Anda di halaman 1dari 20

Siska Kirana

Viqa Resti Maulidia


Musri Sofiati
Hidayat Septiady
Putrinugraha Wanca Apatya
Nurul Armalia
Reski Yunisa Mareska
Ria Putri Utami
Septia Erita

ASUHAN KEPERAWATAN
TUMOR WILMS
Kelompok 1

Pengertian
Tumor Wilms (Nefroblastoma) adalah tumor ginjal yang ditemukan pada anak-anak.
Tumor wilms mreupakan tumor ginjal yang tubuh dari sel embrional primitive di
ginjal. Makrokoskopis ginjal akan tampak membesar dank eras sedangkan
gambaran histo patologinya menunjukan gabungan dari pembentukan abortif
glomerulus dan gambaran otot polos,otot serat lingkang, tulang rawan dan tulang.
Tumor dapat bermetastase terutama ke paru, ginjal dan jarang sekali ke tulang.

Etiologi
secara pasti belum diketahui
perdisposisi genetic
dapat dikaitkan dengan congenital anomali; yang sering adalah spradik aniridia,
genitourinary anomali, hemyhypertrophy,microcephaly dan cryptorchidism.

Patofisiolgi
Wilms tumor terjadi pada parenchyema renal. Tumor tersebut tumbuh dengan
cepat dengan lokasi dapat unilateral atau bilateral. Pertumbuha tumor tersebut
akan meluas atau menyimpang luar renal. Mempunyai gambaran khas, berupa
glomelurus dan tubulus yang primitif atau abortif, dengan ruangan Bowman yang
tidak nyata, dan tubulus abortif dikelilingi stroma sel kumparan. Pertama tama
jaringan ginjal hanya mengalami distorsi, tetapi kemudian diinvasi oleh sel tumor.
Tumor ini pada sayatan memperlihatkan warna yang putih atau keabu-abuan
homogen, lunak dan encepaloid ( mempunyai jaringan otak ).
Tumor tersebut akan menyebar atau meluas hingga ke abdomen dan dikatan
sebagai suatu massa abdomen. Akan teraba pada abdominal saat dilakukan
palpasi.

Patofisiolgi

lanjutan

Munculnya tumor wilms sejak dalam perkembangan embrio dan akan tumbuh
dengan cepat setelah lahir.
Pertumbuhan tumor akan mengenai ginjal atau pembuluh vena renal dan
menyebar ke organ lain. Tumor yang biasanya baik terbatas dan sering terjadi
nekrosis, cystik dan perdarahan. Terjadinya hipertensi biasanya terkait dengan
iskemik pada renal.
Metastase tumor secara hematogen dan limfogen; paru, hati, otak dan bone
marrow.

WOC

Stadium pada tumor wilms


Stadium 1 : tumor hanya terbatas pada gijal dan dapat di eksisi sempurna
Stadium 2 : tumor meluas kelur ginjal dan dapat di eksisi sempurna
Stadium 3 : Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari biopsi atau
ruptur yang terjadi sebelum atau selama operasI
Stadium 4 : metastasis ke paru paru, tulang dan otak.
Stadium 5 : terjadi lagi kanker setelah di terapi, terjadi di tempat pertama kali
terjadi atau pada organ lain.

Manifestasi klinis
Ada massa pada abdominal
Haematuri
Hipertensi
Nyeri abdomen
Anemia
Demam
Metastase ke paru, nafas pendek, dyspnea, batuk, nyeri dada
Pucat
Lethargi
Anorexia

Komplikasi
Metastase ke paru-paru, sum-sum tulang (anemia), ginjal kontra lateral dan hati.
Komplikasi dari pembedahaN
Efek samping dari kemoterapi dan terapi radiasi

Pemeriksaan diagnostik
USG perut
CT scan
Rontgen dada (untuk melihat adanya penyebaran tumor ke dada )
Pemeriksaan darah lengkap
Biopsi
Pielogram intravena
Urinalisis (pemeriksaan air kemih,bisa menunjukan adanya darah atau protein
dalam air kemih)

Penatalaksanaan
Terapi pilihan adalah nefrektomi. Kemoterapi dan radioterapi dilakukan sesuai stadium.
Pada tumor bilateral dengan gambaran histopatologi ganas dilakukan nefrektomi bilateral,
kemoterapi, dan radioterapi, kemudian dialisis atau transplantasi ginjal.
Tindakan operasi merupakan tindakan terapi sekaligus penentuan stadium tumor.
Neferktomi primer dikerjakan pada semua keadaan kecuali pada tumor unilateral yang
unrectestable, tumor bilateral dan tumor yang sudah berekstensi ke vena kava inferior di
atas vena hepatica. Tumor yang unresectable dinilai intra operatif.
Diberikan kemoterapi seperti pada stadium III dan pengangkatan tumor dilakukan setelah
6 minggu. Pada tumor bilateral, dilakukan biopsy untuk menentukan jenis tumor dan
diberikan kemoterapi biasanya dalam 8-10 minggu. Nefrektomi dilakukan pada kasus
tumor bilateral jika diberikn sisa parenkim ginjal setelah reseksi tumor masih lebih dari
2/3.

Pengkajian
Aktifitas / istrahat
Kelemahan/keletihan
Perubahan pola istirahat: adanya factor-faktor yang mempengaruhi tidur
misalnya,nyeri,ansietas.
Eliminasi
Eliminasi urine : gangguan pada glomerulus menyebabkan sisa-sisa metabolisme
tdak dapat dieskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus
ginjal yang tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguri, anuria,
proteinuria, hematuria.

Makanan/ cairan
Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan
air,edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh.Klien mudah mengalami infeksi
karena adanya depresi sistem imun.Adanya mual,muntah,dan anoreksia
menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat.BB meningkat karena adanya
edema.Perlukaan pada kulit dapat terjadi karena uremia.
Kognitif dan preseptual
Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan gatal-gatal
karena adanya uremia.gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi
hipertensi.
Presesepsi diri
Klien dan orang tua cemas dan takut karena adanya pembedahan

Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
b. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan anak dipuasakan
sebelum dan sesudah operasi, anoreksia dan muntah
c. Kuranganya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan rencana
pengobatan
d. Kecemasan berhubungan dengan pembedahan dengan nephrectom
e. Nutrisi kurang dari keburuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

Rencana asuhan keperawatan


Diagnosa I: Nyeri berhubungan dengan tindakan insisi pembedahan
Tujuan: nyeri dapat teratasi
Intervensi :
1. Tentukan nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, dan
tindakan penghilangan yang digunakan.
2. Memberikan tindakan kenyamanan dasar misalnya (reposisi, gosokkan
punggung) dan aktifitas hiburan misalnya (musik, televisi).
3. Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misalnya tehnik relaksasi,
visualisasi, bimbingan imajinasi),tertawa, musik, dan sentuhan terapeuti
4. Berikan analgesik sesuai indikasi

Diagnosa II: Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan anak


dipuasakan sebelum dan sesudah operasi, anoreksia dan muntah
Tujuan: klien akan menampakkan volume cairan adekuat/mempertahankan cairan
adekuat
Intervensi :
1. Pantau masukan dan haluaran dan berat jenis;massuaknsemua sumber
haluaran misalnya muntah.
2. Kaji turgor kulit dan kelembaban membrane mukosa, memperhatikan keluhan
haus
3. Dorong peningkatan masukan cairan sesuai toleransi individu.
4. Berikan cairan IV sesuai indikasi

Diagnosa III: Kuranganya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan


rencana
pengobatan
Tujuan: Klien akan mengatakan pemahaman tentang proses penyakit dan
pengobatan, Klien akan berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi
1. Tinjau ulang dengan pasien/orang terdekat pemahaman diagnosa khusus,
alternative pengobatan, dan sifat harapan.
2. Beri tahu kebutuhan perawatan khusus di rumah
3. Lakukan `evaluasi sebelum pulang ke rumah sesuai indikasi
4. Tinjau ulang pasien/orang terdekatnya pentingnya mempertahankan status
nutrisi yang optimal.

Diagnosa IV: Kecemasan berhubungan dengan pembedahan


Tujuan: Berkurangnya kecemasan. Klien dapat memehami penyakitnya
Intervensi
1. Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan
2. Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan
perasaan atau menolak untuk berbicara.
3. Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut
untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut
ini.
4. Dorong dan kembangkan interaksi pasien dengan system pendukung

Diagnosa V: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia


Tujuan: Klien akan menunjukan berat badan stabil atau peningkatan berat badan
sesuai sasaran dan tidak
Intervensi
1. Ukur tinggi, berat badan dan ketebalan lipatan kulit tisep(atau pengukuran
atropometrik lain sesuai indikasi). Pastiakan jumlah penurunan berat badan
saat ini. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.
2. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient, dengan masukan
cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sering lebih sedikit
yang dibagi-bagi selama sehari.
3. Dorong komunikassi terbuka mengenai anoreksia
4. Rujuk pada ahli diet/tim pendukung nutrisi

T K
erima

asih