Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, yaitu
semenjak ia berada dalam kandungan, agar nantinya ia dilahirkan sebagai
manusia yang mempunyai potensi tinggi untuk mencapai produktivitas yang
maksimal, hal ini berarti bahwa sejak dalam kandungan keadaan kesehatan dan
gizi janin harus baik. Upaya untuk meningkatkan kualitas manusia seyogyanya
harus dimulai sedini mungkin sejak janin dalam kandungan dan sangat
tergantung kepada kesejahteraan ibu termasuk kesehatan dan keselamatan
reproduksinya. Oleh karena itu upaya meningkatkan status kesehatan ibu dan
anak di Indonesia merupakan salah satu program prioritas.
1

Salah satu indikator keberhasilan tumbuh kembang janin selama dalam
kandungan adalah berat badan bayi baru lahir. Berat badan bayi baru lahir ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keadaan ibu waktu hamil, umur ibu,
paritas, status gizi, jarak kehamilan, cukup tidaknya masa kehamilan, dan sosial
ekonomi ibu. Kombinasi berbagai faktor inilah yang menentukan apakah bayi
yang lahir nantinya termasuk bayi dengan berat badan lahir cukup atau justru
bayi dengan berat badan lahir rendah. Pada saat ini BBLR masih banyak
dijumpai di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Menurut WHO,
angka kejadian BBLR lebih dari 10% merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Dari beberapa penelitian
menunjukkan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah, kemungkinan untuk
meninggal pada masa neonatal 20-30 kali dan 17 kali lebih besar sebelum usia 1
tahun, daripada bayi yang dilahirkan dengan berat badan normal.
2

2

Data yang ada saat ini memperlihatkan bahwa status kesehatan anak di
Indonesia masih merupakan masalah yang cukup tinggi yaitu sekitar 66,4 per
1000 kelahiran hidup dan 35,9% anak yang lahir mempunyai kategori resiko
tinggi. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu
faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya
pada masa perinatal. Didapatkan bahwa resiko kematian bayi dengan berat
badan lahir kurang dari 2500 gram lebih besar daripada bayi dengan berat 2500
gram atau lebih. Didapatkan angka dari hasil penelitian bahwa kematian bayi
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram mencapai 5 sampai 9 kali lebih besar
daripada bayi yang lahir dengan berat 2500-2999 gram. Selain itu bayi BBLR
dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang
selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi. Malnutrisi
pada masa perinatal akan mempengaruhi pertumbuhan otak dan mengakibatkan
komplikasi yang pada gilirannya berakibat buruk pada bayi tersebut di
kemudian hari. Beberapa Rumah Sakit rujukan di Indonesia melaporkan jumlah
neonatus yang menderita malnutrisi energi protein diantara bayi berat lahir
rendah ternyata cukup besar yaitu 38% sampai dengan 40%. Angka BBLR di
Indonesia masih cukup tinggi. Data mengenai BBLR pada setiap provinsi
bervariasi yang terendah yaitu pada daerah Sumatra Utara dan yang tertinggi
pada daerah Sulawesi Selatan.
1,3,4
Diperlukan upaya dan perhatian khusus terhadap masalah tingginya jumlah
kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah dengan jalan menurunkan
jumlah kelahiran BBLR yang dalam hal ini akan mempengaruhi pula penurunan
angka kematian neonatal dan bayi secara umum. Ada beberapa faktor yang
dianggap berpengaruh terhadap tingginya angka kelahiran BBLR seperti umur
ibu saat melahirkan, jumlah paritas, tingkat pendidikan ibu, pemeriksaan
antenatal, riwayat kehamilan, dan tingkat ekonomi keluarga.
1

3

B. Batasan Masalah
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang penting
di Indonesia. Berat badan bayi baru lahir dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk
menggambarkan derajat keshatan bayi. BBLR merupakan salah satu faktor
resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa
perinatal.
Kompleksnya masalah BBLR serta keterbatasan waktu, tenaga, fasilitas dan
biaya yang tersedia, maka penelitian ini saya batasi pada pencarian informasi
secara dekskriptif mengenai karakteristik ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) di Puskesmas Segeri antara lain umur ibu saat melahirkan, paritas, dan
usia kehamilan, periode tahun 2008.

C. Rumusan Masalah
Saat ini di Indonesia angka kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah
masih cukup tinggi, padahal berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasinya.
Dari hasil penelitian penelitian sebelumnya ditemukan bahwa resiko kematian
bayi berat lahir rendah sangat tinggi. Menurut data yang terdapat di Puskesmas
Segeri tahun 2008, presentase bayi berat lahir rendah masih cukup tinggi.
Diantara berbagai faktor penyebab terjadinya bayi berat lahir rendah, faktor ibu
yang sangat menentukan sehingga muncul pertanyaan bagaimanakah
karakteristik ibu dari bayi berat lahir rendah di Puskesmas Segeri pada tahun
2008 ? . Karakteristik ibu yang akan diteliti adalah umur, paritas, dan umur
kehamilan.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk menggambarkan karakteristik ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) di Puskesmas Segeri selama periode tahun 2008.
4

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik ibu dari BBLR menurut umur ibu waktu
melahirkan.
b. Untuk mengetahui karakteristik ibu dari BBLR menurut paritas.
c. Untuk mengetahui karakteristik ibu dari BBLR menurut umur kehamilan.

E. Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran dari karakteristik ibu dari BBLR di Puskesmas
Segeri, kec. Segeri, kab. Pangkep.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi instansi
Departemen Kesehatan dan Instansi terkait dan masukan dalam menentukan
kebijakan dan perencanaan program dalam upaya untuk menurunkan angka
kejadian BBLR.
3. Sebagai bahan sumbangan ilmiah dan menjadi salah satu perbandingan dan
referensi bagi penelitian lain.
4. Merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka menambah
wawasan, pengetahuan, serta untuk pengembangan diri khususnya dalam
bidang penelitian.






5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir
Berat badan merupakan tolak ukur proses dalam kandungan yang
menentukan dan kaitan dengan hasil sebenarnya yang diharapkan yaitu
kelangsungan hidup, kesehatan dan kesejahteraan bayi yang dilahirkan. Berat
badan lahir merupakan interaksi berbagai faktor melalui proses yang
berlangsung selama dalam kandungan. Berat badan lahir juga ditentukan oleh
tingkat pendapatan perkapita, ketersediaan, dan pemanfaatan sarana pelayanan
kesehatan serta konsumsi makanan sehari-hari.
5

Kemampuan janin mencapai berat badan optimal saat lahir ditentukan oleh
tersedianya zat gizi yang cukup dalam mutu dan jumlah, kemampuan
pemanfaatan zat gizi untuk kelanjutan proses tumbuh kembang serta kesediaan
ibu untuk memeriksakan kehamilannya hingga cukup bulan, merupakan suatu
hasil interaksi antara pertumbuhan dan usia kehamilan. Banyak faktor penentu
pertumbuhan janin yang berkaitan dengan ketersediaan dan pemanfaatan zat gizi.
Hal ini menandakan pentingnya status gizi ibu dalam kaitannya dengan berat
badan lahir. Akan tetapi status gizi ibu tidak berarti konsumsi makanan selama
hamil saja. Mekanisme kerja ketiga faktor tersebut masih dikendalikan oleh
interaksi antara faktor genetik, biologi, dan lingkungan.
6

Untuk dapat melihat apakah bayi itu mengalami retardasi pertumbuhan atau
tidak, harus ada ukuran berat badan standar untuk setiap masa gestasi.
Lubchenco, pada tahun 1963 mencoba mencari korelasi antara berat badan dan
masa gestasi. Pertumbuhan janin untuk suatu masa gestasi dikatakan baik bila
berat badannya sesuai dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi
tersebut. Berdasarkan kriteria Lubchenco pertumbuhan janin dikatakan normal
6

apabila berat badan terletak antara persentil ke-10 dan persentil ke-90. Bila
terletak dibawah persentil ke-10 disebut kecil untuk masa kehamilan (KMK),
sedangkan bila terletak diatas persentil ke-90 disebut besar untuk masa
kehamilan (BMK). Bila berat badan bayi terletak diantara persentil ke-10 dan
persentil ke-90 disebut sesuai untuk masa kehamilan (SMK).
3,7

Pemberian predikat normal (sehat) atau tidak normal terhadap bayi baru
lahir sebenarnya tidak bias sepenuhnya mengandalkan apa yang tampak secara
kasat mata sebab semua ada batasan dan ukurannya. Para pakar neonatal (bayi
baru lahir) sepakat atas penilaian berat lahir bayi harus merujuk dalam 4 acuan :
7

1. Makrosomia, yaitu berat lahir diatas 4 Kg
2. Normal, yaitu berat lahir yang berkisar 2,5 sampai 4 Kg
3. Rendah, yaitu berat lahir yang berkisar 1,5 sampai 2,5 Kg
4. Sangat rendah, yaitu berat lahir yang hanya 1,5 Kg kebawah. Bayi yang lahir
dengan bobot ini dinamakan BBLSR.
Batasan tidak normal, menurut pakar neonatal diberikan untuk bayi dengan
BBLR, BBLSR, dan makrosomia. Salah satu alasannya, bayi-bayi ini menjadi
bermasalah karena memiliki resiko sangat atau rentan mengalami kematian.
Faktor resiko yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh perkembangan paru-parunya
yang tidak sempurna, suhu badan yang tidak normal dan rentan dehidrasi.
7


B. Tinjauan Umum Tentang Bayi Berat Lahir Rendah
Berdasarkan SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) 2001, presentase
kematian bayi mencapai 14%. Berbagai penyakit dapat menyebabkan kejadian
kematian pada bayi, terutama BBLR. Presentase kematian akibat BBLR ini
mencapai 33,2%.
4

Diharapkan angka BBLR ini dapat diturunkan pada tahun-tahun yang
mendatang. Salah satu cara untuk menurunkan kejadian BBLR adalah dengan
7

mengidentifikasi ibu hamil dengan resiko tinggi dan memberikan perhatian serta
pelayanan khusus pada ibu hamil ini.
7

Berdasarkan defenisi WHO (1980), Bayi Berat Lahir Rendah diartikan
sebagai bayi yang dilahirkan kurang dari 2500 gram. Sebelumnya WHO
mendefenisikan BBLR berdasarkan defenisi internasional, bayi prematur yang
diadopsi pada tahun 1948, yaitu bayi yang baru lahir kurang atau sama dengan
2500 gram. Perubahan definisi ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan
berat kurang dari 2500 gram adalah bayi prematur. Tidak konsistennya definisi
bayi berat lahir rendah menyebabkan statistik bayi berat lahir rendah tidak dapat
dibandingkan sepanjang waktu. Pembagian menurut berat badan ini sangat
mudah tetapi tidak memuaskan. Ternyata bahwa morbiditas dan mortalitas
neonatus tidak hanya tergantung pada berat badannya, tetapi juga pada maturitas
bayi tersebut. Selain itu di negara yang masih berkembang batas 2500 gram bayi
sebagai prematur mungkin masih tinggi karena berat badan rata-rata masih
rendah.
5
WHO (1979) membagi umur kehamilan dalam 3 kelompok :
4

1. Pre-term : kurang dari 37 minggu lengkap (kurang dari 259 hari)
2. Term : mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42 minggu
lengkap ( 259 sampai 293 hari)
3. Post-term : 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari atau lebih)

Dengan pengertian sederhana diatas maka BBLR dapat dibagi menjadi dua
golongan menurut WHO (1961) disebut sebagai aspek BBLR yaitu :
5

1. Prematuritas murni.
Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badan lahir sesuai dengan
masa gestasi atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan (BKB SMK).

8

2. Dismaturitas
Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa gestasi itu, artinya bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterine dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilan.

C. Tinjauan Umum Tentang Karakteristik Bayi Berat Lahir Rendah
Sangat susah untuk memisahkan secara sempurna faktor-faktor yang terkait
dengan prematuritas dari faktor-faktor yang terkait dengan intrauterine growth
retardation.
4

Ada korelasi yang positif kuat antara faktor-faktor dibawah ini :
4,5

1. Faktor ibu : umur ibu, kehamilan umur ibu kurang dari 20 bulan atau lebih,
jumlah paritas ibu, jarak kehamilan yang dekat, dan melahirkan lebih dari 4
kali, pendidikan ibu, status gizi, kadar Hb, penyakit ibu, kepatuhan ibu untuk
memeriksakan kandungannya, serta riwayat melahirkan BBLR sebelumnya.
2. Faktor janin : jenis kelamin dan ras
3. Faktor sosial ekonomi yang rendah, kebiasaan merokok dan minum alkohol
serta perawatan perinatal yang tidak adekuat.
Faktor-faktor penyebab BBLR sampai saat ini masih terus dikaji.

Beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR antara lain :
a. Pengaruh Umur Ibu Saat Hamil Terhadap Kejadian BBLR
Hendaknya ibu merencanakan kehamilannya pada kurun waktu umur
produksi sehat yaitu 20-35 tahun. Dari segi biologis, wanita pada umur muda
(kurang dari 20 tahun) memiliki perkembangan organ-organ reproduksi yang
belum matang. Keadaan ini akan menyebabkan kompetisi dalam
mendapatkan nutrisi antara ibu yang masih dalam tahap perkembangan dan
janinnya. Dari segi kejiwaan, belum siap dalam menghadapi tuntutan beban
moril, mental, dan emosional yan menyebabkan stress psikologis yang dapat
mengganggu perkembangan janin. Usia remaja memberikan risiko terjadinya
9

kelahiran BBLR empat kali lebih besar dibandingkan dengan kelahiran pada
usia reproduktif sehat. Para peneliti juga menemukan bahwa kelahiran BBLR
pada usia remaja ternyata tidak hanya disebabkan oleh umur ibu yang masih
muda tetapi juga disebabkan oleh faktor lain yang berhubungan dengan usia
remaja seperti tingkat pendidikan, perawatan antenatal, berat badan sebelum
hamil, kesiapan psikologik dalam menerima kehamilan, penerimaan
lingkungan sekitar terhadap kehamilannya, yang nantinya akan menimbulkan
stress.
2,6

Kehamilan pada umur lebih dari 35 tahun juga mempunyai resiko lebih
tinggi untuk terjadinya kelahiran BBLR sehubungan dengan alat
reproduksinya telah berdegenerasi dan terjadi gangguan keseimbangan
hormonal. Fungsi plasenta yang tidak adekuat sehingga menyebabkan
kurangnya produksi progesterone dan mempengaruhi iritabilitas uterus,
menyebabkan perubahan-perubahan serviks yang pada akhirnya akan
memicu kelahiran prematur. Umur ibu hamil yang lebih tua juga
dihubungkan dengan adanya penyakit-penyakit yang menyertainya.
5


b. Pengaruh Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian BBLR
Tingkat pendidikan seorang ibu akan sangat berpengaruh dalam
penerimaan informasi yang diterima. Ibu dengan pendidikan yang cukup
akan melakukan hal-hal yang diperlukan oleh bayi. Misalnya kesadaran
untuk memenuhi gizi, imunisasi, pemeriksaan berkala (antenatal care).
Sebaliknya pendidikan yang rendah akan sulit bagi seorang ibu untuk
menerima inovasi dan sebagian besar kurang mampu menciptakan
kebahagiaan dalam keluarganya, selain itu kurang menyadari betapa
pentingnya perawatan sebelum melahirkan. Pemerintah telah berupaya untuk
meningkatkan pengetahuan ibu hamil melalui program kesehatan ibu dan
anak, penyuluhan-penyuluhan kesehatan selama ibu hamil. Dengan demikian
10

para ibu hamil, diharapkan dapat memilih makanan yang bergizi, guna
menghindari lahirnya bayi dengan berat badan lahir rendah. Hal ini jelas
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan janin dalam kandungannya. Selain
itu dengan pendidikan dan informasi cukup yang dimiliki ibu diharapkan
pelaksanaan Keluarga Berencana dapat berhasil sehingga dapat membatasi
jumlah anak, menjarangkan kehamilan, dan dapat menunda kehamilan jika
menikah pada usia muda.
7

c. Pengaruh Paritas Terhadap Risiko Kejadian BBLR
Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik
lahir hidup maupun lahir mati. Jumlah paritas yang tinggi mempunyai risiko
yang lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR.
4

Hal ini dapat diterangkan bahwa pada setiap kehamilan yang disusul
dengan persalinan akan menyebabkan perubahan-perubahan pada uterus.
Kehamlan yang berulang akan mengakibatkan kerusakan pada pembuluh
darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dimana
jumlah nutrisi akan berkurang bila dibandingkan dengan kehamilan
sebelumnya. Keadaan ini menyebabkan gangguan pertumbuhan janin.
4

d. Pengaruh Umur Kehamilan Terhadap Risiko Kejadian BBLR
Untuk mengetahui umur kehamilan dengan mengetahui hari pertama
haid terakhir (HPHT), sedangkan secara klinik umur kehamilan dapat
diketahui dengan mengukur berat lahir, panjang badan, lingkaran kepala.
Bayi dengan berat badan lahir rendah dapat merupakan hasil dari umur
gestasi yang pendek dengan kecepatan pertumbuhan janin yang normal,
umur gestasi yang normal dengan kecepatan pertumbuhan janin yang
terganggu, atau umur gestasi yang pendek dengan kecepatan pertumbuhan
janin yang terganggu.
4
11

e. Pengaruh Status Gizi Ibu Terhadap Kejadian BBLR
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan
masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini :
i. Terhadap Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan
komplikasi pada ibu antara lain : anemia, perdarahan, berat badan ibu
tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi misalnya
TORCH.
6

ii. Terhadap Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat
mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya
(prematur), perdarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan
operasi cenderung meningkat.
6

iii. Terhadap Janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses
pertumbuhan janin. Malnutrisi pada awal kehamilan mengakibatkan
terbentuknya organ-organ yang lebih kecil dengan ukuran sel normal dan
jumlah sel yang kurang secara permanen, sedangkan malnutrisi pada
kehamilan lanjut mengakibatkan terbentuk organ yang lebih kecil dengan
jumlah sel yang cukup dan ukuran sel yang lebih kecil, sehingga dapat
menimbulkan cacat bawaan. Tetapi hal ini refersibel dan akan
memberikan respon yang baik apabila nutrisi diperbaiki. Kekurangan gizi
juga dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian
neonatal, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam
kandungan), dan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
6

Keadaan status gizi ibu hamil sangat berpengaruh terhadap kondisi
janin. Pada masa kehamilan seorang ibu memerlukan makanan lebih
banyak dibandingkan wanita tidak hamil. Ganggua yang menyebabkan
12

tidak terpenuhinya gizi akan menyebabkan gangguan pada janin dan
beresiko untuk melahirkan bayi BBLR.
5


f. Pengaruh Kadar Haemogloin Ibu Terhadap Kejadian BBLR
Anemia dapat didefenisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada
dibawah normal. Di Indonesia anemia umumnya disebabkan oleh
kekurangan zat besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Gizi Besi.
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering
terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi
sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk
metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia
pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai dibawah 11 gr/dl selama
trimester III.
6

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada
pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat
mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan,
BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas
dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi.
Karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang
dikandungnya. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat
meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi,
kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan premature juga lebih besar.
6
Pada
wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan
dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan
bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Soeprono
menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan
yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan
abortus, partus (imatur/prematur), dan kadar Hb ibu bisa dipengaruhi oleh
13

paritas, yang mana seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko
mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan
kebutuhan nutrisi.
5,6


g. Pengaruh Penyakit yang Diderita Ibu Terhadap Kejadian BBLR
Beberapa jenis penyakit baik secara langsung maupun tidak langsung
dapat mempengaruhi sirkulasi darah janin. Pada hipertensi dan penyakit
ginjal kronik misalnya, terjadi gangguan peredaran darah dari ibu ke janin
karena gangguan sirkulasi sistemik, sehingga nutrisi untuk janin berkurang
dan menyebabkan pertumbuhan janin yang terhambat. Penyakit yang
berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya toksemia gravidarum,
perdarahan antepartum, trauma fisis dan psikologis.
7

h. Pengaruh faktor Kehamilan Ganda Terhadap Kejadian BBLR
Pada ibu dengan kehamilan ganda membutuhkan asupan makanan yang
lebih dibandingkan ibu yang hamil tunggal, sehingga apabila kebutuhan janin
tidak tercukupi secara merata maka mengakibatkan bayi yang lahir
mempunyai berat badan yang rendah.
6


i. Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Kejadian BBLR
Pengaruh sosial ekonomi merupakan hal yang cukup berpengaruh dalam
kejadian BBLR, walaupun secara tidak langsung. Pendapatan yang rendah
akan menyulitkan seorang ibu untuk memenuhi kebutuhan bayi terutama
dalam hal gizi. Hal ini pada akhirnya akan menyebabkan bayi dengan BBLR.
Mc Carthy dan Maine menunjukkan bahwa angka kematian ibu dapat
diturunkan secara tidak langsung dengan memperbaiki status sosial ekonomi
yang mempunyai efek terhadap salah satu dari seluruh faktor langsung yaitu
14

perilaku kesehatan dan perilaku reproduksi, status kesehatan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan.
5


j. Pengaruh Pelayanan Antenatal Terhadap Kejadian BBLR
Pelayanan antenatal ini diperuntukkan guna memantau perkembangan
kehamilan ibu, frekuensi minimal 4 kali selama kehamilan. Pemeriksaan
antenatal yang teratur akan memberikan kesempatan untuk dapat
mendiagnosis secara dini masalah-masalah yang dapat menyulitkan
kehamilan maupun persalinan, sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat
secepatnya.
1,4


k. Pengaruh Kebiasaan Merokok dan Minum Alkohol Terhadap Kejadian
BBLR
Merokok dan minum alkohol merupakan salah satu kebiasaan buruk
bagi ibu hamil yang akan berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya.
Menurut penelitian Haworth dkk, bahwa berat badan bayi yang lahir dari ibu
perokok lebih rendah dari ibu yang bukan perokok, walaupun penambahan
berat badan selama hamil dan asupan energi sama. Beberapa penulis
mengemukakan bahwa ibu hamil yang merokok lebih sering melahirkan bayi
yang lebih kecil dibanding ibu hamil yang tidak merokok. Hal ini disebabkan
beberapa hal :
i. Karbonmonoksida dan inaktifasi fungsionalnya pada hemoglobin janin
dan ibu.
ii. Aksi vasokonstriksi dan nikotin menyebabkan menurunnya perfusi darah
ke plasenta.
iii. Merokok menyebabkan menurunnya selera makan ibu sehingga asupan
energi ibu hamil berkurang, walaupun ada beberapa ibu perokok yang
selera makannya tidak berubah.
15

iv. Berkurangnya volume plasma akibat hipoksia kronik.
8

Ibu hamil peminum alkohol mempunyai risiko untuk melahirkan bayi
dengan fetal alcohol syndrome. Sindrom ini mencakup kelahiran prematur,
retardasi pertumbuhan janin, cacat lahir dan retardasi mental. Risiko ini
berhubungan dengan jumlah alkohol yang diminum setiap harinya, usia
kehamilan saat ibu hamil minum alkohol dan lamanya ibu tersebut
mengkonsumsi minuman beralkohol. Makin banyak alkohol yang
dikonsumsi, semakin besar resiko terganggunya pertumbuhan janin;
sebaliknya semakin kurang mengkonsumsi alkohol, resiko terganggunya
janin akan semakin kecil, tetapi masih ada. Bila ibu hamil mengkonsumsi
alkohol pada trimester pertama kehamilan saat berlangsung organogenesis
janin, maka resiko abortus akan lebih besar. Bila mengkonsumsi alkohol
pada trimester kedua saat terjadi perkembangan ukuran sel, maka akan
berpengaruh pada berat janin yang dikandungnya.
8


l. Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Kejadian BBLR
Perbedaan jenis kelamin ikut berperan pada berat badan lahir. rata-rata
berat badan lahir bayi laki-laki 150 gram lebih berat dibanding bayi
perempuan. Setelah minggu ke-20 mulai terdapat perbedaan antara
pertumbuhan janin laki-laki dan perempuan. Menurut Kloosterman (1969)
perbedaan ini dapat mencapai 135 gram pada kehamilan 40 minggu. Jadi
bayi laki-laki seringkali lebih berat dari bayi perempuan.
8

m. Pengaruh Riwayat Melahirkan BBLR Sebelumnya Terhadap Kejadian
BBLR
Ibu dengan riwayat melahirkan BBLR pada partus sebelumnya
mempunyai kemungkinan untuk melahirkan anak berikutnya dengan
BBLR.
5

16

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL


A. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti
Bayi berat lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
karena beresiko cukup tinggi untuk mengalami kematian pada masa neonatal.
Ada berbagai faktor yang saling berinteraksi mempengaruhi rendahnya berat
badan lahir bayi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pada penelitian ini variabel yang akan diteliti terdiri dari paritas, umur ibu
waktu melahirkan, dan usia kehamilan.
1. Paritas ibu
Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami oleh seorang ibu.
Umumnya kejadian BBLR dan kematian perinatal meningkat seiring dengan
meningkatnya paritas ibu, terutama bila paritas lebih dari 3. Paritas yang
terlalu tinggi akan mengakibatkan terganggunya uterus terutama dalam hal
fungsi pembuluh darah. Kehamilan yang berulang-ulang akan menyebabkan
kerusakan pada dinding pembuluh darah uterus. Hal ini akan mempengaruhi
nutrisi ke janin pada kehamilan selanjutnya, selain itu dapat menyebabkan
atoni uteri. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang
selanjutnya akan melahirkan bayi dengan BBLR. Jarak kehamilan yang
terlalu dekat juga akan menimbulkan komplikasi pada ibu dan bayinya.
Pada bayi dapat terjadi BBLR.
2. Umur ibu waktu melahirkan
Umur ibu merupakan salah satu faktor risiko untuk melahirkan BBLR.
Umur yang dianggap beresiko adalah <20 tahun dan >35 tahun. Paa umur
<20 tahun fungsi dari alat reproduksinya belum matang sehingga
mengganggu perkembangan janin. terjadi kompetisi antara ibu dan bayi
17

dalam memenuhi nutrisi selama masa kehamilan. Pada usia >35 tahun
terjadi degenerasi fungsi alat reprouksinya sehingga dapat menyebabkan
terjadinya gangguan pada janin.
3. Usia kehamilan ibu
Usia kehamilan yang normal berkisar antara 37-42 minggu. Umur
kehamilan yang lebih pendek atau lebih panjang dari normal dapat
mengakibatkan tingginya angka kejadian BBLR karena terjadi perubahan
degeneratif pada plasenta sehingga janin kurang mendapat oksigen dan zat
nutrien. BBLR dapat terjadi bila usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
Sekalipun dengan berat badan sesuai masa kehamilan. Bayi yang dilahirkan
prematur memiliki berat badan yang sesuai dengan masa kehamilan.
Dengan kata lain bayi lahir dengan berat badan rendah karena umur
kehamilannya belum cukup. Sedangkan pada bayi kecil masa kehamilan
bayi lahir dengan berat badan yang tidak sesuai dengan umur kehamilan
diakibatkan adanya intrauterine growth retardation. Pertambahan berat
badan janin terjadi pada 8 minggu terakhir kehamilan atau umur kehamilan
35-42 minggu. Jadi pada umur kehamilan inilah faktor berat badan janin
sangat menentukan.










18

Kerangka Konsep








BBLR


Faktor bayi
Kehamilan ganda
Jenis kelamin


Keterangan :
: variabel yg diteliti
------------------------- : variabel yang tidak diteliti
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah



Faktor Ibu
Umur
Paritas
Umur kehamilan
Pendidikan
Status gizi
Kadar Hb
Penyakit ibu
Status sosial dan
ekonomi
Kebiasaan merokok
dan minum alkohol
19

B. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif
1. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500
gram.
2. Paritas
Paritas adalah jumlah atau banyaknya anak yang telah dilahirkan oleh ibu
tanpa memandang apakah anak lahir hidup atau mati. Data diambil dari
status ibu hamil, dimana paritas sama dengan nilai P pada GPA (gravid,
paritas, abortus).
Kriteria objektif :
a. Paritas rendah : 1 kali
b. Ideal : 2-3 kali
c. Paritas tinggi : > 3 kali
3. Umur Ibu Waktu Melahirkan
Umur ibu saat melahirkan adalah umur ibu saat melahirkan bayi yang
dinyatakan dalam satuan tahun sesuai yang tercantum dalam rekam medis.
Kriteria objektif :
a. Muda : bila umur ibu saat melahirkan < 20 tahun
b. Ideal : bila umur ibu saat melahirkan 20 34 tahun
c. Tua : bila umur ibu saat melahirkan 35 tahun
4. Usia Kehamilan
Usia kehamilan adalah usia kandungan dihitung berdasarkan lama kehamilan
dalam minggu. Data diambil dari status ibu hamil berdasarkan HPHT (hari
pertama haid terakhir).
Kriteria objektif :
a. < 37 minggu : kurang bulan (preterm)
b. 37- 42 minggu : cukup bulan (aterm)
c. > 42 minggu : lebih bulan (postterm)
20

BAB IV
METODE PENELITIAN


A. Judul Penelitian
Karakteristik Ibu Dari Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Segeri Pangkep
Periode Tahun 2008

B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dekskriptif.

C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah Puskesmas Segeri di Kecamatan Segeri Kabupaten
Pangkep.

D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan di Puskesmas
Segeri dan tercatat dibagian rekam medik periode tahun 2008.
2. Sampel
Sampel yang diambil adalah semua ibu yang melahirkan bayi lahir hidup
dengan berat badan lahir rendah yang tercatat di bagian rekam medik
Puskesmas Segeri periode tahun 2008.

E. Pengumpulan Data
Data yang diperoleh adalah data sekunder yang berasal dari status pasien yang
tersimpan dibagian rekam medik Puskesmas Segeri periode tahun 2008.

F. Pengolahan dan Penyajian Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan elektronik dan disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasannya.
21

BAB V
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


A. Keadaan Wilayah
Puskesmas Segeri terletak di Kecamatan Segeri yang meliputi dua Desa dan
empat Kelurahan dengan luas wilayah 78,28 km
2
. Kondisi geografis sebagian
besar berada pada dataran rendah pesisir pantai Selat Makassar dan sebagian lagi
berada pada dataran tinggi atau pengunungan dengan batas-batas wilayah kerja
sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Mandalle.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Marang.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Barru.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Luas wilayah kerja Puskesmas Segeri dan jarak tempuh masyarakat ke
Puskesmas adalah :

Tabel 1. Data Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun 2008
Desa / Kelurahan Luas
Wilayah
Jarak ke
Puskesmas
Waktu Tempuh
ke Puskesmas
Kelurahan Segeri
Kelurahan Bontomatene
Kelurahan Bone
Kelurahan Bawasalo
Desa Parenreng
Desa Baring
4,21 km
2
16,72 km
2

6,36 km
2
3,99 km
2
9,48 km
2
37,52km
2
0-3 km
3-5 km
3-5 km
3-5 km
5-8 km
7-10 km

<30 menit
30-60 menit
30-60 menit
30-60 menit
30-90 menit
30-120 menit
78,52 km
2

Sumber : data puskesmas
22

B. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk pada tahun 2008 di wilayah kerja Puskesmas Segeri
sebesar 20.004 jiwa ( Dua puluh ribu empat jiwa) yang terdiri atas 4.639 KK
(Empat ribu enam ratus tiga puluh Sembilan kepala keluarga) yang tersebar pada
6 desa / kelurahan dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 2. Data Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun 2008

Desa / Kelurahan Kepala Keluarga Jumlah Penduduk
Kel. Segeri
Kel. Bontomatene
Kel. Bone
Kel. Bawasalo
Desa Baring
Desa Parenreng
861
1103
589
544
617
925
3979 Jiwa
4885 Jiwa
2397 Jiwa
2364 Jiwa
3406 Jiwa
2973 Jiwa
4639 KK 20.004 Jiwa
Sumber : Data Statistik Kecamatan

C. Keadaan Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas Segeri
sebanyak 42 orang dengan penyebaran sebanyak 35 orang bertugas di
Puskesmas, 5 orang bertugas di Puskesmas Pembantu dan 2 orang bertugas
Poskesdes.






23

Tabel 3. Data Tenaga Kesehatan Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun 2008
Sumber : Data Puskesmas

D. Keadaan Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada untuk menunjang pelayanan kesehatan di
Kecamatan segeri terdiri atas gedung pelayanan seperti Puskesmas, Puskesmas
JENIS TENAGA PUSKESMAS PUSTU /
POSKESDES
KET
Dokter Umum
Dokter Gigi
Kesmas
Perawat
Perawat Gigi
Bidan
Ahli Gizi
Analis Kesehatan
Sanitarian
Pekarya
Asisten Apoteker
Juru Imunisasi
Administrasi
Sopir
Cleaning Service
2 orang
1 orang
1 orang
15 orang
2 orang
2 orang
2 orang
1 orang
1 orang
2 orang
1 orang
1 orang
2 orang
1 orang
1 orang
-
-
-
2 orang
-
5 orang
-
-
-
-
-
-
-
-
-



1
sukarela
3
sukarela

1 PTT






PTT
PTT
PTT

TOTAL 35 ORANG 7 ORANG
24

Pembantu, Poskesdes dan sarana pelayanan keliling seperti ambulance, motor
dengan rincian jumlah unit sebagai berikut :

Tabel 4. Data Sarana Kesehatan Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun 2008

DES / KEL JENIS SARANA KESEHATAN
Puskesmas Pustu Poskesdes Ambulance Motor
Segeri
Bontomatene
Bone
Bawasalo
Parenreng
Baring

1
-
-
-
-
-
-
-
1
1
1
1

-
1
-
-
-
1
2
-
-
-
-
-

4
-
-
-
2
1
Jumlah 1 4 2 2 7
Sumber : Data Puskesmas
Dari jumlah sarana tersebut di atas, pada tahun 2008 telah dikembangkan
lagi 2 unit sarana baru sebagai upaya pengembangan pelayanan yang merata dan
terjangkau berupa 1 unit Puskesmas Pembantu di Dusun Gusung Kelurahan
Bontomatene dan 1 unit Poskesdes di Kelurahan Bone, namun kedua sarana
tersebut belum memiliki tenaga kesehatan.





25

BAB VI
HASIL PENELITIAN

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Segeri pada tanggal 23
Oktober 1 Desember 2009 dengan menggunakan data sekunder dalam hal ini rekam
medik periode tahun 2008 didapatkan 103 kelahiran bayi, ditemukan 9 bayi yang
lahir dengan berat badan rendah.
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan maka penyajian data
disajikan dalam bentuk deskripsi umum yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi serta presentase. Dari hasil pengolahan data yang dilakukan, diperoleh data
data sebagai berikut :
Tabel 5. Distribusi Kelahiran BBLR dan BBLN di Puskesmas Segeri Periode Tahun
2008
N Presentase (%)
BBLR 9 8,7
BBLN 94 91,3
Total 103 100
Sumber : Data sekunder
Catatan BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BBLN : Berat Badan Lahir Normal
N : Frekuensi

26

Tabel diatas menunjukkan bahwa frekuensi kejadian BBLR pada periode
tahun 2008 adalah 8,7% (9) dari 103 kelahiran bayi yang lahir hidup, sedangkan
frekuensi kejadian BBLN adalah 91,3% (94) dari 103 kelahiran bayi yang lahir hidup.
Tabel 6. Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Umur Ibu Waktu Melahirkan di
Puskesmas Segeri Periode Tahun 2008
Umur (tahun) N Presentase (%)
<20 1 11,1
20 34 3 33,3
35 5 55,5
Total 9 100
Sumber : Data sekunder
Pada tabel 2 diatas,dapat dilihat bahwa kejadian BBLR yang tertinggi di
Puskesmas Segeri terdapat pada ibu yang berumur 35 tahun yaitu 5 ibu (55,5%),
sedangkan yang terendah pada ibu yang berumur <20 tahun yaitu 1 ibu (11,1%).
Tabel 7. Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Paritas Ibu Di Puskesmas Segeri
Periode Tahun 2008
Paritas (kali) N Presentase (%)
1 2 22,2
2-3 1 11,1
>3 6 66,7
Total 9 100
Sumber : Data sekunder
Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa kejadian BBLR berdasarkan paritas ibu di
Puskesmas Segeri yang tertinggi terdapat pada ibu yang paritasnya >3 kali yaitu 6 ibu
27

(66,6%), sedangkan yang terendah terdapat pada ibu yang paritasnya 2-3 kali yaitu 1
ibu (11,1%).
Tabel 8. Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Umur Kehamilan Ibu di Puskesmas
Segeri Periode Tahun 2008
Umur kehamilan
(minggu)
N Presentase (%)
<37 5 55,5
37 42 4 44,4
>42 0 0
Total 9 100
Sumber : Data sekunder
Tabel diatas menunjukkan bahwa kejadian BBLR tertinggi di Puskesmas
Segeri pada tahun 2008 terdapat pada ibu dengan umur kehamilan <37 minggu yaitu
5 ibu (55,5%), dan terendah pada umur kehamilan >42 minggu yaitu 0 ibu (0%).









28

BAB VII
PEMBAHASAN

Setelah dilakukan penelitian mengenai distribusi frekuensi Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) di Puskesmas Segeri periode tahun 2008, terlihat angka kejadian
BBLR sekitar 8,7% (9 bayi dari 103 kelahiran bayi lahir hidup). Ini menunjukkan
bahwa angka kejadian BBLR di Puskesmas Segeri masih tinggi. Hal ini berarti
Puskesmas Segeri belum mencapai target pemerintah dalam visi Indonesia Sehat
2010 yaitu target prevalensi BBLR sebesar 5,0%. Hal ini juga dapat dilihat pada
Puskesmas lain yang juga telah dilakukan penelitian seperti Puskesmas Jumpandang
Baru yaitu 10,7% dan Puskesmas Pattingaloang Makassar periode tahun 2004 angka
kejadian BBLR yaitu sebesar 9,1%. Tingginya angka kejadian BBLR ini tidak lepas
dari beberapa faktor yang mempengaruhinya baik itu faktor dari ibu, bayi, maupun
faktor lingkungan. Pada penelitian ini telah dilakukan penelitian tentang faktor ibu
yang dapat mempengaruhi kejadian BBLR.
Kompleksnya masalah BBLR serta keterbatasan waktu, tenaga, fasilitas, dan
biaya yang tersedia, maka penelitian ini kami batasi pada pencarian informasi secara
dekskriptif mengenai karakteristik ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di
Puskesmas Segeri, dengan meneliti variabel umur ibu saat hamil, paritas, dan usia
kehamilan. Adapun dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut:
1. Berdasarkan umur ibu saat melahirkan.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada umur 35 tahun memiliki risiko
paling tinggi terhadap kejadian BBLR yaitu sekitar 55,5%, dan pada umur 20-34
tahun sekitar 33,3%, sedangkan pada umur <20 tahun hanya didapatkan sekitar
11,1%. Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian yang telah
29

dilakukan di Puskesmas Pattingaloang Makassar dimana didapatkan angka
kejadian BBLR tertinggi pada ibu yang berumur 35 tahun dan <20 tahun. Pada
penelitian ini presentase kejadian BBLR pada umur <20 tahun paling sedikit. Hal
ini mungkin disebabkan karena jumlah ibu berumur <20 tahun yang melahirkan
di Puskesmas Segeri yang tercatat di bagian rekam medik periode tahun 2008
sangat sedikit yaitu hanya 15 orang atau 14,6%.
Umur seorang ibu hamil mempunyai pengaruh yang kuat dengan alat alat
reproduksinya. Umur ibu saat hamil merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kelangsungan kehamilan dan keselamatan persalinan. Umur ibu
yang kurang aman untuk hamil dan melahirkan ditinjau dari sudut kesehatan yaitu
pada usia <20 tahun atau 35 tahun. Hal ini sangat erat hubungannya dengan
tingginya kejadian BBLR pada saat umur ibu 35 tahun. Wanita yang hamil pada
usia muda atau <20 tahun, dari segi biologis perkembangan alat alat
reproduksinya belum optimal, selain itu terjadi kompetisi antara ibu dengan
janinnya untuk mendapatkan nutrisi karena pada saat itu ibu sendiri masih dalam
tahap pertumbuhan. Pada usia yang terlalu tua juga mempunyai risiko lebih tinggi
untuk kelahiran BBLR disebabkan oleh terjadi degenerasi fungsi organ
reproduksi misalnya fungsi plasenta yang tidak adekuat sehingga menyebabkan
kurangnya produksi progesteron dan mempengaruhi iritabilitas uterus,
menyebabkan perubahan perubahan serviks yang pada akhirnya akan
menyebabkan terjadinya gangguan pada janin yang akan memicu kelahiran
prematur.
2,5,6



2. Berdasarkan paritas ibu
Pada penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa pada paritas >3 kali
memiliki risiko tinggi terhadap kejadian BBLR, yaitu 66,6%. Pada paritas 2-3 kali
didapatkan sekitar 11,1% dan pada ibu dengan paritas 1 kali adalah 22,2%.
Tampak peningkatan BBLR pada tabel diatas dengan makin tingginya paritas.
30

Pada penelitian ini didapatkan tingginya kejadian BBLR pada paritas >3
kali. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa paritas >3 kalilah yang
paling beresiko terhadap kejadian BBLR karena dapat menyebabkan perubahan
perubahan pada uterus dalam hal ini kehamilan yang berulang ulang
menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus sehingga
mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dimana jumlah nutrisi akan berkurang
sehingga terjadi kelahiran BBLR.
4

Terjadi pula peningkatan kejadian BBLR pada paritas 1 kali. Hal ini juga
terjadi pada penelitian yang dilakukan di Puskesmas Pattingaloang Makassar. Hal
ini kemungkinan diakibatkan seorang ibu yang pertama kali hamil, belum
mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang kehamilan itu
sendiri, mencakup pengetahuan tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak
selama proses kehamilan berlangsung, termasuk zat zat gizi yang dibutuhkan
ibu maupun janin yang dikandung.
5


3. Berdasarkan umur kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian BBLR paling tinggi
pada umur kehamilan prematur (<37 minggu) yaitu sekitar 55,5%. Sedangkan
angka kejadian BBLR pada umur kehamilan 37- 42 minggu yaitu sebanyak
44,4%. Hasil terendah didapatkan pada umur kehamilan >42 minggu yaitu 0%.
Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian di Puskesmas Pattingaloang
Makassar yaitu angka kejadian BBLR tertinggi pada umur kelahiran prematur
(<37 minggu) yaitu sebesar 47,6%.
Angka kejadian BBLR berbanding terbalik dengan umur kehamilan, yaitu
makin tua umur kehamilan makin kecil kejadian BBLR. Teori ini sesuai dengan
hasil penelitian yang menunjukkan angka kejadian BBLR tertinggi terdapat pada
umur kehamilan <37 minggu. Hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh dari
faktor faktor nutrisi yang buruk pada ibu baik sebelum maupun sesudah
31

kehamilan dan penyakit penyakit ibu yang kronik maupun penyakit infeksi yang
didapat selama kehamilan.
4

Pertambahan berat badan janin dipengaruhi oleh kemampuan janin untuk
tumbuh mencapai berat badan yang optimal saat lahir, dan ini ditentukan oleh
adanya persediaan zat gizi yang cukup, kemampuan memanfaatkan zat gizi ini
untuk kelanjutan proses tumbuh kembang serta kemampuan ibu memelihara
kehamilan hingga cukup bulan.
6

Melihat tingginya angka kejadian BBLR ini perlu dilakukan usaha
pencegahan dengan pendekatan five level prevention, yaitu :
1

1. Primary prevention
a. Health promotion, dengan cara memberikan penyuluhan dan pendidikan
kesehatan terutama kepada pasangan muda dan ibu ibu hamil mengenai
pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur dan perbaikan kualitas
gizi terutama selama masa kehamilan, juga penyuluhan tentang
pentingnya Keluarga Berencana (KB).
b. Specific protection, dengan pemberian vaksinasi pada ibu ibu hamil
untuk mencegah penyakit yang dapat berbahaya bagi kesehatan ibu dan
janin, serta pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang tepat.
2. Secondary prevention
Early diagnosis and prompt treatment, dengan mendiagnosis segera bayi
bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan dengan penanganan intensif
pada BBLR untuk mencegah penyakit penyakit neonatus maupun kematian
neonatal, dengan cara perawatan bayi di inkubator, pencegahan infeksi, erta
pengawasan pemberian nutrisi/ASI secara ketat.
3. Tertiary prevention
a. Disability limitation, dengan pengobatan adekuat pada BBLR dengan
penyakit penyakit neonatal untuk mencegah komplikasi lebih lanjut
ataupun kematian neonatal.
32

b. Rehabilitation, dengan penanganan di Rumah Sakit untuk BBLR dengan
komplikasi.


















33

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Segeri yang
dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2 Desember 2009, setelah data sekunder
diolah dan pembahasan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Angka kejadian BBLR pada periode tahun 2008 cukup tinggi yaitu sekitar
8,7 % dibandingkan program pemerintah dalam visi Indonesia Sehat 2010
yaitu target prevalensi BBLR sebesar 5,0%.
2. Dari penelitian ini berdasarkan umur ibu saat melahirkan, hasilnya
menunjukkan bahwa angka kejadian BBLR tertinggi terjadi pada ibu yang
berumur 35 tahun yaitu sebesar 55,5%.
3. Dari penelitian ini, berdasarkan paritas ibu, hasilnya menunjukkan bahwa
angka kejadian BBLR tertinggi terjadi pada ibu dengan paritas >3 kali yaitu
sebesar 66,6%.
4. Dari penelitian ini, berdasarkan usia kehamilan ibu, hasilnya menunjukkan
bahwa angka kejadian BBLR tertinggi terjadi pada ibu dengan usia
kehamilan <37 minggu yaitu sebesar 55,5%.

B. Saran
1. Mengingat tingginya angka kejadian BBLR di Puskesmas Segeri, maka
perlu dicari penyebab atau faktor faktor yang mempengaruhi kejadian
BBLR melalui pemantauan atau penelitian yang lebih lanjut.
2. Penulisan status penderita hendaknya dilengkapi agar didapatkan data yang
lebih akurat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR.
34

3. Pemantauan terhadap ibu hamil yang beresiko terhadap terjadinya BBLR,
harus segera dilaporkan dan ditangani dengan cepat, sehingga dapat segera
dicegah.
4. Dibutuhkan dukungan sektor lain yang terkait agar turut berperan serta
dalam meningkatkan pengetahuan ibu agar dapat mengakses dan
memanfaatkan pelayanan antenatal dan meningkatkan status gizi selama
hamil untuk pencegahan BBLR maupun komplikasi lebih lanjut yang dapat
timbul, dengan pendekatan five level prevention.














35

DAFTAR PUSTAKA

1. Setyowati T,Soesanto SS, dkk. Faktor Yang Mempengaruhi Bayi Lahir Dengan
Berat Badan Rendah. Dalam : Penelitian bulletin kesehatan. Volume 24.Depkes
RI.1996.p.39-53.
2. Alit K. Risiko Kelahiran Bayi Berat Lahir Rendah Dari Ibu Kekurangan Energi
Kronik. Fakultas Kedokteran UNHAS. 2003.p.12-7.
3. Djauhariah M. Bayi Berat Lahir Rendah. Dalam : Diktat Kuliah Anak II. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FK-UNHAS. 2003.p.50-51.
4. Fazwa R. Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah. Dalam : Ilmu Kebidanan.
Edisi III. Cetakan V. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
1999. P.131-134.
5. Muchtar M. Faktor Risiko Terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah di RSB Budi
Mulia Makassar Tahun 2007. Fakultas Kedokteran UMI. 2008.p.6-8.
6. Lubis Z. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang
Dilahirkan. [cited on 4 December 2009]. Available from :
http://www.google.com/status_gizi_ibu_hamil//.htm.
7. Budjang RF. Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah. Dalam : Wiknjsastro H.
Ilmu Kebidanan. Edisi ke-3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2006.p.771-83.
8. Wibowo A. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Hubungan Dengan Bayi Berat
Badan Lahir Rendah. Dalam : Majalah Kesehatan Perkotaan. Tahun IV. Uki
Atmadjaya.1997.p.77.



36

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur senantiasa saya hanturkan kepada Allah SWT, Zat Maha
Kuasa, yang telah memberi rahmat dan hidayah-nya hingga penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini dapat terselesaikan sesuai rencana sebagai tugas akhir dan memenuhi
syarat-syarat untuk menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran dan mencapai gelar
Sarjana Kedokteran. Judul Karya Tulis Ilmiah ini :
Karakteristik Ibu Dari Bayi Berat Lahir Rendah Di Puskesmas Segeri
Pangkep Periode Tahun 2008
Dengan perasaan tulus dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan terima
kasih kepada segenap pihak yang telah mendukung saya dalam menyusun Karya
Tulis Ilmiah ini :
1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia beserta Wakil Dekan I,
Wakil Dekan II, dan Wakil Dekan III.
2. Koordinator Karya Tulis Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Muslim
Indonesia, dr. Sri Vitayani, Sp.KK
3. Pembimbing dan pengarah yang selalu memberi input dan saran, dr. Azis Beru
Gani, M.Kes dan dr. H. Djuanda M. Noor.
4. Kepala Puskesmas Segeri beserta staf.
5. Kedua Orang Tua saya, saudara-saudara, dan keluarga saya tercinta yang selalu
memberikan dukungan dan bantuan baik materi, semangat, dan doa selama
penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini
yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Saya menyadari akan berbagai kekurangan dan keterbatasan pengetahuan dan
pengalaman saya dalam melakukan penelitian sehingga Karya Tulis Ilmiah ini masih
37

jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini dan sebagai
tambahan pengetahuan saya.
Akhirnya besar harapan saya kiranya Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberi
manfaat bagi pembaca sekalian. Amin.

Makassar, Desember 2009

Penulis











38

KARAKTERISTIK IBU DARI BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI
PUSKESMAS SEGERI PANGKEP PERIODE TAHUN 2008


Karya Tulis Ilmiah
Diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi syarat-syarat untuk
menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran dan mencapai Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
ARINI ESTIASTUTI
110 206 014
PEMBIMBING :
1. dr. Azis Beru Gani, M.Kes
2. dr. H. Djuanda M. Noor

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2009
39

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL .. i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
RINGKASAN . iv
KATA PENGANTAR . v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ........ ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Batasan Masalah . 3
C. Rumusan Masalah 3
D. Tujuan Penelitian .. 3
E. Manfaat Penelitian 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir 5
B. Tinjauan Umum Tentang Bayi Berat Lahir Rendah .. 6
C. Tinjauan Umum Tentang Karakteristik Bayi Berat Lahir Rendah 8

40

BAB III KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti . 16
B. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif 19
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Judul Penelitian . 20
B. Jenis Penelitian .. 20
C. Lokasi Penelitian 20
D. Populasi dan Sampel .. 20
E. Pengumpulan Data 20
F. Pengolahan dan Penyajian Data 20
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Keadaan Wilayah .. 21
B. Keadaan Penduduk 22
C. Keadaan Tenaga Kesehatan ... 22
D. Keadaan Sarana Kesehatan 23
BAB VI HASIL PENELITIAN ... 25
BAB VII PEMBAHASAN .. 28
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan . 33
B. Saran 33
DAFTAR PUSTAKA .. 35
LAMPIRAN

41

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun 2008 .. 21
Tabel 2 Data Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun
2008. 22
Tabel 3 Data Tenaga Kesehatan Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun
2008 23
Tabel 4 Data Sarana Kesehatan Wilayah Kerja Puskesmas Segeri Tahun
2008. 24
Tabel 5 Distribusi Frekuensi BBLR dan BBLN di Puskesmas Segeri periode
Tahun 2008 .. 25
Tabel 6 Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Umur Ibu Waktu
Melahirkan di Puskesmas Segeri Periode Tahun
2008.................................................................. 26
Tabel 7 Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Paritas Ibu di Puskesmas
Segeri Periode Tahun 2008 26
Tabel 8 Distribusi Kejadian BBLR Berdasarkan Umur Kehamilan Ibu di
Puskesmas Segeri Periode Tahun 2008... 27




42

Data Tabel Ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Segeri Pangkep
Periode Tahun 2008.

NO

NAMA

UMUR
(tahun)

BBL
(gram)
UMUR
KEHAMILAN
(minggu)

PARITAS
(kali)
1

2

3

4

5

6

7

8

9
Ny. R

Ny. H

Ny. M

Ny. K

Ny. H

Ny. I

Ny. N

Ny. M

Ny. W
26

27

35

22

37

37

38

16

35
2400

2100

2400

2400

2300

2000

2300

2400

1600
38

36

37

38

36

35

36

37

28
1

4

4

2

5

5

8

1

5





43

RINGKASAN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KARYA TULIS ILMIAH, DESEMBER 2009

ARINI ESTIASTUTI

Karakteristik Ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Segeri Pangkep
Periode Tahun 2008

x + 35 halaman + 8 tabel + 1 lampiran

Menurut defenisi WHO (1980), BBLR adalah bayi yang dilahirkan kurang
dari 2500 gram. Bayi lahir dengan berat badan rendah merupakan salah satu faktor
risiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa
perinatal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan karakteristik ibu dari
Bayi Berat Lahir Rendah berdasarkan umur kehamilan, umur ibu dan paritas ibu.
Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian dekskriptif untuk
mengetahui gambaran ibu dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Segeri, yang
bertujuan mempelajari frekuensi angka kejadian dengan variabel variabel yang
diteliti, serta variabel mana yang mempunyai angka kejadian paling tinggi. Data yang
dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam medis periode tahun
2008 dengan mengambil sampel sebanyak 9 ibu yang melahirkan BBLR dari 103
seluruh kelahiran baik BBLR maupun BBLN.
Dari hasil penelitian didapatkan angka kejadian BBLR sekitar 8,7% (9 bayi
dari 103 kelahiran bayi lahir hidup). Ini menunjukkan bahwa angka kejadian BBLR
di Puskesmas Segeri masih cukup tinggi. Dari hasil penelitian didapatkan pula angka
kejadian paling tinggi terhadap BBLR, yaitu pada ibu umur 35 tahun, ibu yang
memilki umur kehamilan <37 minggu, dan ibu dengan paritas >3 kali.
Angka kejadian BBLR pada periode tahun 2008 masih cukup tinggi yaitu
sekitar 8,7% dibandingkan program pemerintah dalam Visi Indonesia Sehat 2010
yaitu target prevalensi BBLR sebesar 5,0%. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan
tenaga tenaga kesehatan maupun sektor lain yang terkait agar turut berperan serta
dalam meningkatkan pengetahuan ibu agar dapat mengakses dan memanfaatkan
pelayanan antenatal dan meningkatkan status gizi selama hamil untuk pencegahan
BBLR maupun komplikasi lebih lanjut yang dapat timbul, dengan pendekatan five
level prevention.

Kepustakaan 8 (1996-2008)
44

DAFTAR LAMPIRAN

Data Tabel Ibu dari Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Segeri Pangkep Periode
Tahun 2008.
















45

LEMBAR PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Arini Estiastuti
NIM : 110 206 014
Adalah benar telah menyelesaikan KARYA TULIS ILMIAH dengan Judul
Karakteristik Ibu Dari Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Segeri Pangkep
Periode Tahun 2008 dan telah mendiskusikannya dengan pembimbing.
Makassar, Desember 2009

Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II


(dr. Azis Beru Gani, M.Kes) (dr. H. Djuanda. M. Noor)



46

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul : Karakteristik Ibu Dari Bayi Berat Lahir Rendah
di Puskesmas Segeri Pangkep Periode Tahun 2008 telah diperiksa dan disetujui
untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah.
Hari/Tanggal : Rabu, 16 Desember 2009
Pukul : 16.00 18.00 WITA
Tempat : Aula Aisyah FK UMI
Makassar, Desember 2009
Mengetahui,
Pembimbing I Pembimbing II


(dr. Azis Beru Gani, M.Kes) (dr. H. Djuanda M. Noor)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
KOORDINATOR,


(dr. Sri Vitayani, Sp.KK)
47