Anda di halaman 1dari 20

BAB II

KAJIAN PUSTAKAN DAN LANDASAN TEORI


2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Pelecehan seksual
Menurut Collier (1992) pelecehan seksual secara Etiologi dapat diartikan
sebagai segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan
secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, dan
penolakan atau penerimaan korban atas perilaku tersebut dijadikan sebagai bahan
pertimbangan baik secara implisit maupun eksplisit.
Pelecehan seksual sebenarnya adalah suatu istilah yang diciptakan sebagai
padanan apa yang didalam Bahasa Inggris disebut dengan Sexual Harassement.
Menurut Collier (1992) di dalam Kamus Bahasa Indonesia, pelecehan berasal dari
kata Leceh yang artinya adalah suatu penghinaan atau peremehan. Dihubungkan
dengan kata seksual, maka perbuatan Harassing atau pelecehan itu berkaitan
dengan perilaku atau pola perilaku (normatif atau tak normatif) yang berkaitan
dengan jenis kelamin. Karena kata Harass atau pelecehan itu dikonotasikan
dengan perilaku seksual yang dinilai negatif dan menyalahi standar. Maka
perbincangan tentang pelecehan seksual ini ditinjau dari perspektif sosial budaya
adalah untuk menentukan tolok ukur standar, tidak hanya relevan tetapi juga
menarik. Dalam setiap perilaku pelecehan seksual selalu terkandung makna yang
dinilai negatif, dan yang karena itu mengandung reaksi serta sanksi ialah
bahwasanya seks itu boleh dimaknakan sebagai sarana pemuas nafsu dan lawan

seks itu boleh dimaknakan sebagai obyek instrumental guna pemuas nafsu seksual
itu.
Pelecehan seksual secara umum menurut Guntoro Utamadi & Paramitha
Utamadi (2001) adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau 7
mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak
diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, sehingga menimbulkan reaksi
negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu
yang menjadi korban pelecehan tersebut. Sedangkan secara operasional,
pelecehan seksual di definisikan berdasarkan hukum sebagai adanya bentuk dari
diskriminasi seksual (Guntoro Utamadi & Paramitha Utamadhi, 2001).
Menurut Collier (1992) pengertian pelecehan seksual disini merupakan
segala bentuk perilaku bersifat seksual yang tidak diinginkan oleh yang mendapat
perlakuan tersebut, dan pelecehan seksual yang dapat terjadi atau dialami oleh
semua perempuan. Sedangkan menurut Rubenstein (dalam collier, 1992)
pelecehan seksual sebagai sifat perilaku seksual yang tidak diinginkan atau
tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung penerima.
Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku yang melecehkan atau
merendahkan yang berhubungan dengan dorongan seksual, yang merugikan atau
membuat tidak senang pada orang yang dikenai perlakuan itu. Atau bisa juga
diartikan setiap perbuatan yang memaksa seseorang terlibat dalam suatu
hubungan seksual atau menempatkan seseorang sebagai objek perhatian seksual
yang tidak diinginkannya. Pada dasarnya perbuatan itu dipahami sebagai
merendahkan dan menghinakan pihak yang dilecehkan sebagai manusia (Guntoro
Utamadi & Paramitha Utamadhi, 2001).

Menurut Collier (1992), mengungkapkan pengertian pelecehan seksual


terhadap perempuan terbagi dalam dua bagian, yaitu adanya hubungan seksual,
dan tidak adanya hubungan seksual. Maksud dari adanya hubungan seksual yaitu
merupakan suatu bentuk tindakan yang dilakukan terhadap pihak lain, baik yang
dilakukan perorangan atau lebih dari seorang. Sebaliknya, maksud dari tidak
adanya hubungan seksual yaitu tindakan mana yang tidak mengakibatkan luka
atau penderitaan pada fisik si korban, dilakukan si pelaku dengan tidak
menggunakan kekerasan fisik dan suara (misalnya seperti : siulan, desakan
tertentu, ucapan yang tidak senonoh), pandangan mata yang tidak sopan secara
demontratif, sentuhan-sentuhan fisik (tidak dengan kekerasan) pada bagianbagian
tubuh tertentu si korban lebih banyak merupakan akibat mental-mental fisik dan
bukan pada akibat pada fisik.
Pelecehan seksual merupakan komentar verbal, gerakan tubuh atau kontak
fisik yang bersifat seksual yang dilakukan seseorang dengan sengaja, dan tidak
dikehendaki atau tidak diharapkan oleh target. Menurut Woodrum (dalam Collier,
1992) pelecehan seksual dapat terjadi atau dialami oleh perempuan. Sedangkan
menurut Guntoro Utamadi & Paramitha Utamadhi, 2001 pelecehan seksual dapat
diartikan sebagai jenis tindakan seksual yang tidak diundang dan tidak
dikehendaki oleh korbannya dan menimbulkan perasaan tidak suka. Bentuk
tindakan seksual itu dapat berupa menyiuli perempuan di jalanan, menceritakan
lelucon kotor pada seseorang yang merendahkan derajatnya hingga tindakan tidak
senonoh dan tindakan pemerkosaan pada orang lain.
Mboek (dalam Basri, 1994) mengatakan bahwa pelecehan seksual
merupakan perbuatan yang biasannya dilakukan pria dan ditujukan kepada wanita

dalam bidang seksual yang tidak disukai oleh wanita. Sebab ia merasa terhina,
tetapi kalau perbuatan itu ditolak ada kemungkinan ia menerima akibat buruknya.
Dari beberapa definisi pelecehan seksual diatas dapat disimpulkan bahwa
pengertian pelecehan seksual itu sendiri merupakan perilaku atau tindakan yang
mengganggu, menjengkelkan, dan tidak diundang yang dilakukan seseorang atau
sekelompok orang terhadap pihak lain yang berkaitan langsung dengan jenis
kelamin pihak yang diganggunya dan diraskan menurunkan martabat dan harkat
diri orang yang diganggunya. Pelecehan seksual itu sendiri bertindak sebagai
tindakan yang bersifat seksual atau kecenderungan bertindak seksual yang
terimtimidasi non fisik (kata-kata, bahasa, gambar) atau fisik (gerakan kasat mata
dengan memegang, menyentuh, meraba atau mencium) yang dilakukan seorang
laki-laki terhadap perempuan.
2. Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual mencakup perilaku menetap, berbicara mengenai
seksualitas, menyentuh tubuh perempuan, mencoba memaksa perempuan untuk
melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkan, mengajak kencan berulang
kali hingga sampai dengan pemerkosaan (Matlin, 1987).
Selain itu secara lebih jelas, bentuk-bentuk yang dianggap sebagai
pelecehan seksual (Collier, 1992) adalah sebagai berikut :
a. Menggoda atau menarik perhatian lawan jenis dengan siulan.
b. Menceritakan lelucon jorok atau kotor kepada seseorang yang merasakannya
sebagai merendahkan martabat.
c. Mempertunjukan gambar-gambar porno berupa kalender, majalah, atau buku
bergambar porno kepada orang yang tidak menyukainya.

d. Memberikan komentar yang tidak senonoh kepada penampilan, pakaian,


atau gaya seseorang.
e. Menyentuh, menyubit, menepuk tanpa dikehendaki, mencium dan memeluk
seseorang yang tidak menyukai pelukan tersebut.
f. Perbuatan memamerkan tubuh atau alat kelamin kepada orang yang terhina
karenanya.
Guntoro Utamadi & Paramitha Utamadi (2001) membagi kategori
pelecehan seksual yang dipakai dalam dasar pengukuran dalam Sexual
Experience Questionnaire (SEQ), yaitu dalam bentuk yang lebih tersistematis :
a. Gender Harassment yaitu pernyataan atau tingkah laku yang bersifat
merendahkan berdasarkan jenis kelamin.
b. Seductive Behaviour yaitu permintaan seksual tanpa ancaman, rayuan yang
bersifat tidak senonoh atau merendahkan.
c. Sexual Bribery yaitu penyuapan untuk melakukan hal yang berbau seksual
dengan memberikan janji akan suatu ganjaran.
d. Sexual Coercion yaitu tekanan yang disertai dengan ancaman untuk melakukan
hal-hal yang bersifat seksual.
e. Sexual Assault yaitu serangan atau paksaan yang bersifat seksual, gangguan
seksual yang terang-terangan atau kasar.
Sedangkan Kelly (1988) membaginya dalam bentuk pelecehan seksual
yang dapat dilihat sebagai berikut :
a. Bentuk Visual : tatapan yang penuh nafsu, tatapan yang mengancam,gerakgerik yang bersifat seksual.

b. Bentuk Verbal : siulan-siulan, gosip, gurauan seksual, pernyataan-pernyataan


yang bersifat mengancam (baik secara langsung maupun tersirat).
c. Bentuk Fisik : menyentuh, mencubit, menepuk-nepuk, menyenggol dengan
sengaja, meremas, mendekatkan diri tanpa diinginkan.
Menurut Guntoro Utamadi & Paramitha Utamadi (2001) ciri-ciri utama
yang membedakan pelecehan seksual adalah sebagai berikut :
a. Tidak dikehendaki oleh individu yang menjadi sasaran.
b. Seringkali dilakukan dengan disertai janji, iming-iming ataupun ancaman.
c. Tanggapan (menolak atau menerima terhadap tindakan sepihak tersebut
dijadikan pertimbangan dalam penentuan karir atau pekerjaan.
d. Dampak dari tindakan sepihak tersebut menimbulkan berbagai gejolak
psikologis, diantarannya : malu, marah, benci, dendam, hilangnya rasa aman dan
nyaman dalam bekerja, dan sebagainya.
3. Penyebab Pelecehan Seksual
Secara umum tentang asal penyebab pelecehan seksual menurut Collier
(1992) dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
a. Pengalaman pelecehan seksual dari faktor biologik.
Dikarenakan melihat kecenderungan biologiknya, bahwa lelaki itu
berperilaku sebagai seks yang aktif-ofensif (dalam fungsi reproduktifnya untuk
mencari dan membuahi lewat suatu aktivitas yang relative cuma sesaat) dan
perempuan itu pelaku seks yang pasif-defensif (dalam fungsi reproduktifnya
untuk menunggu, dan selanjutnya menumbuh kembangkan kehidupan baru
didalam rahim dan dipangkuannya lewat suatu aktivitas dan proses yang
berjangka panjang). Oleh karena itu, dalam kasus pelecehan seksual bolehlah

diduga bahwa lelaki itulah yang berkemungkinan lebih besar sebagai pelaku
jahatnya. Sedangkan perempuan itulah yang lebih berkemungkinan untuk
diposisikan sebagai korbannya.
Selain itu, atribut pelecehan seksual terhadap perempuan merupakan
kelemahan laki-laki dalam mengontrol dorongan alamiahnya tersebut. Laki-laki
melakukan pelecehan seksual untuk memenuhi kebutuhannya sendiri yaitu
melakukan rangsangan erotis untuk menutupi dan mengatasi kelemahannya.
Ketidakmampuannya

dalam

menahan

keinginan

dan

dorongan-dorongan

seksualnya sendiri yang diungkapkan melalui pelecehan seksual.

b. Peristiwa pelecehan seksual dari faktor sosial budaya


Pada garis besarnya, masyarakat Indonesia yang sarat dengan berbagai
etnis terbagi dalam dua garis besar sistem kekeluargaan, yakni berdasarkan garis
ibu (Matrilineal) dan garis bapak (Patrilineal). Akan tetapi, pada umumnya garis
yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah berdasarkan garis bapak
(Patrilineal). Hal tersebut disadari atau tidak, seakan akan telah mendominasi
pola kehidupan dalam masyarakat. Pola kehidupan sosial budaya yang dijalani
seseorang semenjak kecil dalam etnis keluarganya, tanpa disadari sedikit banyak
berpengaruh terhadap pola tingkah laku seseorang kemudian dalam kehidupan
bermasyarakat. Adanya realita bahwa fisik lelaki lebih kuat daripada perempuan
telah turut mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku lelaki terhadap
perempuan dan sebaliknya.
Selain itu, budaya pun mempengaruhi perlakuan seksualitas yang
memungkinkan pelecehan seksual terjadi. Hal ini berdasarkan peran jenis kelamin

atau social-role stereotype, dimana dengan kebudayaan Indonesia yang partiakal


tersebut menempatkan laki-laki pada posisi superordinat dan perempuan dalam
posisi subordinat. Hal ini lebih memungkinkan timbulnya pelecehan (perendahan
secara harkat dan martabat) sampai timbulnya pelecehan seksual.
c. Pengaruh pendidikan terhadap pelecehan seksual
Pendidikan dalam hal ini juga berpengaruh terhadap adanya pelecehan
seksual. Hal ini, khususnya di Indonesia, perempuan belum punya banyak
kesempatan untuk menikmati jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga
belum mampu menolak perlakuan, sikap dan anggapan yang diskriminatif
terhadap dirinya. Kejadian ini terjadi, biasanya dengan keberadaan atau posisi
laki-laki sebagai atasan dan perempuan sebagai bawahannya. Dimana, perempuan
dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah daripada laki-laki.
d. Keluarga dilihat dari faktor ekonomi
Pada masyarakat dengan tingkat kehidupan sosial ekonomi rendah,
mobilitas (dalam artian untuk kepentingan rekreasi) sangat rendah frekuensinya
hingga realisasi mobilitas tersebut terpaku pada lingkungannya saja. Hal mana
mendorong budaya kekerasan sebagai jalan keluarnya dan sasaran paling mudah
adalah kaum perempuan. Hali ini dilakukan dengan anggapan sebagai pelarian
yang paling mudah mengingat adanya anggapan bahwa secara fisik perempuan
lemah. Apalagi adanya budaya kekerasan yang mendominir realitas kehidupan
sehari-hari, hingga kekuatan fisik atau jasmani, kekuatan kelompok merupakan
symbol dan status sosial dalam masyarakat tersebut dan hal mana berdampak pula
terhadap pandangan, anggapan serta sikap dalam mengartikan kehadiran kaum
perempuan di lingkungan tersebut.

e. Timbulnya pelecehan seksual yang diambil dari faktor pembelajaran


sosial dan motivasi.
Dengan adanya pengkondisisan tingkah laku yang dianggap disetujui
secara sosila budaya seperti yang telah dikemukakan diatas, maka pengkondisian
tingkah laku tersebut dianggap disetujui untuk tetap dilakukan dalam masyarakat.
Hal ini mengingat bahwa hukum yang menindak dengan tegas kasus-kasus
pelecehan seksual belum juga sempurna, malah memperkuat dan menegaskan
bagi timbulnya pelecehan seksual. Selain itu, seseorang selalu belajar dari
lingkungan di sekitarnya dan apabila hal ini dipertegas dari hasil observasinya,
maka kecenderungan tingkah laku ini akan terus berulang. Dalam beberapa kasus,
pelecehan seksual dilakukan agar laki-laki tetap menempati posisinya. Hal ini di
dorong oleh motif ekonominya.

4. Pelaku Pelecehan Seksual


Biasanya yang merupakan pelaku dari pelecehan seksual adalah laki-laki
yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan yang mempunyai harga diri
(self esteem) yang rendah. Hal ini dilakukan dengan menyalahgunakan kekuasaan
atau menganggap dirinya lebih berkuasa daripada yang dilecehkan, sehingga
dapat meningkatkan harga dirinya. Pelecehan seksual lebih sering terjadi sebagai
kasus yang dilakukan sekelompok orang terhadap korbannya. Yang terjadi pada
kaum perempuan di masyarakat Indonesia secara umum adalah si pelaku belum
mengenal korbannya dan lebih sering terjadi ditemapt-tempat umum seperti pasar,
pusat pembelanjaan, pemberhentian bus, di dalam kendaraan angkutan umum,

gedung bioskop atau sering pula terjadi di jalan umum dimana banyak laki-laki
bergerombol duduk-duduk.
Pelaku pelecehan seksual menurut Collier (1992) terbagi dalam :
a. Normal dari sisi kejiwaan, karena baru berani melakukan pelecehan seksual
apabila beramai-ramai dan tidak punya keberanian mental apabila sendirian.
b. Abnormal atau mempunyai kelainan kejiwaan dari sisi kejiwaan, karena berani
melakukan tindak pelecehan walaupun hanya seorang diri yang biasannya dalam
golongan ini tindak pelecehan yang dilakukannya langsung mengarah pada
masalah seksualitas dan bahkan berani melakukan pelecehan secara fisik seperti
memegang-megang bagian terlarang dari tubuh perempuan atau memperlihatkan
secara fisik bagian terlarang dari dirinya (si pelaku) terhadap perempuan yang
menjadi sasaran pelecehannya.

5. Respon Terhadap Pelecehan Seksual


Seperti yang dikemukakan oleh Collier (1992), yang biasanya dilakukan
sebagai respon terhadap pelecehan seksual meliputi :
a. Strategi yang Terfokus Secara Internal
1) Menjaga jarak (detachment) yaitu seseorang yang menggunakan strategi
memisah atau menjaga jarak, termasuk dengan meminimalisasi situasi,
menganggapnya sebagai lelucon, menceritakan kepada diri sendiri sebagai hal
yang tidak penting, dan sebagainya.
2) Menyangkal (denial) yaitu seseorang menyangkal pelecehan yang terjadi,
menganggapnya tidak ada atau tidak menghiraukannya, dan menganggap tidak
mau melanjutkannya dan berusaha melupakannya.

3) Pemberian nama ulang (relabeling) yaitu seseorang menilai ulang situasi


sebagai

hal

yang

kurang

mengancam,

memaafkan

peleceh

atau

menginterprestasikan tingkah laku tersebut sebagai menggoda. Misalnya : dia


tidak bermaksud mengecewakan saya.
4) Ilusi pengendalian (illusory control), yaitu seseorang berusaha untuk
mengontrol dengan mengambil tanggung jawab terhadap kejadian dengan
memberikan atribusi pelecehan kepada tingkah lakunya sendiri.
5) Menyerah (endurance), yaitu secara esensial, seseorang tidak melakukan apaapa, dia menyerah terhadap tingkah laku tersebut; baik dengan rasa takut
(terhadap rasa sakit, menyakiti peleceh, tidak percaya, merasa bersalah, atau
malu) atau karena dia percaya bahwa tak ada sumber yang tersedia untuk dimintai
tolong.
b. Strategi yang Terfokus secara Eksternal
1) Menjauh (avoidance), yaitu seseorang berusaha untuk menghindari situasi
dengan menjauh dari pelaku pelecehan (misalkan, keluar kelas, ganti guru,
berhenti kerja, dan lain-lain)
2) Melakukan asertivitas atau konfrontasi (assertion/confrontation), yaitu
seseorang menolak ancaman seksual atau sosial tersebut. Secara verbal melakukan
konfrontasi terhadap peleceh atau membuat tingkah laku tersebut tidak diterima.
3) Mencari institusi atau organisasi yang dapat menangani (seeking institutional
or

ganizational

relief),

mengkonsultasikannya
pertentangan/perlawanan.

yaitu

dengan

seseorang

bantuan

melaporkan

administrator,

dan

kejadian,
berkas

4) Mendapatkan dukungan sosial (social support), yaitu seseorang mencari


dukungan dari orang-orag yang signifikan, mencari validasi dari persepsinya, atau
pengetahuan dari kenyataan yang ada.
5) Mendapatkan kesepakatan (appeasement), yaitu seseorang berusaha untuk
mendapat kesepakatan, tanpa konfrontasi atau asertivitas. Dia memaafkannya atau
berusaha tidak marah terhadap pelaku pelecehan.

6. Dampak Psikologis Pelecehan Seksual


Menurut Collier (1992), dampak-dampak psikologis pelecehan seksual
tergantung pada :
a. Frekuensi terjadi pelecehan : semakin sering terjadi, semakin dalam pula luka
yang ditimbulkan.
b. Parah tidaknya (halus atau kasar, taraf) : semakin parah tindak pelecehan
seksual dan semakin tindakan tersebut menghina martabat dan integritas
seseorang, semakin dalam pula luka yang ditimbulkan, apalagi jika menyangkut
keluarga korban.
c. Apakah secara fisik juga mengancam atau hanya verbal : semakin tindakan
pelecehan ini dirasakan mengancam korban secara fisik, lebih dalam dampak dan
luka yang ditimbulkan. Bila pelecehan seksual dilakukan dengan ancaman
pemecatan dan korban tidak yakin mampu menemukan pekerjaan lain, maka
dampak psikologis akan lebih besar.
d. Apakah menggangu kinerja pekerja : bila ya, maka akan disertai dengan rasa

frustasi. Ini tentunya juga tergantung seberapa parah dan jauh pelecehan itu
mengganggu kinerja korban. Semakin parah gangguan yang dialaminya, semakin
tinggi taraf frustasi dan semakin parah kerusakan psikologisnya.
Secara umum, menurut Kelly (1998) dampak utama psikologis pelecehan
seksual yang paling sering tampil adalah:
a. Jengkel, senewen, marah, stress hingga breakdown
b. Ketakutan, frustasi, rasa tidak berdaya dan menarik diri
c. Kehilangan rasa percaya diri
d. Merasa berdosa atau merasa dirinya sebagai penyebab
e. Kebencian pribadi hingga generalisasi kebencian pada pelaku atau mereka dari
jenis kelamin yang sama dengan pelaku.
Menurut Rumini & Sundari (2004) wanita yang mengalami pelecehan
seksual dapat mengalami akibat fisik seperti gangguan perut, nyeri tulang
belakang, gangguan makan, gangguan tidur rasa cemas dan mudah marah.
Sedangkan akibat psikologis ynag dirasakan antara lain adalah perasaan terhina,
terancam dan tidak berdaya. Hasil ini diperkiat oleh penelitian Goodman (dalam
Rumini & Sundari, 2004) yang menyatakan bahwa wanita korban pelecehan
seksual sebagian besar mengalami simtom-simtom fisik dan stress emosional.
Beberapa peneliti mencoba menyimpulkan akibat dari pelecehan seksual pada
kehidupan perempuan dan kesejahteraannya dapat diperiksa dari tiga perspektif
utama yaitu yang berkaitan dengan pekerjaan atau pendidikan, faktor psikologis
dan fisik yang berkaitan dengan masalah kesehatan (Basri, 1994).
2.2. Kajian Pustaka
2.2.1. Remaja

Remaja adalah aset sumber daya manusia yang merupakan tulang


punggung penerus generasi bangsa di masa mendatang. Remaja adalah mereka
yang berusia dua belas hingga dua puluh satu tahun, dan ditandai dengan
perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuh, fungsi tubuh, psikologi dan aspek
fungsional.
Menurut Depkes RI (2005), masa remaja merupakan suatu proses tumbuh
kembang yang berkesinambungan, yang merupakan masa peralihan dari kanakkanak ke dewasa muda. Masa remaja atau adolescence diartikan sebagai
perubahan emosi dan perubahan sosial pada masa remaja. Masa remaja
menggambarkan dampak perubahan fisik, dan pengalaman emosi yang mendalam.
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan gejolak, masa yang penuh dengan
berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal yang baru termasuk
pengalaman berinteraksi dengan lawan jenis sebagai bekal manusia untuk mengisi
kehidupan mereka kelak (Nugraha & Windy, 1997).
Pada masa remaja, rasa ingin tahu mengenai seksualitas sangat penting
terutama dalam pembentukan hubungan dengan lawan jenisnya. Besarnya
keingintahuan remaja mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas
menyebabkan remaja selalu berusaha mencari tahu lebih banyak informasi
mengenai seksualitas. Remaja merupakan suatu masa peralihan baik secara fisik,
psikis, maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa (Arma, 2007).
Seiring dengan pertumbuhan remaja ke arah kematangan seksual yang
sempurna, muncul jugalah hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan
seksualnya. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena secara alamiah

dorongan seksual ini harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua
insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan
(Mutadin, 2002).
2.2.2. Jenis Kelamin
Setiap individu sejak dilahirkan mempunyai perbedaan yang disebut
perbedaan individual. Perbedaan itu diantaranya perbedaan intelektual, watak,
fisik, dan jenis kelamin. Purwanto (2002:20) mengungkapkan bahwa setiap
manusia normal sejak lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin masingmasing yaitu laki-laki dan perempuan. Pada kedua jenis kelamin itu terdapat
perbedaan sikap dan sifat terhadap dunia luar.
Menurut Hungu (2007) jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara
perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks berkaitan
dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan sperma,
sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk
menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki
dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsinya tetap
dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras yang ada di muka bumi.
2.2.3. Nilai Sosial
Nilai sosial menurut Kimball Young ( dalam Koentjaraningrat,
1990 ) yakni sebagai unsur-unsur abstrak yang sering tidak
disadari

tentang

apa

yang

dianggap

penting

di

dalam

masyarakat. Adanya nilai sosial jarang sekali disadari oleh


masyarakat

karena

tidak

adanya

peraturan

tertulis

yang

mengharuskan masyarakat menaati nilai sosial. Karena nilai

sosial meupakan nilai yang dianut suatukelopok masyarakat


sehingga nilai sosial ini dikenalkan kepada masyarakat luas
secara turun-temurun dan secara tidak sengaja. Pada dasarnya
nilai terbentuk dari apa yang benar dan baik (positif) untuk
dilakukan. Jadi nilai bersifat relatif, yang artinya sesuatu yang
kita anggap benar dan baik untuk dilakukan belum tentu disebut
nilai, karena benar tidaknya harus berdasarkan pendapat orang
banyak.
Sedangkan nilai sosial menurut Woods yakni nilai sosial
merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang
mengarahkan tingkah laku dan kepuasaan dalam kehidupan
sehari-hari. Prof .Dr. Notonegoro membagi nilai dalam tiga jenis,
yaitu (a) nilai material, (b) nilai vital, dan (c) nilai spiritual yang
terdiri dari nilai keindahan, nilai kegamaan, nilai kebenaran dan
nilai moral. Sedangkan C. Kluckhohn membagi nilai dalam lima
jenis, yaitu (a) nilai hakikat hidup manusia, (b) nilai hakikat karya
manusia, (c) nilai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan
waktu, (d) nilai hakikat hubungan manusia dengan alam, (e) nilai
hakikat hubungan manusia dengan sesamanya.
2.2.4. Norma Sosial
Norma sosial merupakan ketentuan yang berisi perintah maupun
larangan bersama. Norma bertujuan untuk mengatur

setiap

tindakan warga masyarakat sehingga ketertiban dan keamanan

dapat tercapai.

Menurut Robert M Z Lawang (dalam Ninik Sri

Wahyuni dan Yusniati,2004: 96 ) mengatakan bahwa norma


adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu. Norma
memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu
bagaimana tindakan akan dinilai oleh orang lain, dan norma ini
merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau
menolak perilaku seseorang. Jadi norma mengatur perilaku
warga masyarakat sehari-hari.
Sedangkan norma sosial menurut Alvin L Bertran ( dalam
Nurseno,2007:30) mendefinisikan norma sebagai suatu standar
tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Namun
menurut James W ( dalam Marimin Tri Pranoto, 2004:87 )
mendefinisikan norma sosial sebagai aturan atau pedoman sosial
yang khusus mengenai tingkah laku, sikap dan perbuatan yang
boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan di lingkungan
kehidupannya. Norma yang ada dalam masyarakat mempunyai
kekuatan yang mengikat yang berbeda-beda, ada yang lemah
dan ada yang kuat. Untuk membedakan kekuatan pengikatnya,
norma dibedakan dalam empat pengertian yaitu norma cara
(usage ),norma kebiasaan ( folkways ), norma tata kelakuan, dan
norma adat. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari terdapat
lima macam norma pokok yaitu norma agama, norma kelaziman,
norma

kesusilaan,

norma

merupakan norma resmi.

kesopanan,

norma

hukum

yang

2.2.5. Orang Tua


Orang tua berperan dalam Pendidikan anak untuk menjadikan Generasi
muda berkedudukan. Di dalam lingkungan keluarga orang tualah yang
bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga, dan sudah layaknya
apabila orang tua mencurahkan perhatian dan bimbingan untuk mendidik anak
agar supaya anak tersebut memperoleh dasar-dasar dan pola pergaulan hidup
pendidikan yang baik dan benar, melalui penanaman disiplin dan kebebasan
secara serasi.
1. Peran
Peran orang tua adalah pola tingkah laku dari ayah dan ibu berupa
tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya
untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam
kehidupan bermasyarakat.
Berbagai peran orang tua adalah :
A. Peran sebagai pendidik
Orang tua perlu menanamkan kepada anak-anak arti penting dari
pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari sekolah. Selain itu
nilai-nilai agama dan moral, terutama nilai kejujuran perlu ditanamkan kepada
anaknya sejak dini sebagi bekal dan benteng untuk menghadapi perubahanperubahan yang terjadi.
B. Peran sebagai pendorong
Sebagai

anak

yang

sedang

menghadapi

masa

peralihan,

anak

membutuhkan dorongan orang tua untuk menumbuhkan keberanian dan rasa


percaya diri dalam menghadapi masalah.

C. Peran sebagai panutan


Orang tua perlu memberikan contoh dan teladan bagi anak, baik dalam
berkata jujur maupun ataupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan
bermasyarakat.
D. Peran sebagai teman
Menghadapi anak yang sedang menghadapi masa peralihan. Orang tua
perlu lebih sabar dan mengerti tentang perubahan anak. Orang tua dapat menjadi
informasi, teman bicara atau teman bertukar pikiran tentang kesulitan atau
masalah anak, sehingga anak merasa nyaman dan terlindungi.
E. Peran sebagai pengawas
Kewajiban orang tua adalah melihat dan mengawasi sikap dan perilaku
anak agar tidak keluar jauh dari jati dirinya, terutama dari pengaruh lingkungan
baik dari lungkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.
F. Peran sebagai konselor
Orang tua dapat memberikan gambaran dan pertimbangan nilai positif dan
negatif sehingga anak mampu mengambil keputusan yang terbaik.
2.2.6. Pelecehan
Pelecehan atau kekerasan dalam arti Kamus Bahasa Indonesia adalah
suatu perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang yang menyebabkan
cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang
orang lain, atau ada paksaan. Dari penjelasan di atas, pelecehan merupakan wujud
perbuatan yang lebih bersifat fisik yang mengakibatkan luka, cacat, sakit atau
penderitaan orang lain. Salah satu unsur yang perlu diperhatikan adalah berupa

paksaan atau ketidakrelaan atau tidak adanya persetujuan pihak lain yang dilukai
(Usman dan Nachrowi, 2004).

2.2.7. Seksualitas
Defenisi seksualitas yang dihasilkan dari Konferensi APNET (Asia Pasific
Network For Social Health) di Cebu, Filipina 1996 mengatakan seksualitas adalah
sekpresi seksual seseorang yang secara sosial dianggap dapat diterima serta
mengandung aspek-aspek kepribadian yang luas dan mendalam. Seksualitas
merupakan gabungan dari perasaan dan perilaku seseorang yang tidak hanya
didasarkan pada ciri seks secara biologis, tetapi juga merupakan suatu aspek
kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan yang lain
(Semaoen, 2000).
Menurut Depkes RI pengertian seksualitas adalah suatu kekuatan dan
dorongan hidup yang ada diantara laki-laki dan perempuan, dimana kedua
makhluk ini merupakan suatu sistem yang memungkinkan terjadinya keturunan
yang sambung menyambung sehingga eksistensi manusia tidak punah (Abineno,
1999).