Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Nilai moral pada dasarnya adalah mengupayakan anak mempunyai
kesadaran dan berprilaku taat moral yang secara otonom berasal dari dalam diri
sendiri. Dasar otonomi nilai moral adalah identifikasi dan orientasi diri. Pola
hidup keluarga (ayah dan ibu) merupakan ”model ideal” bagi peniruan dan
pengidentifikasian perilaku dirinya. Otomisasi nilai moral dan anak berlangsung
dalam dua tahap, yaitu pembiasaan diri dan pengidentifikasian diri.
Merujuk pada sistem moral Spranger, nilai-nilai moral yang diupayakan
bagi kepemilikan dan perkembangan dasar-dasar disiplin diri mencakup lima
nilai, yaitu nilai-nilai ekonomis, sosial politis, ilmiah, estetis dan agama. Dalam
nilai Spranger, nilai etik tidak berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari
nilai religi. Hubungan antara disiplin diri dengan nilai ini merupakan nilai konsep
moral yang memungkinkan orang tua untuk membantu anak dalam memiliki dasar
disiplin diri.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apakah pengertian nilai, moral, dan sikap pada remaja?
2) Bagaimana keterkaitan antara nilai, moral, dan sikap, serta pengaruhnya
terhadap tingkah laku?
3) Bagaimana karakteristik nilai, moral, dan sikap pada remaja?
4) Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral, dan
sikap pada remaja?
5) Apa saja perbedaan individu dalam perkembangan nilai, moral, dan
sikap?
6) Bagaimana contoh upaya-upaya pengembangan nilai, moral, dan sikap
remaja dalam penyelenggaraan pendidikan?

1
1.3 Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan ini adalah untuk menjawab masalah-masalah
penulisan yaitu :
1) Mengetahui pengertian nilai, moral, dan sikap pada remaja
2) Mengetahui keterkaitan antara nilai, moral, dan sikap, serta pengaruhnya
terhadap tingkah laku
3) Mengetahui karakteristik nilai, moral, dan sikap pada remaja
4) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai,
moral, dan sikap
5) Mengetahui perbedaan individu dalam perkembangan nilai, moral, dan
sikap pada remaja
6) Mengetahui contoh upaya-upaya pengembangan nilai, moral dan sikap
remaja dalam penyelenggaraan pendidikan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Nilai, Moral, dan Sikap Pada Remaja


Nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang
untuk mewujudkannya. Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu
atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau
sebagai suatu yang ingin dicapai (Harrock, 1976 dalam Hartono, Agung dan
Sunarto 2008 ). Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara
perlahan diinternalisasikan oleh individu serta diterima sebagai milik bersama
dengan kelompoknya. Nilai merupakan standar konseptual yang relatif stabil yang
secara eksplisit atau implisit membimbing individu dalam menentukan tujuan
yang ingin dicapai serta aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan
psikologisnya. Dinamika maupun perkembangan remaja sebagai individu maupun
sebagai suatu komunitas masyarakat, tergantung pada kelompok masyarakat
tradisional ataukah modern para remaja tersebut berkembang. Dengan demikian,
nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang
dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu.
Istilah moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata cara dalam
kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan (Gunarsa, 1986 dalam Hartono, Agung
dan Sunarto 2008). Sedangkan pengertian moralitas berhubungan dengan keadaan
nilai-nilai moral yang berlaku dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat. Jadi,
suatu tingkah laku di katakan bermoral jika tingkah laku itu sesusai dengan nilai-
nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial di mana seseorang itu berada.
Nilai moral ini tidak sama dalam setiap masyarakat. Karena pada umumnya nilai
moral ini di pengaruhi oleh kebudayaan dari kelompok atau masyarakat itu
sendiri. Apa yang di anggap baik oleh suatu kelompok atau masyarakat belum
tentu baik untuk kelompok atau masyarakat yang lain. Tetapi apa yang di anggap
tidak baik oleh suatu kelompok di lakukan oleh seseorang dalam kelompok
tersebut, maka tingkah laku orang tersebut di katakan tidak bermoral. Jadi, moral

3
merupakan ajaran tentang baik, buruk, perbuatan dan kelakuan, akhlak dan
sebagainya.
Sikap merupakan salah satu aspek psikologis individu yang sangat penting
karena sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku sehingga akan banyak
mewarnai perilaku seseorang. Sikap setiap orang berbeda atau bervariasi, baik
kualitas maupun jenisnya sehingga perilaku individu menjadi bervariasi.
Pentingnya aspek sikap dalam kehidupan individu, mendorong para psikolog
untuk mengembangkan teknik dan instrumen untuk mengukur sikap manusia.
Sikap tidak identik dengan respons dalam bentuk perilaku, tidak diamati secara
langsung tetapi dapat disimpulkan dari konsistensi perilaku yang dapat diamati.
Secara operasional, sikap dapat diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau
tindakan yang merupakan respons reaksi dari sikapnya terhadap objek, baik
berupa orang, peristiwa, atau situasi (Horocks, 1976 dalam Hartono, Agung dan
Sunarto, 2008). Dengan demikian, sikap adalah predisposisi atau kecenderungan
yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau
bereaksi dengan suatu cara tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga, atau
persoalan tertentu.

2.2 Keterkaitan Antara Nilai, Moral, dan Sikap, Serta Pengaruhnya


Terhadap Tingkah Laku
Perubahan pengetahuan individu tentang objek atau sekumpulan objek akan
menimbulkan perubahan perasaan individu yang bersangkutan mengenai objek
atau sekumpulan objek tersebut dan selanjutnya akan memengaruhi
kecenderungannya untuk bertindak terhadap objek atau sekumpulan objek
tersebut. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai hidup, maka moral
merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai
hidup dan tenggang rasa.
Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk melakukan
sesuatu, moral merupakan perilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari,
sedangkan sikap merupakan predisposisi atau kecenderungan individu untuk
merespons terhadap suatu objek atau sekumpulan objek sebagai perwujudan dari

4
sistem nilai dan moral yang ada di dalam dirinya. Sistem nilai mengarahkan pada
pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang selanjutnya akan menentukan sikap
individu sehubungan dengan objek nilai dan moral tersebut.
Dengan sistem nilai yang dimiliki, individu akan menentukan perilaku mana
yang harus dilakukan dan yang harus dihindarkan, ini akan tampak dalam sikap
dan perilaku nyata sebagai perwujudan sistem nilai dan moral yang mendasarinya.
Menurut Gerung, sikap secara umum di artikan sebagai kesediaan bereaksi
individu terhadap satu hal (Mapire, 1982 : 58 dalam Hartono, Agung dan Sunarto,
2008). Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang. Sikap
belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa kecendrungan
tingkah laku. Jadi, sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut.
Dengan demikian, keterkaitan antara nilai, moral, sikap, dan tingkah laku
akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dengan kata lain nilai-nilai perlu di
kenal lebih dulu, kemudian di hayati dan di dorong oleh moral, baru akan
terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud
tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang di maksud.

2.3 Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Pada Remaja


Nilai-nilai kehidupan perlu diinformasikan dan selanjutnya dihayati oleh
para remaja tidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun saja, namun juga
seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, misalnya nilai-nilai
keagamaan, nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan, dalam bentuk sesuai
dengan perkembangan remaja.
Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah
mempelajari apa yang di harapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian
bersedia membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial atau
masyarakat tanpa terus di bimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman
seperti yang dialami waktu anak-anak. Michel meringkaskan lima perubahan
dasar dalam moral yang harus di lakukan oleh remaja (Hurlock alih bahasa

5
Istiwidayanti dan kawan-kawan, 1980 : 225 dalam Hartono, Agung dan Sunarto
2008) sebagai berikut :
1) Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak.
2) Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada
apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
3) Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong remaja
lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral
yang dihadapinya.
4) Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5) Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa
penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan
emosi.
Perkembangan moralitas perlu di tinjau mulai dari waktu anak di lahirkan,
untuk dapat memahami mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki
tempat yang sangat penting. Dari hasil penyelidikan-penyelidikannya Kohlberg
mengemukakan tiga tingkatan yang di bagi menjadi enam stadium perkembangan
moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu, sebagai berikut :
1) Prakonvensional
2) Konvensional
3) Post-konvensional
Masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga keseluruhan ada
enam tahap (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang
tetap. Tidak semua orang bisa mencapai tahap terakhir perkembangan moral.
Dalam stadium nol, anak menganggap baik apa yang sesuai dengan
permintaan dan keinginannya. Sesudah stadium ini datanglah :

Tingkat I : Prakonvensional, yang terdiri dari stadium 1 dan 2


Pada stadium 1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman. Anak
menganggap buruk atau baik atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya
mengetahui bahwa aturan oleh suatu kekuasaan yang tidak bisa di ganggu gugat
dan ia harus menurut.

6
Pada stadium 2, berlaku prinsip Relativistik-Hedonism. Pada tahap ini,
anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang terkandung di dalam
dunia luarnya, atau di tentukan oleh orang lain, mereka menyadari bahwa setaip
kejadian mempunyai beberapa segi, ada relativisme yang artinya bergantung pada
kebutuhan dan kesanggupan seseorang.

Tingkat II : Konvensional, yang terdiri dari stadium 3 dan 4


Pada stadium 3, menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Pada
stadium ini anak memasuki umur belasan tahun, di mana anak memperlihatkan
orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat di nilai baik atau tidak baik oleh orang
lain.
Pada stadium 4, yaitu tahap mempertahankan norma-norma yang sosial
dan ortoritas. Pada tahap ini perbuatan baik yang di perlihatkan seseorang bukan
hanya agar dapat di terima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan
agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi
perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang
ada agar tidak timbul kekacauan.

Tingkat III : Pasca-Konvensional, yang terdiri dari stadium 5 dan 6


Pada stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara
dirinya dengan lingkungan sosial. Pada stadium ini ada hubungan timbal balik
antara dirinya dengan lingkungan sosial, dengan masyarakat. Seseorang harus
memperlihatkan kewajibannya, harus sesuai dengan tuntuan norma-norma sosial
karena sebaliknya, lingkungan sosial atau masyarakat juga akan memberikan
perlindungan kepadanya.
Stadium 6, tahap ini disebut Prinsip universal. Pada tahap ini ada norma
etik di samping norma pribadi dan subjektif. Dalam hubungan dan perjanjian
antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subjektif yang menilai
apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik. Subjektivisme ini berarti ada
perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, unsur
etika menentukan apa yang boleh dan baik di lakukan atau sebaliknya. Remaja

7
mengadakan penginternalisasian moral, yaitu remaja melakukan tingkah laku-
tingkah laku moral yang di kemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri.

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan


Sikap Pada Remaja
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai
terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang di anggapnya sebagai model.
Bagi anak-anak usia 12 dan 16 tahun, gambaran-gambaran ideal yang
diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-
orang terkenal, dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri.
Bagi para ahli psikoanalitis perkembangan moral dipandang sebagai proses
internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari
sudut organik biologis. Menurut psikoanalisis moral dan nilai menyatu dalam
konsep superego. Superego dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan
atau perintah-perintah yang datang dari luar (khususnya orang tua) sedemikian
rupa sehingga akhirnya terpencar dalam diri sendiri. Karena itu, orang-orang yang
tak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil,
kemungkinan besar tidak mampu mengembangkan superego yang cukup kuat,
sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.
Teori-teori lain yang non-psikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak-
orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog beranggapan
bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral.
Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu
sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya.
(Sarlito, 1992 : 92 dalam Hartono, Agung dan Sunarto, 2008)
Di dalam usaha pembentukan tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai
hidup tertentu ternyata bahwa faktor lingkungan memegang peranan penting. Di
antara segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat
penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung di kenal atau
dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini
lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi

8
sebagai pendidik dan pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terhadap
nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk
tingkah laku yang sesuai.
Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau
pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan
dengan nilai kebudayaan. Anak memang berkembang melalui interaksi sosial,
tetapi faktor si anak dalam membentuk aktivitas juga berperan penting dalam
perkembangan ini. Perkembangan dipengaruhi oleh perkembangan nalar
sebagaimana dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang,
maka makin tinggi pula tingkat moral orang tersebut.

2.5 Perbedaan Individu dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap


Pemahaman tentang moral dan nilai pada anak-anak akan bebeda dengan
pemahaman pada orang yang lebih dewasa, seorang anak akan menganggap suatu
nilai atau moral itu pasti, dalam artian tidak dapat di ubah. Lain halnya dengan
pemahaman pada orang yang lebih dewasa dengan pola pikir yang sudah
berkembang maka seorang dewasa akan memahami bahwa nilai itu bisa di tawar
atau minta di ubah kalau di setujui oleh semua orang.
Dalam kenyataan sehari-hari selalu saja ada gradasi dalam intensitas
penghayatan dan pengamalan individu mengenai nilai-nilai tertentu. Misalnya
pemahaman konsep dari nilai tenggang rasa, bila dibandingkan dengan sikap serta
tingkah lakunya dalam kaitannya dengan tenggang rasa, memungkinkan kita
menempatkan individu dalam satu kontinum.

2.6 Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja Serta


Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Apa yang terjadi di dalam diri pribadi seseorang hanya dapat di dekati
melalui cara-cara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala dan tingkah
laku seseorang tersebut, maupun membandingkannya dengan gejala serta tingkah
laku orang lain. Di antara proses kejiwaan yang sulit untuk dipahami adalah
proses terjadinya dan terjelmanya nilai-nilai hidup dalam diri individu, yang

9
mungkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual, disusul oleh
penghayatan nilai tersebut, dan yang kemudian tumbuh di dalam diri seseorang
sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruh jalan pikiran, tingkah lakunya, serta
sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwarnai tetapi juga
dijiwai oleh nilai tersebut.
Karena itu, ada kemungkinan bahwa ada individu yang tahu tentang sesuatu
nilai tetap menjadi pengetahuan. Tidak semua individu mencapai tingkat
perkembangan moral seperti yang diharapkan, maka kita dihadapkan dengan
masalah pembinaan. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam
mengembangkan nilai, moral, dan sikap remaja adalah :
a. Menciptakan Komunikasi
Dalam komunikasi didahului dengan pemberian infornmasi tentang
nilai-nilai dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa
bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai
moral, tetapi anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif. Hendaknya ada
upaya untuk mengikutsertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam
pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja
turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan
kelompok.
Nilai-nilai hidup yang dipelajari memerlukan satu kesempatan untuk
diterima dan diresapkan sebelum menjadi bagian integral dari tingkah laku
seseorang. Dan, nilai-nilai hidup yang dipelajari baru betul-betul berkembang
apabila telah dikaitkan dalam konteks kehidupan bersama.
b. Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi
Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu dan moral, kemudian
berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagaimana pencerminan nilai hidup
itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara
positif, jujur, dan konsekuen senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang
merupakan pencerminan nilai hidup tersebut.
Ini berarti antara lain, bahwa usaha pengembangan tingkah laku nilai
hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual

10
semata-mata tetapi juga mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif di
mana faktor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkret
dari nilai-nilai hidup tersebut.
Karena lingkungan merupakan faktor yang cukup luas dan sangat
bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial
terdekat terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan
pembina yaitu orang tua dan guru.

Nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga


mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk, sehingga secara psikologis
berpedoman kepada agama termasuk dalam final. Perlu juga diperhatikan bahwa
satu lingkungan yang lebih banyak bersifat mengajak, mengundang, atau
memberi kesempatan, akan lebih efektif daripada lingkungan yang ditandai
dengan larangan-larangan dan peraturan-peraturan yang serba membatasi.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan
suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan
memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Moral merupakan
ajaran tentang baik, buruk, perbuatan dan kelakuan, akhlak dan sebagainya.
Sedangkan sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan
berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi dengan suatu cara
tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga, atau persoalan tertentu.
Keterkaitan antara nilai, moral, dan sikap tampak dalam pengalaman
sehari-hari. Hal ini akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai di dalam kehidupan
sehari-hari. Nilai-nilai perlu di kenal lebih dulu, kemudian di hayati dan di dorong
oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan
pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang di maksud.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan nilai,
moral, dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi di samping memberi
informasi dan remaja diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk aspek moral,
serta menciptakan sistem lingkungan yang serasi atau kondusif.
Hal ini akan menambah tingkat nalar seseorang sehingga dia dengan
sendirinya mampu untuk mengembangkan dan menelaah nilai-nilai yang
berkembang pada lingkungan tempat hidupnya, kondisi seperti inilah yang
diharapkan mampu menanamkan pemahaman tetang nilai moral yang baik.

3.2 Saran
Melalui makalah ini, diharapakan dapat menambah pengetahuan tentang
nilai, moral, dan sikap pada remaja. Sebagaimana kita ketahui remaja memegang
peranan penting dalam kemajuan suata bangsa pada masa yang akan datang. Nilai,
moral, dan sikap pada remaja perlu dipahami oleh calon pendidik, sehingga dapat
mengarahkan peserta didik dalam bersosialisasi dengan orang lain. Dalam

12
pengutipan materi pada makalah ini belumlah sempurna dalam penyusunannya.
Oleh karena itu, kami sebagai penyusun mengharapakan saran dan masukan yang
bersifat membangun agar dalam penyusunan makalah pada masa mendatang dapat
lebih optimal.

DAFTAR RUJUKAN

Hartono, Agung. dan Sunarto. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:


Rineka Cipta.
Ali, Muhammad. dan Asrori Muhammad. 2008. Psikologi Remaja. Jakarta:
Bumi Aksara.

13