Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ......................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................... 3

B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 3

C. Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Tata Kelola Lembaga Keuangan Islam Modern (IFI) ................................................ 5


B. Standar Pengatur Auditing dan Tanggung Jawab Auditor Syari’ah .......................... 7
C. Masalah dan Tantangan di Audit Syari’ah................................................................. 9
D. Agenda Masa Depan .................................................................................................. 12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..............................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................17

1
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga para penulis dapat menyusun makalah ini tepat
pada waktunya. Makalah ini membahas masalah “Isu dan Tantangan Audit Syari’ah di Masa
Depan”.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan
tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, para
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal
dari Tuhan Yang Maha Esa.

Para penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.

Jambi, 14 November 2019

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bank syariah adalah bank yang menjalankan prinsip syariah dalam kegiatan transaksi
bisnis mereka. Ini berarti bahwa setiap kegiatan perbankan harus sesuai dengan koridor
syariah. Bank syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas untuk
mengawasi dan memberikan masukan kepada manajemen dalam memastikan bahwa operasi
bank sejalan dengan prinsip syariah dan untuk memberi keyakinan pada nasabah bahwa bank
syariah benar-benar menjalankan prinsip syariah. Pada akhir tahun, DPS akan menerbitkan
laporan bersamaan dengan laporan audit oleh auditor eksternal.
Laporan ini sangat berguna bagi pengguna laporan keuangan, khususnya mereka yang
sangat concern pada ajaran agama sebagai sarana untuk memberikan jaminan dan keyakinan
bahwa bank telah memenuhi prinsip-prinsip Islam dalam semua transaksi keuangan. Audit
laporan keuangan pada perusahaan, termasuk bank syariah, dilakukan oleh auditor eksternal
yang memiliki kompetensi yang memadai sesuai dengan kebutuhan profesional profesi
akuntan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah itu sudah cukup atau memadai ketika
auditor "konvensional" mengaudit dan membuat laporan audit sebuah organisasi Islam
(termasuk bank syariah) meskipun ia mungkin memiliki kualifikasi profesional.
Karena itu, kebutuhan untuk audit syariah dan auditor syariah menjadi penting untuk
suatu Lembaga Keuangan Syariah (LKS) karena organisasi ini memiliki sifat atau kegiatan
yang berbeda dibandingkan dengan organisasi bisnis lainnya. Meskipun AAOIFI telah
mengeluarkan serangkaian standar audit untuk LKS, namun kurang berfungsi dengan
maksimal karena AAOIFI tidak memiliki kekuatan memaksa anggotanya untuk mengadopsi
semua standarnya. Apabila mengikuti zaman nya, audit syari’ah akan semakin berkembang
pesat mengikuti zaman modern yang ada, semakin berkembangnya auditing syari’ah maka
akan semakin banyak timbul tantangan-tantangan baru serta isu-isu yang mengikutinya.
Namun itu semua terjadi agar audit syari’ah semakin baik di masa yang akan dating.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana tata kelola lembaga keuangan Islam modern ?
b. Apa sajakah standar pengatur auditing ?

3
c. Apa sajakah tanggung jawab auditor syari’ah ?
d. Apa sajakah masalah dan tantangan yang timbul pada audit syari’ah ?
e. Bagaimana agenda masa depan audit syari’ah ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dan manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah :
1. Mengetahui tata kelola lembaga keuangan Islam modern
2. Mampu menerapkan standar pengatur auditing
3. Memberi informasi mengenai tanggung jawab auditor syari’ah
4. Mengetahui masalah dan tantangan yang timbul pada audit syari’ah
5. Mengetahui agenda masa depan audit syari’ah

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tata Kelola Lembaga Keuangan Islam Modern (IFI)


1. Perbankan dan Lembaga-lembaga Keuangan Islam Modern (IFI)
Perbankan dan lembaga-lembaga keuangan Islam modern (IFI) telah ada
selama lebih dari empat puluh tahun. Lembaga keuangan pertama yaitu Mit Ghamr
Bank di Mesir, didirikan pada tahun 1962. Bank ini kemudian diserap oleh Nasr
Sosial Bank pada tahun 1972. Kemudian Pilgrims Lembaga Tabungan Dana dibentuk
di Malaysia di 1963 yang masih berdiri sampai hari ini.
Industri keuangan Islam langsung berkembang selama beberapa dekade
terakhir. Pada tahun 2011, perbankan dan keuangan Islam adalah salah satu sektor
ekonomi yang tumbuh paling cepat di dunia pada saat ini. Namun, dibandingkan
dengan perbankan konvensional dan keuangan, perbankan Islam dan sistem keuangan
masih dalam tahap yang sangat awal. Perbankan dan sistem keuangan konvensional
pertama kali dimulai pada tanggal 16 abad ketika pedagang di Venesia mendirikan
Banco Della Pizza di Rialto di Venice, Italia.
Saat ini, diperkirakan aset manajemen oleh perbankan syariah dan lembaga
keuangan melebihi US $ 1 trilyun (US $ 1.000 miliar). Ini lebih dari 400 lembaga di
seluruh dunia terutama di empat benua besar, Timur Tengah, Asia Tenggara, Eropa
dan Amerika. Sejumlah besar aset dijamin IFI dengan baik dan aset yang dikelola dan
diaudit menjaga bunga stakeholder. Di sinilah audit syariah hadir ke dalam lembaga
kuangan syariah. Karena setiap lembaga pasti tidak ingin kesalahan dan kegagalan
dalam setiap usaha yang dijalankan.
IFI adalah pelopor kelembagaan ekonomi Islam. Abdullah dan Pillai telah
menyatakan bahwa "IFI memiliki tugas yang lebih besar dan tanggung jawab untuk
pemangku kepentingan dari lembaga konvensional ". Menurut Nahar dan Yaacob, IFI
harus mematuhi Shari'ah dalam semua aspek operasi dan manajemen. Tata kelola
perusahaan dan syari'at dapat didefinisikan sebagai sistem formal akuntabilitas oleh
IFI atas manajemen kepada para pemangku kepentingan dan juga kepada Tuhan.

5
2. Tata Kelola Perusahaan Islam
Dalam merumuskan kerangka social reporting dalam perspektif Islam ada tiga
dimensi penting, yaitu : (a) mencari rida Allah, (b) memberikan keuntungan kepada
masyarakat, (c) mencari kekayaan untuk memenuhi kebutuhan. Dalam praktiknya,
pedoman tata kelola syari’ah berperan untuk memastikan bahwa industri
bersangkutan memenuhi tujuan industri keuangan syari’ah.
Menurut AAOIFI, Dewan Pengawas Syari’ah merupakan badan independen
dari ahli hokum khusus dalam fiqh al-mu’amalat (hukum komersil Islam). DPS harus
ahli dalam bidang lembaga keuangan Islam (IFI) dengan pengetahuan tentang
muamalat fiqh. Tanggung jawab utamanya adalah untuk memberikan pengarahan,
bimbingan, dan pengawasan yang terkait dengan kegiatan lembaga keuangan Islam.
Tujuannya adalah untuk memastikan Lembaga Keuangan Islam yang sesuai
dengan peraturan dan prinsip-prinsip syariat. Anggota lembaga syari’ah ditunjuk oleh
pemegang saham dalam rapat umum tahunan atas rekomendasi dari dewan direksi.
Pemegang saham juga dapat mengizinkan dewan direksi untuk memperbaiki
remunerasi DPS. Surat penunjukan harus memiliki bukti perjanjian keterlibatan DPS
oleh IFI.
3. Pendekatan Umum Sistem Tata Kelola Syari’ah
Tata kelola syari’ah harus memiliki sistem pengawasan, akuntabilitas,
tanggung jawab, kebebasan, kompetensi, kerahasiaan, kepatuhan syariat, dan fungsi
penelitian. Lembaga utama dalam kerangka tata syari’ah adalah dewan komite
syari’ah, manajemen dan kepatuhan syari’ah, dan fungsi penelitian. Menurut
kerangka tata kelola BNM syari’ah, IFI bertanggung jawab untuk membangun suara
dan kerangka tata kelola syari’ah yang kuat dengan penekanan pada peran fungsi
kunci dalam memastikan pelaksanaan yang efektif dari kerangka kelola syari’ah.
4. Pengawasan Akuntabilitas
Mengenai pengawasan, akuntabilitas, dan tanggung jawab, IFI wajib
menyebutkan akuntabilitas dan tanggung jawab setiap pejabat kunci yang terlibat
dalam pelaksanaan kerangka tata kelola syari’ah. Untuk menjaga independensi
komite syari’ah, IFI harus memastikan pengambilan keputusan dan penekanan pada
peran dewan direksi dalam mengenali independensi komite syari’ah.

6
5. Fungsi Audit Syari’ah
Audit Syariah adalah pemeriksaan suatu kepatuhan IFI dengan syari'at, dalam
semua kegiatan, khususnya laporan keuangan dan komponen operasional lainnya dari
IFI yang dikenai risiko kepatuhan namun tidak terbatas pada produk, teknologi yang
mendukung operasi, proses operasional, orang-orang yang terlibat dalam bidang
risiko, dokumentasi dan kontrak, kebijakan dan prosedur dan kegiatan lain yang
membutuhkan kepatuhan terhadap prinsip syariah.
Audit syariah harus memastikan bahwa IFI memiliki sistem pengendalian
intern yang baik dan efektif untuk mematuhi syari'at. Audit syari'at adalah untuk
memastikan produk, jasa dan semua kegiatan IFI tidak melanggar syariat Islam. Ada
beberapa lingkup audit syari'at, yang meliputi audit atas laporan keuangan,
operasional audit, struktur audit dan akhirnya audit teknologi informasi. Ini dapat
dipahami bahwa standar Auditing Internasional (IAS) tidak dapat sepenuhnya
mengatasi audit syari'ah. Oleh karena itu, Auditor syari'at (eksternal atau internal)
harus memastikan bahwa semua peraturan syari'ah dan pedoman diikuti oleh IFI.
Menurut Shafii, Salleh dan Shahwan penasihat syariah bertanggung jawab untuk
memastikan bahwa semua produk IFI dan jasa, kebijakan dan kontrak mematuhi
peraturan syariat Islam.1
B. Standar Pengatur Auditing dan Tanggung Jawab Auditor Syari’ah
1. Standar Pengatur Auditing Islam
Saat ini ada dua standar yang independen terhadap lembaga organisasi yang
terlibat dalam keuangan industri Islam, yaitu Islamic Financial Services Board
(IFSB) atau Dewan Pengawas Syariah dan AAOIFI. Keduanya telah mengeluarkan
standar akuntansi dan pelaporan dan juga audit serta tata kelola perusahaan.
a. Islamic Financial Services Board (IFSB) atau Dewan Pengawas Syariah
Pada bulan Desember 2006, IFSB/DSN mengeluarkan surat prinsip
panduan yang komprehensif tentang tata kelola perusahaan. Publikasi
dimaksudkan untuk membantu mencapai pembentukan IFI dan meningkatkan
kerangka kerja tata kelola perusahaan juga untuk membantu regulasi IFI.
IFSB/DPS mengambil posisi bahwa tidak ada satu Model sesuai dengan semua

1
Rusdiana, 2018, Auditing Syariah, Bandung, CV Pustaka Setia, hal 375-379

7
IFI yang umum dan efektivitas dan kesehatan dari tata kelola perusahaan
tergantung pada kekhususan individu IFI.
b. AAOIFI
AAOIFI diterbitkan pada tahun 2010, tujuan dari audit dalam IFI adalah
untuk memungkinkan auditor untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan,
apakah mereka siap, dalam semua aspek material menurut dan sesuai dengan
fatwa, keputusan dan pedoman yang dikeluarkan oleh dewan pengawas syari'ah
IFI.
2. Peran dan Tanggung Jawab Auditor Syari’ah
Auditor internal juga dapat melibatkan para ahli di bidang keuangan Islam dalam
melakukan audit Selama tujuan audit tidak terganggu. IFI juga dapat menunjuk pihak
eksternal untuk melakukan syari'at Audit. Di sisi lain, audit syari'at adalah
independen audit dan dapat dilakukan oleh auditor internal atau eksternal dan review
syariat adalah karya keyakinan diri dilakukan oleh manajemen melalui departemen
misalnya syari'at atau auditor internal.
Standar Audit AAOIFI juga menyatakan bahwa, dalam rangka untuk menguji
kepatuhan dengan aturan dan prinsip syari'at dan, auditor eksternal harus
mendapatkan bukti yang cukup dan tepat yang menyediakan jaminan yang wajar
bahwa IFI mematuhi aturan syariat Islam dan prinsip-prinsip syariah baik (fatwa,
putusan dan bimbingan yang dikeluarkan oleh SSB).
Auditor bertanggung jawab untuk membentuk dan mengekspresikan pendapatnya
tentang LKI laporan keuangan, seperti yang dijelaskan dalam standar tata AAOIFI
untuk IFI. Dan auditor harus memiliki pengetahuan di syari'ah, Namun tidak
diharapkan untuk tidak memiliki pengetahuan syari'at yang sama dengan anggota
SSB. Perlu dicatat bahwa syari'at auditor tidak bertanggung jawab dalam pencegahan
penipuan dan kesalahan. Namun, itu karena kelalaiannya dan kesalahan selama
audit.2

2
Ibid, hal 379-381

8
C. Masalah dan Tantangan di Audit Syari’ah
Isu-isu dalam audit syari’ah adalah :
1. Integritas Kebebasan
Auditor syari’ah perlu dianggap cukup mandiri oleh stakeholder keuangan Islam.
Praktik untuk auditor syari’ah sangat bergantung atau mengikuti saran dari penasihat
syari’ah atau SSB atau DPS. Oleh karena itu, fungsi DPS harus dinyatakan dengan
jelas dan tidak mengganggu syariat Islam akan audit dan IFI hanya bisa outsourcing
audit syari’ah untuk akuntan profesional di luar dan auditor yang berpengalaman
dalam syariat dan akuntansi.
Karim menyatakan bahwa literature tentang kebebasan audit internal signifikan
berkontribusi pada tingkat independensi auditor, yaitu :
a. Kejelasan definisi tanggung jawab auditor
b. Posisi auditor internal dalam struktur organisasi lembaga
c. Struktur pelaporan

Disarankan bahwa IFI memberikan kewenangan yang jelas dan instruksi dengan
kekuatan ke internal auditor, pelaporan kepada Komite Audit dan syari’ah dewan IFI.
Selanjutnya, Audit dan Komite Syari’ah harus melaporkan kepada pemegang saham
untuk memperkuat kemandirian DPS.

2. Inspektur Kepatuhan Syari’ah


Lembaga Hisbah dan Muhtasib (hakim) IFI harus memahami bahwa kepentingan
utama bagi auditor adalah memastikan kepatuhan dari semua produk yang akan
ditawarkan. DPS memainkan peran penting dalam memastikan kepatuhan anggota
DPS.
Beberapa akademisi mengharapkan lembaga Hisbah yang mengelola di bawah
otoritas Negara. Muhtasib dibayar melalui kas Negara dan mereka diharapkan
sepenuhnya independen untuk pasar. IFI harus membentuk semacam lembaga Hisbah
yang para anggotanya adalah auditor syari’ah.
3. Kurangnya Kompetensi Auditor Syari’ah
Auditor syari’ah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa IFI mengikuti
semua pedoman syariat dan prinsip, jika tidak mereka telah melakukan ketidakadilan

9
kepada umat yang telah memercayakan untuk mengaudit dan memastikan IFI tetap
mematuhi syariat Islam. Kurangnya akuntabilitas auditor syari’ah, audit syari’ah
dapat dilakukan oleh auditor internal atau auditor eksternal asalkan mereka harus
memiliki pengetahuan dan pelatihan syariat yang memadai. Selanjutnya, laporan
tersebut diteruskan ke komite IFI. Komite Syari’ah dapat memberikan pendapat
mereka hanya pada hal-hal syariat ke Direksi, yang akan memutuskan atau membuat
keputusan akhir.
Auditor Syari’ah seharusnya lebih bertanggung jawab karena mereka harus
bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan, yang meliputi pemegang
saham, dan masyarakat. Selanjutnya, mereka bertanggung jawab kepada Allah untuk
setiap tindakan. Dalam hal isu-isu sekaligus tantangan dalam mengaudit laporan
keuangan tahunan syari’ah, auditor harus memahami fiqh muamalah dan akuntansi.3
Kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan audit syariah sangat penting
sehubungan dengan karakteristik yang berbeda dari bank syariah. Namun, sumber daya
manusia untuk menjadi auditor syariah sangat terbatas sehubungan dengan kompetensi
dan kualitas tertentu yang harus dimiliki oleh auditor. Berikut ini tantangan audit syariah:
1. Program Audit Syari’ah
Audit Syari’ah untuk lembaga keuangan Islam dapat didefinisikan sebagai
akumulasi dan evaluasi bukti-bukti untuk menentukan dan melaporkan tingkat
kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan dengan tujuan
kepatuhan syariah. Adanya kebutuhan untuk mengembangkan program audit syari’ah
secara sistematis dalam kerangka konseptual Islam yang sesuai dengan kebutuhan
LKS, namun tidak ada pedoman dan standar auditing syari’ah yang diakui bersama
adalah masalah utama yang dihadapi saat ini dalam menyusun kerangka audit
syari’ah. Sebagai contoh, bank-bank Islam di Indonesia dan Malaysia tidak
menggunakan standar yang dikembangkan oleh AAOIFI karena tidak wajib. Dengan
demikian, hal tersebut dapat menjadi masalah dalam mengembangkan program dan
standar yang akan digunakan oleh suatu lembaga. Penting untuk diperhatikan bahwa
proses penyusunan standar audit syari’ah harus bersifat dinamis dan progresif.

3
Ibid, hal 382

10
Dalam studi teoritis lain, Abdul Rahman (2008) menyatakan bahwa program-
program audit syariah dapat dikembangkan untuk menjelaskan berbagai produk
keuangan dan layanan Islam seperti deposito mudharabah, investasi mudharabah dan
musyarakah, pembiayaan murabahah dan banyak lainnya. Abdul Rahman (2008) juga
mengusulkan agar program audit syariah perlu dituangkan dalam bahasa yang dapat
dengan mudah dipahami oleh stakeholder potensial. Hal ini untuk memastikan bahwa
program audit yang telah dikembangkan akan memiliki dampak yang signifikan
untuk mempengaruhi keputusan dari berbagai pemangku kepentingan dalam
berhubungan dengan lembaga-lembaga Islam. Hal ini dapat dicapai dengan kerja
sama pihak yang berkepentingan seperti LKS, Bank Sentral, Asosiasi Profesi
Akuntan, Kantor Akuntan Publik, dan Dewan Pengawas Syariah. Ada 3 tahapan audit
syari’ah
a. Perencanaan
b. Pemeriksaan
c. Pelaporan

Pada tahap perencanaan, pemahaman dasar dari produk LKS sangat penting
sehingga teknik atau prosedur, sumber daya dan ruang lingkup dapat disesuaikan
untuk mengembangkan program audit. Pada tahap pemeriksaan, pemeriksaan yang
lebih rinci dan teknik pengambilan sampel yang tepat diperlukan untuk memastikan
bahwa bukti-bukti audit yang terakumulasi dalam kualitas yang baik dan kuantitas.
Pada tahap pelaporan, laporan audit syari’ah siap untuk memberikan keyakinan
memadai dari kepatuhan syari’ah produk keuangan Islam.

2. Kualifikasi dan Pendidikan Auditor Syari’ah


Dalam rangka memastikan bahwa program audit yang telah dikembangkan
digunakan dengan benar, auditor syari’ah harus memiliki kualifikasi yang tepat dan
pendidikan di banyak aspek. Sejauh ini, tidak ada pendidikan akademik dan
profesional khusus dan program pelatihan audit syari’ah yang dapat memenuhi
kebutuhan lembaga keuangan syari’ah maupun badan regulator.
Auditor diharuskan untuk memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu seperti
akuntansi, organisasi bisnis dan keuangan, teori dan praktek manajemen, fiqh Islam

11
dan ushul teori dan praktek audit al-fiqh. Program pendidikan dan pelatihan harus
melengkapi auditor syari’ah dengan dua pengetahuan dasar yaitu pengetahuan khusus
syari’ah yang diterapkan dalam perbankan dan keuangan Islam, dan pengetahuan dan
keterampilan akuntansi dan auditing. Sementara Hameed (2009) menyatakan bahwa
auditor harus memiliki pengetahuan dasar seperti prinsip fiqh muamalah, produk
perbankan syari’ah, standar akuntansi dan audit AAOIFI dan kemampuan untuk
mereview fatwa dari DPS bank syari’ah yang bersangkutan termasuk fatwa DPS dari
bank lain jika diperlukan. Hal ini untuk memastikan bahwa auditor syari’ah mampu
mempraktikan tugas dan kewajibannya sesuai dengan syari’ah.
3. Independensi Auditor Syari’ah
Para auditor syari’ah harus memiliki sikap mental yang independen (Abdul
Rahman, 2008). Hal ini untuk memastikan bahwa auditor tidak bias dalam
mendukung pandangan tertentu atau pendapat yang akan mempengaruhi
penilaiannya. Agar auditor syari’ah dapat mandiri, ia harus memiliki insentif untuk
bertahan dari setiap upaya manajemen untuk mempengaruhi keputusannya misalnya
agar tidak melaporkan setiap pelanggaran yang ditemukan. Ini berarti auditor harus
benar-benar independen dan harus melaporkan setiap kesalahan atau salah kelola
dalam organisasi. Audit syari’ah tidak dapat berfungsi maksimal jika auditor tidak
sepenuhnya independen, sehingga tujuan kemaslahatan tidak dapat tercapai.4
D. Agenda Masa Depan
1. Kestabilan Sistem Keuangan
Menjaga kestabilan keuangan merupakan salah satu fungsi pokok bank sentral
modern, yang tidak kalah pentingnya dari memelihara stabilitas moneter. Stabilitas
keuangan bergantung pada lima elemen terkait yaitu :
a. Lingkungan makro-ekonomi yang stabil
b. Lembaga finansial yang dikelola baik
c. Pasar finansial yang efisien
d. Kerangka pengawasan prudensial yang sehat
e. Sistem pembayaran yang aman dan andal

4
Nugraheni, Peni, 2012, Kebutuhan dan Tantangan Audit Syari’ah dan Auditor Syari’ah, Jurnal Ekonomi &
Keuangan Islam Vol 2 No 1, Yogyakarta, hal 84

12
Upaya mengatasi krisis perbankan pada masa itu dianggap perlu ditempuh dua
pendekatan :

a. Mem-back-up sistem perbankan nasional agar tidak collaps


b. Membantu penyelesaian krisis keuangan yang dihadapi sektor korporasi untuk
memulihkan sektor perbankan dan perekonomian nasional.

Terkait dengan penyelesaian krisis masa lalu, terdapat dua hal yang perlu dirumuskan
sebagai politik hukum atas upaya yang telah diambil Bank Indonesia dan
pemerintahan dalam penyelamatan sistem perbankan nasional pada masa krisis.

2. Rancangan Baru Manajemen Krisis untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan


Untuk meminimalkan terulangnya systemic risk pada sektor keuangan khususnya
sistem perbankan, sistem perbankan nasional perlu disempurnakan yang meliputi
penyempurnaan berikut :
a. Penyempurnaan cetak biru sistem perbankan nasional
b. Penyempurnaan sistem perbankan nasional
c. Otoritas pengawasan bank
d. Pembentukan lembaga penjamin simpanan (LPS)
3. Kerangka Teori dan Sistem Sosial Belum Islami
a. Kerangka teori
Dalam elemen filosofi dasar ini, sumber kebenaran dari nilai akuntansi
syari’ah adalah dari Allah SWT. sesuai dengan paham tauhid. Allah menjadi
sumber kebenaran, pedoman hidup dan sumber hidayah yang akan membimbing
dalam semua aspek kehidupan manusia.
Semua falsafah spiritual akuntansi syari’ah bermula dari kejernihan iman
yang kemudian mampu menyalakan akal. Kolaborasi keduanya disertai gelora
nurani dan ketajaman mata hati, secara utuh melahirkan insan yang tak dilalaikan
oleh jual beli dari Rabb-nya Yang Maha Mendengar.
Nilai pertanggungjawaban, keadilan, dan kebenaran selalu melekat dalam
sistem akuntansi syari’ah. Ketiga nilai tersebut tentu sudah menjadi prinsip dasar
yang operasional dalam prinsip akuntansi syari’ah. Makna tiga prinsip tersebut
terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 282.

13
Prinsip pertanggungjawaban berkaitan dengan konsep amanah. Bagi kaum
muslim, persoalan amanah merupakan hasil transaksi manusai dengan Allah
SWT. mulai dari alam kandungan manusia dibebani oleh Allah untuk
menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi. Prinsip keadilan ini tidak hanya
nilai penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai
inheren yang melekat dalam fitrah manusia.
Dan prinsip kebenaran tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan.
Sebagai contoh, dalam akuntansi kita akan selalu dihadapkan pada pengakuan,
dan pengukuran laporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik apabila
dilandaskan pada nilai kebenaran. Kebenaran ini dapat menciptakan nilai keadilan
dalam mengakui, mengukur, dan melaporkan transaksi-transaksi dalam ekonomi.
Dengan demikian, pengembangan akuntansi Islam, nilai-nilai kebenaran,
kejujuran dan keadilan harus diaktualisasikan dalam praktik akuntansi.
b. Persamaan dan perbedaan akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah
Persamaan kaidah akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional terdapat
pada :
1) Pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi
2) Penahunan dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan
3) Pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal
4) Kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang
5) Perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost
(biaya)
6) Kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan
7) Keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan

Adapun perbedaannya, menurut Husein Syahatah, antara lain :

1) Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai
atau harga untuk melindungi modal pokok, dan pengertian modal pokok
belum ditentukan. Adapun konsep Islam menerapkan konsep penilaian
berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok

14
dari segi kemampuan produksi pada masa yang akan dating dalam ruang
lingkup perusahaan yang kontinuitas.
2) Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian,
yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancer),
sedangkan di dalam konsep Islam, barang-barang pokok dibagi menjadi harta
berupa uang dan harta berupa barang, selanjutnya barang dibagi menjadi
barang milik dan barang dagang. Dalam konsep Islam, mata uang seperti
emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya bukan tujuan dari
segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan
penentuan nilai atau harga, atau sebagai sumber harga atau nilai.
3) Konsep konvensional mempraktikkan teori pencadangan dan ketelitian dari
menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengesampingkan laba
yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memerhatikan hal itu
dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang
berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan risiko.
4) Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba
dagang, modal pokok, transaksi, dan uang dari sumber yang haram. Adapun
konsep Islam membedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang
berasal dari modal pokok dengan berasal dari transaksi.
5) Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba hanya ada ketika ada
jual beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba aka nada
ketika ada perkembangan dan pertambahan pada nilai barang.5

5
Rusdiana, 2018, Auditing Syariah, Bandung, CV Pustaka Setia, hal 383

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perbankan dan keuangan Islam adalah salah satu sektor ekonomi yang tumbuh paling
cepat di dunia pada saat ini. Namun, dibandingkan dengan perbankan konvensional dan
keuangan, perbankan Islam dan sistem keuangan masih dalam tahap yang sangat awal.
Perbankan dan sistem keuangan konvensional pertama kali dimulai pada tanggal 16 abad
ketika pedagang di Venesia mendirikan Banco Della Pizza di Rialto di Venice, Italia.
Lembaga Keuangan Islam Modern (IFI) adalah pelopor kelembagaan ekonomi Islam.
Abdullah dan Pillai telah menyatakan bahwa "IFI memiliki tugas yang lebih besar dan
tanggung jawab untuk pemangku kepentingan dari lembaga konvensional ". Menurut Nahar
dan Yaacob, IFI harus mematuhi Shari'ah dalam semua aspek operasi dan manajemen. Tata
kelola perusahaan dan syari'at dapat didefinisikan sebagai sistem formal akuntabilitas oleh
IFI atas manajemen kepada para pemangku kepentingan dan juga kepada Tuhan.
Isu-isu dalam audit syari’ah adalah :
1. Integritas kebebasan
2. Inspektur kepatuhan syari’ah
3. Kurangnya kompetensi auditor syari’ah

Adapun tantangan audit syari’ah mengenai :

1. Program audit syari’ah


2. Kualifikasi dan pendidikan auditor syari’ah
3. Independensi auditor syari’ah
Sedangkan agenda masa depan mengenai :
1. Kestabilan sistem keuangan
2. Rancangan baru manajemen krisis untuk menjaga stabilitas sistem keuangan
3. Kerangka teori dan sistem sosial belum Islami

16
DAFTAR PUSTAKA

Rusdiana, 2018, Auditing Syariah, Bandung, CV Pustaka Setia

Nugraheni, Peni, 2012, Kebutuhan dan Tantangan Audit Syari’ah dan Auditor Syari’ah, Jurnal
Ekonomi & Keuangan Islam Vol 2 No 1, Yogyakarta

Suyanto, 2018, Audit Internal Lembaga Keuangan Syari’ah dalam Perspektif Al-Hisbah, JRKA
Vol 4 Isue 2, Jakarta

17