Anda di halaman 1dari 18

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN VARICELLA ( CACAR AIR )

DISUSUN OLEH :

1. Gracia Lucas Victory ( 1811009 )


2. Silvy Sinta Saphira ( 1811018 )

PRODI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, yang atas Rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Asuhan Keperawatan yang berjudul
Varicella ( Cacar Air ). Penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini merupakan salah satu
tugas yang diberikan dalam Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3.

Dalam penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini kami merasa masih banyak
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini penulis menyampaikan ucapan


terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Blitar, 20 msret 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II TINJUAN PUSTAKA 3
A. Pengertian 3
B. Etilogi 3
C. Klasifikasi 4
D. Patofisiologi 4
E. Komplikasi 5
F. Manifestasi Klinis 6
G. Penatalaksanaan 7
H. Patway 8
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN .……………………….. 9
A. Pengkajian 9
B. Pemeriksaan fisik 9
C. Pemeriksaan penunjang 10
D. Diagnosa Keperawatan 10
E. Intervensi 11
BAB IV PENUTUP 14
A. Kesimpulan 14
B. Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan
istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama Chicken – pox.
Varisela adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh Virus Varicella
Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit.Varisela atau cacar air merupakan penyakit
yang sangat menular yang disebabkan oleh Virus Varicella Zoster dengan gejala gejala
demam dan timbul bintik bintik merah yang kemudian mengandung cairan. Varisela adalah
penyakit infeksi virus akut dan cepat menular, yang disertai gejala konstitusi dengan kelainan
kulit yang polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. (Prof. Dr. Maswali harahap,
2000)
Varisela adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus varisela-zoster
(VVZ) terdapat di seluruh dunia, tanpa perbedaan pada ras dan jenis kelamin. Penyakit ini
terutama mengenai anak-anak dan merupakan infeksi primer VVZ pada individu yang rentan.
kurang lebih 90% kasus terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun dankurang dari 5%
pada usia lebih dari 15 tahun. Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer menular
yang disebabkan oleh varicella zoster Virus (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa,
dengan ditandai oleh adanya vesikel-vesikel (Rampengan, 1993).
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak dinegara-egara bermusin empat, 90 %
kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak , pada umumnya penyakit ini
tidak begitu berat. Namun di negara-negara tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja
dan orang dewasa yang terserang Varisela. lima puluh persen kasus varisela terjadi diatas usia
15 tahun. Dengan demikian semakin bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala
varisela semakin bertambah berat. meskipun morbiditas meningkat pada orang dewasa dan
pada pasien dengan immunocompromised.
Data lain menyebutkan bahwa morbiditas penyakit ini 4000 kasus di rumah sakit
dalam satu tahun, dan mortalitasnya 50-100 kematian dalam satu tahun, dengan perkiraan
biaya perawatan mencapai 400 juta dollar sehingga pada tahun 1995 diadopsilah vaksinasi
untuk penyakit ini.

1
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian vericella?
2. Bagaimanakah etiologi vericella?
3. Bagaimanakah manifestasi klinik vericella?
4. Bagaimanakah patogenesis pada vericella?
5. Apa saja pemeriksaan penun"ang pada vericella?
6. Apa saja komplikasi yang ter"adi pada vericella?
7. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien vericella?

C. TUJUAN
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang penatalaksanaan
asuhan keperawatan pada klien dengan vericella.

2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mengetahui tentang penyakit Varicella.
b. Mahasiswa terhindar dari bahayanya Penyakit Varicella.
c. Mahasiswa dapat meningkatkah asuhan keperawatan Varicella.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGETIAN
Varisela adalah penyakita akut menular yang disebabkan oleh virus (Depkes,
1993). Varisela merupakan penyakit menular ditandai oleh vesikel dikulit dan selaput
yang disebabkan oleh virus varisela (Ngastaiah, 1995). Varisela adalah penyakit akut
menular yang disebabkan oleh virus. (Depkes, 1993)
Varisela sering disebut chicken pox adalah penyakit akut dan menular ditandai
dengan vesikel (benjolan berisi cairan) pada kulit maupun selaput lendir, penyakit ini
menyerang secara tiba-tiba dengan gejala demam dan gejala bintik-bintik pada kulit yang
bersifat maculo-papulo selama beberapa jam, vesikel selama 3-4 hari (gelembung berair)
dan kemudian meninggalkan selaput keras dan kering (granula scab). (FKUI, 1995)
Varisela adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela-zoster (V-Z virus)
yang sangat menular bersifat akut yang umumnya menganai anak, yang ditandai oleh
demam yang mendadak, malaise, dan erupsi kulit berupa makulopapular untuk beberapa
jam yang kemudian berubah menjadi vesikel selama 3-4 hari dan dapat meninggalkan
keropeng. (Thomson, 1986, p. 1483 ).
Varisela yang mempunyai sinonim cacar air atau chickenpox adalah infeksi akut
primer oleh virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa yang secara klinis
terdapat ge jala konstitusi, kelainan kulit polimorfi terutama dibagian sentral tubuh.
(Djuanda, 1993).

B. ETIOLOGI
Menurut Richar E, varisela disebabkan oleh herpes virus varicella atau disebut juga
virus varicella-zoster (virus V-Z). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster.
kedua penyakit ini mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah
ada kontak dengan virus V-Z akan terjadi varisela? kemudian setelah penderita varisela
tersebut sembuh, mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi
klinis) dan kemudian virus V-Z diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster.
Virus V-Z dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita perisela dapat
dilihat dengan mikroskop electron dan dapat diisolasi dengan menggunakan biakan yang
terdiri dari fibroblas paru embrio manusia.

3
C. Klasifikasi
Menurut Siti Aisyah (2003). klasifikasi Varisela dibagi menjadi 2 :
a. Varisela congenital
Varisela congenital adalah sindrom yang terdiri atas parut sikatrisial, atrofi
ekstremitas, serta kelainan mata dan susunan syaraf pusat. sering terjadi ensefalitis sehingga
menyebabkan kerusakan neuropatiki. risiko terjadinya varisela congenital sangat rendah
(2,2%), walaupun pada kehamilan trimester pertama ibu menderita varisela. Varisela pada
kehamilan paruh kedua jarang sekali menyebabkan kematian bayi pada saat lahir. sulit untuk
mendiagnosis infeksi varisela intrauterin. Tidak diketahui apakah pengobatan dengan anti
virus pada ibu dapat mencegah kelainan fetus.
b. Varisela neonatal
Varisela neonatal terjadi bila terjadi varisela maternal antara 5 hari sebelum sampai hari
sesudah kelahiran. kurang lebih 20% bayi yang terpajan akan menderita varisela neonatal.
sebelum penggunaan varicella-zoster immune globulin (VZIG), kematian varisela neonatal
sekitar 30%. Namun neonatus dengan lesi pada saat lahir atau dalam 5 hari pertama sejak
lahir jarang menderita varisela berat karena mendapat antibody dari ibunya. Neonatus dapat
pula tertular dari anggota keluarga lainnya selain ibunya. Neonatus yang lahir dalam masa
risiko tinggi harus diberikan profilaksis VZIG pada saat lahir atau saat awitan infeksi
maternal bila timbul dalam 2 hari setelah lahir. Varisela neonatal biasanya timbul dalam 5-10
hari walaupun telah diberikan VZIG. Bila terjadi varisela progresif (ensefalitis, pneumonia,
varisela,hepatitis, diatesis pendarahan) harus diobati dengan asiklovir intravena. Bayi yang
terpajan dengan varisela maternal dalam 2 bulan sejak lahir harus diawasi. Tidak ada indikasi
klinis untuk memberikan Anti virus pada varisela neonatal atau asiklovir profilaksis bila
terpajan varisela maternal.

D. Patofisiologi
Patofisiologi menurut Siti Aisyah (2003), Virus varisela-zoster masuk ke dalam tubuh
manusia melalui mukosa saluran nafas atau orofaring. Multiplikasi virus ditempat tersebut
diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui darah dan limfe (viremia primer).
Virus dimusnahkan oleh sel sistem retikuloendotelial, yang merupakan tempat utama
replikasi virus selama masa inkubasi. Selama masa inkubasi virus dihambat sebagian oleh
mekanisme pertahanan tubuh yang terinfeksi, replikasi virus dapat mengalahkan pertahanan
tubuh yang belum berkembang, sehingga 2 minggu

4
setelah infeksi terjadi viremia sekunder dalam "umlah yang lebih banyak. Viremia tersebut
menyebabkan demam dan malese anorexia serta menyebarkan virus ke seluruh tubuh,
terutama ke kulit dan mukosa.
Respons imun pasien yang kemudian berkembang akan menghentikan viremia dan
menghambat berlanjutnya lesi pada kulit dan organ lain. Terjadinya komplikasi varisela
(pneumonia dan lain-lain) mencerminkan gagalnya respons imun tersebut menghentikan
replikasi serta penyebaran virus dan berlanjutnya infeksi. Keadaan ini terutama terjadi pada
pasien imunokompromais.
Dalam 2-5 hari setelah gejala klinis varisela terlihat, antibody (IgA, IgM, IgD)
spesifik terhadap VVZ dapat dideteksi dan mencapai titer tertinggi pada minggu kedua atau
ketiga. Setelah itu titer IgA menurun perlahan, sedangkan IgM dan Ig5 menurun lebih cepat
dan tidak terdeteksi satu tahun setelah infeksi. Imunitas selular terhadap VVZ juga
berkembang selama infeksi dan menetap selama bertahun-tahun.
Pada pasien imunokompeten imunitas humoral terhadap VVZ berfungsi protektif
terhadap varisela, sehingga pajanan ulang tidak menyebabkan infeksi (kekebalan seumur
hidup). Imunitas selular lebih penting daripada imunitas humoral untuk penyembuhan
varisela. Pada pasien imunokompromais, oleh karena imunitas humoral dan selularnya
terganggu, pajanan ulang dapat menyebabkan rekurensi dan varisela menjadi lebih berat dan
berlangsung lebih lama.

E. Komplikasi
Pneumonia Varisela hanya terdapat 0,18% pada anak, biasanya disebabkan oleh
infeksi sekunder dan anak sembuh sempurna. Pneumonia yang disebabkan oleh Virus V-Z
jarang didapatkan pada anak dengan sistem imunologis normal pada anak dengan defisiensi
imunologis atau orang de%asa tidak jarang ditemukan. Pada keadaan ini kelainan radiologis
paru-paru masih didapatkan selama 6-12 minggu dan angka kematiannya sebesar 20%.
Mungkin juga terjadi komplikasi pada susunan saraf seperti ensefalitis, ataksia, nistagmus,
tremor, mielitis tranversa, kelumpuhan saraf muka, neuromielitis optika atau penyakit Devic
dengan kebutaan sementara, sindrom hipotalamus yang disertai dengan obesitas dan panas
badan berulang-ulang.

5
F. Menifestasi klinis
Menurut Richar E. 1992, gambaran klinik varisela dibagi menjadi 2 stadium :
1. Stadium prodromal : 24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala panas,
perasaan lemah (malaise), anoreksia. Kadang-kadang terdapa kelainan
scarlatinaform atau morbiliform.
2. Stadium erupsi : Dimulai dengan terjadinya papula merah, kecil yang berubah
menjadi vesikel yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar eritematous.
Permukaan vesikel tidak memperlihatkan cekungan di tengah (unumbilicated). Isi
versikel berubah menjadi keruh dalam waktu 24 jam. Biasanya vesikel menjadi
kering sebelum isinya menjadi keruh. Dalam 1-4 hari erupsi tersebar; Mula-mula di
dada lalu ke muka, bahu dan anggota gerak. Erupsi ini disertai perasaan gatal.
Pada suatu saat terdapat macam-macam stadium erupsi, ini merupakan tanda khas
penyakit verisela. Vesikel tidak hanya terdapat di kulit, melainkan juga di selaput lendir
mulut. Bila terdapat infeksi sekunder, maka akan terjadi limfadenopatia umum. Karena
kemungkinan mendapat varisela selama masa kanak-kanak sangat besar, maka varisela jarang
ditemukan pada wanita hamil (0,7 tiap 1.000 kehamilan). Diperkirakan 17% dari anak yang
dilahirkan wanita yang mendapat varisela ketika hamil akan menderita kelainan bawaan
berupa bekas luka di kulit (cutaneous scars), berat badan lahir rendah, hipoplasia tungkai,
kelumpuhan dan atrofi tungkai, kenang, retardasi mental, koriorenitis, atrofi kortikal, katarak
atau kelainan pada mata lainnya. 5ngka kematian tinggi, bila seorang wanita hamil mendapat
varisela dalam 21 hari sebelum ia melahirkan, maka 25% dari neonatus yang dilahirkan akan
memperlihatkan gejala varisela kongenital pada waktu dilahirkan sampai berumur 5 hari.
Biasanya varisela yang timbul berlangsung ringan dan tidak mengakibatkan kematian.

Sedangkan bila seorang wanita hamil mendapat varisela dalam waktu 4-5 hari
sebelum melahirkan, maka neonatusnya akan memperlihatkan gejala varisela kongenital pada
umur 5-10 hari. Di sini perjalanan penyakit varisela sering berat dan menyebabkan kematian
sebesar 25-30%. Mungkin ini ada hubungannya dengan kurun waktu fetus berkontak dengan
varisela dan dialirkannya antibody itu melalui plasenta kepada fetus.
Seorang neonatus jarang mendapat varisela di bangsal perinatologi dari seorang
perawat atau petugas bangsal lainnya, tapi bila ini terjadi maka perjalanan penyakit amat
ringan dan terlihat gejala-gejala seperti pada anak yang besar.

6
G. Penatalaksanaan
Menurut Siti Aisyah (2003) :
A. Pengobatan Umum
Pada pasien imunokompeten varisela biasanya ringan dan dapat sembuh
sendiri. untuk mengatasi gatal dapat diberikan kompres dingin atau lotion kalamin dan
antihistamin oral. Bila lesi masih vesicular dapat diberikan bedak agar tidak mudah
pecah, dapat ditambahkan antipruritus di dalamnya, misalnya mentol 0,25-0,5%. Bila
vesikel sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberikan salap antibiotik
untuk mencegah infeksi sekunder bacterial. Mandi rendam dalam air hangat yang
diberi antiseptik dapat mengurangi gatal dan mencegah infeksi bacterial sekunder
pada kulit. Krim atau lotion kortikosteroid serta salap bersifat oklusif sebaiknya tidak
digunakan. Kadang diperlukan antipiretik/analgetik, tetapi golongan salisilat
sebaiknya dihindari karena sering dihubungkan dengan terjadinya sindrom Reye.
kuku jari tangan harus dipotong dan dijaga kebersihannya untuk mencegah infeksi
sekunder dan parut yang dapat terjadi karena garukan.
B. Obat anti virus
Dengan tersedianya obat anti virus yang efektif terhadap VVZ, dokter
maupun pasien/orang tua pasien sering dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan
obat anti virus atau tidak. Pada anak imunokompeten, varisela biasanya ringan
sehingga umumnya tidak memerlukan pengobatan anti virus. Anti virus efektif bila
diberikan dalam 24 jam setelah awitan lesi kulit karena dapat lebih cepat menurunkan
demam serta gejala kulit dan sistemik.
Pada bayi / anak imunokompromais berat, anti virus intravena merupakan
obat pilihan agar kadar dalam plasma cukup tinggi untuk menghambat replikasi virus.
Anti virus intravena secara bermakna dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas
varisela pada pasien imunokompramais, terutama bila diberikan dalam 72 jam setelah
awitan lesi kulit. Pada pasien imunokompromais ringan dapat diberikan anti virus
oral. Beberapa anti virus terbukti efektif untuk mengobati infeksi VVZ, yaitu
golongan analog nukleosida (asiklovir, famsiklovir, valasiklovir, vidarabin) dan
foskarnet.

7
H. Patway
Infeksi virus varicella zoster Varicella

Reaktifasi

Viremia

Hepato/splenomegaly Demam akut Aktifasi komplemen

Mendesak rongga abdomen Pelepasan toksin


Hipertermi

Mual/Muntal Permeabilitas dinding


kapiler meningkat

Kebocoran plasma dari endotel

Defisit nutrisi Ht meningkat Penumpukan cairan


ekstravaskuler

Imunitas menurun
Edema ekstremitas
dan jaringan ikat rongga,
timbul bula
posterapetik neuralgia
Resiko infeksi

Nyeri Akut Gangguan integritas


kulit/jaringan

8
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Meliputi :nama, umur, nomor register, Jenis kelamin, status, alamat,
tanggal MRS, diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Klien datang dengan keluhan badanya terasa demam seperti akan flu dan
terdapat ruam yang berisi air di sekitar tubuhnya.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat penyakit sekarang klien merasa badanya terasa panas seperti akan
flu dan terdapat ruam merah pada bagian tubuhnya dan tersa nyeri apabila
di pegang.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Klien tidak pernah mengalami penyakit kulit sebelumnya.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya merupakan penyakit menular Maka anggota keluarga mempunyai
resiko beasar tertular dengan kontak lama. Sebelumnya tetengga dari klien
pernah mengalami penyakit cacar air dan klien sering berkunjung ke
tetangganya saat cacarnya sudah mulai kering. :idak ada anggota
keluarganya yang mnegalami keluhan sama seperti dia.

B. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum klien.
Biasanya Pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
b. Sistem syaraf.
Tidak adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik, dan saraf tepi motorik normal .
c. Sistem pernafasan.
Tidak ada gangguan pada sistem pernafasan
d. Sistem muskuloskeletal.
Tidak Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik kelemahan atau kelumpuhan
otot tangan dan kaki.

9
e. Sistem integumen
Terdapat lesi dan ruam pada kulit dan peningkatan suhu tubuh atau demam serta
terdapat perubahan tanda-tanda vital. Pada pengkajian kulit di temukan adanya
Vesikel-vesikel yang nyeri pada saat di pegang. Ketika di palpasi terdapat tonjolan
yang tidak rata dengan permukaan kulit.

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan leukosit biasanya menunjukkan hasil yang normal, rendah, atau
meningkat sedikit. Multinucleated giant cells pada pemeriksaan Tzanck smear dari
lepuhan kulit. Hasil positif pada pemeriksaan kultur jaringan.

D. Diagnosa keperarawan
1. Gangguan intergritas kulit/jaringan
2. Nyeri akut

10
E. Intervensi keperawatan
No SDKI SLKI SIKI
1. Gangguan Integritas Kulit / Jaringan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan integritas kulit :
2x24 jam, Integritas kulit dan jaringan Observasi :
meningkat dengan kriteria hasil :  Identifikasi penyebab gangguan integritas
 Kerusakan jaringan menurun kulit
 Kerusakan lapisan kulit menurun Terapeutik :
 Nyeri menurun  Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring
 Kemerahan menurun  Bersihkan perineal dengan air hangat,
 Jaringan parut menurun terutama selama periode diare

 Nekrosis menurun  Gunakan produk berbahan petroleum atau

 Suhu kulit membaik minyak pada kulit kering

 Tekstur membaik  Gunakan produk berbahan ringan/alami


dan hipoalergi pada kulit sensitive
 Hindari produk berbahan dasar alcohol
pada kulit kering
Edukasi :
 Anjurkan menggunakan pelembab
 Anjurkan minum air yang cukup
 Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
 Anjurkan meningkatan asupan buah dan

11
sayur
 Anjurkan mandi dan menggunakan sabun
2. Nyeri Akut secukupnya

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


Manajemen Nyeri :
2x24 jam, Tingkat nyeri menurun dengan
Observasi :
kriteria hasil :
 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
 Keluhan nyeri menurun
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
 Meringis menurun  Identifikasi skala nyeri
 Sikap protektif menurun  Identifikasi nyeri non verbal
 Gelisah menurun  Identifikasi factor yang memperberat dan
 Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
 Menarik diri menurun  Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas
 Anoreksia menurun hidup
 Nafsu makan membaik  Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
 Pola tidur membaik tentang nyeri
Terapeutik :
 Berikan teknik nonfarmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
 Control lingkungan yang memperberat
rasa nyeri

12
 Fasilitasi istirahat dan tidur
 Petimbangkan jenis dan sumber nyeri
dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi :
 Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu
nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
 Anjurkan menggunakan analgesic secara
tepat
 Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian analgesic, jika perlu

13
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
 Varisela adalah penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus varisella
atau disebut varisella zoster (virus V-Z).
 Gejala klinis yang timbul melalui fase prodormal dan fase erupsi.
 Penularan cacar air melalui percikan udara, sekresi lender, batuk maupun
bersin.
 Cara peneggulangan cacar diatasi dengan obat sedangkan virusnya dilawan
dengan meningkatkan daya tahan tubuh

B. Saran
Peran keluarga dalam perawatan anak memiliki andil yang cukup luas Ajarkan
orang tua cara merawat anaknya agar tidak terjadi infeksi dan jelaskan tentang daya
tahan tubuh. Jelaskan komplikasi yang mungkin bisa muncul setelah terkene cacar
air.

14
DAFTAR PUSTAKA

Adhi Djuanda (1993). Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Edisi Kedua, FK
Universitas Indonesia, Jakarta, 1993.

Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran,


ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

June M. Thomson, et. al. (1986). Clinical Nursing Practice, The C.V. Mosby
Company, Toronto. Ngastiah. 1995. Perawatn Anak Sakit. EGC : Jakarta

PPNI (2018). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Defiinisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

15