Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

ISTISHHAB

Disusun untuk memenuhi tugas Ushul Fiqh


Disusun oleh :
KELOMPOK

JURUSAN ILMU HUKUM


FAKULTAS ILMU HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR
2020

1
KATA PENGANTAR

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha Penyayang”
Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Usul
fiqih.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah mengarahkan
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini
tersusun jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini maupun penyusunan
makalah berikutnya.
Semoga makalah ini memberikan informasi dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Blitar, Agustus 2020

Penyusun,

2
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER ……………………………………………………….. 1


KATA PENGANTAR ................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 4


BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 5
A.    ISTISHAB....................................................................................................... 5
1. Pengertian Istishab...................................................................................... 5
2. Macam-macam Istishab.............................................................................. 6
3. Kehujjahan Istishab.................................................................................... 12
4. Akibat hukum perbedaan kehujjahan istishhab.......................................... 14
5. Kaidah-kaidah Istishbab …………………………………………………. 1

BAB III PENUTUP......................................................................................... 32


KESIMPULAN............................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………...……. 33

3
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam hukum Islam terdapat dua ketentuan hukum yaitu hukum yang
disepakati dan hukum yang tidak disepakati. Seperti yang kita ketahui bahwa
hukum yang kita sepakati tersebut yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, Ijma’, dan
Qiyas. Secara umum ada 7 hukum Islam yang tidak disepakati dan salah satu dia
antaranya akan menjadi pokok pembahasan pada makalah ini yaitu Istishab.
Dalam istilah ahli ushul, istishab berarti menetapkan hukum menurut keadaan
yang terjadi sebelumnya sampai ada dalil yang mengubahnya. Dalam ungkapan
lain, ia diartikan juga sebagai upaya menjadikan hukum peristiwa yang ada sejak
semula tetap berlaku hingga peristiwa berikutnya, kecuali ada dalil yang
mengubah ketentuan itu.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. ISTISHHAB

1. Pengertian Istishhab

Secara etimologi, istishhab berarti “minta bersahabat” atau “membandingkan


sesuatu dan mendekatkannya.” Secara terminology, ada beberapa definisi
istishhab yang dikemukakan para ahli ushul fiqh. Imam al-Ghazali,1
mendefinisikan istishhab dengan: “Berpegang pada dalil akal atau syara’, bukan
didasarkan karena tidak mengetahui adanya dalil, tetapi, setelah dilakukan
pembahasan dan penelitian cermat, diketahui tidak ada dalil yang mengubah
hukum yang telah ada.”
Maksudnya, apabila dalam suatu kasus telah ada hukumnya dan tidak
diketahui ada dalil lain yang mengubah hukum tersebut, maka hukum yang telah
ada di masa lampau itu tetap berlaku sebagaimana adanya.
Ibn Hazm (384-456 H/994-1064 M/tokoh ushul fiqh Zhahiriyyah), 2
mendefinisikan istishhab dengan: “Berlakunya hukum asal yang ditetapkan
berdasarkan nash (ayat dan atau hadits) sampai ada dalil lain yang menunjukkan
perubahan hukum tersebut.”
Kedua definisi ini, pada dasarnya, mengandung pengertian bahwa hukum-
hukum yang sudah ada pada masa lampau tetap berlaku untuk zaman sekarang
dan yang akan datang, selama tidak ada dalil lain yang mengubah hukum itu.
Misalnya, seseorang membeli seekor kuda pacuan yang menurut penjualnya kuda
tersebut telah terlatih untuk berpacu dan telah sering ikut pacuan. Akan tetapi,
setelah dibeli, ternyata kuda tersebut belum terlatih untuk berpacu dan belum
pernah ikut pacuan. Dalam kasus seperti ini, hukum yang ditetapkan hakim adalah

1
Abu Hamid AL-Ghazali, op. citt., Jilid I, hal. 128
2
Ibn Hazm al-Andalusi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, op. cit., Jilid V, hal. 590,
dan lihat juga Muhammad Abu Zahrah, Ibn Hazm al-Andalusi, Mesir: Dar al-Fikr
al-‘Arabi,t.t., hal. 373

5
bahwa kuda tersebut memang belum terlatih untuk berpacu, karena pada dasarnya
seekor kuda belum terlatih berpacu, kecuali ada bukti-bukti yang menunjukkan
bahwa kuda itu telah sering ikut pacuan.
Contoh lain adalah dalam masalah perkawinan. Setelah berlangsungnya akad
nikah antara seorang perjaka dengan seorang perawan dan setelah berlangsungnya
hubungan suami istri, suami mengatakan bahwa istrinya tidak perawan lagi.
Tuduhan suami ini tidak dapat dibenarkan, kecuali ia dapat mengemukakan bukti-
bukti yang sah dan kuat, karena seorang perawan pada dasarnya belum melakukan
hubungan suami istri. Oleh sebab itu, jika ada tuduhan dari suaminya bahwa ia
tidak perawan lagi ketika kawin, maka tuduhan itu harus dibuktikan.
Para ulama ushul fiqh, menyatakan bahwa penetapan hukum dalam kedua
kasus di atas didasarkan pada metode istishhab.

2. Macam-macam Istishhab

Para ulama ushul fiqh mengemukakan bahwa istishhab itu ada 5 macam, yang
sebagiannya disepakati dan sebagian lainnya diperselisihkan. Kelima macam
istishhab itu adalah:3

1. Istishhab hukm al-ibadah al-ashliyyah


Maksudnya, menetapkan hukum sesuatu yang bermanfaat bagi manusia adalah
boleh, selama belum ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Misalnya,
seluruh pepohonan yang ada di hutan merupakan milik bersama umat manusia
dan masing-masing orang berhak untuk menebang dan me- manfaatkan pohon dan
buahnya, sampai ada bukti yang menunjukkan bahwa hutan itu telah menjadi
milik seseorang. Dalam kaitan ini, alasan yang dikemukakan para ahli ushul fiqh
adalah Allah berfirman:

3
Lihat Al-Bannani, Syarh al-Mahalli ala Jam’i al-Jawami, op. cit., Jilid II,
hal. 284; al-Syaukani, op. cit., hal. 209; Abu Hamid al-Ghazali, loc. cit.; dan Ibn
Qayyim al-Jauziyah, op. cit., hal. 339

6
‫أۡل‬
ِ ‫ق لَ ُكم َّما فِي ٱ َ ۡر‬
٢٩ ...... ‫ض َج ِميعٗ ا‬ َ َ‫هُ َو ٱلَّ ِذي خَ ل‬
“ Dialah yang telah menjadikan bagi kamu seluruh yang ada di bumi
ini…” (Q.S. al-Baqarah, 2: 29)

Menurut mereka, kalimat “bagi kamu” dalam ayat itu menunjukkan kebolehan
memanfaatkan apa-apa yang ada di bumi. Ayat lain yang dijadikan ulama ushul
fiqh sebagai dasar bentuk istishhab pertama ini adalah firman Allah dalam surat
al-A’raf, 7: 32:

ِ ۚ ‫ت ِمنَ ٱلرِّ ۡز‬


٣٢ ....... ‫ق‬ ِ َ‫قُ ۡل َم ۡن َح َّر َم ِزينَةَ ٱهَّلل ِ ٱلَّتِ ٓي أَ ۡخ َر َج ِل ِعبَا ِد ِهۦ َوٱلطَّيِّ ٰب‬
“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang
telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (Siapa pulakah yang
mengharamkan) rezeki yang baik?..”

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa memanfaatkan perhiasan dan


mencari rezeki yang baik merupakan hak setiap orang. Selanjutnya, para ahli
ushul fiqh mengatakan bahwa pemanfaatan seluruh ciptaan Allah yang ada di
bumi, perhiasan-Nya, dan hak mencari rezeki, merupakan hak setiap orang dan
halal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa hukum boleh dan halal
itu telah berubah. Misalnya, apabila hutan yang tadinya bisa dimanfaatkan setiap
orang, berdasarkan keputusan pemerintah telah ditetapkan menjadi hak bagi orang
tertentu. Berdasarkan ketetapan pemerintah ini, maka hukum kebolehan
memanfaatkan hutan tersebut berubah menjadi tidak boleh. Istishhab seperti ini,
menurut para ahli ushul fiqh dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum.

2. Istishhab yang menurut akal dan syara’ hukumnya tetap dan berlangsung
terus.

7
Ibn Qayyim al Jauziyyah (691-751 H/1292-1350 H., ahli ushul fiqh Hanbali),
menyebutnya dengan “washf al-tsabit li al-hukm hatta yutsbita khilafuhu (sifat
yang melekat pada suatu hukum, sampai ditetapkan hukum yang berbeda dengan
itu).” Misalnya, hak milik pada suatu benda adalah tetap dan berlangsung terus,
disebabkan adanya transaksi pemilikan, yaitu akad, sampai adanya sebab lain
yang menyebabkan hak milik itu berpindahtangan kepada orang lain. Contoh lain,
hukum wudhu’ seseorang yang yang telah berwudhu” dianggap berlangsung terus
sampai adanya penyebab dan membatalkannya. Apabila seseorang merasa ragu
apakah wudhu’nya masih ada atau telah batal, maka berdasarkan istishhab,
wudhu’nya itu dianggap masih ada, Karena keraguannya muncul terhadap batal
atau tidaknya wudhu’ tersebut, tidak bisa mengalahkan keyakinan seseorang
bahwa iya masih dalam keadaan berwudhu’. Hal ini sejalan dengan sabda
Rasulullah saw. Terhadap seseorang yang merasa ragu terhadap keutuhan
wudhu’nya. Ketika itu Rasulullah SAW. menyatakan:

“Jika seseorang merasakan sesuatu dalam perutnya lalu ia ragu apakah


ada sesuatu yang keluar atau tidak, maka sekali-kali jangan ia keluar dari
masjid [membatalkan shalat] sampai kamu mendengar suara atau
mencium bau [kentut].” (H. R. Muslim dari Abu Huraira)

Terhadap kehujjahan istishhab bentuk kedua ini terdapat perbedaan pendapat


ulama ushul fiqh.4 Ibn Qayyim al- Jauziyah berpendapat bahwa istishhab seperti
ini dapat dijadikan hujjah.5 Imam al-Ghazali menyatakan bahwa istishhab hanya
bisa dijadikan sebagai hujjah apabila didukung oleh nash atau dalil, dan dalil itu
menunjukkan bahwa hukum tersebut masih tetap belaku dan tidak ada dalil lain
yang membatalkannya. lstishhab menurutnya, tidak dapat dijadikan alasan

4
‘Alal al-Fasi, Maqashid al-syariah al-islamiyyah, Dar al-Baidha’: Maktabah al-
wahdah, t.t., hal. 129
5
Ibn Qayyim al-Jauziyah, A’lam al-Muwaqqi’in, op. cit, Jilid I, hal. 340

8
berdasarkan anggapan bahwa tidak ada dalil lain yang membatalkan suatu
hukum.6
Ulama Hanafiyah berpendirian bahwa istishhab seperti ini hanya bisa
dijadikan hujjah untuk menetapkan dan menegaskan hokum yang telah ada, dan
tidak bisa dijadikan hujjah untuk hukum yang belum ada (yang akan datang).7
Sedangkan ulama Malikiyah menolak istishhab sebagai hujjah dalam beberapa
kasus, seperti kasus orang yang ragu terhadap keutuhan wudhu’nya yang
dikemukakan diatas. Menurut mereka, dalam kasus seperti ini istishhab tidak
berlaku. Karenanya, apabila seseorang merasa ragu atas keutuhan wudhu’nya,
sedangkan ia dalam keadaan shalat, maka salatnya batal, dan ia harus berwudhu'
kembali dan mengulangi shalatnya.8

3. Istishhab terhadap dalil yang bersifat umum sebelum datangnya dalil yang
mengkhususkannya dan istishhab dengan nash selama tidak ada dalil
naskh (yang membatalkannya).
Istishhab bentuk ketiga ini, dari segi esensinya, tidak diperselisihkan para
ulama ushul fiqh. Akan tetapi dari segi penamaan, terdapat perbedaan para ulama
ushul fiqh. Misalnya, dalam surat al-Baqarah, 2: 267, diwajibkan menafkahkan
seluruh hasil usaha manusia dan seluruh yang diperoleh melalui pengeksploitasian
sumber daya alam. Kalimat “nafkah,” seluruh hasil usaha dan seluruh hasil yang
dieksploitasi dari “sumber daya alam” tersebut, menurut kesepakatan para ulama
ushul fiqh bersifat umum, baik nafkah wajib itu berbentuk zakat, nafkah keluarga,
maupun kaum kerabat. Kalimat “hasil usaha” dan “hasil eksploitasi bumi” dalam
ayat itu pun bersifat umum, yaitu seluruh jenis hasil usaha dan seluruh jenis yang
dieksploitasi dari bumi. Kandungan ayat yang umum ini, menurut jumhur ahli
ushul fiqh, tetap belaku selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan hal
seperti ini dinamakan istishhab. Akan tetapi, menurut sebagian ulama ushul fiqh
6
Abu Hamid al-Gazali, al-Mustashfa…, op, cit, hal. 130
7
Wahbah al-zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, op. cit., Jilid II, hal. 862-863
8
Ibid.

9
lainnya, seperti Imam Haramain al-Juwaini (419-478 H/1026-1085 M.)9 dan
Imam al Syaukani (1172-1250 H/1759-1824 M.), 10 hal-hal seperti ini tidak
dinamakan istishhab, tetapi berdalil berdasarkan kaidah bahasa, yaitu kaidah yang
menyatakan “suatu dalil yang umum tetap berlaku sesuai dengan keumumannya
sampai ada dalil yang mengkhususkannya.
Contoh istishhab dengan nash selama tidak ada yang me-naskh-kannya adalah
kewajiban berpuasa yang dicantumkan Allah dalam surat Al-Baqarah, 2: 183:

١٨٣ َ‫ب َعلَى ٱلَّ ِذينَ ِمن قَ ۡبلِ ُكمۡ لَ َعلَّ ُكمۡ تَتَّقُون‬
َ ِ‫صيَا ُم َك َما ُكت‬
ِّ ‫ب َعلَ ۡي ُك ُم ٱل‬ ْ ُ‫ٰيَٓأَيُّهَا ٱلَّ ِذينَ َءا َمن‬
َ ِ‫وا ُكت‬
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu berpuasa
sebagai mana diwajibkan bagi umat sebelum kamu... “

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, yang berlaku bagi umat sebelum


islam, tetap wajib bagi umat Islam berdasarkan ayat di atas, selama tidak di ada
nash lain yang membatalkannya. Kasus seperti ini pun, menurut Jumhur ulama
ushul fiqh, termasuk istishhab, tetapi menurut ulama ushul fiqh lainnya, seperti
yang dikemukakan di atas tidak dinamakan istishhab, tetapi berdalil berdasarkan
kaidah bahasa.11

4. lstishhab hukum akal sampai datangnya hukum syar'i.


Maksudnya, umat manusia tidak dikenakan hokum-hukum syar’i sebelum
datangnya syara’, seperti tidak adanya pembebanan hukum dan akibat hukumnya
terhadap umat manusia, sampai datangnya dalil syara’ yang menentukan hukum.
Misalnya, apabila seseorang menggugat (penggugat) yang lain (tergugat) bahwa ia
berhutang kepada penggugat sejumlah uang, maka penggugat berkewajiban untuk
mengemukakan alat-alat bukti atas tuduhannya tersebut. Apabila ia tidak sanggup,
9
Lihat al-Bannani, op. cit, hal. 284 dan ‘Alal al-Fasi, ibid.
10
Al-Syaukani, loc, cit.
11
Ibid.

10
maka tergugat bebas dari tuntutan dan ia dinyatakan tidak pernah berhutang pada
penggugat. Istishhab seperti ini pun diperselisihkan para ulama fiqh.
Menurut ulama Hanafiah, istishhab dalam bentuk ini hanya bisa menegaskan
hukum yang telah ada dan tidak bisa menetapkan hukum yang akan datang.
Sedangkan menurut ulama Malikiyah, Syafi'iyyah dan Hanabilah, istishhab seperti
ini juga dapat menetapkan hukum syar'i, baik untuk menegaskan hukum yang
telah ada maupun hukum yang aka ada (datang).

5. Istishhab hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma’, Tetapi keberadaan


ijma itu diperselisihkan.
lstishhab seperti ini diperselisihkan para ulama tentang kehujjahannya.
Misalnya, para ulama fiqh menetapkan berdasarkan ijma’ bahwa tatkala air tidak
ada, seseorang boleh bertayammum untuk mengerjakan shalat. Apabila shalatnya
selesai ia kerjakan, maka shalatnya dinyatakan sah. Akan tetapi, apabila dalam
keadaan shalat ia melihat ada air, apakah shalatnya harus dibatalkan untuk
kemudian berwudhu' atau shalat itu ia teruskan?
Menurut ulama Malikiyah dan Syafi'iyyah,12 orang tersebut tidak boleh
membatalkan shalatnya, karena adanya ijma' yang menyatakan bahwa shalat itu
sah apabila dikerjakan sebelum melihat air. Mereka manganggap hukum ijma' itu
tetap berlaku sampai adanya dalil yang menunjukkan bahwa ia harus
membatalkan shalatnya untuk kemudian berwudhu’ dan mengulang kembali
shalatnya.
Akan tetapi, ulama Hanafiyah dan Hanabilah13 mengatakan orang yang
melakukan shalat dengan tayyammum dan ketika shalat melihat air, iembatalk
atnya itu. Mereka tidak menerima tentang sah nalat orang yang bertayammum
sebelum melihat air, ia harus membatalkan shalatnya, untuk kemudian berwudhu’
dn mengulangi shalatnya itu. Mereka tidak menerima ijma’ tentang sahnya orang
12
Lihat Saif al-Din al-Amidi, al-Ihkam…, op. cit., Jilid III, hal. 127; Ibn
Qudamah, op, cit., hal. 3992; ‘Abdul Qadir ibn Badran al-Dimasyqi, op. cit., hal.
134
13
Ibid.

11
yang bertayyammum sebelum melihat air, karena ijma' menurut mereka hanya
terkait dengan hukum sahnya shalat bagi orang dalam keadaan ketiadaan air,
bukan dalam keadaan tersedianya air.

3. Kehujjahan Istisbbab

Para ushul fiqh berbeda pendapat tentang kehujjahan istishhab ketika tidak ada
dalil syara’ yang menjelaskan suatu kasus yang dihadapi.14
Pertama, menurut mayoritas Mutakallimin (ahli kalam), istishhab tidak bisa
dijadikan dalil, karena hukum yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki
adanya dalil. Demikian juga untuk menetapkan hukum yang sama pada masa
sekarang dan yang akan datang, harus pula berdasarkan dalil. Alasan mereka,
mendasarkan hukum pada istishhab, merupakan penetapan hukum tanpa dalil,
karena sekalipun suatu hukum telah ditetapkan pada masa lampau dengan suatu
dalil ,namun, untuk memberlakukan hukum itu untuk masa yang akan datang
diperlukan dalil lain. Istishhab, menurut mereka bukan dalil. Karenanya
menetapkan hukum yang ada di masa lampau berlangsung terus untuk masa yang
akan datang, berarti menetapkan suatu hokum tanpa dalil. Hal ini tidak dibolehkan
syara’.
Kedua, menurut mayoritas ulama Hanafiyah, khususnya muta’akhirun
(generasi belakangan) istishhab bisa menjadi hujjah untuk menetapkan hukum
yang telah ada sebelumnya dan menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa
yang akan datang, tetapi tidak bisa menetapkan hukum yang akan ada.
Alasan mereka, seorang mujtahid dalam meneliti hukum suatu masalah yang
sudah ada, mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau sudah
dibatalkan. Akan tetapi, ia tidak mengetahui atau tidak menemukan dalil yang
menyatakan bahwa hukum itu telah dibatalkan. Dalam kaitan ini, mujtahid
tersebut harus berpegang kepada hukum yang sudah ada, karena ia tidak
mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun demikian,

14
Lihat Wahbah al-Zuhaili, op. cit, Jilid II, hal. 867 dan seterusnya

12
penetapan ini, hanya berlaku kasus yang sudah hukumnya dan tidak berlaku bagi
kasus yang akan ditetapkan hukumnya. Artinya, istishhab hanya bisa dijadikan
hujjah untuk mempertahankan hokum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang
membatalkan hokum itu, tetapi, tidak berlaku untuk menetapkan hak yang baru
muncul. Inilah yang dimaksudkan ulama Hanafiyyah dengan “istishhab hujjah li
al-daf’I la li al-itsbat (istishhab menjadi hujjah dalam mempertahankan hak,
bukan untuk menetapkan hak).” Gambaran seperti, menurut mereka, dapat dilihat
dari istishhab bentuk kedua dan keempat di atas.
Ketiga, ulama Malikiyyah, Syafi’iyah, Hanabilah, Zhahiriyah dan Syi'ah15
berpendapat bahwa istishhab bisa menjadi hujjah secara mutlak untuk menetapkan
hukum yang sudah ada, selama belum ada dalil yang mengubahnya.
Alasan mereka adalah, sesuatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama
tidak ada dalil yang mengubahnya, baik secara qath’i (pasti) maupun zhanni
(relatif), maka semestinya hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena
diduga keras belum ada perubahannya. Menurut mereka, suatu dugaan keras
(zhann) bisa dijadikan landasan hukum. Apabila tidak demikian, maka bisa
membawa akibat kepada tidak berlakunya seluruh hukum-hukum yang
disyariatkan Allah dnRasulullah saw. bagi generasi sesudahnya. Bila dikatakan
istishhab tidak bisa menetapkan hukum, maka ada kemungkinan terjadinya naskh
(pembatalan) syari’at tersebut. Hal ini akan mengakibatkan munculnya pandangan
bahwa tidak bisa dipastikan berlakunya syari’at di zaman Rasulullah saw. bagi
generasi sesudahnya. Oleh sebab itu, alasan yang menunjukkan berlakunya
syari'at di zaman Rasulullah saw. sampai hari kiamat adalah menduga keras
(dzann) berlakunya syari’at itu sampai sekarang, tanpa ada dalil yang me-naskh-
kannya. Hal ini, menurut mereka disebut istishhab.
Disamping itu, mereka juga beralasan dengan ijma’, Karena banyak hukum-
hukum juz'i (rinci) yang telah disepakati para ulama fiqh (ijma) yang didasarkan
kepada kaidah istishhab. Misalnya, menetapkan wudhu' tidak batal karena adanya

15
Lihat ‘Abdul ‘Aziz al-Bukhari, Kasyf al-Asrar..., op. cit., Jilid II, hal. 1098; al-
Sarakhsi, Ushul al-Sarakhsi, op. cit., Jilid II, 225; dan Muhammad Abu Zahrah,
op. cit., hal. 287

13
keraguan terhadap ketentuan wudhu' itu; menetapkan halalnya berhubungan
antara suami istri yang telah melakukan akad nikah sampai terbukti bahwa mereka
telah cerai; dan menetapkan tetapnya hak milik seseorang menjadi miliknya,
selama tidak terbukti terjadinya pemindahtanganan hak milik tersebut. Hukum ini
semuanya, menurut mereka, hukum ijma' yang didasarkan atas istishhab.

4. Akibat hukum perbedaan kehujjahan istishhab .

Akibat hukum dari perbedaan pendapat diatas, dapat dilihat dalam kasus
mafq’ud (orang hilang yang telah melalui masa bertahun-tahun, tidak diketahui
keadaan sebenarnya, apakah masih hidup atau sudah wafat).
Menurut ulama Malikiyyah, Syafi'iyyah, Hanabilah, Zhahiriyah, dan Syi’ah, 16
orang hilang berhak menerima pembagian warisan dari ahli warisnya yang wafat
dan bagiannya ini disimpan sampai keadaannya bisa diketahui, apakah masih
hidup, sehingga harta waris itu diserahkan kepadanya atau sudah wafat, sehingga
harta warisnya diberikan kepada ahli waris lain. Demikian juga apabila ada orang
yang berwasiat atau menghibahkan harta atau mewakafkan harta bagi orang yang
hilang tersebut. Adapun hartanya yang ia tinggalkan, tetap menjadi miliknya serta
tidak boleh dibagi, sampai keadaannya benar-benar diketahui telah wafat. Akan
tetapi, ulama Hanabilah membatasi hal tersebut sampai selama empat tahun
setelah kepergiannya. Sebelum habis masa empat tahun tersebut, hartanya belum
boleh dibagi kepada ahli warisnya.
Menurut ulama Hanafiyyah,17 orang yang hilang tidak bisa menerima warisan,
wasiat, hibah dan wakaf, karena mereka belum dipastikan hidup. Sebaliknya,
harta mereka belum bisa dibagi kepada ahli warisnya, sampai keadaan orang
hilang itu benar-benar terbukti telah wafat, karena penyebab adanya waris-
mewarisi adalah wafatnya seseorang. Alasan mereka dalam hal ini adalah karena

16
Ibid. Lihat juga Muhammad Taqiy al-Hakim, op. cit., hal. 456-457
17
‘Ali ibn Abu Bakr al- Marghinani, al-Hidayah wa syarhuha Fath al-Qadir, Beira.
Mu’assasah al-Risalah, 1980, Jilid IV, 446

14
istishhab bagi mereka hanya berlaku untuk mempertahankan hak (harta orang
hilang itu tidak bisa dibagi), bukan untuk menerima hak atau menetapkan hak
baginya(meremima waris, wasiat, hibah, dan wakaf).

5. Kaidah-kaidah Istishbab

Para ulama fiqh menetapkan beberapa kaidah umum yang didasarkan kepada
istishhab, di antaranya adalah:18

1. Al ashl baqa' ma kana ala ma kana, hatta yutsbita ma yughayyiru.


Maksudnya, pada dasarnya seluruh hukum yang sudah ada dianggapberlaku
terus sampai ditemukan dalil yang menunjukkan hukum itu tidak berlaku lagi.
Contohnya adalah kasus orang hilang (mafqud) diatas.

2. Al ashl fi al-asyya’ al-ibadah


Maksudnya, pada dasarnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi
manusia hukumnya adalah boleh dimanfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh
akad/transaksi dianggap sah, selama tidak ada dalil yang menunjukan hukumnya
batal; sebagaimana juga pada sesuatu yang tidak ada dalil syara' yang
melarangnya, maka hukumnya adalah boleh.

3. Al yaqin la yuzal bi al-syakk


Maksudnya, suatu keyakinan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu yang
diragukan. Melalui kaidah ini, maka seseorang yang telah berwudhu', apabila
merasa ragu akan wudhu’nya itu apakah telah batal atau belum, maka ia
berpegang pada keyakinannya bahwa ia telah berwudhu' dan wudhu' itu tetap
sah. Contoh lain, apabila seseorang makan sahur di akhir malam, dia tidak

18
Muhammad Taqiy al-Hakim, op. cit., hal. 359 dan lihat juga Jalal al-Din Abd al-
Rahman al-Suyuthi, al-Asybah wa al Nazha’ir, Singapura: Sulaiman Mar’i, t.t. hal
48

15
mengetahui apakah sudah terbit fajar atau belum. Dalam kasus seperti ini, maka
sahurnya dilanjutkan terus dan puasanya sah, karena keyakinan bahwa hari masih
malam, lebih kuat dibanding keraguan bahwa fajar telah terbit. Akan tetapi, ulama
Malikiyyah melakukan pengecualian dalam masalah shalat. Menurut mereka
apabila keraguan (syakk) tersebut berkaitan dengan shalat, maka kaidah ini tidak
berlaku. Oleh sebab itu, menurut mereka, apabila seseorang ragu dalam masalah
wudhu’nya, maka ia wajib berwudhu’ kembali.

4. Al ashl fi al-dzimmah al bara’ah min al-takalif wa al-huquq.


Maksudnya, pada dasarnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum
adanya dalil yang menetapkan tanggungjawab seseorang. Oleh sebab itu, seorang
tergugat dalam kasus apa pun tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum adanya
pembuktian yang kuat dan meyakinkan bahwa ia bersalah.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Istishab merupakan landasan hukum yang masih diperselisihkan akan tetapi


kita sebagai umat Islam sepatutnya kita mempelajari dan mengatahui setiap
hukum-hukum yang ada. Istishab merupakan suatu hukum yang menganggap

16
tetapnya status sesuatu seperti keadaanya semula selama belum terbukti sesuatu
yang mengubahnya.

Dalam melihat hukum istishab, kita jangan melihat jangan melihat dari satu
sudut pandang saja, akan tetapi mempejari secara cermat mengenai seluk beluk
istishab itu sendiri.

Kata ‘Urf secara etimologi berarti “ sesuatu yang di pandang baik dan
diterima oleh akal sehat” Dari segi objeknya ‘Urf dibagi kepada : al-‘urf al-lafzhi
(kebiasaan yang menyangkut ungkapan) dan al-‘urf al-amali ( kebiasaan yang
berbentuk perbuatan).

Dari segi cakupannya, ‘urf terbagi dua yaitu al-‘urf al-‘am 9 kebiasaan yang
bersifat umum) dan al-‘urf al-khash (kebiasaan yang bersifat khusus). Dari segi
keabsahannya dari pandangan syara’, ‘urf terbagi dua; yaitu al’urf al-shahih
( kebiasaan yang dianggap sah) dan al-‘urf al-fasid ( kebiasaan yang dianggap
rusak). Para ualama ushul fiqh sepakat bahwa ‘urf al-shahih, yaitu ‘urf yang tidak
bertentangan dengan syara’.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Syarifuddin, 1999, Ushul Fiqh II , Jakarta : logos wacana Ilmu


Effendi, Satria dan M. Zein,2005, Ushul fiqih, Jakarta: kencana
Koto, Alauddin. 2004, Ilmu Fiqhi dan Ushul Fiqih. Cet. 1; Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada,
Syafe’i, Rachmat, 2010, Ilmu Usul Fiqih, Bandung : CV Pustaka Setia

17
18