan yang memadai. kedua, adanya komitmen terhadap tugas profesionalnya. ketiga,
adanya usaha untuk senantiasa mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan
tuntutan zaman. dan keempat adanya standar clik yang harus dipatuhi. Pendidikan dan
pelatihan dalam teknologi pendidikan telah dimulai pada I972. berupa latihan untuk
pengembangan bahan aiar melalui radio. Pada 1974 mulai diberikan mata kuliah teknologi
pendidikan di IKIP Iakartu. dan pada 1976 dibuka pendidikan akademik jenjang sarjana
dalam program teknologi pendidikan melalui kerja sama antara 1 im Penyelenggara
'I'cknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (yang merupakan embrio
Pustekkom) dcngan IKIP !akarta. Dua tahun kemudian pada l978 dibuka pendidikan
jenjang magister dan doktor teknologi pendidikan di IKIP Iakarta. Program pendidikan

24
tersebut merupakan bagian integral dari Proyek Pengembangan Teknologi Komunikasi
untuk Pendidikan yang sekaligus bertujuan untuk mcmbcnluk suatu lembaga yang
bertanggung jawab mengoordinasikan pengembangan teknologi pembelajaran di
Indonesia. Hingga saat ini sudah delapan universitas yang membuka program Pascasarjana
'Icknologi Pendidikan.
Mereka yang berprofesi atau bergerak dalam bidang teknologi pendidikan atau
singkatnya disebut teknolog pendidikan. harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan
tugaa profesionalnya yang utama yaitu terselenggaranya proses belajar bagi setiap orang.
dengan dikembangkan dan digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan
karakteristik masing-masing pembelajar (learners) serta perkembangan lingkungan. Karena
lingkungan itu senantiasa berubah. maka para teknolog pendidikan harus senantiasa
mengikuti perkembangan atau perubahan itu. dan oleh karena itu ia dituntut untuk selalu
mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman. termasuk
sclalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
Profesi ini bukan profesi yang netral dan bebas nilai. Ia merupakan profesi yang
memihak kepada kepentingan pemelajar (learners) agar mereka memperoleh kesempatan
untuk bclaiar agar putcnsi dirinya dapat berkembang semaksimal mungkin. Profesi ini juga
tidak bebas nilai karena masih banyak pertimbangan lain. seperti sosial. budaya. ekonomi.
dan rekayasa yang memengaruhi. sehingga tindakannya harus selaras dengan situasi dan
kondisi serta berwawasan ke masa depan. Pada 1987 didirikan Ikatan Profesi Teknologi
Pendidikan Indonesia (IPTPI) yang tempat kedudukannya pada saat ini di Lnchrbilas
Ncgcri Jakarta. IPTPI mempunyai Anggaran Dasar. Anggaran Rumah Tangga. dan Kode
Etik Kode Etik ini dapat dilihat pada Lampiran D buku I'eknologi Pembelajaran: Definisi
dun Kuwawmtya. yang merupakan terjemahan plus dari buku karangan Barbara B. Seels
dan Rita C. Richie. Instructional 'I'evlumlngv: 'Ihe Definition arul Domains of the Field.
Dalam kode etik ini dicantumkan kewenangan dan kewajiban aertn tanggung jawab kepada
perorangan. masyarakat, rekan sejawat, dan organisasi.
Profesi teknologi pendidikan. bagaimana halnya semua prufcsi yang baru. menghadapi
tantangan yang inheren. Salah satu tantangan berat yang dihadapi yaitu pengakuan atas
profesi teknologi pendidikan. Hingga saat ini belum ada pe-ngakuan pemerintah atas
profeai teknologi pendidikan. Sejak I985 Pustekkom Diknas (sewaktu masih dikenal
dengan Pusat TKPK) telah mengusahakan pengakuan jabatan fungsional teknologi
pendidikan. Upaya ini digalakkan lagi dengan lahirnya organisasi profesi pada tahun I987.
dan berikutnya dengan ditetapkannya Undang-undang No. 2 |9891cnlang Sistem
Pendidikan Nasional. Berdasarkan UU tersebut ada jabatan “peneliti dan pengembang di
bidang pcndidtkan” dan “teknisi sumber belajar”. Proposal berupa Naskah Akademik dan
Draf Keputusan Menpan tentang labatan Fungsional Teknologi Pendidikan kita ajukan lagi
sesuai dengan perundangundangan ini kepada Menpan. namun aementara ini magih
ditangguhkan (ditolak halus) acmua uaulan mengenai jabatan fungaiunal. ll’Tl’l juga
memperjuangkan agar profesi tcknolog pendidikan pembelajaran tercantum dalam UU
Sisdiknas yang akan datang.
Namun karena hingga sekarang RUU Sisdiknas tersebut belum juga ditetapkan sebagai
UU oleh pemerintah. maka dilakukan usaha lain untuk memperoleh pengakuan. Usaha
memperoleh pengakuan prufcei tersebut memperoleh ialan keluar dengan ditetapkannya

25
Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.
Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan 'l'cknulogi. Dalam undang-undang
ini. khususnya Bagian Ketiga: Sumber Daya pada Pasal ll,l2. dan l3 dicamumkan adanya
“keahlian. kepakaran, kompetensi manusia. dan pengurganisasiannya" sebagai salah satu
sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui Kantor Menristek pada saat ini
sedang diproses keputusan Presiden RI tentang Inbntan Fungsional Perekayasa dnn Teknisi
Litkuyasa dalam berbagai bidang. termasuk di dalamnya bidang pembelajaran. Bila
keputusan ini telah keluar. maka jabatan profesi teknolog pendidikan akan disebut sebagai
perekayasa pembelajaran. Berdasarkan Naskah Akademik tentang labatun Fungsional
lcknologi Pendidikan. maka tugas pokok leknolog pembelajaran atau perekayasa
pembelajaran adalah:
1. Pengembangan bidang kajian dan kawasan teknologi rekayasa pembelajaran.
2. Perancangan dan pengembangan proses. sumber. dan sistem pembelajaran.
3. Produksi bahan belajar.
4. Penyediaan aarana dan prasarana belaiar.
5. Pemilihan dan penilaian sistem dan komponen sistem pembelajaran.
6. Pemanfaatan proses dan bumber belajar.
7. Penyebaran konsep dan temuan teknologi pendidikan.
8. Pengelolaan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar.
9. Perumusan bahan kebijakan teknologi rekayasa pembelajaran.
Tugas pokok ini harus dirinci lagi dalam scmbilan jenjang kepangkatan. mulai dari
Asisten Perekayasa Muda (Illa) hingga Ahli Perekayasa Utama (IVc). dengan angka kredit
untuk tiap-tiap jenjang yang tidak berbeda dengan penjcnjangan tenaga dosen atau peneliti.
Tugas pokok tersebut juga mengacu kepada visi teknologi pendidikan sebagai disiplin
keilmuan, yaitu lem'ujudnya berbagai putu pendidikan dan pembelajaran dengan
dikembangkan dan dimunfaatkalmya aneka sumber. proses. dan sistem belajar sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan. menuju terbentuknya masyaraka! belajar dan
bemertgvlahuan, Untuk tercapainya visi tersebut TP/ P mempunyai misi:
 Dilakukannya pendekatan inlcgratif dengan semua kegiatan pembangunan di bidang
pendidikan dan pelatihan.
 Tersedianya tenaga ahli untuk mengelola dan melaksanakan kegiatan.
 Diusahakannya pertambahan nilai soaial-ekonomi.
 Dihindarinya gejolak negatif seperti meluasnya keseninngan amara yang kaya dan
miskin, antara perkotaan dun pedesaan. dan sebagainya.
 Dikembangknnnya pola dan sistem yang memungkinkan keterlibatan jumlah sasaran
maksimal. perluasan pelayanan. dan pemberdayaan warga dan organisasi belajar.
 Dihasilkannya sistem belajar dan pembelajaran yang inovatif.
Teknologi pendidikan sebagai teori dan praklik secara faktual telah menjadi bagian
integral dari upaya pengembangan aumbcr daya manuaia khususnya sistem pcndidnknn
dan pelatihan.
Program pcndidlkan profesi teknologi pendidikan yang dimulai sejak 1976 lcrus
berkembang. baik lembaga pcnyelenggaranya maupun pe>ena dan lulusannya. Mereka itu

26
diluntul untuk bersikap proaktif dalam mewujudkan visi dan misi teknologi pendidikan
sebagai suatu disiplin keilmuan.
Dengan tersedianya tenaga terdidik dan lerlalih dalam bidang teknologi pendidikan dan
adanya organisasi profesi. maka secara konseptual tcrjaminlah usaha penerapan teknologi
pendidikan dalam berbagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan belajar. dan
pembelajaran. Program itu boleh dikatakan tidak terhingga bentuk. jenia dan jumlahnya.
Namun untuk itu para akademisi dan praktisi teknologi pendidikan harus bertindak proaktif
dan meningkatkan kompetensinya lerus-menerus. scauai dcngan pcrkcmbangan iptek
lunlulan kebutuhan. dan kondisi lingkungan.
Pembangunan sislcm pendidikan di Indonesia hanya mungkin dnpat terlaksana sebagai
yang dlharapkan apabila dipahami arti penting teknologi pendidikan. dan dengan demikian
maka peran dan potensinya dapat diwujudkan secara optimal.

27
BAB II
TANGGAPAN TERHADAP BUKU
Buku Menyemai Benih Teknologi Pendidikan ini mengunakan bahasa yang mudah dipahami dan
tidak berbelit – belit, selain itu buku ini menyuguhkan buah pikiran segar dari penulis. Pada awal bab
buku ini dihantarkan secara kronologis dari dari teori – teori teknologi pendikan sebagai landasan dari
pembelajaran inovativ, karena teori teknologi pendidikan merupakan kerangka makro untuk
implementasi desain pembelajaran.
Tanggapan kami mengenai (PPL) Program Pengalaman Lapangan Program Studi
Teknologi Pendidikan
1. Untuk Mahasiswa
a. Perlu adanya koordinasi dan kerjasama yang baik antar individu dan kelompok,
sehingga program kerja dapat berjalan dengan baik dan lancar,
b. Setiap individu harus mempunyai niat dan tujuan yang baik, rasa ikhlas tanggung jawab
yang besar, sehingga perlu adanya kesiapan secara fisik mental, dan emosional agar
PPL dapat berjalan dengan lancar dan baik
c. Mahasiswa harus dapat mengelola waktu yang dimiliki selama PPL dengan sebaik-
baiknya.
2. Untuk Instansi
a. Melakukan pembekalan keterampilan untuk mahasiswa PPL
b. Adanya evaluasi rutin kinerja setiap individu mahasiswa PPL
3. Pusat Pengembangan Praktik Pengalaman Lapangan dan Praktik Kerja Lapangan (PP PPL
& PKL)
a. Adanya persiapan yang matang serta adanya informasi yang jelas untuk mahasiswa
yang akan melaksanakan PPL
b. Sebagai fasilitator mahasiswa dalam program PPL, diharapkan lebih sering berkunjung
ke lapangan saat program PPL berlangsung
c. Membangun jaringan dan kerjasama lebih luas dengan beberapa instansi swasta yang
dapat mendukung pelaksanaan program PPL, sehingga tidak terbatas pada kerjasama
dengan instansi pemerintah.
Tanggapan saya DISTANCE LEARNING Dengan adanya perkembangan teknologi dalam
bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh
dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan
dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah,
mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat
dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah
tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya.
Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi
antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk
real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio
atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list,
discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan
mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%.
Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga
diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web
dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen

28
dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan
langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran
online.
Dalam memenuhi kewajiban terhadap setiap individu, para anggota:
1. Selalu mendorong aksi mandiri bagi upaya individu untuk belajar dan menciptakan
berbagai kemudahan belajar atas berbagai pendapat.
2. Selalu melindungi dan menghormati hak individu atas kemudahan rujukan atau materi dari
berbagai pendapat.
3. Selalu dalam rancangan dan pemilihan dari suatu program kependidikan atau media
mencari upaya untuk menghindari isi yang memperkokoh atau
meningkatkan/memperkenalkan model (stereotype) perbedaan jenis kelamin, etnik, atau
suku tertentu, ras, atau keagamaan. Selalu mencari / mengupayakan untuk mendorong
pengembangan program dan media yang menekankan keragaman dari masyarakat (kita)
sebagai suatu lingkungan /komunitas multibudaya.
4. Selalu, dengan jujur, mewakili lembaga atau organisasi dimanaorang tersebut terdaftar, dan
selalu siap melaksanakan tindakan pencegahan untuk membedakan kepentingan pribadi,
dengan kepentingan lembaga atau (pandangan) organisasi.
5. Selalu, secara tepat dan cepat, mewakili atau menyampaikan fakta menyangkut
kepentingan atau masalah kependidikan kepada publik,baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Tidak akan memanfaatkan situasi kelembagaan atau sikap ikatan profesi untuk
keuntungan pribadi.Tidak akan menerima berbagai bentuk ucapan atau ungkapan
terima kasih dalam bentuk apapun juga, seperti bingkisan, hadiah, yang
dapat melumpuhkan atau menyimpang dalam menentukan pertimbangan keprofesian, atau
memperoleh kepentingan atau keuntungan tertentu.
6. Selalu melaksanakan terapan secara adil dan sama dengan siapapun juga
dalam memberikan jasa atas / terhadap profesi.Dalam melaksanakan kewajibannya
terhadap masyarakat, para anggota

29
BAB III
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa buku ini membahas mengenai bagaimana seorang pendidik
mendesain pembelajaran, artinya pembelajaran yang penuh dengan hal – hal baru, yang karena
hal – hal baru tersebut pembelajaran menjadi menarik disamping pembelajaran harus efektif
dan efisien. Mendesain pembelajaran yang bagus adalah salah satu startegi dalam pembelajaran
agar tujuan pembelajaran tercapai.
Untuk mendesain teknologi pendidikan, pendidik harus mengetahui dan memahami
terlebih dahulu terkait teori – teori belajar meliputi teori behavior, kognitif, dan humanistik.
Selain itu, pendidik harus memahami sifat – sifat dan model – model desain pembelajaran.
Teori dan model pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.
Masuk ke dalam substansi teknologi pendidikan dalam pembelajaran, yang mana banyak
jenis strategi yang bisa diterapkan, salah satunya inkuiri dan ekspositori. Kemudian, tentukan
media dan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran misalnya menggunakan media
yang mutakhir didukung oleh metode diskusi. Dalam proses pembelajaran pun harus mengikuti
perkembangan zaman dengan memasukkan aspek – aspek perkembangan teknologi sebagai
media yang menunjang prosesnya. Sumber belajar pun perlu dikelola dengan baik dan dikemas
semenarik mungkin dengan bantuan metode dan media dalam pembelajaran agar materi yang
disampaikan dapat diterima dengan baik.
Setelah pendidik mengerahkan usaha semaksimal mungkin dalam proses pembelajaran,
pendidik perlu melakukan penilaian sebagai bentuk evaluasi dan pengukuran kemampuan
siswa agar diketahui apakah startegi yang diterapkan mampu membuat siswa menyerap
pembelajaran dengan baik atau tidak, hal ini yang akan menjadi dasar evaluasi terhadap strategi
yang ditepkan oleh pendidik.
Setelah rancangan instruksional yang inovatif telah terbukti keampuhannya dalam proses
pembelajaran, maka difusi inovasi tersebut perlu dilakukan dengan segera. Agar inovasi
tersebut mampu teraplikasi dengan baik, maka pengimplementasiannya bertahap tapi pasti.
Sebagai solusi, perlu adanya edukasi lebih terhadap pendidik terkait strategi pembelajaran agar
terjadinya pemerataan kualitas pendidikan.

30