Anda di halaman 1dari 32

Isu etik

Hikmah Ifayanti
Isu Etik dalam Pelayanan Kebidanan
 Etik adalah disiplin yang mempelajari tentang
baik atau buruk sikap tindakan manusia. Etika
merupakan bagian filosofis yang berhubungan erat
dg nilai manusia dalam menghargai suatu
tindakan, apakah benar atau salah dan
penyelesaiannya apakah baik atau tidak
Isu
 Isu adalah masalah pokok yang berkembang di
masyarakat atau suatu lingkungan yang belum
tentu banar, serta membutuhkan pembuktian.
 Isu muncul karena adanya perbedaan nilai.
 Isu etik dalam pelayan kebidanan merupakan topik
yang penting yang berkembang di masyarakat
tentang nilai manusia dalam menghargai suatu
tindakan berhubungan dengan segala aspek
kebidanan yang menyangkut baik dan buruknya
Contoh isu etik dalam kehidupan
sehari-hari
 Seorang ibu merasa ingin melahirkan datang ke
Bidan. Hasil pemeriksaan ibu sudah pembukaan 3.
Usia kehamilan 36 minggu. Kemudian bidan
membantu pertologan persalinan tersebut tanpa
inform consent terhadap ibu dan keluarga.
Isu etik: persetujuan dalam proses
melahirkan
contoh
 Seorang ibu bersalin di bidan praktik mandiri, ibu
dampingi oleh suami. Saat memasuki kala II,
bidan menyuruh seluruh anggota keluarga
termasuk suami tidak berada dalam ruangan
bersalin. Hanya ibu ditemani oleh bidan-bidan.

isu etik: memilih dan mengambil keputusan dalam


persalinan
 Seorang ibu bersalin anak pertama dalam kala II
di Bidan praktik mandiri. Sudah 2 jam ibu
mengedan, namun bayi belum berhasil dilahirkan.
Kemudian bidan merujuk ibu tersebut ke Rumah
sakit

Isu etik: kegagalan dalam proses persalinan


Seorang ibu hamil datang ke Bidan praktik mandiri,
usia kehamilan 34 minggu. Kemudian bidan
melakukan pemeriksaan dengan USG. Hasil USG,
besar bayi sesuai usia kehamilannya dan sehat, jenis
kelamin laki-laki.

Isu etik : pelaksanaan USG dalam kehamilan


 Seorang ibu terlambat haid 2 bulan lebih, datang
ke bidan praktik mandiri untuk memeriksakan diri.
Hasil PP test (+), ibu dinyatakan positif hamil,
bidan melakukan pemeriksaan timbang berat
badan dan tensi. Kemudian bidan memberikan
vitamin.
Isu etik Konsep normal pelayanan kebidanan
Issue etik yang terjadi antara bidan dengan klien,
keluarga, masyarakat

 Seorang perempuan hamil G1P0A0 hamil 38 minggu datang ke polindes


dengan keluhan perutnya terasa mengencang sejak 5 jam yang lalu. Setelah
dilakukan VT, pembukaan 3, janin letak sungsang. Bidan merencanakan
dirujuk ke rumah sakit. Keluarga klien terutama suami menolak untuk dirujuk
dengan alasan tidak punya biaya. Bidan memberikan penjelasan persalinan
anak letak sungsang bukan kewenangannya dan menyampaikan tujuan dirujuk
demi keselamatan janin dan juga ibunya, tetapi keluarga tetap ingin ditolong
bidan di polindes. Karena keluarga tetap memaksa, akhirnya bidanpun
menuruti kemauan klien serta keluarga untuk menolong persalinan tersebut.
Persalinan berjalan sangat lama karena kepala janin tidak bisa keluar. Setelah
bayi lahir ternyata bayi sudah meninggal. Keluarga menyalahkan bidan bahwa
bidan tidak bisa bekerja secara profesional dan dalam masyarakat pun juga
tersebar bahwa bidan tersebut dalam melakukan tindakan sangat lambat dan
tidak sesuai prosedur.
 Konflik: keluarga menolak untuk dirujuk
 Isu: bidan mall praktek dan tidak sesuai prosedur
 Dilema: bidan merasa kesulitan untuk
memutuskan rujukan karena keluarga memaksa
ingin ditolong bidan. Dengan segala keterbatasan
kemampuan dan sarana, bidan melakukan
pertolongan persalinan yang seharusnya
dilaksanakan di rumah sakit dan ditolong oleh
spesialis kebidanan
Issue Etik yang terjadi antara Bidan dengan Teman
Sejawat
 Kasus : Di suatu desa yang tidak jauh dari kota dimana di desa tersebut adad
dua orang bidan yaitu bidan “A” dan bidan “B” yang sama – sama memiliki
BPM (Bidan Praktik Mandiri) dan ada persaingan di antara dua bidan tersebut.
Pada suatu hari datang seorang pasien yang akan melahirkan di BPM bidan
“B” yang lokasinya tidak jauh dengan BPM bidan “A”.
 Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata pembukaan masih belum lengkap dan
bidan “B” menemukan letak sungsang dan bidan tersebut tetap akan menolong
persalinan tersebut meskipun mengetahui bahwa hal tersebut melanggar
wewenang sebagai seorang bidan demi mendapatkan banyak pasien untuk
bersaing dengan bidan “A”.
 Bidan “A” mengetahui hal tersebut. Jika bidan “B” tetap akan menolong
persalinan tersebut, bidan “A” akan melaporkan bidan “B” untuk menjatuhkan
bidan “B” karena dianggap melanggar wewenang profesi bidan.
 Issu : Seorang bidan melakukan pertolongan persalinan
sungsang.
 Konflik : Menolong persalinan sungsang untuk nendapatkan
pasien demi persaingan atau dilaporkan oleh bidan “A”.
 Dilema :

a) Bidan “B” tidak melakukanidpertolongan persalinan


sungsang tersebut namun bidan kehilangan satu pasien.
b) Bidan “B” menolong persalinan tersebut tapi akan
dijatuhkan oleh bidan “A” dengan dilaporkan ke lembaga
yang berwewenang
Issu Etik Bidan dengan Team Kesehatan
Lainnya
 Kasus : Seorang wanita berusia 35 tahun sedang hamil 12 minggu
mengalami jatuh dan perdarahan hebat. Suami memanggil bidan
dan bidan memberikan pertolongan pertama. Bidan menjelaskan
pada keluarga, agar istrinya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan
kuretase oleh dokter. Keluarga menolak dan menginginkan agar
bidan saja yang melakukan kuretase. Bidan kemudian melakukan
kuretase dan 2 hari kemudian, pasien mengalami perdarahan dan
dibawa ke rumah sakit. Dokter menanyakan riwayat kejadian pada
suami pasien. Suami pasien kemudian mengatakan bahwa 2 hari
lalu. isterinya mengalami perdarahan dan dilakukan kuretase oleh
bidan. Dokter kemudian memanggil bidan tersebut dan terjadilah
konflik antara bidan dengan dokter tersebut.
 Issu : Malpraktek Bidan melakukan tindakan di luar
wewenangnya.
 Konflik : Bidan melakukan kurentase di luar
wewenangnya sehingga terjadilah konflik antara bidan
dan dokter.
 Dilema : Jika tidak segera dilakukan tindakan
dikuatirkan dapat merenggut nyawa pasien karena PMB
jauh dari RS. Namun, jika dilakukan tindakan, bidan
merasa melanggar kode etik kebidanan dan merasa
melakukan tindakan di luar wewenangnya
Issue Etik Yang Terjadi Antara Bidan
dan Organisasi Profesi
 Kasus : Seorang ibu yang ingin bersalin di BPM. Sejak awal kehamilan,
ibu tersebut sudah sering memeriksakan kehamilannya. Menurut hasil
pemeriksaan bidan, ibu tersebut mempunyai riwayat hipertensi, maka
kemungkinan lahir pervagina sangat berisiko saat persalinan tiba. Tekanan
darah ibu menjadi tinggi. Jika tidak dirujuk, maka berisiko terhadap janin
dan kondisi si ibu itu sendiri. Risiko pada janin bisa terjadi gawat janin dan
kematian. Bidan sudah mengerti risiko yang akan terjadi. Tapi bidan lebih
memetingkan egonya sendiri karena takut kehilangan komisinya dari pada
dirujuk ke rumah sakit. Setelah janin lahir, ibu mengalami kejang-kejang
dan meninggal. Saat berita itu terdengar, Organisasi Profesi Indonesia
(IBI), memberikan sanksi yang setimpal bahwa dari kecerobohannya sudah
merugikan orang lain. Sebagai gantinya, ijin praktik (BPM) bidan A
dicabut dan dikenakan denda sesuai dengan pelanggaran tersebut.
 Issu : Terjadi malpraktik dan Pelangaran wewenang Bidan
 Dilema :
 Jika tidak dilakukan pertolongan persalinan, maka bidan kehilangan komisi
namun jika ditolong maka melanggar kode etiknya

Perlu disadari bahwa dalam pelayanan kebidanan seringkali muncul masalah


atau isu di masyarakat yang berkaitan dengan etik dan moral, dilema serta
konflik yang dihadapi bidan sebagai praktisi kebidanan.
Isu adalah masalah pokok yang berkembang di masyarakat atau suatu
lingkungan yang belum tentu benar, serta membutuhkan pembuktian. Bidan
dituntut berperilaku hati-hati dalam setiap tindakannya dalam memberikan
asuhan kebidanan dengan menampilkan perilaku yang etis profesional.
 beberapacontoh mengenai isu etik dalam
pelayananan kebidanan adalah berhubungan
dengan masalah-masalah sebagai berikut: 1.
Agama / kepercayaan 2. Hubungan dengan pasien
3. Hubungan dokter dengan bidan 4. Kebenaran 5.
Pengambilan keputusan 6. Pengambilan data 7.
Kematian Kerahasiaan 8. Aborsi 9. AIDS 10.KB
 Issue etik yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat
mempunyai hubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu
tindakan.
 Seorang bidan dikatakan profesional bila ia mempunyai kekhususan sesuai
dengan peran dan fungsinya yang bertanggung jawab sesuai kewenangan.
 Bidan yang praktik mandiri menjadi pekerja yang bebas mengontrol dirinya
sendiri. Situasi ini akan besar sekali pengaruhnya terhadap kemungkinan
terjadinya penyimpangan etik.
 Isu Moral juga berhubungan dengan kejadian yang luar biasa dalam kehiduapan
sehari-hari seperti menyangkut konflik malpraktik perang dan sebagainya.
 Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan
pada dua alternatif pilihan, yang kelihatanya sama atau hampir sama dan
membutuhkan pemecahan masalah.
Tingkatan dalam pengambilan
keputusan
1. Keputusan dan Tindakan: bidan merefleksikan pada
pengalaman sendiri/rekan
2. Peraturan: kejujuran, sesuai kode etik dan standar
profesi
3. Prinsip Etik
 Autonomi: hak kebebasan yang bertanggung jawab
 Benetcence: memperhatikan kesejahteraan klien
 Non maleticence: tidak menimbulkan kerugian pd org lain
 Yustice, memerhatikan keadilan
Pengambilan Keputusan Klinis
 Keputusan yang diambil berdasarkan kebutuhan dan
masalah yang dihadapi klien, sehingga semua
tindakan yang dilakukan bidan dapat mengatasi
permasalahan yang dihadapi klien yang bersifat
emergensi, antisipasi atau rutin.
 Pengambilan keputusan klinis tergantung

a. Pengetahuan
b. Latihan praktik
c. pengalaman
Masalah Etik yang berhubungan
dengan Teknologi
 EUTHANASIA
euthanasia merupakan praktek pencabutan kehidupan
manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak
menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang
minimal, biasanya dilakukuan dengan cara memberikan
suntikan yang mematikan. Saat ini yang dimaksudkan
dengan enthanasia adalah bahwa seorang dokter mengakhiri
kehidupan pasien terminal dengan memberikan suntikan
yang mematikan atas permintaan pasien itu sendiri., atau
dengan kata lain euthanasia merupakan pembunuhan legal.
Jenis-jenis Euthnasia
Dilihat dari cara pelaksanaannya, euthanasia dapat dibedakan atas :
a.   Euthanasia pasif
 Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan
yang sedang berlangsung untuk mempertahankan hidup pasien. Dengan kata lain, euthanasia
pasif merupakan tindakan tidak memberikan pengobatan lagi kepada pasien terminal untuk
mengakhiri hidupnya. Tindakan pada euthanasia pasif ini dilakukan secara sengaja dengan tidak
lagi memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien, seperti tidak
memberikan alat-alat bantu hidup atau obat-obat penahan rasa sakit, dan sebagainya.
b.      Euthanasia aktif atau euthanasia agresif
 Euthanasia aktif atau euthanasia agresif adalah perbuatan yang dilakukan secara medik melalui
intervensi aktif oleh seorang dokter dengan tujuan untuk mengakhiri hidup manusia. Dengan
kata lain, Euthanasia agresif atau euthanasia aktif adalah suatu tindakan secara sengaja yang
dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si
pasien. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk
mnimbulkan kematian dengan secara sengaja melalui obat-obatan atau dengan cara lain sehingga
pasien tersebut meninggal
Ditinjau dari permintaan atau pemberian izin, euthanasia
dibedakan atas :
a.       Euthanasia Sukarela (Voluntir)
 Euthanasia yang dilakukan oleh tenaga medis atas permintaan pasien itu sendiri.
Permintaan pasien ini dilakukan dengan sadar atau dengan kata lain permintaa pasien
secara sadar dn berulang-ulang, tanpa tekanan dari siapapun juga.
b.       Euthanasia Tidak Sukarela (Involuntir)
 Euthanasia yang dilakukan pada pasien yang sudah tidak sadar. Permintaan biasanya
dilakukan oleh keluarga pasien. Ini  terjadi ketika individu tidak mampu untuk
menyetujui karena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental, kekurangan biaya,
kasihan kepada penderitaan pasien, dan lain sebagainya.
 Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman
untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). Euthanasia ini seringkali
menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh
siapapun juga. Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak
berhak untuk mengambil suatu keputusan, misalnya hanya seorang wali dari pasien dan
mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi pasien tersebut.
Aspek Hukum Eutanasia
 KUHP Pasal 344: barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas
permintaan orang itu sendiri, yang disebutkan dengan nyata dengan
sunguh-sunguh , dihuku penjara selama-lamanya 12 th
 bKUHP 340: Barang siapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu
menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena pembunuhan
direncanakan dg hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup
atau penjara sementara selama-lamanya 20 th
 KUHP Pasal 340: Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan matinya
orang lain dihukum penjara selama-lamanya 5 th atau kurungan selama-
lamanya setahun
 Barangsiapa dengan sengaja menghasut orang lain untk bunuh diri,
menolongnya dlm perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu jadi
bunuh diri, sihukum penjara selama-lamanya 4 th.
Transplantasi Organ
 Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu
tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan
dan kondisi tertentu.
 Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang
sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat. Ini
adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan upaya terbaik untuk menolong
penderita/pasien dengan kegagalan organnya, karena hasilnya lebih memuaskan
dibandingkan dengan pengobatan biasa atau dengan cara terapi.
 tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja, karena masih harus
dipertimbangkan dari segi non medik, yaitu dari segi agama, hukum, budaya, etika dan
moral. Kendala lain yang dihadapi Indonesia dewasa ini dalam menetapkan terapi
transplatasi, adalah terbatasnya jumlah donor keluarga (Living Related Donor, LRD)
dan donasi organ jenazah. Karena itu diperlukan kerjasama yang saling mendukung
antara para pakar terkait (hukum, kedokteran, sosiologi, pemuka agama, pemuka
masyarakat), pemerintah dan swata.
Jenis – jenis Transplantasi Organ
1.  Autograf (Autotransplatasi), yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh orang itu
sendiri.
Misalnya operasi bibir sumbung, imana jaringan atau organ yang diambil untuk menutup bagian yang sumbing
diambil dari jaringan tubuh pasien itu sendiri.

2.      Allograft (Homotransplantasi) , yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke tubuh
yang lan yang sama spesiesnya, yakni manusia dengan manusia. Homotransplantasi yang sering terjadi dan tingkat
keberhasilannya tinggi, antara lain : transplantasi ginjal dan kornea mata. Disamping itu terdapat juga transplantasi
hati, walaupun tingkat kebrhsilannya belum tinggi. Transfusi darah sebenarnya merupakan bagian dari transplntasi
ini, karena melalui transfusi darah, bagian dari tubuh manusia (darah) dari seseorang (donor) dipindahkan ke orang
lain (recipient).

3.      Xenograft (Heterotransplatasi) , yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh yang satu ke tubuh
yang lain yang berbeda spesiesnya. Misalnya antara species manusia dengan binatang. Yang sudah terjadi contohnya
daah pencangkokan hati manusia dengan hati dari baboon (sejenis kera), meskipun tingkat keberhasilannya masih
sangat kecil.

4.      Isograft yaitu pempindahan suatu jaringan atau organ dari seseorang ke tubuh orang lain yang identik.
Misalnya masih memiliki hubungan secara genetik.
Aspek Hukum Transplantasi
 Peraturan Pemerintah tahun 1981
 Pasal 10: Transplantasi dilakukan dg memperhatikan persetujuan tertulis penderita
atau keluarganya setelah penderita meninggal dunia
 Pasal 11 Transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia hanya boleh dilakukan oleh
dokter yg ditunjuk MenKes
 Pasal 13 persetujuan tertulis dari donor dan atau keluarga dibuat di atas kertas
bermaterai dg 2 orang saksi.
 Pasal 16 Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak atas
kompensasi materiil apapun sebagai imbalan transplantasi
Sanksi Pidana:
-setiap orang yg dg sengaja memperjualbelikan organ tau jaringan tubuh dg dalih
apapun dipidana penjara palinglama 10 th dg denda paling banyak 1 milyar
-setiap orang yang memperjualbelikan darah dengan dalih apapun dipidana penjara
paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 500 juta.
Perawatan Intensif pada bayi
Perawatan intensif pada bayi harus dilakukan dalam ruang perawatan khusus yang
terdiri dari 3 level, berdasarkan derajat kesakitan , risiko masalah dan kebutuhan
pengawasan
Level I adalah: untuk bayi risiko rendah dengan kata lain bayi normal yang sering
digunakan istilah rawat gabung
Level II adalah untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan elum perlu intensif.
Pada level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam, akan tetapi perbandingan perawat
dan bayi tidak perlu 1-1
Level III adalah pengawasan yg dilakukan benar-benar ekstra ketat. Satu orang
perawat yang bertugas hanya boleh menangani satu pasien selama 24 jam penuh.
Peran dokter boleh dibagi, artinya 1 dokter pada ke 3 level akan tetapi dg
keterampilan dan pengetahuan khusus mengenai masalah gawat darurat pada
neonatus. Monitoring bayi baru lahir ini harus secara continue, teratur dan teliti
dengan menggunakan berbagai metode/teknik dan peralatan yang dapat dipercaya
reliabilitasnya, karena dukungan peralatan ini juga sangat berperan dalam
kesembuhan pasien.
Screening Bayi
 Screening Denver II merupakan alat untuk
mengukur secara dini adanya masalah
penyimpangan perkembangan anak umur 0 sampai
6 tahun. Alat ini bukan utuk mendiagnostik namun
lebih ke arah membandingkan kemampuan
perkembangan seorang anak dg anak lain yang
seumur.
Soal -soal
 Seorang perempuan umur 15 tahun datang ke BPM diantar oleh temannya, ia mengaku sudah telat
haid selama 2 bulan. Bidan kemudian melakukan pemeriksaan, hasil PP Test +. Perempuan tersebut
meminta bidan menggugurkan kandungannya, karena ia masih seorang pelajar. Berdasarkan kasus
situasi yang hadapi oleh bidan adalah....
 Seorang perempuan umur 26 sedang bersalin di BPM. Satu jam kemudian bayi lahir dengan selamat.
Bidan kemudian melakukan pemantauan kala IV. Karena ASI belum keluar, sebelum pulang bidan
memberikan ibu susu formula. Pada kasus tersebut tindakan bidan termasuk pada….
 Seorang perempuan umur 30 tahun datang ke BPM Y untuk memeriksakan kehamilannya. Ibu
mengatakan hasil pemeriksaan bidan X posisi bayi letak sungsang. Hasil pemeriksaan bidan Y posisi
bayi letak kepala. Bidan Y mengatakan hasil pemeriksaan sebelumnya tidak tepat, dan menyebut
bidan X belum kompeten. Berdasarkan kasus situasi tersebut termasuk ….
 Seorang perempuan umur 15 tahun datang ke BPM diantar oleh ibunya, ibu mengatakan anaknya
korban perkosaan 2 hari yang lalu, ibu khawatir anaknya hamil. Bidan kemudian melakukan
pemeriksaan, hasil pemeriksaan terlihat selaput dara telah robek . Ibunya perempuan tersebut
meminta bidan menggugurkan kandungannya bila ia hamil, karena anaknya korban pemerkosaan.
Bidan memberikan pil kepada ianak tersebut untuk dikonsumsi sekaligus 2 pada saat itu juga.
Berdasarkan kasus tindakan bidan tersebut merupakan….
Tugas
 1.Mahasiswa 1 kelompok terdiri dari 5 orang atau kurang
 Ruang lingkup meliputi remaja, kehamilan , persalinan, nifas dan KB , bayi/balita
 setiap kelompok memilih satu ruang lingkup asuhan
 Carilah contoh kasus issue etik yang pernah terjadi di tempat kerja Bidan (bisa mewawancarai bidan yang anda
kenal)
 Topik issue etik adalah issue etik pada kehidupan sehari-hari
 Apabila kasus tidak ada, kelompok boleh mencari kasus di media masa / internet
 Lakukan kajian terhadap kasus tersebut berdasarkan etik dan moral dalam pelayanan kebidanan dan buatlah
laporannya
 PETUNJUK PENULISAN LAPORAN PRAKTIKUM 1. Penulisan tugas dibuat dalam bentuk makalah
dengan sistematika sebagai berikut :
a. Pendahuluan : memuat latar belakang tujuan dan manfaat praktikum
b. Tinjauan pustaka : memuat teori praktikum
c. Hasil dan pembahasan : berisikan studi kasus dan pembahasannya
d. Kesimpulan
e. Daftar pustaka
Ketentuan penulisan laporan adalah sebagai berikut : a
f. Menggunakan kertas ukuran A4
g. Pengetikan margin kiri 4, kanan 3, atas 4, bawah 3, spasi 1,5 c
Dikumpulkan sebelum UAS ke email hikmahifayanti22@gmail.com
Tugas Pertemuan selanjutnya
 Mahasiswa dibentuk manjadi 3 kelompok
 Buat makalah mengenai isu profesional dalam
perspektif hukum yaitu
Kelompok I: Paradigma Mediasi
Kelompok II Proses Mediasi dalam sengketa Medik
Kelompok III Mediasi Kesehatan di Berbagai Negara
Lakukan Presentasi Kelompok secara panel pada
pertemuan berikutnya.