Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wacana mahabbatullah dalam dunia tasawuf dipopularkan oleh
seorang wanita suci yang menjadi kekasih Allah (Waliyyullah), Rabiah
al-Adawiyyah.

Tampilnya

Rabiah

dalam

sejarah

tasawuf

Islam,

memberikan cinta tersendiri dalam menyetarakan gender pada dataran


spiritual Islam. Bahkan dengan kemampuannya dalam menempuh
perjuangan melawan diri sendiri dan seterusnya tenggelam dalam
telaga cinta Ilahi, dinilai oleh kalangan sufi telah melampau seratus
darjat orang-orang soleh dari kalangan laki-laki.
Rabiah al-Adawiyyah termasyhur kerana pengalaman spiritualnya,
iaitu

mahabah

atau

penyerahan

diri

total

kepada

Allah

s.w.t.

Pengalaman ini diperolehnya bukan melalui guru, melainkan melalui


pengalamannya sendiri. Jika sebelumnya Hasan al-Basri, ahli hadis dan
fikh, telah merintis kehidupan zuhud berdasarkan rasa takut dan
harapan, makan Rabiah melengkapinya dengan cinta kepada Allah.
Cintanya kepada Allah s.w.t telah memenuhi seluruh jiwa raganya; tidak
menyisakan tempat di hatinya untuk mencintai sesuatu selain Allah
s.w.t. Baginya, dorongan mahabah berasal dari dirinya sendiri dan juga
kerana hak Allah s.w.t untuk dipuja dan dicintai. Puncak pertemuan
mahabah antara hamba dan cinta kasih Allah s.w.t yang menjadi akhir
keinginan Rabiah.
Rabiah yang berparas cantik, memiliki suara merdu, dan pandai
menari ini ditugaskan oleh tuannya sebagai penghibur. Setelah belasan
tahun

menjadi

merasakan

penghibur,

kedekatannya

suatu
dengan

hari
Allah

ketika
s.w.t

bernyanyi,
yang

Rabiah

seolah-olah

memanggilnya. Sejak itu, ia menolak semua perintah tuannya untuk


bernyanyi dan menari sehingga tuannya marah, bahkan menyeksanya.
Namun, Rabiah tetap berdoa kepada Allah sw.t. Rabiah pun dijual
kepada seorang sufi yang kemudian mengajaknya menikah. Rabiah
menolaknya kerana kecintaannya yang tinggi pada Allah s.w.t. Setelah
dibebaskan, Rabiah memutuskan untuk hidup menyendiri.

Cinta Rabiah kepada Allah s.w.t merupakan cinta suci, murni, dan
sempurna seperti disenandungkan kepada syair ini: Aku mencintaimu
dengan dua cinta; cinta kerana diriku, dan cinta kerana diri-Mu. Cinta
kerana diriku adalah keadaanku yang sentiasa mengingat-Mu yang
mengungkapkan tabir, sehingga Engkau kulihat. Baik untuk ini,
mahupun untuk itu, pujianku bukanlah bagiku; bagi-Mulah pujian untuk
semuanya. Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi, berilah
keampunan pembuat dosa yang datang ke hadrat-Mu. Engkaulah
harapanku,

kebahagiaanku,

dan

kesenanganku,

hatiku

enggan

mencintai selain Engkau.Rabiah mencurahkan seluruh hidupnya untuk


mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Kerana itu, ia memilih hidup zuhud
agar bebas daripada segala rintangan dalam perjalanan menuju Allah.
Dalam pandangannya, kenikmatan duniawi adalah hambatan menuju
Allah.
Rabiah sang pencinta agung itu, mencintai Allah buka kerana naluri
kewanitannya. Dia mencintai Allah dengan sepenuh jiwanya, ia
mencintai zat-Nya, sifat-sifat-Nya. Ia bertafakur, berzikir, juga suntuk
memaknai segala sesuatu tentang Kekuasaan dan Kebesaran-Nya,
sehingga tidak ada ruang sedikit pun dalam dirinya untuk berfikir selain
Dia.Dia merelakan dirinya menjadi gadis abadi. Dia tidak ingin
bernikah bukan lantaran tidak ada yang meminangnya, dia memilih
kegadisan abadi kerana tidak tertarik dengan kenikmatan hidup
duniawi.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Mahabbah dalam Tasawuf ?
2. Apa saja macam-macam Mahabbah?
3. Bagaimana alat atau cara untuk mencapai Mahabbah?
4. Siapa tokoh yang mengembangkan Mahabbah?
5. Bagaimana proyeksi Mahabbah dalam kehidupan Modern?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Mengetahui apa makna Mahabbah secara umum dan secara
2.
3.
4.
5.
6.

tasawuf.
Mengetahui macam-macam Mahabbah.
Mengetahui cara untuk mendapatkan Mahabbah.
Mengetahui sufi yang pertama kali mengembangkan Mahabbah.
Mengetahui proyeksi Mahabbah dalam kehidupan modern.
Dapat mengimplementasikan konsep Mahabbah dalm kehidupan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Mahabbah
Mahabbah (cinta) menurut para ulama tasawuf berarti kehendak,
yaitu kehendakNya untuk melimpahkan rahmat secara khusus kepada
hamba, sebagaimana kasih sayangNya bagi hamba adalah kehendak
pelimpahan nikmatnya. Jadi, cinta (mahabbah) lebih khusus dari pada
rahmat. Kehendak Allah swt. dimaksudkan untuk menyampaikan pahala
dan nikmat kepada si hamba. Dan inilah yang disebut rahmat.
Sedangkan kehendakNya untuk mengkhususkan kepada hamba, suatu
kedekatan dan ihwal rohani yang luhur disebut sebagai mahabbah.
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan,
yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan
atau cinta yang mendalam. Dalam Mujam al Falsaf, Jamil Shaliba
mengatakan mahabbah adalah lawan dari albaghd, yakni cinta lawan
dari benci. Al-Mahabbah dapat pula berarti alwadud, yakni yang sangat
kasih atau penyayang.
Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukkan
pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini
mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Allah. Dari sekian banyak arti
mahabbah yang dikemukakan di atas, tampaknya ada juga yang cocok
dengan

arti

mahabbah

yang

dikehendaki

dalam

tasawuf,

yaitu

mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhian pada


Allah.

Menurut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun


intinya sama. Pendapat tersebut dihimpun sebagai berikut:
1) Al - Ghazali mahabbah ialah cinta kepada Allah itu adalah maqom
yang terakhir dan derajat yang paling tinggi dari segala maqom yang
sesudahnya yaitu buahnya dari segala maqom yang sebelumnya. Ini
merupakan

pendahuluan

untuk

mencapai

cinta

kepada

Allah.
2) Al-Palimbani mahabbah ialah marifah hakiki yang lahir dari cinta,
tetapi cinta yang hakiki kepada Allah itu hanya lahir dari marifah.
Mahabbah dan marifah itu adalah dua hal yang masingmasing
merupakan sebab tetap juga akibat dari yang lain. Kasih pada Allah
tatkala itu, membawa kepada marifah. Marifah Allah tatkal itu
melazimkan sebenar-benar kasih Allah Taala.
3) Harun Nasution mahabbah ialah cinta, yang dimaksudkan adalah
cinta kepada Allah swt. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan,
pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain yang
berikut:
a. Memeluk kepaAllah pada Allah dan membenci sikap melawan
kepadaNya
b. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c. Mengosongkan hati dari segalagalanya kecuali dari yang dikasihi,
yaitu Allah.
4) Al-Sarraj mahabbah mempunyai tiga tingkatan, yaitu mahabbah
orang biasa, mahabbah orang shidiq dan mahabbah orang yang arif.
a) Mahabbah orang biasa mengambil bentuk selalu mengingat Allah
dengan zikir, suka menyebut namanama Allah dan memperoleh
kesenangan dalam berdialog dengan Allah dan senantiasa memuji
Allah.
b) Mahabbah orang shidiq adalah cinta orang yang kenal pada Allah,
pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain-lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri
seorang dari Allah dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Allah. Ia mengadakan dialog dengan Allah
dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini
membuat

orangnya

sanggup

menghilangkan

kehendak

dan

sifatsifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta


pada Allah dan Selalu rindu padaNya.

c) Mahabbah orang arif adalah cinta orang yang tahu betul pada
Allah. Cinta serupa ini timbul karena telah tahu betul pada Allah.
Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai.
Akhirnya

sifat-sifat

yang

dicintai

masuk

ke

dalam

diri

yang

mencintai.
5) Abu Ali Dadaq mahabbah ialah suatu sikap mulia yang dikaruniakan
Allah kepada hamba yang dikehendakiNya. Allah memberitahukan
bahwa

Dia

mencintai

hambaNya

dan

hambaNya

pun

harus

mencintaiNya.
6) Abdullah Tusturi mahabbah ialah tanda cinta manusia kepada Allah
dengan banyak menyebut nama yang dicintai dan yang demikian itu
tidak akan tertanam dalam hati, melainkan sudah mencapai tingkat
tasdiq

dan

tahkik,

sehingga

ia

selalu

bertaubat

kepadaNya.
Dengan uraian tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa
mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Allah sepenuh
hati, sehingga yang sifat-sifat yang dicintai (Allah) masuk ke dalam diri
yang dicintai. Tujuannnya adalah untuk memperoleh kesenangan
batiniah yang sulit dilukiskan dengan katakata, tetapi hanya dapat
dirasakan oleh jiwa.

B. Macam-Macam Mahabbah
1. Mahabbah mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara
dannggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya
selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga
cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir
lain.
2. Mahabbah rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang,
lembut,siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki
cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya
dibandingterhadap

diri

sendiri.

Baginya

yang

penting

adalah

kebahagiaan sangkekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia


sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan

kesalahan

kekasihnya.

Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang


bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya.
Dari
itu maka dalam al Quran , kerabat disebut al arham, dzawi al
arham ,yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang
secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim
(dari katarahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh
suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut
rahim.Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan
darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi
artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh
cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir
batin-dunia akhirat.
3. Mahabbah mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat
membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain
cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Quran
disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh
cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung
mengabaikan kepada yang lama.
4. Mahabbah syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami,
orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf
(qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampirhampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Quran menggunakan
term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha,
istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Mahabbah rafah, yaitu rasa kasih yang

dalam

hingga

mengalahkannorma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada


anak

sehingga

tidak

tega

membangunkannya

untuk

salat,

membelanya meskipun salah. Al Quran menyebut term ini ketika


mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak
menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina
(Q/24:2).

6. Mahabbah shobwah, yaitu cinta

buta, cinta yang mendorong

perilakupenyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Quran menyebut


term ni ketikamengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar
dipisahkan denganZulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon
dimasukkan penjara saja),sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf
tergelincir

juga

dalam

perbuatanbodoh,

wa

illa

tashrif

`anni

kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min aljahilin (Q/12:33)


7. Mahabbah syauq (rindu). Term ini bukan dari al Quran tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Quran. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya
akantiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa
matsurdari hadis riwayat Ahmad; wa asaluka ladzzata an nadzori ila
wajhikawa as syauqa ila liqaika, aku mohon dapat merasakan
nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk
berjumpa dengan Mu.Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab
Raudlat al Muhibbin waNuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah
pengembaraan hati kepadasang kekasih (safar al qalb ila al mahbub),
dan kobaran cinta yangapinya berada di dalam hati sang pecinta,
hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Mahabbah kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran
mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua
yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri,
meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Quran ketika
menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya, layukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
C. Alat untuk mencapai Mahabbah
Para ahli tasawuf menjawabnya dengan menggunakan pendekatan
psikologi, yaitu pendekatan yang melihat adanya potensi rohaniah yang
ada dalam diri manusia. Harun Nasution, dalam bukunya Falsafah dan
Mistisis dalam Islam mengatakan, bahwa alat untuk memperoleh
marifah oleh sufi disebut sir (

.). Dengan mengutip pendapat al-

Qusyairi, Harun Nasution mengatakan bahwa dalam diri manusia ada


tiga alat yang dapat dipergunakan untuk berhubungan dengan Allah.
Pertama, alqalb (

)hati sanubari, sebagai alat untuk mengetahui

sifat-sifat Allah. Kedua, roh (


Ketiga sir (

)sebagai alat untuk mencintai Allah.

) , yaitu alat untuk melihat Allah. Sir lebih halus dari

pada roh, dan roh lebih halus dari qalb. Kelihatannya sir bertempat di
roh, dan roh bertempat di qalb, dan sir timbul dan dapat menerima
iluminasi dari Allah, kalau qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan
kosong-sekosongnya, tidak berisi apa pun.
Dengan keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa alat untuk
mencintai Allah adalah roh, yaitu roh yang sudah dibersihkan dari dosa
dan maksiat, serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu,
melainkan hanya diisi oleh cinta kepada Allah. Roh yang digunakan
untuk mencintai Allah itu telah dianugerahkan Allah kepada manusia
sejak kehidupannya dalam kandungan ketika umur empat bulan.
Dengan demikian alat untuk mahabbah itu sebenarnya telah diberikan
Allah. Manusia tidak tahu
sebenarnya

hakikat roh

itu.

mengetahui

Yang

hanyalah Allah. Allah berfirman:


Mereka itu bertanya kepada Engkau (Muhammad) tentang roh,
katakanlah bahwa roh itu urusan Allah, tidak kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit sekali.
(QS. Al-Isra: 85).
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu
kepadaNya dengan bersujud. (QS. Al-Hijr: 29)
Selanjutnya di dalam hadis pun diinformasikan bahwa manusia itu
diberikan roh oleh Allah, pada saat manusia berada dalam usia empat
bulan didalam kandungan. Hadis tersebut selengkapnya berbunyi:
Sesungguhnya manusia dilakukan penciptaannya dalam kandungan
ibunya, selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah (segumpal
darah), kemudian menjadi alaqah (segumpal daging yang menempel)
pada waktu yang juga empat puluh hari, kemudian dijadikan mudghah
(segumpal daging yang telah berbentuk) pada waktu yang juga empat

puluh hari, kemudian Allah mengutus malaikat untuk menghembuskan


roh kepadanya (HR. BukhariMuslim).
Dua ayat dan satu hadis tersebut diatas selain menginformasikan
bahwa manusia dianugerahi roh oleh Allah, juga menunjukkan bahwa
roh itu pada dasarnya memiliki watak tuduk dan patuh pada Allah. Roh
yang wataknya demikian itulah yang digunakan para sufi untuk
mencintai Allah.

D. Tokoh yang mengembangkan ajaran Mahabbah


Nama lengkapnya ialah Ummu Al- Khair Rabiah Binti Ismail AlAdawiyah Al- Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M. Ia
hidup antara tahun 713-801 H. Rabiah al-Adawiyah adalah seorang
zahid perempuan yang amat besar dari Bashrah, di Irak. Dia berasal
dari keluarga sejahtera tetapi hidup sederhana. Dari kecil dia tinggal di
kota kelahirannya. Di kota ini Ummu Rabiah Al-Adawiyah sangat harum
namanya sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh
orang-orang dikotanya.
Hampir seluruh literatur bidang tasawuf menyebutkan bahwa tokoh
yang

memperkenalkan

ajaran

mahabbah

ini

adalah

Rabiah

al-

Adawiyah. Hal ini didasarkan pada ungkapan-ungkapannya yang


menggambarkan bahwa ia menganut paham tersebut.
Menurut riwayatnya ia adalah seorang hamba yang kemudian
dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadat, bertaubat
dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kesederhanaan dan
menolak segala bantuan material yang diberikan orang kepadanya.
Dalam berbagai doa yang dipanjatkannya ia tak mau meminta hal-hal
yang bersifat materi dari Allah. Ia betul- betul hidup dalam keadaan
zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Allah.
Ia terkenal sebagai Ulama Shufi wanita yang mempunyai banyak
murid dari kalangan wanita pula. Rabiah menganut ajaran zuhud
dengan menonjolkan falsafah

hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada

Allah. Salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hubb dan


syauq yang mewarnai kehidupannya adalah:

Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan


tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan
menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlaq buruk.
(Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu
kepada-Nya.
Di

antara

ucapannya

yang

terkenal

tentang

zuhd

ialah-

sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf alMahjub: Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan
berkata pada Rabiah:

Mintalah kepadaku segala kebuAllahmu!

Rabiah menjawab: Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi


kepada pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada
orang yang bukan pemiliknya?
Di antara ucapan-ucapannya yang menggambarkan tenteng konsep
zuhd yang dimotivasi rasa cinta adalah:
Wahai Allah! Apa pun bagiku dunia yang Engkau karuniakan
kepadaku, berikanlah kepada musuh-musuhMu. Dan apa pun yang
Engkau akan berikan padaku kelak di akhirat, berikan saja pada
teman-teman-Mu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup.
Cinta Rabiah yang tulus tanpa mengharapkan sesuatu pada Allah,
terlihat dari ungkapan doa-doa yang disampaikannya. Ia pernah berdoa
Ya Allahku, bila aku

menyembah-Mu lantaran takut kepada neraka,

maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku menyembah-Mu


karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun
jika aku menyembah-Mu hanya demi Engkau, maka janganlah Engkau
tutup keindahan Abadi-Mu.
Dalam doanya yang lain:
Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah
pembuat dosa

yang

datang

kehadiratMu. Engkaulah harapanku,

kebahagiaan dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain


dari Engkau.
Atas syair-syair doa tersebut, al-Ghazali mengatakan: Barangkali
yang ia maksud dengan cinta kerinduan itu ialah cinta kepada Allah,
karena kasih sayang, rahmat dan iradah Allah telah sampai kepadanya.

Karena Allah telah menganugerahkan roh, sehingga ia dapat menyebut


dan dekat dengan-Nya.
Syair-syair tersebut ia ucapkan pada saat telah datang keheningan
malam dengan gemerlapnya bintang, tertutupnya pintu-pintu istana
raja dan orang-orang telah terbuai dalam tidurnya. Waktu malam
sengaja dipilih karena pada waktu itulah roh dan daya rasa yang ada
dalam diri manusia tambah meningkat dan tajam, tak ubahnya seorang
yang bercinta yang selalu mengharapkan waktu-waktu malam untuk
selalu bersamaan.
Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan- ungkapannya yang ia
cetuskan melalui gubahan kata yang indah, antara lain:
Allahku, aku terbenam dalam kasihku pada- Mu, tiada sesuatu yang
melenyapkan ingatanku pada-Mu. Allahku, cahaya bintang gemerlapan,
orang-orang pada tidur lelap dan pintu istana ditutup rapat, yang saling
mencinta telah asyik berduaan, sedangkan aku kini bersimpuh di
hadirat-Mu. Allahku, malam kini telah berlalu, siang akan segera
menyusul, aku gelisah gundah gulana, apakah amalku Engkau terima
yang

membuatku

bahagia,

ataukah

Engkau

tolak

yang

akan

membuatku nestapa. Demi kemahaperkasaan-Mu ya Allah, aku akan


terus mengabdi pada-Mu selama hayatku. Seandainya Engkau usir aku
dari ambang pintu-Mu aku takkan beranjak karena cintaku pada-Mu
telah membelenggu jiwaku.
Demikianlah ungkapan cinta Rabiah kepada Allah yang telah
merasuk sukmanya sehingga segala aktivitas nya tertuju hanya kepadaNya. Selanjutnya ia bersenandung:
Kasihku, hanya Engkau harap dambaku, Alirkan karunia-Mu bagiku
yang bernoda, Kaulah

harapanku, kedamaianku,

kebahagiaanku,

Hatiku hanya pada-Mu semata.


Tampak jelas bahwa cinta Rabiah al- Adawiyah kepada Allah begitu
penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan
diri karena hadir bersama Allah, seperti terungkap dalam larik syairnya:
Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu
Tubuhku pun biar berbincang dengantemanku
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu

Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.


Dalam lariknya yang lain, lebih tampak lagi cintanya Rabiah
terhadap

Allah.

Dalam

mengungkapkan

rasa

cintanya

ini,

dia

bersenandung:
Aku cinta Kau dengan dengan dua model cinta
Cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta
Adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu, bukan
selainMu
Adapun cinta karena Kau layak dicinta,
karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku.
Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu.
Tapi sekalian puji hanya bagiMu selalu.
E. Mahabbah dan Relevansinya pada zaman Modern
Penerapan mahabbah di masa silam dengan masa sekarang sebenarnya sama saja.
Mahabbah dilakukan dengan senantiasa berdzikir, beribadah, dan mendekati diri kepada
Allah dengan berbagai jalan yang dapat ditempuh. Hanya saja, di era globalisasi, dimana
arus kebebasan mulai mengila, konsep ini kian lama kian mengabur. Manusia lebih banyak
disibukkan dengan cintah kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Harta, jabatan, kekuasaan,
wanita, dan lainnya. Banyak diantara umat Islam yang mengaku cinta kepada Allah dan
rosul-Nya, tapi tetap berperilaku ini hanya sekedar tipuan belaka, palsu. Banyak pula
kaum muslimin, khususnya para pejabat dan ulama terpesona dengan
dunia yang serba gemerlap. Banyak pejabat yang borjuis, banyak
penguasa yang zhalim, banyak ulama yang materialis, karena saking
cintanya kepada harta.
Banyak pula para pemuda dan pemudi generasi bangsa yang
menyalah gunakan arti cinta dan mahabbah yang sesungguhnya,
mereka menuangkan cinta dan mahabbah atas kehendak hawa
nafsunya, bukan karena cinta kepada Allah dengan mempertebal
keimanan dan ketaqwaanya, melainkan justru malah berbuat maksiat.
Adapun cinta yang sepenuh hati tidaklah demikian. Sebagaimana teladan yang telah kita
lihat dari Rabiah Al-Adawiyah, cinta yang sepenuh hati, akan membawa kita pada
keridhoan-Nya, yakni dengan memanifestasikan hukum-hukum Allah.

Dari uraian-uraian di atas, dapat kita ketahui bahwa saat ini menerapkan konsep
mahabbah seperti sufi jauh lebih sulit, karena tantangan zaman yang semakin menggila.
Akan tetapi, hal ini tidaklah mustahil untuk dilakukan. Karena, bagaimanapun Islam
adalah agama rahmatan lil alamin, universal, dan representatif untuk setiap zaman.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang
secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan
atau cinta yang mendalam. Secara tasawuf mahabbah berarti
kecintaan yang mendalam secara ruhian pada Allah.
2. Macam-macam mahabbah diantaranya ada Mahabbah mawaddah,
Mahabbah rahmah, Mahabbah mail, Mahabbah syaghaf, Mahabbah
rafah, Mahabbah shobwah, Mahabbah syauq (rindu), dan Mahabbah
kulfah.
3. Cara untuk mendekati mahabbah menurut Harun Nasution ada 3 alat,
yaitu dengan sir (

) , yaitu alat untuk melihat Allah, roh ()

sebagai alat untuk mencintai Allah, dan alqalb (

hati

sanubari, sebagai alat untuk mengetahui sifat-sifat Allah.


4. Roh yang digunakan untuk mencintai Allah telah dianugerahkan Allah
kepada manusia sejak kehidupannya dalam kandungan ketika umur
empat bulan.
5. Tokoh atau sufi yang terkenal mengenai Mahabbah ini adalah Rabiah
al-Adawiyah. Menurut riwayatnya ia adalah seorang hamba yang
kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadat,
bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia betul- betul hidup dalam
keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Allah.
6. Di era globalisasi ini, dimana arus kebebasan mulai mengila, konsep mahabbah kian
lama kian mengabur. Manusia lebih banyak disibukkan dengan cintah kepada hal-hal
yang bersifat duniawi. Penerapan konsep mahabbah seperti sufi di zaman sekarang jauh
lebih sulit, karena tantangan zaman yang semakin menggila. Akan tetapi, hal ini
tidaklah mustahil untuk dilakukan.
B. Saran
Untuk penyusunan makalah ini, kedepannya agar lebih baik penyusunannya,
materinya juga lebih diperdalam, agar semakin menggugah hati agar semantiasa cinta dan
dekat kepada Allah meski tidak sehebat cintanya seorang Rabiah al-Adawiyah kepada
Allah.

Daftar Pustaka
Nata, Abuddin. 1996. Akhlak Tasawuf. Jakarta. Rajawali Pers.
Jasmine,

Yesti.

2014.

Mahabbah

dalam

Konsep

Tasawuf.

Dalam

http://yestijasmine.blogspot.com/2014/01/mahabbah-menurut-konseptasawuf.html. Diakses tanggal 17 April 2015 pkl. 10.43 WIB.


Anonim. 2012. Mahabbah Rabiah Al-Adawiyah Dan Relevansinya Dalam
Kehidupan

Sekarang.

Dalam

http://dimyatisblog.blogspot.com/2012/05/sarya.html. Diakses tanggal


29 April 2015 pkl. 20.30 WIB.
Irsyad,

Fajar.

2013.

Zuhud

dan

Mahabbah.

Dalam

http://blogsidul.blogspot.com/2013/07/makalah-zuhud-danmahabbah.html. Diakses tanggal 29 April 2015 pkl. 19.45 WIB.


Anonim.

2011.

Makalah

Mahabbah.

http://galisbangkalan.blogspot.com/2011/11/makalah-tasawufmahabbah.html. Diakses tanggal 16 April 2015 pkl. 14.58 WIB.

Dalam