Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
MIKROMERITIK

Disusun oleh :
Kelompok 3
Kelas II- A
Triana Rosmiati

P17335114004

Desti Virdani Putri

P17335114011

Anitha Desiala

P17335114030

Ajeng Septhiani

P17335114034

Kartika Mutiara N.

P17335114039

Dalfa Indriani

P17335114047

Penny Suryaningthias P.

P17335114050

Ismi Fildzah Putri

P17335114055

Rafika Zahraeni

P17335114062

Hana Hanifah Fadllan

P17335114065

Isnaeni Suryaningsih

P17335114068

Pembimbing Praktikum : Patihul Husni, M.Si., Apt.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG
JURUSAN FARMASI
2015

A. Judul

: Mikromeritik

B. Hari, tanggal : Selasa, 1 Desesmber 2015


C. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa mampu untuk menentukan ukurn
partikel suatu zat menggunakan metode ayakan.
D. Dasar Teori
Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel yang
kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata,
ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel
adalah ukuran diameter rata-rata (Martin, 1990).
Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari umunya jumlah bahan
besar (ditandai dengan junlah dasar) suatu contoh yang representatif. Karenanya suatu
pemisahan bahan awal dihindari oleh karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil
berupa bahan halus atau bahan kasar. Untuk pembagian contoh pada jumlah awal dari 101000 g digunakan apa yang disebut Pembagi Contoh piring berputar. Pada jumlah dasar yang
amat besar harus ditarik beberapa contoh dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya
dipilih menurut program acak (Martin, 1990).
Metode paling sederhana dalam penentuan nilai ukuran partikel adalah menggunakan
pengayak standar. Pengayak terbuta dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah ini
(mesh) digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear (Moechtar, 1990).
Ukuran dari suatu bulatan dengan segera dinyatakan dengan garis tengahnya. Tetapi,
begitu derajat ketidaksimestrisan dari partikel naik, bertambah sulit pula menyatakan ukuran
dalam garis tengah yang berarti. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada garis tengah yang unik.
Makanya harus dicari jalan untuk menggunakan suatu garis tengah bulatan yang ekuivalen,
yang menghubungkan ukuran partikel dan garis tengah bulatan yang mempunyai luas
permukaan, volume, dan garis tengah yang sama. Jadi, garis tengah permukaan d s, adalah
garis tengah suatu bulatan yang mempunyai luas permukaan yang sama seperti partikel yang
diperiksa (Voigt, 1994).

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel (Parrot, 1970) :


1. Mikroskopi Optik
Menurut metode mikroskopis, suatu emulsi atau suspensi, diencerkan atau tidak
diencerkan, dinaikkan pada suatu slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Di bawah
mikroskop tersebut, pada tempat di mana partikel terlihat, diletakkan mikrometer untuk
memperlihatkan

ukuran

partikel

tersebut.

Pemandangan

dalam

mikroskop

dapat

diproyeksikan ke sebuah layar di mana partikel-partikel tersebut lebih mudah diukur, atau
pemotretan bisa dilakukan dari slide yang sudah disiapkan dan diproyeksikan ke layar untuk
diukur.
Kerugian dari metode ini adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dari dua
dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan lebar. Tidak ada perkiraan yang bisa
diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari partikel dengan memakai metode ini. Tambahan
lagi, jumlah partikel yang harus dihitung (sekitar 300-500) agar mendapatkan suatu
perkiraan yang baik dari distribusi , menjadikan metode tersebut memakan waktu dan
jelimet. Namun demikian pengujian mikroskopis dari suatu sampel harus selalu dilaksanakan,
bahkan jika digunakan metode analisis ukuran partikel lainnya, karena adanya gumpalan dan
partikel-partikel lebih dari satu komponen seringkali bisa dideteksi dengan metode ini.
2. Pengayakan
Suatu metode yang paling sederhana, tetapi relatif lama dari penentuan ukuran
partikel adalah metode analisis ayakan. Di sini penentunya adalah pengukuran geometrik
partikel. Sampel diayak melalui sebuah susunan menurut meningginya lebarnya jala ayakan
penguji yang disusun ke atas. Bahan yang akan diayak dibawa pada ayakan teratas dengan
lebar jala paling besar. Partikel, yang ukurannya lebih kecil daripada lebar jala yang dijumpai,
berjatuhan melewatinya. Mereka membentuk bahan halus (lolos). Partikel yang tinggal
kembali pada ayakan, membentuk bahan kasar. Setelah suatu waktu ayakan tertentu (pada
penimbangan 40-150 g setelah kira-kira 9 menit) ditentukan melalui penimbangan, persentase
mana dari jumlah yang telah ditimbang ditahan kembali pada setiap ayakan.

3. Dengan cara sedimentasi


Cara ini pada prinsipnya menggunakan rumus sedimentasi Stocks. Dasar untuk metode ini
adalah Aturan Stokes:
Metode yang digunakan dalam penentuan partikel cara sedimentasi ini adalah metode
pipet, metode hidrometer dan metode malance.
Pengetahuan dan pengendalian ukuran dan kisaran ukuran partikel merupakan hal yang
sangat utama dalam bidang farmasi. Oleh sebab itu, ukuran dan juga luas permukaan suatu
partikel dapat dikaitkan secara bermakna dengan sifat fisik, kimia dan farmakologi suatu obat
(Sinko, 2005).
E. Alat dan Bahan
Alat :
1. Ayakan nomor mesh 12, 14, 40, 60
2. Timbangan miligram dan timbangan gram
Bahan :
1. ZnO (Zinci Oxydum)
2. Kertas timbang
3. Tissue
F. Prosedur
1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
2. ZnO ditimbang sebanyak 25 gram.
3. Ayakan dibersihkan dan dikeringkan untuk memastikan pengayak kering dan tidak
terdapat partikel tertinggal yang dapat menghalangi proses pengayakan.

4. Ayakan dipasang pada mesin fibrator pengayak dengan nomor mesh 12, 14, 40,
dan 60 berurutan dari atas ke bawah.
5. 25 gram ZnO yang telah ditimbang dimasukkan pada pengayak paling atas (mesh
12). Mesin fibrator ditutup rapat. Kemudian mesin dijalankan dengan kecepatan 5
rpm selama 10 menit.
6. Setelah 10 menit, mesin akan berhenti secara otomatis dan serbuk ZnO yang
tertinggal pada masing masing ayakan ditimbang.
7. Berat serbuk ZnO yang diperoleh dari masing masing ayakan dicatat.
8. Nilai % berat serbuk ZnO yang tertahan pada masing masing ayakan ditentukan
dengan menggunakan rumus dan ditentukan pula ukuran diameter partikel rata
rata [diameter panjang rata rata partikel (dln)] dari serbuk ZnO tersebut.

G. DATA PENGAMATAN

Bobot ZnO yang tertinggal pada ayakan (g)


No. Mesh
12

14

40

60

13,89
2,429
0,603
3,032
1,516

0,648
3,834
2,642
6,476
3,238

8,252
15,462
18,833
34,295
17,15

0,408
0,530
0,304
0,834
0,417

Urutan
I
II
III

Rata-rata

Penentuan diameter partikel rata-rata ZnO


nxd

No. Mesh

d (mm)

g (gram)

n (%)

12
14
40
60

1,70
1,40
0,425
0,250

1,516
3,238
17,15
0,417

6,79
14,5
76,83
1,86

(% mm)
11,543
20,30
32,65
0,465

22,321

99,98

64,958

Diameter ZnO =

n .d
n

64,958 mm
99,98

= 0,65 mm

H. PEMBAHASAN
Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromeritik oleh Dalla Valle. Dispersi
koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa, sedang
partikel emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop
optik. Partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar, granul tablet, dan garam granular
berada dalam kisaran ayakan (Martin, 2008).
Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam farmasi, sebab
ukuran partikel mempunyai peranan besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap
efek fisiologisnya (Moehtar, 1990).
Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu:
1

Menghitung luas permukaan

Sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat

Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan
dan topikal

Pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi

Stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).

Metode paling sederhana dalam penentuan nilai ukuran partikel adalah menggunakan
pengayak standar. Pengayak terbuat dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah ini
(mesh) digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear (Parrot, 1970).
Ukuran dari suatu bulatan dengan segera dinyatakan dengan garis tengahnya. Tetapi,
begitu derajat ketidaksimestrisan dari partikel naik, bertambah sulit pula menyatakan ukuran
dalam garis tengah yang berarti. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada garis tengah yang unik
dan harus dicari jalan untuk menggunakan suatu garis tengah bulatan yang ekuivalen, yang
menghubungkan ukuran partikel dan garis tengah bulatan yang mempunyai luas permukaan,

volume, dan garis tengah yang sama. Jadi, garis tengah permukaan d s, adalah garis tengah
suatu bulatan yang mempunyai luas permukaan yang sama seperti partikel yang diperiksa.
Pada praktikum kali ini metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel
adalah dengan metode pengayakan. Pengayakan adalah suatu metode yang paling sederhana,
tetapi relatif lama dari penentuan ukuran partikel adalah metode analisis ayakan. Di sini
penentunya adalah pengukuran geometrik partikel. Sampel diayak melalui sebuah susunan
menurut meningginya lebarnya jala ayakan penguji yang disusun ke atas. Bahan yang akan
diayak dibawa pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar. Partikel, yang ukurannya
lebih kecil dari pada lebar jala yang dijumpai akan melewatinya dan menghasilkan zat yang
lebih halus. Partikel yang tinggal kembali pada ayakan, membentuk bahan kasar. Setelah
suatu waktu ayakan tertentu ditentukan melalui penimbangan, persentase mana dari jumlah
yang telah ditimbang ditahan kembali pada setiap ayakan (Martin, 1990).
Tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk melakukan pengukuran partikel dengan metode
pengayakan (shieving). Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan
dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian, dapat dipisahkan antara
partikel lolos ayakan (butir halus) dan yang tertinggal diayakan (butir kasar).
Praktikum dengan metode pengayakan menggunakan pengayak mesh 12,mesh 14,
mesh 40, mesh 60, sebelum digunakan ayakan dibersihkan dan dikeringkan untuk
menghindari kesalahan dalam pengayakan yang disebabkan karena tertutupnya lubanglubang ayakan dengan suatu zat atau benda lain yang tersisa di dalam ayakan. Zat yang
digunakan dalam percobaan ini adalah ZnO sebanyak 25 gram, ZnO yang sudah ditimbang
dimasukkan ke dalam pengayak paling atas (mesh 12) kemudian digoyangkan selama 10
menit, setelah 10 menit serbuk ZnO yang tertinggal pada masing-masing ayakan ditimbang
kemudian dicatat berat serbuk ZnO yang diperoleh dari masing-masing ayakan. Dari data
yang diperoleh umumnya

zat sisa yang tertahan semakin tinggi nomor mesh semakin

banyak pula zat yang tersisa. Hal ini karena ukuran dalam tiap inci semakin kecil lubangnya.
Dengan melihat semakin banyak zat yang tertinggal dalam ayakan maka semakin kasar zat
tersebut.
Data yang didapatkan untuk berat ZnO dari masing-masing ayakan berbeda-beda hal
ini disebabkan karena kemungkinan kurang tepat dalam menimbang sampel, terdapat partikel
yang menempel pada ayakan, pada ssat menuangkan ZnO ke dalam kertas perkamen serbuk
terbawa angin dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pengayakan yaitu lama
pengayakan, massa sample, intensitas getaran dan pengambilan sample.

Didapatkan hasil nilai % berat serbuk ZnO yang tertahan pada masing-masing ayakan
yaitu 99,98 % dan telah didapatkan ukuran diameter partikel rata-rata (diameter panjang ratarata partikel (dIn) ) yaitu 0,65 mm. Kelebihan dari metode pengayakan yaitu waktu yang
diperlukan singkat dan alat yang digunakan sederhana, kekurangan dari metode pengayakan
yaitu dapat rusaknya granul serta kesalahan pengayakan bisa timbul dari variabel beban
ayakan, lama dan intensitas penggoyangan, untuk menghindari kesalahan pengayakan tidak
dilakukan terlalu lama, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat (digoyangkan dengan
kecepatan konstan).

I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil nilai %
berat serbuk ZnO yang tertahan pada masing-masing ayakan yaitu 99,98 % diameter serbuk
ZnO (Zinc oxyd) adalah 0,65 mm.

J. DAFTAR PUSTAKA
Ansel.

H.

C.

1989. Pengantar

bentuk

sediaan

farmasi, terjemahan

Faridah

Ibrahim.Universitas Indonesia:Jakarta.
Martin Alfred dkk. 1993. Farmasi Fisika Edisi Ketiga. Universitas Indonesia : Jakarta
Moechtar. 1990. Farmasi Fisika. UGM Press, Yogyakarta.
Parrot, L,E.1970. Pharmaceutical Technologi. Burgess Publishing Company, Mineapolish,
Sinko, P. 2005. Martins Phisical Pharmacy and Pharmaceutical Sience 5thEdition. Lippincott
Williams & Wilkins, Baltimore

K. LAMPIRAN

Proses pengayakan

Serbuk ZnO sebelum (kiri) dan seduah (kanan) setelah pengayakan