Anda di halaman 1dari 22

Kelimpahan dan Struktur Komunitas Zooplankton di Perairan Pulau Samalona, Kota

Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan


Nita Rukminasari 1*), Daud Thana 1) dan Muh. Ilham B. 2)
1)
2)

Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, FIKP Unhas


Alumni pada Program Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan
Perikanan, FIKP Unhas
*) Korespondesi penulis : +62411586025, Email : nita.r@unhas.ac.id;
nitasari_02@hotmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan struktur komunitas zooplankton di perairan
Pulau Samalona, Makassar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang kondisi
kestabilan komunitas zooplankton di perairan Pulau Samalona saat ini. Penelitian ini dilakukan pada
bulan Juni sampai dengan Agustus 2008 di perairan Pulau Samalona, Makassar. Pengambilan sampel
dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval waktu 2 minggu, berdasarkan fase bulan terang dan bulan
gelap.
Berdasarkan hasil penelitian zooplankton di perairan Pulau Samalona, Kota Makassar dapat
disimpulkan bahwa : Zooplankton yang diperoleh terdiri dari 8 filum yaitu Annelida, Arthropoda,
Chaetognatha, Chordata, Cnidaria, Ctenopora, Echinodermata, dan Mollusca. Filum yang paling
banyak ditemukan adalah Arthropoda, baik pada saat bulan terang maupun pada saat bulan gelap.
Berdasarkan hasil uji ANOVA diketahui perbandingan kelimpahan zooplankton antar stasiun
pengamatan dan antar bulan pengamatan tidak menunjukkan adanya perbedaan. Nilai rata-rata
indeks keanekaragaman (H) yang diperoleh adalah berkisar antara 0.78 1.11 yang menunjukkan
tingkat keanekaragaman rendah hingga sedang. Nilai rata-rata indeks keseragaman (J) berkisar
antara 0.41 0.63, sedangkan nilai rata-rata indeks dominansi (C) berkisar antara 0.47 0.66.
Berdasarkan plot nMDS yang didapat pada bulan terang dan bulan gelap menunjukkan
pengelompokan komposisi zooplankton berbeda di setiap stasiun. Dari hasil uji ANOSIM antar bulan
pengamatan menunjukkan tidak adanya perbedaan penyusun struktur komunitas. Sedangkan pada
perbandingan antar stasiun pengamatan menunjukkan adanya perbedaan penyusun struktur
komunitas utamanya antara stasiun karang baik dan pecahan karang, dimana dari hasil SIMPER
diketahui bahwa filum Arthropoda yang paling mempengaruhi perbedaan struktur komunitas antar
kedua stasiun tersebut.
Kata Kunci : Kelimpahan, struktur komunitas, zooplankton dan Pulau Samalona.

1. PENDAHULUAN
Plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagik dan mengapung, berenang sangat
lemah, dan tak dapat melawan arus. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Biota
ini mencakup sejumlah besar biota laut, baik ditinjau dari jumlah, jenis maupun
kepadatannya (Romimohtarto dan Juwana, 2005). Menurut Nontji (2002), plankton terbagi
atas plankton nabati (fitoplankton) dan plankton hewani (zooplankton). Dalam piramida
makanan pada ekosistem perairan, zooplankton berperan sebagai primary consumer
(konsumen pertama) yang kemudian akan dimangsa oleh hewan karnivora yang lebih besar
sebagai secondary consumer (konsumen kedua).

Manusia umumnya tidak memanfaatkan langsung plankton dari laut, tetapi secara tidak
langsung memanen ikan pemakan plankton atau ikan yang memangsa pemakan plankton.
Kurang lebih 65% ikan pelagis (pelagic fish) di dunia yang mempunyai nilai ekonomi
tergolong jenis pemakan plankton. Hanya ada beberapa jenis plankton yang dimanfaatkan
langsung untuk pangan manusia, misalnya rebon untuk pembuatan terasi, atau ubur-ubur
jenis tertentu sebagai makanan yang digemari di Asia. Tanpa plankton, semua sumberdaya
perikanan seperti ikan, udang, cumi, kerang dan kepiting tak akan pernah ada. Bahkan
hampir semua biota menjalani kehidupan awalnya sebagai plankton. (Nontji, 2006)
Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton
karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Zooplankton merupakan
organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi, karena zooplankton
adalah penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih
tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya dapat dicapai bila
jumlah fitoplankton mencukupi.
Pulau Samalona merupakan salah satu pulau yang ada di kawasan kota Makassar yang
sebagian besar penduduknya bermata-pencaharian sebagai nelayan. Selain itu, Pulau
Samalona dahulu merupakan salah satu tujuan wisatawan baik lokal maupun yang berasal
dari mancanegara untuk melakukan kegiatan snorkling, karena Pulau Samalona memiliki
terumbu karang yang sangat subur. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, terumbu karang
yang ada di Pulau Samalona sedikit demi sedikit berkurang, sehingga jumlah wisatawan
yang datang ke Pulau Samalona juga semakin berkurang. Hal ini disebabkan

karena ulah

nelayan sendiri yang menghalalkan segala cara untuk menangkap ikan sebanyakbanyaknya, baik dengan menggunakan bom maupun dengan menggunakan racun sianida
yang berakibat pada rusaknya terumbu karang. Hal ini diperparah dengan kurangnya
perhatian pemerintah setempat maupun stake holder lain untuk menggalakkan perlindungan
pada daerah terumbu karang di pulau-pulau yang ada di sekitar kota Makassar.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai kelimpahan dan
struktur komunitas zooplankton di perairan pulau Samalona, sebagai bahan informasi untuk
mengetahui kondisi kestabilan komunitas zooplankton di perairan Pulau Samalona saat ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks
keseragaman, indeks dominansi dan struktur komunitas zooplankton di perairan Pulau
Samalona, Makassar. Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran
tentang kondisi kestabilan komunitas zooplankton di perairan Pulau Samalona saat ini.

2. Bahan dan Metode


Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2008.
Pengambilan sampel dilakukan di perairan Pulau Samalona, Kota Makassar, Sulawesi
Selatan. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Stasiun pengambilan sampel terdiri dari tiga stasiun yang dipilih
terumbu

karang yang ada di

berdasarkan

kondisi

perairan Pulau Samalona. Adapun kriteria baku kondisi

terumbu karang yang tertuang dalam KEPMEN LH No. 4 Tahun 2001 berdasarkan
prosentase luas tutupan terumbu karang yang hidup, adalah baik sekali (75-100%), baik (5074.9%), sedang (25-49.9%), dan buruk (0-24.9). Ketiga stasiun tersebut adalah sebagai
berikut :
a.

stasiun I, merupakan daerah terumbu karang baik yang mempunyai kisaran tutupan

karang hidup sebesar 50-74.9%, dengan letak geografis 0500930.6 LS dan 11901533.4
BT;
b.

stasiun II, merupakan daerah terumbu karang sedang yang mempunyai kisaran

tutupan karang hidup 25-49.9%, dengan letak geografis 0500927 LS dan 11901538.88 BT;
c.

stasiun III, merupakan daerah pecahan karang dengan letak geografis 0500925.2

LS dan 1190164.8 BT.


Identifikasi zooplankton dilakukan di Laboratorium SPICE, Pusat Penelitian Terumbu Karang
(PPTK), Gedung Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Lt. 5, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Analisis klorofil-a dilakukan di Laboratorium Kualitas Air, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu
Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian (Sumber : Google Earth 4.3, 2008)


2.2 Prosedur Penelitian
3

2.2.1 Metode Pengambilan Sampel


2.2.1.1 Zooplankton
Pengambilan sampel zooplankton dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval waktu 2 minggu
berdasarkan fase bulan, yaitu bulan terang dan bulan gelap dengan melihat kondisi bulan.
Untuk bulan terang dilakukan pada tanggal 20 Juni dan 20 Juli 2008, sedangkan untuk bulan
gelap dilakukan pada tanggal 05 Juli dan 03 Agustus 2008. Kegiatan sampling dilakukan
pada pagi hari yaitu sekitar pukul 08.00 WITA selesai di ketiga stasiun. Sampling dimulai
pada stasiun karang baik, kemudian stasiun karang sedang, dan terakhir di stasiun pecahan
karang.
Adapun teknis penangkapan sampel zooplankton yaitu dengan menggunakan jaring
plankton (Apstein-net dengan ukuran mata jaring 200 m) yang dilengkapi flow meter dan
tabung penampung. Jaring tersebut diturunkan secara vertikal dari atas speed boat hingga
jaring mendekati dasar perairan. Setelah jaring mendekati dasar perairan dan tali jaring juga
sudah tegak lurus, maka jaring ditarik ke atas secara perlahan-lahan. Flow meter berfungsi
untuk mengetahui berapa volume air laut yang masuk ke dalam jaring.
Zooplankton yang telah masuk ke dalam tabung penampung jaring, dipindahkan ke dalam
botol sampel dan ditetesi dengan formalin 4% untuk pengawetan dan borax 0,5 gram untuk
tetap menstabilkan nilai pH air sampel. Kemudian botol sampel tersebut dimasukkan ke
dalam cool box dan dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi. Untuk identifikasi
zooplankton digunakan mikroskop Binoculare WILD dengan pembesaran 6-50 kali dengan
bantuan wadah Bolmogorov sorting chamber. Kemudian sampel yang telah diidentifikasi
dipindahkan ke dalam wadah gelas yang kecil untuk menghindari kesalahan dalam
penghitungan jumlah individu.
2.2.1.2 Parameter Oseanografi
Pengukuran parameter oseanografi yang meliputi kedalaman air, suhu, salinitas, dan arus
dilakukan setiap kegiatan sampling di setiap stasiun. Adapun cara pengukuran setiap
parameter adalah sebagai berikut :

Kedalaman air : untuk mengukur kedalaman air laut pada setiap stasiun maka
digunakan alat pengukur kedalaman air (Echosounder). Pengukuran kedalaman air
dilakukan dengan cara mencelupkan Echosounder tersebut ke dalam air laut dan
menekan tombol On. Setelah itu, nilai kedalaman air dapat dilihat pada layar yang
terdapat pada Echosounder tersebut.
Suhu : untuk pengukuran suhu air laut pada setiap stasiun digunakan alat pengukur
suhu (termometer). Pengukuran suhu dilakukan dengan cara mencelupkan
termometer tersebut ke dalam air laut selama 1 menit. Kemudian melihat nilai suhu
air laut pada termometer tersebut.
Salinitas
: untuk pengukuran salinitas air laut digunakan alat pengukur salinitas
(refractometer) dan spoit (untuk mengambil sampel air laut). Pengukuran salinitas
dilakukan dengan cara mengambil sampel air laut dengan spoit dan diteteskan ke
atas kaca refractometer. Kemudian kaca tersebut ditutup, dan melihat nilai salinitas
dengan cara mengarahkan ujung refractometer ke arah matahari.
Arus : untuk pengukuran kecepatan dan arah arus digunakan tongkat arus setinggi
3 meter yang dilengkapi tali plastik sepanjang 1 meter. Untuk mengetahui waktu yang
4

dibutuhkan tali untuk tegak lurus digunakan stopwatch, dan untuk mengetahui arah
arus digunakan kompas. Pengukuran arus dilakukan dengan cara meletakkan
tongkat arus pada stasiun, kemudian tali plastik dilepas bersamaan dengan memulai
stopwatch. Apabila tali sudah menegang, maka stopwatch dihentikan, dan melihat
waktunya.
2.2.1.3 Klorofil-a
Untuk klorofil-a, sampel airnya diambil dengan menggunakan Niskin bottle, dan dimasukkan
ke dalam botol sampel 1 L yang telah dibungkus kertas aluminium yang kemudian di simpan
di dalam cool box. Setelah itu, air di dalam botol difilter dengan menggunakan kertas filter
yang kemudian dibungkus dengan kertas aluminium. Apabila klorofil-a akan dianalisis, kertas
filter tadi dimasukkan ke dalam tabung gelas yang telah dicuci terlebih dahulu dengan
aquadest kemudian dibilas dengan aseton 90%, hingga kertas filter tersebut mendekati
dasar tabung. Kemudian memasukkan larutan aseton 90% sebanyak 10 ml ke dalam tabung
gelas tersebut, setelah itu tabung gelas ditutup dengan parafilm, dan disimpan di rak tabung,
yang kemudian dibungkus dengan kertas aluminium, agar cahaya tidak bisa masuk ke dalam
tabung gelas yang dapat merusak klorofil-a. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kulkas selam
24 jam.
Tabung gelas yang telah disimpan selama 24 jam di kulkas, dipindahkan ke dalam freezer
selama 15 menit, agar semua sampel di dalam tabung gelas dingin, sehingga pada saat
disentrifugal, tabung tidak meledak. Setelah 15 menit, tabung gelas dimasukkan ke dalam
sentrifugal yang telah disetel putarannya hingga 5000 putaran/menit selama 15 menit.
Kemudian menyediakan 2 quivett dengan lebar 1 cm, quivett yang satu untuk aseton
sebagai standar absorbance, sedangkan quivett yang lainnya digunakan untuk sampel
klorofil-a. Setelah itu, quivett dimasukkan ke dalam sprektofotometer untuk mengetahui
kandungan klorofil-anya. Adapun yang digunakan adalah 750 nm, 665 nm, 647 nm, dan
630 nm.
2.3 Analisis Data
Untuk perhitungan komposisi jenis, kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks dominansi
dan indeks keseragaman digunakan rumus sebagai berikut :
a. Persentase Kelimpahan
Untuk menghitung persentase kelimpahan digunakan rumus (Boyd, 1979) :

ni
100 %
N
Persentase kelimpahan (%) =
dengan :
ni : Jumlah individu setiap jenis yang teramati
N : Jumlah total individu

b. Kelimpahan Zooplankton
5

Nilai kelimpahan zooplankton dihitung dengan menggunakan metode flowmeter


(http://www.hydrobios.de/englisch/produkte_stroemung.html; Nontji, 2006; Schulz, 2007)
sebagai berikut :
P
Plankton/m3 =
(0,3 x jumlah putaran flowmeter) x L
Dimana :
P = jumlah plankton (filum) yang tertangkap
L

= luas permukaan mulut Apstein-net (0,02 m2)

c. Indeks Dominansi
Indeks dominansi dihitung dengan menggunakan rumus Evennes Shannon dari Simpson

ni

(Odum, 1971) yaitu : C =


dengan :
C

Dominansi Simpson

Ni

Jumlah individu tiap spesies

: Jumlah individu seluruh spesies

d. Indeks Keanekaragaman
Indeks keanekaragaman dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon

ni
ni
ln

N
N

(Shannon-Wiener) dalam Soegianto (1994), yaitu: H = dengan :


H : Indeks Keanekaragaman
ni : Jumlah individu setiap spesies
N

: Jumlah individu seluruh spesies

e. Indeks Keseragaman
Indeks keseragaman dihitung dengan menggunakan rumus Evenness Shannon

H'
H' Max
(Soegianto, 1994) yaitu : E =

, H Max = log S

dengan :
6

E :

Indeks Keseragaman

H :

Indeks Keanekaragaman

S :

Jumlah seluruh spesies

f. Klorofil-a
Klorofil-a adalah produsen primer dalam perairan yang sangat berhubungan erat dengan
zooplankton, karena merupakan makanan bagi biota tersebut. Sehingga sedikit-banyaknya
kelimpahan zooplankton pada suatu perairan, sangat bergantung kepada kandungan klorofila. Untuk mengetahui kandungan nilai klorofil-a maka digunakan metode Jeffrey & Humphrey
(1975), yaitu :
(11,85 x kE665 - 1,54 x kE647 0,08 x kE630) x V aseton
Chl-a (g/dm3) =
PxL
dimana : kE665 = E665 E750
kE647 = E647 E750
kE630 = E630 E750
P

= volume air yang difilter (1 liter)

= lebar Quivett (1 cm)

g. Uji Perbedaan Komposisi Penyusun Struktur Komunitas


Untuk mengetahui ada-tidaknya perbedaan penyusun struktur komunitas antar stasiun
pengamatan maupun antar bulan pengamatan, maka digunakan 3 jenis metode uji dari
program PRIMER, yaitu :
Metode nMDS (non Metrict Multidimensional Scaling)
Metode nMDS merupakan suatu output dari program PRIMER yang menggunakan matriks
persamaan untuk melihat bentuk (plot) dari suatu struktur sampel (Clarke dan Gorley, 2001).
Plot nMDS didasarkan pada persamaan matriks Bray-Curtis digunakan untuk
menggambarkan komposisi kelompok ke dalam ruang dua dimensional. Jika titiknya saling
berdekatan menggambarkan sampel mempunyai kesamaan dalam komposisi spesies. Dan
jika titik data/sampel dalam plot saling berjauhan menggambarkan semakin besarnya variasi
spesies/data dalam kelompok. Fungsi Log10(X+1) ialah untuk menginstruksikan persamaan
matriks dan persamaan Bray Curtis (Clarke, 1993).
Ada empat nilai stress value yang digunakan untuk mendeteksi akurasi nilai suatu plot yang
menggambarkan struktur/komposisi spesies asli dengan struktur komposisi sampel yang
didapat, yaitu :
1.
Stress value < 0,05 merupakan plot yang sempurna, dengan kemungkinan tidak ada
kesalahan dalam menginterpretasikannya.

2.
Stress value = 0,15 menggambarkan plot yang cukup akurat dengan tingkat
kesalahan interpretasi rendah.
3.

Stress value < 0,2 menggambarkan plot kurang baik untuk digunakan.

4.
Stress value > 0,2 sangat besar kemugkinan terjadi kesalahan dalam
menginterpretasikannya (Clarke, 1993).
ANOSIM ( Analysis of Similarity)
Analysis of similarity (ANOSIM) merupakan suatu program di dalam program PRIMER yang
digunakan untuk menganalisis secara statistik ada tidaknya perbedaan komposisi jenis di
antara parameter-parameter yang diukur atau diuji (Clarke dan Gorley, 2001).
Semua analisa dapat dijalankan secara bersama-sama untuk semua stasiun dengan
faktor/variabel uji. Perbedaan signifikan antara perlakuan faktor dan variabel diuji dengan
menggunakan one-way ANOSIM permutation test (Clarke dan Gorley, 2001).
SIMPER ( Similarity of Persentage)
Similarity of Percentage (SIMPER) merupakan suatu output dari program PRIMER yang
digunakan untuk mengidentifikasi jenis organisme tertentu yang menjadi spesies dominan di
lokasi yang berbeda, untuk mengetahui perbedaan spesies diantara faktor uji, dan spesies
apa yang menjadi pembeda (Clarke dan Gorley, 2001).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Komposisi Jenis Zooplankton
hasil penelitian zooplankton di perairan Pulau Samalona baik pada saat bulan terang
maupun pada saat bulan gelap, maupun antar stasiun pengamatan ditemukan zooplankton
sebanyak 8 filum (Tabel 1)
Tabel 1. Komposisi Jenis Zooplankton yang Ditemukan di Perairan Pulau Samalona
Filum

Annelida
Arthropoda
Chaetognatha
Chordata
Cnidaria
Ctenophora
Echinodermat
a
Mollusca

Berdasarkan Bulan
Pengamatan

Berdasarkan Stasiun
Pengamatan
Karang
Karang
Pecahan
Baik
sedang
karang
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

Bulan Terang

Bulan Gelap

+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+

Keterangan : + = Ditemukan

3.2 Kelimpahan Zooplankton


3.2.1

Perbandingan Kelimpahan Antar Stasiun Pengamatan

Berdasarkan histogram pada Gambar 2, diketahui bahwa kelimpahan zooplankton terbesar


berada pada stasiun karang baik yaitu sebesar 4564 individu/m 3, kemudian stasiun pecahan
karang sebesar 2718 individu/m3, dan stasiun karang sedang sebesar 2431 individu/m3.
Adapun perbandingan kelimpahan antar filum zooplankton pada setiap stasiun pengamatan
dapat dilihat pada Tabel 2.

x
Gambar 2. Perbandingan Kelimpahan Rata-rata Zooplankton (

SE, N=4) Antar Stasiun

Pengamatan di Perairan Pulau Samalona, Makassar.


Dari hasil uji statistik dengan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) pada selang
kepercayaan 95 % ( = 0,05), menunjukkan bahwa kelimpahan zooplankton antar stasiun
pengamatan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p > 0,05). (Tabel 2). Hal ini diduga
disebabkan penentuan stasiun yang letaknya tidak saling berjauhan dan searah arus.
Karena sifat dari zooplankton sendiri yang selalu bergerak mengikuti arus, sehingga
kemungkinan zooplankton yang tadi berada di stasiun karang baik, itu juga yang berpindah
ke stasiun karang sedang dan stasiun pecahan karang. Dugaan tersebut didukung oleh
hasil penelitian Fooisepa (2005) tentang struktur komunitas zooplankton di Pulau
Kodingareng yang mengatakan tidak adanya perbedaan yang nyata antar stasiun
pengamatan diduga disebabkan oleh penempatan dari ketiga stasiun pengamatan yang
tidak begitu jauh. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nontji (2002) yang mengatakan bahwa
9

plankton adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam air,
kemampuan geraknya sangat terbatas dan selalu terbawa oleh arus.

Tabel 2. Kelimpahan Rata-Rata (ind/m) Zooplankton Antar Stasiun Pengamatan

N
O

1
2
3
4
5
6
7
8

FILUM

Annelida
Arthropoda
Chaetognath
a
Chordata
Cnidaria
Ctenophora
Echinoderma
ta
Mollusca
JUMLAH

KARANG BAIK
Kelimpah Persenta
an
se

STASIUN
KARANG SEDANG
Kelimpah Persenta
an
se

PECAHAN KARANG
Kelimpah Persentas
an
e

(ind/m)
158
3673

(%)
3
80

(ind/m)
165
1674

(%)
7
69

(ind/m)
87
1950

(%)
3
72

179
231
240
9

4
5
5
0

79
124
257
27

3
5
11
1

82
93
300
5

3
3
11
0

59
16
4564

1
0
100

64
42
2431

3
2
100

198
3
2718

7
0
100

Tabel 3. Hasil Uji ANOVA Kelimpahan Zooplankton Antar Stasiun Pengamatan

No

Stasiun

Nilai
Perbedaa
n

Karang Baik dan Karang Sedang

0.181

2
3

Karang Baik dan Pecahan


Karang
Karang Sedang dan Pecahan
Karang

0.241
0.850

Keterangan
Tidak Berbeda
Nyata
Tidak Berbeda
Nyata
Tidak Berbeda
Nyata

Untuk

mengetahui perbandingan kelimpahan zooplankton antar stasiun pengamatan pada setiap


sampling di perairan Pulau Samalona, dapat dilihat pada Gambar 3.

10

Gambar 3. Perbandingan Kelimpahan Zooplankton Antar Stasiun Pengamatan di Setiap


Sampling

Berdasarkan Gambar 3, diketahui bahwa hampir di setiap sampling atau pengambilan


sampel zooplankton, stasiun karang baik mempunyai kelimpahan zooplankton terbanyak
dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hanya pada sampling pertama, kelimpahan
zooplankton terbanyak berada di stasiun pecahan karang yaitu 5944 individu/m3
dibandingkan dengan stasiun karang baik (1152 individu/m3) dan stasiun karang sedang
(1857 individu/m3) . Hal ini diduga, karena pada sampling pertama kandungan klorofil-a yang
merupakan makanan bagi zooplankton paling banyak berada di stasiun pecahan karang
yaitu 0.395 g/L dibandingkan dengan stasiun karang baik (0.222 g/L) dan stasiun karang
sedang (0.325 g/L), sehingga konsentrasi zooplankton banyak berpusat pada stasiun
pecahan karang. Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa pada sampling
pertama, kandungan klorofil-a dan kelimpahan zooplankton berbanding lurus. Artinya bahwa
apabila kandungan klorofil-a tinggi maka kelimpahan zooplankton juga tinggi, sebaliknya jika
kandungan klorofil-a rendah maka kelimpahan zooplankton juga rendah. Hal ini sesuai
pernyataan Davis (1955) yang menyatakan bahwa populasi yang tinggi dari zooplankton
hanya dapat dicapai apabila jumlah fitoplankton mencukupi.
3.2.2

Perbandingan Kelimpahan Antar Bulan Pengamatan

Berdasarkan histogram pada Gambar 4, kelimpahan zooplankton di Pulau Samalona pada


saat bulan gelap lebih besar dibandingkan dengan pada saat bulan terang. Pada bulan
gelap kelimpahan zooplanktonnya adalah 3722 individu/m3, sedangkan pada saat bulan
terang kelimpahan zooplanktonnya sebesar 2752 individu/m3. Hal ini diduga, karena
zooplankton memberikan respon negatif terhadap cahaya, sehingga pada bulan terang
zooplankton bergerak menjauhi permukaan dan lebih banyak berada di sekitar dasar
perairan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prasad (1956) dalam Junarsi (2004), yang
menyatakan bahwa cahaya mengakibatkan respon negatif bagi biota migran, mereka
bergerak menjauhi permukaan laut bila intensitas cahaya di permukaan meningkat.
Sebaliknya mereka akan bergerak ke arah permukaan laut bila intensitas cahaya di
permukaan menurun.

11

x
Gambar 4.Perbandingan Kelimpahan Zooplankton ( SE, N=6) Antar Bulan Pengamatan
di Perairan Pulau Samalona, Makassar
Dari hasil uji ANOVA pada selang kepercayaan 95 % ( = 0,05), menunjukkan bahwa
kelimpahan zooplankton tidak menunjukkan perbedaan antar bulan pengamatan(p > 0,05).
3.2.3
3.2.3.1

Perbandingan Kelimpahan Zooplankton dan Klorofil-a


Saat Bulan Terang

Berdasarkan Gambar 5, diketahui bahwa kelimpahan antara zooplankton dan klorofil-a di


perairan Pulau Samalona pada saat bulan terang berbanding lurus. Pada stasiun karang
baik kelimpahan zooplanktonnya 3488 individu/m3 dan kandungan klorofil-a 0.4505 g/L,
stasiun karang sedang kelimpahan zooplanktonnya 1468 individu/m3 dan kandungan klorofila 0.2815 g/L, sedangkan pada stasiun pecahan karang kelimpahan zooplanktonnya
sebesar 3300 individu/m3 dan kandungan klorofil-a 0.3165 g/L. Hal ini menunjukkan bahwa
di perairan Pulau Samalona pada saat bulan terang apabila kandungan klorofil-a tinggi,
maka kelimpahan zooplankton juga meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Davis
(1955) yang menyatakan bahwa populasi yang tinggi dari zooplankton hanya dapat dicapai
apabila jumlah fitoplankton mencukupi. Karena fungsi dari zooplankton sebagai penghubung
antara produsen (klorofil-a) dengan hewan-hewan dengan tingkat tropik yang lebih tinggi.
12

Gambar 5.Grafik Perbandingan Kelimpahan Antara Zooplankton dan Klorofil-a Pada Saat
Bulan Terang di Perairan Pulau Samalona, Makassar.
3.2.3.2

Pada Saat Bulan Gelap

Gambar 6 menunjukkan bahwa kelimpahan antara zooplankton dengan klorofil-a di perairan


Pulau Samalona pada saat bulan gelap berbanding terbalik. Kelimpahan zooplankton pada
stasiun pecahan karang sebesar 2134 individu/m3, yang merupakan kelimpahan zooplankton
terendah, dibandingkan dengan stasiun karang baik sebanyak 5639 ind./m3 dan stasiun
karang sedang sebanyak 3395 ind./m3. Namun di satu sisi, justru kandungan klorofil-a di
stasiun pecahan karang (0.4505 g/L) lebih tinggi, jika dibandingkan dengan stasiun karang
baik yaitu 0.4103 g/L dan stasiun karang sedang yaitu 0.3915 g/L. Hal ini diduga karena
pada saat kandungan klorofil-a di stasiun pecahan karang tinggi, kelimpahan zooplankton
yang memakannya sangat sedikit, sehingga fitoplankton yang memiliki kandungan klorofil-a
mempunyai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan
konsentrasi yang tinggi. Hal ini sesuai dengan Theory Of Grazing yaitu dimakannya
fitoplankton oleh zooplankton yang dikemukakan oleh Harvey et. al (1935) dalam Silvania
(1997). Bila populasi zooplankton meningkat, pemangsaan fitoplankton akan sedemikian
cepatnya sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri, jika jumlah zooplankton
menurun dan menjadi sedikit maka hal ini memberi kesempatan kepada fitoplankton untuk
tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan konsentrasi yang tinggi (Davis, 1955).

13

Gambar 6.Grafik Perbandingan Kelimpahan Antara Zooplankton dan Klorofil-a Pada Saat
Bulan Gelap di Perairan Pulau Samalona, Makassar
3.3 Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi
3.3.1 Indeks Keanekaragaman (H)
Nilai indeks keanekaragaman adalah suatu pernyataan atau penggambaran secara
matematik yang menjelaskan informasi-informasi mengenai jumlah individu dan jumlah
spesies suatu organisme (Kaswadji, 1976).
Berdasarkan Gambar 7, diketahui bahwa nilai indeks keanekaragaman (H) pada setiap
stasiun berkisar antara 0.78 1.11. Nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada
stasiun karang sedang dengan nilai indeks keanekaragaman 1.11, yang berarti bahwa di
stasiun karang sedang tingkat keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap
filum

sedang,

sehingga

kestabilan

komunitas

sedang.

Sedangkan

nilai

indeks

keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun karang baik yaitu 0.78, yang berarti bahwa
di stasiun karang baik tingkat keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap
filum rendah, sehingga kestabilan komunitas rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Mason (1981) dalam Awaluddin (2008), yang menyatakan bahwa H<1, keanekaragaman
rendah, 1<H<3, keanekaragaman sedang, dan H>3, keanekaragaman tinggi. Hal ini diduga
karena pada stasiun karang baik, perbandingan kelimpahan antara filum yang dominan yaitu
Arthropoda dengan filum lainnya sangat berbeda jauh, sehingga hanya ada satu filum yang
sangat dominan di komunitas tersebut, yang mengakibatkan tingkat keanekaragaman
komunitas tersebut rendah. Sedangkan untuk stasiun karang sedang (1.11) dan stasiun
pecahan karang (1.06) masuk dalam tingkat keanekaragaman sedang, karena walaupun
filum Arthropoda masih mendominasi tetapi kelimpahannya tidak terlalu berbeda jauh
dengan filum lainnya. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Soegianto (1994), bahwa suatu
komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis tinggi, jika komunitas itu disusun
oleh banyak spesies (jenis) dengan kelimpahan spesies yang sama atau hampir sama.
Sebaliknya, jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit spesies, dan jika hanya sedikit
saja spesies yang dominan, maka keanekaragaman jenisnya rendah.

14

x
Gambar 7. Nilai Indeks Keanekaragaman Zooplankton (

SE, N=4) di Perairan Pulau

Samalona, Makassar

3.3.2

Indeks Keseragaman (E)

Nilai indeks keseragaman digunakan untuk menggambarkan keadaan jumlah spesies atau
genus yang mendominasi dan bervariasi yang mempunyai kisaran nilai 0 1. Berdasarkan
histogram indeks keseragaman pada Gambar 8, maka diketahui bahwa kisaran nilai indeks
keseragaman di perairan Pulau Samalona berkisar antara 0.41 0.63, dengan nilai indeks
keseragaman tertinggi pada stasiun pecahan karang yaitu 0.63, kemudian stasiun karang
sedang yaitu 0.59, dan nilai indeks keseragaman terendah pada stasiun karang baik yaitu
0.41. Hal ini berarti pada stasiun karang sedang dan stasiun pecahan karang jumlah individu
tiap spesies atau filum yang menyusun komunitas zooplankton boleh dikatakan hampir sama
atau merata, karena mendekati nilai 1. Sedangkan pada stasiun karang baik, nilai indeks
keseragamannya lebih rendah dan mendekati angka 0, yang berarti semakin kecil
keseragaman suatu komunitas. Artinya, bahwa penyebaran jumlah individu setiap spesies
atau filum tidak sama dan ada cenderung bahwa suatu spesies atau filum mendominasi
komunitas tersebut. (Pasengo, 1995)

15

x
Gambar 8. Nilai Indeks Keseragaman Zooplankton (

SE, N=4) di Perairan Pulau

Samalona, Makassar
3.3.3

Indeks Dominansi (C)

Indeks dominansi adalah penggambaran mengenai perubahan struktur dari komunitas suatu
perairan untuk mengetahui peranan suatu sistem komunitas serta efek gangguan pada
komposisi, struktur, dan laju pemulihannya. Berdasarkan Gambar 9, maka dapat diketahui
bahwa nilai indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun karang baik yaitu 0.66,
kemudian stasiun karang sedang yaitu 0.50, dan terendah adalah stasiun pecahan karang
yaitu 0.47. Apabila nilai indeks dominansi mendekati 1, maka komunitas tersebut didominasi
oleh spesies atau filum tertentu, dan apabila mendekati 0, maka tidak ada spesies atau filum
yang dominan pada komunitas tersebut. (Odum, 1971)

x
Gambar 9. Nilai Indeks Dominansi Zooplankton ( SE, N=4) di perairan Pulau Samalona,
Makassar
3.4

Struktur Komunitas Zooplankton

3.4.1 non Metric Multidemensional Scalling (nMDS)


nMDS yaitu plot yang menggambarkan suatu kondisi atau pengelompokan struktur
spesies/variabel. Adapun struktur komunitas zooplankton di perairan Pulau Samalona, baik
pada saat bulan terang maupun pada saat bulan gelap dapat dilihat pada Gambar 12 dan
13.

16

Gambar 10 menunjukkan bahwa sampel zooplankton yang didapat di lokasi penelitian


mempunyai pengelompokan struktur komunitas yang berbeda beda untuk tiap lokasi
sampling. Hal ini dapat dilihat dari titik - titik antar stasiun yang saling berjauhan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Clarke dan Gorley (2001) yang mengemukakan bahwa jika titiknya
saling berdekatan menggambarkan sampel mempunyai kesamaan dalam komposisi spesies,
dan jika titiknya saling berjauhan menggambarkan pengelompokan komunitas yang sangat
berbeda.
Nilai stress yang didapat dari Gambar 10 adalah 0.1, nilai ini mengindikasikan bahwa plot
cukup akurat dengan tingkat kesalahan interpretasi rendah. Ada empat nilai stress value
yang digunakan untuk mendeteksi akurasi nilai suatu plot yang menggambarkan
struktur/komposisi spesies asli dengan struktur komposisi sampel yang didapat, yaitu 1.
Stress value < 0,05 merupakan plot yang sempurna, dengan kemungkinan tidak ada
kesalahan dalam menginterpretasikannya. 2. Stress value = 0,15 menggambarkan plot yang
cukup akurat dengan tingkat kesalahan interpretasi rendah. 3. Stress value < 0,2
menggambarkan plot kurang baik untuk digunakan. 4. Stress value > 0,2 sangat besar
kemugkinan terjadi kesalahan dalam menginterpretasikannya (Clarke, 1993).
Keterangan :
= karang baik
= karang sedang
= pecahan karang

Gambar 10. Plot nMDS Zooplankton Pada Saat Bulan Terang di Pulau Samalona, Makassar
Plot nMDS yang didapat pada bulan gelap (Gambar 11) hampir sama dengan yang didapat
pada bulan terang, dimana plot nMDS menunjukkan titik titik sampel antar stasiun yang
saling berjauhan. Hal ini menunjukkan pengelompokan struktur komunitas yang berbeda
beda untuk tiap lokasi sampling. Hal ini sesuai dengan pendapat Clarke dan Gorley (2001)
mengemukakan bahwa jika titiknya saling berdekatan menggambarkan sampel mempunyai
kesamaan dalam komposisi spesies, dan jika titiknya saling berjauhan menggambarkan
pengelompokan komunitas yang sangat berbeda. Nilai stress value yang didapat pada

17

Gambar 11 yaitu 0.04, ini menggambarkan bahwa plot sempurna dengan kemungkinan tidak
ada kesalahan dalam menginterpretasikannya.

Keterangan :
= karang baik
= karang sedang
= pecahan karang
Gambar11.Plot nMDS Zooplankton Pada Saat Bulan Gelap di Pulau Samalona, Makassar
3.4.2

Analysis of Similarity (ANOSIM)

ANOSIM adalah analisis yang dalam pengolahannya secara statistik bermanfaat untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan struktur komunitas antara kondisi atau parameter yang
diuji. Hasil uji Analysis of Similarity (ANOSIM) pada selang kepercayaan 90% ( = 0.1),
diketahui nilai persentasi tingkat perbedaan antara stasiun karang baik dengan stasiun
karang sedang adalah 11.4% atau 0.11 (tidak berbeda nyata), stasiun karang baik dengan
stasiun pecahan karang adalah 5.7% atau 0.05 (berbeda nyata), dan antara stasiun karang
sedang dengan stasiun pecahan karang adalah 62.9% atau 0.6 (tidak berbeda nyata).
Secara keseluruhan, tingkat persentasi perbedaan antar ketiga stasiun pengamatan adalah
sebesar 9.8% atau 0.098 (berbeda nyata). Sedangkan dari perbandingan antara bulan gelap
dengan bulan terang, maka didapatkan nilai tingkat persentasi perbedaan yaitu 14.1% atau
0.14 (tidak berbeda nyata). Adapun hasil uji ANOSIM zooplankton di perairan Pulau
Samalona, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji ANOSIM Zooplankton di Perairan Pulau Samalona
Uji Pasangan ANOSIM
Stasiun

Nilai
Global R

Keterangan :

Tingkat
Perbedaan (%)

Stasiun I : Karang baik

Antar Stasiun Pengamatan


I vs II

0.25

11.4

I vs III

0.385

5.7

II vs III

-0.083

62.9

Stasiun II : Karang sedang

18

Antar Bulan Pengamatan


Terang vs Gelap
3.4.3

0.122

14.1

Similarity of Percentage (SIMPER)

SIMPER bermanfaat untuk menentukan kesamaan dan perbedaan dari spesies yang
menyusun komunitas di setiap lokasi/parameter yang diuji, atau dengan kata lain untuk
mengidentifikasi jenis organisme tertentu yang menjadi spesies dominan di lokasi yang
berbeda, dan untuk mengetahui perbedaan spesies di antara faktor uji, serta spesies yang
menjadi pembeda. Besar kecilnya perbedaan dapat dilihat pada nilai perbedaannya.
Semakin tinggi nilai persentasi perbedaan, maka semakin besar perbedaan antar lokasi
yang diuji, begitupun sebaliknya.
Dari hasil uji Similarity of Percentage (SIMPER) pada Tabel 5 diketahui perbandingan
struktur komunitas antar ketiga stasiun pengamatan. Perbedaan tertinggi terdapat pada
perbandingan antara stasiun karang baik dengan stasiun pecahan karang yaitu 35.78%,
kemudian antara stasiun karang sedang dan pecahan karang yaitu 29.04%, dan terendah
antara stasiun karang baik dan karang sedang yaitu 28.04%. Hal ini berarti, dari ketiga
stasiun pengamatan yang dibandingkan, antara stasiun karang baik dan pecahan karang
yang paling berbeda penyusun komunitas zooplanktonnya. Hal ini diduga karena kelimpahan
rata-rata setiap filum antara stasiun karang baik dan pecahan karang sangat berbeda.
Dilihat dari filum yang paling mempengaruhi perbedaan struktur komunitas, diketahui filum
Arthropoda yang paling bertanggung jawab pada perbedaan struktur komunitas antara
stasiun karang baik dengan karang sedang, begitupun juga pada karang sedang dengan
pecahan karang. Sedangkan filum yang paling mempengaruhi perbedaan struktur komunitas
antara stasiun karang sedang dengan pecahan karang adalah Echinodermata.
Untuk perbandingan penyusun komunitas zooplankton antara bulan gelap dengan bulan
terang, didapatkan nilai persentasi perbedaan adalah 30.75%, dan filum yang paling
mempengaruhi perbedaan struktur komunitas antara bulan terang dengan bulan gelap
adalah Cnidaria.
Tabel 5. Hasil Uji SIMPER di Perairan Pulau Samalona
Hasil Uji SIMPER
Stasiun

Perbedaan
(%)

Filum yang paling mempengaruhi perbedaan


struktur (%)

Antar Stasiun Pengamatan


19

I vs II

28.04

I vs III

35.78

II vs III

29.04

Arthropoda 18.93, Chaetognatha 15.75, Chordata


14.51
Arthropoda 20.89, Chaetognatha 16.63, Chordata
14.38
Echinodermata 18.17, Arthropoda 16.22, Cnidaria
16.01
Antar Bulan Pengamatan

Terang
vs
Gelap

Cnidaria 17.76, Arthropoda 16.56, Echinodermata


15.43

30.75

3.5 Parameter Oseanografi


Adapun nilai dari parameter oseanografi selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Pengukuran Parameter Oseanografi Pada Lokasi Penelitian.
FASE
BULA
N

TANGGA
L

Bulan
Terang

20/06/200
8

Bulan
Gelap

5/7/2008

Bulan
Terang

20/07/200
8

Bulan
Gelap

3/8/2008

STASIU
N
I
II
III
I
II
III
I
II
III
I
II
III

KEDALAMA
N AIR

SUH
U

SALINITA
S

(m)
4
2.5
2.3
4.8
2.1
1.9
3.5
1.8
1.5
4.5
2.9
2

(C)
27
28
28
28
28
28
28
28
28
27
27
28

()
35
36
36
33
34
34.5
32
34
33.5
33
34
33

ARUS
Kec(m/s
)
0.20
0.15
0.20
0.27
0.20
0.03
0.12
0.04
0.07
0.09
0.10
0.07

Arah
40 - 60
40 - 60
40 - 60
60 - 80
60 - 80
60 - 80
220-260
180
90
40
180-200
200

Tabel 6, diketahui kisaran nilai suhu air laut pada lokasi penelitian selama sampling adalah
27 280 C, yang berarti kondisi perairan Pulau Samalona ditinjau dari parameter suhu masih
berada dalam taraf yang normal. Hal ini sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (2004)
tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut bahwa suhu yang normal adalah 28 300 C.
Untuk parameter salinitas, diketahui berkisar antara 33 36 yang berarti kadar salinitas di
perairan Pulau Samalona masih dalam taraf yang normal. Hal ini sesuai Keputusan Menteri

20

Lingkungan Hidup (2004) tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut bahwa salinitas yang
baik adalah 33 34 .
Sedangkan berdasarkan kecepatan arusnya, diketahui bahwa kisaran nilai kecepatan arus di
perairan Pulau Samalona adalah 0.04 0.27 m/s. Sehingga berdasarkan kecepata arusnya,
perairan Pulau Samalona dapat dikelompokkan ke dalam perairan yang berarus sangat
lambat sampai lambat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mason (1981), bahwa berdasarkan
kecepatan arusnya maka perairan dapat dikelompokkan menjadi berarus sangat cepat
(>1 m/s), cepat (0.5 1 m/s), sedang (0.25 0.5 m/s), lambat (0.1 0.25 m/s), dan sangat
lambat (<0.1 m/s).
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian zooplankton di perairan Pulau Samalona, Makassar, maka
dapat disimpulkan bahwa;
1.

Zooplankton yang diperoleh terdiri dari 8 filum dimana filum Arthropoda yang paling

dominan. Kelimpahan zooplankton relatif rendah yaitu berkisar antara 2431 4864
individu/m3.
2.

Berdasarkan hasil uji ANOVA, diketahui perbandingan kelimpahan zooplankton antar

stasiun pengamatan dan antar bulan pengamatan tidak berbeda nyata. (p>0.05)
3.

Nilai rata-rata indeks keanekaragaman (H) berada pada tingkat keanekaragaman

rendah hingga sedang. Nilai rata-rata indeks keseragaman (E) berkisar antara 0.41 0.63,
sedangkan nilai rata-rata indeks dominansi (C) berkisar antara 0.47 0.66.
4.

Berdasarkan plot nMDS yang didapat pada bulan terang dan bulan gelap

menunjukkan pengelompokan komposisi zooplankton berbeda di setiap stasiun.


5.

Hasil uji ANOSIM antar bulan pengamatan menunjukkan tidak adanya perbedaan

penyusun struktur komunitas. Sedangkan pada perbandingan pada perbandingan antar


stasiun pengamatan menunjukkan adanya perbedaan penyusun struktur komunitas
utamanya antara stasiun karang baik dan pecahan karang, dimana dari hasil SIMPER
diketahui bahwa filum Arthropoda yang paling mempengaruhi perbedaan penyusun struktur
komunitas antar kedua stasiun tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Awaluddin. 2008. Penentuan Hubungan Kondisi Perairan dan Struktur Komunitas
Zooplakton Dengan Menggunakan Primer Software Di Perairan Danau Sidenreng,
21

Sidrap. Skripsi. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.


Universitas Hasanuddin. Makassar. 2008
Boyd, C.E and F. Lichtkoppler. 1979. Water Quality Management for Pond Fish Culture.
Elsevier Scientific Publ. Co. New York.
Clarke K.R. 1993. Non-Parametric Multivariate Analysis of Changes in Community Structure.
Australian Journal of Ecologi. 18 : 117-143
Clarke K.R. and Gorley R.N, 2001. PRIMER V.5. User Manual Tutorial.
Davis, C.E. 1955. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State Uninersity Press.
Michigan.
Fooisepa, Allensy. 2005. Struktur Komunitas Zooplankton di Pulau Kodingareng, Makassar.
Skripsi. Jurusan Kelautan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
hasanuddin. Makassar.
Junarsi, Chun. 2004. Komposisi Jenis dan Kelimpahan Zooplankton di Perairan Pulau
Balang Lompo, Kabupaten Pangkep. Skripsi. Jurusan Kelautan. Fakultas Ilmu
Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. Makassar.
Kaswadji, R. F. 1976. Studi Pendahuluan Tentang Penyebaran dan Kelimpahan Fitoplankton
di Delta Upang Sumatera Selatan. Fakultas Perikanan, IPB.Bogor.
Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Odum, E. P. 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Pasengo, Y. L. 1995. Studi Dampak Limbah Pabrik Plywood Terhadap Kelimpahan dan
Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Dangkang Desa Barowa Kecamatan Bua
Kab. Luwu. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2005. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Djambatan. Jakarta.
Schulz, Maximillian. 2007. Zooplankton Community Structure In Relation To Enviromental
Factors at Spermonde-Archipelago, Indonesia. Unpublished Data.
Silvania, V. 1997. Kelimpahan dan Komposisi Zooplankton di Perairan Estuari Pantai
Marunda, Teluk Jakarta. Skripsi. Fakultas Perikanan, IPB. Bogor.
Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya.

22