Anda di halaman 1dari 10

Nama NIM Kelas

: Helmi Muhammad : 11110106 : PAI-C

Mata Kuliah : Studi Agama-Agama

BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Ilmu Perbandingan Agama Secara etimologi Ilmu Perbandingan Agama berasal dari akar kata bahasa inggris yiatu Inggris-Comparative of Religion. Sedangkan menurut istilah secara umum, Ilmu Perbandingan Agama adalah ilmu yang berusaha memahami gejala-gejala keagamaan daripada suatu kepercayaan pemahaman dan perbedaan. Dari pengertian diatas, kita dapat menarik empat unsur pokok yang terdapat pada Ilmu Perbandingan Agama, yaitu ilmu pengentahuan, , gejala-gejala keagamaan, kepercayaan, agama yang berbeda B. Ruang lingkup pembahasan Ilmu Perbandingan Agama Dalam memahami ruang lingkup terdapat lapangan studi ilmu agama pada umumnya, yaitu : 1) History of Religion, yaitu pembahasan mengenai sejarah agama, termasuk didalamnya biography agama, sosiologi agama dan psikologi agama. 2) Comparison of Religion, yaitu pembahasan tentang perbandingan ataupun hubungan antara satu agama dengan agama lain. 3) Philosopy of Religion, yaitu pembahasan terkait dengan hal yang bersifat fundamental dan universal dalam tiap-tiap agama. dalam hubungannya dengan agama lain baik dari segi

C. Kedudukan Ilmu Perbandingan Agama diantara Ilmu-ilmu agama. Sebelum membahas kedudukan Ilmu Perbandingan Agama diantara ilmu-ilmu agama, terlebih dahulu kita harus memahami kedudukan Ilmu Perbandingan Agama diantara ilmuilmu umum. Ruang lingkup ilmu pengetahuan dibagi menjadi tiga, yaitu :

1) Natural Sciences, yaitu ilmu pengetahuan alam yang membahas gejala-gejala alam yang hidup seperti biologi, ataupun yang mati seperti fisika. 2) Humanities Ciences/ Humaniora, yaitu ilmu yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah kerohanian, meliputi filsafat, ilmu agama, dan ilmu bahasa. 3) Social Sciences, adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang masyarakat. Dari tiga pembagian tersebut dapat diketahui bahwa imu perbandingan agama sebagai cabang dari Humanites Sciences/Humaniora. Sedangkan Ilmu Perbandingan Agama diantara ilmu-ilmu agama yaitu terletak diantara History of Religion dengan Philosophy of Religion. D. Tugas dan Tujuan Ilmu Perbandingan Agama Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pemeluk agama untuk saling memahami antara satu sama lain. Sehinggga terdapat batasan-batasan di dalamnya, yaitu : 1) Bahwa perbandingan agama tidak akan menambah atau memberi keimanan seseorang yang tidak beragama. 2) Perbandingan agama tidak membicarakan kebenaran suatu agama. 3) Perbandingan agama tidak berusaha untuk meyakinkan maksud agama. 4) Perbandingan agama menganggap bahwa agama adalah gejala dalam masyarakat manusia. 5) Penyelidikan perbandingan agama hanya terbatas pada pengumpulan fakta atau kenyataan-kenyataan yang terdapat pada berbagai agama yang diselidiki. Dengan demikian, tujuan perbandingan agama yaitu : 1) Mencari persamaan-persamaan dari bermacam-macam agama. 2) Medapatkan perbedaan-perbedaan yang terdapat dari tiap-tiap agama. 3) Untuk memahami fungsi dan ciri-ciri dari berbagai agama.

E. Klasifikasi Agama, Pengertian dan Ciri-cirinya. a. Klasifikasi Agama Agama ditinjau dari asal usul timbulnya terbagi menjadi dua, yaitu : 1) Agama Samawi, merupakan peraturan Tuhan Allah dengan perantara malaikat Jibril kepada Rasul-Rasul-Nya. Yang peraturannya adalah wahyu, yang kemudian wahyu

itu dikumpulkan berupa kitab suci dan merupakan pedoman selanjutnya. Terdapat empat unsur agama samawi, yaitu Tuhan Allah, Malaikat Jibril, Rasul dan Kitab. Yang termasuk kategori agama samawi yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam dengan kitab sucinya yaitu Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran. 2) Agama Thabii/alam, yaitu agama hasil produk manusia berupa bentuk pemikiran, perenungan dengan tujuan menuntun manusia menuju kehidupan yang bahagia. Dan yang termasuk dalam kategori agama Thabii yaitu Hindu dan Budha. b. Pengertian Agama Agama menurut bahasa berarti peraturan tentang kewajiban timbal balik, yang dapat dirumuskan sebagai berikut. Agama adalah sistem kredo (tata keyakinan) atas adanya yang mutlak di luar manusia dan satu sistema ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggap mutlak itu, serta sistem norma (tata Akidah) yang mengatur hubungan sesama manusia. Sementara menurut istilah agama adalah kepercayaan yang merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia, yang merupakan perjalinan antara kepercayaan dan doktrin-doktrin tertentu. Sementara itu ada empat unsur agama : kekuatan gaib, kesejahteraan manusia tergantung pada hubungan baik dengan hal yang gaib yang dimaksud, respons yang bersifat emosional dari manusia, paham adanya yang kudus dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib. c. Ciri-ciri agama 1) Agama samawi : adanya ajaran-ajaran kepercayaan (akidah), adanya ajaran pemujaan (ibadah), adanya peraturan-peraturan (syariat), adanya nabi yang membawanya, adanya kitab suci yang menjadi sumber hukum, konsep ketuhanan serba Esa, kebenaran ajarannya mutlak. 2) Agama Ardi : adanya ajaran-ajaran kepercayaan (akidah), adanya ajaran pemujaan (ibadah), adanya peraturan-peraturan (syariat), tidak memerlukan nabi yang membawanya, kitab suci tidak esensial, konsep ketuhanan serba jama, kebenaran ajarannya relatif.

F. Guna dan Manfaat Ilmu Perbandingan Agama. Menurut Prof. Dr. A. Mukti Ali guna ilmu perbandingan agama bagi seorang muslim adalah : 1) Berusaha untuk memahami kehidupan batin.

2) Untuk mencari persamaan antara agama islam dengan agama-agama bukan islam. 3) Untuk menumbuhkan rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk tentang kebenaran, serta menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan kebenaran agama islam. 4) Menjadi bantuan bagi agama islam bila benar dalam menggunakannya. 5) Tidak hanya berguna bagi para muballigh tapi juga kepada para ahli agama islam. 6) Bermanfaat untuk memecahkan berbagai persoalan. 7) Agar lebih mudah memahami agama islam. 8) Keyakinan tentang final dan cukupnya agama islam. 9) Membuka pandangan yang lebih luas lagi mendalam tentang agama. Sedangkan menurut Richard E. Creel manfaat ilmu perbandingan agama yaitu : 1) Mengenal dengan baik beberapa aspek mendasar mengenai eksistensi manusia. 2) Memahami agama lain dan para pemeluknya dengan lebih baik. 3) Untuk kepentingan pribadi secara langsungdang mendalam. Adapun menurut Frederik Max Muller kegunaan ilmu perbandingan agama yaitu : 1) Keuntungan bagi agama kita. 2) Menempatkan agama dengan baik pada tempat yang semestinya. 3) Mengokohkan pijakan seseorang dalam beragama. 4) Mengenal agama lain sebagaimana mestinya. 5) Menambah cakrawala pandangan yang luas tentang kehidupan beragama.

BAB II SEJARAH PERTUMBUHAN DAN ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU PERBANDINGAN AGAMA 1. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Perbandingan Agama A. Di Dunia Barat Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang masih relatif muda, dan baru diakui pada tahun 1873. Tokohnya adalah F.Max Muller (1823-1900) dengan pidato ilmiahnya yang berjudul Introduction to the Science of Religion.

Meski demikian bukan berarti sebelumnya tidak ada cendikiawan yang menaruh perhatian besar terhadap agama. Menurut catatan sejarah, pertama kali orang yang mempunyai dokumen mengenai studi keagamaan adalah orang Yunani yang pada masa itu ditempuh melalui dua cara, yaitu pertama dengan melalui catatan-catatan mencakup deskripsi pemujaan di dalam agama yang bukan agama orang yahudi dan perbandingannya dengan praktek-praktek keagamaan yahudi. Kedua, dengan cara kritik filosofis terhadap agama tradisional. Tokoh pertama pada masa ini bernama Herodotus (484-425 BC) tentang penilaiannya terhadap mesir yang menurutnya sebagai bangsa paling agamis di dunia karena memiliki piramida, kuil dan ditualnya. Kemudian Dr. Lehmann yang memberi perhatian khusus kepada kelompok masyarakat diluar Yunani, yang melahirkan sketsa gambaran tentang sejarah berbagai agama dan adat istiadat bangsa-bangsa lain. Selain itu masih ada tokoh Aristoteles dan Iskandar Agung yang tanpa jeripayahnya, peninggalan-peninggalan terdahulunya tidak mungkin dinikmati dewasa ini. Pada abad 1 M, tokoh-tokoh apologis Kristen mulai tampil, salah satunya yaitu Aristedes dalam kajiannya mengenai uraian penafsiran tentang apa yang diterangkan dalam injil dalam hubungannya antara agama-agama kafir, yahudi dan Kristen. Pada abad 2 M, muncul tokoh benama Clement, yang memberi informasi tentang pengaruh-pengaruh Yunani terhadap beberapa segi dalam seni Hindu dan Budha. Perang salib adalah moment yang cukup penting untuku kalangan sarjana dan penginjil dari eropa. Mereka mengadakan penelitian etonography dan keagamaan terhadap dunia timur. Sehingga setelah itu muncullah tokoh-tokoh yang menaruh minat dan perhatian besar terhadap kajian agama seperti James Bruce, Captain Cook Francois Lafitiau, kemudian pada abad ke 9 ada Roger Bacon, Marco polo, Charles de Broses. Dan ketikareformasi dan renaisans melanda eroa erasmus (1469-1536) semakin banyak bemunculan karya-karya tulis yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama terlebih buku-buku ilmu perbandingan agama. Max Muller adalah tokoh yang sangat berjasa dalam studi tengtang agama, dengan pendapatnya bahwa sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah agama. Dan setelah

pidatonya pada tahun 1873, maka bemunculanlah sarjana-sarjana yang memusatkan perhatiannya pada kajian mengenai agama seperti G.PG. Tiele, Taylor, Wilhem Wunt, Emile Durkheim, Rudolf Otto, James George Frazer dan lain-lainnya. B. Di Dunia Timur Pada abad ke 6 M, penyelidikan Nabi Muhammad terhadap kejiwaan seorang pemuda Yahudi bernama Ibnu Sayyad Muhammad Iqbal tercatat sebagai penyelidikan pertama atas gejala-gejala kejiwaan dengan cara yang kritis. Setelah periode Rasulullah berlalu dan kekuasaan Islam bertambah luas, bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan diberbagai bidang. Terutama masuknya filsafat yunani kedunia islam, dan memberi pengaruh cukup besar hingga muncul penulis-penulis muslim seperti diantaranya Ali ibn Sahl Rabban al-Thabary dengan kitabnya yang berjudul AlDien wa al Daulah yang menguraikan maslah ilmu bumi dan sejarah umum. Pada abad ke 9 M,Ali ibn Hazm dengan bukunyayang berjudul Al-Fasl fil Al-milal wal Ahwal wa al-Nihal yang membagi kristen ke dalam dua bagian, yaitu agama yang tergolong pholytheisme, dan agama monotheisme atau agama yang tergolong dalam agama yang mempunyai kitab suci yang diwahyukan. Sedangkan Muhammad abdul Karim al-Syahrastani dari khurasan Persia (1071-1143) dalam kitabnya membagi semua agama menjadi 5 kelompok, yaitu Islam, Yahudi (ahlul kitab), Kristen (ahlul kitab), agama orang yang mendapatkan wahyu tetapi tidak termasuk dalam golongan kedua dan ketiga, dan agama hasil kebudayaan manusia atau hasil ahli filsafat atau agama wadi. C. Di Indonesia Di Indonesia, ilmu perbandingan agma baru mendapatkan kedudukan akadamemik pada tahun 1960, dan yang mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk membuka jurusan Perbandingan agama adalah Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

2. Aliran-Aliran Ilmu Perbandingan Agama

Aliran-aliran dalam ilmu perbandingan agama muncul akibat dari banyaknya perbedaan pendapat tentang asal-usul paham ketuhanan dan paham keaagaman yang terbagi menjadi dua yaitu aliran evolusionisme dan revelasi. A. Aliran Evolusionisme Aliran evolusionisme adalah ketika ide asal-usul agama itu melalui perkembangan dari politeisme menuju ke monoteisme, artinya dari ber-Tuhan banyak menuju ber-Tuhan satu. Teori evolusi juga digunakan oleh para antropolog, sosiolog dan ilmu alam dalam menentukan perkembangan masyarakat atau agama. Yang menurut hukum approach antropologi perkembangan tersebut pada garis besarnya melaluiproses atau tahapan-tahapan di dalam sejarah manusia sebagai berikut : 1) Ketika zaman berburu yang dianggap sebagai Tuhan atau dewa adalah samudera, ombak, binatang buas,dll. 2) Ketika zaman cocok tanam, yang diangap dewa adalah air, angin, api (sinar matahari), sapi, gajah, kuda dan sebagainya. Tetapi pada masa ini sudah ada kecenderungan mempersonifikasi roh-roh. 3) Pada zaman kerajinan, yang dianggap Tuhan atau dewa adalah kayu, batu, besi, bulu, rumput, rotan, kulit, dan sebagainya. Pada masa ini pemangku kebudayaan sudah memiliki tiga sifat 1; yaitu kemampuan berfikir secara konseptual dan renunganrenungan yang bersifat abstrak, 2; kemampuan untuk mengajukan pertimbanganpertimbangan berdasarkan baik dan buruk, 3; dan kemampuan tidak lagi terikat pada ikatan-ikatan yang ditentukan kelompok. 4) Tahapan manusia modern/mesin yang dianggap Tuhan atau dewa yaitu angin, air, atom, pikiran dan lain-lain. Tokoh-tokoh aliran evolusionisme 1. Lewis Brown, dalam bukunya The Believing World mengatakan bawa timbulnya perasaan dan pikiran cemas dan gentar terhadap hal-hal yang mengancam menyebabkan timbulnya penyembahan terhadap benda yang dianggap memiliki kekuatan yang dapat membahayakan atau menyelamatkannya, sehingga harus disembah.

2. E.B. Taylor dengan bukunya Primitive Culture (1873) menganggap bahwa agama itu ditumbuhkan dan berkembang dari adanya rasa takut atau disebabkan keinginan untuk menghindari dari kekuatan yang tidak disenangi yang bersifat kejiwaan. 3. Max Muller dalam bukunya berpendapat bahwa asal-susul agama ialah penyembahan alam yang henoistik menurun menjadi politeisme, turun lagi fithishisme lalu meningkat kebentuk pantheisme. 4. Lubbach dengan bukunya berpendapat bahwa manusia itu berkembang melalui berbagai tingkat yang tertentu, yakni dari atheisme, fithisme, totemismeantropomorfisme-monotheisme.

B. Aliran Relevasi Jika diatas adalah teori evolusionisme yang dikemukakan oleh para tokoh sosiolog, antropolog, dan ilmu alam, sebaliknya para tokoh-tokoh agamis tidak menerima teori evolusionisme dan lebih memilih menggunakan teori relevasi dalam membahas ilmu perbandingan agama, terutama agama yang berdasarkan wahyu dari Tuhan, karena faham ketuhananya tidak melalui proses dari ber-Tuhan banyak menjadi ber-Tuhan satu (monotheisme). Penulis moden yang pertama menekankan adanya monoteisme dikalangan masyarakat primitif adalah andrew Lang dalam bukunya The Making of Religion (1898) yang mengatakan bahwa mereka mempunyai kepercayaan tentang adanya wujud Agung dan sifatsifat yang khas ketuhanan yang tidak dimiliki oleh benda wujud yang lain. Setelah pendapat dari Andew Lang tadi, bermunculanlah para tokoh-tokoh dari aliran relevasi yang dapat mengimbangi tokoh-tokoh aliran evolusionisme, seperti Yoseph Francois Lafiteau yang beranggapan bahwa kepercayaan monoteisme adalah kepercayaan yang sudah sangat tua bahkan mungkin merupakan bentuk religi manusia tertua. Peter Wilhelm Scmidt mengolah pendapat Andrew lang, sehingga mendapat kesimpulan bahwa kepercayaan terhadap tuhan yang Maha Agung dan Esa adalah yang tertua dari pada elemen-elemen lain seperti fethisisme, animisme atau magisme. Dari sarjana muslim ada Muhammad Abduh yang mengemukakan pendapat bahwa syariat yang diturunkan adalah melalui evolusi, sesuai dengan keadaan masyarakat,

sedangkan dalam bidang tauhid yang kaitannya dengan konsep ketuhanan, tetap menggunakan teori relevasi. Dari penulis-penulis modern tersebut dapat dipahami sebagai berikut : 1) Pada suku-suku primitif sudah ada ide tentang tuhan yang tinngi atau disebut High God atau Sky God. 2) Kepercayaan tentang adanya monoteisme itu spontan dan umum, terdapat pada semua suku bangsa, universalitas, dan kontinuitas. 3) Wahyu selain tauhid, aqidah atau ide tentang tuhan, diturunkan kontinuitas melalui para nabi dan sesuai dengan kondisi masyarakat pada zamannya, yang hal tersebut berlanjut hingga masa Nabi Muhammad SAW. BAB III Metode Perbandingan Agama Dalam ilmu perbandingan agama ada dua hal yang menjadi perhatian untuk mempelajari agama, yaitu : 1) Agama dipelajari atas dasar manfaatnya, yakni bahwa agama sebagai sesuatu yang berguan bagi kehidupan pribadinya dan umat manusia. 2) Berdasarkan pandangan sinis terhadap agama, karena baginya tiada lain adalah khayalan, ilusi dan merusak masyarakat. Dari dua hal tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa agama itu betul-betul bersifat universal, sehingga kecenderungan orang untuk mengkaji dan mempelajari agama selalu ada. Dahulu sebelum agama dipelajari oleh ahli antropologi, para ahli filsafat telah terlebih dahulu membahas agama yang tentunya keduanya memiliki perbedaan dari fokus pembahasan. Metode pendekatan ilmiah dipengaruhi oleh perkembangan sosiologi dan psikologi yang merangsang bagi pendekatan yang bercorak analitis terhadap berbagai agama. Menurut Dr. H.A. Mukti Ali cara-cara yang dipakai terhadap gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan (agama) antara lain : 1) Metode Philologi, meliputi kesusastraan dalam arti luas yang bertujuan untuk mempelajari mitologi dan kemudian berbelok kepada interpretasi tentang agama. Metode ini pertama kali digunakan oleh ilmuwan Jerman Frederik Max Muller (1823-

1900) ketika penyelidikan ilmiahnya yang mengupas hubungan Hinduisme dan kristen secara scientifik dalam bahasa asli. 2) Metode Historis, mengumpulkan fakta-fakta azasi (pokok) tentang agama, dengan meneliti unsur-unsur pertumbuhannya untuk mendapatkan gambaran yang jelas, yang dengannya konsep tentang pemahaman-pemahaman keagamaan dapat dihargai dan dipahami. Yang termasuk dalam lingkungan sejarah agama adalah Antropologi Agama yang membahas agama-agama pimitif, kemudian Biography agama yang memusatkan perhatian kepada sejarah hidup dan pengalaman para pendiri agama dan pemuka agama. 3) Metode Sosiologi, mempelajari agama dengan mengkaji hubungan antar orang sebagai anggota masyarakat dan hubungannya dengan lingkungan. Tokoh yang pertama kali menerapkan metode ini adalah Auguste Comte dan Herbert Spencer, yang kemudian disempurnakan oleh tokoh-tokoh seperti Emile Durkheim, Max Muller, Max Scheler dan Joachim Wach. 4) Metode Psikologi, mempelajari agama dengan melakukan pengumpulan dan klasifikasi data, menyusun dan menguji berbagai keterangan seseorang yang berkaitan dengan pengalaman mistik yang penekanannya pada aspek kejiwaan. Sehubungan dengan metode psikologis ini diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SA pernah menyelidiki gejala-gejala kejiwaan seorang pemuda Yahudi bernama Ibnu Sayyad secara kritis dan cermat. 5) Metode Fenomenologi, metode filsafat yang memandang secara rohani hal-hal yang menampakkan kepada manusia. Metode ini bertumpu pada intuisi, dan menyingkirkan semua yang teoritis. Metode ini dianggap cocok dan tepat untuk menyingkap tabir yang menyelimuti agama. 6) Metode pendekatan Teologis, pendekatan yang bersifat normatif dan subyektif terhadap agama. Pendekatan ini bisa disebut juga pendekatan tekstual atau kitabi, karena itu ciri-ciri khasnya metode ini adalah selalu bersifat apologis dan deduktif.