Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI

ANESTESI PADA OPERASI TIROID

Oleh :
dr.
PENDAHULUAN
• Kelenjar tiroid merupakan salah satu
kelenjar endokrin yang terdiri atas 2 lobus,
letaknya berada di depan trakea dan
dibawah kartilago krikoid.
• Dalam tubur kelenjar tiroid berfungsi dalam
memiliki fungsi diantaranya:

1. Mempengaruhi metabolism sel, proses


produksi panas, oksidasi di sel-sel tubuh.
2. Mempengaruhi pertumbuhan,
perkembangan dan diferensiasi jaringan
tubuh.
3. Berpengaruh dalam mengubah tiroksin.
TIROID DISEASES
HIPOTIROIDISME
• Hypotiroidisme penyakit yang diakibatkan
karena kurangnya produksi hormon tiroid
dalam tubuh.
• Penyebabnya dapat dikarenakan kelainan
imunitas (tiroiditid HAShimoto), kekurangan
konsumsi yodium, infeksi, obat-obatan
(lithium karbonat, amiodarone hidrokloride)
dan lain-lain.
• Pasien dengan hipotiroid diberikan terapi
obat sebagai pengganti hormon tiroidnya
Pasien dengan penyakit gondok (Goiter) diantaranya adalah levotiroksin sodium atau
l-tiroksin
HIPERTIROIDISME
• Dikenal juga dengan tirotoksikosis
• Hipertiroidisme penyakit yang diakibatkan
karena berlebihnya produksi hormon tiroid
dalam tubuh.
• Penyebabnya dapat dikarenakan
abnormalitas sekresi TSH, tumor kelenjar
tiroid dan lain sebagainya.
• Terapi untuk penyakit ini adalah dengan
pmeberian obat anti tiroid (propiltiourasil,
methimazole), pengangkatan kelenjar
tiroid ataupun operasi tumor yang
mengakibatkan produksi hormon tiroid
Graves disease berlebih.
Ca TIORID
• Merupakan karsinoma yang terjadi pada kelenjar tiroid.
• Berdasarkan histoopatologinya diklasifikasikan menjadi karsinoma palilar,
karsinoma folikuler, karsinoma medular dan karsinoma anaplastik.
• Terapi yang dapat diberikan adalah dengan pembedahan maupun radiasi,
tergantung dari operabel tidaknya tumor tersebut.
KRISIS TIROID (THYROID STORM)
• Komplikasi hipertiroidisme yang harus segera dikenali dan ditangani serta harus ditangani
secara cepat karena dapat berakibat fatal.
• Tandanya diantaranya adalah
Demam, keringat berlebih, takikardi, mual muntah, agitasi, psikosis, stupor hingga koma.
• Etiologinya adalah pasien dengan tirotoksikosis yang disertai faktor pemicu diantaranya:
 Sepsis
 Operasi
 Induksi anestesi
 Radioaktif iodine terapi
 KAD
 Trauma langsung pada kelenjar tiroin, dsb
ANESTESI PADA
OPERASI TIROID
• Tindakan anestesi pada operasi daerah leher
berkaitan erat dengan angka morbiditas dan
mortalitas sehingga antisipasi terjadinya sumbatan
nafas merupakan hal yang penting.
• Pasien dengan struma harus dievaluasi untuk
kemungkinan kesulitan pengelolaan jalan napas
dan deviasi trakea. Biasanya operasi dilakukan
dengan intubasi endotrakeal.
• Semua prosedur bedah elektif, total maupun
subtotal tiroidektomi harus ditunda sampai pasien
euthyroid secara klinis dan laboratoris.
EVALUASI PRAOPERATIF
• Evaluasi praoperatif pada operasi tiroid secara umum sama sedang tindakan
operasi lain, dimana didahului dengan melihat riwayat medis pasien sebelum
melakukan pembedahan dan pemeriksaan generalis dengan pemantauan khusus
untuk gangguan pada jalan nafas sebelum dilakukan rencana anestesi pada
operasi di daerah leher.
• Evaluasi praoperatif yang dapat dilakukan meliputi :
1. Status Pasien : kesadaran, tanda vital, status gizi/IMT
2. Evalusi status general generalis dengan pemeriksaan fisik, dan penunjang yang
lain sesuai dengan indikasi
 Pemeriksaan Fisik
Psikis

Saraf

Kardiovaskuler

Respirasi  batuk, dispneu, hemoptisis, stridor, serak, dkk.

Hemodinamik

Gastrointestinal

Hepatobilier

Urogenital

Metabolik & endokrin  masalah tiroid, intolerasi suhu, keringat >>, dsb.

Muskuloskeletal
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan lab lengkap termasuk fungsi


tiroid (T3, T4 dan TSH harus dbn/ eutiroid)

Pemeriksaan radiologi

Evaluasi kardiologi terutama pasien usia >


35 tahun
 Pemeriksaan Khusus
• Pada pasien dengan tumor pada daerah kepala leher memungkinkan
terjadinya kontraktur akibat pengobatan sebelumnya ataupun gerakan leher
yang terbatas.
• Kekakuan, dan distorsi pada jaringan orofaringeal dapat mengganggu
ventilasi sungkup muka. Pasien dengan pembedahan pada daerah leher harus
memperhatikan jalan nafas dengan melakukan pemeriksaan jalan nafas
diantaranya penilaian gerakan leher di semua bagian (terutama antlanto-
aksial fleksi, dan ekstensi), estimasi jarak tiromental, dan tingkat mallampati.
• Penilaian untuk emungkinan adanya kesulitan untuk laringoskopi dan intubasi
dapat dinilai dengan kriteria LEMON.
• Selain itu, perlu dilakukan penilaian status hormon tiroid denagn
pemeriksaan laboratorium dan atau penilaian dengan index wayne
Kriteria LEMON

Mallampati score
MANAJEMEN INTRAOPERATIF

Menurut sejarah operasi tiroid dilakukan di bawah


anestesi lokal//regional, namun teknik anesteri
umum lebih disukai saat ini.
Anestesi Regional

• Tenik yang umum digunakan untuk operasi tiroid dengan anesteri reginal adalah
blok pleksus servikal bilateral C2-C4 dilakukan dengan monitoring penuh dengan
sedasi atau tanpa sedasi.
• Sedasi sadar dapat dicapai dengan penambahan midazolam atau Infus Sasaran
Terkendali (TCI) propofol.
• Blok pleksus servical bilateral yang dalam memiliki insidens komplikasi yang lebih
tinggi, termasuk injeksi subdural dan A. Vertebralis serta kelumpuhan saraf
frenikus.
• Untuk [blok superficial plexus
cervical pasien harus
diposisikan ekstensi ke sisi
berlawanan, kemudian titik
tengh batas posterior SCM
divisualisasikan , kemudian 15-
20 cc anestesi lokal disuntikkan
pada wheal superficial
mendalam kelapisan fascia
pertama ke arah caudal dan
cephalsepanjang perbatasan
CM posterior.

• Untuk tiroidektomi blok


bilateral harus dilakukan.
Anestesi Umum

• Pada anestesi umum berbagai teknik dapat digunakan. Pada kebanyakan kasus,
pasien dapat diberi induksi intravena dan intubasi endotrakeal.
• Agen intravena maupun inhalasi dapat dipilih untuk pemeliharaan anestesi.
Relaksasi otot yang baik sangat penting dan fungsi neuromuskular harus
dipantau.
• Posisi kepala sepenuhnya diekstensi dan diletakkan pada cincin bantalandengan
bagian skapula diberi tumpuan. Mata perlu diperhatikan khusus pada pasien
dengan exophtalmus.
• Akses saluran nafas akan akan terbatas selma prosedur sehingga posisi
endotrakel tube harus ditempelkan aman. Posisi kepala sedikit dimiringkan juga
dapat dipilih untuk drainase.
EVALUASI PASCA OPERATIF
• Blokade neuromuskular harus sepenuhnya kembali. Pasien
didudukkan dan bali=on endotrakeal dikempiskan sebelum
diekstubasi
• Ekstibasi
dilakuakn saat pasien mulai sadar. Hal ini meminimalkan
manipulasi jalan nafas dan pergerakan leher. Serta kepala saat mulai
sadar, mencegah batauk dan tegang.
• Steroid
( ex: dexametason 8 mg) dapat membantu mengurangi
edema saluran nafas terlalu lama atau sulit.
PERTIMBANGAN PASCA OPERATIF
PERDARAHAN
Dapat menyebabkan obstruksi atau kompresi jalan nafas yang cepat. Tanda-tanda
pembengkakakn atau hematome perlu segra didekompresi dengan pengangkatan
klip bedah. Penghapus klip harus disimpan di samping bed pasien, jika
memungkinkan, re intubasi dini sebaiknya dilakukan.
EDEMA LARING
Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari intubasi trakea yang raumatik atau pada
pasien yang timbul hematome yang dpaat menyebabkan obstruksi drainase vena.
Hal ini biasanya dapat ditangani dnegan steroid atau oksigen.
KELUMPUHAN SARAF LARING
Dapat terjadi karena iskemi, traksi terjepit atau transeksi saraf selama operasi.
Kelumpuhan unulateral akan mengakibatkan kesulitan bernafas, suara serak
sedangkan kelumpuhan bilateral akan mengakibatkan adduksi lengkap pita suara
dan stridor, sehingga perlu dilakukan re intubasi atau mungkin perlu di trakeostomi.
PERTIMBANGAN PASCA OPERATIF
HIPOKALSEMI
Sebagai akibat dari terganggunya kelenjar paratiroid atau keangkatnya kelenjar
paratiroid bersamaan dengan tiroidektomi.
Tracheomalasia
Perlu dipertimbangkan pada pasien yang telah mengalami kompresi trakea karena
goiter atau tumor ytang besar. Re intubasi dapat dilakukan jika keadaan ini terjadi.
BADAI TIROID (THYROID STROM)
Ditandai dengan hiperpireksia, takikardi, penurunan kesadaran dan hipotensi.
Manajemen suportif dengan pendinginan aktif, hidrasi, beta bloker dan obat-obat
antitiroid harus segera dilakukan.
TERIMAKASIH

23