Anda di halaman 1dari 13

SEJARAH LAHIRNYA

HUKUM LAUT
INTERNASIONAL
Prepared by Erlis Septiana Nurbani
For
Faculty of Law Mataran University

ZAMAN ROMAWI
Kekaisaran Romawi menguasai seluruh Laut Tengah
(Mediteran) secara mutlak.
Pada masa ini tidak timbul persoalan hukum, karena
tidak ada pihak lain yang menentang atau menggugat
kekuasaan Roma atas laut tengah
Tujuan penguasaan Romawi adalah untuk
membebaskannya dari ancaman bahaya bajak laut
Sikap ini dilandasi suatu pemikiran umum bahwa laut
merupakan suatu hak bersama seluruh ummat (res
communis omnium), bahwa laut terbuka dan bebas
bagi semua orang.
Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari
bajak laut dalam menggunakan dan memanfaatkan
laut.
Ada pemikiran lain tentang laut yang
menganggapnya sebagai res nullius,
menurut pandangan ini laut bisa dimiliki
apabila yang ingin memilikinya bisa
menguasai dengan mendudukinya.
Paham ini didasarkan atas konsep
occupatio/okupasi dalam hukum perdata
Romawi
ABAD PERTENGAHAN
Setelah runtunya kekuasan Roma, negara-negara
sekitar tepi Laut Tengah mengklaim sebagian dari
laut yang berbatasan dengan pantainya.
Venetia : mengklaim sebagian besar Laut Adriatik;
Genoa : mengklaim Laut Liguria dan sekitarnya;
dan Pisa : mengklaim Laut Thyrrhenia.
Tujuan dikuasainya laut tersebut, antara lain: a.
Karantina; b. Bea Cukai; dan c. Pertahanan dan
Netralitas.
Klaim tersebut kemudian melahirkan teori-teori
yang berkaitan dengan kepemilikan atas laut,
yang tidak lagi dianggap sebagai res communis
TEORI BARTOLUS DAN
BALDUS
Bartolus dan Baldus merupakan ahli hukum
terkemuka pada masa abad pertengahan.
Bartolus mengemukakan, bahwa laut dibagi
menjadi dua, yaitu : 1. Laut yang berada dibawah
kekuasaan kedaulatan negara pantai; 2. Laut
yang bebas dari kekuasaan dan kedaulatan
manapun.
Baldus membedakan tiga konsepsi bertalian
dengan penguasaan atas laut : 1. Pemilikan laut;
2. Pemakaian Laut; 3. Yurisdiksi atas laut dan
wewenang untuk melakukan perlindungan
terhadap kepentingan di laut.

PEMBAGIAN LAUT ATAS DUA
KEKUASAAN BESAR
Pembagian wilayah laut di dunia atas dua kekuasaan
besar dilakukan oleh Paus Alexander XII (1493)
dalam Piagam Inter Caetera, kepada Spanyol dan
Portugis.
Ini merupakan langkah strategis yang diambil untuk
menyelesaikan persaingan antara Spanyol dan
Portugis yang timbul sejak jatuhnya Istanbul kepada
Khilafah Turki (1453).
Pembagian dua wilayah laut tersebut tidak berlaku
dilautan utara Benua Eropa, terdapat klaimdominio
maris oleh kerajaan Denmark dan Inggris.
Usaha-usaha Spanyol, Portugal, Denmark dan Inggris
untuk menyatakan laut sebagai miliknya dominio
maris mendapat tantangan dari pihak lain.

TANTANGAN BELANDA
Doktrin dominio maris yang kemudian
melahirkan suatu konsepsi bahwa laut adalah
tertutup mare clausum dipertentangkan oleh
Hugo Grotius (Belanda).
Hugo Grotius berpendapat bahwa laut itu
harus bebas untuk dapat dilayari oleh
siapapun (azas kebebasan
berlayar/freedom of navigation)
Asas kebebasan berlayar ini lahir dari suatu
konsepsi bahwa laut itu adalah bebas (mare
liberum)

MARE LIBERUM vs MARE
CLAUSUM
Asas kebebasan laut pertama kali dikemukakan
oleh Hugo Grotius dalam buku Mare Liberum
(1609)
Alasan yang disampaikan Grotius dalam Mare
Liberum, untuk menyangkal politik Portugal dan
Spanyol yg melarang pihak lain untuk berlayar ke
Timur Jauh, didasarkan atas pendirian bahwa laut
adalah terbuka untuk siapapun juga, karena tidak
ada yg memiliki.
Selain itu, Grotius juga menyinggung soal hak
menangkap ikan di laut, bahwa laut harus terbuka
untuk siapapun didasarkan alasan bahwa laut itu
merupakan suatu sumber kekayaan laut yang
tidak ada batasnya.
MARE LIBERUM vs MARE
CLAUSUM
Pendapat Grotius kemudian mendapat tantangan dari
Welwood dalam salah satu bukunya yg berjudul
Abridgement of all Sea Lawes.
Langkah Welwood kemudian diikuti oleh penulis
Inggris lain seperti Malynes hingga Selden.
Kondisi ini kemudian dikenal sebagai the battle of
books.
Atas serangan terhadap konsepsi Mare Liberum yang
dilakukan oleh Welwood hingga Selden. Grotius
menekankan jawabannya pada bidang perikanan.
Grotius berpendapat : Perlu dibedakan antara
imperium (souvereignty) dan dominium (ownership).
Suatu negara dapat berdaulat atas bagian-bagian laut
tertentu, tetapi tidak dapat memiliki laut.

MARE LIBERUM vs MARE
CLAUSUM
Menangkap ikan dan berlayar di laut adalah tindakan
yang bertalian dengan pemilikan laut. Karena laut
tidak dapat dimiliki, maka penangkapan ikan dan
pelayaran tidak dapat dilarang.
Dalam De Iure Belli ac Pacis ia kemudian
membedakan antara laut yang dapat dimiliki dan tidak
dapat dimiliki.
Teluk dan Selat adalah bagian laut yang dapat dimiliki,
karena sifatnya yang serupa dengan sungai dan laut
pedalaman, terkurung oleh daratan.
Untuk laut yang berbatasan dengan pantai, Hugo
Grotius tidak menerangkan dengan jelas. Ia hanya
mengatakan bahwa laut demikian dapat tunduk pada
kedaulatan negara pantai sepanjang dapat dikuasai
dari darat

MARE LIBERUM vs MARE
CLAUSUM
Selden menyatakan bahwa tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa laut tidak dapat
dimiliki dan bahwa Inggris secara nyata telah
memiliiki (menguasai) daerah laut yang cukup
luas.
Menurut Selden, argumentasi yang
menyatakan bahwa laut adalah sumber
kekayaan yang sama sekali tak terhabiskan
(inexhaustible) sama sekali tak beralasan.
KOMPROMI ANTARA MARE
LIBERUM DAN MARE CLAUSUM
PONTANUS, mengajukan teori yang merupakan kompromi
atas kedua konsepsi diatas.
Pontanus membagi laut dalam dua bagian, yaitu (1). Laut
yang berdekatan dengan pantai (adjacent sea) yang dapat
jatuh pada pemilikan atau kedaulatan negara pantai, (2).
Sedangkan laut diluar itu adalah laut bebas.
Seorang ahli hukum Belanda, Cornelis van Bynkershoek,
menulis sebuah buku Dominio Maris Dissertatio, yang
menolak teori Selden.
Menurut Bynkershoek, kedaulatan negara atas laut harus
merupakan jelmaan dari azas penguasaan laut dari darat,
berupa suatu kaidah tembakan meriam, yang berbunyi
:terrae protestas finitur ubi finitur armorum vis (kedaulatan
teritorial berakhir dimana kekuatan senjata berakhir).
Teori Bynkershoek kemudian dikenal
sebagai penetapan batas laut teritorial sejauh
tembakan meriam (canon shot rule), yang
pada praktiknya adalah tiga mil laut.