Anda di halaman 1dari 29

Clinical Science Session

KEHAMILAN PADA REMAJA

Oleh :

Tia Irawan 1110312154

Preseptor :
dr. Zulhanif Nazar, Sp.OG(K)
dr. Ori John, Sp.OG(K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RS PROF. DR. M. A HANAFIAH SM
BATUSANGKAR
2015
i

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat ALLAH SWT atas segala
nikmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Clinical Science
Session dengan judul Kehamilan pada Remaja sebagai salah satu syarat dalam
mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Prof MA
Hanafiah SM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pembimbing dr. Zulhanif Nazar,
Sp.OG(K) yang telah memberi bimbingan dan telah membantu dalam penyusunan
Clinical Science Session ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam
penyusunannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak.
Kami berharap agar Clinical Science Session ini bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang Kehamilan pada Remaja
terutama bagi penulis sendiri dan bagi teman-teman dokter muda yang tengah
menjalani kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan ginekologi.
Padang, Desember 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan.....................................................................................3
1.3 Metode Penulisan....................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................4
2.1 Remaja.....................................................................................................4
2.1.1 Pengertian Remaja..............................................................................4
2.1.2 Batasan Remaja..................................................................................4
2.2 Fisiologi Masa Pubertas..........................................................................5
2.3 Kehamilan................................................................................................8
2.3.1 Fisiologi kehamilan............................................................................8
2.3.2 Kehamilan pada Remaja...................................................................11
2.4 Resiko Kehamilan Usia Dini pada Ibu dan Janin..................................15
2.4.1 Resiko Kehamilan Di Usia Dini Bagi Ibu........................................15
2.4.2 Resiko Kehamilan Di Usia Dini Pada Bayi......................................18
2.5 Upaya Preventif Dalam Mencegah Kehamilan pada Remaja...............20
2.5.1 Pencegahan Kehamilan Remaja Pranikah........................................21
2.5.2 Pencegahan Kehamilan Remaja Nikah.............................................22
BAB 3 KESIMPULAN.....................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................26

iii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Remaja merupakan kelompok usia produktif yang mengalami perubahan
dalam psikososial, fisik, fisiologis. Sekitar 1 milyar manusia, hampir 1
diantara 6 manusia adalah remaja dan 85 % diantaranya hidup di negara
berkembang. Masa remaja merupakan tahap antara masa anak-anak dengan
masa dewasa. Remaja mengalami transisi yang unik dan ditandai oleh
berbagai perubahan fisik, emosi, psikis. Perubahan fisik pada masa pubertas
akan berdampak pada munculnya dorongan seksual yang mengarah kepada
kegiatan seksual. Masa remaja merupakan masa yang khusus dan penting
karena disertai dengan perubahan dan pertumbuhan.1
Pada saat ini banyak sekali kejadian atau kasus kehamilan pada remaja,
bahkan kasus tersebut paling banyak dialami pada saat para remaja belum
menikah atau hamil di luar nikah. Data dari CDC tahun 2012 menunjukkan
sekitar 86.000 remaja usia 15-17 melahirkan pada tahun itu. Ada sekitar 1
atau lebih dari 4 remaja melahirkan pada usai 15-17 tahun. Tentunya
sebelum remaja itu menyelesaikan sekolahnya. Sekitar 1.700 remaja usia
15-17 tahun melahirkan tiap minggunya. 2 Sedangkan menurut WHO, sekitar
16 juta wanita yang berumur 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya, dan
menyumbangkan 11% dari kelahiran bayi diseluruh dunia.3
Kehamilan pada remaja akan menimbulkan masalah bagi bayi dan
ibunya. Data dari WHO menunjukkan 14% dari seluruh kejadian aborsi
yang tidak aman dilakukan oleh wanita yang berumur 15-19 tahun, atau
sekitar 2,5 juta remaja telah melakukan aborsi tidak aman setiap tahunnya.
1

Tentunya hal ini sangat membahayakan dan dapat menimbulkan komplikasi


pada ibunya di masa depan. Selain itu masih banyak lagi masalah yang
ditimbulkan pada wanita yang hamil diusia dini seperti anemia, HIV dan
infeksi penyakit menular seksual, perdarahan postpartum dan gangguan
mental seperti depresi.3
Sedangkan akibat yang ditimbukan kepada bayi ditunjukkan dengan
angka kematian bayi dan bayi yang mati dalam minggu pertama
kehidupannya lebih besar dari 50% dialami oleh bayi yang lahir dari ibu
yang berumur dibawah 20 tahun dibandingkan dengan bayi yang lahir dari
ibu yang berumur 20-29 tahun. Selain itu bayi yang lahir preterm, BBLR,
dan asfiksia lebih tinggi dialami oleh bayi yang lahir dari ibu yang masih
remaja.3
Masalah sosial yang dikaitkan dengan kehamilan pada remaja antara
lain

banyaknya

wanita

muda

yang

tidak

mampu

menyelesaikan

pendidikannya, banyak yang menjadi penggangguran atau memilih


pekerjaan yang pendapatannya kecil dan tidak aman. Hal ini menimbulkan
beban finansial bagi wanita muda yang hanya bermodalkan usaha yang
kecil.5 Indonesia menerapkan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974
Pasal 7 bahwa perkawinan diizinkan bila laki-laki berumur 19 tahun dan
wanita berumur 16 tahun. Namun Pemerintah mempunyai kebijakan tentang
perilaku reproduksi manusia yang ditegaskan dalam UU No.10 tahun1992
yang menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan upaya
penyelenggaraan Keluarga Berencana. Banyak resiko kehamilan yang akan
dihadapi pada usia muda, untuk perkawinan diizinkan pada usia 21 tahun
2

bagi laki-laki dan perempuan berumur 19 tahun. Sehingga perkawinan usia


muda adalah perkawinan yang dilakukan pada laki-laki yang berusia kurang
dari 21 tahun dan perempuan berusia kurang 19 tahun.6
1.2

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang kehamilan pada remaja.

1.3

Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk
pada berbagai literatur yang ada.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Remaja

2.1.1

Pengertian Remaja
Menurut Sarwono (2007), remaja adalah suatu masa ketika individu

berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda sosial seksual


sekundernya sampai saat mencapai kematangan seksual. Individu mengalami
perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan
yang relatif lebih mandiri.6
Sedangkan menurut Soetjiningsih, (2004). Masa remaja adalah suatu tahap
dengan perubahan yang cepat dan penuh tantangan yang sulit. Berbagai tantangan
ini kadang-kadang sulit diatasi sebab secara fisik sudah dewasa namun secara
psikologis belum tentu. Kejadian serupa tidak jarang terjadi diberbagai Negara
termasuk di Indonesia.7
2.1.2

Batasan Remaja
Sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-20 tahun dan

belum menikah untuk remaja Indonesia. Dalam proses penyesuaian diri menuju
kedewasaan ada tiga tahap perkembangan remaja, meliputi :6
1) Remaja awal 11-13 tahun (Early Adolescent)

Remaja pada tahap ini mengalami kebingungan akan perubahan


perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang
menyertai perubahan-perubahan itu.

2) Remaja madya atau pertengahan 14-16 tahun (Middle Adolescent )

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman. Ada kecenderungan


narcistic, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang
mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu mereka masih
mengalami kebingungan untukmenentukan pilihan.
3) Remaja akhir 17-20 tahun (Late Adolescent)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan


ditandai dengan pencapaian lima hal: minat yang makin mantap terhadap
fungsi-fungsi intelek, egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan
orang lain dalam pengalaman-pengalaman baru, terbentuk identitas seksual
yang tidak akan berubah lagi, egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian
pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri
sendiri dan orang lain dan tumbuh dinding yang memisahkan diri dan
pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).
2.2

Fisiologi Masa Pubertas


Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan
masa dewasa. Tidak ada batasan yang tegas antara akhir masa kanak-kanak
dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikaitkan bahwa pubertas mulai
dengan awal berfungsinya ovarium. Pubertas berakhir pada saat ovarium
sudah berfungsi mantap dan teratur.8
Usia menarche rata-rata di Amerika Serikat ialah antara 12 hingga 16
tahun untuk ras kulit hitam dan 12,88 untuk ras kulit putih. Menarche terjadi
antara 2 hingga 3 tahun setelah thelarche. Siklus menstruasi di awal beberapa
tahun setelah menarche secara menetap berbentuk anovulatori. Pada gadis
5

muda yang telah mengalami menarche, ovulasi awal mulai terjadi. Panjang
siklus rata-rata ialah 28 hari tetapi akan jatuh di jarak antara 21 hingga 45 hari.
Durasi rata-rata perdarahan yang terjadi pada umumnya ialah < 7 hari.9
Pubertas merupakan periode selama perkembangan karakter seksual
sekunder dan terbentuknya kemampuan untuk bereproduksi secara seksual.
Perubahan fisik selama perkembangan di masa pubertas secara langsung atau
tidak akan diikuti pula oleh maturasi hipotalamus, stimulasi organ-organ seks,
dan sekresi hormon steroid seks. Secara hormonal, pubertas yang dialami oleh
manusia dikarakterisasikan oleh penyesuaian kenaikan feedback negatif dari
gonadal-steroid, perubahan ritme gonadotropin, serta akuisisi kenaikan
feedback positif dari hormon estrogen wanita, di mana mampu mengontrol
secara normal ritme menstruasi wanita per bulannya sebagai suatu sistem
ekspresi dari gonadotropin dan hormon steroid ovari.10
Awal pubertas jelas dipengaruhi oleh bangsa, iklim, gizi, dan
kebudayaan. Pada abad ini secara umum ada pergeseran permulaan pubertas
ke arah umur yang lebih muda, yang diterangkan dengan meningkatnya
kesehatan umum dan gizi.8
Secara klinis, pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin
sekunder dan berakhir jika sudah ada kemampuan reproduksi. Pubertas pada
wanita mulai kira-kira 8-14 tahun dan berlangsung kurang lebih selama 4
tahun.8
Kejadian yang penting dalam pubertas ialah pertumbuhan badan yang
cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche, dan perubahan psikis.
Penyebab pasti mulainya pubertas belum diketahui, yang pasti ovarium mulai
6

berfungsi di bawah pengaruh hormon gonadotropin dari hipofisis, dan hormon


ini dikeluarkan atas pengaruh Releasing Factor dari hipotalamus. Dalam
ovarium folikel mulai tumbuh dan walaupun folikel-folikel itu tidak sampai
menjadi matang karena sebelumnya mengalami atresia, namun folikel-folikel
tersebut sudah sanggup mengeluarkan estrogen. Pada saat yang kira-kira
bersamaan korteks kelenjar suprarenal mulai membentuk androgen, dan
hormon ini memegang peranan dalam pertumbuhan badan.8
Pengaruh peningkatan hormon yang pertama-tama tampak ialah
pertumbuhan badan anak yang lebih cepat, terutama ekstremitasnya, dan
badan lambat laun mendapat bentuk sesuai dengan jenis kelamin. Walaupun
ada pengaruh hormon somatotropin, diduga bahwa pada wanita kecepatan
pertumbuhan terutama disebabkan oleh estrogen. Estrogen yang ini pula pada
suatu waktu menyebabkan penutupan garis epifisis tulang-tulang, sehingga
pertumbuhan badan berhenti. Pengaruh estrogen yang lain ialah pertumbuhan
genitalia interna, genitalia eksterna, dan ciri-ciri kelamin sekunder. Dalam
masa pubertas genitalia eksterna dan genitalia interna lambat laun
tumbuhuntuk mencapai bentuk dan sifat seperti pada masa dewasa.8

Skema 1.Skema perkembangan pubertas secara berturut-turut.10


7

2.3
2.3.1

Kehamilan
Fisiologi kehamilan
Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami

perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan


pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan
hormone somatomatropin, estrogen, dan progesteron yang menyebabkan
perubahan pada:11
1. Rahim atau uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan
melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus
mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat
selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa
minggu setelah persalinan. Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai
berat 70 gram dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan
berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan
cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 liter
bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gram.11
2. Vagina (liang senggama)
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat
jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina
akan terlihat bewarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwicks.
Perubahan ini meliputi penipisan mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat
dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.11
3. Ovarium
8

Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel


baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di
ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal
kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesterone dalam
jumlah yang relative minimal.11
4. Payudara
Payudara

mengalami

pertumbuhan

dan

perkembangan

sebagai

persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak


dapat dilepaskan dari pengaru hormone saat kehamilan, yaitu estrogen,
progesterone, dan somatromatropin.11
5. Sirkulasi darah ibu
Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi
kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
b. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
c. Pengaruh hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah,
yaitu:
1) Volume darah semakin meningkat, serum darah (volume darah) bertambah
sebesar 25-30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Curah jantung
akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak
sekitar umur hamil 16 minggu.

2) Sel darah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi


pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak
seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi
yang disertai anemia fisiologis.
6. Sistem respirasi. Pada kehamilan terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk
dapat memnuhi kebutuhan O2. Disamping itu terjadi desakan

diafragma

karena dorongan rahim yang membesar pada umur hamil 32 minggu. Sebagai
kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yang meningkat, ibu
hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari biasanya.
7. Sistem pencernaan,terjadi peningkatan asam lambung karena pengaruh
estrogen.
8. Traktus urinarius, pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan
tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering
kemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus
keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah
mulai turun ke pintu panggul, keluhan itu akan timbul kembali.
9. Perubahan pada kulit perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan,
kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha.
Perubahan ini dikenal dengan nama striae gravidarum.
10. Metabolisme. Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami
perubahan yang mendasar. Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan
bertambah 12,5 kg. Sebgaian besar penambahan berat badan selama kehamilan
berasal dari uterus dan isinya.

10

2.3.2

Kehamilan pada Remaja


Kehamilan pada Remaja adalah kehamilan yang terjadi pada usia remaja,

dimana kehamilan terjadi pada usia ibu kurang dari 20 tahun (Depkes RI, 2007).
Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak
ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/
emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi. Secara umum, seorang perempuan
dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya
(ketika tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20
tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik.7
Risiko kehamilan timbul karena remaja belum siap secara psikis maupun
fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu, akibatnya, selain
tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Kondisi
psikis yang tidak sehat ini dapat membuat kontraksi selama proses persalinan
tidak berjalan lancar sehingga kemungkinan proses persalinan akan menjadi
beresiko. Beban psikologis dapat menyebabkan depresi (Bobak Lowdermik,
Jensen, 2004) Kehamilan pada masa remaja dan menjadi orang tua pada usia
remaja berhubungan secara bermakna dengan resiko medis dan psikososial baik
terhadap ibu maupun bayinya. Usia wanita pada saat melahirkan anak pertama
mempunyai konsekuensi penting, baik terhadap ciri demografis penduduknya
maupun bagi jiwa para ibu itu sendiri.7
Di Indonesia, kehamilan remaja menduduki 11,38% dari seluruh ibu yang
melahirkan di rumah-rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia. 73%
kehamilan remaja di luar perkawinan. Berdasarkan hasil SDKI 2007, rata-rata usia
kawin pertama dari perempuan umur 2529 tahun di Indonesia adalah 19,8 tahun.
11

Data survei kesehatan ibu dan anak tahun 2000 menunjukkan median umur
kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun, sebanyak 46% perempuan
mengalami kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun dan persalinan pertama
wanita Indonesia adalah 20,4 tahun.7
Pandangan bahwa masyarakat desa merupakan suatu komunitas yang
tradisional, homogen, memegang teguh nilai/norma budaya dan agama, serta tidak
mudah berubah, kurang sesuai lagi. Saat ini jumlah remaja di Indonesia yaitu
mereka yang berusia 10-19 tahun adalah sekitar 30 % dari jumlah penduduk atau
kurang lebih 65 juta jiwa. Besarnya proporsi penduduk yang berusia remaja
menimbulkan beberapa masalah yang mengkhawatirkan apabila tidak diadakan
pembinaan yang tepat dalam perjalanan hidupnya terutama kesehatannya. 12
Sejumlah faktor yang dianggap dapat mempengaruhi/turut berperan dalam
kehamilan remaja yaitu :13
a. Faktor Individu
a. Faktor somatik,

psikologis,

sosial

dan

seksual.

Makin

cepat

perkembangannya aktivitas seksual sampai dengan perkawinan dan


kehamilan.
b. Tingkat Pendidikan. Makin rendah tingkat pendidikan makin mendorong
cepatnya perkawinan dan kehamilan remaja.
c. Masalah sosial dan ekonomi. Sebagian jalan keluar masalah sosial
ekonomi, untuk mengurangi beban hidup keluarga, untuk meningkatkan
status ekonomi atau sebagai perkawinan tradisi budaya. Tidak jarang
ditemukan perkawinan pada remaja yang masih sangat muda usia.
b. Faktor Keluarga
Peranan orang tua di dalam menentukan perkawinan anak-anaknya.

12

a. Sosial ekonomi keluarga. Oleh karena beban ekonomi, orang tua dapat
mempunyai dorongan segera mengawinkan anak gadisnya untuk
mengurangi beban ekonomi.
b. Tingkat pendidikan keluarga. Makin rendah pendidikan keluarga makin
sering ditemukan perkawinan dan kehamilan remaja. Hal ini berkaitan
dengan pemahaman berkeluarga yang masih bersifat sederhana.
c. Kepercayaan dan adat istiadat dalam keluarga. Untuk meningkatkan status
sosial keluarga, mempererat hubungan antar keluarga dan untuk menjaga
garis keturunan keluarga.
d. Kemampuan keluarga menghadapi masalah remaja. Bila tidak ada
alternatif lain, keluarga akan mengawinkan anak gadisnya lebih awal
daripada terperosok ke dalam perbuatan maksiat yang mencoreng nama
baik keluarga.
c. Faktor Lingkungan
a. Adat Istiadat. Pada beberapa daerah di Indonesia mempunyai anggapan
bila anak gadisnya yang telah dewasa belum berkeluarga dipandang
sebagai aib keluarga. Akhirnya mendorong terjadinya perkawinan dan
kehamilan remaja.
b. Pandangan dan Kepercayaan. Pandangan dan atau kepercayaan yang salah
yang menganggap bahwa kedewasaan seseorang dimulai dari status
perkawinan dan juga kepercayaan agama tentang akil baliq yang disalah
tafsirkan.
c. Tingkat pendidikan masyarakat.
d. Tingkat sosial ekonomi masyarakat. Beberapa studi literatur terbaru
mengemukakan bahwa remaja muda yang tumbuh di dalam lingkungan
keluarga menengah ke bawah lebih sering mengalami kondisi beresiko
untuk hamil di usia dini. Remaja berusia 15-17 tahun, kualitas pendapatan
yang kurang atau menengah ke bawah secara tidak langsung terkait
13

dengan angka keberhasilan kelahiran hidup bayi; di mana rata-rata


kelahiran rata-rata ialah 54 per 1000 pada negara-negara dengan
pendapatan rendah serta 19 per 1000 pada negara-negara dengan
pendapatan yang lebih tinggi. Pada remaja yang lebih dewasa (usia 18-19
tahun), hanya persoalan pendapatan saja yang secara signifikan
berhubungan dengan tingkat keberhasilan kelahiran hidup bayi.14
e. Tingkat kesehatan penduduk. Jika tingkat kesehatan belum memuaskan,
sehingga angka kematian tinggi, maka sering dijumpai perkawinan usia
remaja.
f. Perubahan Nilai. Perubahan nilai tradisional sehingga terjadi hubungan
seksual darn kehamilandi luar nikah, mendorong terjadinyaperkawinan
usia muda.
g. Peraturan perundang-undangan. Perananperaturan perundang-undangan
yang membenarkan perkawinan usia muda cukup besar.Juga aparat
penyelenggaraannya apabilatidak patuh pada ketentuan, dapat mendorong
makin tingginya perkawinan usia remaja.
2.4
2.4.1

Resiko Kehamilan Usia Dini pada Ibu dan Janin


Resiko Kehamilan Di Usia Dini Bagi Ibu
Kehamilan remaja merupakan kehamilan yang beresiko.Wanita
remaja dihadapkan pada resiko yang sangat besar pada komplikasi obstetri
dibandingkan dengan wanita lainnya. Resiko ini terutama terjadi pada
mereka yang sangat buruk diet dan perawatan antenatalnya.
Mathur Greene, dan Malhotra (2003) juga mengemukakan sejumlah
resiko/konsekuensi negatif yang mengakibatkan remaja terutama remaja
putri yang menjadi fokus penelitian serta lingkungan di sekitarnya.16
1. Akibatnya dengan kesehatan (Health and related outcomes)
14

a. Belum matangnya organ reproduksi


Selama pubertas tulang dan organ reproduksi mengalami
perkembangan. Rasio atau perbandingan organ kandungan wanita muda
antara corpus ke isthmus dan cervix belumlah sempurna. Corpus uterus
(kandungan) ibu muda lebih kecil karena proses pertumbuhan uterus itu
sendiri masih berlangsung dan belum sempurna, Rasio corpus dan cervix
hanya 1:1, sedangkan pada wanita dewasa perbandingannya adalah 2:1.
Organ reproduksi yang immature ini menjelaskan mengapa kehamilan
muda memiliki resiko bagi kesehatan ibu dan bayinya, selain itu banyak
para remaja putri terutama di Indonesia memiliki postur tubuh yang kecil,
menyebabkan kesulitan saat persalinan, keadaan ini dikenal sebagai
Cephalo pelvic disproporsi (Disproporsi kepala panggul) sangat mungkin
terjadi.17
b. Abortus
Wanita dalam usia dini dengan belum matangnya alat reproduksi,
mengalami kejadian abortus, atau dilakukan dengan sengaja dimana Setiap
tahun, satu juta wanita di dunia memutuskan untuk mengakhiri
kehamilannya dengan aborsi. Wanita muda lebih banyak melakukan aborsi
dibandingkan dengan wanita yang tua terutama pada trimester kedua.
Remaja sering menimbulkan komplikasi yang berat setelah melakukan
aborsi yang tidak aman karena perawatannya yang terlambat, perawatan
dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan dan tidak
menghubungi pelayanan kesehatan ketika komplikasi sudah muncul. 18,21
c. Hyperemesis gravidarum
15

Ibu hamil yang mengalami muntahmuntah terus (hyperemisis


gravidarum), keadaan disebabkan oleh karena kurang mampunya tubuh
beradaptasi akan kadar hormon yang meningkat karena adanya janin
dalam kandungan, muntah yang terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi dan syok karena kurangnya cairan dalam tubuh ibu.17
d. Anemia
Ibu yang masih remaja memiliki insiden yang lebih tinggi untuk
terserang anemia. Diperkirakan insidensi anemia pada kehamilan remaja
sekitar 17,1 %.peningkatan resiko komplikasi ini dikaitkan buruknya
status gizi dan rendahnya kalori yang dikonsumsi oleh ibu muda.21
Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi.
Seringkali defisiensinya bersifat multiple dengan manifestasi klinik yang
disertai

infeksi,

gizi

buruk,

atau

kelainan

herediter

seperti

hemoglobinopati. Namun, penyebab mendasar anemia nutrisional meliputi


asupan yang tidak cukup, aborsi yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi
yang hilang, kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilitas nutrisi
hemopoetik.20
Ibu hamil yang anemia tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh ibu
dan janin akan nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah, sehingga
pertumbuhan bayi terganggu. Wanita yang anemia saat melahirkan dapat
mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan dapat menyebabkan
kematian.17
e. Preeclampsia/eklampsia/ Pregnancy-Induced Hypertension
Remaja yang hamil memiliki risiko lebih tinggi terkena tekanan
darah tinggi dibandingkan dengan wanita hamil yang berusia 20-30 tahun.
16

Kondisi tersebut disebut dengan pregnancy-induced hypertension. Banyak


penelitian menunjukkan adanya peningkatan insidens terjadinya PIH dan
eklampsia pada remaja yang hamil, namun menurut WHO masalah ini
bukanlah resiko khusus yang ditimbulkan oleh ibu yang masih remaja.22
f. Karsinoma Serviks
Insidensi lebih tinggi ditemukan pada gadis yang koitus pertama
(coitarche) dialami pada usia muda (<16 tahun), insidensi meningkat
dengan tingginya paritas, apa lagi bila jarak persalinan terlampau dekat,
aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan, pada wanita yang
mengalami infeksi HPV. Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel
yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis servikalis yang
disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologik antara epitel
gepeng berlapis (Squamous Complex) dari porsio dengan epitel
kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis servikalis.
Pada wanita muda SCJ ini berada diluar ostium uteri eksternum, sedang
pada wanita berumur >35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis servikalis.23
g. Depresi postpartum
Penelitan dengan menggunkan skor dari Early Childhood
Longitudinal Study-Birth Cohort (ECLS-B) yang membandingkan antara
tingkat stress ibu remaja yang telah postpartum 9 bulan dan ibu yang telah
melahirkan anak pertamanya diatas usia 20 tahun didapatkan ibu yang
masih remaja mendapat skor nilai 56 sedangkan ibu yang berusia lebih tua
bernilai 38. Stress yang dialami ibu yang telah memiliki anak ini sudah
ada sejak mereka sebelum hamil.24
2. Akibatnya dengan kehidupan (Life outcomes)16
a. Berkurangnya kesempatan, keahlian dan dukungan social
b. Berkurangnya kekuatan dalam kaitannya dengan hukum karena keahlian,
sumber-sumber, pengetahuan, dukungan sosial yang terbatas.
17

2.4.2

Resiko Kehamilan Di Usia Dini Pada Bayi


Grady dan Bloom (2004), mengatakan bahwa kehamilan di bawah
umur 16 tahun berhubungan dengan peningkatan angka kematian perinatal
dan lebih dari 18% kelahiran prematur terjadi pada kelompok umur ini.
1.
Prematur dan Berat Badan Lahir Rendah
Remaja memiliki resiko tinggi melahirkan bayi yang kecil dari usia
gestasinya. Hal ini terjadi karena pada remaja terjadi gangguan pada
perkembangan plasenta dan transfer nutrisi dari ibu ke janin. Pada penelitian
yang dilakukan Christina dkk, menemukan bahwa wanita yang hamil diusia
muda mengalami penurunan placental amino acid transport yang
menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah. Pada penelitian ini juga
menunjukkan bahwa berat badan lahir rendah dipengaruhi oleh gen yang
mengekspresikan placental amino acid transport (gen SLC38A). Pada
remaja gen SLC38A ini jumlahnya lebih rendah dibandingkan pada orang
dewasa.21
Penelitain lain menunjukkan rendahnya pendidikan dan kurangnya
perawatan antenatal meningkatkan resiko bayi lahir dengan berat badan
rendah dan persalinan preterm.21
Persalinan preterm adalah komplikasi tersering yang dialami oleh
remaja yang hamil.Insidensi persalinan preterm pada remaja yang hamil
sekitar 20%. Peningkatan resiko persalinan preterm dikaitkan dengan gizi
yang buruk, kurangnya perawatan antenatal, dan rendahnya edukasi.21
Ibu muda searing mengalami pola makan yang buruk dan mengalami
pertambahan berat badan selama hamil yang tidak adekuat. Bayi yang lahir
dari ibu muda 2 6 kali lebih sering berat badan lahir rendah (BBLR)
karena premature dan retardasi pertumbuhan selama dalam rahim. Bayi
Dengan berat lahir rendah (BBLR) mungkin mengalami pertumbuhan organ
18

yang tidak sempurna yang dapat menyebabkan masalah pada paru-paru


seperti respiratory distress syndrome atau masalah otak, dan masalah
pencernaan atau retardasi mental. Kontrol terhadap suhu tubuh dan kadar
gula sulit diatur yang mengakibatkan bayi berat lahir rendah (BBLR). 17
2. Cacat Bawaan
Penelitian dari Ya li luo ddk, menemukan wanita yang hamil dibawah
umur 25 tahun memiliki resiko tinggi memiliki bayi yang polidaktil
dibandingkan dengan wanita yang berumur diatas 25 tahun. Demikian pula
pada wanita yang hamil diusia muda memiliki resiko untuk memiliki anak
dengan talipes equinovarus.25
2.5

Upaya Preventif Dalam Mencegah Kehamilan pada Remaja


Beberapa penelitian di Amerika telah menyelidiki hubungan antara
kehamilan pada remaja berdasarkan status sosial ekonomi, dinamika
keluarga,

dan

lingkungan

sekitarnya

sebagai

faktor

utama

yang

berkontribusi. Hasil penelitian itu menjelaskan bahwa pada remaja


perempuan dan laki-laki yang berasal dari keluarga yang lengkap (memiliki
ayah-ibu) lebih cenderung menggunakan alat kontrasepsi dan lebih sedikit
kecenderungan untuk hamil dibandingkan pada remaja yang berasal dari
keluarga dengan orang tua tunggal. Selain itu, kualitas dari hubungan suatu
keluarga mempengaruhi perilaku seksual yang beresiko yang berhubungan
dengan kehamilan pada remaja seperti pada remaja yang memiliki
komunikasi yang baik dengan keluarga dan dukungan penuh dan
pengawasan dari orang tua cenderung menolak melakukan aktivitas seksual
yang lebih awal, memiliki pasangan sex yang sedikit, dan lebih tinggi
kesadarannya menggunakan kondom. Sebaliknya, gangguan hubungan
19

dengan orang tua dan pengaruh dari pasangan yang tidak sehat berhubungan
dengan kecenderungan remaja untuk terlibat dalam perilaku seksual yang
beresiko menyebabkan kehamilan.26
2.5.1

Pencegahan Kehamilan Remaja Pranikah


Adapun beberapa strategi yang dapat mengurangi kehamilan remaja

antara lain :27


a. Mengincar kelompok beresiko tinggi
Kelompok-kelompok tertentu kaum muda lebih besar kemungkinannya
hamil pada usia remaja, sehingga mereka dapat dipilih untuk menjadi
sasaran. Kelompok ini mungkin mencakup remaja yang diasuh oleh
negara, remaja yang tidak memiliki rumah, remaja yang tinggal
dilingkungan yang sosial ekonominya lemah, dan remaja yang mereka
sendiri adalah anak dari orangtua remaja.
b. Meningkatkan pendidikan
Pendidikan seks di sekolah berperan penting dalam menurunkan
kehamilan remaja. Program pendidikan seks lebih besar kemungkinannya
berhasil apabila terdapat pendekatan terpadu antara sekolah dan layanann
kesehatan.
c. Pembinaan bagi remaja
Bertujuan untuk memberikan

informasi

dan pengetahuan

yang

berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, disamping menangani


masalah yang ada. Pembekalan pengatahuan yang diperlukan remaja
meliputi:
1)

Perkembangan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual remaja


20

Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secara fisik,


kejiwaan dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk
memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya.
Informasi tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan, serta
tentang kontrasepsi perlu diperoleh setiap remaja.
2)

Proses reproduksi yang bertanggung jawab


Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual. Remaja perlu

mengendalikan naluri seksualnya dan menyalurkannya menjadi kegiatan


yang positif, seperti olahraga, dan mengembangkan hobi yang membangun.
3)

Pergaulan yang sehat


Remaja

memerlukan

pembekalan

tentang

kiat-kiat

untuk

mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam


menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan
seksual dan penggunaan NAPZA.
4)

Kehamilan dan persalinan


Diberikan pembekalan mengenai hal-hal yang menyangkut kehamilan

termasuk asupan gizi Ibu dan dampak-dampak dari kehamilan serta


pembekalan dalan menghadapi persalinan yang akan terjadi.

2.5.2

Pencegahan Kehamilan Remaja Nikah

Pada Masa Sudah Menikah:27


1) Mencegah Kehamilan dengan Coitus Interuptus
Interuptus juga dikenal dengan metode senggama terputus. Teknik ini
dapat mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria,
seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetespun
21

sperma masuk kedalam rahim wanita. Namun demikian walaupun teknik ini
dapat mencegah kehamilan, beberapa penelitian menyatakan keberhasilan
teknik coitus interuptus untuk mencegah kehamilan sangat dipengaruhi oleh
kemampuan seorang pria untuk merasakan tanda ejakulasi dan kecepatannya
untuk menarik penis dan mendapatkan orgasme di luar vagina. Karena banyak
sekali pria yang tidak tahu pasti kapan dia mengalami ejakulasi, prosentase
pencegahan kehamilan dengan teknik ini menjadi sangat kecil. Untuk
membuahi sel telur wanita, tidak dibutuhkan satu liter sperma. Tapi hanya satu
sel sperma saja.
2) Mencegah Kehamilan dengan Teknik Kalender
Pencegahan kehamilan dengan teknik kalender sangat erat kaitannya
dengan kemampuan seorang wanita untuk mengetahui masa suburnya. Sperma
dapat hidup maksimal 3 s/d 5 hari di rahim wanita untuk menunggu terjadinya
ovulasi dan segera membuahi sel telur. Dengan teknik kalender, seorang wanita
diharapkan dapat mencegah terjadinya kehamilan dengan cara tidak melakukan
hubungan intim di waktu 3 s/d 5 hari sebelum masa subur tersebut dan 3 hari
setelah masa subur (sel telur dapat hidup selama maks 2 hari). Sama seperti
metode sebelumnya, mencegah kehamilan dengan teknik ini tidak mempunyai
prosentase keberhasilan sampai 100% karena kesalahan penghitungan masa
subur yang kurang tepat. Terlebih lagi bagi wanita yang siklus menstruasinya
tidak teratur, sehingga tidak dapat diperkirakan secara pasti kapan ovulasi/masa
subur terjadi, akhirnya tekhnik ini sangat tidak efektif untuk mencegah
kehamilan.

22

3) Mencegah kehamilan dengan Alat Kontrasepsi


Penggunaan alat kontrasepsi merupakan satu hal yang paling masuk akal.
Walaupun tingkat keberhasilannya untuk mencegah kehamilan mendekati
100% banyak dari masyarakat kita enggan untuk menggunakan alat
kontrasepsi. Alat-alat pencegah kehamilan tersebut adalah Kondom ,Pil KB,
memakai susuk/Norplant/Implant, Injeksi, menggunakan diagfragma dll.

23

BAB 3
KESIMPULAN
a. Remaja adalah suatu masa ketika individu berkembang dari saat pertama
kali ia menunjukan tanda-tanda sosial seksual sekundernya sampai saat
mencapai kematangan seksual.
b. Ada 3 tahap perkembangan remaja yaitu: remaja awal, remaja
pertengahan/ madya dan remaja akhir
c. Pubertas merupakan periode selama perkembangan karakter seksual
sekunder dan terbentuknya kemampuan untuk bereproduksi secara seksual
berupa perubahan fisik dan hormonal.
d. Fisiologi selama kehamilan terjadi perubahan pada uterus, ovarium,
vagina, payudara, peredaran darah,sistem pernafasan, sistem metabolism,
sistem pencernaan, sistem urinaria, dan kulit.
e. Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada usia remaja, dimana
kehamilan terjadi pada usia ibu kurang dari 20 tahun
f. Resiko kehamilan usia dini dapat mempengaruhi Ibu (segi kesehatan/pun
life outcome) maupun janin (premature/BBLR dan cacat)
g. Perlu peran keluarga dan lingkungan sekitar untuk mengurangi angka
kehamilan

remaja

berupa

pembinaan

dan pemberian

pendidikan

reproduksi pada remaja.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Donald, B Langille. Teenage Pregnancy: Trends, Contributing Factors And
The Physician's Role. CMAJ. 2007. 176(11); pg. 1601.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Preventing Pregnancies in
Younger Teens. Vital Sign [cited 2015 desember 18th] Available from: http://
www.cdc.gov /vitalsigns.
3. World Health Organization. Adolescent Pregnancy. [cited 2015 desember
18th] Available from:http://www.who.int/maternal_child_adolescent/topics/
maternal/adolescent_pregnancy/en/.
4. Better Health Channel. Teenage Pregnancy. [cited 2015 desember 18th]
Available from: http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pa
ges/Teenage_pregnancy?open.
5. Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang 10/1992 RI tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera
6. Sarwono, S.W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal.
24-25, 52-58, 142-165.
7. Fiatin EP, Mauliyah I, Priyoto. Gambaran pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi dan kehamilan resiko tinggi pada ibu hamil usia muda di wilayah
kerja puskesmas kerek kecamatan kerek kabupaten tuban. Surya 2011:1(3):1117.
8. Sastrawinata S. Wanita dalam berbagai masa kehidupan. Dalam:
Winknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds. Ilmu kandungan. Edisi
kedua. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009;127
9. Davis, AJ. Pediatric and Adolescent Gynecology. In: Gibbs, RS; Karlan BT;
Haney AF; et al. Danforth's Obstetrics and Gynecology. 10th Edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Colorado: USA. 2008. pg 559-65
10. Rebar, RW. In:Berek, JS. Puberty. Berek & Novak's Gynecology. 14th
Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2007. California: USA. P.992-1000.
11. Prawirohardjo,S., 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
12. Soetjiningsih, 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalannya. Jakarta:
Sagung Seto. Hal. 20-30.
13. Sampoerno D, Azwar A. Ringkasan Perkawinan mdan Kehamilan pada
Wanita Muda Usia di Indenesia. Dalam: Sampoerno D, Azwar A, ed.
Perkawinan dan Kehamilan pada Wanita Muda Usia. Ikatan Ahli Kesehatan
Masyarakat Indonesia. Jakarta, 1987.
14. Chen, CK; Ward C; Williams K; et al. Investigating Risk Factors Affecting
Teenage Pregnancy Rates in the United States. EIJST. Tennesee: USA.
2013(2):41-51.
15. Latifah L, Anggraeni M. Hubungan Kehamilan Pada Usia Remaja Dengan
Kejadian Prematuritas, Berat Bayi Lahir Rendah Dan Asfiksia. Jurnal Jurusan
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan.
Universitas Jenderal Soedirman.
25

16. Mathur S, Greene M, Malhotra A. Too young to wed, the live, rights of young
married girl. ICWS, 2003.
17. Ami.Pembawa pesan edisi Desember. Jakarta, 2007.
18. Wiknjosastro.Ilmu Kebidanan. Jakarta: YPS-SP, 2005
19. Regina MR, Guzman A, Dalia B. Review Article: Abortion Care for
Adolesecent and Young Women. International Journal of Gynecology and
Obstetricals. 2013
20. Muthalib A. Kelainan hematologik. Dalam: Saifuddin AB, Rachimhadhi T,
Wiknjosastro GH, eds. Ilmu kebidanan. Edisi keempat. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010;775,777
21. Nahatai W, Pitcha P, Somkid P. The Incidence and Complications of Teenage
Pregnancy at Chonburi Hospital. Department of Obstetric and Gynecology,
Chonburi Hospital. Chonburi. J Med Assoc Thai. 2006;89
22. Rajaval VT, Mian VP, Rupa CV, Sapana RS, Parul TS, Kruti JD. Study of
Feto-Maternal Outcome of Teenage Pregnancy at Tertiary Care Hopital.
Gujarat Medical Journal. 2012
23. Mardjikoen P. Tumor ganas alat genital. Dalam: Winknjosastro H, Saifuddin
AB, Rachimhadhi T, eds. Ilmu kandungan. Edisi kedua. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009;381
24. Molloborn S, Morningstar E. Investigating The Relationship between Teenage
Childbearing and Psychological Distress Using Logitudinal Evidance.
University of Colorado of Boulder. J Health Soc Behav. 2009
25. Luo YL, Cheng YL, Gao XH, et al. Maternal age, parity and isolated birth
defects: A population-based case-control study in Shenzhen, China.
Department of Epidemiology Southem Medical University, Guangzhou:
Plosone, 2013:2-4
26. Delia LL, Traci R, Ralph JD, et al. Multi-level Factors Associated with
Pregnancy Among Urban Adolescent Women Seeking Psychological Services.
The New York Academy of Medicine. Vol 90. No2. 2012.
27. Rahayu, MP. 2014. Kehamilan dini usia remaja pada masa pranikah dan
nikah. Poltekkes kemenkes Malang. Malang

26