Anda di halaman 1dari 13

Tugas ini dikumpulkan untuk memenuhi tugas review pada matakuliah Studi-Studi Agama

Oleh : Irvan Haq Dzul Karoma (08110066)


A. PENGERTIAN STUDI AGAMA DAN RUANG LINGKUP
Bila ditinjau dari sudut ethimologi, perbandingan agama merupakan terjemahan dari
akar kata bahasa Inggris-Comparative of Religion. Dalam kamus lengkap Bahasa Inggris-
Indonesia susunan W.J.S. Poerwodarminto, menyebutkan bahwa Comparative artinya :
bersamaan; comparison artinya persamaan; perbandingan. Sedangkan kata religion
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang artinya agama.
Sedangkan bila kita melihat dari sudut istilah (Therminologi) dapat dipahami bersama
bahwa setiap cabang ilmu pengetahuan itu memiliki objek dan tujuan sendiri. Karena itu,
setiap cabang ilmu pengetahuan juga masing-masing mempunyai batasan sendiri.
Dari batasan ilmu perbandingan agama itu, tampak tidak jauh berbeda pengertiannya,
hanya saja ada sedikit perbedaan dalam mengekspresikan kata-kata. Dan dapat diambil
catatan bahwa Ilmu perbandingan Agama telah memiliki empat unsur pokok yang penting
yakni:
1. Ilmu Pengetahuan
2. Gejala-gejala Keagamaan
3. Kepercayaan
4. Agama yang berbeda
Ilmu Pengetahuan
Unsur pertama dalam Perbandingan Agama adalah ilmu pengetahuan. Adanya unsur
ilmu pengetahuan pada Perbandingan Agama, maka hal tersebut menunjukkan bahwa
perbandingan agama sudah berstatus menjadi ilmu pengetahuan yang mandiri, yang berarti
telah memisahkan dari induknya yaitu Filsafat. Oleh karena itu perbandingan agama sudah
memiliki syarat-syarat sebgaimana yang dimiliki lazimnya oleh ilmu pengetahuan yang lain,
yang diantaranya meliputu obyek, metode, sistem dan manfaat.
Syarat pertama ilmu pengetahuan yang terdapat pada perbandingan agama adalah
objek. Dan perlu diketahui bahwa obyek dalam ilmu perbandingan agama itu terdiri dari
obyek material dan objek formal. Obyek material perbandingan agma ialah agama-agama
yang heterogin, sedangkan obyek forlmalnya adalah gejala-gejala keagamaan dan
kepercayaan.
Syarat kedua adalah metode. Dengan menggunakan metode, perbandingan agama
akan mampu menjalankan tugas dengan baik. Dimana metode dalam ilmu ini mempunyai
tendensi yang diwarnai oleh pandangan seseorang terhadap agama-agama yang bukan
agamanya sendiri. Dan dengan metode itu pula para ahli yang menggeluti ilmu perbandingan
agama akan bisa menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan antara agama yang
mereka peluk dengan berbagai macam agama lain.
Syarat ketiga adalah sistem. Ilmu ini sudah memiliki sistematik, yang dengan
sistematika tersebut ilmu agama dapat tersusun lebih efektif dan akhirnya sampai pada tujuan
yang dimaksud atau mendapatkan hasil yang sebenar-benarnya, yaitu mengumpulkan bahan-
bahan dari berbagai pengalaman keagamaan dan mencari interpretasi yang menerangkan
tentang keperluan agama dan kodrat manusia.
Syarat keempat yaitu manfaat, sebagaimana lazimnyailmu-ilmu pengetahuan yang
lain, perbandingan agama senantiasa memberikan manfaat kepada orang-orang yang terjun
dalam bidang ilmu khususnya, dan kepada pemeluk-pemeluk agama pada umumnya.
Gejala-gejala Keagamaan
Yang dimaksud gejala-gejala keagamaan disini ialah semua aktifitas kehidupan
manusia yang diwarnai oleh norma-norma agamis. Sehingga gejala-gejala keagamaan
tersebut bersifat fariatif sejalan dengan suatu agama dari agama yang berbeda-beda. Dan
gejal-gejala tersebut relevan dengan prinsip yang ada pada agama itu sendiri, yakni yang
dapat diambil dari cara praktek, pemujaan, simbol tempat peribadatan ataupun dari literatur-
literatur yang berhubungan dengan agama-agama tersebyt.
Kepercayaan
Pada unsur ketiga ini yang perlu diperhatikan ialah bahwa seseorang yang terjun
dalam ilmu perbandingan agama hendaknya sadar, karena ilmu perbandingan agama
bukanlah sesuatu alat untuk mempertahankan kepercayaan di samping untuk
mempertahankan agama. Akan tetapi Ilmu perbandingan agama adalah sebagai alat untuk
memahami fungsi dan ciri-ciri agama.
Agama-agama yang berbeda
Seyogyanya dal;am berkiprah mempelajari ilmu perbandingan agama hendaknya
memaklumi dan menyadari akan adanya agama yang hiterogin. Olh karena itu kita harus
memperlakukan sama terhadap agama-agama itu. Atas dasar itulah disini berlaku MOTTO
Agree in disagreement setuju dalam ketidak setujuan atau setuju dalam perbedaan.
Menurut Mukti Ali, beliau membagi kajian ilmu Agama menjadi tiga bagian, yaitu:
1. History of religion
2. Comparison of religion
3. Philosophy of religion
Dan dari setiap cabang diatas memiliki fungsi sendiri-sendiri. Adapun fungsi-fungsi
tersebut adalah:
1. History of Religion
Dalam ruang lingkup pembahasan dan kajian sejarah agaa adlah berusaha untuk
memoelajari dan mengumpulkan fakta-fakta azasi daripada agama. Karena itu sejarah agama
lebih menitik beratkan pada penilaian data sejarah berdasarkan ukuran-ukuran ilmiah yang
lazim. Dan tujuannya adalah untuk mendapatkan tujuan yang jelas, sehingga konsepsi tentang
pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok masyarakat dapat dihargai dan dipahami.
2. Comparison of religion
Yang menjadi kajian dan pembahasan dari perbandingan agama menurut Mukti Ali
adalah berusaha untuk memahami semua aspek-aspek yang telah dikumpulkan oleh sejarah
agama kemudian menghubungkan satu agama dengan agama lain. Guna mencapai dan
menentukan struktur yang paling mendasar dari pengalaman dan konsepsi keagamaan dengan
memfokuskan analisa pada aspek persamaan dan perbedaan agama-agama tersebut.
3. Philosophy of religion
Dalam obyek pembahasan Filsafat Agama adalah berusaha untuk mengambil
kesimpulan dari fakta-fakta yang telah dikumpulkan oleh sejarah Agama dan dibadingkan
oleh perbandingan agama dengan menggunakan metode Filsafat.
B. SEJARAH PERTUMBUHAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA
a. Di Dunia Barat
Ilmu Perbandingan Agama diakui sebagai disiplin ilmu yang mandiri serta
mendapatkan kedudukan akademik pada tahun 1873. Bersamaan dengan tokoh pertamanya
yaitu F. Max Muller (1823-1900) dengan menyampaikan pidato ilmiah di hadapan para
sarjana Agama dan cerdik pandai di Westminster Abby-London yang berjudul : introduction
to the science of Religion.
Selanjutnya Mukti Ali dalam bukunya mengatakan bahwa sejak timbulnya agama-
agama baru di Greco-Roman para ahli-ahli pikir telah terpaksa menilai kembali agama
mereka masing-masing, dalam hubungannya dengan agama yang dianut oleh orang lain. Dan
hasilnya lahirlah berbagai teori tetang agama, baik mengenai pertumbuhan perkembangan
maupun pertaliannya dengan asal-usul agama dan hubungannya dengan agama lain.
Selain dari beberapa tokoh yang dielaskan di atas, masih banyak tokoh-tokohnya,
antara lain adalah:
Herodotus (484-425 BC)
Dalam pengembaraannya dia bukanlah untuk membuktikan bahwa agama dan
kebudayaannya sendiri itu merupakan cara tatanan hidup yang paling baik. Dan seperti
kebiasaan saaat itu, Herodotus memberikan istilah sebutan bagi orang-orang yang bukan
Yunani dengan nama Barbarian. Meskipun dia tidak percaya terhadap kepercayaan orang
Yunani. Namun dia memperlakukannya dengan penuh simpati, dankepada orang Mesir
memberikan penghormatan yang cukup besar.
Dr. Lehman (250 BC), Cicero (106-38 BC), Sollustius (86-4 BC)
Memberikan perhatian khusus terhadap agama yang dianut oleh berbagai kelompok
masyarakat di luar Yunani. Dan dari karya mereka itulah lahir suatu gambaran atau sketsa
tentang sejarah berbagai agama dan adat istiadat bangsa lain yang diketahui pada masa itu.
Slrabo ( 63 BC-21 BC) diikuti Verro (116-27 BC) dan Tacitus (55 BC-117 AD)
Tokoh di atas dipandang sebagai tokoh yang memiliki andil besar dalam menyelidiki,
membandingkan struktur agama dari bangsa-bangsa kuno.
Aristoteles (384-322 BC) dan Iskandar Agung (356-323 BC)
Adalah tokoh yang tak bisa diremehkan, berkan keduanya kita dapat mengetahui
pengetahuan dari peninggalan pendahulunya.
Clemerit dari Alexandria (202 AD)
Dengan memberikan informasi tentang agama budha dan pengaruh Yunani sangat
menonjol pada beberapa segi tertentu dalam seni Hindu dan Budha. Menurut Clement terlihat
akan adanya persamaan antara pemikiran Yunani, India dan China.
Roger Bacon (121-1294 AD)
Menulis buku besar agama-agama kafir dan islam, disusul Mangy Khan dari
Mongolia dan Sultan Akbar (1542-1605) dari India mengadakan kongres tentang agama
Budha. Dari konggres inilah cikal bakal dan pembuka jalan bagi terbentuknya parlemen
agama yang diadakan di chicago Amerika Serikat (1893).
Pada periode kedua ditandai dengan penyelidikan historis tentang agama. Dengan
tokohnya yang terkenal antara lain; Duperron menyelidiki agama Persia, William Jones
tentang Sangskrit Champolion tentang Mesir lama, dan Rask dari Denmark tentang persia
dan India, Niebhur, Botta, Lavard dan lain-lain tentang agama Babylonia. Dan Ernesst Renan
(1822-1892) adalah orang pertama yang memperkenalkanistila comparative study of religion.
Max Muller (182-1950)
Dianggap sebagai tokoh yang membidani lahirnya ilmu Studi Perbandingan Agama,
adapun pendapatnya tentang study agama adalah : sejarah manusia yang sesungguhnya
adalah sejarah agama. Agama adalah jalan yang paling baik yang ditempuh oleh umat
manusia demi menempuh ilmu pengetahuan yang lebih benar dan cinta yang mendalam
kepada Tuhan.
b. Dunia Timur (Islam)
Pada abad ke VI M, dunia mencatat penyelidikan nabi Muhammad mengenai masalah
kejiwaan seorang pemuda Yahudi bernama Ibnu Sayyad Muhammad Iqbal menyebutkan
dalam bukunya bahwa Nabi Muhammad adalah penyelidik pertama atas gejala-gejala
kejiwaan dengan cara yang kritis.
Setelah periode Rasul berlalu, daerah kekuasaan Islam pun semakin meluas,
bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan diberbagai bidang. Terutama masuknya
filsafat Yunani kedalam dunia Islam, dan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam
dunia ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama.
Pada abad XI M, ilmuan muslim yang terjun dalam ilmu perbandingan agama adalah
Ali Ibnu Hazm (994-1064) dengan karya bukunya yang berjudul Al-Fasl fi Al-Milal wal
Ahwa wa al-Nihal. Dengan karyanya itu, ia membagi agama kristen ke dalam dua bagian,
yaitu:
1. Agama yang tergolong pholytheisme
2. Agama monotheisme.
Ketika memberikan komentar mengenai kita Injil beliau menyatakan bahwa kitab suci
agama Kristen telah dipalsukan oleh orang kristen dan Yahudi sendiri. Bukti-bukti yang
ditunjukkan adalah terdapat 78 tempat dalam perjanjian baru dimana terdapat pertentangan
antara satu fasal dengan fasal yang lain. Hal itu adalah bukti bahwa kitab suci itu mustahil
dari Tuhan.
Muhammad Abdul Karim Al-Syahratani dan Khurasan Persia (1071-1143) dengan
kitabnya Al-Milal Wan Nihlal (1127) yang berisi sistematika perbandingan sejarah agama
yang mula-mula diperkenalkan oleh seorang muslim. Kita tersebut sudah diterjemahkan
kedalam bahasa Inggris oleh W.Cureton dengan judul Book Of Religions and Philoshopical
Sets.
Dalam kitab tersebut Asy Syahrastani membagi semua agama menjadi 5 kelompok:
1. Islam
2. Yahudi (Ahlul kitab)
3. Kristen (Ahlul kitab)
4. Agama orang yang mendapat wahyu tetapi termasuk golongan kedua dan
ketiga
5. Agama hasil kebudayaan manusia atau hasil ahli filsafat atau agama wadi.
Setelah memperbandingkan semua agama yang dikenal (tidak termasuk suku) Asy
Syahrastani mengadakan empat tipologi yaitu ; Islam, Yahudi dan kristen dikelompokkan
dalam literatir Religion, Zoroaster dan agama Mani digolongkan dalam quasi literaty religion,
Budha dan Hindu dalam philosopical and self willed religion.
c. Di Indonesia
Di Indonesia sendiri ilmu perbandingan agama termasuk ilmu baru dan yang
mendapatkan kedudukan akademik pada tahun 1960. Bersamaan dengan alih atau status
diperluasnya PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) menjadi IAIN (Institut Agama
Islam Negeri), yang terdiri atas beberapa fakultas Adab, Syariah dan Usulluddin.
Fakultas Ushuluddin IAIN sunan kalijaga Yogyakarta meupakan fakultas tertua atau
pertama dalam lingkungan IAIN. Pada tahun 1960 mendapat kepercayaan dari pemerintah
untuk membuka jurusan Perbandingan Agama di samping tiga jurusan lainnya. Orang yang
pertama mendapatkan kewenangan untuk mengajar ilmu perbandingann agama adalah H.A
Mukti Ali. Dan dikukuhkan pada disnatalis IAIN Sunan Kalijaga dengan isi pidatonya yang
berjudul Ilmu Perbandingan Agama (Sebuah Pembahasan Tentang Methodos dan Sistema).
Naskah tersebut diterbitkan pada 1964, yang sampai sekarang masih dipakai sebagai refrensi
buku pegangan bagi jurusan perbandingan agama.

C. GUNA DAN MANFAAT ILMU PERBANDINGAN AGAMA
Menurut Dr.A.Mukti Ali dalam bukunya ilmu perbandingan agama (sebuah
pembahasan tentang methodos dan sistema), mengemukakan bahwa guna dan faedah ilmu
perbandingan bagi seorang muslim adalah:
1. Berusaha untuk memenuhi kehidupan batin,alam pikiran dan kecendrungan hati bagi
umat manusia.
2. Untuk mencari persamaan antara agama islam dengan agama lain. Hal ini sangat
berguna bagi perbandingan agama,untuk membuktikan dimanakah sendi-sendi agama
islam melebihi agama-agama lain. Untuk menunjukkan agama lain sebelum islamitu
adalah sebagi pengantarterhadap kebenaran yang lebih luas dan yang lebih penting
ialah agama islam.
3. Untuk menumbuhkan simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk
tentang kebenaran, serta menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan
kebenaran-kebenarang yang terkandung dalam agama islam terhadap masyarakat.
4. Perlu diakui bahwa ilmu perbandingan agama juga bisas menjadi bahaya besar bagi
agama islam, apabila salah dalam mempergunakan nya, tetapi sebaliknya akan
menjadi bantuan besar bagi perkembangan agama islam, apabila betul dalam
mempergunakan nya.
5. Ilmu perbandingan ini bukan hanya berguna bagi para muballigh tetapi juga para ahli
agama islam. Karna pikiran yang ditajamkan dengan perantara mempelajariberbagai
agama dengan cara membandingkan, akan lebihmudah memahami ajaran agama islam
itu sendiri. Karna dengan membandingkan agama-agama lain itudapat menyingkap
cahaya yang terang bagi elemen-elemen yang vital bagi agama islam dan juga
memperdalam keyakinan keyakinan kita mengenai kebenaran kebenaran yang
terkandung dalam agama islam.
6. Dengan kemajuab tekhnik yang dialami dalam abad duapuluh (XX) ini, dan
belumpernah dialami pada abad-abad yang lalu, maka dunia ini akan menjadi kecil
dan hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia, maka pertemuan antara
idea alam pikiran, juga agama, antara seseorang, akan lebih mudah terjadi. Hal ini
akan menimbulkan berbagai soal. Soal soal yang timbul karna suatu pertemuan idea,
alam pikiran atau agama yang satu dengan yang lainnya itu tidakkah dapat
begitusajadibiarkan, tetapi hal itu harus dihadapi dan dipecahkan sewajarnya, dan
dalam hal ini ilmu perbandingan agama adalah salah satu alat yang tepat.
7. Juga dengan hubungan nya dengan agama-agama lain, maka agamaislam akan belajar
mempergunakan terminologi-terminologi dan istilah istilah agama yang lebih
sederhana dan tidak membingungkan dan akan sadar bahwa ajaran ajaran agama
islam yang sebenarnya sangat mudah dan sederhana itu, kadang kadang diselimuti
oleh istilah istilah yang cukup membingungkanbagi orang orang yang bukan ahli
agama islam.
8. Keuntungan yang besar mempelajari berbagai agamaialah keyakinan tentang final dan
cukupnya agamaislam itu. Hal ini cukup dijelaskan dalam al-quran. Universalitet dan
final nya islam dapat dipahami dari berbagai quranis, ethis, philosopis. Kita tidak
memerlukan interprestasi- interprestasi baru, tentang agama islam itu, tetapi yang
diperlukan ialah kesangupan menggali ajaran-ajaran islam yang selama ini terpendam,
dituangkan dalam istilah-istilah yang mudah dipahami berdasarkan keyakinan akan
finalnya dan mutlaknya ajaran islam.
9. Arnold J. Toynbee, dalam bukunya, An Historian Approach to Religion (1956), salah
satu bukunya yang paling baik tentang perbandingan agama yang yang dikarang
orang dalam waktu sepuluh tahun belakangan ini, sekalipun tidak dikarang oleh
seseorang ahli agama menyatakanbahwa tiga agama besar yang bersumber yang sama
yahudi, kristen dan islam, mempunyai kecendrungan kearah exclusivism dan tidak
toleran, mereka itu menganggap bahwa agama mereka masing masing itu benar.
Pendapat tibee itu mungkin betul, tetapi bagi agama dalam abad moderen ini
menganalisa bahwa totalitas daripada manifestasinya dalam kehidupan didunia ini,
teks daripada kitap sucinya, dan seninya,menunjukkan kepada kita akan hari depan
yang lain. Dengan kerja sama antar ilmu pengetahuan sosial moderen maka methodos
ilmu agama beransur ansur menjadi luas dan lebih teratur. Dengan ini maka kita
dibawa kearah pandangan yang lebih luas lagi tentang agama, dibanding dengan
waktu-waktu yang telah dilalui. Oleh karna itu sadarlah wahai orang orang akan
kekayaan yang mengagumkan yang terdapat pada tiap tiap agama, yang akhirnya
timbullah saling harga menghargai. Dan yang lebih penting itu adalah disamping
kesan-kesan yang dapat dikataka emosional terhadap lain lain agama, maka ilmu
perbandingan agama sadar akan kurang baiknya penilaian secara polemik terhadap
agama-agama lain.
Menurut richard E.Creel mempelajari agama sangat penting, dan khusus ilmu perbandingan
agama, disimpulkan dalam tiga hal yang terpenting yaitu:
1. Kalau untuk pendidikan tinggi berarti mengenal baik beberapa aspek yang mendasar
mengenai eksistensi manusia, maka mustahil seseorang yang berpendidikan tinggi
mengambil pemahaman terhadap agama secara masak. Mengapa? Karna agama
adalah sebuah komponen eksistensi manusia yang paling kuna, universal dan abadi.
2. Mempelajari agama khususnya perbandingan agama adalah untuk memahami agama
lain dan para pemeluknya dengan lebih baik, sehingga dengan nya kiyta dapat
berkomunikasi secara lancar.
3. Untuk kepentingan pribadi, secara langsung dan secara mendalam agama banyak
kaitan nya dengan beberapa hal yang slalu hadir dalam sanubari kita. Karna itu sudah
selayaknya lah dan sudah sewajarnya pemenuhan terhadap rasa dan hasrat terhadap
intelektual kita ingin tau semata, dan bukan hanya sebagai rasa tanggung jawab sosial
kita saja, akan tetapi akan hasyar kebutuhan pemenuhan pribadi kita pula. Sebagai
suatu usaha untuk menemukan diri kita sendiri dan memahami realitas, dimana kita
merupakan salah satu daripada nya.
Adapun menurut frederik Max Muller, kegunaan mempelajari ilmu perbandingan agama
antara lain sebagai berikut:
1. Kalau ada kesepakatan, khususnya antara agama kita derngan ajaran agama yang lain
akan sangat menguntungkan bagi kita, karna sangat mengetahui ajaran agama yang
berbeda dengan agama yang kita anut. Dan sesungguhnya dalam mempelajari dan
membandingkan antara ajaran agama yang berbeda akan sangat membantu
keteguhaniman serta serta keyakinan kita sendiri untuk membuktikan yang mana
sebenernya yang lebih baik.
2. Ilmu perbandingan agama akan membantu menempatkan agama pada tempat
semestinya di agama-agama serta kepercayaan lain yang ada didunia ini. Sehingga
dengan kajian tersebut akan nampak secara jelas, apa maksud ajaran yang di maksud
dari ajaran agama itu, dan dengan itu pula akan menambah peningkatan penghayatan
agama dengan kebenaran serta ciri-cirinya secara sakral.
3. Maka ilmu perbandingan agama, tidak perlu di khawatirkanakan membawa
kegoncangan dasar-dasar pegangan dan landasan berpijak yang kokh dimana
seseorang harus berdiri.
4. Bagi juru dakwah dan juru penerang agama, ilmu perbandingan agama,
akanmemberikan bantuan yang cukup besar, karna mereka akan mengenal agama-
agama lain sebagaomana mestinya.
5. Disamping itu ilmu perbandingan agama akan menambah cakrawala pandangan yang
luas tentang kehidupan beragama didunia ini, dan juga dapat memberikan pelajaran-
pelajaran yang sangat berguna bagi kita, dengan memdalami secara seksama
perbedaan antara agama dan agama-agama laindengan berbagai macam bentuk
kepercayaan.

D. ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU PERBANDINGAN AGAMA
Ilmu perbandingan agama ialah ilmu yang mempelajari fakta fakta yang dikumpulkan
sejarah agama dari berbagai kepercayaan sejak dari kepercayaan primitif sampai kepercayaan
agama-agama sempurna.
Timbulnya ahli ahli ilmu perbandingan agama adalah memcerminkan adanya
perbedaan pendapat tentang asal usul paham ketuhanan atau paham ketuhanan yang oleh Dr.
A. Mukti Ali disebutkan dengan adanya aliran evolusionisme dan aliran revelasi.
Jika idea asal usul agam melalui proses perkembangan melalui politeisme menuju ke
monoteisme artinya dari bertuhan banyak menjadi bertuhan satu ini disebut Aliran Evolusi,
dan sebaliknya kalau agam itu melalui proses revelasi (wahyu) maka asal agama itu dari
monoteisme, sehingga monoteisme merupakan kemunduran atau penyelewengan.
a. Aliran evolusionisme
Bila mendengan evolusionisme, orang akan asosiasinya tertuju pada Charles Darwin
(1809-1882) dengan bukunya the origin of spesial by means of natural selection, 1859.
Tetapi jika mau melihat sejarah sebetulnya teori darwin ini jauh sebelum nya sudah pernah di
kemukakan oleh sarjana lain, seperti George carbanis abad ke 18. Ia menggunakan teori
evolusi dalam lapangan kemanusiaan Markis de Condercet sezaman dengan Carbanis dalam
lapangan filsafat sejarah.
Dalam usaha penyelidikan masalah masalah agama, para antropologi dan juga sosiolog juga
mengungkapkan teori evolusi dalam menentukan perkembangan masyarakat atau agama.
Menurut hukum evolusi approach antropologis, perkembangan masyarakat manusia pada
garis besarnya melalui proses atau tahapan tahapan di dalam sejarah manusi sebagai berikut:
1. Tahap awal manusia pada zaman berburu dan memancing (tahap primitif) tahap
kebudayaan yang meliputi cara hidup dan praktek-praktek keagamaan dan adat
istiadat mereka, dan yang dianggap tuhan oleh mereka ialah, samudra, ombak,
binatang buas (ular, harimau, gajah dan lain lain)
2. Ketika manusia mulai bercocok tanam dan sudah mulai bertempat tinggal tetap, yang
dianggap tuhan atau dewa adalah: air angin, api (sinar matahari), sapi kuda gajah dan
sebagainya. Dan tahapan ini manusia sudah ada kecendrungan mempersonifikasikan
roh-roh. Disamping itujuga mereka menyembah kekuatan tumbuhan harapan para
petani, seperti dewi kesuburan dan menyembah apa apa yang ada di langit seperti,
bulan, bintang, air,hujan yang mempengaruhi kesuburan lahan pertanian mereka.
3. Manusia pada zaman kerajinan, yang di anggap oleh mereka tuhan atau dewa ialah,
kayu, besi, batu, bulu, rumput, rotan, kulit dan sebagainya. Corak pemikiran mereka
disebut alam pikiran berkeadapan, karna dalam tahapan tersebut sudah terdapat cara
berfikir teratur.
4. Tahap manusia zaman moderen/mesin, yang di anggap tuhan dan dewa oleh mereka
adalah: angin (udara), air, atom, pikiran dan lain lain.
Dengan pertambahan kemampuan manusia serta kemampuan untuk renungan
renungan konseptual dalam membentuk konsepsi konsepsi moral dan agama. Tokoh besar
seperti, para nabi, filosof, dan tokoh tokoh yang mengajarkan soal soal akhlak dan agama,
seperti abraham, musa, zoroaster, kristus, muhammad dan lain lain. Yang mana semua itu
adalah untuk mempertahankan keturunan.
Tokoh tokoh aliran evolusionis.
1. Lewis Brown, dalam bukunya the believing world
2. E.B. Taylor (1832-1917) dlm bukunya primitive culture
3. Max Muller (1823-1900) dengan bukunya the growh of religion
4. Lubbach the origin of civilization and the primitive condision of the man (1970)

b. Aliran revelasi
Diatas telah diketahui bahwa sarjana sarjana ilmua alam menerima teori evolusi, tetapi
sebaliknya teori evolusi, tetapi sebaliknya sarjana sarjana agamis tidak mau mengetahui atau
menerima terhadap teori tersebut. Hal ini disebabkan karena dalam ilmu agama terutama
agama yang berdasarka wahyu, faham ketuhanannya tidak melalui proses evolusi dari
bertuhan banyak menjadi bertuhan satu.
Dari penulis-penulis modern aliran revelasi, dapat dipahami bentuk-bentuk
pemikirannya dan diantaranya adalah:
1. Bahwa di antara suku-suku primitif sudah ada ide Tuhan yang tinggi atau paling
tinggi disebut High God atau Sky God.
2. Kepercayaan tentang adanya monoteisme itu adalah:
a. Spontan dan umum, terdapat pada semua suku bangsa.
b. Universalitas
c. Kontinuitas
3. Wahyu selain tauhid, aqidah atau ide tentang Tuhan, diturunkan kontinuitas melalui
para Nabi dan disesuaikan dengan kondisi kecerdasan otak masyarakat dan zaman-
zamannya. Kemudian proses ini berkembang terus dan akhirnya sempurna dalam
risalah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.