Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAAN
Anemia pada neonatus adalah anemia yang terjadi pada saat lahir atau
dalam minggu pertama setelah lahir. Secara umum dibagi menjadi anemia
karena perdarahan, anemia karena proses hemolitik, anemia karena kegagalan
produksi eritrosit dan anemia pada bayi kurang bulan. Diagnosis anemia pada
neonatus harus ditegakkan berdasarkan berat badan lahir, usia postnatal,
tempat, waktu, dan metode pengambilan sampel.
a. Anamnesis
Bayi perempuan usia 2 hari masuk Rumah Sakit Umum Undata Palu
pada tanggal 12 Februari 2015 dengan keluhan suhu tidak stabil
(hipotermia). Bayi tampak lemah dan terlihat pucat. Bayi rujukan dari
Puskesmas Kulawi. Bayi lahir spontan, LBK, tidak ada merintih, retraksi
dan pergerakan cuping hidung, sianosis hilang setelah pemberian O 2.
Riwayat materna G4P4A0. Usia ibu pada saat hamil 41 tahun. ANC tidak
pernah. Riwayat penyakit ibu hipertensi. Ibu mengomsumsi obat anti
hipertensi. Selama hamil, aktivatas ibu sangat berat.
b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran komposmentis, berat badan 900
gram, panjang badan 38 cm, lingkar kepala 32 cm. Pemeriksaan tanda vital :
suhu tubuh 35,80C, denyut jantung 120 x/menit, respirasi 64 x/menit.
Meconium/miksi (+/+) Pernapasan : sianosis (-), merintih (-), apnea (-),
retraksi dinding dada (-), pergerakan dinding dada simetris, cuping hidung
(-), stridor (-), bunyi Napas bronkovesikular +/+, bunyi tambahan ronkhi -/-,
wheezing -/-, skor downe 1 ( tidak ada gangguan napas), kriteria who
gangguan napas ringan.
Kardiovaskular : Bunyi Jantung : I/II Murni reguler, Murmur : (-).
Hematologi : Pucat : (+), Ikterus : (-).
Gastrointestinal : distensi abdomen (-), muntah (-), diare (-), bising usus :
(+) kesan normal , organomegali (-), umbilikus kemerahan (-), edema (-)
Sistem saraf : Aktivitas lemah, fontanela datar, sutura terpisah, kejang (-),
tonus otot baik
Genitalia : Anus imperforata (-)
Lainnya :Ekstremitas lengkap, turgor < 2 detik, kelainan kongenital (-),
trauma lahir (-)
Skor BALLARD 16

Estimasi kehamilan 30-32 minggu

Menurut kurva diatas, didapatkan bahwa bayi tergolong kecil masa


kehamilan (KMK), Kurang bulan (KB)..
Berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan fisik maka diagnosis

untuk kasus ini yaitu BBLASR post asfiksia + Hipotermia. Untuk


menunjang diagnosis, maka dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu darah
rutin dan pemeriksaan kimia darah.
Dari pemeriksaan darah rutin didapatkan hasil laboratorium :
RBC

: 2, 41 x 106/mm3

HB

: 7,6 g/dl

HCT

: 23,3%

PLT

: 421 x 103/mm3

WBC

: 7,32 x 103/mm3

Dari pemeriksaan kimia darah didapatkan hasil laboratorium :


Gula Darah Sewaktu

: 108 g/dl

Bilirubin total

: 1,9 g/dl

Bilirubin direk

: 0,7 g/dl

Bilirubin indirek

: 1,2 g/dl

c. Resume
Bayi usia 2 hari dengan keluhan suhu tidak stabil (hipotermia), tampak
lemah dan terlihat pucat. tidak ada merintih, retraksi dan pergerakan cuping
hidung, sianosis hilang setelah pemberian O2. Riwayat maternal G4P4A0
dengan usia ibu pada saat hamil 41 tahun. ANC tidak pernah. Riwayat
penyakit ibu hipertensi. Ibu mengomsumsi obat anti hipertensi saat hamil.
Selama hamil, aktivatas ibu sangat berat.Dari pemeriksaan fisik didapatkan
nafas cepat, pucat, dan aktivitas lemah. Dari pemeriksaan laboratorium
terjadi penurunan RBC, Hb dan HCT.
Berdasarkan anamnesis, peneriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
maka diagnosis untuk kasus ini adalah BBLASR + Hipotermia +Anemia
pada neonatus.

II.

d. Terapi
O2 0,5 L
IVFD 4 tpm
Inkubator dengan suhu 350C
Transfusi PRC 25 cc
ASI/PASI 2 ml/jam
Diskusi
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb
sampai di bawah rentang orang normal. Anemia neonatus adalah anemia yang
terjadi pada bayi baru lahir sampai usia 28 hari. Secara umum anemia pada
neonatus dibagi menjadi anemia karena perdarahan, anemia karena
penurunan/kegagalan produksi eritrosit, anemia karena proses hemolitik dan
anemia pada bayi kurang bulan/anemia of prematurity. Penyebab anemia pada
kasus ini yaitu prematuritas/anemia of prematurity.
Perdarahan dapat terjadi saat prenatal, persalinan dan beberapa hari setelah
lahir. Perdarahan tersebut dapat terjadi karena perdarahan yang tersembunyi
sebelum persalinan, trauma persalinan, perdarahan internal dan kehilangan
darah akibat pengambilan darah yang berkali-kali untuk pemeriksaan
laboratorium.
Anemia karena penurunan produksi eritrosit jarang terjadi pada periode
neonatus. Penyebab paling utama adalah infeksi kongenital dan kelainan
genetik. Anemia karena proses hemolitik dibagi menjadi anemia hemolitik

karena proses autoimun dan anemia hemolitik karena proses non-imun. Anemia
pada bayi kurang bulan merupakan respon patologis terhadap periode transisi
dan ditandai dengan rendahnya kada eritropoietin. Pada kasus ini penyebab
anemia yaitu karena prematuritas atau anemia of prematurity.
Manajemen umum anemia meliputi menjaga kehangatan, monitor tanda
vital, penilaian dan perhitungan intake yang tepat. Pemasangan jalur infus
diperlukan untuk mengganti cairan dan pengambilan sampel darah. Transfusi
sel darah dilakukan untuk menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat dan
tatalaksana anemia simptomatik yang bermakna seperti yang terjadi pada
kasus.

Transfusi darah
No
1

Jenis
WB (Whole
blood)

PRC (Packed
Red Cell)

Kandungan

Indikasi

Dosis

Plasma, komponen Perdahan


orang
(syok Pada
darah
(eritrosit,
dewasa
hipovolemik,
trombosit,
transfusi 1 unit (
kehilangan
cairan
leukosit),
faktor
500 ml, naikkan
yubuh 30%, anemia,
pembekuan darah
Hb kira-kira 1 g
operasi
%
atau
Bedah mayor dengan
hematokrit 3perdarahan
>1500
4%
ml
Mengandung
hematokrit 35%
Sel darah merah Indikasi klien dengan Untuk
naikkan
(sedikit plasma)
Hb < 7 g/dl, dapat
Hb 1 g/dl perlu
ditunda
jika
PRC
4
asimptomatik
ml/KgBB
Kadar Hb 7-10 g/dl 1 unit naikkan
bila disertai dengan
hematokrit 3-

Keterangan
Volume 450500 ml/unit
Pemberian 2-4
jam
Dihangatkan

Volume 200250 ml/unit


Pemberian 2-4
jam
Dihangatkan

PT (Platelet
Concentrate)

Trombosit

polisitemia berat
Bila Hb > 10 g/dl,
tidak
diberikan
transfusi kecuali ada

indikasi tertentu
Pada neonatus, kadar
Hb < 11 g/dl
Anemia
Trombositopenia,
<
50.000 uL. Bila
adaperdarahan
mikrovaskular difus

< 100.000 uL.


Profilaksis pre operasi,
bila < 50.000 uL
PTT/APTT
memanjang
Demam
Berdarah
Dengue, ITP

FFP (Fresh
Frozen
Plasma)

PPF (Plasma
Protein

5%
Mengandung
hematokrit 7080%
(Hb
yang
diinginkan Hb
sekarang) x BB
x3
1 unit menaikkan
jumlah platelet

900011.000/mm3
Dosis umumnya:
1 unit per 18 Kg
BB (5-7 unit
untuk
orang
dewasa)
Trombositopenia
berat butuh 810 unit
PT
harus
ditransfusikan
dalam waktu 2
jam
Diberikan sampai
perdarahan
berhenti
atau
Bleeding Time
normal
(PTT/APTT)
Untuk mencapai
konsentrasi
plasma
30%,
pemberian 10
15
ml/KgBB/hari
Setelah
pemberian
warfarin: dosis
5-8 ml/KgBB
biasanya cukup

Plasma,
faktor Perdarahan yang tidak
koagulasi,
dapat
dihentikan
komplemen
dengan bedah
Peningkatan PTT atau
APTT minimal 1,5
kali dari nilai normal
Bukan
karena
trombositopenia
:
hitung trombosit >
70.000/mm3
Sirosis hepatis, terapi
warfarin
Albumin (5%,20%) Untuk ekspander darah (Albumin
yang
dan
pengganti
diharapkan-

Volume 25-40
ml/unit
Pemberian
cepat
(20
menit)
Segera
diberikan

Volume
125
ml/unit
Pemberian
cepat
Dihangatkan

Volume
50
ml/unit dan

Fraction)

protein
Albumin < 3 g/dl
Sirosis
hepatis,
malnutrisi,
luka
bakar, asites

albumin klien)
100 ml/unit
Kecepatan
x BB x 0,8
maksimal
adalah
1
ml/menit
untuk 20%
Kecepatan
maksimal
adalah 2-4
ml/menit
untuk 5%

DAFTAR PUSTAKA
1. Sutaryo. H. B., Windiastuti. E. 2012. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak.
Jakarta : Badan Penerbit IDAI.
2. Staf pengajar FKUI. 2007. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Badan penerbit FKUI.
3. Yulidar Hafid, Dwi Hidayah. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta. Jakarta :
Badan Penerbit IDAI.
4. http://www.ichrc.org/106-transfusi-darah