Anda di halaman 1dari 14

BAB I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penduduk Indonesia mayoritas menganggap aliran wahabi menyimpang,
karena aliran ini mengajarkan tentang keislaman yang tidak sesuai dengan syari’at,
sehingga banyak kalangan masyarakat yang menganggapnya aliran sesat.
Oleh karena itu, makalah ini akan sedikit memberikan informasi atau
pengetahuan tentang siapa itu aliran wahabi, ajaran yang digunakan oleh aliran
tersebut, dan bagaimana dampak dari gerakan wahabi khususnya di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
berkaitan dengan gerakan wahabi, diantaranya:
1. Sejarah aliran wahabi
2. Paham serta ajaran wahabi
3. Perkembangan wahabi di Indonesia
4. Dampak dari gerakan wahabi

C. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
ilmu kalam, serta untuk menambah pengetahuan tentang aliran wahabi. Setelah
membaca makalah ini diharapkan agar tidak ada yang terjerumus kedalam aliran
wahabi yang di anggap sebagian masyarakat sebagai aliran yang menyimpang.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Aliran Wahabi


Gerakan Wahabi dipertalikan dengan nama pendirinya, yaitu Muhammad Bin
Abdul Wahhab (1115-1201 H / 1703-1787 M), dan nama itu diberikan oleh lawan-
lawannya semasa hidup pendirinya, yang kemudian dipakai juga oleh penulis-penulis
Eropa. Nama yang dipakai oleh golongan wahabi adalah “golongan
Murwahhidin”(Unitarians) dan metodenya mengetahui jejak Nabi Muhammad SAW.
Mereka menganggap dirinya golongan Ahlussunnah, yang mengikuti pikiran-pikiran
Imam Ahmad Bin Hambal yang ditafsirkan oleh Ibnu Taimiyah.
Wahabi adalah gerakan pembaharuan dan pemurnian Islam yang dipelopori
oleh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi (1115-1206 H / 1703-
1792 M) dari Najd, Semenanjung Arabia. Istilah Wahabi telah dikenal semasa Ibn
Abdul Wahab hidup, tapi bukan atas inisiatif dirinya melainkan berasal dari lawan-
lawannya. Ini berarti, istilah Wahabi merupakan bagian dari rangkaian stigma
terhadap gerakannya.
Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan di Uyainah, yaitu sebuah desa
dekat Najed, Saudi Arabia wilayah sebelah timur. Salah satu tempat belajarnya ialah
kota Madinah, pada Syaikh Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad al-Khayyat as-Sindi.
Ia banyak mengadakan perlawanan dan sering berpindah-pindah dari suatu negeri ke
negeri yang lain. Empat tahun di Basrah, lima tahun di Baghdad, satu tahun di
Kurdestan, dan dua tahun di Hamadan, kemudian pergi ke Isfahan. Kemudian pergi
ke Qumm dan Kairo, sebagai penganjur aliran Ahmad bin Hambal.
Setelah beberapa tahun mengadakan perlawatan, ia kemudian pulang kenegeri
kelahirannya, dan selama beberapa bulan ia merenung dan mengadakan orientasi,
untuk kemudian mengajarkan paham-pahamnya, seperti yang dicantumkan dalam
kitab karangannya Ma’a Aqidah al-Salaf: kitab al-Tauhid, tebal 105 halaman.
Meskipun tidak sedikit orang yang menentangnya, antara lain dari kalangan
keluarganya sendiri, namun dia mendapat pengikut yang banyak, bahkan banyak
diantaranya dari luar ‘Uyainah.
Karena ajaran-ajarannya telah menimbulkan keributan-keributan di
negerinya, dia diusir oleh penguasa setempat, kemudian dia bersama keluarganya
pindah ke Dar’iyah, sebuah dusun tempat tinggal Muhammad bin Sa’ud (nenek Raja
Faisal) yang telah memeluk ajaran wahabi, bahkan menjadi pelindung dan
penyiarnya.
Ada beberapa isu yang ditekankan sebagai ajarannya yang membedakannya
dengan ajaran dengan gerakan Islam yang lain, meliputi masalah tauhid, tasawuf,
ziarah kubur, iakfir, bid’ah, khurafat, ijtihad dan taqlid.
Tauhid merupakan tema pokok dalam doktrin wahabi. Dia berpendapat
keesaan Allah Swt. ditentukan dalam tiga bentuk. Pertama, tauhid al-rububiyah,
penegasan keesaan Allah Swt. dan tindakan-Nya: Tuhan sendiri adalah Pencipta,
Penyedia dan Penentu alam semesta. Keuda, tauhid al-asma’ wa al-sifat (keesaan
nama dan sifat-Nya), yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah Swt. Kepunyaan-
Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang diantara
keduanya dan semua yang dibawah tanah. (QS. Thaha [20]:6. Aspek ketiga, taudid
al-Ilahiyah, menjelaskan bahwa hanya Allah Swt. yang berhak disembah. Penegasan
“tidak ada Tuhan kecuali Allah. dan Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya” berarti
bahwa semua bentuk ibadah dipersembahkan semata hanya kepada Allah Swt;
Muhammad Saw. tidak untuk disembah, tetapi sebagai Nabi, dia seharusnya dipatuhi
dan diikuti.
Wahabi menolak keras adanya tawassul, menurut pendapatnya, ibadah harus
merujuk pada ucapan dan tindakan secara lahir dan batin yang dikehendaki dan
diperintahkan oleh Allah Swt. bahwa meminta perlindungan pada pohon, batu dan
semacamnya adalah syirik. Dengan kata lain, tidak ada bantuan, perlindungan,
ataupun tempat perlindungan kecuali Allah Swt. perantaraan oleh pihak lain tidak
dilakukan kecuali seizin Allah Swt. atas orang yang diminta menjadi perantara,
seseorang yang benar-benar mengetahui Allah Swt. kebiasaan mencari perantara dari
kebiasaan orang suci (wali) yang telah meninggal adalah dilarang, seperti halnya
kesetiaan yang berlebihan tatkala mengujungi makamnya.Memohon Nabi menjadi
penghubung kepada Allah Swt. juga tidak dapat diterima, sebab Nabi tidak bisa
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dia inginkan untuk memeluk Islam
tanpa kehendak-Nya; diapun tidak diperbolehkan memintakan ampun bagi mereka
yang syirik.
Doktrin perantaraan (tawassul) mendorong wahabi untuk mengancam keras
praktik ke kuburan dan bangunan kubah didekatnya, sesuatu yang banyak dilakukan.
Awalnya, Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab membolehkann berkunjung kekuburan,
dengan cara dilakukan sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya, dan ini termasuk
tindakan kebajikan serta patut dipuji. Akan tetapi, Wahabi percaya bahwa banyak
orang telah mengubah doa bagi yang dikubur, menjadi memanjatkan doa kepada
yang dikubur. Kuburan telah berubah menjadi tempat orang berkumpul untuk
menyembah. Pemujaan yang berlebihan terhadap jasad mereka yang memiliki
reputasi sebagai wali, merupakan langkah pertama yang akan membawa orang untuk
kembali menyembah berhala seperti pada masa jahiliyah. Untuk menghindari
perbuatan syirik seperti ini, menurut Wahabi, seluruh makam yang disucikan itu
harus dihancurkan. Kaum Wahabi berpendapat, kuburan harus diratakan dengan
tanah, dan bahwa tulisan-tulisan, prasasti, serta hiasan-hiasan, ataupun penerangan
dikuburan tersebut harus dihilangkan. Kaum Wahabi juga percaya bahwa mengaku
sebagai muslim saja tidak cukup menjadi benteng agar terhindar dari syirik.
Seseorang yang telah mengucapkan syahadat, berarti masih tetap mempraktikkan
syirik (seperti yang didefinisikan oleh kaum Wahabi) dianggap kafir dan harus
dibunuh.
Bid’ah merupakan isu lain yang menjadi perhatian Wahabi. Menurutnya
bid’ah, adalah setiap ajaran atau tindakan yang tidak didasarkan pada Al-Qur’an,
sunnah Nabi, atau otoritas pada sahabat Nabi. Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab
menyalahkan semua bentuk bid’ah dan menolak pendapat yang mengatakan, bid’ah
bisa jadi baik atau patut dipuji (bid’ah hasanah). Dia mengutip Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi untuk mendukung pandangannya. Wahabi memandang sebagai bid’ah
tindakan-tindakan seperti memperingati kelahiran Nabi, meminta perantara para wali
(tawassul), membaca Al-Fatihah atas nama pendiri tarikat sufi sesudah menunaikan
shalat lima waktu, dan mengulangi shalat lima waktu sesudah shalat jum’at pada
bulan Ramadhan.

Konflik antara ijtihad dan taqlid adalah prinsip keenam yang menjadi
perhatian Wahabi. Menurut pendapatnya dan pengikut-pengikutnya, Allah
memerintahkan orang untuk hanya mematuhi-Nya dan mengikuti ajaran Nabi.
Tuntutan wahabi untuk menikuti sepenuhnya Al-Qur’an dan sunnah bagi semua
muslim adalah juga sebagai penolakan Wahabi terhadap semua penafsiran imam
mazhab empat, termasuk pandangan mazhab Wahabi sendiri, yaitu mazhab Hambali,
yang dipandang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi.
Wahabi mengembangkan prosedur-prosedur yang ketat untuk mengerahkan
pembahasan mengenai masalah-masalah doktrinal. Untuk menjawab pertanyaan yang
berhubungan dengan persoalan agama, mereka pertama-tama mencari jawabannya
pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, dan menetapkan jawaban sesuai dengan kedua
sumber tersebut. Apabila rujukan tidak ditemukan pada ayat-ayat tersebut, mereka
mencari consensus di kalangan “kaum terdahulu yang saleh”, khususnya para sahabat
dan para tabi’in, serta ijma’ para ulama; namun ijma’ di batasi hanya yang sejalan
dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Wahabi menolak pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah
tertutup. Meskipun wahabi mengikuti mazhab Hambali, mereka tidak menerima
pandangan-pandangannya sebagai jawaban yang final. Apabila terdapat tafsiran
mazhab Hambali terbukti salah, pendapat itu harus ditinggalkan. Untuk mendukung
pendapatnya mazhab kaum Wahabi mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang
menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Hadits sebagai satu-satunya dasar penetapan
hukum Islam.
Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Dir’iyyah sebuah dusun
terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd. Kata Wahabi sendiri diambil dari nama
pendirinya, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab (1703-1787). Laki-laki ini lahir di Najd,
di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang
fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu
bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak.
Rasulullah SAW. telah mempredikdikan kemunculan aliran Wahabi
sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits berikut :
Berkata Abu sa’id Al Khudriy ra saat Nabi saw sedang membagi bagi harta
pada beberapa orang, maka datanglah seorang lelaki, matanya membelalak, kedua
pelipisnya tebal cembung kedepan, dahinya besar, janggutnya sangat tebal,
rambutnya gundul, sarungnya pendek, berkata: Bertakwalah pada Allah wahai
Muhammad…!, Sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang taat pada Allah kalau aku
bermaksiat? apakah Allah mempercayaiku untuk mengamankan penduduk bumi dan
kalian tidak mempercayaiku?” dan berkata Khalid bin Walid ra: Wahai Rasulullah,
kutebas lehernya..! Rasul SAW melarangnya, lalu beliau SAW melirik orang itu yang
sudah membelakangi Nabi saw, dan Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari
keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati
tenggorokannya (tidak meresap ke hatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti
menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan
penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya
kaum‘Aad” (Shahih Bukhari).

B. Ajaran Aliran Wahabi Beserta Pahamnya


Menurut Nasir (2010/292), akidah-akidah yang pokok dari aliran wahabi pada
hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah.
Perbedaan yang ada hanya dalam cara melaksanakan dan menafsirkan beberapa
persoalan tertentu. Akidah-akidahnya dapat disimpulkan dalam dua bidang, yaitu
bidang tauhid (pengesaan) dan bidang bid’ah.
Gerakan wahabi didukung oleh para juru dakwah, mereka menebarkan
kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka
gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan
kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap
kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali
kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian
mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan
penduduk negeri ini.
Ajaran-ajaran wahabi
Ada beberapa yang diajarkan dalam praktik gerakan Wahabi, yaitu sebagai
berikut :
a. Semua objek peribadatan selain allah adalah palsu dan siapa saja yang
melakukannya harus menerima hukuman mati atau dibunuh.
b. Orang yang berusaha memperoleh kasih tuhannya dengan cara
mengunjungi kuburan orang-orang suci bukanlah orang orang yang
bertauhid, tetapi termasuk orang musyrik.
c. Bertawassul kepada nabi dan orang saleh dalam berdoa kepada allah
termasuk perbuatan syirik.

C. Perkembangan Aliran Wahabi di Indonesia


Menurut beberapa sejarawan, ggerakan wahabi masuk ke indonesia dimulai
pada masa munculnya gerakan padri sumatera barat pada awal abad XIX. Beberapa
tokoh minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah haji melihat kaum wahabi
menaklukkan mekah dan madinah yang pertama pada tahun 1803-1804. Abna.
(2012). mereka sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat wahabiyah dan
bertekat menerapkannya apabila mereka kembali ke sumatera. Tiga di antara mereka
adalah haji miskin, haji sumanik, dan haji piobang.
Jejak gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia sebenarnya sudah ada pada abad
ke 18 dengan corak ragam yang berbeda-beda dalam cara dan bentuknya sesuai
dengan perbedaan kemampuan tokoh-tokohnya serta lingkungan dimana mereka
berada, namun demikian gerakan-gerakan tersebut menuju satu sasaran yang sama
dan berjuang dibawah satu semboyan yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan As-
Sunnah serta kembali ke jalan kaum Salaf. Karena itu, sebagian orang menamakan
gerakan-gerakan tersebut dengan nama gerakan Salafiah. Hisyam (2013)
Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dimulai dengan kelahirannya di
Sumatera, salah satu lima pulau terbesar di Indonesia, pada tahun 1802 atas inisiatif
beberapa orang Haji dari umat Islam di pulau Sumatera tersebut yang kembali dari
Mekkah yang setelah mereka disana mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh
Wahabi (ini nama yang diberikan oleh para penentangnya), merekapun merasa puas
akan kebenaran Dakwah Wahabi (Salafi) dan mengikutinya.
Pada tahun 1905, penyebaran ajaran Wahabi diperkuat oleh datangnya Ahmad
Surkati ,ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan. Melihat perlawanan yang cukup keras
dari mayoritas penganut Ahlussunnah Wal Jamaah, terlebih setelah berdirinya
Nahdlatul Ulama pada 1926 yang diprakarsai Hasyim Asy’ari, penyebaran ajaran
Wahabiyah lebih condong dilakukan melalui jalur pendidikan, dengan mendirikan
sekolah-sekolah semi modern.
Menurut Ensiklopedi Islam, meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran
Wahabi justru telah tersebar luas ke berbagai negara seperti India, Sudan, Libya serta
ke Indonesia. Penyebaran aliran Wahabi ke wilayah Nusantara dibawa oleh para haji
yang baru pulang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Salah satunya
melalui kaum Padri di Minangkabau yang dikembangkan tiga tokoh. ketiga tokoh
yang tertarik dengan ajaran Wahabi itu adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji
Abdur Rahman dari Piobang, bagian dari Lu(h)ak Limah Puluh Kota, dan Haji
Muhammad Arief dari Sumanik, Batusangkar. Arief (2012).

D. Dampak Dari Gerakan Wahabi


Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor
kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan
Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan
lainnya di benua India. Namun para penerusnya kelihatan lebih mengkhususkan diri
kepada bentuk penghancuran bid'ah-bid'ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan
hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid'ah
yang harus diperangi. Mungkin memang sebagian umat Islam ada yang merasakan
arogansi dari kalangan pendukung dakwah Wahabiyah ini. Majannai (2011).
Gerakan Wahabi di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan
dan menguasai, baik teritori maupun ekonomi. Di Indonesia tak hanya tanahnya yang
subur, berbagai ideologi juga tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi
gerakan Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup
banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah
(Saudi).
Selain itu, menurut arsyadal (2012) Misi dari gerakan wahabi sebenarnya
yaitu memecah umat islam. Dalam sepak terjangnya, wahabi berkilah dengan segala
cara. Hadits dimanipulasi, kitab-kitab ahlus sunnah banyak yang dirubah, semua itu
sebenarnya tak lain lagi hanya untuk menyokong gerakan mereka. Namun kami
selalu yakin bahwa akan selalu ada generasi ahlus sunnah wal jama'ah yang akan
mampu mengoyak dan membongkar kedok mereka, menerobos tembok-tembok
muslihat mereka dengan hujjah yang tak terbantahkan.
Orang yang taqlid kepada madzhab di hukumi kafir. Orang ziarah kubur
dibilang kafir. Tawassul syirik. Istighotsah juga syirik. Ini kafir dan itu kafir. Intinya,
yang tidak sefaham dengan wahabi, dibilang kafir dan halal darahnya. Bahkan, dalam
rangka me-naik daun-kan gerakannya, mereka tak segan-segan mengatakan bahwa
sayyidah hawa, ibu seluruh manusia adalah musyrik. Mereka juga mengatakan
bahwa sahabat nabi, ibnu abbas R.A adalah sesat.
Semua doktrin atau ajaran wahabi ahirnya menimbulkan banyak pertumpahan
darah, karena gerakan ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang bersifat musyrik
dan bid’ah harus diberantas atau dibunuh.
Seperti yang terjadi di Indonesia, banyak kasus pengeboman yang disebabkan
oleh salah satu dari golongan wahabi. Wahabi menciptakan terorisme yang
menggunakan label islam. Salah satunya ialah peristiwa bom Bali yang terjadi pada
12 oktober 2002 yang dilakukan Amrozi. Tujuan Amrozi melakukan ialah untuk
memberantas kemaksiatan yang ada di pantai kuta, bali.
Namun dia melakukan usaha yang sangat bertentangan dengan agama islam
yaitu pembunuhan yang mengakibatkan banyak manusia yang tidak berdosa ikut
menjadi korban. Penyabab dari pengeboman itu adalah hasutan dari kelompok
wahabi, bahwa memberantas kemaksiatan adalah diwajibkan. Tetapi alirah wahabi
salah dalam menafsirkannya sehingga berakibat pertumpahaan darah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin
Abdul Wahab (lahir di desa Uyainah, sebuah kampung kecil 70 km sebelah
barat daya kota Riyadh Saudi Arabia tahun 1115 H / 1703 M. Ajaran ini
merupakan turunan dari pemikiran Ibn Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziah.
2. Salah satu dari ajaran yang diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab,
adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul,
ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Ia menganjurkan islam otentik, yaitu
sebuah konsep tentang islam yang dipratekkan oleh nabi dan sahabatnya di
Makkah dan Madinah. Pemahaman inilah oleh para pengikutnya dijadikan
landasan normatif untuk menghancurkan segala hal yang mengandung bid’ah.
3. Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim.
Memang dari ajaran Wahabiyah tujuan awalnya sangatlah baik, buktinya
mereka mengharamkan tawassul, ziara kubur, dan maulid dalam rangka ingin
menguak dasar dari bid’ah-bid’ah tersebut.
4. Selama mereka yang melakukan tawassul, ziarah kubur, dan maulid serta
lain-lainya masih bertujuan yang jelas-jelas tidak mengkufurkan mereka
sendiri dan masih sesuai dengan tata ajaran yang di sampaiakan oleh Ahlus
Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, sebagai mukmin yang Islam moderat
melihat berarti memahami, memahami berarti mengerti.

B. Saran
Untuk para pembaca sebaiknya lebih mengkritisi lagi dan mengkaji ulang
mengenai pemahaman tentang wahabi. Wahabi bukanlah sebuah mazhab akidah
ataupun mazhab fikah. Wahabi lebih cenderung pada suatu paham. Disisi lain banyak
terjadi pro dan kontra mengenai wahabisme. Ada yang mendukung paham ini, tapi
ada juga yang terang-terangan menentang paham ini. Mereka yang menentang
wahabi mengklaim dan menuduh aliran ini sesat, karena dalam penyampaian
dakwahnya, cenderung menggunakan cara-cara anarkisme & juga radikal. Dari
kesemuanya itu, penulis hanya dapat bersikap netral dalam menyikapi perbedaan-
perbedaan pendapat antar ulama dalam memahami wahabi. Semuanya kembali
kepada individu masing-masing, bahwa sejatinya yang berhak menentukan benar dan
salah, sesat dan tidak sesatnya suatu aliran keagamaan hanyalah Allah SWT yang
maha adil dan maha mengetahui segala sesuatunya. Kita sebagai manusia hanya
dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap tasamuh, tawazun dan amar
makruf nahi munkar. Karena sejatinya islam itu adalah agama yang mencintai
kedamaian.
DAFTAR PUSTAKA

Sahilun A.Nasir, M.Pd.I. 2010. Pemikiran Kalam. Jakarta: PT RajaGrafindo

Ali Jum’ah. 2012. Bukan Bid’ah. Tangerang,Jakarta: Lentera Hati

Imam Muhammad Abu Zahrah.1996. Aliran Politik Dan Akidah Dalam Islam.
Kuala Lumpur, Malaysia: Edaran Kalam
GERAKAN WAHABI

Disusun

Oleh:

FATMA HADIYATI
NAZILA WAHYUNI
ZULFANDI

Prodi : Hukum Ekonomi Syari’ah


Semester : II (Dua)
Unit : 4 (empat)
Mata Kuliah : Ilmu Kalam
Dosen Pembimbing : Samsuhadi, MA

SEKOLAH TINGGI ILMU SYARI’AH


PERGURUAN TINGGI ISLAM
AL-HILAL SIGLI
2019