Anda di halaman 1dari 27

Rumah Adat Bugis

FIKHI IKRIMAH (24314203)


GHAISANY IZEBELLE H (24314503)
NURUL AZMI Y (28314257)

Sejarah

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero.


mereka datang secara bergelombang. Gelombang pertama adalah
Melayu Tua yakni nenek moyang suku Toraja. Gelombang kedua adalah
Melayu Muda (Deutro melayu) yang merupakan nenek moyang suku
Bugis, Makassar, Mandar dan suku lainnya selain suku Toraja.

Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis atau
orang-orang pengikut dari La Sattumpugi (Raja pertama pada jaman
dulu)

Suku Bugis menggunakan bahas pengantar Bahasa " Ugi " dan telah
memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam
bentuk "Lontara". Huruf yang dipakai adalah "Aksara Lontara".

Pola Perkampungan Bangsa Bugis :

Pallaung Ruma (Kampung Petani), yaitu kawasan perkampungan


tersebut didiami oleh masyarakat yang mata pencahariannya bertani.

Pakkaja (Kampung Nelayan), yaitu kawasan perkampungan tersebut


didiami oleh masyarakat yang mata pencahariannya nelayan.

Matowa / Pangulu ( Kepala Kampung )

Jenis Rumah Bugis


Berdasarkan lapisan sosial penghuninya:

Sao Raja atau Salassa, yakni rumah besar yang didiami oleh keluarga
Anakkarung (bangsawan). Rumah ini memiliki tiang dengan tangga
beralas bertingkat di bagian bawah kemudian menggunakan Sapana
(atap di atasnya) dengan bubungan rumah bertingkat tiga atau lebih.

Sao Piti yakni rumah agak kecil yang didiami oleh keluarga To
maradeka tidak menggunakan sapana dan bubungannya hanya dua.

Bola (Rumah biasa), yakni rumah yang didiami oleh masyarakat


umumnya.

Saoraja

Bola (Rumah Biasa)

Ciri khas rumah bugis yang memanjang

ZONING

Pembagian Ruang

Lontang Saliweng (Ruang Depan) yaitu berfungsi menerima tamu,


tempat tidur tamu, tempat musyawarah, tempat membaringkan mayat
sebelum dikebumikan,dan sebagai tempat berkomunikasi bagi orang
luar yang sudah diizinkan masuk. Sebelum memasuki ruangan ini maka
orang luar (tamu) diterima dahulu di "Tamping" atau ruang transisi.

Lontang Retengngah (Ruang tengah) yaitu berfungsi sebagai


tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa,
tempat makan,tempat melahirkan. kegiatan yang bersifai informal
(kekeluargaan) bertempat diruang ini.

Lontang Laleng (Ruang Dalam) berfungsi sebagai tempat tidur anak


gadis dan nenek/kakek. karena anggota keluarga ini dianggap perlu
mendapat perlindungan dari anggota keluarga.

Khusus untuk Saoraja ada tambahan dua ruangan


lagi, yaitu :

1.Lego-lego
Berfungsi sebagai tempat duduk tamu sebelum masuk dan tempat

menonton bila ada acara di luar rumah.

2.Dapureng (Dapur)
terletak di belakang atau samping yang berfungsi untuk ruang

memasak dan menyimpan peralatan masak

Pola Penataan Stilistika

Rakkiang

Rakkiang terdiri dari loteng dan atap.

Atapnya berbentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut TIMPA' LAJA
yang bertingkat-tingkat dari tiga sampai lima tingkat. Bentuknya berbeda antara
Saoraja dan Bola. Bagian ini merupakan sebagai kepala bangunan.

Pada Saoraja terdapat 'Timpa' Laja' Timpa' Laja yang bertingkat lima
menandakan rumah tersebut adalah kepunyaan bangsawan tinggi.

Timpa' Laja bertingkat empat adalah milik bangsawan yang memegang


kekuasaan dan jabatan.

Bagi bangsawan yang tidak memiliki jabatan pemerintahan, rumahnya hanya


memilki tiga tingkat.

Bagi rakyat biasa dalam kelompok To Maradeka dapat juga memakai Timpa' Laja
pada rumahnya, tetapi hanya dibenarkan maksimal dua tingkat saja.

Pintu (Tange/Babang)

Berfungsi untuk jalan keluar/masuk rumah.

Tempat pintu biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap.

Misalnya bila ukuran rumah 7 depa maka pintu harus diletakkan pada
depa yang ke-6 atau ke-4 diukur dari kanan rumah.

Penempatan pintu yang tidak tepat pada bilangan genap dapat


menyebabkan rumah mudah untuk dimasuki pencuri atau penjahat
lainnya.

Jendela (Tellongeng)

Berfungsi untuk ventilasi udara dan tempat melihat ke luar rumah.

Peletakannya biasanya pada dinding diantara dua tiang bangunan


rumah.

Untuk memperindah bagian bawah Jendela (Tellongeng) biasanya


ditambahkan hiasan berupa ukiran atau terali dari kayu dengan jumlah
bilangan ganjil.

Jumlah terali dapat menunjukkan status penghuninya. Jika jumlah terali


3-5 menunjukkan rakyat biasa dan jika 7-9 menunjukkan rumah
bangsawan

Hiasan (Belo-belo)
Ragam hias dari flora
berupa sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya menggunakan teknik
pahat tiga dimensi yang membentuk lubang terawang. Bentuk demikian
selain menampakkan keindahan karena adanya efek pencahayaan yang
dibiaskan juga dapat menyalurkan angin dengan baik.

Ragam hias fauna

bentuk kepala kerbau yang di simbolkan sebagai bumi


yang subur, penunjuk jalan binatang tunggangan dan
status sosial. Biasanya ditempatkan pada pucuk depan
atau belakang bubungan untuk rumah bangsawan.

bentuk naga yang di artikan simbol wanita yang sifatnya


lemah lembut, kekuatan yang dahsyat.

bentuk ayam jantan diartikan keuletan dan keberanian


agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan
baikdan membawa keberuntungan.

Ragam hias kaligrafi


biasanya ditempatkan pada bangunan peribadatan atau Langgar/masjid.

STRUKTUR

Pola Penataan Struktur

Bahan bangunan utama yang banyak digunakan umumnya kayu. Bahan bangunan yang
biasanya digunakan : Kayu Bitti, Ipi, Amar, Cendana, Tippulu, Durian, Nangka, Besi, Lontar,
Kelapa, Batang Enau, Pinang, Ilalang dan Ijuk.

Dinding dari anyaman bambu atau papan.

Atap dari daun nipah, sirap atau seng.

Sistem struktur menggunakan rumah panggung dengan menggunakan tiang penyangga dan
tidak menggunakan pondasi.

Rumah tradisional yang paling tua, tiang penyangganya langsung ditanam dalam tanah.

Tahap yang paling penting dalam sistem struktur bangunan adalah pembuatan
tiang(aliri/aliri).Tiang utama ( alliri ), biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya.
jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari
3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.

Ciri-ciri Struktur Rumah Orang Bugis Antara Lain


Adalah:

Minimal memiliki empat petak atau 25 kolom (lima-lima) untuksaoraja/sao rjdan tiga petak atau 16 kolom (untukbola/bol)

Bentuk kolom adalah bulat untuk bangsawan, segiempat dan


segidelapan untuk orang biasa

Terdapat pusat rumah yang disebutdi Pocci/poci(posi bola/posi bol)


berupa tiang yang paling penting dalam sebuah rumah, biasanya
terbuat dari kayu nangka atau durian; letaknya pada deretan kolom
kedua dari depan, dan kedua dari samping kanan.

Tangga diletakkan di depan atau belakang, dengan ciri-ciri:


- Dipasang diale bola/ael bolatau dilego-lego/elgo elgo.
- Arahnya ada yang sesuai dengan panjang rumah atau sesuai dengan

lebar rumah.

Atap berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup


bagian muka atau bagaian belakang rumah

Lantai (dapara/dpr,salima/slim) menurut bentuknya bisa rata dan tidak


rata. Bahan yang digunakan adalahpapan atau bamboo.

Dinding (renring/rERi,rinring/riri) terbuat dari kulit kayu, daun rumbia,


atau bambu.

Jendela (tellongeng/etloeG) jumlahnya tiga untukrakyat biasa, tujuh


untukbangsawan

Pintu (tange sumpang/tGE suP) diyakini jika salah meletakkan dapat


tertimpa bencana, sehingga diletakkan dengan cara sebagai berikut:

Jika lebar rumah sembilandepa, maka pintu diposisikan pada depa ke8; artinya lebar rumah selelu ganjil dan pintu diletakan pada angka
genap.