Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

KLIEN DENGAN VARIOLA

ANGGOTA KELOMPOK :

Denis dwi wulandany 201701176

Aprilia dwi anggraini 201701185

Halimatus sakdiyah 201701197

Nira safira putri alfionita 201701204

Aji kurniawan 201701213

Dita andan sari 201701215

STIKES BINA SEHAT PPNI KAB. MOJOKERTO

PRODI S1 KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2019-2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3 yang berjudul “Asuhan Keperawatan
Variolla" tepat waktu.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah


membantu dalam penyusunan tugas Keperawatan Medikal Bedah 3.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan, maka


dari itu penulis membutuhkan kritik dan saran yang membangun, sehingga
makalah ini dapat bermanfaat dikemudian hari.

Mojokerto, 23 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i

KATA PENGANTAR.................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1

1.3 Tujuan ........................................................................................................ 1

BAB II. TINJAUAN TEORI ........................................................................ 3

BAB III. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN........................................ 39

BAB IV. TINJAUAN KASUS........................................................................ 43

BAB V. PENUTUP ........................................................................................68

5.1 Kesimpulan .............................................................................................68

5.2 Saran .......................................................................................................68

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................69


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan kulit perlu diperhatikan karena kulit merupakan bagian


yang paling vital dan mencerminkan kesehatan dan kehidupan. Penyakit
kulit seperti variola merupakan penyakit yang mengganggu
penampilan.Variola adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan
oleh virus variola major atau variola minor. Maka dari itu, agar tidak
terjangkit penyakit tersebut, diharapkan harus menjaga personal hygine
dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas pada makalah ini meliputi:

1. Bagaimana konsep penyakit dari variola ?


2. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien yang mengalami variola ?
1.3 Tujuan

Tujuan dari pembahasan makalah ini meliputi:

1. Mengetahui konsep penyakit dari variola.

2. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien yang mengalami variola.


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Definisi Variola


Variolla adalah penyakit yang sangat menular, dengan gejala demam
yang sangat tinggi dan akut disertai dengan gejala kulit yang merata dan
berat. Gejala dimulai dari suatu bercak berwarna merah (“Macula”), lalu
bercak tersebut menjadi timbul diatas permukaan kulit (“Papula”), kemudian
membentuk ruangan yang berisi cairan jernih (“vesicula=vesicle”), kemudian
cairan tersebut menjadi keruh (“Pustula”), lalu pustula menjadi kering
membentuk keropeng (“crusta”). “keropeng” kemudian lepas, dan terjadi
penyembuhan. Pada umumnya gambaran klinik menunjukan single crops,
artinya satu stadium saja.
Variola (smallpox) adalah penyakit menular pada manusia yang
disebabkan oleh virus variola major atau variola minor.Penyakit ini dikenal
dengan nama Latinnya, variola atau variola vera, yang berasal dari kata Latin
varius, yang berarti “berbintik”, atau varus yang artinya “jerawat”. Variola
muncul pada pembuluh darah kecil di kulit serta di mulut dan kerongkongan.
Di kulit, penyakit ini menyebabkan ruam, dan kemudian luka berisi
cairan.Varila major menyebabkan penyakit yang lebih serius dengan tingkat
kematian 30–35%.Variola minor menyebabkan penyakit yang lebih ringan
(dikenal juga dengan alastrim, cottonpox, milkpox, whitepox, dan Cuban
itch) yang menyebabkan kematian pada 1% penderitanya.Akibat jangka
panjang infeksi V. major adalah bekas luka, umumnya di wajah, yang terjadi
pada 65–85% penderita
Variola adalah penyakit infeksi virus akut yang disertai keadaan umum
yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian, dengan ruang kulit
yang monomorf, terutama tersebar di bagian perifer tubuh.

2.2 Etiologi Variola


Penyebab variola adalah virus variolae ada 2 tipe virus yang identik , tetapi
menimbulkan 2 tipe variola yaitu variola mayor dan variola minor (alastrim).
Perbedaan kedua virus itu adalah bahwa penyebab variola mayor bila
dimokulasikan pada membrane karioalontrik tubuh pada suhu 38o C.
Sedangkan yang menyebabkan variola minor tumbuh dibawah suhu itu.
Agent penyebab penyakit cacar adalah virus Variola, anggota dari Genus
Orthopoxvirus, Subfamili Chordopoxviridae dari Famili Poxviridae.

Virus variola relatif stabil dalam lingkungan alam.Virus variola


berukuran 150-260 nanometer dan berisi molekul DNA beruntai ganda
sekitar 200 protein yang berbeda, virus ini merupakan salah satu genom virus
terbesar yang dikenal. Ukuran genom yang besar membuatnya sangat sulit
untuk membuat sintetis virus tiruan. Virus cacar tidak tahan oleh sinar
matahari dan panas. Dalam percobaan di laboratorium, 90% virus cacar
berupa aerosol mati dalam 24 jam setelah terkena sinar matahari.

2.3 Masa Inkubasi


Masa inkubasi cacar biasanya antara 12 dan 14 hari (kisaran 7-17).
Selama fase ini, tidak ada bukti pelepasan virus.Pasien merasa baik dan tidak
menular. Masa inkubasi diikuti dengan timbulnya mendadak seperti flu
gejala: demam, merasa tidak sehat, sakit kepala, nyeri punggung dan, dalam
beberapa kasus, sakit perut dan muntah. Dua sampai tiga hari kemudian, suhu
tubuh dan pasien mulai merasa lebih baik, di mana titik kecil bintik-bintik
merah sering muncul di lidah, gusi, mulut dan orofaring. 24 jam kemudian,
ini berkembang menjadi ruam jerawat seperti lesi pada selaput lendir
melepaskan sejumlah besar virus ke dalam mulut dan tenggorokan, membuat
pasien sangat menular. Pada saat yang sama, karakteristik ruam cacar muncul,
pertama pada wajah, kemudian pada tangan dan lengan bawah, sebelum
menyebar ke seluruh tubuh.
Fitur diagnostik cacar adalah distribusi cen-trifugal lesi yang lebih
menonjol pada wajah dan pada ekstremitas. Ruam juga biasanya
mempengaruhi telapak tangan dan kaki. Semua lesi pada bagian tertentu dari
kemajuan tubuh dengan cara yang sama: bintik-bintik merah muda kecil -
papula muncul - vesikel dengan pustule kecil di tengah - pustula. 8-14 hari
setelah timbulnya gejala, pustula membentuk scabs (koreng) yang pada
penyembuhan meninggalkan bekas mendalam, bekas depigmented, yaitu
karakteristik "bintik-tanda". Penyakit ini mematikan terutama ketika pasien
memunculkan gejala dengan hemoragik (perdarahan di kulit dan selaput
lendir sebelum pembentukan bintil), dan ketika ada kerusakan umum
sistemik, disebabkan oleh keracunan darah dan pembentukan
immunocomplexes (virus dan kompleks antibodi). Hal ini juga tidak biasa
bagi pasien dengan komplikasi pneumonia bronkial serta infeksi paru-paru
bakteri atau dengan ensefalitis viral (radang otak). cacar dengan lesi
mendalam sering dikenali karena di ikuti bekas luka yang tertinggal.
2.4 Manifestasi Klinis
Masa tunas 10-14 hari terdapat 4 stadium :

1. Stadium prodromal/invasi : Stadium ini berlangsung selama 3-4 hari yang


ditandai dengan :
a) Suhu tubuh naik (40oC)
b) Nyeri kepala
c) Nyeri tulang dan sendi
d) Sedih dan gelisah
e) Lemas
f) Muntah-muntah
2. Stadium makula– papular /erupsi
Suhu tubuh kembali nomal, tetapi timbul makula-makula eritematosa
dengan cepat akan berubah menjadi papula-papula terutama dimuka dan
ektremitas (termasuk telapak tangan dan kaki) dan timbul lesi baru.
3. Stadium vesikula – pustulosa / supurasi
Dalam waktu 5 – 10 hari timbul vesikula-vesikula yang cepat berubah
menjadi pustule. Pada saat ini suhu tubuh akan meningkat dan lesi-lesinya
akan mengalami umblikasi.
4. Stadium resolusi
Berlangsung dalam 2 minggu, stadium ini dibagi menjadi 3 :
a) Stadium krustasi
Suhu tubuh mulai menurun, pustule-pustula mengering menjadi krusta.
b) Stadium dekrustasi
Krusta-krusta mengelupas, meninggalkan bekas sebagai sifakriks atrofi.
Kadang-kadang ada rasa gatal dan stadium ini masih menular.
c) Stadium rekon valensensi.Lesi-lesi menyembuh, semua krusta rontok,
suhu tubuh kembali normal, penderita betul-betul sembuh dan tidak
menularkan penyakit lagi.

2.5 Patofisiologi
 Variola (Smallpox)disebabkan oleh virus yang menyebar dari satu orang ke
orang lainnya melalui udara. Virus ini ditularkan dengan menghirup virus dari
orang yang terinfeksi. Selain itu, Smallpox juga bisa menyebar melalui kontak
langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi dan objek yang
terkontaminasi seperti baju. Penularannya melalui kontak langsung ataupun
tak langsung tapi infeksi primernya selalu melalui hawa nafas. Virusnya yang
terdapat di udara, berasal dari debu pakaian, tempat tidur, dari keropeng yang
jatuh ditanah ataupun dari hawa nafas di penderita, terhirup bersama hawa
pernafasan sehingga terjadi penularan. Cacar adalah penyakit yang sangat
menular.

Virus variola diperoleh dari inhalasi (pernafasan ke paru-paru).


Partikel virus cacar dapat tetap pada benda seperti pakaian, tempat tidur, dan
permukaan hingga 1 minggu. Virus dimulai di paru-paru, dari sana virus
menyerang aliran darah dan menyebar ke kulit, usus, paru-paru, ginjal, dan
otak. Aktivitas virus dalam sel-sel kulit menciptakan ruam yang disebut
makula (karakteristik : datar, lesi merah). Setelah itu vesikel (lepuh
mengangkat) terbentuk. Kemudian, pustula (jerawat berisi nanah) muncul
sekitar 12-17 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Sembuh dari cacar
sering meninggalkan bekas di kulit oleh karena pustula.

Manusia adalah host natural dari smallpox. Penyakit ini tidak dapat


ditularkan oleh serangga maupun hewan. Jika seseorang pernah menderita
cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar
air lagi.
2.6 Pathway

Invasi virus variola major atau variola minor ke dalam sel inang manusia


Masuk ke mukosa saluran nafas bagian atas atau orofaring/droplet aerosol,
Orang ke Orang, Kontak Langsung ,Objek yang terkontaminasi, Aerosol


Replikasi virus ( Masa Inkubasi )

Menyebar melalui pembuluh darah dan limfe
(viremia 1)

Virus berkembang di sel retikuloendotelial

Virus mengatasi pertahanan non spesifik
(interferon)

Satu minggu kemudian virus menyebar ke pembuluh darah
(viremia 2)

Menyebar ke seluruh tubuh

Daya tahan tubuh ↓ di kulit dan mukosa
↓ ↓
Respon inflamasi sistemik dan lokal lesi kulit

saraf perifer rusak suhu tubuh ↑ Gangguan


↓ ↓ Integritas kulit

Nyeri Hipertermi
2.6 Penularan / Transmisi
Penularan umumnya terjadi pada saat muncul wabah dimana 50% dari
mereka yang tidak divaksinasi akan tertulari. Jika digunakan sebagai senjata
biologis, virus disebarkan melalui udara.
Masa penularannya, Mulai dari waktu berkembangnya lesi awal sampai
menghilangnya semua scab (koreng) sekitar 3 minggu. Penderita paling dapat
menular selama periode pre-Eruptive melalui droplet aerosol dari lesi
orofaringeal.
Transmisi :
1. Person-to-person / Orang- ke- Orang
- Inhalation of droplets (lewat udara yang terkontaminasi virus variola,
yang selanjutnya terhirup)
- Adanya kontak atau tatap muka dengan orang yang terinfeksi
2. Direct contact / Kontak Langsung
- With infected body fluids ( Terinfeksi cairan cacar tubuh )
3. Contaminated objects ( Objek yang terkontaminasi )
- Bedding, clothing ( tempat tidur yang terkontaminasi, pakaian yang
terkontaminasi )
4. Can be transmitted in any climate (virus ini dapat menulari di berbagai
musim )
- Spread more easily in cool, dry winter months ( lebih mudah menyebar
pada suhu sejuk dan musim kering )
5. No transmission by insects or animals ( Tidak bisa ditransmisikan oleh
serangga atau Hewan )
6. Transmission from a smallpox case ( Penularan dari kasus smallpox )
- Prodrome phase, less common ( jarang terjadi penularan pada masa
prodromal)
• Fever, no rash yet ( demam, tapi tidak muncul ruam )
- Most contagious with rash onset ( sangat menular pada saat muncul
ruam )
• First 7-10 days ( pada 7 hari pertama )
• Contagious until last scab falls (Menular sampai bentuk ruam
terakhir / koreng hilang)

2.7 Klasifikasi Variola


Ada dua jenis dari penyakit smallpox, yaitu variola mayor dan variola
minor. Variola mayor lebih umum dan berat, menyebabkan ruam yang luas,
timbulnya merata, sering dengan perdarahan isi vesicle dan perdarahan
selaput lendir mata, hidung dan mulut dan demam tinggi Ciri khas variola
mayor, bisul (pustule) tetap terpisah, tidak bergabung satu sama lain. Ini
adalah bentuk yang paling sering pada cacar. Sedangkan Variola minor tidak
umum dan penyakitnya lebih ringan. Secara rinci perbedaannya dapat dilihat
pada table di bawah ini

Variolla Mayor Variolla Minor


Gejala Klinik Selalu berat, sering Ringan dan tidak pernah
dengan perdarahan isi ada perdarahan
vesicle dan perdarahan
selaput lendir mata,
hidung dan mulut
Angka Kematian Sangat Tinggi 20-40%, Kurang dari 1%
terutama pada daerah
dimana penduduknya
tidak di vaksinasi
Suhu Pengeraman 38,5 Masih membentuk pocks Tidak tumbuh
pada penanaman telur
berembrio secara CAM
Bila disuntik intra Angka kematian embrio Sangat rendah
alantois pada telur sangat tinggi
berembrio

Pada stadium pustulasi Terjadi demam untuk Tidak terjadi demam


kedua kalinya
Kelainan Kulit Kelainan kulit bersifat Ringan dan jarang
merata dan berat
2.8 Pencegahan
Pada prinsipnya pencegahan penyakit cacar dilaksanakan dengan :
1. Meningkatkan kekebalan masyarakat dengan melaksanakan vaksinasi
rutin yang sebaik-baiknya. (setiap bayi di cacar pada umur 1 – 2 tahun)
2. Menanggulangi wabah dengan menggunakan Team Gerak Cepat.

Tugas Team Gerak Cepat ini adalah :


a. Mencari dan mengumpulkan laporan-laporan penderita cacar, baik
secara pasif maupun secara aktif.
b. Mengadakan pengecekan laporan dan mendiagnosa penyakit cacar
c. Mengadakan penyelidikan untuk mendapatkan tambahan penderita
baru.
d. Memberikan vaksinasi pada semua golongan umur di sekitar
penderita.
e.   Melakukan tindakan desinfeksi terhadap benda-benda yang mungkin
terkontaminasi virus dari penderita.
f. Mengisolasikan penderita.
g. Mengadakan pengawasan terhadap orang-orang yang lansung kontak
dan terhadap daerah-daerah yang telah dilakukan vaksinasi sampai
tidak terdapat lagi penderita baru.

Beberapa tindakan pencegahan dengan cara vaksinasi


- Cara vaksinasi :
Vaksinasi dilakukan dengan memberikan vaksin hidup virus
vaksinia secukupnya secara intradermal.Tempat yang dianjurkan
untuk vaksinasi ialah bagian luar lengan atas pada insersi otot
deltoid.Caranya ialah dengan melakukan tusukan ganda dan
penekanan ganda dengan jarum tajam.

Respons vaksinasi, Ada 3 jenis respons :


1. Reaksi primer :
Setelah diberikan vaksinasi 3 sampai 4 hari kemudian timbul
reaksi berupa papula yang segera berubah menjadi vesikula yang
melebar disertai ruam kemerahan.Pada hari kedelapan atau
kesembilan bagian tengahnya melekuk dan isi vesikula menjadi
keruh.Semua ini disertai dengan pembengkakkan kelenjar getah
bening ketiak disertai dengan demam.
Pada hari ke-10 pustula mongering dan terbentuk keropeng
yang lepas 1 minggu kemudian.Kekebalan mulai terbentuk mulai
hari ke-10 dan berlangsung seumur hidup.

2. Reaksi yang percepat (vaksinol) :


Terjadi pada seseorang yang memiliki sisa kekebalan terbatas
sebagai hasil imunisasi sebelumnya.Reaksinya terjadi lebih cepat
dari reaksi primer.Pembentukan vesikula timbul maksimal antara
hari ke-3 sampai ke-7 sesudah vaksinasi.Reaksi ini meningkatkan
kekebalan yang telah menurun tadi.

3. Reaksi segera :
Terjadi pada orang yang kebal.Pada hari ke-2 dan ke-3 timbul
papula.Ini merupakan reaksi hipersensitivitas.Reaksi segera ini
tidak menunujukan tingkat kekebalan, juga tidak menyebabkan
terjadinya kekebalan.
2.9 Pengobatan
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga
gelembung cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi
jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder), antara lain dengan
pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita apabila
tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi,
karena bisa menimbulkan shock.
Obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan
untuk mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam,
misalnya diberikan paracetamol. Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir,
famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk
mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari
ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes. Sebaiknya
pemberian obat Acyclovir saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas
membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya gelembung cairan
(blisters).
Pengobatan penyakit cacar berfokus pada keluhan yang timbul,
misalnya demam, menggigil, nyeri dipersendian, bintik kemerahan pada
kulit yang akhirnya membentuk sebuah gelembung cair.
Obat yang seharusnya diberikan :
a. Paracetamol tablet
b. Acyclovir tablet
c. Bedak Talek
d. Vitamin Neurobian/neuroboran

2.10 Komplikasi
Komplikasi Pada Variola
a. Bronkopneumonia
b. Infeksi kulit sekunder (furunkel, impetigo)
c. Ulkus Kornea
d. Ensefalitis
e. Effluvium (kehilangan rambut yang abnormal)
f. Telogen (fase perontokan rambut) dalam 3-4 bulan

2.11 Prognosis
Prognosis sangat bergantung pada penatalaksanaan pertama dan
fasilitas perawatan yang tersedia. Maka mortalitas sangat bervariasi
diantara 1-50%. Jaringan parut yang timbul dapat diperbaiki dengan
tindakan dermabrasi atau pemberian kolagen implant.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA VARIOLA

3.1 Pengkajian
1. Biodata

A. Identitas Klien
1) Nama :Nama klien sangat dibutuhkan sebagai identitas
klien dan untuk membangun hubungan saling percaya sehingga
mempermudah dalam melakukan asuhan keperawatan.

2) Umur :Umur berguna dalam pemberian dosis obat.

3) Jenis kelamin : -

4) Agama : Untuk mengakaji status spiritual sehingga


kebutuhan fisik, psikis dan spiritual dapat dipenuhi.

5) Pendidikan :Untuk mengkaji tingkat pengetahuan klien terkait


penyakit penyakit yang dideritanya.

6) Alamat :Untuk mengkaji status lingkungan tempat tinggal


yang mungkin mempengaruhi keadaan sakitnya. Lingkungan yang
padat penduduk dapat memudahkan penyebaran virus ini, karena
mudah menular melalui udara atau kontak langsung. Selain itu,
lingkungan dengan fasilitas yang digunakan secara bersama-sama
juga memudahkan penularan penyakit ini,karena persentase
terkontaminasi virus penderita menjadi semakin besar. 

7) Tgl masuk :Untuk melihat bagaimana perkembangan status


kesehatannya dari hari ke hari semakin baik atau buruk selama
dilakukan perawatan.

8) Tgl pengkajian : Untuk memastikan perkembangan status kesehatan


pada saat itu.

9) Diagnosa medik : Mengetahui penyakit apa yang diderita oleh


pasien.

2. Riwayat Kesehatan

A. Riwayat Kesehatan Sekarang :


Keluhan Utama : Panas, pusing, tidak ada nafsu makan, nyeri diotot
dan tulang, ruam dikulit, berwarna kemerahan, bentol-bentol, terdapat
cairan , nanah, dan darah

B. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak usia 0 – 5 tahun)


1. Prenatal care

Merupakan keadaan anak atau bayi saat masih dalam kandungan.


Penyakit variola ini bermula dari infeksi virus Variolae. Meskipun
kebanyakan penyakit ini menyerang anak-anak, tidak menutup
kemungkinan calon ibu sudah mengalami infeksi virus Variolae
tersebut.

2. Natal

Merupakan keadaan bayi saat dilahirkan. Data yang diperlukan


meliputi: tempat melairkan, jenis persalinan, penolong persalinan,
dan komplikasi yang dialami oleh ibu pada saat melahirkan dan
setelah melahirkan. Data ini membantu dalam menegakkan etiologi
dari penyakit ini, seperti tempat melahirkan yang kurang steril yang
memungkinkan bayi terinvasi oleh virus varicella zoster.

3. Post natal

Keadaan bayi atau anak setelah dilahirkan. Penyakit variola ini


masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara inhalasi dari sekresi
pernapasan (droplet infection) ataupun kontak langsung dengan lesi
kulit.

b. Riwayat Kesehatan Keluarga


Riwayat kesehatan keluarga dibuat dalam bentuk genogram. Penyakit ini
bukan penyakit keturunan. Riwayat kesehatan keluarga dikaji dalam riwayat
anggota keluarga yang pernah terserang penyakit ini. Kemungkinan anak
terinfikesi melalui droplet pernapasan atau kontak langsung terhadap lesi
kulit penderita dari salah satu anggota keluarga sebelumnya.
c. Riwayat Immunisasi (imunisasi lengkap)

Imunisasi berfungsi sebagai penunjang sistem pertahanaan tubuh, sehingga


apabila seorang anak tidak diberikan imunisasi tepat pada usianya maka
anak tersebut dapat beresiko tinggi terserang bakteri-bakteri patogen yang
dapat memicu terjadinya penyakit variola.Biasanya bayi yang berusia 1-2
tidak diberikan imunisasi campak sehingga dapat menimbulkan penyakit
variola tersebut.

d. Riwayat Tumbuh Kembang

A. Pertumbuhan Fisik
1. Berat badan : pada anak mengalami penurunan BB akibat nafsu
makan menurun dan juga dapat terjadi gejala mual-muntah,
biasanya terjadi pada stadium prodromal/invasi.
2. Tinggi badan : pada anak yang tidak tertangani dengan baik,
mempunyai resiko terjadinya gangguan tumbuh kembang anak.
B. Perkembangan Tiap tahap
Perkembangan tumbuh kembang anak dapat terganggu apabila penyakit
variola ini tidak dapat tertangani dengan baik sehingga menjadi variola berat
dengan komplikasi-komplikasi penyakit lain yang muncul seperti
bronkopneumania, infeksi kulit sekunder (furunkel, impetigo), ulkus kornea,
ensefalitis, effluvium, telogen dalam 3-4 bulan.

e. Riwayat Nutrisi

A. Pemberian ASI
Pemberian ASI pada setiap anak yang baru dilahirkan dapat membantu
untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dari serangan virus. Asi
eksklusif selama 6 bulan dapat mempengaruhi status nutrisi anak, karena
dalam asi juga terkandung zat nutrisi yang dibutuhkan oleh anak untuk
perkembangan yang sehat dan memberikan antibody terhadap penyakit.

B. Pemberian susu formula


Pemberian susu formula memang dapat memberikan nutrisi pada
anak, tetapi tidak dapat menandingi besarnya nutrisi yang di dapat dari ASI.
Sehingga perlu ditanyakan pula apakah anak telah mendapatkan ASI
ekslusif atau hanya diberikan susu formula saja

f. Riwayat Psikososial

Riwayat psikososial pada anak-anak dengan penyakit variola perlu menjadi


perhatian, misalnya saja peran keluarga atau pola asuh dalam keluarga juga
dapat mempengaruhi perkembangan kesehatan anak, sehingga keluarga
seharusnya menjadi support system dalam proses pengobatan anak. Anak
yang tidak dibesuk oleh teman-temannya karena jauh dan lingkungan
perawatan yang baru serta kondisi kritis akan menyebabkan anak banyak
diam atau rewel.

g. Riwayat Spiritual

Spiritual yang baik dapat meningkatkan keyakinan keluarga terhadap


kesembuhan anak, hubungan yang baik dan saling mengasihi antar anggota
keluarga juga menjadi dukungan yang baik bagi kesembuhan anak.

h. Reaksi Hospitalisasi

A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap

Pengalaman keluarga terhadap sakit dan hospitalisasi berpengaruh terhadap


perasaan cemas pada anak dan keluarga. Biasanya orang yang tidak pernah
menjalani hospitalisasi cenderung lebih cemas dibandingkan yang tidak
pernah. Anak paling dekat dengan keluarga atau orang tua, sehingga
mimiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga perasaan orang tua yang cemas
juga berdampak pada ketenangan anak saat proses pengobatan di rumah
sakit.
A. Nutrisi
Sebelum
Kondisi Saat Sakit
Sakit

1. Selera makan Normal Adanya mual, muntah


dan anoreksia
menyebabkan intake
nutrisi yang tidak
adekuat. BB mengalami
penurunan

B. Cairan
Sebelum
Kondisi Saat Sakit
Sakit

1. Jenis minuman Normal Apabila anak disertai


2. Frekuensi minum muntah dan demam
3. Kebutuhan cairan tinggi saat terjadinya
4. Cara pemenuhan gejala, kemungkinan
anak berisiko
kekurangan cairan.

C. Eliminasi (BAB&BAK)
Sebelum
Kondisi Saat Sakit
Sakit

1. Tempat Normal Eliminasi alvi tidak ada


pembuangan gangguan.
2. Frekuensi (waktu)
3. Konsistensi
4. Kesulitan
5. Obat pencahar
D. Istirahat tidur
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit

1. Jam tidur Normal Mengalami


- Siang perubahan pola
- Malam tidur
2. Pola tidur dikarenakan
3. Kebiasaan sebelum terjadi
tidur peningkatan
4. Kesulitan tidur suhu dan
adanya nyeri

E. Olah Raga
Pada anak yang menderita penyakit variola mengalami kelemahan akibat
penurunan kontraktilitas otot

F.Personal Hygiene
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit

1. Mandi Pada saat sebelum Ketika sakit


- Cara sakit sebaiknya
kemungkinan kebersihan anak
- Frekuensi
personal hygine perlu dijaga
- Alat mandi kurang terpenuhi dengan baik
dengan baik supaya dapat
2. Cuci rambut
sehingga dapat mengurangi infeksi
- Frekuensi
terinfeksi virus virus yang dapat
- Cara dalam tubuh mempengaruhi
kesehatannya
3. Gunting kuku
- Frekuensi

- Cara

4. Gosok gigi
- Frekuensi
- Cara

G. Aktifitas/Mobilitas Fisik
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit

1. Kegiatan sehari- Sebelum sakit Pada klien


hari anak dapat dengan
2. Pengaturan melakukan penyakit
jadwal harian aktifitasnya variola
3. Penggunaan alat sehari-hari mengalami
Bantu aktifitas tanpa adanya kelemahan
4. Kesulitan kesulitan dalam akibat
pergerakan pergerakan penurunan
tubuh tubuhnya. kontraktilitas
otot.

XI. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : lemah


2. Kesadaran : Composmetis
3. Tanda – tanda vital :
a. Tekanan darah :normal
b. Denyut nadi : normal
c. Suhu : suhu tubuh meningkat di atas 38o C
d. Pernapasan : normal
4. Berat Badan : berat badan menurun apabila intake nutrisi pada
anak terganggu
5. Tinggi Badan : tidak mengalami kelainan
6. Kepala
 Inspeksi

Keadaan rambut & Hygiene kepala :


a. Warna rambut : hitam
b. Penyebaran : penyebaran rambut merata
c. Mudah rontok : tidak mudah rontok
d. Kebersihan rambut : bersih/tergantung personal hygine
yang di lakukan

 Palpasi: tidak ditemukan kelainan

7. Muka
 Inspeksi

a. Simetris / tidak : simetris


b. Bentuk wajah : normal
c. Gerakan abnormal : tidak ada
d. Ekspresi wajah : meringis kesakitan
 Palpasi

Nyeri tekan / tidak : ada nyeri tekan

Data lain :-

8. Mata
 Inspeksi

a. Pelpebra : tidak ada edema


b. Sclera : tidak ikterus (putih)
c. Conjungtiva : Anemis
d. Pupil : - Isokor
- Myosis / midriasis

- Refleks pupil terhadap cahaya : ada (+)

e. Posisi mata : Simetris


f. Gerakan bola mata : normal
g. Penutupan kelopak mata : normal
h. Keadaan bulu mata : normal
i. Keadaan visus : normal
j. Penglihatan : normal

 Palpasi

Tekanan bola mata : Tidak ada

Data lain :-

9. Hidung & Sinus


 Inspeksi

a. Posisi hidung : simetris


b. Bentuk hidung : simetris
c. Keadaan septum : normal
d. Secret / cairan : terdapat cairan, jika anak mengalami infeksi
saluran napas
Data lain :-

10. Telinga
 Inspeksi

a. Posisi telinga : normal


b. Ukuran / bentuk telinga : normal
c. Aurikel : normal
d. Lubang telinga : Bersih / serumen, tergantung dari personal
hygiene anak
e. Pemakaian alat bantu :-

 Palpasi

Nyeri tekan / tidak : terdapat nyeri tekan pada area CVA

11. Mulut
 Inspeksi
a. Gigi
- Keadaan gigi : meliputi kebersihan gigi, warna gigi yang
tergantung dari personal hygiene anak
- Karang gigi / karies : ada tidaknya karies, tergantung dari
personal hygiene anak
- Pemakaian gigi palsu :-
b. Gusi
Merah / radang / tidak : tidak terjadi peradangan

c. Lidah
Kotor / tidak : tergantung dari kebersihan diri pasien

d. Bibir
- Cianosis / pucat / tidak : pucat
- Basah / kering / pecah : -
- Mulut berbau / tidak :-
- Kemampuan bicara :-
Data lain :-

12. Tenggorokan
a. Warna mukosa : merah
b. Nyeri tekan : tidak ada
c. Nyeri menelan : tidak ada

13. Leher
 Inspeksi

Kelenjar thyroid: normal/ tidak terjadi pembesaran

 Palpasi

a. Kelenjar thyroid : Teraba


b. Kaku kuduk / tidak :-
c. Kelenjar limfe :
Data lain :
14. Thorax dan pernapasan
a. Bentuk dada :simetris
b. Irama pernafasan : teratur
c. Pengembangan di waktu bernapas : simetris/ mengembang sempurna
d. Tipe pernapasan : normal
Data lain :-

 Palpasi

a. Vokal fremitus : simetris bilateral


b. Massa / nyeri : tidak ada
 Auskultasi

a. Suara nafas :Vesikuler


b. Suara tambahan : tidak ada

15. Jantung
 Palpasi

- Ictus cordis : tidak ada

 Perkusi

Pembesaran jantung : tidak ada, suara jantung redup

Auskultasi

b. BJ I : normal
c. BJ II : normal
d. BJ III :-
e. Bunyi jantung tambahan : tidak ada
Data lain :-

16. Abdomen
Inspeksi

a. Membuncit : tidak membuncit


b. Ada luka / tidak : tidak terdapat luka
Palpasi

a. Hepar : tidak teraba


b. Lien : tidak teraba
c. Nyeri tekan : tidak ada nyeri tekan
Auskultasi

Peristaltik : penurunan peristaltik usus (normal 12-30x/menit)

Perkusi

a. Tympani : tympani pada seluruh area abdomen


b. Redup :-
Data lain :-

17. Genitalia dan Anus :-

18. Ekstremitas

Ekstremitas atas

a. Motorik
- Pergerakan kanan / kiri : pergerakan tangan lemah
dikarenakan metabolisme yang tidak optimal menyebabkan
otot tidak dapat melakukan fungsinya.
- Pergerakan abnormal : tidak ada
- Kekuatan otot kanan / kiri : melemah
- Tonus otot kanan / kiri : menurun
- Koordinasi gerak : menurun
b. Refleks
- Biceps kanan / kiri : normal
- Triceps kanan / kiri : normal
c. Sensori
- Nyeri : lebih sensitif atau terjadi iritabilitas
terhadap rangsang nyeri
- Rangsang suhu : normal
- Rasa raba : normal
19. Status Neurologi.
Saraf – saraf cranial

a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : normal


b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : normal
c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens)
- Konstriksi pupil : normal
- Gerakan kelopak mata : simetris bilateral
- Pergerakan bola mata : simetris/normal
- Pergerakan mata ke bawah & dalam : normal
d. Nervus V (Trigeminus)
- Sensibilitas / sensori : lebih sensitif terhadap rangsang
nyeri
- Refleks dagu : positif
- Refleks cornea : positif
e. Nervus VII (Facialis)
- Gerakan mimik : normal
- Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : normal
f. Nervus VIII (Acusticus)
Fungsi pendengaran : normal

g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus)


- Refleks menelan : normal
- Refleks muntah : normal
- Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang : normal
- Suara : normal
h. Nervus XI (Assesorius)
- Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : dapat dilakukan/
normal
- Mengangkat bahu : dapat dilakukan/ normal
-
i. Nervus XII (Hypoglossus)
- Deviasi lidah : normal
Tanda – tanda perangsangan selaput otak

a. Kaku kuduk : tidak ada kelainan


b. Kernig Sign : negatif
c. Refleks Brudzinski : negatif
d. Refleks Lasegu : negatif
Data lain

pemeriksaan reflek :-

XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan (0 – 6 Tahun )

Dengan menggunakan DDST

1. Motorik kasar
Pada motorik kasar, umumnya anak dengan penyakit variola akan
mengalami kelemahan, sehingga aspek dari motorik kasar mungkin akan
terlambat untuk dilalui (delayed) atau mungkin tidak dapat dilalui (failed)
jika telah masuk ke tahap kronis.

2. Motorik halus Pada umumnya tidak mengalami kemunduran


3. Bahasa yang berarti dalam ketercapaian dari masing-
4. Personal social masing aspek di samping.

XII. Test Diagnostik

a.       Inokulasi pada korioalantoik

b.      Histopatologis

c.       Tes Antigen, deteksi antigen virus pada agar gel

d.      Tes Serologis (tes ikatan komplemen)


XIII. Terapi saat ini

a. Non farmakokinetik : Karantina, jaga higien


b.  Farmakokinetik :
- Obat : Antivirus
- Acyclovir
- Valacyclovir
- Simptomatik : Analgetik, antipiretik, antibiotic (krem/oral), kompres
- Profilaksis : vaksin dengan virus vaccinia dengan tehnik multiple puncture
- KI profilaksis, sedang terapi kortikosteroid, dan mengalami defisiensi
imunologi, atopi.

4.2 Diagnosa Keperawatan

1) Hipertermi berhubungan dengan invasi virus, reaksi inflamasi dan pelepasan


mediator kimia
2) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan trauma, erupsi pada kulit
3) Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit/jaringan
4) Resiko infeksi berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan kulit/luka
terbuka
5) Resiko penularan infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit
6) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit, adanya papula
4.3 Intervensi

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria
Hasil

Nyeri berhubungan Tujuan: 1. Kondisikan 1. Membantu


dengan kerusakan tempat tidur menurunkan
Setelah
kulit/jaringan yang nyeri.
dilakukan
nyaman. 2. Perubahan
tindakan
2. Tutup luka suhu dapat
keperawatan
sesegera menyebabka
selama 2x24
mungkin. n nyeri
jam diharapkan
3. Kolaborasi hebat.
nyeri klien
pemberian 3. Untuk
berkurang.
analgesik. menurunkan
Kriteria Hasil: 4. Kaji keluhan nyeri.
nyeri. 4. Mengetahui
1. Nyeri klien
5. Ajarkan seberapa
berkurang.
tehnik darajat nyeri
2. Pasien
relaksasi. yang
tampak
dirasakan.
nyaman.
5. Untuk
3. pasien tidak
mengurangi
mengeluh
rasa nyeri.
atas
nyerinya.
1. Hipertermi Tujuan: 1. Observasi 1. Infeksi dapat
berhubung tanda-tanda mempengaru
Setelah
an dengan vital tiap 3 hi tanda-
dilakukan
invasi jam. tanda vital
tindakan
virus, sehingga
reaksi keperawatan tanda-Tanda
inflamasi selama 2x24 vital setiap
dan jam diharapkan saat dpat
pelepasan suhu tubuh 2. Anjurkan berubah.
mediator pasien dapat klien untuk 2. Peningkatan
kimia kembali dalam banyak suhu badan
kondisi normal minum ± 1.5- dapat
36-370C. 2 liter/hari. mengakibatk
an
Kriteria Hasil:
penguapan
1. Suhu tubuh tubuh
kembali meningkat
stabil. sehingga
2. Pasien 3. Berikan perlu
tampak kompres diimbangi
nyamn hangat. asupan
cairan yang
banyak.
3. Membantu
4. Anjurkan menurunkan
pasien untuk suhu tubuh
memakai dengan
pakaian tipis. dilatasi
pembuluh
darah
5. Kolaborasi 4. Agar pasien
pemberian lebih nyaman
obat dan tidak
antipiretik semakin
merasa
panas.
5. Obat
antipiretik
dapat
digunakan
untuk
mengurangi
demam
dengan aksi
sentralnya
pada
hipotalamus.
Gangguan integritas Tujuan: 1. Kaji ukuran, 1. Memberikan
kulit berhubungan Setelah warna, dan informasi
dengan trauma, erupsi dilakukan kedalaman dasar
pada kulit tindakan luka. terhadap
keperawatan kondisi kulit.
selama 2×24 jam 2. Digunakan
diharapkan untuk
masalah bisa 2. Siapkan dan penutupan
teratasi bantu luka
Kriteria Hasil: prosedur 3. Menurunkan
1. Mencapai balutan pembekakan
penyembuh 3. Tinggikan 4. Menjaga
an tepat area graft kondisi
waktu bila jaringan 
2. Menunjuka mungkin/tep baru dan
n regenerasi at menghindari
jaringan 4. Lakukan adanya
perawatan infeksi
luka pada
pasien
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN VARIOLA


3.1 Kasus

An. K (7 Thn ) dibawa ke RS. Medika dengan keluhan terdapat bintik-bintik merah
kecil dan berisi sedikit cairan yang berada disekitar wajah dan ujung tangan serta kaki dan
terasa gatal, Keluarga klien mengatakan pasien demam sejak 4 hari yang lalu, mudah lelah,
pusing, lesu dan nafsu makan menurun. Selama perawatan dirumah pasien hanya
mengkonsumsi obat penurun panas dan obat pemberian mantri desa tapi suhunya tak
kunjung turun. Sampai Hari ke- 5 ini bahkan bintik-bintik merah kecil di wajah dan di ujung
tangan serta kakinya kini mulai banyak dan semakin berisi tapi panas pasien mulai menurun
walau Suhu tubuh masih tinggi (370C ). Keluarga klien mengatakan Seorang anak
saudaranya juga menderita gejala yang sama , Imunisasi An. K tidak lengkap karena tempat
tinggal yang jauh dari pelayanan kesehatan. Keluarga pasien tidak pernah menderita
penyakit serius, Kecuali tekanan darah tinggi.

Tes DL : Leukosit 11.500 mg/dL


Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 90x/menit
Suhu : 37C
Pernapasan : 20x/menit

3.2 Pengkajian

a) Identitas Pasien
Nama : An. N
Usia : 8 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Mojokerto
Pekerjaan : Pelajar
Status : Belum Kawin
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Dx medis : Variola
b) Keluhan Utama
Terdapat bintik-bintik merah kecil dan berisi sedikit cairan yang berada disekitar wajah
dan ujung tangan serta kaki

c) Riwayat Penyakit Sekarang


An. N (8 Thn ) dibawa ke RS. Medika dengan keluhan terdapat bintik-bintik merah kecil
dan berisi sedikit cairan yang berada disekitar wajah dan ujung tangan serta kaki dan
terasa gatal, Keluarga klien mengatakan pasien demam sejak 4 hari yang lalu, mudah
lelah, pusing, lesu dan nafsu makan menurun. Selama perawatan dirumah pasien hanya
mengkonsumsi obat penurun panas dan obat pemberian mantri desa tapi suhunya tak
kunjung turun. Sampai Hari ke- 5 ini bahkan bintik-bintik merah kecil di wajah dan di
ujung tangan serta kakinya kini mulai banyak dan semakin berisi tapi panas pasien mulai
menurun walau Suhu tubuh masih tinggi (370C ).

d) Riwayat Penyakit Dahulu


Imunisasi An. N tidak lengkap karena tempat tinggal yang jauh dari pelayanan kesehatan

e) Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak pernah menderita penyakit serius, Kecuali tekanan darah tinggi.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Cukup


Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 90x/menit
Suhu : 37C
Pernapasan : 20x/menit
1. B1 (Breathing)
Inspeksi :bentuk dada simetris, frekuensi nafas regular, RR
20x/menit
Palpasi : tidak adanya nyeri tekan, tidak ada benjolan
Perkusi : terdengar bunyi resonan
Auskultasi : tidak ada suara wheezing dan tidak ada suara ronchi
2. B2 (Cardiovaskuler)
Inspeksi : tidak ada pembesaran vena jugularis
Palpasi : denyut nadi teraba jelas dengan 90x/menit
Auskultasi : bunyi jantung normal S1S2 tunggal
3. B3 (Brain)
Kesadaran : compos mentis GCS : 4 5 6
Tidak ada bekas operasi di kepala,
4. B4 ( Bladder)
tidak terpasang kateter, BAK lancar 5x/hari warna kuning bau khas amoniak, Tidak ada
distensi kandung kemih.
5. B5 ( Bowel)
Inspeksi : tidak ada benjolan abnormal, tidak ada bekas operasi,
Palpasi : tidak terdapat nyeri pada perut bagian bawah
Perkusi : timpani
Auskultasi : bisingusus 15x/menit

6. B6 (Bone)
Inspeksi :Terdapat bintik-bintik merah kecil dan berisi sedikit cairan yang berada
disekitar wajah dan ujung tangan serta kaki (Stadium makula– papular /erupsi
)

Palpasi : akral Merah hangat


Perkusi : Pergerakan sendi bebas
Kekuatan Otot :
5 5
5 5

3.3 Analisa Data


NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS: Infasi virus variola Gangguan
Keluarga klien mengatakan integritas kulit
bintik-bintik merah kecil dan
berisi sedikit cairan yang Replikasi Virus , 3.4 Diag

berada disekitar wajah dan Menyebar melalui nosa

ujung tangan serta kaki pembuluh darah dan


DO : limfe
- Terdapat bintil-bintil merah
pada wajah, badan, lengan,
kaki Daya tahan tubuh
- TD : 110/70 mmHg menurun
- Nadi : 90x/menit
- Suhu : 37C
- Pernapasan : 20x/menit Reaktivasi Virus
- Leukosit : 11.500 mg/dL

Reaksi inflamasi

Kulit kemerah-
merahan, timbul
bintil-bintil merah dan
berisi sedikit cairan
2. DS : Keluarga klien Reaksi inflamasi Resiko Tinggi
mengatakan bintik-bintik penularan
merah kecil dan berisi sedikit
cairan yang berada disekitar Kulit kemerah-
wajah dan ujung tangan serta merahan dan timbul
kaki ruam-ruam

DO :
Keadaan Umum: Cukup Erupsi vesikel
Kesadaran: Composmentis
Tekanan Darah: 110/70mmHg
Nadi : 90x/menit Jalan keluar virus
Pernapasan: 20x/menit menginfeksi pejamu
Makula mulai berisi cairan lain
menjadi vesikel dengan jumlah
Keperawatan

a. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi virus pox pada integumen


b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya macula-papula
c. Resiko tinggi penularan berhubungan dengan erupsi vesikel

3.5 Intervensi Keperawatan

Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi virus pox pada integumen

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan suhu tubuh
pasien kembali normal
Kriteria hasil :
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Composmentis
3. Suhu : dalam batas normal 36-37,5C
Intervensi Rasional
1. Observasi TTV pasien, fokus pada 1. Peningkatan suhu tubuh dapat
suhu pasien setiap 3 jam sekali diidentifikasi dengan perubahan suhu saat
dilakukan observasi TTV
2. Berikan kompres air hangat pada
daerah axila, leher, lipatan paha 2. Kompres air hangat dapat menurunkan
suhu tubuh
3. Anjurkan pasien minum 1500-
2000 cc per hari 3. Air putih dapat mengurangi resiko
dehidrasi akibat banyaknya penguapan
4. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian antipiuretik 4. Antipiuretik dapat menurunkan panas

5. Anjurkan keluarga pasien untuk


memakaikan baju yang tipis dan 5. Agar tidak merangsang timbulnya panas
dapat menyerap keringat, jaga kembali
agar gelembung lesi tidak pecah.
Intervensi Diagnosa 2

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya lesi

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam diharapkan dapat


mengurangi gangguan integritas kulit
Kriteria Hasil :
Kulit :Gatal (-), bintil-bintil tidak semakin meluas, gelembung bintil tidak pecah

Intervensi Rasional
1. Kaji erupsi vesikel 1. Membantu membuat rencana asuhan
keperawatan selanjutnya atau pilihan
intervensi selanjutnya

2. Memberikan pakaian yang 2. Pakaian yang lembut dapat mengurangi


lembut dan menyerap keringat perlukaan

3. Berikan handuk saat mandi


dengan tekstur lembut 3. Handuk yang lembut dapat mengurangi
perlukaan
4. Berikan bedak pada kulit yang
tidak terbuka 4. Bedak dapat mengtasi gatal yang mungkin
bisa menyebabkan anak menggaruk kulitnya

5. Kolaborasi dalam pemberian 5. Vitamin dapat meningkatkan daya tahan


vitamin tubuh

Intervensi Diagnosa 3

Resiko tinggi penularan berhubungan dengan erupsi vesikel

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan resiko


penularan tidak terjadi
Kriteria Hasil : Gatal (-), bintil-bintil mengering, push (-) meminimalisir penularan
ke pejamu lain, gelembung bintil tidak pecah, Area bintil tidak smeakin meluas
Intervensi Rasional BAB IV
1. Kaji erupsi vesikel 1. Membantu membuat rencana asuhan
keperawatan selanjutnya atau pilihan
intervensi selanjutnya
2. Anjurkan kepada keluarga pasien 2. Mencegah terjadinya penularan
untuk selalu mencuci tangan
setelah kontak langsung dengan
pasien

3. Bersihkan jaringan nekrotik yang 3. Untuk meningkatkan proses


mongering penyembuhan

4. Awasi atau batasi pengunjung bila 4. Untuk mencegah terjadinya penularan


perlu

5. Cukur atau ikat rambut disekitar 5. Rambut merupakan media yang baik
daerah yang terdapat erupsi untuk proses pertumbuhan bakteri

PENUTUP

A. Kesimpulan

Variola adalah penyakit infeksi virus akut yang disertai keadaan umum yang sangat
menular dan dapat menyebabkan kematian, dengan ruang kulit yang monomorf, terutama
tersebar di bagian perifer tubuh.
Penyebab variola adalah virus variolae ada 2 tipe virus yang identik , tetapi menimbulkan 2
tipe variola yaitu variola mayor dan variola minor (alastrim). Perbedaan kedua virus itu adalah
bahwa penyebab variola mayor bila dimokulasikan pada membrane karioalontrik tubuh pada
suhu 38o C. Sedangkan yang menyebabkan variola minor tumbuh dibawah suhu itu.
Jika cacar disebabkan oleh virus variola dan cacar air disebabkan oleh virus varicella
zoster.Dan yang membedakan dari variola dan varicella ini dapat dilihat dari proses
penyebarannya dan berlangsungnya gejala – gejala pada fase prodromal.
B. Saran

Dengan pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa lebih mudah mempelajari terapan
ilmu keperawatan khususnya pada system integumen mengenai penyakit integumen.Dengan
pembuatan makalah ini, diharapkan para pembaca akan lebih memahami mengenai penyakit
pada kulit khususnya penyakit yang sering dijumpai masyarakat seperti, variola (cacar).
Sehingga diharapkan kita dapat menjaga kebersihan diri kita khususnya kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham M. Rudolph, julien I.E. Hoffman, Colin D. Rudolph. 2006. Buku Ajar Pediatri
Rudolph Volume 1. Jakarta. EGC

Garna Herry. 2008. Buku Ajar Infeksi Dan Pediatri Tropis. Jakarta. Ikatan dokter anak indonesia.