Anda di halaman 1dari 30

KONSEP DAN PROSES EVOLUSI PRIMATA

MAKALAH
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evolusi

Dosen Pengampu: Dr. Romy Faisal Musthofa, S.Pd, M.Pd

Mufti Ali, S. Pd., M.Pd

Dita Agustian, S. Pd., M.Pd

Oleh :
Milla Zahira 182154093
Suci Indra Fratami 182154101

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
2020
KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Konsep dan
Proses Evolusi Primata” sebagai tugas mata kuliah Evolusi. Shalawat beserta
salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
kepada keluarganya, sahabatnya dan tabi’atnya.

Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pengampu, rekan kelompok dan
teman-teman seperjuangan yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari akan adanya kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
penyusun khususnya dan umumnya bagi pembaca.

Tasikmalaya, 05 Oktober
2020

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Primata sendiri berarti “yang terutama” dan hal ini tidak mengherankan,
sebab manusia pastilah menganggap ordo mammalianya sebagai yang
terpenting. Primata tampaknya telah mengalami suatu evolusi pada awal
mulanya untuk mengembangkan jari tidak terspesialisasi yang amat baik
untuk kehidupan arboreal. Perubahan dalam pengelihatan, modifikasi pelvis,
perilaku, dan perkembangan orak terjadi. Dan pada primata modern, termasuk
kita, terlihat bahwa ciri hidup terestrial dan bukannya arboreal menandakan
modernisasi primata.
Terdapat salah satu definisi evolusi adalah suatu ilmu yang mempelajari
perubahan yang berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan masa
dan tempat. Pada dasarnya evolusi tidak untuk membuktikan apakah suatu
jenis berasal dari jenis yang lain. Memang menurut Darwin, suatu organisme
berasal dari organisme lain. Tetapi ada suatu pembuktian yang menyatakan
bahwa terdapat suatu jenis yang berasal dari jenis yang lain tidak pernah dapat
dibuktikan. Yang dipelajari dalam evolusi adalah proses perubahannya.
Banyak mamalia, misalnya paus, telah memodifikasi susunan lima jari aslinya
di ujung tungkai depan menjadi struktur-struktur terspesialisasi. Misalnya saja
pada sirip (flipper) pada paus dan lumba-lumba. Pada kuda, kelima jari telah
menjadi satu jari tunggal dengan kukunya. Pada primata, semua jari tetap ada
dan meneruskan susunan-bersendi dari struktur reptil yang primitif.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud evolusi primata?
2. Apa saja data-data evolusi primata?
3. Bagaimana proses radiasi primata?
4. Apa saja makhluk-makhluk pra Homo sapiens?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian evolusi primata.
2. Untuk mengetahui data-data dari evolusi primata
3. Untuk mengetahui proses radiasi primata.
4. Untuk mengetahui makhluk-makhluk pra-Homo sapiens.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Evolusi Primata


Pada evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data
yang “cukup lengkap”. Teori evolusi yang hanya didasarkan atas adanya fosil
tidak pernah dapat menerangkan dengan lengkap apa yang terjadi di masa lampau.
Oleh karena itu untuk mempelajari evolusi suatu organisme, biasanya para ahli
menggunakan data organisme yang masih hidup hingga kini.Dalam hal ini, yang
dilakukan para ahli ialah melihat perubahan struktur dari organisme-organisme
yang paling erat kekerabatan dengan organisme sasaran yang diteliti. Dengan
mengaitkan perubahan-perubahan suatu ciri, maka dapat ditarik kesimpulan
mengenai apa yang terjadi dimasa silam. Dalam hal ini, untuk menjelaskan
evolusi manusia, digunakan pendekatan pada golongan primata.
Salah satu definisi evolusi adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan
yang berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan masa dan tempat. Pada
dasarnya evolusi tidak untuk membuktikan apakah suatu jenis berasal dari jenis
yang lain. Memang menurut Darwin, suatu organisme berasal dari organisme lain.
Tetapi pembuktian bahwa suatu jenis berasal dari jenis yang lain tidak pernah
dapat dibuktikan. Yang dipelajari dalam evolusi adalah proses perubahannya.
Primata muncul sekitar 70 juta tahun yang lalu seiring dengan punahnya
dinosaurus. Setidaknya, itulah fosil tertua yang pernah ditemukan dari primata.
Sekarang, ordo primate dibagi menjadi dua sub ordo, yakni Prosimian (meliputi
lemur, tarsius, dll) dan Antropoid (kera, monyet, manusia). Prosimian yang
dahulu mendominasi primata, sekarang semakin tersingkir dan akhirnya menjadi
endemik beberapa daerah seperti Madagaskar. Dengan pemisahan garis
filogenetik, maka cabang dari Anthropoidea ada 3: monyet, kera, dan Hominid
(manusia). Monyet pertama muncul kira-kira 50 juta tahun lalu. Awal mulanya,
monyet dunia baru muncul dari cabang primata kuno, dan belakangan monyet
dunia lama berevolusi sebagai garis keturunan terpisah. Garis keturunan yang
tersisa setelah pemisahan monyet disebut garis Hominoid.
George Gaylord Simpson menyarankan pengelompokan garis itu ke super
familia Hominoidea. Pengelompokan itu mencakup: Hylobatidae (kera kecil),
Pongidae (kera besar), Hominidae (manusia). Namun, belakangan ini para
taksonom cenderung tidak membedakan lagi antara kera kecil dan kera besar.Kera
kecil mencakup siamang alias gibbon dan kerabatnya.Kera besar contohnya
gorila, simpanse, dan orangutan. Simpanse punya 2 spesies dan beberapa
subspesies (masih kontroversi), sementara itu orang utan dan gorila hanya punya 1
spesies, namun orang utan punya 2 spesies: P. pygmaeus pygmaeus, dan P.
pygmaeus abelli. Manusia modern juga hanya memiliki 1 spesies, yakni Homo
sapiens. Fosil kera primitif yang pernah ditemukan kira-kira berusia 35 juta tahun
dan dinamakan Aegyptopithecus, yakni “kera fajar”. Karena itu merupakan garis
keturunan hominoid, maka kera tersebut adalah nenek moyang bersama kera dan
manusia. Divergensi antara kera purba dan manusia diduga terjadi sekitar 7 atau 8
tahun yang lalu.
Pada awal mulanya, primata mengadaptasikan kehidupan arboreal. Dan
pada sendi bahu yang sangat fleksibel pada monyet dan kera memudahkan mereka
untuk berayun-ayun dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Terdapat tipe
lokomosi seperti itu disebut brachiasi (dari kata Latin brachia/brachium untuk
lengan). Pengemukanya yaitu Sir Arthur Keith,yang menyadari keuntungan
lokomosi itu di hutan. Modifikasi lainnya adalah pergeseran mata ke tengah
wajah, sehingga citra dari kedua mata dapat menumpuk ditengah dan
menghasilkan citra yang lebih baik. Kebanyakan primata memiliki pegangan
tangan dan kaki yang kuat dan fleksibel.Namun, kemampuan itu telah tereduksi
hampir seratus persen pada primata bipedal yang plantigrad, seperti umat
manusia.
Hampir semua primata dari yang paling tua sampai yang paling baru ini,
memiliki tangan dengan ibu jari yang dapat berputar. Hal ini sangat
menguntungkan bukan saja untuk memegang objek, namun melakukan
manipulasi dan modifikasi lingkungan. Apalagi, dengan perkembangan
neokorteks (cerebrum) yang amat pesat, hal ini memberikan jalan lapang untuk
perkembangannya. Tangan yang telah “terbebaskan” dari peralihan cara hidup
dari arboreal ke non arboreal nampaknya telah banyak berperan dalam
komunikasi yang lebih baik diantara spesiesnya, dan karena itu mendorong
perkembangan interaksi kelompok, berbicara, dan akhirnya penciptaan budaya.
Pada waktu sekarang tidak dapat mengetahui dengan pasti mengenai apa
yang terjadi pada masa lalu. Maka oleh karena itu, digunakan data fosil dan data
dari organisme yang hidup pada masa kini. Terdapat bukti yang digunakan untuk
mempelajari perubahan akan ditinjau dari banyak segi, yang dapat memberikan
petunjuk mengenai apa yang terjadi peda masa lalu. Terdapat sifat yang nantinya
akan berevolusi sesusia dengan perkembangan waktu dan tempat. Dengan
menggunakan data fosil dan juga organisme aktual maka akan terlihat
mempunyai senmua sifat terevolusi.
2.2 Data-data Evolusi Primata
a. Data Fosil
Sebuah fosil merupakan jejak kehidupan masa lalu. Fosil yang paling jelas
adalah bagian tubuh, seperti kerang, tulang, dan gigi; tetapi fosil juga
mencakup sisa-sisa aktivitas makhluk hidup, seperti jejak kaki (disebut jejak
fosil), dan bahan kimia organik yang mereka bentuk (fosil kimia). Bagi setiap
organisme untuk meninggalkan fosil membutuhkan serangkaian peristiwa,
dimana masing-masing tidak memiliki kesamaan.
Ketika suatu organisme mati, bagian-bagian yang lembut biasanya
dimakan oleh hewan pemakan bangkai atau mengalami pembusukan yang
dilakukan oleh mikroba. Untuk alasan ini, organisme yang terutama terdiri
dari bagian-bagian lunak (seperti cacing dan tanaman) cenderung untuk
meninggalkan fosil dalam jumlah yang sedikit daripada organisme yang
memiliki bagian keras. Beberapa fosil bagian-bagian lunak memang ada, tapi
mereka baik disimpan dalam keadaan luar biasa atau melestarikan bentuk
kehidupan yang sangat melimpah. Primata termasuk organisme yang
memiliki bagian tubuh yang keras, sehingga data-data fosilnya masih bisa
ditemukan.
Bermacam-macam fosil primata seperti Mesopithecus, Miopithecus, dan
Aegyptophitecus dari lapisan Oligosen; Parapithecus, Propliopithecus yang
berbentuk seperti bajing, diperkirakan tidak mempunyai hubungan
kekerabatan yang cukup dengan manusia. Fosil primata yang paling tua dan
masih termasuk famili Homonidae adalah Dryopithecus, Limnopithecus,
Brahmapithecus, Sivapithecus, Pliopithecus, Oreopithecus, dan Proconsul
yang dikenal sejak zaman Miosen.
Dryopithecus dianggap berkerabat dengan bangsa beruk dan kera,
sedangkan Proconsul, merupakan fosil Homidid tertua yang diduga
berkerabat dengan gorilla dan simpanse. Fosil Brahmapithecus, dan
Sivapithecus belum diketahaui kerabat dekatnya. Kemudian kita mengenal
fosil Hominid yang lebih muda yakni Ramapithecus yang dianggap sebagai
fosil yang erat hubungannya dengan manusia.Fosil ini pada mulanya hanya
sebuah tulang rahang.Namun kini pandangan tersebut berubah, karena
penemuan baru telah meberikan pandangan yang lebih baik.Fosil ini ternyata
identik dengan Dropithecus.Fosil berikutnya adalah Kenyapithecus.
Fosil Homo mungkin pula telah ada, namun data yang ada belum
meyakinkan.Baru kemudian, pada lapisan yang lebih muda, mulai dijumpai
Paraustralopithecus aethiopicus, yang kemudian oleh para ahli yang
beraliran progresif sekaran disebut Homo aethiopicus, Australopithecus (A.
africanus, A. afarensis), Homo, Meganthropus palaeojavanicus (Homo
mojokertoensis), dan Paranthropus (P. boisei, P. robustus).Kedua marga fosil
terakhir dan Gigantopithecus adalah fosil manusia atau kera berukuran besar
dan mungkuin pantas dinamakan raksasa.Fosil-fosil yang menempati lapisan
lebih atas adalah Zinjanthropus, Homo habilis, Homo ergaster, Homo
rudolfensis.Baru kemudian kita mengenal manusia purba, Homo erectus
(Sinatropus, Pithecanthropus, Atlanthropus, Telanthropus, Eoanthropus dan
Homo heidelbergensis). Fosil-fosil Hominid yang paling muda semuanya
sudah dianggap sebagai Homo-sapiens(Swancombe, Steinheim, Cro-
Magnon), dan Homo sapiens neaderthalensis (Homo soloensis, Homo
rhodosiensis).
b. Data Molekuler
Pendekatan molekuler dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas
California di Berkeley.Tahun 1987 mereka mengemukakan hasil analisis
ADN mitokondria yang menunjukkan bahwa ADN mitokondria manusia
yang paling primitif (wanita, karena ADN mitokondria diturunkan dari pihak
ibu) terdapat di Afrika. Bila dikaji mengenai kecepatan mutasi ADN
mitokondria, dan dikaitkan dengan perubahan yang terjadi, maka dapat
disimpulkan bahwa manusia yang paling primitif harus sudah berada di muka
bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan kontroversi
dengan data fosil, karena menurut fosil, Homo sapiens pertama berumur
paling sedikit sekitar 250.000 – 1.000.000 tahun yang lalu.Apalagi bila kita
membaca buku yang lebih tua, maka dapat kita menemukan bahwa perkiraan
manusia pertama adalah sekitar 15.000.000 tahun yang lalu.
Penelitian tadinya dilakukan oleh kelompok lain dengan menggunakan
analisis ADN kromosom Y menunjukkan bahwa pria pertama berasal dari
daerah Aka Afrika, di tempat suku Pygmee berada. Pendekatan tersebut di
atas, meskipun mengarah kepada Afrika sebagai daerah asal manusia, sangat
didukung oleh data fosil.
Meskipun data molekuler sangat cocok dengan data fosil, namun data
yang masih ada belum cukup memastikan asal usul manusia. Teori lain
menyatakan bahwa manusia pertama mungkin adalah suatu hybrid antara
manusia primitif (Homo erectus dengan Homo habilis dan Homo
neaderthalensis) dan dihasilkan manusia modern yang hidup sekarang.
Pendapat lain mengatakan bahwa asal usul manusia terjadi di Afrika dan
Asia, ada pula kemungkinan yang jauh lebih kecil yakni di Eropa dan
Australia. Pendapat ini didasarkan pada fosil Homo erectus dan fosil Homo
sapiens.
2.2.1 Perkembangan Primata primitif ke Primata maju
Kita yang hidup pada masa sekarang tidak pernah dapat
mengetahui dengan pasti mengenai apa yang terjadi pada masa lalu.
Oleh karena itu, digunakan data fosil dan data dari organisme yang
hidup pada masa kini. Bukti yang digunakan untuk mempelajari
perubahan akan ditinjau dari banyak segi, yang dapat memberikan
petunjuk mengenai apa yang terjadi peda masa lalu. Suatu sifat akan
berevolusi sesusia dengan perkembangan waktu dan tempat.
Dengan menggunakan data fosil dan organisme aktuil mempunyai
senmua sifat terevolusi. Analisis yang dilakukan pada primata
primitive sampai dengan primata yang maju, yakni manusia
memberikan gambaran sebagai berikut:
a) Hubungan antara tulang vertebra dan tengkorak mengalami
perubahan yang berangsur- angsur menuju titik berat
tengkorak. Mula-mula hubungan ini terdapat dibagian tepi
menjadi tepat berada di bawah. Perubahan ini diikuti dengan
perubahan cara berjalan dari empat kaki menjadi dua kaki.
Sejalan dengan perubahan ini, maka otot leherpun menjadi lebih
lemah, seadngkan panggul menjadi lebih penting dan kuat.
Bentuk tengkorak yang memanjang dengan rahang besar, gigi
yang kuat dan membentuk moncong menjadi bertambah
pendek. Rongga hidung yang besar sekarang menjadi jauh lebih
kecil.
b) Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang
yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah
sepenihnya ter-lindung. Hal ini menunjukkan bahwa mata
menjadi organ yang sangat penting. Selain itu, dapat pula dilihat
bahwa mata ynag menghadap ke samping, menjadi berangsur-
angsur menghadap ke depan. Penglihatanpun berubah dari dua
dimensi menjadi tiga dimensi, dan kemampuan melihat
warna meningkat dari hitam putih untuk membedakan gelap dan
terang menjadi mampu melihat hampir semua spectrum warna.
Hal ini erat kaitannya dengan cara hidup dari malam hari
menjadi siang hari. Selain itu, matapun diperlukan untuk melihat
makan diantara ranting- ranting pohon, dan untuk menyelinap
dengan mudah diantara hutan.
c) Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku.
Hal ini terlihat bahwa tupai mempunyai cakar, sedangkan
primata lebih lanjut mempunyai kuku yang tebal dan akhirnya
manusia mempunyai kuku yang tipis. Cakar mula-mula
digunakan untuk mengais mencari makan. Dengan berubahnya
cara hidup dari hidup di tanah menjadi kehidupan arboreal,
maka cakar menjadi mengganggu kemapuan bergerak dengan
cepat di atas pohon. kehidupan arboreal lebih membutuhkan
kemampuan untuk me-megang. Dengan demikian, terjadi pula
perubahan cara memegang dengan terbentuknya ibu jari dengan
persendiaan yang lain daripada jari-jari yang lain. Hal ini erat
kaitannya dengan timbulnya flora hutan sebagai habitat baru di
muka bumi. Cakar perlu untuk naik pohon, tetapi selalu terkait
kalau pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Selain itu, terjadi
pula perubahan dari telapak tangan. Hal ini penting berkaitan
dengan kemampuan untuk memegang yang terlihat pada kera,
yang mempunyai “empat tangan”, bahkan pada kera Amerika
Selatan, ekorpun dapat digunakan untuk memegang.
d) Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan lebih penting
daripada kaki. Hal ini terlihat pada bangsa kerayang memilki
tangan yang lebih panjang dan lebih kuat daripada kaki. Struktur
ini penting untuk dapat nerayun-ayun dan berpindah tempat.
Dengan berubahnya permukaan bumi, maka jumlah hutan
menjadi semakin sedikit. Selain itu, ditemukan primata besar
yang tidak dapat ditunjang oleh hutan. Dengan demikian,
primata mulai turun ke permukaan bumi. Akibatnya tangan
menjadi kurang diperlukan sedangkan kaki diperlukan untuk
mengejar mangsa dan menghindarkan dir i dari predator.
Volume otak mengalami perubahan pesat. Faktor ini sangat nyata
terlihat pada golongan kera-manuasia. Australopithecus hanya
mempunyai volume otak 600 cc, sedangkan manusia modern sekitar
dua kali lebih besar. Data fosil menunjukkan bahwa fosil manusia
lainnya mempunyai kisaran antara keduanya. Perubahan volume otak
dapat pula dilihat pada perubahan dahi.
2.3 Radiasi Primata
Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan
mamalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman
Palaeosin.Hewan ini bertubuh kecil seperti cecurut, bermoncong, dan berekor
panjang. Mereka tangas dan cerdas, mempunyai organ-organ penggenggan dan
lima jari. Dari Prosimian perkembangan radiasi evolusi menuju beberapa
golongan besar yang masih tetap hidup sekarang ini.
2.3.1 Prosimian Modern
Kelompok besar pertama yakni Prosimian modern. Yang termasuk
kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar.
Hewan-hewan ini masih mempunyai moncong dan ekor yang panjang, berkuku,
bukan cakar dengan kemampuan untuk memanipulasi obyek, hal ini merupakan
ciri umum Primata.
Hewan lain yang termasuk Prosimian modern ialah tarsius (binatang
hantu), hidup di Asia Selatan dan Indonesia (daerah pantai Kalimantan, Sulawesi,
dan Sumatra). Pada hewan ini tidak dijumpai lagi moncong yang panjang mata
lebih ke depan tidak seperti mata lemur yang agak kesamping oleh karena itu,
tarsius dapat memfokuskan satu titik dengan kedua matanya. Nampak adanya
peningkatan pada alat-alat penglihatan dan mekanisme saraf yang memberikan
kemampuan untuk kedalaman persepsi (binocular stereoscopic vision) dan
penglihatan warna pada tahap-tahap beranekaragam.

Lemur Tarsius
Tarsius besarnya kira-kira sama dengan seekor tikus besar dan dapat
bergerak sejauh yang bisa dilakukan seekor kanguru. Tarsius dapat memutar
kepalanya nyaris 360 derajat, sehingga dapat memandang lingkungan yang ada
tepat di belakangnya.Dalam hal ukuran relatif otak dan bentuk hidung, tarsius
mirip dengan monyet.
2.3.2 Ceiboidea (Monyet Dunia Baru)
Monyet dunia baru dan dunia lama menjalani radiasi adaptif terpisah
selama jutaan tahun. Semua spesies monyet dunia baru adalah penghuni arboreal,
sebagian besar monyet dunia baru ini aktif diurnal (aktif disiang hari) dan
biasanya hidup dalam kelompok yang diikat oleh prilaku sosial.
Ceboidea hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah
hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika tengah, Dan Amerika
Selatan.Mereka terbagi menjadi dua family, yakni Callithricidae dan
Cebidae.Callithricidae atau Marmoset adalah primata kecil yang telah menempati
niche seperti bajing di hutan Dunia Baru.Perkembangan yang menonjol pada
cakar untuk memanjat yang merupakan bagian penting dari pergerakan mereka.
Ceboidae hidup dilingkungan pohon.Namun lebih berkembang
dibandingkan dengan Callithricidae.Mereka mengembangkan beraneka ragam
besar tubuh dan adaptasi ekologis di pohon-pohon. Beberapa anggota Cebidae
telah beeradaptasi dengan cara hidup dilingkungan pohon dengan jalan
mengembangkan “kaki ke-5” dalam bentuk ekor prehensile (penggenggam, dapat
digunakan untuk memegang sesuatu). Ekor prehensile tidak hanya terdapat pada
moyet Dunia lama.

Marmoset Cebidae
Monyet dunia baru adalah hewan asli Amerika Selatan. Kebanyakan tidak
memiliki ibu jari yang dapat diputar, yang merupakan ciri khas dari primata-
primata yang lebih maju. Cupingnnya lebar dan membentang ke arah samping,
sehingga hidung tampak rata.Monyet capuchin yang digunakan di Eropa dalam
pertunjukan-pertunjukan hiburan tergolong contoh monyet dunia baru.
2.3.3 Cercopithecoidea (Monyet Dunia Lama)
Monyet dunia lama tidak memiliki ekor prehensile dan lubang hidungnya
terbuka kebawah, semua spesies monyet dunia lama yaitu termasuk penghuni
arboreal dan penghuni tanah. Sebagian besar monyet dunia baru ini aktif diurnal
(aktif disiang hari) dan biasanya hidup dalam kelompok yang diikat oleh prilaku
sosial seperti halnya pada monyet dunia baru.
Semua gorilla dunia lama kecuali prosimian adalah gorilla14ia (hidung
terbelah). Monyet-moyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu gorill yakni
Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub gorill yaitu cercopithecinae (moyet
babon) dan colobinae (monyet pemakan daun).
Pada catatan fosil cercopithecoidea berkembang pada zaman Oligosin dan
Miosin.Pada akhir Moisin mereka telah menempati sejumlah niche lingkungan
pohon serta terestrial di Afrika dan Erasia.Pada saat sekarang mereka berkembang
menjadi Colonin (monyet pemakan daun) dan cercopithecin. Cercopithecin yang
hidup sekarang menempati iklim dan habitat yang lebih luas dibandingkan
Primata lain, kecuali manusia.
a. Colobinae

Colobinae hidup beradaptasi makan daun vegetasi muda.Mereka


mempunyai puncak gigi yang tajam pada gigi molar, kantung pipi khusus, dan
bentuk perut khusus untuk mencernakan makanan.Pencernaan dilakukan
dengan bantuan bakteri yang hidup pada perutnya yang mirip dengan
kantung.Langur (sebutan untuk berapa Colobinae) mendiami banyak
habitat.Beberapa diantaranya digunung-gunung tinggi dengan sedikit pohon
dan makannya bergantung pada puncak-puncak cemara dan kuliy pohon dan
dedaunan.
b. Cercopithecinae
Sub gorill ini menempati beraneka habitat, mulai dari savanna terbuka
(babon, macaques, monyet patas) sampai hutan (mandril, mangabey, dan
quenon) tingkah laku social babon dan Cercopithecinae terrestrial banyak
dipelajari oleh ahli antropologi untuk mengetahui factor-faktor lingkungan dan
ekologi yang menolong membentuk nenek moyang manusia.
Mereka berjalan di atas 4 kaki (gorilla16ial dan mengembangkan
kemampuan mencengkeram, tetapi tidak dengan ekor prehensile. Bentuk
pergerakan mereka dinamakan branch walking (berjalan) diatas cabang),
plantigrade (kencenderungan bergerak pada permukaan plantar = tapak tangan
atau tapak kaki) da digitigrase (kecenderungan bergerak dengan jari tangan
atau jari kaki).
Gibbon mempunyai tengkorak yang lebih kecil dibandingkan dengan
Hominoid yang lain dan semata-mata orboreal. Bentuk Gibbon khusus untuk
bergerak arboncal, disebut brachiation.Branchiation memungkinkan gibbon
bergerak arboncal, disebut brachiantion.Branchiation memungkinkan gibbon
bergerak lebih cepat antara pepohonan dengan menggunakan kedua
lengannya, hingga tangannya berfungsi sebagai sebuah kait. Tetapi jika ia
turun ke tanah berjalan-jalan di atas dahan –dahan dilakukan dengan 2 kaki.
Orangutan seperti gibbon hidup terbatas di Asia Tenggara dan pernah
hidup tersebar luas di Asia.Cara bergerak orangutan dinamakan quadramanual
(empat tangan). Meskipun orangutan menghabiskan banyak waktunya di atas
pohon dengan menggunakan 4 anggota badanya, jua dapat berjalan jauh sekali
di daratan tanah, khususnya jantan dewasa gorill 2 kali lebih besar daripada
betinanya dan menjalani hidup membujang.
Gorila sangat terbatas ruang lingkupnya dan sekarang hanya terdapat di
hutan pegunungan daerah katulistiwa dan dataran tinggi Afrika timur.Gorila
adalah vegetarian terestial, pemakan daun yang tumbuh didataran
tanah.Susunan kerangka sangat khusus untuk menopang berat badan
gorilla16ial dan berjalan diatas buku-buku jari.Cara bergerak seperti ini
terlihat pada bentuk dada, bahu, pergelangan tangan, dan tulang lumbar
verteberal yang kuat.
Simpanse tidak mempunyai catatan fosil, hidup terbatas di daerah hutan
dan bagian berhutan kera.Karena adaptasi mereka, mempunyai struktur badan
yang orthograde (tegak), yang memungkinkan mereka berjalan jauh di atas
permukaan tanah, tetapi juga posisi duduk dalam jangka waktu lama.Untuk
duduk, babon telah mengembangkan sepetak kulit pada bagian belakang yang
dinamakan ischial callosities.
c. Hominoidea
Kelompok ini muncuk pada zaman Paleosin.Selama Miosin awal radiasi
Hominoidea bercabang menjadi dua yakni Anthropoidea (kera) dan
Hominidea (keluarga manusia).Kedua gorill ini ditandai dengan hilangnya
ekor dan berkembangnya ukuran besar badan.Otak.Anthropoidae dan
Hominiidae jauh lebih berkembang dan demikian fungsi lebih kompleks.Kera-
kera yang hidup sekarang dibagi 4 genus, yakni gibbon, orangutan, simpanse,
dan gorilla.
2.4 Makhluk-makhluk pra homo sapiens
Evolusi dari makhluk - makhluk pra homo sapiens dapat digolongkan menjadi
dua bagian besar yaitu berdasarkan kedekatan kekebaratannya dengan manusia,
dan berdasarkan penemuan fosilnya.
a) Berdasarkan hubungan kekerabatannya
Berdasarkan hubungan kekerabatannya evolusi pra homo sapiens terbagi
menjadi beberapa famili terdekat dengan homonidea yang merupakan
famili homo sapiens mulai dari famili Tupaiidae, Lemuroidae, Pongidae
dan Famili Homonidae.
 Famili Tupaiidae
Famili Tupaiidae merupakan ordo Primata, yaitu golongan hewan
pemakan serangga, berukuran kecil seukuran tikus dan memiliki
jumlah 19 spesies dalam familinya contoh famili ini adalah tupai.
 Famili Lemuroidae
Famili ini merupakan Ordo Primata primitif termasuk di dalamnya
adalah jenis binatang setelah kera. salah satu dari lima keluarga
umumnya dikenal sebagai lemur. Hewan-hewan itu dianggap sebagai
pendahulu evolusi dari monyet dan kera, tapi ini tidak lagi dianggap
benar. Contoh dari spesies famili ini yang ada di indonesia yaitu
Tarsius spectrum (binatang hantu), yang hidup di hutan (Kalimantan,
Sulawesi, dan Sumatra), dan Filipina. Jenis binatang tersebut
mempunyai ekor panjang serta berkuku bukan cakar.
 Famili pongidae
Adalah famili dari bangsa kera besar mulai dari orang utan, chimpanse
dan gorilla.
 Famili hominide
Famili Hominidae awalnya adalah famili yang menggolongkan
spesies relasi terdekat dengan manusia yang sebenarnya telah punah,
dengan kera besar lainnya ditempatkan di keluarga yang terpisah,
yaitu Pongidae. Salah satu contoh spesiesnya adalah Australopithecus
afarensis.
b) Berdasarkan Ditemukannya Fosil
Evolusi pra homo sapiens berdasarkan hasil penemuan fosil yang
ditemukan diperkirakan kehidupan manusia dimulai lebih kurang 25 juta
tahun lalu yang tersebar menjadi 3 zaman, yaitu :
1. Zaman Miosin (25 – 10 juta tahun yang lalu)
a. Tingkat pertama, yakni Plipithecus.
Makhluk ini sepenuhnya bersifat kera, oleh karena itu dinamakan kera
primitif. Tubuhnya kecil dan pendek. Kedua tangannya mungkin
masih digunakan untuk bergelantungan di dahan pohon. Mereka
belum dapat berjalan tegak. Diduga, kera primitif hidup 35 – 25 juta
tahun yang lalu. Ditemukan oleh tim ekspedisi Universitas Yale di
Fayum tahun 1961.
b. Tingkat kedua, Proconsul
yakni kera purba yang hidup sekitar 25 -15 juta tahun yang lalu. Para
ahli berpendapat bahwa makhluk ini tidak sepenuhnya bersifat kera;
disebabkan pada muka, rahang, gig geliginya terdapat ciri yang
ditafsirkan sebagai ciri manusia. Makhluk ini ditemukan di danau
Victoria, dikatakan oleh seorang ahli: “Mungkinkah ini merupakan
bisikan samar – samar pertama tentang makhluk hidup yakni
manusia”. Proconsul semakin banyak terkumpul dan semuanya
menunjukkan bahwa binatang ini muncul dengan berbagai ukuran
yang berbeda – beda; ada yang sekecil simpanse dan ada yang
menjadi sebesar gorilla. Tipe gorilla inilah yang menjadi nenek
moyang gorilla modern.
c. Tingkat ketiga, Dryopithecus
yakni kera raksasa yang hidup sekitar 15 – 10 juta tahun yang lalu.
Makhluk ini sejenis Proconsul.Fosilnya ditemukan luas di Eropa,
India, Cina, dan Afrika. Fosil ini belum lengkap untuk menunjukkan
salah satu anggota dari genus yang luas manuju ke arah manusia.
Karena rekonstruksi makhluk ini dibuat terutama dengan
menggunakan fragmen – fragmen dan gigi – gigi. Dryopithecus
memiliki bentuk badan yang cukup besar serta sangat gemar
mengembara sehingga menempati hutan tropis yang sangat luas.
d. Tingkat keempat, Ramapithecus
yakni primata paling purba yang pada umumnya dianggap sebagai
leluhur manusia. Hidup sekitar 15 -10 juta yang lalu. Ukurannya jauh
lebih lebih kecil daripada manusia sekarang, yakni 0,9 – 1,2 meter dan
kapasitas tengkoraknya lebih kurang 40 cc. Ramapithecus memiliki
busur gigi yang lebih kecil namun jauh lebih besar daripada kera.
Bentuknya kira-kira mirip dengan busur gigi manusia.Pada manusia,
tanganlah yang melakukan sebagian besar pemecahan dan pencabikan
makanan yang keras, sedangkan pada kebanyakan kera, gigi tampak
merupakan satu-satunya alat untuk melakukan tugas-tugas
tersebut.Fosil dari makhluk ini ditemukan pada tahun 1930-an di
bukit Siwalik (Pakistan) oleh G. E. Lewisdari Universitas Yale.
2. Zaman Pliosin (10 – 2 juta tahun yang lalu)
Pada zaman ini telah muncul makhluk baru yakni primata yang tidak
menyerupai primata yang hidup sebelumnya. Makhluk ini bukan kera
penghuni hutan, tetapi lebih banyak hidup di padang rumput terbuka.
Makhluk ini berjalan tegak dengan kedua kakinya. Ada dua jenis
makhluk ini, yakni:
e. Tahap kelima,Australopithecus afarensis
Makhluk ini merupakan tingkatan kelima.Australopithecus afarensis
merupakan makhluk purba yang diduga merupakan keturunan
Ramapithecus.Hidup sekitar 5 juta tahun yang lalu. Makhluk ini juga
dianggap sebagai Hominoid paling awal yang menurut beberapa ahli
sudah mampu berjalan tegak.Australopithecus afarensis ditemukan
oleh Lois dan Mary Leakeydibagian Timur dan Utara Afrika Selatan,
di tebing Olduvai dekat dengan Ethiopia. Fosil – fosil makhluk ini
ditemukan dari lapisan – lapisan batuan yang berbentuk tebing
lembah.Dengan metode kalium - argon dapat ditentukan dengan
tepat fosil itu.
f. Tahap keenam,Australopithecus africanus
Australopithecus africanus merupakan tingkatan keenam.Makhluk ini
ditemukan oleh Raymond Dart, pada tahun 1924, yakni seorang ahli
otonomi dan palaentologi dari Universitas Witwatersrand di
Johannesburg, Afrika Selatan.Fosil Australopithecus africanus
dipelajari Dart dari koleksi batuan yang mengandung fosil dari suatu
lubang galian pertambangan kapur di Taung, Batswana. Fosil
terbenam dalam salah satu bagian batuan dimana tengkorak –
tengkorak yang ditemukan tidak menyerupai tengkorak lainnya yang
pernah dilihatnya.Ketika tenggkorak tadi dipisahkan sama sekali dari
batuan, Nampak suatu tengkorak yang menakjubkan. Dalam beberapa
hal, tengkorak ini menyerupai anak manusia yang berumur lima atau
enam tahun. Tetapi dalam hal beberapa lainnya tengkorak tadi jelas
menyerupai tengkorak kera. Dart menamakan penemuanya dengan
Australopithecus africanus, artinya “Kera Afrika Selatan”.dia terus
mempelajarinya dan setelah empat tahun bekerja berhasil memisahkan
rahang tengkorak sedemikian, sehingga giginya tampak jelas. Terlihat
gigi – giginya sangat menyerupai gigi anak manusia.Lain dari itu, dari
letak foramen magnum, yakni lubang yang menghadap ke tengkorak
dan yang melewati oleh urat saraf tulang belakang menuju ke otak,
menghadap langsung ke bawah. Dart merasa bahwa tengkorak tadi
adalah tengkorak suatu makhluk yang letak kepalanya seperti pada
manusia; mungkin makhluk tersebut sudah berjalan tegak.
Penemuan Dart didukung oleh ahli palaentologi lain yang berkerja
di Afrika Selatan, yakni Robert Broom. Setelah bertahun – tahun dia
mempelajari fosil Mammalia di Afrika Selatan.dengan beberapa
teman sekerja, Broom mencari fosil – fosil lagi yang mungkin dapat
memberikan petunjuk untuk memperkuat kesimpulannya. Selama
empat puluh tahun berikutnya, terkumpul sudah bahan fosil yang fosil
tengkorak, tulang kaki, dan tulang panggul. Semua fosil diharapkan
dapat memberi petunjuk dengan jelas bahwa memang sesungguhnya
di Afrika Selatan terdapat makhluk pra – manusia (pra – Homo
sapiens).
3. Zaman Pleistosin (2 juta tahun yang lalu sampai sekarang)
Pada zaman ini manusia menglami evolusi yang sangat cepat dan sudah
menggunakan perkakas baik dari batu maupun kayu. Mereka sudah
pandai berburu, sudah dapat menggunakan api dan diduga sudah dapat
berbicara. Anggapan ini berdasarkan pada volume otak yang lebih besar
bila dibandingkan dengan makhluk sebelumnya.
g. Tahap ketujuh,Australopithecus robustus
Australopithecus robustus merupakan makhluk sejenis
Australopithecus africanus, namun ukurannya lebih besar. Tinggi
badannya mencapai 1,5 meter dan berat badannya 65 – 75 kg,
mempunyai gigi – gigi besar dan otak rahang yang kuat yang
menunjukkan bahwa spesies ini adalah herbivora. Sedangkan
Australopithecus robustus lebih langsing, berat badanya kira – kira 50
kg dan tingginya 1,2 meter. Meskipun catatan fosil jauh dari
sempurna, akan tetapi ada petunjuk bahwa Australopithecus tersebut
hidup di Afrika Selatan kira – kira selama 750. 000 tahun yang lalu.
Selama waktu itu, Australopithecus africanusmakin lama makin
menyerupai manusia, sedangkan Australopithecus robustustetap tidak
berubah.
h. Tahap kedelapan,Australopithecus boisei
Makhluk ini merupakan tahap kedelapan, yang merupakan jenis
Australopithecus yang paling besar.Australopithecus boiseihidup di
Afrika Timur, dengan ciri – ciri badan tegap, muka dan giginya khas
lagi kokoh, tempurung kepalanya rendah dan kasar. Diduga hidup 1,5
juta tahun yang lalu. Ditemukanj oleh Leakeydi Lenbah Olvuvai,
Tanzania.
i. Tahap kesembilan, Homo habilis
Makhluk ini merupakan keturunan dari Australopithecus purba yang
lebih ramping dan berbeda dengan saudara – saudaranya, karena lebih
tinggi intelegensinya. Homo habilis(manusia tukang) merupakan
pembuat dan memakai alat. Homo habilishidup sekitar 2 – 1,5 tahun
yang lalu. Beberapa ahli berpendapat bahwa makhluk ini sebagai
“manusia sejati pertama”, yang lebih cerdas daripada Homo habilis
karena memiliki rongga otek yang lebih besar. Ditemukan oleh
Leakey di Lembah Olduvai.
j. Tahap kesepuluh,Homo erectus
Makhluk ini diduga hidup pada 1,5 – 0,5 juta tahun yang lalu. Homo
erectus dapat berjalan tegak, kakinya panjang dan lurus, dan tulang
tungkainya lebih maju.Otaknya lebih besar dengan valume berkisar
750 – 1.400 cc. Homo erectus sebagai manusia purba sudah pandai
membuat perkakas, misalnya kapak genggam, walaupun masih agak
kasar.Kehidupannya dengan berburu mammalian besar. Telah
menggunakan api, sudah dapat berbicara untuk mengajari anaknya
bagaimana membuat perkakas. Makhluk ini ditemukan tersebar di
dunia.
Dari apa yang dijelaskan di atas mengapa Homo erectus dapat hidup di
seluruh dunia belumlah jelas. Mungkin tipe makhluk ini berevolusi di
beberapa tempat menyebar sepanjang daratan subur dan yang mudah dilalui,
terbentang dari Afrika Timur, mengitari Samudra Indonesia sampai ke
Jawa.Perkembangan evolusi sejalan dengan masa pengembaraan mereka dari
abad ke abad. Makhluk ini di temukan diberbagai tempat, antara lain:
 Pithecanthropus erectus (manusia jawa), ditemukan oleh Eugene
Duboistahun 1891. Dubois adalah seorang dokter Belanda menemukan
fosil manusia Jawa di daerah Trinil (sepanjang tepi bengawan solo). Fosil
yang ditemukan berupa rahang beberapa gigi, dan sebagian dari tulang
tengkorak.
 Pithecanthropus pekinensis (Sinathropus pekinensis) (manusia Cina).
Fosil makhluk ini ditemukan oleh Davidson Black dan Tranz Weidenreich
pada tahun 1920 dari suatu penggalian di dalam sebuah gua kapur di dekat
Peking. Volume otaknya 900 – 1.200 cc. kebudayaannya sudah lebih maju
daripada Pithecanthropus. Mereka telah menggunakan senjata dan
perkakas yang terbuat dari tulang dan batu sebagai alat – alat kerja.
Penggunaan api nampaknya sudah biasa. Para ahli berpendapat bahwa
mahkluk ini suka membunuh sesamanya. Hal ini terbukti dari tulang –
tulang tengkorak kosong yang menunjukkkan bekas dibelah dengan
senjata dari bawah ke atas. Banyak ahli juga berpendapat bahwa
Sinanthropus pekinensis merupakan varian dari Pithecantropus, karena
kedua manusia purba mempunyai struktur tubuh yang sama dan hidup
pada zaman yang sama, yakni kira – kira 500.000 tahun yang lalu.
 Meganthropus Palaeojavanicus (Manusia Raksasa Jawa). Meganthropus
palaeojavanicus ditemukan di Sangiran di pulau jawa oleh Von
Koningswald pada tahun 1939 – 1941.
 Manusia Heidelberg.. Manusia heidelberg ditemukan di Jerman.
 Tahap kesebelas, munculnya makhluk yang dinamakan Homo sapiens
purba, yakni makhluk yang hidup sekitar 400.000 tahun yang lalu.
Makhluk ini sebagai hasil penemuan fosil dari tiga tengkorak yang tidak
lengkap, yakni kepingan tengkorak, tulang, dan beberapa gigi. Dari fosil
yang ada ditafsirkan bahwa manusia purba ini merupakan tipe peralihan
antara Homo erectus ke Homo sapiens yang lebih modern. Kemampuan
membuat alat sudah jauh lebih maju, bahkan ada yang menduga bahwa
mereka sudah mulai bercocok tanam.
 Tahap keduabelas,adalah munculnya Homo sapiens neanderthalesis
(Manusia Lembah Neander (Neanderthal)) , yakni makhluk yang diduga
hidup pada masa antara 75.000 – 10.000 tahun yang lalu. Fosil makhluk
ini ditemukan tahun 1856 di Lembah Neanderthal, Jerman. Bentuk
tubuhnya sepenuhnya manusia, hidungnya terlihat mancung. Ukuran
volume otaknya relative sudah termasuk dalam kisaran ukuran rongga
antara 1.,6 – 1,8 meter, berbahu lebar, berdada cembung, dan berotot
padat. Manusia Lembah Neander sudah memiliki kemampuan membuat
dam memakai pakaian dari kulit dan hidup menetap secara sederhana di
gua – gua. Para ahli pada umumnya sependapat bahwa manusia Lembah
Neander adalah leluhur manusia modern, walaupun sekelompok ahli
masih meragukan.
 Tahap ketiga belas,yakni munculnya manusia Cro-Magnon. Makhluk ini
merupakan Hominidae (manusia) purba termodern. Diduga hidup 10.000
– ribuan tahun yang lalu. Mereka memiliki kebudayaan yang cukup maju,
bercocok tanam secara baik, memelihara binatang, menguasai lingkungan,
bahkan kemudian membangun kota serta mengembangkan peradapan. Ciri
– cirinya adalah memiliki dagu yang menonjol, hidung mancung, gigi
kecil dan merata, serta raut wajah yang tampan. Sesungguhnya makhluk
ini mirip dengan orang-orang Eropa sekarang. Cro-magnon diambilkan
dari nama gua di Prancis, tempat fosil – fosil makhluk ini ditemukan.
Manusia Cro-Magnon memiliki ciri tinggi, tegak, dan mempunyai otak
yang sama besarnya dengan otak manusia sekarang. Ia pandai sekali
membuat alat – alat dan juga ahli seni. Selain batu, mereka menggunakan
tulang, gading, dan tanduk kijang untuk membuat alat-alat. Beberapa dari
bahan ini diukur dengan corak-corak atau dipahatkan menjadi bentuk –
bentuk benda yang dapat dikenal.
 Tahap keempat belas, yakni munculnya Homo sapiens-sapiens (manusia
modern). Tidak pasti benar kapan munculnya manusia modern, namun
para peneliti ada yang beranggapan bahwa manusia modern muncul sejak
sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.
BAB 3.
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang
“cukup lengkap” dimana teori evolusi yang hanya didasarkan atas adanya
fosil tidak pernah dapat menerangkan dengan lengkap apa yang terjadi di
masa lampau,oleh karena itu untuk mempelajari evolusi suatu organisme,
biasanya para ahli menggunakan data organisme yang masih hidup
hingga kini.
 Perkembangan primata primitif emnjadi primata maju nampak dari
bebrapa anggota maupun organ tubuh yang menjadi semakin kompleks
yaitu diantaranya bagian sambungan antar tulang punggung (vertebrae),
tulang yang berada di sekeliling bola mata, kuku, bagian ekstremitas dan
juga volume otak yang mengalami peningkatan.
 Data-data yang ditemukan tentang evolusi primata adalah data fosil yang
berupa bagian tubuh, seperti kerang, tulang, gigi dan lain sebagainya
serta data molekuler yang salah satunya berupa DNA mitokondria wanita
tertua yang pernah diteliti.
 Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan
mamalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada
zaman Palaeosin, dari Prosimian tersebut perkembangan radiasi evolusi
menuju beberapa golongan besar yang masih tetap hidup sekarang ini
(gibbon, orangutan, simpanse, dan gorila).
 Evolusi dari makhluk - makhluk pra homo sapiens dapat digolongkan
menjadi dua bagian besar yaitu berdasarkan kedekatan kekebaratannya
dengan manusia, dan berdasarkan penemuan fosilnya.
 Fakta atau bukti yang diperoleh untuk mempelajari sejarah manusia
dengan bantuan fosil-fosil yang ditemukan pada lapisan bumi.
3.2 Saran
Diperlukan lebih banyak lagi referensi mengenai evolusi primata dalam
bahasa yang sesuai dengan bahasa asli penulis karena materi ini merupakan
materi yang cukup susah dipahami. Hal tersebutbertujuan untuk mendapatkan
makalah yang dapat dipahami oleh pembaca. Dan juga diperlukan adanya
tutor atau pendamping dan juga bimbingan pada saat pengerjaan makalah
agar inti materi yang ingin disampaikan dapat tertuang dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Bloch, J. I. 2016. Cranial Anatomy of Paleogene Micromomydae and Implications


for Early Primate Evolution. Journal of Human Evolution. 96: 58-81.

Darwin, Charles.1958.On the Origin of Species, New York and Scarborough.


Ontario: Mentor Book.

Ridley, Mark. 2004. Evolution 3rd Edition. Oxford: Blackwell Publishing.


LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai