Anda di halaman 1dari 5

Teori

Komunikasi merupakan faktor penting dalam suatu organisasi karena setiap


organisasi harus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuannya.
Hubungan antara anggota organisasi direkatkan dengan komunikasi sehingga terbentuk
kebersamaan yang memungkinkan organisasi dapat menjalankan fungsinya. Dengan adanya
komunikasi yang baik, maka suatu organisasi dapat berjalan dengan lancar dan berhasil,
begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi maka suatu organisasi akan
berantakan. Menurut Katz & Kahn, komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang
merupakan satu-satunya cara memanajemen aktivitas dalam suatu organisasi. Tidak ada
kelompok yang dapat eksis tanpa komunikasi karena hanya lewat pentransferan makna dari
satu orang ke orang lain maka informasi dan gagasan dapat dihantarkan.
Komunikasi internal merupakan komunikasi yang berlangsung di dalam suatu
organisasi untuk menjalin hubungan baik antara pemimpin perusahaan dengan para karyawan
sehingga memungkinkan tercapainya sinergi kerja. Komunikasi internal merupakan bagian
yang penting dalam kehidupan kerja karena komunikasi yang kurang baik dapat berdampak
luas terhadap organisasi. Sebaiknya komunikasi yang baik dapat saling meningkatkan
pengertian, kerja sama, dan juga kepuasan kerja sehingga karyawan mengetahui tanggung
jawab dan wewenangnya. Untuk kasus-kasus yang terjadi seperti perselisihan antara
karyawan dengan manajemen, mangkir kerja, motivasi rendah, tidak disiplin, dan lain
sebagainya menunjukkan bahwa perlunya keahlian berkomunikasi untuk menyelesaikannya.
Komunikasi internal merupakan pertukaran gagasan diantara para administrator dan
karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran
gagasan secara horizontal dan vertikal di dalam perusahaan. Jenis-jenis komunikasi yaitu:
1. Downward Communication (Komunikasi ke bawah) yaitu komunikasi yang
berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan
pesan kepada bawahannya (dari atas ke bawah). Komunikasi ke bawah bertujuan
untuk memberikan instruksi kerja, menjelaskan mengapa suatu tugas perlu untuk
dilaksanakan, menyampaikan informasi mengenai peraturan yang berlaku, dan
memberikan informasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
2. Upward Communication (Komunikasi ke atas) yaitu komunikasi yang terjadi
ketika bawahan memberikan pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari
bawah ke atas ini adalah untuk meyampaikan informasi tentang pekerjaan atau tugas

yang sudah dilaksanakan, menyampaikan informasi tentang masalah pekerjaan yang


tidak dapat diselesaikan, menyampaikan saran-saran perbaikan, serta menyampaikan
keluhan-keluhan.
3. Horizontal Communication yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para
karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan setara. Fungsi dari komunikasi
horizontal adalah untuk memperbaiki koordinasi tugas, memecahkan masalah, saling
berbagi informasi, memecahkan konflik, dan membina hubungan melalui kegiatan
bersama.
4. Interline Communication yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi melewati
batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas
saluran ini karena biasanya tanggung jawab mereka berhubungan dengan jabatan
fungsional.
Case:
PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport McMoran
Copper & Gold Inc yang bergerak di bidang pertambangan (menambang, memproses, dan
melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak).
Perusahaan ini beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua,
Indonesia.
Salah satu masalah yang terjadi pada PT. Freeport Indonesia adalah adanya
komunikasi yang kurang baik. Perselisihan antara pekerja dengan pihak manajemen PT.
Freeport Indonesia pada bulan September 2011 akhirnya bermuara ke pengadilan.
Disidangkan di Pengadilan Hubungan Industrial Jakarta, kedua belah pihak akan berseteru
tentang pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Beberapa hal yang menjadi perdebatan
antara pekerja dengan perusahaan salah satunya adalah besaran kenaikan gaji. Saat ini, upah
pokok terendah di PT. Freeport Indonesia sebesar Rp. 3.300.000 per bulan atau AS$ 2,16 per
jam. Sedangkan total take home pay sekitar Rp. 8.000.000 per bulan termasuk bonus-bonus.
Awalnya, buruh menginginkan kenaikan upah hingga AS$ 35 per jam atau setara
dengan kenaikan 10 kali lipat lebih tinggi, tetapi hal itu ditolak oleh perusahaan. Aksi mogok
lalu mulai dilakukan sejak 15 September hingga 15 Oktober. Mogok terus diperpanjang
hingga 15 Desember. Pihak buruh sempat beberapa kali menurunkan tuntutannya menjadi
AS$ 17,5 per jam tetapi perusahaan masih keberatan dengan angka sebesar itu dan hanya
bersedia menaikkan upah sebesar 22 persen dari gaji saat ini atau menjadi sekitar AS$ 2,8 per

jam. Besar gaji yang diterima buruh PT. Freeport Indonesia saat ini tidak sebanding dengan
biaya hidup di Papua yang tinggi sekali. Upah yang didapat oleh pekerja tidak sesuai dengan
keuntungan yang didapat dari penghasilan ratusan ribu ton bijih emas, perak, dan tembaga
oleh PT Freeport Indonesia per tahunnya, apalagi sekarang harga tembaga, perak dan emas di
pasaran internasional semakin meningkat. Gaji buruh Freeport di Indonesia paling kecil
dibanding gaji buruh Freeport di negara lain. Pihak manajemen melalui kuasa hukumnya di
persidangan memohon kepada Majelis Hakim agar mempercepat persidangan. Tujuannya
untuk segera menyelesaikan perselisihan ini agar aksi mogok yang sudah berjalan lebih
kurang dua bulan ini dapat segera berakhir.
Kaitan Case dengan Teori
Dilihat dari kasus diatas, ternyata komunikasi internal mengambil peranan penting karena
dapat mempengaruhi eksistensi dari suatu organisasi. Penjelasan tersebut memperkuat alasan
bahwa kasus PT. Freeport Indonesia di Papua terjadi karena kurangnya ikatan antara setiap
karyawan PT. Freeport Indonesia yaitu hubungan antara atasan dengan bawahan. Jika ada
hubungan antara atasan dengan para pekerja yang direkatkan dengan komunikasi maka akan
terbentuk kebersamaan yang memungkinkan organisasi dapat menjalankan fungsinya. Tetapi
jika dilihat dalam kasus, PT. Freeport Indonesia hanya mementingkan hasil kerja yang baik
dan penghasilan yang tinggi tanpa mementingkan kesejahteraan karyawan buruh. Seharusnya
dalam suatu organisasi ada proses komunikasi yang efektif seperti downward communication
(atas ke bawah) dan upward communication (bawah ke atas), tetapi kesalahan yang terjadi
pada perusahaan PT Freeport Indonesia adalah tidak menerapkan Manajemen George Term
dimana organisasi tidak akan bergerak kalau hanya mengandalkan satu bagian saja tetapi
harus bekerja sama terhadap bagian-bagian lainnya bahkan sampai bagian terkecilpun.
Perusahaan ini kurang mementingkan buruh yang ada baik dalam pemberian upah yang
selayaknya sehingga menimbulkan aksi demo para buruh. Jika dilihat secara keseluruhan,
dari seluruh perusahaan Freeport yang ada, gaji yang terendah adalah di Indonesia. Antara
tenaga yang dikeluarkan oleh buruh, penghasilan yang didapat oleh perusahaan dan gaji yang
didapat oleh buruh kurang seimbang.

Saran:

Kasus PT. Freeport diatas hendaknya dapat diselesaikan secara baik di internal perusahaan.
Komunikasi internal dapat dilakukan secara langsung (lisan) maupun tidak langsung.
Komunikasi internal sebaiknya dilaksanakan dengan berbagai metode untuk menjamin
sampai dan dipahaminya informasi tersebut kepada seluruh karyawan. Komunikasi yang
efektif akan membantu organisasi untuk: memotivasi pekerjaan, mencapai hasil sesuai
rencana, menjelaskan kebijakan lingkungan dan SML organisasi, dan hubungan keduanya,
memastikan pemahaman peran dan tanggungjawab, memaparkan komitmen manajemen,
memantau dan mengevaluasi kinerja; dan mengidentifikasi potensi peningkatan sistem.
Komunikasi internal yang efektif membutuhkan mekanisme untuk mengalirkan arus
informasi dari atas-bawah, bawah-atas, dan horizontal. Mengingat karyawan berada pada
garis terdepan, mereka dapat menjadi sumber informasi, ide, dan isu yang terbaik.
komunikasi internal sebaiknya diusahakan komunikasi 2 (dua) arah, informasi sebaiknya
dijelaskan dengan tepat dan dapat dimengerti, informasi sebaiknya dapat diverifikasi,
organisasi sebaiknya menyajikan gambaran kinerja dengan teliti, informasi sebaiknya
disajikan dalam bentuk yang konsisten (misalnya satuan pengukuran yang sama untuk
kepentingan pembandingan dari waktu ke waktu).

Kesimpulan:
Bagi karyawan PT. Freepot Indonesia harus dapat berkomunikasi dengan perusahaan
(manajemen) dengan cara yang baik dan benar sehingga tidak merugikan perusahaan dan
pihak pemilik Freeport selayaknya menanggapi demo buruh dan lebih memperhatikan atau
mempertimbangkan tuntutan kenaikan gaji karena berdasarkan kebutuhan biaya hidup yang
tinggi di papua. Jika tidak diseimbangkan antara pendapatan dan pemasukan akan
menurunkan motivasi bekerja, seperti yang dikatakan Claude S. George mengenai teori
motivasi, dalam teori ini dikatakan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan yang
berhubungan dengan tempat dan suasana di lingkungan bekerjanya, yaitu : upah yang layak,
kesempatan untuk maju,pengakuan sebagai individu, keamanan bekerja, tempat kerja yang
baik, penerimaan oleh kelompok, perlakuan yang wajar, pengakuan atas prestasi.
Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa pihak manajemen wajib menciptakan
komunikasi internal yang baik karena langsung menyangkut kepentingan-kepentingan yang
mendasar dari pihak manajemen sendiri. Manajemen harus menyadari bahwa karyawan
merupakan ujung tombak dan sekaligus representasi dari kebijakan manajemen/organisasi.
Baik

buruknya

kebijakan

dan

atau manajemen dapat dilihat dari kinerja karyawan.

Komunikasi internal yang baik akan meningkatkan produktivitas. Hal itu tercipta bukan

hanya karena seluruh karyawan bekerja lebih keras, akan tetapi yang lebih penting dari
itu, karena mereka bekerja lebih sungguh-sungguh, lebih ikhlas, lebih bersemangat,
lebih terampil dan lebih efisien.
Menjaga Citra Perusahaan PT Freeport adalah tugas bersama baik karyawan
maupun manajemen PT Freeport, Oleh karena itu apabila ada hal-hal yang kurang berkenan
baik dari manajemen maupun dari karyawan hendaknya dikomunikasikan dengan baik
sehingga tujuan bersama dan tujuan perusahaan tercapai.