Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

FRAKTUR COSTAE

Oleh:

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS


ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

Trauma toraks terjadi hampir 50% dari seluruh kasus kecelakaan dan
merupakan penyebab kematian terbesar (25%). Umumnya pada trauma toraks, trauma
tumpul lebih sering terjadi dibandingkan trauma tajam. Prevalensi umur paling
banyak terjadi pada usia kurang dari 40 tahun. Untuk tatalaksananya, sekitar 15% dari
seluruh trauma toraks yang memerlukan tindakan bedah karena sebagian besar kasus
(80–85%) dapat ditatalaksana dengan tindakan yang sederhana, seperti pemasangan
chest tube (Prasenohadi, 2012) .
Trauma toraks banyak terjadi pada pengendara kendaraan bermotor roda dua
akibat trauma tumpul toraks. Kelainan yang sering dijumpai yaitu fraktur iga yang
hampir mencapai 50%. Selain itu penggunaan sabuk pengaman pada kendaraan roda
empat atau lebih juga sebagai penyebab terjadinya trauma toraks berupa fraktur
sternum. Fraktur iga baik tunggal maupun multipel juga terjadi pada orang tua dengan
insidens sekitar 12%. Insidens sesungguhnya fraktur iga masih belum diketahui dan
diperkirakan 50% fraktur iga tidak terdeteksi dengan foto toraks (Howell,
Ranasinghe, & Graham, 2005) .
Penyebab terbanyak dari trauma tumpul toraks seperti yang terjadi di negara-
negara maju seperti Amerika Serikat masih didominasi oleh korban kecelakaan lalu
lintas 70-80%. Insiden trauma tumpul toraks sebanyak 98,8% sedangkan sisanya
sebanyak 4,6% adalah trauma tajam. Di Amerika Serikat tercatat 372 kasus trauma
toraks per tahun dimana 27% disertai cedera ekstremitas, 24% disertai cedera traktus
digestivus dan 15% yang disertai cedera otak. Di Rs Dr. Soetoma Surabaya tercatatat
149 kasus trauma toraks per tahun dimana 19% disertai cedera ekstremitas, 14%
disertai cedera otak dan 9% yang disertai cedera toraks digestivus. Sedangkan di RS
Cipto Mangungkusumo FKUI Jakarta tercatat sejak tahun 1961 insiden trauma toraks
adalah sebesar 16,6% dari seluruh kasus trauma, dimana trauma tumpul 8% dan
trauma tajam 8,8%. Sedangkan penyebab trauma toraks di Jakarta adalah akibat
kecelakaan lalu lintas 63-78%.(Howell, Ranasinghe, & Graham, 2005; Prasenohadi,
2012).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku Nursing
Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya
kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari
yang dapat diserap oleh tulang (Mansjoer et al, 2000).
Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatakan bahwa patah
tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak
robek) tanpa komplikasi (Handerson, 2002).
Fraktur pada iga (costae) adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang /
tulang rawan yang disebabkan oleh ruda paksa pada spesifikasi lokasi pada tulang
costa. Trauma tajam lebih jarang mengakibatkan fraktur iga, oleh karena luas
permukaan trauma yang sempit, sehingga gaya trauma dapat melalui sela iga. Fraktur
iga terutama pada iga IV-X (mayoritas terkena). Perlu diperiksa adanya kerusakan
pada organ-organ intra-toraks dan intra abdomen (Handerson, 2002).
Kecurigaan adanya kerusakan organ intra abdomen (hepar atau spleen) bila
terdapat fraktur pada iga VIII-XII. Kecurigaan adanya trauma traktus neurovaskular
utama ekstremitas atas dan kepala (pleksus brakhialis, subklavia),bila terdapat fraktur
pada iga I-III atau fraktur klavikula (Handerson, 2002).

B. Anatomi Toraks
Rongga toraks dibatasi oleh diafragma dengan rongga abdomen. Rongga
toraks dapat dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu paru-paru (kiri dan kanan) dan
mediastinum. Mediastinum dibagi ke dalam dua bagian : superior dan inferior,
sedangkan yang inferior dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu : anterior, medial, dan
posterior (Pearce, 2006).
Rongga toraks bagian atas atau Apertura Thoracis Superior merupakan pintu
masuk rongga toraks yang disusun oleh permukaan ventral vertebra torakal I
(posterior), bagian medial dari iga I kiri dan kanan (lateral), serta manubrium sterni
(anterior). Bagian bawah rongga toraks atau aperture thoracis inferior adalah area
yang dibatasi oleh sisi ventral vertebra torakal XII, lateral oleh batas bawah iga dan
anterior oleh processus xiphoideus. Diafragma sebagai pembatas rongga toraks dan
rongga abdomen, memiliki bentuk seperti kubah dengan puncak menjorok ke
superior, sehingga sebagian rongga abdomen sebenarnya terletak di dalam area
2,8
toraks. Pada garis tengah dibagian anterior terletak sternum yang terdiri dari 3
bagian, manubrium, korpus, dan processus xiphoideus. Titik paling atas sternum
dikenal sebagai sterna notch atau incisura jugularis, yang tampak berupa lekukan
antara kedua kaput klavikula. Incisura ini setinggi batas bawah dari vertebra torakal
ke-2. Angulus ludovici adalah tonjolan yang terjadi oleh karena pertemuan bagian
korpus dan manubrium sterni. Setinggi organ ini terdapat organ-organ penting seperti
arkus aorta dan karina. Bagian terakhir sternum adalah processus xiphoideus yang
dapat diraba sebagai ujung bawah yang lunak dari sternum, kira-kira setinggi vertebra
torakal 9. Klavikula dapat dengan mudah diraba atau dilihat karena hanya ditutupi
oleh subkutis dan kulit. Scapula dapat diraba dari permukaan dengan margo
vertebralis, angulus inferior, dan spina. Untuk vertebra, sebagai patokan hanya dapat
diraba processus spinosus vertebra, pada bagian atas yang terbesar dan paling
menonjol adalah vertebra torakalis pertama. Garis-garis yang penting adlah linea
midsternalis, linea parasternalis dan midklavikularis (Pearce, 2006).
Gambar 1. Anatomi Rongga Thorax

Dinding Toraks
Rangka toraks dibatasi pada bagian luar oleh iga-iga (tulang costa). Terdapat
12 pasang iga : 7 iga pertama melekat pada vertebra yang bersesuaian, sedangkan iga
ke 8,9,10 menempel pada costa 7. Diantara batas inferior dan permukaaan internal
terdapat costal groove, tempat berjalannya arteri-vena-nervus intercostals. Iga
pertama merupakan iga yang penting oleh karena tempat melintasnya plexus
brachialis, arteri dan vena subklavia. Sela iga ada 11 (sela iga ke 12 tidak ada) dan
terisi oleh m. intercostalis externus dan internus. Lebih dalam dari m. intercostalis
internus terdapat fascia m. transversal thoracis. Pembuluh darah arteri, vena dan
nervus berjalan di tepi bawah iga, kemudian ke anterior makin tertutup oleh iga. Di
cekungan iga ini berjalan berurutan vena, arteri, dan nervus (VAN). Pada daerah
inilah kemungkinan cedera pembuluh intercostalis dapat terjadi pada tindakan
pemasangan WSD (Pearce, 2006).

Isi Rongga Thoraks


Rongga pleura kiri dan kanan berisi paru-paru. Rongga ini dibatasi oleh
pleura visceralis dan pleura parietalis, dimana pleura merupakan membrane aktif
yang disertai dengan pembuluh darah dan limfatik, didaerah ini terdapat pergerakan
cairan, fagositosis debris, menutup kebocoran udara dan kapiler. Pleura visceralis
menutupi paru dan sifatnya sensitive, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan
mediastinum bersama-sama dengan pleura parietalis, yang melapisi dinding dalam
thorax dan diafragma. Sedangkan Rongga mediastinum dan isinya terletak di tengah
dada. Mediastinum dibagi menjadi bagian anterior, medius, posterior, dan superior
(Pearce, 2006).

C. Patofisiologi
Costae merupakan salah satu komponen pembentuk rongga dada yang
berfungsi memberikan perlindungan terhadap organ di dalamnya dan yang lebih
penting adalah mempertahankan fungsi ventilasi paru. Fraktur costae dapat terjadi
akibat trauma yang datangnya dari arah depan, samping, ataupun dari belakang.
Walaupun kontruksi tulang iga sangat kokoh dan kuat namun tulang iga adalah tulang
yang sangat dekat dengan kulit dan tidak banyak memiliki pelindung. Apabila terjadi
trauma tajam dan trauma tumpul dengan kekuatan yang cukup besar saja yang
mampu menimbulkan cedera pada alat / organ dalam yang vital yang ada di dalamnya
(Hoisington dan Samue, 2011).
Cedera pada organ tersebut tergantung pada bagian tulang iga yang mana
yang mengalami fraktur. Cedera pada tiga iga pertama jarang terjadi karena ditunjang
pula oleh tulang-tulang dari bahu seperti skapula, kalvikula, humerus dan seluruh
otot. Namun dapat mengakibatkan kematian yang tinggi karena fraktur tersebut
berkaitan dengan laserasi arteri atau vena subkalvia. Cedera pada iga keempat hingga
kesembilan merupakan tempat fraktur yang paling umum dapat terjadi kemungkinan
cedera jantung dan paru. Dapat mengakibatkan kerusakan ventilasi paru,
meningkatkan stimulasi saraf sehingga pasien akan mengalami nyeri yang sangat
hebat, nyeri tekan, dan spasme otot di atas area fraktur, yang diperburuk dengan
batuk, napas dalam, dan gerakan. Sehingga terjadi masalah keperawatan yaitu Nyeri
akut (Hoisington dan Samue, 2011).
Untuk mengurangi nyeri tersebut pasien melakukan kompensasi dengan
bernapas dangkal sehingga masalah keperawatan yang akan timbul adalah
Ketidakefektifan pola pernapasan dan menghindari untuk menghela napas, napas
dalam, batuk, dan bergerak. Keengganan untuk bergerak atau bernapas ini sangat
mengakibatkan penurunan ventilasi dan juga dapat terjadi masalah keperawatan yaitu
Inefektif bersihan jalan napas dan Gangguan mobilitas fisik, selanjutnya dapat terjadi
kolaps alveoli yang tidak mendapatkan udara (atelektasis) sehingga terjadi
hipoksemia bahkan dapat terjadi gagal napas. Apabila melukai otot jantung dapat
mengakibatkan tamponade jantung dengan tertimbunnya darah dalam rongga
perikardium yang akan mampu meredam aktivitas diastolik jantung (Hoisington dan
Samue, 2011).
Sedangkan iga 10-12 agak jarang terjadi fraktur, karena iga 10-12 ini bisa
mobilisasi, apabila terjadi fraktur kemungkinan cedera organ intraabdomen seperti
pada limpa dan hepar karena tergores oleh patahan tulang iga (Hoisington dan Samue,
2011).

D. Etiologi

Secara garis besar penyebab fraktur costa dapat dibagi dalam 2 kelompok
(Hoisington dan Samue, 2011) :

1. Disebabkan trauma
 Trauma tumpul

 Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa antara
lain: Kecelakaan lalulintas,kecelakaan pada pejalan kaki ,jatuh dari ketinggian,
atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat perkelahian.

 Trauma Tembus

 Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa :Luka tusuk dan
luka tembak
2. Disebabkan bukan trauma

Yang dapat mengakibatkan fraktur costa ,terutama akibat gerakan yang


menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya gerakan
yang berlebihan dan stress fraktur,seperti pada gerakan olahraga : Lempar martil, soft
ball, tennis, golf.

E. Klasifikasi

a) Menurut jumlah costa yang mengalami fraktur dapat dibedakan :


· Fraktur simple
· Fraktur multiple
b) Menurut jumlah fraktur pada setiap costa dapat :
· Fraktur segmental
· Fraktur simple
· Fraktur comminutif
c) Menurut letak fraktur dibedakan :
· Superior (costa 1-3 )
· Median (costa 4-9)
· Inferior (costa 10-12 ).
d) Menurut posisi :
· Anterior,
· Lateral
· Posterior.
Fraktur costa atas (1-3) dan fraktur Skapula
1. Akibat dari tenaga yang besar
2. meningkatnya resiko trauma kepala dan leher, spinal cord, paru, pembuluh darah
besar
3. mortalitas sampai 35%
Fraktur Costae tengah (4-9) :
1. Peningkatan signifikansi jika multiple. Fraktur kosta simple tanpa komplikasi
dapat ditangani pada rawat jalan.
2. MRS jika pada observasi :
 Penderita dispneu
 Mengeluh nyeri yang tidak dapat dihilangkan
 Penderita berusia tua
 Memiliki preexisting lung function yang buruk.
Fraktur Costae bawah (10-12) :
Terkait dengan resiko injury pada hepar dan spleen
Catatan : insersi chest tube sebagai profilaksis harus dilakukan pada semua px
trauma yang diintubasi pada adanya fraktur kostae. Associated injuries sering
terlewatkan meliputi :kontusio kardiak, rupture diafragmatik dan injury esophageal
(Hoppenfeld dan Stanley, 2011).
F. Tanda dan Gejala

 Nyeri tekan, crepitus dan deformitas dinding dada


 Adanya gerakan paradoksal
 Tanda–tanda insuffisiensi pernafasan : Cyanosis, tachypnea.
 Kadang akan tampak ketakutan dan cemas, karena saat bernafas bertambah nyeri
 Korban bernafas dengan cepat , dangkal dan tersendat . Hal ini sebagaiusaha untuk
membatasi gerakan dan mengurangi rasa nyeri.
 Nyeri tajam pada daerah fraktur yang bertambah ketika bernafas dan batuk
 Mungkin terjadi luka terbuka diatas fraktur, dan dari luka ini dapat terdengar suara
udara yang “dihisap” masuk ke dalam rongga dada.
 Gejala-gejala perdarahan dalam dan syok (Hoppenfeld dan Stanley, 2011).
G. Diagnosis

Sebanyak 25% dari kasus fraktur costa tidak terdiagnosis, dan baru
terdiagnosis setelah timbul komplikasi
seperti hematotoraks dan pneumotoraks. Hal ini dapat terjadi pada olahragawan yang
memiliki otot dada yang kuat dan dapat mempertahankan posisi frakmen tulangnya
(Hoppenfeld dan Stanley, 2011).
Anamnesis
Perlu ditanyakan mengenai mekanisme trauma, apakah oleh karena jatuh
dari ketinggian atau akibat jatuh dan dadanya terbentur pada benda keras, kecelakan
lalu lintas, atau oleh sebab lain.
Nyeri merupakan keluhan paling sering biasanya menetap pada satu titik da
n akan bertambah pada saat bernafas. Pada saat inspirasi maka rongga dada akan
mengembang dankeadaan ini akan menggerakkan fragmen costa yang patah,
sehingga akan menimbulkan gesekanantara ujung fragmen dengan jaringan lunak
sekitarnya dan keadaan ini akan menimbulkan rangsangan nyeri.
Apabila fragmen costa ini menimbulkan kerusakan pada vaskuler akan dapat
menimbulkan hematotoraks, sedangkan bila fragmen costa mencederai parenkim
paru-paru akan dapat menimbulkan pneumotoraks. Penderita dengan
kesulitan bernafas atau bahkan saat batuk keluar darah, hal ini menandakan adanya
komplikasi berupa adanya cedera pada paru. Riwayat penyakit dahulu seperti
bronkitis, neoplasma, asma, haemoptisis atau sehabis olahraga akan dapat membantu
mengarahkan diagnosis adanya fraktur costa. Pada anak dapat terjadi cedera paru
maupun jantung, meskipun tidak dijumpai fraktur costa. Keadaan ini disebabkan
costanya masih sangat lentur, sehingga energi trauma langsung mengenai jantung
ataupun paru-paru (Mansjoer et al, 2012).
Pemeriksaan fisik
Kondisi lokal pada dinding dadanya seperti adanya plester, deformitas dan
asimetris, kita perlu juga memeriksa fisik secara keseluruhan yang berkaitan dengan
kemungkinan adanya komplikasi akibat adanya fraktur costa sendiri maupun penyakit
penyerta yang kadang ada. Adanya fraktur costa ke 1-2 yang merupakan costa yang
terlindung oleh sendi bahu, otot leher bagian bawah dan
clavicula, mempunyai makna bahwa fraktur tersebut biasanya diakibatkan oleh
trauma langsung dengan energi yang hebat. Pada fraktur daerah ini perlu dipikirkan
kemungkinan adanya komplikasi berupa cidera terhadap vasa dan saraf yang
melewati apertura superior. Pemisahan costocondral memiliki mekanisme
trauma seperti pada fraktur costa. Pemisahan costocondral atau dislokasi pada
artikulasi antara parsosea dengan parscartilago akan menimbulkan gejala yang sama
dengan fraktur costa, dengan nyeri yang terlokalisir pada batas costocondral, apabila
terdapat dislokasi secara komplit akan teraba defek oleh karena ujung parsoseanya
akan lebih menonjol dibandingkan dengan parscartilagonya. Adapun pada
pemeriksaan fisik perlu diperhatikan adanya :
a. Nyeri tekan, crepitus dan deformitas dinding dada
b.Adanya garakan paradoksal
c.Tanda–tanda insuffisiensi pernafasan : Cyanosis, tachypnea
d.Kadang akan nampak ketakutan dan cemas,karena saat bernafas bertambah nyeri.
Periksa paru dan jantung dengan memperhatikan adanya tanda-tanda
pergeseran trakea, pemeriksaan ECG, saturasi oksigen. Periksa abdomen terutama
pada fraktur costa bagian inferior :diafragma, hati, limpa,ginjal dan usus. Periksa
tulang rangka: vertebrae, sternum, clavicula, fungsi anggota gerak.h.nilai status
neurologis: plexus bracialis, intercostalis, subclavia (Mansjoer et al, 2012).
Pemeriksaan penunjang
Rontgen toraks anteroposterior dan lateral dapat membantu mendiagnosis
hematotoraks dan pneumotoraks ataupun contusio pulmonum. Pemeriksaan ini akan
dapat mengetahui jenis, letak fraktur costaenya. Pemeriksaan foto oblique
hanya dapat membantu diagnosis fraktur multiple pada orang dewasa, rontgen
abdomen apabila ada kecurigaan trauma abdomen yang mencederai hati, lambung
ataupun limpa akan menimbulkan gambaran peritonitis. Sedangkan pada kasus yang
sulit terdiagnosis dapat dilakukan dengan “Helical CT Scan” (Mansjoer et al, 2012).
H. Tatalaksana
Tatalaksana di Unit Gawat Darurat
Tujuan utama dari penatalaksanaan di unit gawat darurat adalah untuk menstabilkan
kondisi pasien trauma dan evaluasi dari multi trauma. Manajemen ABC dan kontrol
nyeri mutlak pada penatalaksanaan fraktur tulang kosta. Untuk menurunkan alveolar
yang kolap dan membersihkan sekresi paru. Manajemen nyeri dapat dimulai dengan
pemberian analgetik NSAID bila tidak ada kontraindikasi. Dilanjutkan dengan
golongan narkotik bila hasilnya tidak memuaskan. Pilihan lain adalah narkotik
parenteral untuk mencegah depresi pernafasan. Beberapa penelitian
merekomendasikan rawat inap untuk pasien dengan 3 atau lebih patah tulang kosta
dan perawatan ICU untuk pasien lanjut usia dengan 6 atau lebih patah tulang kosta
karena ada hubungan yang signifikan dari patah tulang tersebut dengan adanya cedera
serius pada organ dalam seperti pneumothorax dan kontusio paru (May L, Hillerman,
Patil S, 2016)
Kontrol nyeri perlu dipertahankan selama perawatan kontrol nyeri merupakan dasar
dari kualitas perawatan pasien untuk menjamin kenyamanan pasien. Pasien dengan
patah tulang kosta akan mengalami nyeri berat ketika bernafas, berbicara, batuk
maupun ketika menggerakkan tubuh. Sehingga kontrol nyeri merupakan prioritas
untuk menurunkan risiko paru dan efek sistemik dari fraktur seperti penurunan fungsi
pernafasan yang memicu terjadinya hypoxia, atelectasis, dan pneumonia (May L,
Hillerman, Patil S, 2016).
Tatalaksana Pembedahan
Penggunaan fiksasi patah tulang kosta meningkat untuk penanganan flail chest karena
peningkatan jumlah publikasi tentang peningkatan outcome pasien. Belum ada
publiksasi tentang keunggulan dari fiksasi patah tulang kosta tetapi ada perbedaan
dari teknik muscle sparing dan tradisional untuk penanganan toraks dan pembedahan
spinal. Fiksasi patah tulang melalui pembedahan/Surgical Rib fixation (SRF)
merupakan suatu penanganan pada flail chest untuk menjaga stabilitas dinding toraks
(Taylor et al, 2013).
Dalam pemilihan pendekatan operasi yang digunakan operator harus memahami
regional anatomi dengan untuk meminimalisir iatrogenic injury. Topografi
permukaan dapat dijadikan acuan untuk melakukan insisi saat operasi. Sudut
superiior dari scapula sejajar dengan T3, sedangkan sudut inferior dari scapula
biasanya berada pada costa ke 7. Pada bagian anterior, aspek inferior dari M.
Pectoralis mayor sejajar dengan costa ke 5 sedangkan aspek superior dari muskulus
seratus anterior menandai dari costa ke-6 (Taylor et al, 2013).
Pada pembedahan membutuhkan evaluasi foto polos maupun ST-Scan. Namun, 3D
CT Scan memiliki manfaat yang lebih, karena operator dapat mengevalusi secara
penuh tulang dari toraks dan dapat lebih fokus atau langsung untuk menentukan
segmen mana yang membutuhkan fiksasi dan tidak membutuhkan thoracotomy
(Taylor et al, 2013).
STANDARD POSTEROLATERAL THORACOTOMY
Pendekatan ini merupakan teknik operasi yang paling sering digunakan oleh spesialis
bedah toraks atau bedah umum, namun jarang digunakan bedah ortopedi. Dengan
teknik ini dapat dilakukan akses ke daerah posterior, posterolateral dan lateral dari
costae dengan akses anterior ekstensi transversal atau oblique dari sayatan. Pada
teknik ini pasien diposisikan lateral dekubitus dengan lengan diposisikan di atas
kepala pada armboard untuk stabilitas. Incisi dimulai dari titik antara pocesus
spinosus dan batas medial dari skapula ke arah caudal. Tepi inferior dari syaatan ini
tergantung dari kebutuhan dan lokasi dari costae yang fraktur (Taylor et al, 2013).

MUSCLE SPARING THORACOTOMY


Pada teknik ini pasien posisi dan insisi sama seperti pada tenekatan posterolateral,
namun berbeda dari diseksi dalamnya. Insisi diambil ke trapezius dan fascia otot
latissimus dan fascia diangkat dari lapisan otot yang lebih dalam untuk
memungkinkan visualisasi interval otot. Tidak diperlukan penutupan interval otot
dalam pada pendekatan ini, namun menjahit aspek dalam dengan ketebalan penuh
dan pada oto yang sesuai akan meminimalisir “date space” dan pembentukan
hematoma dan seroma post operasi. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah
dengan drain (Taylor et al, 2013).

AXILLARY APPROACH
Teknik ini digunakan untuk fraktur kosta anterolateral yang membutuhkan fiksasi.
Teknik ini memberikan ekspose yang cukup besar pada daerah thoraks anterolateral
dan visualisasi langsung dari saraf toraks panjang, sayangnya teknik ini tidak
memberikan akses ke kosta kondral anterior tanpa eksisi anterior yang signifikan.
Selain itu, dengan pendekatan axillary juga membatasi visualisasi costa posterolateral
sehingga biasanya hanya digunakan dalam operasi yang membutuhkan visualisasi
yang luas untuk reduksi dan fiksasi fraktur costa multipel anterolateral. Pasien
biasanya diposisikan lateral dekubitus atau alternatifnya pada posisi “sloppy” lateral
dengan posisi lesi terangkat sekitar 45 derajat. Insisi vertikal dibuat kira-kira 1,5 cm
ke lateral dari batas lateral skapula ke arah inferior sampai 1-2 iga di atas costa yang
perlu dilakukan fiksasi. Insisi kemudian dilakukan ke arah anterior secara melintang
sesuai kebutuhan untuk tindakan (Taylor et al, 2013).

INFRAMAMMARY/PECTORALIS-LIFTING APPROACH
Pada teknik ini, pasien diposisikan supine atau jika diperlukan akses anterolateral
insisi dapat ditempatkan dibawah hemithoraks ipsilateral untuk memperluas ke akses
lateral. Insisi dibuat di lipatan inframamillary (baik untuk kosmetik) dan akses costa
anterior dan tulang rawan costa dapat diperoleh dengan mengangkat jaringan
payudara dan otot utamnya M. Pectoralis anterior dan superior. Teknik ini dapat
diperluas dengan teknik posterolateral atau pendekatan axillary (Taylor et al, 2013).

I. Komplikasi
Kegagalan fungsi respirasi
Nyeri pada dinding toraks karena patah tulang kosta meningkatkan kerja dari
pernafasan dan resiko terjadi kelemahan pada paru-paru. Kegagalan respirasi dapat
terjadi karena trauma pada dinding toraks dan lebih sering terjadi kontusio paru atau
terjadinya pneumonia nosokomial (Syamsuhidajat R dan Wim De Jong, 2004).
Hipoksia
Fraktur tulang kosta mengganggu proses ventilasi dengan berbagai mekanisme.
Ketidaksesuaian perfusi/ventilasi menurunkan pertukaran gas dan penurunan
compliance paru sehingga secara klinis muncul gejala seperti hipoksia (Karmakar et
al, 2002). Kegagalan pernafasan terjadi ketika pertukaran O2 dengan CO2 tidak
adekuat sesuai kebutuhan metabolisme sehingga menyebabkan hypoxaemia
(Syamsuhidajat R dan Wim De Jong, 2004).
Atelektasis
Nyeri dari patah tulang kosta dapat disebabkan karena penekanan respirasi yang
menyebabkan atelektasis dan pneumonia. Hipoksemia berhubungan dengan ketidak
sesuaian ventilasi dan perfusi karena penurunan ventilasi sehingga meningkatkan
FiO2. Bila atelectasis muncul, positive end expiratory pressure (PEEP) akan
meningkatkan PaO2 (Syamsuhidajat R dan Wim De Jong, 2004).
Pneumonia
Pneumonia merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada patah
tulang kosta. Pneumonia dapat bervariasi tergantung pada patah tulang kosta dan
umur pasien.Insiden terjadinya pneumonia pada semua pasien yang dirawat di rumah
sakit dengan satu atau lebih patah tulang kosta sekitar 6 % (Syamsuhidajat R dan
Wim De Jong, 2004).
Kerusakan Organ Viseral
Fraktur pada kosta bagian bawah biasanya berhubungan dengan trauma pada organ
abdomen dibandingkan dengan parenkim paru. Fraktur pada bagian bawah kiri
berhubungan dengan trauma lien dan fraktur pada bagian bawah kanan berhubungan
trauma liver dengan fraktur pada kosta 11 dan 12 biasanya berhubungan dengan
cedera ginjal (Syamsuhidajat R dan Wim De Jong, 2004).
Pnemotoraks
Adanya akumulasi udara dalam rongga pleura yang menekan paru-paru dapat dilihat
pada pemeriksaan diagnostik foto polos toraks. Pneumotoraks adalah suatu kondisi
adanya udara yang terperangkap di rongga pleura akibat robeknya pleura visceral,
dapat terjadi spontan atau karena trauma, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan
bertekanan negatif intrapleura sehingga mengganggu proses pengembangan paru.
Pneumotoraks terjadi karena trauma tumpul atau tembus torak. Dapat pula terjadi
karena robekan pleura viseral yang disebut dengan barotrauma, atau robekan pleura
mediastinal yang disebut dengan trauma trakheobronkhial (Syamsuhidajat R dan
Wim De Jong, 2004).
Hemotoraks
Hemotoraks berhubungan dengan adanya darah/bekuan darah pada rongga toraks dan
memerlukan tindakan segera thoracostomy drainage. Risiko empyema meningkat
pada pasien dengan hemotoraks. Terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat
trauma tumpul atau tembus pada toraks. Sumber perdarahan umumnya berasal dari
arteri interkostalis atau arteri mamaria interna. Perlu diingat bahwa rongga
hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematotoraks dapat
terjadi syok hipovolemik berat yang mengakibatkan terjadinya kegagalan sirkulasi,
tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata oleh karena perdarahan masif yang
terjadi, yang terkumpul di dalam rongga toraks (Syamsuhidajat R dan Wim De Jong,
2004).
Kontusio paru
Trauma tumpul toraksmenyebabkan kontusio paru merupakan kasus yang sering
terjadi dengan 10%-17% dari semua pasien yang masuk rumah sakit dengan angka
kematian 10% - 25% (Martin et al, 2009). Fraktur kosta selalu berhubungan dengan
kontusio paru. Patah tulang kosta multipel ditemukan menjadi predisposisi terjadinya
penurunan fungsi paru dan compromised ventilation (Syamsuhidajat R dan Wim De
Jong, 2004).
DAFTAR PUSTAKA

Henderson, M.A. 2002. Ilmu Bedah Perawat. Jakarta : Yayasan Mesentha Medica.

Hoisington, Samuel. 2011. Terapi dan Rehabilitasi Fraktur. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Hoppenfeld, Stanley. 2011. Terapi dan Rehabilitasi Fraktur. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Howell, N., Ranasinghe, A., & Graham, T. (2005). Management of rib and sternal
fractures. Trauma, 7, 47–54.

Mansjoer, Arif, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius FKUI,
Jakarta, 2000.

Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis, Cetakan kedua
puluh Sembilan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Prasenohadi, T. S. (2012). Penatalaksanaan Pasien Trauma dengan Fraktur Iga


Multipel. Majalah Kedokteran Terapi Intensif, 2.

May L, Hillerman, Patil S. 2016. Rib Fracture Management. UK: BJA Education, 16
(1): 26-32.

Syamsuhidajat, R, Wim De Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.