Anda di halaman 1dari 18

INTENSIVE CARE

UNIT (ICU)
Pamela Vasikha
112016358
Coass anestesi RS Mardi Waluyo
Indikasi Masuk dan Keluar ICU
■ ICU diperuntukkan dan ditentukan oleh kebutuhan pasien yang sakit kritis.
Pasien sakit kritis meliputi:
– Pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan
dokter dan profesi lain yang terkait secara terkoordinasi dan
berkelanjutan, serta memerlukan perhatian yang teliti, agar
dapat dilakukan pengawasan yang ketat dan terus menerus
– Pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi
fisiologis sehingga memerlukan pemantauan ketat dan terus
menerus serta dilakukan intervensi segera untuk mencegah
timbulnya penyulit yang merugikan
■ Sebelum pasien dimasukan ke ICU, pasien dan/atau
keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara
lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien
harus mendapatkan perawatan di ICU, serta tindakan
kedokteran yang mungkin akan dilakukan selama pasien
dirawat di ICU
■ Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir
informed consent.
Kelompok Prioritas Masuk ICU
■ Pasien Prioritas 1 (satu)
■ Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang
memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, seperti dukungan /
bantuan ventilasi dan alat bantu suportif organ / sistem yang
lain, infus obat-obat vasoaktif continue, obat anti aritmia
continue, pengobatan continue tertitrasi, dan lain-lainnya.
■ Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca bedah
cardiothoracic, pasien sepsis berat, gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit yang mengancam nyawa.
■ Pasien Prioritas 2 (dua)
■ Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih di
ICU, sebab beresiko bila tidak mendapatkan terapi intensif
segera, misalnya pemantauan intensif menggunakan
pulmonary arterial catheter.
■ Contoh pasien seperti ini antara lain: menderita penyakit
dasar jantung-paru, gagal ginjal akut dan berat atau yang
telah mengalami pembedahan major.
■ Pasien Prioritas 3 (tiga)
■ pasien sakit kritis, yang tidak stabil status kesehatan
sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit
akutnya, secara sendirian atau kombinasi. Kemungkinan
sembuh dan/atau manfaat terapi di ICU pada golongan ini
sangat kecil.
■ Contoh pasien ini antara lain: keganasan metastatic disertai
penyulit infeksi, pericardial tamponade, sumbatan jalan napas,
atau pasien penyakit jantung, penyakit paru terminal disertai
komplikasi penyakit akut berat.
■ Pengelolaan pada pasien golongan ini hanya untuk mengatasi
kegawatan akutnya saja dan usaha terapi mungkin tidak
sampai melakukan intubasi atau resusitasi jantung paru.
■ Pengecualian
■ Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan Kepala
ICU, indikasi masuk pada beberapa golongan pasien bisa
dikecualikan antara lain:
– Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak terapi
tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi “perawatan
yang aman” saja. Sebenarnya pasien-pasien ini mungkin
mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di
ICU untuk meningkatkan kemungkinan survivalnya.
– Pasien dalam keadaan vegetative permanen
– Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang otak.
Pasien-pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU untuk
menunjang fungsi organ hanya untuk kepentingan donor
organ.
Kriteria Pasien Masuk Berdasarkan Diagnosis
Sistem Cardiovascular Sistem Pernafasan
Infark Miokard akut dengan komplikasi Gagal napas akut yang membutuhkan
Syok Kardiogenik bantuan ventilator

Aritmia Kompleks yang membutuhkan monitoring ketat dan Pasien dalam perawatan ICU yang mengalami
intervensi perburukan fungsi pernapasan
Gagal jantung kongestif dengan gagal napas dan / atau Hemoptisis massif
membutuhkan support hemodinamik
Hipertensi emergensi Gagal napas dengan ancaman intubasi
Unstable angina terutama dengan disaritmia, hemodinamik Emboli paru dengan hemodinamik tidak stabil
tidak stabil atau nyeri dada menetap
s/p cardiac arrest
Tamponade jantung / konstriksi dengan hemodinamik tidak
stabil
Diseksi aneurisma aorta
Blokade jantung komplit
Penyakit Neurologis Overdosis Obat / Keracunan Obat Penyakit Gastrointestinal
Stroke akut dengan penurunan Keracunan obat dengan Perdarahan gastrointestinal yang
kesadaran hemodinamik tidak stabil mengancam nyawa termasuk
Koma metabolic, toksis / anoksia Keracunan obat dengan penurunan hipotensi, angina, perdarahan yang
kesadaran signifikan dengan masih berlangsung, atau dengan
Perdarahan intracranial dengan penyakit komorbid
potensi herniasi ketidakmampuan proteksi jalan
napas
Perdarahan subarachnoid akut Gagal hati fulminant

Meningitis dengan penurunan Kejang setelah keracunan obat Pankreatitis berat


kesadaran / gangguan pernapasan
Penyakit ssp / neuromuskuler Perforasi esophagus dengan atau
dengan penurunan fungsi neurologis tanpa mediastinitis
/ pernapasan (ex: myasthenia gravis,
guillaine-barre syndrome)
Status epilepticus
Mati batang otak / berpotensi mati
batang otak yang direncanakan
untuk donor organ
Vasospasme
Cedera kepala berat
Endokrin Bedah Lain-lain
KAD dengan komplikasi hemodinamik tidak stabil, penurunan Pasien pasca operasi yang Syok sepsis dengan
kesadaran, pernapasan tidak adekuat / asidosis berat membutuhkan monitoring hemodinamik tidak stabil
hemodinamik / bantuan
ventilator / perawatan yang
Badai tiroid / koma miksedema dengan hemodinamik tidak stabil ekstensif Monitoring ketat
hemodinamik
Kondisi hyperosmolar dengan koma dan/atau hemodinamik tidak Trauma factor lingkungan
stabil (petir, tenggelam,
Hiperkalsemia berat dengan penurunan kesadaran, hipo/hypernatremia)
membutuhkan monitoring hemodinamik

Hipo / hypernatremia dengan kejang / penurunan kesadaran Kondisi klinis lain yang
memerlukan perawatan
setingkat ICU
Hipo / hiperkalemia dengan disaritmia / kelemahan otot Terapi baru / dalam
percobaan dengan
Penyakit endokrin lain seperti krisis adrenal dengan hemodinamik potensi terjadi komplikasi
tidak stabil

Hipo / hipermagnesemia dengan hemodinamik terganggu /


disaritmia
Hipofosfatemia dengan kelemahan otot
Kriteria Pasien Masuk Berdasarkan Parameter Objektif
Tanda Vital Nilai Laboratorium Radiografi / Ultrasonografi Elektrokardiogram Pemeriksaan Fisik (onset
/ Tomografi akut)
Nadi <40 / >140x per Na serum < 110 mEq/L Perdarahan vaskular otak, Infark miokard dengan Pupil anisokor pada
menit atau >170 mEq/L kontusio atau perdarahan aritmia kompleks, pasien tidak sadar
subarachnoid dengan hemodinamik tidak stabil
Sistolik < 80mmHg K serum < 2,0 mEq/L penurunan kesadaran atau gagal jantung kongestif Luka bakar > 10% BSA
atau > 7,0 mEq/L atau tanda deficit
neurologis fokla

MAP < 60mmHg PaO2 < 50mmHg Ruptur organ dalam, Ventrikel takikardi menetap Anuria
kandung kemih, hepar, atau fibrilasi
Diastolik > 120mmHg pH <7,1 / > 7,7 Obstruksi jalan napas
varises esophagus atau
RR > 35x / menit Glukosa serum >800 uterus dengan Blockade jantung komplit Koma
mg.dl hemodinamik tidak stabil dengan hemodinamik tidak
Ca serum > 15mg/dl stabil Kejang berlanjut

Kadar toksik obat / Diseksi aneurisma aorta Sianosis


bahan kimia lain
dengan gangguan Tamponade jantung
hemodinamik &
neurologis
Pencatatan & Pelaporan di ICU
Pemantauan umum meliputi:
■ Pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi pemeriksaan tensi, nadi, suhu,
respirasi, saturasi oksigen
■ Pemeriksaan fisik meliputi sistem saraf, sistem kardiovaskular, sistem
respirasi, sistem gastrointestinal, sistem traktus urinarius dan sistem
lokomotif.
■ Balans cairan dilakukan setiap 3-6 jam, diperhitungkan intake dan output
cairan
■ Evaluasi CVP (Central Venous Pressure), dengan melakukan Fluid Challenge
Test (FCT)
■ Pemeriksaan Laboratorium meliputi: Analisa gas darah, Gula darah, Darah
rutin, Elektrolit, Ureum, kreatinin, Keton darah sesuai indikasi, Keton urin
sesuai indikasi, Hemostase lengkap sesuai indikasi, SGOT / SGPT sesuai
indikasi, Pemeriksaan lain bila dibutuhkan
Monitoring dan Evaluasi
■ Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk
menentukan factor-faktor yang potensial berpengaruh agar dapat
diupayakan penyelesaian yang efektif.
■ Indikator pelayanan ICU yang digunakan adalah sistem skoring
prognosis dan keluaran dari ICU.
■ Sistem skoring prognosis dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke ICU.
■ Contoh sistem skoring prognosis yang dapat digunakan adalah
APACHE II (Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation), SAPS II
(Simplified Acute Physiologic Score), SOFA (Sepsis Related Organ
Failure) dan MODS (Multiple Organ Dysfunction Score).
■ APACHE II (Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation)

- Sistem skoring APACHE II merupakan sistem skoring yang mengklasifikasikan


beratnya penyakit dengan menggunakan prinsip dasar fisiologi tubuh untuk
menggolongkan prognosa penderita terhadap resiko kematian.

- Skor APACHE II terdiri dari 3 kelompok, yaitu skor fisiologi akut, skor penyakit
kronis, dan skor umur

- Besar skor APACHE II didapatkan dengan menjumlahkan ketiga kelompok


penilaian tersebut (skor fisiologi akut + skor penyakit kronis + skor usia).
Sistem skoring ini tidak dimaksudkan untuk pasien luka bakar dan pasca
bedah jantung.
- Skor fisiologi akut terdiri dari:

■ Tingkat kesadaran yang ditentukan dengan menggunakan GCS dan skornya dihitung dengan 15
dikurangi GCS
■ Temperatur rektal dengan rentang skor 0-4
■ Tekanan nadi / Mean Arterial Pressure (MAP) dengan rentang skor 0-4
■ Frekuensi denyut jantung dengan rentang skor 0-4
■ Frekuensi pernafasan dengan rentang skor 0-4
■ Kadar hematocrit dengan rentang skor 0-4
■ Jumlah leukosit dengan rentang skor 0-4
■ Kadar natrium serum dengan rentang skor 0-4
■ Kadar kalium serum dengan rentang skor 0-4
■ Kadar kreatinin serum dengan rentang skor 0-8
■ Kadar keasaman atau pH darah atau tekanan parsial (PaCO2) dengan rentang skor 0-4
■ Tekanan parsial oksigen (PaO2) darah dengan rentang skor 0-4
- Skor Penyakit Kronis
- Skor untuk Umur =
Skor - Dalam waktu 8 bulan sebelum sakit / dirawat
5
menderita salah satu diantara penyakit: ≤ 44 tahun : skor 0
a) Hepar (sirosis, perdarahan traktus gastrointestinal 45 – 54 tahun : skor 2
bagian atas akibat hipertensi portal, ensefalopati 55 – 64 tahun : skor 3
sampai koma) 65 – 74 tahun : skor 5
b) Kardiovaskular (decompensatio cordis derajat IV) ≥ 75 tahun : skor 6
c) Pulmo (hipertensi pulmonal, hipoksia kronis)
d) Ginjal (hemodialysis / peritoneal dialysis kronis)
e) Gangguan imunologi (sedang dalam terapi
imunosupresi, kemoterapi, radiasi, steroid jangka
panjang / dosis tinggi, menderita penyakit yang
menekan pertahanan terhadap infeksi misalnya
leukemia, limfoma atau AIDS)
- Pasca bedah cito
Skor - Pasca bedah elektif
2
Tabel 1 Sistem Skoring Sequential Organ Failure Assessment (SOFA)
Skoring SOFA
Variabel
0 1 2 3 4
Respirasi (PaO2/ > 400 ≤ 400 ≤ 300 ≤ 200 ≤ 100
FiO2) mmHg
Koagulasi > 150 ≤ 150 ≤ 100 ≤ 50 ≤ 20
(platelet)
Liver (bilirubin) < 1,2 1,2 – 1,9 2,0 – 5,9 6,0 – 11,9 > 12,0

Kardiovaskular Tidak ada MAP < 70 hg Dopamin ≤ 5 atau Dopamin > 5, Dopamin > 15,
(hipotensi) dosis hipotensi dobutamin (dosis Adrenalin ≤0,1 Adrenalin > 0,1
dalam berapapun) atau atau
ug/kg/menit Norepinephrine ≤ Norepinephrine >
0,1 0,1
Sistem saraf pusat 15 13 - 14 10 - 12 6-9 <6
(GCS)
Ginjal Creatinine < 1,2 1,2 – 1,9 2,0 – 3,4 3,4 – 4,9 atau < > 5,0 atau < 200
(mg/dl) atau Urine 500
Output (mL/hari)