Anda di halaman 1dari 25

CRITICAL BOOK REPORT (CBR)

Dosen Pengampu : Dr. Candra Manik, M.Th

DISUSUN OLEH :

1. RINDHI PITALOKA KIRANA MARBUN : 4212530001


2. SURYA ALENTA NABABAN : 4211230017
3. THANAYA LOVRY LASTIAR : 4213230012

PROGRAM STUDI S1 MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MARET 2023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkatNya kami dapat ada sampai
saat ini. Tak lupa juga bersyukur untuk laporan yang telah saya kerjakan tepat waktu.
Critical Book Report ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dari 6 tugas dalam
KKNI terkhususnya untuk mata kuliah Agama. Tugas critical book report ini disusun
dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita semua. Oleh karena
itu, saya mengucapkan trimakasih kepada : ibu Candra Damanik M,Th selaku dosen
mata kuliah Agama di Universitas Negeri Medan, atas bimbingan dan segala
kesempatan yang telah diberikan kepada kami dalam penulisan Critical Book Report
ini. kami menyadari bahwa tugas Critical Bool Report ini masih jauh dari kata
sempurna oleh karena itu kami sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas ini. Atas perhatiannya kami
mengucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2023

Kelompok 5

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................................. 3


BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
BAB II ....................................................................................................................................... 6
RINGKASAN ISI BUKU ......................................................................................................... 6
BAB III .................................................................................................................................... 23
PENUTUP ............................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 24

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pada dasarnya semua buku yang telah ditulis oleh para penulis memiliki keunikan
masing-masing, namun ada juga diantaranya yang masih memiliki kekurangan,
hingga buku tersebut belum begitu sempurna untuk dipelajari, sehingga dibutuhkan
buku lain untuk melengkapi kekurangannya tadi. Dalam penulisan sebuah buku juga
seringkali terjadi kesalahan dalam penulisan atau pengetikkannya. Kesalahan tersebut
dapat berupa kesalahan dalam penempatan huruf kapital maupun spasi dalam kalimat.
Dalam mata kuliah ini, saya melakukan pengkritikkan buku karena kami ingin
melihat apakah buku-buku ini sudah cocok untuk digunakan sebagai buku panduan
belajar dan untuk melihat perbedaan dan persamaan dari kedua buku yang berbeda
penulisnya tentang suatu materi pembelajaran dan juga untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Agama.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah isi buku pertama sama dengan isi buku kedua?

2. Apa kekurangan dan kelebihan dari kedua buku tersebut?

C. Tujuan

1. Mengulas isi buku mengenai materi penjaga ciptaan Allah, untuk mengetahui garis
besarnya.

2. Mencari perbedaan dan kesamaan isi topik dari kedua buku tersebut.

3. Untuk memenui tugas Critical Book Report mata kuliah Agama.

4. Agar mampu berpikir sistematis dan kritis tentang Agama.

4
IDENTITAS BUKU

Buku Utama

1. Judul Buku : Pendidikan Agama Kristen


2. Penulis : Tim MPK Pendidikan Agama Kristen Universitas
Negeri Medan
3. Penerbit : CV.PARTAMA MITRA/SARI
4. Tahun Terbit : 2020
5. Kota terbit : Medan
6. Jumlah halaman : 144 halaman
7. ISBN : 978-602-1516-14-0

Buku Pembanding

1. Judul Buku : Agama Kristen Protestan


2. Edisi : Ke-4
3. Penulis : Prof.Dr. Risnawaty Sinulingga,M.Th
4. Penerbit : USU Press
5. Tahun Terbit : 2022
6. ISBN : 978-602-465-436-8

5
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

Ringkasan Buku 1

A. Pendahuluan

Alkitab menjelaskan bahwa ada dua macam Mandat Ilahi yaitu mandat ilahi
kultur (fisikal) dan mandat ilahi pembaharuan (rohani). Mandat ilahi pembaharuan
hanya dipercayakan kepada orang Kristen sedangkan mandate ilahi diberikan kepada
semua umat tanpa terkecuali. Dapat disimpulkan, dua mandat merupakan mandat
ganda yang harus diemban oleh manusia.

Dalam kejadian 1 : 28 ; 2 : 9 menjelaskan bahwa mandate ilahi menceritakan


tentang tugas manusia untuk menaklukkan , menguasai , mengerjakan, dan memelihara
ciptaan Allah. Sedangkan mandat ilahi spiritual dituliskan dalam kejadian 3 : 15 yang
disebut sebagai Proto Evangelium ( seri pertama injil )

B. Mandat Ilahi Pembaharuan

1. Pembaharuan dalam Matius 28 : 16-20

Yesus menyatakan pada murid-murid-Nya bahwa Ia diberi kuasa dibumi dan di


surga, itru artinya bahwa Dialah yang berkuasa atas semua yang ada di Dunia maupun
di surga. Tugas amanat agung adalah menjadikan murid Yesus Kristus. Dalam proses
pelaksanaan amanat agung, ada 3 langkah utama. Langkah pertama pergi. Inilah
Langkah dimana injiol diberitakan kepada mereka yang belum mengenal Yesus dan
mereka diberikan kesempatan untuk percaya kepada Dia sebagai Tuhan dan
Juruselamat mereka. Langkah kedua baptislah. Inilah Langkah dimana mereka yang
telah bertobat dan percaya kepada Yesus menggabungkan dirinya dengan Yesus dan
dengan gereja-Nya. Langkah ketiga ajarilah. Inilah Langkah dimana mereka yang telah

6
mengikuti Yesus menggabungkan diri dengan gereja-Nya yang dibina supaya mereka
bertumbuh sebagai seorang murid. Ruang lingkup dari amanat agung mencakup semua
bangsa. Janji Yesus adalah bahwa Dia akan menyertai sampai tugas amanat agung
diselesaikan

2. Pembaharuan dalam Markus 16:14-18

Lalu Ia berkata kepada mereka: pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil


kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi
siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang
yang percaya mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara
dalam bahasa- bahasa yang baru bagi mereka. Mereka akan memegang ular, dan
sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, meka akan
meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. Janji yang percaya
dan dibaptis akan diselamatkan. Inilah janji yang dikatakan Yesus kepada murid-
muridNya bahwa yang percaya dan dibabtis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus akin diselamatkan karena Dialah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6a)
Yang tidak percaya akan dihukum. Yesus mengatakan ini secara tegas kepada murid-
murid-Nya supaya masing-masing dari mereka mengemban tanggung jawab yang
diberikan-Nya. Dan supaya mereka juga memikirkan keselamatan orang lain.

3. Pembaharuan dalam Lukas 24:44-49

Ia berkata kepada mereka: inilah perkataan perkataan-Ku yang telah kukatakan


kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi
semua yang ada tertulis tentang Aku dalam Kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi
kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab
Suci. Kata-Nya kepada mereka: ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan
bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita
tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa,
mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim

7
kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal didalam kota ini
sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.

4. Pembaharuan dalam Yohanes 20 : 19-23

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-
murid Yesus disuatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut
kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri ditengah-
tengah mereka dan berkata: damai sejahtera bagi kamu! dan sesudah berkata demikian,
Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu
bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

5. Pembaharuan dalam Kisah Para Rasul 1 : 6-8

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul disitu: Tuhan maukah Engkau pada
masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? jawab-Nya: engkau tidak perlu mengetahui
masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan
menerima kuasa, kalau Roh Kudus Turun keatas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-
Ku di Yerusalem dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

C. Mandat Ilahi Pembagunan

1. Dasar Teologis

Nilai dari mandat kultural adalah temporal (sementara) apabila ia telah


dikawinkan dengan mandat Ilahi yang rohani yang bersifat kekal (Cris Marantika) Nilai
temporal tersebut dalam arti tertentu, dapat dilihat dalam pengertian bahwa akan
adanya langit dan bumi yang baru (Yes. 65:17) dimana yang sekarang ini akan
dilenyapkan (2 Pet. 3:10), namun demikian, mandat cultural adalah penting oleh karena
memang mandat ini diperintahkan oleh Allah kepada Adam dan Hawa (Kej. 1:28)
sebelum manusia jatuh ke dalam dosa (laungan Gultom).

Dari dua mandat ini manakah mandat yang orisinil? Banyak mengira bahwa
mandat Ilahi spiritual yang orisinil karena menyangkut penebusan dosa dan
pendewasaan umat. Kalau dilihat dari urutan peristiwa maka Mandat Ilahi yang Orisinil

8
adalah mandat Ilahi pembangunan karena mandat ini diberikan waktu manusia belum
jatuh kedalam dosa.

Kecendrungan dari pendukung lingkungan hidup adalah mengkritik bahwa


begitu disibukkan dengan keselamatan manusia, yaitu hubungan diantara Allah dengan
manusia, mereka sudah gagal untuk memberikan perhatian yang cukup kepada dunia
lahiriah. Oleh sebab itu, tekanan utama menurut pendukung lingkungan hidup adalah
membangun kembali doktrin penciptaan, sehingga baik alam dan sejarah, penciptaan
manusia dan non-manusia, diberikan pertimbangan teologis yang benar (Ian Barbour).

2. Panggilan Dalam Kitab Kejadian

Marilah kita menjadikan manusia menurut gambar Kita (Kej. 1:27). Allah
Tritunggal memiliki hubungan dengan manusia. Ada persekutuan antara laki-laki dan
perempuan. Ada persekutuan antara manusia dengan Allah Bapa, Allah Anak dan
Allah Roh Kudus (Kej. 1:1). Isyarat sebelum ayat 27 dengan ungkapan kita untuk
mengungkapkan penunjukkan akan persekutuan yang kekal antara Bapa, Anak dan
Roh Kudus dengan kata Allah (Elohim) (CharlesRairi). dalam Kejadian 1:2b Allah
menciptakan kehidupan sehingga manusia juga melahirkan kehidupan. Dalam mandat
ini manusia mengekploritasi alam dimana manusia mengusahakan, mengelola dan
memelihara alam. Kata Ibrani Kabash (menaklukkan) dan radah (berkuasa) didalam
Kejadian 1:28 dapat dipahami sebagai mandat mengekploitasi alam dalam arti
mengusahakan atau mengelola dan menjaga serta memelihara alam (Geremi Cohen).

Mandat Ilahi pembangunan rohani semakin berat bebannya setelah manusia


jatuh kedalam dosa. Ungkapan Lasabat Et-ha adamah, mengusahakan akibat dari
kejatuhan manusia tanah dalam Kej. 3:23 disebutkan sebagai dalam dosa dalam Kej.
3:17 mengatakan bahwa tanah terkutuk karena dosa Adam dan Hawa. Kejadian
bermaksud menyatakan bahwa sudah penghukuman akan dilihat sebagai pembalikan
yang ironis dari tujuan penciptaan manusia yang mula-mula. Hal itu menyatakan
kontras (Sail Haner).

3. Etika Lingkungan

9
Dalam Kej. 1:31 dikatakan bahwa Allah melihat segala yang dijadikannya itu sungguh
amat baik. Tentu ayat tersebut merupakan kesimpulan dari semua apa yang diciptakan
oleh Tuhan sudah sangat baik dan sempurna. Dalam kejadian 2:8-9 Allah membuat
Taman Eden disitulah Adam dan Hawa dapat memiliki segala ciptaan Allah. Allah
membuatkan pohon-pohon. Dalam kejadian 2:15 Tuhan Allah menempatkan manusia
di Taman Eden agar diusakan dan dipelihara Taman itu tujuannya adalah untuk
kebutuhan manusia.

4. Tindakan Manusia Terhadap Lingkungan

Dalam kejadian 3:5-6 dikatakan: tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu
kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tau
yang baik dan yang jahat, Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk
dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi
pengertian. lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga
kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Disini manusia telah melanggar hukum. Cobalah kita amati apa yang terjadi
dilingkungan kita. manusia tidak memelihara akan tetapi dengan seenaknya saja
mencemari sungai, membuang Sebagaimana mandat Ilahi kultur yang disampaikan
kepada manusia pada masa pra dosa, di Taman Eden dimana Allah berfirman agar
dunia ini dihuni, ditaklukan, dikuasai, dikerjakan dan dipelihara sebagai tempat tinggal
yang baik. Sesudah kejatuhan manusia dalam dosa. Tanggungjawab manusia
diperbesar lagi. Ini ternyata dari Firman Tuhan kepada Nuh sesudah air bah.

5. Manusia dan Alam

Allah mengasihi manusia. Itu sebabnya Yesus diutus ke dunia dan mati di kayu salib
supaya orang yang percaya kepada Yesus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal (Yoh. 3:16) Berbicara mengenai berkat dapat dibedakan menjadi 2 macam.
Pertama adalah berkat umum dan yang kedua adalah berkat khusus. Berkat umum
diberikan kepada setiap manusia tanpa terkecuali. Misalnya alam, hujan, matahari,
bulan dapat dinikmati oleh manusia. Berkat yang kedua adalah berkat khusus yang ada

10
didalam Yesus Kristus yaitu pengampunan dosa (injil sebagai berita keselamatan).
Berkat ini hanya diberikan kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus saja.
Terhadap langit dan bumi yang baru seperti yang terdapat dalam Wahyu 21:1-5 langit
dan bumi yang baru sebagai Firdaus yang hilang terpulihkan kembali.

6. Krisis Ekologi

Kerusakan lingkungan disebabkan krisis moral manusia. Dimana manusia


terlalu rakus dan serakah juga egois. keserakahan, kerakusan dan tidak bisa
mengendalikan diri membuat manusia itu memiliki sifat komsumerisme. Dosa telah
menyebabkan krisis moral bagi manusia. Sehingga berdampak terhadap Krisis Ekologi.
Keinginan merusak lingkungan sebagai wujud dari Krisis moral yang bersumber dari
hati dan pikiran manusia yang telah dikuasai oleh dosa. Disinilah perlu pertobatan atau
kelahiran baru bagi seseorang. Orang yang Kristen diingatkan akan bahaya dari
mencintai uang dan harta. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh kedalam pencobaan,
kedalam jerat dan kedalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan,
yang menenggelamkan manusia kedalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar
segalanya kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang
telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

7. Allah Menyelamatkan Ciptaannya

Ciptaan Allah atau alam adalah wujud dari kasih cinta Tuhan terhadap manusia. Itulah
sebabnya ciptaan Tuhan harus dipelihara dan dilestarikan bukannya dirusak. Tuhan
sudah memberikan akal budi kepada manusia dan satu-satunya dari ciptaan yang
memiliki akal budi diberikan tanggung jawab. Sebagaimana dikatakan di atas bahwa
manusia diberikan akal budi maka diberikan tugas khusus dalam menata Ekologi.
karena manusia memiliki akal budi maka manusia memiliki pengetahuan teknologi
atau kemampuan dalam memanipulasi atau mengubah ekosistem sesuai dengan apa
yang dibutuhkan manusia. Sehingga alam tidaklah dipisahkan dari keselamatan yang
telah diberikan kepada manusia. Dalam kitab Kejadian telah jelas bahwa semua ciptaan
Tuhan adalah baik adanya dan telah diserahkan kepada manusia untuk menanganinya.

11
Peranan imago Dei harus memiliki kesadaran penuh berperanan dalam pelestarian
lingkungan. Tema utama Alkitab berkenaan dengan Ekologi adalah mengembalikan
kehidupan manusia dan seluruh ciptaan kearah keharmonisan. Maka pada bagian akhir
Alkitab berbicara tentang ciptaan yang baru dibumi.

Ringkasan Buku 2

1.3 Pengantar

Dampak kerusakan alam sangat berpengaruh nyata bagi seluruh ciptaan.


Kerusakan alam pun pada gilirannya akan menghancurkan kehidupan manusia.
Berbagai upaya dalam mengantisipasi kerusakan lingkungan pun terus digalakkan
sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian manusia. Demikian halnya dengan
mahasiswa Kristen, perlu terus belajar menghayati dan memaknai ajaran Kekristenan
yang berhubungan dengan kondisi lingkungan yang sedang rusak.

2. Bahan Ajar

2.1 Persoalan Lingkungan, Penyebab, dan Dampaknya

Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan manusia mengakibatkan krisis


lingkungan. Krisis lingkungan saat ini menjadi persoalan global dan universal, karena
menyangkut keberadaan dan kehidupan di dunia tanpa terkecuali. Tindakan eksploitatif
manusia terhadap lingkungan telah memperlihatkan bagaimana cara pandang manusia
terhadap alam. Memang berbagai kasus eksploitasi terlahap lingkungan alam sering
sekali terjadi atas motif dan kepentingan tertentu, seperti ekonomi, politik, dan lain-
lain. Tinambunan menyatakan bahwa lahir dan berkembangnya industri komersial
menyebabkan manusia melalukan eksploitasi terhadap alam. Namun apa pun motifnya,
tindakan. eksploitatif ini turut dipengaruhi oleh pandangan yang terkonstruksi oleh
motif dan kepentingan tersebut di atas mengenai alam. Cara pandang itu
mengakibatkan tidak diperhitungkannya alam sebagai bagian dari diri manusia, serta
alam berada dalam posisi subordinat. Keberadaan alam dipahami sebagai penunjang

12
kebutuhan manusia semata sehingga dapat diperas habis-habisan dengan motif
"kepentingan manusia bersangkutan".

Manusia dipahami terpisah dari alam dan menjadi subyek dalam menggarap
alam semesta. Alam semesta tidak dilihat sebagai satu kesatuan dalam
keberlangsungan hidup semesta ciptaan. Pandangan tersebut di atas menurut Chang
menjadi sumber krisis lingkungan. Pandangan yang mirip juga ditemukan pada tradisi
teologi Kristen di dalam menafsirkan teks-teks Alkitab yang cenderung bernada
antroposentris. Lynn White Jr. menegaskan bahwa akar historis dari krisis lingkungan
yang kita alami sekarang adalah pandangan orang Kristen yang arogan terhadap alam
dan hal ini didasarkan pada perintah Tuhan kepada manusia untuk memenuhi dan
menaklukkan bumi (Kej. 1:28). Menurutnya, dalam teologi Kristen alam dipandang
hanya sebagai unsur ciptaan yang keberadaannya hanyalah untuk mendukung
kebutuhan manusia. Alam pada dirinya sendiri tidak memiliki banyak arti dan baru
mempunyai arti jika ia memberikan apa yang diperlukan oleh umat manusia. Jadi
perintah Allah tersebut dianggap sebagai sebuah legitimasi status manusia sebagai
penguasa alam karena mereka adalah wakil Allah yang bertanggung jawab atas seluruh
ciptaan-Nya. Dan pengertian tanggung jawab itu lebih mengarah kepada sesuatu yang
subordinatif yaitu sejauh unsur-unsur alam tersebut melayani kebutuhan manusia.
Sebagian orang memiliki pandangan berdasarkan penjelasan yang dikemukakan atas.
Cara pandang seseorang akan sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya. Jika
sesuatu hal dipandang sebagai berguna dan penting, maka sikap dan perilaku terhadap
sesuatu itu lebih banyak bersifat menghargai. Sebaliknya, jika sesuatu hal dipandang
dan dipahami sebagai sesuatu yang tidak berguna dan tidak penting, maka sikap dan
perilaku yang muncul lebih banyak bersifat mengabaikan, bahkan merusak.

2.2 Berbagai Paradigma Tentang Etika Lingkungan Hidup

Relasi yang terjalin antar manusia dengan lingkungan selama ini mengalami
masalah, yang diakibatkan kesewenang-wenangan manusia terhadap lingkungannya.

13
Oleh sebab itu, manusia harus memiliki kaidah yang mengatur tindakan manusia
terhadap lingkungan. Kaidah yang dimaksud adalah etika lingkungan. Secara
etimologi etika berasal dari bahasa Yunani ethos (jamaknya : ta etha) yang berarti adat
istiadat atau kebiasaan. Kebiasaan hidup yang baik ini lalu dibakukan dalam bentuk
kaidah yang kemudian disebarluaskan, dikenal, dipahami dan diajarkan secara lisan
maupun tulisan dalam masyarakat.

Etika lingkungan adalah disiplin ilmu yang membahas norma moral tentang
perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam. Dalam hal ini, etika lingkungan
tidak hanya menyangkut hubungan antar manusia dengan manusia yang lain, tetapi
juga dengan lingkungan atau alam. . Perkembangan pemikiran di bidang etika
lingkungan menghasilkan beberapa paradigma etika yang menentukan pola perilaku
manusia terhadap lingkungan, yaitu Antroposentrisme, Biosentrisme, dan
Ekosentrisme.

2.2.1. Antroposentrisme

Antroposentrisme adalah salah satu dari beberapa paradigma etika lingkungan.


Menurut paradigma ini, manusia adalah pusat dari sistem alam semesta dan nilai
dianggap hanya berlaku bagi manusia. Manusia dianggap berada di luar, di atas, dan
terpisah dari alam. Sementara itu, etika antroposentris memiliki pandangan bahwa alam
adalah alat bagi kepentingan manusia. Alam dikenali hanya sebagai obyek dan sarana
bagi pemenuhan kepentingan serta pencapaian tujuan manusia. Antroposentrisme ini
pada dasarnya berakar pada filsafat Barat, yang bermula dari Aristoteles. Kesalahan
fundamental dari paradigma ini mencakup dua hal pokok, yaitu:

• Pertama, Manusia hanya dipahami sebagai makhluk sosial (social animal),


yang seluruh keberadaan dirinya ditentukan berdasarkan hubungan sosial.
Menurut pemahaman ini, manusia hanya bisa berkembang menjadi dirinya
secara eksistensial dalam interaksi dengan sesama manusia. Hakikat dan
identitas dirinya dibentuk oleh komunitas sosialnya sebagaimana dia sendiri
ikut membentuk komunitas sosial tersebut.

14
• Kedua, Alam dipahami tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Filsafat
Barat yang antroposentris beranggapan bahwa etika hanya berlaku bagi
komunitas manusia. Karena itu, segala macam nilai dan norma moral hanya
berlaku bagi komunitas manusia belaka. Ini berarti kewajiban dan tanggung
jawab moral hanya berlaku dan relevan bagi relasi sosial antara manusia yang
satu dengan manusia yang lain. Kewajiban dan tanggung jawab moral, segala
perintah dan larangan serta perilaku baik, tidak relevan untuk hubungan antara
manusia dengan alam. Konsekuensinya, manusia tidak mempunyai tanggung
jawab dan kewajiban untuk menghormati, menjaga dan memelihara alam,
sebagaimana tanggung jawab dan kewajibannya terhadap sesamanya.

2.2.2. Biosentrisme

Bagi biosentrisme, tidak benar bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai.
emikiran biosentrisme menekankan bahwa makhluk hidup mempunyai nilai
intrinsik (nilai pada dirinya sendiri). Setiap makhluk hidup pantas mendapatkan
perhatian dari manusia. Menurut Paul Taylor, paradigma biosentris didasarkan
pada empat keyakinan, yaitu:

• Keyakinan bahwa manusia merupakan anggota dari komunitas kehidupan


di bumi, sama seperti makhluk hidup lain, yang juga adalah anggota dari
komunitas yang sama.
• Keyakinan bahwa spesies manusia bersama dengan semua spesies lain
adalah bagian dari sistem yang saling tergantung sedemikian rupa, sehingga
kelangsungan hidup dari seluruh makhluk, serta peluangnya untuk
berkembang biak atau sebaliknya, tidak ditentukan oleh kondisi fisik
lingkungan alam (abiotik) melainkan oleh relasinya makhluk hidup satu
dengan yang lain (biotik).
• Keyakinan bahwa semua makhluk hidup adalah pusat kehidupan yang
mempunyai tujuan hidup sendiri. Artinya, setiap makhluk hidup memiliki
keunikan dalam mengejar kepentingannya sesuai dengan caranya sendiri.

15
• Keyakinan bahwa manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul dari
makhluk hidup lain. Hal ini menunjukkan adanya penolakan terhadap
superioritas manusia di hadapan yang lain.

Taylor menambahkan bahwa manusia seharusnya menghargai alam. Sikap menghargai


alam ini diwujudkan melalui empat kewajiban, yaitu:

• Kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dan segala
isinya (no harm).
• Kewajiban untuk tidak mencampuri (non-interference). Artinya manusia tidak
membatasi dan menghambat kebebasan makhluk hidup untuk berkembang dan
hidup secara leluasa di alam ini, antara lain tidak memindahkan mereka dari
habitatnya yang asli.
• Kewajiban untuk tidak memperdaya, menjebak, dan menjerat binatang liar.
Dalam hal ini binatang liar perlu dijaga dan dibiarkan hidup di alam bebas.
• Kewajiban untuk memulihkan kembali manusia dari kesalahan yang
menimbulkan kerugian terhadap alam, dalam bentuk kerusakan atau
pencemaran lingkungan (kewajiban retributif).

2.2.3. Ekosentrisme

Ekosentrisme menekankan keterkaitan seluruh komunitas biotik dengan abiotik


dalam ekosistem. Setiap anggota komunitas tersebut memiliki kepentingan masing-
masing, namun dalam hal ini setiap anggota tersebut memiliki keterkaitan yang saling
menguntungkan. Oleh sebab itu, harus ada keseimbangan hubungan yang baik dalam
sebuah ekosistem. Keterkaitan itu dapat dilihat dari hubungan kehidupan manusia
dengan anggota komunitas lainnya dalam ekosistem. Dalam paradigma ekosentris,
manusia dipandang sebagai makhluk ekologis, yaitu makhluk yang hanya bisa hidup,
berkembang dan berproses menjadi dirinya sendiri jika berada dalam kesatuan yang
hakiki dengan alam lingkungannya. Oleh sebab itu, manusia tidak bisa hidup jika hanya
berelasi dengan komunitas sosialnya. Posisi manusia sebagai bagian dari alam,

16
mewajibkan manusia untuk peduli terhadap alam. Dengan demikian, manusia memiliki
tanggung jawab moral terhadap seluruh ciptaan.

2.3. Berteologi dalam Konteks Krisis Ekologi

Berteologi dalam konteks krisis ekologi berarti berteologi terhadap penderitaan yang
dialami oleh lingkungan hidup akibat kerusakan lingkungan yang sudah mengglobal
yang disebabkan oleh ulah manusia. Sikap dan perilaku manusia yang sewenang-
wenang terhadap lingkungan menjadikan lingkungan semakin mengalami krisis,
bahkan kondisi saat ini menunjukkan bahwa lingkungan hidup sedang menuju
kehancuran.

Menurut Borrong ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam rangka
berteologi dalam konteks ekologi di Indonesia, yaitu:

1. Latar belakang faktor-faktor penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup di


Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain: pertumbuhan ekonomi yang telah
mengakibatkan kerusakan hutan karena pengalih-fungsian lahan untuk pertanian dan
perumahan, pertambangan, dan sebagainya), pencemaran air (sungai, danau, dan laut)
dengan bahan-bahan kimia, seperti limbah industri, pestisida, pupuk, pencemaran
udara bah industri, penggunaan bahan bakar kendaraan), dan sebagainya.

2. Perlu memperhatikan tema dan topik teologi yang menjadi acuan teologi ekologi
yaitu tema-tema utama teologi biblis: teologi penciptaan, teologi perjanjian, teologi
penebusan dan teologi eskato logi serta peran khusus manusia dalam alam. Tema-tema
tersebut perlu dilihat dalam relasinya dengan teologi dalam konteks ekologi.

3. Pendekatan teologi ekologi, yaitu antroposentrik, ekosentrik dan teosentrik (sudah


dijelaskan di sub bab sebelumnya).

17
2.4. Keberlangsungan Hidup Semesta Ciptaan : Allah - Manusia - Ciptaan
Lainnya

2.4.1. Allah dan Semesta Ciptaan

Manusia berasal dari Allah. Allah membentuk manusia dari debu tanah (Ibr.
adamah).

o Di satu pihak digambarkan kefanaan manusia karena berasal dari debu tanah.
o Di pihak lain digambarkan ketergantungan manusia pada Allah yang daripada-
Nya nafas manusia berasal.

Ini menggambarkan hakikat manusia yang unik sebagai ciptaan Allah. Allah
meniupkan nafas kepada manusia. Jelaslah bahwa apa yang ditiupkan Allah ke dalam
manusia adalah "napas kehidupan" (br nishmat khaim). Hal ini mengandung arti bahwa
Allah Pencipta adalah Allah yang hidup karena la memiliki nishmat khaim yang Dia
transfer kepada manusia sebagai gambar-Nya (Kej 1:26). Dengan demikian manusia
memiliki sebahagian karakter yang Allah miliki dan manusia itu mencerminkan
karakter tersebut.

Allah Pencipta adalah Allah yang berkarya. Dalam narasi penciptaan,


dikemukakan bahwa Allah memberikan perintah kepada manusia. Perintah ini tidak
dapat dijadikan dasar dari penetapan status manusia sebagai penakluk bumi dan
penguasa dunia Kata "perintah’ (Ibr waytsaw) memperlihatkan Allah berada pada
posisi penguasa yang memberi tugas kepada manusia (Kej 1:28). Tugas penatalayanan
ini sendiri dapat dipahami sebagai pendelegasian kuasa Allah pada manusia. Oleh
pelaksanaan tugas itulah manusia menghidupi dan mengaktualisasikan dirinya sebagai
manusia. Allah mengambil manusia yang telah dibentuknya itu dan menempatkannya
ke dalam taman Eden (Kej 2:15).

2.4.2 Manusia dan Ciptaan Lainnya

Sebagai ciptaan, manusia itu diciptakan Allah dengan segala keberadaannya.


Keberadaan manusia sebagaimana makhluk lainnya memiliki keterkaitan dan

18
ketergantungan terhadap lingkungannya. Manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa
adanya dukungan dari lingkungannya. Relasi manusia dan lingkungan merupakan
hubungan timbal balik karena manusia hidup di alam lingkungan hidup dan alam
sebagai lingkungan hidup juga membutuhkan manusia. Jadi, keduanya saling
membutuhkan untuk pelestariannya. Segala yang ada pada lingkungan dapat
dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, karena
lingkungan memiliki daya dukung yaitu kemampuan lingkungan uk mendukung
perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam narasi penciptaan dapat
dipelajari bahwa hubungan manusia dan ciptaan lainnya sangat erat. Hubungan tersebut
dapat dipahami dalam relasi simbiosis mutualisme antara manusia dengan ciptaan yang
lain. bernafas. Dan sebaliknya, tumbuhan mengeluarkan Oksigen yang dibutuhkan oleh
manusi an binatang untuk bernafas.

2.5. Tanggung Jawab Umat Kristen sebagai Penjaga Ciptaan Allah

Pada prinsipnya, Allah sudah memberikan segala sesuatu yang baik kepada
manusia. Pemberian Allah tersebut, seharusnya digunakan oleh manusia dengan penuh
tanggung jawab. Manusia juga berkewajiban untuk menjaganya. Kepada manusia
dipercayakan Allah tugas dan tanggung jawab untuk mengambil prakarsa dan berkarya
demi kepentingan manusia dan seluruh ciptaan. Oleh sebab itu, manusia diberi
kemampuan dan kesempatan untuk menyelidiki, mengerti, mengolah memelihara, dan
memanfaatkan alam semesta. Tanggung jawab manusia terhadap alam dapat dikatakan
juga sebagai bentuk wujud solidaritas manusia terhadap alam. Manusia didorong untuk
mengambil sebuah kebijakan yang pro terhadap lingkungan, sehingga manusia dapat
menjaga seluruh ciptaan dengan benar. Secara khususat Kristen juga bertanggung
jawab dalam menjaga seluruh ciptaan Allah. Tanggung jawab yang diberikan kepada
umat Kristen dalam narasi penciptaan tetap berlanjut sampai sekarang. Tugas dan
tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan ekologis, yaitu tindakan
yang menghargai alam. Dalam hal ini, tugas yang Allah berikan kepada umat Kristen
tidak saja untuk memelihara atau merawat tetapi juga membaharui atau menata kembali
lingkungan hidupnya yang telah tercemar akibat bermacam-macam

19
ketidakseimbangan. Tugas tersebut harus direalisasikan sehingga lingkungan hidup
menjadi lebih baik, lebih indah, bahkan terhindar dari bahaya perusakan kembali.

Dengan demikian, keluhuran umat Kristen sebagai citra Allah terletak dalam
tanggung jawabnya bersama Allah untuk ikut dalam memelihara keutuhan seluruh
alam. Umat Kristen dipanggil Allah untuk turut serta dalam memelihara keutuhan
ciptaan. Umat Kristen sebagai citra Allah adalah ko-operator atau ko-kreator dari Sang
Pencipta dalam tindakan kreatif mentransformasikan, membentuk kembali, melahirkan
kembali dan memelihara alam semesta.

3. Kesimpulan dan Implikasi Serta Evaluasi dan Sumber Belajar

3.1. Kesimpulan dan Implikasi

Persoalan ekologi dewasa ini menjadi sebuah wacana aktual yang mendapat
sorotan hangat dari berbagai kalangan, sebab tidak dapat dipungkiri krisis ekologi yang
terjadi mengakibatkan keberlangsungan hidup seluruh ciptaan terganggu. Bukan saja
manusia, ciptaan mengalami penderitaan akibat krisis yang terjadi. Berkaitan dengan
itu, maka berbagai upaya dalam mengatasi dan mengantisipasinya pun terus digalakkan
sebagai sebuah kepghatinan, kepedulian dan juga pertanggung jawaban iman kepadah

Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya untuk mencari asal-muasal berbagai


persoalan ekologi juga terkait dengan penghayatan atau pemaknaan terhadap ajaran-
ajaran agama yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan itu berarti bahwa setiap orang
Kristen khususnya mahasiswa Kristen memiliki tugas dan tanggung jawab dalam
memelihara semesta ciptaan

Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah kepada
manusia diwujudnyatakan melalui sikap manusia untuk mengusahakan dan
memelihara segala ciptaan bukan menggunakan sumber daya alam secara obral-
obralan untuk atau mengeksploitasi alam. Manusia diberi hak untuk mempergunakan
sumber daya alam dan menikmati seluruh ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
Dalam arti bahwa manusia sebaiknya menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dan
bertanggung jawab dalam membangun dan menciptakan kelestarian hidup. Segala

20
kegiatan konstruktif manusia pada hakikatnya merupakan partisipasi dalam karya
kimatif Allah

Kelebihan dan Kekurangan Buku Utama

Kelebihan

➢ Didalam buku ini sebelum mulai membahas materi yang dibahas, terlebih
dahulu menyampaikan apa tujuan pembelajaran yang akan dijalani, kompetensi
dasar pembelajaran, indicator pembelajaran serta peta konsep yang dapat
memudahkan kita mengetahui kemana arah pembelajaran yang kita terima.
➢ Setiap akhir bab disertai dengan latihan untuk menguji seberapa jauh
pemahaman terhadap materi yang dibahas, serta juga menyertakan latihan UAS
sehingga kita dapat mengetahui seberapa besar yang kita dapat dalam satu
semester.
➢ Disertai dengan glosarium sehingga kita bisa mengetahui arti dari kata-kata
yang kurang kita mengerti.
➢ Disusun sedemikian rupa dengan judul-judul besar yang saling berkaitan.

Kekurangan

➢ Dalam buku ini khususnya di materi yang dibahas, tidak terlalu lengkap.
Sehingga pembaca sebaiknya perlu mencari buku kain sebagai bahan referensi.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Pembanding

Kelebihan

➢ Penulis dalam menyajikan buku ini selalu disertai dengan sumber penulis
memaparkan contoh yang konkret dari informasi tersebut mengenai special
moment : bukan anak-anak ituyang bermasalah, jadi setiap teory ataupun
pendapat selalu disertai dengan sumberyang jelas. Hal ini menjadi nilai plus

21
bagi buku ini ,penyertaan sumber dapatmembuat pembacayakin bahwa buku
ini sangat dipercaya.
➢ Buku ini cocok digunakan untuk mahasiswa sebagai panduan dan pedoman
untuk menambah pengetahuan tentang cara mengajar yang baik. Buku ini juga
bisa dijadikan sebagai dasar pengetahuan mahasiswa untuk melanjutkan
perkuliahan disemester berikutnya.

Kekurangan

➢ Pembahasan dalam buku ini terbelit-belit sehingga susah untuk dipahami oleh
peserta didik.
➢ Bahasanya terlalu rumit untuk dipahami sehingga pembaca sulit untuk
memahaminya sehingga menjadikan pembaca harus mengulang agar bisa
memahaminya.

22
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Kedua buku menjelaskan materi dengan penjelasan yang berbeda namun


intinya sama, buku pertama dijelaskan dengan rinci namun, kurang dalam memberi
penjelasan-penjelasan umum yang mendukung topik utama. buku kedua menjelaskan
materi dengan padat namun banyak narasi yang berpandanan dengan poin-poin
sederhana, namun hanya terdapat sedikit sub-subbab.

B. Saran

Menurut kami, kalau ingin memperdalam tentang materi ini sebaiknya


membaca bukunya dipadu padankan saja. Baik menggunakan buku pertama atau kedua
kalau hanya menggunakan satu saja kurang lengkap rasanya. Untuk buku pertama
sebaiknya lebih diperbanyak lagi penjelasan-penjelasan umumnya lagi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Tinambunan, Vektor., Gereja dan Orang Percaya (Pematang Siantar : L-SAPA STT
HKBP,2006)
Borrong, Robert., p., Kronik Ekoteologi: Berteologi dalam konteks krisis
Lingkungan, Stulos17/2 (Juli 2019)
Setio S,S., “Paradigma Ekologis dalam Membaca Alkitab,” dalam forum Biblika
No.14, 2001

24
25

Anda mungkin juga menyukai