0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
727 tayangan16 halaman

Logo untuk Peternakan Ayam KUB

Bab 2 membahas tinjauan pustaka tentang ayam kampung unggul balitnak, manajemen strategi, analisis SWOT dan AHP. Ayam kampung unggul balitnak (KUB) merupakan galur ayam kampung hasil penelitian Balai Penelitian Peternakan Ciawi Bogor dengan produktivitas telur tinggi. Manajemen strategi meliputi formulasi dan implementasi strategi sementara analisis SWOT dan AHP digunakan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal s
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
727 tayangan16 halaman

Logo untuk Peternakan Ayam KUB

Bab 2 membahas tinjauan pustaka tentang ayam kampung unggul balitnak, manajemen strategi, analisis SWOT dan AHP. Ayam kampung unggul balitnak (KUB) merupakan galur ayam kampung hasil penelitian Balai Penelitian Peternakan Ciawi Bogor dengan produktivitas telur tinggi. Manajemen strategi meliputi formulasi dan implementasi strategi sementara analisis SWOT dan AHP digunakan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal s
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB)


Ayam buras merupakan ayam bukan ras atau ayam lokal, ayam buras
merupakan sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani
dengan cara budidaya masal komersial serta tidak berasal usul dari galur atau ras
yang dihasilkan untuk kepentingan komersial (Larasati, 2009). Ayam kampung
merupakan salah satu produk peternakan yang sudah berkembang dan menjadi
favorit masyarakat. Baik berupa daging maupun telur sangat disukai oleh
masyarakat namun tidak bisa diproduksi dalam jumlah besar dikarenakan
pertumbuhan lambat dan kurang efisien dalam perubahan pakan menjadi daging.
Ayam Kampung atau ayam lokal menurut (PERMENTAN RI, 2006) pada
umumny ayam yang ayam asli Indonesia yang berasal dari ayam-ayam yang telah
Didomestikasi. Ayam kampung pada umumnya dipelihara secara ekstensif /
umbaran, sehingga produktifitas rendah. Ayam kampung membutuhkan waktu 6 –
7 bulan untuk siap di konsumsi dagingnya, sedangkan jika di ambil produksi
telurnya cukup rendah produksi telur sebesar 25 % dari produksi ayam rasa tau
kisaran 40 – 60 butir pertahun. Potensi ayam KUB memiliki peran lebih produktif
dibanding dengan ayam kampung. Ayam KUB memiliki keunggulan produktif
penghasil telur dan daging dan waktu pemeliharaan yang cukup singkat dengan
dibandingkan dengan ayam kampung.
Ayam kampung unggul balitnak (KUB) merupakan galur ayam kampung
hasil penelitian Balai Penelitian Peternakan Ciawi Bogor, dengan tingkat
produktifitas telur tinggi, mampu mencapai 60 % Hen day dengan sifat mengeram
10 % dari total populasi (SK MENTAN, 2014). Ayam KUB memiliki
karakteristik sama dengan ayam kampung pada umumnya seperti halnya warna
bulu hitam, campur coklat, jengger berbentuk tunggal (Single Comb) dan
berbentuk pea. Ayam Kampung Unggul Balitnak memiliki keunggulan yang lebih
dari pada ayam kampung pada umumnya, puncak produksi ayam KUB mencapai
65-70 % pada umur rata-rata 35 minggu dengan bobot telur sebesar 36-45 g/butir.

8
9

Ayam KUB selain produktifitas di telur juga memiliki keunggulan di ayam


potong lokal dengan bobot badan umur 70 hari mencapai ± 0,8 – 1 kg hidup
jantan, sedangkan betina ± 750 g / ekor .
Pemeliharaan ayam KUB atau ayam lokal yang dimaksud pemeliharaan
ayam kampung KUB secara intensif dengan managemen pemeliharaan yang baik,
dari segi Breeding, feeding dan manajemen ketiga pokok ini perlu adanya
pengawasan dan harus seimbang untuk menghasilkan produk ayam kampung
super yang baik. Ayam buras atau ayam kampung sangat disukai orang karena
dagingya yang kenyal dan berisi, tidak lembek dan rendah lemak sehingga
konsumen lebih suka mengkonsumsi daging ayam kampung.

2.2 Definisi Manajemen Strategi


Strategi merupakan pusat dan inti yang khas dari manajemen strategik yang
mengacu pada perumusan tugas, tujuan dan sasaran organisasi yang taktis
sehingga mampu mengatasi ancaman eksternal dan merebut peluang yang ada,
sehingga dapat membawa perusahaan mencapai tujuan akhir suatu perusahaan
yaitu profit oriented (David, 2009)
Menurut (Susanto, 2014) “Manajemen strategik adalah suatu analisis yang
memiliki dampak yang itilah yang digunaka penting guna untuk menangani
ketidakpastian melalui pendekatan yang sistematis, menyelaraskan tujuan antar
unit dalam organisasi, membenahi peran dalam setiap organisasi, penerapan
budaya dan kepemimpinan, dan menjadi sebuah sarana komunikasi jangka
panjang dan acuan oleh dewan direksi sebuah perusahaan”.
Menurut (David, 2009) manajemen strategi adalah meliputi strategi yang
dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara
makro, Seperti halnya pengembangan produk, strategi pengembangan pasar,
strategi bertahan, strategi pembangunan dan sebagainya. Strategi pengemabangan
Konsep manajemen strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan
manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Beberapa
unsur manajemen strategi adalah pengamatan lingkungan internal dan eksternal,

9
10

perumasan strategi, Implementasi strategi, dan evaluasi serta pengendalian


( Wheelen dan Hungger, 1996).
Manajemen strategi terdiri dari dua elemen yaitu formulasi strategi dan
implementasi startegi. Formulasi strategi merupakan tahap organisasi penentuan
visi, misi, arah strategi, strategi, dan sasaran. Sedangkan tahap implementasi
strategi merupakan tahap penentuan struktur, SDM, dan Sistem organisasi yang di
topang dengan kepemimpinan dan kebudayaan suatu organisasi yang sesuai dan
saling berintegrasi ( Susanto, 2014)

2.3 Analisis SWOT ( Strengh, Weakness, Opportunity, Threat)


Menurut (David, 2009) analisis SWOT merupakan identifikasi dari
beberapa faktor secara terintegrasi untuk merumuskan sebuah strategi suatu
perusahaan. Sedangkan menurut SWOT merupakan salah satu analisis yang
ampuh digunakan penentuan sebuah strategi dalam suatau perusahaan, secara luas
akronim SWOT kepanjangan dari Strenght (Kekuatan), Weakness ( Kelemahan)
Opportunities ( Peluang) dan Threat (Ancaman).
Analisa SWOT ini untuk mengetahui kondisi perusahaan dari internal
maupun eksternal dari beberapa aspek yang dilihat yaitu produk, harga, distribusi
dan promosi. Analisis internal yaitu untuk mengetahui Kekuatan (Strenght) dan
Kelemahan (Weakness), Sedangkan analisis eksternal perusahaan untuk
mengetahui peluang (Opportunity) dan ancaman ( Threat).
SWOT merupakan perangkat analisis yang paling popular yang digunakan
untuk perumusan strategi, dengan mengansumsikan dasar yaitu organisasi harus
menyelaraskan aktivitas internalnya dengan realitas eksternal guna daapat
mencapai tujuan yang ditetapkan. Kehebatan analisis SWOT adalah
kesederhanaanya, proses penyajianya dan kemampuanya merefleksikan esensi
dari dari suatu perumusan strategi, yaitu mempertautkan peluang dan ancaman
dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. (Susanto, 2014)
Kekuatan (Strenght), Kelemahan (Weakness) , Peluang (Oportunity) dan
ancaman (Threat) yang menganalisis internal eksternal suatu organisasi atau

10
11

perusahaan. Menurut Nilasari (2014) Terdapat 4 strategi yang terdapat dari 4


faktor dalam SWOT Diantaranya.
1. Strategi S-O strategi ini menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh
perusahaan guna memanfaatkan peluang yang ada.
2. Strategi W-O strategi ini dilakukan dengan mengatasi kelemahan
perusahaan dengan memanfaatkan peluang yang ada.
3. Strategi S-T strategi ini dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan
perusahaan dalam menghadapi ancaman dari luar.
4. Strategi W-T strategi ini merupakan strategi untuk bertahan dari ancaman
luar sekaligus mengatasi kelemahan yang dimiliki.

2.4 Analisis AHP (Analytical Hierarchy Process)


Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan sebuah analisi strategi
yang digunakan untuk menyelesaikan masalah multikriteria yang kompleks
menjadi suatu hirarki. Tiga prinsip yang harus dipahami untuk menyelesaikan
suatu permasalahan dengan metode AHP, yaitu: decomposition, comparative
judgement, dan logical consistency. Decompotion merupakan pemecah persoalan
menjadi hal yang lebih kecil atau sederhana yang saling berhungungan satu sama
lain. Comparative Judgement dilakukan dengan mernberikan penilaian tentang
kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya
dengan tingkatan di atasnya, untuk memberikan urutan prioritas dari elemen-
elemennya. Hasil penilaian ini akan lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks
pairwaise comparison atau matriks perbandingan berpasangan. Logical
consistency merupakan karakteristik penting AHP. Konsistensi memiliki dua
makna, yang pertama adalah bahwa obyek-obyek yang serupa dapat
dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi dan yang kedua adalah
menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkanpada kriteria
tertentu (Saaty, 1993).
Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang
tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian bagianya, serta menata
dalam suatu hierarki, dengan pemberian angka secara subjektif dalam masing

11
12

masing tingkatan kepentingan untuk dibandingkan dengan variabel lain. Dari


beberapa hasil pertimbangan kemudian dilakukan sebuah analisa untuk
menghasilkan sebuah variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk
mempengaruhi hasil pada sistem tersebut (Saaty, 1993).
Analisis AHP dengan menganalisis aspek manfaat/ biaya dan
pengalokasiaon sumberdaya. Analisis B/C manfaat/biaya adalag suatu alat
tradisional untuk mengalokasikan sumberdaya diantara seperangkat aktivitas
(Saaty, 199). Analisis B/C manfaat/biaya dapat memperbaiki alat pengambil
keputusan sehingga dapat menggunakan skala banding berpasangan dan mampu
malakukan perimbangan (tradeoff) yang eksplisit antara banyak kriteria sehingga
mencangkup aneka tujuan performansi dan aneka aktivitas keluaran (Satty, 1993).

Gambar. 2.1 Struktur Hierarki AHP

2.7 Kajian Terdahulu

Sebagai penunjang penelitian strategi pengembangan usaha peternakan


ayam KUB di UD Surya Unggas Jaya, beberapa literatur penunjang penelitian
dilampirkan diantaranya.
Perancangan strategi bersaing Industri Unggas Ayam Kampung (studi kasus
PT. Dwi dan Rachmat Farm, Bogor). Pengembangan industri perunggasan ayam

12
13

kampung mulai digalakan, dikarenakan industri ayam ras memiliki banyak resiko
dan rentan terhadap gejolak internasional. Penelitian ini bertujuan untuk (1)
Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi daya saing industri perunggasan
ayam kampung, (2) Menganalisis dan mengetahui posisi strategis industri ayam
kampung di PT Dwi dan Rachmat farm, (3) Menyusun strategi bersaing industri
unggas ayam kampung di PT Dwi dan Rachmat Farm, (4) Merumuskan prioritas
strategi dan strategi bersaing industri perunggasan di PT Dwi dan Rachmat farm.
Metode yang digunakan adalah analisis deskriftif, analisis data sebagai berikut (1)
untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi daya saing industri ayam
kampung menggunakan Porter’s Diamond Model, (2) Analisis data dan
mengidentifikasi strategis usaha ayam kampung menggunakan rantai nilai, VRIO,
PEST, Porter’s Five Forces Analysis, matrik IFAS, matrik EFAS, Matrik SFAS,
internal-eksternal Matrik. (3) Rancangan strategi menggunakan Matriks SWOT
(4) Perumusan strategi prioritas bersaing industri ayam kampung menggunakan
ANP ( Analytic Network Process).
Penelitan perancangan strategi bersaing industri unggas Ayam kampung .
Faktor yang mempengaruhi daya saing industry unggas ayam kampung dengan
nilai atribut paling tinggi yaitu : sumber daya manusia, jumlah pembeli, dan
tingkat pertumbuhan pembeli, usaha pembibitan, industri produk pengganti,
roadmap, dan business plan pengembangan ayam kampung, dan iklim usaha yang
kondusif. Posisi strategis perusahaan PT Dwi dan Rachmat Farm berdasarkan
analisis SWOT berada pada kuadran ke 1 yaitu mendukung kebijakan
pertumbuhan yang agresif (Aedah, 2016).
Pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) di Kalimantan
Selatan (Development of KUB Chicken in South Kalimantan) Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah membahas potensi, kinerja produksi dan peluang
pengembangan ayam KUB di Kalimantan Selatan. Ayam KUB mempunyai
keunggulan sebagai penghasil telur yang tinggi (160-180 butir/ekor/tahun), sifat
mengeram rendah (±10%), memiliki pertumbuhan lebih cepat, rasa daging lebih
gurih dan mampu beradaptasi dengan lingkungan. Permasalahan yang dihadapi
dalam pengembangan ayam KUB di Kalimantan Selatan adalah jumlah telur yang

13
14

menetas rendah, harga pakan mahal dan serangan penyakit, antara lain Newcastle
Diseases (ND) dan Avian Influenza (AI). Performans ayam KUB di Kalimantan
Selatan antara lain: produksi telur 65-67%, berat telur berkisar 36,12-38,12
g/butir, konsumsi pakan 85-105 g/ekor, konversi pakan 3,8-3,9, daya tunas telur
berkisar antara 90,21-92,61%, daya tetas 79,67-81,80% dan berat DOC antara
34,50-36,86 g/ekor (Suryana, 2017).
Strategi pengembangan peternakan sapi perah rakyat di Kecamatan Cisarua,
Bogor bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi terkini peternakan sapi perah
rakyat di Cisarua, (2) mengetahui kondisi yang terkait dengan keberlanjutan
peternakan sapi perah di Cisarua dan (3) merumuskan strategi pengembangan
peternakan yang berkelanjutan. Pengambilan responden peternak sebanyak 28
orang dilakukan secara Stratified Random Sampling dan responden pakar
sebanyak 10 orang dilakukan secara Purpossive Sampling. Pengambilan data
dilakukan melalui wawancara dengan responden, observasi lapang dan
dokumentasi terhadap pustaka terkait. Selanjutnya data dianalisis dan disajikan
secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternakan di Cisarua umumnya
(82%) diusahakan dalam skala kecil dengan jumlah kepemilikan 1-5 ekor. Sapi
perah yang dipelihara memiliki produksi rata-rata 11 liter/ekor/hari. Peternakan
sapi perah merupakan usaha pokok peternak (95%) yang sebagian besar (67,86%)
dijalankan oleh peternak usia 36-50 tahun dengan tingkat pendidikan mayoritas
(57%) sekolah dasar. Peternakan di Cisarua didukung oleh empat kelembagaan
kelompok dan satu koperasi yang khusus menangani komoditas sapi perah.
Pengembangan peternakan sapi perah harus memeperhatikan memperhatikan
keberlanjutan dari dimensi ekologi, sosial dan ekonomi (Zandos, 2011).
Prospek usaha peternakan ayam buras brakel kriel-silver semi intensif di
kota palopo berdasarkan komoditas usaha dan teknologi budidaya serta
menentukan strategi pengembangan peternakan ayam buras yang sesuai dengan
potensi dan daya dukung lingkungan peternakan di kota palopo. aspek pasar
dinyatakan layak, terdapat peluang pasar yang cukup besar dan harga yang
ditawarkan kompetitif serta strategi pemasaran yang digunakan dapat

14
15

mengungguli pesaing dari segi kualitas ayam buras, waktu pengiriman dan harga
yang ditawarkan. aspek teknis produk memiliki karakteristik unggul, kapasitas
memenuhi target penjualan yang telah ditetapkan sesuai proses dan fasilitas yang
digunakan, lokasi tempat pendirian usaha merupakan lokasi yang terbaik untuk
mendirikan usaha. aspek legal dan lingkungan terdapat solusi pengelolaan limbah
akibat pendirian dan operasi usaha sehingga tidak mengganggu lingkungan
sekitar. analisis kelayakan aspek sumber daya manusia dinyatakan layak karena
mempunyai bentuk struktur organisasi dengan pembagian tugas yang jelas tenaga
kerja yang cukup untuk menjalankan operasional dan adanya kejelasan uraian
jabatan dan spesifikasinya untuk setiap jabatan. kelayakan aspek finansial dengan
menggunakan metode payback periode dan terbukti lebih pendek dari pada waktu
analisis usaha peternakan ayam buras, yaitu 2 tahun 2 bulan. nilai net present
value lebih besar dari nol, nilai dari interest return of rate lebih besar dari pada
nilai minimum attractive rate of return. Sehingga analisis kelayakan aspek
finansial usaha dapat dinyatakan layak karena memenuhi syarat kelayakan (Goso
dan Rizal, 2015).
Strategi pengembangan usaha peternakan ayam kampung kelompok tani
sehati Desa Sirnagalih Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Kelompok Tani
Sehati adalah salah satu kelompok yang membudidayakan ayam kampung secara
intensif. Kelompok Tani Sehati mengalami masalah pada aspek manajemen
sumber daya manusia, pemasaran dan budidaya sehingga membutuhkan strategi
pengembangan untuk keberlanjutan usaha peternakan ayam kampungnya. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan internal dan
eksternal kelompok tani sehati, menentukan alternatif strategi pengembangan, dan
menentukan prioritas strategi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
matriks IFE (internal factor evaluation) dan EFE (eksternal factor evaluation),
matriks IE (internal-eksternal), matriks SWOT (strengths-weaknesses-
opportunities-treaths) matriks QSPM. Hasil analisis menunjukkan bahwa
kelompok tani sehati berada pada tahapan tumbuh dan membangun dengan
strategi intensif dan integratif. Hasil analisis SWOT mengidentifikasi terdapat
enam alternatif strategi pengembangan yang dapat diterapkan. Strategi yang

15
16

memiliki prioritas tinggi berdasarkan perhitungan matriks QSPM adalah


memperluas pemasaran ayam kampung ke pasar baru diluar pasar yang selama ini
dijangkau oleh kelompok (Permatasari, 2013).
Strategi pengembangan usaha ternak ayam pedaging di Provinsi Sulawesi
Tengah, tujuan dari penilitian ini adalah Mengetahui dan menganalisis kebutuhan
daging dan ketersediaan ayam pedaging di Provinsi Sulawesi Tengah dan
menyusun strategi pengembangan usaha ternak ayam pedaging di Provinsi
Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode Deskriptif (kualitataif dan
kuantitatif) pengambilan data secara survey serta analisis data menggunakan
SWOT. Hasil dari penelitian menunjukkan Pengembangan ternak ayam pedaging
melalui program (ii) Peningkatan produksi melalui usaha perluasan kandang
dengan lahan yang tersedia, melalui kegiatan penelitian Penelitian tentang
optimalisasi dan kesesuaian lahan untuk kandang ayam pedaging dan ayam
peternak eningkatan pengetahuan peternak sehingga menambah pengalaman
dalam budidaya ternak, dengan kegiatan: Penyuluhan/pelatihan dan penerapan
teknologi usaha ternak, antara lain: Penggunaan bibit DOC, pemeliharaan ternak,
dan pengendalian penyakit. (iii) Membentuk dan mengembangkan kemitraan
antara peternak dan Pengusaha sehingga dapat menguasai pasar dan tersedianya
pakan lokal melalui Penandatanganan MoU antara peternak dan pengusaha yang
difasilitasi oleh pemerintah (Rauf dan adam, 2014).
Analisis strategi pengembangan usaha peternakan ayam pedaging (broiler)
ananta guna Di Desa Sidan Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi internal, kondisi eksternal usaha peternakan
peternakan ayam pedaging (broiler) dan strategi yang harus ditetapkan pengusaha
berdasarkan analisis SWOT. Penelitian ini mengunakan desain penelitian
kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pemilik usaha peternakan ayam pedaging
(broiler) Ananta Guna di Desa Sidan, dan objek dari penelitian ini adalah strategi
pengembangan usaha. Teknik pengumpulan data menggunakan metode
wawancara, kemudian dianalisis menggunakan metode IFAS dan EFAS. Hasil
penelitian menunjukan bahwa kondisi lingkungan internal berupa kekuatan yaitu
produk berkualitas tinggi, harga yang terjangkau, menggunakan saluran distribusi

16
17

langsung, promosi yang cukup optimal, kepuasan kerja karyawan cukup tinggi,
kondisi kerja yang kondusif dan kelemahan usaha ini yaitu produk yang
dihasilkan kurang bervariasi, penetapan harga yang berbeda, tidak memiliki
cabang usaha, tidak membuat laporan keuangan, masih lemahnya pendelegasian
tugas. Kondisi eksternal yang menyangkut peluang adalah dapat meningkatkan
kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, adanya kerjasama
dengan usaha sejenis, mendapat dukungan dari masyarakat, kemampuan untuk
memanfaatkan teknologi sudah baik yang menjadi ancaman yaitu kebijakan
perekonomian, keberadaan pesaing, tertundanya kegiatan usaha akibat acara
keagamaan. Strategi yang harus ditetapkan oleh usaha ini adalah Strategi Integrasi
Horizontal, Diversifikasi Konsentrik, dan Joint Venture (Ekapriyatna, 2016).
Strategi pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur di kabupaten
tabanan. Mengetahui profil peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan. Tujuan
penelitian Menganalisis faktor–faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman padapengembangan agribisnis peternakan ayam petelur di Kabupaten
Tabanan. Merumuskan alternatif strategi pengembangan agribisnis peternakan
ayam pada petelur di Kabupaten Tabanan dan Menentukan prioritas strategi yang
harus dilakukan pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur di Kabupaten
Tabanan. Analisis dalam penelitian strategi pengembangan agribisnis peternakan
ayam petelur ini digunakan dalam beberapa cara, yaitu analisis matriks IFE dan
EFE (lingkungan internal dan eksternal), analisis SWOT, dan analisis QSPM.
(Kurniawan. dkk, 2013)
Analisis faktor-faktor lingkungan internal menunjukkan bahwa kekuatan
utama pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur adalah usaha turun-
temurun dan tersedianya sarana transportasi, sedangkan kelemahan utama adalah
keterbatasan jumlah dana serta minimnya informasi. Secara eksternal faktor yang
menjadi peluang utama adalah ketersediaan pasar dan distribusi pendek dan
pertumbuhan penduduk. Faktor yang menjadi tantangan utama adalah fluktuasi
harga pakan dan penyakit ayam. Prioritas strategi yang dipilih dan menjadi pilihan
utama dalam pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur berdasarkan
matrik QSPM adalah strategi peningkatan pangsa pasar untuk meraih posisi

17
18

market leader melalui kebijakan dari pemerintah daerah dan perusahaan yang
terkait, seperti melakukan lomba makan telur dan mengedukasi masyarakat untuk
membeli telur lokal yang berasal dari Kabupaten Tabanan, sehingga chain market
dapat lebih berkembang (Kurniawan, dkk, 2013).
Strategi pengembangan ayam Sentul di Kabupaten Ciamis. Penelitian ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk merumuskan strategi pengembangan ayam
Sentul di Kabupaten Ciamis. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan
metode survai. Penelitian dilaksanakan pada pada bulan September sampai
dengan Oktober 2015. Responden terdiri atas: (1) Peternak ayam Sentul sebanyak
36 orang, dan (2) Responden lainnya, yaitu pegawai dinas/instansi pemerintah dan
akademisi sebanyak 8 orang. Data penelitian terdiri atas data primer dan data
sekunder. Strategi pengembangan ayam Sentul di Kabupaten Ciamis dirumuskan
dengan menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
strategi pengembangan ayam Sentul di Kabupaten Ciamis adalah: (1)
Meningkatkan supply day old chick (DOC) untuk memenuhi kebutuhan peternak,
(2) Meningkatkan penawaran melalui peningkatan populasi ayam Sentul untuk
memenuhi permintaan konsumen terhadap daging ayam, (3) Pembuatan sentra
produksi ayam Sentul untuk mengantisipasi tarik menarik kepentngan penggunaan
lahan antara budidaya ayam Sentul dengan pemukiman serta untuk memudahkan
didalam monitoring kesehatan ayam Sentul, (4) Peningkatan jumlah kepemilikan
ayam Sentul per peternak melalui skema kredit program dengan penekanan pada
kegiatan monitoring dan evaluasi agar tepat pada tujuan dan sasaran, (5)
Peningkatan kemampuan teknis peternak dalam memelihara ayam Sentul melalui
kegiatan penyuluhan, pelatihan maupun bimbingan teknis untuk meningkatkan
produktivitas, (6) Peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui kebijakan
produksi yang didukung dengan koordinasi lintas sektoral yang baik, (7)
Pemberian subsidi produksi untuk menjamin kelangsungan produksi agar tidak
terpengaruh secara’ signifikan oleh fluktuasi harga sarana produksi, dan (8)
Peningkatan kemampuan manajemen peternak dalam hal kesehatan ayam Sentul
melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan maupun bimbingan teknis untuk
mendukung tercapainya efisiensi dan produktivitas tinggi (Isyanto, dkk, 2017).

18
19

Strategi pengembangan ayam biromaru dalam upaya penyediaan bibit ayam


pedaging lokal bertujuan untuk mengetahui nilai heritabilitas bobot badan ayam
biromaru umur 1-12 mg, metode seleksi yang tepat, koefisien korelasi nilai
pemuliaan, standar seleksi yang terbaik, persentase karkas dan merumuskan
strategi pengembangan nya sebagai ayam pedaging lokal. Penelitian ini dilakukan
menggunakan 6 ekor jantan dan 18 ekor betina sementara teknis perkawinannya
menggunakan cara alami. Data penelitian diperoleh dari 121 ekor, yang terdiri
dari 37 ekor jantan dan 84 ekor betina, dan dianalisis dengan menggunakan VCE
6 (Groneveld, 2008), PEST (Groneveld, 1999), dan SAS 9, menggunakan
Univariate Animal Model. Hasil penelitian (1) Nilai heritabilitas bobot badan
umur 1- 12 berkisar antara 0,448 } 0,076-0,500 } 0,489, (2) Metoda seleksi massa
atau seleksi individu pada bobot badan dan sifat yang berkorelasi tinggi dengan
bobot badan, (3) Koefisien korelasi nilai pemuliaan bobot badan umur 1-12
minggu antara 0,2019 (10 mg) dengan (1 mg), sampai 0,9217 (10 mg) dengan (9
mg), (4) Standar seleksi yang terbaik, bila digunakan standar seleksi 8 mg maka
seleksi pada umur 4 mg dengan koefisien korelasi nilai pemuliaannya 0,7138,
sedangkan bila digunakan standar seleksi 12 mg maka seleksi pada umur 8 mg
dengan koefisien korelasi nilai pemuliaannya 0,6264, (5) Persentase karkas umur
4, 8 dan 12 mg yaitu 56,10%, 60,31% dan 61,64% dan (6) Strategi Model
Penyediaan Bibit Ayam Biromaru (DOC) dengan pola pemuliaan inti tertutup
dengan dua strata (inti dan plasma) (Awwaludin, 2012).
Pengembangan potensi ayam lokal untuk menunjang peningkatan
kesejahteraan petani. Ayam lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan
menjadi bibit unggul, upaya menunjang ketahanan pangan dan meningkatkan
kesejahteraan petani. Di Indonesia dilaporkan terdapat 32 jenis ayam lokal
(ecotype) dan masing-masing jenis memiliki keunggulan tersendiri, seperti ayam
pelung, sentul, kedu, merawang, gaok, dan nusa penida. Ayam lokal merupakan
hasil domestikasi ayam hutan (Gallus gallus) dan dapat dikelompokkan menjadi
tipe pedaging, petelur, dwiguna, atau sebagai ayam hias atau kegemaran.
Pemerintah perlu memberikan prioritas lebih besar karena pemeliharaan ayam
lokal melibatkan sebagian besar petani di perdesaan. Usaha ternak ayam lokal

19
20

dapat dikembangkan dengan menerapkan teknologi maju sehingga meningkatkan


produktivitas dan pendapatan peternak (Nataamijaya, 2010).
Sistem produksi ayam lokal di Malawi, kontruksi kandang berkelompok,
dengan perbaikan system manajemen, pengendalian kesehatan secara dinamis.
Tujuanya untuk mengevaluasi sistem produksi ayam local dengan menyelidiki
struktur kemanfaatan, manajemen, dan kendala yang di alami dari produksi ayam
lokal. Peneliti memperoleh data dari kelompok ternak. Rata rata ukuran kandang
adalah 12,9 m2 dengan kisaran 1-61 ekor kapasitas ayam. Fungsi-fungsi prima
berdasarkan dinamika kawanan adalah, urutan kepentingan dalam konsumsi
rumah tangga, partisipasi dalam upacara – upacara daerah, tukar menukar bibit
ternak. Sebagian besar peternak dipelihara secara berdampingan dengan unit
hunian manusia guna untuk tambahan pendapatan peternak. Sebagai upaya
peningkatan kapasitas peternak perlu memaksimalkan pakan dan bibit dari ayam
lokal tersebut (Gondwe dan Wollny, 2006)
Nilai kebaruan penelitian yang mengangkat judul strategi pengembangan
usaha peternakan ayam kampung unggul balitnak di UD Surya Unggas Jaya
kecamatan gumukmas kabupaten jember dibandingkan dengan kajian terdahulu
diantaranya belum terdapat penelitian sejenis dengan objek yang sama, alat
analisis yang digunakan relatif berbeda yaitu pengambilan prioritas strategi
menggunakan AHP (Analitic Hierarcy Process), dan lokasi tempat penelitian
belum pernah digunakan penelitian yang sejenis.

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu


No Peneliti Judul Metode Analisis Data
1. Siti Aedah Perancangan Strategi Bersaing Industri SWOT, Analityc Network
Unggas Ayam Kampung ( Studi Kasus PT . Process.
Dwi dan Rachmat Farm, Bogor
2. Suryana dan Usaha Tani ayam Buras di Indonesia : Deskriftif
Agus permasalahan dan tantangan.
Hasbianto
3. Fatwi Zandos Strategi Pengembangan peternakan sapi Metode AHP
perah rakyat di kecamatan cisarua Bogor “
(Analitycal Hierarchy
Procces)
4. Goso dan M. Prospek usaha peternakan ayam buras 1. SWOT
Risal brakel kriel-silver semiintensif di kota 2. Periode pengembalian
Palopo (PBP/PP).

20
21

No Peneliti Judul Metode Analisis Data


5. Dhea Adisti Strategi pengembangan usaha peternakan Matriks IFE (internal factor
Permatasari ayam kampung kelompok tani sehati Desa evaluation) dan EFE
Sirnagalih Kecamatan Tamansari (eksternal factor evaluation),
Kabupaten Bogor matriks IE (internal-
eksternal), matriks SWOT &
matriks QSPM
6. Rustam Strategi pengembangan usaha ternak ayam SWOT
pedaging di Provinsi Sulawesi
7. Ekapriyatna Analisis strategi pengembangan usaha IFAS, EFAS SWOT
peternakan ayam pedaging (broiler) ananta
guna di Desa Sidan Kecamatan Gianyar
Kabupaten Gianyar
8. Dedi Septiadi, Analisis lingkungan eksternal dan internal 1. EFE & IFE
Taher dalam menyusun strategi perusahaan 2. CPM
Alhabsji, dan 3. QSPM
Kusdi 4. SWOT
Rahardjo
9. Sanny Analisis Strategi Pengembangan Usaha 1. IFE & EFE
Rahmawati Peternakan Domba PT Alam Desa TAPOS 2. IE
Di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten 3. SWOT
4. QSPM
Bogor”
10. Sarpintono Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis LQ (Location
Peternakan Sapi Perah Di Provinsi Quation), AHP (Analycal
Bengkulu Hierachy Process) dan
SWOT.
11. Putri,S,C. Analisis Pendapatan dan Kontribusi Usaha R/C Ratio, BEP, dan SWOT
Suwandri. Ternak Ayam Buras Terhadap Pendapatan
Mustapit. Keluarga
serta Prospek Pengembangannya
12. (Kurniawan Strategi pengembangan agribisnis IFE dan EFE (lingkungan
dkk) peternakan ayam petelur di Kabupaten internal dan eksternal),
Tabanan analisis SWOT, dan analisis
QSPM.

13 (Isyanto, “Strategi pengembangan ayam sentul di SWOT


Dkk) Kabupaten Ciamis
14 Awwaluddin Strategi pengembangan ayam biromaru VCE 6 (Groneveld, 2008),
dalam upaya penyediaan bibit ayam PEST (Groneveld, 1999),
pedaging lokal dan SAS 9, menggunakan
Univariate Animal Model.
15 Syahri Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi 1. Reduksi data
Ramadoan dan produktivitas kelompok 2. Display Data,
Masoed Peternak ayam kampung unggul balitnak ( 3.Pengambilan kesimpulan
KUB) dan verifikasi data.

2.8 Kerangka Berfikir


Usaha peternakan ayam KUB memiliki beberapa permasalahan, diantaranya
minimnya penyuluhan dari lembaga terkait, sedikitnya penyediaan bibit,
penyediaan pakan KUB, manajemen pemeliharaan ayam KUB dan produksi
pemeliharaan ayam KUB belum masal. Diduga menjadi permasalahan kurang

21
22

berkembangnya peternakan ayam KUB di UD Surya Unggas Jaya. Diperlukan


sebuah rancangan strategi pengembangan usaha di tingkat peternak UD surya
Unggas Jaya untuk meningkatkan profitabilitas.
Manajemen strategi Menurut (David,2009) “manajemen strategi adalah seni
dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi
keputusan keputusan lintas fungsional yang memampukan sebuah organisasi
mencapai tujuanya. pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan, kebijakan
dan aksi utama dalam hubungan yang kohesif”. Penentuan strategi pengembangan
dilakukan dengan menganalisis faktor internal eksternal peternakan. Analisis
internal atau internal factor evaluation digunakan untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan perusahaan, sedangkan analisis eksternal atau eksternal factor
evaluation perusahaan digunakan untuk mengetahui peluang dan ancaman
perusahaan. Analisis IFE dan EFE merupakan bagian dari analisis (SWOT)
Strenght, Weakness, Opportunity, Threat. Analisis IE untuk mengetahui posisi
usaha. Beberapa aspek yang digunakan untuk analisis SWOT diantaranya :
menurut (David 2009) audit aspek internal perusahaan memerlukan data mengenai
manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produk/operasi, penelitian dan
pengembangan. Aspek eksternal perusahaan memerlukan data mengenai kekuatan
ekonomi, kekuatan sosial, budaya, demografis dan lingkungan, kekuatan politik,
kekuatan teknologi dan kekuatan kompetitif. (David, 2009).
Dari beberapa aspek tersebut diformulasikan dengan menggunakan matrik
SWOT guna untuk menghasilkan sebuah rumusan strategi usaha. Keputusan
strategis perusahaan perlu dipertimbangkan dengan melihat faktor internal yang
mencakup kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal yang mencakup
peluang dan ancaman. Oleh karena itu perlu adanya pertimbangan penting untuk
analisis SWOT (David, 2009). Menggunakan analisis tersebut, maka penyusunan
suatu rencana di dalam perusahaan dapat berjalan secara lebih maksimal. Tujuan
jangka panjang dalam perusahaan pun akan bisa dicapai dengan mudah. Analisis
SWOT mampu menghasilkan beberapa rumusan strategi guna untuk
pengembangan usaha.

22
23

Pengembangan usaha diperlukan sebuah prioritas strategi guna untuk


pengembangan usaha. Prioritas strategi pengembangan dapat dipecahkan dengan
menggunakan alat analisis yaitu AHP (Analytic Heararcy Process). AHP
merupakan sebuah alat pengambil keputusan dalam bisnis secara efektif atas
persoalan yang kompleks dengan cara menyederhanakan dan mempercepat proses
pengambilan keputusan. AHP digunakan sebagai alat analisis penentu skala
prioritas keputusan untuk pengembangan usaha dengan cara pengukuran relative
dari derajat kesukaan, kepentingan atau perasaan (Saaty, 1993). Prioritas
pengembangan sangat penting berhubungan dengan efektifitas dan poduktifitas
suatu usaha.
Penelitian ini berawal dari pengamatan lapangan, sehingga menemukan
sebuah permasalahan yang perlu dan sangat dibutuhkan untuk perbaikan usaha di
UD Surya Unggas Jaya. Penelitian tersebut diharapkan mampu mengembangkan
usaha peternakan ayam KUB di peternakan UD Surya Unggas Jaya Kecamatan
Gumukmas Kabupaten Jember.
Manajemen Strategis Pengembangan
Usaha Ayam KUB

1. Aspek pemasaran
IFE & EFE 2. Aspek sumber daya
manusia
3. Aspek produksi dan
operasional
IE
4. Kondisi ekonomi
5. Pelanggan/ pembeli
6. Pemasok
SWOT 7. Persaingan
8. Pangsa pasar
9. Aspek teknologi
Rekomendasi Strategi 10. Aspek sosial

Analisa AHP

Prioritas strategi pengembangan usaha peternakan Ayam KUB di UD


Surya Unggas Jaya Kecamatan Gumukmas Jember

Gambar 2.2 Kerangka Berfikir Penelitian

23

Anda mungkin juga menyukai