Anda di halaman 1dari 5

1.

* Bromometri
*Bromatometri
Bromatometri merupakan salah satu metode oksidimetri dengan
dasar reaksi dari ion bromat (BrO3). Oksidasi potensiometri yang relatif
tinggi dari sistem ini menunjukkan bahwa kalium bromat adalah
oksidator kuat. Hanya saja kecepatan reaksinya tidak cukup tinggi. Untuk
menaikkan kecepatan ini titrasi dilakukan dalam keadaan panas dan
dalam lingkungan asam kuat. Adanya sedikit kelebihan kalium bromat
dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion
bromat, dan bromin yang dibebaskan akan merubah larutan menjadi
warna kuning pucat, warna ini sangat lemah sehingga tidak mudah untuk
menetapkan titik akhir. Bromin yang dibebaskan ini tidak stabil, karena
mempunyai tekanan uap yang tinggi dan mudah menguap, karena itu
penetapan harus dilakukan pada suhu terendah mungkin, serta labu
yang dipakai untuk titrasi harus ditutup.
Metode bromometri dan bromatometri ini terutama digunakan
untuk menetapkan senyawa-senyawa organik aromatis dengan
membentuk tribrom substitusi. Metode ini dapat juga digunakan untuk
menetapkan senyawa arsen dan stibium dalam bentuk trivalent
walaupun tercampur dengan stanum valensi empat. Dalam suasana
asam, ion bromat mampu mengoksidasi iodida menjadi iod, sementara
dirinya direduksi menjadi brimida :
Contoh :
BrO3- +

6H+ + 6I+

Br- + 3I2 + 3H2O

Tidak mudah mengikuti serah terima elektron dalam hal ini, karena
suatu reaksi asam basa (penetralan H+ menjadi H2O) berimpit dengan
tahap redoksnya. Namun nampak bahwa 6 ion iodida kehilangan 6
elektron, yang pada gilirannya diambil oleh sebuah ion bromat tunggal.
2. Bagaimana cara menstabilkan pH dalam reaksi dan mengapa pada contoh
soal yang menjadi titik akhir titrasi adalah pada volume 50 ml ?
Cara menstabilakn pH adalah dengan menambahkan larutan buffer
pada larutan yang akan dititrasi. Karena pada volume 50 ml mol
Fe2+ dan Ce4+ pada keadaan mula-mula dan keadaan bereaksi sama
sehingga nilai pada keadaan setimbang sama dengan nol. Dan titik
akhir titrasi pada titrasi redoks dengan menggunakan kurva dengan
perhitungan Nernst adalah jika nilai kesetimbangannya sama
dengan nol.
3. Tuliskan Indikator Macam-macam titrasi redoks ? dan apa yang dimaksud
dengan asumsi oksidasi ?
1. Permanganometri
Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat.
Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena
mampu bertindak sebagai indikator. Oleh karena itu pada larutan ini
tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan
larutan Natrium oksalat merupakan standar yang baik untuk

standarisasi permangnat dalam suasana asam. Larutan ini mudah


diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi.
2. Iodine
Sifat khas iodine cukup menarik berwarna biru didalam larutan
amilosa dan berwarna merah pada larutan amilopektin. Dengan
dasar reaksi diatas reaksi redoks dapat diikuti dengan menggunaka
indikator amilosa atau amilopektin.
3. Nitrimetri
Untuk menentukan titik akhir nitrimetri dapat digunakan 2 macam
indikator, yaitu :

Indikator dalam Yaitu indikator yang digunakan dengan cara


memasukkan indikator tersebut kedalam larutan yang akan
dititrasi, contohnya tropeolin OO dan metilen blue (5:3).

Indikator Luar Yaitu indikator yang dipakai tidak dengan


memasukkan ke dalam larutan yang dititrasi tetapi hanya
dengan menggunakan larutan yang akan diperiksa pada
indikator ini pada saat titik akhir hampir dicapai. Contohnya
pasta kanji Iodida.

4. Dikromatometri
Indikator yang digunakan adalah Senyawa Na/Badifenilaminasulfonat
4. Bagaimana menentukan titik akhir titrasi pada kurva ?
Pada titrasi redoks, selama titrasi terjadi perubahan potensial sel. Harga
ini sesuai dengan perhitungan menggunakan persamaan Nernst. Kurva
titrasi redoks diperoleh dengan mengalurkan potensial sel sebagai ordinat
dan volume titran sebagai absis. Untuk membuat kurva titrasi diperlukan
data potensial awal, potensial setelah penambahan titran tapi belum titik
ekivalen, potensial pada titik ekivalen dan potensial setelah titik ekivalen.
Kurva titrasi antara lain berguna untuk menentukan indikator dimana
indikator digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Untuk
menentukan titik akhir titrasi redoks dengan menggunakan kurva dapat di
lihat pada keadaan setimbangnya apa bilang diperoleh nilai 0 maka pada
saat itu titik akhir terjadi artinya pada saat keadaan mula-mula sama
dengan saat bereaksi.
Asumsi Oksidasi :
5. Apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing oksidator ?
1. Kalium Permanganat
Kelebihan :
Tidak membutuhkan indicator
Reaksi KMnO4 dengan reduktor reduktor berlangsung cepat
dalam suasana asam
Kekurangan :

Sukar memperoleh KMnO4 yang betul-betul murni sebab selalu


dikotori oleh sedikit KMnO4 yang harus distandarisasi terlebih
dahulu.
Aquadestilata selalu mengandung sespora reduktor yang akan
bereaksi dengan KMnO4 membentuk MnO2
2. Cerium Sulfat
KEBAIKAN SERIUM SULFAT:
1) Sangat stabil pada penyimpanan yang lama dan tidak perlu
terlindung dari cahaya dan pada pendidihan yang terlalu lama
tidak mengalami perubahan konsentrasi.
2) Reaksi i1on serium (IV) dengan reduktor dalam larutan asam
memberikan perubahan valensi yang sederhana (valensinya satu)
Ce4+ + e- Ce3+ sehingga berat ekivalennya adalah sama dengan
berat molekulnya.
3) Merupakan oksidator yang baik sehingga semua senyawa yang
dapat ditetapkan dengan kalium permanganat dapat ditetapkan
dengan serium (IV) sulfat.
4) Kurang berwarna sehingga tidak mengkaburkan pengamatan titik
akhir dengan indikator.
5) Dapat digunakan untuk menetapkan kadar larutan yang
mengandung klorida dalam konsentrasi tinggi.
KEBURUKAN SERIUM SULFAT:
Larutan serium (IV) sulfat dalam asam klorida pada suhu didih tidak
stabil karena terjadi reduksi oleh asam dan terjadi pelepasan klorin.
3. Kalium bikromat
Kelebihan :
Mudah direduksi oleh zat-zat organik
Kekurangan :
1) Hanya dipakai dalam larutan yang asam dan pada temperatur
kamar
2) Indikatornya cenderung mahal
4. Iodium :
Kelebihan :
1) Tidak memerlukan indikator
2) Dalam keadaan murni dapat diperoleh dengan sublimasi
Kekuranagan :
1) Mempunyai potensial oksidasi yang paling rendah
5. Kalium Iodat :
Kelebihan :
1) Dapat dimurnikan dengan rekristalisasi dari air.
2) Reagensia penting untuk reaksi-reaksi yang memakai I 2.
Kekurangan :
6. Kalium bromat :
Kelebihan :
1) Dapat diperoleh murni dengan rekristalisasi dari air.
2) KBrO3 suatu oksidator kuat dalam lingkungan asam.
Kekurangan :
-

6. Mengapa titrasi redoks lebih baik untuk suasana asam dan menggunakan
larutan H2SO4 bukan HCl?
Cara permanganometri paling baik dilakukan pada suasana
asam karena jika pada suasana basa akan terbentuk endapan
MnO2 yang berwarna coklat yang akan mengganggu
pengamatan warna pada titik akhir titrasi.
Asam yang digunakan adalah asam sulfat (H2SO4) karena jika
menggunakan HCl makan akan dapat teroksidasi oleh KMnO 4.
7. Suatu sampel 0,212 gram batuan yang mengandung MnO 2 yang dilarutkan
dengan HCl kemudian dilarutkan dengan KI. Kemudian ion bebas dititrasi
dengan larutan thiosianat dengan konsentrasi 0,0521 M.
Pertanyaan :
Titrasi apa yang terjadi ?
Titrasi yang terjadi adalah titrasi langsung. Yaitu titrasi yang
dilakukan apabila contoh sangat lambat atau tidak bereaksi dengan
larutan standar. Pada larutan contoh ditambahkan sejumlah tertentu
zat ketiga berlebihan, kemudian kelebihan zat ketiga dititar dengan
larutan standar. Jika zat ketiga berupa larutan, kepekatannya
ditetapkan dengan larutan standar tertentu.
Tuliskan persamaan reaksinya ?
I- + H+ + MnO4 Mn2+ + I2 + H2O
2+
4KI + 4HCl + MnO2 Mn + 2I2 + 2H2O + 4KCl
I2 + Na2S2O3 Nal + Na2S4O6

Kadar MnO2 dalam batuan ? jika volume penitaran 23,4 ml .

kadar MnO 2=

V x N x BE
mg sampel

x 100 %

mmol
mg
x 43,5
ml
mmol
x 100
212 mg

23,4 ml x o ,o 521

= 25, 01 %
8. Tuliskan persamaan reaksi dari kalium permanganat membentuk oksigen
dari suasana asam !
MnO4- + 8H2O + 5e- Mn2+ + 4H2O
KmnO4 + 10HCl 2MnCl2 + 2KCl + 8H2O + 3Cl2
2KmnO4 + 3H2SO4 K2SO4 + 2MnSO4 + 3H2O + 5O2
9. Bagaimana mekanisme penentuan alkohol dengan kalium dikromat ?
Alkohol merupakan sampel dan kalium dikromat merupakan indikator. Dimana
pada pemakaiannya sebagai oksidator Cr3+ yang berwarna hijau kemudian

ditambahkan indikator.
Bagaimana alkohol bias menjadi indikator pada penentuan kalium dikromat.

1. Mereaksikan 0,5 mL sampel, 15 mL akuades, 12,5 mL larutan kalium dikromat


kedalam Erlenmeyer 50 mL, kocok.

2. Larutan yang terbentuk diambil 10 mL masukkan ke dalam labu ukur 25 mL,


kemudian panaskan pada waterbath dengan suhu 62,50C selama 20 menit.
3. Dinginkan pada suhu ruang.
4. Larutan yang sudah dingin, tambahkan akuades sampai tanda batas hingga
volume 25 mL, kemudian kocok. ,5 mL larutan dipindahkan ke dalam tabung
reaksi dan tambahkan 2,5 mL akuades.
5. Kocok dengan vortex mixer dan uji sampel dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 600 nm. Warna larutan berubah warna dari jingga menjadi
hijau.