Anda di halaman 1dari 31

Contoh Laporan Lengkap Teknik Pembesaran Ikan Arwana di BBAT Jambi

Jumat, 28 Juni 2013

Laporan Praktek Kerja Lapang TEKNIK PEMBESARAN CALON INDUK IKAN ARWANA (Scleropages formosus) DI BALAI BUDIDAYA AIR TAWAR (BBAT) JAMBI

AWAN 090330071

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Pada Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MALIKUSSALEH ACEH UTARA 2012

RINGKASAN Teknik Pembesaran Calon Ikduk Ikan Arwana (Scleropagesformosus) Di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Pontianak. Dibawah bimbingan Erlangga, S.Pi., M.Si. Ikan arwana merupakan suatu komuditas perikanan yang menjadi kebanggaan Indonesia, hal ini dikarenakan Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki populasi ikan arwana terbesar di dunia. Keunggulan arwana terdapat pada warna dan bentuk tubuh serta gerakan yang menarik, hal inilah yang membuat ikan arwana memiliki nilai jual tinggi. Habitat asli ikan arwana adalah kebanyakan dari sungai dan danau. Dikalangan masyarakat menengah keatas, terutama di Negara kawasan Asia, ikan arwana bisa dikatakan sebagai ikan hias nomor satu yang paling digemari. Penyebabnya selain keindahan fisiknya, ikan ini diyakini dapat mendatangkan keberuntungan bagi pemiliknya. Bahkan dalam tradisi masyarakat Cina, ikan arwana sering dijadikan sebagai lambing kemakmuran. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 24 juli 2012 samapai 15 agustus 2012 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. Tujuan praktek kerja lapang ini bertujuan unuk mengetahui teknik pembesaran calon induk ikan arwana (Scleropages formosus) dan kendala-kendala pada saat pembesaran calon induk serta penanganan calon induk ikan setelah panen dengan metode observasi langsung dilapangan yang meliputi beberapa tahap yaitu persiapan wadah, bahan, dan alat, pemisahan benih dari induk, pemberian pakan dan pemeliharaan. Pembesaran calon induk pada Praktek Kerja Lapang ini dipelihara didalam akuarium yang berukuran P60 cm x L50cm dengan ketinggian air 20cm, yang dilengkapi dengan aerator. Tingkat kelulusan hidup (SR) calon induk arwana mencapai 100% pada akhir praktek kerja lapang, sehingga pembesaran calon induk ikan arwana sangat baik dilakukan dengan padat tebar 1 ekor per akuarium. Kendala yang sering terjadi yaitu sangat mudah diserang bakteri jika tubuh ikan tersebut ada luka. Untuk pengukuran kualitas air yaitu suhu 25-27 OC, pH 7-7.7 dan DO 3.0-4.3.

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapang ini dengan judul Teknik Pembesaran Calon Induk Ikan Arwana (Scleropages formosus) di Balai Budidaya

Air Tawar (BBAT) Jambi. Laporan Praktek Kerja Lapang ini dikerjakan demi memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Perikanan di Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Penulis menyadari bahwa Laporan Praktek Kerja Lapang ini bukanlah salah satu tujuan akhir dari belajar karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas. Terselesaikannya Laporan Praktek Kerja Lapang ini tentunya tak lepas dari

dorongan dan uluran tangan berbagai pihak. Oleh karena itu, tak salah kiranya bila penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Keluarga besar tercinta, yang paling teristimewa untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan moril, materil, serta tidak pernah lupa mendoakan kepada penulis dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapang hingga selesainya laporan. 2. Bapak Erlangga, S.Pi, M.Si. selaku dosen pembimbing penulis dalam menyelesaikan laporan praktek kerja lapang yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis. 3. Ibu Erniati, S,Si, M.Si. selaku Kepala Program Studi Budidaya Perairan. 4. Semua dosen Program Studi Budidaya Perairan yang telah memberikan arahan dan semangat kepada penulis. 5. Bapak Ir. H. Mimid Abdul Hamid, M. Sc, selaku Kepala Balai Budidaya Air Tawar Provinsi Jambi, yang telah menerima kami untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapang ini. 6. Ibu Nurul Trijayanti S.P.i selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan segala bimbingan, bantuan, arahan dan masukan kepada penulis selama Praktek Kerja Lapang hingga selesainya laporan. 7. Sabahatku (Abah, Ali, Adit, Aidil, Amal, Agus, Alkhiar, Idris, Ganjar, Iref, Mas Wahyu yang telah membantu penulis dilapangan) dan teman-teman Semua pihak yang telah banyak membantu penulisyang tidak bisa penulis sebutkan. Terima kasih banyak, Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan ketulusan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan Praktek Kerja Lapang ini masih banyak

terdapatkekurangan. Maka dengan rendah hati penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk sudi kiranya memberikan kritik dan saran serta masukan yang membagun demi

kesempurnaan laporan praktek kerja lapang ini. Semoga laporan praktek kerja lapang ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi banyak pihak demi kemaslahatan bersama serta bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Amien.

Aceh Utara, April 2013 Awan

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Tujuan Praktek Kerja Lapang 3. Manfaat Praktek Kerja Lapang TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologi Habitat dan Penyebaran Pakan Penyakita dan Penanggulangan Parameter Kualitas Air Suhu Derajat Keasaman (pH) Oksigen Terlarut (DO) METODOLOGI Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Praktek Lapang Metode Kerja

1. 2. 3. 4. 5. a. b. c.

1. 2. 3. 4.

a. b. c. d. e.

Persiapan Pemeliharaan Benih atau Calon Induk (Pembesaraan) Pengamatan Pertumbuhan Ikan Pengukuran Kualitas Air Pemantauan Kesehatan Ikan

b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Keadaan Umum BBAT Jambi a. Lokasi BBAT Jambi Sejarah Berdirinya BBAT Jambi Struktur Organisasi Sarana Hatchery Perkolaman Laboratorium Jaringan Listrik Gedung Visi dan Misi BBAT Jambi Tujuan dan Sasaran

2. Pembesaran Ikan Arwana a. Persiapan b. Pemeliharaan Benih (Pembesaran) c. Pengamatan Pertumbuhan Ikan d. Pengukuran Kualitas Air e. Pemantauan Kesehatan Ikan KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan 2. Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ikan Arwana merupakan ikan yang berasal dari daerah subtropis dan tropis, sehingga Ikan Arwana banyak di temukan di Indonesia, Malaysia, Vietnam, Birma, Thailand. Habitatnya adalah sungai - sungai besar dengan arus yang cukup deras. Arwana yang ditangkap liar sekaran sudah sangat jarang sekali. Jumlah Budidaya Ikan Arwarna yang menurun drastic, apalagi dengan keadaanbanyaknya polusi air seperti sekarang. Arwana yang beredar sekarang dipastikan merupakan hasil dari pembibitan Budidaya Arwana dan Budidaya Ikan Arwana yang dilakukan para pengusaha pembibitan yang sudah teruji mutu dan kualitas gennya.
Ikan arwana (Scleropages formosus) merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar yang bernilai ekonomis tinggi karena banyak diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri dengan harga yang relatif mahal. Pemanfaatan ikan ini umumnya untuk dipajang dalam akuarium sebagai sarana hobi. Kegiatan koleksi dan domestikasi Ikan arwana (Scleropages formosus) di BBAT Jambi dimulai pada bulan Agustus 1999 dengan mendatangkan benih ikan arwana Muaro Tebo, provinsi Jambi, dengan ukuran awal 6-7 cm. Benih tersebut dipelihara sampai menjadi induk. Pada periode tahun 2002-2008, telah dapat dihasilkan benih arwana filial pertama (F1) dan Filial kedua (F2). Potensi pertumbuhan arwana cukup besar, terutama dengan pemberian pakan berkadar protein tinggi. Pertumbuhan arwana di akuarium mencapai 60 cm, sedangkan di alam mencapai lebih dari 90 cm. Jenis arwana asal Amerika Selatan dapat tumbuh hingga 270 cm. Budidaya ikan arwana telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan ilmu

pengetahuan dalam masalah pembesaran. Oleh karena beberapa hal tersebut di atas saya termotivasi untuk mengambil judul tentang Teknik Pembesaran Ikan Arwana (Scleropages formosus). 2. Tujuan Praktek

Secara umum tujuan praktek Praktek Kerja Lapang adalah untuk mengetahui teknikteknik dalam pembesaran ikan arwana di BBAT Jambi. Adapun secara khusus Praktek Kerja Lapang tersebut bertujuan untuk: Menguasai dan memahami tentang teknik pembesaran ikan arwana di BBAT Jambi. Dapat meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dalam bidang pembesaran ikan arwana di BBAT Jambi khususnya. 3. Manfaat Praktek Kerja Lapang Dengan adanya kegiatan Praktek Kerja Lapang, maka secara umum manfaat yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapang yaitu dapat memberikan sumber informasi bagi yang membutuhkan. Secara khusus Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat : Bagi mahasiswa dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini dapat menambah wawasan pengetahuan tentang dunia perikanan dan perairan. Bagi Lembaga (Fakultas) dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini, Fakultas telah dapat menyediakan informasi keadaan Perairan dan usaha Perikanan kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi Perikanan dan Perairan. Bagi pemerintah setempat dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini, pemerintah setempat telah terbantu dalam mendapat potensi sumber daya manusia bidang perikanan.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Klasifikasi dan Morfologi Berdasarkan klisifikasi yang di temukan oleh Weber, M dalam Apin (2004), ikan Arwana di klasifikasikan sebagai berikut:

Kerajaan: Animalia Filum: Chordata

Kelas: Ordo: Famili: Genus: Spesies:

Actinopterygii Osteoglossiformes Osteoglossidae Scleropages Sceloropages formosus

Gambar 1. Morfologi Ikan Arwana (Scleropages formosus)

Arwana termasuk ikan endemik Indonesia. Para hobiis dan penangkar Arwana mengenal spesies ini dengan sebutan lain. Tubuh Arwana umumnya memanjang dengan warna gelap pada bagian punggung. Daerah hulu sungai besar yang berair tenang dan jernih dengan derajat keasaman air (pH) lebih dari 6 merupakan habitat favorit bagi Arwana. Kadang-kadang, Arwana juga ditemukan di sungai yang mengalir deras. Jenis ini juga termasuk tipe mouth brooder yang melindungi telur dan juvenil-nya di dalam mulut (Sudarto, 2003). Arwana merupakan ikan perenang atas (surface feeder), ditunjukkan oleh betuk mulut. Di alam mereka berenang di dekat permukaan untuk berburu mangsa. Arwana dapat menerima segala jenis pakan untuk ikan karnivora, tetapi seringkali mereka jadi sangat menyukai salah satu jenis pakan saja, dan menolak jenis lainnya. Sebagai ikan peloncat, arwana di alam bisa menangkap serangga yang hinggap di ranting ketinggian 1-2 meter

dari permukaan air. Maka pemeliharaan dalam akuarium harus ditutup dengan baik (Sudarto, 2003) Bentuk dan penampilan arwana termasuk cantik dan unik. Tubuhnya memanjang, ramping, dan stream line, dengan gerakan renang sangat anggun. Arwana di alam mempunyai variasi warna. Pada bibir bawahnya terdapat dua buah sungut yang berfungsi sebagai sensor getar untuk mengetahui posisi mangsa di permukaan air. Sungut ini termasuk dalam kriteria penilaian keindahan ikan arwana (Anonymous, 2009). Sisik arwana dibagi menjadi 6 level (tingkat/baris) yang mulai dihitung dari arah badan bagian bawah ke atas. Level atau baris sisik pertama terdapat pada bagian perut, baris sisik yang terletak di atas perut di sebut level kedua, demikian seterusnya hingga level 6 yang berada pada bagian paling atas (punggung). Pembagian level sisik ini dapat dilihat pada Gambar 3 (di atas). Level/Baris sisik ini sangat penting dalam menentukan kualitas arwana. Ciri unik lainnya dari arwana adalah adanya semacam pelat tulang yang ditumbuhi gigi dan terletak di lantai bawah mulut. Pelat tulang ini berbentuk seperti lidah, sehingga arwana seringkali disebut sebagai ikan berlidah tulang (bonytongue fish) (Anonymous, 2005). 2. Habitat dan Penyebaran Habitat ikan ini pada tepian sungai yang ditumbuhi pepohonan seperti pohon engkana, putat, rasau, dan entangis, dimana pepohonan tersebut memiliki akar di dasar sungai dengan batang pohon di dalam air, tetapi daun-daunnya rimbun ke atas. Di habitat seperti inilah ikan-ikan arwana berada, berkembang biak, dan bersembunyi (Anonymous, 2009). Arwana termasuk ikan karnivor yang mendiami habitat sungai dan danau berair tenang. Kadang-kala juga ditemukan di riam yang berarus kuat. Daerah tepian sungai yang ditumbuhi banyak pohon hutan dengan akar yang terjulur di dalam air dan dedaunan yang rimbun di atasnya, menjadi habitat favorit bagi Arwana. Habitat tersebut umumnya menyediakan banyak makanan dan daerah perlindungan yang baik (Anonymous, 2009). 3. Pakan

Arwana adalah termasuk ikan jenis predator. Maka tidak heran jika arwana juga bisa memakan sesama ikan seprti ikan komet, ikan mas dan ikan-ikan kecil lainnya yang ukurannya lebih kecil darinya dan memiliki tubuh memanjang, lunak dan tidak berduri. Arwana juga memakan jangkrik, udang tawar, kodok, kelabang, kadal, belalang, ulat dan cicak. Jika memberikan pakan jangkrik, usahakan agar kakinya yang berduri dan tajam dipotong terlebih dulu. Gunanya agar tidak melukai mulut dan/ organ perut. Begitu juga halnya jika memberi belalang (Anonymous, 2009). Udang tawar di buang terlebih dulu bagian kepalanya. Anda bisa mengganti udang tawar dengan udang pasar. Buang bagian-bagian yang tajam seperti kepala dan kulit sampai ekor. Potong udang pasar menjadi beberapa bagian, Jika masih ada sisa, dapat dimasukan kembali ke dalam lemari es/freezer. Udang sangat baik untuk pertumbuhan warna. Namun juga banyak mengandung bakteri jika membusuk. Jadi, jika tidak dimakan oleh arwana harus cepat-cepat diangkat dari dari dalam aquarium. Untuk udang pasar, jangan dibiarkan meleleh dan berapa diluar lemari es terlalu lama (Susanto, 2008). Jika memberikan arwana pakan berupa ikan, pastikan ikan tersebut tidak sakit, baik itu sakit internal mau pun external berupa jamur, dll. Sebelum diberikan pun sebaiknya ikan dibuat pingsan terlebih dulu dengan membanting ikan tersebut di meja/lantai. Memang berkesan sadis, namun jika tidak akan terjadi kejar mengejar yang bisa menyebabkan arwana menabrak-nabrak kaca yang bisa menyebabkan rusaknya sisik, sirip, ekor atau patahnya sungut. Bahanya lagi jika arwana menabrak heater/pemanas sampai pecah yang bisa menyebabkan masuknya aliran listrik langsung ke air atau menabrak dinding aquarium sehingga kaca menjadi retak dan pecah(Susanto, 2008). Untuk arwana usia muda, ukuran 10-15 cm, berikan pakan berupa ulat hongkong yang di kombinasi dengan jangkrik muda berukuran tidak lebih dari 1 cm. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan malam. Jangan memberi makan terlalu banyak, cukup 3-4 ekor ulat dan 1 ekor jangkrik jangkrik setiap kali makan agar pencernaan bekerja normal. Arwana ukuran kecil cenderung lebih rakus. Maka jika makanan yang

diberikan tidak dikontrol dapat terjadi arwana tersedak / makanan dimuntahkan lagi / kerusakan pada pencernaan (Susanto, 2008). 4. Penyakit dan Penanggulangan Penyakit Gigit Ekor, Sebelum menderita penyakit ini biasanya arwana akan menunjukan perilaku yang lain daripada biasanya. Arwana akan kelihatan gelisah dengan berenang hilir mudik kesana kemari. Beberapa hari kemudian sirip ekor akan robek-robek selaputnya sehingga mirip sisir dan yang tertinggal hanyalah jari-jari siripnya. Gejala ini mulanya hanya kecil lalu akan bertambah panjang dan tidak jarang sebagian dari jari sirip itu akan hilang. Sebelum menderita penyakit ini biasanya arwana akan menunjukan perilaku yang lain daripada biasanya. Arwana akan kelihatan gelisah dengan berenang hilir mudik kesana kemari. Beberapa hari kemudian sirip ekor akan robek-robek selaputnya sehingga mirip sisir dan yang tertinggal hanyalah jari-jari siripnya. Gejala ini mulanya hanya kecil lalu akan bertambah panjang dan tidak jarang sebagian dari jari sirip itu akan hilang. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh sejenis parasit yang menempel pada ekor arwana dan menyebabkan rasa gatal yang tidak tertahankan. Arwana berusaha mengatasinya dengan cara berenang hilir mudik dan menggigiti ekornya sehingga tampak compangcamping (Anonymous, 2005). Pengobatan penyakit ini tergolong mudah. Pindahkan Arwana ke dalam aquarium lain yang bersih (steril) dan sudah diisi dengan air yang memenuhi syarat. Masukan sekitar 20 tetes obat Tropical Fish Medicine dan biarkan arwana tetap di dalamnya selama beberapa hari. Jangan lupa membersihkan aquarium yang satunya agar nantinya arwana bisa menempati kembali tanpa khawatir terjangkit lagi (Anonymous, 2005). Tutup Insang Melengkung, Arwana Yang Mati Karena Penyakit Insang Sering kita lihat tutup insang arwana melengkung keluar, sehingga sebagian insangnya kelihatan. Arwana dengan kondisi seperti ini tentu tidak sedap dipandang. Ikan Arwana yang satu ini mati karena penyakit insang, dengan ciri-ciri insang ikan berubah menjadi hitam (Anonymous, 2005).

Penyebab penyakit ini bermacam-macam, yang pertama disebabkan kualitas air dalam aquarium yang tidak memenuhi standar terutama suhunya. Aquarium yang terlalu dingin atau tidak hangat bisa mendorong ikan arwana terkena penyakit ini. Penyebab lainnya adalah pemberian obat-obatan yang kelewat dosis, serangan sejenis bakteri, atau karena air dalam aquarium rendah kandungan oksigennya. Hal ini dapat dijelaskan karena air yang mempunyai kandungan oksigen yang rendah akan llebih sering membuat arwana membuka dan menutup insangnya. Gerakan itu sering tidak sempurna. Artinya sebelum tutup insang benar-benarmenutup, keburu dibuka lagi untuk menghirup sedalam-dalamnya air untuk memenuhi tuntutan oksigen. Dari gerakan yang tidak sempurna ini kemudian tutup insang arwana tetap terbuka dan tubuhnya tidak normal. Untuk mencegahnya agar menjaga kandungan oksigen dalam air tetap tinggi diatasi dengan memberikan cukup aerasi pada aquarium. Jika perlu aerator diganti dengan tenaga yang lebih besar. Kemudian tidak lupa menjaga keseluruhan kualitas air tetap primasehingga tetap layak dihuni oleh arwana (Anonymous, 2005). Pensuplyan O2 Murni, Teknik pengobatan ikan Arwana, salah satunya adalah dengan menjepit ikan yang sakit diantara dua penjepit kaca didalam ember, dan mensupply oksigen murni langsung kearah insangnya. Jika tutup insang yang melengkung ini belum terlalu parah maka bisa diperbaiki dengan jalan melakukan operasi kecil pada tepi tutup insangnya(Anonymous, 2005). 5. Parameter Kualitas Air Setiap hari diwajibkan mengontrol suhu dan pH air. adapun suhu air ideal bagi ikan arwana sekitar 25-27 derajat celcius. andaikata suhu air dingin, segera nyalakan heater hingga suhu air sesuai kebutuhan. sedangkan pH yang dikehendaki sekitar 6-8,5. andaikata pH terlalu rendah, maka tambahkan kapur ke dalam akuarium (Anonymous, 2009). Selain itu, sanitasi air perlu diperhatikan pula, silakan mengobati air akuarium dngan malachite green, dngan frekuensi 3 minggu sekali.

dan jangan lupa, air akuarium juga diganti. namun pergantian air dipilahkan menjadi dua, yakni:

(a) pergantian air secara reguler setiap 2 hari sekali dengan volume 10% dari seluruh volume air akuarium. (b) total pergantian air dilakukan setiap 3 bulan sekali. jika anda menggunakan air pam, sebaiknya dibiarkan 24 jam terlebih dahulu agar kandungan khlor mengendap, dan setelah itu bisa dimasukkan ke dalam akuarium (Anonymous, 2009). Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002). a. Suhu Suhu merupakan salah satu faktor penting yang harusdijaga agar tidak melewati batas maksimum dan minimum. Suhuair yang terlalu tinggi akan mempengaruhi komposisi kimiawi air,kenaikan suhu air dapat mengakibatkan menurunnya jumlahoksigen terlarut sehingga kehidupan biota air dapat terganggu(Fardiaz, 1992). Peningkatan suhu dapat menyebabkanpenurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2 dan CH4. Suhu air sangat mempengarhi nafsu makan pada ikan.Peningkatan suhu juga menyebabkan Peningkatan kecepatanmetabolisme dan respirasi ikan dan mengakibatkan

peningkatankonsumsi oksigen.Temperatur yang sosok untuk mengkonsumsipakan adalah berkisar antara 15-30 oC (Effendi, 2003). Arwana

direkomendasikan untuk diperlihara pada selang suhu 26 - 30C. Seperti halnya jenis ikan yang lain, hindari terjadinyaperubahan suhu mendadak. Perubahan suhu mendadak dapatmenyebabkan shock pada ikan yang bersangkutan, dan dapatmemicu berbagai masalah. Suhu terlalu tinggi untuk jangkawaktu lama diketahui dapat menyebabkan tutup insangmenggulung, hal ini tentu akan sangat menggangggu keindahanikan tersebut (Purwakusuma, 2007). b. Derajat Keasaman (pH)

pH merupakan suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Sebagai contoh, kalau ada pernyataan pH 6, itu artinya konsentrasi H dalam air tersebut adalah 0.000001 bagian dari total larutan. Karena untuk menuliskan 0.000001 (bayangkan kalau pH 14) terlalu panjang maka orang melogaritmakan angka tersebut sehingga manjadi -6. Tetapi karena ada tanda - (negatif) dibelakang angka tersebut, yang dinilai kurang praktis, maka orang mengalikannya lagi dengan tanda - (minus) sehingga diperoleh angka positif 6. Oleh karena itu, pH diartikan sebagai "-(minus) logaritma dari konsenstrasi ion H". Yang perlu diperhatikan adalah bahwa selisih satu satuan angka pH itu artinya perbedaan kosentrasinya adalah 10 kali lipat. Dengan demikian, apabila selisih angkanya adalah 2 maka perbedaan konsentrasinya adalah 10x10 = 100 kali lipat. Sebagai contoh pH 5 menunjukkan konsentrasi H sebanyak 0.00001 atau 1/100000 (seperseratus ribu) sedangkan pH 6 = 0.000001 atau 1/1000000 (sepersejuta) (Sachlan, 1987). Dengan demikian kalau kita menurunkan pH dari 6 ke 5 artinya kita meningkatkan kepekatan ion H+ sebanyak 10 kali lipat. Kalau kita misalkan pH itu gula, maka dengan menurunkan pH dari 6 ke 5, sama artinya bahwa larutan tersebut sekarang 10 kali lebih manis dari pada sebelumnya (Sachlan, 1987). Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisma yang unik agar perubahan tidak tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan. sistem pertahanan ini dikenal sebagai kapasitas pem-bufferan. pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka (Sachlan, 1987). Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral.

Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap "gangguan" terhadap pengubahan pH. Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air. Apabila hal ini telah dikuasai maka penurunan pH akan lebih mudah dilakukan (Sachlan, 1987). c. Oksigen Terlarut (DO) Menurut Sahri (2006), bahwa oksigen terlarut merupakanpenentu kualitas air dari suatu perairan dan sangat dibutuhkandalam proses respirasi dari organisme perairan sedangkansumber dari oksigen terlarut adalah dari difusi O2 di udara kedalam air, air hujan, serta fotosintesis. Kadar oksigen terlarut yang berfluktuasi secara harian danmusiman, tergantung pada pencampuran dan pegerakan massa air, aktifitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke air. Menurut PP no 82 tahun 2001Oksigen terlarut yang baik bagi biota air tawar yaitu > 3 mg/L.

METODELOGI 1. Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Jl. Bumi perkemahan Pramuka, Desa Sungai Gelam, Kec. Sei Gelam Kab. Muoro Jambi, Provinsi Jambi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2012 sampai dengan 14 agustus 2012. 2. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan adalah akuarium berukuran P60 cm x L50cm, gayung, serokhalus, peralatan siphon, aerasi, Stabilizer (Anestesi) , alat kualitas air

(thermometer, kertas pH), alat sampling; mistar, timbangan digital, baskom.

Bahan yang digunakan dalam pembesaran ikan arwana ini adalah benih atau calon induk arwana, pakan jangkrik (Gryllus assimillis), anak ikan berukuran kecil dan bahan lainnya. 3. Metode Praktek Lapang Kegiatan praktek lapang meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder yang di peroleh dengan cara : Mengikuti dan melaksanakan secara langsung seluruh kegiatan pembesaran yang di laksanakan oleh pihak Balai. Observasi (pengamatan) terhadap kegiatan pembesaran ikan arwana yang di laksanakan oleh pihak Balai. Diskusi dengan pimpinan operasional, teknisi lapangan dan staf pegawai setempat serta pihak lain yang terkait. Studi pustaka untuk menambah informasi dengan mencari keterangan ilmiah dan literatur yang setara dengan teknis dan kendala yang di hadapi dalam pembesaran ikan arwanasilver. 5. Metode Kerja a. Persiapan Wadah yang digunakan untuk pembesaran ikan arwana di hatcrey berukuran P60 cm xL50cm dengan ketinggian air 20cm, calon induk dipelihara secara terpisah dalam satu ekor satu akuarium. b. Pemeliharaan Benih atau Calon Induk (Pembesaraan) Pembesaran di akuarium dilakukan dari larva lepas kuning telur berumur 2 tahun. Benih arwana dipelihara secara terpisah (1 ekor per akuarium). Agar ikan tidak melompat keluar akurium ditutup dengan jaring penutup. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan anak ikan,Notenecta sp, jangkrik (Gryllus assimillis), atau ulat hongkong (Tenebrio

millitor) yang diberikan secara ad sattiation, frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Untuk Pengantian air dilakukan seminggu sekali (pergantian air total 80%) dan untuk penyiponan dilakukan dua hari sekali.

Setelah berumur 2 tahun atau berukuran 20-30 cm arwana dipindah ke bak beton berfilter atau ke kolam, pakan yang diberikan untuk kolam atau bak beton adalah ikan rucah. c. Pengamatan Pertumbuhan Ikan Pengukuran panjang dan berat di lakukan setiap sebulan sekali dengan cara mengambil sempel sebanyak 10 ekor calon induk untuk diukur panjang standar panjang total dengan menggunakan mistar, dan beratnya menggunakan timbangan digital, sebelumnya ikan di anestesi (pembiusan) terlebih dahulu dengan menggunakan cairan stabilizer dengan dosis 1 ml / liter air, setelah itu ikan disadarkan terlebih dahulu dan baru dimasukan ke akuarium. d. Pengukuran Kualitas Air Pengukuran kualitas air dilakukan satu bulan sekali (Suhu, pH, DO) e. Pemantauan Kesehatan Ikan Di BBAT Jambi, Pemantauan kesehatan ikan dilakukan oleh tim ahli atau staf Lab Uji khusus di BBAT Jambi dan dilakukan setiap sebulan sekali.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Keadaan Umum BBAT Jambi a. Lokasi BBAT Jambi Balai Budidaya Air Tawar Jambi berlokasi di Desa Sungai Gelam, Kecamatan Sei Gelam, Kabupaten Muaro Jambi 30 km ke arah Timur dari Kota Jambi. Balai Budidaya Air Tawar Jambi merupakan Daerah Tingkat I yang terletak membujur dari Pantai Timur ke arah Barat pertengahan Pulau Sumatera yaitu 0045-2045 Lintang Selatan dan antara 1010-104055 Bujur Timur. Luas areal Balai Budidaya Air Tawar Jambi adalah 20 ha yang terdiri dari 4,8 ha areal perkolaman, 3,35 ha waduk/reservoar, dan 11,85 ha daratan yang sebagian besar dipergunakan

untuk perkantoran, asrama pelatihan, mess pegawai serta sarana penunjang lainnya. Sumber air perkolaman berasal dari resapan air disekitar Balai Budidaya Air Tawar Jambi yang ditampung dalam tiga buah waduk. b. Sejarah Berdirinya BBAT Jambi Untuk menunjang pelaksanaan program pembangunan dan peningkatan produksi perikanan di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 346/kpst/OT.210/5/94 tanggal 6 Mei 1994, maka dibentuklah Loka Budidaya Air Tawar Jambi yang berstatus Eselon IV, dengan wilayah kerja meliputi Indonesia Barat. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Eksploitasi Laut dan Perikanan Nomor : 66 tahun 2000 tanggal 31 Juli 2000 terjadi perubahan struktur organisasi Loka Budidaya Air Tawar Jambi. Sesuai

perkembangannya, pada tanggal 1 Mei 2000 Loka Budidaya Air Tawar Jambi berubah menjadi Balai Budidaya Air Tawar Jambi yang berstatus eselon III, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.26 E/MEN/2001.

Gambar 2. Kantor Pusat BBAT Jambi Balai Budidaya Air Tawar Jambi merupakan Unit Pelaksana Teknis Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang Budidaya Air Tawar yang berada di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, dengan wilayah kerja meliputi Pulau Sumatera dan Kalimantan. c. Struktur Organisasi

Berdasarkan

PERMEN Kelautan

dan

Perikanan Nomor

PER

09/MEN/2006 tanggal 12 Januari 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Budidaya Air Tawar, struktur organisasi BBAT Jambi terdiri atas: a. Kepala Balai

b. Sub Bagian Tata Usaha c. Seksi Pelayanan Teknik

d. Seksi Standardisasi Dan Informasi e. Kelompok Jabatan Fungsional Dalam menjalankan tugasnya Balai Budidaya Air Tawar Jambi dipimpin oleh seorang kepala dan dibantu oleh Kasubbag, Kasi dan Kelompok Jabatan Fungsional. Berikut adalah uraian tugas dari masing-masing seksi dalam struktur organisasi mengacu pada PERMEN Kelautan dan Perikanan No : 09/MEN/2006 : Sub Bagian Tata Usaha : Mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana, program, dan anggaran, pengelolaan administrasi keuangan, kepegawaian, jabatan fungsional, persuratan, barang kekayaan milik negara dan rumah tangga, serta evaluasi dan pelaporan Seksi Pelayanan Teknik : Mempunyai tugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan, penerapan, serta pengawasan teknik perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar Seksi Standardisasi dan Informasi : Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan standar teknik dan pengawasan perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar, dan pengendalian hama dan penyakit ikan, lingkungan, sumberdaya induk dan benih ikan air tawar, serta pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan Kelompok Jabatan Fungsional : Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perekayasaan, pengujian, penerapan bimbingan penerapan standar/sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar, pengendalian hama dan penyakit ikan, pengawasan benih/budidaya dan penyuluhan serta kegiatan lain yang sesuai

dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada kelompok jabatan fungsional ini dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu: 1. 2. 3. 4. Kelompok Ikan Domestik Kelompok Ikan Cyclid Kelompok Ikan Catfish Kelompok Nutrisi, Kesehatan Ikan dan Lingkungan d. Sarana Dalam mendukung semua kegiatan di BBAT Jambi, maka Balai dilengkapi dengan sarana dan prasarana diantaranya: e. Hatchery Hatchery yang dimiliki oleh BBAT Jambi terdiri atas:
a. Hatchery 1 ( Patin Siam, Lele, baung) b. Hatchery 2 (Nila) c. Hatchery 3 (Jelawat) d. Hatchery Ikan Hias (Gurami, Arwana) e. Hatchery Nila f. Perkolaman

Perkolaman ini digunakan untuk kegiatan pendederan, pembesaran, pemeliharaan induk serta untuk kegiatan perekayasaan. Kolam yang ada di BBAT Jambi terdiri dari : kolam Induk 600 m (10 buah), kolam pendederan 500 m2 (13 buah) dan ukuran 250 m2 (28 buah), kolam pembesaran 1500 m2 (9 buah) dan ukuran 500 m2 (18 buah), kolam induk ikan hias 50 m2 (4 buah), bak nila 56 buah, bak pakan alami 5 ton (12 unit) 30 ton (7 unit),dan keramba jaring apung sebanyak 60 unit. g. Laboratorium Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAT Jambi merupakan salah satu laboratorium yang telah menerapkan Good Laboratory Practice serta dokumen Sistem Manajemen Mutu berdasarkan ISO/ICE 17025:2005.Laborrtorium ini telah TERAKREDITASI oleh komite Akreditasi Nasional (KAN) sejak Juni 2011 dengan nama Laboratorium Penguji

BBAT Jambi dengan Nomor : LP-519-IDN. Keberadaan Laboratorium Pengujian BBAT Jambi Merupakan salah satu komitmen dari BBAT Jambi, DJPB-KKP dan memberikan pelayanan kepada masyarakat luas dalam pengujian sampel ikan/ air/pakan Kegiatan pengujian yang dapat dilakukan di laboratorium Pengujian BBAT Jambi antara Lain: 1. Pengujian Virus Pengujian Virologi, diagnosis KHV secara PCR Peengujian Genetik, deteksi gen/alel anti KHV secara PCR 2. Pengujian Parasit Jenis parasit yang dapat diidentifikasi antara lain: argulus sp, chillodonella sp, centrocescus sp, Dactylogyrus sp, Epistylis sp, Ichthyophthirius multifiliis, Lernea sp, Glochidium sp, Gyrodactylus sp, Heneguya sp, Myxobolus sp, Oodinium sp, Trichordina sp. 3. Pengujian Bakteri A) Identifikasi bakteri pathogen, antara lain: Edwardsiella ictaluri, Aeromonas hydrophila, Pseudomonas sp, Streptococcus sp, Flavobacterium sp, Vibrio, sp, dll B) Penghitungan Angka Lempeng Total Bakteri (ALT) dan Angka Lempeng Total Bakteri Vibrio (TBV) 4. Analisa Proksimat Meliputi kadar lemak, kadar air, kadar abu, kadar protein dan serat kasar. 5. Pengujian Kualitas Air Meliputi suhu, pH, Oksigen terlarut, Salinitas, Alkalinitas, Kesadahan, Amoniak, Nitrat, Nitrit, Fosfat, Total Nitrogen, TOM, COD, Turbiditas, dll 6. Pengujian Logam Berat dan Residu Antibiotik Pengujian Logam Berat Meliputi Kalium (ca), Cadmiun (cd), Copper (Cu), Magnesium (Mg), Mangan (Mn), Fe, Timbal/Lead (Pb), Natrium/Sodium (Na), Kalium/pottasium (K) Zinc (Zn), Total Mercury (Hg). Pengujian Residu Antibiotik Meliputi; Chloramphenicol, Oxytetracycline, Nitrofuran (AOZ) dan Nittrofuran (AMOZ). h. Jaringan Listrik

Kapasitas terpasang jaringan listrik yang ada di BBAT Jambi sebesar 60 KVA berasal dari PLN Rayon Kota Baru Jambi. Untuk menanggulangi terjadinya ganguan pemadaman listrik dari PLN maka disiapkan juga Generator Set (Genset) sebanyak 3 unit dengan kapasitas masingmasing 60 KVA (1 unit) , 150 KVA (1 unit) ,20 KVA (1 unit) dan 40 KVA (1 unit) i. Gedung Gedung yang dimiliki BBAT Jambi terdiri atas: gedung perkantoran 240 m2, aula 170 m2,Gedung Pejabat Fungsional 120 m2, perpustakaan 100 m2, asrama 4 kopel (3 kopel @ 90 m2, ), 1 kopel 100 m2, mess operator tipe 21 (7 unit), tipe 45 (18 unit), tipe 70 ( 5 unit), tipe 36 (10 unit) dan bangunan gudang (5 unit). j. Visi dan Misi BBAT Jambi Adapun visi dari BBAT Jambi yaitu Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia 2015 adalah Mensejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan. k. Tujuan dan Sasaran a. Tujuan Menerapkan pengembangan teknologi budidaya air tawar yang sederhana, efisien dan berwawasan lingkungan. Menyediakan teknologi adaptif dan inovatif. Menyediakan benih dan induk bermutu. Meningkatkan profesionalisme SDM Kelautan dan Perikanan. Melestarikan sumber daya perikanan. b. Sasaran Tersedianya paket teknologi adaptif dan inovatif. Tersedianya benih dan induk yang bermutu. Tersedianya SDM Kelautan dan Perikanan yang profesionalisme. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pelestarian plasma nutfah. 2. Pembesaran Ikan Arwana a. Persiapan Adapun misi dari BBAT Jambi

Sebagai ikan hias, arwana dapat dipelihara dalam akuarium. Secara umum, semakin besar ukuran akuarium akan semakin baik, karena arwana memerlukan ruang gerak yang cukup luas, diBBAT Jambi wadah yang digunakan untuk pembesaran ikan arwana di hatchery akuarium berukuran panjang 60 x lebar 50 cm dengan ketinggian air 20 25 cm. Benih dipelihara secara terpisah dalam satu ekor satu akuarium setelah jadi induk baru dipindah ke kolam bak beton dan wadah kolam atau bak beton yang berukuran 550 m2. (Gambar. 3 )

Gambar 3. Wadah Akuarium dan Kolam Bak Beton b. Pemeliharaan Benih (Pembesaraan) Pembesaran ikan arwana di BBAT Jambi ada dua tahapan yaitu di akuarium dilakukan dari larva lepas kuning telur dan sampai berumur 2 tahun. Benih arwana dipelihara secara terpisah (1 ekor per akuarium). Agar ikan tidak melompat keluar akurium ditutup dengan jaring penutup. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan adalah anak ikan kecil, jangkrik (Gryllus assimillis), atau ulat hongkong (Tenebrio millitor), frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pagi pukul 09:00 Wibdan sore hari pada pukul 17:00 Wib. Untuk Pengantian air dilakukan seminggu sekali (pergantian air total 80% guna untuk menetralkan air ) dan untuk penyiponan dilakukan dua hari sekali.

Gambar 4. Pemeliharaan Secara Terpisah dan Akuarium ditutup

Gambar 5. Jangkrik (Gryllus assimillis) dan Ulat Hongkon (Tenebrio millitor) Setelah berumur 2 tahun atau berukuran 20-30 cm arwana dipindah ke bak beton berfilter atau ke kolam, pakan yang diberikan untuk kolam atau bak beton adalah ikan rucah.

c. Pengamatan Pertumbuhan Ikan Pengamatan pertumbuhan arwana di BBAT Jambi dengan cara sampling, panjang bobot dan berat di lakukan setiap sebulan sekali dengan cara mengambil sempel sebanyak 10 ekor benih untuk diukur panjang standar (SL), panjang total (TL) dengan menggunakan mistar, dan beratnya menggunakan timbangan digital, sebelumnya ikan di anestesi (pembiusan) terlebih dahulu dengan menggunakan cairan stabilizer dengan dosis 1 ml / liter air, setelah itu ikan disadarkan terlebih dahulu dan baru dikembalikan keakuarium. Grafik 1. Panjang Standar/SL Calon Induk Arwan

Grafik 2. Panjang Total/TL Calon Induk Arwan

Grafik 3. Berat/BW Calon Induk Arwan

d. Pengukuran Kualitas Air Selain pemberian pakan, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kualitas air sebagai media arwana agar tetap optimal untuk tumbuh dan berkembang. Kualitas air dipengaruji oleh berbagai faktor baik fisik maupun kimia seperti pH, Suhu dan DO. Untuk menjaga kualitas air yang berada diwadah pemeliharaan tetap baik, maka dilakukan pergantian air secara rutin setelah penyiponan. Adapun parameter kualitas air pada pembesaran arwana dapat dilihat pada Tabel dibawah. Tabel 3. Hasil Pengukuran Parameter Kualiatas Air Parameter pH Suhu (oC) DO (ppm) Kisaran 7,0 7,7 24 27 3,0 4,2

Menurut Sudarto (2009), kualitas air media Teknik Pembesaran Calon Induk Ikan Arwana(Scleropages formosus) yang baik adalah pH 7.0-7.7, Suhu 24-27 oC dan DO 3.04.2ppm.

e. Pemantauan Kesehatan Ikan Penyakit pada arwana dapat disebabkan oleh faktor infeksi dan non infeksi. Pada umumnya, penyakit yang sering terjadi di BBAT Jambi disebabkan oleh faktor non infeksi, yaitu lingkungan. Faktor lingkungan ini erat kaitannya

dengan masalah kualitas air. Kualitas air yang mempengaruhi arwana antara lain suhu, pH dan DO. Gejala yang sering timbul karena faktor lingkungan, yaitu bakteri atau virus menempel pada ikan, lalu ikan mati dengan kondisi insang pucat, produksi lendir yang banyak. Untuk penanggulangan ikan yang diserang penyakit atau bakteri dilakukan oleh tim khusus yang ada di BBAT Jambi.

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembesaran Calon Induk Ikan Arwana (Scleropages formosus) di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Provinsi Jambi, maka dapat diambil keputusan sebagai berikut : a. Pembesaran calon induk ikan Arwana pada Praktek Kerja Lapang ini dipelihara didalam akuarium yang berukuran P60 cm x L50cm dengan ketinggian air 20cm, yang dilengkapi dengan aerator. b. Tingkat kelulusan hidup (SR) calon induk arwana mencapai 100% pada akhir praktek kerja lapang. c. Pembesaran calon induk ikan arwana sangat baik dilakukan dengan padat tebar 1 ekor per akuarium. d. Kendala yang sering terjadi yaitu sangat mudah diserang bakteri, karena tubuh ikan terdapat luka yang disebabkan kurangnya pemantauan perawatan. e. Di BBAT Jambi, Pemantauan kesehatan ikan dilakukan oleh tim ahli atau staf Lab Uji khusus di BBAT Jambi dan dilakukan setiap sebulan sekali. f. Untuk pengukuran kualitas air yaitu suhu 25-27 OC, pH 7-7.7 dan DO 3.0-4.3ppm

2. Saran Diharapkan kepada semua anak perikanan khususnya yang di Provinsi Aceh, agar mencoba untuk membudidayakan ikan arwana, karena Ikan arwana merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar yang bernilai ekonomis tinggi dan banyak diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri dengan harga yang relatif mahal. Diharapkan kepada pembudidaya yang sudah berjalan saat ini agar tidak berhenti dan terusmeningkatkan hasil produksinya dengan memperbanyak induk dan benih

unggul, seperti yang kita ketahui ketersediaan ikan arwana di daerah kita relatif rendah.

DAFTAR PUSTAKA .

BBAT Jambi. 2012. Kualitas Air Arwana Media Pembesaran atau Pemeliharaan. Jambi. Dealami. 2001. Klasifikasi Dan Morfologi. Penebar Swadaya. Jakarta. Effendie. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri. Bogor Harianto. 2009. Buku Pintar Memilih Dan Merawat Arwana. PT. Agro Media Pustaka. Jakarta. Fardiaz, 1992. Kualitas Air Ikan Arwana. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka Purwakusuma, 2007. Pembesaran Ikan Arwana Pada Akuarium. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka Sudarto. 2003. Ikan Siluk Arwana Indonesia. Kanisius. Yogyakarta. Susanto. 2008. Panduan Memelihara Arwana. Penebar Swadaya. Jakarta. Sachlan, 1987. Budidaya Ikan Arwana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Denah lokasi BBAT Jambi


Lampiran 2. Sertifikat Praktek Kerja Lapang (PKL)