Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN SKILL LAB BIOMATERIAL II

MANIPULASI DAN UJI KEASAMAN SEMEN SENG FOSFAT

NAMA : Bagas Anggie Susetya Adji


NIM : 10617022

PROGRAM STUDI S1 KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semen merupakan suatu bahan non logam yang digunakan untuk restoratif.

Semen juga berfungsi sebagai perekat pada logam dan juga sebagai luting, basis,

liner dan Varnis. Semen Seng fosfat merupakan semen yang memiliki sejarah

paling panjang, sehingga material ini memiliki aplikasi yang paling luas. Mulai

dari semen sebagai luting, cavitas liner dan basis untuk melindungi pulpa dari

stimulus mekanik, termal, maupun elektrik suatu restorasi (O’Brien, 2002).

Penggunaan lutingbiasanya digunakan untuk restorasi atau dental appliance

yang dikonstruksi di luarmulut pasien. Misalnya inlay, mahkota logam, bridge, dan

metal post. Hal ini karenajika suatu protesa ditempatkan pada gigi pasien,

maka diperlukan adanya suatu mekanisme retensi antara gigi dan protesa

sedangkan fungsi semen fosfat sebagai basis adalah yaitu sebagai lapisan semen

yang ditempatkan di bawah restorasi permanen untuk memacu perbaikan dari

pulpa yang rusak dan melindunginya dari kerusakan. Kerusakan itu bisa dari

thermal shock bila gigi direstorasi dengan bahan logam dan kerusakan karena iritasi

kimia. Basis berfungsi sebagai tekanan selama proses kondensasi serta dapat

memberi bentuk yang structural bagi kavitas (McCabe, 2008).

Komposisi semen fosfat tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan dalam botol

yang terpisah. Komposisi dari bubuk adalah seng oksida (90%) dan metal oksida
lainnya (10%). Sedangkan komposisi cairan adalah asam fosfat (50%-60%) dan

gabungan fosfat dengan AI atau Zn sebagai larutan penyangga. Komponen ini

membentuk fosfat yang mana dapat menyetabilkan pH dari asam dan mengurangi

reaktivitasnya (McCabe, 2008).

Ketika bubuk dicampur dengan cairan, asam fosfor berkontak dengan

permukaan partikel dan melepaskan ionion seng ke dalam cairan. Dua menit setelah

pengadukan, pH semen seng fosfat berkisar 2. Adukan yang terlalu encer akan

menyebabkan pH semen seng fosfat menjadi lebih rendah pada waktu yang lama.

Keasaman semen seng fosfat akan mengakibatkan kerusakkan pulpa, oleh karena

itu dentin pulpa perlu dilindungi dengan semen sebagai subbase. Oleh karena sifat

asam yang dihasilkan oleh semen seng fosfat ini, maka dalam praktikum kali ini

kami akan melakukan uji keasaman terhadap semen seng fosfat kedokteran gigi.

1.2 Tujuan

1. Agar Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana cara

memanipulasi semen seng fosfat kedokteran gigi sebagai luting dan basis

2. Agar mahasiswa dapat memahami mengenai pH yang dihasilkan dari bahan

restorasi semen seng fosfat

1.3. Manfaat

1. Agar mahasiswa dapat memanipulasi bahan restorasi semen seng fosfat

2. Agar mahasiswa dapat mengetahui waktu setting dari semen seng fosfat dan

berapa nilai pH yang dihasilkan dari seng fosfat,


BAB II

METODE PENGAMATAN

2.1 Alat dan Bahan

2.1.1 Alat

a. Glass slab (kaca tebal)

b. Cetakan sampel dari akrilik 2 mm

c. Spatula semen

d. Stopwatch

e. Celluloid strip

f. Kuas kecil

g. Gunting/cutter

h. Timbangan digital

i. Sonde

j. Sendok takar

k. Plastic Filling Instrument

2.1.2 Bahan

a. Bubuk dan Cairan semen seng fosfat

b. Vaselin dental
2.2 Cara Kerja

2.2.1 Persiapan uji keasaman semen seng fosfat

1. Menyiapkan alat dan bahan praktikum.

Gambar 1. Alat dan Bahan

2. Mengambil cairan dan bubuk ke glass plate, dengan proporsi sesuai gambar

pada tutup botol bubuk (rasio gambar liquid/powder pada tutup sudah sesuai

petunjuk pabrik)

Gambar 2. Bubuk dan cairan semen seng fosfat

3. Melakukan manipulasi semen seng posfat dengan benar dan tunggu seting.
Gambar 3. Manipulasi semen seng fosfat

4. Semen seng phospat untuk basis yang sudah setting (sampel pada percobaan

manipulasi semen seng posphat) digerus pada mortar menggunakan pestle

amalgam (pastikan mortar pastle bersih). Ambil kurang lebih 1 gr serbuk

sampel kemudian campur dengan sedikit air destilasi atau aquadest steril

sampai terlarut seperti pasta (dijadikan sebagai kelompok 1). Mengukur

larutan tersebut dengan pH Universal.

Gambar 4. Penggerusan semen seng fosfat yang telah setting

5. Mengaduk Semen seng phospat untuk basis (sesuai petunjuk pabrik) selama 2

menit kemudian campur dengan sedikit air destilasi atau aquadest steril
sampai terlarut seperti pasta (dijadikan sebagai kelompok 2). Mengukur

larutan tersebut dengan pH Universal.

Gambar 5. Pengadukan dan pencampuran semen seng fosfat yang belum

setting

Gambar 6. pengukuran pH menggunakan kertas indikator universal

Gambar 7. Hasil nilai pH pada uji percobaan pertama(sudah setting)


Gambar 8. Hasil nilai pH pada uji percobaan kedua(diaduk selama 2 menit)

6. Masukkan hasil pengamatan ke tabel dan bandingkan hasil kelompok 1 dan 2

2.2.2 Pengujian sampel dengan pH Universal

Indikator universal, campuran dari beberapa indikator yang memiliki

perubahan warna berbeda, sehingga semua perubahan warna itu menyatu dan

sebagai hasilnya, indikator universal ini memiliki perubahan dari merah-

jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu atau disingkat mejikuhibiniu. Cara

menggunakan indicator universal bentuk kertas, adalah dengan cara

mencelupkan kertas tersebut dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya.

Sedangkan, jika menggunakan indicator universal bentuk larutan adalah

dengan cara memasukkan atau meneteskan larutan indicator universal ke

dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya. Warna yang terbentuk

kemudian dicocokkan/ dibandingkan dengan warna standar yang sudah

diketahui nilai pH-nya. Dengan mengetahui nilai pH maka dapat ditentukan

apakah larutan bersifat asam, basa atau netral


BAB III

HASIL PENGAMATAN

Tabel hasil pengamatan PH semen seng fosfat

No. KELOMPOK Warna Ph UNIVERSAL Nilai pH

1. Adonan semen seng

fosfat 2 menit setelah Metil Jingga merah-kuning pH 2

diaduk

2. Semen seng fosfat

sudah setting Metil merah Merah-Kuning pH 4


BAB IV

PEMBAHASAN

Seng fosfat adalah semen untuk luting yang pertama. Semen ini terdiri dari

bubuk dan cairan yang berada di dua botol yang terpisah. Komposisi utama dari bubuk

adalah seng oksida, sedangkan komposisi utama dari cairan adalah asam fosfat

(Anusavice, 2003). Semen seng fosfat terbentuk apabila seng oksida dan asam fosfat

dicampur (Gladwin, 2009).

Pada praktikum ini, uji keasaman dilakukan pada semen seng fosfat sebagai

basis. Semen yang digunakan untuk basis memiliki konsistensi putty-like dengan rasio

bubuk : cairan yang digunakan sekitar 3,5 : 1. Semen yang digunakan untuk luting

campurannya lebih cair dengan rasio bubuk : cairan yang digunakan lebih randah. Hal

tersebut untuk memastikan flow semen selama menempatkan restorasi (McCabe,

2008).

Cairan dari semen seng fosfat memiliki sifat buffer dengan kombinasi dari

oksida yang terkandung di dalam bubuk dengan magnesium hidroksida yang berperan

untuk membentuk fosfat pada cairan. (Van Nort, 2002). Saat bubuk dan cairan semen

seng fosfat dicampur, asam fosfat melarutkan partikel zinc oxide pada area superfisial.

Zinc oxide yang bercampur degnan asam fosfat menghasilkan suatu reaksi asam basa

sehingga terbentuk asam seng fosfat [Zn(H2PO4)2.

ZnO + 2 H3PO4 → Zn(H2PO4)2 + H2O


Reaksi eksotermik yang timbul setelah bubuk dan cairan semen seng fosfat

dicampur memberikan kerugian berupa working time yang singkat. Untuk mengatasi

kerugian tersebut, dapat disiasati dengan cara sebagai berikut:

a. Menggunakan glass slab yang dingin atau tebal

Pada glass lab yang tebal atau dingin, memungkinkan untuk menyerap panas

lebih banyak dari pada glass lab yang tipis. Penggunaan glass slab dingin dapat

memperpanjang working time dan memperpendek setting time.

b. Menggunakan Teknik spreading

Teknik spreading pada saat pengadukan juga dapat mengurangi reaksi

eksotermis, karena dengan cara tersebut bidang pengadukan akan lebih luas,

sehingga panas yang dapat diserap oleh glass slab akan lebih banyak.

c. Membagi bubuk menjadi beberapa bagian

Pembagian bubuk menjadi beberapa bagian menyebabkan reaksi eksotermik

yang dihasilkan akan bertahap dan sedikit demi sedikit, sehingga panas yang

dihasilkan tidak terlalu banyak. Keuntungan lain dari membagi bubuk menjadi

bagian-bagian kecil adalah mendapatkan konsistensi yang diinginkan (Craig,

2002).

Pada manipulasi semen seng fosfat rasio bubuk dan cairan tergantung pada

aplikasinya. Jika digunakan untuk basis membutuhkan konsistensi putty like dengan

rasio bubuk dan cairan yang digunakan adalah 3,5:1. Sedangkan untuk lutting

ditambahkan cairan. Rasio bubuk dan cairan yang lebih rendah bermanfaat untuk
mendapatkan sifat flow yang lebih baik sehingga terjadi seating yang benar. (McCabe,

2008).

Pada praktikum uji yang dilakukan kali ini, terdapat 2 macam percobaan.

Percobaan pertama adalah dengan menguji pH semen seng fosfat sebagai basis yang

telah setting atau mengeras. Setelah itu semen seng fosfat yang telah mengeras digerus

menggunakan mortar dan pastel sampai menjadi serbuk. Lalu diambil kurang lebih 1gr

serbuk tadi dan dicampur dengan sedikit air aquadest atau destilasi sampai terlarut

seperti pasta. Dan diukur dengan kertas indikator pH universal sehingga didapatkan

nilai pH 4.

Sedangkan pada percobaan kedua yaitu dengan menguji keasamaan semen seng

fosfat basis yang belum setting atau baru diaduk selama 2 menit. Lalu dicampurkan air

destilasi sampai larut seperti pasta. Dan diukur dengan kertas indikator pH universal

sehingga didapatkan nilai pH 2

Dari 2 percobaan ini, dapat diketahui bahwa nilai pH semen seng fosfat yang

telah setting atau lebih dulu memiliki nilai pH yang lebih tinggi daripada semen seng

fosfat yang baru diaduk selama 2 menit. Walaupun sama-sama bersifat asam, tetapi

keasaman semen seng fosfat yang baru saja diaduk selama 2 menit memiliki keasaman

yang tingi. Hal ini sama seperti teori yang dikemukakan oleh anusavice bahwa ph

semen seng fosfat pada awal pengaplikasian ke kavitas akan sangat rendah, tetapi

setelah 1 jam pHnya 4,5. Oleh karena itu, harus di beri perlindungan pada pulpa agar

tidak teriritasi dengan menggunakan kalsium hidroksida(anusavice,2004).


BAB V

KESIMPULAN

Semen seng fosfat merupakan salah satu jenis material semen yang berbahan

dasar air yang biasa digunakan sebagai luting maupun basis dalam bidang kedokteran

gigi. Dimana konsistensi semen seng fosfat yang digunakan sebagai basis lebih kental

daripada semen seng fosfat sebagai luting.

Pada praktikum uji keasaman kali ini, semen seng fosfat yang diuji ialah semen

seng fosfat untuk basis. Pada uji yang dilakukan pada percobaan 1 dan 2 dapat

disimpulkan bahwa semen seng fosfat yang baru diaduk selama 2 menit atau belum

setting memiliki nilai keasaman yang lebih tinggi daripada semen seng fosfat yang

sudah setting. Hal ini jika diaplikasikan pada kavitas yang dalam akan merusak pulpa,

maka diperlukan suatu pelapis tambahan atau subbase yang harus diletakkan dibawah

basis untuk melindungi iritasi pulpa.


DAFTAR PUSTAKA

O'Brien, W. J. 2002. Dental Materials and Their Selections. 3th ed. Chicago:
Quintessence Company.
McCabe. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. Victoria: Blackweel Inc.
Anusavice, KJ. 2003. Philips’ Science of Dental Materials. 11th ed. Industrial Drive,
St. Louis, Missouri.
Gladwin, M., dan Bagby, M. 2009. Clinical aspect of Dental Materials : Theory,
Practice, and case. Philadelphia: Wolters Kluwer
Noort, R. V. 2007. Introduction to Dental Materials. 3rd edition. Mosby: Elsevier.

Craig, Robert G, and John M. Power. 2002.Restorative Dental Material: 11th edition.
United State of America : Mosby.
Anusavice, K.J. 2004. Phillips :Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi
…….10.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC