Anda di halaman 1dari 13

SIL 4 Mungkinkah?

SIL 4 Mungkinkah? ---> was PSV Fire Case Akh. Munawir Dear all, Ikutan dikit, Selain regular PSV maintenance, Keputusan Ditjen Migas 84K bahwa PSV wajib di-SKKP per-tiga tahun lho, artinya PSV tersebut akan retest & reset lagi. Jika tdk reliable sudah pasti MIGAS tdk akan mengizinkan PSV tsb dipasang. Btw, untuk SIL 4 requirement saya belum pernah dengar diapplikasikan di Oil n Gas Industry kecuali di NASA. Jd gmna nih perlu, PSV atau tidak? dan settingnya lebih besar mana PSV dibandingkan BDV? :) Awaluddin Berwanto Mas Akh Munawir Ada kok proyek Oil & Gas yg memerlukan overall SIL-4. Keperluan untuk SIL-2 atau SIL-4 itu kan tergantung dari hasil IPF study untuk keseluruhan system. Harus dibedakan antara SIL requirement secara keseluruhan dg SIL untuk individu equipment. Memang..saat itu masih sulit untuk menemukan satu system protection yg mencapai SIL-4. HIPPS saja yg paling tinggi adalah SIL-3 Apabila satu system memerlukan SIL-4, maka dapat dibuat dgn memasang satu system dg SIL-3 plus system tambahan SIL-2. Semua itu berdasarkan analisis yg teliti. Crootth Crootth Proyek oil and gas mana bang, yang memerlukan SIL-4? Biar argumen bang Awaluddin kuat, sebaiknya disebutkan saja proyek mana mas? Apakah tercapai keperluan yang dimaksud (SIL-4)? Saya juga mohon penjelasan Bang Awaluddin tentang: "apabila satu sistem memerlukan SIL-4, maka dapat dibuat dengan satu system dengan SIL-3 plus sistem tambahan dengan SIL-2. semua itu berdasarkan analisis yang teliti."

hampir delapan tahun belajar SIL, saya kok ga tahu tentang pernyataan Bang Awaluddin di atas ini ya? mungkin yang dimaksud IL (integrity level) untuk IPL (independent protection layer) pada LOPA barang kali yah?? Awaluddin Berwanto Silahkan refer ke Project Kristin Field di North Sea (subsea development), salah satu perusahaan minyak di sana (Statoil) dgn kontraktornya Aker Kvaener. Ini HP/HT field development Mereka memasang Subsea HIPPS - SIL-3, Over pressure Protection System (OPPS) di Subsea Xmas Tree - SIL -2, PSV -SIL-1, serta perbedaan thickness pipeline dari xmas tree sampai host. Cara pengembangan yg sama, sedang kami bahas untuk pengembangan salah satu field di Malaysia, dimana saya sedang ikut mengerjakannya. Hasil FEED telah tegas menyatakan SIL-4 (termasuk verifikasi dg 3rd party). Crootth Crootth Wah kalau dari hasil FEED masih perlu diverifikasi lagi pak, karena setahu saya, IEC-61508 dan IEC-61511menganut prinsip Safety Lifecycle (SLC) seperti berikut: Tahap Analysis Conceptual Process Design --> Hazard and Risk Analysis --> Develops Safety Requirements (determine SIL) (klausul 5 dalam IEC-61508) ---> Tahap Realization Tahap Realization ---> Perform Conceptual SIF Design ---> Perform Detail SIF Design ---> Verifiy Safety Requirement Have Been Met (klausul 13 dalam IEC-61508) ---> Tahap Operation Tahap Operation ---> Create maintenance/Operation Procedure ---> Maint./Oprtn Perform Periodic test --> SIS Modification/Decommisioning Sebangun dengan IEC-61508, IEC-61511 dalam Klausul 7d nya (yang jelas jelas disebutkan dalam tahap detailed design) menyatakan perlu dilakukannya SIF Proof Test (Low Demand Mode), agar SIL yang dibutuhkan tercapai. Jadi saya kira apa yang diutarakan oleh Bang Awaluddin itu adalah SIL Determination atau SIL Requirement atau SIL Target yang memang dilakukan pada saat FEED, karena SIL Verification dilakukan setelah desain konsepsual dari safety instrumented function (SIF) diselesaikan. Langkah ini HANYA terjadi jika safety requirement specification telah benar benar selesai pada akhir dari tahap ANALYSIS pada Safety Lifecycle. Pertanyaan mendasarnya: Yakin nih dalam tahap FEED saja sudah bisa di verifikasi SIL dari SIFSIF nya adalah SIL-4??? kalau iya, berdasarkan standar apa?????

Akh. Munawir Yup Gus, Faktanya memang di EPC Phase / Detail Engineering, tidak hanya untuk SIL Workshop Recommendation, tetapi untuk semua hasil recommendasi dari FEED Safety Study tidak langsung mentah-mentah diapplikasikan di EPC Phase, tetapi ada tahapan REVIEW per-Recommendasi oleh Parties (COMPANY, CONTRACTOR & Safety Specialist/3rd Party) dalam suatu Workshop apakah That recommendation is Reasonable and Practicable + Cost & Benefit Analysis. Awaluddin Berwanto Hasil FEED memang belum dapat langsung diaplikasikan ke manufacturng, baik dalam proyek konvensional (on-shore atau offshore facilities) ataupun dalam subsea facilities. Selain data-data yg belum lengkap..khusus untuk subsea development, juga pada akhirnya pengembangannya facilities yg ada harus disesuaikan dg produk-produk yg telah dibuatoleh subsea manufacturer itu sendiri. Ada perbedaan cara eksekusi proyek antara subsea dan konvensional. Dalam subsea development, eksekusi detail engineering langsung ditangani oleh subsea manufacture, ini berbeda dg proyek konvensioal detail engineering masih ditangani oleh engineering company juga. Oleh karena itu, setiap rekomendasi dari FEED memang langsung dipakai oleh Subsea Manufacture untuk kemudian Subsea manufacture melakukan system engineering design yg akan melakukan optimisasi dari semua hasil FEED dan menyesuaikannya dg produk-produk yg telah dihasilkan oleh manufacture. Untuk Subsea Development, pemakaian standard IEC-61508 dan IEC-61511 sangatlah tidak cukup, satu aspek yg penting adalah reliability & availability dari equipment tsb. Makanya, API 17N juga dipakai dalam menentukan sistem proteksi yg akan dipakai. Jadi, setuju dg Mas Dam, memang benar hasil SIL-4 dari FEED yg telah kami lakukan belumlah final, system engineering design yg saat ini sedang dilakukan antara Company dan Subsea manufacture yg akan menentukan hasil akhirnya. Walaupun demikian, kami dan project team harus siap dgn worst case (SIL-4)..karena dari berdasarkan rekomendasi para spesialis dan 3rd party..sangatlah sulit mencapai inherently Safety dgn kondisi yg ada. Apabila benar jadi memakai SIL-4, maka project kristin field menjadi salah satu acuan..karena sejauh ini field tsb dapat berjalan baik..dgn biaya OPEX untuk menjaga kondisi tsb sangat tinggi. Akh. Munawir Pak Awaluddin, Sebelumnya terima kasih sharing anda. Apakah QRA sudah digunakan untuk menganalisa HAZARD ini?

anthon panggabean Dear Pak Dam, Saya masih belum clear bangat akan pemberian Certikasi dari SIL (1 s/d 4 ), walau sedikit menyimpang tetapi saya mohon pencerahan. Apakah suatu perusahaan yang sudah pernah mendapatkan certikasi SIL .....untuk SDV telah dianggap sudah otomatis bahwa setiap pekerjaan mereka sudah bisa dianggap meet and comply dengan SIL requirement. Kenapa demikian, karena baru2 ini ada satu KPS yang mensyaratkan bahwa setiap vendor sudah punya certifikasi SIL-3, kebetulan ada satu vendor yang sudah pernah mengerjakan equipement dan memperoleh SIL-3. Sedang para vendor lain mengatakan bahwa SIL itu didapatkan adalah dengan mengajukan spect, sizing dan calculation ( yaitu Actuator dan valvenya )ke Company yang melakukan acreditasi tsb.Sehingga yang SIL itu adalah persyaratan tertentu dari suatu kesatuan system dalam SDV dimaksud. Hingga ahirnya KPS tsb tidak melaksanakan keputusan dimaksud, karena project engineernya jadi bingung sendiri. Terima kasih dan kita tunggu pencerahannya, Crootth Crootth Mas Anton, Saya masih belum terlalu jelas dengan deskripsi anda. Mohon maaf atas keterbatasan ini. Tapi kalau saya boleh menjelaskan, besar kemungkinan yang menjadi kebingungan adalah tiga hal: 1. Certified for Used in SIL-3 Istilah di atas sering kita dengar dari vendor vendor yang menawarkan PT atau TT atau LSHH, atau PSHH, dst. Yang menjadi dasar mereka untuk mengklaim ini adalah sertifikasi terhadap peralatan mereka (sebagaimana di atur oleh IEC-61508), biasanya oleh laboratory atau test company yang telah disetujui dan diakreditasi oleh komite (IEC), salah satu diantara company tersebut adalah Exida. Exida melakukan serangkaian test pada alat alat tsb., dan mengevaluasinya dengan tools yang dinamakan FMEDA (failure mode effect and diagnostic analysis). Perlu diingat bahwa "certified for used in SIL-3" tidaklah berarti bahwa SIF nya kelak benar benar SIL-3.

2. SIL Determination atau SIL Requirement Pernah juga mungkin kita pernah mendengar "SIL-3 is required" ? Istilah ini muncul tatkala pekerjaan proyek memasuki tahap FEED dan analisa penentuan kebutuhan SIL ini biasa dilakukan segera setelah konseptual design diselesaikan dan hazard identification dan coarse risk assessment telah dilakukan. Dari sini sudah bisa diperkirakan kebutuhan SIL nya. Misalnya untuk satu SIF : sistem shutdown sebuah vessel yang ditrigger oleh PSHH ditentukan minimal SIL-2. Metode yang digunakan di sini, biasanya LOPA, tapi bisa pula menggunakan yang lebih sederhana: Risk Graph, Risk Matrices, dst. Maka masing masing bagian dari SIF nya, PSHH, logic solver (bisa PLC), dan Final Element (SDV) nya harus minimal memenuhi kriteria "certified for use in SIL-2", lebih jauh dijelaskan di bawah ini. 3. SIL Verification/Certification Sebagaimana sebelumnya, mengenai SIL verification ini secara khusus diatur dalam klausul 7b, dan 12.7 dari IEC-61511. Di tahap ini, baik peralatan yang dipasang maupun prosedurnya (prosedur maintenance, test, dst) diverifikasi lebih lanjut. Beberapa metode perhitungan di sini umumnya menggunakan FTA, Markov, Reliability Block Diagram, dll. Dalam contoh diatas, dihitunglah integrity level masing masing elemen nya (PSHH, PLC, dan SDV), setelah masing masing elemen ini dihitung, barulah dihitung integrity level secara sistem (SIF nya). Perlu diingat bahwa bisa saja satu sistem terdiri dari beberapa PSHH, beberapa PLC, atau bahkan beberapa SDV. Barulah setelah melalui verifikasi ini (biasanya melalui independent party, tidak harus third party, namun harus independent, tidak terlibat dalam proyek), sebuah SIF dapat disertifikasi sebagai SIL-1, SIL-2, SIL-3 dan seterusnya Sertifikasi sendiri bukanlah menjamin 100% plan nya akan aman, semua harus dilihat dari praktek praktek Safety as a whole. Semoga menjelaskan. AAntonius Kang DAM, ysh. Perlu kami jelaskan bahwa, dalam penjelasan email sebelumnya, mohon dibaca lebih teliti, bahwa dikatakan TUV, diantaranya. Dan hal ini bukan bermaksud menyatakan TUV sebagai satu satunya badan sertifikasi, seperti yang akang maksudkan. Ok clear. Lalu untuk konteks sertifikasi kualifikasi suatu kontraktor yg telibat dalam SIS Project, sekali lagi sy mengatakan bahwa sgt tergantung dari Company Policy, sehingga hal ini bukan mutlak tapi relatif terhadap kebijakan suatu perusahaan pemberi kerja tertsebut. Juga dari paparan sy tentang begitu kompleksnya tahapan pekerjaan dalam suatu SIS Project, maka menurut sy sewajarnyalah jika ('ada suatu KPS' seperti email Pak Anthon Panggabean) yg meminta persyaratan sertifikasi seperti itu. (Maaf pak Anthon P sekali lagi bukanya mau membela KPS yg bapak maksudkan tersebtu tetapi hanya mencoba melihatnya dari sisi profesinalitas & kompetensi sj). Dan sekali lagi, sepengetahuan sy (sekali lagi sy tdk me-refer ke suatu standar apapun, seperti yg anda katakan dibawah) tentang bahwa TUV bisa mengeluarkan sertifikasi kualifiasi uintuk engineer

& manajer yg terlibat dalam pekerjaan SIS, untuk memenuhi persyaratan kompetesi yg diperlukan, misalnya Kalkulasi&Verifikasi perhitungan SIL dll, hal itu hanya karena keterbatasan pemahaman sy yg sejauh ini hanya mengetahi tentang TUV. Dan sekali lagi silahkan baca lebih teliti email sy dibawah, bahwa sy tdk mengatakan TUV merupakan suatu badan yg direkomendasikan oleh suatu perusahan KPS yg akan paparkan dibawah. Sekali lagi untuk TUV td, silahkan dicari melalui search engine agar mendapatkan penjelasan detilnya. Mengenai ada badan lain yg juga berkompeten untuk mengeluarkannya, terus terang sy belum update. Ok clear Mengenai QRA, ada salah quote (redaksional) oleh sy, sy rasa persis seperti yg anda maksudkan bahwa QRA itu identik dengan studi penilaian resiko/bahaya yg bersifat KUANTITATIF bukannya Qualitatif seperti yg tertulis . Ok clear. Demikian penjelasan tambahan kami. arnold antonius pak Anton, Salah satu sertifikasi kualifikasi untuk pekerjaan SIS Project diantannya adalah FUNCTIONAL SAFETY ENGINEERING, yang dikeluarkan oleh TUV, diantaranya. Masalah sertifikasi & kualifikasi ini penting semenjak, pekerjaan SIS Project memang membutuhkan kemampuan yang spesifik dengan akurasi tinggi dari para enjineer yang terlibat (baik engineer dari Kontraktor maupun tim KPS pemberi kerja). Berikut, gambaran tahapapan suatu SIS Project : Tahap - FEED Penetapan PFDs Penetapan dasar konsep SIS yang dipersyaratkan Penetapan Matrik aturan dan tanggungjawab Pelaksanaan PHA/SSFA Penetapan persyaratan RESETD berdasarkan SOP Operasi Plant, SOP Pengendalian Ruang Kendali dan Manual Book (misalnya Reset WellHead Control Panel, Reset SDV / Final Elements) Identifikasi operasi pengendalian atau sekuen proses yang memungkinkan berdampak terhadap SIS Pengembangan awal PFDs, P&IDs (dengan SIS SIFs), gambar / denah Keselamatan Proses yang persyaratkan, Data Sheets Proses, data I/O yang digunakan Daftar SIL dan target SIL berserta Parameter-parameter Kunci (input, output, trip points)

Tabel awal Cause and Effect Diagram Arsitektur SIF yang dipersyaratkan (untuk SIL 1-3) Penetapan gambar konsep dan arsitektur akhir dari SIS dan BPCS Verifikasi awal kalkulasi SIL (untuk SIL 1-3) Tinjau awal IP Pengembangan spesifikasi SIS Functional oleh EPC Tahap - Detail Disain Engineering Pengembangan SRS (Safety Requirement Specification) Finalisasi tinjauan SSFA (termasuk revisi) Finalisasi diagram Cause and Effect Finalisasi P&IDs (lengkap dengan SIS SIFs), diagram Process Safety, Data Sheet proses, daftar I/O yang dibutuhkan, Trip Schedule dan daftar Alarm Finalisasi & Verifikasi kalkulasi SIL Persiapan spesifikasi detil untuk proses Procurement Finalisasi dan verifikasi disain Tahap Disain SIS dan Fabrikasi Tahap Pemrograman Aplikasi SIS Tahap Disain Peralatan Field Instrument Devices Tahap - Commissioning

Dari urutan pekerjaan diatas, sepertinya agak aneh kalau kontraktor yang terlibat, tidak mempunyai kualifikasi yang mumpuni yang teruji secara sertifikasi. Umumnya para KONTRAKTOR yang terlibat dalam suatu SIS Project, diistilahkan sebagai SIS Sub-Contractor (yang terdiri dari para enjiner SIS yang terkategori sebagai spesialis), SIS Vendor (merupakan vendor penyedia Logic Solver, Sensor dan SDV yang sesuai dengan SIL yang dibutuhkan), PCS Vendor (merupakan vendor penyedia jasa control system baik automasi maupun sistem terintegrasi yang umumnya untuk pengendalian BPCS tetapi berkaitan dengan SIS Project). Kontraktor lainnya

tentunya FEED Contractor dan EPC Contarctor. Dan selanjutnya untuk standar kompetensinya dari masing-masing kontaktor, yang dilibatkan, akan ditetapkan oleh masing-masing perusahan berdasarkan kebijakan dari perusahan (Company Policy), mengacu pada standar internasional yang direkomendasikan dan diakuai.

Sekedar menambahkan saja, bahwa kebutuhan akan sertifikasi SIL baik untuk produk peralatan lapangan & peralatan pengendali yang digunakan (Sensor/Transmitter, Final Element & Logic Solver) maupun untuk pelaksana jasa kerja sangat ditentukan oleh STANDAR KESELEMATAN OPERASI dari masing-masing KPS. Yang dalam hal ini tergantung dari Company Policy tadi. Selanjutnya secara spesifik, pengaturan STANDAR KESELAMATAN OPERASI, menurunkan SISTEM atau STANDAR suatu KESELAMATAN PROSES (Misalnya : SIS- Safety Integrated System, Plant ShutDown Management System, Alarm Management System, F&G Management System, WellHead Control & Shutdown System, Turbine Safety Control & Shutdown System, dll). Selanjutnya STANDAR KESELAMAT PROSES akan menurunkan STANDAR KESELAMATAN PERALATAN (Misalnya : SIL untuk standar kuantitas ketersediaan kemungkinan kegagalan suatu peralatan keselamatan saat kondisi operasi dalam tidak aman, NEMA/IP untuk standar Enclosure pada Hazardous Area Classification, NEC (NFPA)/TUV /Cenelec untuk keselamatan produk terhadap persyaratan Intrinsically Safety yg dipersyaratkan dalam operasi peralatan pada area Hazardous Area Classification, dll). Umumnya persyaratan keselamatan operasi tersebut, merupakan rekomendasi dari studi KESELAMATAN OPERASI, dimana secara siklus pada tahapan suatu SIS Project Management di-mapping dalam istilah SIS Lifecycle (ANSI/ISA-84.00.01-2004 Part 1), yang dalam hal ini dilakukan pada suatu CAPITAL Project maupun Reliability Project (justify by MOC due to unreliable operation / equipments). Salah satu STUDI KESELAMATAN OPERASI yang harus tersedia pada tahapan FEED adalah studi yang bersifat penilaian Kualitatif, yaitu SAFETY SYSTEM FUNCTION ANALYSIS - SSFA / PROCESS HAZARDS ANALYSIS - PHA, yang umumnya mengacu pada ANSI/ISA-84.00.01-2004 Part 1, IEC 61511-1 dan API RP 14C. Untuk suatu SSFA, biasanya OutCome-Product nya berupa SIS, yang dalam hal ini biasanya kriteria SIS ditetapkan berdasarkan persyaratan Risk Level yg mengacu pada suatu studi lain misalnya SOA (Safety Objective Analysis). Selanjutnya menetapkan SIS, yang merupakan rangkaian fungsi logika dan urutan keselamatan operasi yang dipersyaratkan yg disebut SIFs (Safety Integrated Function). Dimana penetapan SIFs umumnya bisa mengacu pada : Safety Process Diagram, CAUSE & EFFECT Diagram, Tripping Schedule, ESD Permissive Logic, , WellHead Control & Shutdown System, HIPPS, Turbine Start Up Permissive, Turbine Shut Down Sequence, dll). OutCome product lainnya dari SSFA bisa juga berupa ILP (Independent Protection Layer) dari LOPA (Layer of Protection Analysis), yang yang akan menetapkan jenis peralatan atau sistem yang akan digunakan sebagai tahapan proteksi kondisi tidak aman (dengan mengacu pada Integrated Risk Prioritization Matrix, yg juga digunakan oleh SOA) yang dalam hal ini akan

mengacu pada STANDAR KESELAMATAN OPERASI yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan maupun peraturan perundangan pemerintah yang berlaku. Dimana suatu STANDAR atau SISTEM KESELAMATAN OPERASI biasanya merupakan hasil rekomendasi dari suatu studi keselamatan yang bersifat penilaian Kuantitatif dari suatu tingkat bahaya misalnya dengan prosedur QRA (Qualitative Risk Assessment Procedure). Semoga membantu. Anton Reliability Engineering Team Chevron Expertise Design, Troubleshooting, Maintenance & Reliability for Field Instrument Devices [Oil&Gas Metering&Tank Gauging System, Sensor&Transmitter, Actuator, Analyzer Measurement), Process Control, Safety Process Control, Automation & Integration System Crootth Crootth Mas Anton, Maafkan jika saya belum dapat versi terbaru dari standard terbaru Chevron mengenai SIS ini (ICMDU-11.24), namun sepanjang saya ketahui tidak ada sekalipun standard yang menurut saya sangat bagus ini menyebut nyebut perlunya FUNCTIONAL SAFETY ENGINEERING yang dikeluarkan oleh TUV. Saya tetap bersepakat bahwa sebuah standard yang bagus tidak menyebut nama satu vendor atau lembaga tertentu yang berhak ikut ambil bagian sebagai third party. Berikut saya nukil dari standard Chevron ICM-DU-11.24, sub-part 6.12: "All SIL 3 verification calculations shall be verified by a qualified third-party independentof the facility. All SIL 1 and 2 verification calculations should be independently verified by a qualified thirdparty who may be associated with the facility." Jadi jelas kiranya, standard Chevron tidak merefer pada satu lembaga tertentu sebagai third party nya (TUV, seperti anda nyatakan). TUV sendiri pun ada dua, TUV Sud dan TUV-Rheinland, TUV mana ini yang direfer? Di luar TUV, menurut info (perlu diklarifkasi), ISA pun bisa memberikan sertifkasi pada ahli SIL (monggo mas Mefredi diklarifikasi, mas Mefredi adalah salah satu guru saya di bidang SIL study ini).. Satu lagi pernyataan dari mas Anton yang perlu diklarifikasi, anda menyebutkan QRA sebagai QUalitative Risk Asessment, apakah betul demikian? Terus terang selama saya berkecimpung di dunia SIL, standard tentang SIL Study ini tidak semua company memilikinya, Chevron dan BP menurut saya sejauh ini menunjukkan praktek praktek

yang excellent dengan membuat dua standard yang cukup komprehensive ini, salut buat Chevron dan BP. Total E&P sendiri, insyaallah tahun depan akan menyusul. gandi r setyadi Om Garonk tercinta, Mohon penjelasan lebih lanjut ya (sesuai point2) yang kau tulis. Maaf kalau masih rada awam. 1. "Perlu diingat bahwa "certified for used in SIL-3" tidaklah berarti bahwa SIF nya kelak benar benar SIL-3. " Bisa dijelaskan lebih dalam ? Bukankah kalau sudah dicertified SIL3 berarti ya sudah menghitung aspek2 integrity lainnya secara overall (melalui FMEDA) seperti yang Om jelaskan di point-3 ? 2. Gimana sensitivity metode2 yang digunakan dalam penentuan SIL (Risk Matrice, LOPA dll dibandingkan satu dengan lainnya?) Crootth Crootth Gandi Di daerah dingin sana, 1. Yang dimaksud dengan "certified for used in SIL-3" adalah berlaku untuk satu unit alat, bukan fungsi, sebagaimana diketahui oleh dik Gandi, pada kuliah Prof. Saswinadi Sasmojo (Pengantar Analisis Sistem Teknik Kimia, TK-201) dulu : Unit-Unit (atau alat alat) --> menyusun Fungsi-fungsi --> menyusun sebuah Sistem Jadi satu alat (sebut saja PSHH) secara mandiri, yang memenuhi kriteria "certified for used in SIL3", belumlah bisa dikatakan fungsi nya memenuhi kriteria SIL-3 JIKA alat alat lainnya (yang digunakan dalam satu fungsi tersebut) tidak memenuhi "certified for used in SIL-3" ATAU jika hasil analisa verifikasi (baik dengan RBD, FTA atau Markov) dari fungsi nya menyatakan kombinasi (arsitektur) alat alat berikut faktor proof test dan periodic test nya bisa memenuhi kriteria SIL-3. Lihat contoh di bawah ini: Satu sistem terdiri dari PSHH + Logic Solver + Final Elemen (SDV) 2 buah PSHH yang berarsitek redundant (1oo2) memiliki PFD = 0.0082 (certified for used in SIL-2, dengan syarat periodic test setahun sekali) 1 buah logic solver yang memiliki PFD = 0.000378 (certified for used in SIL-3, dengan syarat periodic test 1 tahun sekali) 1 buah Final element, valve (SDV katakanlah) memiliki PFD = 0.023 (certified for used in SIL-1) Maka PFD dari SIF tersebut adalah = PFD-PSHH (redundant, 1oo2) + PFD Logic Solver + PFD Final Element = (0.0082 x 0.0082) + 0.000378 + 0.023 = 0.0301 (memenuhi kriteria SIL-1) Jadi jelas kiranya dari contoh di atas, sebuah unit (dalam contoh di ataas adalah SIL-3 PLC) yang memenuhi "certified for used in SIL-3" belum mampu untuk membentuk fungsi shutdwn (SIF) yang

memiliki kriteria SIL-3 karena tidak didukung unit unit lainnya (PSHH dan Final Element) dan atau arsitektur (coba saja jika final elemennya redundant, 1oo3 misalnya) dan atau interval testingnya dst. Contoh di atas adalah untuk memberikan penggambaran saja, dalam kenayataannya TIDAKLAH semudah itu menentukan SIL dari sebuah SIF, terkadang cukup rumit yang membuat kita membutuhkan software untuk menyelesaikannya. 2. Sebuah pertanyaan yang tercerdas yang saya dapatkan dari milis migas ini! metode metode penentuan kebutuhan SIL, SIL requirement study, selama ini memang tidak mengikutsertakan unsur sensitivity, kecuali jika SIL requirement nya menggoreng hasil report QRA (kebanyakan QRA memasukkan unsur sensititvity). Inilah yang menurut saya juga merupakan back-log dari LOPA, Risk Graph, atau Risk Matrices methodology. Thanks Gandi, Semoga membantu febri wardana Mas Garonk, Mau tanya dikit soal certified for used in SIL-3, mohon klarifikasinya. Saya pernah denger meskipun suatu instrument dikatakan certified SIL-3 tapi tidak dilakukan periodic test secara berkala spt yg ditentukan apakah akan turun SIL-nya ? Demikian pula suatu alat instrumentasi certified used SIl-1 apakah juga bisa naik ke SIL-2 atau yg diatasnya jika periodic testnya kita tambahkan ? Kalau tidak bisa, berarti kita juga sangat tergantung dgn sertifikasi suatu instrument dalam menentukan peralatan2 yg digunakan dalam satu loop. Saya pernah melihat grafik SIL yg naik turun sesuai dgn time domain, dimana ketika kita melakukan periodic test maka PFD akan turun (kembali ke PFD SILnya). Qualitative Risk Analysis memang lebih mudah dilakukan daripada quantitative, dan dari analysis tersebut memang kita bisa menentukan tingkat kebutuhan SIL system kita berdasarkan referensi risk matriks, dsbnya. Crootth Crootth Dik Febri, Berikut adalah rangkuman jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan dik Febri: 1. Tes (baik itu proof test maupun manual test) merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi nilai SIL dari sebuah SIF. 2. Jawab dari pertanyaan dik Febri "suatu alat instrumentasi certified used SIL-1 apakah juga bisa naik ke SIL-2 atau yg diatasnya jika periodic testnya kita tambahkan ?" bisa iya bisa engga.

3. Untuk kebanyakan final element, pengurangan "time interval" untuk manual testing (artinya mempersering manual testing) dapat /berpotensi menaikkan SIL 4. Namun untuk sebuah PLC simplex misalnya, semakin anda memperbanyak jumlah manual testing (mengurangi time interval) dapat berarti anda memperbanyak / mempersering melakukan bypass pada sistem PLC anda (untuk mempertahankan agar operasi yang nilainya $$$ tetap berlangsung normal - tidak shutdown). Anda tentu tahu dalam keadaan logic solver ter-bypass, availability PLC simplex turun hingga nol bukan? nilai availability = nol, berarti PFDnya naik, berpotensi menyebabkan nilai SIL turun 5. Jangan pula melupakan "automatic test diagnostic coverage" dan "proof test coverage" dalam pengetesan. Suatu SIF yang ditest sekali dalam lima tahun belum tentu lebih tinggi SIL nya dibanding pengetesan sekali dalam sepuluh tahun, jika pengetesan sekali dalam lima tahun "automatic test diagnostic coverage"nya jauh lebih rendah (dibanding pengetesan sekali dalam 10 tahun) KESIMPULAN Menghitung SIL (memverifikasi SIL) dari sebuah SIF itu bukanlah pekerjaan yang sederhana/mudah Oleh karenanya diperlukan seseorang yang sudah ahli untuk melakukannya (bahkan beberapa perusahaan mengartikannya orang tersebut harus memiliki sertifikasi) Semoga menjawab febri wardana Makasih Mas DAM, cukup memberikan pencerahan buat saya..... Untuk automatic periodic test setahu saya memang diperlukan dan mungkin juga harus melibatkan field instrument dan logic solver yg mendukung test ini. Terkadang ada sistem logic solver/field instrument yg mungkin belum menyediakan fasilitas ini, shg kita harus lakukan manual. Dengan automatic periodic test dimungkinkan kita tidak perlu membypass logic krn impact ke process minimum dan bisa dilakukan dalam kondisi online (PFD tidak akan berubah akibat bypass logic). dkar Proof test interval sangat mempengaruhi performansi sebuah SIS sesuai dengan rumus PFD=TI*Lambda/2 dimana lambda failure rate, jadi semakin panjang test interval yang akan dilakukan maka PFD semakin besar tetapi tergantung architecturenya juga. Sebagai contoh untuk hanya SIL 1 1oo1 untuk TI=3yr masih meet the requirement tetapi dengan TI=1yr all of the SIL masuk dalam rentang PFDavg (diambil dari paper nya mbak Angela E. Summers, "Cookbook Versus Performance SIS Practices").

Roslinormansyah Mas Febri, Saya kok tambah bingung dengan statement sampean dibawah ini ya : Qualitative Risk Analysis memang lebih mudah dilakukan daripada quantitative, dan dari analysis tersebut memang kita bisa menentukan tingkat kebutuhan SIL system kita berdasarkan referensi risk matriks, dsbnya 1. Benarkah tingkat kebutuhan SIL system "hanya" dengan risk matriks ? lantas bagaimana dengan dengan analisis FTA yang banyak dipakai untuk hitung PFD (lihat contoh cak DAM di tulisan yang lain tentang ini). 2. HAZOP adalah qualitative risk analysis "tapi" masih butuh LOPA untuk mendiskripsikan berapa SIL yang terhitung. Mungkin mas Febri bisa kasih contoh Qualitative Risk Analysis yang lain yang bisa direct untuk menentukan SIL, please. febri wardana Mungkin yang saya maksud untuk qualitative risk analysis adalah ketika kita melakukan Process Hazard Analysis baik itu menggunakan hazop, what if atau metode lainnya kita bisa melakukan SOA (safety object analysis) sekaligus. SOA ini untuk menentukan instrument safety system yg dibutuhkan untuk mencegah dan memitigasi hazard yg ada. PHA bisa menggunakan risk matrix utk PHA, sedangkan SOA bisa menggunakan risk matrix khusus untuk SOA dimana akan menentukan IPL credit yg harus dicapai berdasarkan risk matrix ini. Refernsi IPL diperlukan untuk mengidentifikasikan gap IPL dan kita bisa melakukan rekomendasi agar gap tersebut hilang sesuai dgn tabel IPL yg ada. Hasil dari risk matrix SOA ini ada kaitannya dgn kebutuhan SIL certified sesuai dgn IPL credit yg diperlukan. Ini yg saya tahu dari standard yg dipakai di tempat saya. Mungkin karena saya baru belajar jadi sedikit membingungkan ya...thanks atas comment-nya. Lebih cocoknya bukan statement kali, pendapat dari hasil membaca referensi yg ada. Untuk LOPA, quantitative risk analysis saya belum pernah membacanya, mudah2an dgn diskusi ini saya banyak belajar dari rekan2. Mohon masukannya...