Anda di halaman 1dari 27

Pengerolan Logam

Aris Hendaryanto, S.T., M.Eng.


Departemen Teknik Mesin SV-UGM
Pengerolan Logam
Pengerolan adalah proses deformasi plastis
terhadap logam dengan cara melewatkan
logam tersebut di antara rol yang berputar.
Pada pengerolan logam benda kerja dikenai
gaya tekan yang tinggi yang berasal dari
gerakan jepit rol dan gaya gesek permukaan
sebagai akibat gesekan antara rol dan logam.
Pengerolan Logam
Pengerjaan ini banyak digunakan terutama
untuk pengerjaan primer logam seperti
pembuatan balok-balok kasar dan billet yang
biasanya dilakukan dengan pengerolan panas
yang kemudian dilanjutkan dengan
pengerolan panas lainnya untuk menghasilkan
batang, balok, rel dan bentuk struktur lainnya.
Sedangkan pengerolan dingin untuk
menghasilkan lembaran tipis dengan hasil
akhir permukaan yang baik dan ketelitian
ukuran yang tinggi.
Pengerolan
sebagai proses
pengerjaan primer
dan sekunder
Pengerolan Logam
Pengerolan adalah proses deformasi dimana
ketebalan logam dikurangi oleh gaya tekan yang
diberikan oleh dua buah rol yang berlawanan.
Rol yang berputar akan menarik dan sekaligus
menekan benda kerja yang berada di antara dua
rol tersebut.
Tujuan utama pengerolan panas ataupun dingin
adalah untuk mengurangi ketebalan penampang
persegi panjang logam, biasanya akan diikuti
oleh terjadinya sedikit penambahan lebar dan
penambahan panjang pada logam.
Klasifikasi Proses Pengerolan Logam
Proses pengerolan dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar yaitu:
Pengerolan rata (flat rolling)
Pengerolan profil (shape rolling).
Pengerjaan lain yang juga termasuk dalam
kategori pengerolan (pengerolan khusus)
adalah:
Pengerolan ulir
Pengerolan roda gigi
Pengerolan cincin (ring rolling)
Pengerolan untuk pembuatan lubang tembus (roll
piercing).
Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Pengerolan Profil (Shape Rolling)
Pengerolan Ulir (Thread Rolling)
Pengerolan Roda Gigi (Gear Rolling)
Pengerolan Cincin (Ring Rolling)
Pengerolan Logam
Pengerolan logam pada umumnya dapat
digolongkan berdasarkan jumlah dan susunan
rol.
Tipe susunan rol yang paling sederhana dan
paling umum digunakan pada industri
pengerolan adalah pengerolan logam 2-high.
Arah pengerolan ada yang bisa bolak-balik
maupun hanya searah saja.
Pengerolan Logam

Various configurations of rolling mills: (a) 2-high, (b) 3-high, (c) 4-high, (d) cluster mill, and
(e) tandem rolling mill.
Pengerolan Logam
Pada umumnya industri proses pengerolan sangat padat
modal, karena membutuhkan peralatan yang berukuran
besar, yang disebut rolling mills.
Sebagian besar proses pengerolan dilakukan dengan
proses pengerjaan panas, yang disebut pengerolan panas.
Logam hasil pengerolan panas pada umumnya bebas dari
tegangan sisa, dan sifat-sifatnya hampir merata.
Kekurangan pengerolan panas adalah bahwa produk
tersebut tidak dapat menghasilkan produk dengan
toleransi dimensi yang ketat dan permukaan produk tidak
halus.
Pelat hasil pengerolan panas digunakan dalam pembuatan
kapal, jembatan, boiler, struktur yang dilas, alat-alat berat
dan banyak produk lainnya.
Pengerolan Logam
Pelat-pelat hasil pengerolan panas selanjutnya
diproses pengerolan dingin dalam rangka
mempersiapkan logam untuk proses sheet
metal berikutnya.
Pengerolan dingin akan memperkuat logam
dan toleransi dimensi yang ketat dapat
dicapai dengan mudah dan permukaan yang
bebas dari kerak sehingga mempunyai
permukaan akhir yang halus.
Karakteristik ini membuat lembaran, strip, dan
gulungan pelat hasil pengerolan dingin ideal
untuk stamping, panel eksterior, mobil
maupun peralatan perkantoran dan rumah
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Flat rolling termasuk untuk pengerolan slab, strip, sheet,
dan pelat (benda kerja penampang persegi panjang dengan
dimensi lebar lebih besar dari ketebalannya).
Pada proses pengerolan datar, benda kerja terjepit di antara
dua rol sehingga ketebalannya berkurang.
Besarnya pengurangan ketebalan tersebut biasanya disebut
sebagai draft (d) dengan persamaan sebagai berikut :

Keterangan :
d = draft, mm (in);
to = ketebalan awal, mm (in),
tf = ketebalan akhir, mm (in).
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Draft (d) kadang-kadang juga dinyatakan
sebagai sebagian kecil dari ketebalan material
awal, yang disebut sebagai reduction (r):

Dalam kasus proses pengerolan seri reduction


dihitung dari penjumlahan total draft dibagi
dengan ketebalan awal.
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Selain terjadinya pengurangan ketebalan, biasanya akan diikuti dengan
penambahan ukuran lebar dan panjang benda kerja.
Penambahan ukuran lebar benda kerja ini disebut sebagai spreading.
Asumsi dalam teori pembentukan logam adalah teori volume konstan,
dimana volume benda kerja sebelum dan sesudah proses pengerolan
dianggap sama.
Demikian pula, dengan asumsi aliran volume sebelum dan sesudah
pengerolan harus sama, sehingga kecepatan pergerakan material sebelum
dan sesudah pengerolan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan : to = tebal sebelum pengerolan (mm)


wo = lebar sebelum pengerolan (mm)
tf = tebal setelah pengerolan (mm)
wf = lebar setelah pengerolan (mm)
vo = kecepatan sebelum pengerolan (m/s)
vf = kecepatan setelah pengerolan (m/s)
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Regangan sebenarnya dapat dihitung dari tebal material sebelum dan
sesudah pengerolan dengan persamaan sebagai berikut :

Dengan regangan sebenarnya dapat digunakan untuk menentukan


tegangan alir rata-rata (average flow stress, f ) sebagai berikut:

Tegangan aliran rata-rata dapat digunakan untuk menghitung perkiraan


gaya dan daya pada proses pengerolan.
Besarnya gaya pengerolan dapat dicari dari rumus sebagai berikut:

Keterangan : F = gaya pengerolan (N), w = lebar yang akan dirol


(mm),
L = panjang daerah kontak antara rol dan benda kerja (mm).
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Panjang daerah kontak antara rol dan benda kerja dapat dihitung
sebagai berikut :

Torsi (T) pada proses pengerolan dapat diperkirakan dengan


mengasumsikan bahwa gaya rol terpusat pada benda kerja saat
melintas diantara rol, dan dengan lengan momen dihitung setengah
panjang area kontak.
Dengan demikian, torsi untuk setiap roll dapat dihitung sebagai
berikut :

Daya yang diperlukan untuk mengerakkan setiap roll adalah produk


dari torsi dan kecepatan sudut.
Kecepatan sudut dapat dihitung dengan persamaan 2NT, dimana N
kecepatan putar dari rol (rpm). Dengan demikian, daya untuk masing-
masing rol adalah:
Analisis Pengerolan Rata (Flat Rolling)
Dengan mensubstitusikan , dan dengan
memperhitungkan bahwa rolling mill terdiri
dari dua rol yang masing-masing
membutuhkan gaya penggerak tersendiri,
maka persamaan menjadi sebagai berikut:

Keterangan :
P = daya pengerolan (W)
F = gaya pengerolan (N)
N = kecepatan putar rol (rpm)
L = panjang area kontak rol-benda kerja (m)
Studi Kasus
Sebuah plat strip dengan lebar (w) 300 mm dan
tebal awal adalah (to) 25 mm akan dirol melalui
rolling mill dengan dua rol yang masing-masing
digerakkan oleh motor listik tersendiri, radius rol (R)
= 250 mm. Ketebalan benda kerja akan dikurangi
menjadi (tf) 22 mm dalam satu tahap, kecepatan
putar rol (N) = 50 rpm. Benda kerja memiliki kurva
aliran yg didefinisikan sebagai K = 275MPa dan n =
0,15, dan koefisien gesekan (m) antara rol dan
benda kerja diasumsikan sebesar 0,12.
Tentukan berapa besar pengurangan tebal
maksimum yang masih bisa dicapai, menghitung
besar gaya pengerolan, torsi, dan daya pengerolan ?
Studi Kasus
Besarnya pengurangan ketebalan (d) dapat
dihitung sebagai berikut :

Draft maksimum yang dapat dicapai adalah


Studi Kasus
Untuk menghitung besar gaya pengerolan
perlu dicari dulu besar regangan , panjang
daerah kontak (L) dan tegangan alir rata-rata
Studi Kasus
Sehingga besar gaya pengerolan adalah :

Besar torsi untuk setiap rol dapat dihitung


sebagai berikut :

= 19.796 Nm
Studi Kasus
Daya yang diperlukan untuk pengerolan
sebesar :