Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ankilostomiasis (infeksi cacing tambang pada manusia) adalah infeksi
cacing yang ditularkan melalui tanah yang disebabkan oleh nematoda parasit
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Ini adalah penyebab utama
anemia dan malnutrisi protein, melanda sebuah 740 juta orang di negara-negara
berkembang dari daerah tropis. Jumlah terbesar kasus terjadi di daerah pedesaan
miskin di sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, Asia Tenggara dan Cina. N.
americanus adalah cacing tambang paling umum di seluruh dunia, sementara A.
duodenale lebih dibatasi secara geografis (WHO, 2012).
Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan,
salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan
ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan
produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan
kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta
kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Prevalensi Cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama
pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit
penyakit ini (Menkes, 2006).
Di dunia saat ini, lebih dari 2 milyar penduduk terinfeksi cacing.
Prevalensi yang tinggi ditemukan terutama di negara-negara non industri (negara
yang sedang berkembang).Merid mengatakan bahwa menurut World Health
Organization (WHO) diperkirakan 800 juta1 milyar penduduk terinfeksi Ascaris,
700900 juta terinfeksi cacing tambang, 500 juta terinfeksi trichuris. Di Indonesia
penyakit cacing merupakan masalah kesehatan masyarakat terbanyak setelah
malnutrisi. Prevalensi dan intensitas tertinggi didapatkan dikalangan anak usia
sekolah dasar. Di Sumatera Utara yang meliputi daerah tingkat dua Binjai, Tebing
Tinggi, Simalungun, Pematang Siantar, Tanjung Balai, Sibolga dan Medan
menurut hasil penelitian pada tahun 1995 menunjukkan tingkat prevalensi
berkisar 5790% (Ginting, 2003).
Infeksi cacing tambang juga berhubungan dengan kemiskinan. Menurut
Peter Hotez (2008), semakin parah tingkat kemiskinan masyarakat akan semakin
1

berpeluang untuk mengalami infeksi cacing tambang. Hal ini dikaitkan dengan
kemampuan dalam menjaga higiene perorangan dan sanitasi lingkungan tempat
tinggal (Hotez, 2008 cit Sumanto, 2010).
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas ilmu kesehatan anak.
b. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan anamnesis dan pemeriksaan pada

Ankilostomiasis
Mahasiswa mampu melakukan penanganan dan penatalaksanaan
yang tepat pada pasien Ankilostomiasis

1.3 Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat menggunakan ini sebagai bahan acuan dalam memahami
dan mempelajari mengenai Ankilostomiasis
b. Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat terutama yang mengalami Ankilostomiasis akan
menambah pengetahuan mengenai penyakit ini beserta pengobatannya.
Dengan demikian penderita dapat mengetahui bagaimana tindakan
selanjutnya apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada penyakit
tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi
Ankilostomiasis (infeksi cacing tambang pada manusia) adalah infeksi
cacing yang ditularkan melalui tanah yang disebabkan oleh nematoda parasit
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale.2
2.2 Epidemiologi

Cacing

tambang

adalah

penyakit

yang

penting

pada

manusia.

N.americanus maupun A.duodenale ditemukan di daerah tropis dan subtropics


seperti Asia dan Afrika. Infeksi pada manusia umumnya dapat terjadi oleh
pengaruh beberapa faktor, yaitu :1
1. Adanya sumber infeksi yang adekuat di dalam populasi
2. Kebiasaan buang air besar yang jelek, yang mana tinja yang mengandung
telur cacing tambang ikut mencemari tanah.
3. Kondisi setempat yang menguntungkan

untuk

dapat

terjadinya

perkembangan telur menjadi larva


4. Kesempatan larva berkontak dengan manusia
Manusia merupakan tuan rumah utama infeksi cacing tambang.
Endemisitas infeksi tergantung pada kondisi lingkungan untuk menetaskan telur
dan maturasi larva. Kondisi yang optimal ditemukan di daerah pertanian di negara
tropis. Morbiditas dan mortalitas infeksi cacing tambang terutama terjadi pada
anak-anak. Dari suatu penelitian, diperoleh separuh dari anak-anak yang telah
terinfeksi sebelum usia 5 tahun, 90% terinfeksi pada usia 9 tahun. Intensitas
infeksi meningkat sampai usia 6-7 tahun dan kemudian stabil. 1
Di Cina perpindahan terjadi karena pemakaian pupuk dari kotoran
manusia. Di Indonesia

ankilostomasis banyak terjangkit oleh karyawan

perkebunan karet.2
2.3 Etiologi
Penyakit cacing tambang pada manusia (ancylostomiasis) disebabkan oleh
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Di Indonesia infeksi oleh
N.americanus lebih sering dijumpai dibandingkan infeksi oleh A.duodenale.
Cacing dewasa kecil, silinder. Cacing jantan berukuran 5-11 mm x 0,3-0,45 mm
dan cacing betina 9-13 mm x 0,35-0,6 mm, sedangkan A.duodenale sedikit lebih
besar dari N.americanus. N.americanus dapat menghasilkan 10.000-20.000 telur
setiap harinya, sedangkan A.duodenale 10.000-25.000 telur per hari. Ukuran telur
N.americanus adalah 64-76 mm x 36-40 mm dan A.duodenale 56-60 mm x 36-40
mm. Telur cacing tambang terdiri dari satu lapis dinding yang tipis dan adanya
ruangan yang jelas antara dinding dan sel didalamnya. Telur cacing tambang
dikeluarkan bersama tinja dan berkembang di tanah. (Gambar 1)1
3

Gambar 1 : Telur Cacing Tambang dalam tinja


Dalam kondisi kelembaban dan temperature yang optimal (23-330C), telur
akan menetas dalam 1-2 hari dan melepaskan larva rhabditiform yang berukuran
250-300 m. Setelah 2 kali mengalami perubahan, akan terbentuk larva filariform.
Perkembangan dari telur ke larva filariform adalah 5-10 hari. Kemudian larva
menembus kulit manusia dan masuk ke sirkulasi darah melalui pembuluh darah
vena dan sampai di alveoli. Setelah itu larva bermigrasi ke saluran nafas atas yaitu
dari bronkhiolus ke bronchus, trakea, faring, kemudian tertelan, turun ke
esophagus dan menjadi dewasa di usus halus. (Gambar 2) 1

Gambar 2 : Siklus Hidup Cacing Tambang


Manusia menjadi infeksi dengan cara tertelan larva filariform ataupun
dengan cara larva filariform menembus kulit. Pada Necator americanus, infeksi
melalui kulit lebih disukai, sedangkan oada Ancylostoma duodenale infeksi lebih
sering terjadi dengan tertelan larva. A.duodenale dan N.americanus yang cara
infeksinya dengan menelan larva, maka cacing ini tidak mempunyai siklus di
paru. 1
2.4 Patofisiologi
Telur dihasilkan oleh cacing betina dan keluar memalui tinja. Bila telur
tersebut jatuh ketembat yang hangat, lembab dan basah, maka telur akan berubah
menjadi larva yang infektif. Dan jika larva tersebut kontak dengan kulit,
bermigrasi sampai ke paru-paru dan kemudian turun ke usushalus; di sini larva
berkembang menjadi cacing dewasa (Pohan, 2009). Infeksi terjadi jika
larvafilariform menembus kulit. Infeksi A.duodenale juga mungkin dengan
menelan larva filariform.3

Telur dari kedua cacing tersebut ditemukan di dalam tinja dan menetas di
dalamtanah setelah mengeram selama 1-2 hari. Dalam beberapa hari, larva
dilepaskan dan hidupdi dalam tanah. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa
alas kaki diatas tanah yangterkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa
menembus kulit. Larva sampai ke paru-paru melalui pembuluh getah bening dan
aliran darah. Lalu larva naik ke saluran pernafasandan tertelan. Sekitar 1 minggu
setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus. Larva menancapkan
dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan
mengisap darah.3
2.5 Manifestasi Klinis
Migrasi Larva
1. Sewaktu menembus kulit, bakteri piogenik dapat terikut masuk pada saat
larva menembus kulit, menimbulkan rasa gatal pada kulit (ground itch).
Creeping eruption (cutaneous larva migrans), umumnya disebabkan larva
cacing tambang yang berasal dari hewan seperti kucing ataupun anjing,
tetapi kadang-kadang dapat disebabkan dari hewan seperti kucing ataupun
anjing, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan oleh larva Necator
americanus ataupun Ancylostoma duodenale. 1
2. Sewaktu larva melewati paru, dapat terjadi pneumonitis, tetapi tidak
sesering oleh Ascaris lumbricoides. 1
Cacing dewasa
Cacing dewasa umumnya hidup di sepertiga bagian atas usus halus dan
melekat pada mukosa usus. Gejala klinis yang sering terjadi tergantung pada berat
ringannya infeksi, makin berat infeksi manifestasi klinis yang terjadi semakin
mencolok, seperti : 1
1. Gangguan gastro-intestinal yaitu anoreksia, mual, muntah, diare,
penurunan berat badan, nyeri pada daerah sekitar duodenum, jejunum dan
ileum.
2. Pada pemeriksaan laboratorium, umumnya dijumpai anemia hipokrom
mikrositik.
3. Pada anak, dijumpai adanya korelasi positif antara infeksi sedang dan
berat dengan tingkat kecerdasan anak.

Bila

penyakit

berlangsung

kronis,

akan

timbul

gejala

anemia,

hipoalbuminemia, dan edema. Hemoglobin kurang dari 5g/dL dihubungkan


dengan gagal jantung dan kematian yang tiba-tiba. Patogenesis anemia pada
infeksi cacing tambang tergantung 3 faktor yaitu : 1
1. Kandungan besi dalam makanan
2. Status cadangan besi dalam tubuh pasien
3. Intensitas dan lamanya infeksi
Ketiga faktor ini bervariasi di negara tropis. Di Nigeria, dimana masukan
besi tinggi (21-30 mg per hari), perdarahan yang disebabkan oelh infeksi cacing
tambang tidak menunjukan berkurangnya besi meskipun di dalam tubuhnya
terdapat sampai 800 cacing tambang dewasa. Pada infeksi cacing tambang,
kehilangan darah yang terjadi adalah 0,03-0,05 ml darah/cacing/hari pada Necator
americanus dan 0.16-0.34 ml darah/cacing/hari pada Ancylostoma duodenale. 1
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Jenis cacing nematode : Ancylostoma duodenale, Necator americanus /
cacing tambang4
Pemeriksaan

penunjang

saat

awal

infeksi

(fase

migrasi

larva)

mendapatkan: a) eosinofilia(1.000-4.000 sel/ml), b) feses normal,c) infiltrat


patchy pada foto toraks dan d) peningkatan kadar IgE. 4
Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa dilakukan dan
dapatmenemukan telur cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses.
Tanda-tandaanemia defisiensi besi yang sering dijumpai adalah anemia
mikrositik-hipokrom, kadar besiserum yang rendah, kadar total iron binding
capacity yangtinggi. Di sini perlu dieksklusi penyebab anemia hipokrom
mikrositer lainnya.Dapat ditemukan peningkatan IgE dan IgG4,tetapi pemeriksaan
IgG4 tidak direkomendasikan karena tinggi biayanya. 4
Hal-hal penting pada pemeriksaan laboratorium, diantaranya adalah telur
cacingtambang yang ditemukan dalam tinja sering dikacaukan oleh telur
A.lumbricoides yang berbentuk dekortikasi. Tinja yang dibiarkan lebih dari 24
jam tanpa diawetkan maka telur yang ada di dalamnya akan berkembang, menetas
dan mengeluarkan larva labditiform. Larvalabditiform cacing tambang harus
7

dibedakan

dengan

Stronyloides

stercoralis

danTrichostrongylus

(melalui

pembiakan larva metode Harada Mori). Telur cacing tambangmudah rusak oleh
perwanaan permanen dan telur lebih mudah di lihat pada sediaan basah. 4
Diagnosis infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Pemeriksaan Sediaan langsung
Diambil tinja kira-kira 0,2 g diletakan pada kaca benda. Kemudian
ditambah 1-2 teteslarutan garam fisiologis dan diratakan. Selanjutnya ditutup
dengan kaca penutup danlangsung diperiksa dibawa mikroskop. Untuk
memberikan warna pada tinja agar telur cacing tampak lebih jelas, dapat
digunakan 1 tetes eosin 0,2% sebagai pengganti garamfisilogis. 4
2. Tehnik Pengapungan Dengan NaCl jenuh.
Dimasukan tinja kurang lebih 5 g kedalam tabung reaksi dan ditambah
NaCl jenuh,diaduk sampai homogen, diambil kaca tutup, dan diamkan 10-15
menit di dalam tabungreaksi. Diambil kaca tutup tnpa mengubah kedudukannya
langgsung diletakan pada kaca benda dan diperiksa telur-telurnya. 4
3. Pemeriksaan Tinja Menurut Kato
Tehnik ini dirintis oleh kato untuk pemeriksaan telur cacing,yaitu:
memotong kertasselofan 30-50 mm x 20-30 mm dan direndam dalam larutan
malachite green 3% yangencer selama 24 jam atau lebih. Ambil tinja 50-60 mg
diletakan diatas kaca benda dantutp sepotong selofan yang telah direndam dalam
larutan tersebut. Diratakn dengan ibu jari dan ditekan selofan tadi supaya tinjanya
merata. Kaca benda tersebut didiamkan pada suhu 400C selama 30 menit atau
suhu kamar selama 1 jam. Sediaan tersebut diperiksadengan pembesaran lemah
atau lensa objyektif 10x. 4
4. Tehnik Biakan dengan Arang
Tehnik ini untuk kultur larva adalah menggunakan arang dengan meniru
keadaanalam. Caranya diencerkan 20-40- g tinja dengan air kran smapai menjadi
suspensi yangkental. Disaring dengan 2 lembar kain kasa dan ditampung dalam
cawan petri yang besar(kurang lebih 3x 4 inci) berisi butiran arang kecil. Butiran
arang tersebut di campur dengan air sedikit sehingga keadaan menjadi lembab,
Jangan terlalu banyak. Cawan petridi tutup dan ditempatkan pada tempat yang

aman. Pada hari berikutnya cawan petri harusdi periksa, apakah masih cukup
airjika di perlukan tambahkan air.cawan tersebutdiperikas pada tiap hari, harus
hati-hati sebeb air yang mengandung larva yang terdapat pada permukaan bagian
bawah tutp, merupakan larva infektif. Hari ke 5 atau 6 dalamkultur dapat
dihasilkan larva cacing.Untuk memeriksa larva siapakn kain kasa yangdipotong
sma

dengan

diameternya.

Kain

kasa

di

ambil

dengan

hati-hati,

pasang penjepit.upakan jangan smapai menyentuh arang. Tutup cwan petri dibuka
sedkiti supayakena sumber cahaya 6-8 inci. Setelah 1 jam saringan diambil
dengan penjepit/pinset dandiletakn ke permukaan air. Hasil dpat diambil setelah
30-60 menit dengan sebuah pipetdiberikan pada kaca benda serta ditutup dengan
kaca pentup dan periksa dibawamikroskop. 4
5. Tehnik Menghitung Telur Cara Stool
Metode ini dapat digunakan untuk menaksir jumlah cacing dengan
menghitung jumlah telur. Caranya: sebuah botol di isi dengan NaOH 0,1 N 56
ML(Stool) dandimasukan tinja, diaduk smapai homogen, dipipet 0,15 dan
diletakan dikaca benda laluditutup dengan kaca penutup dan periksa. Telur per
gram akan tergantung padakonsistensi fesesnya, yaitu:

Tinja yang lembek,EPG(egg per gram) dalam pemeriksaannya dikalikan

setengah.
Tinja setengah encer,EPG yang diperoleh dikalikan 2.
Tinja encer, EPG yang diperoleh pada pemeriksaan dikalikan 3. 4
6. Tehnik pengendapan Sederhana
Tehnik ini memerlukan waktu yang lama, tetapi mempunyai keuntungan
karena dpatmengendapkan telur tanpa merusak bentuknya. Caranya: diambil 10
mg tinja dandiencerkan dengan air sehingga volumenya menjadi 20 kali. Disaring
melalui 2 lembar kain kasa dan dibiarkan 1 jam. Menuangakan supernatan dan
ditambahkan dengan air dandidiamkan selama 1 jam serta di ulangi sampai
supernatan menjadi jernih. Kemudianditunangkan supernatan yang jernih dengan
pipet panjang untuk mengambil endapan danditempatkan pada kaca benda sefta
ditutup dengan kaca peutup.selanjutnya dibacadibawah mikroskop. 4
7. Tehnik biakan Menurut Harada Morn
Metode ini menggunakan tabung dengan diameter 18 mm dan panjang 170
mm. Kira-kira 0,5 g tinja di oleskan pada 2/3 dari secarik kertas saring yang

lebarnya 25 mm dan panjangnya 150 mm dengan menggunakan batang pengaduk.


Dari kertas uang dioleskantinja, dilipat menjadi 2 melalui poros yang panjang
dengan permukaan yang diolesi di bagian dalam dan disisipkan kedalam tabung
tes, di tambah air dan air tidak menyentuhtinja. Tabung di ikat dengan karet,
kemudian tabung di simpan 4-7 hari pada suhu kamar.Larva yang berkembang
biak muncul di dalam air 3 hari setelah dikultur dan mencapaimaks 7 hari. Larva
dalam air dapat diperiksa dengan loupe atau mikroskop pembesranobyektif 10x. 4
8. Tehnik Pengapungan Dengan Pemusingan dengan ZnSO4
Diambil tinja sebesar biji kelereng dan dimasukan kedalam tabung reaksi,
ditambahair sedikit demi sedikit dan diaduk samapi volume menjadi 10 kalinya.
Diambil kain kasauntuk menyaring tinja yang telah diaduk dan di ditampung
dalam tabung pemusing.Dipusing dengan kecepatan 1800 rpm selama 1-2 menit
dan ini lakukan sebanyak 3-4kali. Tambahkan larutan ZnSO4 samapi 2/3 tabung
pemusing dan diaduk serta dipusinglagi dgn kecepatan 1800 rpm selama 1-2
menit.material yang mengapung diambil dengan pipet dan di taruh di kaca benda
di tambah larutan J-KJ, dicampur, ditutup memakai kacatutup dan diperiksa
dibawa mikroskop. 4
9. Tehnik Pengapungan dengan Gula
Diambil tinja 3 mg dilarutkan dalam 3 ml larutan gula dan diaduk smapai
rata.Ditambah larutan gula jenuh lagi samapi permukaan mulut tabung cembung.
Kaca tutpditaruh diatas tabung reaksi, setelah 25 menit kemudian kaca tutup
diletakan diatas kaca benda. Periksa di bawa mikroskop. 4

2.7 Diagnosis
Diagnosis pasti penyakit ini adalah dengan ditemukannya telur cacing
tambang di dalam tinja pasien. Selain tinja, larva juga bisa ditemukan dalam
sputum. Kadang-kadang terdapat darah dalam tinja.3
2.8 Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk infeksi cacing tambang adalah penyakitpenyakit:4

10

1. Penyebab lain anemia


2. Tuberkulosis
3. Penyebab gangguan gastrointestinal lainnya.
2.9 Penatalaksanaan
Perawatan umum5
a. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan
makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati dan telur) dan bahan makanan
nabati (sayuran bewarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b. Mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung
vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan
nanas) untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
c. Suplemen preparat besi diperlukan oleh pasien dengan gejala klinis yang
berat, terutama bila ditemukan bersama-sama dengan anemia. Dapat
diberikan preparat besi oral, Sulfas ferosus 3 x 200 mg (1 tablet) untuk
orang dewasa atau 10 mg/kgBB/kali untuk anak5
Pengobatan
1. Creeping Eruption : Krioterapi dengan liquid nitrogen atau kloretilen
spray, tiabendazol topical selama 1 minggu. Couland dkk (1982)
mengobati 18 cutaneous laeva migrans dengan albendazol 400 mg selama
5 hari berturut-turut, mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.1
2. Pengobatan terhadap cacing dewasa : dibangsal anak RS. Pirngadi Medan,
pengobatan pirantel pamoat dosis 10 mg/kgBB diberikan pada pagi
harinya diikuti dengan pemberian mebendazol 100 mg dua kali sehari
selama 3 hari berturut-turut. Hasil pengobatan ini sangat memuaskan,
terutama bila dijumpai adanya infeksi campuran dengan cacing lain. 1
Obat-obat lain yang dapat digunakan :
1. Pirantel-Pamoat, dosis tunggal 10 mg/kgBB
2. Mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut
3. Albendazol, pada anak usia diatas 2 tahun dapat diberikan 400 mg (2
tablet) atau setara dengan 20 ml suspense, sedangkan pada anak yang kecil
lebih diberikan dengan dosis separuhnya, dilaporkan hasil cukup
memuaskan. 1
11

Terapi Penunjang
Pemberian makanan yang bergizi dan preparat besi dapat mencegah
terjadinya anemia. Pada keadaan anemia yang berat (Hb<5 g/dL), preparat besi
diberikan sebelum dimulai pengobatan dengan obat cacing. Besi elementer
diberikan secara oral dengan dosis 2 mg/kgBB tiga kali sehari sampai tanda-tanda
anemia hilang. 1
2.10 Pencegahan
1. Pemeberantasan sumber infeksi pada populasi
2. Perbaikan sanitasi dan kebersihan pribadi/lingkungan
3. Mencegah terjadinya kontak dengan larva1
2.11 Komplikasi
Komplikasi yang tersering dari Ankilostomiasis adalah :
1. Anemia berat5
Anemia berat bisa terjadi karena darah kita di ambil olah cacing
sebagai sumber nutrisi. Dan pada cacing ankilostoma terdapat zat
antikoagulan pada mulutnya sehingga darah akan terus mengalir. 5
2. Dermatitis5
Salah satu komplikasi yang terjadi karena inervasi cacing kedalam
tubuh melalui kulit di kaki, ataupun pada bagian tubuh yang lain yang
menyebabkan rasa gatal dab bisa timbul fistula. 5
3. Defisiensi besi5
Hal ini akan mengakibatkan tanda berupa choilinicia,cheilosis yang
merupakan manifestasi klinis defisiensi besi karena kurangnya asupan
oksigen dan nutrisi.
4. Gagal jantung5
Anemia yang lama dan kronis bisa menyebabkan gagal jantung
5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental5
2.12 Prognosis
Prognosis dari penyakit ankilostomiasis adalah baik, walaupun pasien datang
dengan komplikasi ankilostoma dapat disembuhkan asalkan dengan pengobatan
yang adekuat.6

12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cacing tambang yang menginfeksi manusia adalah Necator americanus
dan Ancylostoma duodenale. Cacing ini berhabitat di usus halus manusia. Necator
Americanus

menyebabkan

Necatoriasis

dan

A.duodenale

menyebabkan

Ankilostomiasis.
Dalam sehari N. americanus dapat bertelur 9.000 butir dan A.duodenale
10.000 butir. Telur yang keluar bersama tinja manusia ditanah akan menetas
setelah 1-1,5 hari, keluarlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva
rabditiform akan tumbuh menjadi larva fiariform, dan dapat hidup selama 7-8
minggu didalam tanah. Larva filariform inilah bentuk infektif cacing tambang ini
yang dapat menembus kulit manusia. larva filariform masuk kedalam tubuh
manusia melalui pembuluh darah balik atau pembuluh darah limfa, maka larva
akan sampai ke jantung kanan. Dari jantung kanan menuju ke paru paru,
kemudian alveoli ke broncus, ke trakea dan apabila manusia tersedak maka larva
akan masuk ke oesophagus lalu ke usus halus dan menjadi dewasa (siklus ini
berlangsung kurang lebih dalam waktu dua minggu).
Infeksi ini terjadi didaerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat
kebersihan yang buruk. Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat

13

desa yang BAB di tanah dan pemakaian feces manusia sebagai pupuk. Selain
lewat kaki, cacing tambang juga bias masuk kedalam tubuh manusia melalui
makanan yang masuk ke mulut.
Gejala yang ditimbulkan, stadium larva menyebabkan kelainan pada kulit
(ground itch). Stadium dewasa tergantung dari spesies dan jumlah cacing serta
keadaan gizi penderita. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan
tambahan zat besi per-oral atau suntikan zat besi, jika kasus berat dapat diberikan
tranfusi darah, dan jika kondisi penderita stabil dapat diberikan pirantel pamoat
dan mabendazol yang digunakan beberapa hari berturut-turut. Pencegahan yang
paling utama yaitu dengan sanitasi lingkungan dengan menjaga pola hidup bersih.
3.2 Saran
1. Menjaga pola hidup bersih agar terhindar dari penyakit.
2. Segera berobat jika timbul gejala awal, karena penyakit yang sudah kronis
akan sulit untuk disembuhkan.
3. Hindari faktor resiko terinfeksi.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Poorwo Soedarmo, Sumarmo,dkk. 2010. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis
Edisi Kedua. Jakarta: IDAI
2. Prem, Daniel. 2012. Ankilostomiasis

(Penyakit

Cacing

Tambang),

http://catatandokmud.blogspot.co.id/2012/07/ankilostomiasis-penyakit-cacingtambang.html
3. Firdaus. 2010. Ankilostomiasis,https://www.scribd.com/doc/119426575/
Ankilostomiasis
4. Gracia, Lynne S, Bruckner, David A. 1996. Diagnostik Parasitologi
Kedokteran. Jakarta : EGC
5. Gandahusada srisasi, dkk. Parasitologi Kedokteran: Edisi ketiga. Jakarta.
6. Onggowaluyo, jangkung samidjo., 2002. Parasitologi Medik

helmintologi, Buku kedokteran EGC, Jakarta

15