Anda di halaman 1dari 6

Kwan im Kiong di Pamekasan

buram on May 5, 2011 Leave a Comment

DI KALANGAN WARGA TIONGHOA DI JAWA TIMUR, KELENTENG KWAN IM KIONG PAMEKASAN PUNYA KEUNIKAN TERSENDIRI. IBADAH TRIDHARMA DI TEPI PANTAI TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI SELALU DIJADIKAN JUJUGAN PADA PERAYAAN DEWI KWAN IM. Mengapa Kwan Im Kiong, Yangg juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara, selalu warga Tionghoa, khususnya Yangg beragama Tridharma? Apa kelebihan kelenteng ini? Sejumlah warga Tionghoa mengaku berminat karena rumah ibadah ini punya History Yangg panjang. Selain itu, ada semacam legenda / lisan Yangg berlangsung turun-temurun. Ada sisa-sisa peninggalan budaya Semenjak era Majapahit, kata Liem, salah pengunjung Kwan Im Kiong, beberapa lalu. Alkisah, pada Tahunn 1800-an, seorang bernama Pak Burung empat buah patung Yangg terbuat dari batu hitam Yangg keras di kampung Candi. Kampung / Dusun Candi waktu ini termasuk Desa Polaga di Kecamatan Galis, Pamekasan, Pulau Madura. Candi merupakan perkampungan Yangg lokasinya di dekat pantai, yakni pantai Selat Madura. Pantai selatan di daerah Kabupaten Pamekasan. Pantai tersebut kemudian dikenal sebagai Pantai Talang. Pantai Talang ini merupakan pantai Yangg landai & bagus pemandangannya. Termasuk juga dipakai sebagai pelabuhan. Karena itu, heran kalau Semenjak zaman raja-raja dulu, di pantai Talang dibangun suatu pelabuhan. Berkat keindahan pemandangan alamnya, Pemerintah Kabupaten Pamekasan kemudian membuat wisata bernama Pantai Talangsiring.

Nah, menurut Yangg kerap dituturkan warga Tionghoa di Pulau Madura, pantai Talang pada zaman raja-raja dahulu selalu dijadikan berlabuh perahu-perahu dari semua penjuru Nusantara. Khususnya armada Kerajaan Majapahit Yangg mensuplai bahan-bahan guna keperluan keamanan ataupun spiritual di Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung & perlengkapan sembahyang. Maklum, Semenjak ratusan Tahunn lampau telah ada perantau asal Tiongkok Yangg menemukan penghidupan di Nusantara. Pada masa Majapahit itu berdiri Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo, sebelah barat Pamekasan pada awal abad ke-16. Kerajaan kecil ini menjadi dari Kerajaan Majapahit Yangg berpusat di Trowulan, Mojokerto.

Para mahasiswa & masyarakat Yangg beragama Islam pun sering main-main alias wisata ke sini. Jangan khawatir, ada mushala guna salat Harus lima plus salat sunnah. AWALNYA ADA RENCANA membuat suatu CANDI DI Yangg AGAK JAUH DARI JAMBURINGIN. NAMUN, CANDI guna PEMUJAAN ALA KAWULA KERAJAAN MAJAPAHIT ITU GAGAL TERWUJUD. Candi Yangg tidak pernah terwujud itu disebut penduduk setempat bersama Candi Burung. Burung dalam Bahassa Madura berarti gagal. Desa Candi Burung merupakan salah desa di Kecamatan Poppo, Yangg lokasinya berdekatan bersama Desa Jamburingin. Jamburingin, Yangg dulunya nama suatu kerajaan kecil di Pamekasan, waktu ini menjadi nama salah desa di Kecamatan Proppo. Selanjutnya, seperti diceritakan Kosala Mahinda, ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara, dalam website sah Kelenteng Kwan Im Kiong Pamekasan, raja-raja Jaburingin Yangg masih keturunan Majapahit, membuat candi di sebelah timur Kraton Jamburingin.

Tepatnya di kampung Gayam, kurang Lebihh dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin. Sampai waktu ini masyarakat masih menyebut tersebut Candi Gayam, katanya. Saat ini tersebut merupakan semak belukar. Namun, Kitaa masih bisaa jejak suatu candi kuno di sana. Apalagi, sesudah ditemukan batu bata berukir Yangg diperkirakan dinding Candi Gayam. Demikianlah, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali terangkat sesudah tiba di Pelabuhan Talang. Penduduk waktu itu bisaa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Karena itu, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan guna mebangun candi di tersebutt. Dalam perkembangannya, kejayaan Kerajaan Majapahit awali surut. tidak berapa lama kemudian agama Islam awali tersebar di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Agama Islam ini sambutan Yangg begitu baik dari penduduk. Maka, rencana membuat candi di Pantai Talang pun tidak pernah terlaksana. Patung-patung kiriman dari Majapahit pun ditinggalkan orang. Lenyap terbenam oleh zaman & memang benar-benar tertimbun dalam tanah tanah. Barulah sekitar Tahunn 1800 Pak Burung patung-patung di ladangnya. Kabar tersebut begitu perhatian penjajah Belanda. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkuadiningrat I (1804-1842) guna mengangkat & memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena waktu itu peralatan begitu terbatas & patung-patung tersebut begitu berat, pamindahan ke Kadipaten Pamekasan gagal pula. Maka, patung-patung tersebut ttetap berada Di ketika ditemukan Pak Burung.

SEKITAR 100 Tahunn KEMUDIAN, suatu KELUARGA TIONGHOA MEMBELI TANAH DITEMUKANNYA PATUNG-PATUNG OLEH PAK BURUNG. LOKASI ITULAH Yangg KEMUDIAN DIBANGUN KELENTENG KWAN IM KIONG ALIAS VIHARA AVALOKITESVARA. Setelah dibersihkan, keluarga Tionghoa di Madura di era penjajahan Belanda itu akhirnyaa mengetahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Ia ada kaitan bersama patung-patung khas Buddha beraliran Mahayana Yangg punya banyak penganut di daratan Tiongkok. Salah patung penemuan Pak Burung Yangg berukuran geude ternyata patung Kwan Im Po satt alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter. Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan & Pulau Madura umumnya. Semenjak itulah digagas pembangunan kelenteng guna menampung Kwan Im Po Sat, dewi welas asih Yangg begitu dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa. Jadi, kelenteng ini memang punya History Yangg begitu panjang, ujar Kosala Mahinda, ketua Yayasan Avalokitesvara, pengelola Kwan Im Kiong di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan. Faktor History & kekhasan Inillah Yangg juga membikin Kwan Im Kiong Semenjak dulu menjadi jujugan warga Tionghoa. tidak di Jawa Timur, bahkan huaren-huaren dari luar Pulau Jawa pun kerap memanfaatkan kesempatan guna datang bersembahyang di Kwan Im Kiong. biasnya, para peziarah dari wilayah-wilayah Yangg jauh datang dalam rombongan besar. Kini, sesudah Pulau Madura & Jawa dihubungkan bersama Jembatan Suramadu, praktis kunjungan wisatawan, khususnya warga Tionghoa, ke Kwan Im Kiong pesat. Hampir setiap hari ada saja warga Yangg mampir ke vihara di kawasan pantai wisata Talangsiring ini. Yah, kita penasaran sama Jembatan Suramadu, jalan-jalan ke Madura. Kwan Im Kiong memang termasuk salah kelenteng Yangg begitu dikenal umat Tridharma, ujar seorang pengunjung Yangg mengaku datang dari Sumatera. Sebagai ungkapan syukur & terima beri kepada Tuhan attas penemuan patung-patung Buddhis di Dusun Candi, Pantai Talangsiring, pengelola TITD Kwan Im Kiong Semenjak dulu menggelar peringatan hari-hari geude Yangg berkaitan bersama Dewi Kwan Im secara istimewa. Dalam 1 tahun ada tiga kali perayaan Dewi Kwan Im Yangg diikuti ribuan orang bersama aneka atraksi menarik. Bukan itu saja. urusan konsumsi & akomodasi ribuan pengunjung itu pun ditanggung pengelola kelenteng.

Ini satu-satunya pura di Pulau Madura Yangg dibangun di kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong. DI TANGAN YAYASAN VIHARA AVALOKITESVARA Yangg DIPIMPIN KOSALA MAHINDA, KWAN IM KIONG PAMEKASAN MAKIN DIKENAL DI TANAH AIR. KELENTENG DI PANTAI WISATA TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI JUGA MASUK MUSEUM REKOR INDONESIA. Bagi Kosala Mahinda, bhinneka tunggal ika tidak sekadar slogan / basa-basi belaka. Penghormatan terhadap keberagaman, kemajemukan, masyarakat Indonesia tercermin di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Sebagai suatu kelenteng / ibadah Tridharma, ttentu saja Kwan Im Kiong punya fasilitas peribadatan guna agama Samkauw: Buddha, Khonghucu, Taoisme. Namun, Yangg unik di Kwan Im Kiong ialah keberadaan pura & musala. Tak heran, Tahunn lampau Muri memberikan anugerah khusus kepada pengelola Kelenteng Kwan Im Kiong sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Menurut Kosala Mahinda, Semenjak dulu para pengelola kelenteng ini memang punya wawasan bhinneka tunggal ika Yangg kental. agama / aliran diberi Yangg layak. Kami ingin perdamaian & cinta beri di antara umat manusia, ujarnya. Karena itu, jangan heran ketika kamu berkunjung ke Kwan Im Kiong, kamu akan kesibukan para peziarah bersama teknik beribadahnya Yangg khas. Umat Khonghucu

langsung mengambil Letak di lithang Yangg luas, dekat pintu masuk. Ada lukisan jumbo menggambarkan Nabi Kongzi pengikut-pengikutnya. Para konfusian pun berdoa bersama khusyuk di lithang itu. Kesibukan serupa peziarah Yangg Buddhis & Taois. Mereka langsung menuju ke rumah ibadah mereka, komplit bersama altar & rupang-rupangnya. Umat Hindu pun punya pura Yangg cukup asri. saja, pura ini biasanya Lebihh sepi ketimbang lithang, kelenteng, vihara, / musala. Tapi ttetap saja ada orang Hindu Yangg datang beribadah di pura, kata Kosala. Maklum, saat ini di semua Pulau Madura, Yangg terdiri dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) ada ibadah guna umat Hindu. Yakni, pura kecil Yangg dibangun di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Pihak Muri Semarang pun terkagum-kagum kenyataan ini. Lantas, bagaimana bersama musala? Nah, ibadah guna umat Islam ini juga begitu utama mengingatt tidak tidak banyak pengunjung Yangg beragama Islam. Selain pelajar, mahasiswa, / rombongan wisatawan, banyak pula sopir maupun Kelompok pendukung grup seni budaya Yangg beragama Islam. Mereka ttentu membutuhkan musala Yangg layak guna menjalankan salat lima waktu. Mungkin Baruu di Pamekasan ini ada suatu kelenteng Yangg punya ibadah guna lima agama sekaligus, ujar Paulus Pangka, staf Muri Semarang. (*) COPYRIGHT 2011 LAMBERTUS HUREK