Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN QUR’AN DAN HADIST

NEUROVASKULER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Keperawatan Neurovaskuler

8 D (Bilingual A)

Mariana

Melania Felayati

Nevyatussolihat

Novita Dewi Suryani

Nurul Azizah

Ramdhaniyah
PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an dan hadits merupakan sebuah pedoman serta petunjuk yang digunakan oleh
seluruh umat muslim diseluruh dunia untuk melakukan atau memecahkan suatu
permasalahan yang sedang dihadapi (Nurjanah, 2018). Al ˗ Quran memuat banyak
aspek dan bagian dari kehidupan, diantaranya tentang ibadah, muamalah, peringatan
serta ilmu pengetahuan.

Manusia merupakan ciptaan Allah SWT yang sempurna. Kesempurnaan itu terletak
pada akalnya. Selain dengan akalnya, manusia juga memiliki otak sebagai pusat
kontrol seluruh aktivitas manusia. Pada zaman modern seperti sekarang ini, ilmu
pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat diseluruh
dunia, sehingga berpikir manusia juga harus dirubah mengikuti perkembangan zaman
pada saat ini, supaya manusia dapat mengatur dan mengontrol perilaku dirinya kejalan
yang baik dan benar.

B. Rumusan masalah
Apa saja kajian Qur’an dan hadist mengenai sistem neurovaskuler ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui kajian Qur’an dan hadist mengenai sistem neurovaskuler
BAB II
KAJIAN QUR’AN DAN HADIST MENGENAI SISTEM NEUROVASKULER

A. Dalam al-Qur'an dimintakan pada manusia untuk berpikir dan al-Qur'an juga
memperhatikan mengagungkan kebesaran akal dan kedudukannya pada manusia.
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah yaitu
manusia yang bisu, tuli, yang tidak cakap atau tidak pandai mempergunakan akal”
(QS. al-Anfal : 22).
B. “Dan barang siapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia
kepada kejadiannya, maka apakah mereka tidak memikirkan”(QS. Yasin: 68).
Pernyataan-pernyataan ayat al-Qur’an di tersebut menunjukkan bahwa Allah
menyuruh kita menggunakan akal sebagai alat berpikir untuk merefleksikan realitas
agar dapat melahirkan pengetahuan.
C. Secara bahasa (epistimologi) akal berasal dari bahasa arab yaitu al-‘aql, yang berasal
dari kata ‘aqala-ya’qilu-‘aqlan yang artinya paham atau mengerti atau memikirkan
(Yanti, 2017). Secara istilah (terminologi) akal merupakan suatu peralatan rohaniah
manusia yang dapat mengingat, menganalisis, menyimpulkan, dan membedakan
sesuatu antara yang haq atau batil sehingga manusia memiliki akhlaq yang baik serta
dapat memperkuat iman dan taqwa kepada yang maha kuasa yaitu Allah SWT.
D. Allah menyatakan dengan tegas didalam QS. 95:4 (At tin: 4)  ‫لَ َق ۡد َخلَ ۡق َنا ااۡل ِ ۡنسَ انَ ف ِۤۡى اَ ۡحسَ ِن َت ۡق ِو ۡي ٍم‬
bahwa Allah SWT sudah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling baik
dibandingkan dari makhluk ciptaan Allah lainnya. Selain itu, dengan akal manusia
merupakan makhluk yang sempurna dan mendapatkan letak tertinggi dibandingkan
dengan hewan dan makhluk ciptaan Allah lainnya (Afrida, 2018).
E. Terdapat tiga ayat yang menyebutkan sel saraf dalam surah yang berbeda diantaranya
surah Hud ayat 56, Al Alaq ayat 13-16 dan Ar-Rahman ayat 41. Sel saraf dalam ayat-
ayat ini disebutkan dalam kata Naashiyah yang mempunyai arti ubun-ubun (Tekieh, et
al., 2017).
1. Surah Hud ayat 56 mempunyai arti
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak
satupun makhluk bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus”. Ayat ini menunjukkan bagaimana
perumpamaan ubun-ubun.
2. Surah Ar-Rahman ayat 41 mempunyai arti
“orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu
direnggut ubun-ubun dan kakinya”. Ayat Ini menunjukkan bagaimana azab
yang akan diterima oleh orang-orang yang melakukan kesalahan dan berdosa.
3. Surah Al-Alaq ayat 13-16 mempunyai arti
“Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan
berpaling (13) Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Melihat
(segala perbuatannya)? (14) Sekali-kali tidak! Sunnguh, jika dia tidak berhenti
(berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya (15) yaitu ubun-ubun
orang yang mendustakan dan durhaka” (16). Ayat ini menjelaskan peristiwa
durhaka dalam perbuatan dan mendustakan dalam perkataan yang dilakukan
oleh Abu Jahal.

F. Informasi Al-Qur’an mengenai ubun-ubun atau frontal lobe merupakan informasi


mengenai sel saraf dalam tubuh manusia. Fungsi dan kegunaan dari bagian sel saraf
pusat tersebut yang tersiratkan dalam keenam ayat didalam Al-Qur’an. Informasi ini
menunjukkan bahwa tipologi antara Al-Qur’an dan sains merupakan tipologi
integratif, dimana wahyu yaitu Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang
kebenarannya mutlak.
Dengan adanya penjelasan diatas, sehingga ada beberapa ilmuwan non-muslim yang
kemudian masuk islam karena melakukan sebuah penelitian, yang sebelumnya hasil
dari penelitian tersebut sudah dijelaskan dan diterangkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an
yang sudah yakin kebenarannya, sehingga ilmuwan non-muslim tersebut takjub dan
masuk islam setelah melakukan serangkaian penelitiannya.
Fidelma O’leary merupakan seorang ahli dalam bidang neurologi yang berasal dari
Amerika Serikat. Pada saat melakukan penelitian, ia menemukan beberapa sel saraf
(neuron) yang terdapat di dalam otak manusia tidak dialiri oleh darah.
Seharusnya, setiap sel saraf (neuron) yang terdapat di dalam otak manusia
membutuhkan aliran darah yang cukup agar bisa bekerja dengan baik dan normal. Ia
mengatakan bahwa sel darah tidak dapat mengalir ke dalam sel saraf (neuron) pada
otak manusia, jika manusia tidak melakukan gerakan sujud pada saat salat seperti
yang dilakukan oleh umat muslim.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang tidak melakukan
gerakan sujud seperti pada saat salat, maka sel darah tidak akan mengalir ke dalam sel
saraf (neuron) yang ada di dalam otak manusia sehingga otak manusia tidak dapat
bekerja dengan baik dan normal.

G. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya"
(Qaaf 16).

Dari ayat diatas dapat terlihat kalau pencipta Al-Qur’an (Allah SWT) benar -benar
mengetahui betapa pentingnya darah, pembuluh darah, serta sirkulasi darah diseluruh
tubuh. Jika Allah tidak mengetahui pentingnya darah, pasti analogi yang digunakan
bukanlah pembuluh darah yang notabenenya berfungsi untuk mengalirkan darah.
Pembuluh darah besar lainnya yang disebutkan dalam Qur’an ialah Al-Aatiin (aorta).
Aorta merupakan pembuluh darah besar yang mengalirkan darah langsung dari
jantung untuk disebarkan ke seluruh tubuh. Dalam Surat Al Haqqah ayat 45 dan 46
Allah berfirman

“Niscaya benar -benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-
benar Kami potong urat tali jantungnya.”
Maksud dari ayat tersebut ialah jika Rasulullah SAW berdusta terhadap Allah maka
sanksi yang akan diberikan ialah pemotongan pembuluh darah yang keluar dari
jantungnya (aorta) sehingga kematian adalah hasil akhirnya.

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik
maka akan sehatlah seluruh tubuh; dan jika ia rusak maka sakitlah seluruh tubuh.
Ketahuilah, sebenarnya itu adalah al-qolbu" (H.R. Bukhari Muslim)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi kesimpulannya adalah, apabila manusia menggunakan otak dan akalnya untuk
berpikir dengan baik dan benar, maka manusia tersebut akan memberikan dan
menciptakan ide-ide baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan khususnya pada
masa sekarang ini. Setelah manusia mengetahui lebih dalam tentang otak dan akal
tersebut, maka manusia akan lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada
Allah SWT atas ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmat Miftakul Huda, & Suyadi. (2020). Otak dan Akal dalam Kajian Al-Quran dan
Neurosains. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 5(1), 67–79.
https://doi.org/10.35316/jpii.v5i1.242
Ardiyanti, A. D. (2020). Perspektif Al- Qur ’ an tentang Sel Saraf dalam Kajian Integrasi
Agama dan Sains. Prosding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains, 2, 61–
63.
Nurjanah, A. F. (2018). Konsep ’Aql Dalam Al-Qur’an Dan Neurosains. Nazhruna: Jurnal
Pendidikan Islam, 1(2), 276–293. https://doi.org/10.31538/nzh.v1i2.83
Yanti, D. (2017). Konsep Akal dalam Perspektif Harun Nasution. Intelektualita, 6(1), 51.
https://doi.org/10.19109/intelektualita.v 6i1.1300