Anda di halaman 1dari 9

Kortikosteroid

Merupakan suatu hormon yang diproduksi dan disekresikan oleh kelenjar korteks adrenal. Sekresi hormone kortikosteroid dikontrol oleh pelepasan
kortikotropin hipofisis (ACTH).
Hormon kortikosteroid disintesis dari kolesterol.
• 2 hormon kortikosteroid yg disekresi : glukokortikoid (kortisol) (Mempengaruhi metabolisme KH dan Protein, Disintesis dalam sel zona
fasikulata dan retikularis yang mengatur metabolism KH, Sekresi dipengaruhi oleh ACTH)
• dan mineralkortikoid (aldosterone) (Mempunyai aktivitas menahan garam , Disintesis dalam sel zona glomerulosa yang mengatur
keseimbangan elektrolit , Sekresi dipengaruhi kadar mineral (Na+ dan K+) dan volume plasma )
Glukokortikoid
• Sintesis dan sekresi kortisol diregulasi secara ketat oleh system saraf pusat
• Sensitif terhadap umpan balik negatif oleh kortisol dan glukokortikoid sintetik (eksogen) dalam peredaran
• Pada orang dewasa tanpa stress disekresikan 10-20 mg kortisol tiap hari
• Laju sekresi berpuncak pada dini hari dan sesudah makan
• Dalam plasma kortisol terikat pada protein dalam peredaran
• Metabolisme kortisol terjadi dihati
• Glukokortikoid Sintetik disintesis dari asam folat yang didapat dari ternak atau steroid sapogenin pada tanaman
• Glukokortikoid kerja singkat hingga sedang : Hydrocortisone, Corisone ,Prednisone, Prednisolone, Methylprednisolone
• Glukokortikoid kerja intermedia : Triamicolone ,Paramethasone , Fluprednisolone
• Glukokortikoid kerja lama: Betamethasone, Dexamethasone
Kortisol hidrokortison Hormon ini mengendalikan karbohidrat, metabolisme protein dan antiinflamasi, dengan mencegah pelepasan
fosfolipid, menurunkan aksi eosinofil dan mekanisme lainnya.
Penamaan glukokortikoid (glukosa + korteks + steroid) regulator glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai
struktur steroid

Aldosteron
• Laju sekresi dipengaruhi berbagai keadaan seperti stimulasi oleh ACTH, aktivitas angiotengsin, serta variasi independen antar sekresi
aldosterone- kortisol
Deoksikortikosteron (DOC)
• Dalam keadaan normal, disekresikan dalam jumlah 200 mcg/hari. Sekresinya dikendalikan oleh ACTH. Sekresi DOC dapat meningkat pada
kondisi abnormal
Fludrokortison
• Jenis yang paling banyak digunakan. Mempunyai aktivitas retensi garam yang kuat dan anti-inflamasi yang berarti walaupun digunakan
dalam dosis sedikit
Mekanisme Kerja
• Berinteraksi dengan protein reseptor spesifik pada jaringan yang menjadi target untuk mengatur perilaku gen terhadap
kortikosteroid
• Mengubah kadar susunan protein yang disintesis oleh jaringan yang menjadi target tersebut
• Adanya prose pengubahan sehingga terjadi penundaan sebelum khasiat dari kortikosteroid muncul
• Cepat lambatnya reaksi kortikosteroid dipengaruhi oleh kemampuan menghantarkan khasiat oleh reseptor yang terikat
pada membrane sel yangmenjadi target
Efek Farmakologi
Efek glukokortikoid :
a. Efek anti radang (anti-inflamasi), misalnya akaibat trauma, alergi, infeksi, juga berkhasiat merintangi terbentuknya cairan
peradangan dan udem setempat, misalnya selama radiasi sinar-x di daerah kepala
b. Daya imunosupresif & antialergi, reaksi imun dihambat, migrasi dan aktivitas limfosit T/B dan makrofag dikurangi.
c. Peningkatan glukoneogenesis, pembentukan glukosa distimulasi, penggunaan di jaringan perifer dikurangi penyimpanan
sebagai glikogen ditingkatkan
d. Efek katabol, yaitu merintangi pembentukan protein dari asam amino, sedangkan pengubahannya menjadi glukosa dipercepat.
akibat efek katabol adalah terhambatnya pertumbuhan anak-anak, penyembuhan tukak lambung dipersulit, tejadi osteoporosis.
e. Pengubahan pembagian lemak, yang terkenal adalah penumpukan lemak diatas tulang selangka dan muka (sehingga
menjadi bundar “moon face”), juga di perut dan belakang tengkuk.
Efek mineralokortikoid
yaitu retensi natrium dan air oleh tubuli ginjal, sedangkan kalium ditinggkatkan ekskresinya.
Efek Metabolik
• Pengguna kortikosteroid dengan dosis 100 mg/hari atau lebih tiap harinya selama lebih dari
minggu mengalami perubahan yang disebut sindrom crushing iatrogenic.
• Wajah berubah menjadi bulat/muka bulan (pletorik) dan bengkak karena terjadi
penumpukan lemak pada daerah wajah, daerah ekstremitas ke batang tubuh (daerah badan), tengkuk
• Kecepatan perkembangan tergantung pada dosis dan latar belakang genetik pengguna
• Terdapat peningkatan pertumbuhan rambut halus pada wajah, paha, dan batang tubuh
• Terjadi insomnia dna peningkatan nafsu makan
• Peningkatan kebutuhan akan insulin
• Miopati
Penggunaan Glukokortikoid
Terapi subtitusi, digunakan pada insufisiensi adrenal, seperti pada penyakit addison (rasa letih, kurang tenaga dan otot lemah akibat kekurangan
kortisol). Dalam hal ini diberikan hidrokortison karena efek mineralokortikoidnya paling kuat.
Terapi non-spesifik, yaitu berdasar efek anti-radang, anti-alergi dan imunosupresif. Juga untuk menghilangkan perasaan tidak enak (malaise).
Umumnya diberikan prednisolon, triamsinolon, & deksametason.
Indikasi terpenting dari glukokortikoid :
– Asma hebat yg akut/kronis,
– Radang usus akut.
– Penyakit auto-imun,
– Sesudah transplantasi organ
– Kanker
Pada penggunaan sistemik ini sebaiknya diminum dalam satu dosis pagi hari, karena menyesuaikan ritme circadian dalam tubuh.
Penggunaan Lokal Glukokortikoid
Pada mata : radang selaput mata, selaput-bening, radang pinggir kelopak mata. Contohnya adalah hidrocortison, prednisolon, deksametason,
betametason, fluormetolon. Obat-obat ini mempunyai aktivitas relatif lemah dan sedikit diserap ke dalam darah. Tidak boleh diberikan pada
gangguan mata lain (gatal2 dan mata merah) karena efek sampingnya adalah katarak dan glaucoma.
Di telinga pada radang gendang telinga, biasanya dikombinasi dengan antibiotik
Di hidung (intranasal), digunakan sebagai spray untuk rhinitis, polip untuk menghambat pertumbuhannya.
Di mulut, untuk asma
Rektal, digunakan sebagai supositoria pada wasir yang meradang, biasanya dikombinasi dengan anestetik lokal (lidokain)
Intra-artikuler, pada radang sendi, biasanya disuntikan hidrokortison atau triamsinolon diantara sendi-sendi
Komplikasi
• Ulkus peptikum
• Hipomania atau psikosis
• Retardasi pertumbuhan pada anak
• Retensi berlebihan pada natrium
• Hilangnya kalium pada cairan dlaam tubuh
• Alkalosis hipokloremik hipokalemik
• Peningkatan tekanan darah
• Pada penyakit jantung sedikit retensi natrium dapat menyebabkan gagal jantung
Betamethasone adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi kulit seperti eksim, psoriasis, atau reaksi alergi. Betamethasone dapat mengurangi
bengkak, gatal, dan kemerahan yang muncul akibat kondisi ini.
Dexamethasone adalah obat yang berfungsi untuk mengobati kondisi seperti arthritis, gangguan darah/hormon/sistem kekebalan tubuh, reaksi alergi,
masalah kulit dan mata tertentu, masalah pernapasan, gangguan usus tertentu, dan kanker tertentu. Obat ini juga digunakan sebagai tes untuk
gangguan kelenjar adrenal (sindrom Cushing).
• Obat dexamethasone adalah hormon kortikosteroid (glukokortikoid). Obat ini mengurangi respon defensif alami tubuh dan mengurangi gejala
seperti pembengkakan dan reaksi alergi.
• Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi kanker.
Methylprednisolone adalah obat kortikosteroid atau glukokortikoid sintetis. Obat ini dipasarkan di Amerika Serikat dan Kanada dengan merek Medrol
dan Solu-Medrol. Obat ini tersedia sebagai obat generik.
• Methylprednisolone adalah obat jenis kortikosteroid untuk mengurangi gejala pembengkakan, rasa nyeri, dan reaksi alergi.
Methylprednisolone juga memiliki fungsi untuk mengobati arthritis, kelainan darah, reaksi alergi yang parah, jenis-jenis kanker tertentu,
penyakit mata, penyakit kulit/ginjal/usus/paru-paru, dan kelainan sistem imun. Obat ini bekerja dengan menurunkan respon sistem imun
terhadap beberapa penyakit.
Prednison adalah obat yang digunakan untuk kondisi kesehatan seperti arthritis, gangguan darah, masalah pernapasan, alergi parah, penyakit kulit,
kanker, masalah mata, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Prednison termasuk dalam kelas obat yang diketahui sebagai corticosteroid. Obat ini
mengurangi respon sistem kekebalan tubuh ke berbagai penyakit untuk mengurangi gejala seperti reaksi pembengkakan atau jenis alergi.

HIPERTENSI
Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah
> 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan
untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping, yaitu :
• Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal
• Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya
• Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia 55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor komorbid
• Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)
• Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi farmakologi
• Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.
JENIS-JENIS dan CARA KERJA OBAT
ACE inhibitor
ACE inhibitor akan menjaga pembuluh darah terbuka lebar sehingga aliran darah masuk dengan lancar. ACE inhibitor bekerja dengan cara
menghambat terbentuknya hormon angiotensin yaitu hormon yang memicu pembuluh darah untuk menyempit.
Berikut ini obat-obatan yang termasuk ke dalam golongan ACE inhibitor:
- Captopril Acendril,capoten)
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan
aldosterone.
- Enalapril
- Lisinopril
- Perindopril
- Trandolapril
-Ramipril ((Decapril, Cardace)

Antagonis kalsium (calcium channel blocker


Antagonis kalsium digunakan untuk menangani hipertensi, gangguan jantung, dan gangguan pembuluh darah. Obat ini bekerja dengan menghambat
jalan masuk kalsium ke dalam otot jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan denyut jantung melambat dan pembuluh
darah melebar.
CCB akan digunakan sebagai obat tambahan setelah optimalisasi dosis betabloker, bila terjadi :
• TD yang tetap tinggi
• Angina yang persisten
• Atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari betabloker CCB bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan menurunkan
resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan darah.
• Selain itu, CCB juga akan meningkatkan suplai oksigen miokard dengan efek vasodilatasi koroner.
• Nama-nama obat yang masuk ke kelompok antagonis kalsium adalah:
- Amlodipin
- Diltiazem (helbeser,diltikor)
• menghambat pemasukan ion Ca ke dalam sel sehingga penyaluran impuls dan kontraksi dinding pembuluh darah.
• Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium.
• Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
- Nicardipine
- Nifedipine (adalat/retard)
Mekanisme kerja :
menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan spasme arteri coroner.
Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.
- Nimodipine
- Verapamil
Diuretik dan Penghambat adrenergik perifer
Diuretik
Diuretik merupakan obat yang cukup sering digunakan untuk menangani hipertensi. Obat ini bekerja dengan membuang kelebihan garam (natrium)
dan cairan di dalam tubuh untuk menormalkan tekanan darah. Jenis-jenis obat diuretik adalah:
- Diuretik loop, seperti furosemide.
- Diuretik hemat kalium (potassium-sparing), seperti amiloride dan spironolactone.
- Diuretik thiazide, seperti hydrochlorothiazide dan indapamide.

Furuosemidemenghambat absorbsi garam dan air sehingga volume darah dapat menurun akibatnya tekanan darah ikut turun.
mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle.
HCT (Hydrochlorothiaside)
mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun
digunakan untuk mengurangi udema akibat gagal jantung, cirrhosis hati, gagal ginjal kronis, hipertensi.

Penghambat adrenergik perifer


Obat ini jarang diberikan kepada pasien hipertensi. Namun, apabila pengobatan dengan obat-obatan antihipertensi lain belum berhasil, maka dokter
bisa menyarankan konsumsi penghambat adrenergik perifer kepada pasien. Satu-satunya jenis penghambat adrenergik perifer yang terdaftar di
Indonesia ialah reserpine. guanetidin, guanadrel
Penghambat alfa-blocker dan beta-blocker
Penghambat alfa (alpha-blocker)
Penghambat alfa bekerja dengan cara menghambat hormon katekolamin agar tidak mengikat dengan reseptor alfa. Hasilnya, sirkulasi darah
berjalan lancar, jantung berdenyut secara normal, dan tekanan darah menurun. Dua jenis obat penghambat alfa ialah doxazosin dan terazosin.

Penghambat beta (beta-blocker)


Penghambat beta merupakan golongan obat yang bekerja dengan menghambat hormon adrenalin, sehingga tekanan darah turun. Penghambat
beta dibagi menjadi dua yakni selektif dan nonselektif. Jenis obat penghambat beta selektif meliputi atenolol, bisoprolol, metoprolol, dan nebivolol.
Sedangkan contoh penghambat beta nonselektif adalah carvedilol dan propranolol.
-menempati reseptor beta adrenergik. Blokade reseptor ini menyebabkan penurunan aktifitas adrenalin dan noradrenalin.
- Mekanisme kerja : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas renin, menurunka outflow simpatetik perifer.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia,feokromositoma, kardiomiopati obtruktif hipertropi, tirotoksitosis.

Alpha-2 receptor agonist


Contoh obat alpha-2 receptor agonist adalah metildopa dan clonidine. Obat ini bekerja dengan menekan aktvitas jaringan yang memproduksi
hormon adrenalin, sehingga tekanan darah turun. Metildopa biasanya diberikan kepada ibu hamil yang menderita hipertensi, karena obat ini dinilai
tidak terlalu membahayakan bagi ibu hamil dan janin.
Penghambat renin
Penghambat renin merupakan obat antihipertensi yang lebih baru penemuannya dibandingkan jenis antihipertensi lain. Obat ini bekerja dengan
menghambat senyawa kimiawi di dalam tubuh yang disebut renin. Seperti obat-obat antihipertensi lain, penghambat renin bekerja dengan
melebarkan pembuluh darah sehingga menyebabkan tekanan darah turun. Contoh obat ini adalah aliskiren.

Obat-obat Sistem Saraf Pusat


1. Klonidin (catapres,Dixarit)
Mekanisme kerja : menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP.
golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktifitas).
2. Reserpin (Serpasil)
Mekanisme Kerja
mendeplesi simpanan katekolamin dan hidroksitriptamin pada berbagai organ seperti pada otak dan medula adrenal.
Indikasi : Hipertensi esensial ringan,juga digunakan sebagai terapi tambahan dengan obat hipertensi lain pada kasus hipertensi yang lebih berat.

Vasodilator
Mekanisme kerja :
berkhasiat vasodilatasi langsung terhadap pembuluh darah sehingga tekanan darah turun.

1. Hidralazin (apresolin) Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut
jantung
2. Nitroglycerin (Nitrocine
Mekanisme kerja :
Bekerja dengan relaksasi otot polos, menghasilkan efekvasodilator pada vena perifer dan arteri, dengan efek paling penting pada vena.
Indikasi : Pengobatan angina pektoris; bentukinjeksi IV digunakan untuk gagal jantung kongestif,hipertensi pulmoner; emergensi
hipertensi selama operasi (terutama selama pembedahan jantung).

Hipertensi Esensial adalah hipertensi yang tidak dapat diketahui penyebab medisnya.
Hipertensi Sekunder adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita seperti
gagal jantung,gagal ginjal atau kerusakan sistem hormon.

• TD systole A tekanan pada dinding arteriol sewaktu jantung menguncup


• TD diastole A tekanan pada dinding arteriol sewaktu jantung mengendur
• Batas tensi normal UMUMNYA : DEWASA 120/80 mmHg
• Hipertensi : >140 / > 90 mmHg
• Regulasi normal tekanan darah
A Lokasi anatomis pengendalian tekanan darah
1. arteriol (resistan)
2. venula paska kapiler (kapasitans)
3. jantung (curah pompa)
4. ginjal (volume)
A Barorefleks : bertanggung jawab menyesuaikan TD cepat

• Suatu kelainan, gejala dari gangguan pada regulasi TD


• Tidak diketahui penyebabnya(90%) A H. esensil
• Diketahui penyebabnya (10%) A H. sekunder : perubahan organ (patologik) :
• Renal (6-8%) :
- renovaskuler (stenosis arteria renalis)
- renoparenkhimal (mis glomerulonefritis kronis, penciutan ginjal, pielonefritis)
• Endokrin (£ 1%) : feokromositoma, sindrom cushing
• Kardiovaskuler (£ 1%) : stenosis aorta, blokade jantung total
• Neurogen (< 1%): penyakit pada system saraf, tumor, encephalitis, meningitis keracunan CO & thalium
Faktor peningkat tekanan darah
• Garam : retensi air, efek vasokonstriksi NA >>
• Drop (liquorice) mengandung asam glizirinat : retensi air
• Stress : peningkatan pelepasan E & NE
• Merokok : vasokonstriksi nikotin
• Pil antihamil (estrogen) : retensi garam & air
• Hormon pria & kortikosteroid : retensi air
• Kehamilan : uterus diregang oleh janin ad penerimaan darah kurang
OBAT ANTI HIPERTENSI LINI PERTAMA
1. Diuretik : Golongan Thiazid (HCT), Diuretik Kuat (Furomid, torasemid, bumetanid dan asam etakrinat), diuretik hemat kalium (amilorid,
triamteren, dan spironolakton).
2. β bloker : atenolol, metoprolol, propranolol
3. ACE inhibitor : Captopril, inilapril, lisinopril
4. Penghambat reseptor angiotensin : losartan, valasartan, irbesartan, telmisartan, candesartan
5. Antagonis kalsium : nivedipin, diltiazem, amlodipin
LINI KEDUA
1. Penghambat saraf adrenergik : reserpin, guanetidin, guanadrel.
2. Agonis α-2 sentral : klonidin, metildopa, guanefisin, reserpin
3. Vasodilator : hidralazin, minoksidil, dan diazoksid
Vasodilator
Vasodilator arteri :
• Menurunkan TD (hipertensi)
• Menurunkan kerja jantung (angina pectoris)
• Mengurangi ventrikel afterload (gagal jantung)
Vasodilator vena :
• Mengurangi tekanan pengisian vena/preload (angina pektoris, gagal jantung)

Pilihan obat
• Anti-hipertensi tunggal :
o diuretic atau b-blockers
o ACE inhibitors
• Hipertensi dengan diabetes :
o penghambat ACE,
o bila KI : baru pakai a-blockers & antagonis Ca
• Krisis hipertensi : kenaikan mendadak tensi dengan gejala ensefalopati akut ( sakit kepala hebat, ggn kesadaran, serangan epilepsi) :
• injeksi i.v. nifedipin, enalapril, labetalol, fentolamin & ketanserin (a1 dan 5HT2-blocker)

Mekanisme kerja obat antihipertensi


1. Meningkatkan pengeluaran air dari tubuh : diuretika
2. Memperlambat kerja jantung : b-blokers
3. Memperlebar pembuluh : vasodilator langsung (hidralazin, minoksidil), antagonis kalsium, ACEI dan AT-II blokers
4. Menstimulasi SSP : a-2 agonis sentral (klonidin, metildopa, guanfasin, reserpin)
5. Mengurangi pengaruh SSP terhadap jantung & pembuluh :
• a-1 blokers (prazosin, doxazosin, terazosin, ketanserin, urapidil)
• a-1 & a-2 blokers : fentolamin
• b-blokers : propanolol, atenolol, metoprolol, pindolol
• a,b-blokers : labetolol & karvedilol
Efek samping umum
• Hidung mampat (vasodilatasi mukosa)
• Mulut kering
• Bradikardia
• Rasa letih & lesu
• Gangguan penglihatan,
• Gangguan lambung usus
• Impotensi
ES khusus
• Hipotensi ortostatis
• Depresi ( obat kerja sentral) : reserpin & metildopa & b-blokers lipofil
• Retensi garam & air à bertambah BB / udema (antagonis Ca, reserpin, hidralazin , metildopa) à kombinasi diuretik
• Penurunan ratio HDL : LDL : tiazid & klortalidon, b-blokers
Es ini sering bersifat sementara, hilang dalam 1-2 minggu

ANGINA PEKTORIS
Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :
 1. Emosi
 2. Stress
 3. Kerja fisik terlalu berat
 4. Terlalu kenyang
 5. Banyak merokok
Penyebab lainnya adalah:
* Stenosis katup aorta (penyempitan katup aorta)
* Regurgitasi katup aorta (kebocoran katup aorta)
* Stenosis subaortik hipertrofik
* Spasme arterial (kontraksi sementara pada arteri yang terjadi secara tiba-tiba)
* Anemia yang berat.
A. ANGINA STABIL
 Bentuk yang paling umum dijumpai
 Penyebab : sumbatan plaque ateromatous pada pembuluh darah koroner
 Nyeri timbul saat tjd peningkatan kerja jantung (mis, saat aktivitas, stress) a iskemia akibat obstruksi aliran
 Nyeri hilang dgn istirahat atau pemberian nitrogliserin
b. ANGINA UNSTABLE
 Disebut juga sindroma koroner akut
 Gejala : peningkatan frekuensi dan keparahan nyeri dada
 Tidak dicetuskan oleh peningkatan aktivitas
 Tidak hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin
c. ANGINA PRINZMETAL/VARIANT
 Terjadi karena spasme arteri koronaria yg reversibel
 Spasme terjadi sewaktu-waktu, bahkan saat istirahat a tidak berhubungan dengan peningkatan aktivitas, denyut jantung, ataupun tekanan
darah
 Respons baik dengan pemberian vasodilator
 Dapat menjadi unstable angina
ekokardiogram, elektrokardiogram (EKG), tes ketahanan jantung, CT scan, MRI scan, skintigrafi jantung, angiografi jantung
1. Ekokardiogram. Tes ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan angin duduk, misalnya adanya kerusakan otot
jantung akibat terganggunya aliran darah atau adanya bagian jantung yang kurang cukup mendapatkan suplai darah. Identifikasi ini didapat dari
sebuah gambar yang dihasilkan melalui gelombang suara.
2. Elektrokardiogram (EKG). Melalui tes ini aktivitas elektrik dan ritme jantung direkam dengan bantuan elektroda yang dihubungkan pada sebuah
mesin khusus. Dari pola detak jantung yang terekam ini, dokter dapat melihat apakah aliran darah pasien mengalami penurunun atau gangguan.
Selain angin duduk, elektrokardiogram juga dapat mendeteksi apakah pasien mengalami serangan jantung.
3. Tes ketahanan jantung. Tes ini bertujuan mengukur daya tahan jantung saat kita melakukan aktivitas fisik sebelum gejala angin duduk muncul.
Aktivitas fisik bisa berupa olahraga dengan treadmill yang dilakukan di ruangan. Tes ketahanan jantung akan dipadukan dengan
elektrokardiogram untuk membantu dokter membaca ritme jantung
4. CT scan Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui adanya dan seberapa parah penyempitan pada pembuluh jantung. CT scan jantung dilakukan
dengan bantuan mesin khusus berbentuk tabung yang dilengkapi dengan X-ray. Dari pemeriksaan ini akan didapat gambar mengenai kondisi
jantung pasien secara terperinci.
5. MRI scan Sama seperti CT scan jantung, pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kondisi jantung pasien. Namun yang membedakan adalah MRI
scan jantung dilakukan dengan bantuan gelombang radio dan medan magnetic
6. Skintigrafi jantung. Tes ini bisa dilakukan jika hasil pembacaan elektrokardiogram masih meragukan. Di dalam tes skintigrafi jantung, sebuah
cairan pewarna khusus akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Zat pewarna ini akan mengalir menuju jantung dan dipantau dengan
menggunakan kamera gamma untuk mengetahui jika aliran tersebut mengalami gangguan.
7. Angiografi jantung. Tes ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk selang tipis yang dimasukkan ke dalam pembuluh
darah. Tujuannya untuk mengetahui apakah pembuluh darah tersebut mengalami penyumbatan dan seberapa parah penyumbatan tersebut.
Angiografi jantung dilakukan jika diagnosis angina tidak bisa dilakukan dengan cara apa pun atau jika gejala terus ada meski sudah diobati. Tes
ini berisiko menimbulkan komplikasi seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, prosedur ini hanya dilakukan jika benar-benar
diperlukan.
FARMAKOLOGIS
Nitrat Organik : ISDN, ISMN, Nitrogliserin
B-blocker : Acebutolol, Atenolol,Metoprolol , Propranolol
Antagonis Calsium : Amlodipine , Diltiazem ,Felodipine , Nicardipine , Nifedipine ,Nitredipine ,Verapamil
I. NITRAT ORGANIK
 Isosorbid dinitrat (ISDN) dan Isosorbide mononitrate(ISMN) a sediaan oral
 Nitrogliserin a sediaan oral, sublingual, transdermal
 Amyl nitrit a zat volatil a sediaan inhalasi
 Mekanisme kerja : menurunkan vasokronstriksi koroner dan spasme
 Nitrogliserin sublingual a obat pilihan utk serangan angina krn aktivitas / stress
Mula Lama
Jenis nitrat
Kerja Kerja

Nitrogliserin Tablet sublingual 2 menit 25 menit

Tablet oral, lepas


35 menit 4 – 8 jam
lambat

8 – 14
Transdermal 30 menit
jam

Isosorbid Sublingual 5 menit 1 hari


dinitrat
Tablet oral, lepas
30 menit 8 jam
lambat

Isosorbid Tablet oral, lepas


30 menit 12 jam
mononitrat lambat
 ES : sakit kepala
 Pada dosis tinggi dapat menyebabkan postural hipotensi, facial flushing, takikardi
 Sildenafil a potensiasi kerja nitrat a pemberian kedua obat ini harus diselang 6 jam
 Toleransi thd nitrat cepat timbul a diatasi dgn pemberian berseling (nitrate free interval) 10-12 jam a biasanya saat malam hari
 Variant angina a memburuk pada dini hari krn catecholamine surge a interval pemberian nitrat pada sore hari
II. BETA BLOCKER
 Menurunkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi a kebutuhan oksigen miokardium
 Propranolol a tidak kardioselektif
 Metoprolol, acebutolol, atenolol a kardioseletif
 Pada dosis tinggi a semua b-blocker dapat menghambat reseptor b1 dan b2
 Dapat diberikan bersama nitrat untuk meningkatkan durasi latihan dan toleransi
 KI : asma, diabetes, bradikardi berat, penyakit vaskular perifer, penyakit paru obstruktif kronis
 Penghentian obat a tappering off a menghindari rebound angina/hipertensi
III. CALCIUM CHANNEL BLOCKER
a. NIFEDIPINE
 Derivat dihydropiridine
 Terutama bekerja sebagai vasodilator arterial a terapi variant angina krn vasospasme spontan
 Amlodipine a tidak mempengaruhi denyut jantung dan cardiac output
 Pemberian p.o, dpt berupa tablet lepas lambat
 Mengalami metabolisme di hepar, ekskresi lewat urine dan feses
 ES : flushing, sakit kepala, hipotensi, edema perifer, konstipasi, refleks takikardi
 Dihidropiridine short acting hrs dihindari pada penyakit jantung koroner
b. VERAPAMIL
 Memperlambat konduksi jantung secara langsung a efek inotropik negatif
 Dimetabolisme di hepar
 KI pada pasien dengan fungsi jantung yang menurun atau ada abnormalitas konduksi atrioventrikuler
 Pada penderita yg juga mendapat digoxin a dapat meningkatkan kadar digoxin
c. DILTIAZEM
 Meperlambat konduksi AV a memperlambat denyut jantung
 Mengatasi spasme arteri koroner a terapi variant angina
 Dimetabolisme di hepar, ES sedikit
STABLE ANGINA
Pengobatan dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi iskemia (ketidakcukupan suplai darah ke jaringan atau organ tubuh) dan meminimalkan
gejala.

Terdapat 4 macam obat yang diberikan kepada penderita:


1. Beta-blocker
2. Nitrat
3. Antagonis Kalsium
4. Antiplatelet
OBAT STABLE ANGINA
1. Beta-blocker
Obat ini mempengaruhi efek hormon epinephrine dan norepinephrine pada jantung dan organ lainnya. Beta-blocker mengurangi denyut jantung pada
saat istirahat. Selama melakukan aktivitas, Beta-blocker membatasi peningkatan denyut jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen. Beta-
blocker dan nitrat telah terbukti mampu mengurangi kejadian serangan jantung dan kematian mendadak
2. Nitrat (contohnya nitroglycerin). Nitrat menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah, terdapat dalam bentuk short-acting dan long-acting.
Tablet nitroglycerin yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) biasanya akan menghilangkan gejala angina dalam waktu 1-3 menit, dan efeknya
berlangsung selama 30 menit.
-Nitrat short-acting
Penderita stable angina kronik harus selalu membawa tablet atau semprotan nitroglycerin. Meminum tablet sebelum melakukan kegiatan.
Nitrat yang short-acting seperti gliseril trinitrat
-Nitrat long-acting diminum sebanyak 1-4 kali/hari. Nitrat juga terdapat dalam bentuk plester dan perekat kulit, dimana obat ini diserap melalui kulit
selama beberapa jam.
Nitrat long-acting adalah isosorbid dinitrate (Isordil, Sorbidin, Cedocard)
3. Antagonis Kalsium
Obat ini mencegah pengkerutan pembuluh darah dan bisa mengatasi kejang arteri koroner. Antagonis kalsium juga efektif untuk mengobati variant
angina. Beberapa antagonis kalsium (misalnya verapamil dan diltiazem) bisa memperlambat denyut jantung. Obat ini juga bisa digabungkan bersama
Beta-blocker untuk mencegah terjadinya episode takikardi (denyut jantung yang sangat cepat).
4. Antiplatelet. Platelet adalah suatu faktor yang diperlukan untuk terjadinya pembekuan darah bila terjadi perdarahan. Aspirin terikat pada platelet dan
mencegahnya membentuk gumpalan dalam dinding pembuluh darah, jadi aspirin mengurangi resiko kematian karena penyakit arteri koroner. Penderita
yang alergi terhadap aspirin, bisa menggunakan triklopidin.

PENGOBATAN UNSTABLE ANGINA


 Penderita mendapatkan obat untuk mengurangi kecenderungan terbentuknya bekuan darah, yaitu:
- Heparin (suatu antikoagulan yang mengurangi pembentukan bekuan darah)
- Penghambat glikoprotein (misalnya absiksimab atau tirofiban)
- Aspirin.
 Juga diberikan Beta-blocker dan nitroglycerin intravena untuk mengurangi beban kerja jantung. Jika pemberian obat tidak efektif, mungkin
harus dilakukan arteriografi koroner dan angioplasti atau operasi bypass
 Operasi bypass arteri koroner
Pembedahan ini sangat efektif dilakukan pada penderita angina dan penyakit arteri koroner yang tidak meluas. Pembedahan ini bisa memperbaiki
toleransi penderita terhadap aktivitasnya, mengurangi gejala dan memperkecil jumlah atau dosis obat yang diperlukan.
 Antagonis kalsium juga efektif untuk mengobati variant angina. Beberapa antagonis kalsium (misalnya verapamil dan diltiazem) bisa
memperlambat denyut jantung.
 Obat ini juga bisa digabungkan bersama beta-blocker untuk mencegah terjadinya episode takikardi (denyut jantung yang sangat cepat).
EVALUASI PASIEN ANGINA
 1. Pasien bebas dari nyeri.
 2. Peningkatan curah jantung
 3. Pasien dapat mengontrol aktivitas yang dapat memicu serangan angina
 4. Menunjukan penurunan kecemasan
 5. Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukan tanda-tanda bebas dari komplikasi

OBAT-OBATAN PADA SUSUNAN SYARAF PUSAT (ANALGETIKA DAN ANESTETIKA)


1. Susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri dari :
 Otak
 Sumsum tulang belakang (spinal cord)
2. Susunan saraf perifer yang tediri atas :
 Syaraf otak dan tulang belakang
 Syaraf otonom
Obat-obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat
 Merangsang atau menstimulasi, yang secara langsung maupun tidak langsung merangsang aktivitas otak, sum-sum tulang belakang beserta
syarafnya.
 Menghambat atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak langsung memblokir proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum tulang
belakang dan syaraf - syarafnya.
ANALGETIKA
 obat-obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran
 untuk menghilangkan sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan nyeri lain misalnya nyeri pasca bedah dan pasca bersalin, dismenore (nyeri
haid) dan lain-lain sampai pada nyeri hebat yang sulit dikendalikan.
 Hampir semua analgetik ternyata memiliki efek antipiretik dan efek anti inflamasi.
 Asam salisilat atau paracetamol mampu mengatasi nyeri ringan sampai sedang, tetapi nyeri yang hebat membutuhkan analgetik central
yaitu analgetik narkotik
 Analgesik anti inflamasi bekerja berdasarkan penghambatan sintesis prostaglandin (penyebab rasa nyeri)
Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam tiga kategori
 Nyeri ringan (sakit.gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid dll), dapat diatasi dengan asetosal, paracetamol bahkan placebo.
 Nyeri sedang (sakit punggung, migrain, rheumatik), memerlukan analgetik perifer kuat.
 Nyeri hebat (kolik/kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu ginjal, kanker ), harus diatasi dengan analgetik sentral atau analgetik narkotik

1) Analgetik narkotik (analgetik sentral)


 Analgetika narkotika bekerja di SSP, memiliki daya penghalang nyeri yang kuat.
 Dalam dosis besar dapat bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran)
 mempunyai efek samping menimbulkan rasa nyaman (euforia)
 Obat golongan ini hanya dibenarkan untuk penggunaan insidentil pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark) kolik batu
empedu, kolik ginjal.
 Penggunaan narkotik diindikasikan pada kanker stadium lanjut karena dapat meringankan penderitaan
 Fentanil dan alfentanil umumnya digunakan sebagai premedikasi dalam pembedahan karena dapat memperkuat anestesi umum sehingga
mengurangi timbulnya kesadaran selama anestesi
Penggolongan analgesik – narkotik
 alkaloid alam : morfin, codein
 derivat semi sintesis : heroin
 derivat sintetik : metadon, fentanil
 antagonis morfin : nalorfin, nalokson dan pentazocin
Morfin
 Indikasi: Analgesik selama dan setelah pembedahan, analgesik pada situasi lain.
 Kontra indikasi: Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
 Efek samping: Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan
kematian.
 Sediaan: Morfin HCl (generik) siruf 5mg / 5ml, tablet 10mg, 30mg, 60mg, injeksi 10mg / ml, 20mg / ml
Kodein
 Indikasi Nyeri ringan sampai sedang
 Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
 Efek samping Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian.
 Sediaan Kodein fosfat (generik) tablet 10 mg, 15 mg, 20 mg
Fentanil
 Indikasi Nyeri kronik yang sukar diatasi pada kanker
 Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
 Efek samping Mual, muntah, konsipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian.
 Sediaan Bentuk sediaan dapat berupa injeksi atau cakram transdermal (lama kerja yang panjang)
Petidin HCl
 Indikasi Nyeri sedang sampai berat, nyeri pasca bedah
 Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
 Efek samping Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan
 Sediaan Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml, tabl 50 mg
Tramadol
 Indikasi Nyeri sedang sampai berat
 Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala
 Efek samping Mual, muntah, konstpasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian.
 Sediaan Tramadol (generik) injeksi 50 mg/ml, tablet 50 mg
Nalorfin dan Nalokson
 antagonis morfin, bekerja meniadakan semua khasiat morfin, dan bersifat analgesik. Khusus digunakan pada kasus overdosis atau
intoksikasi obat-obat analgetik narkotik.
2) Analgesik non opioid (non narkotik)parasetamol,aminofenol,asetosal
 analgesik perifer karena tidak mempengaruhi susunan syaraf pusat. Semua analgesik perifer memiliki khasiat sebagai anti piretik yaitu
menurunkan suhu bada pada saat demam.
 Khasiatnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, mengakibatkan vasodilatasi perifer di kulit dengan
bertambahnya pengeluaran kalor disertai keluarnya banyak keringat. Misalnya parasetamol, asetosal, dll
 berkhasiat juga sebagai anti inflamasi , anti radang atau anti flogistik
 Anti radang sama kuat dengan analgesik, digunakan sebagai anti nyeri atau rematik contohnya asetosal, asam mefenamat, ibuprofen.
 Anti radang yang lebih kuat contohnya fenilbutazon.
 yang bekerja serentak sebagai anti radang dan analgesik contohnya indomeazin
Berdasarkan rumus kimianya analgesik perifer digolongkan:
a) Golongan salisilat.
 Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin. Obat ini diindikasikan untuk sakit kepala, nyeri otot, demam dan lain-
lain. Saat ini asetosal makin banyak dipakai karena sifat anti plateletnya. Sebagai contoh aspirin dosis kecil digunakan untuk pencegahan
trombosis koroner dan cerebral.
 Asetosal adalah analgetik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas.
 Efek samping yaitu perangsangan bahkan dapat menyebabkan iritasi lambung dan saluran cerna dapat dikurangi dengan meminum obat
setelah makan atau membuat menjadi sediaan salut enterik (enteric-coated). Karena salisilat bersifat hepatotoksik maka tidak dianjurkan
diberikan pada penderita penyakit hati yang kronis
b) Golongan para aminofenol
 Terdiri dari fenasetin dan asetaminofen (parasetamol).
 Efek analgesik golongan ini serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang, dan dapat
menurunkan suhu tubuh dalam keadaan demam, dengan mekanisme efek sentral.
 Fenasetin karena toksisitasnya terhadap hati dan ginjal saat ini sudah dilarang penggunaannya.
 Efek samping parasetamol dan kombinasinya pada penggunaan dosis besar atau jangka lama dapat menyebabkan kerusakan hati.
c) Golongan pirazolon (dipiron)
 Fenilbutazon dan turunannya saat ini yang digunakan adalah dipiron sebagai analgesik antipiretik, karena efek inflamasinya lemah.
 Efek samping semua derivat pirazolon dapat menyebabkan anemia aplastik dan trombositopenia.
 Dibeberapa negara penggunaannya sangat dibatasi bahkan dilarang karena efek samping tersebut, tetapi di Indonesia frekuensi pemakaian
dipiron cukup tinggi meskipun sudah ada laporan mengenai terjadinya efek samping .
 Fenilbutazon digunakan untuk mengobati arthritis rheumatoid.
d) Golongan antranilat (asam mefenamat)
 Digunakan sebagai analgesik karena sebagai anti inflamasi kurang efektif dibanding dengan aspirin.
 Efek samping seperti gejala iritasi mukosa lambung dan gangguan saluran cerna sering timbul

AINS (Analgesik Anti Inflamasi Non Steroid)


 AINS adalah obat-obat analgesik yang selain memiliki efek analgesik juga memiliki efek anti inflamasi, sehingga obat-obat jenis ini digunakan
dalam pengobatan rheumatik dan gout. Contohnya ibuprofen, indometasin, diklofenak, fenilbutazon dan piroxicam.
 Sebagian besar penyakit rheumatik membutuhkan pengobatan simptomatis, untuk meredakan rasa nyeri penyakit sendi degeneratif seperti
osteoartritis
 analgesik tunggal atau campuran masih bisa digunakan. Tetapi bila nyeri dan kekakuan disebabkan penyakit rheumatik yang meradang harus
diberikan pengobatan dengan AINS.
Contoh Analgesik AINS
1) Ibuprofen Adalah turunan asam propionat yang berkhasiat anti inflamasi, analgesik dan anti piretik. Efek sampingnya kecil dibanding AINS yang
lain, tetapi efek anti inflamasinya juga agak lemah sehingga kurang sesuai untuk peradangan sendi hebat seperti gout akut
2) Diklofenak adalah Derivat fenilasetat ini termasuk AINS yang terkuat anti radangnya dengan efek samping yang kurang keras dibandingkan
dengan obat lainnya seperti piroxicam dan indometasin. Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migrain dan encok. Secara
parenteral sangat efektif untuk menanggulangi nyeri koli hebat (kandung kemih dan kandung empedu).
3) Indometasin memiliki daya analgetik dan anti radang sama kuat dengan asetosal, sering digunakan pada serangan encok akut. Efek samping
berupa gangguan lambung usus, perdarahan tersembunyi (okult), pusing, tremor dan lain-lain.
4) Fenilbutazon merupakan Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat daripada kerja analgetiknya. Karena itu golongnan ini
khususnya digunakan sebagai obat rematik seperti halnya juga dengan oksifenilbutazon.
5) Piroksikam bekerja sebagai anti radang, analgetik dan antipiretik yang kuat. Digunakan untuk melawan encok. Efek samping berupa perdarahan
dalam lambung usus.
ANESTETIKA
Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
 Anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran
yaitu dengan memberikan beberapa anestetika dengan mekanisme kerja berbeda agar diperoleh keadaan anestetika operasi dengan resiko efek
toksik yang minimal.
Anestetika suntikan intra vena (i.v) biasa dipakai untuk taraf induksi kemudian dilanjutkan dengan anestetik inhalasi untuk mempertahankan
keadaan tidak sadar.
Untuk prosedur tertentu mungkin dibutuhkan hipotensi terkendali, untuk itu digunakan labetolol dan gliseril trinitrat. beta bloker seperti adenosin,
amiodaron dan verapamil bisa digunakan untuk mengendalikan aritmia selama anestesi
Taraf -taraf narkose
Anestetika umum dapat menekan susunan saraf sentral secara berurutan, yaitu :
 Taraf analgesia, yaitu kesadaran dan rasa nyeri berkurang
 Taraf eksitasi, yaitu kesadaran hilang Seluruhnya dan terjadi kegelisahan
 Taraf anestesia, yaitu refleks mata hilang, nafas otomatis dan teratur seperti tidur serta otot-otot melemas (relaksasi)
 Taraf pelumpuhan sum - sum tulang, yaitu kerja jantung dan pernafasan terhenti
 Tujuan narkose adalah untuk mencapai taraf anastesia dengan sedikit mungkin efek samping, oleh karena itu taraf pertama sampai ketiga
adalah yang paling penting sedangkan taraf ke empat harus dihindari.
 Taraf analgesia dan Taraf eksitasi adalah taraf induksi
 Pada proses recovery (sadar kembali) terjadi dengan urutan taraf terbalik dari taraf ketiga sampai kesatu.
Persyaratan anestetika umum
 Berbau enak dan tidak merangsang selaput lendir
 Mula kerja cepat tanpa efek samping
 Sadar kembalinya tanpa kejang
 Berkahasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot seluruhnya
 Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu pembedahan
obat pembantu anastesi umum
Tujuan: untuk menghindarkan atau memperkecil kerja ikutan dan memperkuat salah satu khasiat anestetikanya, seperti:
 Sebelum narkose (premedikasi), diberikan obat-obat sedatif (klorpromazin, morfin dan pethidin) guna meniadakan kegelisahan dan obat-obat
parasimpatolitik (atropin) guna menekan sekresi ludah yang berlebihan
 Selama narkose, diberikan obat-obat relaksasi otot (tubokurarin, galamin, dll)
 Setelah narkose (post medikasi), diberikan obat-obat analgetika (methampyron, dll), sedativa (lminal, dll) dan anti emetika (klorpromazin HCl)
Penggolongan Anastesi Umum
 Anestetika injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting (tiopental dan heksobarbital), dll ·
 Anestetika inhalasi, diberikan sebagai uap melalui saluran pernafasan. Contohnya eter, dll
1. Dinitrogen Monoksida
 Indikasi Anestesi inhalasi
2. Enfluran
 Indikasi Anestesi inhalasi (untuk pasien yang tidak tahan eter)
3. Halotan
 Indikasi Anestesi inhalasi
4. Droperidol
 Indikasi Anestesi inhalasi
5. Eter Indikasi
 Anestesi inhalasi
6. Ketamin Hidroklorida
 Indikasi Anestesi inhalasi
7. Tiopental
 Indikasi Anestesi injeksi pada pembedahan kecil seperti di mulut

 Anestetika lokal yaitu menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran
 Obat anestetika lokal yang pertama dikenal adalah kokain yang diperoleh dari Erythroxylon coca yang dapat memberikan rasa nyaman dan
mempertinggi daya tahan tubuh
 Pada awalnya di dunia kedokteran digunakan untuk menghilangkan nyeri stempat oleh kedokteran gigi dan mata.
 Karena dapat merintangi transmisi ke batang otak kemudian dipakai sebagai anestesi blokade saraf pada pembedahan maupun dalam
anestesi spinal/umum.
 Kemudian dibuat anestetika lokal sintetis seperti prokain dan derivatnya seperti lidokain, prilokain dan bupivikain.
Penggunaan Anestetika local
 Anestetika lokal umumnya digunakan secara parenteral misalnya pembedahan kecil dimana pemakaian anestetika umum tidak dibutuhkan.
Anestetika lokal dibagi menjadi 3 jenis
 Anestetika permukaan, digunakan secara lokal untuk melawan rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau tablet hisap untuk menghilangkan
rasa nyeri di mulut atau leher, tetes mata untuk mengukur tekanan okuler mata atau mengeluarkan benda asing di mata, salep untuk
menghilangkan rasa nyeri akibat luka bakar dan suppositoria untuk penderita ambeien/wasir
 Anestetika filtrasi, yaitu suntikan yang diberikan ditempat yang dibius ujung-ujung sarafnya, misalnya pada daerah kulit dan gusi
(pencabutan gigi)
 Anestetika blok atau penyaluran saraf, yaitu dengan penyuntikan di suatu tempat dimana banyak saraf terkumpul sehingga mencapai
daerah anestesi yang luas, misalnya pada pergelangan tangan atau kaki
Persyaratan anestetika local
 Tidak merangsang jaringan
 Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf sentral
 Toksisitas sistemisnya rendah
 Efektif pada penyuntikan dan penggunaan lokal
 Mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu cukup lama
 Larut dalam air dengan menghasilkan larutan yang stabil dan tahan pemanasan (proses sterilisasi)
Penggolongan Anstetika Lokal
Penggolongan Secara kimiawi anestetika lokal dibagi 3 kelompok, yaitu :
 Senyawa ester, contohnya prokain, benzokain, buvakain, tetrakain dan oksibuprokain
 Senyawa amida, contohnya lidokain, prilokain, mepivikain, bupivikain, cinchokain dll
 Senyawa Lainnya, contohnya jokain dan benzilalkohol. Selain kokain, semua obat tersebut diatas dibuat sintetis.
Contoh Obat
1. Bupivikain
 Indikasi Anestetika lokal
2. Etil Klorida
 Indikasi Anestetika lokal
3. Lidokain
 Indikasi Anestesi filtrasi dan Anestesi permukaan
4. Benzokain
 Indikasi Anestesi permukaan dan Menghilangkan rasa nyeri dan gatal
5.Prokain (Novokain)
 Indikasi Anestesi filtrasi dan permukaan
6.Tetrakain
 Indikasi Anestesi filtrasi
7.Benzilalkohol Indikasi
 Menghilangkan rasa gatal, sengatan matahari dan gigi