Anda di halaman 1dari 193

| Studi Islam IV

Islamisasi Ilmu Kesehatan


STUDI ISLAM

ISLAMISASI
ILMU KESEHATAN
Dr. Akhmad Alim, M.A

Pusat Kajian Islam


Universitas Ibn Khladun Bogor

| Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ALIM, Akhmad
Islamisasi Ilmu Kesehatan, Penulis, Dr. Akhmad Alim, M.A; Penyunting, Bahrum Subagia, --
Cet. 1-Bogor: Pusat Kajian Islam Universitas Ibn Khaldun, 2012. 186 hlm.; 25,7 cm.

ISBN: 978-979-1324-23-6

STUDI ISLAM VI: Islamisasi Ilmu Kesehatan


Penulis:
Dr. Akhmad Alim, M.A
Penyunting :
Bahrum Subagia
Penata Letak:
Irfan Habibie
Desain Sampul:
Fathurrohman Saifuddin
Penerbit:
Pusat Kajian Islam Universitas Ibn Khaldun
Jl. K.H. Sholeh Iskandar Km. 2 Kedung Badak Bogor
Telp./Fax. (0251) 8356884

Cetakan Pertama, Shafar 1435 H- Januari 2014 M

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Ketentuan Pidana
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1)
dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar
rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara palling lama 5 (lima )
tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pasal 72 UU No.19 Tahun 2002

| Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
KATA PENGANTAR

‫ز‬ٚ‫ذ باهلل َٔ غس‬ٛ‫ْع‬ٚ ،٘ٝ‫ب إي‬ٛ‫ْت‬ٚ ،ٙ‫ْطتػؿس‬ٚ ،٘ٓٝ‫ْطتع‬ٚ ،ٙ‫ حنُد‬،‫إٕ اذتُد هلل‬
،٘‫ ي‬ٟ‫طًٌ ؾال ٖاد‬ٜ َٔٚ ،٘‫ اهلل ؾال َطٌ ي‬ٙ‫ٗد‬ٜ َٔ ،‫ات أعُايٓا‬٦ٝ‫َٔ ض‬ٚ ‫أْؿطٓا‬
،٘‫ي‬ٛ‫زض‬ٚ ٙ‫ عبد‬ٟ‫أغٗد إٔ حمُدا‬ٚ ،٘‫و ي‬ٜ‫ ال غس‬ٙ‫سد‬ٚ ‫أغٗد إٔ ال إي٘ إال اهلل‬ٚ
٣‫أد‬ٚ ،١‫ؼ ايسضاي‬٤ً‫ ؾب‬،ً٘‫ٔ ن‬ٜ‫ ايد‬٢ً‫ ع‬ٙ‫ظٗس‬ٝ‫ٔ اذتل ي‬ٜ‫د‬ٚ ٣‫أزضً٘ اهلل تعاىل باهلد‬
‫ًٗا‬ٝ‫ ي‬٤‫طا‬ٝ‫ ب‬١‫ حمذ‬٢ً‫تسى أَت٘ ع‬ٚ ،ٙ‫داٖد يف اهلل سل دٗاد‬ٚ ،١َ‫ْصح األ‬ٚ ،١ْ‫األَا‬
،٘‫أصشاب‬ٚ ٘‫ آي‬٢ً‫ع‬ٚ ً٘ٝ‫ضالَ٘ ع‬ٚ ‫ات اهلل‬ًٛ‫ ؾص‬،‫ؼ عٓٗا إال ٖايو‬ٜ‫ص‬ٜ ‫نٓٗازٖا ال‬
:‫ أَا بعد‬.ٜٔ‫ّ ايد‬ٜٛ ‫َٔ تبعِٗ بإسطإ إىل‬ٚ
Pada dasarnya ilmu kedokteran sifatnya umum dan berlaku
secara universal. Akan tetapi, di dalamnya ada yang Islami, yaitu yang
sejalan dengan syariat Islam atau tidak berlawanan dengannya. Ada pula
yang tidak Islami, yaitu yang tidak sejalan dengan syariat atau
berlawanan dengannya.

Kedokteran Islam lebih menekankan pada ilmu pengobatan


yang model dasar, konsep, nilai, dan prosedur-prosedurnya sesuai atau
tidak berlawanan dengan Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Sifatnya pun
universal, mencakup semua aspek, dan fleksibel. Selain itu, kedokteran
Islam memiliki ciri-ciri khusus, jika dibandingkan dengan kedokteran
umum. Ia lebih menekankan pada aspek pencegahan(preventif) dari
pada pengobatan (kuratif). Demikian juga, ilmu kedokteran Islam
berbasis pada penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
secara akademik, bukan didasarkan pada khurafat, bid‘ah, takhayul,
sebagaimana yang diperaktekkan para kahin (dukun). Lebih dari itu, ilmu
kedokteran Islam bersifat integrated dan holistis, yakni ilmu kedokteran
yang didasarkan pada pandangan, bahwa penyebab terjadinya penyakit
bukan hanya disebabkan karena hubungan yang tidak baik dengan alam
(makanan, minuman, tempat tinggal, pola hidup dan lainnya yang tidak
baik), melainkan juga dapat disebabkan karena hubungan yang tidak
baik dengan Allah Subhanahu Wa Ta‟ala dan dengan sesama manusia.
Dengan dasar ini, maka ilmu kedokteran Islam mengupayakan

i | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
penyembuhan penyakit melalui tiga macam hubungan tersebut secara
harmonis.

Munculnya ilmu kedokteran Islam ini, merupakan hasil sebuah


kritik Islami dan reformulasi paradigma dasar,dari ilmu kedokteran
sekuler. Proses perubahan konseptual ini, harus mencakup objektivitas
(Istiqamah), ketidak berpihakkan (no hawa),kebenaran (haqq),
memandang alam semesta dari sudut pandang holistik, harmoni dan
koordinasi (tauhid), pencarian hubungan sebab akibat (sunnah Allah fi al
kaun al insan), kemanfaatan (ilmu nafi), mengejar keunggulan (ihsan).

Hasil akhir dari proses Islamisasi ilmu ini, akan membawa


kemaslahatan dan manfaat, serta rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya
bermanfaat bagi umat Islam saja, tetapi juga bagi seluruh umat manusia,
karena Islam merupakan sebuah tata nilai yang universal dan objektif.

Penulisan buku ―Studi Islam 4 : Iislamisasi Ilmu Kesehatan‖ ini


diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam kemajuan Islamisasi
Ilmu, khususnya dalam ilmu kesehatan tersebut. Wallahu A‟lam
Bisshawab.

Bogor, 20 Oktober 2013.


Dr. Ahmad Alim, M.A

ii | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................ iii
Bab I Keutamaan Ilmu ........................................................................ 1
Bab II Konsep Ilmu ........................................................................... 10
Bab III Integrasi Akal Dan Wahyu ................................................... 26
Bab IV Integrasi Ilmu Dan Adab ...................................................... 39
Bab V Netralitas Sains ..................................................................... 62
Bab VI Menuju Sains Islam .............................................................. 70
Bab VII Faktor Pendorong Kemajuan Ilmu ...................................... 81
Bab VIII Prestasi Ilmuwan Muslim .................................................. 89
Bab IX Ilmu Kedokteran Islam ......................................................... 94
Bab X Islamisasi Ilmu Dan Masyarakat ......................................... 102
Bab XI Ruqyah Syar’iyyah ............................................................. 130
Bab XII Ayat Dan Hadist Kesehatan .............................................. 142
Bab XIII Dokter Rabbani ................................................................ 167
Bab XIV Membangun Peradaban Ilmu........................................ 1733
Riwayat Hidup Penulis ................................................................. 1833

iii | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB I
KEUTAMAAN ILMU

Ilmu dalam pandangan Islam mempunyai peranan yang sangat


besar, dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Bahkan Islam
indentik dengan ilmu. Ilmu adalah Islam, dan Islam adalah ilmu. Islam
menjadikan ilmu pengetahuan sebagai syarat dan tujuannya. Islam
menyamakan pencarian ilmu pengetahuan dengan ibadah. Islam sangat
memuji orang yang tekun mencari pengetahuan, menjadikan mereka
wali dan sahabat Allah, serta menempatkan nilai tintanya di atas nilai
darah syuhada.1
Ilmu telah terbukti melahirkan budaya yang unik sekaligus daya
benah yang paling efektif. Ilmu merupakan unsur utama yang telah
memberikan peradaban Muslim bentuk dan coraknya yang khas.
Bahkan, tidak ada konsep yang telah berjalan sebagai suatu penentu dari
peradaban Muslim dalam segala seginya sebagaimana ilmu.2
Demi menguraikan keutamaan ilmu, Imam Bukhari Rahimahullah
membuat satu bab khusus dalam Kitab Shahihnya dengan judul “Al-
Ilmu Qabla Al-Qauli Wa Al-Amal”, yang inti pembahasannya bahwa
ilmu itu asas dari segala sesuatu, baik yang sifatnya perkataan maupun
perbuatan. Tanpa ilmu segala sesuatu itu tiada membawa arti. Imam
bukhari kemudian mengutip firman Allah (yang artinya), “Maka
ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS.
Muhammad: 19).‘ Lalu beliau berkata, ―Allah memulai firmannya
tersebut dengan ilmu, kemudian mengiringinya dengan perintah untuk
mentauhidkannya, itu artinya ilmu adalah asas tauhid, dan tauhid adalah
asas dari segala sesuatu.

1
Isma’il R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam Menjelajah
Khazanah Peradaban Gemilang, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 262.
2
Lihat Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, edisi baru (Leiden: E.J. Brill, 2007),
2 dan 340-1.
1 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Terdapat banyak ayat, hadist, atsar, qaul ulama, yang berkenaan
dengan keutamaan ilmu terebut. Di antaranya adalah sebagaimana
uraian berikut :
a. Kedudukan orang berilmu jauh lebih mulia dari pada orang yang
tidak berilmu.

ٔ‫يبَاب‬ٜٞ‫األ‬ٞ ‫ا‬ٛٝ‫ي‬ٚٝ‫ ُس أ‬٤‫تَرَن‬َٜ ‫َُْٖا‬٢‫ إ‬،َُُِٕٛ ًِٜ‫َع‬ٜ ٜ‫َٔ ال‬ِٜٔ‫ر‬٤‫َاي‬ٚ َُُِٕٛ ًِٜ‫َع‬ٜ َِٜٔٔ‫ر‬٤‫ اي‬ٟ٢ٛ‫طَت‬
ِ َٜ ٌَِٖ ٌِٝ‫ق‬
Artinya: “Katakanlah, „Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?‟. Sesungguhnya orang yang berakAllah
yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)
Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya.

ٕ‫َِ دَ َزدَات‬ًٞٔ‫يع‬ٞ‫ا ا‬ُٛ‫ت‬ٚٝ‫ َٔ أ‬ٜٔ‫ر‬٤‫َاي‬ٚ ِِٝ‫ا َِٔٓه‬َُٜٛٓ‫ َٔ آ‬ٜٔ‫ر‬٤‫ ُ٘ اي‬٤ً‫ع اي‬٢ ٜ‫َسِؾ‬ٜ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-
Mujadilah : 11)
b. Persaksian orang yang berilmu disandingkan setelah persaksian
Allah dan para malaikatnya.

َُٖٛ ‫ال‬٤ ٢‫َ٘ إ‬ٜ‫ي‬٢‫ إ‬ٜ‫كٔطِطٔ ال‬ٞ‫ُّٔا بٔاي‬٥‫قا‬ٜ ٢ًِٞٔ‫يع‬ٞ‫ ا‬ٛٝ‫ي‬ٚٝ‫َأ‬ٚ ٝ١ٜ‫ٔه‬٥‫ال‬
ٜ َُٞ‫َاي‬ٚ َُٖٛ ٤‫ال‬٢‫َ٘ إ‬ٜ‫ي‬٢‫ إ‬ٜ‫ُْٖ٘ ال‬ٜ‫ُ٘ أ‬٤ً‫دَ اي‬٢ٗ‫غ‬
َ

ُِٝٔ‫يشَه‬ٞ‫ ُص ا‬ٜ‫ص‬٢ َ‫يع‬ٞ‫ا‬


Artinya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada
Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)
c. Ilmu akan mendatangkan khasyah (taqwa).

ْ‫ز‬ٛٝ‫ؿ‬ٜ‫صْ غ‬ٜ‫ص‬٢ َ‫َ٘ ع‬٤ً‫ ٖٕ اي‬٢‫ إ‬٤ُ ‫َُا‬ًُٜ‫يع‬ٞ‫ ا‬ٙٔٔ‫َ٘ َِٔٔ عٔبَاد‬٤ً‫ اي‬٢َ‫دػ‬
ِ َٜ ‫َُْٖا‬٢‫إ‬

2 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-
Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
d. Perjalanan mencari ilmu adalah berada di jalan Allah (fi sabilillah).

ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫ ق‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬- ُِ٘ٓ‫ َع‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ زَض‬- ٕ‫ َأيو‬٢ٔ‫ ِب‬٢‫َْظ‬ٜ‫َعِٔ أ‬

.» َ‫َ ِسدٔع‬ٜ ٢ٖ‫٘ٔ سَت‬٤ً‫ٌ اي‬٢ ٝٔ‫ ضَب‬٢ٔ‫ ؾ‬َٛ ُٗ‫ؾ‬ٜ ٢ًِٞٔ‫يع‬ٞ‫ب ا‬
ٔ ًٜٜ‫ ط‬٢ٔ‫ « َِٔ خَ َس َز ؾ‬:-ًِ‫ض‬ٚ
Dari Anas ibn Malik ia berkata, ―Rasulullah shallallǎhu „alaihi wa
sallam bersabda, „Barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia berada di
jalan Allah sampai dia kembali.‟” (HR. Timidzi)
e. Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim

ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫ ق‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬- ُِ٘ٓ‫ َع‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ َائوٕ –زَض‬٢ِٔ‫ ب‬٢‫َْظ‬ٜ‫َعِٔ أ‬

ًِٖٔ٘ٔ‫أ‬ٜ ٢‫ِس‬ٝ‫غ‬ٜ َ‫ ٔعِٓد‬٢ًِٞٔ‫ع‬ٞ‫َاضٔعُ اي‬َٚٚ ٣ًِِٔ‫ َُط‬ٌٚٝ‫ ن‬٢ًَٜ‫ ع‬٠١َ‫ط‬ٜ٢‫س‬ٜ‫ ؾ‬٢ًِٞٔ‫يع‬ٞ‫بُ ا‬ًٜٜ‫ « ط‬:-ًِ‫ض‬ٚ

.»َ‫َايرٖ َٖب‬ٚ َ‫ؤ‬ٝ‫ًؤِي‬٥‫َاي‬ٚ َ‫َِٖس‬ٛ‫ذ‬


َ ٞ‫س اي‬٢ ٜ‫ش‬٢ ‫دَٓا‬
َ ‫ي‬ٞ‫ًِّ ٔد ا‬ٜ‫ُُك‬ٜ‫ن‬
Dari Anas ibn Malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata,
―Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda, „Mencari ilmu itu
kewajiban bagi setiap Muslim. Dan orang yang menyimpan ilmu pada orang
yang bukan ahlinya laksana mengikat babi dengan perhiasan, permata, dan
emas.‟” (HR. Ibnu Majah)
f. Menempuh jalan ilmu berarti menempuh jalan menuju surga.

ٜ١ٜ‫ٔه‬٥‫ال‬
ٜ َُٞ‫ٕٖ اي‬٢‫َإ‬ٚ .ٔ١ٖٓ‫ذ‬
َ ٞ‫ اي‬٢ٜ‫ي‬٢‫ إ‬ٟ‫ِكا‬ٜ٢‫س‬ٜ‫ُ٘ ط‬ٜ‫هلل ي‬
ٝ ‫ضٌَٖٗ ا‬
َ ،ٟ‫ُا‬ًٞٔ‫ بٔ٘ٔ ع‬ٞٔ‫ِبَتػ‬َٜ ٟ‫ِال‬ٝ‫ضٔب‬
َ ٜ‫ًو‬َٜ‫َِٔ ض‬

ٕ٤ِٞ‫غ‬
َ ٌ٘ٝ‫ُ٘ ن‬ٜ‫طَتػِؿٔسُ ي‬
ِ َٜٝ‫يعَائَِ ي‬ٞ‫ٕٖ ا‬٢‫َإ‬ٚ .ُ‫صَٓع‬
ِ َٜ ‫ضّا بَُٔا‬٢‫ ز‬٢ًِٞٔ‫ع‬ٞ‫أيبٔ اي‬ٜٛ‫شٔتَٗا ٔي‬
َ ٓٔ‫أ ِد‬ٜ ُ‫يتَطَع‬ٜ

٢‫ٔس‬٥‫ضا‬
َ ٢ًَٜ‫ ع‬٢‫َُس‬ٜ‫ك‬ٞ‫ اي‬٢ٌِ‫ط‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫يعَابٔدٔ ن‬ٞ‫ ا‬٢ًَٜ‫ ع‬٢ِٔ‫يعَاي‬ٞ‫طٌُِ ا‬ٜ‫َؾ‬ٚ .ٔ٤‫َُا‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫تَإُ ؾ‬َِٝ‫يش‬ٞ‫ ا‬٢ٖ‫َست‬

3 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
,ٟ‫ دٔزَُِٖا‬ٜ‫ال‬َٚ ٟ‫َٓازا‬ِٜٔ‫ِا د‬ٛ‫ُث‬ٚ‫ز‬َٛ ُٜ ِِٜ‫َ ي‬٤‫َا‬ٝ‫ِْٔب‬ٜ‫أ‬ٞ‫ٕٖ اي‬٢‫ إ‬،ٔ٤‫َا‬ٝ‫ِْٔب‬ٜ‫أ‬ٞ‫ اي‬ٝ١َ‫زَث‬َٚ َ٤‫َُا‬ًُٜ‫يع‬ٞ‫ٕٖ ا‬٢‫َإ‬ٚ .ٔ‫َأنب‬ٛ‫ه‬ٜ ٞ‫اي‬

٣‫َاؾٔس‬ٚ ٍّ‫خَرَ ٔبشَظ‬ٜ‫ أ‬َُٙ‫أخَر‬ٜ ِٔ َُٜ‫ ؾ‬,ًَِٞٔ‫ع‬ٞ‫ا اي‬ُِٛ‫زٖث‬َٚ ‫َُْٖا‬٢‫إ‬


“Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan guna mencari ilmu niscaya Allah
akan memudahkan jalannya untuk masuk ke dalam surga. Sesungguhnya
para malaikat betul-betul meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu
karena mereka ridha dengan apa yang dia tuntut. Sesungguhnya seorang alim
(orang yang berilmu) itu dimintaampunkan oleh segala sesuatu sampai ikan-
ikan di lautan. Kelebihan seorang alim di atas abid (ahli ibadah) adalah
bagaikan kelebihan yang dimiliki oleh bulan di atas bintang-bintang lainnya.
Para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah
mewariskan dinar dan tidak pula perak akan tetapi mereka hanya
mewariskan ilmu, karenanya barangsiapa yang mengambilnya (ilmu) maka
sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Tirmizi)
g. Ilmu adalah bagian dari sedekah jariyah.

ُ‫ع‬ٜ‫ُِٓتَؿ‬ٜ ٣ًِٞٔ‫ِ ع‬ٚ‫أ‬ٜ ،ٕ١َٜ٢‫ٕ دَاز‬١ٜ‫ َِٔٔ صَدَق‬٤‫ال‬٢‫ إ‬:ٕ‫خ‬ٜ‫ َِٔٔ ثَال‬٤‫إال‬٢ ًََُُ٘ٝ‫عَ ع‬ٜٛ‫ك‬ٜ ِْ‫ِْطَإُ ا‬٢‫إ‬ٞ‫إذَا ََاتَ اي‬٢

ُٜ٘‫ ي‬ُٛ‫َ ِدع‬ٜ ٣‫دٕ صَائح‬ٜ‫َي‬ٚ ِٚ‫أ‬ٜ ،ٔ٘ٔ‫ب‬


“Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga
perkara: Kecuali sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak
saleh yang mendoakan untuknya.‖ (HR. Muslim)
h. Ilmu adalah pilar dari segala kebaikan

‫بّا‬ٝٔٛ‫ َعُِٓ٘ – َخ‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ –زَض‬ٜ١َٜ٢ٚ‫ ضَُٔعِتُ َُعَا‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬٢َُِٔ‫ َعبِدٔ اي ٖسس‬٢ٔ‫ِدٕ ِب‬َُٝ ُ‫َعِٔ س‬

‫ِسّا‬ٝ‫ُ٘ بٔ٘ٔ َخ‬٤ً‫سدٔ اي‬٢ ُٜ َِٔ « :ٍُٛٝ‫َك‬ٜ – ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ ص‬- ٖ٢ٔ‫ ضَُٔعِتُ ايٖٓب‬:ٍُٛٝ‫َك‬ٜ

٢ًَٜ‫ ع‬ٟ١َُٔ٥‫قا‬ٜ ٝ١َٖ‫أل‬ٝ ‫ٔ ا‬ٙٔ‫ئِ تَصَاٍَ َٖر‬َٜٚ ، ٢ٔٛ‫ُ ِع‬ٜ ُ٘٤ً‫َاي‬ٚ ِْٔ‫اض‬ٜ‫َْا ق‬ٜ‫َُْٖا أ‬٢‫َإ‬ٚ ،٢ٜٔٚ‫ ايد‬٢ٔ‫كُِٗ٘ ؾ‬ِّٜ ‫ُؿ‬ٜ

. » ٔ٘٤ً‫أَِسُ اي‬ٜ َ٢ٔ‫ت‬ٞ‫َأ‬ٜ ٢ٖ‫ؿُِِٗ َست‬ٜ ٜ‫َطُسُِِٖٗ َِٔ خَاي‬ٜ ٜ‫٘ٔ ال‬٤ً‫س اي‬٢ َِ‫أ‬ٜ

4 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Dari Humaid ibn Abdirrahman, ia berkata, ―Aku mendengar
Mu‘awiyyah –semoga Allah meridhainya – menyampaikan khutbah
seraya berkata, ‗Aku mendengar Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam
bersabda, “Siapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Dia
memberikan pemahaman yang mendalam kepadanya dalam urusan agama.
Dan sesungguhnya aku hanya membagikan sedangkan Allah yang memberi.
Di antara umat ini takkan henti-hentinya selalu ada sekelompok orang yang
tetap tegak menunaikan perintah Allah, tidak akan menyusahkan mereka
orang yang menyelisihinya, sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya.‟”
(HR. Bukhari)
i. Orang berilmu dapat memberikan syafaat atas izin Allah.

ََِّٜٛ ُ‫ع‬ٜ‫ػِؿ‬َٜ « -ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫اٍَ ق‬ٜ‫إَ ق‬٤‫ عَؿ‬٢ِٔ‫عَِٔ ُعجَُِإَ ب‬

.» ُ٤‫ػَٗدَا‬
ٗ ‫ُ ثُ ِٖ اي‬٤‫َُا‬ًُٜ‫يع‬ٞ‫ُ ثُ ِٖ ا‬٤‫َا‬ٝ‫ِْٔب‬ٜ‫ األ‬٠١َ‫ث‬ٜ‫ٔ ثَال‬١َ ‫َا‬ٝ‫ٔك‬ٞ‫اي‬
Dari ‗Utsman ibn ‗Affan –semoga Allah meridhainya – ia berkata,
―Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda, „Pada hari Kiamat
ada tiga golongan yang akan memberikan syafa‟at, yaitu: para Nabi, ulama,
dan Syuhada.‟” (HR. Ibn Majah)
j. Ilmu lebih utama dari pada shalat sunah.

ٗ‫ َسب‬ٜ‫ُُُ٘ أ‬٤ًَ‫ ََْتع‬٢ًِٞٔ‫ع‬ٞ‫ بَابْ ََٔٔ اي‬:ٜ‫اال‬ٜ‫ ق‬-‫ َعَُُِٓٗا‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ –زَض‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َ أ‬ٚ ٍّ‫ ذَز‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

، ٔ٘ٔ‫عٌَُِِ ب‬ُٜ ِِٜ‫ِ ي‬ٚ‫أ‬ٜ ٔ٘ٔ‫ عٌَُُٔ ب‬، ًُُُِٜ٘‫َع‬ٜ ٢ًِٞٔ‫يع‬ٞ‫َبَابْ ََٔٔ ا‬ٚ ، ‫عّا‬ٛٗ ٜٛ‫ٕ َت‬١َ‫نع‬ٞ َ‫يـٔ ز‬ٜٞ‫َٓا َِٔٔ أ‬ِٝ‫ي‬ٜ٢‫إ‬

.‫ٗعّا‬ٜٛٛ َ‫ ت‬١َٕ‫نع‬ٞ َ‫ٔ ز‬١َ٦َٔ َِٔٔ ‫َٓا‬ِٝ‫ي‬ٜ٢‫ب إ‬


ٗ ‫أ َس‬ٜ
Dari Abu Dzar dan Abu Hurairah –semoga Allah meridhai keduanya-
bahwa mereka berdua berujar, “Satu bab dari ilmu yang kami pelajari lebih
kami sukai daripada seribu raka‟at shalat sunnat. Dan satu bab dari ilmu
yang diketahui, baik itu diamalkan atau tidak, tetap lebih kami sukai
daripada seratus raka‟at shalat sunnat.”
k. Ilmu adalah mencakup seluruh ibadah. Mu‘adz ibn Jabal
mengatakan:
5 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
٘ٓ‫ايبشح ع‬ٚ ‫ح‬ٝ‫َرانست٘ تطب‬ٚ ،٠‫طًب٘ عباد‬ٚ ١ٓ‫ا ايعًِ ؾإٕ تعًُ٘ سط‬ًُٛ‫تع‬

١‫عًُ٘ صدق‬ٜ‫ُ٘ َٔ ال‬ًٝ‫تع‬ٚ ١‫بري٘ قسب‬ٚ ،‫دٗاد‬


“Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya itu sebuah kebaikan, mencarinya
itu sebuah ibadah, mendialogkannya itu sebuah tasbih, mengkajinya itu
sebagai sebuah jihad, mencurahkan kemampuan untuknya sebuah taqarrub,
dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya sebagai sebuah
shadaqah.” 3
l. Ilmu sebagai syarat untuk menjadi seorang pemimpin. Umar ibn al-
Khaththab berkata:

‫ِا‬ٚ‫ ُد‬ٚٝ‫ط‬
َ ُ‫ِٕ ت‬ٜ‫قبِ ٌَ أ‬ٜ ‫ِا‬ُٛٗ‫ك‬٤ ٜ‫تَؿ‬
“Dalamilah ilmu sebelum kalian menjadi pemimpin.”
Ilmu hanya didapat oleh orang yang jiwanya suci dari
kesombongan. Mujahid ibn Jubair al-Thabi‘i berkata:

٣‫هبٔس‬ٞ َ‫ َُطِت‬ٜ‫َال‬ٚ ٣ِٞ‫طَتش‬


ِ َُ ًَِٞٔ‫يع‬ٞ‫تَعًَِّ ُِ ا‬َٜ ٜ‫ال‬
“Pemalu dan orang sombong keduanya tidak akan mau belajar.” 4
m. Ilmu adalah air kehidupan

« :ٍَ‫ا‬ٜ‫ضًِ – ق‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ ص‬- ٚ٢ٔ‫ ايٖٓب‬٢ٔ‫ َع‬، ُِ٘ٓ‫ َع‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ زَض‬٢َ‫ض‬َُٛ ٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

، ‫أزِضّا‬ٜ َ‫صَاب‬ٜ‫ أ‬٢‫جٔري‬ٜ‫ه‬ٞ‫ِحٔ اي‬َٝ‫يػ‬ٞ‫ ا‬٢ٌَ‫ َُج‬ٜ‫ ن‬٢ًِٞٔ‫يع‬ٞ‫َا‬ٚ ٣َ‫ُٗد‬ٞ‫ُ٘ بٔ٘ٔ ََٔٔ اي‬٤ً‫ اي‬٢ٔٓ‫َجٌَُ ََا بَ َعَج‬

‫اَْتِ ََِٔٓٗا‬ٜ‫َن‬ٚ ، َ‫هجٔري‬ٜ ٞ‫ػبَ اي‬


ِ ُ‫يع‬ٞ‫َا‬ٚ ٜ‫أل‬ٜ‫ه‬ٞ‫َِْبَتتٔ اي‬ٜ‫أ‬ٜ‫ ؾ‬، َ٤‫َُا‬ٞ‫ًتٔ اي‬ٜٔ‫قب‬ٜ ٠١ٖٝ‫إَ ََِٔٓٗا َْٔك‬ٜ‫ه‬ٜ‫ؾ‬

3
Abdul Amir Syamsuddin, Al-Madzahib at-Tarbawiy ‘Inda Ibn al-Jama’ah Tadzkirah
as-Sami’ wa al-Mutakkallim fii Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Beirut: Dar Iqra’, 1984, hlm.
70.
4
Ibid, hlm. 105

6 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
، ‫ا‬ُٛ‫شَ َزع‬َٚ ‫ِا‬ٛ‫ك‬ٜ َ‫َض‬ٚ ‫ا‬ُٛ‫ب‬٢‫ؾػَس‬ٜ ، َ‫ُ٘ ٔبَٗا ايٖٓاع‬٤ً‫عَ اي‬ٜ‫َٓؿ‬ٜ‫ ؾ‬، َ٤‫َُا‬ٞ‫هتٔ اي‬ٜ َ‫أَِط‬ٜ ُ‫أدَادٔب‬ٜ

، ٟ‫أل‬ٜ‫ ُتِٓٔبتُ ن‬ٜ‫َال‬ٚ ، ّ٤‫ ََا‬ٝ‫طو‬


ٔ ُُِ‫ ت‬ٜ‫عَإْ ال‬ٝٔ‫َ ق‬٢ٖٔ ‫َُْٖا‬٢‫ إ‬، ٣َ‫أخِس‬ٝ ٟ١ٜ‫ٔؿ‬٥‫طا‬ٜ ‫صَاَبتِ ََِٔٓٗا‬ٜ‫َأ‬ٚ

َِٔ ٌَُ‫ََج‬ٚ ، َِ٤ًَ‫ع‬َٚ ًََِٔ‫ع‬ٜ‫ ؾ‬، ٔ٘ٔ‫ُ٘ ب‬٤ً‫ اي‬٢ٔٓ‫ؿعَُ٘ ََا بَ َعَج‬ٜ َْٚ ٔ٘٤ً‫ اي‬٢ٜٔٔ‫ د‬٢ٔ‫كَٔ٘ ؾ‬ٜ‫ َجٌَُ َِٔ ؾ‬ٜ‫رَٔيو‬ٜ‫ؾ‬

. » ٔ٘ٔ‫تُ ب‬ًٞٔ‫أزِض‬ٝ ٣ٔ‫ر‬٤‫ٔ٘ اي‬٤ً‫ اي‬٣َ‫كبٌَِ ُٖد‬ٞ َٜ ِِٜ‫َي‬ٚ ، ‫ضّا‬ٞ‫ زَأ‬ٜ‫عِ بٔرَٔيو‬ٜ‫َسِؾ‬ٜ ِِٜ‫ي‬
Dari Abu Musa – semoga Allah meridhainya – dari Nabi Shalallahu
„Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Perumpamaan apa yang dibawakan
Allah kepadaku dalam pengutusanku, yaitu berupa petunjuk dan ilmu adalah
seperti hujan lebat yang membanjiri tanah. Di antara tanah itu terdapat tanah
yang subur yang dapat menerima air sehingga menumbuhkan padang rumput
yang banyak. Terdapat juga tanah yang padat yang menahan air dan
dengannya Allah memberi manfaat kepada umat manusia, lalu mereka minum
dan memberi minum serta menggunakannya untuk bercocok tanam. Dan air
hujan itu bisa juga mengenai bagian lain, yaitu tanah yang licin, yang tidak
dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan padang rumput. Demikian
itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu Agama Allah, dan apa yang
dibawakan kepadaku bermanfaat baginya, dimana ia menguasai ilmu dan
mengajar. Sedangkan perumpamaan orang yang tidak menolehkan kepala
kepadanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang dengannya aku
diutus.” (HR. Bukhari)
n. Ilmu adalah sumber dari kebaikan dunia dan akhirat. Imam syafi‘i
berkata :

َٔٚ ًِ‫٘ بايع‬ًٝ‫ا ؾع‬ْٝ‫ َٔ أزاد ايد‬:ٍ‫قا‬ٚ ،١ً‫ ايٓاؾ‬٠‫طًب ايعًِ أؾطٌ َٔ صال‬

‫ٓو‬ٝ‫هٔ ب‬ٜ ‫٘ ؾال‬ٝ‫ َٔ ال حيب ايعًِ ؾال خري ؾ‬:ٍ‫قا‬ٚ ،ًِ‫٘ بايع‬ًٝ‫ ؾع‬٠‫أزاد اآلخس‬

‫ظ هلل‬ًٝ‫ اهلل ؾ‬٤‫ا‬ٝ‫ي‬ٚ‫ٕ أ‬ًَٛ‫ ايعا‬٤‫هٔ ايؿكٗا‬ٜ ‫ إٕ مل‬:ٍ‫قا‬ٚ ،١‫ال صداق‬ٚ ١‫ٓ٘ َعسؾ‬ٝ‫ب‬ٚ

َٔٚ ،ٙ‫َٔ ْظس يف ايؿك٘ ْبٌ قدز‬ٚ ،٘‫ُت‬ٝ‫ َٔ تعًِ ايكسإٓ عظُت ق‬:ٍ‫قا‬ٚ ،ٞ‫ي‬ٚ

7 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
‫ح‬ٜ‫َٔ نتب اذتد‬ٚ ،ٜ٘‫َٔ ْظس يف اذتطاب دصٍ زأ‬ٚ ،٘‫ زم طبع‬١‫ْظس يف ايًػ‬

.ًُ٘‫ٓؿع٘ ع‬ٜ ‫صٔ ْؿط٘ مل‬ٜ ‫َٔ مل‬ٚ ٘‫ت سذت‬ٜٛ‫ق‬

“Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnat.” Beliau berkata lagi,
“Siapa yang menginginkan dunia maka wajib atasnya memperoleh ilmu, dan
siapa yang menginginkan akhirat maka wajib pula baginya mengetahui
ilmunya.” Kemudian beliau mengatakan, “Siapa yang tidak menyukai ilmu
maka tidak ada kebaikan baginya, maka tidak ada antara dirimu dan
dirinya pengetahuan dan kepercayaan.” Dan beliau menyatakan bahwa jika
para ahli fiqih yang berilmu tidak dikategorikan para wali Allah, maka tidak
akan ada lagi seorang pun yang menjadi wali Allah. Juga beliau berujar,
“Siapa yang mempelajari Al-Qur‟an maka nilainya akan membesar, siapa
yang mengkaji ilmu fiqih maka kemampuannya akan semakin cerdas, siapa
yang mendalami ilmu bahasa maka tabiatnya akan semakin lembut, siapa
yang meneliti ilmu hisab maka akalnya akan kian pandai, dan siapa yang
menulis hadits maka argumentasinya akan kian kuat, serta siapa yang tidak
memelihara dirinya maka ilmunya tidak akan member manfaat bagi dirinya.”
5

o. Tanpa ilmu manusia akan tersesat.

ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫ ضَُٔعِتُ زَض‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬٢‫عَاص‬ٞ‫ اي‬٢ِٔ‫ ب‬ٚ٢‫ عَُِس‬٢ٔ‫٘ٔ ِب‬٤ً‫َعِٔ َعبِدٔ اي‬

ِٔ‫ ٔه‬ٜ‫َي‬ٚ ، ٔ‫ٔعبَاد‬ٞ‫صعُُ٘ ََٔٔ اي‬٢ َ‫ِٓت‬َٜ ، ‫َِ اِْتٔصَاعّا‬ًٞٔ‫ع‬ٞ‫كبٔضُ اي‬ٞ َٜ ٜ‫َ٘ ال‬٤ً‫ٕٖ اي‬٢‫ « إ‬:ٍُٛٝ‫َك‬ٜ – ًِ‫ض‬ٚ

ٟ‫ضّا ُدٖٗاال‬ُٚ٤ُ‫ اٖتدَرَ ايٖٓاعُ ز‬، ‫ عَائُّا‬٢‫بِل‬ُٜ ِِٜ‫إذَا ي‬٢ ٢ٖ‫ سَت‬،ٔ٤‫َُا‬ًُٜ‫يع‬ٞ‫ ا‬٢‫كبِض‬ٜ ٔ‫َِ ب‬ًٞٔ‫ع‬ٞ‫كبٔضُ اي‬ٞ َٜ

. » ‫ا‬ٛ٥ًَ‫ض‬ٜ‫َأ‬ٚ ‫ا‬ٛ٥ًَ‫ط‬ٜ‫ ؾ‬،٣ًِٞٔ‫ ع‬٢‫ِس‬ٝ‫ِا ٔب َػ‬ٛ‫ؾَت‬ٜٞ‫أ‬ٜ‫ ؾ‬، ‫ا‬ًٛٝٔ٦‫ط‬


ُ ‫ؾ‬ٜ
Dari Abdullah ibn ‗Amr ibn al-‗Ash –semoga Allah meridhai
keduanya – ia berkata, ―Aku mendengar Rasulullah Shalallahu „Alaihi
wa Sallam bersabda, „Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari
umat manusia sekaligus, melainkan Dia hanya akan mencabut ilmu dengan

5
-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzib, Vol. I, hlm. 43

8 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
cara mengurangi jumlah para ulama (diwafatkannya mereka), sehingga ketika
sudah tidak ada lagi ulama di dunia, umat manusia akan mengangkat orang-
orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka bertanya kepada para
pemimpinnya, hingga para pemimpin itu mengeluarkan fatwa tanpa didasari
ilmu yang akibatnya mereka sesat dan juga menyesatkan.” (HR. Bukhari
dan Muslim).

9 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB II
KONSEP ILMU

A. Ilmu secara bahasa (lughawi)


Kata i-l-m termasuk yang berkaitan dengan 'âlam (dunia), dalam
pengamatan Rosenthal terdapat 750 kali pengulangan. Menempati
urutan ketiga sesudah kata Allâh dan Rabb yang diulang masing-masing
sebanyak 2.800 dan 950 kali.6 Semua itu memiliki makna tanda,
petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal;
kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda.7
B. Ilmu secara istilah (isthilahi)
Ilmu perspektif Barat
Ilmu sebagaimana didefinisikan Oxford English Dictionary memiliki
tiga pengertian yaitu (i) informasi dan kecakapan yang diperoleh melalui
pengalaman atau pendidikan; (ii) keseluruhan dari apa yang diketahui;
(iii) kesadaran atau kebiasaan yang didapat melalui pengalaman akan
suatu fakta atau keadaan.8
Menurut Dr. Syamsuddin Arif, ketiga definisi tersebut adalah
lemah. Hal itu dapat disanggah dalam uraian berikut ini:
1. Ilmu bukan hanya sekedar informasi, karena informasi dapat benar
atau salah, jadi jika ilmu adalah informasi, maka ilmu mencakup
informasi yang benar dan salah. Tapi bagaimana bisa mengatakan
tahu sesuatu ketika ternyata hal itu adalah akibat misinformasi atau
salah-informasi?.

6
Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval
Islam dalam Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Concept of Knowledge in Islam and its
Implications for Education in Developing Country, terj. Munir, Konsep Pengetahuan dalam
Islam, Bandung: Pustaka, 1997 M, hlm. 34-35.
7
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib
Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 144.
8
Oxford Dictionary, http://oxforddictionaries.com

10 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
2. Definisi kedua yang diberikan di atas – bahwa ilmu adalah
keseluruhan dari apa yang diketahui – juga patut dipertanyakan. Jika
‗apa yang diketahui‘ adalah ilmu, semata menyatakan bahwa ilmu
adalah ilmu.
3. Yang ketiga pun tidak lebih baik. Kesadaran (awareness) mungkin
bisa timbul dari ilmu, tapi ilmu bukan kesadaran. Kita mungkin
sadar akan nyamuk yang berada di sekitar kita; tapi itu tidak berarti
sama dengan memiliki ilmu tentang nyamuk—kecuali jika kita
seorang ahli biologi. Demikian pula, jika ilmu berarti kebiasaan
(familiarity), maka kebiasaan menyiratkan ilmu. Namun seringkali
tidak demikian halnya. Karena, kita dapati orang-orang yang cukup
terbiasa dengan komputer tapi bukan pakar ilmu komputer dan
maka mereka memiliki sedikit ilmu, jika memang memilikinya,
tentang komputer.9
Selain problem definisi yang bermasalah tersebut, di Barat secara
umum membagi istilah ilmu ke dalam dua istilah teknis, yaitu science dan
knowledge. Istilah yang pertama diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu
fisik atau empiris, sedangkan istilah kedua diperuntukkan bagi bidang-
bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Istilah yang
pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ilmu
pengetahuan, sementara istilah kedua diterjemahkan dengan pengetahuan
saja. Dengan kata lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik dan empiris saja
yang bisa dikategorikan ilmu, sementara sisanya, seperti ilmu agama,
tidak bisa dikategorikan ilmu (ilmiah).10
Fenomena seperti itu baru terjadi pada abad modern. Karena
sampai abad pertengahan, pengetahuan belum dibeda-bedakan ke dalam
dua istilah teknis di atas, istilah pengetahuan (knowledge) masih
mencakup semua jenis ilmu pengetahuan. Baru ketika memasuki abad
modern yang ditandakan dengan positivisme, maka pengetahuan yang

9
- Syamsuddin Arif, Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam,Bogor :
UIKA, 2012
10
- Nashruddin Syarif , Konsep Ilmu dalam Islam, Bogor : UIKA, 2012

11 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
terukur secara empiris dikhususkan dengan penyebutan scientific knowledge
atau science saja. 11
Islam tentu saja tidak mengenal pemenggalan zaman menjadi abad
klasik, pertengahan dan modern. Karena di Islam tidak pernah terjadi
tarik-ulur yang dahsyat antara akal dan iman, atau antara kekuasaan
dunia dan kekuasaan agama. Islam juga tidak mengenal renaissance yang
ditandakan dengan terbebasnya alam pikiran manusia dari kungkungan
penguasa agama. Karena dari sejak awal kelahirannya, antara agama, akal
dan indera, ketiganya berjalin kelindan dengan sangat baik.
Konsekuensinya, tidak akan ditemukan dalam khazanah pemikiran
Islam pergeseran definisi ilmu seperti yang terjadi di dunia Barat. Dari
sejak awal dan sampai sekarang, ilmu dalam Islam mencakup bidang-
bidang fisik juga bidang-bidang nonfisik.12
Ilmu perspektif Islam
Beragam definisi ilmu telah dikemukakan oleh para ulama Islam,
namun dari sekian banyak definisi yang muncul kepermukaan intinya
sama, bahkan saling menguatkan antara definisi yang satu dengan yang
lainnya. Dalam hal ini, akan dibahas beberapa defini ilmu berikut ini.
1. Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, dalam Al-Ushul min Ushul al-
Fiqh mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah
Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan
yang sebenarnya) dengan pasti. Beliau berkata:

‫٘ ادزانا داشَا‬ًٝ‫ ع‬ٖٛ ‫ َا‬٢ً‫ ع‬٧ٝ‫إدزاى ايػ‬


Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan yang
sebenarnya) dengan pasti/ yakin.13

11
Lihat Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Philosophical Instructions: An Introduction
to Contemporary Islamic Philosophy, terj. Musa Kazhim dan Saleh Bagir, Buku Daras Filsafat
Islam, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 24, Mulyadhi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam,
hlm. 58, dan Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm. 26
12
- Nashruddin Syarif , Konsep Ilmu dalam Islam, Bogor : UIKA, 2012
13
Yang menarik dari definisi ilmu adalah apa yang dikemukakan oleh tokoh
Mu’tazilah, Abu ‘Aliy al-Juba’i dan Abu Hasyim al-Juba’i, bahwa menurut mereka berdua,
ilmu adalah:
‫اعتقاد الشيئ على ما هو به‬

12 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kata : ( ) "mengetahui sesuatu", mengecualikan tidak
mengetahui sesuatu secara menyeluruh, dan itu dinamakan
"kebodohan yang ringan" ( ), misalnya seseorang ditanya,
"Kapankah terjadinya perang Badar?" Lalu dia menjawab, "Saya
tidak tahu".
Pengecualian dari kata: ( ) "sesuai dengan yang sebenarnya"
adalah mengetahui sesuatu yang bertentangan dengan keadaan
sebenarnya. Ini yang dinamakan ( ) "kebodohan yang
bertingkat", misalnya seseorang ditanya, "Kapankah terjadinya
perang Badar?", Lalu dia menjawab, "Pada tahun ketiga Hijriah".
Padahal yang benar perang Badar terjadi pada tahun 2 Hijriah.
Pengecualian dari kata: ( ) "dengan pengetahuan yang pasti/
yakin" adalah mengetahui tentang sesuatu dengan pengetahuan
yang tidak pasti/ yakin. Maksudnya, ada kemungkinan padanya
(bahwa yang benar) tidak sesuai dengan apa yang ia ketahui,
maka tidak dinamakan sebagai ilmu. Kemudian jika kuat
padanya dari salah satu kemungkinan tersebut, maka yang kuat
disebut sebagai ( ) dan yang lemah disebut sebagai ( ), dan
jika kedua kemungkinan itu sama, maka disebut sebagai ( ).
Berdasarkan keterangan diatas, jelaslah bahwa hubungan
pengetahuan terhadap sesuatu itu adalah sebagai berikut:
- Ilmu ( ): yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan yang
sebenarnya dengan pasti/ yakin.
- Jahil Basith ( ): yaitu tidak mengetahui sesuatu secara
menyeluruh.
- Jahil Murakkab ( ): yaitu mengetahui sesuatu tidak
sesuai dengan yang sebenarnya.

yang maknanya hampir mirip dengan apa yang diutarakan Syaikh Muhammad ibn
Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, namun menggunakan redaksi “meyakini” sehingga
terkesan sebagai sebuah ‘Aqidah. Lihat Rajih Abd al-Hamid al-Kurdiy, Nadhariyyah al-
Ma’rifah baina Al-Qur’an wa al-Falsafah, Riyadh: Maktabah al-Muayyad, 1992, hlm. 34.

13 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
- Dzann ( ): yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan
kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang marjuh/ lemah.
- Wahm ( ): yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan
kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang rajih/ kuat.
- Syakk ( ): yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan
kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang sama kuat.14
2. Ibn Taimiyyah dalam Majmû' Fatâwâ mendefinisikan ilmu secara
istilah berarti pengetahuan yang berdasar pada dalîl (bukti). Dalil
yang dimaksud bisa berupa penukilan wahyu dengan metode yang
benar (al-naql al-mushaddaq), bisa juga berupa penelitian ilmiah (al-
bahts al-muhaqqaq). Beliau berkata :

ٍٛ‫ إٔ ْك‬٢‫ٍ ؾايػإٔ ؾ‬ٛ‫ ب٘ ايسض‬٤‫ايٓاؾع َٓ٘ َا دا‬ٚ ٌٝ‫٘ ايدي‬ًٝ‫إٕ ايعًِ َا قاّ ع‬

‫ايبشح احملكل‬ٚ ‫ ايٓكٌ املصدم‬ٖٛٚ ‫عًُا‬


Sesungguhnya ilmu itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang
bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Maka sesuatu yang
bisa kita katakan ilmu itu adalah penukilan yang benar dan penelitian yang
akurat.15
Lebih lanjut Ibn Taimiyyah mengaitkan erat antara keyakinan dan
ilmu. Seseorang yang yakin berarti menunjukkan bahwa ilmu telah
bersemayam di dalam dirinya. Dengan kata lain, kalau pemikiran-
pemikiran filosofis seperti yang berlaku dalam metafisika tidak
mendatangkan keyakinan, itu berarti pemikiran-pemikiran tersebut
belum bisa dikatakan ilmu. Karena kalau memang pemikiran-
pemikiran seperti itu berstatus ilmu, pasti akan mendatangkan
keyakinan.16 Dengan keyakinan ini pula kadar keilmuan seseorang

14
Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin, Al-Ushul min Ushul al-Fiqh, [terj. Abu Shilah
dan Ummu Shalih, Prinsip Ilmu Ushul Fiqih], (Pdf disebarkan oleh
http://tholib.wordpress.com, Juni 2007) hlm. 14-17.
15
Taqiy al-Din Ahmad ibn 'Abd al-Halim ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ Syaikh al-
Islâm Ahmad ibn Taimiyyah, tahqiq 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Qasim al-'Ashimi
al-Najdi al-Hanbali, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1997 M, jilid 6, hlm. 388.
Selanjutnya ditulis Ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ.
16
Ibid, jilid 3, hlm. 329

14 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
kemudian bisa diukur secara mudah. Standarnya adalah ilmu dan
amal. Jika seseorang sudah bisa mengamalkan ilmunya itu berarti
bahwa orang tersebut sudah betul-betul yakin, dan itu juga berarti
bahwa kadar keilmuannya sempurna. Tapi jika ia belum mampu
mengamalkan ilmunya, berarti hatinya masih lalai belum yakin
100%, dan itu pertanda bahwa ilmunya belum sempurna, walaupun
tidak dikatakan ia tidak mempunyai ilmu sama sekali.17
Kemudian yakin itu melahirkan dua perkara; pengetahuan hati dan
amal hati. Karena terkadang seorang hamba sudah tahu sebuah
ilmu dengan pasti tapi bersamaan dengan itu dalam hatinya masih
ada keraguan untuk mengamalkan apa yang dituntut oleh ilmunya
itu. Seperti seorang hamba yang tahu bahwasanya Allah
Pengurussegala sesuatu dan Penguasanya, tidak ada Pencipta selain-
Nya, apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, dan apa yang tidak
dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, ilmu seperti ini terkadang
disertai tuma`nînah (ketenangan) kepada Allah dan bertawakkal
kepadanya, tapi terkadang pula tidak. Bisa disebabkan hatinya lalai
dari ilmu tersebut, dan lalai itu lawan dari ilmu yang sempurna
walau bukan merupakan lawan bagi ashal ilmu itu sendiri; bisa juga
disebabkan lintasan-lintasan yang timbul di dalam hati sehingga
memalingkannya dari hal-hal yang pokok; atau bisa juga disebabkan
yang lainnya.18
3. Ibn Qayyim dalam Madarik Al-Salikin Baina Manazil Iyyakana‟budu
Waiyyakanastain, mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang
dihasilkan dengan syawahid (empiris) melalui panca indra, dan adillah
(dalil syar‘i) melalui keyakinan.
Beliau berkata:

ٞ‫دع‬ٜ ‫أَا َا‬ٚ ٞ‫ك‬ٝ‫ ايعًِ اذتك‬ٖٛ ١‫األدي‬ٚ ‫اٖد‬ٛ‫ٍ إٕ ايعًِ اذتاصٌ بايػ‬ٛ‫حنٔ ْك‬ٚ

ًِ‫ ايع‬٣ٛ‫ك‬ٜ ‫ظ بعًِ ْعِ قد‬ٝ‫ي‬ٚ ٘‫م ب‬ٛ‫ث‬ٚ ‫ٌ ؾال‬ٝ‫ال دي‬ٚ ‫ي٘ بػري غاٖد‬ٛ‫سص‬

17
- Nashruddin Syarif , Konsep Ilmu Menurut Ibn Taimiyyah, Bogor : UIKA, 2010.
18
Ibid.

15 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ًِ‫ع‬ٚ ٜٔ‫ب ناملعا‬٥‫ايػا‬ٚ ‫د‬ٛٗ‫ّ ناملػ‬ًٛ‫صري املع‬ٜ ‫ح‬ٝ‫د ع‬ٜ‫تصا‬ٜٚ ‫اٖد‬ٛ‫اذتاصٌ بايػ‬

١‫صا ثِ ظٓا ثِ عًُا ثِ َعسؾ‬ٜٛ‫ال ثِ جت‬ٚ‫زا أ‬ٛ‫ٕ األَس غع‬ٛ‫ه‬ٝ‫كني ؾ‬ٝ‫كني نعني اي‬ٝ‫اي‬

‫ح‬ٝ‫قٗا ع‬ٛ‫ يف اييت ؾ‬١‫كني ثِ تطُشٌ نٌ َستب‬ٜ ‫كني ثِ عني‬ٜ ‫كني ثِ سل‬ٜ ًِ‫ثِ ع‬

.‫ْٗا ؾٗرا سل‬ٚ‫صري اذتهِ هلا د‬ٜ


“Kami berpendapat bahwa ilmu yang dihasilkan melalui syawahid dan dalil-
dalil itulah yang dinamakan Ilmu Haqiqi (ilmu yang sesungguhnya),
sedangkan ilmu yang diperoleh tanpa menggunakan syawahid dan dalil maka
tidak ada jalan untuk mempercayainya, atau dengan kata lain, bukan ilmu.
Memang benar terkadang ilmu yang diperoleh melalui syawahid akan menjadi
kuat dan bertambah kekuatannya, hingga sampai dimana sesuatu yang
diketahui itu seakan-akan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, atau sesuatu
yang ghaib seakan-akan menjadi sesuatu yang tampak oleh mata, ilmu yakin
seakan-akan seperti „ain al-yakin. Jadi, permasalahannya terjadi melalui
perasaan terlebih dahulu, kemudian beralih kepada kiasan, kemudian
dugaan, kemudian ilmu, kemudian ma‟rifah, kemudian ilmu yakin,
kemudian haqq al-yakin, kemudian „ain al-yakin, hingga setiap tingkatan
akan melebur kepada tingkatan yang lebih tinggi darinya. Yang mana pada
tingkatan tersebut kendali hukum ada padanya, tanpa yang lain. Maka
inilah yang benar.”19
C. Cara Memperoleh Ilmu Dan Saluran-Salurannya
1. Cara Memperoleh Ilmu
Ilmu itu hanya bisa diperoleh dengan cara belajar (ta‟allum). Hal itu
sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Bukhari di dalam Kitab Jami‟
ash-Shahihnya, dalam bab Al-Ilmu qabla al-Qauli wa al-„Amal. Rasulullah
Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda :

19
- Ibn Qayyim, Madarik Al-Salikin baina manazil iyyakana’budu waiyyakanastain,
Beirut : Dar Al-Kitab Al-Arabi,1996, hlm.399.

16 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
‫َُْٖا‬٢‫َإ‬ٚ ، ٢ٜٔٚ‫ ايد‬٢ٔ‫كِٗ ُ٘ ؾ‬ِّٜ ‫ُؿ‬ٜ ‫ِسّا‬ٝ‫ُ٘ بٔ٘ٔ َخ‬٤ً‫ٔد اي‬٢‫ُس‬ٜ َِٔ « - ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ ص‬- ٗ٢ٔ‫ا ٍَ ايٖٓب‬ٜ‫َق‬ٚ

»٢ِ٥ًَ‫ُِ بٔايتٖع‬ًٞٔ‫يع‬ٞ‫ا‬

Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang dikehendaki


oleh Allah kebaikan baginya, maka ia akan dipahamkan dalam urusan Agama,
dan sesungguhnya ilmu itu dengan ta‟allum”. (HR. Bukhari)
Hadist di atas secara tegas menjelaskan bahwa untuk memperoleh
ilmu haruslah melalui proses belajar. Karena tidak ada di dunia ini
menjadi seorang pakar dibidang tertentu dengan cara instan, tanpa
melaui proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh
ilmu diperlukan usaha belajar yang gigih. Tanpa itu, mustahil ilmu
tersebut akan diperoleh.
2. Saluran-Saluran Ilmu
Untuk tercapainya ilmu melalui proses belajar tersebut,
diperlukan instrument pendukungnya, yaitu mencakup empat saluran
ilmu, (1) persepsi indera (idrak al-hawass), (2) proses akal sehat (ta‟aqqul)
serta (3) intuisi hati (qalb), dan (4) melalui informasi yang benar (khabar
shadiq).20
Persepsi inderawi meliputi yang lima hal yaitu indra pendengar,
penglihatan, perasa, penyium, penyentuh, plus indra keenam yang
disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis, yang menyertakan daya
ingatan atau memori (dzakirah), daya penggambaran (khayal) atau
imajinasi dan daya estimasi (wahm). Proses akal mencakup nalar (nadzar)
dan alur pikir (fikr). Dengan nalar dan alur pikir ini manusia bisa
berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat,
berargumentasi, melakukan anologi, membuat keputusan, dan menarik
kesimpulan.21
Sedangkan dengan intuisi kalbu, menurut Syamsuddin Arif,
seseorang dapat menangkap pesan-pesan ghaib, isyarat-isyarat ilahi,

20
Dr. Syamsuddin Arif, Orientasi dan Diabolisme Pemikiran, hlm. 205
21
Ibid, hlm. 205-206

17 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
menerima ilham, dan lain sebagainya. Namun untuk kepastian
kebenaran ilmu yang diperoleh melalui instrument terakhir ini mesti
dikonfirmasi kepada sumber ilmu yang ketiga yang merupakan sumber
ilmu yang sejati dan hakiki, yaitu khabar shadiq. Sumber khabar shadiq,
terutama dalam urusan Agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah
Rasulillah ShalAllahu „Alaihi wa Sallam) yang diterima dan diteruskan –
yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) – sampai akhir zaman.22
Dari saluran-saluran ilmu tersebut harus diintegrasikan dalam
kesatuan yang utuh tanpa pemisahan antara satu dengan yang lainya.
Karena kalau tidak, akan terjadi proses sekulerisasi, yaitu pemisahan
antara yang aqli dan naqli. Ibn Taimiyah mengatakan :
― Saluran-saluran ilmu itu mencakup indera batin dan zâhir, yakni
yang dapat diketahui dengannya hal-hal yang wujud zatnya.
Kemudian berpikir dengan nalar dan qiyâs. Ilmu yang ini bisa
tercapai sesudah ilmu dengan indera. Maka apa yang ditunjukkan
oleh indera secara mu'ayyan (empiris) dapat ditunjukkan pula oleh
akal dan qiyâs (analogi) secara kullî (global) dan mutlaq (tidak ada
batasan/konseptual), karena memang nalar, jika sendirian, tidak
bisa mengetahui sesuatu secara mu'ayyan. Ia sebatas mengubah
yang khusus menjadi umum, dan yang mu'ayyan menjadi mutlaq.
Karena hal-hal yang kullî hanya bisa diketahui oleh akal,
sebagaimana yang mu'ayyan hanya bisa diketahui oleh indera. Yang
terakhir adalah , khabar. Dan khabar ini mencakup kullî, mu'ayyan,
syâhid (yang tampak) dan ghâ`ib (yang tidak tampak).23
Adapun dalil yang dapat dijadikan landasan teori saluran-saluran
ilmu tersebut adalah sebgaimana firman Allah di dalam Al-Qur‘an Surat
an-Nahl ayat 78 yang berbunyi:

َ‫بِصَاز‬ٜ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ َ‫ُِ ايطُِٖع‬ٝ‫ه‬ٜ‫ َدعٌََ ي‬َٚ ‫ّا‬٦ِٝ‫غ‬


َ ًَُُِٕٜٛ‫ا َتع‬ٜ‫ِِ ي‬ٝ‫أََٖٗاتٔه‬ٝ ٢ٕٛٝٛ‫ِِ َِٔٔ ُب‬ٝ‫أخِ َسدَه‬ٜ ُ٘٤ً‫َاي‬ٚ

. َُٕٚ‫س‬ٝ‫ِِ َتػِه‬ٝ‫ه‬٤ًَ‫ع‬ٜ‫ ي‬٠ٜ‫ٔ َد‬٦‫ؾ‬ٜٞ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ

22
Ibid
23
Ibid, jilid 7, hlm. 324

18 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Nahl: 78)
Demikian juga firman-Nya di dalam Al-Qur‘an Surat Qaf ayat 37
yang berbunyi:

.ْ‫د‬ٝ٢ٗ‫غ‬
َ ََُٖٛٚ َ‫ ايطُِٖع‬٢ٜ‫ك‬ٞ‫ي‬ٜ‫ أ‬ِٚ ٜ‫ب أ‬
ْ ًٜٞ‫ ُ٘ ق‬ٜ‫ا َٕ ي‬ٜ‫ئ َُ ِٔ ن‬٣َ‫س‬ٞ‫رٔن‬ٜ‫و ي‬
ٜ ‫ ذَٔي‬ٞٔ‫ ٖٕ ؾ‬٢‫إ‬

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan


bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya,
sedang dia menyaksikannya.” (QS.Qaf : 37)
Di dalam ayat lain Allah menegaskan ancaman bagi mereka yang
tidak mau mempergunakan instrument ilmu tersebut, sehingga
berdampak pada kebodohan. Tentu saja kebodohan ini akan berdampak
pada kesesatan, dan kesesatan akan menjerumuskan pada neraka
jahanam. Allah berfirman:

‫ا‬ٜ‫ُْٔ ي‬ٝ‫ ِع‬ٜ‫يُِِٗ أ‬َٜٚ ‫َٕ ٔبَٗا‬ُٛٗ‫ك‬ٜ ٞ‫َؿ‬ٜ ‫ا‬ٜ‫بْ ي‬ًٛٝٝ‫يُِِٗ ق‬ٜ ٢‫ِْظ‬٢‫إ‬ٞ‫َاي‬ٚ ٚٔ‫ذ‬
ٔ ‫ي‬ٞ‫نجٔريّا ََٔٔ ا‬ٜ ََِٖٓٗ ‫ذ‬
َ ‫َْا ٔي‬ٞ‫دِ َذزَأ‬ٜ‫ك‬ٜ‫َي‬ٚ

.ًَٕٛٝٔ‫يػَاؾ‬ٞ‫ ُٖ ُِ ا‬ٜ‫و‬٦ٔ‫ي‬ٜٚٝ‫ضَ ٌٗ أ‬ٜ‫ بٌَِ ُِِٖ أ‬٢ّ‫ِْعَا‬ٜ‫أ‬ٞ‫اي‬ٜ‫و ن‬


ٜ ٔ٦‫ي‬ٜٚٝ‫َٕ ٔبَٗا أ‬ُٛ‫طَُِع‬َٜ ‫ا‬ٜ‫آذَا ْٕ ي‬ٜ ِِ ُٗ‫ي‬َٜٚ ‫َٕ ٔبَٗا‬ُٚ‫بِصٔس‬ُٜ

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)


kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.‖ (QS. Al-A’raf: 179)

٢َُِ‫ا َتع‬ٜ‫َْٖٗا ي‬٢‫إ‬ٜ‫َٕ ٔبَٗا ؾ‬ُٛ‫طِ َُع‬َٜ ْٕ‫آذَا‬ٜ ِٚ‫أ‬ٜ ‫َٕ بَٔٗا‬ًٛٝٔ‫عِك‬َٜ ْ‫ب‬ًٛٝٝ‫يُِِٗ ق‬ٜ َٕٛٝ‫ؾتَه‬ٜ ٢‫ ِزض‬ٜ‫أ‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫ا ؾ‬ُٚ‫طٔري‬َٜ ًِِٜٜ‫ؾ‬ٜ‫أ‬

.٢‫ز‬ُٚ‫ ايصٗد‬ٞٔ‫ ؾ‬ٞٔ‫ت‬٤‫ب اي‬


ُ ًٛٝٝ‫ك‬ٞ‫ اي‬٢َُِ‫هٔ ِٔ َتع‬ٜ‫َي‬ٚ ُ‫بِصَاز‬ٜ‫أ‬ٞ‫اي‬

19 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka
mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga
yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata
itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al-Hajj:
46)
D. Klasifikasi Dan Hirarki Ilmu
A. Klasifikasi Ilmu
Islam tidak mengenal dikotomi ilmu; yang satu diakui, yang
lainnya tidak. Yang logis-empiris dikategorikan ilmiah, sedangkan yang
berdasarkan pada wahyu tidak dikategorikan ilmiah. Semua jenis
pengetahuan, apakah itu yang logis-empiris, apalagi yang sifatnya wahyu
(revelational), diakui sebagai sesuatu yang ilmiah. Dalam khazanah
pemikiran Islam yang dikenal hanya klasifikasi (pembedaan) atau
diferensiasi (perbedaan), bukan dikotomi seperti yang berlaku di Barat.24
Al-Ghazali misalnya membagi ilmu dari aspek ghard
(tujuan/kegunaan) pada syar'iyyah dan ghair syar'iyyah. Syar'iyyah yang
dimaksudkan al-Ghazali adalah yang berasal dari Nabi Shalallahu „Alaihi
wa Sallam , sedangkan ghair syar'iyyah adalah yang dihasilkan oleh akal
seperti ilmu hitung, dihasilkan oleh eksperimen seperti kedokteran, atau
yang dihasilkan oleh pendengaran seperti ilmu bahasa.25
Ibn Taimiyyah membagi ilmu dari aspek yang sama dengan pola
yang sama. Cuma penamaannya, syar'iyyah dan 'aqliyyah. Syar'iyyah yang
dimaksudkan Ibn Taimiyyah adalah yang berurusan dengan persoalan
agama dan ketuhanan, adapun 'aqliyyah adalah yang tidak diperintahkan
oleh syara' dan tidak pula diisyaratkan olehnya.26
Sementara Syaikh al-'Utsaimin membahasakannya dengan ilmu
syar'î dan nazharî. Ilmu syar'î adalah fiqh (pemahaman) terhadap kitab
Allah dan sunnah Rasulullah ShalAllahu „Alaihi wa Sallam, sementara

24
- Nasrudin Syarif, Konsep Ilmu , dalam Filsafat Ilmu, Bogor : UIKA,2012.
25
Abu al-Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihyâ` 'Ulûm al-Dîn, Mesir:
Maktabah Mesir, 1998, juz 1, hlm. 27.
26
Ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ, jilid 13, hlm. 136 dan jilid 19, hlm. 231-233.

20 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ilmu nazharî adalah ilmu shinâ'ah (perindustrian) dan yang berkaitan
dengannya.27
Berkaitan dengan pembagian ilmu dalam Islam seperti di atas,
Oliver Leaman menjelaskan, umat Islam membagi ilmu ke dalam model
seperti itu disebabkan Al-Qur`an menjelaskan bahwa bidang
pengetahuan itu ada dua; yang tampak dan yang gaib. Yang tampak
dapat diketahui oleh manusia dan juga merupakan objek kajian sains,
sedangkan alam gaib, meskipun dapat diketahui dengan cara yang
berbeda, merupakan wilayah wahyu. Hal ini dapat dimengerti mengingat
tidak adanya bukti fisik yang bisa diterima ihwal alam gaib.28
Oliver Leaman menjelaskan lebih lanjut, berdasar pada acuan Al-
Qur`an inilah maka kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam ada dua
jenis: 'Ilm yang mengungkap 'âlam syahâdah atau alam yang sudah
diakrabi dan terpapar dalam sains alam; dan ma'rifah yang mendedahkan
'âlam al-ghâ`ib atau alam yang tersembunyi dan karenanya lebih dari
sekadar pengetahuan proposisional (propositional knowledge). Cara
memperoleh pengetahuan jenis kedua ini adalah melalui wahyu.29
Klasifikasi seperti ini penting untuk diterapkan agar tidak terjadi
"kekacauan ilmu". Ketika agama diukur oleh akal dan indera (induktif),
maka yang lahir adalah sofisme modern. Sehingga adanya Ahmadiyah
dan aliran-aliran sesat tidak dipahami sebagai sebuah "kesalahan",
melainkan sebuah pembenaran bahwa Islam itu warna-warni. Demikian
juga, ketika sains dicari-cari pembenarannya dari dalil-dalil agama, maka
yang lahir kelak pembajakan dalil-dalil agama. Sehingga langit yang tujuh
dipahami sebagai planet yang jumlahnya tujuh, seperti pernah
dikemukakan oleh sebagian filosof Muslim di abad pertengahan.30
Konferensi Pendidikan Islam II di Islamabad menghasilkan
keputusan bahwa isi kurikulum terbagi atas dua macam, yaitu perennial

27
Muhammad Shalih al-'Utsaimin, Kitâb al-'Ilm, Maktabah Nur al-Huda, t.th., hlm.
1-2, dan 15.
28
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy, terj. Musa Kazhim dan
Arif Mulyadi, Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis, Bandung: Mizan, 2002,
Cet. II, hlm. 66.
29
Ibid.
30
Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Bandung: Arasy Mizan, 2005, hlm. 111

21 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
(naqliyyah) yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah, dan acquired
(aqliyyah) yang bersumber dari imajinasi dan pengalaman indra.31
Rincian dari klasifikasi ilmu itu sebagai berikut :
1. Ilmu perennial, yaitu ilmu Al-Qur‘an , meliputi qirâ‟at, hifz, tafsîr,
sunnah, sîrah, tauhîd, fiqh, ushûl fiqh, bahasa Al-Qur‘an,
2. Ilmu acquired yaitu
a. Seni (imajinatif) meliputi seni Islam, arsitektur, bahasa dan
sebagainya
b. Seni intelek, meliputi pengetahuan sosial, kesusastraan, filsafat,
pendidikan, ekonomi, politik, sejarah, peradaban Islam, ilmu
bumi, sosiologi, linguistik, psikologi, antropologi, dan sebagainya
c. Ilmu murni, meliputi engineering dan teknologi, ilmu
kedokteran, pertanian, kehutanan, dan sebagainya
d. Ilmu praktik (practical science) meliputi ilmu perdagangan, ilmu
perpustakaan, ilmu kerumahtanggaan, ilmu komunikasi dan
sebagainya.32
Pada hakikatnya, semua ilmu datang dari Allah Subhanahu wa
Ta‟ala . Klasifikasi seperti ini bukan berarti para ulama menganut paham
dualistis. Sebab antara ilmu yang satu dengan lainnya tidak memiliki
validitas yang sama atau eksklusifitas yang setara. Klasifikasi tadi
menunjukkan bahwa ilmu-ilmu itu bukanlah hal yang sama dan juga
bukan dua hal yang bertentangan, tetapi saling melengkapi meskipun
tidak sama satu dengan lainnya.
Dalam Islam, kurikulum pendidikan harus berdasarkan aqidah
33
Islam. Maksudnya, aqidah menjadi tolak ukur dan standar penilaian
apakah ilmu itu boleh dipelajari atau tidak. Yang sesuai dengan aqidah
Islam boleh dipelajari sedangkan yang bertentangan tidak boleh diambil
ataupun diyakini.
Dalam sejarahnya, Islam mengabadikan ribuan ulama yang
memiliki sifat-sifat ilmuwan yang sempurna. Ibn Sîna selain mempelajari

31
Ibid
32
Abdul, Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islâm, hlm.150
33
Abd al-Rahmân al-Baghdâdî, Sistem Pendidikan Islâm di Masa Khilafah Islâm,
hlm.9

22 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Al-Qur‘an dan ilmu-ilmu agama yang lain, ia juga mempelajari filsafat,
ilmu kedokteran, mantiq dan sebagainya. Al-Khawarizmî, selain
memahami ilmu agama, ia juga memahami ilmu matematika dengan
baik. Agama menjadikannya berkreasi untuk melakukan terobosan-
terobosan kreatif yang hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh umat
manusia.34 Hal ini menjadi bukti bahwa Islam tidak pernah membatasi
umatnya untuk mempelajari ilmu agama saja dan mengabaikan ilmu-
ilmu intelektual lainnya. Yang diperlukan adalah sifat selektif dalam
menerima ilmu yang dipelajarinya.
B. Hierarki Ilmu
Di samping klasifikasi, para ulama juga memberlakukan hierarki
pengetahuan. Artinya, pemilahan mana yang pokok dan utama, dan
mana yang tidak pokok. Mana yang harus menjadi dasar dari semua
pengetahuan, dan mana yang harus senantiasa berdasar pada ilmu-ilmu
yang mendasar.35
Dalam hal ini, para ulama memberlakukan hukum fardlu 'ain dan
fardlu kifayah. Ibn Taimiyyah menyatakan bahwa yang fardlu 'ain adalah
yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan yang kena kepada setiap
individu. Al-Ghazali menjabarkannya sebagai pokok-pokok 'aqîdah,
'ibâdah, dan sulûk/akhlâq.36 Sementara fardlu kifâyah adalah yang
selebihnya dari itu.
Dalam hierarki yang disusun oleh Ibn Taimiyyah, urutan ilmu dari
yang paling pokok kepada yang berstatus pelengkap adalah sebagai
berikut:
1. Ilmu aqidah
2. Ilmu syari'at yang berkaitan dengan individu, berupa perintah dan
larangan (halâl dan harâm) yang ditujukan ke setiap individu.
3. Menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur`an.

34
Buku-buku karya al-Khawarizmî masih digunakan di berbagai universitas di
Eropa hingga abad keenam belas. Selengkapnya baca Wahyu, 99 Ilmuwan Muslim Perintis
Sains Modern, Buku Biografi Lengkap, Praktis dan Inspiratif, (Jogjakarta: Diva Press, 2010),
hlm.26-30
35
Nasrudin Syarif, Konsep Ilmu , dalam Filsafat Ilmu, Bogor : UIKA,2012.
36
Al-Ghazali, Ihyâ` 'Ulûm al-Dîn, hlm. 25-27.

23 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
4. Ilmu lainnya yang diperlukan oleh masing-masing individu, dan ini
sifatnya relatif tergantung pada keperluan individu tersebut. Jika
seseorang menggeluti dunia dakwah, maka ilmu-ilmu agama harus
dikuasainya secara mendalam. Jika seseorang berprofesikan
pedagang, maka ilmu dagang harus dia kuasai. Jika seseorang
berprofesikan nelayan, maka ilmu kelautan dan perikanan harus dia
kuasai. Dan begitulah seterusnya.37
Terkait Al-Qur`an, Ibn Taimiyyah menyebutnya ashal ilmu yang
harus lebih diprioritaskan daripada "ilmu-ilmu pelengkap, seperti kalam,
dialektika, khilafiyyah, furû' (cabang-cabang keagamaan) yang langka,
taqlîd yang tidak diperlukan, hadits-hadits gharîb (asing) yang tidak tsâbit
(berkekuatan tetap) dan tidak bermanfaat, dan berbagai jenis ilmu pasti
yang tidak ada hujjah-nya dengan meninggalkan menghafal Al-Qur`an
yang tentunya lebih penting dari semua itu."38
Terkait hierarki ini, Ibn Taimiyyah menegaskan bahwa walaupun
kedua jenis ilmu itu diakui sebagai ilmu, akan tetapi tetap kategori "ilmu
yang bermanfaat" seperti yang sering diisyaratkan Rasul Shalallahu
„Alaihi wa Sallam adalah ilmu yang bersumber pada wahyu.39 Artinya,
segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu, asas kemanfaatannya akan
ada jika tidak bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul
Shalallahu „Alaihi wa Sallam (agama).
Lebih jelasnya bisa disimak dari penjelasan al-Attas tentang
hierarki ilmu. Menurutnya, hubungan antara kedua kategori ilmu
pengetahuan, antara ilmu agama dan dunia, sangat jelas. Yang pertama
menyingkap rahasia Being dan Eksistensi, menerangkan dengan sebenar-
benarnya hubungan antara diri manusia dan Tuhan, dan menjelaskan
maksud dari mengetahui sesuatu dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.
Konsekuensinya, kategori ilmu pengetahuan yang pertama harus
membimbing yang kedua. Jika tidak, ilmu pengetahuan kedua ini akan
membingungkan manusia dan secara terus menerus menjebak mereka
dalam suasana pencarian tujuan dan makna kehidupan yang meragukan
dan salah. Mereka yang dengan sengaja memilih cabang tertentu dari

37
Ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ, jilid 23, hlm. 53-55
38
Ibid.
39
Ibid, jilid 6, hlm. 388.

24 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
kategori kedua dalam upaya meningkatkan kualitas diri mereka, al-Attas
menegaskan ulang, harus dibimbing oleh pengetahuan yang benar dari
kategori pertama.40
Dari kajian tentang konsep ilmu di atas dapat diambil beberapa
simpulan, yaitu:
1. Penanaman nilai-nilai kebenaran, kepastian untuk mengetahui
dan kemungkinan untuk mencapainya, harus sudah ditanamkan
sejak dini. Anak-anak didik harus terbebas dari virus sofis yang
merupakan ancaman paling berbahaya bagi ilmu pengetahuan.
2. Semua ilmu pengetahuan yang diajarkan pada anak didik harus
sudah bersih dari nilai-nilai sekuler. Cara yang dapat
ditempuhnya adalah dengan memastikan semua ilmu
pengetahuan yang diajarkan terbimbing oleh ilmu syari'at.
Artinya tidak ada lagi ilmu pengetahuan yang mengandung nilai-
nilai yang mengingkari ketuhanan dan agama. Tidak ada lagi pula
ilmu pengetahuan yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan
keharmonisan alam sebagaimana telah diajarkan oleh wahyu.
Dalam hal ini, maka melakukan islamisasi ilmu pengetahuan
kontemporer sebagaimana diusulkan oleh al-Attas menjadi
solusinya.
3. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam
harus dibersihkan dari nilai-nilai skeptisisme dan relativisme.
Karena dua nilai tersebut menyebabkan lahirnya confusion di
dunia pendidikan Islam. Benar dan salah menjadi relatif,
keabsahan agama Islam pun jadi diragukan.
4. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam
juga dengan sendirinya harus memperhatikan wahyu sebagai
sumber utama ilmu. Seperti telah dijelaskan oleh al-Ghazali dan
Ibn Taimiyyah di atas, apapun yang dihasilkan oleh rasio
ataupun intuisi, jikalau kemudian bertentangan dengan wahyu
maka harus tertolak. Jika ini tidak dipatuhi maka akan terjadi
confusion juga di dalam dunia pendidikan. Al-Qur`an dan hadits
menjadi diragukan dan disepelekan, disebabkan nalar-nalar rasio
khas Barat lebih diprioritaskan.

40
Wan Daud, The Educational Philosophy, hlm. 115.

25 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB III
INTEGRASI AKAL DAN WAHYU

A. Konsep Akal
Akal memiliki makna “imsâk, dhabt, hifzh (menahan, menjaga),
lawan kata dari irsâl, itlaq, ihmal, tasayyub (melepaskan).41 Hal itu karena
akal adalah alat yang berfungsi sebagai kendali, yang mampu
membentengi manusia dari segala hal yang dapat melepaskannya ke
dalam jurang kehinaan.42
Kedudukan akal dalam Islam menempati posisi yang sangat
terhormat, melebihi agama-agama lain. Sebagai risalah Ilahiyyah terakhir,
Islam mempersyaratkan kewajiban menjalankan agama bagi orang yang
berakal. Artinya, orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan
mengerjakan perintah atau menjauhi larangan-Nya.
Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berakar pada 'aql bertaburan di
berbagai surat. Semua kata tersebut datang dengan bentuk kata kerja
(fi‟il) sebanyak 49 kali, dengan beberapa derivative dari al-„aql. Itu
menunjukkan bahwa pada hakikatnya akal harus difungsikan secara
aktif, agar berfungsi sebagaimana mestinya. Menggunakan kata ‫عقلوه‬
sebanyak sekali dalam Surat Al-Baqarah (2):75. Kata ‫ تعقلون‬disebut 24
kali, antara lain dalam Surat Al-Baqarah (2):44, 73, 76, 242; Ali ‗Imran
(3): 65, 118; Al-An‘am (6): 32, 151; Al-A‘raf (7):169; Yunus (10):16; Hud
(11): 51; Yusuf (12):2, 109. Kata ‫ نعقل‬dalam Surat Al-Mulk (67): 10. Kata

41
Ibid.
42
- Ibn Jauzi, AAl-Thib Al-Ruhani, hlm.7

26 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
‫ يعقلوا‬dalam Surat Al-Ankabut (29):43. Kata ‫ يعقلون‬sebanyak 22 kali
antara lain dalam Surat Al Baqarah (2): 164, 170, 171; Al Ma‘idah (5): 58,
103; Al Anfal (8): 22; Yunus (10):42, 100; Al-Ra‘du (13): 4; Al-Nahl (16)
12, 67; Al Hajj (22): 46.43
Penghargaan terhadap akal yang sedemikian agung, bukan berarti
akal dibiarkan bebas berkelana liar tanpa batas dan arahan, tapi harus
selaras dengan bimbingan wahyu. Dalam aliran teologi Islam, dikenal
madzhab Mu'tazilah yang kerap kehilangan kendali dalam
pengagungannya terhadap kedudukan akal. Bahkan seringkali wahyu
dipaksa "tunduk" mengikuti kehendak akal. Hal ini terlihat jelas seperti
dalam konsep-konsep Mu'tazilah tentang baik dan buruk yang
didasarkan pada akal (al-husnu wal qubhu 'aqliyani), ketidakberdayaan
Tuhan melakukan hal-hal yang "buruk", hingga urusan surga dan neraka
yang seharusnya menjadi hak mutlak Tuhan pun di atur oleh akal,
seperti yang tersusun dalam konsep al-ihbath wa l-takfir. Penghargaan
berlebihan terhadap akal juga sangat mendominasi prinsip-prinsip
keimanan Mu'tazilah yang lima (al-ushul al-khamsah), seperti prinsip
tauhid, adil, janji dan ancaman, kedudukan di antara dua kedudukan dan
amar ma'ruf nahi munkar.
Eksploitasi akal melebihi kapasitasnya tentunya berlawanan
dengan sunnatullah, bahkan bertentangan dengan makna kebahasaannya
(etimologis). Dalam kamus bahasa Arab, berbagai pengertian akal telah
dijelaskan dari akar kata dan derivasinya ('aqala, 'uqila, u'tuqila, 'aqaltu,
'aqil, 'iqal, ta'qil, ma'qul). (i) 'Uqila lahu shay'un berarti dijaga atau diikat
akalnya dan dibatasi. (ii) U'tuqila lisanuhu idza hubisa wa muni'a al-kalam
berarti ditahan dan diikat lidahnya, yaitu jika ia dibatasi dan dilarang
berbicara. (iii) 'Aqaltu l-ba'ir, berarti saya telah mengikat keempat kaki
unta. Ibnu Bari mengartikan akal dalam syairnya sebagai sesuatu yang
memberikan kesabaran dan wejangan (mau'idzah) bagi orang yang
membutuhkan. Sehingga dikatakan: al-'Aqil alladzi yahbisu nafsahu wa
yarudduha 'an hawaha (orang berakal adalah yang mampu mengekang
hawa nafsunya dan menolaknya). Maka, kata ma'qul (masuk akal) berarti

43
Hasan Zaini, Tafsir Tematik, hlm. 32

27 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ma ta'qiluhu bi qalbika, yaitu sesuatu yang kamu nalar dengan hati dan
kalbumu. 44
Makna kata akal yang berarti suatu yang terikat atau ikatan, juga
diperkuat dengan hadits Abu Bakar ketika orang-orang Arab enggan
membayar zakat. Beliau berkata: seandainya mereka enggan (membayar)
kepadaku seutas tali ('iqal) yang dulunya mereka bayarkan kepada
Rasulullah ShalAllahu „Alaihi wa Sallam, sungguh akan aku perangi
mereka.45
Kata 'iqal yang berarti ikatan, benang atau tali, juga dikuatkan
dengan hadits 'Adiy ibn Hatim, dimana beliau berkata: "Ketika turun
ayat (QS. 2:187) sehingga menjadi jelas bagimu antara 'benang putih'
dan 'benang hitam', aku segera menyiapkan benang ('iqal) hitam dan
benang putih, lalu aku letakkan di bawah bantal. Kemudian aku
melihatnya di malam hari, maka tidak jelas bagiku. Lalu aku pergi ke
Rasulullah ShalAllahu „Alaihi wa Sallam, aku pun menceritakan hal itu
kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: Sesungguhnya (ayat) itu
(berarti) hitamnya malam dan terangnya siang".46
Selanjutnya dijelaskan bahwa akal berarti kepastian dan
pengabsahan (verification, making sure, certitude) dalam segala perkara.
Dinamakan akal, karena dua alasan:
1. Mencegah pemiliknya (manusia) untuk terjerumus kedalam jurang
kehancuran.
2. Pembedaan antara manusia dan hewan.
Dengan demikian kedudukan akal dalam khazanah Islam adalah
untuk memastikan, mengokohkan dan mengabsahkan suatu keyakinan.
Ini tidak berarti bahwa sumber kebenaran wahyu adalah akal, atau akal
dapat dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai salah atau benarnya
wahyu. Sebab sesuai dengan kapasitas dan keterbatasan manusia, akal
tidak dibebani untuk mengenali hal-hal ghaib, atau untuk merumuskan
cara berinteraksi dengan Tuhan. Oleh karena itu, akal selalu diikat

44
- ibn Manzhur al-Ifriqi al-Mashri, 2005, Lisan al-‘Arab, (9 jilid), Dar al-Shadir,
Cetakan V, Beirut, bab: 'ayn-qaf-lam
45
- Shahih Muslim, Kitab al-Iman,
46
- Shahih Bukhari, Kitab al-Shaum, no. 783

28 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
dengan nilai-nilai wahyu. Maka dalam teologi Islam kedudukan akal dan
wahyu haruslah seimbang dan terpadu. Hal ini secara ringkas dijelaskan
oleh Imam al-Ghazali sebagai berikut:
"Perumpamaan akal seperti penglihatan yang sehat dan tidak
cacat. Sedangkan perumpamaan Al-Qur'an seperti matahari yang
cahayanya tersebar merata, hingga memberi kemudahan bagi para
pencari petunjuk. Amatlah bodoh jika seseorang mengabaikan salah
satunya. Orang yang menolak akal dan merasa cukup dengan petunjuk
Al-Qur'an, seperti orang yang mencari cahaya matahari tapi
memejamkan matanya. Maka orang ini tidak ada bedanya dengan orang
buta. Akal bersama wahyu adalah cahaya di atas cahaya. Sedangkan
orang yang memperhatikan pada salah satunya saja dengan mata sebelah
(picak), niscaya akan terperdaya".47
B. Konsep Wahyu48
Dari sisi kebahasaan, dapat disimpulkan secara umum dari para
penyusun kamus bahasa Arab bahwa arti ―Wahy‖ ini berkisar sekitar: al-
isyarah al-sari‟ah (isyarat yang cepat), al-kitabah (tulisan), al-maktub
(tertulis), al-risalah (pesan), al-ilham (ilham), al-i‟lam al-khafi
(pemberitahuan yang bersifat tertutup dan tidak diketahui pihak lain) al-
kalam al-khafi al-sari‟(pembicaraan yang bersifat tertutup dan tidak
diketahui pihak lain dan cepat).49 Arti-arti ini didasarkan pada teks-teks
dasar bahasa Arab, terutama Al-Qur‘an dan hadits, misalnya:

‫ََُٔٓا‬َٚ ٢‫ػَذَس‬
ٓ ‫ََٔٔ اي‬َٚ ٟ‫تا‬ُُٛٝ‫ ب‬٢ٍ‫يذٔبَا‬ٞ‫ ََٔٔ ا‬ٟٔ‫ آتَدٔر‬٢ٕٜ‫ أ‬٢ٌِ‫ ايَٓش‬٢ٜ‫ي‬٢‫ إ‬ٜ‫ زَٓبُو‬٢َ‫س‬ِٚ ‫أ‬َٜٚ

َُٕٛ‫سغ‬٢ ِ‫ع‬َٜ

Kata-kata ―wa- auha‖ dalam ayat 68 surat al-Nahl ini berarti


―memberi ilham‖

47
- Imam al-Ghazali, al-Iqtishad fi l-I'tiqad, hlm. 4
48
- Anis Malik Thoha, Konsep Wahyu Dan Nabi Dalam Islam, Bogor: Univ. Ibn
Khaldun, 2011
49
- Lihat, misalnya, al-Fayruz Abadi, al-Qamus al-Muhith; atau Ibn Manzhur, Lisan
al-’Arab; Al-Raghib al-Ashfihani, Mufradat Alfazh Al-Qur’an; Al-Tahanawi, Kasysyaf
Ishthilahat al-Funun wa al-’Ulum, dll., entry: “al-wahy”.

29 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٟ‫ٓا‬ٝ‫ػ‬
ٔ ‫ َع‬َٚ ٟ٠َ‫س‬ٞ‫ا بُه‬ُٛ‫ضٓبٔش‬
َ ِٕ‫ِِ أ‬٢ِٗٝ‫ي‬ٜ‫ إ‬٢َ‫س‬ِٚ ‫ؾأ‬

Kata-kata ―fa auha‖ dalam ayat 11 surat Maryam ini berarti


―memberi isyarat‖

ِِٝ‫ن‬ٛٝ‫ُذَادٔي‬ٝ‫ ِِٔي‬٢ٗ٥ٔ‫َآ‬ٝ‫ِٔي‬ٚ‫أ‬ٜ ٢ٜ‫ي‬٢‫ َٕ إ‬ُٛ‫س‬ُٛٝ‫ي‬ٜ ‫َاطٔ َني‬َٝ‫ػ‬


ٓ ‫ َٕٓ اي‬٢‫َإ‬ٚ

(al-An‘am:121)

َ‫ ُشخِسُف‬٣‫ َبعِض‬٢ٜ‫ي‬٢‫طُِِٗ إ‬
ُ ِ‫ بَع‬ٞٔ‫س‬ُٜٛ ٓ٢ٔ‫ذ‬
ٔ ‫ي‬ٞ‫َا‬ٚ ٢‫ْظ‬٢‫َاطٔنيَ اإل‬ٝ‫غ‬
َ ‫ّٓا‬ٚ‫ٓ عَ ُد‬٣ٞٔ‫ٓ َْب‬٢ٌٝ‫ًَٓائه‬َٞ‫ َدع‬ٜ‫رَٔيو‬ٜ‫َن‬ٚ

‫زّا‬ُٚ‫س‬ٝ‫ غ‬٢ٍِٛ ‫ك‬ٜ ٞ‫اي‬

(al- An‘am:112)
Kata-kata ―layuhun‖ dan ―yuhi‖ dalam kedua ayat di atas juga
mempunyai arti ―memberi isyarat atau ilham‖

‫ع صؿاتٗا‬ٜ‫ يف بد‬ٟ‫ل ؾهس‬٥‫دقا‬ ‫ٓست‬ٝ‫ ؾـتـش‬٠‫ـٗا ْـظس‬ٝ‫ْظست إي‬

‫دـٓاتٗا‬ٚ ‫ يف‬ٞ‫س‬ٛ‫ؾأثٓس ذاى اي‬ ‫ أسبٓٗـا‬ْٞٓ‫ـسف أ‬ٛ‫ٗا اي‬ٝ‫ إي‬ٞ‫س‬ٚ‫ؾأ‬

Kata-kata fa- auha dan al-Wahy dalam bait di atas mempunyai arti
―memberi isyarat‖.
Dengan demikian dapat dikatakan secara konklusif bahwa dalam
arti lughawinya, ―Wahy‖ adalah, sebagaimana disimpulkan oleh Rasyid
Ridha dalam al-Wahy al- Muhammadi, ―pemberitahuan yang bersifat
tertutup, tidak diketahui pihak lain, cepat dan khusus hanya kepada yang
dituju‖.50

50
- Rasyid Ridha, al-Wahy al-Muhammadi (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah: 2005),
hal. 25

30 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kemudian dari arti kebahasaan ini, para ulama membangun
definisi kata Wahy secara teknis (terminologis) atau istilah, yakni
―pemberitahuan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada seorang nabi tentang
berita-berita gaib, syari‟at, dan hukum tertentu.‖ Rasyid Ridha dalam al-
Wahy al-Muhammad, wahyu adalah ‗pemberitahuan yang bersifat tertutup,
tidak diketahui oleh pihak lain, cepat dan khusus hanya kepada yang
dituju.‘51 Al Maraghi mendefinisikan wahyu sebagai berikut:

‫كني بأْ٘ َٔ قبٌ اهلل‬ٝ‫ ايػدص َٔ ْؿط٘ َع اي‬ٙ‫٘ عسؾإ ظد‬٥‫ا‬ٝ‫ اهلل إىل أْب‬ٞ‫س‬ٚٚ

‫ت‬ٛ‫ بػري ص‬ٚ‫تُجٌ يطُع٘ أ‬ٜ ‫ت‬ٛ‫ٍ بص‬ٚ‫ األ‬ٚ .١ٛ‫اض‬ٚ ‫ بػري‬ٚ‫ أ‬١ٛ‫اض‬ٛ‫ب‬
Wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh para Nabi dengan penuh
keyakinan bahwa datangnya dari Allah, baik dengan perantaraan malaikat atau
bukan, mendengar suara atau tidak mendengar suara.52
Dari definisi ini jelas bahwa konsep ―Wahy‖ dalam Islam harus
mengandung dua unsur utamanya, yaitu (i) pemberi berita (Allah
Subhanahu wa Ta'ala) dan (ii) penerima berita (nabi), sehingga tidak
dimungkinan terjadinya wahyu tanpa keduanya atau menafikan salah
satunya. Dari sini jelas pula bahwa wahyu harus dibedakan dengan ilham
yang memancar dari akal tingkat tinggi, atau dari apa yang sering
disebut-sebut para orientalis (yang sebetulnya mengikuti kaum musyrik
dan kafir pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu „Alaihi wa Sallam )
sebagai ―daya imajinasi dan khayalan kreatif‖ (creative imagination), dan
―kondisi kejiwaan tertentu dimana seseorang seakan-akan melihat
Malaikat kemudian mendengar atau memahami sesuatu darinya,‖ atau
al-Wahy al-nafsi yang sering dituduhkan kepada Nabi Muhammad
ShalAllahu 'Alaihi wa Sallam, dulu maupun kini. Oleh karenanya,
kemudian sebagian Di antara mereka menyebutnya sebagai ―imajinasi
penyair (sya‟ir), halusinasi mimpi (adhghatsu ahlam), dukun dan tukang
sihir.‖ Bahkan ada sebagian lagi dari mereka yang secara kasar
mengatakan bahwa kondisi tersebut adalah semacam ―gangguan jiwa‖

51
Dr. Anis Malik Thaha, “Konsep Wahyu dan Nabi dalam Islam”, hlm. 2
52
Hasan Zaini, Tafsir Tematik Ayat-ayat Ahkam Tafsir Al Maraghi, Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1997, hlm. 57.

31 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
yang mereka sebut dengan berbagai macam sebutan, seperti ―epilepsi‖
(al-Shar‟) dan ―gila‖ (al-junun), sebagaimana yang direkam dengan jelas
dalam Al-Qur‘an sendiri.53
Tentunya tuduhan-tuduhan semacam ini sangat lemah,54 tidak
berdasar (baseless), dan hanya bertujuan menolak serta menggugat
kesucian dan otoritas Wahyu yang diterima Rasulullah ShalAllahu 'Alaihi
wa Sallam. Dengan menafikan adanya unsur di luar diri seorang nabi,
yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka ingin menegaskan bahwa apa
yang diklaimnya sebagai wahyu tidak lain hanyalah: (i) hasil produksi
olah-pikir/imajinasi dirinya sendiri, yang dengan demikian secara
substansial tidak beda dengan umumnya produk pemikiran manusia
yang lain; dan (ii) sesuatu yang dapat diusahakan secara sungguh-
sungguh untuk dihasilkan (muktasab) oleh siapa saja yang mampu. Maka
dari itu, untuk mementahkan tuduhan-tuduhan miring tersebut, begitu
juga untuk mengantisipasi munculnya tuduhan-tuduhan serupa di masa
mendatang, sejak dini Allah sendiri dalam Al-Qur‘an telah menyatakan,
bahwa Al-Qur‘an itu ―diturunkan‖, atau Allah ―menurunkannya‖, dan
proses pewahyuannya dengan menggunakan kata kerja bentuk ―anzala‖
dan ―nazzala‖ dengan berbagai variasinya, seperti ―anzalna‖, ―anzaltu‖
―nazzalna‖, ―tanzil‖ dsb. Bagi siapa saja yang faham kaedah bahasa Arab
dengan benar, secara otomatis akan faham bahwa dalam proses
pewahyuan ini ada unsur di luar Muhammad Shalallahu „Alaihi wa Sallam
yang aktif sebagai pemberi atau sumber utama yang otoritatif, yaitu
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Harus segera disusulkan di sini bahwa memang ada dua ayat
dalam Al-Qur‘an yang berkaitan dengan turunnya wahyu kepada Nabi

53
Al-Qur'an mengisahkan pandangan mereka sebagai berikut: Bahkan mereka
berkata (pula): (Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya,
bahkan dia sendiri seorang penyair..(QS. al-Anbiya’:5); dan mereka berkata: "Apakah
sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair
gila?" (QS.al-Shaffat:36); Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang
kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya" (QS. al-Thur:30)
54
- Selain Al-Qur’an sendiri, sudah banyak ulama yang menangkis tuduhan-
tuduhan tersebut dengan dalil-dalil yang sangat solid, baik secara scientific, historis
maupun logis, dalam karya-karya mereka. Lihat, misalnya: Rasyid Ridha, op. cit., hal. 59-
93; dan Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kawniyyah (Dimasyq:
Dar al-Fikr, [1982] 1985), hal. 186-95.

32 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Shalallahu „Alaihi wa Sallam yang menggunakan kata kerja bentuk
―nazala‖, yaitu dalam surah al-Isra:105 dan al-Syuara:92, yang seakan-
akan jika difahami secara terpisah atau out of context mengindikasikan
wahyu datang sendirinya tanpa ada fihak yang bertanggung jawab sebagi
sumbernya. Namun dengan memahami dua ayat tersebut dalam konteks
(siyaq dan sibaq)nya, maka anggapan ini segera gugur dengan sendirinya.
C. Integrasi Akal dan Wahyu
Dalam Islam, akal tidak boleh berdiri sendiri, sebagaimana yang
diyakini oleh kelompok muktazilah. Akal harus diposisikan sesuai
dengan porsinya, dan harus dikendalikan oleh wahyu. Inilah yang
disebut dengan integrasi antara wahyu dan akal, sehingga akal berfungsi
sesuai dengan fitrahnya. Di antara beberapa contoh isyarat yang
dijelaskan oleh Al-Qur‘an adalah sebagaimana uraian berikut :
1. Tafakkur dan tadabbur terhadap Al-Qur‘ân, sebagaimana firman
Allah dalam Surat Shaad (38):29

‫ا األيباب‬ٛ‫ي‬ٚ‫ترنس أ‬ٝ‫ي‬ٚ ٘‫ات‬ٜ‫ا آ‬ٚ‫دبس‬ٝ‫و َبازى ي‬ٝ‫ إي‬ٙ‫نتاب أْصيٓا‬

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
2. Tafakkur dan tadabbur terhadap makhluk Allah, sebagaimana
firman Allah dalam Surat Ali Imran (3): 191.

‫ات‬ٚ‫ٕ يف خًل ايطُا‬ٚ‫تؿهس‬ٜٚ ِٗ‫ب‬ٛٓ‫ د‬٢ً‫ع‬ٚ ‫دا‬ٛ‫قع‬ٚ ‫اَا‬ٝ‫ٕ اهلل ق‬ٚ‫رنس‬ٜ ٜٔ‫اير‬

‫األزض زبٓا َا خًكت ٖرا باطال ضبشاْو ؾكٓا عراب ايٓاز‬ٚ


“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka.”

33 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
3. Tafakkur dan tadabbur terhadap syari‘at-Nya, sebagaimana
diisyaratkan Allah dalam Surat al Baqarah (2):179, sebagai berikut:

ٕٛ‫ األيباب يعًهِ تتك‬ٞ‫ي‬ٚ‫ا أ‬ٜ ٠‫ا‬ٝ‫يهِ يف ايكصاص س‬ٚ

“Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-
orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”
4. Tafakkur dan Tadabbur terhadap kejadian dan keadaan ummat
terdahulu, sebagaimana dalam Surat Al-An‘am (6) ayat 6:

ِ‫ا نِ أًٖهٓا َٔ قبًِٗ َٔ قسٕ َهٓاِٖ يف األزض َا مل منهٔ يه‬ٚ‫س‬ٜ ‫أمل‬

ِٖ‫ َٔ حتتِٗ ؾأًٖهٓا‬ٟ‫دعًٓا األْٗاز جتس‬ٚ ‫ِٗ َدزازا‬ًٝ‫ ع‬٤‫أزضًٓا ايطُا‬ٚ

ٜٔ‫أْػأْا َٔ بعدِٖ قسْا آخس‬ٚ ِٗ‫ب‬ْٛ‫بر‬

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi


yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum
pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas
mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian
Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan
sesudah mereka generasi yang lain.”
5. Tafakkur dan tadabbur terhadap dunia dan kenikmatannya,
sebagaimana yang Allah firmankan dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat
45 sebagai berikut:

‫ ؾاختًط ب٘ ْبات األزض‬٤‫ َٔ ايطُا‬ٙ‫ أْصيٓا‬٤‫ا نُا‬ْٝ‫ ايد‬٠‫ا‬ٝ‫اضسب هلِ َجٌ اذت‬ٚ

‫ َكتدزا‬٤ٞ‫ نٌ غ‬٢ً‫نإ اهلل ع‬ٚ ‫اح‬ٜ‫ ايس‬ٙٚ‫ُا ترز‬ٝ‫ؾأصبح ٖػ‬

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia


adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi

34 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-
tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ”

6. Islam menjadikan akal sebagai ukuran taklif. Hal ini sebagaimana


yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu „Alaihi wa Sallam :

ٔ‫ ع‬ٚ ‫كظ‬ٝ‫طت‬ٜ ٢‫ِ ست‬٥‫ عٔ ايٓا‬ٚ ‫بًؼ‬ٜ ٢‫ عٔ ايصػري ست‬١‫زؾع ايكالّ عٔ ثالث‬

ٌ‫عك‬ٜ ٚ‫ربأ أ‬ٜ ٢‫ٕ ست‬ٛٓ‫اجمل‬

“Diangkat pena dari tiga orang: dari anak kecil sampai baligh, dari orang
tidur sampai ia bangun dan dari orang gila sampai ia sembuh atau berakal.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majjah).
7. Islam melarang taqlid dann mengecam orang yang tidak
mempergunakan akalnya serta hanya fanatik buta terhadap ajaran
nenek moyangnya. Hal ini Allah firmankan dalam Surat Al-Baqarah
(2): 170 sebagai berikut:

ٕ‫ نا‬ٛ‫ي‬ٚ‫ْا أ‬٤‫٘ آبا‬ًٝ‫ٓا ع‬ٝ‫ا بٌ ْتبع َا أيؿ‬ٛ‫ا َا أْصٍ اهلل قاي‬ٛ‫ٌ هلِ اتبع‬ٝ‫إذا ق‬ٚ

ٕٚ‫ٗتد‬ٜ ‫ال‬ٚ ‫ا‬٦ٝ‫ٕ غ‬ًٛ‫عك‬ٜ ‫آباؤِٖ ال‬

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: „Ikutilah apa yang telah


diturunkan Allah,‟ mereka menjawab: „(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti
apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami‟. "(Apakah
mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”
8. Islam juga memerintahkan untuk meneliti segala urusan sebelum
menyakininya. Allah memerintahkan dalam firman-Nya Surat al-
Isrâ‘ ayat 36:

35 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
٘ٓ‫و نإ ع‬٦‫ي‬ٚ‫ايؿؤاد نٌ أ‬ٚ ‫ايبصس‬ٚ ‫ظ يو ب٘ عًِ إٕ ايطُع‬ٝ‫ال تكـ َا ي‬ٚ

‫ال‬ٚ‫َطؤ‬

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai


pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
9. Islam menjadikan akal sebagai alat untuk mendapatkan ilmu. Allah
berfirman dalam Surat al Mujadilah (58) ayat 11:

‫ٕ خبري‬ًُٛ‫اهلل مبا تع‬ٚ ‫ا ايعًِ دزدات‬ٛ‫ت‬ٚ‫ٔ أ‬ٜ‫اير‬ٚ ِ‫ا َٓه‬َٛٓ‫ٔ آ‬ٜ‫سؾع اهلل اير‬ٜ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu


dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
10. Islam menjadikan akal sebagai sarana untuk berijtihad. Rasulullah
Shalallahu „Alaihi wa Sallam menjelaskan dalam hadist terkait apresiasi
Islam terhadap kegiatan ijtihad, sebagai berikut:

‫أ ؾً٘ أدس‬ٛ‫ إذا ادتٗد ؾأخ‬ٚ ٕ‫إذا سهِ اذتانِ ؾادتٗد ؾأصاب ؾً٘ أدسا‬

“Jika seorang hakim memutuskan hukuman lalu berijtihad dengan benar,


maka dia mendapat dua pahala, apabila berijtihad lalu salah, maka baginya
satu pahala.” (HR. Bukhari)
11. Mampu memahami hukum Kausalitas. Allah berfirman dalam Al
Mu‘minun ayat 80 :

ًٕٛ‫ايٓٗاز أؾال تعك‬ٚ ًٌٝ‫ي٘ اختالف اي‬ٚ ‫ت‬ٝ‫مي‬ٚ ٞٝ‫ حي‬ٟ‫ اير‬ٖٛٚ

“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang


(mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak
memahaminya?”

36 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
12. Mampu berpikir distinktif, yaitu mampu memilah-milah
permasalahan dan menyusun sistematika dari fenomena yang
diketahui, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Surat Al-Ra‘d ayat 4:

‫غري‬ٚ ٕ‫ا‬ٛٓ‫ٌ ص‬ٝ‫خن‬ٚ ‫شزع‬ٚ ‫دٓات َٔ أعٓاب‬ٚ ‫زات‬ٚ‫ع َتذا‬ٛ‫يف األزض ق‬ٚ

‫ات‬ٜ‫ بعض يف األنٌ إٕ يف ذيو آل‬٢ً‫ْ ؿطٌ بعطٗا ع‬ٚ ‫اسد‬ٚ ٤‫ مبا‬٢‫طك‬ٜ ٕ‫ا‬ٛٓ‫ص‬

ًٕٛ‫عك‬ٜ ّٛ‫يك‬

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-


kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang
tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian
tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum
yang berpikir.”
13. Mampu menyusun argumen yang logis. Hal ini tergambar dalam
Surat Ali ‗Imran ayat 65 ketika Allah mencela orang-orang ahli kitab
yang saling berbantah tanpa dalil yang logis.

ٙ‫ٌ إال َٔ بعد‬ٝ‫اإلجن‬ٚ ٠‫زا‬ٛ‫َا أْصيت ايت‬ٚ ِٖٝ‫ٕ يف إبسا‬ٛ‫ا أٌٖ ايهتاب مل حتآد‬ٜ

ًٕٛ‫أؾال تعك‬

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim,


padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim.
Apakah kamu tidak berpikir?”
14. Mampu berpikir kritis, dengan kata lain tidak taklid buta. Allah
berfirman dalam Al Maidah (5):103:

37 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٕٚ‫ؿرت‬ٜ ‫ا‬ٚ‫ٔ نؿس‬ٜ‫يهٔ اير‬ٚ ّ‫ال سا‬ٚ ١ًٝ‫ص‬ٚ ‫ال‬ٚ ١‫ب‬٥‫ال ضآ‬ٚ ٠‫َا دعٌ اهلل َٔ عري‬

ًٕٛ‫عك‬ٜ ‫أنجسِٖ ال‬ٚ ‫ اهلل ايهرب‬٢ً‫ع‬

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahîrah, sâibah,


washîlah dan hâm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan
terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.”
15. Mampu mengatur taktik dan strategi, hal ini diisyaratkan Allah
dalam Surat Ali ‗Imran ayat 118.

‫ا َا عٓتِ قد‬ٚ‫د‬ٚ ‫ْهِ خباال‬ٛ‫أي‬ٜ ‫ْهِ ال‬ٚ‫ َٔ د‬١ْ‫ا‬ٛ‫ا ب‬ٚ‫ا ال تتدر‬َٛٓ‫ٔ آ‬ٜ‫ٗا اير‬ٜ‫ا أ‬ٜ

ٕ‫ات إ‬ٜ‫ٓا يهِ اآل‬ٝ‫زِٖ أنرب قد ب‬ٚ‫ صد‬ٞ‫َا ختؿ‬ٚ ِٖٗ‫ا‬ٛ‫ َٔ أؾ‬٤‫بدت ايبػطا‬

ًٕٛ‫نٓتِ تعك‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman


kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa
yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa
yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

38 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB IV
INTEGRASI ILMU DAN ADAB

Masalah yang mendasar yang sedang dihadapi umat sekarang ini


adalah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan, bahkan
dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti yang luas. Akibatnya,
terjadilah suatu keadaan yang oleh Al-Attas disebut the loss of adab
(hilangnya adab). Efek buruk dari fenomena ini adalah terjadinya
kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang
selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat. Hasil akhirnya
adalah ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak
layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur
dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, sehingga itu semua
akan membawa kerusakan dipelbagai sektor kehidupan, baik kerusakan
individu, masyarakat, bangsa dan negara.55
Dalam Islam, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling
terintegrasi, yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan, di mana
kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya.56 Ilmu tanpa
adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang
berjalan tanpa petunjuk arah.57 Dengan demikian ilmu dan adab harus
bersinergi, tidak boleh dipisah-pisahkan. Berilmu tanpa adab adalah
dimurkai (al-maghdhubi alaihim), sementara beradab tanpa ilmu adalah
kesesatan (al-Dhallin).
Lebih dari itu, ilmu dan adab adalah inti dari ilmu nafi‘ yaitu yang
bermanfaat. Ilmu nafi‘ ini adalah ilmu yang pernah diperintahkan oleh

55
. SMN Al-Attas, Islam dan Sekularisme SMN Al-Attas, Bandung: Penerbit Pustaka,
1981 hlm. 148-149, dan terjemahan Institute Pemikiran Islam dan Pembangunan Islam,
Islǎm dan Sekularisme, Bandung: PIMPIN, 2010, hlm. 132.
56
- Hasan Asari, Etika Akademis Dalam Islam, Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah,2000,hlm.1
57
- Hisyam Ibn Abd Malik, Al-A’laqah Baina Al-Ilm Wa Al-Suluk, Riyadl : Jami’ah
Muhammad Ibn Sa’ud,2009,hlm.21

39 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Allah kepada Nabi Muhammad Shalallahu „Alaihi wa Sallam agar diminta
dan dicari setiap saat. Allah Jalla wa „Alaa berfirman kepada Nabi-Nya,

‫ُّا‬ًٞٔ‫ ع‬ِْٞٔ‫شد‬٢ ٓٔ‫ٌِ زَب‬ٝ‫َق‬ٚ

“Dan katakanlah, wahai Robbku tambahkanlah ilmu kepadaku.‖(QS.


Thoha: 114)
Melalui ayat ini, Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam
diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah tambahan ilmu
yang bermanfaat. Ibn Uyainah berkata: ― Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa
Sallam tidak henti-hentinya memohon tambahan ilmu nafi‘ kepada Allah
sampai beliau wafat‖.58 Ibn Katsir menambahkan, bahwa Rasulullah
Shalallahu „Alaihi wa Sallam tidak pernah diperintahkan untuk meminta
tambahan apapun kecuali tambahan ilmu nafi‘ ini, oleh karena itu
Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam senantiasa istiqamah melantunkan
do‘a ilmu nafi sebagaimana berikut ini :

َِ٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫إَ زَض‬ٜ‫ ن‬: ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬، َُِ٘ٓ‫ُ٘ ع‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬، ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫عِٔ أ‬

ُ‫يشَُِد‬ٞ‫َا‬ٚ ،‫ُّا‬ًٞٔ‫ ع‬ِْٞٔ‫د‬٢‫ش‬َٚ ،ٞٔٓ‫ ُع‬ٜ‫ِٓؿ‬َٜ ‫ ََا‬ُِٞٔٓ ًَِّ‫َع‬ٚ ،ٞٔٓ‫َُِت‬٤ًَ‫ بَُٔا ع‬ٞٔٓ‫ؿ ِع‬ٜ ِْ‫ًُِٖٗ ا‬٤‫ " اي‬:ٍُٛٝ‫َك‬ٜ

٢‫ٌ ايٖٓاز‬٢ ِٖٜ‫ أ‬٢ٍ‫٘ٔ َِٔٔ سَا‬٤ً‫ذُ بٔاي‬ُٛ‫ع‬ٜ‫َأ‬ٚ ٣ٍ‫ سَا‬ٌٚٝ‫ ن‬٢ًَٜ‫٘ٔ ع‬٤ًٔ‫ي‬

“Dari Abi Hurairah Radhiyallahu „anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu


„Alaihi wa Sallam senantiasa membaca do‟a: “ Ya Allah berikanlah manfaat
terhadap apa yang telah engkau jarkan kepadaku, dan ajari aku apa yang
bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu, segala puji hanya milikmu atas
segala keaadaan, dan aku berlindung dari perilaku ahli neraka.” (HR.
Tirmidzi dan Bazzar)59
Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi‘) akan mendatangkan iman.
Realisasi iman akan membawa pada amal shaleh. Integrasi keduanya

58
- Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Dar Al-Thaibah, 2002, Vol.5, hlm.319
59
- Ibid

40 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
akan membawa ke jalan yang lurus (sirath mustaqim). Dengan demikian,
bila ilmu didapatkan akan tetapi tidak diikuti dengan amal shaleh, bisa
digolongkan kepada ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi‟) dan bahkan
termasuk dalam perbuatan munafik atau seperti perbuatan yahudi
yang dilaknat (al-maghdub alaihim). Amal tanpa ilmu akan mendatangkan
kesesatan sebagaimana orang-orang nasrani (al-dhallin). Inilah makna
dari firman Allah : Ihdinasshirathal mustaqim, shirathalladzina an‟amta
alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladhallin. (Ya Allah tunjukkan kami
jalan yang lurus, yaitu jalan orang-arang yang telah engkau beri nikmat,
bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang yang
sesat). Dan juga firman Allah: ― Bahwasanya ini adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang
lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya‖. (QS.
Al-An‘am: 153).60 Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam
memerintahkan kepada umatnya agar belajar ilmu nafi‘ (ilmu
bermanfaat) dan meninggalkan ilmu yang ghairu nafi (tidak manfaat),
sebagaimana terdapat dalam sabdanya :

ُ‫ع‬ٜ‫ِٓؿ‬َٜ ‫ا‬ٜ‫ِ ي‬٣ ًٞٔ‫٘ٔ َِٔٔ ع‬٤ً‫ا بٔاي‬ُٚ‫ذ‬ٖٛ َ‫ََتع‬ٚ ‫ُّا َْأؾعّا‬ًٞٔ‫َ٘ ع‬٤ً‫ا اي‬ًَٛٝ‫ض‬

“Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, dan berlindunglah kepada


Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.‖61
Ilmu yang bermanfaat selanjutnya akan mendatangkan rasa takut
kepada Allah (khasyah) sehingga dapat mendekatkan pemiliknya kepada
Allah Subhanahu wa Ta‟ala dan pemiliknya disebut alim atau ulama. Hal
ini sesuai dengan firman Allah dalam QS.Al-Fathir : 28

ْ‫ز‬ٛٝ‫ؿ‬ٜ‫صْ غ‬ٜ‫ص‬٢ َ‫َ٘ ع‬٤ً‫ ٖٕ اي‬٢‫ إ‬٤ُ ‫َُا‬ًُٜ‫يع‬ٞ‫ ا‬ٙٔٔ‫َ٘ َِٔٔ عٔبَاد‬٤ً‫ اي‬٢َ‫دػ‬
ِ َٜ ‫َُْٖا‬٢‫إ‬

“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah dari hambanya adalah


para ulama (orang yang berilmu), sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha
pengampun.‖ (QS. Al-Fathir: 28)

60
- Ibn Jauzi, Zad Al-Masir, Vol.I, hlm. 16,
61
- HR. Ibn Majah , no. 3843

41 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Menurut Ibn Jauzi ayat ini mengindikasikan bahwa ilmu yang
bermanfaat akan mendatangkan khasyah (takut) kepada Allah, dimana
pemiliknya senantiasa mengakui keagungan Allah, sehingga melahirkan
tahqiq ubudiyah yaitu ketundukan dan penghambaan kepada-Nya.
Sebaliknya ilmu yang tidak mendatangkan khasyah, tidak bisa disebut
sebagai ilmu yang bermanfaat, dan pemiliknya tidak masuk dalam
kategori alim.62
Imam Syafi‘i, lebih lanjut membuat sebuah kaedah yang terkenal
yaitu “laisal ilm makhufidza walakin Al-Ilm ma nafa‟a”. Artinya, tidaklah
disebut ilmu, apa yang hanya dihapal, tetapi ilmu adalah apa yang
diaktualisasikan dalam bentuk adab yang akan memberikan manfaat.63
Kaedah Imam Syafi‘i tersebut senada dengan apa yang dikatakan
oleh Hubaib ibn Syahid ketika memberikan nasihat kepada putranya:

ٖٞ‫ ؾإٕ ذيو أسب إي‬،ِٗ‫خر أدب‬ٚ َِٗٓ ًِ‫تع‬ٚ ٤‫ ايعًُا‬ٚ ٤‫ اصشب ايؿكٗا‬، ‫ابين‬ٜ

.‫ح‬ٜ‫َٔ نجري َٔ اذتد‬

“Hai anakku, bergaullah (ikuti dan temani terus) dengan para ahli fiqih
dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambil adab (pendidikan akhlak) dari
mereka! Karena hal itu lebih aku sukai daripada hanya sekedar memperbanyak
hadits.” 64
Hasyim Asy‘ari dalam karyanya “Adab Al-Alim Wa Al-Muta‟allim”
merumuskan kaedah penting akan urgensinya ilmu dan adab ‖at-
Tawhidu yujibul imana, faman la imana lahu la tawhida lahu; wal-imanu yujibu
al-syari‟ata, faman la syari‟ata lahu, la imana lahu wa la tawhida lahu; wa al-
syari‟atu yujibu al-adaba, faman la adaba lahu, la syari‟ata lahu wa la imana
lahu wa la tawhida lahu.” Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa
tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat,
maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak

62
- Ibn Jauzi, Zad Al-Masir, Vol.VI, hlm.486
63
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.48
64
- Abd al-Amir Syams ad-Din, Al-Madzhab at-Tarbawiy ‘inda Ibn Jama’ah, Beirut:
Dar Iqra`, 1984, hlm. 62

42 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab;
maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakikatnya) tiada
syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.65
Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam, telah
mendorong perhatian para ulama salaf untuk melahirkan sebuah karya
abadi tentang konsep ilmu dan adab, dengan kajian yang mendalam dan
komprehensip. Misalnya, Imam Al-Bukhari (194-256) menulis tentang
Adab Al-Mufrad, Ibn Sahnun (202-256H) menulis Risalah Adab Al-
Mua‟llimin, Al-Rummani (w.384 H) menulis tentang adab Al-Jadal, Al-
Qabisi (324-403 H) menulis tentang Risalah Al-Mufashilah Li Ahwal Al-
Muta‟allimin Wa Ahkam Al-Mu‟Allimin Wa Muta‟allimin, Al-Mawardi
(w.450 H) menulis tentang Adab Al-Dunya Wa Al-Din dan Adab Al-
Wazir, Al-Khatib Al-Baghdadi (w.463H) menulis tentang Al-faqih Wa
Al-Mutafaqih, Al-Ghazali (450-505 H) menulis Kitab Al-Ilm, Fatihah Al-
Ulum dalam Ihya Ulum Al-Din, Al-Sam‘ani (506-562 H) menulis Adab Al-
Imla‟ Wa Al-Istimla‟, Nashir Al-Din Al-Thusi (597-672 H) menulis Kitab
Adab Al-Muta‟allimin, Al-Zarnuji (penghujung abad ke-6 H) telah
menulis Ta‟lim Al-Muta‟allim, Muhyiddin Al-Nawawi (w.676) menulis
tentang Adab Al-Daris Wa Al-Mudarris, Ibn Jama‘ah (w.733 H) menulis
Tadzkirah Al-Sami‟ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A‟lim Wa Al-
Muta‟allim, Al-Syirazi (w.756 H) menulis tentang Adab Al-Bahs, Abd
Lathif Al-Maqdisi (w.856 H) menulis tentang Syifa‟ Al-Muta‟allim Fii
Adab Al-Muta‟allimin, Al-Marsifi (w.981 H) menulis tentang Ahsan Al-
titlab Fiima yalzam Al-Syaikh Wa Al-Mudarris Min Al-Adab, Ibn Hajar Al-
Haysami (w.974 H) menulis Tahrir Al-Maqal Fii Adab Wa Ahkam Wa
Fawa‟id Yahtaj Ilaiha Mua‟ddib Al-Athfal, Al-Almawi (w.981 H) menulis
Al-Mu‟id Fii Adab Al-Mufid Wa Al-Mustafid, Badr Al-Din Al-Ghazzi
(w.984 H) menulis tentang Al-Dur Al-Nadid Fii Adab Al-Mufid Wa Al-
Mustafid, Al-Astarabazi (w.984 H) menulis tentang Adab Al-Munadzarah,
dan lain-lain.
Dari kajian para ulama tersebut menyimpulkan bahwa adab
memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan, tanpa adab dunia

65
- Hasyim Asy’ari, Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim , Jombang: Maktabah Turats
Islamiy, 1415 H. hlm. 11

43 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
pendidikan berjalan tanpa ruh dan makna. Lebih dari itu, salah satu
penyebab utama hilangnya keberkahan dalam dunia pendidikan adalah
kurangnya perhatian civitas akademikanya dalam masalah adab. Az-
Zarnuji mengatakan: “Banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka
sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan
nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang
memperhatikan adab dalam menuntut ilmu”.66
Oleh karena itu, adab harus menjadi perhatian utama bagi pencari
ilmu, agar ilmu yang didapat kelak bermanfaat dan mendapat
keberkahan. Ibn Jama‘ah mengatakan, ―mengamalkan satu bab adab itu
lebih baik daripada tujuh puluh bab ilmu yang hanya sekedar dijadikan
sebagai pengetahuan‖.67 Artinya, ilmu sedikit yang diiringi dengan adab
itu lebih baik daripada ilmu yang banyak tetapi kosong dari adab ( lost of
adab).
Dengan demikian, sudah saatnya dunia pendidikan menekankan
proses ta‟dib, sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para peserta
didiknya menjadi orang-orang yang beradab. Sebab, jika adab hilang dari
diri seseorang, maka hilang pulalah fitrah kemanusiaanya. Jika fitrah
telah hilang, maka akan mengakibatkan penyimpangan, kedzaliman,
kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak.

Internalisasi Adab Akademik


A. Pengertian adab
Adab secara etimologi merupakan bentuk masdar kata kerja
addaba yang berarti mendidik, melatih berdisiplin, memperbaiki,
mengambil tindakan, beradab, sopan, berbudi baik, mengikuti jejak
akhlaknya.68

66
- Ibrahim bin Isma’il, Syarh Ta’lim al-Muta’allim ‘ala Thariiqa Ta’allum, Semarang:
Karya
Toha Putra, hlm. 3
67
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ wa Al-Mutakallim fii Adab Al-A’lim wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyah, 2008, hlm.28
68
-Munawir, Al -Munawwir, hlm. 13-14, lihat juga Mahmud Yunus, Kamus Arab-
Indonesia, Jakarta : YP3A, 1973, hlm. 37

44 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Menurut Ibn Qayyim, kata adab berasal dari kata ma'dubah. Kata
"ma'dubah" berarti jamuan atau hidangan, dengan kata kerja "adaba-
ya'dibu" yang berarti menjamu atau menghidangkan makanan( ‫الطعام الذي‬
‫)يجتمع عليى الناس‬.69 Kata adab dalam tradisi Arab kuno merupakan simbol
kedermawanan, dimana Al-Adib (pemilik hidangan) mengundang
banyak orang untuk duduk bersama menyantap hidangan di rumahnya.
Sebagaimana yang terdapat dalam perkataan Tharafah bin Abdul Bakri
al-Wa'illi:

‫ٓتؿس‬ٜ ‫ٓا‬ٝ‫ اآلدب ؾ‬٣‫ال تس‬ ٢ً‫ ادتؿ‬ٛ‫ ْدع‬٠‫ املػتا‬٢‫حنٔ ؾ‬

"Pada musim paceklik (musim kesulitan pangan), kami mengundang orang-


orang ke perjamuan makan, dan engkau tidak akan melihat para penjamu dari
kalangan kami memilih-milih orang yang diundang." 70
Kemudian kata ini berkembang seiring dengan perkembangan
peradaban Islam, sebagai sebuah simbol nilai agung yang ada dalam
Islam. Hal itu bisa kita lihat dalam hadist berikut ini, yang menjelaskan
kata adab sebagai hidangan yang di dalamnya syarat dengan nilai.

٘‫ا َٔ َأدبت‬ًُٛ‫ األزض ؾتع‬٢‫ اهلل ؾ‬١‫إٕ ٖرا ايكسإٓ َأدب‬

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah hidangan Allah di muka


bumi, oleh karena itu belajarlah kalian pada sumber peradaban-Nya.”
71

Kata ta‘dib atau Al-Adab ini dipopulerkan oleh Imam Al-


Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, Al-Mawardi dalam kitabnya Adab Al-
Dunya Wa Al-Din, Ibn Shahnun dalam kitabnya Adab Al-Muallimin Wa
Al-Muta‟allimin, dan Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami‟ Lii Al-Akhlak

69
- Ibn Qayyim, Madarij Al-Salikin, Beirut : Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1973, Vol.2,
hlm.375
70
- Al-Mubarrid, Al-Kamil Fii Al-Lughah Wa Al-Adab, Maktabah As-Syamilah,
hlm.205
71
- HR. Al-Baihaqi, no.1985, Ad-Darimi, no.3315

45 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Al-Rawi Wa Adab Al-Sami‟ serta Ibn Jama‘ah dalam kitabnya Tadzkirah
Al-Sami‟ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-Alim Wa Al-Muta‟allim.72
Sementara itu, kata adab juga sering dipakai dalam hadist untuk
menunjuk kata pendidikan. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shalallahu
„Alaihi wa Sallam berikut ini:

‫يب‬ٜ‫ ؾأسطٔ تأد‬ٞ‫أدبين زب‬

“Tuhanku telah mendidikku, dan telah membuat pendidikanku itu sebaik-


baiknya.” 73

‫تصدم بصاع‬ٜ ٕ‫ خريْ َٔ أ‬ٙ‫يد‬ٚ ٌ‫ؤدب ايسد‬ٜ ٕ‫أل‬

“Sungguh jika seorang ayah mendidik anaknya, maka hal itu lebih baik
baginya dari pada sedekah satu sho‟.” 74

ِٗ‫ا أدب‬ٛٓ‫أسط‬ِٚ‫الدن‬ٚ‫ا أ‬َٛ‫أنس‬

“Muliakan anak-anak kalian, dan perbaiki adab mereka.‖ 75

‫أْت أدبتو أَو‬ٚ َ٘‫ٖرا أدبت٘ أ‬

“Ibunya telah mendidiknya dan ibumu telah mendidikmu.‖ 76

ٕ‫ضعِد‬
َ ٢ٔٓ‫ َب‬٢ٔ‫ت ؾ‬
ُ ٞ‫َْػَأ‬ٚ ٢ٚ‫ زَب‬٢ٔٓ‫أدَٖب‬ٜ

“Tuhanku telah mengajariku dan aku tumbuh besar di kalangan Bani


Sa‟ad.”77

72
- Sa’duddin Mansur Muhammad, Ushul Al-Tarbiyyah Fii Al-Qur’an Al-Karim Wa Al-
Sunnah Al-Nabawiyyah Al-Muthahharah, Bogor : Paper Of International Seminar On
Islamic Education Ibn Khaldun University,2011. hlm.5
73
- Lihat Al-Suythí, al-Jâmi’ al- Shaghír fí Ahâdís al-Basyír al-Nazír Cet. I; al-
Qâhirah: Dâr al-Fikr, t.t, hlm. 14
74
- HR.Tirmidzi, no.1951
75
- HR. Ibn Majah, no.1763
76
- HR. Muslim, no: 66

46 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
٣َٔ‫أ َدبٕ َسط‬ٜ َِٔٔ ‫ِسّا‬ٝ‫دّا َخ‬ٜ‫َي‬ٚ ْ‫َائد‬ٚ َ‫زَخ‬َٚ ‫ََا‬

„Tidak ada warisan yang lebih baik daripada pendidikan yang baik.‟”
(HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath)78

ُِٙٚ‫ال َتِٗذُ ُس‬


ٜ ٜ‫سِآ ُٕ ؾ‬ٝ‫ك‬ٞ‫هلل اي‬
ٔ ‫ َدبَ ا‬ٜ‫ ٖٕ أ‬٢‫َإ‬ٚ َُ٘‫أدَبَت‬ٞ َ َٞٔ‫ ِٕ ُتؤِت‬ٜ‫ب أ‬
ٗ ‫ش‬
ٔ ُٜ ٕ‫ٌٗ َُؤِٔدب‬ٝ‫ن‬

”Setiap pendidik akan menyukai diberikan alat mendidik, dan


sesungguhnya pendidikan dari Allah itu adalah Al-Qur‟an, maka janganlah
kalian menjauhinya.” 79
Menurut Al-Attas Istilah ta‘dib adalah istilah yang paling tepat
digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, karena pada
dasarnya pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan manusia yang
beradab.80Sementara istilah tarbiyah terlalu luas; karena pendidikan
dalam istilah ini mencakup juga pendidikan untuk hewan.81 Selanjutnya
Ia menjelaskan bahwa istilah ta‘dib merupakan masdar kata kerja addaba
yang berarti pendidikan. Kemudian, dari kata addaba ini diturunkan juga
kata adabun. Menurut Al-Attas, adabun berarti pengenalan dan
pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat
teratur secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat
tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam
hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi
jasmaniah, intelektual, maupun rohaniyah seseorang.82 Al-Attas
mengatakan, bahwa adab adalah pengenalan serta pengakuan akan hak
keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan
berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang

77
Jami’ al-Ahadits, Vol. II, hlm. 88, hadits no. 960 (dalam Maktabah Syamilah)
78
Al-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, Vol. XIII, hlm. 335, hadits no. 38000 (dalam
Maktabah Syamilah)
79
Jami’ al-Ushul, Vol. XV, hal. 354, hadits no. 15688 (dalam Maktabah Syamilah)
80
- Manusia beradab selanjutnya oleh Adian Husaini ditafsirkan sebagai manusia
yang dapat memahami dan mengakui sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang
ditentukan oleh Allah. (Adian Husaini, Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter
dan Beradab, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2010, hlm. xvii)
81
- Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan, 1984, hlm. 52
82
- Ibid, hlm. 63

47 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
berlaku dalam tabiat semesta. Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah
amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan
pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia
karana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang
satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan.83
Berdasarkan pengertian adab seperti itu, Al-Attas mendefinisikan
pendidikan menurut Islam sebagai pengenalan dan pengakuan yang
secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-
tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud, sehingga
hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan
yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut.84
Pendapat Al-Attas mengenai ta‘dib, dikuatkan oleh Sa‘duddin
Mansur Muhammad. Ia beralasan bahwa istilah ta‘dib merupakah istilah
yang mencakup semua aspek dalam pendidikan baik unsur tarbiyyah
maupun taklim. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa istilah ta‘dib sudah
dikenal sejak zaman jahiliyah dan dikuatkan setelah datangnya Nabi
Muhammad Shalallahu „Alaihi wa Sallam . 85
Alasan yang lebih mendasar yang melatar belakangi Al-Attas
memilih istilah ta‘dib adalah adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab
ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik kecuali jika
orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan
dalam berbagai bidang. Kemudian, konsep pendidikan Islam yang hanya
terbatas pada makna tarbiyah dan taklim itu telah dirasuki pandangan
hidup barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekulerisme,
humanisme, dan sofisme, sehingga nilai-nilai adab menjadi kabur dan
semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab
tersebut mengakibatkan kedzaliman, kebodohan, dan kegilaan.
Kedzaliman yang dimaksud disini adalah meletakkan sesuatu tidak pada
tempatnya, sementara kebodohan adalah melakukan cara yang salah

83
- SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Malaysia :ISTAC, 2001.
84
- Ibid, hlm. 52,62
85
- Sa’duddin Mansur Muhammad, Ushul Al-Tarbiyyah Fii Al-Qur’an Al-Karim Wa Al-
Sunnah Al-Nabawiyyah Al-Muthahharah, Bogor : Paper Of International Seminar On
Islamic Education Ibn Khaldun University,2011. hlm.3

48 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
untuk mencapai hasil tujuan tertentu, dan kegilaan adalah perjuangan
yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah.86
Istilah adab juga merupakan salah satu istilah yang identik dengan
pendidikan Akhlak, bahkan Ibn Qayyim berpendapat bahwa adab
adalah inti dari akhlak, karena di dalamnya mencakup semua
kebaikan(‫)اجتماع خصال الخير‬. 87 Lebih dari itu, konsep adab ini, pada
akhirnya berperan sebagai pembeda antara pendidikan karakter dengan
pendidikan akhlak. Orang berkarakter tidaklah cukup, karena
pendidikan karakter hanya berdimensi pada nilai-nilai dan norma-
norma kemanusiaan saja (makhluk), tanpa memperhatikan dimensi
ketauhidan ilahiyah (khalik). Sehingga orang berkarakter belum bisa
disebut berakhlak, karena bisa jadi orang yang berkarakter ―toleransi‖ ia
mengikuti paham pluralisme sehingga memukul rata semua agama tanpa
batasan norma syari‘at. Sementara dalam pendidikan Akhlak
mengintegrasikan kedua dimensi tersebut, yakni nilai kemanusiaan
(makhluk) dan nilai uluhiyah (khalik) adalah hal yang wajib, dan tidak
boleh dipisah-pisahkan. Sehingga orang yang berakhlak, secara lasung
mencakup orang yang berkarakter. Dengan demikian, pendidikan
akhlak atau adab adalah lebih syumul (mencakup) dari pada pendidikan
karakter.88
B. Adab Akademik
Salah satu ulama yang memberikan perhatian dalam masalah
konsep adab akademik adalah Ibn Jama‘ah.89 Konsep tersebut, beliau

86
- Wan Mohd Nor Wan Dawud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Al-Attas,
Bandung : Mizan, 2003, hlm. 24
87
- Ibn Qayyim, Madarij Al-Salikin, Vol.2, hlm.381
88
Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab,
Depok: Komunitas Nuun, 2011, hlm.49
89
Ibn Jam’ah yang bernama lengkap Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin
Jama’ah bin Ali bin Jama’ah bin Hazim bin Shakhr, dilahirkan di Ham‘ah pada tahun 639H.
Beliau adalah salah satu ulama besar dalam madzhab Syafi’iyyah, sekaligus sebagai
seorang Hakim Agung di al-Quds tahun 687 H, kemudian pindah ke pengadilan Mesir.
Setelah berhenti menjadi hakim di Mesir, beliau diangkat lagi pasca wafatnya Ibn Daqiqil
‘Ied. Pernah uzlah selama satu tahun, lalu dipilih lagi menjadi hakim, dan menjadi buta
tahun 727 H. Lantas beliau menjauh dari kehakiman dan fokus terhadap pengajaran dan
penulisan. Karya yang telah dihasilkan tercatat sebanyak 29 (dua puluh Sembilan) buah
dalam berbagai disiplin ilmu; di bidang Ulum Al-Qur’an, Akidah, akhlak, ‘Ulum al-Hadist,
fikih, sejarah, astronomi, Bahasa dan pendidikan. Ibn Jama’ah telah berguru kepada 74

49 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
jelaskan secara komprehensif dalam karyanya yang berjudul “Tadzikrah
al-Sami‟ wa al-Mutakkalim Fî Adab al-„Ilm wa al-Muta‟allim”. Dalam kitab
ini perincian adab akademik adalah sebagai berikut :
1. Adab Akademik Ilmuan (Adab Al-A‟lim)
a. Adab Ilmuan Terhadap Dirinya Sendiri (Adab Al-A‟lim Fii
Nafsihi)
Seorang ilmuwan harus syarat dengan adab. Tanpa adab, dirinya
akan terjatuh dalam celaan, dan ilmu yang ada pada dirinya tidak
membawa manfaat. Oleh karena itu, adab merupakan hal yang amat
penting yang harus diperhatikan oleh setiap ilmuwan, agar ilmu yang
dimilikinya menjadi penghias kebaikan, dan teladan bagi kehidupan.
Adab ini secara keseluruhan akan menjadi pilar, yang mengantarkan
ilmuwan ke dalam derajat keagungan, sebagaimana yang telah ditegaskan
oleh Allah dalam QS.Al-Mujadilah : 11

ٕ‫َِ دَ َزدَات‬ًٞٔ‫يع‬ٞ‫ا ا‬ُٛ‫ت‬ٚٝ‫ َٔ أ‬ٜٔ‫ٓر‬ٜ‫َاي‬ٚ ِِٝ‫ا َِٔٓه‬َُٛٓ‫ َٔ آ‬ٜٔ‫ٓر‬ٜ‫ٓ ُ٘ اي‬ًٜ‫ع اي‬٢ ٜ‫َسِؾ‬ٜ

“Allah mengangkat orang beriman dan berilmu beberapa derajat di


antaramu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Ibn Jama‘ah dalam Tadzkirah Al-Sami‟ Wa Al-Mutakallim
menyebutkan bahwa ada dua belas butir adab personal yang harus
dimiliki oleh setiap ilmuan, sehingga dengan adab tersebut akan lahir

orang ulama terkemuka di Zamannya, satu di antaranya seorang perempuan


(Masyaikhah). Diantara Guru-gurunya yang paling masyhur, yaitu Syaikh al-Syuyukh Ibn
Izzun, Taqiyuddin Abu Abdlillah Muhammad bin Husain bin Razin (w 680 H), Mu’inuddin
Ahmad bin Ali bin Yusuf al-Dimisyqi (w 667 H), Zainuddin Abu Thahir Ismail bin Abdul
Qawiy (w 667), dan Muhammad bin Abdillah bin Malik (w 672 H).Adapun Murid-murid Ibn
Jama’ah yang paling masyhur, adalah Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi (w
748 H), Muhammad bin Jabir al-Maghribi al-Wadi (w 749 H) dan Abdul Wahab bin Ali al-
Subki (w 771 H).Kebesaran nama Ibn Jama’ah banyak menuai sanjungan dari para ulama
diantaranya adalah sanjungan yang datang dari Ibn Katsir,“Dia sorang ulama besar,
syaikhul Islam, banyak mendengar hadits (riwayat), sibuk dengan ilmu, menghasilkan ilmu
yang beraneka ragam, lebih maju dari teman sejawatnya dalam hal kepemimpinan, pakar
agama, pandai menulis, wara..”. (Tajj Al-Din Al-Subky, Thabaqat Al-
Syafi’iyyah,Vol.IX,hlm.139)

50 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
dari setiap ilmuan kepribadian yang patut untuk dicontoh dan dijadikan
teladan dalam kehidupan. Adab tersebut adalah sebagaimana berikut:90
1) Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan merasa diawasi
oleh-Nya (muraqabatullah), baik ketika sendirian, maupun di
keramaian. Dengan demikian, akhlaknyanya akan tetap terjaga,
baik lisannya, perbuatannya, pemikirannya, dan pemahamannya,
serta amanah keilmuaannya.

ًَُُِٕٜٛ‫ْتُ ِِ َتع‬ٜ‫َأ‬ٚ ِِٝ‫أ َاَْاتٔه‬ٜ ‫ا‬ُُْٛٛ‫ََتد‬ٚ ٍَُٛ‫َايسٖض‬ٚ َ٘٤ً‫ا اي‬ُُْٛٛ‫ا َتد‬ٜ‫ا ي‬َُٛٓ‫َٔ آ‬ٜٔ‫ر‬٤‫َٗا اي‬ٜٜٗ‫َا أ‬ٜ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah


dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 27)
Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jama‘ah, bahwa dengan
muraqabatullah seorang ilmuan tidak akan berperilaku khianat
atas ilmu yang diamanahkan kepadanya, karena khianat ilmu
berarti sama dengan menghianati Allah dan Rasul-Nya. Ibn
Jama‘ah berdalil bahwa ilmuan (ulama) adalah pewaris para Nabi
dan Rasul, ―para ulama adalah pewaris Nabi, dan para Nabi tidak
mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu,
maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang
banyak.” (HR. Tirmizi)
2) Hendaknya setiap ilmuan memelihara ilmunya, sebagaimana
para ulama salaf memeliharanya. Artinya, Ia senantiasa menjaga
ilmunya agar tidak jatuh ke dalam-hal yang rendah dan hina.
Seperti menukar ilmu dengan segala hal yang sifatnya materi
duniawi, sehingga dirinya terhalang dalam menyampaikan
kebenaran, karena kebenaran yang ada pada ilmunya telah
tergadaikan dengan dunia.
3) Hendaknya setiap ilmuan berperilaku zuhud dalam urusan
duniawi. Artinya, dirinya tidak menggantungkan ilmunya pada

90
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.44-55

51 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
kepentingan duniawi. Dunia hanya sebagai sarana penunjang
keilmuannya, bukan tujuan akhir dalam kehidupannya.
4) Hendaknya setiap ilmuan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat
untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi, berupa
jabatan, kekayaan, popularitas, atau untuk bersaing dengan
orang lain. Dengan demikian, dirinya akan terhindar dari sifat
tamak terhadap dunia, yang semua itu akan menjatuhkannya
dalam kehinaan.
5) Hendaknya setiap ilmuan menghindari segala profesi, atau
tempat-tempat yang secara syari‘at dan adat dipandang kurang
bermartabat. Seperti, profesi sebagai tukang bekam, tukang cuci,
dan sejenisnya, dan juga menjauhi tempat judi, dan tempat
maksiat lainya. Hal itu, untuk menghindari praduga-praduga
negatif yang menjatuhkan martabat (muru‟ah) ilmuan.
6) Hendaknya setiap ilmuan menjaga syi‘ar-syi‘ar keislaman. Seperti
melazimkan shalat secara berjama‘ah di masjid, menyebarkan
salam, beramar ma‘ruf nahi munkar, sabar dan santun dalam
bersikap. Demikian juga termasuk bagian syi‘ar adalah
berpegang teguh terhadap sunah dalam bersikap, dan menjauhi
segala macam bid‘ah. Semua itu, akan melahirkan citra posisif
terhadap diri ilmuan dan ilmu yang diembannya.
7) Hendaknya setiap ilmuan menjaga amalan-amalan sunah, baik
yang berupa ucapan maupun perbuatan. Seperti, rutinitas
membaca Al-Qur‘an beserta renungan maknanya, menjaga
shalat-shalat sunat, puasa-puasa sunat, qiyamul lail, berdzikir,
bershalawat, bertasbih. Demikian itu akan menambah kekuatan
ruhani pada diri ilmuwan, sehingga teguh pendiriannya dalam
mengemban amanah ilmunya.
8) Hendaknya setiap ilmuan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap
masyarakat, memperlakukan mereka dengan akhlak yang mulia.
Seperti, berwajah ceria saat berjumpa orang lain, menyebarkan
salam, peduli sosial, membatu orang yang sedang kesusahan,
pandai berterimakasih, membela orang yang tertindas, lemah
lembut terhadap fakir miskin, dan bekerjasama dalam kebajikan.
9) Hendaknya setiap ilmuan mensucikan dirinya dari segala bentuk
akhlak tercela, dan menghiasi dirinya dengan akhlak terpuji, baik

52 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
lahir maupun batin. Oleh karenanya seorang ilmuan harus
mengosongkan dirinya dari sifat iri hati, pemarah, menipu,
takabur, pamer, mencari popularitas (sum‘ah), persaingan
duniawi, dusta, kikir. Kemudian mengisi dirinya dengan sifat
qana‘ah, pemaaf, jujur, tawadhu‘, ikhlas, sidiq, amanah,
dermawan.
10) Hendaknya setiap ilmuan rajin menambah wawasan
keilmuannya, dengan cara memperbanyak membaca, menghapal,
menganalisa, mengkaji masalah, meneliti, dan menuangkannya
dalam bentuk karya ilmiah. Hal ini sebagaimana yang
dicontohkan oleh Imam Syafi‘i, di mana menurut salah satu
muridnya yang bernama Ar-Rabi‘, bahwa Imam Syafi‘i jarang
makan pada siang harinya, dan jarang tidur pada malam harinya,
karena disibukkan dengan mengkaji banyak masalah-masalah
keilmuan dan membukukannya.
11) Hendaknya setiap ilmuan tidak segan untuk belajar kepada orang
yang berada di bawahnya, baik secara usia, kedudukan, maupun
nasab. Hal itu dikarenakan, ilmu dan hikmah adalah barang yang
hilang dari dari tangan orang mukmin, yang harus diraih kembali
kepangkuannya.
12) Hendaknya setiap ilmuam memiliki keahlian dalam dunia tulis
menulis, khususnya dalam bidang yang ditekuninya. Hal itu
dimaksudkan sebagai wahana untuk menyalurkan ilmunya di
tengah-tengah masyarakat luas, dan pengembangan dunia
akademik.91
b. Adab Ilmuan Dalam Proses Pengajaran (Adab Al-„Alim Fii
Darsihi)
Setelah seorang ilmuan memenuhi dua belas adab personal
sebagaimana yang telas disebutkan di atas, selanjutnya ia dituntut pula
untuk mengaplikasikan adab akademik lainnya yang berkaitan dengan
kegiatan pengajaran yang ditekuninya. Dalam hal ini, Ibn Jama‘ah

91
- Ibid

53 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
menguraikan dua belas butir adab yang harus dipenuhi seorang ilmuan
dalam proses pengajarannya, yaitu :92
1) Hendaknya setiap ilmuan menjelang berangkat mengajar
mensucikan dirinya dari hadast dan kotoran, merapikan diri,
serta mengenakan pakaian yang layak yang menjadi tradisi
masyarakat setempat. Semua itu dimaksudkan untuk menjaga
kewibawaan ilmu dan agamanya, bukan untuk maksud-maksud
lainnya, seperti pamer, popularitas dan seterusnya. Cara seperti
ini, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Imam Malik,
bahwa beliau ketika hendak berangkat mengajar mandi terlebih
dahulu, merapikan diri, memakai pakaian yang baik, memakai
minyak wangi, dan mengenakan sorban di kepalanya.
2) Berdo‘a ketika hendak berangkat menuju majlis pengajaran,
sebagai berikut:

ِٚ ٜ‫ًٔـَِ أ‬ٞ‫ظ‬ٜ‫ِ أ‬ٜٚ‫ أ‬، ٍَ‫أش‬ٝ ِٜٚ‫ٍٖ أ‬٢‫أش‬ٜ ِٜٚ‫ أ‬، ٌ‫ضَـ‬ٝ‫ِ أ‬ٜٚ‫ضٔـٌٖ أ‬ٜ‫ِٕ أ‬ٜ‫ أ‬ٜ‫ذُ بٔو‬ٛ‫عـ‬ٜ‫ أ‬ٞ‫ْٔٓـ‬٢‫ًُٗـِٖ إ‬١‫اي‬

ٓٞ‫ـ‬ًَٜ‫ذٌََٗ ع‬
ِ ‫ُـ‬ٜ ِٚ‫أ‬ٜ ٌَ َٗ‫أ ِد‬ٜ ِٚ ٜ‫ أ‬، ِ‫ـ‬ًٜٞ‫ظ‬ٜ‫أ‬
Ya Allah aku berlindung kepadamu dari tersesat atau menyesatkan, dari
terpeleset atau membuat orang lain terpeleset,dari kedzaliman atau
mendzalimi orang lain, dari kebodohan atau membodohi orang lain.
3) Hendaknya setiap ilmuan mengambil posisi duduk yang bisa
dilihat oleh seluruh peserta didik ang hadir di majlisnya dan
menetapkan posisi mereka berdasarkan pengetahuan, usia,
keshalihan dan kemuliaannya. Kemudian mungkin membuka
majlis dengan basmalah dan salam yang diiringi dengan wajah
yang santun, dan berwibawa.
4) Hendaknya setiap ilmuan memulai perkuliahannya, membacakan
beberapa ayat dari Al-Qur‘an untuk mengambil hikmah dan
keberkahan didalamnya.

92
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.67-78

54 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
5) Jika seorang ilmuan mengajarkan beberapa disiplin ilmu dalam
satu hari, maka hendaknya mendahulukan pelajaran yang lebih
mulia yaitu mengajarkan tafsir alqur‘an, hadis, usuluddin, usul
fiqih, madzhab, masalah khilafiyah, ilmu bnahwu dan ilmu
debat.
6) Seorang ilmuan hendaknya mengatur volume suaranya sesuai
dengan situasi dan kondisi yaitu tidak terlalu keras dan juga tidak
terlalu pelan, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. mencintai suara
yang pertengahan, dan membenci suara yang keras. (HR. Al-
Khatib Al-Bagdady)
7) Hendaknya seorang ilmuan menghindari hal-hal yang sifatnya
perdebatan didalam majlis ilmunya, karena hal itu tidak
bermanfaat dan menyebabkan terjatuh di dalam kesalahan.
8) Hendaknya seorang ilmuan menegur kepada para peserta didik
yang kurang beradab didalam majlis ilmunya.
9) Hendaknya seorang ilmuan bersikap adil didalam menyampaikan
materi pelajaran, dan memperlakukan semua anak didiknya
secara wajar.
10) Hendaknya seorang ilmuan mempersilahkan kepada para peserta
asing yang hadir di majlis ilmunya.
11) Hendaknya seorang ilmuan menutup pelajarannya dengan
kalimat wAllahu a‘lam bi showab, (Allah lebih mengetahui
tentang kebenarn).
12) Hendaknya seorang ilmuan menyadari akan bidang keahliannya
dan hanya mengajarkan bidang keahlian tersebut kepada para
peserta didiknya.
c. Adab ilmuan terhadap para peserta didiknya (adab al-alim ma‟a
thalabatihi)
Ibnu jama‘ah berpendapat bahwa setidaknya ada 14 butir adab
yang harus diamalkan oleh seorang ilmuan dalam hubungannya dengan
para peserta didiknya.93

93
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.67-78

55 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
1) Dalam mendidik para muridnya, seorang ilmuan hendaknya
berniat karena Allah dan menyebarkan ilmu, menghidupkan
syi‘ar agama Islam, menegakkan kebenaran dan menghapuskan
kebatilan.
2) Hendaknya seorang ilmuan tidak putus asa dalam mendidik para
muridnya yang menyimpang.
3) Hendaknya seorang ilmuan memotovasi para peserta didiknya
agar mencintai ilmu dan antusias didalam memperolehnya.
4) Hendaknya seorang ilmuan mencintai muridnya sebagaimana
mencintai dirinya.
5) Hendaknya seorang ilmuan memilih metodologi pengajaran
yang paling mudah diterima oleh para peserta didiknya.
6) Hendaknya seorang ilmuan berantusias dalam menyampaikan
pelajaran kepada para peserta didiknya dengan melihat kondisi
kejiwaan mereka.
7) Hendaknya seorang ilmuan menyediakan waktu khusus untuk
menguji pemahaman para peserta didik setelah mereka selesai
menerima materi pelajaran.
8) Hendaknya seorang ilmuan mengatur waktu tertentu untuk
menguji hafalan terhadap pesereta didiknya, tentang hal-hal yang
berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
9) Hendaknya seorang ilmuan membebani peserta didiknya diluar
kemampuannya.
10) Hendaknya seorang ilmuan memberikan kaidah-kaidah penting
dan masalah-masalah kontemporer yang berkaitan dengan
materi pelajaran yang disampaikan kepada para pesereta
didiknya.
11) Hendaknya seorang ilmuan bersikap adil terhadap para peserta
didiknya tanpa pilih kasih
12) Hendaknya seorang ilmuan memperhatikan secara cermat
terhadap perkembangan akhlak para peserta didiknya dan
memberikan solusi-solusi terhadap penyimpangan akhlak
mereka.
13) Hendaknya seorang ilmuan senantiasa siap membantu murid-
muridnya demi kemaslahatan mereka, baik yang bersifat moral
dan material.

56 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
14) Hendaknya seorang ilmuan bersikaf tawadhdhu‘ terhadap para
peserta para didiknya.
2. Adab Penuntut Ilmu (Adab Al-Muta‟allim)
a. Adab Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya Sendiri (Adab Al-
Muta‟allim Fii Nafsihi)
1) Mensucikan hati dari segala sifat-sifat tercela, agar mudah
menyerap ilmu.
2) Meluruskan niat dalam mencari ilmu, yaitu ikhlas hanya
karena ingin mendapat ridha Allah.
3) Menghargai waktu, dengan cara mencurahkan segala
perhatian untuk urusan ilmu.
4) Memiliki sifat qana‟ah dalam kehidupannya, dengan
menerima apa adanya dalam urusan makan dan pakaian,
serta sabar dalam kondisi kekurangan.
5) Membuat jadwal kegiatan harian secara teratur, sehingga
alokasi waktu yang dihabiskan jelas dan tidak terbuang sia-
sia.
6) Hendaknya memperhatikan makanan yang dikonsumsi,
harus dari yang halal dan tidak terlalu kenyang sehingga
tidak berlebih-lebihan, karena makanan haram, dan
mengkonsumsi secara berlebihan menyebabkan terhalang
dari ilmu.
7) Bersifat wara‘, yaitu menjaga diri segala yang sifatnya
syubhat dan syahwat hawa nafsu
8) Menghindari diri dari segala makanan yang dapat
menyebabkan kebodohan dan lemahnya hafalan, seperti apel
asam, dan cuka.
9) Mengurangi waktu tidur, karena terlalu banyak tidur dapat
menyia-nyiakan usia dan terhalang dari faidah.
10) Menjaga pergaulan, yaitu hanya bergaul dengan orang-orang
shaleh yang memiliki antusias dan cita-cita tinggi dalam ilmu,
dan meninggalkan pergaulan dengan orang yang buruk
akhlaknya, harena hal itu berdampak buruk terhadap
perkembangan ilmunya

57 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
b. Adab Penuntut Ilmu Terhadap Gurunya (Adab Al-Muta‟allim
Ma‟a Syaikhihi)94
1) Memilih guru yang berkualialitas, baik dari segi keilmuaan
dan akhlaknya.
2) Mentaati perintah dan nasehat guru, sebagaimana taatnya
pasien terhadap dokter sepesialis.
3) Mengagungkan dan menghormati guru sebagaimana para
ulama salaf mengagungkan para guru mereka. Sebagai
contohnya adalah apa yang pernah dilakukan oleh Imam
Syafi‘i terhadap gurunya (Imam Malik), dimana beliau
membuka buku pelajarannya secara perlahan-lahan tanpa
terdengar suara lembaran kertas, karena mengagungkan
gurunya, dan agar tidak mengganggu konsentrasi gurunya
yang sedang melangsungkan pengajarannya.Bahkan Di antara
ulama salaf ada yang bersedekah terlebih dahulu sebelum
berangkat ke majelis gurunya, seraya berdo‘a “Ya Allah
tutupilah aib guruku, dan jangan engkau halangi keberkahan
ilmunya untukku.‖
4) Menjaga hak-hak gurunya dan mengingat segala jasa-
jasanya, sepanjang hidupnya, dan setelah wafatnya. Seperti
mendo‘akan kebaikan bagi sang guru, dan menghormati
keluarganya.
5) Sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak yang buruk dari
gurunya. Jika hal seperti ini terjadi pada dirinya, hendaknya
ia bersikap lapang dada dan memaafkannya serta tidak
berlaku buruk sangka (su‟udzan) terhadap gurunya tersebut.
6) Menunjukkan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada
gurunya yang telah mengasuhnya dalam naungan keilmuan.
7) Meminta izin terlebih dahulu kepada guru, jika ingin
mengunjunginya atau duduk di majelisnya.
8) Hendaknya duduk dengan sopan di hadapan guru. Ibn
Jama‘ah mencontohkan duduk sopan tersebut, dengan cara

94
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.89-101

58 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
duduk bersila dengan penuh tawadhu‘, tenang, diam, sedapat
mungkin mengambil posisi terdekat dengan guru, penuh
perhatiaan terhadap penjelasan guru, tidak dibenarkan
menoleh kesana kemari tanpa keperluan yang jelas, dan
seterusnya.
9) Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lemah
lembut.
10) Ketika guru menyampaikan suatu pembahasan yang telah
didengar atau sudah dihapal oleh murid, hendaknya ia tetap
mendengarkannya dengan penuh antusias, seakan-akan
dirinya belum pernah mendengar pembahasan tersebut.
11) Penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru menjawab atas
pertanyaan, baik dari guru atau dari para peserta, sampai ada
isyarat dari guru untuk menjawabnya.
12) Dalam hubungan membantu guru, hendaknya sang murid
hendaknya melakukannya dengan tangan kanan.
13) Ketika bersama dengan guru dalam perjalanan, hendaknya
murid berlaku sopan dan senantiasa menjaga keamanan dan
kenyamanan perjalanan sang guru.
c. Adab Penuntut Ilmu Terhadap Pelajarannya (Adab Al-
95
Muta‟allim Fii Durusihi)
1) Hendaknya para penuntut ilmu memulai pembelajarannya
dengan mempelajari Al-Qur‘an terlebih dahulu, baik secara
tilawah maupun penafsirannya. Hal itu karena Al-Qur‘an
adalah pondasi dasar dan pusat dari semua ilmu. Setelah itu,
baru belajar disiplin ilmu yang lainnya.
2) Bagi para penuntut ilmu yang masih dalam tingkatan
pemula, hendaknya menghindari masalah-masalah khilafiyah
(perbedaan madzhab), atau masalah-masalah perdebatan
pemikiran, dan masalah-masalah yang rumit lainnya. Hal itu
karena dapat membingungkannya dan dapat menjadikannya
jenuh.

95
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.103-114

59 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
3) Hendaknya para penuntut ilmu memperbaiki bacaan terlebih
dahulu sebelum menghapalkannya. Karena bacaan yang
salah akan berdampak buruk pada rangkaian pemahaman
dan penghapalan, sehingga hal itu dapat menjatuhkannya
kedalam penyimpangan.
4) Hendaknya sedini mungkin mempelajari hadist dan ilmu-
ilmu yang berkaitan dengannya, seperti ilmu musthalah
hadist, ilmu takhrij al-hadist.
5) Hendaknya memperdalam secara intensif masalah-masalah
yang rumit setelah dapat mengkaji masalah-masalah yang
sederhana.
6) Hendaknya senantiasa mulazamah guru dan tidak boleh
absen dari majlis, sehingga tidak tertinggal dalam berbagai
masalah-masalah keilmuan.
7) Ketika hadir di majlis ilmu, hendaknya mengucapkan salam
kepada seluruh para peserta yang sudah hadir di sana,
dengan suara yang dapat didengar oleh mereka, dan
menambahkan kekushusan penghormatan kepada guru.
8) Senantiasa menjaga adab majlis selama pelajaran
berlangsung.
9) Penuntut ilmu tidak boleh malu bertanya tentang masalah
yang belum dapat dipahami, dan menjaga adab ketika
mengajukan pertanyaan.
10) Menjaga giliran sesuai dengan antriannya, sehingga tidak
mendahuli orang lain, kecuali dengan persetujuan meeka.
11) Duduk dihadapan guru dengan sopan dan santun.
12) Ketika tiba gilirannya untuk membaca, hendaknya ia
memulai dengan basmalah, bershalawat atas nabi Shalallahu
„Alaihi wa Sallam , kemudian mendo‘akan guru, orang tua
dan hadirin, setelah itu ia membaca pelajaran yang harus ia
baca.
13) Penuntut ilmu hendaknya mendorong teman-temannya
untuk senantiasa berantusias dalam proses pencarian ilmu,
karena itu dapat menghilangkan rasa malas dan mewariskan
sifat istiqamah dalam belajar ilmu.

60 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
d. Adab penuntut ilmu terhadap buku sebagai alat ilmiah96
1) Hendaknya para penuntut ilmu berupaya keras untuk
memperoleh buku yang dibutuhkannya dengan cara
membeli, menyewa, atau meminjam.
2) Jika penuntut ilmu meminjam buku hendaknya buku
tersebut dimanfaatkan dengan baik dan menjaganya agar
tidak rusak dan mengembalikannya tepat pada waktunya.
3) Ketika membaca buku, hendaknya buku tidak dibiarkan
berhamburan di lantai dan terhampar secara berlebihan.
4) Hendaklah sebelum membaca buku dipastikan terlebih
dahulu keshahihan buku tersebut.
5) Hendaknya ketika ia membaca buku, dirinya dalam keadaan
suci dari hadas dan suci pakaian dan tempat dan menghadap
kiblat.
6) Hendaknya bagi penuntut ilmu memperbaiki tulisannya agar
mudah dibaca dan dipahami.
7) Hendaknya bagi penuntut ilmu memastikan keshahihan
rujukan yang ia ambil dari sebuah kitab.
8) Hendaklah bagi penuntut ilmu memberikan catatan penjelas
(catatan kaki) agar mudah memberikan keterangan dan
sumber rujukan.
9) Hendaklah bagi penuntut ilmu memberikan penjelasan
kalimat yang dianggap sulit dalam memehaminya.
10) Hendaklah bagi penuntut ilmu memberikan susunan
penulisan secara tertib dimulai dengan bab, pasal, dan
cabang pembahasan.
11) Hendaklah bagi penuntut ilmu melakukan perbandingan
antara terbitan buku yang satu dengan terbitan yang lain
sehingga, dapat diketahui kekurangan dan kelebihan naskah
buku tersebut.

96
- Ibn Jama’ah, Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-
Muta’alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983, hlm.116-134

61 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB V
NETRALITAS SAINS

A. Sains Tidak Netral


Benarkah sains bebas nilai atau netral, sehingga dapat diambil
dari mana saja? Ataukah tidak, sehingga demi kehati-hatian semuanya
harus difilter dan ―diislamkan‖ lebih dulu?
Netralitas pada akhir-akhir ini sering pula dikaitkan dengan sains
dalam suatu kontroversi apakah sains itu bebas nilai (netral) ataukah
memuat kecenderungan kepada nilai-nilai tertentu. Kontroversi ini
terpicu terutama setelah munculnya gerakan Islamisasi sains pada awal
tahun 80-an. Namun tampaknya pemikiran kedualah yang pada akhir-
akhir ini banyak dianut pemikir muslim. Banyak buku terbit terkait
dengan ini baik yang bersifat teori maupun eksperimen. Teori-teori
tentang Islamisasi sains berkaitan erat dengan pembahasan hakikat ilmu,
sedangkan beberapa penulis memberanikan diri bereksperimen dalam
bidang ilmu tertentu sehingga muncullah buku-buku, sebagai contoh,
buku yang berjudul Ekonomi Islam.97
Saintek memang tidak bebas nilai, itu bisa dibuktikan bahwa
teori evolusi Darwin, determinisme Newton yang menolak peran Tuhan
dalam mekanisme alam hingga penggunaan senjata pemusnah massal.
Lahirnya teori-teori ekonomi komunis maupun neoliberal pun bukti
bahwa saintek tidak bebas nilai. Saintek yang bersandar pada sesuatu di
luar Islam terbukti bermasalah, dan ilmuwan yang menekuninya lebih
sering dihitung sebagai ilmuwan sekuler, yakni ilmuwan yang
memandang bahwa agama tidak perlu dilibatkan dalam pengaturan
urusan kehidupan publik.98

97
Didin Hafidhuddin dan Untung Wahono, Netralitas Sains Kealaman, Makalah
disampaikan pada Seminar Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, 30 April
1998.
98
Fahmi Amhar, Perbandingan ilmuwan, saintek dan produknya dalam sistem
Islam vs sistem lainnya,http://famhar.multiply.com/journal/item.

62 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Menurut Prof. Didin Hafidhuddin, ketidaknetralan sains dapat
dilihat dari beberapa segi. Pertama, keberpihakan pada teori yang
berkembang sebagai akibat berkembangnya pengetahuan logis, empiris,
dan rasa (intuisi) manusia dan kedua, terdapatnya kecenderungan untuk
memasukkan unsur metafisika ke dalam pembahasan sains dengan
berbagai tabiatnya.
Proses Islamisasi sains dengan demikian memiliki beberpa
dimensi. Pertama, pendalaman terhadap teori-teori sains sebagai wujud
dari sikap kritis ilmuwan muslim. Kedua, mewarnai pembahasan sains
dengan aspek-aspek metafisika yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga, mengarahkan aplikasi sains ke dalam teknologi yang menjamin
keberlangsungan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
B. Komparatif Ilmuwan Muslim dan Ilmuwan Sekuler
Kemunduran taraf berpikir kaum muslim menyebabkan mereka
tak dapat lagi membandingkan secara jernih saintek mana yang bebas
nilai dan mana yang tidak. Untuk itu, perlu adanya rupaya memberi
pencerahan agar kaum muslim dapat secara jernih membandingkan dua
mazhab riset sains & teknologi, yaitu antara Islam vs sistem lainnya,
terutama sistem sekuler yang dominan di masa sekarang.
Untuk melakukan komparasi mazhab ristek tersebut memang
perlu diperjelas parameter yang dibandingkan. Salah satu parameter
yang paling menyeluruh adalah telaah menurut tiga aspek filsafat ilmu
yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas hal-hal
yang terkait mengapa suatu penelitian atas objek tertentu perlu
dilakukan. Epistemologi membahas tentang tata cara suatu penelitian
harus dilakukan. Sedang aksiologi membahas sejauh mana hasil
penelitian dapat digunakan.
1. Ilmuwan Muslim
a) Ontologi
Ilmuwan muslim akan berontologi dengan (1) kebutuhan yang
merupakan hajatul udhowiyah (atau disebut kebutuhan asasi seperti
sandang-pangan-papan) dan kewajiban syar‟iyyah, tetapi dapat juga (2)
terinspirasi suatu ayat Al-Qur'an yang bermuatan pertanyaan yang dapat
dikaji lanjut secara ilmiah, atau (3) termotivasi oleh suatu ayat Al-Qur‘an
yang memberikan tantangan, yang mau tak mau berarti pengembangkan
saintek terkait.
63 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Contoh:
Seorang ilmuwan muslim akan tergelitik untuk meneliti sehingga
seluruh kebutuhan yang termasuk hajatul udhowiyah (atau disebut
kebutuhan asasi seperti sandang-pangan-papan) dapat dipenuhi
dengan baik. Selain itu juga agar seluruh kewajiban syar‟iyah
dapat terlaksana. Konon Imam Al-Khawarizmi
mengembangkan aljabar karena ingin membantu membagi waris
dengan akurat.
Ada ratusan ayat-ayat Al-Qur‘an yang seharusnya memberi
inspirasi riset saintek pada ilmuwan muslim. Ayat tentang surga
saja masih dapat memberikan inspirasi riset, misalnya:

‫ا‬ًٟٝٔ‫ذب‬
َ َِْ‫إَ َٔصَادَُٗا ش‬ٜ‫ضّا ن‬ٞ‫أ‬ٜ‫َٗا ن‬ٝٔ‫َِٕ ؾ‬ٛ‫ك‬ٜ ِ‫ط‬َُٜٚ
Artinya: ―Di surga itu mereka diberi segelas minum yang campurannya
adalah jahe.”(QS. Al-Insaan: 17)
Seorang ilmuwan muslim pantas untuk tergelitik untuk meneliti
jahe, ada apa di dalam jahe sehingga disebut sebagai campuran
minuman ahli surga?
Seorang muslim – apalagi ilmuwan – akan merasa tertantang
oleh ayat-ayat Al-Qur‘an seperti ini:
Artinya: ―Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Artinya: ―Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk
berperang (yang dengan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu
dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak tahu; sedang Allah
mengetahuinya.” (QS. Al-Anfaal: 60)
Dua ayat di atas mendorong kaum muslim untuk menjadi yang
terbaik, yakni yang mampu menyuruh yang ma‘ruf dan
mencegah yang munkar di dunia, sedang untuk itu diperlukan
kekuatan apa saja. Ketika musuhnya memiliki senjata nuklir,
maka berarti ilmuwan muslim wajib mengembangkan saintek
nuklir yang lebih hebat.
b) Epistemologi
64 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kemudian secara epistemologi, ilmuwan muslim akan
melakukannya dengan cara-cara yang dibatasi syariat: (1) tidak menolak
suatu pernyataan yang harus diimani secara aqidah (yang tentu saja
memerlukan dalil qath‘i), dan (2) berjalan sesuai koridor perintah dan
larangan.
Contoh:
Seorang ilmuwan muslim tak akan meragukan bahwa malaikat
itu ada. Maka dia akan mengarahkan penelitiannya tidak untuk
menjawab apakah malaikat itu ada atau tidak (yang memang
bukan domain riset saintek), tetapi mungkin dia dapat meneliti
korelasi antara keimanan kepada malaikat dengan integritas pada
kelompok sample masyarakat tertentu.
Seorang ilmuwan muslim tak akan membiarkan suatu maksiat
terjadi sekalipun demi kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena
itu percobaan kloning pada manusia harus dilarang, karena bila
berhasil berkonsekuensi melahirkan manusia tanpa nasab (yang
akan menimbulkan berbagai masalah syara‘), dan bila manusia
itu ternyata memiliki sifat monster sehingga harus dibunuh,
maka ini juga maksiat.
c) Aksiologi
Sedang secara aksiologi, produk saintek ilmuwan muslim
dikembangkan atau didesain sedemikian rupa sehingga dapat
bermanfaat sebesar-sebesarnya sesuai syariat dan tidak disalahgunakan
untuk aktivitas yang tidak syar‘i.
Contoh:
Dalam sejarah, hampir seluruh produk saintek Islam telah
dijadikan public domain. Negara atau orang-orang kaya telah
mengganti seluruh investasi dari riset yang memang bermanfaat
itu lalu mewakafkannya untuk dipelajari dan dimanfaatkan siapa
saja. Hanya sedikit saintek yang dirahasiakan karena alasan
keamanan. Namun kalaupun ilmuwan muslim dapat
mengembangkan senjata nuklir, senjata itu hanya untuk
menggetarkan musuh, untuk mendapatkan posisi tawar yang
lebih baik, tidak benar-benar dipakai melakukan pembunuhan
massal.

65 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Seorang matematikawan muslim yang mempelajari teori
permutasi ataupun neuronal network untuk melakukan prediksi
kejadian, tak akan menggunakan ilmu itu untuk memenangkan
perjudian.
2. Ilmuwan Sekuler
a) Ontologi
Sementara itu ilmuwan sekuler akan berontologi pada (1)
kepuasan batin peneliti atau (2) kebutuhan dalam masyarakat kapitalis.
Mereka akan tertarik untuk meneliti apa saja yang memberikan kepuasan
batin, memenuhi selera konsumsi atau menjaga agar mereka tetap dalam
standar hidup yang telah diraih. Walhasil banyak usaha yang
dikeluarkan untuk suatu riset yang tidak menjawab masalah apa-apa
kecuali keingintahuan sang peneliti, atau riset yang justru memperbudak
manusia pada teknologi, atau memperbudak (menjajah) suatu
masyarakat pada pihak yang menguasai teknologi.
Contoh:
Banyak penelitian terdepan di bidang matematika, kosmologi,
palaeobiologi atau juga ilmu-ilmu sosial yang sudah kabur
hubungannya dengan realitas kehidupan saat ini. Setidaknya,
para ilmuwan yang menggelutinya kesulitan menjelaskan kepada
orang awam akan manfaat risetnya itu selain memenuhi rasa
ingin tahu. Memang di zaman Yunani kuno ada penelitian
geometri yang saat itu hanya olah pikir dan baru diketahui
aplikasinya 2000 tahun kemudian ketika fisika mekanika telah
berkembang. Tetapi mungkin sulit untuk menyebut manfaat
dari penelitian untuk memastikan apakah agama dibawa oleh
UFO; di mana posisi mendarat kapal Nabi Nuh; apakah
penyebab pasti punahnya Dinosaurus; atau bagaimana cara
minum anggur yang benar.
Riset-riset yang dibiayai korporasi besar terus ingin
mendapatkan saintek yang makin efisien untuk menghasilkan
keuntungan besar. Maka diciptakan mesin-mesin raksasa yang
makin efisien untuk mengeruk sumberdaya alam. Dampak
lingkungannya tidak dikaji karena tidak terkait keuntungan. Di
dunia pertanian, pabrik-pabrik benih raksasa menciptakan
berbagai bibit unggul yang menjanjikan keuntungan besar bagi

66 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
petani, tetapi benihnya tetap harus dibeli dari pabrik. Demikian
juga di dunia farmasi, riset obat instan didorong sedemikian
rupa, semakin jauh dari kenyataan bahwa seharusnya kesehatan
dijaga secara integratif dengan pola makan, pola pikir, pola
hidup dan lingkungan yang sehat.
b) Epistemologi
Epistemologinya juga pada dasarnya bebas, tidak ingin diatur,
sekalipun oleh hukum.
Contoh:
Di masa NAZI dulu, Hitler memerintahkan melakukan riset
anthropologi terapan untuk mengenali secara cepat etnis non
Arian murni pada masyarakat Jerman. Riset ini bertujuan
mengidentifikasi ―bibit musuh dalam selimut‖ dalam masyarakat
Jerman. Riset dilakukan dengan melakukan pengukuran
biometris secara paksa pada orang-orang yang dijadikan
sampelnya. Terkadang riset ini dibumbui dengan penyiksaan,
perlukaan hingga pembunuhan atas nama kemajuan ilmu
pengetahuan.
Peristiwa penjatuhan bom atom atas Hiroshima dan Nagasaki
sebenarnya juga sekedar metode untuk mengetahui dampak
ledakan nuklir pada sebuah kota berpenduduk, bukan untuk
mengakhiri perang, sebab saat itu sebenarnya Jepang sudah siap
menyerah.
Ada sejumlah ilmuwan Barat yang tetap ingin mengetahui
manusia seperti apa yang akan dihasilkan dari proses kloning.
Ketika sejumlah negara seperti Amerika Serikat melarang riset
kloning pada manusia, mereka mencari negara lain yang hingga
saat ini belum memiliki aturan melarangnya.
c) Aksiologi
Sedang aksiologinya adalah yang memberi keuntungan
sebanyak-banyaknya.
Contoh:
Rezim paten di dunia Barat di satu sisi memang telah
melindungi inventor dari kesewenangan pemilik modal. Namun
di sisi lain telah menyebabkan jutaan penemuan tidak atau
lambat termanfaatkan karena kendala paten. Kalau kita buka

67 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
database paten Amerika (www.uspto.gov) atau database sejenis di
Eropa, akan kita dapati begitu banyak penemuan yang sudah
berpuluh tahun ada dan diumumkan dalam dokumen paten
namun tidak pernah kita jumpai pada kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, investasi investornya tidak kembali, dia tetap miskin
karena penemuannya tidak bernilai komersial, dan dia juga tidak
mendapat nilai moral karena tidak ada orang yang memakai
penemuannya itu. Di sisi lain, barangkali ada persoalan di
lapangan yang mestinya bisa diatasi dengan sesuatu yang telah
ditemukan, tetapi tidak jadi diatasi karena penemuan itu
dilindungi paten.
Di dunia Barat, semua penemuan saintek boleh dipakai –
sepanjang selaras dengan hukum yang berlaku – tentunya
hukum sekuler yang merupakan hasil kesepakatan belaka
masyarakat sekuler, yang menolak agama dalam pengaturan
urusan publik. Karena itu akan didapati saintek yang makin
canggih untuk optimalisasi maksiat: saintek di dunia perjudian,
pelayanan seks komersial, pembuatan khamr, dan sebagainya.
Di Technical Univesity Munich Jerman bahkan ada program
studi teknologi pembuatan bir.99
3. Kesimpulan
Dengan demikian jelas bahwa memang ada bedanya antara
saintek yang dikembangkan dalam sistem Islam dari sistem sekuler. Ada
produk saintek yang tidak kompatibel dengan Islam. Dan uji ontologi,
epistemologi maupun aksiologi ternyata dapat digunakan untuk memilah
saintek mana yang kompatibel dari yang tidak.
Memang secara historis, saintek Islam dibangun di atas ilmu
yang berbasiskan wahyu. Ilmu di dalam Islam berdimensi Iman. Ilmu
dalam pikiran menguatkan keyakinan yang menghujam di dalam hati.
Tidak cukup berhenti pada pikiran dan hati saja, tapi haruslah
diwujudkan dalam bentuk perbuatan (amal). Sementara ilmu di Barat
berangkat dari ‘meragukan segala sesuatu‘ (skeptic), bahkan merelatifkan
segala sesuatunya ‟All is relative‟. Jadi ilmu di Barat tidaklah menghasilkan
sebuah kepastian apalagi sebuah keyakinan. Sebab, di Barat ilmu hanya

99
Ibid

68 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
sebatas pada pengalaman inderawi (visible) dan dapat dijangkau oleh akal
manusia (rasional), diluar itu bukan dikatakan ilmu pengetahuan. Hal ini
juga menunjukkan bahwa ilmu tidak bebas nilai (free value), bahkan syarat
dengan nilai karena ilmu adalah by product dari suatu pandangan hidup
suatu peradaban atau bangsa

69 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB VI
MENUJU SAINS ISLAM

A. Urgensi Filsafat Sains Islam100


Islam memandang sains, atau ilmu alam dalam hal ini, terkait
dengan konsep Tauhid, yaitu merupakan satu kesatuan dengan cabang
pengetahuan lainnya. Dalam Islam, alam tidak dilihat sebagai entitas
terpisah, melainkan sebagai bagian integral dari pandangan holistik
Islam tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta.
Kesalingterkaitan ini menyiratkan sakralitas mencari ilmu alam
bagi umat Islam karena alam sendiri dalam Al-Qur‘an merupakan
kumpulan ayat (tanda-tanda) keberadaan Tuhan. Dengan pemahaman
ini, sains Islam berkembang dalam peradaban Islam, khususnya selama
abad kedelapan sampai keenam belas masehi.
Sayangnya cara berpikir Tauhid ini nampaknya sudah mulai
hilang di kalangan saintis muslim saat ini. Mereka beragama Islam dan
menjalankan penelitian saintifik namun menganggap keduanya
merupakan hal yang tidak ada hubungannya sekalipun hanya dalam
pikiran mereka.
Contoh yang menarik adalah bagaimana cara berpikir umat
Islam mengenai evolusi. Nidhal Guessoum101 melakukan penelitian
kepada mahasiswa dan dosen di tempatnya mengajar yaitu di American
University di Sarjah. Sekitar 62% mahasiswa dan 62% dosen tidak
mempercayai teori evolusi, namun di sisi lain 58% mahasiswa dan 70%
dosen setuju teori evolusi diajarkan.102 Hal ini menunjukkan suatu

100
Irfan Habibie Martanegara, Menuju Filsafat Sains Islam,Bogor : PPMS Ulil
Albaab, 2011.
101
Nidhal Guessoum adalah seorang ahli astrofisika Aljazair. Gelar sarjananya di
bidang fisika teoritis diperoleh dari University of Science and Technology di Aljazair
sedang gelar Masters dan Ph. D nya di bidang Astrofisika diambil dari University of
California di San Diego, USA. Ia telah menyelesaikan perkulahan postdoktoralnya dengan
melakukan penelitian di NASA/Goddard Space Flight Center. Ia sekarang merupakan
professor fisika di American Universitasy of Sharjah (Uni Emirat Arab).
102
Nidhal Guessoum, Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and
Modern Science , London:IB Tauris, 2011 hlm 368

70 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
fenomena keterbelahan dalam pikiran umat Islam dalam memahami
sains dan agama.
Hal ini menunjukkan kebutuhan umat Islam akan filsafat sains
Islam yang menunjukkan bagaimana konsep tauhid dalam memahami
alam dan kerjanya. Makalah ini mencoba meramu gagasan para pemikir
muslim mengenai hal tersebut.
B. Memahami Sains Kontemporer
Sebelum memahami sains Islam, sains kontemporer perlu
dipahami lebih dahulu agar dapat dibedakan dengan sains Islam.
Sebelum menjelaskan sains Islam, dalam bukunya How Do You Know,
Ziauddin Sardar103menjelaskan dahulu makna sains kontemporer yang
banyak dipahami kebanyakan orang saat ini. Sains adalah suatu modus
penelitian terorganisasi, sistematis dan disiplin berdasarkan
eksperimentasi dan empirisme yang menghasilkan hasil yang berulang
dan berlaku universal untuk semua budaya.104
Hal yang juga penting untuk memahami sains adalah memahami
metode saintifik. Guessoum mengemukakan urutan formula metode
saintifik secara sederhana105, sebagai berikut:
a. mengamati fenomena, dan merekam sebanyak mungkin
data/informasi tentang hal yang diamati;
b. membangun penjelasan/hipotesis untuk itu, hipotesis ini harus
didasarkan pada pengetahuan mengenai karakteristik alam;
c. hipotesis yang memprediksikan suatu pola data tertentu diuji
kebenarannya, apakah hipoteis ini sesuai atau tidak dengan prediksi
data-datanya;
d. hipotesis diuji sampai semua prediksi benar atau diganti dengan
hipotesis baru jika hasil hasilnya bertentangan dengan percobaan
dan pengamatan.
Guessoum mengemukakan bahwa hal-hal di atas merupakan apa
yang selalu digambarkan para guru sains. Tentu saja keempat hal di atas
tidak salah. Namun, menurut Guessoum, ada kurang dari formula di

103
Ziauddin Sardar (lahir di Pakistan pada 31 October 1951) seorang ilmuwan
yang tinggal di London, penulis dan pengkritik budaya yang menspesialisasikan diri pada
pemikiran Islam, studi masa depan, sains dan relasi budaya.
104
Ziauddin Sardar, How Do You Know?, London: Pluto Press, 2006, hlm 181
105
Guessoum, Islam’s Quantum Question, hlm 72

71 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
atas yaitu penjelasan di atas tidak memperlihatkan pengaruh unsur
manusia dan komunitas saintifik dalam prosesnya.106
Keyakinan berlebihan pada metode saintifik telah membuat para
ilmuan Barat terjebak dalam saintisme yang menjadikan sains satu-
satunya sumber jawaban untuk setiap pertanyaan yang mereka hadapi.
Padahal jika ditelusuri sains sendiri memiliki banyak keterbatasan untuk
menjawab pertanyaan manusia. Mehdi Golshani107 dalam bukunya yang
berjudul Melacak Jejak Tuhan dalam Sains mengungkapkan banyak
keterbatasan sains yang empiristik108. Menurut Golshani, ada sepuluh
keterbatasan sains kontemporer, di antaranya:
1. Keterbatasan sains menjawab pertanyaan-pertanyaan ultimate
manusia seperti: Bagaimana segala sesuatu bermula? Untuk apa kita
semua ada di sini? Apa makna hidup?
2. Sains memunculkan beberapa pertanyaan yang relevan dengan
pokok persoalannya tapi penjelasannya berada di luar jangkauan
sains. Misalnya: dari mana datangnya hukum-hukum fisika?
Mengapa kita bisa memahami hukum-hukum fisika? Mengapa harus
ada alam semesta yang didalamnya hukum-hukum fisika berlaku
seperti itu?
3. Penafsiran atas data empiris sangat bergantung pada praanggapan
metafisis yang mempengeruhi analisa teoretis kita, misalnya konsep
kausalitas untuk menafsirkan dua kejadian yang berurutan.
4. Ada konsep-konsep yang bermanfaat namun tidak disimpulkan
langsung dari pengamatan, misalnya kuark (partikel terkecil).
5. Kerja ilmuwan secara implisit atau eksplisit didasarkan pada prinsip-
prinsip umum tertentu yang memberikan kerangka kerja bagi
ilmuan.
6. Beberapa ilmuan terkemuka mengakui pengingkaran mereka
terhadap prinsip-prinsip metafisika didasarkan pada pilihan filosofis.
Max Born menolak determinisme sebagai sebuah pilihan filosofis
bukan fisika.

106
Ibid, hlm 72
107
Mehdi Golshani lahir di Isfahan, Iran pada 1939) adalah seorang ahli fisika
teoretis dan filsuf. Ia merupakan Profesor fisika di Sharif University of Technology. Banyak
berbicara tentang relasi Islam dan sains di kalangan sunni maupun syiah.
108
Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Bandung: Penerbit Mizan,
2004, hlm 16-22

72 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
7. Agar dapat menjelaskan sains dan keberhasilannya, orang harus
melangkah keluar dari batas-batas sains.
8. Beberapa landasar fisolofis sains modern telah digugat dan
dikumukakan alternatif penggantinya.
9. Beberapa ilmuan menyarankan meski pengetahuan ilmiah bisa
mengungkap beberapa aspek dari alam semesta, ia tidak bisa
dianggap sebagai pengetahuan mutlak. Misalnya Bernard d‘Espanat
yg mengungkapkan bahwa pendekatan selain sains bisa digunakan
bersamaan dengan sains.
10. Pengabaian terhadap sebab-sebab non-material akan menyebabkan
banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
Bila didalami ternyata metode saintifik yang berkembang di
Barat sebenarnya tidak hanya satu model saja. Syed Muhammad Naquib
Al-Attas109 mengemukakan ada tiga model metode saintifik yang
berkembang di Barat yang metode-metode ini mengarah pada
penolakan terhadap eksistensi dan konsepsi ketuhanan. Metode-metode
tersebut di antaranya:
1. rasionalisme filosofis, yang cenderung hanya bersandar pada nalar
(reason) tanpa bantuan pengalaman (spiritual) atau persepsi indrawi.
2. rasionalisme sekular yang cenderung lebih bersandar pada
pengalaman inderawi, menyangkal otoritas dan intuisi, serta
menolak wahyu dan agama sebagai sumber ilmu yang benar.
3. empirisme filosofis atau empirisme logis yang menyandarkan
seluruh ilmu pada fakta-fakta yang dapat diamati, bangunan logika
dan analisis bahasa.110
C. Definisi Sains Islam
Berbagai kritik Golshani terhadap sains berimplikasi pada
ketidak universalan sains. Dalam hal ini, Alparslan Acikgenc 111

109
Syed Muhammad al Naquib bin Ali al-Attas (lahir di Bogor pada 5 September
1931) adalah filsuf dan pemikir muslim kontemporer ternama. Dia adalah seorang dari
sedikit ilmuwan kontemporer yang memiliki akar dalam ilmu-ilmu Islam tradisional yang
kompeten di bidang teologi, filsafat, metafisik, sejarah, and sastra. Dia dianggap pencetus
ide islamisasi ilmu pengetahuan.
110
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and The Philosophy of Science, Edisi
Indonesia Terjemahan Saiful Mujanni (Jakarta: Mizan, 1995) h. 27-28.
111
Alparslan Acikgenc, lahir di Senkaya, Erzurum, Turki pada 24 November 1952.
Alparslan pernah mengajar di Middle East Technical University di Department of

73 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
mengemukakan bahwa universalitas sains (sebagaimana yang
diungkapkan Sardar di atas) bukan universalitas dalam pengertian yang
absolut. Universal di sini harus dipahami secara konvensional yang
mungkin berbeda antara satu saintis dengan saintis lainnya atau satu
filsuf dengan filsuf lainnya.112
Oleh karena itu, diperlukan upaya islamisasi terhadap sains.
Islamisasi sains dapat pula meniru langkah Islamisasi ilmu yang
diungkap Al-Attas dalam Islam and Secularism. Menurut Al-Attas,
islamisasi ilmu adalah pembebasan manusia yang diawali dengan
pembebasan dari tradisi-tradisi yang berunsur magis, mitologis,
animistis, tradisi kultur-nasional yang bertentangan dengan Islam dan
juga pembebasan dari kontrol sekuler atas pikiran dan bahasanya.113
Sains Islam sendiri menurut Al-Attas, sebagaimana dikutip
Acikgenc, adalah kegiatan saintifik yang kerangka utamanya berada
dalam worldview Islam. sebagai perpanjangan darinya secara lansung
dari skema konseptual saintifik Islam.114 Golshani merinci empat ciri
sains dalam kerangka worldview Islam, di antaranya:
1. Memandang tuhan sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta.
2. Tidak membatasi alam semesta pada ranah materi saja.
3. Menisbatkan tujuan pada alam semesta.
4. Menerima tertib moral bagi alam semesta.115
Untuk membedakan mana sains Islam dan mana yang bukan
sains Islam, Munawar Ahmad Anees116, sebagaimana dikutip Sardar,

Philosophy dan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala
Lumpur, Malaysia sebagai profesor filsafat. Terakhir menjadi dekan di Fakultas Seni dan
Sains The University of Jordan, Amman.
112
Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Toward A Definition. Kuala Lumpur:
ISTAC. 1996, hlm 38
113
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur:
ISTAC. 1995, hlm 44
114
Alparslan, Islamic Science. hlm 38.
115
Golshani, Melacak Jejak Tuhan, hlm 47
116
Munawar Ahmad Anees adalah seorang konsultan pada Templeton
Foundation. Sering disebut sebagai pengikut pemikiran Ziauddin Sardar, ahli biologi ini
telah menulis buku bberjudl Islam and Biological Futures: Ethics, Gender, and Technology
(London: Mansell, 1989) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, Bosnia, and
Indonesia.

74 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
mengemukakan ada sepuluh hal yang tidak bisa disebut sebagai sains
Islam.117
1. Sains Barat yang dilabeli Islam. Hal ini karena sains Islam adalah
produk dari epistemologi dan metodologi wordview Islam yang tidak
dapat direduksi dengan worldview barat yang sempit.
2. Reduktif. Paradigma tauhid menggabungkan semua pengetahuan
dalam sebuah kesatuan organik.
3. Anakronistik (menyalahi zaman). Sains islam dilengkapi dengan
kesadaran masa depan yang dimediasi melalui sarana dan tujuan
sains.
4. Terlalu didominasi metodologi tertentu. Sains islam memungkinkan
berbagai metode dengan norma-norma universal Islam.
5. Terfragmentasi (terpisah-pisah). Sains Islam mempromosikan
penguasaan berbagai bidang berbeda dengan spesialisasi disiplin
sempit.
6. Ketidakadilan. Epistemologi dan metodologi sains Islam
mendukung keadilan distributif dalam konteks masyarakat.
7. Sempit. karena nilai-nilai abadi sains Islam adalah gambar cermin
dari nilai-nilai Islam.
8. Yang tidak relevan secara sosial. Sains seperti merupakan pekerjaan
saintifik yang 'secara subyektif obyektif' keluar dari konteks sosial.
9. Bucaillism. Bucaillisme merupakan kesalahan berpikir logis.
10. Kesektean. Karena sains Islam tidak memberi dukungan epistemis
pada okultisme, astrologi, mistisisme dan sejenisnya.
D. Sains dalam Al-Qur’an, Adakah?
Timbul pertanyaan apakah Al-Qur‘an memuat seluruh ilmu
kealaman atau sains sehingga dapat dijadikan rujukan sains? Ada dua
pandangan mengenai masalah ini.118
Pertama, Al-Qur‘an sebagai sumber sains. Pendapat ini didukung
salah satunya oleh al Ghazali. Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
mengutip Ibnu Mas‘ud yang mengatakan, ―Jika seseorang ingin memiliki
pengetahuan mengenai masa depan dan masa lampau, selayaknya ia
merenungkan Al-Qur‘an‖.

117
Sardar, How Do You Know, hlm 182
118
Golshani, Mehdi, Filsafat Sains menurut Alquran, Bandung: Penerit Mizan, hlm.

75 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Menurut Golshani, pandangan serupa juga disampaikan
Jalaluddin As Suyuthi. Dalam Al Ithqan Fi Ulumil Quran, As Suyuthi
berpendapat bahwa Al-Qur‘an telah melingkupi semua ilmu. Beliau
mengatakan, ―Kitab Allah itu mencakup segala sesuatu. Tidak ada
bagian atau problem dasar suatu ilmu pun yang tidak ditunjukkan suatu
ilmu pun yang tidak ditunjukkan dalam Al-Qur‘an. Dalam Al-Qur‘an,
seseorang dapat menemukan aspek-aspek menakjubkan pada ciptaan-
ciptaan dimensi spiritual langit dan bumi, apa yang ada dalam bagian-
bagian dimensi spiritual langit dan bumi, apa yang ada dalam bagian-
bagian teragung dalam cakrawala, dan yang ada di bawah lumpur, awal
mula penciptaan.‖
Untuk mendukung pandangannya As Suyuthi menyitir surat al-
An‘am ayat 38 yang berbunyi:

ۚ ٕ٤َِٞ‫ ٔهتَابٔ َٔٔ غ‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫طَٓا ؾ‬ٞ ٖ‫س‬ٜ‫َٖا ؾ‬


“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.”
Juga pada surat an-Nahl ayat 89, Allah berfirman:

ٕ٤َِٞ‫ٓ غ‬٢ٌٝ‫َاّْائٓه‬ِٝ‫ب ٔتب‬


َ ‫ ٔهتَا‬ٞ‫و اي‬
ٜ ًَِٜٝ‫يَٓا ع‬ٖٞ‫َْص‬ٚ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur‟an) untuk
menjelaskan segala sesuatu.”
Salah satu ayat yang cukup fenomenal sebagai bukti
kemukjizatan sains Al-Qur‘an adalah ayat 7 Surat An-Naba‘: “Wa Al-
Jibaala 'Awtaadaaan (dan gunung-gunung sebagai pasak).”Secara bahasa,
'awtaadaaan adalah bentuk jamak dari kata watadun yang artinya paku
besar atau pasak. Kata ini di kalangan bangsa Arab digunakan untuk
pasak pengikat tali kemah di padang pasir agar tidak terbang terbawa
angin. Dalam hal ini 'awtaadaa artinya pematok agar Bumi menjadi lebih
mantap atau tidak tergoncang.
Definisi ‗awtaadaa tersebut bersesuaian dengan sains modern.
Dalam Plate Tectonic Theory, gunung api berfungsi sebagai pasak atau
paku raksasa. Paku ini mengerem laju litosfer (kulit bumi) agar tidak
terlalu cepat berjalan sehingga berpotensi menimbulkan
goncangan/gempa yang sangat kuat.

76 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kedua, Al-Qur‘an sebagai sumber petunjuk. Pandangan Al-
Qur‘an sebagai sumber sains telah dikritik banyak ulama. Golshani
mengungkapkan beberapa poin yang dapat disimpulkan dari kritik-kritik
tersebut.
a. Meski dalam Al-Qur‘an terdapat banyak isyarat-isyarat sains, namun
Al-Qur‘an bukan diturunkan untuk mengajari ensiklopedia sains.
Surat an-Nahl ayat 89 di atas misalnya, hanya menunjukkan bahwa
Al-Qur‘an mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan sebagai
pedoman hidup. Lebih lengkapnya ayat tersebut berbunyi:

َ‫ُُطًُِٔٔني‬ًٞٔ‫ۚي‬٣َ‫َُبػِس‬ٚ ٟ١َُِ‫ َزس‬َٚ ٣ّ‫َُٖد‬ٚ ٕ٤َِٞ‫ٓ غ‬٢ٌٝ‫َاّْائٓه‬ِٝ‫ب ٔتب‬


َ ‫ ٔهتَا‬ٞ‫و اي‬
ٜ ًَِٜٝ‫يَٓا ع‬ٖٞ‫َْص‬ٚ
”Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri.”

b. Tidaklah dibenarkan menafsirkan Al-Qur‘an dengan cara yang tidak


diketahui orang-orang Arab pada masa nabi. Hal ini karena Al-
Qur‘an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana pada surat asy
Syu‘araa ayat 192 sampai 195, Allah berfirman:

َٔ ٜ٢‫ُُٓرٔز‬ٞ‫َٕ ََٔٔ اي‬ٛٝ‫ٔيتَه‬ٜ‫ًبٔو‬ٜٞ‫ۚ ق‬٢ًَٜ‫أَٔنيُ ع‬ٜ ٞ‫حُ اي‬ٚٗ‫ُٔنيَ َْصٍََ بٔ٘ٔ ايس‬ٜ‫يعَاي‬ٞ‫ٌُ زَبٔٓ ا‬ٜ٢‫يتَٓص‬ٜ ُْٖ٘٢‫َإ‬ٚ

٣‫ٓ َٗبٔني‬٣ٞٔ‫ عَسَب‬٣ٕ‫بًٔٔطَا‬


―Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang
yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
Terlebih, kadang kala demi menyesuaikan Al-Qur‘an
dengan sains kontemporer, sebagian penulis di bidang ini
mengeluarkan penafsiran ayat dari kelaziman bahasanya. Jika
caranya dipaksakan seperti itu, selain menyelewengkan maknanya,
orang Kristen dan Yahudi pun telah menempuh cara yang sama
yang mencoba menjelaskan sains modern dari kitab sucinya.

77 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
c. Masih banyak tema dalam sains yang terus mengalami
perkembangan. Karena itu, tidak dibenarkan menafsirkan Al-Qur‘an
dengan sesuatu yang terus berubah. Atau dengan kata lain Al-Qur‘an
yang merupakan kebenaran mutlak tidak bisa dibandingkan dengan
sains yang merupakan kebenaran relatif. Jika ini dilakukan akibatnya
bila ada perkembangan pada sains, ayat Al-Qur‘an atau hadits yang
digunakan untuk melegitimasinya juga akan berubah tafsirnya.
d. Sudah menjadi kehendak Allah agar manusia menemukan rahasia-
rahasia alam dengan menggunakan bukti empiris dan rasionalitas.
Para ilmuan pada masa keemasan Islam sekalipun tidaklah mencari-
cari rumus sains dalam Al-Qur‘an. Mereka tetap menempuh
metodologi ilmiah dalam menelaah alam. Bahkan metodologi ilmiah
yang saat ini digunakan para saintis ternyata dirumuskan oleh
ilmuwan muslim.
Kritikan terhadap anggapan bahwa Al-Qur‘an merupakan
sumber sains, menurut Guessoum, lebih ditujukan pada tren paradigma
hubungan Al-Qur‘an dan sains versi ―Mukjizat Ilmiah‖.119 Pendekatan
Mukjizat Ilmiah maksudnya adalah bahwa Al-Qur‘an, bila dibaca secara
saintifik, mengungkapkan dengan cara semi-tersurat kebenaran saintifik
yang ditemukan pada jaman modern ini. Itu artinya Al-Qur‘an memiliki
kemukjizatan ilmiah yang menunjukkan nilai keilahiannya.
Ada beberapa tokoh modern yang cukup terkenal dalam bidang
mukjizat ilmiah Al-Qur‘an dan Sunnah. Di antara tokoh tokoh tersebut
adalah Zaghlul Al Najar, Harun Yahya, dan pelopornya yaitu Maurice
Bucaille.
Menurut Guessoum, ada pendekatan lain yang dirasa lebih tepat
dalam memandang hubungan Al-Qur‘an dan sains sembari
mengakomodasi kritikan-kritikan terhadap hubungan Al-Qur‘an dan
sains yaitu pendekatan ―Tafsir Ilmiah‖. Tidak seperti pendekatan
―Mukjizat Ilmiah‖, pendekatan ini tidak mengklaim bahwa fenomena
sains yang ada adalah mukjizat sesuai kenyataan sains sendiri masih terus
berkembang.
Pada pendekatan ini, perkembangan sains digunakan untuk
memahami isyarat-isyarat ilmiah yang belum dipahami oleh orang-orang

119
Goessoum, Islam’s Quantum Question. hlm.148

78 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
pada masa lalu. Layaknya sebuah tafsir, pendekatan ini memegang
prinsip bahwa tafsir-tafsir yang lain juga benar serta prinsip ijtihad yang
benar mendapat dua pahala sedangkan ijtihad yang salah mendapat satu
pahala.120
E. Kontradiksi Antara Sains dan Wahyu
Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah bagaimana bila
terjadi kontradiksi antara sains dan wahyu? Secara konseptual
kontradiksi ini tidak mungkin terjadi. Alam semesta raya seisinya dan Al-
Qur‘an sama-sama berasal dari Allah. Keduanya tidak bertentangan satu
sama lain, bahkan sebaliknya saling menjelaskan dan saling memperkuat
fakta tentang keberadaan Allah bagi mereka yang mengimaninya.121
Untuk mengatasi kontradiksi ini Guessoum yang terinspirasi
karya Ibn Rusyd yang mengompromikan filsafat dan wahyu
mengusulkan satu jalan keluar yaitu menafsirkan Al-Qur‘an secara
hermeneutik. Menurutnya, harus disadari bahwa ada makna berlapisan
yang melekat pada Al-Qur‘an ketika membaca ayat-ayat yang
berhubungan dengan fenomena alam.122
Cara Guessoum ini perlu dipertanyakan. Sebab terlihat bahwa
Guessoum mendudukkan sains di atas Al-Qur‘an. Pertanyaannya
apakah sains modern menghasilkan kepastian? Bahkan dengan menurut
gagasan Thomas Kuhn123 dalam bukunya The Structure of Scientific
Revolution, perkembangan sains jauh dari sifat kumulatif, namun justru
merupakan rekonsturksi bidang dari fundamental-fundamental baru.124
Artinya bila ada pertentangan antara ayat Al-Qur‘an yang maknanya
telah jelas dengan sains modern, dapat dianggap bahwa sains tersebut

120
Ibid hlm.148
121
Nur Rofiah, “Al-Qur’an” dalam Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Studi Islam,
2011, hlm 130
122
Diambil dari presentasi Nidhal Guesseum yang berjudul “Islam and Science in
Today’s World” pada first International on Knowldedge and Values Conference yang
bertajuk “Methodological Exploration of The Encounter of Science, Religion, and Local
Culture” di Gadjah Mada University, Yogyakarta, 16 Desember 2011
123
Thomas Samuel Kuhn (18 Juli 192217 Juni 1996) adalah seorang sejarawan
Amerika dan ahli filsafat ilmu yang kontroversial. Buku The Structure of Scientific
Revolutions yang terbit 1962 sangat berpengaruh di kalangan akademis dan populer,
memperkenalkan istilah "pergeseran paradigma".
124
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, Terj. Tjun Surjaman,
Bandung: Rosda, 1989, hlm 84

79 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
masih dalam tahap perkembangan sehingga tidak perlu menafsirkan Al-
Qur‘an secara hermeneutik.
Lebih jauh menurut Nur Rofiah, cara berpikir seperti di atas
memiliki kelemahan. Pertama, Al-Qur‘an ditundukkan pada kebenaran
yang dipandang mungkin dapat berubah setiap saat. Kedua, teori-teori
ilmiah dipandang sebagai sesuatu yang pasti benar sehingga dijadikan
parameter untuk menilai kebenaran Al-Qur‘an. Ketiga, tidak
membedakan antara Al-Qur‘an dan opini tentang Al-Qur‘an atau tafsir
dan tidak juga membedakan atnara fakta ilmiah dan opini tentang fakta
ilmiah (sains).125

125
Nur Rofiah, “Al-Qur’an”, hlm 129

80 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB VII
FAKTOR PENDORONG KEMAJUAN ILMU

Menurut Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, dan Dr. Syamsuddin


Arief, bahwa ada beberapa faktor utama yang mendorong kemajuan
ilmu di dunia Islam. Yaitu:
1. Kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami, dan
mengamalkan ajaran Islam (firm adherence to, understanding and practicing
of, true Islamic faith and teachings).
Keimananan yang teguh, pemahaman yang memadai, dan
kesungguhan dalam mempraktikan ajaran Islam sebagaimana tertuang
dalam Al-Qur‘an dan Sunnah itu telah berhasil melahirkan individu-
individu ‗siap tempur‘ yang unggul secara mental maupun moralnya, dan
pada gilirannya membentuk masyarakat madani yang Islami. Terbukti
dalam rentang waktu yang cukup singkat mereka berjaya membangun
sebuah peradaban yang gemilang.126
2. Dorongan Motivasi Agama.
Islam merupakan satu-satunya agama yang paling empatik dalam
mendorong umatnya untuk menuntut ilmu. Sebagaimana kita ketahui,
kitab suci Al-Qur‘an banyak berisi anjuran untuk menuntut ilmu,
perintah agar kita membaca (iqra‟), melakukan observasi (a-fala yarawna),
eksplorasi (afala yanzhuruna) dan ekspedisi (siru fi l-ardi), melakukan
„inference to the best explanation‟, serta berpikir ilmiah rasional (li-qaumin
ya‟qilun, yatafakkarun). Di antara surat dalam Al-Qur`an yang paling
utama adalah surat al-‗Alaq ayat 1-5 yang memberikan tekanan pada
pembacaan sebagai wahana penting dalam usaha keilmuan, dan
pengukuhan kedudukan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai sumber
tertinggi ilmu pengetahuan manusia.

126
Syamsudin Arief, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, Jakarta : Gema Insani,
2008.

81 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٟٔ‫ٓر‬ٜ‫سَُّ اي‬ٞ‫ األن‬ٜ‫زَٓبُو‬َٚ ٞ‫سَأ‬ٞ‫ل اق‬ًَٜ‫لَ اإلِْطَإَ َِٔٔ ع‬ًَٜ‫لَ خ‬ًَٜ‫ خ‬ٟٔ‫ٓر‬ٜ‫ اي‬ٜ‫ زَبٔٓو‬٢ِِ‫ بٔاض‬ٞ‫سَأ‬ٞ‫اق‬

ًِِِٜ‫َع‬ٜ ِِٜ‫َِٓ اإلِْطَإَ ََا ي‬ًَٜ‫ُٔع‬ًٜٜ‫ك‬ٞ‫َِٓ بٔاي‬ًَٜ‫ع‬


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.‖ 127
Dalam menafsirkan kelima ayat di atas, Ibn Katsir menyoroti
pentingnya ilmu bagi manusia. Ibn Katsir menulis:

ٕ‫سََ٘ تعاىل أ‬ٜ‫إٔ َٔ ن‬ٚ ،١‫ خًل اإلْطإ َٔ عًك‬٤‫ ابتدا‬٢ً‫٘ ع‬ٝ‫ٗا ايتٓب‬ٝ‫ؾ‬ٚ

ٛ‫ اَتاش ب٘ أب‬ٟ‫ ايكدز اير‬ٖٛٚ ،ًِ‫نسَ٘ بايع‬ٚ ٘‫ ؾػسؾ‬،ًِ‫ع‬ٜ ‫ِ اإلْطإ َا مل‬١ًَ‫ع‬

١‫ه‬٥‫ املال‬٢ً‫ آدّ ع‬١ٜ‫ايرب‬


“Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan bahwasanya manusia
diciptakan dari segumpal darah. Dan di antara bentuk anugerah Allah
ta‟ala adalah mengajarkan manusia apa yang semula tidak diketahuinya.
Maka kemuliaan dan keagungan manusia terletak pada ilmu. Dan inilah
kemampuan yang membuat bapak manusia, Adam lebih istimewa
daripada malaikat.” 128
Imam Ibn Katsir, dalam penafsirannya di atas, mengingatkan
kepada kita bahwa dari sejak awal penciptaan manusia, status kemuliaan
manusia terletak pada ilmunya. Hal tersebutlah yang menjadi penjelas
atas pertanyaan malaikat yang sempat menyangsikan keberadaan
manusia di bumi untuk dijadikan khalîfah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hal tersebut jugalah yang menjadi penyebab selanjutnya kenapa malaikat

127
R.H.A. Soenarjo, et al., Al Qur’an dan Terjemahnya, Saudi Arabia: Kementrian
Agama, Wakaf, Da’wah dan Bimbingan Islam, t.th., hlm. 1079. Untuk selanjutnya kutipan
terjemahan cukup disebutkan al-Qur`an surat dan ayatnya.
128
Abu al-Fida` Isma'il ibn Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azîm, Kairo: Dar al-Hadits,
1423 H/2003 M, hlm. 647-648.

82 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
diintsruksikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk sujud kepada Adam
selaku bapak manusia. Semua itu disebabkan oleh ilmu.129
Pendek kata, Al-Qur‘an sangat mengapresiasi terhadap orang-
orang yang berilmu. Dalam surat 58:11 Allah berfirman, “Allah akan
mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang
berilmu beberapa derajat.” Orang-orang berilmu sangat dipandang positif
oleh Al-Qur‘an dengan diumpamakan sebagai orang-orang yang melek
di antara orang-orang buta. Surat 6:50 menyatakan “Apakah sama orang
yang buta dan orang yang melek? Apakah kamu tidak berfikir?” Tentu saja
tidak. Orang berilmu tentu tidak sama derajatnya dengan orang yang
tidak berilmu. Ayat lain menanyakan: “Apakah (kamu kira) sama orang-
orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak berilmu?”
Jawabannya tentu tidak.
Selain Al-Qur‘an, hadist-hadist Nabi juga menekankan, bahkan
mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
menyatakan bahwa ―Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban uang
dipikulkan kepada pundak setiap individu umat Islam, baik laki-laki
maupun perempuan.‖ Ini tentu saja merupakan suatu dorongan yang
sangat kuat, karena suatu kewajiban tentunya harus dilaksanakan dan
berdosa hukumnya jika tidak dikerjakan.
Kewajiban menuntut ilmu bagi setiap Muslim dan Muslimat ini
ternyata berlaku sepanjang hayatnya. Nabi bersabda, ―Tuntutlah ilmu
dari buaian (mahdi) hingga liang lahat (lahdi).‖ Jadi islam mengiginkan
pendidikan seumur hidup. Selain ketidak-terbatasan waktu, kewajiban
menuntut ilmu juga tidak terbatas dari ruang sudut, sehingga ada
ungkapan ―tuntutlah ilmu, sekalipun di Negeri Cina.‖ Hal ini
menunjukkan visi Islam yang yang luas dan progresif tentang ilmu dan
menyisaratkan untuk menuntut ilmu ke mana saja di dunia ini. Dengan
kata lain menuntut ilmu tidak terbatas oleh ruang maupun waktu.
Kewajiban menuntut ilmu yang tidak terbatas oleh ruang dan
waktu ini sangat logis, mengingat ilmu Allah itu begitu luas dan begitu
dalam. Al-Qur‘an mengatakan, “Katakanlah sekiranya samudra itu tinta
untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, pastilah ia habis sebelum habis

129
Dialog seputar pengukuhan Adam sebagai khalîfah di bumi dapat dilihat di
antaranya dalam al-Qur`an surat al-Baqarah [2] : 30-34.

83 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
kalimat-kalimat itu, sekalipun kami bawakan tinta sebanyak itu lagi sebagai
tambahan.” (QS. Al-Kahfi: 109)
Selain sebuah kewajiban, orang yang giat menuntut ilmu juga
dijanjikan surga oleh Allah, dan umat islam yang memiliki kualitas iman
yang tinggi memperhatikan janji tersebut denga serius. Nabi bersabda
―Barang siapa giat menuntut ilmu, maka dimudahkan Allah jalannya
menuju surga.‖
Selain itu, dorongan keagamaan untuk menuntut ilmu ini adalah
keinginan mereka untuk mengerti alam sebagai ayat Allah, dengan apa
manusia yang beriman akan mengenal Allah dengan lebih baik lagi.
Berbeda dengan kebanyakan ilmu modern yang mengkaji alam sebagai
realitas independen, Para ilmuan Muslim selalu menganggap alam ini
sebagai ayat-ayat Allah, bukan realitas independen. Dengan demikian
meneliti alam dapat menambah (iman) dan kecintaan kita kepada Sang
Pencipta. 130
Begitu gencarnya ayat-ayat dan hadist-hadist tentang keutamaan
ilmu didengungkan, sehingga belajar atau mencari ilmu pengetahuan
diyakini sebagai kewajiaban (faridhah) atas setiap individu Muslim,
dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak melakukannya. Pada
tataran praktis, doktrin ini membawa dampak yang sangat positif. Ia
mendorong dan mempercepat terciptanya masyarakat ilmu (knowledge
society) dan budaya ilmu (knowledge culture). Dua perkara ini yang
bertanggung jawab melahirkan peradaban Islam. Penting diingat, bahwa
penekanan yang diberikan Islam terhadap pentingnya ilmu dan
perhatian yang serius terhadap pencarian berbagai cabang ilmu adalah
dalam rangka usaha meraih kebahagiaan sejati (‗di sini dan di sana‘) dan
bukan sekedar memenuhi kebutuhan sosial ekonomi (self aggrandizement
atau personal gain). 131
3. Apresiasi Masyarakat
Tumbuh dan berkembang budaya ilmu dan tradisi ilmiah pada
masa keemasan Islam tidak luput dari kondisi masyarakat Islam saat itu,
yang meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis (Arab, Paris, Koptik,

130
Ibid
131
Syamsudin Arief, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, Jakarta : Gema Insani,
2008.

84 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Berber, Turki dan lain-lain), dengan latar belakang bahasa dan budaya
masing-masing, namun berhasil diikat oleh tali aqidah Islam. Dengan
demikian, terwujudlah stabilitas, keamanan dan persatuan (political unity,
stability, peace and order, because of faith and in spite of ethnic as well as cultural
diversity). Para pencari ilmu maupun cendikiawan dengan leluasa dan
aman berpergian dan merantau ke pusat-pusat pendidikan dan
keilmuan, dari Sevile ke Baghdad, dari Samarkand ke Madinah, dari
Isfahan ke Kairo, atau dari Yaman ke Damaskus. Ini belum termasuk
mereka yang menjelajahi seluruh pelosok dunia Islam semisal Ibn Jubayr
(w.1217 M) dan Ibn Batutah (w.1377 M)
Sejarah mencatat betapa ilmuan-ilmuan („ulama) itu sangat
dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat, baik dari kelas bawah,
menengah dan atas. Kehadiran seorang ilmuan („ulama) selalu
membangkitkan gairah masyarakat untuk menemui dan mendegarkan
pidato-pidatonya. Sebagai contoh, berkenaan dengan penghargaan yang
diterima oleh al-Fakhr al-Din al-Razi, seorang teologi/filosof sunni
terbesar setelah al-Ghazali, beliau mendapatkan gelar syaikh al-Islam,
ketika kedatangannya di Heart, seluruh penduduk kota menyambut Sang
Imam layaknya menyambut suatu hari raya.
Selain penghormatan dan penghargaan yang besar terhadap para
ilmuan, apresiasi yang tinggi juga diberikan oleh masyarakat, khususnya
para pengusa saat itu sendiri. Misalnya, Raja Ja‘far yang ketika itu ia
berumur (17 tahun). Meskipun masih muda ia telah memiliki kearifan
orang dewasa, telah memperoleh pengetahuan yang luas, dermawan dan
bijaksana. Abu Dulaf Mis‘ar al-Khajraji menggambarkannya sebgai
―filosof agung‖ (rajul faylasuf samih karim).
Selain terhadap ilmuan dan ilmu itu sendiri, apresiasi pengusa
terhadap ilmu juga bisa dilihat dari harga yang diberikan terhadap karya-
karya ilmiah terkemuka. Dikatakan bahwa al-Aziz (975-996) membeli
buku sejarah at-Thabari dengan harga seratus dinar, walaupun sudah ada
lebih dari dua puluh salinan dari karya tersebut, termasuk satu yang
bertanda tangan (Thabari) sendiri. Karya Ibn Sina, al-Shyifa‟ dibeli oleh
Muhammad Tugluq, Sultan Delhi, seharga 200.000 mitsqal emas, dan
banyak lagi dari karya-karya ilmuan lainnya yang di beli dengan harga
yang tinggi.

85 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Dengan contoh-contoh di atas diharapkan kita mengerti betapa
besar apresiasi masyarakat (khususnya para penguasa) Muslim pada saat
itu baik terhadap ilmuannya, ilmuannya sendiri dan juga karya-karya
ilmiah agung mereka.132
4. Patronase (dukungan) Penguasa
Ketertarikan sejati para pengusa dan juga orang-orang kaya
terhadap ilmu, telah mendorong mereka untuk memberikan dan
bantuan finansial, serta perlindungan bagi perkembangan ilmu
pengetahuan, dan ini semua yang Prof. Dr. Mulyadhi maksud dengan
patronase.
Patronase pengusa/orang kaya tadi bisa dikategorisasikan ke
dalam beberapa bentuk, antara lain: (1) undangan para pengusa kepada
para ilmuan untuk tinggal di istana, (2) pembangunan sarana pendidikan
seperti akademi, observatorium, perpustakaan, rumah sakit, termasuk
pendirian madrasah (college), (3) pembiayaan/dukungan finansial untuk
melakukan riset ilmiah, (4) penyelenggaraan seminar oleh para pengusa
atau sarjana, dan terkhir (5) pemberian beasiswa kepada mereka yang
dipandang potensial dalam ilmu pengetahuan.
Bentuk patronase yang pertama, undangan kepada para ilmuan.
Apresiasi yang tinggi dari pihak penguasa/orang kaya terhadap ilmu,
telah mendorong mereka, seperti telah didiskusikan untuk memberikan
penghargaan yang tinggi terhadap para ilmuan (ingat kasus Imam al-
Razi). Penghargaan ini pada gilirannya telah mengundang para ilmuan ke
istana mereka. Mereka bangga kalau di istana berkumpul para ilmuan,
ulama‘, sastrawan, dan sebagainya. Karena hal itu telah memberi mereka
citra yang baik di mata kawan maupun lawan. Hampir semua filosof
besar muslim dari sejak al-Kindi (w. 866) sampai dengan Ibn Rusyd dan
Nashir al-Din Thusi (w. 1274) hidup dan berkembang di lingkungan
istana. Maka tidak heran seperti al-Kindi selama hidupnya menghasilkan
sebanyak 270 karya dalam berbagai bidang (filsafat, logika, matematika,
fisika, music, ekonomi, geometri, kedokteran, astrologi, dan lain-lain).
Apalagi menurut kabar, ia diberikan sebuah perpustakaan yang lengkap
atas nama Al-Kindiyah. Ibn Sina (w. 1037) yang pada usia 18 tahun,
telah di angkat menjadi dokter istana oleh penguasa Samaniyyah, Nuh b.

132
Ibid

86 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Manshur. Seperti telah disinggung di atas perlakuan yang sama juga
telah di terima oleh Ibn Rusyd, ia tidak diangkat sebagai Perdana Mentri,
akan tetapi ia diangkat sang khalifah sebagai hakim agung di Kordoba.
Petronase yang dilakukan oleh Hulagu terhadap sarana dan program
ilmiah telah menjadikan Maraghah sebagai pusat penelitian astronomi
yang besar, yang kemudian memicu perkembangan astronomi di Barat.
Kedua. Bentuk patronase yang lain setelah mengundang para
ilmuan ke istana adalah pembangunan sarana ilmiah yang di tanggung
pembiayaannya baik secara kenegaraan maupun pribadi pengusanya
sendiri. Seperti, pembangunan subuah akademi yang dikenal dengan bayt
al-Hikmah (rumah kearifan) oleh al-Ma‘mun. Akademi ini sangat
berguna bagi penyelenggaraan ilmiah seperti menterjemahkan karya-
karya asing ke dalam bahasa Arab, memberi komentar atau meringkas
karya-karya ilmiah, diskusi-diskusi ilmiah yang secara rutin dilakukan di
sana, sebagai perpustakaan di mana ribuan atau bahkan ratusan ribu jilid
buku langka dan berharga disimpan dan dikaji dengan seksama. Selain
akademi para penguasa juga ada yang secara khusus membuat
perpustakaan Negara dengan biaya besar, seperti yang dibangun oleh
Adhud Al-Dawlah di Syiraz, yang merupakan komplek bangunan yang
dikelilingi oleh taman, danau dan aliran air, yang memiliki ruang
sebanyak 360 buah. Sara perpustakaan ini sangat mendorong kegiatan-
kegiatan ilmiyah, karena selain sebagai tempat penyimpanan buku-
buku, ia juga sebagai tempat yang nyaman untuk melakukan penelitian,
pengkajian, dan penulisan. Sarana pendidikan lain yang didirikan oleh
para pengusa adalah madrasah (college), misalnya madrasah Nizhamiyyah
yang didirikan oleh Nizham al-Mulk di Baghdad. Sarana pendidikan lain
yang tidak begitu formal adalah rumah sakit-rumah sakit, seperti yang
dibangun oleh khalifah Harun al-Rasyid, ayah al-Ma‘mun.
Patronase berikutnya dapat berupa bantuan dana untuk
kegiatan-kegiatan tertentu, seperti untuk mendapatkan manuskrip-
manuskrip ilmiah dan fiosof dari negeri asing-Yunani dan Persia.
Apa yang dipaparkan di atas merupakan faktor-faktor nyata yang
mempengaruhi perkembangan dan kemajuan sains dalam peradaban
Islam. Disebut demikian berdasarkan fakta-fakta historis yang tertulis
dalam literatur klasik. Oleh karena itu, adalah mitos belaka jika

87 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
dikatakan bahwa sains di dunia Islam dahulu berkembang dan maju
karena faham sekularisme atau buah gerakan sekularisasi. 133

133
Syamsudin Arief, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, Jakarta : Gema Insani,
2008.

88 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB VIII
PRESTASI ILMUWAN MUSLIM

A. Tahapan Lahirnya Ilmu Dalam Islam


Dalam hal ini, Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan secara
periodik tahapan-tahapan kelahiran ilmu dalam Islam, yang bisa menjadi
penjelas tentang keberadaan al-„ulûm al-syar‟iyyah ini. Menurut Hamid,
kelahiran ilmu dalam Islam dibagi ke dalam empat periode, yang akan
dijelaskan pada uraian berikut ini:
Pertama, turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam.
Turunnya wahyu pada periode Makkah merupakan pembentukan
struktur konsep dunia dan akhirat sekaligus yang merupakan sebuah
struktur konsep tentang dunia (world structure) yang baru. Seperti konsep-
konsep tentang Tuhan dan keimanan kepada-Nya, hari kebangkitan,
penciptaan, akhirat, surga dan neraka, hari pembalasan, konsep 'ilm,
nubuwwah, dîn, 'ibâdah, dan lain-lain. Sementara turunnya wahyu pada
periode Madinah merupakan konfigurasi struktur ilmu pengetahuan
yang berperan penting dalam menghasilkan kerangka konsep keilmuan
(scientific conceptual scheme). Itu ditandakan dengan tema-tema umum yang
merupakan penyempurnaan ritual peribadatan, rukun Islam, dan sistem
hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Periode kedua adalah lahirnya kesadaran bahwa wahyu yang
turun tersebut mengandung struktur ilmu pengetahuan. Seperti struktur
konsep tentang kehidupan, struktur konsep tentang dunia, tentang ilmu
pengetahuan, tentang etika dan tentang manusia, yang kesemuanya itu
sangat potensial bagi timbulnya kegiatan keilmuan. Istilah-istilah
konseptual yang terdapat dalam wahyu seperti 'ilm, îmân, ushûl, kalâm,
nazar, wujûd, tafsîr, ta`wîl, fiqh, khalq, halâl, harâm, irâdah, dan lain-lain
mulai dipahami secara intens. Konsep-konsep ini telah memadai untuk
dianggap sebagai kerangka awal konsep keilmuan, yang juga berarti
lahirnya elemen-elemen epistemologis yang mendasar.Atas dasar
framework ini, Hamid menegaskan, maka dapat diklaim bahwa embrio

89 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ilmu (sains) dan pengetahuan ilmiah dalam Islam adalah struktur
keilmuan dalam worldview Islam yang terdapat dalam Al-Qur`an. Hal ini
bertentangan secara diametris dengan klaim para penulis sejarah Islam
kawakan dari Barat, seperti De Boer, Eugene Myers, Alfrend
Gullimaune, O'Leary, dan banyak lagi yang menganggap sains dalam
Islam tidak ada asal-usulnya. Dari kalangan penulis modern mereka
adalah Radhakrishnan, Majid Fakhry, W. Montgomery Watt, dan lain-
lain.
Periode ketiga adalah lahirnya tradisi keilmuan dalam Islam yang
ditunjukkan dengan adanya komunitas ilmuwan. Bukti adanya
masyarakat ilmuwan yang menandai permulaan tradisi keilmuan dalam
Islam adalah berdirinya kelompok belajar atau sekolah Ashhâb al-Shuffah
di Madinah. Di sini kandungan wahyu dan hadits-hadits Nabi dikaji
dalam kegiatan belajar-mengajar yang efektif, yang tentunya tidak dapat
disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia yang melahirkan
tradisi intelektual Yunani. Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya para
pakar hadits seperti Abu Hurairah, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-
Farisi, 'Abdullah ibn Mas'ud, yang kemudian diikuti oleh generasi
berikutnya seperti Qadi Syuraih (w. 699), Muhammad ibn al-Hanafiyyah
(w. 700), Ma'bad al-Juhani (w. 703), 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz (w. 720),
Wahb ibn Munabbih (w. 719/723), Hasan al-Bashri (w. 728), Ghailan
al-Dimasyqi (w. 740), Ja'far al-Shadiq (w. 765), Abu Hanifah (w. 767),
Malik ibn Anas (w. 796), Abu Yusuf (w. 799), al-Syafi'i (w. 819), dan
lain-lain.Menurut Hamid, framework yang dipakai pada awal lahirnya
tradisi keilmuan ini sudah tentu adalah kerangka konsep keilmuan Islam
(Islamic scientific conceptual scheme). Indikasi adanya kerangka konseptual ini
adalah usaha-usaha para ilmuwan untuk menemukan beberapa istilah
teknis keilmuan yang rumit dan canggih. Istilah-istilah yang diderivasi
dari kosakata Al-Qur`an dan hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
termasuk di antaranya: 'ilm, fiqh, ushûl, ijtihâd, ijmâ', qiyâs, 'aql, idrâk, wahm,
tadabbur, tafakkur, hikmah, yaqîn, wahy, tafsîr, ta`wîl, 'âlam, kalâm, nutq,
zann, haqq, bâtil, haqîqah, 'adam, wujûd, sabab, khalq, khulq, dahr, sarmad,
zamân, azal, abad, fitrah, kasb, khair, ikhtiyâr, syarr, halâl, harâm, wâjib,
mumkin, irâdah, dan lain sebagainya, menunjukkan adanya kerangka
konsep keilmuan.

90 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Periode keempat adalah lahirnya disiplin ilmu-ilmu Islam. Dalam
hal ini, Hamid dengan mengutip Alparslan, mengemukakan bahwa
kelahiran disiplin ilmu-ilmu Islam tersebut melalui tiga tahap, yaitu: (1)
Tahap problematik (problematic stage) yaitu tahap di mana berbagai
problem subjek kajian dipelajari secara acak dan berserakan tanpa
pembatasan pada bidang-bidang kajian tertentu. (2) Tahap disipliner
(disciplinary stage) yaitu tahap di mana masyarakat yang telah memiliki
tradisi ilmiah bersepakat untuk membicarakan materi dan metode
pembahasan sesuai dengan bidang masing-masing. (3) Tahap penamaan
(naming stage), pada tahap ini bidang yang telah memiliki materi dan
metode khusus itu kemudian diberi nama tertentu.134
B. Prestasi Ilmuwan Muslim
Salah satu prestasi besar dalam dunia ilmiah Islam dapat ditemui
dalam bidang matematika. Kaum Muslim pada awalnya belajar
matematika dari orang-orang India. Mereka mengenal angka satu sampai
sembilan dari India, yang di Barat kemudian dikenal dengan Arabic
numbers. Akan tetapi umat Islam mencatatkan prestasi tersendiri dalam
bidang ini dengan penemuan angka nol oleh al-Khawarizmi (w. 833 M)
yang disebutnya shifr. Dari angka nol ini maka berkembanglah ilmu
perhitungan yang kemudian menjadi dasar pengembangan teknologi
komputer. Al-Khawarizmi juga merupakan perumus utama "aljabar",
sebuah cabang matematika yang diambil langsung dari judul bukunya, al-
Jabr wal-Muqâbalah. Nama al-Khawarizmi juga diabadikan dalam nama
"logaritma" yang diambil dari kata Inggris algorithm dan merupakan
transliterasi dari al-Khawarizmi.135
Dalam bidang kedokteran prestasi umat Islam terlihat dari
konstribusi salah seorang ilmuwannya, Ibn Sina (Avicenna) melalui
sebuah karya medisnya, al-Qânûn fit-Thibb (The Canon). Karya tersebut
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada kira-kira abad ke-12,

134
Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview sebagai Asas Epistemologi Islam
dalamMajalah Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia, Thn. II No. 5, April-Juni 2005, hlm.
9-18.
135
Mulyadhi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam,hlm. 93 mengutip dari karya
Charles E. Butterwoth (ed.), The Introduction of Arabic Philosophy into Europe, Leiden: E.S.
Brill, 1994dan Seyyed Houssen Nasr, Islamic Sciences: An Illustrated Study, London: World
of Islam Festival Publishing Co. Ltd, 1976, hlm. 178.

91 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
dan telah menjadi textbook utama selama 600-700 tahun di universitas-
universitas terkenal Eropa seperti Oxford, Paris, dan Budapest. Bahkan
sampai hari ini karya tersebut masih dipelajari secara intensif di Iran,
Pakistan, dan Jerman. Karya ini bukan hanya membahas persoalan-
persoalan medis, melainkan juga farmasi, farmakologi, dan zoology; di
samping ilmu bedah dan saraf.136
Dalam bidang fisika, terdapat dua orang tokoh yang menonjol,
yaitu al-Biruni (w. 1038 M) dan Ibn Haitsam (w. 1041 M). Al-Biruni
telah mendahului Newton dalam menemukan hukum gravitasi. Dialah
yang pertama kali mengkritik pandangan Aristoteles yang menyatakan
bahwa pusat gravitasi bersifat ganda: inti bumi untuk unsur tanah dan
air, dan langit untuk unsur udara dan air. Menurut al-Biruni, pusat
gravitasi itu satu, yaitu pusat bumi. Adapun yang menyebabkan satu
unsur melayang dan yang lain tenggelam adalah berat jenis yang
berlainan. Dengan eksperimen-eksperimen yang intensif, al-Biruni juga
telah berhasil menentukan grafitasi spesifik (specific gravity) bagi lebih dari
dua puluh unsur kimia. Selain itu juga berhasil mengukur keliling bumi
secara matematis dengan menggunakan rumus-rumus trigonometri.
Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa al-Biruni, pada awal abad ke-11,
telah memahami bahwa bumi ini bulat, mendahului Vasco Da Gama
atau Columbus.137
Sementara Ibn Haitsam yang di Barat dikenal dengan Alhazen
(dari kata al-Hasan, nama depannya) telah menulis sebuah karya besar di
bidang optik sebanyak tujuh jilid dengan judul al-Manâzhir. Karyanya
tersebut dikategorikan sebagai karya fisika karena pada waktu itu optik
merupakan cabang fisika. Dalam karyanya tersebut, Ibn Haitsam
berhasil memastikan bahwa seseorang bisa melihat disebabkan objek
yang memantulkan cahaya pada kornea mata. Sebuah kesimpulan yang
didukung fakta ilmiah dan berhasil memecah kebuntuan perdebatan
tentang teori penglihatan waktu itu. Tokoh-tokoh Barat yang datang
kemudian terpengaruhi oleh teori Ibn Haitsam ini, mereka di antaranya
Roger Bacon, Vitello, Peckham, Johannes Kepler, dan Newton. Ibn

136
Ibid, hlm. 93-94 mengutip dari karya Goodman, Avicenna, London: Routledge,
1992, hlm. 33-34.
137
Ibid, hlm. 94 mengutip dari karya Hakim Said, A. Zahid, al-Biruni: His Times, Life,
and Works, Karachi: Hamdard Foundation Pakistan, 1981, hlm. 145-169.

92 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Haitsam juga telah meneliti spektrum cahaya, meneliti terjadinya pelangi
melalui teori refleksi dan refraksi, menciptakan alat-alat optik seperti
gelas cembung, cekung dan parabolik, serta lensa-lensa kacamata,
teleskop dan "camera obscura", gambar terbalik dalam lensa kamera.138
Prestasi lainnya terlihat dalam bidang astronomi. Islam telah
melahirkan banyak astronom besar, seperti al-Battani, al-Farghani, al-
Biruni, Nashiruddin at-Thusi, Quthbuddin Syirazi, al-Majrithi dan Ibn
Syathir. Yang khas dari astronomi Islam adalah kecenderungannya yang
non-Ptolemius dengan mengkritik teori geosentris. Bahkan menurut
Marshall Hodgson, telah terdapat dugaan bahwa bumi mengelilingi
matahari, hanya belum bisa didukung oleh observasi ilmiah.139
Inilah fakta yang diakui oleh para intelektual sebagai sebuah ciri
khas peradaban Islam. Seperti dikatakan oleh Wan Mohd Nor Wan
Daud bahwa para intelektual telah mendapati bahawa, salah satu
daripada watak khas peradaban Islam ialah perhatiannya yang serius
terhadap pencarian pelbagai cabang ilmu.140 Sebagaimana telah
ditegaskannya sebelumnya, watak khas peradaban Islam ini terbentuk
oleh budaya ilmu Islam yang universal. Di mana umat Islam, dengan
berpedoman pada ajaran-ajaran yang diyakininya, bersikap terbuka
terhadap khazanah keilmuan yang berasal dari peradaban lain, dengan
tetap kritis untuk selalu menyelaraskannya dengan nilai dan tuntutan
Islam.141

138
Ibid, hlm. 95-96 mengutip dari karya Prof. Sabra, The Optics of Ibn Haytham:
Books I-III on Direct Vision, London: The Warburgh Institute University of London, 1989,
hlm. 13.
139
Ibid, hlm. 96 mengutip dari karya Nasr, Islamic Science, hlm. 140 dan Marshall
Hodgson, The Venture of Islam, jil. 2, Chicago: The University of Chicago Press, 2002, hlm.
162.
140
Wan Mohd. Nor Wan Daud, Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan
Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Pemikiran Bangsa, Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006, hlm. 30. Wan Daud merujukkannya pada tulisan A.L.
Tibawi, Philosophy of Muslim Education dalam Islamic Quarterly, Jilid 10, No. 2, hlm. 82, Juli
1957; Gustave Von Grunebaum, 1962, Medieval Islam: A Vital Study of Islam at its Zenith,
Edisi ke-2, Chicago: Phoenix Books/Univ. of Chicago Press, hlm. 234-250; dan Franz
Rosenthal, 1970, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam,
Leiden: E.J. Brill.
141
Nasrudin Syarief, Konsep Ilmu,Ibid

93 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB IX
ILMU KEDOKTERAN ISLAM

A. Pengertian Ilmu Kedokteran Islam

Menurut Ibn Sina, bahwa ilmu kedokteran adalah:

١‫ٍ عٔ ايصش‬ٚ‫ص‬ٜٚ ‫صح‬ٜ ‫ َا‬١ٗ‫اٍ بدٕ اإلْطإ َٔ د‬ٛ‫عسف ب٘ أس‬ٜ ًِ‫ع‬

.١‫شؿظ ايصش‬ٝ‫ي‬
“Ilmu untuk mengetahuikeadaan badan manusia dari segi yang
mendatangkan atau yang menghilangkan kesehatan agar terpelihara kesehatan yang
sempurna.” 142

Adapun menurut Ja‘far Khadem Yamani, bahwa pada dasarnya


ilmu kedokteran sifatnya umum dan berlaku secara universal. Akan
tetapi, di dalamnya ada yang Islami, yaitu yang sejalan dengan syara‟ atau
tidak berlawanan dengannya. Ada pula yang tidak Islami, yaitu yang
tidak sejalan dengan syara‘ atau berlawanan dengannya. 143

Menurut Professor Dr. Omar Hasan Kasule, ilmu kedokteran


Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep,
nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan
Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Prosedur medis atau alat pengobatan yang

142
. Lihat Ibn Sina, al-Qaanun fi al-Thibb, al-Juz al-Awwal, Beirut: Dar al-Fikr, t.th,
hlm. 3.
143
- Ja’far Khadem Yamani, Kedokteran Islam Sejarah & Perkembangannya,
(terj) Tim Dokter Idavi, dari judul asli Mukhtasar Tarikh Tharikat al-Thibb (Bandung: Dzikra,
2007), cet. IV, hlm. 43-46.

94 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
digunakan tidak spesifik pada tempat atau waktu tertentu. Ilmu
kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan
mengizinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode
investigasi dan pengobatan penyakit. Definisi tersebut memerlukan
perubahan dasar dari sistem pengobatan. Dengan demikian, ilmu
kedokteran Islam merupakan hasil sebuah kritik Islami dan reformulasi
paradigma dasar, metodologi penelitian, pembelajaran, dan pelatihan
ilmu kedokteran. Proses perubahan konseptual ini juga memerlukan
Islamisasi ilmu kedokteran, yang mencakup hal-hal berikut:

Objektivitas (Istiqamah)
Ketidak berpihakkan (no hawa & dzann)
Kebenaran (haqq)
Memandang alam semesta dari sudut pandang holistik, harmoni
dan koordinasi (tauhid)
Pencarian hubungan sebab akibat (sunnah Allah fi al kaun al insan)
Kemanfaatan (ilmu nafi)
Mengejar Keunggulan (ihsan).

Hasil akhir dari proses Islamisasi tidak akan menjadi system


pengobatan, perawatan, atau prosedur bagi umat Muslim saja, tetapi
juga bagi seluruh umat manusia, karena Islam merupakan sebuah tata
nilai yang universal dan objektif. Islamisasi bukan berarti ilmu
pengobatan keagamaan, kedaerahan, atau yang lebih sempit tetapi
membuatnya luar biasa bagi seluruh umat manusia. 144

144
- Professor Dr. Omar Hasan Kasule,Konsep Ilmu Kedokteran Islam, Makalah
Diperesentasikan dalam Seminar di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), pada
Bulan Januari 2009

95 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
B. Prinsip-Prinsip Kedokteran Islam

Ilmu kedokteran Islami merupakan ilmu pengobatan yang


berasaskan Islam dengan prinsip-prinsip pengobatan yang Islami. Di
antara prinsip-prinsip terebut, antara lain:

1. Berbaik-baik (ihsan) terhadap pasien, dan tidak melakukan hal-hal


yang bertentangan dengan Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi-Nya.
2. Tidak sekali-kali menggunakan obat-obatan yang haram atau
bercampur bahan yang haram, seperti arak, opium, delfaa, hasyisy
dan darah sebagai obat, atau mencampur obat dengan bahan yang
haram seperti khamar dan opium. Sebagaimana yang banyak
dilakukan oleh ahli farmasi bangsa Eropa dengan menggunakan
pepsin babi, demikian juga sebagian obat-obatan ramuan China
yang mengandung darah, sumsum babi, dan serbuk tulang mayat
manusia. Hal tersebut jelas keharamannya, atas dasar firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:

ُ‫نبَس‬ٞ ٜ‫ثِ َُُُُٗا أ‬٢‫َإ‬ٚ ٢‫ََٓاؾٔعُ ئًَٓٓاع‬َٚ ْ‫نبٔري‬ٜ ِِْ‫ث‬٢‫َُا إ‬٢ٗٝٔ‫ٌِ ؾ‬ٝ‫ ق‬٢‫طٔس‬َُِٝٞ‫َاي‬ٚ ٢‫يدَُِس‬ٞ‫ ا‬٢ٔ‫ َع‬ٜ‫َْو‬ٛٝ‫ي‬ٜ‫طِأ‬َٜ

‫َُا‬٢ٗ‫ؿٔع‬ٞ َْ ِٔ َٔ
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:
"Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. al-
Baqarah: 219)

ٝ١ٜ‫دٓٔك‬
َ ُُِٓ ٞ‫َاي‬ٚ ٔ٘ٔ‫ٓ٘ٔ ب‬ًٜ‫ اي‬٢‫ِس‬ٝ‫ٌَٖٔٓ ٔي َػ‬ٝ‫ََا أ‬َٚ ٢‫س‬ٜ٢‫دِٓص‬
ٔ ٞ‫يشُِِ اي‬َٜٚ َُّٓ‫َايد‬ٚ ٝ١َ‫ت‬َُِٝ ٞ‫ُِ اي‬ٝ‫ِه‬ًَٜٝ‫ َتِ ع‬٢‫سُ ٓس‬

٢ًَٜ‫ََا ذُبٔحَ ع‬َٚ ُِِ‫ت‬ِٜٝ‫ال ََا ذَٓن‬٢‫طَبُعُ إ‬


ٓ ‫ٌَ اي‬ٜ‫ن‬ٜ‫ََا أ‬َٚ ٝ١َ‫ش‬َٝٔٛٓ‫َاي‬ٚ ٝ١َٜٓٔ‫ ُُتَسَد‬ٞ‫َاي‬ٚ ٝ٠َ‫ذ‬ٛٝ‫ِق‬َُٛ ٞ‫َاي‬ٚ

96 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
ِٔ َٔ ‫ا‬ُٚ‫س‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫َٔ ن‬ٜٔ‫ٓر‬ٜ‫ٔظَ اي‬٦َٜ ََِّٛٝٞ‫ِِ ٔؾطِلْ اي‬ٝ‫ ذَئه‬٢ّ‫ا بٔاألشِال‬ُُٛٔ‫كط‬ٞ َ‫طت‬
ِ ‫ِٕ َت‬ٜ‫َأ‬ٚ ٔ‫صب‬
ُ ُٓ‫اي‬

ِِ ٝ‫ِه‬ًَٜٝ‫تَُِ ُِتُ ع‬ٜ‫َأ‬ٚ ِِٝ‫َٓه‬ٜٔ‫ِِ د‬ٝ‫ه‬ٜ‫ًتُ ي‬َُٞٞ‫ن‬ٜ‫َِّ أ‬َٛٝ‫ي‬ٞ‫ ا‬٢َِٕٛ‫َا ِخػ‬ٚ ُِِِٖٛ‫ػ‬
َ ِ‫ال َتد‬ٜ‫ِِ ؾ‬ٝ‫ٓٔه‬ٜٔ‫د‬

ٕ‫ِسَ ََُتذَأْـ‬ٝ‫غ‬ٜ ٕ١َ‫ َدَُِص‬ٞٔ‫سَٓ ؾ‬ٝٛ‫ض‬


ِ ‫ ا‬٢َُٔ ٜ‫ّٓا ؾ‬ٜٔ‫ُِ اإلضِالَّ د‬ٝ‫ه‬ٜ‫تُ ي‬ٝٔ‫زَض‬َٚ ٞٔ‫ْٔعِ َُت‬

ِْٝٔ‫زْ زَس‬ٛٝ‫ؿ‬ٜ‫َٓ٘ غ‬ًٜ‫ َٕٓ اي‬٢‫إ‬ٜ‫ِ ؾ‬٣ ِ‫إلث‬


“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang
dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas,
kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu)
yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib
dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah
kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada
mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)
Di dalam hadist juga telah ditegaskan bahwa
kesembuhan suatu penyakit tidak akan tercapai dengan
mengkonsumsi obat-obatan yang haram. Rasulullh Shalallahu
„Alaihi wa Sallam bersabda:

٣ّ‫ سَسَا‬٢ٔ‫ ِِ ؾ‬ٝ‫َن‬٤‫ا‬ٜ‫ذعٌَِ غٔؿ‬


ِ َٜ ِِٜ‫هلل ي‬
ٜ ‫ٕٖ ا‬٢‫إ‬

97 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
―Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu pada
yang haram.‖ (HR. Ibn Hibban)

3. Tidak mencacatkan tubuh atau badan, kecuali dalam keadaan


darurat dan tidak ada pengobatan lain di saat itu, seperti
menggunakan kayy bakar ketika digigit ular di tengah sahara. Hal ini
sejalan dengan sabda Rasulullah yang artinya “Sesungguhnya obat itu
ada pada tiga perkara, yaitu minum madu, berbekam dan ber-kayy dengan
api, maka terlaranglah bagi ummatku ber-kayy dengan api itu.” (HR.
Bukhari).
4. Tidak berbau takhayyul, khurafat, dan bid‘ah. Islam tidak
mengajarkan berobat dengan wafaq, azimat yang berbau syirik
seperti yang diperaktekkan para kahin (dukun) atau dukun yang
berjubah atau menggunakan Islam.
5. Pengobatan harus dilakukan oleh dokter yang ahli dalam bidangnya.
Islam tidak membenarkan seseorang yang tidak mengkaji ilmu
kedikteran turun mengobati pasien, dan jika terjadi bahaya atau
sesuatu yang mencelakakan pasien, maka ia harus bertanggung
jawab sepenuhnya. Hal ini sejalan dengan sbda Rasulullah Shalallahu
'Alaihi wa Sallam:

)ٟ‫ ايبداز‬ٙ‫ا‬ٚ‫ (ز‬.١‫ غري أًٖ٘ ؾاْتظس ايطاع‬ٞ‫ضد األَس إي‬ٚ ‫إذا‬
“Jika suatu perkara diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah
kehancurannya.” (HR. Bukhari)
6. Dilakukan oleh seorang dokter yang berakhlak mulia, yaitu dokter
yang tidak memiliki sifat iri hati, ria, takabbur, merendahkan orang
lain, merasa tinggi hati, memeras pasien, serta tidak memiliki sifat
terpuji lainnya.

98 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
7. Dilakukan oleh seorang dokter yang berpakaian rapi, bersih dan
sebaiknya berpakaian putih. Hal ini sesuai dengan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:

.ِ‫ا ِٖذُس‬ٜ‫َاي ٓسُدِ َص ؾ‬ٚ .ِ‫ٓس‬٢ٜٗٛ ‫ؾ‬ٜ ٜ‫َاَبو‬ٝ‫َٔث‬ٚ


“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala)
tinggalkanlah.” (QS. Al-Mudatsir: 4-5)
8. Rumah sakit sebagai tempat pengobatan atau lembaga kedokteran
lainnya agar menarik perhatian pengunjung, dengan cara melakukan
penataan yang rapi dan bersih sehingga menjadi tempat penyiaran
nilai-nilai ajaran Islam.
9. Menjauhkan lembaga-lembaga dan istilah-istilah yang berasal dari
pemujaan dewa-dewa (jahiliah) ataupun penggunaan lambing
keagamaan dari orang Yahudi dan Nasrani145.

Dengan mengemukakan catatan tersebut, tampak jelas bahwa


kedokteran Islam memiliki prinsip yang jelas yang berakar dari wahyu
dan berbeda dengan prinsip kedokteran lainnya. Hal itu terlihat
perbedaan yang mendasar pada soal niat, motivasi dan sikap yang
didasarkan pada nilai-nilai Islam, yakni mengerjakan tugas dengan ikhlas
semata-mata karena Allah, bersikap rendah hati, menghormati pasien,
tidak menggunakan obat-obat yang dilarang agama, kecuali dalam
keadaan daruarat, mengutamakan kebersihan, keindahan, kerapian, dan
kenyamanan. Di samping memiliki persyaratan moral dan akhlak mulia,
seorang dokter Islam juga harus memiliki keahlian dalam menjalankan
tugas dan keahlianya itu dapat dipertanggungjaewabkan secara akademik

145
. Ja’far Khadem Yamani, Kedokteran Islam Sejarah & Perkembangannya, (terj)
Tim Dokter Idavi, dari judul asli Mukhtasar Tarikh Tharikat al-Thibb (Bandung:
Dzikra, 2007), cet. IV, hlm. 43-46.

99 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
atau secara ilmu kedokteran. Dengan demikian, kedokteran Islam
merupakan perpaduan antara kedokteran pada umumnya dengan nilai-
nilai Islam. 146

C. Krakteristik Ilmu Kedokteran Islam

Kedokteran Islam memiliki ciri-ciri khusus, jika dibandingkan


dengan kedokteran umum, sebagai berikut:

Pertama, ilmu kedokteran Islam menekankan pada aspek


pencegahan(preventif) dari pada pengobatan (kuratif). Dengan prinsip
ini, maka ilmu kedokteran Islam berupaya menumbuhkan kehidupan
yang sehat dengan menerapkan pola hidup sehat, seimbang dan
sederhana, menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang
memabukkan, tidak memforsir diri, olah raga, istirahat yang cukup dan
lainnay sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Prinsip ini sejalan dengan
sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yang mengatakan al-
Wiqayah ahammu min al-Maaddah. artinya, bahwa pemeliharaan lebih
penting dari pada pencegahan; dan sesuai pula dengan pesan Nabi
Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yang menyatakan: “jika di suatu
negri ada bencana wabah, maka hendaknya engkau jangan memasuki negri
tersebut, dan jika di suatu negri terjadi bencana wabah, sedang engkau berada di
negri tersebut, makasebaiknya engkau tidak keluar dari negri tersebut.”

Kedua, ilmu kedokteran Islam berbasis pada penelitian ilmiah


yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, sebagai mana yang
telah dilakukan oleh para ahli kedokteran Islam tersebut. Ilmu
kedokteran islam bukan ilmu kedokteran yang didasarkan pada khurafat,

146
. Abuddin Nata, Studi Islam Komrehensif, Jakarta: Kencana, 2011, cet 1, hlm
391-395.

100 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
bid‘ah, takhayul, sebagaimana yang diperaktekkan para kahin (dukun).
Ilmu kedokteran islam dapat pula menerima ilmu kedokteran amali
(praktek yang berdasarkan pengalaman turun-temurun) sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam secara pendapat para
ahli ilmu kedokteran yang berdasarkan penelitian ilmiah.

Ketiga, ilmu kedokteran Islam bersifat integrated dan holistis, yakni


ilmu kedokteran yang didasarkan pada pandangan, bahwa penyebab
terjadinya penyakit bukan hanya disebabkan karena hubungan yang
tidak baik dengan alam (makanan, minuman, tempat tinggal, pola hidup
dan lainnya yang tidak baik), melainkan juga dapat disebabkan karena
hubungan yang tidak baik dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dengan
sesama manusia. Dengan dasar ini, maka ilmu kedokteran Islam
mengupayakan penyembuhan penyakit melalui tiga macam hubungan
tersebut secara harmonis.

Keempat, ilmu kedokteran Islam menekankan pola hidup


sederhana dan seimbang, serta menerapkan pola konsumsi yang
berbasis pada vegetarian, yakni lebih banyak mengonsumsi buah-buahan
daripada makhluk bernyawa. Ilmu kedokteran Islam adalah ilmu yang
sesuai dengan fitrah manusia, yang pada dasarnya adalah sebagai
makhluk cendrung pada herbivore (pemakan tumbuh-tumbuhan) dari
pada karnivora (pemakan binatang). 147

147
. Abuddin Nata, Studi Islam Komrehensif, Jakarta: Kencana 2011, cet 1, hlm.
407-408.

101 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB X
ISLAMISASI ILMU DAN MASYARAKAT

A. Islamisasi Ilmu
Islamisasi ilmu yang dimaksud di sini adalah mengislamkan ilmu
pengetahuan Barat modern kontemporer, tidak termasuk turath Islami.
Ilmu ini (turath) tidak pernah terpisah dari Tuhan sebagai hakikat
sebenarnya dan sumber ilmu pengetahuan. Jadi ketika digunakan
ungkapan Islamisasi ilmu pengetahuan, yang dimaksud adalah ilmu
pengetahuan kontemporer, yang diproyeksikan melalui pandangan
hidup budaya dan peradaban barat. Menurut Al-Attas ada lima faktor
yang menjiwai budaya dan peradaban Barat: 1) Akal di andalkan untuk
membimbing kehidupan manusia; 2) Bersikap dualistik terhadap realitas
dan kebenaran; 3) Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan
pandangan hidup sekuler; 4) Membela doktrin humanism; 5)
Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur dominan dalam
fitrah dan eksistensi kemanusiaan.148
Ide islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari premis bahwa ilmu
pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai (value-free), tapi sarat nilai
(value laden). Ilmu pengetahuan yang tidak netral ini telah diinfus ke
dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya
berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu
pengetahuan modern harus diislamkan.149
Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi.
Selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak, karena terdapat
sejumlah persamaan dengan Islam. Oleh sebab itu, seseorang yang
mengislamkan ilmu, perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu
mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus
mampu memahami peradaban Barat.150

148
Ibid.
149
Wan Daud, The Educational Philosophy, hal. 291.
150
Ibid, hal. 313-314.

102 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Berbicara tentang Islamisasi tidak bisa lepas dari peran
pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, penggagas awal ide
Islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas mengemukakan idenya di depan
umum dalam konferensi dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam di
Mekkah tahun 1977 yang dihadiri oleh 313 sarjana dan pemikir Islam
dari seluruh pelosok dunia.151. Al Attas menyampaikan makalah berjudul
―Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of
Education (1978)‖. Pada tahun kemudian 1980 kembali mengeluarkan
tulisan berjudul ―The Concepts of Education in Islam Framework for an Islamic
Philosophy of Education. Melalui tulisan-tulisannya Al Attas dipandang
sebagai penegas konsep dan gagasan Islamisasi pendidikan, Islamisasi
Sains dan Islamisasi ilmu.
Penjelasan lebih gamblang tentang teori Islamisasi al-Attas telah
dikompilasikan dalam karyanya berjudul Islam and Secularism dan
dilanjutkan pada buku Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Singkatnya,
Islamisasi menurut al-Attas adalah pembebasan manusia dari unsur
magic, mitologi, animisme dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta dari
penguasaan sekular atas akal dan bahasanya. Ini berarti pembebasan akal
atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh
kecenderungan sekular, primordial dan mitologis152.
Gagasan Islamisasi tersebut, kemudian memancing reaksi
ilmuwan lainnya diantaranya Ismail Raji Al Faruqi dengan gagasan
Islamisasi Ilmu Pengetahuaannya yang dituangkan dalam karyanya yang
berjudul Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (1981). Ia
menjelaskan bahwa Islamisasi ilmu adalah Islamisasi adalah usaha untuk
mendefinisikan kembali. Menyusun ulang data, memikirkan kembali
argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai
kembali simpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan
dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini
memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam. 153
Dari uraian Al Attas dan Al-Faruqi tersebut, dapat disimpulkan
bahwa,

151
Rosnani, “Gagasan Islamisasi Ilmu”, hal. 30.
152
Al-Attas, Islam and Secularism, hal. 44.
153
Ismail Raji al Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, hlm 38-39.

103 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Islamisasi ilmu pengetahuan adalah program epistemologi
dalam rangka membangun peradaban Islam. Bukan masalah
―labelisasi‖ seperti Islamisasi teknologi, yang secara peyoratif
dipahami sebagai Islamisasi kapal terbang, peShalallahu „Alaihi
wa Sallam at radio, hand phone, internet dan sebagainya. Bukan
pula Islamisasi dalam arti konversi yang terdapat dalam
pengertian Kristenisasi154.
Sekularisasi yang ada dalam ilmu pengetahuan Barat telah
melahirkan dikotomi yang tidak mencakup keseluruhan fitrah
manusia. Sementara dalam Islam mengakui tidak hanya rasio
sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga intuitif. Dalam kajian
epistemologi Islam disebutkan bahwa sumber ilmu dalam Islam
selain rasio, juga pengindraan (empirik) dan intuisi melalui
metode bayani (kebahasaan), burhani (intelektual, penginderaan
dan pengalaman) dan ‗irfani (batini, Kasf, Ilham). Ini dijelaskan
dalam QS al Mukminun ayat 78:

َُٕٚ‫س‬ٝ‫ا َٖا َتػِه‬ًًٟٜٝٔ‫ ق‬ٜ٠َ‫ٔد‬٦‫ؾ‬ٜٞ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ َ‫بِصَاز‬ٜ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ َ‫ ُِ ايطُِٖع‬ٝ‫ه‬ٜ‫أ ي‬ٜ َ‫ْػ‬ٜ‫ أ‬ٟٔ‫ر‬٤‫ اي‬َٛ َُٖٚ
“Dialah Allah yang telah menumbuhkan bagi kalian pendengaran,
penglihatan, dan hati. Namun sedikit diantara kalian yang bersyukur.”
(QS. Al-Mukminun: 78)
Ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang bebas nilai (free value)
melainkan syarat nilai (value laden) yang bersumber dari cara
pandang orang atau masyarakat yang ada.
Melalui upaya ini, Islamisasi Ilmu pengetahuan bertujuan untuk
mengembangkan kepribadian yang sebenarnya sehingga
menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi
tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan
kekuatan iman.
B. Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

154
Hamid Fahmy, Imu Asas Percerahan Peradaban, hal. 7.

104 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Setelah mengetahui mengenai pandangan hidup Islam dan
Barat, maka proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Karena, Islamisasi
ilmu pengetahuan saat ini melibatkan dua proses yang terkait, yaitu:
Mengisolasi unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang
membentuk budaya dan peradaban Barat dari setiap bidang
ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam bidang
ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun ilmu-ilmu alam,
fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam
penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan alam formulasi
teorai-teori. Menurut Al-Attas, jika tidak sesuai dengan
pandangan hidup Islam, maka fakta-fakta menjadi tidak benar.
Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini
mencakup metode, konsep, praduga, simbol dari ilmu modern,
beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak
kepada nilai dan etika. Juga penafsiran historisitas ilmu tersebut,
bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia,
rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang
alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnyadengan
ilmu-ilmu lainnya, serta hubungnnya dengan sosial harus
dipriksa dengan teliti.
Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci
dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang
relevan.155
Jika kedua proses tersebut dilakukan, maka Islamisasi akan
membebaskan manusia dari magic, mitologi, animisme, tradisi
budaya, tradisional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian
dari kontrol sekuler kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan
membebaskan akal manusia dari keraguan (shakk), dugaan (zann), dan
argumentasi kosong (mira) menuju keyakinan akan kebenaran
mengenai spiritual, intelligible, dan materi. Islamisasi akan
mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu penetahuan kontemporer
dari ideologi, makna dan ungkapan sekuler.156

155
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 336.
156
Hamid Fahmi Zarkasy, Membangun Peradaban Dengan Ilmu, hal. 86.

105 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Jadi, inti dasar Islamisasi ilmu akan sampai pada kesimpulan
bahwa pandangan hidup Islam mencakup dunia dan akhirat. Aspek
dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada
aspek akhirat yang memiliki signifikansi yang terakhir dan final.
Pandangan hidup Islam, tidak berdasarkan kepada metode dikotomis
seperti objektif dan subjektif, historis dan normatif. Namun realitas
dan kebenaran dipahami dengan metode menyatukan (tauhid).
Pandangan hidup Islam bersumber kepada Wahyu yang didukung
oleh akal dan intuisi. Substansi agama, seperti nama, keimanan, dan
pengalamannya, ibadahnya, doktrinnya, serta sistem teologinya, telah
ada dalam Wahyu dan dijelaskan oleh Nabi.157
Pandangan hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling
terkait seperti konsep Tuhan, Wahyu, penciptaan, psikologi manusia,
ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan, serta kebahagiaan.
Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan,
perkembangan, dan kemajuan. Pandangan hidup Islam dibangun atas
konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya,
peradaban, dan agama lain.158
C. Islamisasi Masyarakat
Aplikasi Islamisasi masyarakat dapat dilakukan melalui dua budaya,
yaitu penguatan budaya ilmu dan budaya ruhiyah159
1. Penguatan budaya ilmu
Penguatan ilmu terdiri dari empat bentuk, diantaranya:
a. Semangat Iqra‟
Dengan budaya iqra ini, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
telah mengubah paradigma jahiliyyah dari berbagai sudut kehidupan
manusia ke prinsip rabbaniyyah dan tauhid kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala.160 Ini inspirasi yang amat kuat untuk membangun
intelektualitas masyarakat akademik.
Semangat iqra‘ yang terkandung di dalam konsep budaya ini
dimaksudkan agar semua insan kampus (terutama dosen dan

157
Ibid, hal. 83.
158
Ibid, hal. 86.
159
Sudarto, Budaya Akademik Islami dalam Perspektif Islamisasi Ilmu, Bogor :
UIKA, 2012.
160
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 340.

106 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
mahasiswa) memiliki budaya yang kuat dalam membaca, studi,
kegiatan ilmiah, dan menulis (basthatan fil'ilmi). Iqra' artinya bacalah,
renungkanlah, kumpulkanlah ilmu. Oleh karena itu, membaca di sini
bisa diperluas maknanya, dapat mencakup menulis, observasi/riset,
kegiatan studi, kegiatan ilmiah lainnya. Sementara semua kegiatan
tersebut harus dilandasi dengan bismi rabbik (‫)باسم ربك‬, yaitu demi
meningkatkan iman, akhlak mulia dan diorientasikan sebagai ibadah
(pengabdian) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yang artinya bacalah
demi Tuhanmu, belajarlah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhamu,
beraktivitaslah demi Tuhamu, berprestasilah demi Tuhanmu.161
Dalam menumbuhkan semangat membaca, perlu dibangun
perpustakaan yang memadai, yang dilengkapi berbagai koleksi buku
dengan tingkat keragaman yang seimbang. Misalnya pada bidang
keislaman: teologi, filsafat, hukum Islam, tasawuf, politik,
pendidikan, seni, dan tradisi.
b. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan atas Dasar Nilai-nilai Islam
Virus yang terkandung dalam ilmu pengetahuan Barat modern
sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum muslim
saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah
membuat ilmu menjadi problematis. Selain telah salah memahami
makna ilmu, peradaban Barat juga telah menghilangkan maksud dan
tujuan ilmu. Sekalipun peradaban Barat modern telah menghasilkan
ilmu yang bermanfaat, akan tetapi peradaban tersebut juga telah
menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia.162
Al-Attas berpendapat bahwa ilmu yang berkembang di Barat
tidak semestinya diterapkan di dunia Islam, karena ilmu pengetahuan
dalam budaya dan peradaban Barat itu menghasilkan krisis ilmu
pengetahuan yang berkepanjangan. Ilmu dijadikan alat yang sangat
halus dan tajam bagi penyebarluasan cara dan pandangan hidup suatu
kebudayaan. Oleh karena itu, ilmu bukan bebas nilai (value free), tetapi
sarat nilai (value laden).163

161
Didiek Ahmad Supadie dan Tim BUDAI, Budaya Akademik Islami, hal. 29.
162
Adnin Armas, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, Depok: Makalah disampaikan
dalam acara “Diskusi Pekanan DISC Masjid UI” April 2009.
163
Ibid.

107 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Usaha untuk mengembangkan ilmu atas dasar nilai Islam,
khususnya terkait dengan islamisasi ilmu. Perlu direalisasikan dalam
bentuk-bentu kegiatan berikut ini :
Mengadakan Workshop Islamic Worldview.
Pengajian rutin yang diikuti oleh seluruh masyarakat.
Seminar bulanan tentang keislaman.
Penelitian tentang pengembangan Islamisasi Sains dan
masyarakat.
Penerbita buku-buku, jurnal, tentang Islamisasi sains dan
masyarakat.
c. Apresiasi Ilmu
Apresiasi ilmu bertujuan untuk memacu antusias masyarakat
dalam mengembangkan budaya ilmu, sebagai cikal bakal lahirnya
masa depan peradaban Islam. Hal itu dapat diwujudkan dalam
bentuk,
Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat
yang berprestasi.
Memberikan dana bantuan penelitian.
Mengadakan musabaqah karya ilmiyah.
Memudahkah segala fasilitas ilmu.
Memberikan beasiswa untuk kaderisasi.
Memberikan fasilitas yang memadai untuk bidang ilmu.
d. Membangun Islamic Learning Society
Antaranya Islamic Learning Society, adalah menciptakan
masyarakat yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan
mejadikan Islam sebagai pandangan hidup masyarakat, menjadi
sumber inspirasi, motivasi, sekaligus menjadi filter dalam kegiatan
ilmiah dan budaya.164
2. Budaya Ruhiyah
Budaya ruhiyah ini dapat diaplikasikan dalam enam bentuk,
meliputi gerakan pemberdayaan masjid, gerakan shalat berjama'ah,
gerakan berbusana islami, gerakan lingkungan bersih dan sehat,

164
Ibid, hal. 79.

108 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
gerakan keteladanan, dan gerakan mewujudkan akhlak mulia.165Lebih
jauh pembahasan tentang penguatan ruhiyah tersebut dijelaskan
sebagaimana berikut.
a. Gerakan Pemberdayaan Masjid
Masjid bagi tempat pendidikan Islam berperan sangat penting.
Selain berfungsi menjadi tempat ibadah, masjid juga dijadikan sebagai
wahana untuk dakwah. Melalui masjid diharapkan penyebaran Islam
dapat berjalan dengan lancar.166
Kajian Islam
Bimbingan tahsin Al-Qur‘an
Halaqah-halaqah disipilin ilmu
Seminar peradaban
Kultum ba‘da shalat
Mentoring
Diskusi ilmiyah
Bimbingan mental
b. Gerakan Shalat Berjama'ah
Adapun shalat berjama‘ah itu sebagai sarana membangun
jama‘ah (masyarakat). Shalat jama‘ah merupakan representasi untuk
menghimpun diri secara harmonis, dengan maksud untuk bergerak
maju kearah tujuan bersama. Karena pentingnya berjama‘ah untuk
mencapai tujuan bersama, maka Allah mewajibkan shalat
berjama‘ah.167
Banyak sekali hikmah yang terdapat di dalam shalat berjamaah.
Di antaranya terkandung pendidikan berorganisasi, termasuk
keteraturan, kerapian dan kedisiplinan. Imam (pemimpin) dan
makmum (yang dipimpin) memberi arti akan adanya tuntunan untuk
memimpin dan patuh pada pemimpin. Dengan demikian, diharapkan
mereka sadar dengan posisinya serta tahu tugas yang diembannya.
Jadi, shalat jama‘ah mengajarkan cara berorganisasi yang baik, yaitu
patuh pada pimpinan dan taat terhadap aturan. Dengan demikian,

165
Ibid.
166
Didiek Ahmad Supadie dan Tim BUDAI, Budaya Akademik Islami, hal. 32.
167
Ibid.

109 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
umat Islam akan menjelma menjadi satu komunitas yang solid, kuat,
dan disegani.168
c. Gerakan Berbusana Islami
Hal ini dimaksudkan untuk mengajak agar setiap individu
melakukan dan membiasakan dengan hal yang baik yang dimulai dari
berpakaian, sesuai tuntunan agama. Sebagaimana menurut al-Attas,
yakni melakukan islamisasi individu untuk membebaskan akal dari
pengaruh budaya sekuler agar kembali kepada tauhid. Hal ini
bermakna, islamisasi adalah satu pembebasan individu dari
pandangan alam tahayul dan sekuler. Karena dapat dilihat dalam
konteks perkembangan umat sekarang gaya hidupnya yang sudah
banyak terpengaruh oleh budaya Barat, sehingga dapat dinilai dalam
kehidupan sehari-hari sudah menyimpang jauh dari syariat agama,
termasuk gaya berpakaian yang mengumbar aurat.
d. Gerakan Thaharah/Lingkungan Bersih dan Sehat
Thaharah bagian dari ibadah, sebagai bentuk qurbah kepada
Allah Subhanahu wa Ta‟ala . Dengan demikian, melaksanakan thaharah
adalah perwujudan iman dan sebagai kunci ibadah yang harus
dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri
dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.169
Pelaksanaan thaharah bukan hanya diperlihatkan dengan sikap,
akan tetapi diwujudkan pula dengan perbuatan, yaitu dengan
senantiasa menjaga lingkungan agar tetap bersih (seperti membuang
sampah pada tempatnya, menjaga aliran got agar tidak tersumbat),
menjaga lingkungan tetap agar tetap enak dipandang (seperti tidak
menjemur pakaian di sembarang tempat), dan menjaga lingkungan
dari pencemaran polusi (seperti menjaga udara agar tetap bersih dari
asap rokok dan pembakaran sampah juga dari bau aliran got yang
mampet). Menjaga badan tetap suci dari kotoran dan najis (dengan
tetap menjaga kesucian badan dengan wudhu dan mandi), menjaga
pakaian tetap bersih dan suci (dengan memakai pakaian yang bersih,
wangi, tidak bau rokok yang orang lain merasa jijik dan dapat
mengganggu kekhusyuan ibadah orang lain). Selain itu, juga
dilakukan dengan menjaga hati tetap suci dari sifat-sifat tercela

168
Ibid, hal. 60.
169
Ali Bowo Tjahjono dan Tim BUDAI, GerakanBudaya Akademik Islami, hal. 65.

110 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
(seperti dengan senantiasa menjaga keyakinan dan beribadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala).
e. Gerakan Keteladanan
Disiplin dan taat pada aturan Islam
Setiap individu mampu memberikan keteladanan akhlak,
baik di dalam rumah, maupun di luar rumah.
Seluruh masyarakat, hendaknya melakukan fastabiqul
khairat, dimulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar.
Memerangi merokok,narkoba, dan obat-obatan terlarang.
Membangun kesadaran religious.
Membudayakan untuk menjaga amanah.
dan lain-lain.
f. Gerakan Mewujudkan Akhlak Mulia
Membudayakan salam , senyum, sapa, ketika bertemu.
Membudayakan kejamaahan dalam melakukan kegiatan
sosial.
Budaya empati, sehingga tidak ada sifat egois dalam
kehidupan kampus.
Saling menghormati antara sesama.
Bina ukhwah Islamiyah.
Toleransi dalam masalah-masalah furu‘iyah.
dan lain-lain.

111 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB XI
MANUSIA SEBAGAI PENGGERAK MASYARAKAT
A. Hakikat Manusia
Bila diamati secara mendalam proses penciptaan manusia, secara
umum ia terdiri dari dua jenis, yaitu dari benda padat dan benda cair.
Benda padat berbentuk tanah (turab), dan tanah liat (thin); benda cari
berbentuk air atau mani (al-maa‟). Hal itu sebagaimana telah dijelskan
oleh Allah dalam QS. al-Hajj: 5, Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam
keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya
Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian
dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya
dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan
dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-
angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari
jasad dan ruh, sehingga manusia merupakan makhluk jasadiyah dan
ruhiyah sekaligus. hubungan keduanya bagaikan hubungan antara
seorang nahkoda dengan sebuah perahu, di mana ruh sebagai nahkoda
berfungsi sebagai pengatur dan pengarah tujuan jalannya perahu, dan
menenangkan arus air yang membawa perahu tersebut serta
menjaganya di tengah-tengah hembusan gelombang.170
Hal itu dikarenakan manusia pada hakikatnya adalah makhluk
ruhani, yang esensinya bukanlah fisiknya dan bukan pula fungsi fisik,
melainkan jiwa (nafs) adalah identitas esensial manusia yang tetap.
Sebab, fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat dan fungsi fisik
adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, keberadaannya tergantung

170
Ibn Jauzi, Al-Thibb Al-Ruhi, tahqiq Abdul Aziz Izzuddin Al-Sairawani,
Damaskus : Dar Al-Anwar, 1993,hlm. 35-36, lihat juga Hasan Ibrahim Abdul Ali, Al-Fikr Al-
Tarbawi I’nda Imam Abi Faraj Ibn Jauzi, hlm. 104, lihat juga Laila Abdurrasyid Al-Athar, Ara’
Ibn Jauzi Al-Tarbawiyyah, hlm. 109

112 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
kepada fisik. Dengan demikian, manusia merupakan substansi imaterial
yang berdiri sendiri dan merupakan subyek yang mengetahui. 171 Nabi
Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersada:

‫إ اهلل‬: ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ٍ اهلل ص‬ٛ‫ قاٍ زض‬: ٍ‫ اهلل عٓ٘ قا‬٢‫ زض‬٠‫س‬ٜ‫ ٖس‬٢‫عٔ اب‬

ٙ‫ا‬ٚ‫ ز‬. )ِ‫أعُايه‬ٚ( ِ‫به‬ًٛ‫ٓظس اىل ق‬ٜ ٔ‫يه‬ٚ ِ‫زن‬ٛ‫ال اىل ص‬ُٛ‫ٓظس اىل أدطاَه‬ٜ‫ال‬

ًِ‫َط‬
“Dari Abi Hurairah,Radhiyallahu 'anhu. Rasulallah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda: sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian, dan tidak
pula bentuk kalian, akan tetapi Allah melihat hati kalian dan amal kalian.‖
(HR. Muslim)
B. Karakteristik Manusia
Karakter Positif
Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi
merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia
secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para
pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling
utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam
kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia
saja yang memilikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-
kebiasaan yang bersifat instingtif. Ibnu Khaldun menulis dalam
Muqaddimah berkaitan dengan kelebihan manusia dalam dimensi
pengetahuan ini,:
―Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena kemampuannya berfikir
yang memberikan petunjuk kepadanya, mendapatkan mata pencaharian,
bekerja sama antar sesamanya, berkumpul dalam rangka untuk bekerja
sama, menerima dan menjalankan ajaran yang dibawa para Nabi dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala. serta mengikuti jalan kebaikan yang membawanya
menuju alam akhirat. Manusia selalu berfikir dalam semua ini, dan tidak
pernah terlepas dari berfikir sama sekali.”172

171
Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, hlm. 74
172
Ibnu Khaldun, Mukaddimah, 2001, Jakarta: Pustaka al Kautsar, hal 792

113 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai
kelebihan. Kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk
lainnya. Di antara kelebihan manusia lainnya adalah kemampuan
untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut,
maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di
ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat
dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa
meampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain
dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70:

ُِِٖ‫ًَٓا‬ٖٞ‫ط‬ٜ‫َؾ‬ٚ ٔ‫ٔبَات‬ٝٓ٤ٛ‫قَٓاُِٖ ََٓٔٔ اي‬َٞ‫َ َزش‬ٚ ٢‫يَبشِس‬ٞ‫َا‬ٚ ٓ٢‫يبَس‬ٞ‫ ا‬ٞٔ‫ًَٓاُِِٖ ؾ‬ََُٞ‫س‬َٚ ََّ‫ آد‬ٞٔٓ‫ ٖسََِٓا َب‬ٜ‫دِ ن‬ٜ‫ك‬ٜ‫َي‬ٚ

‫ا‬ًٟٝٔ‫ط‬ٞ‫كَٓا تَؿ‬ٞ ًَٜ‫ َٔٓ ُِٖٔ خ‬٣‫نجٔري‬ٜ ۚ٢ًَٜ‫ع‬


Artinya: ―Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Namun demikian, kemuliaan manusia erat kaitannya dengan
komitmen mereka menjaga kelebihan-kelebihan tersebut dengan cara
menggunakannya secara optimal dan seimbang sesuai dengan sistem
yang telah dirancang Tuhan Pencipta mereka, yakni Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia selama
mereka memanfaatkan secara optimal tiga keistimewaan yang mereka
miliki yakni, spiritual, emosional dan intelektual dalam diri mereka
sesuai misi dan visi penciptaan mereka. Namun, apabila terjadi
penyimpangan misi dan visi hidup, mereka akan menjadi makhluk
yang paling hina, bahkan lebih hina dari binatang dan Iblis bilamana
mereka kehilangan kontrol atas ketiga keistimewaan yang mereka
miliki. Penyimpangan misi dan visi hidup akan menyebabkan derajat
manusia jatuh di mata Tuhan Pencipta dan di dunia, pola hidup
mereka lebih buruk dari pada binatang dan Iblis. Allah menjelaskan
dalam firman-Nya, Q.S. Al -A‘raf ayat 179:

114 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
‫ا‬٤‫ْٔ ي‬ُِٝ‫أع‬ٜ ُِِٗ‫ي‬َٜٚ ‫َٕ ٔبَٗا‬ُٛٗ‫ك‬ٜ ٞ‫َؿ‬ٜ ‫ا‬٤‫بْ ي‬ًٛٝٝ‫يُِِٗ ق‬ٜ ۚ ٢‫ْظ‬٢‫إ‬ٞ‫َاي‬ٚ ٓ٢ٔ‫ذ‬
ٔ ‫ي‬ٞ‫نجٔريّا ََٓٔٔ ا‬ٜ ََِٖٓٗ َ‫َْا ٔيذ‬ٞ‫دِ َذزَأ‬ٜ‫ك‬ٜ‫َي‬ٚ

ۚ ٌَٗ‫ض‬ٜ‫ بٌَِ ُِِٖ أ‬٢ّ‫ِْعَا‬ٜ‫أ‬ٞ‫اي‬ٜ‫ ن‬ٜ‫ٔو‬٥ٍَۚٚٝ‫َٕ ٔبَٗا ۚ أ‬ُٛ‫طِ َُع‬َٜ ‫ا‬٤‫يُِِٗ آذَإْ ي‬َٜٚ ‫َٕ ٔبَٗا‬ُٚ‫بِصٔس‬ُٜ

ًَٕٛٝٔ‫يػَاؾ‬ٞ‫ ُٖ ُِ ا‬ٜ‫ٔو‬٥ٍَۚٚٝ‫أ‬
Artinya: ―Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),
dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.”
Di samping itu, manusia diberi akal dan hati, sehingga dapat
memahami ilmu yang diturunkan Allah berupa Al-Qur‘an menurut
sunah Rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah
menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (QS.At-Tiin: 4).
Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka
sebagai khalifah (makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah
(QS. Al-An‘am: 165). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan (bisa
dibedakan) dengan makhluk lainnya. Jika manusia hidup dengan ilmu
selain ilmu Allah, manusia tidak bermartabat lagi. Dalam keadaan
demikian manusia disamakan dengan binatang, ―mereka itu seperti
binatang (ulaaika kal an‟aam), bahkan lebih buruk dari binatang (bal
hum adhal). Dalam keadaan demikian manusia bermartabat rendah (at-
Tiin: 4).

٣ِٜٛ٢ ‫ك‬ٞ َ‫ٔ ت‬٢ َ‫أ ِسط‬ٜ ٞٔ‫ْطَا َٕ ؾ‬٢‫إ‬ٞ‫كَٓا اي‬ٞ ًَٜ‫دِ خ‬ٜ‫ك‬ٜ‫ني ي‬٢ َٔ‫أ‬ٜ ٞ‫ ٔد اي‬ًَٜ‫ب‬ٞ‫َۚذَا اي‬َٙٚ َ‫ٓٔني‬ٝٔ‫ ض‬٢‫ز‬ٛٝ‫َط‬ٚ ٢ُٕٛ‫ِت‬ٜٖ‫َايص‬ٚ ٢‫َايتٔٓني‬ٚ
Artinya: ―Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan
demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Karakter Negatif
Selain karakter positif yang dimiliki manusia tersebut. Dalam
Al-Qur‘an juga disebutkan berbagai macam karakter negatif yang
dimiliki manusia.

115 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
1. Sifat tergesa-gesa (QS Bani Israil: 11).
2. Bertindak bodoh dan mempersulit diri (QS al Ahzab: 72).
Kebodohan manusia seringkali muncul dan menguasai dirinya
karena dia memperturutkan hawa nafsunya sendiri, tidak
condong pada hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik
yang diciptakanNya dalam mengatur semesta, dalam bentuk
hukum-hukum alam maupun hukum moral yang dimaksudkan
agar manusia menjadi makhluk yang berakhlak mulia.
3. Labil dan tidak betahan (QS al Maarij: 19). Sebenarnya
manusia memiliki kemampuan yang sangat tinggi karenanya
dia menjadi makhluk yang paling layak mengatur alam semesta
ini. Akan tetapi orientasi hidupnya yang lebih tertuju pada
kesenangan-kesenangan sesaat, membuat dia seringkali tidak
sanggup bertahan dalam menghadapi berbagai ujian dan
cobaan. Dalam hal ini, faktor kesabaran dalam menghadapi
berbagai kesulitan, merupakan unsur utama keberhasilan
manusia dalam mengemban tugas.
4. Keluh kesah (QS al Ma‘arij: 20). Keluh kesah manusia
seringkali lahir karena keterbatasan dirinya dan
kemahakuasaaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tak terhingga.
Karena itu manusia dituntut memiliki pemahaman yang lebih
baik tentang dirinya.
5. Kikir terhadap miliknya dan cenderung kurang bersyukur (QS
al Ma‘arij: 21). Sifat ini muncul dari sifat tamak dan kurang
sadar bahwa apa yang diperoleh dan miliki pada hakikatnya
merupakan hasil kerjasama antarsesama manusia.173
6. Suka berdebat dan membangkang (QS. Al-Kahfi: 52; QS. An-
Nahl: 4). Faktor ini merupakan unsur yang menimbulkan
perbedaan pendapat dan keragaman cara manusia.
7. Mudah melupakan jasa pihak lain (QS Yunus: 12). Hal ini
menjadi salah satu faktor hilangnya kemampuan manusia
untuk mensyukuri apa yang diperoleh dan dimilikinya.

173
Nurwadjah Ahmad E.Q., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan: Hati yang Selamat
Hingga kisah Luqman, 2010, Bandung: Penerbit Marja, hal 91

116 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
8. Sulit berterimakasih secara tulus (QS. Al-‗Adiyat: 6). Manusia
seringkali lalai terhadap kewajiban pada pihak lain dan menjadi
sangat penuntut terhadap hak-haknya sendiri.
9. Bertindak melampaui batas (QS. Al-‗Alaq: 6). Kedudukan
manusia sebagai makhluk paling baik dan sebagai khalifah
seringkali membuat manusia menjadi angkuh dan besar kepala,
zalim terhadap sesama manusia, dan merusak alam semesta.
Untuk menghindari sifat seperti ini, menuntut seseorang untuk
memupuk kembali kesadaran akan keterbatasan diri dan
keterjangkauan ilmu Allah Subhanahu wa Ta'ala di alam semesta
ini.
10. Mudah putus asa dan cenderung menutup diri (QS. Hud: 9).
Sifat ini muncul karena ketidakseimbangan antara keinginan
dan kemampuan, negative thinking, dan ketidakpercayaan pada
hari depan yang lebih baik. Dalam hal ini, ia memandang
kegagalan bukan sebagai pengalaman berharga, tetapi sebagai
suatu kehancuran. Untuk menghindari hal semacam ini,
manusia mesti memiliki wawasan luas dan selalu mengevaluasi
diri.
11. Senang kepada harta (QS. At-Takaatsur: 1-2). Sifat ini
membuat manusia melupakan tanggung jawabnya kepada Sang
Pencipta dan pada kehidupan akhirat, sehingga akhirnya
menjadi materialistis. Akibatnya, dia akan lupa bahwa dirinya
bukan sekadar membutuhkan hal-hal yang bersifat fisik dan
material, tetapi juga spiritual.
12. Takut pada ancaman dan kematian (QS. An-Nisa: 78). Sifat ini
seringkali membuat manusia lari dari tanggungjawab dan
sangat mementingkan diri sendiri. Padahal ancaman
merupakan problem hidup yang tak mungkin dihindari dan
seharusnya dihadapi. Sementara, kematian adalah suatu
keharusan sekaligus awal kehidupan baru. Dengan demikian,
keduanya tidak dapat dihindari, tetapi harus dihadapi dengan
bersiap diri dan waspada.
C. Tujuan Hidup Manusia.

117 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Hal yang sangat mendasar yang harus diketahui oleh manusia
adalah mengetahui apa sebenarnya tujuan hidupnya, karena hal
tersebut akan menentukan masa depannya.
Melalui informasi wahyu Allah yang mulia, Surat Ali ‗Imran
ayat: 191, yang menyatakan;“Tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia
belaka.” dapat dimengerti bahwa setiap perbuatan yang Allah tidaklah
sia-sia, pasti merujuk kepada suatu tujuan tertentu. Lebih tegas, dalam
ayat yang lain, Allah menjelaskan:

َ‫ا ٔعبٔني‬ٜ‫ََُُٓٗا ي‬ِٝ‫ََا َب‬َٚ َ‫ ِزض‬ٜ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ ٔ‫َات‬ٚ‫كَٓا ايطَُٖا‬ٞ ًَٜ‫ََا خ‬َٚ


―Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya dengan bermain-main.‖ (QS.Ad-Dukhan: 38)

ٌَِْٜٛ‫ؾ‬ٜ ۚ ‫ا‬ُٚ‫س‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫َٔ ن‬ٜٔ‫ر‬٤‫ظٔٗ اي‬ٜ ٜ‫ا ۚ ذَۚٔيو‬ًٟٔ‫ََُُِٓٗا بَاط‬ٝ‫ََا َب‬َٚ َ‫ ِزض‬ٜ‫أ‬ٞ‫َاي‬ٚ َ٤‫كَٓا ايطَُٖا‬ٞ ًَٜ‫ََا خ‬َٚ

٢‫ا َٔ َٔ ايٖٓاز‬ُٚ‫س‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫ َٔ ن‬ٜٔ‫ر‬٤ًٓٔ‫ي‬


―Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-
orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk
neraka.‖ (QS.Shad: 27)
Kandungan ayat-ayat diatas adalah bahwasanya Allah
Subhanahu wa Ta‟ala menciptakan langit dan bumi serta apa saja yang
ada di antara keduanya itu dengan maksud dan tujuan yang
mengandung hikmah. Demikian pula dalam penciptaan manusia di
bumi ini, Allah menegaskan:

َُٕٛ‫ا تُ ِسدَع‬ٜ‫َٓا ي‬ِٝ‫ي‬ٜ٢‫ ِِ إ‬ٝ‫ْٖه‬ٜ‫َأ‬ٚ ‫ِِ َعَبجّا‬ٝ‫كَٓان‬ٞ ًَٜ‫َُْٖا خ‬ٜ‫طِبتُ ِِ أ‬


ٔ‫ش‬َ ‫ؾ‬ٜٜ‫أ‬
―Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan
dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)
Dalam ayat yang lain,

٣ّ‫ ضُد‬ٜ‫تِسَى‬ُٜ ٕٜ‫ْطَا ُٕ أ‬٢‫إ‬ٞ‫ب اي‬


ُ ‫ط‬
َ ِ‫ش‬َٜٜ‫أ‬
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
(tanpa pertanggung-jawaban)?(QS. Al-Qiyamah: 36)

118 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Maka jelaslah bahwa terbentuk dan terciptanya jasad manusia
bukanlah suatu hal yang kebetulan dan tidak bertujuan serta bukan
hanya untuk makan, minum dan bersenang-senang saja. Karena jika
demikian, hal tersebut benar-benar bertentangan dengan pernyataan
Allah Subhanahu wa Ta'ala. dalam surat Al-Mukminun: 115 di atas.
Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia tidak lepas dari
ikatan tanggung jawab. Ia akan tetap membawa hak dan kewajiban
yang selalu melekat dalam dirinya sampai dia mati. Tanggung jawab
akan selalu diikuti dengan adanya perhitungan pahala dan hukuman
yang menjadi konsekuensinya. Ini adalah kaidah dalam kehidupan
manusia di dunia, baik hukuman itu dari kelompok yang melakukuan
gerakan amar-ma‟ruf nahi munkar maupun dari pemerintahan dan
aparaturnya. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah
perhitungan di hari akhir kelak. Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah
menyatakan hal tersebut dalam firman-Nya surat al Hasyr ayat 18.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk
hari esok (akhirat).” 174
Berkenaan dengan masalah perhitungan amal sebagai bentuk
pertanggungjawaban atas amal perbuatan manusia, di akhirat kelak
tersebut, Rasulullah mengingatkan juga dalam sabdanya;

َِٝٔ‫ُٔ٘ٔ ؾ‬ًٞٔ‫َ َعِٔ ع‬ٚ ُٙ‫ؾَٓا‬ٜٞ‫َُا أ‬ٝٔ‫ٔ ؾ‬ٙ٢‫ٍَ عَِٔ عُُُس‬ٜ‫طِأ‬ُٜ ٢ٖ‫ٔ َست‬١َ ‫َا‬ٝ‫ٔك‬ٞ‫َِّ اي‬َٜٛ ٕ‫ َدََا َعبِد‬ٜ‫ٍُ ق‬ُٚ‫ا تَص‬ٜ‫ي‬

ُٙ‫ا‬ًِٜ‫ب‬ٜ‫ َِ أ‬ٝٔ‫ َعِٔ ٔدطُِٔ٘ٔ ؾ‬َٚ ُٜ٘‫ك‬ٜ‫ِْؿ‬ٜ‫ َِ أ‬ٝٔ‫َؾ‬ٚ َُ٘‫طب‬


َ َ‫نت‬ٞ ‫َِٔ ا‬ٜٜ‫َ َعِٔ َائ٘ٔ َٔ ِٔ أ‬ٚ ٌََ‫ؾع‬ٜ
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari
kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang
ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan
kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” (HR.
Tirmidzi)
Dalam pernyataan Rasulullah di atas terdapat makna bahwa
manusia dituntut untuk memahami bahwa kehidupan yang telah
dirasakanya merupakan kenikmatan yang bukan sekadar bagian dari
kejadian dalam perjalanan yang tanpa arti dan tujuan. Semua nikmat

174
Husein Syahatah, Menjadi Kepala Keluarga yang Sukses,Jakarta: Gema Insani
Press, cet 2, 2003, Hal.7

119 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
pemberian Allah merupakan amanah yang kelak harus
dipertanggungjawabkan. Konsekuensi dari nikmat pemberian adalah
bersyukur. Adapun mensyukuri nikmat tentu tidaklah cukup hanya
dengan pengucapan kata di lisan semata. Lebih dari itu syukur
mengandung konsekuensi menggunakan kenikmatan yang diberikan
tersebut untuk menjalankan perintah-Nya, dan bukan untuk
bermaksiat kepada-Nya.175
Sebagaimana mata uang, kesyukuran memiliki pasangan yang
tidak bisa dipisahkan yaitu kesabaran. Sabar tercermin dalam
mensikapi segala bentuk kesulitan yang dihadapi di dunia ini dengan
sedapatnya dipahami sebagai sebuah anugerah dan satu sisi lain dari
bentuk nikmat. Sikap sabar seperti ini adalah wujud iman kepada
qadha dan qadar, yaitu penyertaan ridha bersama
ketidakberprasangkaburukan, karena kehidupan manusia merupakan
rencana yang telah ditetapkan oleh Dzat yang maha menciptakan.
Seorang mukmin sejati akan meyakini pernyataan nabi, bahwa tidak
ada musibah yang menimpa seorang yang beriman kepada Allah dan
rasul-Nya melainkan akan menghapuskan dosanya apabila ia mau
bersabar. Mampu bersyukur dan bersabar adalah termasuk bentuk
realisasi seseorang yang memahami tanggung jawabnya. Makna seperti
pengertian tersebut sebagaimana Rasulullah sampaikan, ―Sungguh
menakjubkan keadaan orang beriman itu, segala urusan baginya selalu baik.
Dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Ketika ia diberi
nikmat dia bersyukur, itulah kebaikan untuknya, dan jika ditimpa musibah ia
pun bersabar, itulah kebaikan untuknya”. (HR. Muslim)
Tanggung jawab yang dibebankan kepada manusia untuk
memanfaatkan nikmat-Nya secara baik dan tidak menyalahgunakan
amanat yang diberikan oleh-Nya juga merupakan tujuan penciptaan

175
Ibn Qayyim membagi landasan-landasan dalam syukur atas lima bagian: (1)
Tunduk kepada yang memberi nikmat, (2) Cinta kepadanya, (3) Mempunyai kesadaran
untuk menyatakan bahwa nikmat itu datang hanya dari Allah swt, (4) Senantiasa memuji
Allah atas anugrah-Nya, (5) Melakukan segala aktifitas yang hanya diridhai-Nya dan tidak
melakukan maksiat. Berdasarkan perkataan ulama yang di antaranya ً‫الشكر ترك المعاص‬
“Bersyukur adalah meninggalkan maksiat” dan juga ‫الشكر هو اال تستعين بشًء من نعم هللا على‬
‫“ معاصيى‬Syukur adalah agar kamu tidak menggunakan sesuatu apapun dari nikmat-nikmat
Allah untuk keperluan bermaksiat kepada-Nya.” Lihat, Royyad Al Haqil, Mensyukuri Nikmat
Allah Bagaimana Caranya?, Jakarta: Gema Insani Press, 1992, hal.33-35

120 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
manusia yang tidak lain adalah tujuan hidupnya. Secara garis besar
tujuan penciptaan tersebut kemudian diungkapkan dalam Al-Qur‘an
sebagai predikat manusia untuk menjadi;
1) „Ibaadullah (Hamba Allah, beribadah)
Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Allah memiliki
kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini
menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia,
agung, dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Allah di
dalam Al-Qur‘an yaitu untuk beribadah (menjadi ‗abid). Allah
berfirman:

َ ْ٢‫إ‬ٞ‫َٱي‬ٚ ٖٔ‫ذ‬
٢ُٕٚ‫ ِعبُد‬َٝٔ‫اي‬٤‫ي‬٢‫ظ إ‬ ٔ ‫ي‬ٞ‫تُ ٱ‬ٞ‫ك‬ًَٜ‫ََا خ‬َٚ
―Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk
beribadah kepada-Ku.‖ (Adz Dzariat: 56)
Mengomentari ayat ini, Abdurrahman As Sa‘di dalam tafsir
beliau mengatakan:
“Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia dan Allah
mengutus seluruh para rasul untuk menyeru menuju tujuan ini yaitu ibadah yang
mencakup di dalamnya pengetahuan tentang Allah dan mencintai-Nya,
bertaubat kepada-Nya, menghadap dengan segala yang dimilikinya kepada-Nya
dan berpaling dari selain-Nya.‖176
Karena tujuan itu, maka semua nikmat yang diberikan oleh
Allah kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka
dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini. Hal ini
sebagaimana dikatakan Muhammad bin Shalih Al ‗Utsaimin dalam
kitab Al Qaulul Mufid;:
“Dengan hikmah inilah Allah mengaruniai akal kepada manusia,
mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Andaikan tujuan penciptaan
mereka seperti tujuan diciptakannya binatang, niscaya akan hilang hikmah
diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab karena yang demikian itu
akan berakhir bagaikan pohon yang tumbuh lalu berkembang dan setelah itu
mati.” 177

176
Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Tafsir as Sa’di, cet;1, Beirut: Muassasah Ar
Risalah, 2002, hal.813
177
Shalih Al ‘Utsaimin,Qaulul mufid ( juz 1),cet;3, Riyad: Dar Ibn Jauzi, 1999, hal.26

121 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Sementara itu, Ibnu Taimiyyah yang dikenal dengan sebutan
Syaikhul Islam, dalam kitab Majmu‟ Fatawa-nya mengatakan:
“Maka sesungguhnya Allah menciptakan manusia untuk menyembah-
Nya sebagaimana firman Allah „Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan
manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.‟ Ibadah kepada Allah hanya
dilakukan dengan cara mentaati Allah dan Rasul-Nya dan tidak dikatakan
ibadah kecuali apa yang menurut syariat Allah adalah sesuatu yang wajib atau
sunnah.‖178
Dari Mu'azd bin Jabal Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Saya
membonceng Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam di atas keledai yang
dinamakan 'afir, lalu 'Beliau Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 'Wahai
Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba
dan apa hak hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala? Saya menjawab.
'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda,: 'Sesungguhnya
hak Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba adalah bahwa mereka
menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah
bahwa Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak akan menyiksa orang yang tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah,
bolehlah saya memberitahukan kepada manusia?' Beliau menjawab, 'Jangan
engkau beritakan kepada mereka, maka mereka menjadi enggan beramal.”
(HR. Muttafaqun 'alaih)179
Dari uraian di atas tampak jelas, dan memberikan sebuah
penegasan, bahwa ibadah merupakan tujuan akhir dari penciptaan
manusia. Yang dimaksud ibadah di sini, adalah memiliki makna luas.
Karena menurut syara‘ (terminologi), ibadah adalah sebutan yang
mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla,
baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang
bathin.180
Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri berkata :

178
Ahmad Ibnu Taimiyyah, Majmu’u Fatawa (juz:1), Beirut: Muassasah Ar Risalah,
1997, hal.4
179
-Muttafaqun 'alaih. HR. al-Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30, lafadz hadits ini
dari riwayat Muslim.
180
- Ibn Taimiyah, Al ‘Ubudiyah, Maktabah Darul Balagh, hlm. 6

122 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
“Yang berhak disembah hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, dan
ibadah digunakan atas dua hal; Pertama: menyembah, yaitu merendahkan diri
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan melakukan segala perintah-Nya
dan menjauhi segala larangan-Nya karena rasa cinta dan mengagungkan-
Nya.Kedua: Yang disembah dengannya, yaitu meliputi segala sesuatu yang
dicintai dan diridhahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa perkataan dan
perbuatan, yang nampak dan tersembunyi seperti, doa, zikir, shalat, cinta, dan
yang semisalnya. Maka melakukan shalat misalnya adalah merupakan ibadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka kita hanya menyembah Allah
Subhanahu wa Ta'ala semata dengan merendahkan diri kepada-Nya, karena
cinta dan mengagungkan-Nya, dan kita tidak menyembahnya kecuali dengan
cara yang telah disyari'atkan-Nya.” 181
Dari pengertian di atas dapat dirinci bahwa ibadah mencakup
ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja‟
(mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah
(senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan
dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan
lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati).
Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah
qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam
ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.182
2) Khalifatullah fie al-Ardhi (Menjadi Khalifah Allah di Bumi)
Selanjutnya, selain tujuan untuk menjadi hamba Allah atau
beribadah kepada Allah, hakikat diciptakannya manusia menurut Islam
adalah juga untuk menjadi Khalifatullahi fie al-Ardhi, yakni sebagai
makhluk yang diperintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi.
Kata khalifah berasal dari kata khalafa-yakhlifu-khilafatan-wa khalifatan
yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan
sebagai penerus ajaran Allah di bumi atau pemimpin. Tujuan ini
terkait dengan konsekuensi manusia terhadap apa yang telah diberikan
kepadanya berupa suatu kesempurnaan dalam penciptaan yang tidak
dimiliki oleh makhluk-makhluk hidup selainnya, yaitu kekuatan akal

181
Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri, Ringkasan Fiqih Islam, Pustaka
Islamhouse, hlm.17
182
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-
Sunnah yang Shahih, Bogor : Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3

123 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
dan pikiran. Manusia sebagai satu-satunya makhluk yang telah
diberikan kesempurnaan tersebut haruslah mampu menempatkan
dirinya sesuai dengan hakikat diciptakannya. Status manusia sebagai
khalifah ini dinyatakan Allah dalam Surat al-Baqarah ayat: 30.

ِ ‫َت‬ٜ‫ا أ‬ٛٝ‫اي‬ٜ‫ ۚ ق‬ٟ١ٜ‫ؿ‬ًَٝٔ‫ خ‬٢‫زِض‬ٜ‫أ‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫ دَاعٌْٔ ؾ‬ْٞٓٔ٢‫ٔ إ‬١ٜ‫ٔه‬٥‫ا‬ًًَُٜٞٔ‫ ي‬ٜ‫اٍَ زَٗبو‬ٜ‫ذِ ق‬٢‫َإ‬ٚ
ََٔ ‫َٗا‬ٝٔ‫ذعٌَُ ؾ‬

‫ُِ ََا‬ًِٜ‫أع‬ٜ ْٞٓٔ٢‫اٍَ إ‬ٜ‫ ۚ ق‬ٜ‫يو‬ٜ ُ‫دٔٓع‬ٜ‫َُْك‬ٚ ٜ‫طبٔٓحُ ٔبشَُِدٔى‬


َ ُْ ُٔ‫ش‬
ِ َْٚ َ٤‫ اي ٓدََٔا‬ٝ‫طِؿٔو‬َٜٚ ‫َٗا‬ٝٔ‫ؿطٔدُ ؾ‬ٞ ُٜ

ًَُُِٕٜٛ‫ا َتع‬ٜ‫ي‬
―Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui".
Allah mengamanahkan tanggungjawab sebagai khalifah
kepada manusia berdasarkan kelayakan dan asas-asas yang kukuh.
Allah mengetahui bahwa hanya manusialah yang sanggup menerima
tugas tersebut. Agar manusia mampu melaksanakan tugas besarnya,
maka Allah menganugerahkan banyak kelebihan kepadanya sebagai
bekal menjadi khalifah.
D. Manusia Ulil Albaab Sebagai Penggerak Masyarakat
Salah satu sosok manusia yang banyak dipuji oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur‘an, karena kreativitas dan
aktivitasnya, adalah manusia yang memiliki karakter ulul albab. Yaitu
mereka yang senantiasa menggunakan segala potensi yang dimilikinya
untuk mentadzaburi ayat-ayat Allah, baik yang kauniyah maupun
qauliyah, sehingga mendatangkan iman, kemudian dari iman mampu
mendatangkan amal, sehingga mampu menciptakan peradaban di
muka bumi di bawah naungan syariat Allah.
Ulul Albab secara etimologi berasal dari dua akar kata (‫)أولو‬
dan (‫)األلباب‬. Kata (‫ )أولو‬dalam bahasa Arab adalah berarti memiliki,

124 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
mempunyi.183 Adapun kata (‫ )األلباب‬dalam bahasa Arab adalah bentuk
jama` dari kata (‫ )اللب‬yang berarti Akal, penggunaan kata (‫ )اللب‬dalam
bahasa Arab sendiri berarti bagian termurni, terpenting dan terbaik
dari sesuatu.184 Dengan demikian, Ulul Albab berarti manusia yang
menggunakan akalnya, untuk memikirkan dan memahami ayat-ayat
Allah, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.185
Ulul Albab disebutkan dalam Al Qur`an sebanyak 16 kali yang
tersebar dalm berbagai surat dan ayat. Yaitu terdapat Pada (QS. Al
Baqarah 179, 197 dan 269),(QS. Ali Imran 7, dan 190), (QS. Al
Maidah 100), (QS.Yusuf 111), (QS. Ar Ra`d 19), (QS.Ibrahim 52),
(QS.As Shad 29 dan 43), (QS.Az Zumar Ayat 9, 18, dan 21),
(QS.Ghafir 54), dan (QS.At Thalaq Ayat 10).
Enam belas ayat tersebut, yang apabila kita relevansikan
dengan konteks penegakan hukum, maka akan melahirkan sepuluh
karakteristik yang dimiliki oleh manusia ulul albab sebagai penegak
hukum. Yaitu sebagaimana yang akan dijelaskan dalam uraian berikut
ini:
1. Mampu mentadzaburi ayat-ayat Allah, baik kauniyah maupun
qauliyah, yang mencakup:
Mampu mengambil pelajaran dari suatu peristiwa sejarah.
Allah berfirman yang artinya: ―Sesungguhnya pada kisah-kisah
mereka itu terdapat pengajaran bagi ulul albab. Al Al-Qur‟an itu
bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.
Yusuf: 111)
Mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Al-Qur‘an.
Allah berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang
Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya ulul albab mendapat
pelajaran.” (QS. Shad: 29)

183- Ibn Manzhur, Lisanul Arab, Darul Ma`arif, al-Qahirah, 1990, Jilid 1, Hlm.176.
184- Ibid, 3979.
185 Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur‘an al-Adzhim, Daar At-Thayyibah, Riyad, 1999, Cet II,

Jilid I, hlm. 492.

125 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Mampu mengambil pelajaran dari nikmat yang telah
dikaruniakan oleh Allah.
Allah berfirman yang artinya: ―Dan Kami anugerahi dia
(dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami
tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat
dari Kami dan pelajaran bagi ulul albab.” (QS. Shad: 43)
Mampu mengambil pelajaran dari syari‘at para rasul
terdahulu.
Allah berfirman yang artinya: ―Dan sesungguhnya telah Kami
berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat
kepada Bani Israel, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi
ulul albab”. (QS. Ghafir: 53-54)
Mengambil pelajaran dari peringatan adzab Allah.
Allah berfirman yang artinya: ―Allah menyediakan bagi
mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai
ulul albab, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah
telah menurunkan peringatan kepadamu”. (QS. At-Thalaq: 10)
Mampu mengintegrasikan antara fikir dan dzikir.
Allah berfirman yang artinya: ―Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi ulul albab. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari
siksa neraka.” (QS. Ali-Imran: 190-191)
Senantiasa mengambil I`tibar dari tanda kekuasaan Allah.
Allah berfirman yang artinya: ―Apakah kamu tidak
memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari
langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi
Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang
bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu
melihatnya kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur
berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.
Az-Zumar: 21)
126 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
2. Memiliki ilmu yang mendalam (rasyihun fiil ilmi).
Allah berfirman yang artinya: ―Dia-lah yang menurunkan Al Kitab
(Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang
muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-
ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang
mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:
"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu
dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan ulul albab.” (QS. Ali-Imran: 7)
3. Mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil (al-
faruq).
Allah berfirman yang artinya: ―Katakanlah: "Tidak sama yang
buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik
hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai ulul albab, agar kamu
mendapat keberuntungan‖. (QS. Al-Maidah: 100)
4. Senantiasa berbekal ketaqwaan dalam hidupnya.
Allah berfirman yang artinya: "(Musim) haji adalah beberapa bulan
yang dimaklumi, barang-siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan
itu akan menger-jakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan
berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang
kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Ber-
bekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepadaKu hai ulul albab.” (QS. Al-Baqarah: 197)
5. Memiliki aqidah yang kuat.
Allah berfirman yang artinya: “Ini adalah penjelasan yang
Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-
Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan
yang Maha Esa dan agar ulul albab mengambil pelajaran.” (QS.
Ibrahim: 52)
6. Berorientasi ibadah dalam segala aktifitasnya.
Allah berfirman yang artinya ―(apakah kamu Hai orang musyrik
yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu
malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat

127 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya hanya ulul albablah yang dapat menerima
pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
7. Memiliki hikmah.
Allah berfirman yang artinya: ―Allah menganugerahkan Al
hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi
hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan
Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran
(dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)
8. Memiliki Akhlak Mulia.
Allah berfirman yang artinya: “Adakah orang yang mengetahui
bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar
sama dengan orang yang buta? hanyalah ulul albab saja yang dapat
mengambil pelajaran.Yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan
tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-
apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut
kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk .Dan orang-
orang yang sabar Karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan
shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan kepada
mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan
dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan
(yang baik).” (QS. Ar-Ra`du: 19-22)
9. Melakukan amalan dengan cara yang terbaik (ahsanu amala).
Allah berfirman yang artinya: ―Yang mendengarkan perkataan lalu
mengikuti apa yang paling baik di antaranya mereka Itulah orang-orang
yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah ulul albab.‖(QS.
Az-Zumar: 18)
10. Menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Allah berfirman yang artinya: ―Dan bagi kalian dalam qishaash itu
ada (jaminan kelangsungan) hidup, hai ulul albab, supaya kalian
bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 179)
Dari sepuluh karakter yang dimiliki manusia ulil albab terebut,
dapat disimpulkan bahwa ulil albab adalah manusia yang berilmu.
Dengan ilmunya tersebut mampu mendatangkan keimanan, dengan
128 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
keimanan ia mampu beramal shaleh, dengan amal shaleh ia mampu
menciptakan sebuah peradaban, dari peradaban yang ia bangun akan
melahirkan keadilan, karena ia senantiasa berjalan di bawah naungan
syari‘at Allah. Jadi ulul albab adalah manusia pari purna yang mampu
mengemban amanah Allah sebagai Abdullah dan khalifatullah yang
mampu memakmurkan bumi ini atas ridha Allah Subhanahu wa Ta‟ala .
Konsep ulil albab sangat relevan, jika diimplikasikan dalam
pembangunan masyarakat kita saat ini, yaitu dengan memperhatikan
hal-hal berikut ini :
1. Dari segi landasan idiologis, hendaknya mayarakat
dibangun atas dasar tauhid, bukan dualisme.
2. Dari segi tujuan, hendaknya diarahkan untuk melahirkan
konsep masyarakat yang Islami.
3. Dari segi kurikulum, hendaknya kurikulum
mengintegrasikan antara akal dan wahyu. Sehingga akal
tidak berdiri sendiri, wahyu tidak berdiri sendiri, keduanya
saling menguatkan dan bersinergi.
4. Dari segi metodologi, hendaknya metodologi yang
digunakan adalah metode tadabur, yaitu mengintegrasikan
antara dzikir dan pikir pada setiap kegiatan masyarakat,
sehingga terjadi internalisasi nilai-nilai keislaman yang
utuh.

129 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB XI
RUQYAH SYAR’IYYAH

A. Pengertian Ruqyah Syar’iyyah

Ruqyah secara bahasa artinya jampi-jampi atau mantera.


Sedangkan ruqyah sacara syar‘i adalah jampi-jampi atau matera yang
dibacakan oleh seseorang untuk mengobati penyakit, perlindungan diri,
atau menghilangkan ganguan jin atau sihir, dengan hanya
menggunakan ayat-ayat Al-Qur‘an dan atau doa-doa yang bersumber
dari hadist, dan atau doa-doa yang bisa dipahami maknanya selama tidak
mengandung kesyirikan.

Dalil Ruqyah

Allah berfirman :

( ‫ال َخطَازّا‬٢‫ائُٔ َني إ‬٤‫ ُد ايظ‬ٜ‫ص‬٢ َٜ ‫َال‬ٚ َ‫ ُُ ِؤَٔٓٔني‬ًٞٔ‫ي‬٠١َُِ‫ َزس‬َٚ ْ٤‫ا‬ٜ‫َ غٔؿ‬ُٖٛ ‫ ََا‬٢ٕ‫سِآ‬ٝ‫ك‬ٞ‫ٍُ َٔ َٔ اي‬٢‫ََُْٓ ٓص‬ٚ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur‟an itu tidaklah menambah
kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

Menurut penafsiran Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi


dalam Adhwa‟ Al-Bayan, bahwa firman Allah dalam ayat ini secara tegas
menyebutkan bahwa salah satu fungsi Al-Qur‘an adalah sebagai obat,
yang mencakup obat bagi penyakit hati, seperti keragu-raguan, nifaq,
dan lain sebagainya. Demikian juga obat bagi penyakit jasmani dengan
dibacakan ruqyah kepada penyakit tersebut. Hal ini sebagaimana yang
ditunjukkan oleh kisah diruqyahnya orang yang disengat kalajengking
dengan surat Al-Fatihah. Kisah ini merupakan kisah yang shahih dan
terkenal. 186

186
- Muhammad Amin Asy-Syinqithi,Adhwa’ Al-Bayan,hlm.598

130 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda :

٠‫٘ٔ غٔسِى‬ٝٔ‫ ِٔ ؾ‬ٝ‫َه‬ٜ ِِٜ‫ ََا ي‬٢ٜ‫عَ بٔايسُٓق‬ٞ‫ بَأ‬ٜ‫ِِ ال‬ٝ‫ان‬ٜ‫َٓ زُق‬ًَٜٞ‫ا ع‬ُٛ‫ض‬٢‫اعِس‬
―Bacakan ruqyah-ruqyah kalian kepadaku, tidak apa-apa dengan ruqyah
yang tidak mengandung kesyirikan di dalamnya.‖ (HR. Muslim)

Aisyah Radhiyallahu 'anha juga menceritakan bahwa apabila


Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam mendatangi atau didatangi orang
sakit, beliau Shalallahu 'Alaihi wa Sallam berdoa,

‫ ال‬٤‫ ال غايف إال أْت غؿا‬٢‫ايًِٗ زب ايٓاع اذٖب ايبأع اغـ أْت ايػاؾ‬

‫ػادز ضكُا‬ٜ
―Hilangkan penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah,
Engkau Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali
kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.‖
(HR. Bukhari dan Muslim)

B. Kategori Ruqyah
1. Ruqyah yang dilakukan dengan Al-Qur`an, dan dengan
Asma‘ul husna, maka hal ini hukumnya boleh, bahkan
dianjurkan.
2. Ruqyah yang dilakukan dengan dzikir dan doa yang
bersumber dari hadist-hadist Nabi Shalallahu „Alaihi wa
Sallam (ma‘tsur), maka ruqyah ini sama seperti hukum
sebelumnya.
3. Ruqyah yang dilakukan dengan zikir dan doa yang tidak
ma'tsur, dan tidak menyelisihi yang ma'tsur, maka ini
juga boleh.
4. Ruqyah dengan jampi-jampi yang asing, yang tidak bisa
dipahami maknanya, seperti ruqyah yang ada pada masa

131 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
jahiliyah. Maka ruqyah ini adalah haram, dan harus
dijauhi, agar tidak terjerumus dalam kesyirikan.187
C. Prinsip-Prinsip Ruqyah

Terapi ruqyah harus berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini :

Bacaan Ruqyah berupa ayat-ayat Al-Qur‘an dan do‘a-do‘a yang


bersumber dari hadits Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam .
Do‗a yang dibacakan jelas dan diketahui maknanya.
Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan
sendirinya, tetapi dengan takdir Allah Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam.
Tidak bertawasul dengan jin, perbintangan atau yang lainnya
selain Allah.
Tidak menggunakan benda-benda yang menimbulkan syubhat
dan syirik.
Cara pengobatan harus sesuai dengan nilai-nilai Syari‗ah.
Orang yang melakukan terapi ruqyah harus memiliki kebersihan
aqidah, akhlak, dan istiqamah dalam ibadah.
Ruqyah tidak boleh dilakukan oleh dukun atau para normal,
karena Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda :

ُ٘٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ َُشَُٖدٕ ص‬٢ًَٜ‫صٍَ ع‬٢ ِْٝ‫سَ بَُٔا أ‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫دِ ن‬ٜ‫ك‬ٜ‫ٍُ ؾ‬ٛٝ‫َك‬ٜ ‫ُ٘ بَُٔا‬ٜ‫صَدٖق‬ٜ‫ا ؾ‬ٟ‫ِ عَسٖاؾ‬ٚ‫أ‬ٜ ‫ا ّٖٔٓا‬ٜ‫ ن‬٢َ‫ت‬ٜ‫َِٔ أ‬

َِ٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ع‬
―Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung atau dukun, lalu ia
percaya dengan apa yang dikatakan dukun atau tukang tenung itu,
berarti ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada
Muhammad.‖ (HR. Ahmad)

187
- Khalid Abdurrahman Al Jeraisy,Kaidah-Kaidah Pengobatan Islami,
Islamhouse,2009,hlm.3

132 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ُ٘٤ً‫ اي‬٢٤ً‫ص‬
َ ٔ٘٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫َْاعْ زَض‬ٝ‫ٍَ أ‬ٜ‫َِ ضَأ‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ ص‬ٚٞٔ‫ِزُ ايٖٓب‬ٚ‫ َش‬ٝ١َ‫ػ‬٥ٔ‫يتِ َعا‬ٜ‫ا‬ٜ‫ق‬

ٕ٤َِٞ‫ا ٔبػ‬ُٛ‫ط‬ِٜٝ‫َِ ي‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫يُِِٗ زَض‬ٜ ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬٢ٕ‫هٖٗا‬ٝ ٞ‫ اي‬٢َٔ‫َِ ع‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ع‬

ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫ك‬ٜ‫ا ؾ‬٦‫ُٕ سَك‬ٛٝ‫َه‬ٜ ٔ٤ِٖٞ‫َاّْا بٔايػ‬ٝ‫ ِس‬ٜ‫َٕ أ‬ُٛ‫ث‬ٚ‫ُشَد‬ٜ ُِِْٖٗ٢‫٘ٔ إ‬٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫َا زَض‬ٜ ‫ا‬ٛٝ‫اي‬ٜ‫ك‬ٜ‫ؾ‬

ٔ٘ٚٝ‫َٔي‬ٚ ٢ُٕ‫أذ‬ٝ ٞٔ‫ُكٔسَٖٗا ؾ‬ٝ‫ؾ‬ٜ ٗٞٚٓ‫ذ‬


ٔ ‫ي‬ٞ‫ؿَٗا ا‬ٝ ٜٛ‫د‬
ِ َٜ ٚ‫يشَل‬ٞ‫ ََٔٔ ا‬ٝ١ًَُٜٔ‫ه‬ٞ‫ اي‬ٜ‫و‬ًٞٔ‫َِ ت‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ص‬

ٕ١َ‫رِب‬ٜ‫ ن‬١ٜ َ٥‫َٗا َٔا‬ٝٔ‫َٕ ؾ‬ًِٛٝٛٔ‫د‬َٝ‫ؾ‬ٜ


―Aisyah istri Nabi berkata, Ada sekelompok orang yang
bertanya kepada Rasulullah masalah tukang dukun, Beliau menjawab,
Mereka tidak ada apa-apanya. Orang-orang itu berkata, Wahai
Rasulullah, terkadang mereka membicarakan sesuatu yang benar. Maka
Rasulullah menjawab, Itulah sebuah kalimat kebenaran yang dicuri oleh
jin, lalu disampaikan kepada telinga walinya, lalu wali-wali jin ini
mencampurinya dengan seratus kedustaan.‖

D. Syarat Orang Yang Meruqyah (Raqy)

Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh raaqy (yang meruqyah


dan marqi (yang diruqyah), agar ruqyah lebih efktif, adalah sebagaimana
berikut :

1. Berkepribadian shalih, dan istiqamah.


2. Mengetahui ruqyah yang sesuai dari ayat-ayat Al-Qur`an.
3. Pasien yang diruqyah harus menjauhkan diri dari perbuatan
maksiat, karena ruqyah tidak memberikan pengaruh kepada
orang-orang yang selalu melakukan maksiat dan kemungkaran.
4. Percaya dengan pasti bahwa al-Qur`an adalah penyembuh,
rahmat, dan obat yang bermanfaat.
E. Proses Meruqyah

133 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Petunjuk-petunjuk umum yang harus dijaga saat melaksanakan
ruqyah:
1. Raqi (yang meruqyah) dan marqi (yang diruqyah) dalam keadaan
suci dari hadats kecil dan hadats besar.
2. Raqi menghadap qiblat.
3. Raqi dan marqi mentadabburkan nash-nash ruqyah saat
membaca. Janganlah raqi membaca tanpa tadabbur terhadap
maknanya dan tidaklah marqi mendengarnya kecuali berusaha
melakukan hal sama, dan keduanya menggantungkan hati
kepada keagungan qudrat Allah dan meminta pertolongan
kepada-Nya.
4. Meludah saat membaca dan sesudahnya, dan tidak mengapa
meninggalkannya.
5. Sangat baik meletakkan tangan kanan –saat membaca- di atas
ubun-ubun atau di tempat yang sakit, jika hal itu
memungkinkan, serta diperhatikan tidak bolehnya menyentuh
wanita yang bukan muhrimnya.
6. Demikian pula dianggap baik, sekali-kali membaca dengan
suara sedang di telinga kanan atau kiri orang yang sakit saat
meruqyah.
7. Agar ayat atau do‘a yang dibaca lebih berpengaruh terhadap
pasien, maka tidak mengapa mengulanginya tiga kali, atau lima
kali, atau tujuh kali menurut kebutuhan.
8. Raqi berniat memberikan manfaat kepada saudaranya dengan
ruqyahnya, ingin supaya Allah menyembuhkannya dan
meringankan kesusahan darinya. Bahkan jika raqi meyakini
adanya jin yang menyusup, ia berusaha untuk mendakwahinya
serta mengajak jin tersebut agar masuk Islam. Ini adalah

134 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
tuntutan yang sangat penting. Hendaklah raqi
memperhatikannya, karena risalah seorang muslim yang
mendasar adalah berdakwah kepada Allah, berdasarkan firman
Allah :

ٞٔٓ‫ اتَٖب َع‬٢ََٔٚ ‫َْا‬ٜ‫ أ‬٠ٕ‫ بَصٔ َري‬٢ًَٜ‫ اهللٔ ع‬٢ٜ‫ي‬٢‫ا إ‬ُٛ‫أ ِدع‬ٜ ًٞٔٝٔ‫ضب‬
َ ٔٙٔ‫ٌِ َٖر‬ٝ‫ق‬
“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku
mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha.”
(QS. Yusuf: 108)

9. Menjaga lafazh ruqyah yang sesuai saat membaca, seperti arqi


nafsi (aku meruqyah diriku), arqika (aku meruqyah engkau,
untuk satu orang laki-laki), arqiki (aku meruqyah engkau, untuk
satu orang perempuan), arqikum (aku meruqyah kamu, untuk
beberapa orang), dan hal itu menurut kondisinya.
10. Terkadang ruqyah bisa berlangsung selama satu minggu, bisa
kurang dari itu atau lebih. Hal itu menurut kondisi yang sakit
dan kadar kesembuhannya, sampai ia sembuh dengan izin
Allah.
11. Raqi bisa meringkas ruqyah dengan memilih ayat-ayat tertentu
yang sesuai kondisi marqi.
12. Demikian pula raqi bisa meringkas dalam ruqyah terhadap ayat-
ayat Al-Qur`an atau dari Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam ,
tetapi yang paling sempurna adalah menggabungkan di antara
keduanya.
13. Juga, raqi bisa membaca dengan suara keras atau pelan, dan
suara keras lebih utama, supaya marqi bisa mendengarnya, maka

135 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
bertambahlah pengaruhnya dengan ruqyah dan manfaatnya
dengannya.188
F. Tindakan Preventif

Ada beberapa sebab penting, jika kita menekuninya, niscaya


sangat membantu dalam penjagaan diri dan mempercepat proses
penyembuhan atas izin Allah, di antaranya adalah:

1. Bersemangat menunaikan ibadah tepat waktunya, khususnya


shalat berjamaah, terutama shalat Subuh, berdasarkan sabda
Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam :

ٔ‫ٔ اهلل‬١َٖ‫ ٔذ‬٢ٔ‫َ ؾ‬ُٛٗ‫ؾ‬ٜ َ‫صبِح‬


ٗ ‫ اي‬٢٤ًَ‫َِٔ ص‬
"Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam
jaminan Allah.‖ (HR. Muslim)

2. Hendaknya meruqyah dirinya sendiri, karena ruqyah seseorang


untuk dirinya sendiri lebih utama daripada ruqyah untuk orang
lain, atau jika ia kesulitan, maka hendaklah ia mencari ahli
ruqyah yang ikhlas, memiliki akidah yang benar, dan dikenal di
tengah masyarakat sebagai orang shalih dan punya nama baik.
Janganlah ia terhanyut dalam tipuan dan propaganda
paranormal.
3. Bersungguh-sungguh saat berdoa, seperti kesungguhan orang
yang sedang kesulitan yang sedang meminta kemudahan. Allah
berfirman:

188
- Khalid Abdurrahman Al Jeraisy, Kaidah-Kaidah Pengobatan Islami,
Islamhouse,2009,hlm.12

136 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
َ‫ْ٘ َٖع‬ٜ‫ٔي‬٤ٜ‫ أ‬٢‫زِض‬ٜ‫األ‬ٞ َ٤‫آ‬ٜ‫ؿ‬ًُٜ‫ِِ خ‬ٝ‫ه‬ًَٝ‫ذع‬
ِ َٜٚ َ٤ٖٛ‫ػـُ ايط‬
ٔ ٞ‫َه‬ٜٚ ُٙ‫إذَا َدعَا‬٢ ٖ‫س‬ٜٛ‫ط‬
ِ ُُٞ‫بُ اي‬ٝٔ‫ذ‬ُٜ َٖٔ‫أ‬ٜ

َُٕٚ‫س‬٤‫ َٖاتَرَن‬ٟ‫ال‬ًٜٝٔ‫هلل ق‬
ٔ‫ا‬
“Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam
kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan
kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di
bumi?Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah
kamu mengingati(Nya).” (QS. An-Naml: 62)
4. Mencari waktu-waktu dikabulkan doa, di antaranya sepertiga
malam yang terakhir, waktu terakhir di hari Jum'at (sebelum
maghrib), demikian pula di saat sujud, dan kondisi dan waktu
lainnya yang utama.

5. Berusaha terhadap makanan yang halal, berdasarkan sabda


Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam :

ٔ٠َٛ‫طَتذَابَ اي ٖد ِع‬
ِ َُ ِٔٝ‫و تَه‬
ٜ ََُ‫ع‬ٛٞ َ ِ‫ ٔطب‬ٜ‫أ‬
―Perbaikilah makananmu, niscaya engkau dikabulkan doa.‖
(HR.Thabrani)

,َ‫س‬ٜ‫ٌَِ ايطٖؿ‬ٝٛٔ ُٜ ٌَُ‫سَ اي ٖسد‬ٜ‫ ثُِٖ ذَن‬...‫بّا‬ٝٚ‫ط‬ٜ ٤‫إال‬٢ ٌَُ‫كب‬ٞ َٜ ٜ‫بْ ال‬ٜٚٝ‫ ط‬ٜ‫ٕٖ اهلل‬٢‫ إ‬,ُ‫َٗا ايٖٓاع‬ٜٜٗ‫أ‬

ّْ‫ًَبطُُ٘ سَسَا‬َٞ َٚ ّْ‫عَُُُ٘ سَسَا‬ٛٞ ََٚ ٚ‫َازَب‬ٜ ٚ‫َازَب‬ٜ :ٔ٤‫ ايطَُٖا‬٢ٜ‫ي‬٢‫ِ٘ٔ إ‬َٜ‫َد‬ٜ ٗ‫َُُ د‬ٜ ,َ‫غبَس‬ٞ ‫أ‬ٜ َ‫غعَح‬
ِ ‫أ‬ٜ

ٜ‫بئرئو‬
ُ ‫طتَذَا‬
ِ ُٜ ٢ْٖٜ‫أ‬ٜ‫ ؾ‬,٢ّ‫يشَسَا‬ٞ‫َ بٔا‬ٟٔ‫ر‬ٝ‫غ‬َٚ
―Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima
sesuatu yang baik… Kemudian Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa
Sallam menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan
jauh, sehingga berambut kusut dan penuh debu. Ia mengangkat kedua
belah tangannya ke langit seraya berdoa: Wahai Rabbku.. wahai
Rabbku! Sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan diberi
137 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
makan yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?.‖ (HR.
Muslim)

6. Berusaha membaca surah Al-Baqarah di rumah, yang berfungsi


sebagai benteng yang kokoh dan ruqyah untuk penghuni
rumah itu, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam:

ٝ١ًٜٜٛ‫َب‬ٞ‫عَُٗا اي‬ِٝٛٔ ‫ َتطَِت‬ٜ‫ال‬َٚ ٠‫نَٗا َسطَ َس‬ٜ ِ‫َتَس‬ٚ ٠١ٜ‫أخِرََٖا بَسَن‬ٜ ٕٖ ٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬,ٔ٠‫ َس‬ٜ‫يبَك‬ٞ‫ ا‬٠َٜ‫ز‬ِٛ ‫ض‬
ُ ‫ِا‬ٚ‫سَ ُؤ‬ٞ‫أق‬
―Bacalah surah al-Baqarah, sesungguhnya mengambilnya adalah berkah
dan meninggalkannya adalah kerugian, dan para penyihir tidak bisa
menguasainya.‖ (HR. Muslim)

ٔ٠َ‫س‬ٜ‫يبَك‬ٞ‫ ا‬٠َٝ‫ز‬ِٛ ‫ض‬


ُ ِٔ٘ٝ‫أ ٔؾ‬َٝ‫س‬ٞ‫ تُك‬ٟٔ‫ر‬٤‫ت اي‬
ٔ َِٝ‫يب‬ٞ‫ِٓؿٔسُ َٔ َٔ ا‬َٜ َٕ‫ا‬ِٜٛٝ‫ػ‬
ٖ ‫ ٖٕ اي‬٢‫إ‬
―Sesungguhnya syetan berlari dari rumah yang dibaca di dalamnya surah
al-Baqarah.‖ (HR. Muslim)

7. Memperbanyak dzikir kepada Allah, selalu membaca Al-


Qur`an, menekuni istighfar, membentengi diri dengan dzikir-
dzikir yang disyari'atkan.
8. Meminum air suci yang telah dibacakan doa di atasnya, mandi
dengannya, terutama air zamzam, ia adalah obat orang yang
sakit. Maka jika dibacakan atasnya, niscaya hal itu lebih utama
dan sangat diharapkan memperoleh kesembuhan, insya Allah.
9. Memakan minyak zaitun dan memakai minyaknya, berdasarkan
sabda Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam:

ٕ١ٜ‫ٕ َُبَازَن‬٠َ‫غذَس‬
َ َِٔٔ ُْٖ٘٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬,ٔ٘ٔ‫ِا ب‬ُٖٛٓٔ ٖ‫َاد‬ٚ َ‫ت‬ِٜٖ‫ِا ايص‬ًٛٝٝ‫ن‬

138 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
―Makanlah minyak zaitun dan pakailah minyaknya, maka
sesungguhnya ia berasal dari pohon yang penuh berkah.‖(HR. Bukhari
dan Muslim)

Demikian pula jintan hitam (habbah sauda) dan


minyaknya, dimakan darinya dan dioleskan dengan minyaknya,
berdasarkan sabda Nabi Shalallahu „Alaihi wa Sallam:

ّ‫ال ايطٖا‬٤ ‫إ‬٢ ٕ٤‫ دَا‬ٌٚٝ‫ْ َِٔٔ ن‬٤‫ا‬ٜ‫ٔ غٔؿ‬٤‫دَا‬ِٛ ٖ‫ ايط‬١ٖٔ‫شب‬


َ ‫ي‬ٞ‫ ا‬٢ٔ‫ؾ‬
―Dalam habbah sauda (jintan hitam) terdapat kesembuhan dari segala
penyakit kecuali mati.‖ (HR. Bukhari)

10. Minum madu, berbekam, hal itu berdasarkan sabda Nabi


Shalallahu „Alaihi wa Sallam :

ٞٔ‫َٖت‬ٝ‫ أ‬٢َِْٜٗ‫َْا أ‬ٜ‫َأ‬ٚ ,٣‫ٔ ٔبَٓاز‬١ٖٝ‫ن‬ٜ ِٚ‫أ‬ٜ ٣ٌَ‫ٔ َعط‬١َ‫ِ غَسِب‬ٚ‫أ‬ٜ ٣َِ‫شذ‬
ِ َٔ ٔ١ٜ‫ غَسِط‬٢ٔ‫ ؾ‬:ٕ١َ‫ث‬ٜ‫ ثَال‬٢ٔ‫ُ ؾ‬٤‫ا‬ٜ‫ؿ‬ٚ‫ايػ‬

ٜٚٞ‫ه‬ٞ‫ٔ اي‬٢ ‫َع‬


―Pengobatan dalam tiga perkara: pada torehan alat bekam, atau
minuman madu, atau besi yang dipanaskan dengan api, dan aku
melarang umatku dari besi yang dipanaskan.‖ (HR. Bukhari)

11. Memakan tujuh kurma 'ajwah di pagi hari, hal itu berdasarkan
sabda Rasulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam:

.ْ‫ضشِس‬
ٔ ٜ‫ال‬َٚ ُِٙ‫ ض‬٢َِّٛٝ‫ي‬ٞ‫و ا‬
ٜ ‫ ذٔي‬٢ٔ‫ ؾ‬ُٖٙ‫َطُس‬ٜ ِِٜ‫ ي‬٠َٟٛ‫ذ‬
ِ ‫ضبِ َع تََُسَاتٕ َع‬
َ ٣َِّٜٛ ٌٖٝ‫صبٖ َح ن‬
َ َ‫َ ِٔ ت‬

―Barangsiapa yang sarapan pagi –setiap hari- dengan tujuh kurma


'ajwah, niscaya racun dan sihir tidak bisa membahayakannya di hari itu.‖
(HR. Bukhari)

139 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
G. Ayat-Ayat dan Do’a Ruqyah

Berikut ini adalah ayat-ayat, dan do‘a yang dapat digunakan


untuk menolak, menghilangkan sihir, dan gangguan jin, diantaranya:

Ayat-ayat Al-Qur‘an

Surat Al-Fatihah.
Surat Al-Baqarah, khususnya ayat-ayat 1-5, 254-257 dan 284-
286.
Surat Al-Imran khususnya ayat 1-9 dan 18-19.
Surat An-Nisa khususnya ayat 115-121.
Surat Al-A‘raf khususnya ayat 54-55.
Surat Al-Mu‘minun khususnya ayat 115-118.
Surat Yasin khususnya ayat 1-12.
Surat As-Shaffat khususnya ayat 1-10.
Surat Ghafir khususnya ayat 1-3, dan masih banyak lagi ayat-ayat
lainnya.

Doa-doa dari hadist

‫ػادز‬ٜ ‫ ال‬٤‫ ال غايف إال أْت غؿا‬٢‫ايًِٗ زب ايٓاع اذٖب ايبأع اغـ أْت ايػاؾ‬

.‫ضكُا‬

―Ya Allah, Rabb bagi semua manusia, hilangkanlah rasa sakit,


berila kesembuhan, Engkau zat yang menyembuhkan tiada yang bisa
menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tiada menimbulkan
sakit sedikitpun.‖

‫و‬ٝ‫ػؿ‬ٜ ‫ عني ساضد اهلل‬ٚ‫َٔ غس نٌ ْؿظ أ‬ٚ ‫و‬ٜ‫ؤذ‬ٜ ٤ٞ‫و َٔ نٌ غ‬ٝ‫بطِ اهلل أزق‬

.‫و‬ٝ‫بطِ اهلل أزق‬

140 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
―Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari kejahatan setiap jiwa
atau pandangan orang yang dengki, Allah yang memberi kesembuhan
padamu, dengan nama Allah saya meruqyahmu.‖

‫ َٔ غس َا خًل‬١َ‫رى بهًُات اهلل ايتا‬ٝ‫أع‬

―Saya mohon untuk kamu perlindungan kepada Allah dengan


kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang
diciptakan.‖

.ًِٝ‫ع ايع‬ُٝ‫ ايط‬ٖٛٚ ٤‫ال يف ايطُا‬ٚ ‫ يف األزض‬٤ٞ‫طس َع امس٘ غ‬ٜ ‫ ال‬ٟ‫بطِ اهلل اير‬

―Dengan menyebut nama Allah yang dengan keagungan nama-


Nya itu menjadikan sesuatu tidak berbahaya baik yang ada di langit atau
di bumi, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.‖ (Dibaca 3x
pada pagi dan sore hari)

Dianjurkan pula untuk membaca Ayat Kursi, ketika hendak


tidur dan setelah shalat fardhu, disamping membaca surat Al-Falaq, Al-
Nas dan Al-Ikhlash setiap selesai melakukan shalat subuh dan shalat
maghrib serta menjelang tidur.

141 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB XII
AYAT DAN HADIST KESEHATAN

Al-Qur`an dan Hadist mencakup ilmu umat terdahulu dan umat


yang akan datang, termasuk ilmu kesehatan. Allah Subhanahu wa Ta‟ala
berfirman:

َ‫ُُطًُِٔٔني‬ًٞٔ‫ي‬٣َ‫َُبػِس‬ٚ ٟ١َُِ‫ َزس‬َٚ ٣ّ‫َُٖد‬ٚ ٕ٤َِٞ‫ٓ غ‬٢ٌٝ‫َاّْائه‬ِٝ‫ب ٔتب‬


َ ‫ ٔهتَا‬ٞ‫و اي‬
ٜ ًَِٜٝ‫يَٓا ع‬َٞٓ‫َْص‬ٚ

“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan


segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri.‖ (QS. An-Nahl: 89)
Berikut ini akan dicantumkan beberapa ayat dan hadist tentang
kesehatan, yaitu :
Budaya Bersih dan Suci

٢ٖ‫ ُٖٖٔ سَت‬ُٛ‫سَب‬ٞ‫ا تَك‬ٜ‫َي‬ٚ ٢‫ض‬ٝٔ‫ َُش‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫َ ؾ‬٤‫ٓطَا‬ٚ‫ا اي‬ٛٝ‫ي‬٢‫ا ِعتَص‬ٜ‫ ؾ‬٣ّ‫أذ‬ٜ َُٖٛ ٌِٝ‫ ق‬٢‫ض‬ٝٔ‫َُش‬ٞ‫ اي‬٢ٔ‫ َع‬ٜ‫َْو‬ٛٝ‫ي‬ٜ‫طِأ‬َٜٚ

ٗ‫ُشٔب‬َٜٚ َ‫ٖابٔني‬ٛ‫شٔبٗ ايٖت‬ُٜ َ٘٤ً‫ٕٖ اي‬٢‫ُ٘ إ‬٤ً‫ُِ اي‬ٝ‫أ َسَن‬ٜ ُ‫ح‬َِٝ‫ ُٖٖٔ َِٔٔ س‬ُٛ‫ت‬ٞ‫أ‬ٜ‫ٖٗسَِٕ ؾ‬ٜٛ ‫إذَا َت‬٢ٜ‫ُٗ سَِٕ ؾ‬ٛٞ َٜ

َٜٔ٢‫س‬ٜٚٗٛ ‫ َُُت‬ٞ‫اي‬

―“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu


adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka
suci. Apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah:
222)

Rapi dan tidak Berlebihan

142 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٗ‫ُشٔب‬ٜ ‫ا‬ٜ‫ُْٖ٘ ي‬٢‫ا إ‬ٛٝ‫ؾ‬٢‫ا ُتطِس‬ٜ‫َي‬ٚ ‫ا‬ُٛ‫َاغِسَب‬ٚ ‫ا‬ًٛٝٝ‫َن‬ٚ ‫طذٔ ٕد‬
ِ َ ٌٚٝ‫ِِ عِٔٓدَ ن‬ٝ‫َٓتَه‬ٜ٢‫ا ش‬ُٚ‫آدََّ خُر‬ٜ ٞٔٓ‫َا َب‬ٜ

َ‫ؾٔني‬٢‫ ُُطِس‬ٞ‫اي‬

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap


(memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.
Al-A’raf: 31)

Menjauhi Najis

‫ِ َدَّا‬ٚ‫أ‬ٜ ٟ١‫َت‬َِٝ َٕٛٝ‫َه‬ٜ ِٕٜ‫ا أ‬٤‫ي‬٢‫عَُُُ٘ إ‬ٛٞ َٜ ٣ِٔ‫اع‬ٜ‫ ط‬٢ًَٜ‫ٖ َُشَسَّٖا ع‬ٜٞ‫ي‬٢‫َ إ‬ٞٔ‫س‬ٚٝ‫ ََا أ‬ٞٔ‫أدٔدُ ؾ‬ٜ ‫ا‬ٜ‫ٌِ ي‬ٝ‫ق‬

٣‫ِسَ بَاؽ‬ٝ‫غ‬ٜ ٖ‫س‬ٝٛ‫ض‬


ِ ‫ ا‬٢َُٜٔ‫٘ٔ بٔ٘ٔ ؾ‬٤ً‫ اي‬٢‫ِس‬ٝ‫ٌٖٖٔ ٔي َػ‬ٝ‫ا أ‬ٟ‫ِ ٔؾطِك‬ٜٚ‫زدِظْ أ‬٢ ُْٖ٘٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬٣‫س‬ٜ٢‫يشَِِ ٔخِٓص‬ٜ ِٜٚ‫سّا أ‬ٛٝ‫َطِؿ‬

ِْٝٔ‫زْ زَس‬ٛٝ‫ؿ‬ٜ‫ غ‬ٜ‫ٕٖ زَٖبو‬٢‫إ‬ٜ‫ا عَإد ؾ‬ٜ‫َي‬ٚ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan


kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –
karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama
selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-An’am: 145)

Sehat Lahir dan Batin

ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫ٍُ ضَُٔ ِعتُ زَض‬ٛٝ‫َك‬ٜ ٣‫اٍَ ضَُٔ ِعتُ ايٗٓعَُِإَ ِبَٔ َبػٔري‬ٜ‫ ق‬٣‫َعِٔ عَأَس‬

َُِٜٔ‫ ؾ‬٢‫نجٔريْ َِٔٔ ايٖٓاع‬ٜ ‫ َُُٗا‬ًِٜ‫ع‬َٜ ‫ا‬ٜ‫ػٖبَٗاتْ ي‬


َ َُ ‫ََُُٓٗا‬َِٝ‫َب‬ٚ ْٔٚٝ‫يشَسَاُّ َب‬ٞ‫َا‬ٚ َْٔٝٚ‫اٍُ ب‬ًَٜ‫ش‬ٞ‫ٍُ اي‬ٛٝ‫َك‬ٜ َِ٤ًَ‫َض‬ٚ

٢َُٔ‫يش‬ٞ‫ٍَ ا‬ِٛ َ‫ س‬٢َ‫َ ِسع‬ٜ ٣‫سَاع‬ٜ‫ ايػُٗبَٗاتٔ ن‬ٞٔ‫عَ ؾ‬ٜ‫َق‬ٚ ََِٔٚ ٔ٘ٔ‫عٔسِض‬َٚ ٜٔ٘ٔٓٔ‫ئد‬ٜ‫ضَتبِسَأ‬
ِ ‫ ُُػَٖبَٗاتٔ ا‬ٞ‫ اي‬٢ٜ‫اتٖك‬

143 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٖٕ٢‫َإ‬ٚ ‫ا‬ٜ‫ي‬ٜ‫زَُُ٘ أ‬٢ ‫أزِضٔ٘ٔ َشَا‬ٜ ٞٔ‫٘ٔ ؾ‬٤ً‫ اي‬٢َُٔ‫ٕٖ س‬٢‫ا إ‬ٜ‫ي‬ٜ‫ أ‬٢ُّٔ‫ ًَٔوٕ س‬ٌٚٝ‫ٕٖئه‬٢‫َإ‬ٚ ‫ا‬ٜ‫ي‬ٜ‫َأقعَُ٘ أ‬ُٜٛ ِٕٜ‫ أ‬ٝ‫غٔو‬ُٜٛ

‫ا‬ٜ‫ي‬ٜ‫ُ٘ أ‬٥ًٝ‫ذطَدُ ن‬
َ ‫ي‬ٞ‫ؾطَدَ ا‬ٜ ِ‫طَدَت‬ٜ‫إذَا ؾ‬٢َٚ ُ٘٥ًٝ‫ذطَدُ ن‬
َ ‫ي‬ٞ‫حَ ا‬ًَٜ‫شَتِ ص‬ًَٜ‫إذَ ا ص‬٢ ٟ١َ‫طػ‬
ِ َُ ٔ‫ذطَد‬
َ ٞ‫ اي‬ٞٔ‫ؾ‬

ُ‫ب‬ًٜٞ‫ك‬ٞ‫ اي‬ٞ
َ َٖٔٚ

―Dari ‗Amir dari Abdullah bin Nu‘man bin Basyir r.a. beliau berkata:‖
Saya mendengar Rasulallah bersabda,‖ sesungguhnya yang halal itu jelas
dan yang haram jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang
subhat (samara-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka
siapa yang takut terhadap subhat berarti dia telah menyelamatkan
agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam
perkara subhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan.
Sebagaimana penggembala yang menggembala hewan gembalaannya di
sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia
akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan
larangan Allah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini
terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini
dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia
adalah hati.‖ (HR. Bukhari)

Memanfaatkan Kesehatan

٢ٕ‫ ضًِ “ْٔعَُِتَا‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ قاٍ ايٓيب ص‬:ٍ‫ اهلل عُٓٗا قا‬ٞ‫عٔ ابٔ عباع زض‬

”ُ‫سَاؽ‬ٜ‫ؿ‬ٞ‫َاي‬ٚ ٝ١ٖ‫صش‬
ٚ ‫ع اي‬
٢ ‫ِسْ َٔ َٔ ايٖٓا‬ٝ‫نٔج‬ٜ ‫َُا‬٢ِٗٝ‫ِ ْٕ ٔؾ‬ٛ‫َ ِػُب‬

―Dari Ibn ‗Abbas Radhiyallahu 'anhu beliau berkata: ―Nabi Muhammad


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda Dua kenikmatan yang dapat

144 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
memperdaya banyak manusia adalah sehat dan waktu luang.‖ (HR.
Bukhari)

َٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ٍُِ اهللٔ ص‬ُٛ‫أخَرَ زَض‬ٜ : ٍ‫ اهلل عُٓٗا قا‬ٞ‫عٔ عبد اهلل بٔ عُس زض‬

َ‫إَ اِبُٔ عَُُس‬ٜ‫َن‬ٚ . ) ٣ٌِٝ‫ ضَٔب‬٢‫ِ عَابٔس‬ٜٚ‫ِبْ أ‬ٜ٢‫س‬ٜ‫ غ‬ٜ‫ْٖو‬ٜ‫أ‬ٜ‫َا ن‬ِْٝٗ‫ ايد‬ٞٔ‫ِٔ ؾ‬ٝ‫اٍَ (ن‬ٜ‫ك‬ٜ‫ِ ؾ‬ٞٔ‫َِ بٔ َُِٓ ٔهب‬٤ًَ‫ض‬

َِٔٔ ِ‫خُر‬َٚ َ٤‫ َُطَا‬ٞ‫ اي‬٢‫ تََِٓتظٔس‬ٜ‫ال‬ٜ‫صَِبشِتَ ؾ‬ٜ‫إذَا أ‬٢َٚ َ‫صبَاح‬


ٖ ‫ اي‬٢‫ َتَِٓتظٔس‬ٜ‫ال‬ٜ‫تَ ؾ‬َِٝ‫َِط‬ٜ‫إذَا أ‬٢ ٍُِٛ ‫ك‬ٝ َٜ

ٜ‫ِتٔو‬َُٛ ٔ‫وي‬
ٜ ٔ‫َات‬َٝ‫َِٔٔ س‬َٚ ٜ‫ضو‬
َ ٢‫وئَُس‬
ٜ ‫شٔت‬
ٖ‫ص‬ٔ

―Dari Ibn Umar Radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah


Shalallahu „Alaihi wa Sallam . memegang kedua pundak saya seraya
bersabda: ―Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau
pengembara,‖ Ibnu Umar berkara: Jika kamu berada di sore hari jangan
tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore
hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan
kehidupanmu untuk kematianmu.‖(HR. Bukhari)

Mengkonsumsi Yang Halal dan Thayyib

َ٘٤ً‫ٕٖ اي‬٢‫َٗا ايٖٓاعُ إ‬ٜٜٗ‫ « أ‬: َِ٤ًَ‫َ ض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ٍُ اهللٔ ص‬ِٛ ُ‫اٍَ زَض‬ٜ‫اٍَ ق‬ٜ‫ ق‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

ٌُُ‫َٗٗا ايسٗض‬ٜ‫أ‬ٜ ‫َا‬ٜ ( ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫ُُسِضًَٔنيَ ؾ‬ٞ‫أ َسَ بٔ٘ٔ اي‬ٜ ‫ُُ ِؤَٔٓٔنيَ بَُٔا‬ٞ‫أ َسَ اي‬ٜ َ٘٤ً‫ٕٖ اي‬٢‫َإ‬ٚ ‫بّا‬ٚٝ‫ط‬ٜ ٤‫إال‬٢ ٌَُ‫كب‬ٞ َٜ ٜ‫بْ ال‬ٚٝ‫ط‬ٜ

‫ا‬ًٛٝٝ‫ا ن‬َُٛٓ‫َٔ آ‬ٜٔ‫ر‬٤‫َٗا اي‬ٜٜٗ‫َا أ‬ٜ( ٍَ‫ا‬ٜ‫َق‬ٚ )ًَِْٝٔ‫َٕ ع‬ًَُِٛٝ‫ بَُٔا َتع‬٢ْٚ٢‫ا صَأيشّا إ‬ًَُِٛٝ‫َاع‬ٚ ٔ‫بَات‬ٝٚ٤ٛ‫ا ََٔٔ اي‬ًٛٝٝ‫ن‬

٢ٜ‫ي‬٢‫ِ٘ٔ إ‬َٜ‫َد‬ٜ ٗ‫َُُد‬ٜ َ‫غبَس‬ٞ ‫أ‬ٜ َ‫غعَح‬


ِ ٜ‫سَ أ‬ٜ‫ٌُ ايطٖؿ‬ُٜٝٔٛ ٌَُ‫سَ اي ٖسد‬ٜ‫ ثُِٖ ذَن‬.» )ِِٝ‫قَٓان‬َٞ‫بَاتٔ ََا َزش‬ٝٚ‫ط‬ٜ َِٔٔ

145 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
٢ّ‫يشَسَا‬ٞ‫َ بٔا‬٣ٔ‫ر‬ٝ‫غ‬َٚ ّْ‫ًبَطُُ٘ سَسَا‬َٞ َٚ ّْ‫َػِسَبُُ٘ سَسَا‬َٚ ّْ‫عَُُُ٘ سَسَا‬ٛٞ َ َٚ ٚ‫َا َزب‬ٜ ٚ‫َا َزب‬ٜ ٔ٤‫ايطَُٖا‬

ٜ‫بئرَئو‬
ُ ‫طَتذَا‬
ِ ُٜ ٢ْٖٜ‫أ‬ٜ‫ؾ‬

―Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. dia berkata: Rasulallah


Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta‘ala itu baik,
tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah
memerintahkan kepada orang yang beriman sebagiamana Ia
memerintahkan kepada para Rasul-Nya dengan firman-Nya: ―Wahai
para Rasul makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada
kalian‖. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang yang melakukan
perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia menganngkatkan
tangannya ke langit seraya berkata: ―Ya Tuhanku, padahal makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya
dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya)
bagaimana doannya akan dikabulkan.‖ (HR. Muslim)

Anjuran Berobat

Dari Jabir bin ‗Abdullah radhiallahu ‗anhu, bahwa Rasulullah


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

ٌَٖ‫د‬َٚ ٖ‫ٕ اهللٔ عَص‬٢ ِ‫إذ‬٢ٔ‫ ب‬ٜ‫ بَسَأ‬،َ٤‫ُ ايدٖا‬٤‫َا‬ٚ‫ب اي ٖد‬


َ ‫صَا‬ٜ‫إذَا أ‬٢ٜ‫ ؾ‬،ْ٤‫َا‬ٚ‫ٕ َد‬٤‫ دَا‬ٌٚٝ‫ئه‬

―Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai


dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah
Subhanahu wa Ta‘ala.‖ (HR. Muslim)

―Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

146 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ّ٤‫ا‬ٜ‫ُ٘ غٔؿ‬ٜ‫ِْ َص ٍَ ي‬ٜ‫ال أ‬٤ ٢‫ إ‬٤ٕ‫ َِٔٔ دَا‬ٝ‫ِْ َصٍَ اهلل‬ٜ‫ََا أ‬

―Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan


menurunkan pula obatnya.‖‖ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Syarik Radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:

،ٔ‫ٍَِ اهلل‬ٛ‫ض‬
ُ َ‫َا ز‬ٜ :ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬،ُ‫ألعِسَاب‬ٜ ‫ا‬ٞ ٔ‫َت‬٤‫دَا‬َٚ ،َِ٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ ص‬ٚٞٔ‫نِٓتُ ٔعِٓدَ ايٖٓب‬ٝ

ُٜ٘‫َضَعَ ي‬ٚ ‫ال‬٤ ٢‫ّ إ‬٤‫َطَعِ دَا‬ٜ ِِٜ‫دٌَٖ ي‬َٚ ٖ‫ عَص‬ٜ‫ٕٖ اهلل‬٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬،‫ِا‬َٚٚ ‫ تَدَا‬،ٔ‫َا ٔعبَادَ اهلل‬ٜ َِِ‫ َْع‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫؟ ؾ‬٣َٚ‫َْتَدَا‬ٜ‫أ‬

َُّ‫يَٗس‬ٞ‫ ا‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫َ؟ ق‬ُٖٛ ‫ ََا‬:‫ا‬ٛٝ‫اي‬ٜ‫ ق‬.ٕ‫َاسٔد‬ٚ ٕ٤‫ِسَ دَا‬ٝ‫غ‬ٜ ّ٤‫ا‬ٜ‫غٔؿ‬

―Aku pernah berada di samping Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya,
―Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?‖ Beliau menjawab: ―Iya,
wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta‘ala
tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula
obatnya, kecuali satu penyakit.‖ Mereka bertanya: ―Penyakit apa itu?‖
Beliau menjawab: ―Penyakit tua.‖ (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Mas‘ud Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu


'Alaihi wa Sallam bersabda:

ًُٜ٘٢ٗ‫ُ٘ َِٔ َد‬ًٜ٢َٗ‫د‬َٚ ًََُُ٘ٔ‫ عًََُُٔ٘ َِٔ ع‬،ّ٤‫ا‬ٜ‫ُ٘ غٔؿ‬ٜ‫ِْ َص ٍَ ي‬ٜ‫ال أ‬٤ ٢‫ إ‬٤ّ ‫ٍِ دَا‬٢‫ِٓص‬َٜ ِِٜ‫هلل ي‬
ٜ ‫ٕٖ ا‬٢‫إ‬

―Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala tidaklah menurunkan


sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu
diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh
orang yang tidak bisa mengetahuinya.‖ (HR. Ahmad)

147 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
٣ّ‫ِا ٔبشَسَا‬َٚٚ ‫ تَدَا‬ٜ‫ال‬َٚ ‫ِا‬َٚٚ ‫ؾتَدَا‬ٜ ٤ّ ‫َا‬ٚ‫ٕ َد‬٤‫ دَا‬ٌٚٝ‫َدَعَ ٌَئه‬ٚ َ٤‫َا‬ٚ‫َاي ٖد‬ٚ َ٤‫ِْصٍََ ايدٖا‬ٜ‫هلل أ‬
ٜ ‫ٕٖ ا‬٢‫إ‬

―Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya,


demikian pula Allah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka
berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.‖ (HR.
Abu Dawud)

ٔ‫ِح‬ٝٔ‫دب‬
َ ‫ي‬ٞ‫ ا‬٤ٔ‫َا‬ٚ‫ اي ٖد‬٢ٔ‫َِ َع‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ٍُ اهللٔ ص‬ِٛ ُ‫ زَض‬٢ََْٗ

―Rasulullah Shallallahu ‗alaihi wa sallam melarang dari obat yang


buruk (haram).‖ (HR. Abu Dawud)

Tidak Berlebihan Dalam Makan

‫ٍُ « ََا‬ٛٝ‫َك‬ٜ -ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫اٍَ ضَُٔ ِعتُ زَض‬ٜ‫سبَ ق‬٢ ٜ‫ه‬ٜٔ‫ َعِد‬٢ٔ‫ ِب‬٢ّ‫دَا‬ٞ‫َعِٔ َٔك‬

ٜ١ٜ‫ َشَاي‬ٜ‫إَ ال‬ٜ‫ِٕ ن‬٢‫إ‬ٜ‫ًبَُ٘ ؾ‬ُٞ‫ُكٔ َُِٔ ص‬ٜ ْ‫ت‬ٜ‫ال‬ٝ‫ن‬ٝ‫ آدََّ أ‬٢ٔ‫شطِبٔ اِب‬
َ ‫ ٔب‬٣ٔٞٛ‫ّ غَس٘ا َِٔٔ َب‬٤‫عَا‬ٚ٢ ٙ٢َٔ‫ آ َد‬ٜ‫َأل‬

ٔ٘ٔ‫ؿط‬ٜ َٓ‫حٔي‬
ْ ًُٝ‫َث‬ٚ ٔ٘ٔ‫ًحْٔيػَسَاب‬ُٝ‫َث‬ٚ َٔ٘ٔ‫عَا‬ٜٛ‫حٔي‬
ْ ًُٝ‫ؾج‬ٜ

Dari Miqdam bin Ma‘dikariba berkata: Saya pernah mendengar


Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda ―tidak ada bejana yang
diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya
memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang
punggungnya (memberikan tenaga), jika tidak bisa demikian, maka
hendaklah ia memenuhi sepertiga lambungnya untuk makanan, sepertiga
untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas.‖ (HR. Tirmidzi)

Larangan Meniup Makanan atau Minuman

148 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
َ‫خ‬ٜ‫ِٓؿ‬ُٜ ِٜٚ‫ٔ أ‬٤‫َْا‬٢‫ اإل‬٢ٔ‫ظَ ؾ‬٤‫َُتَٓؿ‬ٜ ِٕٜ‫ أ‬٢ََْٗ -ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٖ٢ٔ‫ٕٖ ايٖٓب‬ٜ‫ أ‬٣‫ َعبٖاع‬٢ِٔ‫ اب‬٢ٔ‫َع‬

.ٔ٘ٝٔ‫ؾ‬

Dari Ibn ‗Abbas ―Bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam


Telah Melarang Bernafas Di Dalam Bejana Atau Melarang Untuk
Meniup Padanya.‖ (HR. Tirmidzi)

Penawar Racun

َ‫ع‬ٜ‫َق‬ٚ ‫إذَا‬٢« :ٍَ‫ا‬ٜ‫َِ ق‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫ٕٖ زَض‬ٜ‫ُ٘ َعُِٓ٘ أ‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫عَِٔ أ‬

ٞٔ‫َؾ‬ٚ ّ٤‫ا‬ٜ‫ِ٘ٔ غٔؿ‬ٝ‫أسَدٔ َدَٓا َس‬ٜ ٞٔ‫ٕٖ ؾ‬٢‫إ‬ٜ‫ َسسُِ٘ ؾ‬َٞٛٝ‫ُ٘ ثُِٖ ٔي‬٤ًٝ‫ػُِٔطُِ٘ ن‬ًَٜٝٞ‫ِِ ؾ‬ٝ‫أسَدٔن‬ٜ ٔ٤‫َْا‬٢‫ إ‬ٞٔ‫ايرٗبَابُ ؾ‬

ّ٤‫ دَا‬٢‫آخَس‬ٞ‫اي‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu beliau berkata bahwa


Rasulullah pernah bersabda: ―Apabila seekor lalat masuk ke dalam
minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, sebab pada salah
satu sayapnya terdapat penakit dan pada sayap lainnya ada obat
penawarnya, maka dari itu celupkan semuanya.‖ (HR. Abu Daud)

Bersih dan Berkah

٢َٓ‫ َست‬ٟ١ٜ‫صشِؿ‬
َ َ‫ع‬ٜ‫َسِؾ‬ٜ ‫ا‬ٜ‫َ ي‬ٚ ‫كَٗا‬ٜ ٔ‫ًع‬ُٜٞ ِٜٚ‫كَٗا أ‬ٜ َ‫ًع‬َٜٞ ٢َٓ‫ُ َست‬َٙ‫َد‬ٜ ِ‫َ ُِطَح‬ٜ ٜ‫ال‬ٜ‫ٓعَاَّ ؾ‬ٜٛ‫ُِ اي‬ٝ‫أسَدُن‬ٜ ٌَٜ‫ن‬ٜ‫إذَا أ‬٢

٠١ٜ‫ِ٘ٔ بَسَن‬ٝ‫ّ ٔؾ‬٢‫ٓعَا‬ٜٛ‫َٕٓ آخٔ َس اي‬٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬،‫َٗا‬ٜ‫ًعٔك‬ُٜٞ ِٜٚ‫كَٗا أ‬ٜ َ‫ًع‬َٜٞ

Dari Ibn ‗Abbas bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam bersabda: "Apabila salah seorang kamu makan makanan,
janganlah dia mengelap tangannya hingga menjilatinya atau meminta

149 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
orang menjilatinya. Dan janganlah dia mengangkat piringnya hingga
menjilatinya atau meminta orang untuk menjilatinya., karena pada
makanan terakhir terdapat barakah." (HR. Bukhari)

Cuci Tangan

ِِٜ‫َي‬ٚ ْ‫َُس‬ٝ‫ٔ غ‬ٙٔ‫َد‬ٜ ٞٔ‫َؾ‬ٚ َّ‫ َِٔ َْا‬: ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫اٍَ ق‬ٜ‫ ق‬ٜ٠‫ِ َس‬َٜ‫ ُٖس‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

َُ٘‫ؿط‬ٞ َْ ‫ال‬٤ ٢‫ َ ٖٔ إ‬ًَٜٛٝ ٜ‫ال‬ٜ‫ ؾ‬٤ْ َِٞ‫صَابَُ٘ غ‬ٜ‫أ‬ٜ‫ ُ٘ ؾ‬ًٞٔ‫ػِط‬َٜ

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam bersabda: ―Barangsiapa tertidur dan ditangannya terdapat lemak
(kotoran bekas makan) dan dia belum mencucinya lalu dia tertimpa oleh
sesuatu, maka janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.‖ (HR.
Abu Daud)

Bersuci Bagian Dari Iman

‫ٍ اهلل‬ٛ‫اٍَ زض‬ٜ‫ ق‬، ٍَ‫ا‬ٜ‫ اهلل عٓ٘ ق‬ٞ‫ زض‬٣٢‫غعَس‬


ِ ‫أل‬ٜ ‫خ بٔ عاصِٔ ا‬٢‫يشَاز‬ٞ‫ َائؤ ا‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

َٕ‫ضِبشَا‬
ُ َٚ ٢ٕ‫ِصَا‬ُٝٔٞ‫ اي‬ٝ‫يشَُِدُ هللٔ تَُِأل‬ٞ‫َ ا‬ٚ ،٢ٕ‫َُِا‬ٜ٢‫سُ اإل‬ٞٛ‫غ‬
َ ُ‫ز‬ِٛ ُٗٛ٤ ‫ اي‬: ًِ‫ ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬

ٝ١ٜ‫َ ايصٖدَق‬ٚ ،ْ‫ز‬ِٛ ُْ ٝ٠‫ال‬


ٜ ٖ‫َ ايص‬ٚ ،٢‫ ِزض‬ٜ‫َ األ‬ٚ ٔ‫َات‬َُٛ ٖ‫َٔ ايط‬َِٝ‫ِ تَُِأل ََا ب‬ٚ‫أ‬ٜ ٢ٕ‫يشَُِدُ هللٔ تَُِآل‬ٞ‫َ ا‬ٚ ٝ‫اهلل‬

َُ٘‫ؿط‬ٞ َْ ُ‫ٔع‬٥‫ؾَبا‬ٜ ،ِٚ‫ػِ ُد‬َٜ ٢‫ٌٗ ايٖٓاع‬ٝ‫ ن‬،ٜ‫و‬ًَِٜٝ‫ِ ع‬ٜٚ‫ أ‬ٜ‫و‬ٜ‫ ي‬٠١ٖ‫سِإُٓ ُسذ‬ٝ‫ك‬ٞ‫َ اي‬ٚ ،ْ٤‫َا‬ٝ‫ض‬
ٔ ُ‫صبِس‬
ٖ ‫َ اي‬ٚ ،ْٕ‫بُسَِٖا‬

. ‫كَٗا‬ٜ ٔ‫ِب‬َُٛ ِٜٚ‫كَٗا أ‬ٜ ٔ‫ ُُ ِعت‬ٜ‫ؾ‬

Dari Abi Malik Al Haritsi bin Ashim Al ‗Asy‘ari Radhiyallahu


'anhu telah berkata, bersabda Rosulullah Shalallahu „Alaihi wa Sallam:
Kebersihan itu sebagian dari iman, Alhamdulillah memenuhi

150 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
(memberatkan) timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah keduanya
memenuhi ruang yang ada di langit dan bumi. Shalat itu adalah nur,
shodaqoh itu adalah dalil dan sabar itu adalah cahaya serta Al Qur‘an itu
hujjah (bukti) untuk membelamu atau menentangmu. Setiap manusia
adalah bekerja, maka ada yang menjual dirinya, untuk menyelamatkan
dirinya atau mencelakakannya.‖ (HR. Muslim)

Bersiwak

‫ا‬ٜ‫ِي‬ٛ‫ي‬ٜ { : ٍَ‫ا‬ٜ‫ُْٖ٘ ق‬ٜ‫َِ أ‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ اي‬٢ٍُٛ‫ُ٘ َعُِٓ٘ عَِٔ زَض‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬ٜ٠‫ِ َس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

ٗٞٔ٥‫َايٖٓطَا‬ٚ ُ‫أسَُِد‬َٜٚ ٠‫أخِ َسدَُ٘ َأيو‬ٜ } ٕ٤ُٛ‫ُض‬ٚ ٌٚٝ‫َاىٔ َعَ ن‬ٛ‫ط‬


ٚ ‫أ َسُِتُِِٗ بٔاي‬ٜ ٜ‫ ي‬ٞٔ‫أَٖت‬ٝ ٢ًَٜ‫أغُلٖ ع‬ٜ ِٕٜ‫أ‬

.ٜ١ََُِٜ‫َصَشٖشَ ُ٘ ابُِٔ خُص‬ٚ .

―Dari Zaid bin Khalid al-Juhanni, beliau berkata ―saya


mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. berkata: ―Jika saja
tidak memberatkan umatku maka sungguh akan ku perintah mereka
untuk bersyiwak setiap akan mendirikan shalat.‖(HR. Ahmad)

Memelihara Kesucian

ٜ‫َضٖأ‬ٛ‫ إذَا َت‬: ٍ‫ضًِ قا‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫٘ٔ ص‬٤ً‫ ٍَ اي‬ُٛ‫ٕٖ زَض‬ٜ‫ أ‬: ٘ٓ‫ اهلل ع‬ٞ‫ زض‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َع ِٔ أ‬

ٜ‫ظ‬ٜ‫ِك‬ٝ‫ضَت‬
ِ ‫إذَا ا‬٢َٚ , ِ‫تٔس‬ًُٜٛٝٞ‫ضَتذَُِسَ ؾ‬
ِ ‫ َِٔ ا‬َٚ , ِ‫َِٓتجٔس‬َٝ‫ ثُِٖ ٔي‬, ّ٤‫ِْؿٔ٘ٔ ََا‬ٜ‫ أ‬ٞٔ‫ذعٌَِ ؾ‬
ِ ًَٜٝٞ‫ِِ ؾ‬ٝ‫أسَدُن‬ٜ

ٟ٢‫َ ِدز‬ٜ ‫ ِِ ال‬ٝ‫أسَدَن‬ٜ ٖٕ٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬، ٟ‫ٔ ثَالثا‬٤‫َْا‬٢‫ اإل‬ٞٔ‫ًَُُٗا ؾ‬ٜٔ‫ُ ِدخ‬ٜ ِٕٜ‫قبٌَِ أ‬ٜ َِٜٔ٘‫َد‬ٜ ٌِٔ‫ ِػط‬ًَٜٝٞ‫َٔ٘ٔ ؾ‬ِٛ َْ َِٔٔ ِِٝ‫ سَدُن‬ٜ‫أ‬

.ُُٙ‫َد‬ٜ ِ‫َٔ بَاَتت‬ِٜٜ‫أ‬

151 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah
Shalallahu „Alaihi wa Sallam bersabda; Apabila seseorang dari kalian
berwudlu, hendaklah memasukkan air ke dalam hidungnya, kemudian
menyemburkannya. Dan barangsiapa beristijmar, hendaklah
mengganjilkan. Dan jika seseorang dari kalian bangun dari tidurnya
maka hendaklah mencuci kedua (telapak) tangannya sebelum
memasukkannya ke dalam bejana, tiga kali, maka sesungguh-nya
seseorang dari kalian tidak mengetahui ke mana tangannya bermalam.‖
(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

َِٔ٘ٔٛ َْ ِٔ َٔ ِِٝ‫أسَدُن‬ٜ ‫ظ‬


ٜ ٜ‫ِك‬ٝ‫ضَت‬
ِ ‫إذَا ا‬٢ « ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬-ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- َٓ٢ٔ‫ َٕٓ ايَٓب‬ٜ‫ أ‬٠َٜ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫َع ِٔ أ‬

ُُٙ‫َد‬ٜ ِ‫َِٔ بَاَتت‬ٜٜ‫ أ‬٣٢‫َ ِدز‬ٜ ٜ‫َُْٓ٘ ال‬٢‫إ‬ٜ‫ثّا ؾ‬ٜ‫َٗا ثَال‬ًٜٔ‫ ِػط‬َٜ ٢َٓ‫ٔ َست‬٤‫َْا‬٢‫ اإل‬٢ٔ‫ ؾ‬َُٙ‫َد‬ٜ ِ‫ػُِٔظ‬َٜ ٜ‫ال‬ٜ‫ؾ‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi


Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: ―Jika salah seorang
diantara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia membenamkan
tangannya ke dalam bejana sehingga ia mencucinya tiga kali, karena ia
tidak tahu dimanakah tangannya waktu tidur itu berada.‖ (HR.
Muslim)

Membiasakan Mandi

ٞٔ‫ػَِتطٌَٔ ؾ‬َٜ ِٕٜ‫ أ‬٣ًِِٔ‫ َُط‬ٌٚٝ‫ ن‬٢ًَٜ‫ ع‬ٙ‫ سَل‬-ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٚ٢ٔ‫ ايٖٓب‬٢َٔ‫ ع‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫عَِٔ أ‬

َُٙ‫ َدطَد‬َٚ َُ٘‫ض‬ٞ‫٘ٔ زَأ‬ٝٔ‫ ِػطٔ ٌُ ؾ‬َٜ ‫َّا‬ِٛ َٜ ٣ّ‫ٖا‬ٜٜ‫ أ‬١َٔ‫ضِبع‬


َ ٌٚٝ‫ن‬

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: ―Haknya Allah atas setiap


muslim adalah mandi di setiap tujuh hari, yaitu memandikan kepala dan
jasadnya.‖ (HR. Muslim)

152 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Menjaga Fitrah

ُ‫َْتِـ‬ٚ ٢‫از‬ٜ‫ؿ‬ٞ‫ظ‬ٜ‫أ‬ٞ‫ُِِ اي‬ًٝٔٞ‫َتَك‬ٚ ُ‫ضٔتشِدَاد‬


ِ ٔ‫ا‬ٞ‫َاي‬ٚ ُٕ‫دتَا‬
ٔ ‫ي‬ٞ‫ٔ ) ا‬٠‫ َس‬ٞٛ‫ٔؿ‬ٞ‫ِ خَُِظْ ََٔٔ اي‬ٜٚ‫ خَُِظْ ( أ‬ٝ٠‫ َس‬ٞٛ‫ٔؿ‬ٞ‫اي‬

ٔ‫ب‬٢‫ص ايػٖاز‬
ٗ ٜ‫َق‬ٚ ٔ‫بِط‬٢‫إ‬ٞ‫اي‬

―Fithrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan,


memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.‖ (HR.
Bukhari)

1. Khitan

ِٔٔ‫َاخَِتت‬ٚ ٢‫س‬ٞ‫ؿ‬ٝ‫ه‬ٞ‫غعِ َس اي‬


َ ٜ‫ َعِٓو‬٢‫ل‬ٞ‫ي‬ٜ‫أ‬

―Buanglah darimu rambut kekufuran, dan berkhitanlah.‖ (HR.


Ahmad)

2. Mencukur Bulu Kemaluan

َ‫نجَس‬ٞ ٜ‫ أ‬ٜ‫ا َْتِسُى‬ٜ‫ِٕ ي‬ٜ‫ٔ أ‬١َْ‫يعَا‬ٞ‫ ا‬٢‫ل‬ًَٞ‫س‬َٚ ٔ‫بِط‬٢‫إ‬ٞ‫َْتِـٔ اي‬ٚ ٢‫از‬ٜ‫ظؿ‬ٜ‫أ‬ٞ‫ اي‬٢ًِِٝٔٞ‫َتَك‬ٚ ٔ‫زب‬٢ ‫ ايػٖا‬ٚ‫ص‬ٜ‫ِ ق‬ٞٔ‫يَٓا ؾ‬ٜ َ‫ت‬٤‫َق‬ٚ

ٟ١ًِٜٝ‫ي‬ٜ َٔ ِٝ‫أزَِبٔع‬ٜ ِٔ َٔ

―Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam telah menetapkan waktu bagi


kami dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak,
dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar kami tak membiarkannya lebih
dari 40 malam.‖ (HR. Muslim)

3. Memotong Kuku

153 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kebiasaan memanjangkan kuku banyak dilakukan oleh orang-
orang kafir dan fasik serta menyalahi sunnah Rasulullah.

ََُِِِٗٓٔٛ ُٜٗ‫ِّٕؾ‬ٛ‫ك‬ٜ ٔ‫ػبٖ٘ َب‬


َ ‫َ ِٔ َت‬

―Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk


kaum tersebut.‖ (HR. Abu Dawud)

4. Mencabut Bulu Ketiak

Nabi sangat menjaga kebersihan badan terutama dari bau yang


menyebabkan terganggunya orang lain, salah satu sumber bau badan
adalah ketiak, mencabut bulu ketiak merupakan upaya untuk menjaga
tubuh senantiasa bersih.

َُِ٘ٓٔ ٣ٖ‫ذ‬ٜ‫َتَأ‬ٜ ‫ َُٖٔا‬٣ٖ‫أذ‬ٜ َ‫ ت‬ٜ١ٜ‫ٔه‬٥‫ا‬ًَُٜٞ‫ٕٖ اي‬٢‫إ‬ٜ‫طذٔدََْا ؾ‬


ِ َ َٖٔ‫سَب‬ٞ‫َك‬ٜ ‫ا‬ًٜٜ‫ٔ ؾ‬١َٓٔ‫ ُُِٓت‬ٞ‫ٔ اي‬٠َ‫ػذَس‬
ٖ ‫ٔ اي‬ٙٔ‫ٌَ َِٔٔ َٖر‬ٜ‫ن‬ٜ‫َِٔ أ‬

ُ‫ِْظ‬٢‫إ‬ٞ‫اي‬

―Barang siapa yang memakan pohon (tanaman) yang busuk ini,


maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena malaikat terganggu
oleh sesuatu yang mengganggu manusia.‖ (HR. Muslim)

5. Mencukur Kumis

٢َ‫ِا ا ِّيًش‬ٛ‫ؿ‬ٝ ِ‫أع‬َٞٚ َ‫ب‬٢‫َاز‬ٛ‫ػ‬


ٖ ‫ِا اي‬ٛ‫ؿ‬ٝ ِ‫أس‬ٝ

―Cukurlah kumis, dan panjangkan jenggot.‖ (HR. Bukhari)

Larangan Kencing Pada Air Tenang

154 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٔ‫ ايسٖانٔد‬٤ٔ‫َُا‬ٞ‫ اي‬٢ٔ‫ٍ ؾ‬٢ ِٛ َ‫يب‬ٞ‫ٔ ا‬٢ ‫ َع‬٢ََْٗ ُ٘ ْٖٜ‫ أ‬-ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍ اي‬٢ ُٛ‫ َعِٔ زَض‬٣‫َعِٔ دَابٔس‬

Dari Jubair Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam, sesungguhnya Nabi melarang kencing di air yang tidak
mengalir.‖ (HR. an-Nasa’i).

Sehat Lahir dan Batin

ٔ٠ٜ‫ ايصٖال‬٢ٔ‫نبٖسَ ؾ‬ٜ ‫إذَا‬٢ : ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫إَ زَض‬ٜ‫اٍَ ن‬ٜ‫ ق‬ٜ٠‫ِ َس‬َٜ‫ ُٖس‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

٢‫هبٔري‬ٞ ٖ‫َِٔ ايت‬ٝ‫ َب‬ٜ‫َتو‬ٛٝ‫تَ ضُه‬ِٜٜ‫أزَأ‬ٜ ٢َٚ‫أ‬َٝٚ َ‫ِْت‬ٜ‫ أ‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫ُ٘ بٔأ‬ٜ‫ًتُ ي‬ٞٝ‫ك‬ٜ‫ٔ ؾ‬٠٤َ ‫كٔسَا‬ٞ‫َاي‬ٚ ٢‫هبٔري‬ٞ ٖ‫َِٔ ايت‬ٝ‫هتَ َب‬ٜ َ‫ض‬

ََِٔٝ‫َُا بَاعَدِتَ ب‬ٜ‫َ ن‬٣‫َا‬ٜ‫ا‬ٜٛ‫َٔ َخ‬ِٝ‫ََب‬ٚ ٢ِٔٓٝ‫ًُِٖٗ بَاعٔدِ َب‬٤‫اٍَ « اي‬ٜ‫ ق‬.ٍُٛٝ‫ ََا تَك‬٢ِْٔ‫أ ِخبٔس‬ٜ ٔ٠٤َ ‫كٔسَا‬ٞ‫َاي‬ٚ

٢ًٔٓٞٔ‫غط‬ٞ ‫ًُِٖٗ ا‬٤‫ اي‬٢‫ ََٔٔ ايدَْٖظ‬٢‫َض‬ِٝ‫ب‬ٜ‫بٔ األ‬ِٛ ٖ‫نايج‬ٜ َ٣‫َا‬ٜ‫ا‬ٜٛ‫ َِٔٔ َخ‬٢ٔٓ‫ِْٔك‬ٜ‫ًُِٖٗ أ‬٤‫بٔ اي‬٢‫ َُػِس‬ٞ‫َاي‬ٚ ٢‫م‬٢‫ َُػِس‬ٞ‫اي‬

»ٔ‫يبَسَد‬ٞ‫َا‬ٚ ٔ٤‫َُا‬ٞ‫َاي‬ٚ ٢‫ر‬ًٖٞ‫ٔبايج‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika Rasulullah


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam takbiratul ikhram maka setelahnya beliau
diam, yakni di antara takbir dan membaca al-Fatikhah. Kemudian aku
bertanya kepadanya. Demi bapakku, anda, dan ibuku,kenapa engkau
diam di antara takbir dan bacaan al-fatikhah? Beritahu kepadaku apa
yang engkau baca? Beliau menjawab: ―Ya Allah, jauhkanlah diriki dari
kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan timur
dari Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku
seperti kain putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah diriku
dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.‖ (HR. Abu
dawud)

155 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Kuat Fisik dan Mental

ٗ‫أسَب‬َٜٚ ْ‫ِس‬ٝ‫ٗ َخ‬٣٢ٛ‫ك‬ٜ ٞ‫ ُُ ِؤَُٔٔ اي‬ٞ‫ضًِ اي‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫اٍَ ق‬ٜ‫ ق‬ٜ٠َ‫ِس‬َٜ‫ ُٖس‬٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

ٜ‫َال‬ٚ ٔ٘٤ً‫ضَتعِٔٔ بٔاي‬


ِ ‫َا‬ٚ ٜ‫ؿ ُعو‬ٜ َِٜٓ ‫ ََا‬٢ًَٜ‫صِ ع‬٢‫ِسْ اسِس‬ٝ‫ٌٍّ َخ‬ٝ‫ ن‬٢ٔ‫َؾ‬ٚ ٔ‫ـ‬ٝٔ‫طع‬
ٖ ‫ اي‬٢َِٔٔ‫ ُُؤ‬ٞ‫٘ٔ ََٔٔ اي‬٤ً‫ اي‬٢ٜ‫ي‬٢‫إ‬

ٔ٘٤ً‫ َدزُ اي‬ٜ‫ٌِ ق‬ٝ‫ ٔهِٔ ق‬ٜ‫َي‬ٚ .‫رَا‬ٜ‫َن‬ٚ ‫رَا‬ٜ‫إَ ن‬ٜ‫ًتُ ن‬َٞ‫ؾع‬ٜ ٢ْٜٚ‫ِ أ‬ٛ‫ي‬ٜ ٌِٝ‫ تَك‬ٜ‫ال‬ٜ‫ْ ؾ‬٤ِ٢َ‫ غ‬ٜ‫صَاَبو‬ٜ‫ ِٕ أ‬٢‫َإ‬ٚ ِ‫َت ِعذٔص‬

٢ٕ‫ا‬ِٜٖٛٝ‫ؿتَحُ عََُ ٌَ ايػ‬ٞ َ‫ ت‬ِٛ ٜ‫ ٖٕ ي‬٢‫إ‬ٜ‫ؾعَ ٌَ ؾ‬ٜ ٤َ ‫ََا غَا‬َٚ

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam berabda: ―Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh
Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang
mukmin) itu ada kebaikan, maka berkeinginanlah (optimis) kepada apa-
apa yang memberi manfaat dan minta tolonglah kepada Allah dan
jangan merasa lemah, dan jika engkau tertimpa musibah janganlah
berkata ―seandainya saya berbuat seperti ini seperti ini seperti ini, tapi
katakan ketetapan Allah, apa yang Dia kehendaki maka Dia kerjakan,
karena perkataanmu tadi kamu telah membuka pintu untuk perbuatan
syaitan.‖ (HR. Muslim)

Olah Raga Yang Bermanfaat

٢ٌُ‫بُ اي ٖسد‬ِٜٔ‫د‬ٞ‫َتَأ‬ٚ َُ٘‫ت‬ٜ‫ اَِسَأ‬٢ٌُ‫ ايسٖد‬١ٝ َ‫ال َعب‬


ٜ َُ ْ‫أزِبَع‬ٜ ‫ال‬٤ ٢‫ب إ‬
ْ ٔ‫يع‬َٜٚ ِْٛٗ‫ي‬ٜ َُٛٗ‫ؾ‬ٜ ٔ‫سُ اهلل‬ٞ‫ِ٘ٔ ذٔن‬ٝ‫ظ ٔؾ‬
َ ِٝ‫ي‬ِٜٕ٧َ‫ٌٗ غ‬ٝ‫ن‬

٢٥‫ ايٓطا‬ٙ‫ا‬ٚ‫ ز‬ٜ١َ‫طبَاس‬


ٚ ‫ٌ اي‬٢ ُ‫ِ ُِ اي ٖسد‬ًِٝٔ‫َتَع‬ٚ ٢ِٔٝ‫ض‬
َ ِ‫يػَس‬ٞ‫ َٔ ا‬ِٝ‫ُُ٘ َب‬ٝ‫ػ‬
ِ ََٚ َُ٘‫سَض‬ٜ‫ؾ‬

―Setiap sesuatu yang bukan termasuk dzikir kepada Allah adalah


Lahw dan La‘b kecuali pada empat hal, yaitu bermainnya sang suami
dengan istrinya, pengajarannya seseorang terhadap kudanya, larinya

156 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
seseorang di antara dua garis (start dan finish) dan seoranng yang
mempelajari renang.‖ (HR. Nasa’i)

Berenang dan Memanah

ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ٍ اهلل ص‬ٛ‫ قاٍ زض‬: ٍ‫ قا‬، ٟ‫ع األْصاز‬ٝ‫عٔ بهس بٔ عبد اهلل بٔ زب‬

‫ذَا‬٢‫َإ‬ٚ ،٢ٍ‫ِٔتَٗا أملػِص‬ٝ‫ َب‬ٞٔ‫ٔ ؾ‬١ََٓٔ‫مل ِؤ‬ٝ ‫ُ ا‬ِٛٗ‫ي‬ٜ َِِ‫َْٔع‬ٚ ،ٜ١َٜ‫س َا‬ٚ ‫َاي‬ٚ ٜ١َ‫طبَاس‬
ٚ ‫ِِ اي‬ٝ‫َن‬٤‫بَِٓا‬ٜ‫ا أ‬ًَُُِّٛ‫ ع‬: ًِ‫ض‬ٚ

ٜ‫أَٖو‬ٝ ‫ب‬
ِ ٔ‫د‬ٜ‫أ‬ٜ‫ى ؾ‬ٜ ‫َا‬ٛ‫َب‬ٜ‫ى أ‬ٜ ‫َدعَا‬

―Dari Bakar bin Abdillah bin Rabi‘ al-anshari berkata :berkata


Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, ―Ajarilah anak anakmu berenang
dan melempar lembing, termasuk juga perempuan perempuan di
rumahnya menenun, dan apabila kedua orangtuamu memanggil maka
utamakan ibumu.‖ (HR. Ibn Mandah)

ٖٕ٢‫ « إ‬: ٍُٛٝ‫َك‬ٜ -ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫اٍَ ضَُٔ ِعتُ زَض‬ٜ‫ ق‬٣‫ عَأَس‬٢ٔ‫ ِب‬ٜ١َ‫كب‬ٞ ُ‫َعِٔ ع‬

ٔ٘ٔ‫ صَِٓ َعت‬٢ٔ‫طبُ ؾ‬


ٔ َ‫شت‬
ِ َٜ َُ٘‫ صَأْع‬: ٜ١ٖٓ‫ذ‬
َ ‫ي‬ٞ‫ ا‬٣‫س‬ٜ‫ َْؿ‬ٜ١َ‫ث‬ٜ‫َاسٔدٔ ثَال‬ٛ‫ي‬ٞ‫ ا‬٢ِِٗ‫ط‬
ٖ ‫ُ ِدخٌُٔ بٔاي‬ٜ ٌَٖ‫د‬َٚ ٖ‫٘ عَص‬٤ً‫اي‬

ََٔٔ َ‫ِظ‬ٝ‫ي‬ٜ ‫ا‬ُٛ‫نب‬ٜ ِ‫ِٕ تَس‬ٜ‫ٖ َِٔٔ أ‬٢ٜ‫ي‬٢‫سَبٗ إ‬ٜ‫ا أ‬َُٛ‫ِٕ تَ ِس‬ٜ‫َأ‬ٚ ‫ا‬ُٛ‫ب‬ٜ‫َازِن‬ٚ ‫ا‬َُٛ‫َا ِز‬ٚ ًُٜ٘ٔ‫َُِٓب‬َٚ ٔ٘ٔ‫َ ب‬٢َٔ‫َايسٖا‬ٚ َ‫ِس‬ٝ‫د‬
َ ‫ي‬ٞ‫ا‬

ٜ‫ََِٔ تَسَى‬ٚ ًِٔ٘ٔ‫َْب‬ٚ ٔ٘ٔ‫ِض‬ٛ‫ك‬ٜ ٔ‫ُُ٘ ب‬َِٝ‫َ َز‬ٚ ًُِٜٖٜ٘‫العََبتُُ٘ أ‬


ٜ ََُٚ َُ٘‫سَض‬ٜ‫ ؾ‬٢ٌُ‫بُ ايسٖد‬ٜٔ‫د‬ٞ‫ تَأ‬: ْ‫خ‬ٜ‫ ثَال‬٤‫ال‬٢‫ إ‬٢ًِٛٗ٤‫اي‬

».‫سََٖا‬ٜ‫ؿ‬ٜ‫ « ن‬: ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬ِٚ ‫أ‬ٜ .» ‫نَٗا‬ٜ َ‫ تَس‬١٠ َُِ‫َْٖٗأْع‬٢‫إ‬ٜ‫ َعُِٓ٘ ؾ‬ٟ١َ‫غب‬ٞ ‫َ َبعِدَ ََا عًََُُٔ٘ َز‬٢َِ‫اي ٖس‬

―Dari ‗Uqbah bin ‗Amr berkata: ―Saya mendengar Rasulullah


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda ‗Sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala akan memasukan tiga kelompok ke dalam Sorga karena sebab
panah satu, yaitu pembuat panah yang mengharapkan kebaikan dari

157 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
panah buatannya, pemanah dan pelontar anak panah, maka
memanahlah dan naikilah (kuda) kalian semuanya, adapaun memanah
lebih aku sukai dari pada naik kuda. Bukanlah suatu lahw kecuali pada
tiga hal; Seorang yang mengajari kudanya, permainannya terhadap
istrinya dan permainan busur dan anak panahnya, barang siapa
meninggalkan olahraga panah setelah mempelajarinya karena benci
maka (ketahuilah) bahwa sesungguhnya ia adalah suatu nikmat yang
telah dia tinggalkan‘ atau Nabi berkata ‗yang telah ia kufuri.‖ (HR. Abu
Daud)

Mengkonsumsi Obat Herbal

َُٙ‫ؾعَاد‬ٜ ْ‫ض‬ٜ٢‫َ َس‬َُٖٛٚ ٜ١َٜٓٔ‫َُد‬ٞ‫ ٔدََِٓا اي‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬٢‫ل‬ٜ٢‫ٓس‬ٜٛ‫ اي‬ٞٔ‫ضَ ؾ‬٢‫َُس‬ٜ‫ِبذَسَ ؾ‬ٜ‫ائبُ بُِٔ أ‬ٜ‫َ َعَٓا غ‬َٚ ‫خَ َس ِدَٓا‬

‫ضِبعّا‬
َ ِٜٚ‫ا ََِٔٓٗا خَ ُِطّا أ‬ُٚ‫ؾدُر‬ٜ ٔ٤‫دَا‬ِٛ َ‫ط‬
ٓ ‫ٔ اي‬١َ‫ب‬ِٝ‫شَب‬
ُ ٞ‫ٔ اي‬ٙٔ‫ِِ ٔبَٗر‬ٝ‫ِه‬ًَٜٝ‫يَٓا ع‬ٜ ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬٣‫ل‬ٝٔ‫ َعت‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫اِبُٔ أ‬

ٔ‫ذَأْب‬ٞ‫ َٖرَا اي‬ٞٔ‫َؾ‬ٚ ٔ‫يذَأْب‬ٞ‫ َٖرَا ا‬ٞٔ‫تٕ ؾ‬َِٜ‫سَاتٔ ش‬ٜٛ‫ك‬ٜ ٔ‫ِْؿٔ٘ٔ ب‬ٜ‫ أ‬ٞٔ‫َٖا ؾ‬ُٚ‫س‬ٝٛ‫ق‬ٞ‫َٖا ثَُِٓ ا‬ٛٝ‫ضشَك‬
ِ ‫ا‬ٜ‫ؾ‬

ٜ١َٓ‫شب‬
َ ٞ‫ٔ اي‬ٙٔ‫َٕٓ َٖر‬٢‫ٍُ إ‬ٛٝ‫َك‬ٜ ًََِٜٓ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُٓ٘ ع‬ًٜ‫ اي‬٢ًَٜٓ‫َٓ ص‬ٞٔ‫ََْٓٗا ضَُٔ َعتِ ايَٓب‬ٜ‫ أ‬ٞٔٓ‫ سَدَٓثَِت‬ٜ١َ‫ػ‬٥ٔ‫َٕٓ َعا‬٢‫إ‬ٜ‫ؾ‬

ُ‫ِت‬َُٛ ٞ‫ا ٍَ اي‬ٜ‫ََا ايطَٓاُّ ق‬َٚ ُ‫ًت‬ٞٝ‫ّ ق‬٢‫ٓا َٔ ِٔ ايطَٓا‬ٜ‫ي‬٢‫ إ‬٤ٕ‫ٓ دَا‬٢ٌٝ‫ْ َٔ ِٔ ن‬٤‫ا‬ٜ‫َ غٔؿ‬٤‫دَا‬ِٛ َ‫ط‬
ٓ ‫اي‬

―Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Syaibah


telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah telah menceritakan kepada
kami Isra`il dari Manshur dari Khalid bin Sa'd dia berkata; Kami pernah
bepergian yang di antaranya terdapat Ghalib bin Abjar, di tengah jalan ia
jatuh sakit, ketika sampai di Madinah ia masih menderita sakit, lalu Ibnu
Abu 'Atiq menjenguknya dan berkata kepada kami; Hendaknya kalian
memberinya habbatus sauda' (jintan hitam), ambillah lima atau tujuh
biji, lalu tumbuklah hingga halus, setelah itu teteskanlah di hidungnya di

158 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
sertai dengan tetesan minyak sebelah sini dan sebelah sini, karena
sesungguhnya Aisyah pernah menceritakan kepadaku bahwa dia
mendengar Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya
habbatus sauda' ini adalah obat dari segala macam penyakit kecuali
saam. Aku bertanya; Apakah saam itu? beliau menjawab: Kematian.‖
(HR. Bukhari dan Muslim)

ٔ٘ٔ‫ا ب‬ُٖٛٓٔ ٖ‫َاد‬ٚ ٔ‫ت‬ِٜٖ‫ا بٔايص‬َُٛ‫ِتَ ٔد‬٥‫ ا‬: ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫اٍَ زَض‬ٜ‫اٍَ ق‬ٜ‫َعِٔ عَُُسَ ق‬

ٕ١ٜ‫ٕ َُبَازَن‬٠‫غذَ َس‬


َ َِٔٔ ُ‫دِسُز‬َٜ ُْٖ٘٢‫إ‬ٜ‫ؾ‬

Dari Umar, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Shalallahu


'Alaihi wa Sallam pernah bersabda: ―Berobatlah dengan minyak zaitun
dan minyakilah dengannya, karena ia berasal dari pohon yang penuh
barakah.‖

– ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫٘ٔ – ص‬٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫ ضَُٔعِتُ زَض‬:ٍَ‫ا‬ٜ‫ ق‬،٣‫اص‬٤‫َق‬ٚ ٞٔ‫ب‬ٜ‫ أ‬٢ٔ‫ضعِدٔ ِب‬
َ ِٔ‫َع‬

.ْ‫ضشِس‬
ٔ ‫َال‬ٚ ُِٙ‫َِّ ض‬َٛٝ‫ي‬ٞ‫و ا‬
ٜ ٔ‫ُ ذَي‬ٖٙ‫َطُس‬ٜ ِِٜ‫ ي‬،ٕ٠َٛ ‫ذ‬
ِ َ‫ضبِ َع تََُسَاتٕ َِٔٔ ع‬
َ َ‫صبٖح‬
َ َ‫ َ ِٔ ت‬:ٍُٛٝ‫َك‬ٜ

Diriwayatkan oleh Sa‘d bin Abi Waqash, beliau berkata bahwa


saya mendengar Rasulallah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
Barang siapa pada pagi harinya makan 7 (tujuh) butir kurma ‗ajwa, maka
pada hari itu tidak akan membahayakannya segala bentuk sihir dan
racun.‖ (HR. Baihaqi)

159 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
َُ٘ٓٛٞ ‫ َب‬ٞٔ‫ػِتَه‬َٜ ٞٔ‫أخ‬ٜ ٍَ‫ا‬ٜ‫ك‬ٜ‫َِ ؾ‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ٖ ص‬ٞٔ‫ ايٖٓب‬٢َ‫ت‬ٜ‫ا أ‬ًُٟ‫ٕٖ َزد‬ٜ‫ أ‬: ‫د‬ٝ‫ ضع‬ٞ‫عٔ أب‬

ُِٖ‫ا ث‬ًَٟ‫اٍَ اضِكٔ٘ٔ عَط‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬ٜ١َ‫ُ ايجٖأيج‬ٙ‫تَا‬ٜ‫ا ثُِٖ أ‬ًَٟ‫اٍَ اضِكٔ٘ٔ َعط‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬ٜ١َْٝٔ‫ ايجٖا‬٢َ‫ت‬ٜ‫ا ثُِٖ أ‬ًَٟ‫اٍَ اضِكٔ٘ٔ عَط‬ٜ‫ك‬ٜ‫ؾ‬

ٜ‫ؾبَسَأ‬ٜ ُٙ‫ا‬ٜ‫ؾطَك‬ٜ ‫ا‬ًَٟ‫و اضِكٔ٘ٔ َعط‬


ٜ ٝٔ‫أخ‬ٜ ُٔٛٞ َ‫رَبَ ب‬ٜ‫َن‬ٚ ُ٘٤ً‫اٍَ صَدَ َم اي‬ٜ‫ك‬ٜ‫ت ؾ‬
ُ ًَٞ‫ؾع‬ٜ ِ‫د‬ٜ‫ا ٍَ ق‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬ُٙ‫تَا‬ٜ‫أ‬

Dari Abi Sa‘id: ―Ada seseorang menghadap Nabi Shalallahu


'Alaihi wa Sallam, ia berkata: ‗Saudaraku mengeluhkan sakit pada
perutnya.‘ Nabi berkata: ‗Minumkan ia madu.‘ Kemudian orang itu
datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: ‗Minumkan ia madu.‘ Orang
itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: ‗Minumkan ia
madu.‘Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‗Aku telah
melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).‘
Nabi bersabda: ‗Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta.
Minumkan lagi madu.‘ Orang itu meminumkannya lagi, maka
saudaranya pun sembuh.‖ (HR. Bukhari)

Terapi Dengan Air

٢‫ِح‬ٝ‫ؾ‬ٜ َِٔٔ ٢ُٖٝ‫اٍَ ( اذت‬ٜ‫َِ ق‬٤ًَ‫َ ض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ ص‬ٚٞٔ‫ ايٖٓب‬٢َٔ‫ ع‬: ‫ َعَِٓٗا‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ زَض‬ٜ١َ‫ػ‬٥ٔ‫عَِٔ عَا‬

ٔ٤‫َُا‬ٞ‫َِٖا بٔاي‬ُٚ‫سد‬٢ ِ‫ب‬ٜ‫ا‬ٜ‫َد ََِٖٗٓ ؾ‬

Diceritakan dari ‗Aisyah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi


Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda: Panas demam
itu berasal dari didihan api neraka jahanam, karena itu dinginkanlah
panasnya dengan air.‖ (HR. Bukhari dan Muslim)

Terapi Bekam dan Gurah

160 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
٢ٜٛ‫ ِع‬ٜ‫َأ‬ٚ َِ٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ٗ ص‬٢ٔ‫ا ِسَتذََِ ايٖٓب‬: ٍَ‫ا‬ٜ‫ َعَُُِٓٗا ق‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ زَض‬٣‫ عَبٖاع‬٢ِٔ‫ ب‬٢ٔ‫َع‬

٘ٔٛ‫ُ ِع‬ٜ ِِٜ‫ ي‬١ٟ َٖٝٔ ‫سَا‬ٜ‫ِ عًَٔ َِ ن‬ٜٛ‫َي‬ٚ َُٙ‫أدِس‬ٜ َّ ‫شذٖا‬
َ ‫ي‬ٞ‫ا‬

―Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, ―Nabi Shalallahu 'Alaihi wa


Sallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekam.
Seandainya Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam mengetahui bahwa hal
tersebut terlarang, tentu Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam tidak akan
memberi upah kepadanya.‖ (HR. Bukhari)

٢ٜٛ‫ ِع‬ٜ‫َأ‬ٚ ََِ‫َِ اسَِتذ‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ ص‬ٚٞٔ‫ُ٘ عََُُِٓٗا عَِٔ ايٖٓب‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬٣‫ َعبٖاع‬٢ٔ‫َعِٔ اِب‬

ٜ‫ضَتعَط‬
ِ ‫َا‬ٚ َُٙ‫أدِس‬ٜ َّ ‫شذٖا‬
َ ‫ي‬ٞ‫ا‬

―Dari Ibnu ‗Abbas Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Muhammad


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah melakukan bekam dan memberinya
upah kemudian melakukan Gurah (memasukan obat ke dalam hidung).‖
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengkonsumsi Susu

ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ٗ ص‬ٞٔ‫أ َسَُِِٖ ايٖٓب‬ٜ ٜ‫ٔ ؾ‬١َٜٓٔ‫َُد‬ٞ‫ اي‬ٞٔ‫ِا ؾ‬َٚٛ ‫ٕٖ َْاضّا ا ِدَت‬ٜ‫ُ٘ َعُِٓ٘ أ‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬٣‫َْظ‬ٜ‫َعِٔ أ‬

‫ا‬ُٛ‫ب‬٢‫ؾػَس‬ٜ ٔ٘ٝٔ‫ا بٔسَاع‬ٛٝ‫ًشٔك‬ٜٜ‫َائَٗا ؾ‬ٛ‫ِب‬ٜ‫َأ‬ٚ ‫يبَأَْٗا‬ٜٞ‫ا َِٔٔ أ‬ُٛ‫ػِسَب‬َٜٝ‫بٌَٔ ؾ‬٢‫إ‬ٞ‫ اي‬ٞٔٓ‫َ ِع‬ٜ ٔ٘ٝٔ‫ا بٔسَاع‬ٛٝ‫ًشَك‬َٜٞ ِٕٜ‫َِ أ‬٤ًَ‫َض‬ٚ

٢٤ًَ‫ٖ ص‬ٞٔ‫ؼَ ايٖٓب‬ًَٜ‫ب‬ٜ‫بٌَٔ ؾ‬٢‫إ‬ٞ‫ا اي‬ٛٝ‫َضَاق‬ٚ َٞٔ‫ا ايسٖاع‬ًَٛٝ‫كت‬ٜ ٜ‫بِدَاُُِِْٗ ؾ‬ٜ‫شتِ أ‬


َ ًَٜ‫ ص‬٢ٖ‫َأيَٗا َست‬ٛ‫ِب‬ٜ‫َأ‬ٚ ‫يبَأَْٗا‬ٜٞ‫َِٔٔ أ‬

ٍَ‫ا‬ٜ‫َُِِٓٗ ق‬ُٝ‫ ِع‬ٜ‫َضََُسَ أ‬ٚ ًُُِِٜٗ‫ ِزد‬ٜ‫َأ‬ٚ َُِِٜٗٔ‫ِد‬ٜٜ‫عَ أ‬ٜٛ‫ك‬ٜ ٜ‫ِِ ؾ‬٢ٗ‫َ ٔب‬٤ٞٔ‫ؾذ‬ٜ ِِ٢ٗ‫ٔب‬ًٜٜ‫ ط‬ٞٔ‫ؾبَ َعحَ ؾ‬ٜ َِ٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫اي‬

ُ‫د‬ُٚ‫يشُد‬ٞ‫ص ٍَ ا‬٢ ِٓ‫ ِٕ َت‬ٜ‫قبِ ٌَ أ‬ٜ َٕ ‫ا‬ٜ‫و ن‬


ٜ ‫ٕٖ ذَٔي‬ٜ‫ َٔ أ‬ٜ٢‫ َُشَُٖدُ بُِٔ ضٔري‬ٞٔٓ‫ؾشَدَٖث‬ٜ ٠َٝ‫قتَاد‬ٜ

161 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu bahwa sekelompok orang sedang
menderita sakit ketika berada di Madinah, maka Nabi Shalallahu 'Alaihi
wa Sallam memerintahkan mereka supaya menemui penggembala beliau
dan meminum susu dan kencing unta, mereka lalu pergi menemui sang
penggembala dan meminum air susu dan kencing unta tersebut sehingga
badan-badan mereka kembali sehat, setelah badan mereka sehat mereka
justru membunuh penggembala dan merampok unta-untanya, setelah
kabar itu sampai ke nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau pun
memerintahkan untuk mengejar mereka, kemudian mereka di bawa ke
hadapan Nabi, lantas Nabi memotong tangan dan kaki mereka serta
mencongkel mata mereka. Qatadah berkata; telah menceritakan
kepadaku Muhammad bin Sirin bahwa peristiwa tersebut terjadi
sebelum turunnya ayat tentang hudud (hukuman).‖ (HR. Bukhari)

Daun Pacar

ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ٖ ص‬ٞٔ‫اَْتِ َتدِدُُّ ايٖٓب‬ٜ‫َن‬ٚ ٢ًََُٞ‫٘ٔ عَِٔ دَدٖتٔ٘ٔ ض‬٤ً‫ِدٔ اي‬ٝ‫ عَُب‬٢ِٔ‫ ب‬ًَٚٞٔ‫عَِٔ ع‬

‫ا‬٤‫ي‬٢‫ إ‬٠١َ‫هب‬ٞ َْ ‫ا‬ٜ‫َي‬ٚ ٠١َ‫ ِسس‬ٜ‫َِ ق‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ اي‬٢ٍُٛ‫ُٕ بٔسَض‬ٛٝ‫َه‬ٜ َٕ‫ا‬ٜ‫تِ ََا ن‬ٜ‫اي‬ٜ‫َِ ق‬٤ًَ‫َض‬ٚ

َ٤‫يشٖٔٓا‬ٞ‫َٗا ا‬ًَِٜٝ‫ضَعَ ع‬ٜ‫ ِٕ أ‬ٜ‫َِ أ‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ ٍُ اي‬ُٛ‫ زَض‬َْٞٔ‫أ َس‬ٜ

―Dari ‗Ali bin ‗Ubaidillah dari Kakeknya yang sedang melayani


Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam berkata: ―Ketika
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam terkena luka yang bernanah dan
luka parah selalu memerintahku untuk meletakkan pohoh pacar di atas
luka tersebut.‖ (HR. Tirmidzi)

Larangan Berobat Dengan Benda Najis

162 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٔ‫ح‬ٝٔ‫دب‬
َ ‫ي‬ٞ‫ ا‬٤ٔ‫َا‬ٚ‫َِ َعِٔ اي ٖد‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫ زَض‬٢ََْٗ ٍَ ‫ا‬ٜ‫ ق‬٠ٜ‫ِ َس‬َٜ‫ ُٖس‬ٞٔ‫ب‬ٜ‫َع ِٔ أ‬

―Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah Shalallahu „Alaihi


wa Sallam . melarang berobat menggunakan sesuatu yang najis.‖ (HR.
Abu Daud)

‫َُْٖا‬٢‫اٍَ إ‬ٜ‫ك‬ٜ‫صَٓ َعَٗا ؾ‬


ِ َٜ ِٕٜ‫َ أ‬ٙ٢‫س‬ٜ‫ِ ن‬ٚ‫أ‬ٜ ُٙ‫ؾََٓٗا‬ٜ ٢‫يدَُِس‬ٞ‫َِ َعِٔ ا‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫ٖ ص‬ٞٔ‫أٍَ ايٖٓب‬ٜ َ‫ض‬

ْ٤‫ ٔهُٖٓ٘ دَا‬ٜ‫َي‬ٚ ٕ٤‫َا‬ٚ‫ِظَ بٔ َد‬ٝ‫ي‬ٜ ُ٘ ْٖ٢‫ا ٍَ إ‬ٜ‫ك‬ٜ‫ ؾ‬٤ٔ‫َا‬ٚ‫صَٓ ُعَٗائً ٖد‬
ِ ٜ‫أ‬

―Dia (Thariq bin Suwaid Al-Ju‘fi) pernah bertanya kepada Nabi


shallallahu ‗alaihi wasallam mengenai khamar, maka beliau pun
melarangnya atau benci membuatnya. Lalu dia berkata, ―Saya
membuatnya hanya untuk obat.‖ Maka beliau bersabda, ―Khamar itu
bukanlah obat, akan tetapi dia adalah penyakit.‖ (HR. Muslim)

Tindakan Preventif

ٛ‫ ) قاٍ أب‬٣ٚ‫ ضًِ قاٍ ( ال عد‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ٍ اهلل ص‬ٛ‫ إٕ زض‬: ٍ‫ قا‬٠‫س‬ٜ‫إٔ أبا ٖس‬

‫ا‬ٜ‫ ضًِ قاٍ (ي‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ عٔ ايٓيب ص‬: ٠‫س‬ٜ‫ بٔ عبد ايسمحٔ مسعت أبا ٖس‬١ًُ‫ض‬

(ٓ‫ُُصٔح‬ٞ‫ اي‬٢ًَٜ‫ض ع‬٢‫ُُُِس‬ٞ‫ا اي‬ُٚ‫زد‬٢ ُٛ‫ت‬

―Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dia berkata bahwa


Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda: ―la ‗adwa (tidak
ada penyakit menular). Abu Salah bin ‗Abdurrahman berkata: ‗Saya
mendengar Abu Hurairah berkata‘: ‗Dari Nabi Shalallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda: ‖Janganlah kalian campur hewan sakit dengan yang
masih sehat.‖ (HR. Bukhari)

163 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
‫ا‬ُٛ‫ال َتدِسُد‬ٜ‫ِْتُِِ ٔبَٗا ؾ‬ٜ‫َأ‬ٚ ٣‫ ِزض‬ٜ‫عَ بٔأ‬ٜ‫َق‬ٚ ‫إذَا‬٢َٚ ، ‫َٖا‬ًُٛٝ‫ال تَ ِدخ‬ٜ‫ض ؾ‬
٣ ِ‫ز‬ٜ‫ أ‬ٞٔ‫ٕ ؾ‬٢ ُٛ‫اع‬٤ٛ‫إذَا ضَُٔ ِعتُِِ ٔباي‬٢

‫ََِٔٓٗا‬

―Jika kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah


maka kalian jangan memasuki daerah tersebut, dan jika wabah tersebut
mengenai suatu daerah dan kalian berada di dalamnya maka janganlah
kalian keluar dari daerah tersebut.‖ (HR. Bukhari)

Terapi Do‘a

‫طّا‬ٜ٢‫ َس‬٢َ‫ت‬ٜ‫إذَا أ‬٢ َٕ‫ا‬ٜ‫َِ ن‬٤ًَ‫َض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ُ٘ ع‬٤ً‫ اي‬٢٤ًَ‫٘ٔ ص‬٤ً‫ٍَ اي‬ُٛ‫ٕٖ زَض‬ٜ‫ُ٘ عََِٓٗا أ‬٤ً‫َ اي‬ٞٔ‫ زَض‬ٜ١َ‫ػ‬٥ٔ‫َعِٔ َعا‬

ٜ‫اؤُى‬ٜ‫ا غٔؿ‬٤‫ي‬٢‫َ إ‬٤‫ا‬ٜ‫ا غٔؿ‬ٜ‫ ي‬ٞٔ‫ِْتَ ايػٖاؾ‬ٜ‫َأ‬ٚ ٔ‫ اغِـ‬٢‫يبَاعَ َزبٖ ايٖٓاع‬ٞ‫ذِٖٔبِ ا‬ٜ‫اٍَ أ‬ٜ‫َ بٔ٘ٔ ق‬ٞٔ‫ت‬ٝ‫ِ أ‬ٚ‫أ‬ٜ

‫ُّا‬ٜ‫ػَأدزُ ضَك‬ُٜ ‫ا‬ٜ‫ ي‬٤ّ ‫ا‬ٜ‫غٔؿ‬

Dari ‗Aisyah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shalallahu


'Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit atau ada orang sakit yang
mendatangi beliau maka Nabi berdoa ―Pergilah penyakit yang parah,
Wahai Tuhan semua manusia, Sembuhkanlah sungguh Engkaulah Dzat
Yang Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang
berasal dari-Mu yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit
sedikitpun.‖ (HR. Bukhari)

Pahala Sakit

164 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ٔ‫ٍُ اهلل‬ِٛ ‫ض‬
ُ َ‫اٍَ ز‬ٜ‫ ق‬: ِ‫يت‬ٜ‫ا‬ٜ‫َِ ق‬٤ًَ‫َ ض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ٖ اهلل‬٢ًَ‫ ص‬ٚٞٔ‫ِزَ ايٖٓب‬َٚ‫ َعَِٓٗا ش‬ٝ‫َ اهلل‬ٞٔ‫ زَض‬ٜ١َ‫ػ‬٥ٔ‫ٕٖ َعا‬ٜ‫أ‬

٢ٖ‫ُ٘ ٔبَٗا َعُِٓ٘ َست‬٤ً‫سَ اي‬٤‫ؿ‬ٜ‫ا ن‬٤‫ي‬٢‫ُُطًَِِٔ إ‬ٞ‫بُ اي‬ٝٔ‫ٕ تُص‬١َ‫ب‬ٝٔ‫َِ (ََا َِٔٔ َُص‬٤ًَ‫َ ض‬ٚ ًَِٜٔ٘ٝ‫ ع‬ٝ‫ اهلل‬٢٤ًَ‫ص‬

‫نَٗا‬ٝ ‫ُػَا‬ٜ ٔ١ٜ‫ِن‬ٛ‫ػ‬


ٖ ‫اي‬

Aisyah Radhiyallahu 'anha, istri Nabi berkata, bahwa Rasulullah


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: ―Tidak ada musibah yang
mengenai seorang muslim melainkan karena sebab musibah itulah Allah
akan melebur dosa-dosanya, sekalipun ia terkena duri.‖ (HR. Bukhari)

Tidak Putus Asa Menghadapi Sakit

َََُٖٖٔٝٓ‫ت‬َٜ ‫ا‬ٜ‫ ي‬: ًِ‫ ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ قاٍ ايٓيب ص‬: ٘ٓ‫ اهلل ع‬ٞ‫عٔ أْظ بٔ َايو زض‬

ٔ‫اَْت‬ٜ‫ ََا ن‬ٞٔٓٔٝ‫أ ِس‬ٜ ًُِٖٗ٤‫ اي‬، ٌِٝ‫َك‬ًٜٝٞ‫ا ؾ‬ًٟٔ‫اع‬ٜ‫ا بُدٖ ؾ‬ٜ‫إَ ي‬ٜ‫ِٕ ن‬٢‫إ‬ٜ‫ ؾ‬، َُ٘‫صَاب‬ٜ‫ِتَ َِٔٔ ضُسٍّ أ‬َُٛ ٞ‫ُِ اي‬ٝ‫أسَدُن‬ٜ

ٞٔ‫ِسّاي‬ٝ‫ َخ‬ٝ٠‫ا‬ٜ‫َؾ‬ٛ‫ي‬ٞ‫اَْتٔ ا‬ٜ‫إذَا ن‬٢ ٞٔٓ٤‫َؾ‬ٛ‫ََت‬ٚ ، ٞٔ‫ِسّاي‬ٝ‫ َخ‬ٝ٠‫َا‬ٝ‫ش‬


َ ‫ي‬ٞ‫ا‬

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu Nabi Muhammad


Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: ―Janganlah salah satu diantara
kalian mengharap kematian sebab penyakit yang menimpanya.
Kalaupun sangat mendesak, maka berdoalah ‗Ya Allah, hidupkanlah
hamba jika hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah hamba jika
kematian itu baik bagiku.‖ (HR. Bukhari dan Muslim)

Terapi Ruqyah

165 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
٢ِٔٝ‫ َع‬َٚ ٢ٕ‫ذَا‬ٞ‫ذُ ََٔٔ اي‬ٖٛ َ‫ََتع‬ٜ : ًِ‫ض‬ٚ ً٘ٝ‫ اهلل ع‬٢ً‫ص‬- ٔ٘٤ً‫ٍُ اي‬ُٛ‫إَ زَض‬ٜ‫اٍَ ن‬ٜ‫دٕ ق‬ٝٔ‫ضع‬
َ ٢ٔ‫ب‬ٜ‫َعِٔ أ‬

٣‫ ايرتَر‬ٙ‫ا‬ٚ‫ ز‬.‫َا َُُٖا‬ٛ‫ض‬


ٔ ‫ ََا‬ٜ‫َتَسَى‬ٚ ‫َُا‬٢ٗ‫أخَرَ ٔب‬ٜ ‫يتَا‬َٜ‫ُٖا َْص‬ًٜٜ‫ ؾ‬٢ٕ‫ذَتَا‬ٛٚ َ‫ ُُع‬ٞ‫ت اي‬
ٔ ٜ‫ َْصَي‬٢ٖ‫ َست‬٢ٕ‫ِْطَا‬٢‫اإل‬ٞ

―Dari Abi Sa‘id, dia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi


wa Sallam senantiasa meminta perlindungan dari beberapa Jin dan
penyakit ‗ain manusia sampai turunlah surat al-mu‘awidatani, ketika
kedua ayat itu telah turun maka nabi meminta perlindungan dengan
kedua ayat tersebut dan meninggalkan yang selainnya.‖ (HR. Tirmidzi)

166 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB XIII
DOKTER RABBANI

A. Definisi dan Proses


Kata rabbānī terulang sebanyak 3 kali dalam Al-Qur`ān, dua kali
dalam bentuk shīghat (ungkapan kalimat) jama` mudzakkar sālim marfû`
(‫)الربانيون‬, yaitu Qs. al-Maidah: 44 & 63 serta satu dalam bentuk shīghat
jama` mudzakkar sālim manshûb (‫)الربانيين‬, yaitu Qs. Ali `Imran: 79.
Ayat-ayat tersebut adalah:
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:

َِٔٔ ٞٔ‫ا ٔعبَادّا ي‬ُْٛٛٝ‫ ن‬٢‫ٍَ ئًَٓٓاع‬ٛٝ‫َك‬ٜ َُِٓ‫ ث‬ٜ٠َٛٓ ُ‫َايُٓب‬ٚ َِٞ‫يشُه‬ٞ‫َا‬ٚ َ‫هٔتَاب‬ٞ‫ُٓ٘ اي‬ًٜ‫َُ٘ اي‬ٝ‫ؤِٔت‬ُٜ ِٕٜ‫ أ‬٣‫إَ ٔيَبػَس‬ٜ‫ََا ن‬

َُٕٛ‫نِٓتُ ِِ تَ ِدزُض‬ٝ ‫َبَُٔا‬ٚ َ‫ ٔهتَاب‬ٞ‫ َٕ اي‬ًَُُٛٓٔ‫نِٓتُ ِِ تُع‬ٝ ‫ٔٓنيَ بَُٔا‬ْٝٔ‫ا زَبَٓا‬ُْٛٛٝ‫هٔ ِٔ ن‬ٜ‫َي‬ٚ ًٜٔ٘ٓ‫ٕ اي‬٢ ُٚ‫د‬

―Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-
Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:"Hendaklah
kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi
(dia berkata):"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu
selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS.
Ali `Imrān: 79)
Kedua, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:

‫ا‬ُٚ‫َٔ َٖاد‬ٜٔ‫ٓر‬ًٜٔ‫ا ي‬ًُُِٜٛ‫ض‬ٜ‫َٔ أ‬ٜٔ‫ٓر‬ٜ‫َٕ اي‬ُٛٓٝ‫ُِ ٔبَٗا ايَٓٔب‬ٝ‫شِه‬َٜ ْ‫ز‬َُْٛٚ ٣ّ‫َٗا ُٖد‬ٝٔ‫ ؾ‬ٜ٠ ‫زَا‬ِٛ َٓ‫يَٓا ايت‬َٞ‫ِْص‬ٜ‫َْٓا أ‬٢‫إ‬

‫ُا‬ٛ‫ػ‬
َ‫د‬ِ َ‫ال ت‬ٜ‫َ ؾ‬٤‫غَٗدَا‬
ُ ًَِٜٔ٘ٝ‫ا ع‬ُْٛ‫ا‬ٜ‫َن‬ٚ ًٜٔ٘ٓ‫ا َِٔٔ ٔنتَابٔ اي‬ٛٝ‫َاأل ِسبَازُ بَُٔا اضُِتشِٔؿظ‬ٚ َُْٕٛٓٝٔ‫َايسَٓبَٓا‬ٚ

ُُِٖ ٜ‫ٔو‬٦‫ي‬ٜٚٝ‫أ‬ٜ‫ُٓ٘ ؾ‬ًٜ‫ِْ َصٍَ اي‬ٜ‫ِِ بَُٔا أ‬ٝ‫شِه‬َٜ ِِٜ‫َِٔ ي‬َٚ ‫ال‬ًٜٝٔ‫ ثَ َُّٓا ق‬ٞٔ‫َات‬ٜ‫ا بٔآ‬ُٚ‫ػتَس‬
ِ َ‫َال ت‬ٚ ٢ِٕٛ‫ػ‬
َ ‫َا ِخ‬ٚ َ‫ايَٓٓاع‬

َُٕٚ‫اؾٔس‬ٜ‫ه‬ٞ‫اي‬

167 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
―Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara
orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-
orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan
memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu
janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan
janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Māidah: 44)
Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:

َُٕٛ‫صَٓع‬
ِ َٜ ‫ا‬ُْٛ‫ا‬ٜ‫ِظَ ََا ن‬٦‫ئب‬ٜ ‫ت‬
َ ِ‫طُش‬
ٓ ‫ ُِ اي‬٢ًٗٔٞ‫ن‬ٜ‫َأ‬ٚ َِِ‫ ُِ اإلث‬٢ٗ‫ِٔي‬ٛ‫ق‬ٜ ِٔ ‫َاألسِبَازُ َع‬ٚ َُْٕٛٓٝٔ‫َِٓٗاُٖ ُِ ايسَٓبَٓا‬َٜ ‫ِال‬ٛ‫ي‬ٜ

―Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak


melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram
Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-
Māidah: 63)
Kata rabbānī artinya al-habr wa rab al-`ilm (tinta dan pemilik
ilmu). Rabbānī juga bisa berarti al-ladzī ya`bud al-Rab (orang yang
mengabdi kepada Tuhan) atau bisa juga berarti al-mutaallih al-`ārif billāh
(orang yang berke-Tuhan-an lagi mengenal Allah).189
Dokter Rabbani berarti Dokter yang senantiasa mengikat
ilmunya dan akhlaknya dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dengan demikian maka akal, kalbu dan anggota tubuhnya tidak pernah
lepas dari tatanan dan tuntunan Ilahi.
Proses yang harus ditempuh dalam rangka melahirkan Dokter
Robbani harus berorientasi dalam metode sebagai berikut:
1) Afkār (Pemikiran).
Memberi bekal akal dengan wawasan paripurna tentang Allah
Subhanahu wa Ta‟ala , manusia, alam dan kehidupan yang diasaskan pada
wahyu, ayat-ayat alam semesta dan jiwa manusia. Inilah langkah pertama
dalam pembentukan yang bertolak dari didahulukannya wahyu “iqra”
sebagai asas pendidikan pemikiran orisinil yang dapat memberikan

189
Muhammad Ibn Mandzūr, Lisān al-`Arab, Jilid. I, hlm. 399

168 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
keyakinan tentang pemahaman valid serta menjauhkan akal dari
keruwetan filsafat dan prasangka.
2) `Āthifah (Perasaan)
Mensucikan jiwa dari berbagai penyakit yang dideritanya,
meninggikan cita-cita kalbu, mengikatnya dengan Allah Subhanahu wa
Ta'ala serta memberinya gizi dengan berbagai hakekat azaliah. Dengan
demikian, seluruh perasaannya, kerinduannya dan gejolak jiwanya penuh
dengan kelembutan, kasih sayang, kekuatan, kemuliaan, pengabdian dan
seluruh kehormatan, tidak menampik hal-hal yang baik serta tidak
bergelimang di dalamnya. Dia akan selalu memperlakukan alam dan
makhluk lainnya secara positif, sehingga semuanya menjadi bekal kekal
yang tidak akan lenyap saat dia menempuh perjalanan hidup dan fase-
fase dakwah.
3) Sulûk (sikap perilaku)
Memenuhi sikap perilakunya dalam perbuatan-perbuatan yang
diridhai Tuhan-nya, melakukan kebaikan, mempropagandakan reformasi
kebenaran dan meluruskan penyimpangan dalam tatanan hukum alam
kehidupan. Dengan demikian, kekuatan tangannya terbiasa membangun
dan memberi, kedua matanya memandang nikmat-nikmat Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan pandangan syukur serta memandang aibnya
dengan pandangan mengobati, telinganya biasa mendengar suara orang-
orang yang dizalimi, lisannya biasa memberikan nasehat, serta kakinya
biasa melangkah ke arah produktif.190
Ketiga proses tersebut berangkat dari pemikiran firman Allah.

٢‫َاألبِصَاز‬ٚ ٟٔ‫ِد‬ٜ‫ األ‬ٞٔ‫ي‬ٚٝ‫بَ أ‬ٛٝ‫عِك‬َٜٚ َ‫ضشَام‬


ِ ٢‫َإ‬ٚ َِٖٝٔ‫سِ عٔبَادََْا إبِسَا‬ٝ‫َاذِن‬ٚ

―Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang


mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi.” (QS.
Shad: 45)
Mereka mata rantai pengikut para Nabi yang mulia, di mana
Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka dengan dua ciri dasar, yaitu ûli

190
http://www.odabasham.net/show.php?sid=21751

169 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
al-aydī 191 (pemilik anggota tubuh yang bersemangat tinggi dan
melahirkan perbuatan-perbuatan besar yang produktif) serta ûli al-abshār
192
(pemilik kalbu dan akal, karena inilah tempat penangkapan ilmu,
walaupun tidak terbatas hanya memiliki keduanya seperti alat-alat
mekanik saja, tetapi alat-alat yang hidup bergerak dengan penuh
vitalitas).‖193
B. Karakter Dokter Rabbani
Dokter Rabbani memiliki karakter yang terhimpun dalam
beberapa rumpun, yaitu:
1) Rumpun Karakter Imāniyah
(a) Ikhlas
(b) Merasakan kebersamaan dengan Allah Subhanahu wa Ta‟ala
(c) Asing di dunia, karena jati diri yang bersih
(d) Pencari akhirat
(e) Kembali kepada kebenaran saat tergelincir dalam kesalahan
2) Rumpun karakter Sulûkiyah akhlākiyah
(a) Sidq (serius lagi jujur)
(b) Sabar
(c) Cinta dan Ītsār (Lebih mengutamakan saudaranya)
(d) Memberi dan berkorban
(e) `Iffah (menjaga kehormatan diri)
3) Rumpun karakter harakiyah da`wiyah
(a) Yakin dengan ralitas dan keharusan praktis
(b) Generasi pekerja serta pembangun kerjasama
(c) Generasi dakwah dan jihad
(d) Generasi yang seimbang dan moderat
(e) Generasi yang disiplin
4) Rumpun karakter nafsiyah

191
Ûli al-aydi menurut Ibn `Abbās adalah “kuat dalam ibadah”, menurut Sa`īd
bin Jubair adalah “kuat dalam beramal”, dan menurut Mujāhid adalah “kuat dalam
melaksanakan perintah Allah”. Baca: Jalāl al-Dīn al-Suyûthī, al-Dur al-Mantsûr , Juz VIII,
419
192
Ûli al-abshar menurut Ibn `Abbās adalah “berilmu tentang perintah-perintah
Allah”, menurut Sa`īd Ibn Jubair adalah “berilmu tentang urusan agama mereka”, dan
menurut Mujāhid adalah “akal”. Baca: Ibid
193
http://www.odabasham.net/show.php?sid=21751

170 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
(a) Kemauan yang teguh
(b) Banyak berkorban
(c) Memenuhi janji, dan dapat dipercaya
(d) Mengetahui prinsip
(e) Stabilitas emosionil194
C. Aplikasi Pengembangan Kedokteran Rabbani
Dalam mengembangkan sins, Dokter Rabbani akan senantiasa
berpegang pada prinsip-prinsip sebagaimana berikut:195
1. Prinsip Tauhid
Itu semua karena semua sumber ilmu pengetahuan, baik berupa
wahyu (ayat qauliyah), alam jagat raya (ayat kauniyah), fenomena sosial
(ayat insaniyah), akal pikiran, intuisi atau ilham, semuanya bersal dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
2. Prinsip Integrated
Bahwa seluruh sumber ilmu pengetahuan serta pengetahuan
yang dihasilkan melalui sumber tersebut saling membutuhkan antara
satu dengan lainnya.
3. Prinsip Pengamalan
Ilmu pengetahuan dalam Islam bukan hanya untuk kepuasan
ilmu itu sendiri (science for science) melainkan ilmu tersebut harus
diamalkan dan dimanfaatkan baik untuk kepentingan diri sendiri,
masyarakat, bangsa, dan negara.
4. Prinsip Pengajaran
Islam mengajarkan atau mewajibkan bagai setiap orang yang
berilmu wajib mengajarakannya kepada orang lain.
5. Prinsip berpegang kepada kebenaran
Islam mengajarkan bahwa yang dituju oleh ilmu bukanlah
mencari pembenaran, melainkan mencari kebenran (al-haqq). Orang
yang mencari pembenaran bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak
benar.
6. Prinsip kesesuaian dengan agama

194
Ibid, hal. 406-417
195
Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. 1, hlm.
383-385

171 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Sebagaimana dikemukakan dalam prinsip tauhid tersebut,
bahwa semua sumber ilmu dalam Islam pada hakikatnya berasal dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka ilmu pengetahuan yang bersumber pada
kajian terhadap alam jagat raya pasti akan sejalan dengan pengetahuan
dan agama tidakboleh bertentangan.
7. Prinsip terbuka
Dalam Islam bahwa ilmu yang dihasilkan oleh seorang ilmuan
bersifat terbuka dan menjadi milik bersama. Dengan sifatnya yag
demikian, maka tidak boleh seorang pun melarang membaca hasil
temuan seorang ulama.
8. Prinsip Manfaat
Dalam Islam bahwa ilmu yang dihasilkan oleh seorang ilmuan
harus bermanfaat atau berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat
manusia, baik secara jasmani maupun rohani.

172 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
BAB XIV
MEMBANGUN PERADABAN ILMU

Upaya membangun atau mencerahkan peradaban ummat Islam,


tidak saja lumrah tapi juga merupakan keniscayaan. Namun bangunan
peradaban bukanlah struktur fisik. Peradaban dibangun oleh pandangan
hidup suatu masyarakat, yang tercermin dalam cara pandang mereka
terhadap segala sesuatu. Cara pandang ini berakar pada ilmu
pengetahuan, khususnya tentang manusia dan alam semesta. Oleh sebab
itu pandangan hidup juga menentukan sikap seseorang terhadap dirinya
(anfus) dan terhadap alam semesta (afaq). Pandangan hidup ini juga
membentuk kekuatan moral yang menjadi motor bagi akal dan aksi.
Jadi, ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu
pengetahuan.196
Menurut Hamid Fahmy Zarkasy, sebuah peradaban akan lahir
dan berkembang seiring dengan perkembangan konsep-konsep
keilmuan di dalamnya. Sebab faktor keilmuan inilah sebenarnya yang
melahirkan aktivitas sosial, politik, ekonomi dan aktivitas kultural
lainnya. Dengan kata lain, kerja-kerja intelektual dan keilmuan anggota
masyarakatlah sebenarnya yang melahirkan peradaban. Ini berimplikasi,
bahwa di atas konsep-konsep keilmuan terdapat suatu sistem dan super
sistem yang disebut dengan worldview (pandangan hidup atau pandangan
alam). Suatu peradaban tidak akan bangkit dan berkembang tanpa
adanya pandangan hidup dan aktivitas keilmuan di dalam masyarakat.197
Maka dari itu, membangun peradaban sejatinya adalah
membentuk manusia-manusia yang berilmu pengetahuan alias manusia
yang beradab. Karena itu, asumsi dasar bahwa manusia adalah makhluk
beradab harus lebih diutamakan ketimbang hanya manusia sebagai

196
Jurnal ISLAMIA, Pengantar Ilmu Asas Pencerahan Peradaban, Jakarta: INSIST,
THN II, NO. 6, hlm: 5
197
Hamid Fahmy Zarkasyi, Akar Kebudayaan Barat, Jurnal ISLAMIA, Jakarta :
INSISTS, Vol:III, hlm: 19

173 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
makhluk sosial, karena ia lebih inklusif. Sebaliknya, manusia beradab
akan terbentuk oleh peradaban. Sebab secara fisik, manusia bukan hanya
lahir di muka bumi, tapi lahir di tengah agama, kepercayaan, nilai, dan
kultur yang menguasai masyarakat tersebut.198
Menurut Abdul Hamid Abu Sulaiman usaha-usaha untuk membangun
kembali peradaban Islam harus terarah kepada tiga pokok.
1. Menyiapkan kader muda umat yang tangguh, demi menyongsong
peradaban Islam ke depan yang cemerlang.
2. Mengaktifkan kembali peranan lembaga-lembaga ilmiah dalam
mencapai Islamisasi dan pembangunan pandangan Islam dalam
lapangan ilmu, performa peradaban yang efektif, dan pembangunan
generasi yang dibekali dengan beban risalah.
3. Bekerja menuju masa depan wujud manusia dan pembangunan
paradaban. Ini adalah peranan ummat dan pemikiran Islam yang
cemerlang untuk membenahi perjalanan peradaban kemanusiaan dan
membetulkan perjalanan pemikiran manusia kontemporer.199
Mehdi Golshani juga menyampaikan beberapa usulan dalam
bukunya The Holy Qur‟an and Science of Nature terkait upaya
mengembalikan sains Islam. Ada lima langkah strategis yang diusulkan
oleh beliau:
1. Seperti para ulama dan ilmuwan abad-abad pertama zaman
Islam, kita harus mempelajari seluruh ilmu yang berguna bagi
orang lain. Kita dapat membebaskan pengetahuan ilmiah dari
penafsiran materialistik Barat dan mengembalikannya ke dalam
konteks pandangan dunia dan ideologi Islam.
2. Bentuk gabungan yang ada di antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-
ilmu kealaman selama hari-hari puncak Islam harus dibangun
kembali karena sebagaimana telah ditunjukkan bahwa antara
titik akhir agama adan ilmu-ilmu kealaman tidak ada konflik.
3. Untuk mencapai kemerdekaan penuh ummat Islam, negara-
negara Muslim perlu mengambil langkah-langkah untuk melatih

198
Jurnal ISLAMIA, Pengantar Ilmu Asas Pencerahan Peradaban, Jakarta: INSIST,
THN II, NO. 6, hlm: 5
199
Dr.Abdul Hamid Abu Sulaiman, Krisis Pemikiran Islam, Jakarta, 1994, hlm:349

174 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
para spesialis-spesialis di dalam segala bidang keilmuan dan
industri yang penting.
4. Penyelidikan ilmiah harus dipikirkan sebagai sebuha pencarian
penting dan mendasar, dan bukanlah pencarian yang sekadarnya.
5. Harus ada kerjasama antarnegara Muslim dalam masah riset
teknlogi dan keilmuan.200
Menurut Adian Husaini, bahwa yang pertama kali harus
dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. ”Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra‘d:11). Nabi Shalallahu
„Alaihi wa Sallam juga menyatakan: ”Sesungguhnya di dalam tubuh manusia
terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh.
Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu
adalah qalb.” (HR Muslim). Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah
Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan
dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan
perbuatan. 201
Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam,
maka sudah saatnya umat ini melakukan introspeksi terhadap kondisi
pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama para elite dan
lembaga-lembaga perjuangannya. Harus dilakukan evaluasi total
terhadap kondisi internal umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit
yang sangat membahayakan umat dan telah menghancurkan umat
terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan
ilmu. Introspeksi dan koreksi internal ini jauh lebih penting dilakukan
dibandingkan meneliti kondisi faktor eksternal, sehingga ‘kondisi layak
terbelakang dan kalah‘ (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa
dihilangkan. Kita bisa melakukan evaluasi internal, apakah para elite dan
lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah menerapkan profesionalitas
dalam pendidikan mereka? Apakah tradisi ilmu dalam Islam sudah
berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru
bidang keislaman? Apakah konsep ilmu dalam Islam sudah diterapkan
di lembaga-lembaga pendidikan Islam? Apakah para pelajar mencari

200
Mehdi Golshani, The Hoy Qur’an and Science of Nature (terj. Filsafat Sains
Menurut Al-Qur’an), Bandung : Mizan,hlm.31-32
201
Adian Husaini, Jatuh Bangunya Peradaban, http:// www.insistnet.com

175 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada
Allah? Apakah budaya kerja keras dan sikap ‟zuhud‟ terhadap dunia
sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah (fanatisme
kelompok) masih mewarnai aktivitas umat? Pada tataran keilmuan, bisa
diteliti, apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara
benar dan bermutu tinggi pada setiap bidang keilmuan?
Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras,
kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai potensi umat, dan waktu yang
panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana
membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan
adalah bagaimana membenahi kondisi internal umat Islam dan lembaga-
lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa
diteladani oleh umat manusia. Jadi, tugas umat Islam bukan hanya
menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari
keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya
membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-
pemimpin berkualitas ‘Salahuddin al-Ayyubi‘. Dan ini tidak mungkin
terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia – terutama lembaga-
lembaga dakwah dan pendidikannya – amat sangat serius untuk
membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari
sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah):
berilmu tinggi dan beraklak mulia, yang mampu membawa panji-panji
Islam ke seluruh penjuru dunia. Jika generasi baru itu telah lahir, maka
akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah terjadi di
masa-masa lalu.202
Jika kita perhatikan dari uraian pandangan para pakar di atas,
asas peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan yang bersumber pada Al-
Qur‘an dan Sunnah, maka peranan ilmu pengetahuan yang sangat
sentral dalam keseluruhan struktur konsep peradaban Islam perlu
dikembalikan sebagaimana aslinya. Namun sebelum itu – karena
masuknya pandangan hidup asing – ilmu pengetahuan Islam perlu di
bersihkan dari konsep-konsep dari pandangan hidup asing yang
bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk mengembalikan sentralitas
peran ilmu Muslim perlu melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan

202
Ibid

176 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
kontemporer, yang berarti :Pembebasan manusia Muslim dari belenggu
tradisi magis, mitologis, animistis dan kultur kebangsaan yang
bertentangan dengan Islam; pembebasan manusia dari pengaruh
pemikiran sekuler terhadap pikiran dan bahasanya, atau pembebasan
manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil
kepada fitrah atau hakekat kemanusiaannya yang benar.

177 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Daftar Pustaka

Abdul Amir Syamsuddin, Al-Madzahib at-Tarbawiy „Inda Ibn al-Jama‟ah


Tadzkirah as-Sami‟ wa al-Mutakkallim fii Adab al-„Alim wa al-
Muta‟allim, Beirut: Dar Iqra‘, 1984.
Abdul Hamid Abu Sulaiman, Krisis Pemikiran Islam, Jakarta, 1994.
Abdurrahman bin Nashir As Sa‘di, Tafsir as Sa‟di, cet;1, Beirut:
Muassasah Ar Risalah, 2002.
Abu Isa al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Abuddin Nata, Studi Islam Komrehensif, Jakarta: Kencana, 2011.
Adian Husaini, Jatuh Bangunya Peradaban, http://www.insistnet.com
Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan
Beradab, Depok: Komunitas Nuun, 2011.
Adnin Armas, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, Depok: Makalah
disampaikan dalam acara ―Diskusi Pekanan DISC Masjid UI‖
April 2009.
al-Ghazali, Ihyâ` 'Ulûm al-Dîn, Mesir: Maktabah Mesir, 1998.
Al-Mubarrid, Al-Kamil Fii Al-Lughah Wa Al-Adab, Maktabah As-
Syamilah.
Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Toward A Definition. Kuala Lumpur:
ISTAC. 1996.
Al-Suythí, al-Jâmi‟ al- Shaghír fí Ahâdís al-Basyír al-Nazír Cet. I; al-
Qâhirah: Dâr al-Fikr, t.th.
AM Saefuddin, Islamisasi Sains dan Kampus, Jakarta:PPA Consultant,
2010
Bukhari, Shahih Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Didin Hafidhuddin dan Untung Wahono, Netralitas Sains Kealaman,
Makalah disampaikan pada Seminar Fakultas Agama Islam
Universitas Ibn Khaldun Bogor, 30 April 1998.

178 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Fahmi Amhar, Perbandingan ilmuwan, saintek dan produknya dalam sistem
Islam vs sistem lainnya, http://famhar.multiply.com/journal/item.
Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, edisi baru (Leiden: E.J. Brill,
2007).
Hakim Said, A. Zahid, al-Biruni: His Times, Life, and Works, Karachi:
Hamdard Foundation Pakistan, 1981.
Hamid Fahmy Zarkasyi, Akar Kebudayaan Barat, Jurnal ISLAMIA,
Jakarta : INSISTS, Vol:III.
Hamid Fahmi Zarkasy, Membangun Peradaban Dengan Ilmu, Depok:
Kalam Ilmu Indonesia, 2010.
Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview sebagai Asas Epistemologi Islam
dalamMajalah Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia, Thn. II No.
5, April-Juni 2005.
Hasan Asari, Etika Akademis Dalam Islam, Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah,2000.
Hasan Zaini, Tafsir Tematik Ayat-ayat Ahkam Tafsir Al Maraghi, Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1997.
Hisyam Ibn Abd Malik, Al-A‟laqah Baina Al-Ilm Wa Al-Suluk, Riyadl :
Jami‘ah Muhammad Ibn Sa‘ud,2009.
Husein Syahatah, Menjadi Kepala Keluarga yang Sukses,Jakarta: Gema
Insani Press, cet 2, 2003.
Ibn Jama‘ah, Tadzkirah Al-Sami‟ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A‟lim
Wa Al Muta‟alim, Beirut : Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, 1983.
Ibn Jauzi, Al-Thibb Al-Ruhi, tahqiq Abdul Aziz Izzuddin Al-Sairawani,
Damaskus : Dar Al-Anwar, 1993.
Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur‟an Al-Adzim, Dar Al-Thaibah, 2002.
Ibn Sina, al-Qaanun fi al-Thibb, al-Juz al-Awwal, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Ja‘far Khadem Yamani, Kedokteran Islam Sejarah & Perkembangannya,
(terj) Tim Dokter Idavi, dari judul asli Mukhtasar Tarikh Tharikat
al-Thibb,Bandung: Dzikra, 2007.

179 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Khalid bin Abdurrahman, Pengobatan Alternatif dalam Islam, Penerjemah:
Farizal Tarmizi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2000.
Omar Hasan Kasule, Konsep Ilmu Kedokteran Islam, Makalah
Diperesentasikan dalam Seminar di Universitas Muhammadiyah
Palembang (UMP), pada Bulan Januari 2009.
Soekidjo Notoatmodjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-Prinsip
Dasar, Cetakan Kedua, Jakarta : Rineka Cipta,2003.
Syauqi Al-Fanjari, Nilai Kesehatan dalam Syari‟at Islam, Jakarta: Bumi
Aksara, 1996.
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Ibn Manzhur al-Ifriqi al-Mashri, 2005, Lisan al-‗Arab, (9 jilid), Dar al-
Shadir, Cetakan V, Beirut, bab: 'ayn-qaf-lam.
______, Lisanul Arab, Darul Ma`arif, al-Qahirah, 1990.
Ibn Qayyim, Madarij Al-Salikin, Beirut : Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1973.
_______, Madarik Al-Salikin baina manazil iyyakana‟budu
waiyyakanastain, Beirut : Dar Al-Kitab Al-Arabi,1996.
Ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ Syaikh al-Islâm Ahmad ibn Taimiyyah,
tahqiq 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Qasim al-'Ashimi al-
Najdi al-Hanbali, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1997.
Ibrahim bin Isma‘il, Syarh Ta‟lim al-Muta‟allim „ala Thariiqa Ta‟allum,
Semarang: Karya Toha Putra.
Irfan Habibie Martanegara, Menuju Filsafat Sains Islam, Bogor : PPMS
Ulil Albaab, 2011.
Isma‘il R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam
Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Bandung: Mizan, 2003,
hlm. 262.
Jurnal ISLAMIA, Pengantar Ilmu Asas Pencerahan Peradaban, Jakarta:
INSIST, THN II, NO. 6.
Majdi al-Hilālī, al-Tharīq Ila al-Rabbāniyyah Minhāj wa Sulūk, Mesir:
Maktabah al-Sayyidah, 2002.

180 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Marshall Hodgson, The Venture of Islam, jil. 2, Chicago: The University
of Chicago Press, 2002.
Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Bandung: Penerbit
Mizan, 2004.
Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri, Ringkasan Fiqih Islam, Pustaka
Islamhouse.
Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, Al-Ushul min Ushul al-Fiqh, [terj.
Abu Shilah dan Ummu Shalih, Prinsip Ilmu Ushul Fiqih], (Pdf
disebarkan oleh http://tholib.wordpress.com, Juni 2007).
Muhammad Shalih al-'Utsaimin, Kitâb al-'Ilm, Maktabah Nur al-Huda,
t.th.
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Philosophical Instructions: An
Introduction to Contemporary Islamic Philosophy, terj. Musa Kazhim dan
Saleh Bagir, Buku Daras Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2003.
Nashruddin Syarif , Konsep Ilmu dalam Islam, Bogor : UIKA, 2012
Nidhal Guessoum, Islam‟s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition
and Modern Science , London:IB Tauris, 2011.
Nurwadjah Ahmad E.Q., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan: Hati yang Selamat
Hingga kisah Luqman, Bandung: Penerbit Marja, 2010.
R.H.A. Soenarjo, et al., Al Qur‟an dan Terjemahnya, Saudi Arabia:
Kementrian Agama, Wakaf, Da‘wah dan Bimbingan Islam, t.th.
Rasyid Ridha, al-Wahy al-Muhammadi (Beirut: Dar al-Kutub al-
‟Ilmiyyah: 2005).
Sa‘duddin Mansur Muhammad, Ushul Al-Tarbiyyah Fii Al-Qur‘an Al-
Karim Wa Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Al-Muthahharah, Bogor : Paper
Of International Seminar On Islamic Education Ibn Khaldun
University,2011.
Sabra, The Optics of Ibn Haytham: Books I-III on Direct Vision, London:
The Warburgh Institute University of London, 1989.
Seyyed Houssen Nasr, Islamic Sciences: An Illustrated Study, London:
World of Islam Festival Publishing Co. Ltd, 1976.

181 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Malaysia :ISTAC,
2001.
______, Islam dan Sekularisme SMN Al-Attas, Bandung: Penerbit
Pustaka, 1981 .
Sudarto, Budaya Akademik Islami dalam Perspektif Islamisasi Ilmu,
Bogor : UIKA, 2012.
Syamsuddin Arif, Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam, Bogor:
UIKA, 2012
______, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, Jakarta : Gema Insani,
2008.
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, Terj. Tjun
Surjaman, Bandung: Rosda, 1989.
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed
M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.
______, Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan
Kependidikan ke Arah Penyatuan Pemikiran Bangsa, Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006.
______, The Concept of Knowledge in Islam and its Implications for Education
in Developing Country, terj. Munir, Konsep Pengetahuan dalam Islam,
Bandung: Pustaka, 1997.
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur‘an
dan As-Sunnah yang Shahih, Bogor : Pustaka At-Taqwa Po Box
264 Bogor 16001, Cetakan ke 3.

182 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Riwayat Hidup Penulis

T
anggal 10 Desember 2011, memiliki sejarah tersendiri
bagi Dr. Akhmad Alim. Anak kampung ini berhasil lulus
mempertahankan disertasi doktornya dan menjadi
seorang Doktor termuda serta tercepat di Universitas
Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dengan predikat cum laude.
Salah satu pengujinya yaitu Prof. Dr. Ahmad Tafsir, pakar pendidikan
dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung memuji
Disertasi dan keilmuannya.“UIKA kini memiliki pakar tentang Ibn
Jauzi,” kata Prof. Ahmad Tafsir.
Pada sidang terbuka tersebut, Ahmad Alim mempertahankan
Disertasinya yang berjudul “Pendidikan Jiwa Ibn Jauzi dan
Relevansinya terhadap Pendidikan Spiritual Manusia Modern”. Ia
menjawab semua pertanyaan para penguji dengan tangkas dan
lancar. Tim penguji Disertasi terdiri atas Prof.Dr.KH. Didin
Hafidhuddin, MS, Prof.Dr.H. Ahmad Tafsir, Prof.Dr.H. Didin Saifudin
Bukhari, MA, Dr.H. Adian Husaini, Msi, dan Dr.H. Ibdalsyah,MA.
Melalui Disertasi ini, Dr. Alim menawarkan solusi Pendidikan
Jiwa berdasarkan konsep yang disusun oleh seorang ulama besar
bernama Ibn Jauzi. Memang, untuk menyelesaikan disertasinya,
Alim harus bekerja keras. Dia melakukan penelitian di berbagai
perpustakaan, termasuk di Universitas Islam Madinah dan
Universitas Ummul Qura Mekkah. “Saya sudah mengecek, belum
ada yang menulis masalah ini,” papar Alim.
Dr.Akhmad Alim, sehari-hari lebih akrab dipanggil Ustadz Alim.
Maklum, sembari menyelesaikan program doktoralnya, ia juga
dipercaya oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS, menjadi
pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil

183 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Albaab Bogor -sebuah pesantren yang didirikan oleh Mohammad
Natsir, tahun 1987.
Akhmad Alim selama ini sudah dikenal "haus ilmu". Sejarah
pendidikannya tidak terlepas dari nadzar sang ibunya sendiri, yang
merupakan seorang perempuan yang buta huruf. Sang Ibu adalah
seorang anak yatim piatu sejak kecil. Kakak-kakaknya diambil dan
diasuh orang, sedang ia sendiri tidak, sehingga Ia hidup
sebatangkara. Karena tidak ada biaya, ia keluar sekolah ketika kelas
dua SD. Semenjak itu, ia mencari uang sendiri dengan berjualan
daun pisang serta ikut menanam padi di sawah.
Ayah Alim pun bukan orang yang berpendidikan. Sama seperti
ibunya yang tidak lulus sekolah dasar. Hal inilah yang -menurut Alim
-kadang membuatnya heran, mengapa ia diberi nama Ahmad Alim
yang artinya “pujian kepada Allah hamba yang berilmu”. Padahal
kedua orang tuanya itu tidak bisa bahasa Arab. Ketika ditanyakan
tentang hal itu, sang ayah berkata, “nama itu pemberian dari
seorang Kyai yang merespon nadzar Ibumu”.
Diwakafkan Sang Ibu
Akhmad Alim lahir di Rembang, 28 Februari 1982. Saat kecil,
Alim sering sakit-sakitan. Bahkan, kabarnya, ia baru bisa berjalan
setelah 21 bulan. Padahal bayi normal biasanya sudah bisa berjalan
umur 12 bulan. Ibu Alim sangat sedih. Saat itulah Sang Ibu berdoa,
“Ya Allah, Jika anak saya ini tetap hidup dan bisa berjalan, anak ini
saya wakafkan untuk sekolah bahkan setinggi-tingginya yang tidak
ada di kampung ini.”
Alasan yang mendorong mengapa sang ibu sangat perhatian
pada pendidikan, adalah kakek Alim yang merupakan pejuang dan
guru ngaji di zaman Belanda. Jadi sang ibu sempat protes mengapa
anak-anak seorang guru ngaji tapi sekolahnya tidak ada yang tuntas.
Ini memang wajar karena kakek dan neneknya wafat sejak ibu
Akhmad Alim masih bayi. Tetapi justru karena itu, sang ibu berjuang
agar anak-anaknya kelak bisa sekolah setinggi-tingginya.
184 | Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan
Itulah yang memotivasi Akhmad Alim untuk terus bersekolah.
Bahkan sejak kecil ia terbiasa sekolah double. Saat bersekolah di
Sekolah Dasar di pagi hari, sore hari dia bersekolah di madrasah
ibtidaiyah. Begitu juga saat bersekolah di SLTP, ia juga merangkap
ngaji di sebuah pesantren. Begitu pula ketika di ia bersekolah di
tingkat SLTA, ia juga merangkap menimba ilmu di sebuah Pesantren
di Pati, Jawa Tengah. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan tingkat
DI, D2, D3, Sl, S2 dan sampai S3. Alim menyelesaikan jenjang S-l di
Universitas Muhammad Ibnu Sa’ud LIPIA Jakarta dan S-2 di
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Menurut Ahmad Alim, ia mempunyai kebiasaan, ketika dulu
masih bersekolah dan menghadapi ujian, ia meminta doa dari sang
ibu. Keesokannya Sang Ibu pun langsung berpuasa dan shalat
tahajud ketika malam untuk mendoakan kesuksesan anaknya. Walau
pun sang ibu tidak memodali materi, tetapi selalu memberikan doa.
Ketika berangkat sekolah sang ibu selalu berwasiat, “Ibu tidak bisa
memberi kamu biaya, tidak bisa memberi biaya kamu makan. Ibu
hanya membekali kamu dengan basmalah. Dengan basmalah kamu
bisa makan dan kamu bisa hidup dan membiayai kuliah.”
Dengan bekal tersebut ternyata Akhmad Alim tidak pernah kecil
hati dan tidak merasa kekurangan. Bahkan untuk biaya sekolah pun,
Akhmad Alim selalu mendapat beasiswa. "Kalau pun tidak mendapat
beasiswa ada saja rizki dan kemudahan dari jalan yang tidak
diperkirakan sebelumnya” ungkapnya.
Ada kisah, seorang pegawai di sebuah perusahaan yang nge-
fans terhadap Ahmad Alim. Orang tersebut mengaku pengikut
fanatik satu organisasi Islam. Ia mengaku sedih, karena yang aktif di
masjidnya kebanyakan pengikut organisasi lain. Pegawai itu
kemudian merasa bersyukur karena kehadiran Alim mampu
merangkul berbagai kelompok. Di tengah penulisan tesis S-2, tiba-
tiba si pegawai melunasi seluruh biaya pendidikan Akhmad Alim.

185 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
Begitu pula saat Ahmad Alim hendak berangkat ke Madinah
untuk penelitian disertasi. Ada seorang pengusaha yang sadar
bahwa hidup mencari uang terus, karena ia ternyata tidak pernah
mengeyangkan hatinya. Akhirnya ia mengaji dan kemudian
merasakan ketenangan. Ia belajar pada bahasa Arab pada Akhmad
Alim mulai “dari nol” sampai bisa menerjemahkan Al-Quran 30 juz.
Saat Ahmad Alim berangkat ke Madinah untuk melakukan
penelitian, orang itu mengusahakan semua biayanya. “Rizki itu dari
Allah,” kata Ahmad Alim yang kini sehari-hari menjadi Imam di
Masjid al-Hijri Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Belajar Ke Universitas Ummul Qura Mekah
Setelah menyelesaikan pendidikan Dokornya, Alim tidak lantas
berhenti kuliah. Bahkan kehausan akan ilmu, semakin bertambah.
Untuk itu, setahun kemudian Ia berangkat ke Mekah untuk belajar
Metodologi Pengajaran Bahasa Arab dan Tahfidz di Universitas
Ummul Qura Mekah.
Kini, Alim aktif sebagai ketua progam kaderisasi ulama Pesantren
Tinggi Ulil Albab, sekaligus dosen pasca sarjana Universitas Ibn
Khaldun Bogor.

186 | Studi Islam IV


Islamisasi Ilmu Kesehatan
| Studi Islam IV
Islamisasi Ilmu Kesehatan