Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TAFSIR AYAT-AYAT KEMUDAHAN BERDAKWAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir

Disusun Oleh

Reja Anwar Fauzi (1164020139)

Rizki Nugraha (1164020147)

Siti Syarah Ulfa (1164020158)

Sumi Fitriyani (1164020163)

Titin Rosidah (1164020167)

Tri Muhammad Akbar (1164020168)

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG


2016/2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
puji dan syukur senantiasa tercurah kepada Dzat Illahi Rabbi yang selalu memberikan
Taufiq dan Inayah-Nya kepada kami. Tanpa keridhoan dan kasih sayang-Nya
penyusun belum tentu bisa menyelesaikan makalah ilmu kalam ini.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., selaku
penutup para nabi dan sang penerang bagi umat Islam sehingga kenikmatan agama
Allah bisa kita rasakan sampai saat ini.

Dalam penyusunan makalah yang berjudul Tafsir Ayat-Ayat Kemudahan


Berdakwah ini kami tidak bisa lepas dari peran kawankawan yang telah membantu
dan beberapa pihak yang terkait dalam pembuatan makalah ini, kami para penyusun
mengucapkan banyakbanyak terimakasih atas kerja samanya. Serta ada sedikit
pengantar dari buku dan internet yang telah kami baca sehingga membantu kami
dalam membantu kelancaran pembuatan makalah ini.

Penyusun,

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................I

DAFTAR ISI.................................................................................................................II

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

A. Latar belakang....................................................................................................1

A. Rumusan masalah...............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................2

1. Surat Al-Araf 199-200.......................................................................................2

1. Q.S. Al-Hajj: 78..................................................................................................7

2. Q.S Al-Baqarah ayat 109..................................................................................12

BAB III PENUTUPAN................................................................................................17

Kesimpulan..............................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................18

II
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Ada berbagai macam metode yang telah Rasulullah ajarkan kepada umatnya,
salah satunya menggunakan metode yang menyejukan. Diantara metode yang
ditempuh oleh Rasulullah dalam berdakwah yaitu mempermudah tidak mempersulit
serta meringankan tidak memberatkan. Begitu melimpah nash al-Quran maupun
teks as-Sunah yang memberikan isyarat bahwa memudahkan itu lebih disukai Allah
dari pada mempersulit.
Melalui surat al-Araf ayat 199-200, salah satu ayat yang akan kami jelaskan,
bahwa ayat ini membicarakan tentang kepribadian Rasulullah. Digariskan cara
beliau bermuamalah dengan sesamanya, sehingga beliau terhindar dari perasaan
terhimpit oleh sikap orang-orang pada zaman dahulu terhadap diri Rasulullah dan
dakwahnya. Maka dalam ayat ini Allah memberikan pedoman-pedoman untuk nabi
dalam menjalankan dakwahnya dan cara menghadapi pengaruh Syaithan.

B. Rumusan masalah
1. Tafsir Q.S Al-Araf ayat 199-200
2. Tafsir Q.S Al-Hajj ayat 78
3. Tafsir Q.S Al-Baqarah ayat 109

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. Surat Al-Araf 199-200


a. Ayat 199










Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf


serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

Pengertian secara Umum

Allah SWT menegaskan bahwa Dia-lah yang akan menjamin keselamatan


rasul dan membelanya, dan bahwa berhala-berhala dan para penyembahnya itu
tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menganiaya beliau atau memberi bahaya
kepada beliau, maka pada ayat ini Allah menerangkan cara yang sebaik-baiknya,
jalan yang lurus dalam menghadapi dan berinteraksi dengan manusia. Pada ayat ini
terkandung prinsip-prinsip akhlak yang utama yang merupakan landasan
terletaknya suatu prinsip-prinsip akidah yang berlandaskan pada tauhid.

Penjelasan Tafsir Al-Maraghi


Dalam tafsir Al-Maraghi, Allah SWT memerintahkan nabi-Nya pada ayat ini
untuk melaksanakan tiga perkara yang semuanya merupakan dasar-dasar umum
syariat, baik menyangkut soal tata kesopanan jiwa atau hukum-hukum amaliah,
yaitu:
1. Al-Afwu artinya mudah, tidak berliku-liku yang menyulitkan.
Maksudnya yaitu diantara perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang,
akhlak mereka dan apa pun yang datang dari mereka, ambilah yang menurutmu
mudah, dan bersikap mudahlah, jangan mempersulit dan jangan menuntut mereka
melakukan sesuatu yang memberatkan, sehingga mereka akan lari darimu.
Suruhan ini adalah sama seperti yang dikatakan dalam sebuah hadis:

2





Permudahlah dan jangan mempersulit.
Kesimpulannya, bahwa di antara tatakrama dan pinsip-prinsip agama ialah
kemudahan, menghindari kesulitan dan yang memberatkan. Dan benarlah berita
bahwa Nabi saw. apabila harus memilih antara dua perkara, maka yang belau pilih
pasti yang lebih mudah.
2. Al-Amru bil Maruf
Al-maruf itu artinya sesuatu yang diakui baik oleh hati. Hati senang
kepadanya dan merasa tentram. Tidak diragukan, bahwa suruhan ini didasarkan
pada pertimbangan kebiasaan yang baik pada umat, dan hal-hal yang menurut
kesepakatan mereka berguna bagi kemaslahatan mereka.
Sebagian ulama terkemuka berpendapat, Maruf adalah apa yang menurut
akal baik untuk dilakukan dan tidak dipungkiri oleh semua akal sehat. Dan dalam
hal ini bagi seorang mukmin cukup dengan memelihara nas-nas yang tetap, karena
tak mungkin seorang mukmin mengingkari apa yang datang dari Allah SWT dan
Rasul-Nya.
3. Al-Irad anil Jahilin (berpaling dari orang-orang bodoh)
Yaitu dengan cara tidak mempergauli mereka dan jangan berbantah-
bantahan dengan mereka. Menurut sebuah riwayat dari Jafar As-Sadiq r.a. bahwa
dia berkata, Dalam Al-Quran tidak ada satu ayat yang lebih mencakup
akan Makarimal Akhlak selain ayat ini. Mengenai firman Allah pada ayat di atas.
Dari Qatadah, ia berkata: Ini adalah akhlak yang diperintahkan dan ditunjukan
oleh Allah kepada Nabi SAW.
Dalam tafsir yang telah diterbitkan oleh UNIVERSITAS ISLAM
INDONESIA (683-685, 1995), menjelaskan surat al-Araf ayat 199 bahwa dalam
ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya berpegang teguh pada prinsip umum
tentang moral dan hukum, diantaranya adalah;
1. Sikap pemaaf
2. Menyuruh manusia berbuat maruf, dan
3. Menjauhkan diri dari orang-orang jahil.

3
Penjelasan menurut tafsir Al-Misbah
Kata khudz/ambilah hakikatnya dalah keberhasilan memperoleh sesuatu
untuk dimanfaatkan atau digunakan untuk memberi madharat karena tawanan
dinamai akhidz. Kata tersebut digunakan oleh ayat untuk makna melakukan suatu
aktivitas atau menghiasi diri dengan sifat yang dipilih dari sekian banyak pilihan.
Dengan adanya beberapa pilihan itu kemudian memilih salah satunya, pilihan
tersebut serupa dengan mengambil.

Kata al-afwu/maaf terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ain fa
dan wawu. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu meninggalkan sesuatu dan
memintanya. Dari sini lahir kata afwu yang berarti meninggalkan sanksiterhadap
yang bersalah (memaafkan). Perlindungan Allah dari keburukan disebut afiah.

Perlindungan mengandung makna ketertutupan. Kata afwu diartikan


menutupi, bahkan dari ketiga huruf itu lahir makna terhapus atau habis tiada
berbekas karena yang habis dan tidak berbekas pasti ditinggalkan.

Al-Biqai memahami kata khudz al-afwu ambilah apa yang telah


dianugerahkan Allah dan manusia tanpa bersusah payah atau menyulitkan diri.
Dengan kata lain ambil yang mudah dan ringan dari perlakuan dan tingkah laku
manusia. Terimalah dengan tulus apa yang mudah mereka lakukan jangan
menuntut terlalu banyak atau yang sempurna sehingga memberatkan mereka agar
tidak antipati dan menjauhimu dan hendaklah engkau selalu bersikap lemah
lembut serta memaafkan kesalahan dan kekurangan mereka.

Perintah memberi maaf kepada rasul ini adalah yang tidak berkaitan dengan
ketentuan agama. Perintah tersebut adalah yang berkaitan dengan kesalahan dan
perlakuan buruk terhadap pribadi beliau. Allah Swt., menyuruh Rasul-Nya agar
beliau memaafkan dan berlapang terhadap perbuatan, tingkah lau, dan akhlak
manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukarbagi
mereka sehingga mereka lari dari agama.

4
Kata al-urf sama dengna kata maruf yakni sesuatu yang dikenal dan
dibenarkan oleh masyarakat, dengan kata lain adat istiadat yang didukung oleh
nalar yang sehat dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Kata al-jahilin adalah bentuk jamak dari kata jahil. Ia digunakan Al-Quran
bukan sekedar dalam arti seorang yang tuidak tahu, tetapi juga dalam arti pelaku
yang kehilangan kontrol dirinya sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar,
baik atas dorongna bafsu, kepentingan sementara, atau kepicikan pandangan.
Istilah ini juga digunakan dalam arti mengabaikan nilai-nilai ajaran ilahi.

b. Al araf: 200











Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaanSyaithanmaka berlindunglah
kepada Allah swt sesungguhnya Allah maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Pengertian secara umum


Setelah pada ayat di atas lalu Allah SWT. menerangkan tentang cara yang
terbaik dalam bergaul sesama manusia, yang kalau mereka mau melaksanakan
petunjuk yang Dia ajarkan itu, maka tidak ada jalan bagi kerusakan untuk menebus
hati mereka. Maka seterusnya Allah memberi nasehat yang terkandung pada ayat
di atas, yaitu supaya berhati-hati terhadap godaan Syaithan, yakni Syaithan dari
bangsa jin yang tidak kelihatan. Jadi, kalau ayat sebelumnya menyuruh supaya
berpaling dari orang-orang bodoh, agar terhindar dari kejahatan mereka, maka ayat
ini menyuruh supaya berlindung kepada Allah dari godaan Syaithan agar terhindar
dari kejahatannya pula.

Penjelasan
Nazghun: serasi dengan artinya menusuk tubuh dengan sesuatu yang
runcing. Seperti jarum, tombak, atau besi pada tumit sepatu penunggang kuda.

5
Syaithan: - artinya menyimpang atau menyalahi. Syetan
adalah jiwa yang jahat, ia di namai Syaithan karena jauh dari kebaikan dan
kebenaran. Jiwa jahat itu bisa terdapat pada manusia, jin, dan binatang.
Istaid: berlindung kepada Allah supaya Dia memelihara kamu dari
keburukan dan godaan Syaithan tersebut.
Tafsir
Dan jika Syaithan membangkitkan nafsu yang ada padamu untuk melakukan
kejahatan dan kerusakan baik karena amarah atau syahwat, sehingga dia membuat
kamu terpengaruh lalu bergerak untuk melakukannya. Bila Syaithan berlaku
demikian, maka berlindunglah kepada Allah dan hadapkanlah hatimu kepada-Nya.
Dan nyatakanlah permohonan perlindungan dengan lidahmu. Katakanlah, Aku
berlindung kepada Allah dari godaan Syaithan yang terkutuk. Karena Allah maha
Mendengar apa yang kamu ucapkan, dan Maha Mengetahui apa yang dibisikan
oleh nafsumu dan yang terdetik dalam dadamu. Allah-lah yang akan
memusnahkan darimu pengaruh godaan Syaithan yang telah menghiasi kejahatan.
Pengalaman menunjukan bahwa berlindung kepada Allah dan menyebut-Nya
dalam hati atau lidah dapat menghilangkan dari dalam hati was-was dari Syaithan.
Pokok kandungan ayat

(a) Seorang dai hendaknya memiliki akhlak karimah yang bermuara pada tiga
sifat yaitu menjadi pemaaf, memerintah yang maruf dan berpaling dari orang-
orang yang dungu.
(b) Seorang dai harus senantiasa waspada terhadap perubahan psikologis dirinya,
bila terjadi kelesuan atau gejala negatif lainnya, hendaknya segera
mengantisipasinya dengan berlindung kepada Allah swt. Dan akan lebih baik
bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt untuk menghindari
perubahan psikologis ke arah negatif.
Penjelasan menurut tafsir Al-Misbah
Kata ( )yanzaghannaka terambil dari kata nazagha yang berarti
menusuk atau masuknya sesuatu ke sesuatu yang lain untuk merusaknya. Alat yang
dimasukkan kecil bagaikan jarum. Kata ini biasanya hanya digunakan dengan

6
pelaku setan. Dari sini bisa diartikan bisikan setan atau rayu dan godaannya untuk
memalingkan dari kebenaran. Nazagha yang berasal dari setan itu adalah
bisikannya ke dalam hati manusia sehingga menimbulkan dorongan negatif dan
menjadikan manusia mengalami suatu kondisi psikologis yang mengantarnya
melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Ada beberapa istilah dalam Al-Quran yang menggambarkan upaya setan


memalingkan manusia dari jalan kebenaran diantaranya nazagha, hamz, mas, dan
waswasah.

Ayat ini menunjukan bahwa setan selalu berupaya menggoda dan mecari
peluang dari semua manusia, siapa tahu ia tergelincir sehingga dapat mengurangi
keberhasilan manusia termasuk para Nabi. Keterpeliharaan para Nabi dari
melakukan pelanggaran terhadap Allah tidak mengurungkan niat setan untuk
merayu dan menggodanya, walaupun selalu gagal karena pertahanan mereka
sangat ampuh.

Kata ( ) samiun alim/Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui


bertujuan menekankan kepada Nabi Saw., dan siapapun, apalagi mereka yang
dijahili atau dianiaya. Bahwa Allah Maha Mendengar kejahilan dan gangguan,
Allah juga mengetahui betapa yang dijahili sakit hati mendengarnya dan betapa ia
terdorong untuk membalas. Tetapi ayat ini seakan-akan berkata: Kendalikan
dirimu dan serahkan kepada Allah karena kalau itu sudah di tanga-Nya, segala
sesuatu pasti berakhir dengan baik.

2. Q.S. Al-Hajj: 78

























7
















Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-
benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk
kamu dalam agama suatu kesempitan. (ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim, Dia
(Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan
(begitu pula) dalam (al-Quran) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas segenap
manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada
tali agama Allah SWT. Dia adalah pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik
pelindung dan sebaik-baik penolong.
Penjelasan
(Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah) demi menegakkan agama-
Nya (dengan jihad yang sebenar-benarnya) dengan mengerahkan segala
kemampuan kalian di dalamnya. Lafal Haqqa dinashabkan disebabkan menjadi
Mashdar. (Dia telah memilih kalian) untuk membela agama-Nya (dan Dia sekali-
kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan) artinya hal-hal
yang membuat kalian sulit untuk melakukannya, untuk itu Dia memberikan
kemudahan kepada kalian dalam keadaan darurat, antara lain boleh mengkasar
salat, bertayamum, memakan bangkai, dan berbuka puasa bagi orang yang sedang
sakit dan bagi yang sedang melakukan perjalanan (sebagaimana agama orang tua
kalian) kedudukan lafal Millata dinashabkan dengan cara mencabut huruf Jarrnya,
yaitu huruf Kaf (Ibrahim) lafal ini menjadi athaf Bayan.
(Dia) yakni Allah (telah menamai kalian orang-orang Muslim dari dahulu)
sebelum diturunkannya Alquran (dan begitu pula dalam Kitab ini) yakni Alquran
(supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian) kelak di hari kiamat, bahwasanya
dia telah menyampaikan kepada kalian (dan kalian) semuanya (menjadi saksi atas
segenap manusia) bahwasanya Rasul-rasul mereka telah menyampaikan risalah-
Nya kepada mereka (maka dirikanlah salat) maksudnya laksanakanlah salat secara
terus-menerus (tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian kepada Allah)
percayalah kalian kepada-Nya (Dia adalah pelindung kalian) yang menolong

8
kalian dan yang mengurus perkara-perkara kalian (maka sebaik-baik pelindung)
adalah Dia (dan sebaik-baik penolong) kalian adalah Dia.
Menurut tafsir AL-Maragi, jihad terbagi tiga macam, yaitu;
1. Jihad melawan musuh yang nampak seperti orang-orang kafir,
2. Jihad melawan Syaithan
3. Jihad melawan hawa nafsu

Tafsir
1. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-
benarnya, yaitu dengan tulus ikhlas demi mendapatkan keridhaan-Nya tanpa
merasa takut kepada celaan orang yang mencela dalam melakukannya.
2. Dia telah memilih kamu yaitu, wahai umat ini! Allah telah memisahkan dan
memilih kalian atas seluruh umat serta mengutamakan, memuliakan dan
mengistimewakan kalian dengan Rasul-Nya yang termulia dan syariat-Nya
yang amat sempurna.
3. Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan.
Yaitu, Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak
mampu. Akan tetapi, Dia memberikan kelapangan dan menjadikan jalan keluar
bagi kalian dari setiap dosa, maka Dia memberikan keringanan dalam beberapa
kesempitan
4. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi
saksi atas segenap manusia.
Jadi, Allah menjadikan manusia sebagai umat pertengahan, adil, terpilih dan
menjadi saksi bagi seluruh umat dengan keadilan agar pada hari Kiamat, kalian
menjadi saksi bagi seluruh manusia. Karena pada waktu itu, seluruh umat
mengakui kepemimpinan dan keutamaan mereka dibandingkan dengan umat
yang lain. Untuk itu, persaksikan mereka diterima pada hari Kiamat, yaitu
tentang kenyataan bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah mereka. Rasul
(Muhammad) pun menjadi saksi atas ummat ini bahwa dia telah menyampaikan
kepada mereka
5. Maka dirikanlah salat dan tunaikanah zakat.

9
Yaitu, terimalah oleh kalian nikmat yang besar ini dengan mensyukurinya
secara benar, maka tunaikanlah hak Allah oleh kalian dengan melaksanakan apa
saja yang difardukan, mentaati apa saja yang diwajibkan dan meninggalkan
yang diharamkan. Diantara hal tersebut yang paling penting adalah mendirikan
salat dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah
dengan sesuatu yang diwajibkan kepada orang kaya untuk mengeluarkan
sebagian hartanya.
6. Dan berpeganglah kamu kepada tali Allah
Yaitu, berpegang teguhlah kepada Allah, minta tolonglah, bertawakal dan
mintalah dukungan kepada-Nya.
7. Dia adalah pelindungmu, yaitu pemelihara, penolong dan pemberi
kemenangan bagi kalian dari musuh-musuh kalian.
8. maka Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Yaitu sebaik
pelindung dan sebaik penolong dari musuh-musuh kalian.
Penjelasan menurut tafsir Al-Misbah
Kata jihad diambil dari kata juhd ynag berarti upaya, kesungguhan,
keletihan, kesulitan, penyakit kegelisahan dan lain-lain.

Kata ( ) ijtabakum/telah memilih kamu dipahami oleh Thabathabai


dalam arti pilihan khusus yang menjadikan seseorang hanya mengarahkan
pandangan kepada Allah. Allah telah menjadi perhatiannya yang penuh sehingga
tidak ada lagi tempat di dalam hatinya untuk selain Allah.

Kata ( )millahi terambil dari kata yang berarti meng-imla-kan, yakni


membacakan kepada orang lain agar ditulis olehnya. Kata ini sering
dipersamakan dengan kata din/agama. Ini karena agama atau millah adalah
tuntunan yang disampaikan Allah Swt., yang bagaikan sesuatu yang di-imla-kan
dan ditulis sehingga sama sepenuhnyadengan apa yang disampaikan itu. Menurut
Ar-Raghib Al-Ashfahani, penggunaan kata millah selalu dikaitkan dengan nama
penganjurnya, yang dalam ayat ini dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as.

10
Kata ( ) millata abikum Ibrahim/agama orang tua kamu
Ibrahim ada juga yang memahaminya dalam arti agama Islam yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad Saw., yang tidak terdapat sedikit kesempitan itu, sama
dalam dasar dan prinsip-prinsipnya dengan millah Nabi Ibrahim as., yaitu tauhid,
kesesuaian dengan fitroh, moderasi, penegak hak dan keadilan, keramahtamahan
dan lain-lain.

Thahir ibnu Asyur memahami penggalan ayat ini sebagai pujian terhadap
ajaran Islam sekaligus dorongan agar memeluknya karena agama Islam adalah
agama yang dibawa oleh dua orang Nabi agung (Nabi Muhammad Saw dan Nabi
Ibrahim As) dan ini menurutnya merupakna ciri khusus agama Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad Saw.

Ayat ini menamai Nabi Ibrahim sebagai abikum yang secara harfiyah adlah
bapak kamu. Ini bukan berarti bahwa mitra bicara disini hanyalah orang-orang
arab tertentu karena mereka memiliki garis keturunan kepada Nabi Ibrahim as.

Kata abikum terambil dari kata ab yang tidak selalu berarti ayah kkandung
atau sebagai garis keturunan.

Kata syahidan dapat berarti objek dan subjek. Sahingga kata tersebut dapat
berarti yang disaksikan yang atau menyaksikan. Rasul menjadi saksi kebenaran
dan kebaikan amal-amal kaum muslimin dari kemudian atau Rasul akan menjadi
saksi apakah sikap dan gerak umat Islam sesuai dengan tuntunan ilahi atau tidak,
ini jika kita memahami kata syahid sebagai subjek. Ketika kata syahid dipahami
sebagai objek beliau adalah yang disaksikan dan diteladani oleh kaum muslimin.
Kaum muslimin adalah syuhada yang harus menjadi teladan-teladan kebajikan
bagi umat lain setelah mereka menjadikan Nabi Muhammad Saw., teladan mereka.

Kata Itashimu terambil dari kata Ashama yang bermakna menghalangi.


Penggalan ayat ini mengandung perintah untuk berpegang pada tali agama Allah
yang berfungsi menghalangi seseorang terjatuh.

11
Kata Maulakum terambil dari kata waliya yang berarti dekat. Dari makna
tersebut lahir makna-makna baru seperti pembela, pelindung. Karena yang dekat
pada anda pastilah membela, melindungi, serta memerhatikan kemaslahatan anda.
Sehingga dapat tercapai takwa.

Pokok Kandungan

a) Berjuang menegakkan agama Allah SWT harus dilandasi niat dan motivasi
yang benar, juga taktik dan metodenya yang dilaksanakan secara seimbang.
b) Ajaran Islam itu tidak kaku dan statis, melainkan elastic dan dinamis,
sehingga senantiasa sesuai dengan situasi, kondisi, dan lokasi.
c) Prinsip ajaran agama sejak Nabi Adam dan Nabi Muhammad sama.
d) Ummat yang menjalankan akidah Islam sejak zaman dahulu disebut sebagai
umat muslim, dan istilah tersebut beberapa kali diucapkan oleh Nabi Ibrahim.
Dan umat yang menguasai Al-Quran layak menjadi saksi atas perilaku umat-
umat terdahulu.

3. Q.S Al-Baqarah ayat 109


















Artinya: Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat


mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki
yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
Maka maafkanlah dan biarkanlah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah mahakuasa atas segala sesuatu.

Maksud Ayat
Allah swt. memperingatkan hamba-Nya yang mukmin agar waspada
terhadap tingkah laku orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab. Dia
memberitahukan kepada mereka akan permusuhan orang-orang Ahli Kitab

12
terhadap diri mereka, baik secara lahir maupun secara batin. Juga diberitahukan
oleh Allah bahwa di dalam hati mereka (Ahli Kitab) memendam bara kedengkian
terhadap kaum mukmin, padahal mereka mengetahui keutamaan kaum mukmin
atas diri mereka dan keutamaan Nabi kaum mukmin atas nabi-nabi mereka. Allah
swt memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bersikap lapang dada
dan pemaaf atau bersabar, hingga datang perintah Allah yang membawa
pertolongan dan kemenangan.
Tafsir
Pada dasarnya kaum Yahudi sangat mengharap umat Islam agar mengikuti
atau kembali menjadi kafir. Hal ini karena kaum Yahudi merasa iri terhadap kaum
muslimin.Mereka tidak cukup mengingkari dan menjerumuskan Nabi SAW.
dengan cara merusak janji yang telah diikrarkan antara nabi dengan mereka, lebih
dari itu mereka merasa iri terhadap umat Islam yang telah menerima nikmat Islam.
Kaum Ahli Kitab mempunyai banyak cara untuk menanaman sikap ragu-ragu
kaum muslimin terhadap agama Islam. Karenanya, mereka telah menentukan
sebagian mereka agar berpura-pura sebagai kaum beriman. Sehingga mereka dapat
menyelidiki dan mengetahui kelemahan umat Islam.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Ibnu
Abbas, ia mengatakan: Huyay Bin Akhthab dan Abu Yasir bin Akhthab
merupakan orang Yahudi yang paling dengki terhadap masyarakat Arab, karena
Allah telah mengistimewakan mereka dengan mengutus Rasul-Nya, Muhammad
saw. Selain itu, keduanya juga paling gigih menghalangi manusia memeluk
Islam.
Berkaitan dengan kedua orang tersebut Allah menurunkan ayat ini



Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat
mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki
yang (timbul)dari diri mereka sendiri.
Lalu mereka mengingingkarinya karena iri dan dengki, karena Nabi
Muhammad bukan dari kalangan mereka (Yahudi). Jadi, nasehat-nasehat yang

13
mereka kemukakan kepada kaum muslimin bersumber dari sikap iri hati. Jiwa
mereka kotor dan bengkok, hanya suka terhadap kebatilan. Di dalam jiwa mereka
sama sekali tidak ada semangat terhadap kebenaran.
Allah berfirman, bahwa setelah kebenaran yang terang benderang dihadapan
mereka tidak ada sedikit pun yang tidak mengetahuinya, tetapi kedengkian
menyeret mereka kepada pengingkaran. Maka Allah pun benar-benar mencela,
menghina, dan mencaci mereka, serta menyegerakan bagi Rasulullah saw dan juga
orang-orang yang beriman yang telah membenarkan, mengimani, dan mengakui
apa yang diturunkan oleh Allah kepada mereka dan yang diturunkan kepada orang-
orang sebelum mereka, kemuliaan, pahala yang besar, dan pertolongannya.
Mengenai firman-Nya:

Maka maafkanlah dan biarkanlah sampai Allah mendatangkan perintah-
Nya.
Artinya, perlakukanlah mereka dengan keluhuran akhlak yang ada pada
kalian. Bersabarlah di dalam menghadapi orang-orang jahat, dan banyaklah
berbuat memaafkan. Janganlah kalian mencaci atau mengecam. Sebab Allah pasti
akan memenangkan kalian dengan dukungan dan pertolongan Allah SWT.
Perintah Allah terhadap kaum muslimin agar memberikan maaf dan
berlapang dada menunjukan bahwa sekalipun kaum muslimin itu minoritas, tetapi
mempunyai pengaruh dan kekuatan terhadap kelompok Yahudi. Sebab memberi
maaf menunjukan suatu pengertian bahwa pemberi maaf (dalam hal ini kaum
muslimin) dalam posisi berkuasa dan mempunyai kekuatan.
Jadi, seakan-akan Allah berfirman kepada kaum muslimin, Janganlah kalian
dikalahkan oleh banyaknya pengikut ahli kitab. Mereka itu berjalan di jalan yang
salah. Sedangkan kalian meskipun sedikit, tetapi jauh lebih kuat dibanding
mereka. Sebab, kalian berada di jalan kebenaran. Orang-orang yang membela
kebenaran akan mendapatkan pertolongan dari Allah Swt., pasti akan mencapai
kejayaan karena keteguhan pendirian.
Kemudian Allah menguatkan janji-Nya yang telah disebut.

14


Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Maksudnya, Allah mampu memberikan kekuatan kepada kalian, sehingga
kekuatan-kekuatan kalian sangat kecil dimata Allah. Allah akan menetapkan
langkah-langkah kalian yang benar, sehingga kalian mampu mengalahkan oran-
orang yang menentang dan memusuhi serta merasa bangga dengan jumlah mereka
yang banyak. Contoh, ingat kisah yang terjadi ketika Nabi Muhammad Saw.,
sembunyi di gua. Kekuasaan siapa yang menghambat mata mereka, sehingga
mereka tidak melihat Rasul dan Abu Bakar yang tengah bersembunyi, sedangkan
Rasul dan Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka hingga lutut. Oleh sebab itu yang
paling penting adalah memperteguh hati. Sebab benteng keIslaman dan keimanan
itu wajib diperteguh.
Penjelasan menurut tafsir Al-Misbah
Ayat ini mengandung peringatan kepada orang-orang Islam agar merea
waspada terhadap tipu muslihat yang dilakukan ahli kitab itu. Adakalnya dengan
jalan mengeruhkan ajaran Islam dan adakalanya dengan menumbuhkan keragu-
raguan dikalangan umat Islam sendiri.

Mereka melakukan tipu muslihat karena kedengkian semata, tidak timbul


dari pandangan yang bersih. Kedengkian mereka bukan karena keragu-raguan
terhadap isi Al-Quran atau bukan karena didorong oleh kebenaran yang terdapat
dalam kitab Taurat, tetapi karena dorongan hawa nafsu, kemerosotan mental dan
kedongkolan hati mereka. Iulah sebabnya mereka terjerumus dalam lembah
kesesatan dan kebatilan.

Sesudah itu Allah memberikan tuntunan kepada umat islma bagaimana


caranya menghadapi tindak-tanduk mereka. Allah menyuruh umat Islam
menghadapi mereka dengan sopan santun serta suka memaaafkan segala kesalahan
mereka, juga melarang agar jangan mencela mereka hingga tiba saatnya Allah
memberikan perintah. Karena Allah-lah yang akan memeberikan bantuan kepada
umat Islam, hingga umat Islam dapat menentukan sikap dalam menghadapi

15
tantangan mereka. Apakah mereka itu harus diperangi atau diusir dengan
demikian, terobatilah rasa sakit di hati yang menimpa kaum mukmin selama ini.

Allah memberikan ketegasan atau janji bahwa Dia akan memberikan


bantuan kepada kaum muslimin dengan menyatakan bahwa Dia berkuasa untuk
memberikan kekuatan lain. dia berkuasa pula untuk memberikan ketetapan hati
agar umat Islam tetap berpegang pada kebenaran. Sehingga mereka dapat
mengalahkan orang-orang yang memusuhi umat Islam secara terang-terangan serta
menyombongkan kekuatan.

Kesimpulannya

1. Kaum muslimin tidak boleh mengambil pendapat orang Yahudi mengenai hal-
hal yang berkaitan dengan agama karena sudah jelas dengki dan hasud serta
ingin menjadikan muslimin kafir

2. Dalam menghadapi tipu muslihat mereka, kaum muslimin harus bersabar dan
berlapang dada.

Pokok kandungan

(a) Sebagian besar orang yahudi dan nasrani karena kedengkian hati mereka
kepada umat Islam, mereka berusaha ingin mengembalikan keimanan umat
Islam kepada kekafiran.
(b) Rasulullah saw diperintah untuk memanfaatkan dan berlapang dada serta
meninggalkan mereka dengan tidak membalas kejahatan dan kesalahan
mereka. Sedangkan urusan mereka bergantung kepada keputusan Allah swt.

16
BAB III

PENUTUPAN

Kesimpulan
Melihat penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode
berdakwah salah satunya dengan menggunakan cara yang menyejukan yaitu
dengan kemudahan.
Q.S Al-Araf ayat 199-200, Nabi Muhammad Saw., sebagai seorang dai
diperintahkan untuk menjadi seorang pemaaf, selalu mengajak kepada kebaikan
dan tidak bergaul dengan orang-orang yang jahil (dungu) serta waspada terhadap
godaan Syaithan yang selalu mengintai.
Q.S Al-Hajj ayat 78, yaitu perintah berjihad di jalan Allah SWT. dengan
sunguh-sungguh dan dalam jihad itu terbuka kesempatan luas untuk berkreasi dan
menciptakan berbagai macam metode, yaitu bisa melalui kegiatan ilmiah, ekonomi
dan sebagainya.

17
Q.S Al-Baqarah ayat 109, yaitu sebagian besar orang Yahudi dan Nasrani
berusaha ingin mengembalikan keimanan umat Islam kepada kekafiran. Maka
Rasulullah Saw., diperintahkan untuk memaafkan dan berlapang dada serta
meninggalkan mereka dengan tidak membalas kejahatan dan kesalahan mereka.
Sedangkan urusan mereka bergantung kepada keputusan Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

http://marlinara2.blogspot.co.id/2015/05/makalah-tafsir-ayat-ayat-kemudahan.html

http://dewiroudloh.blogspot.co.id/2014/01/tafsir-dakwah.html

Mustafa, Ahmad Al-Maragi. 1993. Tafsir Al-Maragi. Semarang: Karya Toha Putra

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah: (Pesan, Kesan, dan


Keserasian Al-Quran). Jakarta: Lentera hati

18