Anda di halaman 1dari 38

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN ONKOLOGI


(KANKER PARU)

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Medikal Bedah III

Oleh
Kelompok 5
1. Esther Lita Yohana (1806269921)
2. Nurfitri (1806270053)
3. Rana Jumana (1806270072)
4. Retno Citro (1806270085)
5. Yayan Suryaman (1806270223)
6. Yenni Maryati (1806270236)

PROGRAM S1 EKSTENSI FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien
dengan Onkologi (Kanker Paru)”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas kelompok
pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3. Kami menyadari bahwa makalah ini
tidak dapat diselesaikan jika tidak ada bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh
Karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ns. Muhamad Adam, M.Kep, Sp.Kep.MB selaku fasilitator yang telah
membimbing dan memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman kelompok 5 Keperawatan Medikal Bedah 3 yang telah bekerjasama
dalam penyusunan makalah ini.
3. Serta seluruh pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Akhir kata, semoga seluruh pihak yang telah ikut serta dalam penyelesaian makalah ini
dapat diberikan kebaikan berlipat ganda oleh Allah SWT. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat untuk semua pihak.

Depok, November 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... ... i


KATA PENGANTAR ...................................................................................... ............. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Tujuan Penelitian .............................................................................................2
1.2.1 Tujuan Umum .......................................................................................2
1.2.2 Tujuan Khusus ......................................................................................2
1.3 Sistematika Penulisan ......................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................3
2.1 Pengertian Kanker Paru ...................................................................................3
2.2 Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Paru ........................................................ 3
2.3 Patofisiologi Kanker Paru .............................................................................. .5
2.4 Manifestasi Klinis Kanker Paru.......................................................................7
2.5 Tatalaksana Kanker Paru ............................................................................... .8
2.6 Pemeriksaan Penunjang Kanker Paru ...........................................................15
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................................19
3.1 Pengkajian ....................................................................................................19
3.2 Analisa Data ..................................................................................................24
3.3 Diagnosis Keperawatan ................................................................................ 26
3.4 Intervensi Keperawatan ............................................................................... .26
BAB IV PENUTUP .......................................................................................................32
4.1 Kesimpulan .................................................................................................. .32
4.2 Saran ............................................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang
berasal dari paru sendiri (Kemenkes RI, 2018). Prevalensi kanker di indonesia pada
tahun 2018 adalah 1,8 pada setiap 1000 orang, jumlah ini meningkat dibandingakan
pada tahun 2013 sebanyak 1,4 setiap 1000 orang (Risekesdas, 2018). Hasil penelitian
berbasis rumah sakit dari 100 RS di Jakarta, kanker paru merupakan kasus terbanyak
pada laki-laki dan nomor 4 terbanyak pada perempuan tapi merupakan penyebab
kematian utama pada laki-laki dan perempuan (Kemenkes RI, 2018). Penelitian
diatas menunjukan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian utama dari
semua jenis kanker di Indonesia.
Faktor risiko terjadinya kanker adalah perilaku merokok, paparan radiasi, pajanan
karsinogenik dan riwayat keluarga dengan kanker (Smeltzer, Bare, Hinkle, &
Cheever, 2009). Pada klien berisiko tinggi, dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik
yang mendukung kecurigaan adanya keganasan pada paru-paru, dapat dilakukan
pemeriksaan low-dose CT scan untuk skrining kanker paru setiap tahun, selama 3
tahun. Pemeriksaan ini dapat mengurangi mortalitas akibat kanker paru hingga 20%
(Kemenkes RI, 2018). Kanker paru ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, dan pemeriksaan patologi anatomi.
Pada kasus pemicu, hasil bronkoskopi dengan biopsi massa ditemukan small cell
lung carcinoma. Sel kanker ini memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan dengan
karakteristik metastasis ke mediastinum, struktur thoraks dan ekstratorak sehingga
pada tipe ini sering ditemukan adanya efusi pleura (Black, 2014). Klien merasakan
sesak nafas dan beberapa keluhan lainnya. Selain itu klien telah menikah dan
mempunyai tiga orang anak.
Perawat memberikan asuhan keperawatan yang holistik pada kasus diatas dengan
mempertimbangkan teori dan dampak penyakitnya terhadap klien dan keluarga.
Kelompok menulis makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Kanker
Paru” berdasarkan uraian di atas dan sebagai salah satu tugas dalam memenuhi mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.

1
1.2 Tujuan Penulisan
1.1.1 Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan keganasan

1.1.2 Tujuan Khusus


1.2.2.1 Mengetahui konsep dasar kanker paru
1.2.2.2 Mengetahui konsep sel kecil kanker paru
1.2.2.3 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kanker paru

1.3 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dalam makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada
Klien Kanker Paru” sebagai berikut: berisi halaman judul, kata pengantar, daftar isi;
Bab 1 pendahuluan berisi latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika penulisan;
Bab 2 tinjauan pustaka membahas konsep dasar kanker paru. Bab 3 tinjauan kasus;
Bab 4 penutup berisi kesimpulan dan saran. Terakhir terdapat daftar pustaka.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian
Kanker paru merupakan suatu transformasi ganas dan ekspansi dari jaringan paru, dan
merupakan kanker paling mematikan dari seluruh kanker didunia. Kanker paru adalah
semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri
(primer). Dalam pengertian klinik yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor
ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus = bronchogenic carcinoma).
Terdapat tiga tipe kanker paru berdasarkan ukuran dan penampakkan dari sel kanker
1. Kanker paru bukan sel kecil (non-small cell lung cancer [NSCLC] meliputi karsinoma
sel skuamosa dan adenokarsinoma. Kanker sel skuamosa bermula pada bronkus besar
dan adenokarsinoma mulai dari alveolus. Baru-baru ini, telah ditemukan onkogen yang
spesifik dan inaktivasi dari gen supresor tumor. Abnormalitas paling penting yang
terdeteksi adalah mutase yang melibatkan keluarga onkogen ras.
2. Karsinoma sel kecil (small cell) juga disebut skuamosa sel gandum, dimulai dijalan
nafas besar dan kemudian menjasi cukup brsar. Karsinoma ini berhubungan dengan
onkogen yang disebut L-myc. Sel “gandum” (karena berukuran seperti biji gandum)
mengandung granul neurosekretori padat yang sering kali menyebabkan sindroma
endokrin/paraneoplastic. Awalnya karsinoma ini lebih sensitive terhadap kemoterapi,
tetapi akhir-akhir ini memiliki prognosis yang lebih buruk dan sering kali sudah
bermetastasis saat pertama ditemukan. Tipe kanker paru ini sangant berkaitan dengan
merokok.
3. Kanker paru metastatic adalah bentuk kanker paru lainnya. Tumor payudara, kolon,
prostat dan kandung kemih biasanya bermetastasis ke paru-paru, namun semua kanker
memiliki kemampuan untuk menyebar ke paru-paru.

2.2.Etiologi dan Faktor Resiko


Kanker berkembang setelah kerusakan genetik pada perubahan DNA dan epigenetic
(modifikasi molekuler atau "tanda" kecil yang biasanya diwariskan, yang mengikat DNA
dan memodifikasi level ekspresi gen). Perubahan itu memengaruhi fungsi normal sel,
termasuk proliferasi sel, kematian sel terprogram (apoptosis), dan perbaikan DNA.
Semakin banyak kerusakan, risiko kanker meningkat

3
2.2.1. Merokok
Merokok bertanggung jawab atas 80% hingga 90% dari semua kanker paru-paru.
Merokok merupakan factor resiko utama terjadinya kanker paru. Asap tembakau
mengandung 60 karsinogen, selain zat (karbon monoksida, nikotin) yang
mengganggu perkembangan sel normal. Paparan asap tembakau menyebabkan
perubahan dalam epitel bronkial, yang biasanya kembali normal ketika merokok
dihentikan. Risiko kanker paru-paru berangsur-angsur berkurang dengan berhenti
merokok, butuh waktu 10 hingga 15 tahun kondisi paru bukan seperti merokok.
Risiko terkena kanker paru-paru berhubungan langsung dengan total pajanan
terhadap asap tembakau, diukur dengan jumlah total rokok yang dihisap seumur
hidup, usia mulai merokok, kedalaman inhalasi, kandungan tar dan nikotin, dan
penggunaan rokok tanpa filter.
2.2.2. Perokok Pasif
Asap rokok (asap dari pembakaran rokok, cerutu) mengandung karsinogen yang
sama dengan yang ditemukan pada asap utama (asap dihirup dan dihembuskan oleh
perokok). Paparan perokok pasif ini menimbulkan risiko kesehatan bagi orang
dewasa dan anak-anak yang tidak merokok. Tidak ada tingkat aman paparan asap
rokok untuk perokok pasif. Sekitar 3000 kematian kanker paru berhubungan dengan
asap rokok/perokok pasif tiap tahunnya di Amerika
2.2.3. Polusi Udara
Penyebab umum lainnya dari kanker paru-paru adalah polusi tingkat tinggi, radiasi
(terutama paparan radon), dan asbes. Pajanan yang lama atau berkepanjangan pada
agen industri seperti radiasi pengion, debu batu bara, nikel, uranium, kromium,
formaldehida, dan arsenik juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru,
terutama pada perokok.
2.2.4. Faktor-Faktor Lain
Variasi yang mencolok ada dalam kecenderungan seseorang untuk mengembangkan
kanker paru-paru. Meskipun faktor genetik belum dipahami dengan baik, mutasi
pada gen reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) dapat dikaitkan dengan
kanker paru-paru keluarga. Teori lain menjelaskan bahwa orang memiliki jalur
metabolisme karsinogen genetik yang berbeda. Ini mungkin menjelaskan mengapa
beberapa perokok berkembang menjadi kanker paru-paru dan yang lainnya tidak.
Perbedaan dalam kejadian kanker paru-paru, faktor risiko, dan kelangsungan hidup
ada antara pria dan wanita. Pengaruh genetik, hormonal, dan molekuler dapat

4
berkontribusi terhadap perbedaan-perbedaan ini. Perokok wanita memiliki yang
lebih tinggi risiko relatif terkena kanker paru-paru daripada perokok pria.
2.2.5. Faktor Risiko Genetik
Riwayat keluarga terkait penetrasi gen yang tinggi. Riwayat keluarga yang positif
dari kanker paru-paru telah ditemukan sebagai faktor risiko pada beberapa penelitian
berbasis registrasi yang telah melaporkan risiko keluarga yang tinggi untuk kanker
paru-paru dengan onset dini. Peningkatan risiko relatif ditemukan bahkan setelah
penyesuaian berhati-hati untuk merokok . Analisis keterkaitan silsilah berisiko tinggi
mengidentifikasi lokus majorsusceptibilitas terhadap kromosom 6q23-25. Risiko
kanker paru-paru juga meningkat dalam kerangka sindrom Li-Fraumeni, ditandai
oleh mutasi germline pada gen penekan tumor p53 (Malhotra, Malvezzi, Negri, La
Vecchia, & Boffetta, 2016)
2.2.6. Polimorfisme Genetik
Studi asosiasi genome-wide (GWA) terbaru telah mampu mengidentifikasi beberapa
polimorfisme genetik risiko kanker paru yang mendasari tiga lokus kerentanan
utama yang diidentifikasi adalah di wilayah 15q25, 5p15, dan 6p21 (Malhotra et al.,
2016).

2.3.Patofisiologi
Jaringan paru normal terdiri atas sel-sel terprogram oleh gen untuk menciptakan sel-sel
paru dengan ukuran dan bentuk tertentu dan menjalankan fungsi yang spresifik. Kanker
paru-paru timbul dari sel-sel ini mengalami mutasi dan bereeplikasi secara berlebihan
(Black, 2014). Karsinogen (asap rokok, gas radon, agen pekerjaan dan lingkungan lainnya)
yang merupakan penyebab utama kannker berikatan dengan DNA sel dan merusaknya.
Kerusakan ini menghasilkan perubahan sel, pertumbuhan sel yang tidak normal, dan
akhirnya sel ganas. Ketika DNA yang rusak diteruskan ke sel anak, DNA mengalami
perubahan lebih lanjut dan menjadi tidak stabil. Dengan akumulasi perubahan genetik,
epitel paru mengalami transformasi ganas dari epitel normal ke karsinoma invasif akhirnya
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2009).
Jaringan kanker paru tidak memiliki fungsi biologis. Sel karsinoma yang invasif menyerang
jaringan sekitar paru. Hal ini akan membatasi ekspansi dari lobus paru yang terserang dan
mengganggu pertukaran gas oksigen dan karbondioksida sehingga penderita menjadi sesak.
Selain itu dengan hasil biopsi ditemukan small cell lung carcinoma yang memiliki laju
pertumbuhan yang cepat dan dengan karakteristik metastasis ke mediastinum, struktur

5
thoraks dan ektratorak sehingga pada tipe ini sering ditemukan adanya efusi pleura. Hal
tersebut menambah berat sesak yang dirasakan akibat respon tubuh kekurangan aliran
oksigen yang adekuat (Black, 2014).
Laju pertumbuhan small cell lung carcinoma yang cepat tentunya memerlukan energi yang
besar dalam mereplikasi sel kankernya, untuk itu sel karsinoma ini “merampok” nutrisi dari
tubuh. Akibatnya nutrisi untuk keperluan metabolisme sel lainnya menjadi berkurang
termasuk sel darah. Dalam kasus ditemukan bahwa klien mengalami penurunan berat badan
sekitar 10 kg dalam beberapa bulan terakhir sehingga klien tampak kurus. Dampak dari hal
tersebut maka homeostasis sel menjadi terganggu yang bermanifestasi terhadap muka
menjadi lebih tampak tua (karena lapisan lemak dan kolagen berkuran) dan tampak pucat
(bisa juga diperparah dengan anemia) (Borghaei et al., 2015).
Sebenarnya sistem imun tidak tinggal diam disaat terjadi perubahan sel kanker. Sel-sel
kanker dapat dianggap sebagai non-sel dan mendapatkan respons imun yang
mengakibatkan penolakan dan menghancurkannya. Namun, tidak seperti sel yang
ditransplantasikan, sel kanker muncul dari sel manusia normal dan, meskipun mereka
bermutasi dan berbeda, respon imun yang menyerang terhadap sel kanker mungkin tidak
memadai untuk secara efektif membunuh mereka.
Sel-sel kanker dapat menampilkan antigen permukaan sel yang berubah sebagai akibat dari
transformasi ganas. Antigen ini disebut antigen terkait tumor (TAA). Dipercaya bahwa
salah satu fungsi sistem kekebalan tubuh adalah merespons TAA. Respons sistem
kekebalan terhadap antigen sel-sel ganas disebut pengawasan imunologis. Dalam proses ini
limfosit terus menerus memeriksa antigen permukaan sel dan mendeteksi dan
menghancurkan sel dengan penentu antigenik yang berubah atau abnormal.
Respon kekebalan terhadap sel-sel ganas melibatkan sel T sitotoksik, sel Natural Killer
(NK), makrofag, dan sel B. Sel T sitotoksik memainkan peran dominan dalam menahan
pertumbuhan tumor. Sel T juga penting dalam produksi sitokin (mis., Interleukin-2 [IL-2]
dan γ-interferon), yang merangsang sel T, sel NK, sel B, dan makrofag. Sel-sel natural
killer (NK) dapat langsung melisiskan sel-sel tumor secara spontan tanpa sensitisasi
sebelumnya. Sel-sel ini distimulasi oleh γ-interferon dan IL-2 (dilepaskan dari sel T),
menghasilkan peningkatan aktivitas sitotoksik.
Monosit dan makrofag memiliki beberapa peran penting dalam imunitas tumor. Makrofag
dapat diaktifkan oleh interferon (diproduksi oleh sel T) untuk menjadi penyerang khusus
untuk sel tumor. Makrofag juga mengeluarkan sitokin, termasuk interleukin-1 (IL-1),
faktor nekrosis tumor (TNF), dan faktor perangsang koloni (CSF). Pelepasan IL-1,

6
ditambah dengan presentasi dari antigen yang diproses, merangsang aktivasi dan produksi
limfosit T. α-Interferon menambah kemampuan sel NK untuk membunuh. TNF
menyebabkan nekrosis hemoragik tumor dan memberikan tindakan sitosidal atau sitostatik
terhadap sel tumor. CSFs mengatur produksi berbagai sel darah di sumsum tulang dan
menstimulasi fungsi berbagai sel darah merah. Sel B dapat menghasilkan antibodi spesifik
yang berikatan dengan sel tumor. Antibodi ini sering terdeteksi dalam serum dan saliva
pasien.
Proses di mana sel-sel kanker menghindari sistem kekebalan tubuh disebut pelarian
imunologis. Mekanisme berteori dimana sel-sel kanker dapat lolos dari pengawasan
imunologi termasuk (1) penekanan faktor-faktor yang merangsang sel T untuk bereaksi
terhadap sel-sel kanker; (2) antigen permukaan yang lemah memungkinkan sel kanker
untuk "menyelinap" melalui pengawasan imunologis; (3) pengembangan toleransi sistem
kekebalan terhadap beberapa antigen tumor; (4) penekanan respon imun oleh produk yang
disekresikan oleh sel kanker; (5) induksi sel T sitotoksik oleh tumor; dan (6) memblokir
antibodi yang mengikat TAA, sehingga mencegah mereka dikenali oleh sel T (Lewis et al.,
2016).

2.4.Manisfestasi Klinis
Kanker paru dapat menyerupai tanda dan gejala penyakit paru lainnya. Temuan
pemeriksaan klinis yang spesifik dapat bervariasi tergantung jenis kankes. Lokasi dan luas
tumor dan kesehatan paru sebelumnya. Small cell lung carcinoma sering menyebabkan
hemoptisis. Sel ini dapat meluas hingga perikardium, menyebabkan efusi perikardial dan
mungkinjuga tamponade kordis sehingga disritmia jantung dapat terjadi. Selain itu
karakteristik small cell lung carcinoma umumnya bermanisfestasi sebagai massa hilus atau
massa tengah dan dapat menekan bronkus. Selanjutnya bermetastasis dan menyerang
syaraf frenikus dan suara menjadi serak. Perubahan pola pernafasan, efusi pleura dan batuk
persisten merupakan tanda yang sering muncul pada kaker tipe ini. Nyeri dada, bahu,
punggung dan lengan juga merupakan salah satu tanda kanker paru. Selain tanda-tanda
lokal, kanker paru juga berdampak terhadap bagian tubuh lainnya. Rasa lelah, pucat, dan
penurunan berat badan yang sulit dijelaskan merupakan salah satu tanda kanker (Black,
2014; Smeltzer et al., 2009).

7
2.5.Tatalaksana
2.5.1. Tatalaksana pada kanker paru bukan sel kecil/ NSCLC
merupakan standar (perawatan yang saat ini digunakan) dan beberapa sedang diuji
dalam uji klinis. Uji klinis perawatan adalah studi penelitian yang dimaksudkan untuk
membantu meningkatkan perawatan saat ini atau mendapatkan informasi tentang
perawatan baru untuk pasien dengan kanker. Tatalaksana standar antara lain:
2.5.1.1. Pembedahan
Merupakan tatalaksana pilihan pada NSCLC stage I hingga IIIA tanpa keterlibatan
mediastinum karena pembedahan memberikan peluang terbaik untuk
penyembuhan. Hal ini juga dipengaruhi oleh ukuran tumor primer dan komorbid.
Pembedahan umumnya tidak diindikasikan untuk SCLC karena pertumbuhan dan
penyebarannya yang cepat pada saat diagnosis. Ketika tumor dianggap dapat
dioperasi, status kardiopulmoner (penilaian status paru dan ABG’s) pasien harus
dievaluasi untuk menentukan kemampuan dalam operasi (Lewis, Dirksen,
Heitkemper, Bucher, & Harding, 2014).
Tipe pembedahan yang dilakukan adalah Wedge Resection adalah Pembedahan
untuk mengangkat tumor dan beberapa jaringan normal di sekitarnya. Ketika
diambil jumlah jaringan yang sedikit lebih besar, itu disebut reseksi segmental
(Lampiran 3). Lobektomi merupakan pembedahan untuk mengangkat seluruh
lobus (bagian) paru-paru (Lampiran 4). Pneumonectomi adalah pembedahan untuk
mengangkat satu paru-paru utuh (lampiran 5). Sleeve Resection adalah
pembedahan untuk mengangkat bronkus. Setelah dokter mengangkat semua kanker
yang dapat dilihat pada saat operasi, beberapa pasien dapat diberikan kemoterapi
atau terapi radiasi setelah operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa.
Perawatan yang diberikan setelah operasi, untuk menurunkan risiko kanker akan
kembali, disebut terapi adjuvant (National Cancer Institute, 2013).
2.5.1.2. Terapi Radiasi
Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan sinar-X berenergi
tinggi atau jenis radiasi lain untuk membunuh sel-sel kanker atau menjaga mereka
agar tidak tumbuh. Ada dua jenis terapi radiasi: a. Terapi radiasi eksternal
menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi ke arah kanker. b. Terapi
radiasi internal menggunakan zat radioaktif yang disegel dalam jarum, biji, kabel,
atau kateter yang ditempatkan langsung ke dalam atau di dekat kanker (National
Cancer Institute, 2013).

8
Terapi radiasi tubuh stereotaktik adalah jenis terapi radiasi eksternal. Peralatan
khusus digunakan untuk menempatkan pasien pada posisi yang sama untuk setiap
perawatan radiasi. Sekali sehari selama beberapa hari, mesin radiasi bertujuan
mengatur dosis radiasi yang lebih besar dari biasanya langsung pada tumor.
Memiliki efek lebih sedikit kerusakan pada jaringan sehat di dekatnya. Prosedur
ini juga disebut terapi radiasi sinar eksternal stereotaktik dan terapi radiasi
stereotoksik. Stereotactic radiosurgery adalah jenis terapi radiasi eksternal yang
digunakan untuk mengobati kanker paru-paru yang telah menyebar ke otak.
Kerangka kepala kaku dipasang pada tengkorak untuk menjaga kepala tetap diam
selama perawatan radiasi. Untuk tumor di saluran napas, radiasi diberikan
langsung ke tumor melalui endoskopi (National Cancer Institute, 2013).
Terapi radiasi dapat digunakan sebagai pengobatan untuk NSCLC dan SCLC.
Terapi radiasi mungkin diberikan sebagai terapi kuratif, terapi paliatif (untuk
meredakan gejala), atau terapi tambahan dalam kombinasi dengan operasi atau
kemoterapi. Terapi radiasi dapat digunakan sebagai terapi primer dalam individu
yang tidak dapat mentoleransi reseksi bedah karena komorbiditas; pembedahan
memiliki resiko tinggi; tumor tidak dapat dioperasi dan menolak torakotomi (Black
& H, 2014; Lewis et al., 2014).
Terapi radiasi juga mengurangi gejala dispnea dan hemoptisis akibat obstruktif
bronkus tumor dan mengobati sindrom vena cava superior serta digunakan untuk
mengobati rasa sakit yang disebabkan oleh lesi tulang metastatik atau metastasis
otak. Terkadang radiasi digunakan sebelum operasi untuk mengurangi massa tumor
sebelum reseksi bedah. Metode pemindaian CT sering dilakukan untuk
meminimalkan dampak kerusakan pada jaringan sekitar. Komplikasi terapi radiasi
termasuk esofagitis, iritasi kulit, mual dan muntah, anoreksia, dan pneumonitis
(Lewis et al., 2014).
2.5.1.3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat-obatan untuk
menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan
menghentikannya pembelahannya. Ketika kemoterapi diminum atau disuntikkan
ke pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel
kanker di seluruh tubuh (kemoterapi sistemik). Ketika kemoterapi ditempatkan
langsung ke dalam cairan serebrospinal, organ, atau rongga tubuh seperti perut,

9
obat-obatan terutama mempengaruhi sel-sel kanker di daerah tersebut (kemoterapi
regional) (National Cancer Institute, 2013).
Kemoterapi adalah perawatan utama untuk SCLC. Dalam NSCLC, kemoterapi
dapat digunakan dalam perawatan kanker yang tidak dapat dioperasi atau sebagai
terapi tambahan untuk operasi tetapi biasanya tidak menunjukkan perbaikan. Cara
kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker yang sedang
dirawat. Berbagai obat kemoterapi dan rejimen multidrug telah digunakan.
Kemoterapi untuk paru-paru kanker biasanya terdiri dari kombinasi dua atau lebih
dari obat, misalnya: etoposide (VePesid), carboplatin (Paraplatin), cisplatin
(Platinol), paclitaxel (Taxol), vinorelbine (Navelbine), cyclophosphamide
(Cytoxan), ifosfamide (Ifex), docetaxel (Taxotere), gemcitabine (Gemzar), and
pemetrexed (Alimta) (Lewis et al., 2014; National Cancer Institute, 2013).
Untuk kombinasi 2 obat kemo sering digunakan untuk mengobati kanker paru-paru
stadium awal. Jika kombinasi digunakan, itu sering termasuk cisplatin-gemcitabin
atau carboplatin-taxol. Kanker paru dengan obat kemo tunggal terutama seperti
mereka yang kesehatannya buruk secara keseluruhan atau yang berusia lanjut.
Kemoterapi diberikan dalam siklus, dengan setiap periode pengobatan diikuti oleh
periode istirahat. Siklus paling sering panjangnya 3 atau 4 minggu. Jadwal
bervariasi tergantung pada obat yang digunakan. Efek samping tergantung pada
jenis dan dosis obat yang diberikan dan berapa lama mereka diminum. Beberapa
efek samping yang umum termasuk: rambut rontok, sariawan, kehilangan nafsu
makan atau perubahan berat badan, mual dan muntah, diare atau sembelit. Kemo
juga dapat mempengaruhi sel-sel pembentuk darah dari sumsum tulang, yang dapat
menyebabkan: jumlah sel darah putih rendah, memar atau pendarahan mudah (dari
jumlah trombosit darah rendah) dan kelelahan (dari jumlah sel darah merah rendah)
(American Cancer Society, 2011).
Efek samping ini biasanya hilang setelah perawatan selesai. Sering ada cara untuk
mengurangi efek samping ini. Misalnya, obat-obatan dapat diberikan untuk
membantu mencegah atau mengurangi mual dan muntah. Beberapa obat dapat
memiliki efek samping tertentu. Misalnya, obat-obatan seperti cisplatin,
vinorelbine, docetaxel, atau paclitaxel dapat menyebabkan kerusakan saraf
(neuropati perifer). Ini kadang-kadang dapat menyebabkan gejala (terutama di
tangan dan kaki) seperti rasa sakit, sensasi terbakar atau kesemutan, sensitivitas
terhadap dingin atau panas, atau kelemahan. Pada kebanyakan orang, hal ini hilang

10
atau membaik setelah pengobatan dihentikan, tetapi mungkin bertahan lama pada
orang lain (American Cancer Society, 2011).
2.5.1.4. Target Terapi
Adalah jenis perawatan yang menggunakan obat atau zat lain untuk menyerang sel
kanker tertentu. Terapi yang ditargetkan biasanya menyebabkan lebih sedikit
kerusakan pada sel-sel normal daripada kemoterapi atau terapi radiasi yaitu
antibodi monoklal dan tyrosin kinase inhibitor. Antibodi menempel pada zat-zat
itu dan membunuh sel-sel kanker, menghambat pertumbuhannya, atau
mencegahnya menyebar. Antibodi monoklonal diberikan melalui infus. Mereka
dapat digunakan sendiri atau untuk membawa obat-obatan, racun, atau bahan
radioaktif langsung ke sel kanker. Ada beberapa jenis terapi antibodi monoklonal
(American Cancer Society, 2011; National Cancer Institute, 2013):
Terapi penghambat faktor pertumbuhan endotel pembuluh darah (VEGF): Sel
kanker membuat zat yang disebut VEGF, yang menyebabkan pembuluh darah baru
terbentuk (angiogenesis) dan membantu kanker tumbuh. Inhibitor VEGF
memblokir VEGF dan menghentikan pembentukan pembuluh darah baru. Ini dapat
membunuh sel kanker karena mereka membutuhkan pembuluh darah baru untuk
tumbuh. Bevacizumab dan ramucirumab adalah penghambat VEGF dan
penghambat angiogenesis. Efek sampingnya adalah tekanan darah tinggi,
kelelahan, perdarahan, jumlah sel darah putih yang rendah (dengan peningkatan
risiko infeksi), sakit kepala, sariawan, kehilangan selera makan, dan diare.
Terapi penghambat faktor pertumbuhan epidermal (EGFR): EGFR adalah protein
yang ditemukan pada permukaan sel tertentu, termasuk sel kanker. Faktor
pertumbuhan epidermal menempel pada EGFR pada permukaan sel dan
menyebabkan sel tumbuh dan membelah. Inhibitor EGFR memblokir reseptor dan
menghentikan faktor pertumbuhan epidermis pada sel kanker. Ini menghentikan
sel kanker tumbuh dan membelah. Cetuximab dan necitumumab adalah
penghambat EGFR. Dengan efek samping masalah kulit, diare, sariawan, dan
kehilangan berat badan.
Inhibitor tirosin kinase adalah obat molekul kecil yang melewati membran sel dan
bekerja di dalam sel kanker untuk memblokir sinyal bahwa sel kanker perlu tumbuh
dan membelah. Beberapa inhibitor tirosin kinase juga memiliki efek inhibitor
angiogenesis. Ada berbagai jenis inhibitor tirosin kinase:

11
Inhibitor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) tirosin kinase: EGFR adalah
protein yang ditemukan di permukaan dan di dalam sel-sel tertentu, termasuk sel
kanker. Faktor pertumbuhan epidermal melekat pada EGFR di dalam sel dan
mengirimkan sinyal ke daerah tirosin kinase sel, yang memberitahu sel untuk
tumbuh dan membelah. Inhibitor tirosin kinase EGFR menghentikan sinyal-sinyal
ini dan menghentikan pertumbuhan dan pembelahan sel kanker. Erlotinib,
gefitinib, afatinib, dan osimertinib adalah jenis inhibitor tirosin kinase EGFR.
Beberapa obat ini bekerja lebih baik ketika ada juga mutasi (perubahan) pada gen
EGFR.
Inhibitor kinase yang memengaruhi sel dengan perubahan gen tertentu: Perubahan
tertentu pada gen ALK, ROS1, BRAF, dan MEK, dan fusi gen NTRK,
menyebabkan terlalu banyak protein yang dibuat. Memblokir protein-protein ini
dapat menghentikan pertumbuhan dan penyebaran kanker. Crizotinib digunakan
untuk menghentikan protein yang dibuat oleh gen ALK dan ROS1. Ceritinib,
alectinib, brigatinib, dan lorlatinib digunakan untuk menghentikan protein yang
dibuat oleh gen ALK. Dabrafenib digunakan untuk menghentikan protein yang
dibuat oleh gen BRAF. Trametinib digunakan untuk menghentikan protein yang
dibuat oleh gen MEK. Larotrectinib digunakan untuk menghentikan protein yang
dibuat oleh fusi gen NTRK.
2.5.1.5. Imunoterapi
Imunoterapi adalah perawatan yang menggunakan sistem kekebalan tubuh pasien
untuk melawan kanker. Zat yang dibuat oleh tubuh atau dibuat di laboratorium
digunakan untuk meningkatkan, mengarahkan, atau memulihkan pertahanan alami
tubuh terhadap kanker. Jenis pengobatan kanker ini juga disebut bioterapi atau
terapi biologis.
Terapi inhibitor pos pemeriksaan imun adalah jenis imunoterapi. Terapi inhibitor
pos pemeriksaan imun: PD-1 adalah protein pada permukaan sel T yang membantu
menjaga respons kekebalan tubuh tetap terkendali. Ketika PD-1 menempel pada
protein lain yang disebut PDL-1 pada sel kanker, itu menghentikan sel T dari
membunuh sel kanker. Inhibitor PD-1 menempel pada PDL-1 dan memungkinkan
sel T untuk membunuh sel kanker. Nivolumab, pembrolizumab, atezolizumab, dan
durvalumab adalah jenis inhibitor pos pemeriksaan imun.
Efek samping dari obat ini dapat meliputi kelelahan, batuk, mual, gatal, ruam kulit,
kehilangan nafsu makan, sembelit, nyeri sendi, dan diare. Efek samping yang lebih

12
serius jarang terjadi: Reaksi infus (reaksi alergi, dan bisa termasuk demam,
kedinginan, muka memerah, ruam, kulit gatal, merasa pusing, mengi, dan sulit
bernapas) dan reaksi autoimun (American Cancer Society, 2011; National Cancer
Institute, 2013).
2.5.1.6. Terapi laser
Terapi laser adalah perawatan kanker yang menggunakan sinar laser (sinar sempit
cahaya intens) untuk membunuh sel kanker.
2.5.1.7. Terapi Photodynamic (PDT)
Terapi Photodynamic (PDT) adalah perawatan kanker yang menggunakan obat dan
jenis sinar laser tertentu untuk membunuh sel kanker. Ini digunakan terutama untuk
mengobati tumor pada atau tepat di bawah kulit atau di lapisan organ dalam.
2.5.1.8. Cryosurgery
Cryosurgery adalah perawatan yang menggunakan alat untuk membekukan dan
menghancurkan jaringan abnormal, seperti karsinoma in situ. Jenis perawatan ini
juga disebut cryotherapy. Untuk tumor di saluran udara, cryosurgery dilakukan
melalui endoskop.
2.5.1.9. Electrocautery
Electrocautery adalah perawatan yang menggunakan probe atau jarum yang
dipanaskan oleh arus listrik untuk menghancurkan jaringan abnormal. Untuk tumor
di saluran napas, elektrokauter dilakukan melalui endoskop.
2.5.1.10. Watchful waiting sedang memonitor kondisi pasien tanpa memberikan perawatan
apa pun sampai tanda atau gejala muncul atau berubah. Ini dapat dilakukan pada
kasus kanker paru non sel kecil yang jarang terjadi.
Tatalaksana baru NSCLC sedang diuji dalam uji klinis yaitu Chemoprevention
adalah penggunaan obat-obatan, vitamin, atau zat lain untuk mengurangi risiko
kanker atau untuk mengurangi risiko kanker akan kambuh (kembali). Untuk kanker
paru-paru, chemoprevention digunakan untuk mengurangi kemungkinan tumor baru
terbentuk di paru-paru. Dan Radiosensitizers adalah zat yang membuat sel-sel tumor
lebih mudah untuk dibunuh dengan terapi radiasi. Kombinasi kemoterapi dan terapi
radiasi yang diberikan dengan radiosensitizer sedang dipelajari dalam pengobatan
kanker paru-paru non-sel kecil.
Tatalaksana NSCLC berdasarkan stage tersembunyi, sel-sel ganas terlihat pada
sitologi dahak tetapi tidak ada tumor yang jelas dapat ditemukan dengan
bronkoskopi atau tes pencitraan sehingga bronkoskopi perlu diulang. Stage 0:

13
Pembedahan pilihan utama yang menyembuhkan, dapat diikuti terapi fotodinamik
(PDT), terapi laser, atau brachytherapy (radiasi internal) dapat menjadi alternatif
untuk pembedahan. Stage 1: operasi mungkin merupakan satu-satunya perawatan
yang dibutuhkan. Untuk pasien dengan stadium I NSCLC yang memiliki risiko lebih
tinggi untuk kembali (berdasarkan ukuran, lokasi, atau faktor lain), kemoterapi
ajuvan setelah operasi dapat menurunkan risiko yang kanker akan kembali. Pilihan
lain mungkin menggunakan terapi radiasi setelah operasi.
Jika pasien memiliki masalah kesehatan serius yang mencegah dari operasi, mungkin
mendapatkan terapi radiasi tubuh stereotactic (SBRT) atau jenis terapi radiasi lain
sebagai perawatan utama. Stage II yaitu Pasien NSCLC stadium II dan cukup sehat
untuk pembedahan biasanya kankernya diangkat dengan lobektomi atau seluruh
paru-paru (pneumonectomy) diperlukan. Setiap kelenjar getah bening yang
kemungkinan memiliki kanker di dalamnya juga diangkat. Ini mungkin diikuti oleh
kemoterapi (kemoterapi). Pilihan lain adalah mengobati dengan radiasi, terkadang
dengan kemoterapi.

Perawatan untuk stadium IIIA NSCLC dapat mencakup beberapa kombinasi terapi
radiasi, kemoterapi (kemo), dan / atau pembedahan. Jika operasi, radiasi atau
kemoradiasi tidak dianggap sebagai opsi perawatan yang dapat ditoleransi,
imunoterapi dengan pembrolizumab dapat dianggap sebagai pengobatan pertama.
Pada stage IIIB, jika kesehatan pasien cukup baik maka kemoradiasi. Beberapa
pasien dapat sembuh dengan terapi ini. Jika pasien yang tidak cukup sehat untuk
kombinasi ini sering diobati dengan terapi radiasi saja, atau, lebih jarang, kemo saja.
Jika operasi, radiasi, atau kemoradiasi tidak dianggap sebagai opsi perawatan yang
dapat ditoleransi, imunoterapi dengan pembrolizumab dapat dianggap sebagai
pengobatan pertama. Dan pada stage IV, pasien berada dalam kondisi kesehatan
yang baik, perawatan seperti pembedahan, kemoterapi (kemoterapi), terapi
bertarget, imunoterapi, dan terapi radiasi dapat membantu hidup lebih lama dan
membuat pasien merasa lebih baik dengan menghilangkan gejala, meskipun mereka
tidak mungkin menyembuhkan Anda.

2.5.2. Tatalaksana pada karsinoma sel kecil/SCLC


Kemoterapi biasanya merupakan bagian dari perawatan untuk kanker paru-paru sel
kecil (SCLC). Ini karena SCLC biasanya sudah menyebar pada saat ditemukan, jadi
perawatan lain seperti operasi atau terapi radiasi tidak akan menjangkau semua area

14
kanker. Untuk orang-orang dengan SCLC tahap terbatas, kemo sering diberikan dengan
terapi radiasi. Ini dikenal sebagai chemoradiation. Untuk orang-orang dengan SCLC
stadium luas, kemo dengan atau tanpa imunoterapi biasanya merupakan perawatan
utama.
Terapi radiasi yang dapat dilakukan adalah Radiasi Cranial profilaksis. Kemoterapi
tidak menembus sawar darah-otak. Karena itu setelah perawatan sistemik yang berhasil,
pasien berada di risiko metastasis otak. Radiasi profilaksis telah terbukti mengurangi
kejadian metastasis otak dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pada pasien
dengan SCLC terbatas. Selain itu imunoterapi juga dapat diberikan seperti immune
checkpoints inhibitors. Pembedahan jarang digunakan sebagai bagian dari pengobatan
utama untuk kanker paru-paru sel kecil (SCLC), karena kanker biasanya sudah
menyebar pada saat ditemukan. Pembedahan mungkin menjadi pilihan untuk kanker
tahap awal ini, biasanya diikuti oleh perawatan tambahan (kemoterapi).
Terapi pada SCLC berdasarkan:
a. Stage terbatas yaitu kombinasi kemoterapi dan terapi radiasi ke dada; Kombinasi
kemoterapi saja untuk pasien yang tidak dapat diberikan terapi radiasi; Pembedahan
diikuti dengan kemoterapi; Pembedahan diikuti oleh kemoterapi dan terapi radiasi;
Terapi radiasi ke otak dapat diberikan kepada pasien yang telah memiliki respons
lengkap, untuk mencegah penyebaran kanker ke otak.
b. Stage luas: jika pasien memiliki SCLC yang luas dan dalam kesehatan yang cukup
baik, kemoterapi (kemo), mungkin bersama dengan obat imunoterapi, biasanya
merupakan pengobatan pertama. Ini sering dapat mengecilkan kanker, mengobati
gejala dan membantu pasien hidup lebih lama. Kemudian jika kanker merespon
dengan baik terhadap pengobatan awal, radiasi ke dada dapat diberikan. Ini dapat
membantu orang-orang dengan SCLC luas hidup lebih lama. Radiasi ke otak
(iradiasi kranial profilaksis, atau PCI) juga dapat dipertimbangkan untuk membantu
mencegah perkembangan kanker di otak.

2.6. Pemeriksaan Penunjang


Kanker paru memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah. Penegakan
diagnosis penyakit ini membutuhkan keterampilan dan sarana yang tidak sederhana dan
memerlukan pendekatan yang erat dan kerja sama multidisiplin. Penemuan kanker paru
pada stadium dini akan sangat membantu penderita, dan penemuan diagnosis dalam waktu
yang lebih cepat memungkinkan penderita memperoleh kualitas hidup yang lebih baik

15
dalam perjalanan penyakitnya meskipun tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Kanker
paru ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan
pemeriksaan patologi anatomic. Pada penulisan ini penulis fokus pada pemeriksaan
penunjang pada kanker paru yang terbagi dalam 5 kategori yaitu:
2.6.1. Pemeriksaaan patologi anatomi
Pemeriksaan patologi anatomi mencakup pemeriksaan sitologi dan histopatologi,
pemeriksaan imunohistokimia untuk menentukan jenis tumor (mis. TTF-1 dan lain-
lain), dan pemeriksaan petanda molekulerPeranan Pemeriksaan PA dalam diagnosis
kanker bertujuan untuk melihat berbagai bentuk kelainan struktural dan morfologik
dari jaringan atau sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan yang mendasari
penyakit melalui pemeriksaan mikroskopik. Secara garis besar ada 2 macam
pemeriksaan dasar yang dilakukan yaitu pemeriksaan histopatologi dan sitologi.
Pemeriksaan histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, di
mana jaringan itu akan melalui beberapa tahapan pemeriksaan yang lengkap
dimulai dari fiksasi (pengawetan), pemotongan makroskopis, diproses sampai siap
menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukaan pembacaan secara
mikroskopis untuk penentuan diagnosis. Pemeriksaan sitologi adalah memeriksa
kelompok sel penyusun jaringan tersebut. Perbedaan utama antara pemeriksaan
histopatologi dan sitologi adalah di mana pada pemeriksaan histopatolologi akan
tampak asal struktur jaringan, sedangkan pada pemeriksaan sitologi hanya tampak
gambaran sel-sel tubuh secara umum tanpa terlihat struktur jaringannya.
2.6.2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada pasien kanker antara lain pemeriksaan darah rutin
seperti Hb, Leukosit, trombosit, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Pemeriksaan
laboratorium dilakukan untuk mendeteksi penyakit penyerta pada kanker paru-paru,
misalnya infeksi. Pemeriksaan protein LG3BP dan C163A konsentrasi plasma yang
memprediksi jenis kanker ini. Pemeriksaan dengan laboratorium darah ini
dilakukan dan dikembangkan guna kedepannya meminimalkan tindakan invasive
(Silvestri et al., 2018).
2.6.3. Pemeriksaan pencitraan
Foto toraks AP/lateral merupakan pemeriksaan awal untuk menilai pasien dengan
kecurigaan terkena kanker paru. Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, lokasi lesi dan
tindakan selanjutnya termasuk prosedur diagnosis penunjang dan penanganan dapat
ditentukan. Jika pada foto toraks ditemukan lesi yang dicurigai sebagai keganasan,

16
maka pemeriksaan CT scan toraks wajib dilakukan untuk mengevaluasi lesi
tersebut. CT scan toraks dengan kontras merupakan pemeriksaan yang penting
untuk mendiagnosa, menentukan stadium penyakit, dan menentukan segmen paru
yang terlibat secara tepat. CT scan toraks dapat diperluas hingga kelenjar adrenal
untuk menilai kemungkinan metastasis hingga regio tersebut. CT scan kepala/MRI
kepala dengan kontras diindikasikan bila penderita mengeluh nyeri kepala hebat
untuk menilai kemungkinan adanya metastasis ke otak. Pemeriksaan lainnya seperti
USG abdomen dilakukan kecuali pada stadium IV, bone scan dilakukan untuk
mendeteksi metastasis ke tulang-tulang, bone survey dilakukan jika fasilitas bone
scan tidak ada, dan PET Scan dilakukan untuk mengevaluasi hasil pengobatan.
Positron Emission Tomography atau biasa disingkat PET scan adalah alat yang
memancarkan sinar radiasi untuk menunjukkan aktivitas sekecil apapun dalam
tubuh manusia, bahkan hingga pada tingkat sel (Komite Penanggulangan Kanker
Nasional, 2017).
2.6.4. Pemeriksaan Khusus
Bronkoskopi adalah prosedur utama untuk mendiagnosis kanker paru. Prosedur ini
dapat membantu menentukan lokasi lesi primer, pertumbuhan tumor intraluminal
dan mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan sitologi dan histopatologi, sehingga
diagnosis dan stadium kanker paru dapat ditentukan. Salah satu metode terkini
adalah bronkoskopi fleksibel yang dapat menilai paru hingga sebagian besar
bronkus derajat ke-empat, dan kadang hingga derajat ke-enam. Spesimen untuk
menghasilkan pemeriksaan sitologi dan histologi didapat melalui bilasan bronkus,
sikatan bronkus dan biopsi bronkus. Prosedur ini dapat memberikan hingga >90%
diagnosa kanker paru dengan tepat, terutama kanker paru dengan lesi pada regio
sentral. Kontraindikasi prosedur bronkoskopi ini yaitu hipertensi pulmoner berat,
instabilitas kardiovaskular, hipoksemia refrakter akibat pemberian oksigen
tambahan, perdarahan yang tidak dapat berhenti, dan hiperkapnia akut. Komplikasi
yang dapat terjadi antara lain pneumotoraks dan perdarahan. Bila tersedia,
pemeriksaan Endobrachial Ultrasound (EBUS) dapat dilakukan untuk membantu
menilai kelenjar getah bening mediastinal, hilus, intrapulmoner juga untuk
penilaian lesi perifer dan saluran pernapasan, serta mendapatkan jaringan sitologi
dan histopatologi pada kelenjar getah bening yang terlihat pada CT scan toraks
maupun PET CT scan. Biopsi transtorakal (transthoracal biopsy/TTB) merupakan
tindakan biopsi paru transtorakal yang dapat dilakukan tanpa tuntunan radiologic

17
(blinded TTB) maupun dengan tuntunan USG (USG-guided TTB) atau CT scan
toraks (CT-guided TTB) untuk mendapatkan sitologi atau histopatologi kanker
paru. Tindakan biopsi lain, seperti aspirasi jarum halus kelenjar untuk pembesaran
kelenjar getah bening, maupun biopsi pleura dapat dilakukan bila diperlukan
(Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2017).
2.6.5. Pemeriksaan lainya
Pemeriksaan Lainnya Pleuroscopy dilakukan untuk melihat masalah intrapleura dan
menghasilkan spesimen intrapleura untuk mendeteksi adanya sel ganas pada cairan
pleura yang dapat merubah stadium dan tatalaksana pasien kanker paru. Jika hasil
sitologi tidak menunjukkan adanya sel ganas, maka penilaian ulang atau CT scan
toraks dianjurkan. Mediastinoskopi dengan VATS kadang dilakukan untuk
mendapatkan spesimen, terutama penilaian kelenjar getah bening mediastinal, dan
torakotomi eksplorasi dilakukan sebagai modalitas terakhir, jika dengan semua
modalitas lainnya tidak ditemukan sel ganas (Komite Penanggulangan Kanker
Nasional, 2017).

18
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus 3
Seorang klaki-laki berusia 52 tahun dirawat dengan keluhan sesak napas. Klien memiliki
riwayat merokok 2 bungkus per hari. Klien mengatakan badannya selama ini emang kurus,
tetapi mengalami penurunan sekitar 10 kg dalam beberapa bulan terakhir. Pasien telah menikah
dan memiliki 3 orang anak yang telah dewasa.
Hasil pengkajian: Klien tampak kurus, pucat, tampak lebih tua dibandingkan umurnya, TB 170
cm dan BB 61 kg, frekuensi nadi 120 x/menit, frekuensi napas 36 x/menit, suhu 39,2 C.
Pergerakan dinding dada sebelah kanan terbatas, auskultasi pada paru kiri terdengar ronkhi
kasar namun bersih dengan batuk, sedangkan paru kanan terdengar suara napas menurun. Hasil
laboratorium: pH 7.21, PaO2 58 mmHg, PaCO2 82 mmHg, HCO3 33 mEq/L dan saturasi 84%.
Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan konsolidasi pada paru kanan terutama pada bagian
basal dengan kecurigaan massa pada area bronkus kanan dan efusi pleura pada paru kanan.
Hasil bronkoskopi dengan biopsi massa ditemukan small cell lung carcinoma.

3.1.Pengkajian
a. Identitas Klien
1) Nama : Tn. A
2) Usia : 52 tahun
3) Jenis kelamin : Laki-laki
4) Alamat : Jl Pondok Cina no 9A Depok
5) Pendidikan : Sarjana Muda
6) Pekerjaan : Security
7) Status : Menikah
b. Keluhan Utama Klien:
Klien mengatakan nafasnya terasa sesak
c. Riwayat penyakit sekarang
Klien dirawat di rumah sakit dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas disertai batuk
berdahak. Pergerakan dinding dada sebelah kanan terbatas, auskultasi pada paru kiri
terdengar ronkhi kasar namun bersih dengan batuk, sedangkan paru kanan terdengar

19
suara napas menurun frekuensi nadi 120 x/menit, frekuensi napas 36 x/menit, suhu 39,2
C.
d. Riwayat kesehatan sebelumnya
Klien memiliki riwayat merokok 2 bungkus perhari.
e. Pemeriksaan Fisik
1) Tanda Vital: Nadi: 120x/menit, Frekuensi nafas: 36x/menit, Suhu: 39,2oC.
2) Klien tampak kurus, pucat, tampak lebih tua dibandingkan umurnya, TB 170 cm dan
BB 61 kg. Pergerakan dinding dada sebelah kanan terbatas, auskultasi pada paru kiri
terdengar ronkhi kasar namun bersih dengan batuk, sedangkan paru kanan terdengar
suara napas menurun.
f. Pemeriksaan Penunjang
1) Hasil laboratorium: pH 7.21, PaO2 58 mmHg, PaCO2 82 mmHg, HCO3 33 mEq/L
dan saturasi 84%.
2) Hasil pemeriksaan radiologi: Konsolidasi pada paru kanan terutama pada bagian
basal dengan kecurigaan massa pada area bronkus kanan dan efusi pleura pada paru
kanan.
3) Hasil bronkoskopi dengan biopsi massa ditemukan small cell lung carcinoma.
g. Pola kesehatan fungsional

No Data kemungkinan Data yang Data yang ditemukan pada


dilaporkan (Tanda) ditunjukkan/terlihat (Gejala) Kasus

1 Aktifitas dan Istirahat: Kelesuan, terutama pada Klien hanya terbaring di


Merasa kesulitan beraktifitas stadium lanjut, batuk yang tempat ridur, Aktifitas
karena kelemahan, mudah menetap. dilakukan ditempat tidur.
lelah; kesulitan istirahat,
dispneu saat beraktifitas
2 Sirkulasi: Peningkatan tekanan vena Nadi : 120 X/menit,
Bengkak di ekstremitas, jugular, dengan obstruksi tampak cubing finger.
takikardi vena cava, Pericardial rub Klien tampak pucat.
menandakan adanya efusi,
takikardi dan disritmia,
clubbing finger.

20
3 Integritas Ego: Gelisah, mengulang-ulang Klien tampak sedih, Klien
Perasaan takut, penolakan pertanyaan. merasa hawatir dengan
terhadap beratnya kondisi, kondisi saat ini yang
dan potensi adanya bertambah memburuk.
keganasan. Dirinya takut jika sakitnya
tidak dapat disembuhkan,
karena orang kanker
biasanya akan meninggal.
Klien sering bertanya
tentang kondisi saat ini
kepada perawat.
4 Eliminasi: Perubahan pola berkemih. Klien menggunakan
Diare intermiten yang Adanya glukosa di urine kateter urin. Urine sekitar
berhubungan dengan berhubungan dengan 1500cc/24 jam
ketidakseimbangan epidermoid tumor.
hormonal, small cell lung
cancer (SCLC). Peningkatan
frekuensi dan jumlah urin
berhubungan dengan
ketidakseimbangan
hormonal (epidermoid
tumor)
5 Makanan dan Cairan: Kurus, edema di muka atau Klien tampak kurus, pucat,
Kehilangan berat badan, leher, dada, punggung, tampak lebih tua
kehilangan minat dan berhubungan dengan dibandingkan umurnya, TB
penurunan asupan makanan, obstruksi vena kava. Edema 170 cm dan BB 61 kg,
kesulitan menelan, rasa periorbita dan wajah. Klien mengatakan
haus, peningkatan asupan Anoreksia, mual, muntah, badannya selama ini
cairan. disfagia. memang kurus, tetapi
mengalami penurunan
sekitar 10 kg dalam
beberapa bulan terakhir.
Klien masih dapat makan

21
dan minum sendiri. Klien
terpasang infus RL.
6 Nyeri/ Kenyamanan: Perilaku menghindar seperti Klien mengatakan dadanya
 Nyeri dada, tidak biasa kegelisahan dan penarikan. terasa sesak, sakit saat
ada pada stadium awal Aktivitas melindungi bagian menarik nafas. Rasa sakit
dan tidak selalu ada di tubuh tertentu. seperti ditusuk-tusuk skala
stadium lanjut. nyeri 2.
 Nyeri yang mungkin
berhubungan atau tidak
berhubungan dengan
posisi.
 Nyeri perut intermiten

7 Pernapasan:  Dispnea,  RR: 36 x/menit,


 Riwayat merokok,  Peningkatan taktil  Riwayat merokok 2
pekerjaan yang terpapar fremitus menandakan bungkus perhari.
polutan, debu industry adanya konsolidasi.  Pergerakan dinding dada
seperti asbestos, besi  Krakles atau wheezing. sebelah kanan terbatas.
oksida, debu batubara, atau  Persistent crackles or  Ronkhi kasar pada paru
material radioaktif. wheezes; tracheal shift kiri namun bersih dengan
 Batuk ringan atau (space-occupying lesion) batuk, sedangkan paru
perubahan pada kebiasaan  Hemoptisis kanan terdengar suara
pola batuk, produksi  Efusi pleura, napas menurun.
sputum.  Paralsisi diafragma  Hasil radiologi
 Nafas yang pendek. unilateral menunjukan kecurigaan
 Suara menjadi keras atau efusi pleura pada paru
perubahan pada suara kanan
seperti pada paralisis vita
suara.
8 Keamanan:-  Mungkin terjadi demam,  Suhu tubuh 39,2oC
pada large cell carcinoma  Klien tampak pucat
or adenocarcinoma.

22
 Memar, perubahan warna
kulit berhubungan dengan
ketidakseimbangan
hormonal.
10 Seksualitas Amenor, impoten. Klien mengatakan selama
dirawat di tunggu oleh
istrinya. Kegiatan seksual
tidak dapat dilakukan
selama sakit.
11 Penyuluhan dan - Klien merupakan kepala
Pembelajaran: keluarga yang memiliki 3
 Factor resiko keluarga orang anak.
(keturunan) Anak klien suka menunggu
 Gagal berkembang. secara bergantian.
 Penggunaan vitamin atau Anak klien suka
herbal menyalahkan ayahnya
yang tidak mau berhenti
merokok. Klien sering
dimarahi karena
kondisinya saat ini
dianggap akibat tidak mau
mendengarkan anak-
anaknya.

23
3.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1 DS : Klien mengeluh sesak Perubahan membrane Gangguan
DO : alveolus-kapiler Pertukaran gas
 Klien tampak sesak, RR
36x/menit. Nadi 120x/menit.
 pH 7.21, PaO2 58 mmHg,
PaCO2 82 mmHg, HCO3 33
mEq/L dan saturasi 84%.
 Terdapat konsolidasi pada paru
kanan terutama pada bagian
basal dengan kecurigaan massa
pada area bronkus kanan dan
efusi pleura pada paru kanan.
 Klien tampak pucat
2. DS: (tidak ada dalam kasus) Proses penyakit Hipertermia
DO:
 Suhu 39,2oC
 Nadi 120 x/menit
 RR 36 x/menit.
 Hasil pemeriksaan radiologi
menunjukkan konsolidasi pada
paru kanan terutama pada
bagian basal dengan kecurigaan
massa pada area bronkus kanan
dan efusi pleura pada paru
kanan.
 Hasil bronkoskopi dengan biopsi
massa ditemukan small cell lung
carcinoma.
3 DS : Klien mengatakan badannya Peningkatan kebutuhan Nutrisi kurang dari
selama ini memang kurus, tetapi metabolisme kebutuhan tubuh

24
mengalami penurunan sekitar 10
kg dalam beberapa bulan terakhir.
DS :
 TB: 170 cm, BB: 61 Kg
 Klien tampak kurus, pucat,
tampak lebih tua dibandingkan
umurnya,
 Hasil bronkoskopi dengan
biopsi massa ditemukan small
cell lung carcinoma
Data yang masih diperlukan:
 Jumlah asupan makanan
4 DS: Klien mengatakan merasa Ancaman terhadap ansietas
khawatir dengan kondisinya saat kematian
ini. Klien mengatakan banyak
pasien kanker yang meninggal.
DO:
- Klien tampak gelisah, tampak
sedih.
- RR: 36x/menit. Nadi
120x/menit.
- Klien sering mengulang-ulang
pertanyaan tentang kondisinya
5 DS : klien memiliki 3 orang anak Krisis situasional Gangguan proses
yang sudah dewasa tapi belum keluarga
menikah.
DO :
- klien memiliki riwayat
merokok 2 bungkus sehari.
- Anak klien sering
menyalahkan ayahnya yang
suka merokok.

25
- Anak-anak klien suka
marah karena menganggap
ayahnya tidak menuruti
nasehat mereka.

3.3.Diagnosis Keperawatan
Dari analisa data di atas dapat ditegakkan diagnosis keperawatan sebagai berikut:
a. Gangguan pertukaran gas b.d Perubahan membrane alveolus-kapiler.
b. Hipertermi b.d Proses penyakit
c. Ansietas b.d Ancaman kematian
d. Defisit nutrisi b.d Peningkatan kebutuhan metabolism
e. Gangguan proses keluarga b.d. Krisis situasional

3.4.Intervensi Keperawatan
No DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL

1 Gangguan Menunjukkan Manajemen asam basa


pertukaran gas perbaikan ventilasi
 Pantau frekuensi,  Hipoventilasi alveolar dan
dan oksigenisasi
kedalaman, dan hipoksemia terkait memicu
jaringan yang
upaya pernapasan. gagal napas
adekuat yang
dibuktikan dengan
 Auskultasi suara  Mengidentifikasi area
AGD dalam batas
napas. penurunan ventilasi, seperti
yang dapat diterima
atelektasis
klien dan tidak ada
atau obstruksi jalan napas
gejala gawat napas

 Catat penurunan  Menandakan status asidosis


tingkat kesadaran berat, yang memerlukan
atau kewaspadaan penanganan segera.

 Pantau frekuensi dan


 Disritmia yang dapat terjadi
irama jantung.
disebabkan oleh hipoksia
(iskemia miokardium) dan
ketidakseimbangan elektrolit.

26
 Catat warna, suhu,  Diaforesis, pucat, dan kulit
dan kelembapan dingin serta lembap adalah
kulit. perubahan akhir yg dikaitkan
dg hipoksemia berat

 Anjurkan dan bantu


 Tindakan ini memperbaiki
dengan latihan napas
ventilasi paru dan mengurangi
dalam, berubah
atau mencegah obstruksi jalan
posisi, dan batuk.
napas yang berkaitan
dengan akumulasi mukus.
 Dengan adanya hipoventilasi,
 Batasi penggunaan
depresi pernapasan dan
sedatif hipnotik atau
narkosis CO, dapat terjadi.
obat penenang

 Diskusikan penyebab
 Meningkatkan partisipasi
kondisi kronis, kapan
dalam regimen terapeutik dan
diketahui, dan
dapat mengurangi
intervensi serta
kekambuhan gangguan akibat
aktivitas perawatan
PCO2 yang rendah
diri yang tepat.

Kolaborasi :
 Bantu dengan  Terapi gangguan diarahkan

mengidentifikasi dan pada perbaikan ventilasi

menangani penyebab alveolar


yang mendasari.
 Pantau dan buat  Mengevaluasi kebutuhan dan

grafik hasil keefektifan terapi.

pemeriksaan AGD
 Berikan oksigen
 mengoreksi hipoksemia dan
sesuai indikasi,
hipertensi pulmonal

 Pertahankan hidrasi
 Membantu membersihkan
sekresi yang memperbaiki
ventilasi sehingga
memungkinkan kelebihan
CO2 dieliminasi.
2 Hipertermi Menunjukkan suhu  Pantau suhu klien –  Pola demm dapan membantu
dalam rentang derajat, pola. Catat dalam penegakkan diagnosis

27
normal dan bebas menggiggil atau
dari menggiggil diaforesis berat
 Pantau suhu  Suhu kamar harus diubah
Tidak mengalami
lingkungan untuk memepertahankan suhu
komplikasi terkait
tubuh mendekati normal

 Kolaborasi pemberian  Antipiretik menurunknsn


antipiretik demem melalui kerja pusat di
hipotalamus
3 Nutrisi kurang Status Nutrisi Terapi Nutrisi (NIC)
dari kebutuhan (NOC) :  Pantau asupan  Mengidentifikasi kekuatan
tubuh
Menunjukkan berat makanan harian dan defisiensi nutrisi
badan stabil atau Ukur tinggi badan,
kenaikan berat berat badan, sesuai
badan progresif ke indikasi
arah tujuan dengan  Dorong klien untuk  Mengetahui standar minimum
normalisasi nilai makan makanan tinggi
laboratorium dan kalori dan kaya zat
bebas dari tanda gizi, dengan asupan
malnutrisi. cairan adekuat.
Perilaku Patuh:  Dorong komunikasi  Keadaan hipermetabolik dan
Diet Sehat (NOC): terbuka terkait terapi membutuhkan
Menyatakan anoreksia peningkatan zat gizi dan
pemahaman tentang cairan untuk penyembuhan
gangguan seringkali menjadi sumber
individual pada distress emosional
asupan yang
adekuat.
Berpartisipasi
dalam intervensi
spesifik untuk
menstimulasi nafsu
makan dan
meningkatkan
asupan diet.
4 Ansietas Reduksi Ansietas
Pengendalian Diri (NIC)
Terhadap Ketakutan
(atau] Ansietas  Tinjau pengalaman
(NOC) sebelumnya klien dan  Mengklarifikasi persepsi
orang terdekat dengan klien; membantu dalam
kanker. Tentukan apa identifikasi ketakutan dan

28
Menunjukkan yang telah dikatakan kesalahpahaman berdasarkan
rentang perasaan dokter kepada klien diagnosis dan pengalaman
dan kesimpulan yang dengan kanker.
yang tepat dan
telah dicapai klien.
penurunan
ketakutan.
 Dorong klien untuk  Memberikan kesempatan
Tampak santai dan berbagi pikiran dan untuk mengkaji ketakutan
melaporkan ansietas perasaan. yang realistis dan
berkurang hingga kesalahpahaman tentang
tingkat yang dapat diagnosis.
ditarigani.
 Membantu klien merasa
 Beri lingkungan
Menunjukkan diterima dalam kondisi saat
terbuka tempat klien
penggunaan ini tanpa perasaan dihakimi
merasa aman untuk
mekanisme koping dan meningkatkan rasa
mendiskusikan
martabat dan kendali.
yang efektif dan perasaan atau menahan
partisipasi aktif diri untuk berbicara.
dalam program
 Memberikan jaminan bahwa
terapi.
 Pertahankan kontak klien tidak sendiri atau
yang sering dengan ditolak; menyampaikan
klien. Bicara dengan penghargaan dan penerimaan
dan sentuh klien, jika terhadap individu sehingga
tepat. meningkatkan rasa percaya.

 Sadari efek isolasi  Deprivasi sensori dapat


pada klien jika perlu terjadi saat stimulasi yang
akibat imunosupresi cukup tidak tersedia dan dapat
implan radiasi. memperkuat perasaan
ansietas.

 Bantu klien dan orang  Keterampilan koping sering


terdekat dalam kali ditekan setelah diagnosis
mengenali dan dan selama fase terapi yang
mengklarifikasi berbeda. Dukungan dan
ketakutan untuk mulai konseling diperlukan untuk
mengembangkan memungkinkan individu
strategi koping guna mengenali dan mengatasi
mengatasi ketakutan ketakutan serta menyadari
ini. bahwa kendali dan strategi
koping tersedia.

 Beri informasi yang  Dapat mengurangi ansietas


konsisten dan akurat dan memungkinkan klien
tentang diagnosis untuk mengambil keputusan
dan prognosis. Hindari serta pilihan berdasarkan
berdebat tentang realitas.
persepsi klien terhadap
situasi.

 Biarkan ekspresi  Penerimaan perasaan


marah, takut, dan putus memungkinkan klien untuk
asa tanpa konfrontasi. mulai mengatasi situasi.
Beri informasi bahwa
perasaan normal dan

29
diekspresikan secara
tepat.

 Jelaskan terapi yang


 Tujuan terapi kanker adalah
direkomendasikan,
menghancurkan sel ganas
tujuannya, dan
sambil meminimalkan
kemungkinan efek
kerusakan pada sel normal.
samping. Bantu klien Terapi dapat mencakup bedah
bersiap untuk terapi. kuratif, preventif, atau paliatif
serta kemoterapi, radiasi
internal atau eksternal,
5 Gangguan Fleksibilitas Pemeliharaan Proses
proses Keluarga (NOC) Keluarga (NIC)
keluarga
Mengekspresikan  Catat komponen  Membantu klien dan pemberi
perasaan dengan keluarga, adanya asuhan mengetahui yang ada
bebas. keluarga besar, dan untuk membantu perawatan
Menunjukkan orang lain, termasuk dan memberikan istirahat dan
keterlibatan teman dan tetangga. dukungan
individu dalam
proses penyelesaian  Identifikasi pola  Memberikan informasi
masalah yang komunikasi dalam tentang keefektifan
diarahkan pada keluarga dan pola komunikasi dan
solusi yang tepat interaksi antara mengidentifikasi masalah
untuk Mendorong anggota keluarga. yang dapat mengganggu
dan memungkinkan kemampuan keluarga untuk
anggota yang sakit membantu klien dan
untuk mengatasi menyesuaikan diri secara
situasi dengan positif terhadap diagnosis
caranya sendiri terapi kanker.
 Setiap individu dapat melihat
situasi dengan caranya dan
 Kaji harapan peran identifikasi yang jelas serta
anggota keluarga dan berbagi harapan
dorong diskusi tentang meningkatkan pemahaman.
harapan peran tersebut
 Memberikan petunjuk tentang
intervensi yang mungkin tepat
 Kaji arah energi: untuk membantu klien dan
Apakah upaya resolusi keluarga dalam mengarahkan
atau penyelesaian energi dengan cara yang lebih
masalah terarah atau efektif
tersebar?

30
 Tangani anggota  Membertikan perasaan empati
keluarga dengan cara dapat meningkatkan perasaan
yang hangat, peduli berharga individu
dan menghargai

 Tekankan pentingnya  Meningkatkan pemahaman


dialog terbuka antar dan membantu anggota
anggota keluarga keluarga untuk komunikasi yg
jelas.

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kanker paru merupakan suatu transformasi ganas dan ekspansi dari jaringan paru, dan
merupakan kanker paling mematikan dari seluruh kanker didunia. Kanker paru adalah
semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri
(primer). Dalam pengertian klinik yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor
ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus = bronchogenic carcinoma).
Kanker paru merupakan penyebab tertinggi kematian kanker didunia dan umumnya
prognosis nya buruk. Diperkirakan 85% dari kanker paru-paru disebakan oleh rokok.
Faktor resiko lain yang menyebabkan kanker paru adalah perokok pasif, terpapar polusi
udara, factor genetic dan factor lainnya. Kanker paru dapat menyerupai tanda dan gejala
penyakit paru lainnya. Temuan pemeriksaan klinis yang spesifik dapat bervariasi
tergantung jenis kankes. Lokasi dan luas tumor dan kesehatan paru sebelumnya. Small cell
lung carcinoma sering menyebabkan hemoptisis. Sel ini dapat meluas hingga perikardium,
menyebabkan efusi perikardial dan mungkin juga tamponade kordis sehingga disritmia
jantung dapat terjadi.
Tata laksana untuk kanker paru antara lain pembedahan, kemoterapi, radiasi dan obat
imunoterapi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis kanker
paru, mulai dari pemeriksaan yang general seperti laboratorium hinggga yang spesifik
sampai ke tingkat selnya seperti pemeriksaan sitology sel kanker. Pemeriksaan penunjang
yang memiliki tingkatan rekomendasi yang utama 1). Foto toraks AP/lateral merupakan
pemeriksaan awal untuk menilai pasien dengan kecurigaan terkena kanker paru 2). CT
scan toraks dilakukan sebagai evaluasi lanjut pada pasien dengan kecurigaan kanker paru,
dan diperluas hingga kelenjar adrenal untuk menilai kemungkinan metastasis hingga regio
tersebut. Pemeriksaan Khusus Bronkoskopi adalah prosedur utama untuk mendiagnosis
kanker paru. Prosedur ini dapat membantu menentukan lokasi lesi primer, pertumbuhan
tumor intraluminal dan mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan sitologi dan
histopatologi, sehingga diagnosis dan stadium kanker paru dapat ditentukan.

32
4.2 Saran
Kanker paru merupakan penyebab tertinggi kematian kanker didunia dan umumnya
prognosis nya buruk. Diperkirakan 85% dari kanker paru-paru disebakan oleh rokok, oleh
karena itu pencegahan terbaiknya adalah jangan memulai untuk merokok. Salah satu peran
perawat dalam upaya promosi kesehatan harus lebih ditingkatkan lagi untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya bahaya rokok.

33
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. (2011). Chemotherapy for Non-Small Cell Lung Cancer.
https://doi.org/https://www.cancer.org/cancer/lung-cancer/treating-non-small-
cell/chemotherapy.html

Black, J. M., & H, H. J. (2014). Medical Surgical Nursing: Clinical Management for Continuity
of Care Vol. 3 (8th Ed). Singapore: Elsevier.

Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M. M., Bucher, L., & Harding, M. M. (2014). Medical
Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. St.Louis, Missouri:
Elsevier Mosby.

National Cancer Institute. (2013). Lung Cancer.


https://www.cancer.gov/typers/lung/patient/non-small-cell-lung-treatment-pdq.

Smeltzer, S.C., Bare, B. G., Hinkle, J.L & Cheever, K.C. (2010). Brunner & Suddarth’s
Textbook of Medical-Surgical Nursing (12th ed). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Borghaei, H., Paz-Ares, L., Horn, L., Spigel, D. R., Steins, M., Ready, N. E., . . . Holgado, E.
(2015). Nivolumab versus docetaxel in advanced nonsquamous non–small-cell lung
cancer. New England Journal of Medicine, 373(17), 1627-1639.
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2009). Brunner & Suddarth’s
Textbook of Medical-Surgical Nursing, 12e. Pennsylvania: Lippincott Wiiliam &
Wilkins Company.
Herdman,H., Kamitsuru,S.2017. NANDA-I diagnosis keperawatan : Definisi dan klasifikasi
2018-2020 (Keliat, dkk: alih Bahasa). Jakarta. EGC
Doengoes,M.E.,moorhouse,M.F.,Murr,A.C.2010. Nursing care plans : Guidelines for
individualizing client care across the life span 9th edition. Philadelphia : F. A. Davis
Company.
PPNI. 2017. Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indicator diagnostic.
Jakarta: DPP PPNI
Malhotra, J., Malvezzi, M., Negri, E., La Vecchia, C., & Boffetta, P. (2016). Risk factors for
lung cancer worldwide. Eur Respir J, 48(3), 889-902. doi:10.1183/13993003.00359-
2016

34
35