Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI SISTEM ORGAN

SEMESTER GENAP 2014 2015

PENGUJIAN AKTIVITAS LOKOMOTOR


Hari / Jam Praktikum

: Selasa, 10.00-13.00

Tanggal Praktikum

: 12 Mei 2015

Kelompok

:2

Asisten

: Nadiya Nurul Afifah


Raisa Mutiarani

Anggota
Nama Lengkap

:
NPM

Tugas

Dhita Dwi P.

260110130131

Pembahasan

Prasetyo D.A.P.

260110130135

Tujuan,Prinsip,Editor

Popy Sarah C.

260110130136

Teori Dasar

Yogiyanto

260110130137

Alat Bahan, Prosedur

Hazrati Ummi

260110130138

Pembahasan,
Kesimpulan

Theresia Ratnadevi

260110130148

Perhitungan

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

I.

TUJUAN
Percobaan ini bertujuan mengetahui efek obat terhadap aktivitas
lokomotor hewan percobaan yang dimasukkan ke dalam roda putar
(wheel cage), berdasarkan pengamatan jumlah putaran roda.

II.

PRINSIP
1. Metode Wheel Cage
Metode yang digunakan untuk mengamati aktivitas lokomotor dari suatu
hewan peercobaan yang didasarkan pada jumlah gerak hewan percobaan
untuk memutar roda putar.
2. Hipnotik Sedatif
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat
(SSP), mulai dari efek ringan seperti menyebabkan tenang atau kantuk,
menidurkan , hingga efek yang berat seperti hilangnya kesadaran, koma dan
mati.
3. Stimulan
Stimulan merupakan zat yang merangsang sistem saraf pusat sehingga
mempercepat proses-proses dalam tubuh, seperti meningkatkan detak
jantung, pernapasan dan tekanan darah.

III.

TEORI DASAR
Sistem saraf pusat (SSP) adalah bagian dari sistem saraf yang

mengkoordinasi kegiatan dari semua bagian tubuh hewan bilaterian-yaitu, semua


hewan multiseluler kecuali simetris radial spons dan binatang seperti ubur-ubur.
Pada vertebrata, sistem saraf pusat yang ditutupi dalam meninges. Ini berisi
sebagian besar sistem saraf dan terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang.
Bersama-sama dengan sistem saraf perifer memiliki peran fundamental dalam
kontrol perilaku. SSP adalah yang terkandung dalam dorsal rongga, dengan otak di
dalam rongga tengkorak dan tulang belakang di rongga tulang belakang. Otak
dilindungi oleh tengkorak, sedangkan sumsum tulang belakang dilindungi oleh
tulang belakang (Dewoto, 2007).

Dalam sel saraf, energi dialihkan dengan penghantaran saraf yang


melibatkan proses elektrik murni. Proses hantaran sinaptik melibatkan pengalihan
energi dari ujung cabang akson pada neuron yang satu ke neuron yang lain yang
tidak saling berhubungan penghantaran impuls saraf melalui sambungan sinaptik
adalah suatu proses kimia. Perubahan aktivitas listrik disebabkan oleh perubahan
permeabilitas membran sel pascasinaptik, dan ini disebabkan pula oleh pelepasan
transmiter. Bila zat transmiter bereaksi dengan reseptor pascasinaptik, zat itu dapat
menimbulkan eksitasi atau hambatan. Kerja transmiter itu meningkatkan atau
menurunkan secara selektif penghantaran ion atau permeabilitas membran terhadap
ion (Sukandar, 2010).
Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat (SSP) memperlihatkan efek
yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktivitas
SSP secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok obat memperlihatkan
selektivitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik yang khusus mempengaruhi
pusat pengatur suhu dan pusat nyeri tanpa pengaruh jelas terhadap pusat lain.
Sebaliknya anestetik umum dan hipnotik sedatif merupakan penghambat SSP yang
bersifat umum sehingga takar lajak yang berat selalu disertai koma. Pembagian obat
dalam kelompok yang merangsang dan kelompok yang menghambat SSP tidak
tepat, karena psokofarmaka misalnya menghambat fungsi bagian SSP tertentu dan
merangsang bagian SSP yang lain. Obat yang mempengaruhi susunan saraf pusat
(SSP) dapat bersifat merangsang atau mendepresi. Berdasarkan kegunaan
terapeutiknya, obat SSP dapat dibagi dalam tiga golongan :
1. Depresi SSP umum
Obat-obat ini menimbulkan efeknya dengan mendepresi secara tak selektif
struktur sinaptik, termasuk jaringan prasinaptik, termasuk jaringan
prasinaptik dan prasinaptik. Obat-obat ini menstabilkan membran neuron
dengan mendepresi struktur pascasinaptik, disertai dengan pengurangan
jumlah transmiter kimia yang dilepaskan oleh neuron prasinaptik.
2. Perangsang DDP umum
Obat-obat ini melakukan kerjanya secara tak selektif dengan salah satu
mekanisme berikut : merintangi hambatan pascasinaptik atau mengeksitasi

neuron secara langsung. Eksitasi neuron secara langsung dapat dicapai


dengan

mendepolarisasi

sel

prasinaptik,

meningkatkan

pelepasan

prasinaptik akan transmiter, melemahkan kerja transmiter, melabilkan


membran neuron atau menurunkan waktu pulih sinaptik.
3. Obat-obat SSP selektif
Obat golongan ini dapat berupa depresan atau perangsang. Kerja melalui
berbagai mekanisme, dan mencakup obat antikejang, pelemas otot yang
bekerja sentral, analgetika dan sedativa(Tjay, 2002).
Secara kualitatif benzodiazepin mempunyai efek yang hampir sama, namun
secara kuantitatif spektrum farmakodinamik serta data farmakokinetik yang
berbeda. Hal ini yang menyebabkan aplikasi terapi golongan ini sangat luas.
Benzodiazepin berefek hipnosis, sedasi, relaksasi otot, ansiolitik dan antikonvulsi
dengan potensi yang berbeda-beda (Andrianto, 2008)
Efek benzodiazepin hampir semua merupakan hasil kerja golongan ini pada
SSP dengan efek utama: sedasi, hiposis, pengurangan terhadap rangsangan
emosi/ansietas, relaksasi otot dan antikonvulsi. Walaupun benzodiazepin
mempengaruhi aktivitas saraf pada semua tingkatan, namun beberapa derivat yang
lain pengaruhnya lebih besar dari derivatnya yang lain, sedangkan sebagian lagi
memiliki efek yang tak langsung. Penggolongan benzodiazepin :

Obat-obat long-acting antara lain klordiazepoksida, diazepam, nitrazepam,


dan flurazepam. Obat-obat ini dirombak antara lain dengan jalan demetilasi
dan

hodrolsilasi

menjadi

metabolit

aktif

desmetildiazepam

dan

hidroksidiazepam.

Obat-obat short-acting : oksazepam, lorazepam, lormetazepam, temazepam,


loprazolam dan zopiclon. Obat-obat ini dimetabolisasi tanpa menghasilkan
metabolit aktif yang memiliki kerja panjang. Obat ini layak digunakan
sebagai obat tidur karena tidak berkumulasi saat penggunaan berulang kali
dan jarang menimbulkan efek sisa, sebaliknya risiko yang lebih besar akan
reboundinsomnia dan lebih cepat menimbulkan gejala abstinensi.

Obat-obat ultra-short acting : triazolam, midazolam, dan estazolam. Risiko


akan efek abstinensi dan rebound-insomnia lebih besar lagi pada obat-obat
ini sehingga setidaknya jangan digunakan labih lama dari 2 minggu
(Muchtaridi,2008).
Barbiturat sejak lama digunakan sebagai hipnotika dan sedativa, tetapi

penggunaannya dalam tehun-tahun terakhit sangat menurun karena adanya obatobat dari kelompok benzodiazepin yang lebih aman. Yang merupakan pengecualian
adalah fenobarbital, yang memiliki sifat antikonvulsif dan tiopental yang masih
banyak digunakan sebagai anestetikum i.v. (Mutchler, 1991).
Barbital digunakan sebagai obat pereda untuk siang hari dalam dosis yang
lebih rendah dari dosisnya sebagai obat tidur. Faktor-faktor yang membatasi
penggunaan

barbiturat

dan menyebabkan

penggunaannya

terdesak oleh

benzodiazepin adalah :

Toleransi

dan

ketergantungan

cepat

timbul

menyangkut

sifat

menidurkannya pada dosis berulang laki dan lebih ringan mengenai khasiat
anti-epilepsinya.

Stadium REM (dengan mimpi) dipersingkat, yang berefek pasien


mengalami tidur kurang nyaman.

Efek paradoksal dapat terjadi dalam dosis rendah pada keadaan nyeri, yakni
justru eksitasi dan kegelisahan

Overdise barbital menimbulkan depresi sentral, dengan penghambatan


pernapasan berbahaya, koma, dan kematian(Mutchler, 1991).
Akibat induksi-enzim barbital juga mempercepat perombakan obat-obat

lain, yang metabolisasinya berlangsung oleh sistem enzim yang sama, misalnya
derivat kumarin, antikonseptiva oral, dan siklosporin. Sebaliknya efek barbital
diperkuat oleh asam valproat(Mutchler, 1991).
Ada indikasi kuat bahwa terjadinya toleransi dan ketergantunga berkaitan
erat dengan aktivasi dari sistem dopaminerg di otak. Semua zat yang bersifat adiksi
berkhasiat meningkatkan jumlah dopamin secara akut yang dihubungkan dengan
efek eufori, labilitas emosional, kekacauan dan histeri. Lebih dari sepuluh
neurotransmiter lain antaranya noradrenalin dan serotonin, memegang peranan pula

pada adiksi tetapi pengaruhnya jauh lebih ringan. Kadar dopamin yang terlalu tinggi
dapat mengakibatkan halusinasi dan psikosis akut(Mansjoer, 1999).

Kafein

Khasiat : kafein berkhasiat menstimulasi SSP, dengan efek


menghilangkan rasa letih, lapar dan mengantuk juga daya
konsentrasi dan kecepatan reaksi dipertingg,prestasi otak dan
suasana jiwa diperbaiki. Kerjanya terhadap kulit otak lebih ringan
dan singkat daripada amfetamin. Kafein juga berefek inotrop positif
terhadap jantung, vasodilatasi perifer dan diuresis.

Efek samping : bila diminum lebih dari 10 cangkir kopi dapat berupa
debar jantung, gangguan lambung, tangan gemetar, gelisah, ingatan
berkurang dan sukar tidur.

Dosis : pada rasa letih 1-3dd 100-200 mg, sebagai adjuvans bersama
analgetik 50 mg

sekali, bersama ergotamin pada migrain 100

mg(Depkes RI,1979)
Di antara obat depresan sedatif/hipnotik yang menimbulkan efek ketagihan
adalah kumpulan barbiturat, benzodiazepin, kloral hidrat, glutetimid, metakualon,
dan meprobamat (Mansjoer, 1999).

IV.

ALAT BAHAN
Alat :

Bahan :

1. Alat roda putar (wheel cage)

1. Fenobarbital (depresan)

2. Alat suntik 1 ml

2. Kafein (stimulan)

3. Sonde oral mencit

3. Larutan suspensi gom arab

1-2%
4. Stopwatch
5. Timbangan mencit

Gambar Alat :

Wheel Cage

Sonde oral

Alat suntik

Timbangan

Timer

V.

PROSEDUR
Pengujian dilakukan dengan metode roda putar(wheel cage
method) yang dimodifikasi dengan prosedur sebagai berikut : Pertama-tama
Hewan dibagi atas dua kelompok, yang terdiri atas kelompok kontrol dan
kelompok obat uji 1(depresan) dan Kelompok obat uji 2(stimulan).
Kemudian semua hewan dari setiap kelompok diberi perlakuan sesuai
dengan kelompoknya yaitu kelompok 1 atau kontrol diberi larutan suspensi
gob arab 1-2%, kelompok 2 atau uji depresan diberi obat fenobarbital dan
kelompok 3 atau uji stimulan diberi obat kafein dengan pemberian dosis
sesuai ketentuan.Lalu 30 menit kemudian mencit dimasukkan ke dalam alat
roda putar dan aktivitas mencit dicatat selama 30 menit dengan interval 5
menit. Setelah itu data yang diperoleh dianalisis secara statistik berdasarkan
analisis variasi dan kebermaknaan perbedaan lama waktu tidak bergerak
antara kelompok kontrol dan kelompok uji 1 dan uji 2 dianalisis dengan
Student test.Lalu data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik.

VI.

DATA PENGAMATAN

Perhitungan dosis mencit:


=


0,5
20

Kelompok

Perlakuan

No
1
2
3
4
5

Berat
23
24,6
22,2
18,5
24,6

Volume
obat
0,58
0,615
0,56
0,46
0,615

1
2
3
4
5

27,4
26,8
23,9
23,5
25,1

0,69
0,67
0,6
0,59
0,6275

1
2
3
4
5

22,7
23
21,2
16,5
24,9

0,57
0,515
0,53
0,41
0,6225

t=0

Mencit
Kontrol

PGA peroral

Mencit
Kafein

Kefein 13
mg/kgBB

Mencit
Fenobarbital
Fenobarbital 50 mg/kg BB

t = 30

Dimasukkan
ke dalam
Wheel Cage

3. Data Pengamatan
Perlakuan
t=0

Mencit
Kontrol

t = 30

PGA peroral

jumlah
rata-rata

Mencit
Kafein

Kefein 13
mg/kgBB

jumlah
rata-rata

Mencit
Fenobarbital
Fenobarbital 50 mg/kg BB

jumlah
rata-rata
Total

Dimasukkan
ke dalam
Wheel Cage

t = 35
113
6
115
3
3
240
48
73
29
24
19
6
151
30,2
58
65
90
88
13
314
62,8
705

Pengamatan (banyak putaran)


t = 40
t = 45
t = 50
t = 55
75
2
32
120
0
0
3
0
108
86
65
38
8
2
6
30
8
3
1
0
199
93
107
188
39,8
18,6
21,4
37,6
64
32
8
22
11
7
20
7
2
18
4
0
2
1
3
0
42
21
12
90
121
79
47
119
24,2
15,8
9,4
23,8
26
36
54
60
75
68
50
56
71
90
77
51
150
105
64
104
0
0
0
0
322
299
245
271
64,4
59,8
49
54,2
642
471
399
578
Rata-rata

1. Hipotesis
a. Hipotesis pengaruh utama faktor A (waktu)
Ho
: 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = 6 = 0 atau faktor waktu tidak mempengaruhi
jumlah putaran roda oleh mencit.
H1
: i 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau faktor waktu mempengaruhi jumlah
putaran roda mencit.
b. Hipotesis pengaruh utama faktor B (pemberian jenis obat)
Ho
: 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = 6= 0 atau faktor pemberian jenis obat tidak
mempengaruhi jumlah putaran roda oleh mencit.
H1
: i 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6 atau faktor pemberian jenis obat
mempengaruhi jumlah putaran roda oleh mencit.
c. Hipotesis pengaruh interaksi A dan B

t = 60
78
3
100
28
0
209
41,8
39
6
0
2
73
120
24
66
60
57
125
0
308
61,6
637

Jumlah
420
12
512
77
15
1036
207,2
238
80
48
27
244
637
127,4
300
374
436
636
13
1759
351,8
3432
572

Ho
: ()11 = ()12 = ()13 = ()21 = ()22 = ()23 = ()31 = ()32 =
()33 = ()41 = ()42 = ()43 = ()51 = ()52 = ()53 = ()61 = ()62 =
()63 = 0 atau faktor interaksi tidak mempengaruhi jumlah putaran roda oleh
mencit.
H1
: ij 0; i = 1, 2, 3, 4, 5, 6; j = 1, 2, 3 atau faktor interaksi
mempengaruhi jumlah putaran roda oleh mencit.
2. Perhitungan
1. FK=

( )2

2. JKP =
790788
5

(572)2
653

=1 =1 .

327184
90

= 3635,37778

(2402 +1992 +932 +1072 + 1882 ++3082 )


5

3635,37778 =

3635,37778 = 158157,6 3635,37778 = 154522,222

3. JKA =
2030084
15

=1 ..

(7052 +6422 +4712 +3992 + 5782 +6372 )


35

3635,37778 =

3635,37778 = 135338,933 - 3635,37778 = 131703,556

1. JKB =

=1 ..

(10362 +6372 +17592 )


65

3635,37778 =

4573146
30

3635,37778 =
152438,2 - 3635,37778 = 148802,822
2. JKT= =1 =1 =1 2 = (1132 + 752 +22 + + 02 ) 3635,37778 =
265833 3635,37778 = 262198,622
6. JKAB = JKP JKA JKB = 154522,222 131703,556 148802,822 = 125984,156
7. JKG = JKT JKP = 262198,622 154522,222 = 107676,4
8. dbP = ab -1 = (6x3) 1 = 17
9. dbA = a 1 = 6 1 = 5
10. dbB = b 1 = 3 1 = 2
11. dbAB = (a 1) (b 1) = 5 x 2 = 10
12. dbG = ab(r 1) = 18 x (5 - 1) = 72
13. dbT = abr 1 = (6x3x5) 1 = 89

14. KTA = =

15. KTB = =

131703,556
5
148802,822

16. KTAB = =

= 26340,7112
= 74401,411

125984,156
10

= -12598,4156

17. KTG = =

107676,4
72

= 1495,5055556

18. FhitungA= / = 17,613248644


19. FhitungB = / = 49,750006425
20. FhitungAB = / = - 8,4241850877
21. FA = F(dbA, db galat) = 2,342
22. FB = F(dbB, db galat) = 3,124
23. FAB = F(dbAB, db galat) = 1,965

3. Tabel Anava
Sumber
geragaman
Perlakuan
A
B

Db
17
5
2

interaksi ab
Galat
Total

10
72
89

JK

KT

fhitung

154522,222
131703,556 26340,7112
17,613248644
148802,822
74401,411
49,750006425
-8,4241850877
125984,156 -12598,4156
107676,4 1495,5055556
262198,622

4. Pengaruh perlakuan
-

Fhit > F(db perlakuan, db galat)


o Tolak Ho: perlakuan berpengaruh terhadap respon yang diamati
atau terdapat perbedaan antarperlakuan.

Fhit > F(db perlakuan, db galat)


o Tolak Ho: perlakuan berpengaruh terhadap respon yang diamati
atau terdapat perbedaan antarperlakuan.

5. Hasil :
-

FhitungA 17,613248644 > FA 2,342 maka Ho ditolak, atau waktu


berpengaruh terhadap jumlah putaran roda oleh mencit yang diamati
atau terdapat perbedaan antarperlakuan.

FhitungB 49,750006425 > FB 3,124 maka Ho ditolak, atau jenis


pemberian obat berpengaruh terhadap jumlah putaran roda yang diamati
atau ada perbedaan antar perlakuan.

FhitungAB

-8,4241850877 FAB 1,965 maka Ho diterima, atau

interaksi antara waktu dengan jenis pemberian obat tidak berpengaruh


pada jumlah putaran roda oleh mencit yang diamati.

6. Uji Lanjut
Uji lanjut dilakukan untuk melihat apakah ada pengaruh yang signifikan dari
perbedaan waktu terhadap respon jumlah putaran roda oleh mencit dan melihat
pengaruh signifikan dari pemberian jenis obat terhadap respon putaran roda oleh
mencit. Uji lanjut digunakan metode uji Duncan.
Untuk uji lanjut pengaruh waktu terhadap respon jumlah putaran roda oleh
mencit:
1. Menghitung nilai r(p,db).
Menghitung nilai ini dapat digunakan metode interpolasi

= 0,05; db = 72; perlakuan (p) = 2, 3, 4, 5, 6.


r untuk db 72 = 2,82 (2 perlakuan)
r untuk db 72 = 2,967 (3 perlakuan)
r untuk db 72 = 3,0646 (4 perlakuan)
r untuk db 72 = 3,1352 (5 perlakuan)
r untuk db 72 = 3,1902 (6 perlakuan)
2. Menghitung wilayah nyata terpendek (Rp)

1495,5055556
=

= 299,10111112=17,29453992

Rp = S . r(p,db)
Rp2 = 17,29453992 x 2,82 = 48,77
Rp3 = 17,29453992 x 2,967 = 51,31
Rp4 = 17,29453992 x 3,0646 = 53,00
Rp5 = 17,29453992 x 3,1352 = 54,22
Rp6 = 17,29453992 x 3,1902 = 55,17
2. Kriteria Pengujian
Nilai mutlak kedua selisih kedua rata-rata yang akan dilihat dibandingkan dengan
wilayah nyata terpendek (Rp) dengan kriteria pengujian:

Dengan mengurutkan tabel nilai rata-rata perlakuan (waktu) dengan pemberian


PGA dari kecil ke besar:
Perlakuan
Rata-rata
(waktu)
Putaran Roda

45
50
55
40
60
35

18,6
21,4
37,6
39,8
41,8
48

Membuat perbandingan:

Perlakuan
(waktu)

45 (C)
50 (D)

Ratarata
Putaran
Roda
18,6
21,4

55 (E)

37,6

40 (B)

39,8

60 (F)

41,8

35 (A)

48

45 (C)

50
(D)

18,6

21,4

0
2,8
(2)
Tidak
nyata
19
(3)
Tidak
nyata
21.2
(4)
Tidak
nyata
23.2
(5)
Tidak
Nyata
29.4
(6)
Tidak
nyata

55 (E) 40 (B) 60 (F)

37,6

39,8

41,8

35
(A)
48

16.2
(2)
Tidak
nyata
18.4
(3)
Tidak
nyata
20.4
(4)
Tidak
nyata
26.6
(5)
Tidak
nyata

2.2
(2)
Tidak
nyata
4.2
(3)
Tidak
nyata
10.4
(4)
Tidak
nyata

2
(2)
Tidak
nyata
8.2
(3)
Tidak
nyata

6.2
(2)
Tidak
nyata

Dengan mengurutkan tabel nilai rata-rata perlakuan (waktu) dengan pemberian


Kafeine dari kecil ke besar:
Perlakuan
(waktu)
50
45
55
60
40
35

Rata-rata
Putaran Roda
9,4
15,8
23,8
24
24,2
30,2

Membuat perbandingan:

Perlakuan
(waktu)

50 (D)
45 (C)

Ratarata
Putaran
Roda
9,4
15,8

55 (E)

23,8

60 (F)

24

40 (B)

24,2

35 (A)

30,2

45
(C)

50
(D)

55 (E)

40
(B)

60 (F)

35
(A)

9,4

15,8

23,8

24

24,2

30,2

0
6.4
(2)
Tidak
nyata
14.4
(3)
Tidak
nyata
14.6
(4)
Tidak
nyata
14.8
(5)
Tidak
nyata
20.8
(6)
Tidak
nyata

8
(2)
Tidak
nyata
8.2
(3)
Tidak
nyata
8.4
(4)
Tidak
nyata
14.4
(5)
Tidak
nyata

0.2
(2)
Tidak
nyata
0.4
(3)
Tidak
nyata
6.4
(4)
Tidak
nyata

0.2
(2)
Tidak
nyata
6.2
(3)
Tidak
nyata

6
(2)
Tidak
nyata

Dengan mengurutkan tabel nilai rata-rata perlakuan (waktu) dengan pemberian


Kafeine dari kecil ke besar:
Perlakuan
(waktu)
50
55
45
60
35
40

Rata-rata
Putaran Roda
49
54,2
59,8
61,6
62,8
64,4

Membuat perbandingan:

Perlakuan
(waktu)

50 (D)
55 (E)

Ratarata
Putaran
Roda
49
54,2

45 (C)

59,8

60 (F)

61,6

35 (A)

62,8

40 (B)

64,4

45
(C)

50
(D)

55 (E)

40
(B)

60 (F)

35
(A)

49

54,2

59,8

61,6

62,8

64,4

0
5.2
(2)
Tidak
nyata
10.8
(3)
Tidak
nyata
12.6
(4)
Tidak
nyata
13.8
(5)
Tidak
nyata
15.4
(6)
Tidak
nyata

5.6
(2)
Tidak
nyata
7.4
(3)
Tidak
nyata
8.6
(4)
Tidak
nyata
10.2
(5)
Tidak
nyata

1.8
(2)
Tidak
nyata
3
(3)
Tidak
nyata
4.6
(4)
Tidak
nyata

1.2
(2)
Tidak
nyata
2.8
(3)
Tidak
nyata

1.8
(2)
Tidak
nyata

Keterangan:
Angka (2), (3), (4), (5), (6) menunjukkan peringkat (p) untuk dibandingkan selisih
perbedaan dua rata-rata sesuai dengan peringkatnya (rendah ke tinggi).
Maksudnya antara C dan D bertetangga 2, sedangkan E dan D bertetangga 3, dst.
3. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari uji Duncan, maka perbedaan dari waktu terhadap jumlah
putaran roda memberikan perbedaan yang tidak nyata pada tarah 0,05.
Selanjutnya dilakukan uji lanjut untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh yang
signifikan pemberian jenis obat terhadap jumlah putaran roda oleh mencit.
1. Menghitung nilai r(p,db).
Menghitung nilai ini dapat digunakan metode interpolasi

= 0,05; db = 72; perlakuan (p) = 2, 3, 4, 5, 6.


r untuk db 72 = 0,009 (2 perlakuan)
r untuk db 72 = 0,009 (3 perlakuan)
2. Kriteria Pengujian
Nilai mutlak kedua selisih kedua rata-rata yang akan dilihat dibandingkan dengan
wilayah nyata terpendek (Rp) dengan kriteria pengujian:

Dengan mengurutkan tabel rata-rata perlakuan dari kecil ke besar:


Rata-rata

Perlakuan
Kafein

Putaran
13

mg/kgBB

127,4

(C)
Kontrol
Negatif (B)

207,2

Fenobarbital
50

mg/kg 351,8

BB (A)
Beda rataan C dengan A = 127,4 351,8= 224,4 > 31,64554915
Beda rataan C dengan B = 127,4 207,2= 79,8 > 30,62171239
Beda rataan B dengan A = 207,2 351,8= 144,6 > 30,62171239

3. Kesimpulan
Jenis pemberian obat terhadap jumlah putaran roda memberikan pengaruh yang
nyata pada taraf 0,05
7. Persentase stimulan
% =


100 %

% =

127,4 207,0
100 % = 0,38454
207,0

Persentase aktivitas depresan


%
=


100 %

207,0 351,8
100 % = 0,69952
207,0

% =

Volume Pemberian :
1. PGA =

24,6
20

2. Kafein =

0,5 = 0,615

25,1
20

0,5 = 0,628

3. Fenobarbital =

24,9
20

0,5 = 0,623

Grafik antara Rata-rata banyak putaran dengan kelompok uji


400,0
350,0
300,0
250,0
200,0
150,0
100,0
50,0
0,0
Kontrol PGA

Kafein

Fenobarbital

Grafik

antara

banyak

putaran

dengan

tiap

tiap

kelompok

uji

350
300
250
200

Kelompok
kontrol PGA

150

Kelompok
Kafein

100

Kelompok
Fenobarbital

50
0
t=35'

VII.

t=40'

t=45'

t=50'

t=55'

t=60'

PEMBAHASAN
Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui efek obat terhadap
aktivitas lokomotor pada mencit yang dimasukkan dalam roda putar. Obat
yang akan diuji aktivitas lokomotornya adalah Fenobarbital. Fenobarbital
merupakan golongan barbiturat, obat yang bersifat hipnotik-sedatif, selain
itu juga merupakan anestetik parenteral, pelemas otot, antiepilepsi dan
anticemas (antiansietas). Obat ini masuk dalam golongan Barbiturat yang
meningkatkan kerja GABA di SSP sehingga dapat menimbulkan sedasi,
hipnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot,
dan antikonvulsi Sedangkan kafein merupakan senyawa hasil metabolisme
sekunder golongan alkaloid. Kafein bekerja di dalam tubuh dengan
mengambil alih reseptor adenosin dalam sel saraf. Peranan utama kafein di
dalam tubuh adalah meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap
terjaga dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi.
Pada percobaan ini mencit dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok
pertama, mencit diberikan PGA tanpa pemberian obat lain. Kelompok ini
merupakan kelompok kontrol. Kelompok kedua adalah kelompok mencit
yang diberikan obat fenobarbital dengan dosis 13 mg/kgBB secara per oral.

satuan

wakt

Kelompok ketiga adalah kelompok mencit yang diberikan kafein dosis 50


mg/kgBB secara per oral.
Pada kelompok kontrol tidak dilakukan penambahan obat apapun,
karena kelompok kontrol hanya akan diuji aktivitas lokomotor mencit
secara alami tanpa ada pengaruh obat apapun. Pemberian PGA pada
kelompok kontrol dianggap tidak memberikan efek apapun terhadap
aktivitas lokomotori sehingga mencit pada kelompok ini bekerja alami tanpa
ada pengaruh obat, sehingga kelompok-kelompok yang lain dapat
dibandingkan dengan kelompok kontrol ini.. Pada kelompok kedua adalah
kelompok mencit yang telah diberikan obat fenobarbital, sedangkan pada
kelompok ketiga, mencit diberikan obat kafein sehingga mencit pada kedua
kelompok ini bergerak dipengaruhi oleh obat. Diharapkan dapat terlihat
hasil yang yang berbeda dengan adanya perbedaan pada pemberian jenis
obat yang diberikan kepada mencit. .
Setelah mencit diberi obat, kemudian didiamkan selama 30 menit
sebelum dimasukkan ke dalam roda putar. Proses didiamkannya mencit
setelah diberikan obat adalah agar obat tersebut dapat diabsorpsi terlebih
dahulu oleh mencit, sehingga efeknya akan lebih terlihat pada saat mencit
diletakkan ke dalam roda putar dan dalam waktu 30 menit tersebut obat
dianggap telah diabsorpsi oleh mencit.
Setelah 30 menit, mencit dimasukkan ke dalam roda putar dan
dihitung putaran roda selama 30 menit dengan interval waktu 5 menit.
Dipilih waktu selama 30 menit karena dianggap pada waktu tersebut obat
telah habis bereaksi. Dalam waktu 30 menit tersebut mencit akan
memperlihatkan reaksi-reaksi sesuai dengan obat yang diberikan.
Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi jumlah putaran.
Yang sangat mempengaruhi dari absorpsi obat adalah berat badan mencit,
karena berpengaruh pada luasnya daerah absorpsi dan tentu saja sangat
mempengaruhi absorpsi obat. Perbedaan jumlah pada tiap bagian ini
dipengaruhi bagaimana ketersediaan obat dalam mencit. Semakin lama obat
dalam mencit akan bekerja sampai puncaknya dan kemudian lama-lama
efeknya akan menurun karena ketersediaan obat makin berkurang.

Pada percobaan kali ini, mencit yang tidak diberikan obat uji tidak
terlalu memberikan efek atau pengaruh yang signifikan terhadap perubahan
aktivitas yang ditunjukkan dengan peningkatan atau penurunan jumlah
putaran roda putar. Sedangkan untuk mencit yang diberikan obat uji berupa
diazepam, seiring dengan berjalannya waktu pengamatan ternyata aktivitas
mencit perlahan mengalami penurunan, hal tersebut di tunjukkan dengan
berkurangnya jumlah putaran roda putarnya. Penurunan aktivitas pada
mencit ini disebabkan karena fenobarbital termasuk golongan barbiturat,
obat yang bersifat hipnotik sedatif sehingga mengakibatkan mencit perlahan
mengalami rasa sedasi yang cukup kuat dan apabila dosisnya ditingkatkan
maka kemungkinan mencit tersebut akan tertidur atau tidak melakukan
aktivitas apapun. Untuk mencit yang diberikan obat kafein ternyata
mengalami peningkatan aktivitas yang cukup signifikan ditandai dengan
peningkatan jumlah putaran rodanya. Kafein meningkatan kerja psikomotor
sehingga tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis berupa
peningkatan energi. Dengan demikian maka mencit akan terus aktif
bergerak selama efek obat tersebut masih ada namun seiring dengan
berjalannya waktu pengamatan maka lama-lama efeknya akan menurun
karena ketersediaan obat makin berkurang di dalam tubuh mencit. Hal ini
ditandai dengan berkurangnya jumlah putaran roda.
Pada percobaan kali ini, dilakukan pengamatan terhadap 3
kelompok uji,yaitu kelompok kontrol (I), dengan pemberian larutan
suspensi gom arab (PGA)2% sehingga mencit pada kelompok ini bekerja
alami tanpa ada pengaruh obat.Pada kelompok kedua (II) adalah kelompok
mencit yang telah diberikan obat kafein, sedangkan pada kelompok ketiga
(III), mencit diberikan obat fenobarbital. Setelah diamati, mencit yang tidak
diberikan obat uji (kelompok kontrol)memberikan efek atau pengaruh yang
fluktuatif

terhadap

perubahan

aktivitas

yangditunjukkan

dengan

peningkatan atau penurunan jumlah putaran roda putar yangseringkali tidak


konstan, dimana aktivitas yang dilakukan mencit tiap selang waktu
pengamatan tidak memberikan angka yang tetap (penurunan aktivitas
seiring lamanya waktu pengamatan). Hal ini dapat disebabkan perbedaan

perilaku dan sifat dari mencit uji saat ditempatkan ke dalam wheel cage
sehingga dapat mempengaruhi jumlah perputaran roda yang
Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka didapatkan jumlahjumlah pergerakan putar roda yang dilakukan oleh hewan percobaan, yang
kemudian diplotkan kedalam diagram batang untuk melihat perbandingan
banyak pergerakan dari tiap-tiap hewan percobaan dan grafik line untuk
melihat perubahan-perubahan tiap waktu dari pergerakan hewan-hewan
percobaan,
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pada control, perubahan
pergerakan tidak beraturan, mencit bergerak tanpa dapat diprediksi banyak
atau sedikit pergerakannya, mencit masih dapat dikatakan bergerak secara
alami. Sedangkan pada pemberian kafein terlihat lonjakan drastic yang
menandakan adanya peningkatan respon gerak mencit, ini adalah efek dari
stimulant, ada beberapa bagian yang turun dan diduga merupakan akibat
dari pengaruh fisik mencit yang mengalami kelelahan sementara, karena
pada daerah waktu berikutnya terjadi peningkatan kembali. Sedangkan pada
pemberian fenobarbital sebagai depresan system syaraf seharusnya terdapat
penurunan pergerakan secara bertahap sampai tidak melakukan pergerakan
sama sekali. Namun, pada beberapa mencit terjadi hal yang sebaliknya.
Sehingga dikhawatirkan efek obat yang ditimbulkan dapat tidak
sesuai dengan literatur.Berdasarkan hasil pengamatan yang dituangkan
dalam penyajian data berupa grafik, dapat dilihat perbedaan yang signifikan
antara ketiga bahan uji PGA, Kafein, dan Fenobarbital terhadap jumlah
putaran roda. Pada ketiga kelompok,mencit yang diberi kafein sebagai
stimulan,

menunjukkan

peningkatan

aktivitasyang

signifikan,

ini

menunjukkan bahwa aktivitas stimultan dari kafein tergolong baik. Namun


pada fenobarbital yang merupakan obat depresan golongan hipnotik-sedatif,
justru mengalami kenaikan aktivitas yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan mencit yang diberi obat stimulant. Hal itu terjadi bisa jadi karena
sejak awal aktivitas dari mencit memang sangat tinggi dan cenderung tidak
bias diam dan waku pengamatan yang dilakukan pun terlalu sebentar,
pengamatan dilakukan seharusnya selama 90 menit untuk mendapatkan

hasil yang lebih akurat dari setiap aktivitas bahan uji. Karena untuk
fenobarbital. setelah pemberian obat secara oral, obat diserap dengan baik
dari lambung dan usus halus, dengan kadar puncak terjadi 2 sampai 20 jam
kemudian dan lebih cepat untuk mencit tergantung pada berat badannya.
Dengan hasil-hasil tadi , tujuan dari percobaan ini dapat dipenuhi,
sebab telah dapat dilihat perbedaan pengaruh yang spesifik antara pengaruh
stimulant dengan depresan dibandingkan kondisi normal atau kondisi yang
dibandingkan antara kedua obat. Factor-faktor yang tak dapat diabaikan
dalam percobaan ini yang diduga mempengaruhi hasil yang didapat antara
lain adalah kondisi fisik hewan percobaan, factor tempat dan lingkungan
percobaan serta sifat psikologis dari masing-masing hewan percobaan yang
cenderung hiperaktif atau mudah depresi karena keberadaan manusia.
Kafein meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga
dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi. Dengan
demikian maka mencit akan terus aktif bergerak selama efek obat tersebut
masih ada namunseiring dengan berjalannya waktu pengamatan maka lamalama efeknya akanmenurun karena ketersediaan obat makin berkurang di
dalam tubuh mencit karenaterjadinya metabolisme obat dalam tubuh. Hal
ini ditandai dengan berkurangnya jumlah putaran roda.Banyak sekali faktor
yang dapat mempengaruhi jumlah putaran selain pemberian obat uji. Salah
satunya yang sangat mempengaruhi adalahkeseragaman berat badan dari
mencit uji yang digunakan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
adanya metabolisme obat dalam tubuh dapat menurunkanaktivitas obat.
Kemampuan metabolisme obat dalam tubuh dipengaruhi oleh luas
permukaan daerah absorpsi obat, yang berkaitan dengan berat badan mencit
karena semakin berat mencit maka luas permukaan daerah absorpsi obat
akansemakin besar. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana ketersediaan
obat dalam mencit. Semakin lama obat dalam mencit akan bekerja sampai
puncaknya dan kemudian lama-lama efeknya akan menurun karena
ketersediaan obat makin berkurang,sehingga efek obat uji yang diberikan
baik berupa depresan (fenobarbital) maupun stimulan (kafein) dapat
berkurang aktivitasnya. Maka dari itu mencit yan gdigunakan diusahakan

memiliki keseragaman bobot antar mencit yang sama atau tidak terlalu
berbeda agar efek dari obat uji yang diamati dapat diteliti lebih akurat.
Selain itu, pemberian jeda waktu yang diperlukan obat untuk mencapai efek
kerja setelah diberikan sebelum mencit dimasukkan dalam wheel cage dapat
mempengaruhi. Hal ini disebabkan obat uji yang diberikan mencit yang
memiliki bobot berat akan lebih mudah termetabolisme daripada mencit
yang memiliki bobot yang lebih ringan, sehingga efek yang ditimbulkan pun
lebih cepat.
Sehingga dikhawatirkan efek obat yang ditimbulkan dapat tidak
sesuai dengan literatur. Sebenarnya, pengamatan dilakukanharusnya selama
90 menit untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dari setiap aktivitas
bahan uji.

VIII.

KESIMPULAN
Efek obat uji terhadap lokomotor dapat diketahui, kafein bersifat
stimulan sedangkan fenobarbital bersifat depresan. Aktivitas kedua obat
yang bekerja di sistem saraf pusat tersebut yaitu obat depresan dan stimulant
dipengaruhi oleh waktu absorpsi obat, waktu pengamatan, dosis obat dan
kondisi psikologis dari hewan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto. 2008. Sistem Saraf Pusat. Dapat diakses pada http://medicastore.com/


[diakses tanggal 14 Mei 2015]
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi ke 3. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Dewoto, Hedi R. 2007. Analgesik Opiod dan Antagonis-Farmakologi dan Terapi
edisi 5. Fakultas kedokteran-UI. Jakarta.

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aescullapius. Jakarta.

Muchtaridi. 2008. Lokomotor Mencit. Dapat diakses pada http://farmasi.ugm.ac.id/


[diakses tanggal 14 Mei 2015]
Mutchler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Edisi Kelima. Penerbit ITB. Bandung.
Neal, M.J. 2005. At A Glance Farmakologi Medis. Penerbit Buku EGC. Jakarta.
Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2010. ISO Farmakoterapi. PT. ISFI. Jakarta.
Tjay, Hoan Tan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting edisi keenam. PT.
Elex Media Komputindo. Jakarta.
Tjay, Hoan Tan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting Khasiat,
Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya edisi kelima. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta.