Anda di halaman 1dari 7

PENCEMARAN LAUT AKIBAT

TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL)

By:
Ainul Zurroh (1452010015)
Ingrid Tiara Dewi (1452010033)
Minyak adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan
produk petroleum yang penyusun utamanya terdiri dari hidrokarbon.
Minyak mentah dibuat dari hidrokarbon berspektrum lebar yang
berkisar dari sangat mudah menguap, material ringan seperti propana
dan benzena sampai pada komposisi berat seperti bitumen, aspalten,
resin dan wax. Produk pengilangan seperti petrol atau bahan bakar
terdiri dari komposisi hidrokarbon yang lebih kecil dan kisarannya
lebih spesifik.
Pencemaran Tumpahan Minyak di Laut
Wathering/Pelapukan Pada Tumpahan Minyak Bumi

• Weathering atau pelapukan minyak adalah proses


penghamburan minyak yang tumpah hasil dari
sejumlah proses kimia dan fisik yang mengubah
komposisi. Minyak akan mengalami pelapukan dalam
cara-cara yang berbeda
Bahaya Tumpahan Minyak Bumi
• Pencemaran hingga daerah pesisir.
• Gangguan reproduksi, perkembangan, pertumbuhan,
perilaku biota laut dan merusak ekosistem mangrove.
• Air laut menjadi berwarna hitam dan
menggangu organisme yang hidup pada
permukaan perairan.
Cara Penanggulangan
BIOREMEDIASI
Bioremediasisi merupakan perombakan secara biologis dengan bantuan
mikroba. Mekanisme yang berlangsung yaitu bioremediasi oleh enzim-enzim
yang dihasilkan mikroba tertentu atau biosorpsi oleh dinding sel mikroba
dimana senyawa yang berbahaya tersebut diubah secara enzimatis menjadi
senyawa lain yang tidak berbahaya misalnya , metan, air, garam-garam
anorganik, dan hasil samping lain yang lebih sederhana dari senyawa semula.
Mikroorganisme merupakan makhluk hidup mikroskopis yang memiliki
kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan.
Dua pendekatan yang dapat digunakan dalam bioremediasi tumpahan minyak
adalah bioaugmentasi yaitu mikroorganisme pengurai ditambahkan untuk
melengkapi populasi mikroba yang telah ada, dan biostimulasi yaitu
pertumbuhan pengurai hidrokarbon asli dirangsang dengan cara
menambahkan nutrien dan/atau mengubah habitat (Venosa & Zhu, 2003).
Dalam banyak penelitian lapangan, ternyata metode bioaugmentasi terbukti
kurang efektif, karena kondisi isolasi bakteri yang tidak sama dengan kondisi
lapangan. Sebaliknya, banyak penelitian laboratorium maupun lapangan yang
menunjukkan keberhasilan metode biostimulasi.