Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN

SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PRE EKLAMSI BERAT


1. PENGERTIAN SECTIO CAESAREA
Sectio

caesarea

adalah

pembedahan

untuk

melahirkan

janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau


vagina

atau suatu

histerotomi untuk

melahirkan janin

dari

dalam rahim (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

janin

Sectio

caesarea

adalah

dengan

membuka

dinding

pembedahan
perut

dan

untuk

melahirkan

dinding

uterus.

(Sarwono , 2005)
adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya

kembali

alat

kandungan

yang

lamanya

minggu.

(Obstetri Fisiologi, 1983)


Dalam Operasi Caesar, ada tujuh lapisan yang diiris
pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot,
otot

perut,

lapisan

dalam

perut,

lapisan

luar

rahim,

dan

rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu kemudian dijahit


lagi satu per satu, sehingga jahitannya berlapis-lapis.
2. JENIS JENIS OPERASI SECTIO CAESAREA
1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
a. Sectio caesarea transperitonealis
SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada
corpus

uteri)Dilakukan

dengan

membuat

sayatan

memanjang pada korpus uteri kira- kira 10 cm.


Kelebihan :
Mengeluarkan

janin

dengan

mengakibatkan kandung kemih tertarik

cepat

tidak

Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal


Penjahitan luka lebih mudah
Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

Perdarahan tidak begitu banyak

Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau


lebih kecil

Kekurangan :

Infeksi

mudah

menyebar

secara

intra

abdominal

karena tidak ada reperitonealis yang baik

SC

ismika

atau

profundal

(low

servical

dengan

insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan


melakukan

sayatan

melintang

konkat

pada

segmen

bawah rahim (low servical transversal) kira-kira

10 cm
Luka dapat

melebar

sehingga

dapat

sehingga

mengakibatkan

kekiri,

menyebabkan

kanan,

uteri

perdarahan

dan

bawah

uterine

pecah

banyak

Keluhan

pada kandung kemih post operasi tinggi


b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum
parietalis

dengan

demikian

tidak

membuka

cavum

caesarea

dapat

abdominal
Vagina (section caesarea vaginalis)
Menurut

sayatan

pada

rahim,

sectio

dilakukan sebagai berikut :


1.Sayatan memanjang (longitudinal)
2.Sayatan melintang (Transversal)
3.Sayatan huruf T (T insicion)
3. ETIOLOGI/PENYEBAB SECTIO CAESAREA

Pada

persalinan

normal

bayi

akan

keluar

melalui

vagina, baik dengan alat maupun dengan kekuatan ibu sendiri.


Dalam keadaan patologi kemungkinan dilakukan operasi sectio
caesarea.

Faktor-Faktor

Penyebab

Sectio

Caesarea

menurut

Mochtar (1998) faktor dari ibu dilakukannya sectio caesarea


adalah

plasenta

distosia

previa

serviks,

pre

panggul

eklamsi

sempit,

dan

partus

hipertensi.

lama,

Sedangkan

faktor dari janin adalah letak lintang dan letak bokong.


Menurut Manuaba (2001) indikasi ibu dilakukan sectio
caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum,
ketuban
fetal

pecah

distres

beberapa

dini.
dan

faktor

Sedangkan

janin

sectio

besar

indikasi

dari

melebihi

caesarea

janin

4.000

diatas

adalah

gram.

dapat

Dari

diuraikan

beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut :


1. CPD
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar
panggul

ibu

tidak

sesuai

dengan

ukuran

lingkar

kepala

janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan


secara

alami.

beberapa

Tulang-tulang

tulang

yang

panggul

membentuk

merupakan

rongga

susunan

panggul

yang

merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan


lahir

secara

kelainan
kesulitan

atau

alami.

Bentuk

panggul

patologis

dalam

proses

panggul
juga

persalinan

yang

menunjukkan

dapat

menyebabkan

alami

sehingga

dilakukan tindakan operasi (Kasdu, 2003).


Menurut Wiknjosastro (2002) ada beberapa
panggul, yaitu :
a. Kesempitan pintu atas panggul

harus

kesempitan

Pintu

atas

konjugata

panggul
vera

panjangnya

biasanya

yang

kurang

transversal

merupakan

dari

yang

dianggap

10

menyempit

ukuran

cm

merupakan

paling

atau

jika

ukuran

jika

pendek
diameter

paling

lebar

panjangnya kurang dari 12 cm, proses persalinan akan


memanjang dan kerap kali tidak pernah terjadi persalinan
spontan yang efektif sehingga membawa akibat yang serius
bagi ibu maupun janinnya.
b. Kesempitan panggul tengah
Bidang obstetrik panggul tengah membentang dari margo
inferior

simfisis

mengenai

sakrum

pubis,
di

lewat

dekat

spina

sambungan

iskiadika,
tulang

dan

vertebra

keempat dan kelima. Meskipun definisi kesempitan pintu


atas panggul, namun panggul tengah mungkin sempit kalau
jumlah

diameter

interspinarum

dan

diameter

sagitalis

posterior pelvis (normalnya 10,5 plus 5 cm atau 15,5 cm)


mencapai 13,5 cm atau lebih kurang lagi.
c. Kesempitan pintu bawah panggul
Kesempitan pintu bawah panggul biasanya

diartikan

sebagai keadaan dimana distansia tuberculum 8 cm atau


lebih kecil lagi. Pintu bawah panggul yang sempit tidak
banyak

mengakibatkan

sendiri

mengingat

distosia

keadaan

ini

karena
sering

kesempitannya
disertai

pula

dengan kesempitan panggul tengah.


2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
a. Pengertian PEB
Pre eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul
pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari
hipertensi,

edema

dan

protein

uria

tetapi

tidak

menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi


sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih (Rustam Muctar,
1998).
Pre Eklamsia

adalah penyakit

dengan tanda-tanda

hipertensi, odem dan protein uria yang timbul karena


kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan
ke

kehamilan,

tetapi

dapat

terjadi

sebelumnya.

Misalnya terdapat Molahydatidosa (Sarwono : 2006)


Pre

eklampsi

berat

adalah

suatu

komplikasi

kehamilan yang di tandai dengan takanan darah 160/110


mmHg

atau

lebih

disertai

ptoteinuria

dan

disertai

oedema pada kehamilan 20 minggu atau lebih


Pre-eklamsi

ialah

penyakit

dengan

tanda-tanda

hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena


kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada trimester
III kehamilan.

b. Klasifikasi Pre Eklamsia


1) Pre Eklamsi Ringan (PER)

Tekanan darah sistole 140 atau kenaikan 30 mmHg


dengan interval pemeriksaan 6 jam.

Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg


dengan interval pemeriksaan 6 jam.

Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam 1 minggu.

protein uria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat


kualitatif positif 1 sampai positif 2 pada urin katerer atau
urin aliran pertengahan.
2)

Pre Eklamsi Berat (PEB)

Tekanan darah 160/110 mmHg.

Oligouria, urin kurang dari 3 cc/24 jam.

Protein urin lebih dari 3 gr/liter.

Keluhan subjektif : nyeri epigastrium, gangguan


penglihatan, nyeri kepala, odema paru, dan
sianosis gangguan kesadaran.

c. Patofisiologi
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam
sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan
ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ, termasuk ke
utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar
dari

timbulnya

vaskuler

proses

menyebabkan

timbulnya

hipertensi

pre

eklampsia.

resistensi

aliran

arterial.

Konstriksi
darah

Vasospasme

dan
dapat

diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari


sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat
mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan
perfusi

plasenta

dapat

sebagai

pemicu

timbulnya

gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat


terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
Edema
berlebihan

ialah

penimbunan

dalam

jaringan

cairan

tubuh,

secara

dan

umum

biasanya

dan
dapat

diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan

kaki,

jari

tangan,

dan

muka.

Edema

pretibial

yang

ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga


tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis preeklamsi.
Kenaikan berat badan setengah kilo setiap minggu
dalam

kehamilan

masih

dapat

dianggap

normal,

tetapi

bila kenaikan satu kilo seminggu beberapa kali,hal ini


perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam
air kencing yang melebihi 0,3 gram/liter dalam air 24
jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan satu atau
dua + atau satu gram per liter atau lebih dalam air
kencing yang dikeluarkan dengan kateter yang diambil
minimal

kali

dengan

jarak

waktu

jam.

Biasanya

proteinuria timbul lebih lambat dari pada hipertensi


dan

kenaikan

berat

badan

karena

itu

harus

dianggap

sebagai tanda yang cukup serius (Wiknjosastro, 2002).


Menurut

(Manuaba,

1998)

gejala

pre-eklamsi

berat

dapat diketahui dengan pemeriksaan pada tekanan darah


mencapai 160/110 mmHg, oliguria urin kurang 400 cc/24
jam, proteinuria lebih dari 3 gr/liter. Pada keluhan
subjektif pasien mengeluh nyeri epigastrium, gangguan
penglihatan dan nyeri kepala.
d. Etiologi Pre Eklamsi
Penyebab pre eklamsia dan eklamsia sampai sekarang
belum

diketahui.

kesatuan

penyakit

Pre-eklamsi
yang

dan

langsung

eklamsi

merupakan

disebabkan

oleh

kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah


perdarahan

dan

merupakan

infeksi,

penyebab

pre-eklamsi

kematian

dan

maternal

dan

eklamsi
perinatal

paling penting dalam ilmu kebidanan.


Teori iskemia plasenta di anggap dapat menerangkan
berbagai gejala pre eklamsia yaitu berdasarkan teori
iskemia

implantasi

diserap

kedalam

sensivitas

plasenta,

sirkulasi

terhadap

aldosteron,
tertahannya

spasme
garam

bahan

yang

dan

dapat

angiotensia
pembuluh
air.

trofoblas

meningkatkan

II,

darah

Teori

akan

renin

dan

arteriol

dan

iskemia

implantasi

plasenta didukung kenyataan sbb :


1. Pre

eklamsi

dan

primigravida,

eklamsia

kehamilan

banyak

ganda,

terjadi

hidramnion,

pada
dan

molahydatidosa.
2. Kejadian makin tua Kehamilan
3. Gejala penyakit berkurang bila terjadi kematian janin.
Dengan

demikian

teori

iskemia

daerah

implantasi

plasenta memenuhi untuk menerangkan berbagai gejala


klinis PEB dan eklamsia.
e. Faktor predisposisi:
1) Primigravida

atau

multipara,

terutama

pada

umur

reproduksi eksterm, yaitu remaja dan umur 35 tahun


ke atas.
2) Multigravida dengan kondisi klinis:
a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis

b) Penyakit

vaskuler

termasuk

hipertensi

esensial

kronik dan diabetes mellitus


c)

Penyakit ginjal

3) Hiperplasentosis
4) Riwayat keluarga pernah Pre eklamsi dan eklamsi
5) Obesitas dan hidramion
6) Gizi yan kurang dan anemi
7) Kasuskasus dengan asam urat yang tinggi, defisiensi
kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh kurang
anti oksidan.
f. Gambaran Klinis PEB
Biasanya tanda-tanda pre eklamsi timbulnya dalam
urutan :
pertumbuhan berat badan yang berlebihan, di ikuti
edema, hipertensi dan akhirnya protein uria. pada pre
eklamsi ringan tidak di temukan gejala-gejala
subjektif. Pada pre eklamsia berat didapatkan sakit
kepala, di daerah frontal, nyeri epigastrium,
penglihatan kabur, mual, muntah, sketema, diplopia,
gangguan visus lain (nyeri frontal yang hebat) perdarah
retina, dan odema pulmonum.
g. Uji Dx Pre Eklamsia
a. uji diasnostik dasar
pengukuran tekanan darah
analisis protein dalam urin
pemeriksaan odema
pengukuran TFU (Tinggi Fundus Uteri)

pemeriksaan fundus kopik

b. uji laboratorium dasar

evaluasi hematologik (haematokrit, jumlah


trombosit, morfologi, eritrosit pada sediaan harus
darah tepi)

pemeriksaan fungsi hati,(bilirubin, protein serum,

aspartat, aminotranserance, dsb)


pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)

h. Penatalaksanaan PEB
Pre eklamsia berat (PEB)
1.

baringkan ibu miring kiri

2.

pasang infus RL/NS


3. injeksi 10 gr Mg504 40% (5 gr IM pada bokong kiri dan
kanan)
4. berikan dosis awal 4 mg Mg504 20% IV selama 2 menit
5. rujuk ibu kefasilitas yang memiliki kemampuan
penataksanaan gadar obstetrik dan BBL.
6. dampingi ibu ke tempat rujukan. berilah dukungan dan
semanagat
Penderita diusahan agar :

terisolasi sehingga tidak mendapat rangsangan


suara/sinar

terpasang infus D5%/RL

dilakukan pemeriksaan

7. pemeriksaan umum : pemeriksaan TTV


8. pemeriksaan leopod, DJJ, pemeriksaan dalam (evaluasi
pembukaan, dan keadaan janin dalam rahim)

9. pemeriksaan duer kateter


10.

evaluasi keseimbangan

11.

Terapi
a. sellativa : phenobarbital 3 x 100 mg, vallium 3
x 20 mg.

menghindari kejang

b. magnesium sulvat : inisial dosis 20 mg IM.


observasi : RR tidak kurang dari 16 x/menit,
reflek patela positif, urin tidak kurang dari
600 cc/24 jam.
c. valium : inisial dosis 20 mg IV
d. bila terjadi ologourine diberikan glukosa 40 %
Iv untuk menarik cairan dari jarinagan sehingga
dapat merangsang deuritis

setelah keadaan pre eklamsia berat dapat di


atasi

pertimbangkan

untuk

mengakhiri

kehamilan berdasarkan :
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban

pecah

dini

adalah

pecahnya

ketuban

sebelum

terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi


inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di
atas

37

minggu,

sedangkan

di

bawah

banyak (Manuaba, 2001).


Ada dua macam kemungkinan

36

minggu

ketuban

pecah

tidak
dini,

terlalu
yaitu

premature rupture of membran dan preterm rupture of membrane.


Keduanya memiliki gejala yang sama yaitu keluarnya cairan dan
tidak ada keluhan sakit. Tanda-tanda khasnya adalah keluarnya

cairan mendadak disertai bau yang khas, namun berbeda dengan bau
air

seni.

Alirannya

tidak

terlalu

deras

keluar

serta

tidak

disertai rasa mules atau sakit perut. Akan terdeteksi jika si


ibu

baru

merasakan

perih

dan

sakit

jika

si

janin

bergerak

(Barbara, 2009).
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan.
Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat
kelahiran

prematur,

merokok,

dan

perdarahan

selama

kehamilan

(Mochtar, 1998).

4. Janin Besar (Makrosomia)

Makrosomia atau janin besar adalah taksiran berat


janin diatas 4.000 gram. Di negara berkembang, 5 % bayi
memiliki berat badan lebih dari 4.000 gram pada saat lahir
dan 0,5 % memiliki berat badan lebih dari 4.500 gram. Ada
beberapa faktor ibu yang menyebabkan bayi besar, yaitu ibu
dengan diabetes, kehamilan post-term, obesitas pada ibu,
dan

lain-lain.

sesar

elektif

Untuk

mencegah

trauma

harus

ditawarkan

pada

lahir,
wanita

maka

bedah

penderita

diabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 4500 gram


dan pada wanita nondiabetes dengan taksiran berat janin
lebih dari 5000 gram (Glance, 2006).
5. Kelainan Letak Janin

Kelainan-kelainan

janin

menurut

Mochtar

lain:
a. Kelainan pada letak kepala
1). Letak kepala tengadah
Bagian
terbawah
adalah

puncak

(1998)

antara

kepala,

pada

pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah.


Etiologinya

kelainan

panggul,

kepala

bentuknya

bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar


panggul
2). Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian
kepala yang terletak paling rendah ialah muka.
3). Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi
berada

pada

posisi

terendah

depan.

Pada

penempatan

dan

dagu,

tetap

paling

biasanya

dengan

sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau


letak belakang kepala.
b. Letak sungsang
Janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam
rahim,

kepala

berada

di

fundus

dan

bokong

di

bawah

(Mochtar, 1998). Menurut (Sarwono, 1992) letak sungsang


merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan
kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah
kavum
yakni

uteri.

Dikenal

presentasi

sempurna,

6. Bayi kembar

bokong,

presentasi

presentasi kaki.

beberapa

bokong

jenis

letak

presentasi
kaki

tidak

sungsang,

bokong

kaki,

sempurna

dan

Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal


ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi
yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi
kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang
sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.

Kehamilan ganda

atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau


lebih

(Rustam

mempengaruhi

Mochtar,

adalah;

1998),

bangsa,

(1)

umur,

Faktor-faktor
dan

paritas

yang
sering

mempengaruhi kehamilan kembar 2 tel, (2)Faktor obat-obat induksi


ovulasi:

profertil,

clomid,

dan

hormone

gonadotropin

dapat

menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari 2, (3)


Faktor keturunan.
7. Faktor hambatan jalan lahir

yang

Adanya

gangguan

pada

tidak

memungkinkan

jalan

adanya

lahir,

misalnya

pembukaan,

jalan

adanya

lahir

tumor

dan

kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu
sulit bernafas (Dini Kasdu, 2003).

4. PATOFISIOLIGI SECTIO CAESAREA


Anatomi fungsional yang dibahas pada kasus post operasi
sectio caesarea terdiri dari anatomi dinding perut dan otot
dasar panggul.
a. Anatomi dinding perut
Dinding perut dibentuk

oleh

otot-otot

perut

dimana

disebelah atas dibatasi oleh angulus infrasternalis dan di


sebelah bawah dibatasi oleh krista iliaka, sulkus pubikus
dan sulkus inguinalis.

Otot-otot dinding perut tersebut terdiri dari otot-otot


dinding

perut

bagian

depan,

bagian

lateral

dan

bagian

belakang.
1) Otot rectus abdominis
Terletak pada permukaan abdomen menutupi linea alba,
bagian

depan

tertutup

vagina

dan

bagian

belakang

terletak di atas kartilago kostalis 6-8. origo pada


permukaan

anterior

xyphoideus

dan

kartilago

ligamen

kostalis

xyphoideum.

5-7,

prosesus

Serabut

menuju

tuberkulum pubikum dan simpisis ossis pubis. Insertio


pada ramus inferior ossis pubis. Fungsi dari otot ini
untuk flexi trunk, mengangkat pelvis.
2) Otot piramidalis
Terletak di bagian tengah di atas
pubis,

di

bagian

depan

anterior

simpisis

ossis

otot

rectus

ramus
pubis.

simpisis

abdominis.

superior
Insertio

ossis

terletak

ossis

Origo

pada

pubis

dan

pada

linea

alba. Fungsinya untuk meregangkan linea alba.


3) Otot transversus abdominis
Otot ini berupa tendon menuju linea alba dan bagian
inferior vagina musculi recti abdominis. Origo pada
permukaan

kartilago

kostalis

7-12.

insertio

pada

fascia lumbo dorsalis, labium internum Krista iliaka,


2/3 lateral ligamen inguinale. Berupa tendon menuju
linea alba dan bagian inferior vagina muskuli recti
abdominis.

Fungsi

dari

otot

ini

menekan

perut,

menegangkan dan menarik dinding perut.


4) Otot obligus eksternus abdominis
Letaknya yaitu pada bagian lateral abdomen tepatnya di
sebelah

inferior

thoraks.

Origonya

yaitu

pada

permukaan luas kosta 5-12 dan insertionya pada vagina

musculi recti abdominis. Fungsi dari otot ini adalah


rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan
5) Otot obligus internus abdominis
Otot ini terletak pada anterior dan lateral abdomen,
dan tertutup oleh otot obligus eksternus abdominis.
Origo

terletak

lumbodorsalis,

pada
linea

permukaan
intermedia

posterior
krista

fascia

iliaka,

2/3

ligamen inguinale insertio pada kartilago kostalis 810 untuk serabut ke arah supero medial. Fungsi dari
otot ini untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama.
b. Otot dasar panggul
Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis
dan diagfragma urogenital. Diagfragma pelvis adalah otot
dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator
ani,

otot

pubokoksigeus,

iliokoksigeus,

dan

ischiokoksigeus.. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah


levator

ani

untuk

menahan

rectum

dan

vagina

turun

ke

bawah, otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot


mabdor

ani

untuk

menutup

anus

dan

otot

pubokavernosus

untuk mengecilkan introitus vagina.


c. Patologi
Pada operasi sectio caesarea transperitonial ini
terjadi, perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan
otot perut) dan pada dinding uterus. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi penyembuhan dari luka operasi antara
lain

adalah

suplay

darah,

infeksi

dan

iritasi.

Dengan

adanya supply darah yang baik akan berpengaruh terhadap


kecepatan

proses

penyembuhan.

penyembuhan sebagai berikut :

Perjalanan

proses

(1) Sewaktu
epitel,

incisi
sel

(kulit

dermis

diiris),

dan

maka

jaringan

beberapa

kulit

akan

sel

mati.

Ruang incisi akan diisi oleh gumpalan darah dalam 24


jam pertama akan mengalami reaksi radang mendadak,
(2) Dalam 2-3 hari kemudian, exudat akan mengalami
resolusif

proliferasi

(pelipatgandaan)

fibroblast

mulai terjadi,
(3) Pada hari ke-3-4 gumpalan darah mengalami organisasi,
(4) Pada hari ke 5 tensile strength (kekuatan untuk
mencegah

terbuka

kembali

luka)

mulai

timbul,

yang

dapat mencegah terjadi dehiscence (merekah) luka,


(5) Pada hari ke-7-8, epitelisasi terjadi dan luka akan
sembuh. Kecepatan epitelisasi adalah 0,5 mm per hari,
berjalan dari tepi luka ke arah tengah atau terjadi
dari sisa-sisa epitel dalam dermis,
(6) Pada hari ke 14-15, tensile strength

hanya

1/5

maksimum,
(7) Tensile strength mencapai maksimum dalam 6 minggu.
Untuk itu pada seseorang dengan riwayat SC dianjurkan
untuk tidak hamil pada satu tahun pertama setelah
operasi (Hudaya, 1996).
d. Fisiologi nifas
Perubahan yang terjadi selama masa nifas post sectio
caesarea

antara

dilahirkan,

lain:

uterus

(1)

merupakan

Uterus,
alat

setelah
yang

keras

plasenta
karena

kontraksi dan reaksi otot-ototnya. Fundus uteri 3 jari di


bawah pusat. Ukuran uterus mulai dua hari berikutnya, akan
mengecil hingga hari kesepuluh tidak teraba dari luar.
Invulsi uterus terjadi karena masing-masing sel menjadi
kecil, yang disebabkan oleh proses antitoksis dimana zat
protein dinding pecah, diabsorbsi dan dibuang melalui air

seni.

Sedangkan

permukaan
tangan.

pada

kasar,
Luka

pertumbuhan

endomentrium

tidak

ini

rata

akan

kira-kira

mengecil

endometrium

menjadi

baru

sebesar

hingga

di

bawah

luka

dengan
telapak

sembuh

dengan

permukaan

luka,

mulai dari pinggir dan dasar luka, pembuluh darah uterus


yang saat hamil dan membesar akan mengecil kembali karena
tidak

dipergunakan

elastisitasnya

lagi,dinding

berkurang

perut

akibat

melonggar

peregangan

dalam

dan
waktu

lama (Rustam M, 1998).


5. MANIFESTASI KLINIK/TANDA DAN GEJALA SECTIO CAESAREA
1. Perubahan Fisik
a. Sistem Reproduksi
Uterus
Involusi

Kembalinya

uterus

ke

kondisi

normal

setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan


pada

puting

Lochea,

Komposisi

Jaringan

susu.
endometrial,

darah

dan

limfe.
Tahap
a. Rubra (merah) : 1-3 hari
b. sanguinolenta : 3-7 hari
b. Serosa (pink kecoklatan) : setelah 2 minggu post
partum
c. Alba (kuning-putih) :
Lochea terus keluar sampai
seperti

menstruasi,

jumlah

minggu.Bau

meningkat

saat

normal
berdiri.

Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.


Siklus Menstruasi, Ibu menyusui paling awal 12 minggu
rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan

kembali ke siklus normal.


Ovulasi
Ada

tidaknya

tergantung

tingkat

proluktin.

Ibu

menyusui mulai ovulasi pada bulan ke 3 atau lebih.


Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu

ke-8.

Ovulasi

salah

satu

mungkin
jenis

tidak

terlambat,

kontrasepsi

dibutuhkan

untuk

mencegah

kehamilan.
Serviks
Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi
untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam
2

minggu,

struktur

eksternal

melebar

dan

tampak

bercelah.
Vagina
Nampak

berugae

kembali

pada

minggu,

kembali

mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai


8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal

dengan ovulasi.
Perineum
Episiotomi, Penyembuhan dalam 2 minggu.
Laserasi
TK I
: Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d

otot
TK II : Meluas sampai dengan otot perineal
TK III: Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV : melibatkan dinding anterior rectal
b. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement
(bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III).
Pada

payudara

berkurang

dalam

yang

tidak

disusui,

2-3

hari,

puting

engorgement

mudah

erektil

akan
bila

dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil


pada 1-2 hari.
c. Sistem Endokrin

Hormon

Plasenta,HCG

(-)

pada

minggu

ke-3

post

partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72

jam post partum normal setelah siklus menstruasi.


Hormon pituitary, Prolaktin serum meningkat terjadi
pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada
ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada
minggu I post partum.

d. Sistem Kardiovaskuler
Tanda-tanda vital,Tekanan darah sama saat bersalin,
suhu

meningkat

karena

dehidrasi

pada

awal

post

partum terjadi bradikardi.


Volume darah ,Menurun karena kehilangan darah dan
kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200

500 cc, sesaria : 600 800 cc


e. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR
keseimbangan

asam-basa

kembali

16-24

setelah

x/menit,

minggu

post

partum.
f. Sistem Gastrointestinal
Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
- Nafsu makan kembali normal.
- Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
g. Sistem Urinaria
Edema
pada

kandung

kemih,

urethra

dan

meatus

urinarius terjadi karena trauma.


Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12

jam.
Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
h. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena
tarikan

saat

hamil.

Diastasis

rekti

normal 6-8 minggu post partum.


i. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

2-4

cm,

terjadi
kembali

6. PENGKAJIAN SECTIO CAESAREA


1. Sirkulasi
2. Integritas ego
3. Makanan/cairan
4. Pernapasan
5. Keamanan
7. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat
diperkirakan
2. Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas
3. Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri,
perdarahan
4. Resiko ketidakseimbangan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan
untuk penyembuhan luka, penurunan masukan (sekunder akibat
nyeri, mual, muntah)
5. Defisit perawatan diri b.d Penurunan kemampuan ADL adanya
nyeri pada masa incisi
8. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1 :
Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat
diperkirakan
Tujuan :
a. Ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan
Kriteria hasil

Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan


pembedahan

Tidak tampak gelisah

Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang


sama

Pasien merasa tenang

Rencana

Kaji tingkat kecemasan ibu

R/.

Tingkat

ditoleransi

kecemasan
dengan

ringan

pemberian

dan

sedang

pengertian

bisa

sedangkan

yang berat diperlukan tindakan medikamentosa

Jelaskan
R/.

mekanisme

Pengetahuan

diharapkan

proses

terhadap

dapat

mengurangi

persalinan

proses

persalinan

emosional

ibu

yang

ibu

yang

maladaptive

Gali

dan

tingkatkan

mekanisme

koping

efektif
R/.

Kecemasan akan

dapat teratasi

jika mekanisme

koping yang dimiliki ibu efektif

Beri support system pada ibu


R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi
keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga
dapat membawa ketenangan hati

Lakukan pendekatan diri pada pasien


R/ supaya pasien merasa nyaman

Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik


yang

harus ditempuh

untuk menyelamatkan

bayi dan

ibu.
R/ agar klien mengerti manfaat di SC
Diagnosa 2 :
Gangguan

rasa

nyaman

nyeri

b.d

insisi,

flatus

mobilitas
Tujuan :

Nyeri dapat berkurang setelah perawatan 3x 8 jam

dan

Kriteria :

Pasien

tidak

mengeluh

nyeri/mengatakan

bahwa

nyeri

sudah berkurang
Rencana

lakukan pengkajian nyeri


R/ Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan
skala maupun deskripsi.

lakukan managemen nyeri


R/ untuk mengurangi rasa nyaman nyeri

obs. TTV
R/ mengetahui keadaan umum px

Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam.

R/ Pengurangan persepsi nyeri.

Kolaborasi pemberian analgetika.

R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan


dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam
spectrum luas/spesifik.

Kolaborasi pemberian analgetika.


R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan
dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam
spectrum luas/spesifik.

berikan linkungan yang tenang dan nyaman


R/ mengurangi rasa nyeri dengan cara pengalihan

jelaskan

tentang

sifat

nyeri

dan

kapan

nyeri

akan

berkurang/hilang
R/ informasi dapat membantu mengurangi tingkat nyeri
akibat kecemasan

Diagnosa 3 :
Resiko

infeksi

b.d

destruksi

pertahanan

terhadap

bakteri,luka post operasi, perdarahan


Tujuan :

Pasien merasa tenang dan infeksi tidak terjadi setelah


perawatan selama 24 jam pertama

Kriteria hasil :

Menunjukkan

kondisi

luka

yang

jauh

dari

kategori

infeksi

Albumin dalam keadaan normal

Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam

Rencana
a.Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah,
warna, dan bau dari luka operasi.

R/ Perubahan yang terjadi pada dischart dikaji


setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih

gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan


tanda infeksi.
b.Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama
masa post operasi.

R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan


luka.

c.Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.

R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui


dischart.

d.Lakukan perawatan luka.

R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan


infeksi.

e.Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda


inveksi.

R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda


nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa
nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.

Diagnosa 4

Resiko

ketidaksaeimbangan

nutrisi

b.d

peningkatan

kebutuhan tubuh untuk penyembuhan luka, penurunan masukan


(sekunder akibat nyeri, mual, muntah)
Tujuan :

tidak terjadi perubahan status nutrisi

Kriteria :

klien mau makan yang cukup

penyembuhan luka baik

Rencana

kaji status nutrisi secara continue selama perawatan


tiap hari, perhatikan tingkat energi, kondisi, kulit,
kuku, rambut, rongga mulut

tekankan pentingnya trasnsisi pada pemberian makan per


oral dengan tepat

beri

waktu

mengunyah,

menelan,

beri

sosialisasi

dan

bantuan makan sesuai dengan indikasi

berikan penjelasan pentingnya kebutuhan ntrisi ibu

Diagnosa 5 :
Deficit perawatan diri b.d Penurunan kemampuan ADL karena
adanya nyeri pada daerah incise
Tujuan :

perawatan diri klien terpenuhi

Kriteria hasil :

klien tampak bersih

klien tidak bau badan

Rencana

beri penjelasan tentang pentingnya kebersihan/perawatan


diri

bantu klien dalam melakukan perawatan

9. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SECTIO CAESAREA


Tes Laboraturium
Hemoglobin
atau
hematokrit
(HB/Ht)
perubahan

dari

kadar

pra

operasi

dan

untuk

mengkaji

mengevaluasi

efek

kehilangan darah pada pembedahan.


Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
Urinalisis/kultur urine
Pemeriksaan elektrolit
10. PENATALAKSANAAN MEDIS SECTIO CAESAREA
Penatalaksanaan medis dengan cairan IV sesuai indikasi.
Anestesia; regional atau general
Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria.
Pemberian oksitosin sesuai indikasi.
Tanda vital per protokol ruangan pemulihan
Persiapan kulit pembedahan abdomen
Persetujuan ditandatangani.
Pemasangan kateter foley
11. KOMPLIKASI SECTIO CAESAREA
Komplikasi yang bisa timbul pada sectio caesarea adalah
sebagai berikut :
1) Infeksi puerperal
infeksi

berat.

yang

Infeksi

terdiri
ringan

dari

infeksi

ditandai

ringan

dengan

dan

kenaikan

suhu beberapa hari dalam masa nifas, infeksi yang berat


ditandai
terjadi

dengan
sepsis,

kenaikan
infeksi

suhu
ini

yang

bisa

lebih

terjadi

tinggi
karena

bisa

karena

partus lama dan ketuban yang telah pecah terlalu lama.


2) Perdarahan bisa terjadi pada waktu pembedahan cabangcabang atonia uteria ikut terbuka atau karena atonia
uteria,
3) Terjadi

komplikasi

lain

karena

luka

embolisme paru dan deep vein trombosis,

kandung

kencing,

4) Terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya (Rustam M, 1998)

MASA NIFAS
A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS
Adalah
kelahiran

masa

sesudah

plasenta

dan

persalinan
berakhirnya

dimulai
ketika

setelah
alat-alat

kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa


nifas

berlangsung

selama

minggu.

(Pelayanan

Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)


adalah

masa

sesudah

persalinan

yang

diperlukan

untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6


minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)
B. PERIODE
Masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Early post partum
Dalam 24 jam pertama.
2. Immediate post partum
Minggu pertama post partum.
3. Late post partum
Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.
C. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA NIFAS
1. Involusi
involusi uterius adalah perubahan yang merupakan
proses kembalinya alat kandungan atau uterius dan jalan
lahir setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum
hamil.proses

involusi

terjadi

karena

adanya

proses

autolisis aktifitas otot-otot dan iskhemia dimana protein

dindig rahim di pecah,diaborsi dan kemudian dibuang melalui


urine.
No

Waktu

TFU

1. Segera

Konsist

After

Kontra

ensi

pain
Terjadi

ksi

Pertengahan

setelah

simpisis dan

lahir

umbilikus

2.

Lembut
1 jam

Umbilikus

setelah
3. lahir
1 cm di atas
12 jam

pusat

4. setelah

Berkura

lahir

ng
Turun 1

setelah 2

cm/hari

hari
2. Lokhea
Lokhea adalah sekret luka yang berasal dari luka dalam
rahim terutama luka plasenta dan keluar melalui fagina
.Lokhea

di

bedakan

sesuai

tingkat

penyembuhan

luka

yaitu
a. LokheaRubra
Lokhea ini

berwarna merah

haid karena banyak

segar seperti

darah

mengandung darah segar dan sisa-

sisa selaput ketuban ,.pengeluarannya segera setelah


persalinan sampai 2 hari post partum jumlah makin
sedikit.
b. Lokhea sanguinolenta

Lokhea ini berwarna merah kuning berisi darah dan


lendir karena pengaruh plasma darah,penggeluarannya
pada hari ke 3-7 hari post partum
c. Lokhea serosa
Lekhea

ini

berwarnah

kuning

kecoklatan

atau

serum,pengeluarnnya pada hari 7-14 post Partum


d. Lokhea Alba
Berupacairan putih kekuningan pengeluran Setelah
2 minggu hari port partum kadang-kadang. Bila lokhea
tetap

berwarna

merah

kemungkinantertinggal

setelah2
sisa

minggu

plasenta

post
atau

partum
selaput

amnion.
3. Laktasi
Laktasi adalah proses pembentukan dan
pengeluaran ASI.fisiologi laktasi itu

sendiri adalah

pada saat persalinan hormone estrogen dan


progesteronmenurun sedangkan prolaktin
meningkat.hisapan bayi pada putting susu memacu atau
merangsang kelenjar hipofise anterior untuk
mempruduksi atau melepaskan proklatin sehingga terjadi
sekreksi ASI
Hal-hal yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluarkan
ASI
-Faktor antomi payudara
-Faktor fisilogis nutrisi ibu
-Faktor istirahat
-Faktor isapan bayi
-Obat-obatan
-Psikologi
4. Masalah-masalah pada masa nifas
-Suhu badan
-Rasa nyeri
-urine

-Darah
-penurunan berat badan
-Defekasi
5. Sistem Endokrin
-

Hormon Plasenta
HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron
plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum
normal setelah siklus menstruasi.

Hormon pituitari
Prolaktin

serum

meningkat

terjadi

pada

minggu

pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak


menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post
partum
6. Sistem Kardiovaskuler
-

Tanda-tanda vital
Tekanan
karena

darah

sama

dehidrasi

saat

pada

bersalin,
awal

post

suhu

meningkat

partum

terjadi

bradikardi.
-

Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal
3-4 minggu
Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600
800 cc.

Perubahan hematologik
Ht

meningkat,

leukosit

meningkat,

neutrophil

meningkat.
- Jantung
-

Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal


2-3 minggu.

7. Sistem Respirasi
Fungsi

paru

kembali

normal,

RR

16-24

x/menit,

keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post


partum.

8. Sistem Gastrointestinal
-

Mobilitas

lambung

menurun

sehingga

timbul

konstipasi.
-

Nafsu makan kembali normal.

Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

9. Sistem Urinaria
-

Edema

pada

kandung

kemih,

urethra

dan

meatus

urinarius terjadi karena trauma.


-

Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12


jam.

10.
-

Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.


Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi
tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali
normal 6-8 minggu post partum.

11.
12.
-

Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
Sistem Imun
Rhesus

incompability,

diberikan

anti

RHO

imunoglobin
13.

Kebutuhan masa nifas

a. fisik
Istirahat,makanan

bergizi,udara

segar,lingkungan

yang bersih
b. Psikologi
Distres waktu persalinan segera di stabilkan dengan
sikap

badan

atau

keluarga

yang

menunjukan

simpati,mengakui,menghargai,sebagai mana adanya.


c. Social
-

Menemani ibu bila kelihatan kesepian

Ikut menyayangi anaknya

menangapi bila memperhatikan kebahagiaan

Menghibur bila terlihat sedih

d. Psikososial
1. Phase taking in atau tahap tergantungan
Terjadi
ibu

pada

hari 1-2 post partum ,perhatian

terhadap

kebutuhan

dirinya,pasif

dan

tergantung.Ibu tidak menginginkan kontak dengan


bayinya bukan berarti tidak memperhatikan.Dalam
phase ini yang diperlukan ibu adalah informasi
tentang bayinya,bukan cara merawat bayi.
2. Phase Taking Hold
Phase

ini

hari.Ibu

berlangsung
berusaha

atif,perhatian

sampai

mandiri

terhadap

tubuhnya,misalnya

kira-kira
dan

dirinya

kelancaran

10

berinisi
mengatasi

miksi

dan

defikasi,melakukan aktifitas duduk,jalan,belajar


tentang perawatan diri dan bayinya,timbul kurang
percaya

diri

sehingga

mudah

mengatakan

tidak

mampu melakukan perawatan.Pada saat ini sangat


dibutuhkan sistem pendukung terutama bagi bagi
ibu muda atau primipara karena pada phase ini
seiring dengan terjadinya post partum blues.
3. Phase letting Go atau saling ketergantungan
Dimulai

sekarang

minggu

ke

5-6

pasca

kelahiran.Tubuh ibu telah sembuh,secara fisik ibu


mampun menerima tanggung jawab normaldan tidak
lagi

menerima

peran

sakit.Kegiatan

telah dilakukan kembali.

seksualnya

DAFTAR PUSTKA

Brunner & Suddarth. (2002)Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8 Vol


2,EGC,Jakarta
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan
dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Edisi 7.
Jakarta:EGC
Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC.
Yogyakarta : mocaMedia
Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. EGC.
Jakarta
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka.
Sarwono Prawiroharjo,(2005)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
http//:www.SC/sectio-caesarea.html
http// : www.SC/LP-Sectio-Caesarea.htm
http// : gemeli.blogspot.com//
http// : wordpress.com/healthl//