Anda di halaman 1dari 25

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN PADA ZAMAN HINDU BUDHA DI INDONESIA

A. Pengantar
Deskripsi tentang artikel disini membahas tentang pendidikan pada zaman Hindu dan Budha,
dimana waktu zaman Hindu dan Budha tersebut perkembangan pendidikannya melalui
penyebaran agama. Sebelum penjajahan Belanda, bumi Nusantara telah dikenal di dunia sebagai
pusat pendidikan, pengajaran, dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada masa
kerajaan Hindu dan Budha yang dalam perkembangan selanjutnya pendidikan dipengaruhi oleh
ajaran agama Islam. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan
masyarakat. Pendidikan sebagai sarana sosialisasi merupakan kegiatan manusia yang melekat
dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian usia pendidikan hampir dipastikan sama tuanya
dengan manusia itu sendiri. Perjalanan perkembangan pendidikan sangat panjang dari mulai
sebelum kemerdekaan dapat ditelusuri sejak zaman Hindu dan Budha pada abad ke-5. Pada masa
pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha, pendidikan dipengaruhi
oleh ajaran kedua agama tersebut sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat pada saat itu.
Pendidikan dari zaman ke zaman senantiasa sudah memperlihatkan terjadinya pergeseran
pandangan masyarakat terhadap pendidikan pada zamannya masing-masing.
B. Perkembangan Pendidikan pada Zaman Hindu dan Budha
Menurut teori Van Leur, yang oleh banyak ahli dapat diterima, ditegaskan bahwa pada abadabad permulaan terjadilah hubungan perdagangan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang
Indonesia. Faktor-faktor yang memungkinkan berkembangnya Peradaban Hindu Budha
diantaranya sebagai berikut :
1. Faktor Politik
Terjadi peperangan antara kerajaan India bagian Utara dengan kerajaan India bagian Selatan.
Bangsa Aria dari Utara mendesak kerajaan dan penduduk Selatan, sehingga penduduk di Selatan
lari mencari tempat-tempat baru, dan ada sampai ke Indonesia. Oleh karena itu peradaban yang
masuk ke Indonesia Nusantara dipengaruhi oleh bangsa India dari bagian Selatan.
2. Faktor Ekonomis atau Geografis
Indonesia terletak antara India dan dataran Tiongkok, dimana pada waktu itu telah terjadi
perdagangan antar India dan Tiongkok melalui jalur laut. Akibatnya banyak orang India dan
Tiongkok bergaul dengan bangsa Indonesia, dari mulai perdagangan atau perniagaan sampai
terjadi koloni yang berdatangan dari India dan Tiongkok.
3. Faktor Kultural
Tingkat peradaban bangsa India lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk asli di Nusantara.
Mereka sudah mengenal sistem pemerintahan yang teratur dalam bentuk kerajaan, mereka juga
telah mengenal tulisan dan karya sastra yang tinggi. Fakta sejarah membuktikan dengan
ditemukannya prasasti batu bertulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang

menjelaskan tentang adanya kerajaan tertua. Di Kalimantan yaitu di Kutai abad ke-5 Masehi dan
Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Perkembangan pendidikan pada zaman ini, sudah mulai menampakkan suatu gerakan
pendidikan dengan misi penyebaran ajaran agama dan cara hidup yang lebih universal
(keseluruhan) dibandingkan dengan pendidikan sebelumnya. Pendidikan masa Hindu-Budha di
Indonesia dimulai sejak pengaruh Hindu-Budha datang ke Indonesia. Perkembangan agama
Hindu Budha di Indonesia membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebenarnya masyarakat indonesia telah memiliki kemampuan dasar yang patut dibanggakan
sebelum masuknya Hindu dan Budha. Setelah Hindu dan Budha berkembang di Indonesia
kemampuan masyarakat Indonesia makin berkembang karena berakulturasi dan berinteraksi
dengan tradisi Hindu dan Budha.
Di daerah Kalimantan (Kutai) dan Jawa Barat (Tarumanegara) ditemukan prasasti adanya
kebudayaan dan peradaban Hindu tertua pada abad ke-5. Para cendekiawan, ulama-biarawan,
musafir dan peziarah Budha dalam perjalanannya ke India, singgah di Indonesia untuk
mengadakan studi pendahuluan dan persiapan lainnya. Negara India merupakan tanah suci dan
merupakan sumber inspirasi spiritual, ilmu pengetahuan dan kesenian bagi pemeluk agama
Budha. Agama Hindu di India terbagi dua golongan besar yaitu Brahmanisme dan Syiwaisme.
Hinduisme yang datang ke Indonesia adalah Syiwaisme, yang pertama kali dibawa oleh seorang
Brahmana yang bernama Agastya. Syiwaisme berpandangan bahwa :
Syiwa adalah dewa yang paling berkuasa.
Syiwa adalah penncipta dan perusak alam, segala sesuatu bersumber pada Syiwa dan kembali
kepada Syiwa.
Manusia hidup dalam rangkaian reinkarnasi dan merupakan suatu samsara (penderitaan), yang
ditentukan oleh perbuatan manusia sebelumnya, jadi berlaku hukum karma.
Tujuan hidup manusia ialah mencapai moksa, suatu keadaan dimana manusia terlepas dari
samsara, manusia hidup dalam keabadian yang menyatu dengan Syiwa.
Agama Budha merupakan agama yang disebarkan oleh Sidharta Gautama di India yang
kemudian terpecah menjadi dua aliran yaitu Mahayana dan Hinayana. Yang berkembang di
Indonesia ialah bangsa Hinayana. Agama ini berkembang pada masa kerajaan Sriwijaya di
Sumatera dan pada zaman Wangsa Syailendra di Pulau Jawa.
Menurut ajaran agama Budha manusia hidup dalam penderitaan karena nafsu duniawi.
Manusia dalam hidup ini berusaha untuk mengusir penderitaan, mencari kebahagiaan yang abadi
yaitu untuk mencapai nirwana. Adapaun langkah-langkah untuk mencapai nirwana, manusia
harus berperilaku benar diantaranya sebagai berikut :
Berpandanagan yang benar.
Mengambil keputusan yang benar.
Berkata yang benar.
Berkehidupan yang benar.
Berdayaupaya yang benar.
Melakukan meditasi yang benar.
Konsentrasi kepada hak-hak yang benar.

Meskipun Hinduisme dan Budhisme merupakan agama yang berbeda, namun di Indonesia
tampak terdapat kecenderungan sinkretisme yaitu keyakinan untuk mempersatukan figur Syiwa
dan Budha sebagai satu sumber dari Ynag Maha Tinggi. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika
yang berarti berbeda-beda tapi satu jua adalah perwujudan dari keyakinan tersebut. dalam hal ini,
Budha dan Syiwa adalah dewa yang dapat diperbedakan (bhinna) tetapi dewa itu (ika) hanya satu
(tungal). Kalimat yang tadi adalah salah satu bait dari syair Sutasoma karya Empu Tantular pada
zaman Majapahit. Sehingga kebudayaan Hindu telah membaur dengan unsur-unsur Indonesia
asli dan memberikan ciri serta coraknya yang khas, sampai jatuhnya kerajaan Hindu terakhir di
Indonesia yaitu Majapahit akan masih berkembang dalam hal pendidikan ilmu pengetahuan,
khususnya dibidang sastra, bahasa, ilmu pemerintahan, tata Negara dan hukum. Kerajaankerajaan seperti Kalingga, Mataram, Kediri, Singasari, dan Majapahit akan melahirkan para
Empu, Pujangga yang menghasilkan karya-karya seni yang bermutu tinggi. Selain karya seni
pahat dan seni bangunan dalam arsitekstur yang bernilai tinggi juga ditemukan beberapa karya
ilmiah dalam bidang filsafat, sastra dan bahasa.
C. Pendidikan Hindu Budha
Syiwaisme yang berkembang di Indonesia berbeda dengan India yanga sangat bertentangan
dan hidup bermusuhan dengan Budhisme. Di Indonesia Syiwaisme dan Budhisme hidup dan
tumbuh berdampingan, walaupun terjadi penumpasan Wangsa Syailendra yang beragama Budha
oleh Wangsa Sanjaya yang beragaman Hindu, namun dimasyarakat biasa tidak nampak
pertentangan tersebut, bahkan mungkin dapat dikatakan telah terjadi sinkretisme antara
Hinduisme, Budhisme dan kepercayaan animism dan dinamisme, suatu keyakinan untuk
menyatukan Syiwa, Budha, dan arwah-arwah nenek moyang sebagai suatu sumber dan amaha
tinggi. Pendidikan formal ini diselenggarakan oleh kerajaan-kerajaan Indonesia pada saat itu.
Pendidikan pada zaman Hindu masih terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana,
Ksatria), belum menjangkau golongan mayoritas kasta Waisya dan Sudra apalagi kasta Paria.
Namun perlu diketahui bahwa penggolongan kata di Indonesia tidak begitu ketat seperti halnya
dengan di India yang menjadi asalnya agama Hindu. Pendidikan zaman ini lebih tepat dikatakan
sebagai perguruandimana para murid berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga
pendidikan dikenal dengan nama pesantren, jadi berbeda sekali dengan sekolah yang kita kenal
sekarang ini.
Sistem perguruan yang dikenal dengan pesantren itu berkembang terus sampai pada pengaruh
Budha, zaman Islam sampai sekarang (pesantren tradisional). Pada zaman Budha pendidikan
berkembang pada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang sudah terdapat perguruan
tinggi Budha. Dimana para murid-muridnya banyak berasal dari Indocina, Jepang dan Tiongkok.
Guru yang terkenal pada saat itu ialah Dharmapala. Perguruan-perguruan Budha tersebut
mungkin menyebar keseluruh kekuasaan Sriwijaya. Mungkin saja candi-candi Borobudur,
Menndut, dana Kalasan merupakan pusat pendidikan agama Budha.
Kalau kita memperjhatikan peninggalan-peninggalan sejarah seperti candi-candi, patungpatung maka sudah pasti para santri atau murid belajar tentang ilmu membangun dan seni pahat.
Karena pembuatan candi memerlukan kemampuan teknik dan seni yang tinggi. Dmeikian juga
dengan memahat relief-relief candi dibimbing oleh suatu alur cerita yang menceritakan
kehidupan sang Budha atau para dewa, bisa juga cerita tentang Ramayana. Karya hasil sastra

a.

1.

2.
3.

b.
1.
2.
3.

4.

c.

1.

yang ditulis para pujangga banyak yang bermutu tinggi antara lain : Pararaton, Negara
Kertagama, arjuna Wiwaha, dan Brata Yudha. Para pujangga yang terkenal diantaranya sebagai
berikut : Mpu Kawa, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Prapanca.
Dalam perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu sperti Singasari, Majapahit dan kerajaan
Budha Sriwijaya, tidak terdapat uraian yang jelas mengenai pendidikan. Namun sudah apsti
bahwa pada zaman tersebut sudah berkembang pendidikan dengan lembaga-lembaga yang
dengan sengaja dibuat secara formal. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berbentuk
perguruan yang lebih dikenal dnegan sebutan pesantren. Pada saat itu mutu pendidikan cukup
memuaskan berbagai pihak yang bersangkutan.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan identik dengan tujuan hidup yaitu manusia hidup untuk mencapaimoksa bagi
agama Hindu, dan manusia mencapai nirwana bagi agama Budha. Karena itu secara umum
tujuan akhir adalah mencapai moksa atau nirwana. Secara khusus mungkin dapat dibedakan
sebagai berikut :
Bagi kaum Brahmana (kasta tertinggi), pendidikan bertujuan untuk menguasai kitab suci ( Weda
untuk Hindu dan Tripitaka untuk Budha) sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan yang
universal.
Bagi golongan Ksatria sebagai raja yang berkuasa, pendidikan bertujuan untuk memiliki
pengetahuan teoritis yang berkaitan tentang pengaturan pemerintahan (kerajaan).
Bagi rakyat biasa, pendidikan bertujuan agar warga masyarakat memiliki keterampilan yang
dibutuhkan untuk hidup, sesuai dengan pekerjaan yang secara turun temurun. Misalnya
keterampilan bercocok tanam, pelayaran, perdagangan, seni pahat dan sebagainya.
Sifat Pendidikan
Beberapa sifat dan ciri pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah :
Informal, karena pendidikan masih bersatu dengan proses kehidupan.
Berpusat pada religi, karena kehidupan atas dasar kepercayaan dan keagamaan menguasai
segala-galanya.
Penghormatan yang tinggi terhadap guru, karena gurunya adalah kaum Brahmana ( kasta
tertinggi dalam masyarakat Hindu) dan tidak memperoleh imbalan gaji. Mereka menjadi guru
semata-mata karena kewajiban sebagai Pandita atau Brahmana yang didasarkan pada perasaan
tulus, mengabdi tanpa pamrih ( tanpa memikirkan imbalan dunia ).
Aristokratis artinya pendidikan hanya diikuti oleh segolongan masyarakat saja yaitu golongan
Brahmana, pendeta dan golongan Ksatria dan golongan keturunan raja-raja. Dalam agama kita
kenal penggolongan berdasarkan kasta, namun di Indonesia perbedaan tidak begitu tajam dan
menonjol. Yang menonjol adalah antara golongan raja-raja dan rakyat jelata.
Jenis-jenis Pendidikan
Beberapa jenis pendidikan pada zaman Hindu Budha dapat dibedakan menjadi beberapa
golongan diantaranya sebagai berikut :
Pendidikan Intelektual
Kegiatan pendidikan ini dikhususkan untuk menguasai kitab-kitab suci. Veda dipelajari oleh
kaum Brahmana, dan kitab Tripitaka dipelajari oleh penganut Budha. Pada waktu itu hanya
golongan Brahmanalah yang berhak mempelajari kitab suci Veda. Pendidikan intelektual juga

2.

3.

d.

1.

2.

3.

4.

berkaitan dengan penguasaan doa dan mantera, yang berkaitan dengan penguasaan alam semesta,
pengabdian kepada Syiwa dan Budha Gautama.
Pendidikan Kesatriaan
Kegiatan pendidikan ini dilakukan untuk mendidik kaum bangsawan keluarga istana kerajaan,
untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan mengatur pemerintahan
(kerajaan), mengatur Negara, dan belajar untuk berperang.
Pendidikan Keterampilan
Pendidikan keterampilan dan pendidikan kesatriaan merupakan pendidikan kegiatan yang
deprogram secara tertib(dalam arti pendidikan bagi kaum Brahmana dan bangsawan (keluarga
raja)) sudah berjalan dengan teratur. Sedangkan pendidikan keterampilan yang diajukan bagi
masyarakat jelata berlangsung secara informal yang berlangsung dalam keluarga sesuai dengan
keterampilan yang dimiliki orang tuanya. Seorang pemahat akan diwariskan keterampilannya
kepada anak-anaknya begitu pula dengan para petani, nelayan dan sebagainya.
Lembaga Pendidikan
Pendidikan pada waktu itu masih bersifat informal, belum ada pendidikan formal dalam bentuk
sekolah seperti yang kita kenal sekarang ini. Namun dengan demikian ada beberapa tempat yang
biasa dijadikan sebagai lembaga pendidikan.
Padepokan atau Pecatrikan
Merupakan tempat berkumpulnya para catrik, yaitu murid-murid yang belajar kepada guru
disuatu tempat, sehingga disebut pecatrikan dan dengan nama lain biasa juga disebut padepokan.
Dari kata-kata catrik dan pecatrikan itulah muncul kata santri dan pesantren. Jadi lembaga
pesantren sudah dikenal keberadaannya sejak zaman Hindu Budha. Dipesantren dan atau
padepokan itulah berkumpul para murid, khususnya keturunan Brahmana utnuk mempelajari
segala macam pengetahuan yang bersumber dari kitab suci ( Veda dan Upanishad bagi Hindu
serta Tripitaka bagi Budha). Dicandi Borobudur terlihat suatu lukisan yang menggambarkan
suatu proses pendidikan seperti yang berlaku sekarang ini. Ditengah-tengah pendopo besar
seorang Brahmana atau pendeta duduk dilingkari oleh murid-muridnya, semuanya membawa
buku, dan mereka belajar membaca dan menulis. Guru tidak menerima gaji namun dijamin oleh
murid-muridnya untuk hidup. Yang menjadi dasar pendidikan adalah agama Budha dan Hindu,
seperti dapat kita lihat relief-relief yang tertulis dicandi Borobudur ( Budha) dan candi
Prambanan (Hindu).
Pura
Merupakan tempat yang berada di istana. Tempat ini diperuntukkan bagi putra-putri raja belajar.
Mereka diberi pelajaran yang berkaitan dengan hidup sopan santun sebagai keturunan raja yang
berbeda dengan masyarakat biasa. Mereka belajar tentang mengatur Negara, ilmu bela diri baik
secara fisik maupun secara batiniah.
Pertapaan
Karena orang yang bertapa dianggap telah memiliki pengetahuan kebatinan yang sangat tinggi.
Oleh karenaitu para pertapa menjadi tempat bertanya tentang segala hal terutama berkaitan
dengan hal-hal yang gaib.
Keluarga

Pada waktu itu pendidikan keluarga juga ada sampai sekarang juga tapi hanya pendidikan
sebagai informal. Dalam keluargalah akan terjadi partisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan
orang tua yang dilakukan anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
e. Ilmu Pengetahuan dan Karya Sastra
Pada masa kejayaan kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia ini telah terjadi perkembangan
ilmu pengetahuan dan karya seni yang sangat tinggi. Seperti telah dikemukakan pada kerajaan
Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan Budha yang terbesar di Indonesia, pada saat iru telah
berdiri lembaga pendidikan setaraf perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut dapat
menampung berates-ratus mahasiswa biarawan Budha dan adapat belajar dengan tenang, mereka
tinggal di asrama-asrama khusus.
Sistem dan metode sesuai yang ada di India, sehingga biarawan Cina dapat belajar di
sriwijaya sebelum melanjutkan belajar di India. Di Sriwijaya terkenal mahaguru yang berasal
dari India yaitu Dharmapala dan mengajarkan agama Budha Mahayana. Dipulau Jawa pada
waktu Mataram diperintah oleh seorang ratu terdapat sekolah agama Budha yang dipimpin oleh
orang Jawa yaitu Janadabra.
Pada sekitar abad ke-14 sampai kira-kira abad ke-16 menjelang jatuhnya kerajaan Hindu di
Indonesia, kegiatan pendidikan tidak lagi dilakukan secara meluas seperti sebelumnya tetapi
dilakukan oleh para guru kepada siswanya yang jumlahnya terbatas dalam suatu padepokan.
Pendidikan pada zaman tersebut, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi
pada umumnya dikendalikan oleh para pemuka agama. Namun demikian pendidikan dan
pengajaran tidak dilaksanakan secara formal, sehingga seorang siswa yang belum puas akan ilmu
yang diperolehnya dapat mencari dan pindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya.
Kelompok bangsawan, ksatria dan kelompok elit lainnya mengirimkan anak-anaknya kepada
guru untuk dididik atau guru diundang untuk datang mengajar anak-anak mereka.
KESIMPULAN
Bahwa pendidikan pada zaman Hindu dan Budha ini melalui penyebaran agama yang pada
waktu dulu belum ada sekolah-sekolah yang kita lihat sekarang ini. Pendidikan dulu dengan
sekarang sangatlah berbeda sekali. Dulu para biarawan maupun ulama menjadi guru itu tanpa di
kasih imbalan dunawi. Mereka juga mendapatkan pendidikan dari keluarganya juga, kalau
keluarganya ahli petani maka anaknya akan belajar dari seorang ayahnya dan ilmu yang di
perolehnya juga hanya untuk anaknya saja. Mereka belajar keterampilan, kesatriaan dan
sebagainya. Anaknya seorang raja mempunyai tempat tersendiri untuk belajar yang disebut
dengan Pura, sejauh ini putra-putrinya belajar tentang ilmu tata kenegaraan, sopan santun dan
ilmu bela diri. Materi yang diajarkan bukan hanya bersifat umum tapi mempelajari ilmu-ilmu
yang bersifat spiritual religious juga.
Murid juga dapat berpindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya untuk belajar. Kini
pendidikan semakin tua seperti usia manusia. Khusus untuk materi keterampilan ini biasannya
diselenggarakan secara turun temurun melalui jalur kastanya masing-masing seperti
keterampilan bermain pedang, berperang, berpanah, menunggang kuda dan seni pahat.
Menjelang jatuhnya kerajaan Hindu, pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dipegang oleh
kaum ulama.

http://amankeun.blogspot.com/2012/02/perkembangan-pendidikan-padazaman.html

endidikan sebagai sarana sosialisasi merupakan kegiatan manusia yang melekat dalam kehidupan

masyarakat. Dengan demikian usia pendidikan hampir dipastikan sama tuanya dengan manusia itu sendiri.
Perjalanan sepanjang perkembangan pendidikan di Indonesia dapat ditelusuri sejak zaman Hindu dan
Budha pada abad ke-5 masehi. Dari perkembangan sejak zaman itu telah diperoleh gambaran bahwa
pendidikan telah berlangsung sesuai dengan tuntutan zaman yang berbeda-beda dengan penyesuaian pada
ideologi, tujuan serta sistem pelaksanaannya. Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan hindu
dan budha, pendidikan dipengaruhi ajaran agama tersebut. Demikian pula pada masa awal islam masuk di
nusantara, pendidikan dan pengajaran pun mengalami penyesuaian dengan kerangka penyebaran agama
islam. Ketika zaman Hindu dan Budha, perkembangan pendidikan disesuaikan dengan pusat pertumbuhan
masyarakat Hindu dan Budha yang berkembang bersama kerajaan besar yang ada di Jawa dan Sumatera.
Kemudian kedua agama yaitu hindu-budha tersebut berkembang ke berbagai negara di Asia Timur dan Asia
Tenggara termasuk ke Indonesia yang akhirnya mempengaruhi kebudayaan Indonesia begitu juga dengan
pendidikan yang diajarkan agama Hindu-Budha.
Pembahasan sejarah Hindu-Budha di Indonesia akrab diawali dari kemunculan beberapa kerajaan di abad ke5 M, antara lain: Kerajaan Hindu di Kutai dengan rajanya Mulawarman, putra Aswawarman atau cucu
Kudungga. Di Jawa Barat muncul Kerajaan Hindu Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman. Pada masa
itu, eksistensi pulau Jawa telah disebut Ptolomeus (pengembara asal Alexandria Yunani) dalam catatannya
dengan sebutan Yabadiou dan demikian pula dalam epik Ramayana eksistensinya dinyatakan dengan sebutan
Yawadwipa. Ptolomeus juga sempat menyebut tentang Barousai (merujuk pada pantai barat Sumatera Utara;
Sriwijaya). Fa-Hien (pengembara asal China) dalam perjalanannya dari India singgah di Ye-po-ti (Jawa) yang
menurutnya telah banyak para brahmana (Hindu) tinggal di sana. Maka tidak berlebihan jika Lee Kam Hing
kemudian menyatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan telah ada di Indonesia sejak periode permulaan.
Pada masa itu, pendidikan lekat terkait dengan agama.
Menurut catatan I-Tsing, seorang peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia
mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan
beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga
seni dan ilmu pengetahuan. Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Tsing
menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India). Bahkan diantara
para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi internasional, seperti Sakyakirti dan
Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama Djnanabhadra. Pada masa itu, para peziarah Budha
asal China yang hendak ke tanah suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk
melakukan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.
Sejarah agama Hindu-Budha di Indonesia berbeda dengan sejarahnya di India. Disini, kedua agama tersebut
dapat tumbuh berdampingan dan harmonis. Bahkan ada kecenderungan syncretism antara keduanya dengan
upaya memadukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber yang Maha Tinggi. Sebagaimana tercermin
dari satu bait syair Sotasoma karya Mpu Tantular pada zaman Majapahit Bhinneka Tunggal Ika, yakni dewadewa yang ada dapat dibedakan (bhinna), tetapi itu (ika) sejatinya adalah satu (tunggal). Sekalipun demikian,
patut diketahui sempat adanya sejarah konflik politik antar kerajaan yang berbeda agama pada masa-masa
permulaannya.

Gambar : Peninggalan Hindu Budha

Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan
pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang
terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra,
ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni
bangunan, seni rupa dan lain-lain. Pola pendidikannya mengambil model asrama khusus, dengan fasilitas
belajar seperti ruang diskusi dan seminar. Dalam perkembangannya, kebudayaan Hindu-Budha membaur
dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri serta coraknya yang khas. Sekalipun nanti Majapahit
sebagai kerajaan Hindu terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu pengetahuannya tetap berkembang
khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata negara dan hukum. Beberapa karya
intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain: Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019),
Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri, 1157), Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125),
Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri, 1125), Negara Kertagama
karya Mpu Prapanca (Majapahit, 1331-1389), Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit, ibid), Sotasoma
karya

Mpu

Tantular,

dan

Pararaton

(Epik

sejak

berdirinya

Kediri

hingga

Majapahit).

Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal,

tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang
bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan
hidup

mereka

sehari-hari.

Jadi

secara

umum

dapatlah

disimpulkan

bahwa:

1. Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi

2.

Bersifat

tidak

formal,

dimana

murid

dapat

berpindah

dari

satu

guru

ke

guru

yang

lain;

3. Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga
yang

mengutus

anak-anaknya

yang

pergi

belajar

ke

guru-guru

tertentu;

4. Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masingmasing.

http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/11/pendidikan-indonesia-masa-hindubudha.html

Pendidikan Zaman
Syailendra, Sriwijaya dan
Majapahit Yang
Menjadikan Mereka
Super Power

23

SelasaAPR 2013

POSTED BY DJADJA IN FILOSOFI, ILMIAH, PEMIKIRAN, PENDIDIK,PENDIDIKAN, SEJARAH, TOKOH


4 KOMENTAR

Tag
Borobudur, Buddha,India, Indonesia,Majapahit,Nagarakretagama,Pendidikan, Peradaban,Samaratungga, sejarah,Sriwijaya
, Syailendra

Rate This

Syailendra
Wangsa Syailendra adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya,
pulau Sumatera; dan di Mda (Kerajaan Medang), Jawa Tengah sejak tahun 752. Sebagian besar rajarajanya adalah penganut dan pelindung agamaBuddha Mahayana.
Di Indonesia nama ailendravamsa dijumpai pertama kali di dalam prasasti Kalasan dari tahun 778
Masehi (ailendragurubhis; ailendrawaatilakasya; ailendrarajagurubhis). Kemudian nama itu
ditemukan di dalam prasasti Kelurak dari tahun 782 Masehi (ailendrawaatilakena), dalam prasasti
Abhayagiriwihara dari tahun 792 Masehi (dharmmatugadewasyaailendra), prasasti Sojomerto dari
sekitar tahun 700 Masehi (selendranamah) dan prasasti Kayumwuan dari tahun 824 Masehi
(ailendrawaatilaka). Di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam prasasti Ligor dari tahun 775
Masehi dan prasasti Nalanda.
Perkembangan pendidikan pada zaman Syailendra ini, sudah mulai menampakkan suatu gerakan
pendidikan dengan misi penyebaran ajaran agama dan cara hidup yang lebih universal (keseluruhan)
dibandingkan dengan pendidikan sebelumnya. Pendidikan masa itu di Indonesia dimulai sejak
pengaruh kebudayaan datang ke Indonesia. Perkembangan agama Indonesia membawa perubahan
besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebenarnya masyarakat indonesia telah memiliki
kemampuan dasar yang patut dibanggakan sebelum masuknya budaya luar. Setelah budaya asli
berkembang di Indonesia kemampuan masyarakat Indonesia makin berkembang karena berakulturasi
dan berinteraksi dengan tradisi dan budaya India.

Borobudur, sebuah candi megah yang berdiri di sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat
daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah, diperkirakan dibangun sekitar tahun 824
Masehi oleh Raja Mataram Kuno bernama Samaratungga dari dinasti Syailendra. Candi yang terbesar
di dunia dengan tinggi 34,5 meter, luas 15.129 m2 terlihat begitu impresif dan berat 1,3 juta ton itu
berdiri kokoh tanpa ada satu paku pun yang tertancap di tubuh-nya.
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi
Borobudur. Salah satu misteri yang masih belum terungkap sampai sekarang adalah teknologi
pembangunan candi Borobudur. Bagaimana membangun Borobudur tanpa menancapkan ratusan paku
untuk mengokohkan fondasinya? Seperti diketahui, struktur dan konstruksi candi Borobudur tidak
memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock seperti balok-balok Lego yang bisa
menempel tanpa lem.
Kecanggihan teknologi masa kini pun belum mampu mengungkap misteri ini. Berbagai penelitian para
arkeolog memunculkan berbagai teori tentang teknologi pembangunan candi. Beberapa waktu lalu, 3
orang peneliti muda Indonesia dari Bandung Fe Institut, mengungkapkan teori, bahwa pembangunan
Candi Borobudur menggunakan teknologi berbasis geometri fraktal.
Sriwijaya
Sriwijaya dikenal sebagai pusat studi agama Buddha dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Pengembara China, I Tsing, datang ke Sriwijaya dengan menumpang kapal dari Persia pada tahun 672
Masehi.
Dia mencatat, Sriwijaya saat itu telah menjadi kota dagang, kota pelajar, dengan penduduk dan raja
beragama Buddha. Sarjana China itu sempat tinggal enam bulan untuk belajar tata bahasa sanskerta.
Setelah berkunjung ke India, ia kemudian menetap selama sekitar tujuh tahun di bumi Sriwijaya.
Dengan jumlah pendeta lebih dari 1.000 orang, pendeta Buddha yang ingin ke India dianjurkan untuk
belajar setahun atau dua tahun terlebih dahulu di Sriwijaya.
Kebesaran Sriwijaya justru terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari
Nalanda, India, abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sriwijaya)
membuat sebuah biara. PrasastiRajaraja I tahun 1046 Masehi mengisahkan pula, Raja Kataha dan
Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan
biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana, India.
Peneliti

dari

Balai

Arkeologi Palembang,

Retno

Purwanti,

mengutip

prasasti

Karang

Tengah

menyebutkan, Damudawardani dan Samaratungga (penguasa Sriwijaya) ikut memberikan sumbangan


untuk membangun Candi Borobudur di Jawa Tengah, sekitar abad ke-8 Masehi. Ada juga keterangan
tertulis yang menyebutkan raja Sriwijaya membangun candi Buddha di Thailand.

Kalau ingin mencari candi bersama peninggalan Sriwijaya, sebaiknya datanglah ke Borobudur atau
Thailand. Candi- candi itu berdiri berkat kebijakan atau bantuan dari Raja Sriwijaya, papar Retno.
Kenapa Raja Sriwijaya tidak mendirikan candi di wilayahnya sendiri, misalnya di Palembang? Menurut
Retno, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berada di tepian sungai dan hutan lebat di
Sumatera. Karena tidak terdapat gunung berapi yang menyimpan batu, bangunan peribadatan, istana,
dan rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu atau bahan batu bata. Akibatnya, bangunan cepat rusak
hanya dalam hitungan paling lama 200 tahun.
Majapahit
Majapahit disebut-sebut sebagai sebuah kerajaan besar, menguasai seluruh wilayah yang sekarang
bernama Indonesia, bahkan kekuasaannya sampai ke beberapa wilayah manca; Semenanjung Tanah
Melayu, Singapura, Brunei.
Tercatat dalam Nagarakretagama, Pararaton dan berita dari Cia zaman dinasti Ming bahwa, sejak
tahun 1331, wilayah Majapahit diperluas berkat penundukan Sadeng, di tepi Sungai Badadung dan
Keta di pantai utara, dekat Panarukan, seperti diberitakan dalam Nagarakretagama pupuh 48/2, 49/3
dan dalam Pararaton. Pada waktu itu, wilayah kerajaan meliputi seluruh Jawa Timur dan Pulau
Madura.
Pada masa ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan
pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana
yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi,
bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu
pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain. Pola pendidikannya mengambil
model

asrama

khusus,

dengan

fasilitas

belajar

seperti

ruang

diskusi

dan

seminar. Dalam

perkembangannya, kebudayaan ini membaur dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri
serta coraknya yang khas.
Sekalipun nanti Majapahit sebagai kerajaan Hindu terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu
pengetahuannya tetap berkembang khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata
negara dan hukum. Beberapa karya intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain: Arjuna
Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019), Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri, 1157), Hariwangsa
karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125), Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, Smaradhahana karya Mpu
Dharmaja

(Kediri,

1125),

Negara

Kertagama

karya

Mpu

Prapanca

(Majapahit,

1331-1389),

Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit, ibid), Sotasoma karya Mpu Tantular, dan Pararaton (Epik
sejak berdirinya Kediri hingga Majapahit).
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat
kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan

bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus bekerja
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi secara umum dapatlah disimpulkan
bahwa:
1.

Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi;

2.

Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;

3.

Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana


disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;

4.

Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya
masing-masing.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra,
semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik
(Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak
kejayaan Kemaharajaan Majapahit.
Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut
tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama
lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan
dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim dutadutanya ke Tiongkok.
Masa Pendidikan Islam Era Majapahit
Tidak ada bukti-bukti jelas untuk menggambarkan pendidikan Islam di Majapahit. Beberapa ilmuwan
meyakini bahwa cikal bakal pendidikann di Jawa adalah pesantren. Namun terdapat perbedaan dalam
mengidentifikasi kapan pesantren awal itu didirikan. Dalam Babad Tanah Djawi, dijelaskan bahwa di
Ampel telah mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam.
Zamarkasyi

Dofier

mengidentifikasi

pesantren

mulai

berkembang

pada

abad

ke-15.

Dofier

mengidentifikasi bahwa manuskrip-manuskrip keIslaman kebanyakan ditulis dengan tulisan dari


bahasa Jawa, baik yang isinya merupakan terjemahan karya asli dari bahasa Arab, maupun karya
ulasan. Berbeda dengan Manfred, ia meyakini bahwa pesantren telah ada pada pertengahan abad ke9. Ia mendasarkan bentuk Asrama yang mirip dengan pendidikan Budha. Namun ia tidak menjelaskan
lebih jauh bagaimana pesantren yang kemudian menjadi label khusus untuk orang yang menekuni
agama Islam itu berdiri.
Dari pemaparan tersebut dapat diidentifikasi bahwa kehadiran Pesantren lebih akhir dari kehidupan
Syekh Jumadil Kubro. Artinya masa Syekh Jumadil Kubro dalam kehidupan di Majapahit belum ada
istilah pesantren. Belum ada bangunan pesantren sebagai tempat belajar agama Islam. Jadi

pendidikan Islam di Masa Majaphit, bukan dalam bentuk pesantren. Kemungkinan besar pendidikan
Islam dalam bentuk yang sangat sederhana.
Isnoe lebih meyakini bahwa pengajaran Islam dilakukan di masjid-masjid. Karena masjid merupakan
tempat vital dikalangan umat Islam. Dimanapun ada komunitas Islam pasti akan berdiri sebuah
bangunan Masjid. Apalagi jika telah terbentuk komunitas baru, pasti pendirian Masjid merupakan
keharusan, selain sebagai tempat beribadah ia juga merupakan simbol akan keberadaan umat Islam.
Hal yang sama jika mengamati keberadaan komunitas muslim di pusat Kerajaan Majapahit dengan
terdapatnya makam Muslim di Tralaya, bukannya tidak mungkin bahwa di pusat Majapahit telah
dibangun Masjid.
Hal ini dikuatkan oleh Kidung sunda, teks jawa dari abad pertengahan menyebut istilah Masigit Agung,
mirip istilah Masjid Agung. Kata masigit agung disebutkan berkaitan dengan keberangkatan
rombongan Raja Sunda yang mengantar anak perempuannya untuk dipersunting oleh Raja Hayam
Wuruk dari Majapahit. Sesampai di bubat, dekat surabaya, Raja Sunda tidak menjumpai sambutan
kerajaan sebagaimana diharapkan. Kemudian raja sunda mengirim patihnya ke Majapahit untuk
menemui Gajah Mada. Dalam perjalanan Patih ke Majapahit, ia pertama kali tiba di Masigit Agung.
Dengan demikian, proses Islamisasi atau proses pengajaran Islam di Masa Majapahit kemungkinan
besar banyak dilakukan lewat Masjid. Jika sebuah pendidikan atau pengajaran dilakukan di Masjid
bentuk dari pengajarannya biasanya menggunakan bentuk halaqah-halaqah. Halaqah-halaqah
bentuk lingkaran, mirip orang berdiskusi dengan guru ditengah-tengah- sudah dilakukan di masamasa awal perkembangan Islam.

Sejak masa Nabi, Masjid berfungsi sebagai tempat sosialisasi,

tempat ibadah, tempat pengadilan dan lain sebagainya. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai
lembaga pendidikan.

http://pendidikpembebas.wordpress.com/2013/04/23/pendidikan-zaman-syailendrasriwijaya-dan-majapahit-yang-menjadikan-mereka-super-power/

PENDIDIKAN ABAD PERTENGAHAN DI


INDONESIA
Pendidikan merupakan sebuah proses transpormasi ilmu pengetahuan baik itu ilmu
alamiah, maupun ilmu akal, dari generasi yang lebih tahu kepada generasi selanjutnya yang
belum memiliki pengetahuan sebanyak generasi terdahulunya. Proses ini berlangsung dari zaman
prasejarah sampai abad modern saat ini. Mulai dari cara yang sederhana sampai kepada cara
yang kompleks seperti saat ini, mulai dari hanya berbagi pengalaman ketika berburu di depan api
unggun sampai kepada melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekarang ini. Semua itu
hampir berlangsung di seluruh dunia tidak hanya di Indonesia saja, itu merupakan proses

alamiah manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berbagi dalam segala aspek
kehidupannya.
Sebelum bermunculanya kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia
diperkirakan telah tumbuh dan berkembang pendidikan dalam fase-fase yang cuckup sederhana
dimana pada masa ini bangsa indonesia belumlah mengenal tulisan sehingga pendidikan
mungkin hanya melalui lisan saja. namun, fakta lain muncul karena banyak ditemukan gambargambar yang menggambarkan cerita tentang proses belajar tahap awal di Indonesia di dalam
goa-goa. Ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia telah mulai mengenal cara untuk melakukan
pendidikan meskipun hanya melalui gambar sederhana yang mereka gambar di dinding-dinding
goa.
Pada abad pertengahan di Indonesia tidak jauh beda dengan di Eropa baik Indonesia
maupun Eropa memiliki ciri yang sama dalam hal beberapa aspek diantaranya adalah mengenai
pendidikan maupun pemerintahan. Bila di Eropa pendidikan maupun pemerintahan kiblat
utamanya adalah gereja atau gerejasentris di Indonesia yang menjadi kiblatnya adalah agama
Budha, Hindu, dan ditutup oleh Islam, yang banyak mempengaruhi sistem hidup maupun
pemerintahan pada saat itu. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya memiliki
persamaan namun tak serupa yakni pada abad pertengahan baik di Eropa maupun Indonesia
sama-sama dipengaruhi oleh unsur agama yang dominan bila di Eropa agama kristen yang jadi
fokus maka di Indonesia agama Hindu, Budha, dan ditutup oleh Islam yang dominan.
Meskipun di Eropa pada saat itu mengalami masa yang lazim disebut dengan The Dark
Ages atau zaman kegalapan yang mana ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang dengan
maksimal ini terjadi karena monopoli ilmu oleh Gereja. Mengapa demikian, ini terjadi karean
semua manuskrif-manuskrif, catatan-catatan mengenai pengetahuan dikusai oleh Gereja dan
dikembangkan dogma bahwa barang siapa yang berusaha untuk belajar atau membaca buku
pengetahuan di perpustakaan dia akan mati. Sehingga masyarakat pun enggan untuk mengkaji
masalah keilmuan pada saat itu. Memang, ada masyarakat yang nekat tapi mereka semua
diketemukan meninggal baik itu ketika membaca maupun setelah membaca buku-buku di dalam
perpustakaan. Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia dimana pendidikan dapat
berkembang hingga ke Mancanegara sekalipun dan perkembangan pendidikan di Indonesia
sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan di Eropa yang masa kegelapan mungkin di
Indonesia bisa kita sebut sebagai masa Pencerahaan mengapa saya menyebutkan demikian
karena bangsa Indonesia pada saat itu mulai melek akan ilmu dan sadar betapa pentingnya ilmu
pengetahuan bagi kehidupan meskipun secara garis besar ilmu yang berkembang adalah ilmu
yang ruang lingkupnya mengenai agama.
Pendidikan pada abad pertengahan di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan kerajaankerajaan yang berkembang pada masa sejarah awal Indonesia. Pendidikan mulai berkembang
pada saat kerajaan-kerajaan di Indonesia menganut ajaran Hindu, Budha, maupun Islam.
Kita dapat mengambil contoh dari sisi kerajaan Budha di Indonesia adalah kerajaan
Sriwijaya dan Holling kedua kerajaan ini memiliki ciri yang sama yaitu sama-sama kerajaan
yang bercorak Budha dan memiliki guru yang terkenal hingga ke Mancanegara.
Ini terbukti dengan termahsurnya kerajaan Sriwijijaya ( abad ke-7 M) sebagai pusat ajaran
Budha di Asia Tenggara, bahkan Ptolomeus sempat menyebut tentang Borousai (merujuk pada
pantai barat Sumatera Utara atau Sriwijaya) ini membuktikan bahwa Sriwijaya telah terkenal
hingga ke daratan Eropa saat itu.

Tidak hanya kerajaan Hindu dan Budha saja yang berpengaruh dalam proses pendidikan di
Indonesia pada abad pertengahan namun kerajaan-kerajaan Islam pun turut andil dalam hal ini
perkembangan pendididkan abad pertengahan di Indonesia, bahkan lebih modern dan terstruktur
sebagai lembaga-lembaga pendidikan yang lebih resmi dibandingkan dengan masa-masa
pendidikan di kerajaan hindu maupun budha pada masa sebelum berdirinya kerajaan islam.
Seperti yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, yakni sebuah naskah yang
bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah ini dikatakan, bahwa sekitar
abad XV Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam, jauh sebelum Sarif Hidayatullah atau
Sunan Gunung Jati dilahirkan. Selain di Cirebon terdapat kerajaan-kerajaan Islam lain di
Indonesia yang memiliki struktur pendidikan yang lebih modern dibandingkan dengan kearajaan
Hindu maupun Budha di antaranya: Perlak, Samudra Pasai Merupakan kerajaan-kerajaan Islam
yang memiliki perhatian yang sangat tinggi dan maju dalam hal pendidikan baik itu agama
maupun sciencedan kerajaan Islam yang masuk kebabak pertengahan di Indonesia.
1. Masuknya Agama Hindu dan Budha di Nusantara
Pada awal abad Masehi, masyarakat Nusantara mulai menjalin hubungan dengan bangsabangsa di Asia, terutama India dan Cina. Orang-orang India datang ke Nusantara dalam jumlah
yang besar dan berhasil membangun pemukiman. Mereka terdiri dari kaum pedagang, pendeta,
dan kelompok lainya. Para pendeta datang ke Nusantara bersama-sama kaum pedagang. ketika
berada di Nusantara para pendeta Hindu dan Budha aktif menyebarkan agamanya. Bahkan, tidak
sedikit diantara mereka yang sengaja diundang penguasa Nusantara unutk menjalankan upacaraupacara resmi kerajaan. Misalnya, upacara pengangkatan raja sebagai kesatria.
Menurut penelitian para ahli, pengaruh agama Budha telah memasuki Nusantara pada
sekitar abad ke-2 sampai abad ke-5 Masehi. Bukti-bukti peninggalan agama Budha di Nusantara
misalanya penemuan arca perunggu Budha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari
bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan di Anawarti (India). Arca yang sama
juga ditemukan di Jember (Jawa Timur) dan bukit Seguntang (Sumatera Selatan). Selaian itu,
ditemukan sejumlah arca di Kota Bangun (Kutai, Kalimantan Selatan) memperlihatkan langgam
seni Ghandara (India). Masa perkembangan agama Budha berlangsung pesat pada abad VII-IX.
Menurut penafsiran tujuh buah yupa peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur
dan prasasti karajaan Tarumanegara di Jawa Barat, pengaruh agama Budha muncul pertama kali
sekitar abad ke-5 Masehi. Oleh karena itu yupa dan prasati dikedua kerajaan itu menggunakan
hurup Pallawa, maka diperkirakan pengaruh Hindu yang menyebar ke beberapa daerah di
Indonesia pada masa permulaan berasal dari India Selatan. Selain di Kutai dan Tarumanegara,
pengaruh Hindu di Nusantara berkembang pula kerajaan Ho-ling, Mataram, Kanjuruan, Kediri,
Singasari, Majapahit, Sunda, dan Bali.
Sejarah agama Hindu-Budha di Indonesia berbeda dengan sejarahnya di India. Disini,
kedua agama tersebut dapat tumbuh berdampingan dan harmonis. Bahkan ada kecenderungan
syncretism antara keduanya dengan upaya memadukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu
sumber yang Maha Tinggi. Sebagaimana tercermin dari satu bait syair Sotasoma karya Mpu
Tantular pada zaman Majapahit Bhinneka Tunggal Ika, yakni dewa-dewa yang ada dapat
dibedakan
(bhinna),
tetapi
itu
(ika)
sejatinya
adalah
satu
(tunggal).

Sekalipun demikian, patut diketahui sempat adanya sejarah konflik politik antar kerajaan yang
berbeda agama pada masa-masa permulaannya.

1.1 Pendidikan Masa Hindu & Budha di Indonesia


Pada masa itu, pendidikan lekat terkait dengan agama. Menurut catatan I-Ching, seorang
peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia mendapati banyak sekali
kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam
ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi
juga seni dan ilmu pengetahuan.
Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Ching
menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India).
Bahkan, di antara para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi
internasional, seperti Sakyakirti dan Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama
Djnanabhadra (Holling). Pada masa itu, para peziarah Budha asal China yang hendak ke tanah
suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk melakukan studi
pendahuluan dan persiapan lainnya.
Tidak hanya di dalam negeri saja para pelajar-pelajar Sriwiajaya belajar karena dalam
perkembanganya banyak dari pemuda-pemuda Nusantara yang tertarik untuk memperdalam ilmu
keagamaan di India. Mereka yang menuntut ilmu agama di India semakin hari semakin
bertambah jumlahnya. Raja-raja Sriwijaya menaruh perhatian yang cukup baik terhadap pelajarpelajar Nusantara yang menuntut ilmu di India dengan jalan meminta bantuan kepada Raja-raja
di India untuk membangun asrama. Permintaan itu dikabulkan sehingga berdirirlah wihara para
pelajar Nusantara di Nalanda pada tahun 850 Masehi dan di Nagapatnam pada tahun 1030
Masehi.
Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah
diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi di India. Adapun materi-materi
pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu
kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu,
seni bangunan, seni rupa dan lain-lain.
Ilmu-ilmu yang berkembang pada masa itu tidak terlepas dari unsur Budha maupun
Hindu, misalkan pada seni bangunan bangunan-bangunan yang dibangun pada masa Hindu
mengalami akulturasi dengan budaya punden berundak yang merupakan budaya khas dan asli
Indonesia pada masa Meghalitikum bergabung menjadi satu dalam suatu bentuk yang baru yang
bercampur dengan unsur agama Hindu, atau nanti ketika muncul kerajaan-kerajaan Islam dalam
hal pembentukan masjid mengalami akulurasi juga dengan budaya Hindu tersebut, seperti Masjid
Agung Demak yang bentuk dari atapnya berbentuk punden berundak-undak yang tentu saja
memiliki makna berbeda tentu dengan filosopi umat Hindu dalam memaknai punden berundak
ini. Bila dalam agama Hindu makna dari punden berundak ini sebagai lambang dari kasta,

maksudnya adalah bentuk dari undakan itu adalah urutan kasta misalnya dalam undakan yang
teratas adalah kasta brahmana dan yang paling dasar adalah kasta sudra. Berbeda halnya dengan
filosopi bangsa Indonesia ketika masih menganut paham Dinamisme dan Animisme mereka
membuat punden berundak-undak disebuah bukit yang tinggi dengan diameter yang sangat besar
ini bertujuan agar mereka dapat bersentuhan langsung dengan apa yang mereka yakini karena
semakin tinggi undakan semakin dekat pula mereka dengan apa yang mereka sebut penciptanya.
Kita dapat mengambil contoh adalah situs Meghalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur,
Jawa Barat.
Pola pendidikan pada masa ini adalah tidak berbentuk lembaga-lembaga pendidikan
layaknya pendidikan pada masa modern seperti sekarang ini. Ini terjadi karena memang pusat
pendidikan berlangsung di dalam ruang lingkup agama Hindu maupun Budha sehingga
pendidikan tidak berjalan jauh dari agama yang dianut pada masa itu. Proses belajar-mengajar
pada saat itu hanya berlangsung di asrama khusus, dengan fasilitas belajar seperti ruang diskusi
dan seminar.
Pada masa kerajaan-kerajaan baik itu kerjaan Hindu maupun Budha menganggap bahwa
pendidikan itu sangatlah penting mereka sudah menyadari akan pentingnya pendidikan. Karena
dengan pendidikan suatu bangsa akan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas karena
dengan memiliki SDM yang baik maka suatu negara atau kerajaan akan kuat, hal itu sudah
dipikirkan oleh mereka pada masa beratus-ratus tahun yang lalu. Marilah, kita bayangkan betapa
tingginya pemikiran petinggi-petinggi kerajaan pada saat itu mereka mendukung penuh para
kaum intelek pada masa itu dengan memberikan berbagai macam fasilitas-fasilitas yang
mendukung suasana pendidikan pada masa itu. Bukan hanya di dalam wilayah kerajaannya saja
tapi sampai keluar negeri pun mereka dukung, ini menunjukan bahwa diplomasi dari para Rajaraja masa Hindu Budha berjalan dengan sangat baik dan perhatian mereka kepada pendidikan
sangatlah tinggi.
Dari kenyataan sejarah itu seharusnya pemerintah saat ini berkaca pada masa-masa
pertengahan di Indonesia bagaimana mereka menjalankan pendidikan itu dan betapa tinggi
perhatian para pemuka pemerintahan pada masa itu. Pemerintah saat ini cenderung keteteran
dalam hal menyediakan pendidikan yang layak dan berrkualitas bagi rakyat nya. Banyak dari
daerah-daerah di Indonesia yang belum tersentuh oleh pendidiakan. Gedung-gedung sekolah
hampir roboh bahkan tidak sedikit ynag sudah rata dengan tanah karena hancur dimakan usia,
tenaga pengajar pun banyak yang memlih untuk mengajar di kota karena mereka menganggap
bahwa masa depan mereka lebih baik dan cerah ketimbang mengajar di pelosok negeri. Sungguh
sangat miris melihat kenyataan ini padahal sudah jelas salah satu tujuan bangsa Indonesia yang
terkandung dalam UUD 45 alinea ke-4 yakni Mencerdaskan Kehidupan Bangsa namun
sekarang tujuan luhur itu hanyalah tinggal sepenggal kata saja yang selalu diucapakan oleh
seorang pelajar ketika upacara bendera saja tanpa ada pengertian dan tindak lanjut dari yang
berkuasa.
Tidak sedikit dari karya para cendekiawan abad pertengahan Indonesia, dan merupakan
karya-karya luhur bangsa yang harus diketahui oleh semua lapisan rakyat Indonesia karena
bangsa kita mampu untuk menghasilkan karya intelektual yang tidak kalah baik dengan karyakarya dari bangsa barat nun juah disana.

Brikut adalah beberapa karya intelektual yang terkenal pada masa ini antara lain:
Dari kerajaan kediri:
Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (1019)
Bhatara Yudha karya Mpu Sedah (1157)
Hariwangsa karya Mpu Panuluh (1125)
Gatotkacasraya Mpu Panuluh (1125)
Smaradhana karya Mpu Dharmaja (1125)
Dari kerajaan Majapahit: Awal
Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (1331-1389)
Arjuna Wiwaha karya Mpu Tantular
Sotasoma karya Mpu Tantular
Pararaton (Epik berdirinya kerajaan kediri hingga Majapahit)
Kitab Pathajayna, tidak diketahui pengarangnya
Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya
: Akhir
Kitab Sundayana, isinya tentang pristiwa Bubat
Kitab Sorandaka, isinya tentang pemberontakan Sora
Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
Panjiwijayakarma, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya hingga menjadi raja.
Kitab Usana Jawa, isiny tentang penaklukan pulau bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar,
pemindahan keraton Majapahit ke Gelgel, dan penumpasan Raja Raksasa yang bernama Maya
Denawa, dan
Kitab Usana Bali, isinya tentang kekacauan di bali.
Dari kerajaan Sunda:
Arca-arca Wisnu di daerah Cibuaya dan arca-arca Rajasi
Kitab carita Parahyangan dan Kitab Sanghyang Siksakanda
Cerita-cerita dalam Sastra Sunda kuno bercorak Hindu
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang
bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif
terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar
juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Jadi secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:
(1) Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat
tinggi;
(2) Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;
(3) Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana
disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;
(4) Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur
kastanya masing-masing.

1.2 Pendidikan di Kerajaan Hindu dan Budha Pada Masa pertengahan


a. Sriwijawa
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah membawa
keajayaan bangsa Indonesia di masa lampau. Kerjaaan Sriwijaya bukan saja dikenal di wilayah
Indonesia saja, tetapi juga dikenal hampir setiap bangsa atau kearajaanyang berada jauh di luar
wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan leatak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat
dengan Selat Malaka. Tealh diketahui, Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan
yang satu-satunya dikenal oleh para pedagang ayng dapat menghubungakan antara pedagangpedagang dari Cina dengan India maupun Romawi.
Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah karena kehidupan sosial masyarakatnya
meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti
menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan
berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar
agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti. Di samping itu juga
pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini
tertera dalam prasasti Nalanda. Kemajuan di bidang pendidikan yang berhasil dikembangkan
Sriwijaya bukanlah suatu hasil perkembangan dalam waktu yang singkat tetapi sejak awal
pendirian Sriwijaya, raja Sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung agama dan penganut agama
yang taat. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan
kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk
meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial
masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh
kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat
diketahui melalui peninggalan-peninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha
seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit
Siguntang (Palembang).
b. Holing
Berita dari Cina berasal dari Dinasti Tang menyebutkan bahwa letak dari kerajaan Holing
berbatasan dengan Laut Cina Selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah Utara, Po-li (Bali)
sebelah Timur dan To-Po-Teng di sebelah Barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-po (Jawa),
sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau
Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran
agama Budha. Sehingga Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing sendiri
memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebgai pusat pendidikan Budha,
menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu bernama
Hou ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa
sansekerta ke bahasa Cina pada 664-665. Dengan bertambahnya populasi penduduk dan
peningkatan standar pendidikan yang dipegang oleh kaum Brahmana, secara perlahan muncullah
sistem birokrasi, yang tersusunn atas: hierarki abdi kerajaan, bangsawan dan tuan tanah, di masa
kerajaan Hindu-Budha.

Selain dua kerajaan tersebut tidak diketemukan data yang cukup untuk menguak sistem
dan pola pengajaran kerajaan-kerajaan Hindu dan budha lainya. karena keterbatasan data yang
dapat dikumpulkan. Namun, saya berkesimpulan bahwa hampir dari setiap kerajaan Hindu dan
Budha pada masa petengahan ini menerapkan sistem dan pola pendidikan yang sama dengan
kerajaan Sriwijaya maupun Holing. Mengapa demikian, karena kita semua tahu dan menyadari
bahwa Sriwijaya merupakan pusat dari pendidikan dan keagamaan pada masa ini sehingga
mungkin saja kerajaan-kerajaan yang lain mengekor atau bahkan berguru pula ke Sriwijaya
karena di sana merupakan pusat agama dan pendidikan di Asia Tenggara dan terdapat guru yang
tidak diragukan lagi eksistensinya pada masa itu. Mengapa saya berbicara demikian, karena
kerajaan-kerajaan yang nun jauh seperti Nalanda dan Cholamandala di India saja tahu dan
melakukan hubungan dengan Sriwijaya ini bgaimana mungkin kerajaan yang berada dalam
lingkungan Nusantara ini tidak melakukan hal yang sama. dengan adanya hubungan pastilah
terajadi transper ilmu dari Sriwijaya kepada kerajaan-kerajaan yang lainya yang berada di
Nusantara.
Jadi, terdapat kesamaan sistem pendidikan dan pola pendidikan di kerajaan yang ada
pada masa ini karena marujuk pada eksistensinya kerajaan Sriwijaya sebagai pusat dari
pendidikan dan keagamaan khususnya budha pada masanya dan Holing di Daratan Jawa juga
ikut berperan aktip mengapa demikian karena di Kerajaan Holing ini terdapat seorang Guru yang
juga termasyur yakni Janabrata.
2. Pendidikan Masa Islam Pada Abad Pertengahan
Setelah ditaklukannya kerajaan-kerajaan Hindu maupun Budha di Nusantara
memunculkan kerajaan-kerajaan Islam yang menggantikan eksistensi kerajaan Hindu dan Budha.
Dengan berkembangnya kerajaan Islam tentunya berkembang pula sistem pendidikan yang jauh
lebih maju dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Berkembangnya Islam di indonesia
memang tidak terlepas dari campur tangan para pedagang dari Timur tengah.
Berikut akan saya coba paparkan proses masuknya Agama Islam ke Indonesia. Meskipun
hanya sebagian dari masa-masa kerajaan Islam Indonesia yang masuk kedalam abad pertengahan
namun, tidak sedikit dari pengaruhnya terahadap dunia pendidikan modern di Indonesia
tentunya.
2.1 Proses Masuknya Islam ke Indonesia
Proses masuknya agama Islam di Indonesia masih diperdebatkan waktu keapastiannya.
Beberapa seajrawan menyebutkan bahwa abad ke-7 Masehi sebagai waktu masuknya Islam ke
Indonesia. Sebagian memberitakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sumber
sejarah yang berasal daeri berita cina Zaman Dinasti Tang. Catatan ini menerangkan bahawa
pada tahun 674 Masehi di Pantai Barat Sumatera telah terdapat perkamapungan orang-orang
Arab yang beragama Islam perkampungan itu diberi nama Barus atau Fansur.
Adapun sumber sejarah yang menyatakan Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13
Masehi yaitu sebgaai berikut:
a. Catatan perjalanan Marco Polo yamg menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada
tahun 1292 Masehi dan berjumpa dengan orang-orang yang teelah menganut agama Islam.

b. Ditemukan nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-saleh yang berangka 1297
Masehi.
Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia,
banyak ahli sejarah cenderung poercaya bahwa masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad
ke-7 Masehi. Abad ke-13 M menujukan perkambangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
2.2 Pendidikan di Kerajaan Islam
Seiring dengan masuk dan berkembang Islam memunculkan juga kerajaan-kerajaan Islam
yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap pendidikan karena pendidikan dalam Islam memiliki
tempat yang sangat penting. Sehingga banyak dari kerajaan-kerajaan Islam yang mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan bagi para rakyatnya.
Seperti di salah satu kerajaan Islam tertua yakni Kerajaan Perlak. Di Perlak terdapat suatu
lembaga pendidikan lainnya berupa majelis taklim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid
yang alim dan mendalam ilmunya. Materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf,
akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan
filsafat. Ada pula di Cirebon yakniSeperti yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban
Nagari, yakni sebuah naskah yang bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah
ini dikatakan, bahwa sekitar abad XV Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam, jauh
sebelum Sarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan.
Seorang pengembara dari maroko yang bernama Ibnu Batutah pada tahun 1345 M sempat
singah di kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az Zahir, saat perjalananya ke Cina.
Ibnu Batutah menuturkan bahwa ia sangat mengagumi akan keadaan kerajaan Pasai, dimana
rajanya sangat alim dan begitu pula dalam ilmu agamanya, dengan menganut paham Mazhab
SyafiI, dan serta mempraktekkan pola hidup yang sangat sederhana.
Menurut apa yang dikemukakan Ibnu Batutah tersebut, dapat ditarik kepada sistem
pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai, yaitu:
a). Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah fiqh mazhab syafii.
b). Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis talim dan halaqah.
c). Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama.
d). Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
Meskipun hanya kerajaan Seamudra Pasai, Perlak, dan Demak. Namun, Demak masih
menjadi perdebatan mengenai kapan sebenarnya kerajaan Demak ini resmi berdiri yakni 1478 M
pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit, dan dilain pihak ada yang
berpendapat 1518 M Hal ini berdasarkan, bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun
berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara
Raden Fatah dari Demak. Kendati demikian meskipun kerajaan Islam yang masuk masa-masa
pertengahan hanya itu namun tidak sedikit sumbangsih terhadap dunia pendidikan modern di
Indonesia. Berawal dari kedua kerajaan inilah munculnya kerajaan-kerajaan Islam lainya di
Indonesia. Dan melanjutkan sistem pendidikan Islam melalui lembaga-lembaga yang formal dan
pula mengakhiri sistem pendidiakan Hindu dan Budha yang sebelum masuk dan berkembangya
Islam merupakan agama yang dominan sekali. Diantaranya adalah Kerajaan Cirebon ini sesuai
dengan bunyi yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, yakni sebuah naskah

yang bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah ini dikatakan, bahwa sekitar
abad XV Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam, jauh sebelum Sarif Hidayatullah atau
Sunan Gunung Jati dilahirkan. Ada pula pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh para
Walisanga di Kerajaan Demak yang mewakili pendidikan bagi rakyat biasa. Karena tujuan
pendidikan pada masa ini adalah memnyebarkna Islam di Tanah Jawa sehingga pendidikan tidak
mengenal lapisan masyarakat pada masa ini.
Dengan berkembangnya Islam berkembang pula pendidikan di Indonesia karena pada
masa Pertengahan ini cendekiawan muslim dari Jazirah Arab hampir bisa dibilang menguasai
pengetahuan. Karena berbeda dengan Gereja yang cenderung mengekang masalah keilmuan tapi
para pemimpin musllim di Jazirah Arab sangat mendukung para cendekiawan untuk
mengembangkan pengetahuan.
Berikut adalah para filsup dan cendekiawan muslim yang berpengaruh di dalam pengembangan
keilmuan Islam:
a. Alkindi (800-870) satu-satunya orang arab asli. Corak filsafatnya ialah pemikiran kembali
dari ciptaan Yunani (menterjemahkan 260 buku Yunani) dalam bentuk bebas dengan refleksinya
dengan iman islam
b. Alfarabi (872-950), filusuf muslim dalam pangkal filsafatnya dari Plotinus.
c. Al-Ghazali (1059-1111) filusuf besar Islam yang mengarang Ihya Ulumuddin, di Spanyol
d. Ibnu sina (avicena) (980-1037) yang besar pengaruhnya terhadap filsafat barat, sejak usia 10
tahun sudah hafal Al-Quran.
e. Ibnu Bajjah (1138), penafsiran karya fisik dan metafisik Aristoteles.
f. Ibnu Rushyd (Averros) (1126-1198) yang disebut juga penafsir Aristoteles dan yang sangat
berpengaruh terhadap aliran-aliran di Eropa, juga seorang filusuf besar muslim.
g. Avencebrol (ibnu Gebol) (1020-1070).
h. Main monides (moses bin maimon) (1135-1204).
Merupakan nama-nama para cendekiawan muslim yang paling berpengaruh terhadap
dunia pendidikan Islam baik itu di Jajirah Arab maupun Eropa. Apakah ada hubungannya, antara
perkembangan pendidikan di timur tengah dengan Indonesia. Jawabanya, tentu saja ada dengan
berkembangnya pengetahuan tentu mendorong para ulama yang merangkap sebagai guru untuk
mengembangkan ilmunya. Dengan berkembang ilmu tentu akan mempengaruhi pola pikir para
pengajar sendiri dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.
Di indonesia sendiri pendidikan Islam tidak hanya meliputi pendidikan agama saja.
Melainkan, meliputi segala macam ilmu-ilmu yang berkembang pada saat itu seperti yang telah
saya dijelaskan di atas. Pendidikan pada masa kerajaan Islam sendiri tidak memungut biaya
karena biaya ditanggung oleh pemerintah sehingga membuka kesempatan bagi seluruh
masyarakat untuk menuntut ilmu. baik itu di lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan
Islam di pusat pemerintahan saat itu, maupun pendidikan di Langgar atau Surau-surau di
perkampungan. Maka jelaslah bahwa para pemimpin masa kerajaan Islam pun memiliki
ketertarikan tinggi terhadap pendidikan layaknya para pemimpin Hindu dan Budha, meskipun
berbeda karena pemimpin Islam tidaklah mengkotak-kotakan rakyatnya untuk menuntut ilmu.
Semua masyarakat yang ingin tahu dan menjadi lebih dalam pengetahuannya dapat menuntut
ilmu baik itu secara formal maupun secara informal, formal melalui pesantren-pesantren,
ataupun perguruan-perguruan tinggi yang telah banyak berdiri, sedangkan secara informal
malalui beajar di langgar-langgar, surau-surau, dan masjid dalam lingkup yang lebih luas lagi.

Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kurnia, Anwar. 2009. IPS Terpadu SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.
Surajiyo. 2005. Ilmu filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu.
http://id.wikipedia.org/wiki/ Islam.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia
II. Jakarta: Balai Pustaka.
Umar Tirtarahardja dan S. L. LA Sulo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
http://aldian-syahrahman.blogspot.com/2012/08/pendidikan-abad-pertengahan-diindonesia.html