Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kebanyakan masyarakat zaman sekarang menggunakan obat nyamuk, baik semprot, bakar, maupun lotion untuk menghindari gigitan nyamuk. Salah satu obat nyamuk yang sering digunakan adalah HIT. Di dalam HIT terkandung zat racun, yaitu propoksur dan d-allethrin. Propoksur merupakan kelompok insektisida karbamat yang bersifat toksik pada mamalia dengan cara memacetkan proses penguraian asetilkolin. Padahal, penguraian asetilkolin sangat penting untuk meneruskan rangsangan di antara sel-sel saraf. Bila asetilkolin menumpuk tak terurai, otomatis metabolisme sel-sel saraf pun macet. Akibatnya, muncul kejang-kejang, kram perut, diare, sesak napas, pusing, dan pingsan. Dalam jangka panjang, propoksur dan diklorvos juga berisiko mengundang kanker, merusak sistem saraf, dan mengacaukan kerja hati. Rangkaian efek negatif ini bakal lebih gawat bagi anak balita, yang sistem pertahanan tubuhnya belum sempurna (Anonim, 2010). Keracunan pestisida ini dapat terjadi dimanapun dan kapanpun. Jika keracunan ini sampai terjadi, cara yang terbaik adalah dengan membawa orang yang mengalami keracunan tersebut ke Rumah Sakit. Namun, untuk tindakan preventif bisa saja dilakukan dengan memberi minum air kelapa. Air kelapa ini dipercaya secara empiris dan sudah digunakan oleh nenek moyang untuk mengobati berbagai penyakit seperti: panas dalam, demam, kekurangan cairan, dll. Selain itu, air kelapa juga dapat digunakan untuk mengatasi keracunan obat. Hal ini dikarenakan ari kelapa mengandung tanin yang dapat menghambat absorpsi zat beracun (Barlina, 2004). Berdasarkan hal itulah, dilakukan uji efek terapi antidotum air kelapa kelapa wulung (Cocos nucifera L. Var. Rubescens) terhadap keracunan pestisida propoksur.

1.2. Rumusan Masalah Dilihat dari nilai ED50-nya, apakah air kelapa efektif sebagai terapi antidotum terhadap keracunan propoxur?

1.3. Manfaat Penelitian 1.3.1. Manfaat teoritis Praktikan dapat mengetahui dosis efektif dari air kelapa untuk digunakan sebagai antidotum propoksur. 1.3.2. Manfaat praktis Praktikan dapat menginformasikan kepada masyarakat bahwa air kelapa dapat digunakan sebagai pertolongan pertama terhadap kasus keracunan propoksur.

1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1. Tujuan umum Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, dan strategi terapi antidotum, berdasarkan contoh kemampuan air kelapa dalam menawarracunkan propoksur. 1.4.2. Tujuan khusus
- Mahasiswa dapat mengetahui dosis efektif air kelapa dalam

menawarkan racun propoksur.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

2.1. Penelaahan Pustaka 2.2.1 Antidotum Tata cara yang secara khusus ditujukan untuk membatasi intensitas efek toksik zat kimia atau untuk menyembuhkan efek toksik yang

ditimbulkannya, jelas akan bermanfaat untuk mencegah timbulnya bahaya selanjutnya. Tata cara yang demikian ini, oleh Loomis (1978) disebut tata laksana terapi antidot (Donatus, 2001). Keracunan bergantung pada mekanisme aksi yang memerantarainya, penampakan berbagai gejala keracunan dapat berlangsung cepat atau lambat. Keadaan ini sebagian besar bergantung pada keefektifan translokasi racun di dalam tubuh, yang ditentukan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor intrinsik si penderita. Dengan demikian, keberadaan racun di dalam tubuh sangat bergantung pada waktu dan keefektifan translokasi. Karena itu, penanganan keracunan harus dilakukan dengan cepat dan tepat (Donatus, 2001). Pada dasarnya, aneka ragam faktor yang dapat mempengaruhi ketoksikan racun dapat digolongkan menjadi dua, yakni faktor yang berasal dari racun (faktor intrinsik makhluk racun) dan yang berasal dari makhluk hidupnya (faktor intrinsik makhluk hidup) (Donatus, 2001).

2.2.2 Air Kelapa 2.2.2.1 Tanin Tanin merupakan substansi terbesar dalam tanaman, seperti daun, buah yang belum matang, batang, dan kulit kayu. Tanin dinamakan juga asam tanat dan asam galotanat, ada yang tidak berwarna tetapi ada juga yang

berwarna kuning atau coklat. Tanin memiliki campuran polifenol yang sulit

untuk dipisahkan karena substrat ini sulit untuk mengkristal, mudah teroksidasi dan berpolimerisasi dalam larutan dan kelarutannya dalam pelarut sangat rendah. Tanin dapat digunakan sebagai antidotum (keracunan alkaloid) dengan cara mengeluarkan asam tamak yang tidak larut. Tanin inilah yang berperan sebagai antidotum yang terkandung dalam air kelapa (Anonim, 2010). Struktur tanin :

(Anonim, 2010). 2.2.3 Pestisida Pestisida kebanyakan berasal dari golongan ester piretroid. Beberapa mekanisme aksi dari ester piretroid terdapat di sistem saraf pusat, sensorik, dan motorik pada insekta dan vertebrata (Klaassen, 2001). Tiap zat racun yang terkandung dalam HIT mempunyai konsentrasi sebagai berikut : propoksur (7,84 g/L), d-aletrin (5,88 g/L). Dari kedua zat racun tersebut, propoksur yang paling berbahaya (Anonim, 2010). Propoksur merupakan pestisida golongan karbamat dengan toksisitas sedang. Propoksur bekerja dengan cara memacetkan proses penguraian asetilkolin. Padahal, penguraian asetilkolin sangat penting untuk meneruskan rangsangan di antara sel-sel saraf. Bila asetilkolin menumpuk tak terurai, otomatis metabolisme sel-sel saraf pun macet. Akibatnya, muncul kejangkejang, kram perut, diare, sesak napas, pusing, dan pingsan. Dalam jangka panjang, propoksur dan diklorvos juga berisiko mengundang kanker, merusak sistem saraf, dan mengacaukan kerja hati. Rangkaian efek negatif ini bakal lebih gawat bagi anak balita, yang sistem pertahanan tubuhnya belum sempurna. Struktur dari senyawa ini adalah:

Propoxur (Anonim, 2010).

d-allethrin merupakan senyawa pyrethroid yang menyebabkan iritasi pada mata dan kulit, mati rasa, sakit kepala, nausea, diare, keletihan, rasa seperti tertusuk pada kulit. Pada kasus tertentu cairan di paru-paru dan otot meningkat. Struktur dari senyawa ini adalah :

Allethrin (Anonim, 2010).

2.2. Landasan Teori Propoksur merupakan zat aktif dari pestisida yang sering digunakan oleh masyarakat untuk membasmi nyamuk. Karena itulah masyarakat lebih beresiko terpapar propoksur lebih banyak, sehingga dapat menimbulkan keracunan.

Propoksur ini dapat masuk ke dalam tubuh secara inhalasi maupun oral. Jika secara oral, maka senyawa ini akan diabsorpsi oleh tubuh dan menimbulkan efek toksik. Jika terjadi keracunan, maka diperlukan antidotum yang dapat mencegah timbulnya efek toksik yang berbahaya ini yang sesuai. Untuk mengatasi keracunan ini biasanya diberikan air kelapa yang mengandung tanin yang dapat melapisi dinding saluran pencernaan sehingga diharapkan dapat mencegah atau mengurangi absorpsi dari propoksur. Untuk itulah dilakukan uji terapi antidotum untuk mengetahui apakah air kelapa dapat digunakan sebagai antidotum propoksur.

2.3. Hipotesis Air kelapa memiliki efek terapi antidotum terhadap pestisida baygon.

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni sederhana yang dilakukan dengan memberikan perlakuan pada subjek uji.

3.2. Variabel dan Definisi Operasional 3.2.1. Variabel Variabel-variabel dalam penelitian efek terapi antidotum adalah sebagai berikut: 3.2.1.1. Variabel Utama - Variabel bebas: dosis air kelapa yang digunakan -Variabel tergantung : persentase hidup hewan uji 3.2.1.2. Variabel Pengacau -Variabel pengacau terkendali : jenis bahan uji; umur, jenis kelamin, galur, berat badan tikus, serta jalur pemejanan -Variabel pengacau tak terkendali : kondisi fisiologis dan patologis janin hewan uji

3.3. Alat dan Bahan 3.3.1. Alat :


a) Spuit injeksi p.o b) Stopwatch c) Timbangan analitik d) Timbangan mencit e) Pipet tetes f) Gelas arloji g) Gunting bedah

h) Pinset i) Jarum Pentul

j) Papan Bedah
k) Alat alat gelas

3.3.2. Bahan : a) larutan fisiologis (NaCl 0,9%) b) Hewan uji mencit putih jantan galur Swiss c) Air kelapa wulung (Cocos nucifera L. Var. Rubescens) d) Propoksur (dalam HIT)

3.4. Tata Cara Penelitian 1) Penentuan dosis propoksur Ditentukan dosis propoksur yang akan digunakan berdasarkan LD50 nya Dihitung volume pemberian HIT berdasarkan konsentrasi propoksur di dalam HIT

2) Orientasi dosis dan penetapan waktu pemberian antidotum air kelapa wulung Antidotum air kelapa wulung diberikan pada dosis maksimal 0,6 ml/20g BB mencit 1 menit setelah pemberian racun

3) Pengelompokan hewan uji 20 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I diberi HIT sebanyak 0,4ml/20g BB mencit dan aquadest 0,6 ml/20g BB mencit secara per-oral sebagai kontrol positif

kelompok II-IV masing-masing diberi HIT sebanyak 0,4ml/20g BB mencit secara per-oral kemudian setelah satu menit diberi antidotum air kelapa wulung pada masing-masing kelompok secara berturut-turut: 0,6 ml/20gBB mencit; 0,48 ml/20gBB mencit; 0,384 ml/20gBB mencit. kelompok V diberi air kelapa wulung dosis 0,6 ml/20gBB dan aquadest 0,4ml/20gBB mencit secara per-oral sebagai kontrol negatif.

4) Pengamatan Pengamatan dilakukan terhadap tanda-tanda keracunan berupa waktu kejang atau waktu kematian yang dihitung mulai dari awal pemberian racun propoksur Jika dalam waktu 3 jam pengamatan hewan uji tidak mengalami kematian maka pengamatan dilanjutkan hingga 1x 24 jam dari waktu pemberian antidotum.

5) Tata cara analisis hasil Analisis hasil dilakukan dengan membandingkan persen hidup tiap kelompok perlakuan sehingga diperoleh dosis efektif air kelapa wulung sebagai antidotum yang mampu memberikan persen hidup 100 %

BAB V PEMBAHASAN

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui dosis efektif air kelapa wulung dalam menawarkan racun propoksur. Antidot merupakan senyawa yang dapat mengurangi atau menghilangkan toksisitas senyawa yang diabsorbsi. Terapi antidot merupakan upaya penanggulangan keracunan yang bertujuan untuk membatasi intensitas efek toksik racun, sehingga bermanfaat untuk mencegah timbulnya efek berbahaya. Pada percobaan ini dilakukan analisa terhadap kemampuan antidot air kelapa wulung dalam menawarkan racun propoksur. Strategi terapi antidot dapat berupa penghambatan absorpsi dan distribusi serta peningkatan eliminasi racun, sehingga intensitas efek toksik pada tempat aksi dapat berkurang. Jika eliminasi ditingkatkan, maka lama tinggal senyawa dalam tubuh lebih singkat sehingga membatasi penyebaran . Antidotum yang dipakai adalah air kelapa wulung, dimana didalamnya terkandung tanin, yang diperkirakan dapat berperan untuk menawaracunkan. Tanin yang terkandung dalam air kelapa wulung dapat melapisi dinding saluran cerna sehingga meminimalkan penyerapan dari zat beracun yang bersangkutan (propoksur). Jika air kelapa wulung ini dapat bermanfaat sebagai antidotum, maka efek toksik yang ditimbulkan oleh propoksur akan dapat diminimalkan. Propoksur yang dipakai dalam praktikum ini didapat dari pestisida HIT, dimana dalam HIT terdapat kandungan zat aktif propoksur sebesar 7,84 g/L dan daletrin 5,88g/L. Dilihat dari komposisinya, kandungan propoksur merupakan propoksur cenderung lebih

komponen yang paling besar, sehingga diperkirakan dominan dalam menentukan ketoksikan dari HIT.

Parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah waktu mencit kejang dan waktu mencit mati, dimana waktu dihitung setelah pemejanan zat beracun. Setelah pemejanan propoksur pada mencit secara oral , selang satu menit kemudian diberikan air kelapa wulung sebagai antidotumnya.

Volume pestisida yang diberikan dalam percobaan ini adalah 0,4 mL/20g BB mencit. Volume ini diperoleh berdasarkan LD50 propoksur, yaitu 83 mg/kg sampai 150 mg/kg BB tikus. Dosis terkecil ini dikonversikan ke dosis mencit. Dari LD50 untuk mencit tersebut, dihitung volume pestisida yang akan diberikan. Dalam pestisida yang digunakan, terkandung propoksur sebanyak 7,84g/L. Sehingga, diperoleh volume pemberian sebesar 0,5 ml/20g BB mencit. Namun, karena pada kelompok praktikum sebelumnya waktu kematian mencit terlalu cepat, maka dosis yang diberikan pada praktikum ini dikurangi, menjadi 0,4ml/20g BB mencit. Volume maksimum antidot yang diberikan adalah sebesar 0,6ml/20g BB mencit yang diperoleh dari pemberian maksimum antidot dan propoksur untuk mencit, yaitu 1ml apabila diberikan secara peroral, sehingga volume antidotnya adalah 1ml-0,4ml=0,6ml. Volume pemberian antidot dibuat menjadi 3 variasi dosis, dengan faktor pengali 1,25. Sehingga, diperoleh variasi dosis: 0,6ml/20g BB mencit, 0,48ml/20g BB mencit, dan 0,38ml/20g BB mencit. Hewan uji yang digunakan pada percobaan ini yaitu mencit sebanyak 20 ekor, dimana tiap kelompok diberi masing-masing 5 mencit. Diberi lima perlakuan pada tiap kelompok, kelompok pertama dipejankan dengan aquadest dan propoksur secara p.o sebagai kontrol positif, kelompok kedua, ketiga, dan keempat dipejankan dengan propoksur dan variasi dosis air kelapa wulung secara p.o , dan kelompok perlakuan kelima diberi aquadest dan air kelapa secara p.o sebagai kontrol negatif. Berdasarkan data yang diperoleh, pada kelompok kontrol negatif tidak ada satu pun mencit yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa antidot yang digunakan yaitu air kelapa wulung tidak menimbulkan efek toksik pada mencit. Pada kontrol positif dan semua perlakuan propoksur, semua mencit mati kecuali satu mencit pada pemberian dosis air kelapa wulung sebesar 0,384g/20g BB mencit. Hal ini dikarenakan kesalahan praktikan dalam menghitung volume pemberian propoksur. Propoksur yang seharusnya diberikan adalah sebesar 0,4 mL/20gBB mencit pestisida yang mengandung 7,84g/L. Namun, pestisida yang diberikan pada satu mencit ini hanya sebesar 0,4mL, sementara bobot mencitnya lebih dari 20g. Sehingga, dosis yang dipejankan terlalu kecil dan tidak mampu menimbulkan kematian mencit.

Kematian 100% mencit ini dapat berarti bahwa tanin yang diharapkan dapat bekerja sebagai antidot bagi keracunan propoksur ternyata tidak dapat bekerja seperti yang diperkirakan. Air kelapa wulung ternyata tidak dapat bekerja sebagai antidot untuk menanggulangi keracunan propoksur. Namun, kematian seluruh hewan uji juga dimungkinkan karena volume pemberian yang berlebihan. Pada praktikum, volume dihitung berdasarkan volume maksimum untuk mencit berbobot 20g. Sementara, hewan uji yang digunakan memiliki kisaran bobot sekitar 30g. Hal ini menyebabkan jumlah volume pestisida dan antidot yang diberikan melebihi batas volume maksimum pemberian secara peroral. Hal ini juga mungkin dapat menjadi kematian mencit.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010, Propoxur - Identification, toxicity, use, water pollution potential, ecological toxicity and regulatory information, http://www.pesticideinfo.org/Detail_Chemical.jsp?Rec_Id=PC35769, diakses pada tanggal 19 Oktober 2010 pukul 14.10 WIB Anonim, 2010, Allethrin - Identification, toxicity, use, water pollution potential, ecological
toxicity and regulatory information,

http://www.pesticideinfo.org/Detail_Chemical.jsp?Rec_Id=PC32799, diakses pada tanggal 19 Oktober 2010 pukul 14.15 WIB Anonim, 2010, www.nadjeeb.wordpress.com, diakses pada tanggal 5 Oktober 2010 pukul 15.10 WIB
Barlina. R., 2004, Potensi Buah Kelapa Muda untuk Kesehatan dan Pengolahannya, http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/upload.files/File/publikasi/perspektif/P erspektif_vol_3_No_2_2_Rindengan.pdf, diakses tanggal 3 Oktober 2010 pukul 16.50 WIB

Donatus, I.A., 2001, Toksikologi Dasar, 207-208, Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta Klaassen, C.D., 2001, Casarett and Doulls Toxicology The Basic Science of Poisons, Sixth Edition,784786 McGraw-Hill Medical Publishing Divion, New York