Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Critical Book Review ini bertujuan untuk mengetahui isi buku tetapi lebih
menitik beratkan pada evaluasi kita mengenai ringkasan, kelemahan, serta
kelebihan dari buku apa yang menarik dari buku tersebut dan bagaimana isi buku
tersebut bisa mempengaruhi cara berfikir dan menambah pemahaman kita
terhadap suatu bidang kajian tertentu. Sehingga critical book review ini
merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mencari kelebihan serta kelemahan
buku.

Materi yang ada didalam bab buku ini mengenai Perubahan Praktik
Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia. Diharapkan dengan adanya critical book
review ini dapat menambah wawasan kita semua dan mampu berfikir kritis
maupun sistematis, sehingga untuk kedepannya mahasiswa sebagai calon guru
bimbingan dan konseling dapat mengaplikasikan materi ini dilapangan atau
setelah menjadi guru.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja indentitas dari buku tersebut?
2. Apa saja ringkasan dari buku bab delapan?
3. Apa saja kelebihan dari buku tersebut?
4. Apa saja kelemahan dari buku tersebut?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui identitas dari buku tersebut.
2. Untuk mengetahui ringkasan dari buku bab delapan.
3. Untuk mengetahui kelebihan dari buku tersebut.
4. Untuk mengetahui kelemahan dari buku tersebut.
5.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Identitas Buku

Judul Buku : Profesionalisasi


Profesi Konselor Berwawasan Islami
Nama Pengarang : Dr. Tarmizi, M.Pd
Penerbit : Perdana Publishing
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 260 Halaman

BUKU PEMBANDING :
Judul Buku : Manajemen
Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah

Nama Pengarang : Prof. Dr. Sugiyo, MSi

Penerbit : Widya Karya

Tahun Penerbit : 2016

Jumlah Halaman :130 Halaman

Judul Buku : Konseling Profesional


Yang Berhasil
Nama Pengarang : Prof. Dr. Prayitno, M.Sc.,
Penerbit : Rajawali Pers
Tahun Penerbit : 2018
Jumlah Halaman : 388 Halaman

2
B. Ringkasan Buku
Profesionalisasi Profesi Konselor Berwawasan Islami

A. Pra Lahirnya Pola 17

Pelaksanaan Bimbingan atau Penyuluhan di sekolah pada awalnya


dilaksanakan hanya untuk menenuhi tuntutan akan wajibnya keberadaan guru BK
(guru BP saat itu), sehingga tugas dan setting wilayah kerjanya pun tidak terarah
dan terkesan sebagai polisi sekolah. Konselor sekolah dianggap polisi sekolah,
BK dianggap semata-mata sebagai pemberian nasehat, BK dibatasi pada
menangani masalah yang insidental, BK dibatasi untuk klien-klien tertentu saja,
BK melayani “orang sakit” dan atau “kurang normal”, BK bekerja sendiri,
konselor sekolah harus aktif sementara pihak lain pasif, adanya anggapan bahwa
pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan BK berpusat pada
keluhan pertama saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat.
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola
yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan disebabkan
diantaranya oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Belum Adanya Hukum

Sejak Konferensi di Malang tahun 1960 sampai dengan munculnya Jurusan


Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang tahun 1964, fokus
pemikiran adalah mendesain pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga BP di
sekolah. Tahun 1975 Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang berhasil
menelurkan keputusan penting diantaranya terbentuknya Organisasi bimbingan
dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Melalui IPBI inilah
kelak yang akan berjuang untuk memperolah Payung hukum pelaksanaan
Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah menjadi jelas arah kegiatannya.

2. Semangat Luar Biasa untuk Melaksanakan BP di Sekolah

Lahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi


Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

3
Merupakan angin segar pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah.
Semangat yang luar biasa untuk melaksanakan ini karena disana dikatakan “Tugas
guru adalah mengajar dan/atau membimbing.”

3. Belum ada aturan main yang jelas

Apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, kepada siapa, oleh siapa, kapan dan
dimana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan dilaksanakan juga belum jelas.
Oleh siapa bimbingan dan penyuluhan dilaksanakan, di sekolah banyak terjadi
diberikan kepada guru-guru senior, guru-guru yang mau pensiun, guru mata
pelajaran yang kurang jam mengajarnya untuk memenuhi tuntutan angka
kreditnya. Guru-guru ini jelas sebagian besar tidak menguasai dan memang tidak
dipersiapkan untuk menjadi Guru Pembimbing. Kesan yang tertangkap di
masyarakat terutama orang tua murid Bimbingan Penyuluhan tugasnya
menyelesaikan anak yang bermasalah. Sehingga ketika orang tua dipanggil ke
sekolah apalagi yang memanggil Guru Pembimbing, maka orang tua menjadi
malu, dan dari rumah sudah berpikir ada apa dengan anaknya, bermasalah atau
mempunyai masalah apakah. Dari segi pengawasan, juga belum jelas arah dan
pelaksanaan pengawasannya.

B. Lahirnya Pola 17

SK Mendikbud No 025/1995 khususnya yang menyangkut bimbingan dan


konseling sekarang menjadi jelas: istilah yang digunakan bimbingan dan
konseling, pelaksananya guru pembimbing atau guru yang sudah mengikuti
penatara bimbingan dan konseling selama 180 jam, kegiatannya dengan BK pola-
17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian,
analisis dan tindak lanjut.

C. Perubahan dari Pola 17 ke 17 Plus

Pengembangan dan penyempurnaan dari Pola 17 (Prayitno, 2006) yaitu


penambahan pada bidang bimbingan, jenis layanan dan kegiatan pendukung.
Perubahan ini merupakan perubahan yang telah disesuaikan dengan tuntutan

4
kebutuhan manusia modern saat ini. Bimbingan dan konseling yang dikenal
sebagai ilmu humanistik selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa dan
menuntut adanya perubahan yang sebaiknya menyesuaikan diri dengan kondisi
saat ini. Perkembangan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses ilmiah
yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan hasil yang benar-benar dibutuhkan
oleh masyarakat. Proses inilah yang sering dikatakan dengan penelitian.

Walaupun sudah ada pola yang jelas pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di
sekolah belumlah semulus dan lancar seperti yang diharapkan. Hal ini banyak
penyebabnya dan akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya. Satu hal
diantarnya yang menjadikan “kebingungan” di lapangan, pemikiran bahwa: BK
Pola 17 saja belum mapan dan mantap sudah dikembangkan BK Pola 17 Plus
bahkan BK Pola 17 Plus-plus (45) yaitu Spektrum Profesi Konseling.

D. Penyempurnaan BK 17 Plus menjadi 17 Plus Yang Disempurnakan

Dalam konteks ini, perubahan yang terjadi pada skema pelayanan bimbingan
dan konseling, yang pada awalnya berupa BK Pola 17 diperbaharui menjadi BK
Pola 17 Plus dan saat ini dilakukan inovasi kembali menjadi BK Pola 17 Plus
yang disempurnakan. Pola yang digunakan Bimbingan dan Konseling di sekolah
saat ini adalah pola 17 yang disempurnakan dan BK Komprehensif.

E. Bimbingan dan Konseling Komperhensif

Dalam konteks ini, perubahan yang terjadi pada skema pelayanan bimbingan
dan konseling, yang pada awalnya berupa BK Pola 17 diperbaharui menjadi BK
Pola 17 Plus dan saat ini dilakukan inovasi kembali menjadi BK Pola 17 Plus
yang disempurnakan. Pola yang digunakan Bimbingan dan Konseling di sekolah
saat ini adalah pola 17 yang disempurnakan dan BK Komprehensif.

Bimbingan dan komprehensif mempunyai komponen yang menyertakan


aktivitas da tanggung jawab dari semua yang terlibat dalam program bimbingan
dan konseling komprehensif. Lebih lanjut menurut Bowers & Hatch menyatakan
bahwa program bimbingan dan konseling sekolah tidak hanya bersifat

5
komprehensif dalam ruang lingkup, namun juga harus bersifat preventif dalam
desain, dan bersifat pengembangan dalam tujuan (comprehensive in scope,
preventive in design and developmental in nature).

F. Komponen-komponen Program Bimbingan dan Konseling

Dalam Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan


dan Konseling di sebutkan bahwa program bimbingan dan konseling mengandung
empat komponen Pelayanan, yaitu:

1. Layanan Dasar
a. Pengertian

Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada


seluruh peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur
secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam
rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan
tugas-tugas perkembangan ( yang dituangkan sebagai standar kompetensi
kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih
dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.

b. Tujuan

Tujuan layanan ini dapat dirumuskan sebagai upayauntuk membantu


peserta didik agar:

1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya.


2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi
tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi
penyesuaian diri dan lingkungannya.
3) Mampu menangani dan memenuhi kebutuhannya
4) Mampu mengembangkan dirinya untuk mencapai tujuan hidupnya.
c. Fokus Pengembangan
Untuk mencapai tujuan tersebut fokus perilaku yang dikembangkan
menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan

6
erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas
perkembangnya (sebagai standar kompetensi kemandirian).
2. Layanan Responsif
a. Pengertian
Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada peserta didik
yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan
dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan
gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan.
b. Tujuan

Tujuan layanan ini adalah membantu konseli agar dapat memnuhi


kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu
konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya.

c. Fokus pengembangan

Fokus layanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan


konseli. Masalah dan kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginan untuk
memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan
dirinya secara positif.

3. Layanan Perencanaan Individual


a. Pengertian

Layanan ini diartikan proses bantuan kepada peserta didik agar mampu
merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan
masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan
dirinya, serta pemahaman akanpeluang dan kesempatan yang tersedia di
lingkungannya.

b. Tujuan

Layanan ini bertujuan untuk membantu konseli agar:

7
1) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya
2) Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan
terhadap perkembangan dirinya
3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan
rencana yang telah dirumuskan.
c. Fokus pengembangan

Fokus pelayanan individual berkaitan erat dengan pengembangan


aspek karir, akademik, dan pribadi-sosial.

4. Dukungan Sistem

Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan


manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan
Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara
berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada
konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli.

C. Kelebihan Buku
a) Kelebihan buku yang pertama dapat dilihat dari judul, judul buku yang di
kritik adalah ”Profesionalisasi Profesi Konselor Berwawasan Islami”.
Bahwa judul pada buku ini sudah dapat menggambarkan keseluruhan dan
relevan isi buku dan tidak berbelit-belit, judul buku tersebut juga tidak
lebih dari 15 kata. karena, syarat-syarat judul yang baik adalah mencakup
seluruh isi tulisan, relevan dengan topik, dan menarik perhatian. Agar
menarik perhatian sebaiknya judul berkalimat tidak lebih dari 12 kata
berbahasa Indonesia dan 10 kata berbahasa Inggris.1
b) Kelebihan selanjutnya yang dapat dilihat dari buku ini ialah bahwa penulis
memang memiliki keahlian dibidang bimbingan dan konseling. Adanya
keterkaitan antara profesi penulis dengan buku yang ditulis. Karena, dalam

1
Adi Suprayitno, 2019, Pedoman Penyusunan dan Penulisan Jurnal Ilmiah Bagi Guru,
Yogyakarta : CV Budi Utama, hal. 60

8
penulisan karya ilmiah, diperlukan suatu keterkaitan antara karya ilmiah
yang ditulis dengan profesi ataupun gelar si penulis.2
c) Kelebihan buku yang lain dapat dilihat pada halaman 162 yang mana pada
halaman tersebut digambarkan struktur mengenai BK Pola 17, halaman
169 juga menampilkan gambar struktur wawasan bimbingan dan
konseling, halaman 179 juga terdapat spectrum pelayanan komprehensif,
dan terakhir pada halaman 196-197 juga tergambar struktur layanan
Konseling Pola Komprehensif dan Diagram Perbandingan Pelaksaaan BK
Komprehensif dengan BK Pola 17 Plus.
d) Kelebihan lainnya dapat dilihat dari segi penulisan istilah asing yang
ditulis dengan huruf miring, tanda baca sangat diperhatikan dengan baik
dalam buku ini. Karena, tanda baca, lambang ilmiah, singkatan, rujukan,
jenis huruf (besar, kecil, tegak, miring, tebal, tipis) dalam karya tulis
ilmiah perlu diperhatikan.3
e) Kelebihan selanjutnya yang ada dalam buku ini dapat dilihat pada halaman
170 di paragraph kedua bahwa 5 premis dasar menurut Gysbers &
Henderson (dalam Tarmizi, 2018:170) dipaparkan lebih jelas dan pendapat
para ahli yang diambil lebih terbaru, yaitu:
1) Bimbingan dan konseling adalah sebuah program. Karakteristiknya yang
mirip dengan program lain dibidang pendidikan dan mencakup:
 Standar siswa. Standar yang di maksud siswa yang berlaku di
Indonesia adalah standar kemandirian siswa sesuai yang tertuang
dalam penataan pendidikan professional konselor dan layanan
bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal.
 Kegiatan dan proses layanan untuk membantu siswa dalam mencapai
standar.
 Sertifikat professional dalam rangka implementasi bimbingan dan
konseling komprehensif di perlukan tenaga jurna tenaga professional.
2
Nova Oktavia, 2015, Sistematika Penulisan Karya Ilmiah, Yogyakarta : CV Budi
Utama, hal. 45
3
Hariyanto A. G, Dkk, 2000, Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah, Jakarta :
IKAPI, hal. 32

9
Konselor sekolah yang menjadi penanggung jawab keterlaksanaan,
hendaknya telah memiliki sertifikat sebagai konselor professional.
 Bahan dan sumber daya keberhasilan layanan bimbingan dan
bimbingan dan konseling di pengaruhi dengan ketersediaan sarana dan
pra sarana serta dukungan dana.
 Program, personil, dan evalusai hasil program bimbingan dan
konseling memiliki kerangka yang jelas meliputi adanya program kerja
yang jelas, ketersediaan personil yang mendukung, serta
dimungkinkannya kegiatan evaluasi hasil layanan bimbingan dan
konseling.
2) Program bimbingan dan konseling adalah perkembangan dan
komprehensif. Perkembangan dalam kegiatan bimbingan dan konseling
yang dilakukan pada regular, direncanakan, dan secara sistematis untuk
membantu siswa dalam perkembangan akademik, karir, dan pribadi sosial.
Meskipun kebutuhan mendesak dan krisis siswa yang harus dipenuhi,
focus utama program perkembangan adalah untuk memberikan siswa
dengan pengalaman semua untuk membantu mereka tumbuh dan
berkembang. Program bimbingan dan konseling yang komprehensif dalam
berbagai macam kegiatan dan layanan yang disediakan.
3) Program bimbingan dan konseling melibatkan kolaborasi antar staf (team-
building approach). Program bimbingan dan konseling yang bersifat
komprehensif bersandar pada asumsi bahwa tanggung jawab kegiatan
bimbingan dan konseling melibatkan seluruh personalia yang ada
disekolah dengan sentral koordinasi dan tanggung jawab ada di tangan
konselor yang bersertifikat (certified counselor). Konselor tidak hanya
menyediakan layanan langsung untuk peserta didik, tetapi juga bekerja
konsultatif dan kolaboratif dengan tim bimbingan yang lain. Staf personil
sekolah (guru dan tenaga administrasi), orangtua dan masyarakat.
4) Program bimbingan dan konseling dikembangkan melalui serangkaian
proses sistematis sejak dari perencanaan, desain, implementasi, evaluasi,
dan keberlanjutan. Melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen tersebut

10
diharapkan kegiatan layanan bimbingan konseling dapat diselenggrakan
secara tepat sasaran dan terukur.
5) Program bimbingan dan konseling ditopang oleh kepemimpinan yang
kokoh. Factor kepemimpinan ini diharapkan dapat menjamin
akuntabilitass dan pencapaian kinerja program bimbingan dan konseling.4

Dan jika dibandingkan dengan buku Manajemen Bimbingan dan Konseling Di


Sekolah (Pedoman Teoritis dan Praktis Bagi Konselor Sekolah) oleh Sugiyo di
halaman 16-17 yaitu:

1) Tujuan bimbingan dan konseling bersifat kompatibel dengan tujuan


pendidikan. Tujuan yang dimaksud dalam bentuk sejumlah kompetensi
yang harus dikuasai peserta didik, maka segala aktivitas bimbingan dan
konseling harus selalu diarahkan untuk membantu peserta didik dalam
pencapaian standar kompetensi.
2) Program bimbingan dan konseling bersifat perkembangan artinya bahwa
focus utama layanan bimbingan dan konseling adalah mengawal
perkembangan peserta didik melalui upaya memfasilitasi peserta didik
agar dapat tumbuh dan berkembang agar menjadi pribadi yang mandiri
danberkembang secara optimal.
3) Program bimbingan dan konseling merupakan team building approach
artinya merupakan tim ang bersifat kolaboratif antar staff. Untuk itu
program bimbingan dan konseling komprehensif menuntut semua
komponen sekolah dan anggota masyarakat stake holders bersinergi dalam
membantu pelaksanaan bimbingan dan konseling.
4) Program bimbingan dan konseling merupakan proses yang sistematis dan
dikemas melalui tahap-tahaperenaan, desain, implementasi, evaluasi dan
tindak lanjut. Oleh karena itu perlu dipahami bagaimana mengelola atau
memanage proses tersebut secara tepat dan mencapai hasil yangoptimal
serta dapat dilakukan penilaian dan tindak lanjut.

4
Tarmizi, 2018, Profesionalitas Profesi Konselor Berwawasan Islami,Medan : Perdana
Publishing, Hal. 170

11
5) Program bimbingan dan konseling harus dikendalikan oleh kepemimpinan
yang mempunyai visi dan misi yang kuat tentang bimbingan dan
konseling. Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin sangat berkontribusi
yang positif dalam menjamin akuntabilitas dan pencapaian kinerja
konselor sekolah dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.5

Dalam hal ini dapat dilihat pada buku pertama bahwa peulis memaparkan
lebih jelas dan kata-kata yang digunakan lebih mudah dipahami. Terlihat pada
poin pertama di buku Dr. Tarmizi, M.Pd memaparkan poin-poin karakteristik
yang mirip dengan program lain di bidang pendidikan, sedangkan di buku
Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah hanya menjelaskan poin-poin
besarnya saja.

D. Kekurangan
a) Kekurangan buku terletak pada halaman 164-165 mengenai bidang
pelayanan BK pola 17 Plus, dalam buku pertama ditulis bidang pelayanan
BK meliputi :
a. Bidang pengembangan pribadi
b. Bidang pengembangan sosial
c. Bidang pengembangan kegiatan belajar
d. Bidang pengembangan karir
e. Bidang pengembangan kehidupan berkeluarga
f. Bidang pengembangan kehidupan beragama6
Dan jika dibandingkan dengan buku konseling profesional yang
berhasil oleh Prof. Dr. Prayitno, di halaman 12 bidang pelayanan BK pola 17-
Plus meliputi :
a. Bidang pengembangan pribadi
b. Bidang pengembangan sosial

5
Sugio, 2016. Manajemen Bimbingan Dan Konseling di Sekolah (Pedoman teoritis dan
praktis bagi konselor sekolah), Semarang : Widya Karya, Hal. 16-17

6
Tarmizi, 2018, Profesionalitas Profesi Konselor Berwawasan Islami,Medan : Perdana
Publishing, Hal. 164-165

12
c. Bidang pengembangan kegiatan belajar
d. Bidang pengembangan pilihan karir dan kehidupan berpekerjaan
e. Bidang pengembangan kehidupan berkeluarga
f. Bidang pengembangan kehidupan berpekerjaan
g. Bidang pengembangan kehidupan bermasyarkat dan
berkewarganegaraan.7
Dalam hal ini bisa dilihat pada buku pertama, hanya menuliskan 6 poin
bidang pelayanan, sedangkan dalam buku konseling profesional yang berhasil
menuliskan 7 poin bidang pelayanan BK. Dan perbedaan lain yang bisa dilihat
pada buku pertama menuliskan bidang pengembangan kehidupan beragama
sedangkan pada buku konseling profesional yang berhasil tidak ada bidang
pengembangan beragama, tetapi bidang pengembangan kehidupan berpekerjaan
dan bidang pengembangan kehidupan bermasyarakat dan berkewarnegaraan.

7
Prayitno, 2017, Konseling Profesional Yang Berhasil, Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, hal. 12

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa kelebihan dan kekurangan buku yang sudah dipaparkan, penulis
mengambil kesimpulan bahwa buku ini sangat cocok digunakan oleh kalangan
mahasiswa, terkhusus mahasiswa bimbingan dan konseling islam, dan buku ini
juga bisa membantu guru BK dan mahaiswa BK untuk menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai guru BK yang profesional.

B. Saran

Dalam hal ini ada beberapa kekurangan yang dijabarkan oleh pengkritik, maka
diharapkan buku ini terus adanya perbaikan untuk terus menyempurnakan buku
ini dan bisa menjawab tantangan zaman dan sesuai dengan perkembangan zaman
dan IPTEK.

14
DAFTAR PUSTAKA

Adi Suprayitno, 2019, Pedoman Penyusunan dan Penulisan Jurnal Ilmiah Bagi
Guru, Yogyakarta : CV Budi Utama.
Hariyanto A. G, Dkk, 2000, Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah,
Jakarta : IKAPI.
Nova Oktavia, 2015, Sistematika Penulisan Karya Ilmiah, Yogyakarta : CV Budi
Utama.
Prayitno, 2017, Konseling Profesional Yang Berhasil, Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Sugio, 2016. Manajemen Bimbingan Dan Konseling di Sekolah (Pedoman teoritis
dan praktis bagi konselor sekolah), Semarang : Widya Karya.
Tarmizi, 2018, Profesionalitas Profesi Konselor Berwawasan Islami,Medan :
Perdana Publishing.

15