Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

DINAMIKA ISLAM KONTENPORER

Disusun Oleh:

RESKI AMALIAH

SULTANI

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


PRODI HUKUM EKONOMI SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM AS'ADIYAH SENGKANG
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT , karna

berkah-Nya sehingga kami dapat menyeleaikan makalah ini guna untuk

memenuh tugas Mata Kuliah Penulis mengucapkan syukron kepada dosen

pengampu pada mata kuliah dan semua pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh

dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di

dalamnya. Oleh karna itu, kami mengharapkan segala bentuk saran dan

masukan serta kritik yanng membangun demi kesempurnaan makalah

berikutnya.

Sengkang , 25 Desember 2022

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... ii

Daftar Isi............................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................... 1

B. Ruang Lingkup.......................................................................................... 3

C. Tujuan........................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Post Modernisme dan Neodernisme.......................................................... 4

B. Islam Liberal.............................................................................................. 6

C. Islam Kultural dan Struktural.................................................................... 7

D. Postradisionalisme Islam........................................................................... 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan................................................................................................18

B. Saran..........................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................20

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hukum islam dan dinamika masyarakat sering dipersepsikan sebagai

dua hal yang sangat berbeda dan bahkan dikatakan saling betentangan. Dalam

satu sudut pandanghukum islam merupakan suatu hokum yang tidak akan

mungkin mengalami perubahan, karena berdasarkan wahyu Allah yang

bersifat qadim. Setiap qadim bersifat statis tidak berubah. Hukum selain

berfungsi sebagai pengatur kehidupan masyarakat atau social control, juga

berfungsi sebagai pembentuk masyarakat atau social Enginering, kedua

fungsi itu juga terdapat pada hokum islan. Diharapkan kedua fungsi ini dapat

mengatur kehidupan masyarakat sejalansejalan dengan perkembangan zaman

kontemporer ini.1

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika pergumulan hokum islam

dengan dinamika masyarakat kontemporer selalu menimbulkan pertanyaan

ulang terhadap produk-produk pemikiran ulama terdahulu, terutama jika

dikaitkan dengan spectrum masalah dewasa ini yang semakin kompleks dan

luas.

a)      Hukum Islam

Secara etimologis, kata hokum berakar pada kata atau hruf arab, yang berarti

menolak. Adapun secara terminologis, ulama usul mendefinisikan hokum dengan

titisan Allah yang berkenaan dengan perbuatan orang-orang mukallaf, baik berupa

tuntutan, pilihan, maupun larangan, sedangkan ulama fikih mengartikan dengan efek

1
Barton, Greg, “Indonesia’s Nurcholish Madjid and Abdurrrahman Wahid as Intelectual
Ulama: The Meeting of Islamic Traditionalism and Modernism in Neo-Modernist Thought”,
dalam Islam and Christian Muslim, CSIC, Birmington, Vol. 8, No. 3, 1999.

1
yang dikehendaki oleh titah Allah dari perbuatan manusia, seperti wajib, sunnah, dan

haram. Bertolak dengan pendapat Amir Syarifuddin dan T.M. Hasbi Ash Shiddieqy

itu, maka dapat dikemukakan bahwa hokum islam pada hakekatnya mempunyai

muatan hokum syara dan hokum fiqh, karena bersumber dari syariat, tetapi ia juga

merupakan hasil ijtihad manusia.

Dengan kata lain, bahwa syariat islam yang diterjemahkan sebagai hokum

islam adalah didasarkan pada pengertian syariat dalam arti sempit, sebab makna yang

terkandung dalam syariat (secara luas) mencakup aspek akhlak dan hukum.

Sedangkan jika hokum islam dimaksudkan terjemahan dari fikih islam, maka hokum

islam dimaksudkan adalah hasil ijtihad yang  ijtihad yang nilai kebenarannya bersifat

zany,tidak termasuk didalamnya nilai hokum islam dalam pengertiannya yang

bersifat qat’iy. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hokum islam pada

dasarnya mencakup hokum syara dan hukum fiqih karena ia bersumber dari

wahyu(Al-qur’an dan Sunnah), serta merupakan hasil kreaktifitas akal manusia

terhadap wahyu itu. Sehingga hukum islam memiliki dimensi ilahiyah yang

transenden, dan dimensi insaniyah yang profane. 2

b) Dinamika Masyarakat periode kontemporer

Pada dua tahap yang disebutkan pertama, agama masih dianggap mempunyai

pengaruh dominan dalam struktur masyarakat sehingga jika terjadi peristiwa apa saja,

semuanya dikembalikan dan direkonsiliasikan kepada agama. Dalam tahapan

demikian pola pemikiran masyarakat masih sangat sederhanaAgama kemudian

dianggap kehilangan peran sosialnya dalam masyarakat, setelah masyarakat

mengalami kemajuan dibidang pemikiran sebagai buah dari paham rasionalisme,

yang ditandai dengan kemjuan dibidang keilmuan dan teknologi. Dilihat dari

2
Effendi, Bahtiar, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam
Indonesia. Jakarta: Paramadina, 1998.

2
perspektif filsafat sejarah kontemplatif, konsep Effat al shaqawi dalam kitab Falsafah

al Hadharah al islamiyah, proeses perkembangan masyarakat seperti yang digambar

comte merupakan proses gerak maju ke depan.

Secara sederhana globalisasi diartikan sebagai salah satu titik perhatian,

meskipun ia terdiri dari beberapa Negara yang terpisah dan dihuni oleh beberapa

kelompok  manusia yang berbeda bangsa, bahasa dan agama.Penagruh ini bisa dalam

bentuk positif (manfaat) dengan menguntungkan kehidupan manusia dan ada pula

dalam bentuk negative dengan arti merugikan. Demikianlah hukum islam

meyesuaikan dirinya dengan berbagai macam keadaan. Hokum islam karena daya

lentur yang terdapat padanya, mampu mengakomodasi perubahan zaman dan

dinamika masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Post Modernisme dan Neodernisme?

2. Bagaimana Islam Liberal?

3. Bagaimana Islam Kultural dan Struktural?

4. Bagaimana Postradisionalisme Islam?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengertahui Bagaimana Post Modernisme dan Neodernisme?

2. Untuk menegtahui Bagaimana Islam Liberal?

3. Untuk menegtahui Bagaimana Islam Kultural dan Struktural?

4. Untuk mengetahui Bagaimana Postradisionalisme Islam?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A.    Post Modernisme dan Neodernisme

Postmodernisme secara umum dikenal sebagai antitesis dari

modernisme. Yang muncul pada tahun 1917 ketika seorang filsuf Jerman, Rudolf

Pannwitz menggunakan istilah itu untuk menangkap adanya gejala nihilisme

kebudayaan Barat modern. Federico de Onis sekitar tahun 1930-an menggunakan

dalam sebuah karyanya untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari modernisme.

Istilah ‘’pos’’ menurut kubu Postmodermisme, adalah kematian modernisme yang

mengusung klaim kesatuan representasi, humainisme, antroposentrisme, dan

linirietas sejarah guna memberi  jalan bagi pluralisme representasi, anthihumanisme,

dan diskontuinitas.

Pada awalnya gerakan modernisme lahir dari gerakan ‘’rasionalisai’’ dan

kebebasan ijtihad agama. Gerakan ini kemudian menginspirasi berdirinya

Muhammadiyah di Indonesia, dan gerakan modernisme lahir di Indonesia sabagai

respon modernitas barat. Sedangkan, Gerakan Neomodernisme berkembang pada

akhir 19 dan awal 1970-an, terutama di kalangan mahasiswa yang berlatar belakang

tradisional. Komunitas mahasiswa ini merupakan generasi pertama dari muslim

tradisional yang memiliki akses pada pendidikan tinggi dengan takaran yang

signifikan berkat ekspansi pendidikan yang berlangsung pasca kolonial di Indonesia.

Untuk memperluas wawasan keilmuannya, di antara mereka terlibat di puncak

organisasi mahasiswa yang berorientasi modern (HMI).3

3
Hamzah, Imran dan Anam, Chairul (ed), Abdurrahman Wahid Diadili Kiai-Kiai. Surabaya:
PT Jawa Pos, 1989.

4
Awalnya, gerakan yang mereka lancarkan merujuk pada gerakan pembaruan

pemikiran Islam. Namun, gerakan itu akhirnya lebih dikenal sebagai neomodernisme,

dengan mengikuti paradigma gerakan pembaruan modern Fazlur Rahman.

Gerakan Neomodernisme memperoleh ketenaran secara mengesankan setelah

keluarnya statemen Nurcholish Madjid dalam seminar tunggal pada bulan Januari

l970 yang intinya menengarai tanda-tanda hampir matinya pemikiran kaum pembaru,

sehingga perlu dilakukan pembaruan pemikiran. Nurcholish Madjid pada waktu itu

menggunakan terma desakralisasi dan sekularisasi dalam papernya sehingga dengan

mudah menyulut kritik bernada kemarahan dari berbagai pihak. Kritik itu terurama

datang dari tokoh-tokoh modernis senior yang terusik oleh kritikan Nurcholish

Madjid yang mengatakan bahwa gerakan intelektual para senior telah mandek dan

perlu direformasi.4

Para modernis senior ini menuduh pemikiran Nurcholish Madjid sebagai

bid’ah.  Berbagai kritikan ini justru membuat popularitas pemikiran Nurcholish

Madjid semakin meningkat. Bisa dikatakan, munculnya gerakan pembaruan yang

berporos pada Nurcholish Madjid telah menandai permulaan fase penyebaran ide

pembaruan dalam komunitas umat Islam, juga penyebaran ide-ide pembaruan dan

kecenderungan pemahaman liberal dalam Islam. Gagasan ini dalam

perkembangannya diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia dan mampu

mengubah sikap-sikap sosial yang cukup mendasar.

Penyebaran gerakan neomodernisme Islam di Indonesia semakin meluas antara lain

berkat bergabungnya para intelektual muslim lain seperti Djohan Effendi, Ahmad

Wahib, Dawam Rahardjo, Syu’bah Asa, dan Utomo Dananjaya. Abdurrahman Wahid

sekembalinya dari studi di Timur Tengah secara cepat beraliansi dengan gerakan itu.

4
Horikoshi, Hiroko, Kiai dan Perubahan Sosial. Jakarta: P3M, 1987.

5
Sebagai konsekuensinya, beberapa perhimpunan pemuda di bawah NU dan

kebanyakan ulama yang sering bertukar ide dengan Abdurrahman Wahid secara kuat

dipengaruhi oleh pemikiran neomodernis.

Fakror-faktor pembentukan neomodenisme yang pokok adalah hilangnya

perasaan inferiority complex di kalangan umat Islam, khususnya bagi Nurcholish

Madjid dan Abdurrahman Wahid terhadap Barat. Sebagai generasi yang tidak

mengalami perang kemerdekaan dan tidak mengalami diskriminasi dari kalangan

elite Eropa semasa kolonialisme, membuat mereka memiliki kepercayaan diri. 5

B. Islam Liberal

Ungkapan "Islam Liberal" mungkin terdengar kontradiksi dalam peristilahan

(contradiction in terms). Selama berabad-abad, Barat mengidentifikasikan Islam

dengan unsur-unsurnya yang eksotik. Kepercayaan Islam disamakan dengan

fanatisme, sebagaimana diungkapkan Voltaire dalam tulisannya, "Mahomet, or

Fanatism". Islam juga disamakan dengan kezaliman, seperti diungkapkan

Mountesqieu sebagai "Kezaliman Timur", atau definisi yang diberikan Francis Bacon

"Sebuah kerajaan yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai sopan-santun

(keadaban), sebuah tirani absolut dan murni; sebagaimana terjadi di Turki."

latar belakang pemikiran liberal Islam mempunyai akar yang jauh sampai di

masa keemasan Islam (the golden age of Islam). Teologi rasional Islam yang

dikembangkan oleh Mu'tazilah dan para filsuf, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina,

Ibn Rusyd dan sebagainya, selalu dianggap telah mampu menjadi perintis

perkembangan kebudayaan modern dewasa ini. Sebut saja sosok seperti Ibn Sina dan

Ibn-Rusyd, yang dikenal bukan saja sebagai filsuf besar, tetapi juga dokter yang

meninggalkan warisan khazanah keilmuan yang luar biasa, yakni al-Qanun fi al-

5
Narwoko, J. Dwi – Suyanto, Bagong (ed.), Sosiologi Teks Pengantar dan
Terapan. Jakarta: Prenada Media Group, 2006.

6
Thibb (The Canon) dan al-Kulliyat, yang masih dipelajari di Eropa sebagai

ensiklopedi sampai abad ke-17.

Pemikiran liberal Islam yang memberi bobot besar terhadap penafsiran baru

ajaran Islam dewasa ini, sebenarnya memang mempunyai genealogi pemikiran jauh

ke belakang, hingga Ibn Taymiyah (1963-1328) yang menghadapi problem adanya

dua sistem pemerintahan, yaitu kekhalifahan yang ideal--yang pada masanya sudah

tidak ada lagi--dan pemerintahan "sekular" yang diperintah oleh sultan Mamluk, di

mana Ibn Taimiyah juga menjadi pegawainya. Dia juga berhadapan dengan adanya

dua sistem hukum, yaitu syari'ah (hukum agama), dan hukum yang diterapkan

pemerintahan Mamluk (political expediency, natural equity).

C.    Islam Kultural dan Struktural

Islam kultural dalam pandangan umum adalah Islam yang mewujudkan

dirinya secara substantif dalam lembaga-lembaga kebudayaan dan peradaban Islam

lainnya; pendeknya, Islam minus politik. Dalam pemahaman umum, Islam kultural

adalah Islam dakwah, Islam pendidikan, Islam seni, dan seterusnya. Sebaliknya,

Islam politik adalah Islam yang muncul atau ditampilkan sebagai kerangka atau basis

ideologi politik, yang kemudian menjelma dalam bentuk partai politik (cf. Gulalp

1999). Lebih tegas lagi Islam politik adalah Islam yang berusaha diwujudkan dan

diaktualisasikan dalam kekuasaan atau kelembagaan politik resmi, khususnya pada

bidang eksekutif dan legislatif. Memakai kerangka sejarawan MGS Hodgson, Islam

politik adalah Islamdom, Islam yang mengejawantah dalam kekuasaan politik

(political power)6

Islam Kultural sebut Nurcholish Madjid, adalah ide yang menempatkan

agama sehingga berperan utama sebagai sumber nilai dan pedoman perilaku etika

6
Sodik, Mochammad, Gejolak Santri Kota Aktivis Muda NU Merambah Jalan Lain.
Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

7
dan budaya dalam kehidupan berbangsa, sehingga Islam bisa diterima oleh siapapun

baik internal maupun eksternal.

Gagasan Islam Kultural awalnya adalah untuk menjawab kebuntuan akses

politik umat Islam Indonesia yang ditutup oleh rezim tiran Orde Baru. Bagi Orde

Baru, Islam politik adalah ancaman bagi stabilitas politik yang telah dibangun

sebelumnya, oleh kerana itu, cara yang paling efektif dengan melakukan tekanan-

tekanan politik, seperti melarang rehabilitasi Partai Masyumi (Lukmanl Hakiem,

1993). Melihat kondisi tersebut, generasi muda pasca M. Natsir, mencoba untuk

merumuskan kembali relasi negara dan Islam dengan suasana lebih dialogis.

Sehingga dirumuskan lah Islam kultural, sebagai anti tesis Islam struktural atau Islam

politik.

Sedangkan, yang dimaksud dengan Islam structural, adalah penyelengaraan

Negara yang berorientasi pada syariat islam. Islam structural itu semata-mata berburu

pada kekuasaan, apalagi dengan menghalalkan segala macam cara, melainkan

menjadi Negara sebagai lapangan perjuangan dan pengabdian untuk menegakkan

yang benar dan mencegah yang mungkar.

D.    Postradisionalisme Islam

Sejak tahun 1950, tampak bahwa Islam tradisional dan pemimpin-pemimpin

tradisional telah siap menghadapi tekanan dari elemen-elemen modern. Pada periode

ini aktivitas partai politik telah berjalan sealur dengan garis-garis Barat modern.

Beberapa ulama jebolan pesantren telah menempuh berbagai pendidikan modern.

Para pemimpin Islam tradisional sampai tahun 1950 telah berhimpun dengan

organisasi kelompok muslim modern yang bernama Masyumi. Mereka sebelumnya

telah berpengalaman dalam menjalin satu kekuatan dan bergandengan tangan dalam

wadah Persatuan Islam ketika menghadapi pendudukan Jepang dan sama-sama

berjuang demi kemerdekaan. Persatuan politik mereka dalam Masyumi pecah pada

8
tahun 1952 dengan keluarnya NU dan memunculkan NU sebagai partai politik

independen.

Sejak saat itu, muncul babak baru dalam peta pemikiran keagamaan yang

tegas-tegas memolarisasi pemikiran keagamaan di Indonesia dalam dua kutub, yaitu

tradisionalisme dan modernisme. Meskipun demikian, perlu dikemukakan bahwa

pernah muncul dari kalangan tradisionalisme seorang tokoh bernama Kiai Wahid

Hasyim, yang sebelum meninggal dalam kecelakaan mobil 1953 mampu membangun

komunikasi antara modemisme dan tradisionalisme.

Salah satu bidang garapan pokok dari kelompok modernisme di Indonesia

adalah memperluas semaksimal mungkin kegiatan pendidikan bagi rakyat. Salah satu

organisasi dari kalangan modernis seperti Muhammadiyah mempunyai kebanggaan

sejarah atas pembangunan sekolah-sekolah dan perluasan kesempatan pendidikan

ketika berbagai kesulitan menimpa bangsa. Sampai tahun 1970-an, beberapa

intelektual modernis di Indonesia telah memperoleh pendidikan Islam klasik tentang

Bahasa Arab, Al-Quran, dan hukum-hukum klasik dari pakar. Di antara mereka ada

sejumlah nama yang sudah akrab dengan pandangan modern dan berbagai pemikiran

ilmiah seperti Muhammad Natsir, Deliar Noer, Mukti Ali dan Harun Nasution.

Babak baru menandai perkembangan pemikiran keislaman di Indonesia

ketika para alumni pesantren dari lingkungan pesantren (tradisional) pada tahun

1960-an mulai memasuki dunia pendidikan modern di Barat. Nurcholish Madjid dan

Abdurrahman Wahid adalah generasi pertama yang berada dalam tepian dua tradisi

keilmuan ini. Lingkungan keilmuan Islam klasik dan Modern (Barat) secara bersama-

sama membawa pengaruh kuat bagi keduanya.

Dalam konteks pembaruan ini, sumbangan sistem IAIN dalam mereformasi

Islam benar-benar penting. Pembentukan IAIN, yang diawali dengan IAIN Syarif

Hidayatullah di Ciputat Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1960, secara

9
tidak langsung memberi kesempatan pertama bagi mayoritas keluaran pesantren

untuk menempuh studi di jenjang perguruan tinggi. Sejak tahun 1960-an IAIN tetap

mempertahankan ketertutupannya dengan model al-Azhar. Secara pelan-pelan,

proses perubahan nampak dengan transformasi IAIN menjadi lembaga yang

mengombinasikan kajian Islam tradisional dengan pendekatan-pendekatan kajian

modern. Dengan masuknya Harun Nasution di IAIN Syarif Hidayatullah dan Mukti

Ali di IAIN Sunan Kalijaga pada akhir tahun I960-an, membawa pengaruh progresif

di kalangan mahasiswa dengan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis termasuk

terhadap dasar-dasar keimanan serta menggunakan pendekatan kritis dalam kajian

keislaman.7

Sebagai generasi tua, merekalah yang membukakan jalan bagi generasi muda

pemikir-pemikir Islam untuk tampil ke depan. Abdurrrahman Wahid dan Nurcholish

Madjid sebagai representasi utama dari generasi muda itu. Nurcholish Madjid yang

lahir pada tahun 1939 dan Abdurrahman Wahid yang lahir pada tahun 1940 adalah

orang-orang yang tengah memasuki usia remaja saat Soeharto muncul sebagai

penguasa.

1. Postradisionalisme Islam di Kalangan Muda NU

Beberapa dekade terakhir ini muncul fenomena baru di kalangan Nahdlatul

Ulama yaitu tentang pembaruan wacana, yang sebelumnya hampir tidak pernah

terjadi dalam organisasi ini. Pembaruan tersebut mencakup beberapa aspek,

diantaranya adalah tentang gagasan dan pemikiran, keagamaan, kemasyarakatan,

kebangsaan, kenegaraan dan global. Kebanyakan gerakan pembaruan ini dimotori

oleh anak-anak muda Nahdlatul Ulama yang kemudian seringkali disebut sebagai

kalangan muda Nahdlatul Ulama (Sholeh, 2004). Mereka menganggap bahwa

7
Zubaedi, Islam dan Benturan Antarperadaban, Dialog Filsafat Barat dengan Islam, Dialog
Peradaban, dan Dialog Agama. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

10
wacana yang ada pada Nahdlatul Ulama yang cenderung tradisional dianggap sudah

tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Kemudian kalangan muda ini

menawarkan gagasan-gagasan baru yang seringkali disebut dengan post-

tradisionalisme.

Kalangan muda NU beberapa tahun terakhir mempunyai kesadaran kritis

akan eksistensi NU terhadap pola perubahan zaman, sehingga mereka memandang

perlu adanya suatu gerakan pembaruan terhadap kultur NU yang selama ini melekat.

Gerakan pembaruan ini meliputi tiga hal (Riyadi, 2007). Pertama, tentang masalah

kemandegan berfikir (jumud). Realitas yang terjadi bahwa ternyata perubahan zaman

semakin cepat terjadi dari hari ke hari, sehingga memaksa kalangan muda NU untuk

berpikir ulang terhadap pola pemikiran yang diadopsi oleh NU. Pemecahan atas

permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang hanya bersandar

pada teks-teks tradisional (kitab kuning) dirasa oleh kalangan muda NU tidak lagi

mampu berbicara banyak terhadap realitas yang terus berkembang saat ini, perlu ada

suatu rumusan baru mengenai pemecahan masalah tersebut. Sehingga menurut

mereka, perumusan metode baru (ijtihad) perlu dilakukan untuk keluar dari

kungkungan kejumudan yang selama ini melekat di NU.

Kedua, partisipasi NU dalam dunia politik praktis. Terjerumusnya NU dalam

dunia politik praktis banyak menyebabkan tujuan NU sebagai organisasi sosial

keagamaan yang berorientasi pada pengembangan potensi ummat terbengkalai. Dari

kondisi inilah, kalangan muda NU prihatin terhadap terjerumusnya NU dalam

pusaran politik praktis dan mereka mencoba untuk menggeser gerakan politik praktis

NU ini ke gerakan Islam kultural, sebagaimana misi awal pendirian organisasi ini.

Ketiga, permasalahan pengelolaan keorganisasian. Pola hubungan patron-client yang

kuat antara ulama dengan masyarakat, dimana ulama berperan sebagai patron dan

masyarakat berperan sebagai client, menjadikan organisasi ini lemah dalam

11
mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Pengelolaan NU yang lebih bersifat

tradisional perlu diganti dengan sistem yang lebih modern, karena basis massa yang

sangat besar akan sulit menunjukkan eksistensinya jika hanya dikelola dengan pola-

pola tradisional.

Lebih lanjut, seringkali NU dipahami sebagai organisasi tradisional

dengan stereotype yang cenderung negatif, diantaranya adalah organisasi yang

ekslusif, organisasi yang tidak pernah beranjak dari kitab-kitab yang mu’tabar (al-

kutub al-mu’tabaroh) , organisasi yang dalam praktik keagamaannya seringali

mengadopsi tradisi lokal serta basis komunitas yang mayoritas berasal dari kalangan

pedesaan (Riyadi, 2007). Pemahaman dalam beragama bagi kalangan NU seringkali

berpijak dan berangkat dari teks yang sangat disakralkan dan teks mempunyai

otoritas yang tinggi dikarenakan model pemahaman yang ada di NU selalu merujuk

pada kitab-kitab ulama terdahulu. Bahtsul masa’il merupakan salah satu contoh

betapa teks sangat dijunjung tinggi dalam model pemahaman dalam organisasi ini.

Tradisi dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai dua arti yaitu adat

kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan masyarakat dan penilaian atau

anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan

benar. Sedangkan penjelasan Muhammad Abed Al-Jabiri tentang tradisi terbagi

menjadi tiga bagian, yaitu: 1) tradisi maknawi (al-turats al-maknawi), yang berupa

tradisi pemikiran dan budaya, 2) tradisi material (al-turats al-ma’adi), seperti

monumen dan benda-benda masa lalu, 3) tradisi kebudayaan, yaitu segala sesuatu

yang kita miliki dari masa lalu kita, 4) tradisi kemanusiaan universal, yakni segala

sesuatu yang hadir di tengah kita, namun berasal dari masa lalu orang lain.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata tradisional diartikan sebagai sikap,

cara berpikir, dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat

kebiasaan secara turun temurun. Islam tradisional seperti yang ada di Indonesia

12
mempunyai ciri-ciri seperti berikut: pertama, sangat terikat dengan pemikiran Islam

tradisional, yaitu pemikiran Islam yang masih terikat kuat dengan pikiran ulama ahli

fiqh, hadits, tasawuf, tafsir, dan tauhid yang hidup antara abad ke tujuh hingga abad

ke tiga belas. Kedua, kebanyakan basis massa dari penganut tradisionalisme Islam

tinggal pada wilayah pedesaan dengan latar belakang pendidikan pesantren. Ketiga,

keterikatan mereka pada paham ahlussunah wal jama’ah.

Jika tradisional dapat diartikan sebagai sikap, cara berpikir, dan bertindak

yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan secara turun temurun,

maka tradisionalisme dapat diartikan dengan paham atau ajaran yang didadasarkan

atas tradisi. Jika kita kaitkan dengan Islam, maka tradisionalisme Islam dapat

diartikan sebagai praktik-praktik keagamaan maupun pemikiran dalam Islam yang

dilakukan masyarakat secara turun temurun. Sedangkan post-tradisionalisme secara

etimologi bisa diartikan pasca tradisionalisme. Meskipun kata post disini bisa

diartikan dengan melampaui, melewati dan bahkan meninggalkan tradisi, tetapi yang

menjadi inti dari post tradisionalisme disini adalah mentransformasikan dan

merevitalisasi terhadap tradisi, bukan untuk meninggalkan tradisi. Maka demikian,

dalam diri postradisionalisme terkandung nilai-nilai kontinuitas dan perubahan.

E. Jihad dan Terorisme

Menurut Ibnu Faris dalam bukunya mu’jam “Al-maqasy fi Al-lughah”, semua

kata yang terdiri dari huruf J, H, D, pada awalnya mengandung arti kesulitan ata

kesukaran dan yang mirip dengannya.

Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti ‘’letih atau sukar’’. Jihad

memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad

berasal menuntut kemampuan dan harus dilakukan sebesar kemampuan. Dari kata

yang sama tersusun ucapan “Jahida Bir Rojul”, yang artinya “ seseorang sedang

mengalami ujian”.

13
Jihad adalah merupakan ruh dan spirit utama bagi keseluruhan perjuangan

Islam. Jihad merupakan inti daripada semangat islamyang mengantarkan islam

menjadi Al-Furqan (benar-benar tampil beda) dari Jahiliah.

Maka setiap muslim harus berusaha melibatkan dirinya dalam jihad sesuai dengan

kemampuan dan tuntunannya, berjihad dapat kita aplikasikan dalam beberapa

hal,seperti:

1) Berjihad memerangi hawa nafsu, amarah yang suka menyimpangkan manusia

dari perbuatan baik kepada perbuatan buruk, dari akhlak terpuji kepada akhlak

tercela .

2) Berjihad memerangi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan umat islam

dalam pentas kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

3) Berjihad dalam memerangi segala bentuk ancaman yang membahayakan

kemudahan umat, seperti ancaman masyarakat, dll.

4) Berjihad memerangi keterpurukan umat, baik dari segi intelektual maupun

muammalah.

5) Berjihad mengantisipasi serta mengimbangi tipu daya politik dan diplomasi

kaum kafir dalam uapaya memurtadkan umat islam, menjauhkan umat dari

ajaran islam, dan memecah belahkan umat islam agar mudah menjadi santapan

mereka.

Setiap pribadi muslim yang menghendaki kesempurnaan dalam berislam,

harus memiliki program dakwahdan semangat jihad bagi dirinya sendiri dan

keluarga. Dia harus bersemangat mengupayakan perbaikan keislamannya dari hari

kehari, sehingga mencapai nilai HAQQA TUQATIH (Sebenar-benarnya takwa).

            Sedangkan Terorisme dan Radikalisme meruapakan fenomena umum yang

tersebar diseluruh dunia, bukan hanya di dunia islam semata, sebagaimana yang

dituduh oleh sebagian kalangan.

14
            Pengetahuan yang benar tentang islam bentuk Radikalisme maupun

Terorisme, Etos kasih saying mrupaka salah satu sebagian penting dalam islam,

karena itu setiap surat dalam al-quran selalu dimuat dengan kalimat” dengan

menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”, ya, betapa kasih

saying Allah begitu luas, mencakup sgala sesuatu  serta seluruh manusia yang

berusaha keras mewujudkan keadilan dan perdamaian.        

            Dialog antar agama selain mampu mengatasi berbagai persoalan negative

seperti ateisme narkoba, dan fanatisme, ternyata juga mampu memberikan

konstribusi efektif demi mencegah terjadinya pertengkaran-pertengkaran yang

mungkin terjadi.

            Persoalan-persoalan tersebut berikut persoalan sampingan lainnya, menuntut

kerja keras kita dalam mencari jalan keluar yang memadai, karena bagaimanapun, hal

ini menyangkut kepentingan seluruh dunia.

            Apabila kita ingin menyelenggarakan dialog antar agmayang efektif, kita

tidak boleh lagi menghidupkan memori-memori kebencian dan permusuhan yang

diwariskan oleh masa silam dalam ingatan kita sebagai penggantinya, kita harus

membangun pemikiran positif yang bergerak kea rah pembangunan pemikiran positif

yang bergerak kearah pembangunan masa depan baru yang lebih cerah dan mampu

membuat dunia menikmati perdamaian.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Islam sebagai dinamika historis menunjukkan kekayaan luar biasa. Di tengah

dinamika historis memang perlu ditegaskan kembali esensi-esensi teologis pokok,

seperti tauhid Allah SWT, kenabian Muhammad, i’jaz Alquran, dan sebagainya.

Namun, dinamika historis tersebut juga dapat menjadi bahan dasar penting bagi

sintesis-sintesis Islam untuk menjawab tantangan zaman.

Dinamika historis memang menuntut penghadiran berbagai respons Islam

terhadap situasi lingkungannya yang terus berubah. Karena itu, kaum Muslimin dan

umat-umat lainnya, dalam dinamika sejarah bisa menyaksikan terjadinya

kesinambungan dan konvergensi di tengah perubahan. Semua perubahan yang

positif dan kontributif bagi peradaban Islam terjadi berkat keterbukaan dan

kesediaan kaum Muslimin sendiri menyerap berbagai hal positif di luar tradisi

mereka.

Karena itu, pengakuan pada berbagai tradisi di luar Islam dan kaum Muslimin

sendiri merupakan sebuah keniscayaan. Pengakuan tersebut bahkan merupakan

prasyarat krusial bagi setiap masyarakat yang berkeinginan dan berusaha merespons

secara tepat berbagai perubahan yang tidak bisa dielakkan manusia dan

peradabannya di masa kini dan mendatang. Dalam perspektif ini, sejarah Islam dan

kaum Muslimin pada dasarnya merupakan usaha-usaha tak pernah berhenti bagi

kaum Muslimin sendiri untuk memahami cita-cita Alquran guna selanjutnya

mewujudkannya ke dalam realitas kehidupan.

16
Namun, perubahan-perubahan yang luas dan berdampak panjang juga

menimbulkan kecemasan bagi sebagian kaum Muslimin. Dan ini mendorong

mereka untuk kembali kepada apa yang mereka sebut sebagai ‘Islam otentik’ yang

ironisnya justru tertutup dan menegasikan berbagai hal di luar Islam, yang mereka

pandang sebagai ancaman terhadap ‘Islam otentik’.

Cara pandang seperti ini jelas sangat kontraproduktif karena dalam kerangka

itu, Islam dipandang hanya sebagai doktrin teologis dan doktrinal abstrak, yang

jauh dari persentuhan dan realitas historis. Pandangan dan konsepsi inilah yang

akhirnya mengantarkan kaum Muslim ke dalam situasi dan kondisi statis, yang

mengakibatkan terjadinya ‘fragmentasi’ sosial dan intelektual. Jadinya upaya-upaya

memperbaiki keadaan dan kenestapaan kaum Muslimin dewasa ini lebih didorong

formula-formula ideologis-religius yang cenderung simplistik daripada rumusan-

rumusan atas kajian berbagai realitas sosio-historis konkret.

Padahal, salah satu distingsi Islam, seperti ditegaskan kembali melalui

Konferensi Alexandria, adalah keterbukaan yang mampu tidak hanya

mengakomodasi berbagai fenomena dan produk peradaban lain yang bermanfaat

bagi kemajuan peradaban manusia secara keseluruhan, tetapi juga dapat hidup

berdampingan secara kreatif dengan peradaban-peradaban lain.

Hidup berdampingan secara damai (creative co-existence), jelas bisa dicapai

hanya jika para representasi peradaban-peradaban yang dominan mau

meninggalkan pandangan-pandangan yang memecah belah tentang ‘keunggulan

kultural’ (cultural triumphalism). Triumphalism adalah pernyataan sepihak dari

pendukung kultural manapun yang mengklaim bahwa hanya pihaknya sajalah yang

paling unggul di atas segala pihak lain. Triumphalism seperti ini pada ujungnya

hanya akan mengantarkan umat manusia ke dalam ‘perbenturan peradaban-

peradaban’, yang jelas tidak kita hendaki.

17
B. Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih banyak

kekurangan baik dari bentuk maupun isinya. Maka dari itu penulis

menyarankan kepada pembaca agar dapat memberikan kritik dan saran demi

perbaikan makalah yang penulis buat selanjutnya. Dan semoga dengan adanya

makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menambah Ilmu

pengetahuan yang lebih luas.

18
DAFTAR PUSTAKA

Barton, Greg, “Indonesia’s Nurcholish Madjid and Abdurrrahman Wahid as

Intelectual Ulama: The Meeting of Islamic Traditionalism and Modernism in Neo-

Modernist Thought”, dalam Islam and Christian Muslim, CSIC, Birmington, Vol. 8,

No. 3, 1999.

Effendi, Bahtiar, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktek

Politik Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina, 1998.

Hamzah, Imran dan Anam, Chairul (ed), Abdurrahman Wahid Diadili Kiai-

Kiai. Surabaya: PT Jawa Pos, 1989.

Horikoshi, Hiroko, Kiai dan Perubahan Sosial. Jakarta: P3M, 1987.

Madjid, Nurcholis, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1987.

Narwoko, J. Dwi – Suyanto, Bagong (ed.), Sosiologi Teks Pengantar dan

Terapan. Jakarta: Prenada Media Group, 2006.

Sodik, Mochammad, Gejolak Santri Kota Aktivis Muda NU Merambah Jalan

Lain. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

Zubaedi, Islam dan Benturan Antarperadaban, Dialog Filsafat Barat dengan

Islam, Dialog Peradaban, dan Dialog Agama. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

19

Anda mungkin juga menyukai